Pendahuluan

 

Allah SWT memberikan satu kelebihan kepada umat manusia berupa akal pikiran, agar ia mampu menjalankan tugas dan misinya sebagai khalifatullah fi al-ardl. Juga karena kasih sayang-Nya, kemudian Allah menurunkan wahyu berupa al-Qur'an melalui Jibril kepada Nabi SAW untuk dijadikan referensi dalam kehidupan.

Sejak Tuhan "berbicara" itulah maka Islam lahir sebagai agama, ia bukan hanya sebagai fakta historis, melainkan sebuah kehadiran Tuhan dalam bentuk "kalam". Seluruh kebudayaan Islam memulai langkahnya dengan fakta sejarah bahwa manusia disapa Tuhan dengan bahasa yang Dia ucapkan sendiri.

Dari sisi motif pewahyuan, pada mulanya manusia (Muhammad) adalah obyek dari kitab suci. Ia diwahyukan Tuhan untuk menyapa manusia dan mengajaknya ke jalan keselamatan. Tetapi dalam perjalanannya, ketika wahyu telah menjelma menjadi teks, maka ia berubah menjadi obyek, sementara manusia berperan sebagai subyek.

Tercatat dalam sejarah bahwa al-Qur'an diturunkan secara evolusi dan berkesinambungan (tadrij) selama lebih kurang 23 tahun. Hal ini memberikan kesan bahwa al-Qur'an benar-benar berdialog. Sekaligus mengoreksi kehidupan umat manusia (M. Faruq al-Nabhan: 1981:83).

Dengan kalimat lain, al-Qur'an yang turun berangsur-angsur mengenal konteks sosial dan konteks psikologis masyarakat Arab. Sebab itu, dalam studi ulumul Qur'andikenal konsep asbab al-nuzul dan nasikh mansukh di mana isi dan pesan al-Qur'an menjalin dialektika dan selalu memperhatikan kemaslahatan hidup manusia.

Gaya bahasa al-Qur'an memiliki hakikat yang khusus, berbeda dengan bahasa-bahasa yang lain. Hal ini karena sifat hakikat al-Qur'an itu sendiri, yaitu sebagai sarana komunikasi antara Tuhan dengan makhluk-Nya.

Sedangkan bahasa dalam pengertian umum hanya merupakan sarana komunikasi antara manusia satu dengan yang lainnya. Atomisme logis mengatakan bahwa hakikat bahasa adalah melukiskan dunia sehingga struktur logis bahasa sepadan dengan struktur logis dunia. Sementara positivisme logis lebih jauh mengatakan bahwa makna bahasa harus dapat diverifikasi secara empiris dan logis.

Berbeda dengan bahasa al-Qur'an, ia bukan hanya mengacu pada dunia melainkan mengatasi ruang dan waktu, bersifat metafisik, mengacu pada dimensi Ilahiyah dan adikodrati.

Mengingat hakikat bahasa al-Qur'an yang mengacu pada dimensi tersebut di atas, maka untuk memahami ayat-ayat al-Qur'an tidak mungkin hanya berdasarkan pada kaidah-kaidah linguistik semata. Sebab itu dalam upaya mengatasi stagnasi bahasa, terutama kaitannya dengan dimensi Ilahiyah, dimensi metafisik, dan dimensi adikodrati, maka sangat realistis bilamana kemudian dikembangkan bahasa metafor dan analogi (majaz-tasybih).

Karena bahasa metafor dan analogi dapat memberikan jembatan rasio manusia yang terbatas dengan dimensi Ilahiyah, metafisik, adikodrati yang serba tidak terbatas, bahkan juga mengatasi ruang dan waktu. Hal ini berdasarkan pada suatu kenyataan tentang hakikat bahasa bahwa bahasa sebagai simbol pasti memiliki suatu acuan. Karena itu, tidak mengherankan apabila di dalam bahasa al-Qur'an banyak ditemukan ungkapan metaforik-simbolik, atau yang populer di kalangan pemikir muslim disebut majaz.

