Dialektika Gaya Bahasa al-Qur'an dan Konteks Sosio-Historis Arabia Pra-Islam

 

Pada bagian ini penulis hanya memaparkan beberapa gaya bahasa al-Qur'an yang secara metaforis menjalin dialektika dengan konteks sosio-historis Arabia pra-Islam. Di antaranya adalah:

Majaz (Metafora)

Menurut Abd al-Qahir al-Jurjani (w. 471 H) majaz adalah kebalikan haqiqah. Sebuah kata yang mengacu kepada makna asal atau makna dasar, tanpa mengundang kemungkinan makna lain disebut dengan haqiqah. Sedangkan majaz adalah sebaliknya, yaitu perpindahan makna dasar ke makna lainnya, atau pelebaran medan makna dari makna dasar karena ada alasan tertentu. Secara teoritik, majaz adalah peralihan makna dari yang leksikal menuju yang literer, atau dari yang denotatif menuju yang konotatif karena ada alasan-alasan tertentu.

Misalnya dalam surat al-Baqarah ayat 19:

يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ 
 

Mereka menyumbat telinganya dengan (anak) jarinya

Kata "ashabi'" di atas secara leksikal maknanya adalah jari-jari. Kiranya mustahil bagi orang-orang munafik Mekkah menyumbat telinganya dengan semua jari karena takut bunyi guntur yang mematikan. Tetapi yang dimaksud "ashabi'" dalam ayat tersebut adalah sebagian dari jari-jari, bukan semuanya. Pemahaman semacam ini berdasarkan konsep teori di atas disebut dengan majaz, salah satu alasannya adalah menyampaikan ungkapan dalam bentuk plural (jama') namun yang dimaksudkan adalah sebagian saja.

Andaikata itu pun bisa terjadi, yaitu menutup telinga dengan semua jarinya pasti dilakukan karena mereka benar-benar mengalami ketakutan yang luar biasa. Situasi ini digambarkan oleh al-Qur'an karena pada awal misi kenabian Muhammad di Mekkah banyak orang yang menyatakan "beriman" kepada Nabi, tetapi mereka masih menyembunyikan kekafiran di dalam hatinya (munafik). Kondisi keyakinan mereka dipaparkan begitu panjang lebar dalam al-Qur'an, khususnya dalam surat al-Baqarah.

Kalau kita mengamati secara cermat ungkapan-ungkapan dalam al-Qur'an maka akan ditemukan beberapa ayat yang menggunakan bentuk penghalusan bahasa (eufimisme). Barangkali ungkapan tersebut muncul karena ada beberapa faktor, baik yang bersifat historis maupun bersifat etis. Konsekuensi logis dari ungkapan itu akan menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan para mufassir. Karena kebanyakan gaya bahasa eufimisme berimplikasi menjadi sebuah bahasa yang multi interpretatif (ambigu). Misalnya saja dalam surat al-Nisa' ayat 43 disebutkan:

أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا 
 

Atau kamu menyentuh perempuan kemudian kamu tidak mendapat air maka bertayamumlah dengan tanah yang suci.

Secara leksikal kata "laamastum" berarti saling menyentuh, tetapi jika melihat konteks keseluruhan ayat maka yang dimaksudkan dengan "laamastum" menurut jumhur ulama adalah berhubungan badan (jama'tum), sekalipun ada sebagian berpendapat lain, yaitu menyentuh.

Penggunaan majaz pada ayat di atas sangat dimaklumi. Sebab secara geografis, keadaan alam Arabia yang kering dan tandus sangat memaksa orang-orang Arab untuk hidup berpindah-pindah dari satu wadi ke wadi yang lain (nomad) guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebiasaan ini membuka peluang yang cukup besar akan terjadinya peperangan antara satu kabilah dengan kabilah lainnya.

Sikap permusuhan antara kabilah ini menyebabkan munculnya sifat buruk, yaitu mereka tidak menyukai anak perempuan karena tidak bisa diajak berperang dan hidup keras. Mereka berharap anak keturunan laki-laki yang banyak untuk regenerasi dalam kesatuan kabilah. Karena hanya dengan itu kekuatan dan kehormatan kabilah dapat terjaga.

