Pendahuluan

 

Al-Qur'an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad sebagai sumber ajaran agama Islam yang utama.1 Semua isi kandungannya merupakan pedoman kuat serta hujjah yang ampuh. Kitab suci yang menakjubkan ini merupakan pegangan umat manusia, sekaligus pelita dalam hidup dan kehidupan agar dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.2 Di dalamnya terkandung ayat atau makna yang antar satu dengan lainnya saling menyempurnakan dan membenarkan, tidak ada pertentangan. Seluruh ayatnya bersifat Qot'i al-Wurud, yang jelas diyakini eksistensinya sebagai wahyu Allah.3

Diperlukan persyaratan yang sangat berat dan penguasaan beberapa disiplin keilmuan agar seseorang dapat dan mampu menterjemahkan serta menafsirkan al-Qur'an dengan baik dan benar. Ia setelah benar-benar mahir dalam ilmu bahasa arab, ilmu kalam dan ilmu usul juga dituntut harus menguasai pula ilmu-ilmu pokok al-Qur'an yang meliputi ilmu tentang:

  • Mawatin al-Nuzul (tempat-tempat turunnya ayat),

  • Tawarikh al-Nuzul (masa turunnya ayat),

  • Asbab al-Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat),

  • Qira'at (bacaan-bacaan al-Qur'an),

  • Tajwid (cara membaca al-Qur'an dengan baik dan benar),

  • Gharib al-Qur'an (kata-kata yang ganjil dalam al-Qur'an),

  • I'rab al-Qur'an (struktur kalimat),

  • al-Wujuh wa al-Naza'ir (kata-kata al-Qur'an yang multi makna),

  • al-Muhkam wa al-Mutashabihat,

  • al-Nasikh wa al-Mansukh (ayat yang menghapuskan atau dihapuskan ayat lain),

  • Bada'i al-Qur'an (keindahan nilai sastra al-Qur'an),

  • I'jaz al-Qur'an (kemukjizatan al-Qur'an),

  • Tanasub al-Qur'an (keserasian antara ayat-ayat al-Qur'an),

  • Aqsam al-Qur'an (sumpah-sumpah al-Qur'an),

  • Amthal al-Qur'an (perumpaan-perumpaan dalam al-Qur'an),

  • Jidal al-Qur'an (bentuk dan cara argumantasi dalam al-Qur'an), dan

  • Adab Tilawah al-Qur'an (adab dalam membaca al-Qur'an).4

Ilmu al-Muhkam wa al-Mutashabihat termasuk didalam ilmu-ilmu pokok al-Qur'an karena di dalam al-Qur'an memuat ayat-ayat mutashabihat (yang mengandung ambiguitas) di samping ayat-ayat yang tergolongmuhkamat (yang pengertiannya telah tegas dan jelas).5Ambiguitas ini disebabkan banyak terjadinya kemiripan dalam segi balaghah-nya, i'jaz-nya atau sulitnya memilah bagian-bagian manakah yang lebih utama.6 Sehingga menimbulkan pengertian yang tidak tegas atau samar-samar (timbul beberapa pengertian) dikarenakan ketidakjelasan dalam segi lafadnya, rancu maknanya atau rancu dalam hal kedua-duanya (lafad dan maknanya).

Ayat-ayat yang bersifat mutasyabihat ini terutama dapat kita temukan dalam pembahasan yang tergolong furu'(cabang) agama yang bukan termasuk dalam masalah pokok agama. Sehingga memungkinkan bagi seorangmujtahid yang handal ilmunya untuk dapat mengembalikan ayat-ayat mutasyabihat tersebut kepada maksud dan arti yang bersifat jelas (muhkam) dengan cara mengembalikannya (masalah furu') kepada masalah pokok.7

< Back

Depan

Next >