Metode Penafsiran Ulama terhadap Ayat-Ayat Mutashabihat

 

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa perbedaan pemahaman ulama atas ayat-ayat mutashabihatberpangkal pada perbedaan mereka dalam memahami surat Ali 'Imran ayat 7. Perbedaan inilah yang menyebabkan mereka berbeda pula dalam metode penafsiran ayat-ayat mutashabihat.

Al-Suyuti mengatakan bahwa hanya sedikit dari ulama yang meyakini bahwa lafad والراسخون في العلمadalah kelanjutan dari lafad sebelumnya و (berfungsi sebagai harf athf). Sedangkan kebanyakan para tokoh ahli tafsir di kalangan sahabat, tabi'in dan selanjutnya, terutama pengikut Ahl al-Sunnah meyakini bahwa lafad tersebut adalah berdiri sendiri و adalah harf ibtida' dan terpisah dari kalimat sebelumnya.

Berkaitan dengan ini, terdapat dua golongan yang berbeda didalam metode penafsiran ayat-ayatmutashabihat, mereka adalah golongan salaf dan golongan khalaf.19

Golongan salaf (ada yang menyebut sebagai madhhab al-mufawwidah, aliran yang menyerahkan permasalahan kepada Allah) berpendapat bahwa menentukan maksud dari ayat-ayat mutashabihat yang hanya berdasarkan kaidah-kaidah kebahasaan dan penggunaannya di kalangan bangsa Arab hanyalah akan menghasilkan kesimpulan yang bersifat zanni (tidak pasti). Padahal sebagian dari ayat-ayat mutashabihat termasuk persoalan akidah yang dasar pijakannya tidak cukup hanya dengan argumen yang bersifat zanni tetapi harus bersifat qat'i(pasti). Karena untuk mendapatkan dasar yang bersifatqat'i tidak ada jalannya, maka mereka bersikap tawaqquf(tidak mengambil keputusan dan menyerahkannya kepada Allah).20

Mereka berpegangan pada sebuah hadis yang berarti:

Al-Darimi meriwayatkan hadith dari Sulayman bin Yasar bahwa seorang laki-laki yang bernama Ibn Subaygh datang ke Madinah, kemudian bertanya tentang mutasyabih dalam al-Qur'an maka Umar datang seraya menyediakan sebatang pelepah kurma untuk (memukul) orang tersebut.

Umar bertanya: 
"Siapakah anda?"

Ia menjawab: 
"Saya adalah 'Abd Allah b. Subaygh".

Kemudian 'Umar mengambil pelepah kurma dan memukulkannya hingga kepalanya berdarah.

Dalam riwayat lain dikatakan:

Kemudian 'Umar memukulnya dengan pelepah kurma hingga mengakibatkan punggungnya terluka. Kemudian 'Umar meninggalkannya hingga sembuh. Kemudian 'Umar mendatanginya kembali dan meninggalkannya lagi hingga sembuh. Kemudian 'Umar memanggilnya supaya kembali. Maka orang itu berkata kalau anda hendak membunuhku, maka bunuhlah aku dengan cara yang baik". Maka 'Umar membolehkannya untuk pulang ke negerinya. Dan 'Umar menulis surat kepada Abu Musa al-Ash'ari agar tidak seorangpun dari kalangan muslimin bergaul dengan orang itu".21

Golongan khalaf (biasa disebut juga dengan madhhab al-Mu'awwilah, golongan yang melakukan pentakwilan terhadap ayat-ayat mutashabihat) beranggapan bahwa sikap yang harus diambil dalam hal ini adalah menghilangkan dari keadaan "kegelapan" yang apabila dibiarkan ayat-ayat mutashabihat tidak bermakna, akan menimbulkan kebingungan manusia. Sehingga selama dimungkinkan untuk diadakannya penakwilan terhadapnya maka akalpun mengharuskan untuk melakukannya. Mereka menyandarkan pada hadis yang diriwayatkan Ibn 'Abbas.22

Golongan al-Mutawassitin kemudian muncul dan mengambil posisi ditengah dua golongan ini (salaf dan khalaf). Diantara yang termasuk didalamnya adalah Ibn al-Daqiq al-'Id. Ia berpendapat apabila penakwilan ayat-ayat mutashabihat itu berada "dekat" dengan wilayah ilmu bahasa Arab, maka penakwilan tersebut bisa diterima. Tetapi bila berada "jauh" darinya maka kita bersikap tawaqquf.23

Dengan melihat kondisi di atas maka dapat dipahami bahwa hanya sebagian kecil dari golongan ulama yang memandang bahwa ayat-ayat mutashabihat bisa diketahui maksudnya secara pasti.24 Sedang sebagian besar dari para ulama tetap meyakini bahwa yang mengetahui secara pasti tentang ayat-ayat mutashabihatadalah Allah sendiri, sementara orang-orang yang mendalam ilmunya dengan mantap mengimaninya.

< Back

Depan

Next >