Selain faktor di atas, ungkapan metaforis yang disajikan al-Qur'an sangat terkait dengan faktor psikologis dan peradaban masyarakat Arab secara umum. Ia merupakan hasil proses dialektis dan jawaban Muhammad atas konteks yang dihadapi.

Dalam konteks tertentu al-Qur'an perlu menyampaikan dengan bahasa metaforis, dan pada konteks yang lain harus diungkapkan dengan bahasa yang tegas dan lugas. Sehingga al-Qur'an itu didesain dan dikonstruk sesuai dengan konteksnya. Dengan begitu, pemahaman baru terhadap al-Qur'an bukan berarti mereduksi, tetapi membuktikan sejauh mana al-Qur'an mampu berdialog dengan realitas.

Dalam kajian bahasa disebutkan, terpisahnya teks dari pengarangnya dan dari situasi sosial yang melahirkannya, maka berimplikasi sebuah teks bisa tidak komunikatif lagi dengan realitas sosial yang melingkupi pihak pembaca. Sebab, sebuah karya tulis pada umumnya merupakan respon terhadap situasi yang dihadapi oleh penulis dalam ruang dan waktu tertentu. Karena itu, dalam tradisi tafsir, terutama di kalangan Sunni, permasalahan di atas dapat dikembalikan dan dibatasi pada analisa asbab al-nuzul atau konteks sosio-historis di seputar turunnya al-Qur'an (Komaruddin Hidayat: 1996:140).

Dengan demikian, analisis konteks cukup berperan dalam memahami peristiwa pewahyuan, sebab ayat-ayat al-Qur'an tidak akan dapat dimengerti kecuali dengan melihat konteks saat wahyu diturunkan. Mengutip Mustansyir (2001: 155) sebagai berikut:

Wittgenstein menegaskan bahwa arti suatu kata bergantung pada penggunaannya dalam kalimat, sedangkan arti suatu kalimat bergantung pada penggunaannya dalam bahasa.

Artinya, kita bisa terjebak ke dalam kerancuan bahasa manakala kita menjelaskan pengertian suatu kata dengan memisahkannya dari situasi yang melingkupinya. Baik secara tersirat maupun tersurat dalam al-Qur'an banyak dijumpai ungkapan-ungkapan yang disajikan dengan gaya bahasa meteforik-simbolik mengenai fenomena kehidupan masyarakat Arab pra-Islam. Mereka adalah sebuah komunitas yang pertama kali disapa oleh al-Qur'an.

Pengungkapan dengan gaya bahasa tersebut pada saat al-Qur'an diturunkan memang sangat diperlukan, sebab secara psikologis maupun sosiologis masyarakat Arab sudah memiliki keyakinan yang kuat, berwatak kasar, berpikiran sempit, dan hidup tidak pasti.

Selain mengandung misteri dan mitos yang setiap saat akan melahirkan nuansa, imajinasi dan jawaban konseptual dengan mengaitkannya pada konteks sosial dan psikologis pembaca, bahasa metaforis juga memiliki kekuatan yang bisa mempertemukan antara ikatan emosional dan pemahaman kognitif sehingga seseorang dimungkinkan untuk mampu melihat dan merasakan sesuatu yang berada jauh di belakang teks. Dan juga diyakini, bahwa bahasa metaforis memiliki kekuatan yang bisa membangkitkan imajinasi kreatif untuk membuka wilayah pemahaman baru yang batas akhirnya belum diketahui.

Berangkat dari fenomena di atas, maka dalam makalah ini penulis mengangkat satu judul "Dialektika Gaya Bahasa al-Qur'an dan Budaya Arab Pra-Islam (Sebuah Kajian Sosiologi Bahasa)". Untuk memperoleh hasil yang maksimal penulis terlebih dahulu memaparkan konteks sosio-historis Arabia pra-Islam sebagai obyek dan sasaran wahyu al-Qur'an diturunkan. Kemudian penulis akan menyajikan bagaimana bentuk dan gaya bahasa al-Qur'an mendeskripsikan fenomena yang berkembang di tengah kehidupan masyarakat Arab.