Pengertian Ayat Mutashabihat dan Pandangan Ulama

 

Secara bahasa (etimologi), kata mutashabihat berasal dari kata tashabuh yang berarti "keserupaan" dan "kemiripan".Tashabaha dan ishtabaha berarti saling menyerupai satu dengan lainnya hingga tampak mirip sehingga perbedaan yang ada diantara keduanya menjadi samar. Sehingga ungkapan orang-orang bani Israil kepada nabi Musa yang berbunyi "inna al-baqara tashabaha 'alayna"8 berarti"sesungguhnya sapi itu sangat mirip di mata kami".9 Jadi makna mutashabih adalah ungkapan yang memperlihatkan bahwa sesuatu itu sama dengan sesuatu yang lain dalam satu atau beberapa sisi atau sifat, atau yang membuat sesuatu yang tidak dapat dijangkau akal, dengan mudah dapat dipahami.10

Tim penerjemah/penafsir al-Qur'an Departemen Agama memberikan catatan terhadap ayat mutasyabihat sebagai ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang di maksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui, seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan hal yang ghaib seperti ayat mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.11

Terdapat tiga ayat yang sering muncul dipermukaan dan menjadi perdebatan apabila kita membicarakan ayat-ayat muhkam dan mutashabihat al-Qur'an. Pertama, bahwa semua ayat al-Qur'an adalah bersifat muhkam, berdasarkan Q.S Hud:1

الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءَايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِير
 

"Alif Lam Ra, (Inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan sempurna dan dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui".12

Kedua, bahwa semua ayat al-Qur'an adalah mutashabihat, berdasarkan Q.S al-Zumar: 23,

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ 
 

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, (yaitu) al-Qur'an yang (kualitas ayat-ayatnya) serupa dan berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah dengan kitab itu . Dia menunjukkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun."13

Ketiga, bahwa sebagian ayat-ayat al-Qur'an terdiri dari ayat yang tergolong muhkamat dan sebagian lainnya tergolong mutashabihat. Sebagaimana firman Allah dalamQ.S Al-Imron:7,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
 

"Dialah (Allah) yang menurunkan al-Kitab kepadamu. Diantara isinya terdapat ayat-ayat muhkamat yaitu pokok-pokok al-Kitab (Umm al-Kitab), dan yang lain ayat-ayat) mutashabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutashabihat untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutashabihat Semuanyaitu berasal dari sisi Tuhan kami". Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal".14

Sebenarnya ketiga pendapat diatas tidak ada yang kontroversi. Yang dimaksudkan dalam ayat pertama adalah seluruh ayat-ayat al-Qur'an mengandung kesempurnaan susunan dan tidak ada pertentangan diantara ayat-ayatnya. Ia laksana bangunan besar yang sangat kokoh sepanjang jaman. Pengertian ayat kedua adalah seluruh ayat al-Qur'an mengandung segi kesamaan dalam hal kesempurnaan kebenarannya, kebaikan dan kemukjizatannya, baik aspek lafad atau isinya. Sehingga tidak ada kemungkinan sebagian ayat al-Qur'an melebih-lebihkan atas ayat lainnya. Ayat ketiga mempunyai pengertian bahwa didalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang makna (dalalah)-nya disebutkan secara jelas/eksplisit (muhkam) dan ada yang makna(dalalah)-nya disebutkan secara samar/ implisit(mutashabihat).15

Al-Zarqani dalam mengartikan ayat-ayat mutashabihatmengatakan bahwa ia merupakan perbandingan dari ayat-ayat muhkamat. Selanjutnya beliau menjelaskan keduanya, bahwa:

  • Menurut ulama Hanafiah
    Ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang dalalahnya jelas, terang dan tidak mengandung adanya naskh. Sedangkan ayat-ayat mutashabihatadalah ayat-ayat yang samar dan tidak dapat diketahui pengertiannya baik secara naqli maupun aqli, sesuatu yang ketentuannya dirahasiakan oleh Allah, seperti terjadinya kiamat, makna al-ahruf al-muqatta'ah (huruf-huruf hijaiyyah yang terputus-putus) pada beberapa permulaan surat.

  • Menurut ulama Ahl al-Sunnah
    Ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang pengertiaanya dapat diketahui baik secara lahiriah ataupun dengan takwil. Sedang ayat mutashabihatadalah ayat yang ketentuannya hanya diketahui Allah.

  • Menurut Ibn 'Abbas dan ulama Ushul
    Ayat-ayat muhkamat adalah ayat yang hanya mengandung satu pengertian. Sedang ayat-ayatmutashabihat mengandung beberapa pengertian.

  • Menurut Imam Ahmad
    Ayat muhkamat adalah ayat yang bisa berdiri sendiri dan tidak membutuhkan penjelasan. Sedangmutashabihat tidak dapat berdiri sendiri dan masih butuh penjelasan. Karena adanya perbedaan dalam pengertiannya.

  • Menurut ulama muta'akhirin
    Ayat muhkamat adalah ayat yang jelas dan tidak rancu. Sedang ayat mutashabihat adalah kebalikannya.16

Ulama-ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan ayat-ayat mutashabihat sebagaimana di atas dikarenakan adanya perbedaan dalam memahami kedudukan dan status lafad والراسخون في العلم pada surah al-Imran:7. Mereka memperdebatkan apakah lafad tersebut merupakan kalimat lanjutan dari kalimat sebelumnya, yaitu dengan menganggap huruf و (wa/dan) sebagaiharf 'atfi (kata penghubung) sehingga pengertiannya:

"Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya...",

ataukah sebagai kalimat baru, yaitu dengan menganggap huruf و (wa) tersebut sebagai huruf ibtida' (berfungsi sebagai permulaan pokok kalimat) sehingga pengertiannya menjadi,

"Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya..."

Bagi kelompok pertama, ayat-ayat mutashabihat itu dapat dipahami karena menurut mereka, al-Qur'an justru diturunkan pada umat manusia untuk dipahami, termasuk di dalamnya ayat-ayat mutashabihat. Akan tetapi bagi kelompok kedua, ayat-ayat mutashabihat tidak dapat dipahami oleh manusia, karena menurut mereka, ayat-ayat tersebut diturunkan untuk menguji iman manusia.

< Back

Depan

Next >