Dikarenakan faktor cuaca yang tidak bersahabat dan suasana kehidupan yang gersang, maka harapan yang menyelimuti kehidupan mereka terkontaminasi oleh khayalan-khayalan kotor yang mengakibatkan timbulnya al-syahwah al-hayawaniyah (nafsu binatang). Munculnya nafsu binatang ini bersamaan dengan gaya hidup nomad (tanaqqul) yang harus mereka jalani sangat berpengaruh terhadap karakter dan tabiat mereka, yaitu terbentuknya sikap mendua terhadap wanita. Seringkali mereka menaruh rasa cinta kepada wanita lain, dan bahkan lebih dari pada itu mereka menyukai hidup "berpoligami" (Husein al-Hajj Hasan: 1990:18).

Kondisi ini seringkali mengilhami para penyair untuk menuangkan karya sastranya dengan bertemakan al-ghazal (romance). Jadi, perbincangan mengenai kecantikan seorang wanita di kalangan para penyair jahili bukan merupakan sesuatu yang tabu. Bahkan dalam pandangan mereka tema al-ghazal tak ubahnya seperti garam dalam masakan.

Karena latar seperti itu sehingga bahasa-bahasa al-Qur'an yang membicarakan tentang perempuan dan yang terkait dengannya selalu menggunakan bahasa yang halus, sopan, dan etis. Secara psikologis, kalau bahasa yang digunakan itu vulgar atau sesuai dengan konteksnya mungkin akan memancing munculnya sifat-sifat di atas yang sudah menjadi karakter hidup mereka. Karena itu, untuk memendam sifat-sifat tersebut al-Qur'an sengaja menyampaikan dengan bahasa yang sopan.

Begitu pula dalam ayat al-Qur'an ketika Allah membicarakan kedudukan dan posisi seorang isteri di hadapan sang suami ia digambarkan seperti ladang tempat bercocok tanam (har-tsun). Perhatikan ayat berikut:

 نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ 
 

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. 2:223).

Secara harfiah memahami ayat di atas seakan-akan ada kebebasan bagi sang suami. Namun tidak demikian, sekalipun dalam kenyataannya superioritas laki-laki terhadap perempuan sangat mendominasi saat itu tetapi Islam telah memberikan aturan yang jelas dan adil. Seorang isteri diibaratkan seperti ladang karena pada ayat sebelumnya (ayat 222) membicarakan kondisi perempuan yang menstruasi. Islam memberikan tuntunan bahwa perempuan yang sedang menstruasi tidak boleh diperlakukan seperti dalam keadaan normal. Maka untuk melunakkan dan meluluhkan hati mereka al-Qur'an menggambarkan seorang isteri seperti ladang jika ia dalam keadaan suci.

Dalam fenomena masyarakat Arab ladang memang menjadi simbol ketenangan dan kemakmuran hidup. Peperangan yang terjadi antara kabilah salah satunya disebabkan karena mereka berebut ladang sebagai sumber mata pencahariannya. Supaya mereka tetap mencintai isterinya seperti semula maka ia digambarkan dalam al-Qur'an seperti ladang. Karena dalam tradisi masyarakat Arab pra-Islam apabila isteri itu dalam keadaan menstruasi ia ditinggalkan begitu saja, tidak diberi nafkah sehingga statusnya tidak jelas.

Tradisi dan budaya yang mendeskriditkan posisi perempuan ini kemudian diperbaiki oleh Islam dengan cara yang halus agar kaum perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan kaum laki-laki.

Dalam pandangan ulama ahli balaghah (ahli gaya bahasa) konsep majaz sesungguhnya tidak ada perbedaan yang krusial dengan isti'arah (peminjaman kata). Perbedaan keduanya terletak pada alaqah (relasi antara makna dasar dengan makna lain). Jika alaqah-nyamusyabahah (ada kesesuaian antara makna dasar dengan makna lain) maka disebut isti'arah, dan sebaliknya, jika 'alaqah-nya ghairu musyabahah (tidak ada kesesuaian) maka disebut majaz (Ahmad al-Hasyimi: 1960:291).

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut:

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا
 

Dan apabila kamu membaca al-Qur'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. (QS. 17:45).

Bentuk majaz pada ayat di atas adalah kalimat "hijaban masturan" (dinding yang tertutup). Menurut mayoritas ahli tafsir maksudnya adalah dinding yang menutup, karena kata "masturan" bermakna menjadi sasaran, bukan sebagai pelaku. Jadi, arti yang tepat pada kata"masturan" adalah "satiran" (yang menutup). Di sini 'alaqah-nya adalah ghairu musyabahah, yaitu tidak adanya kesesuaian antara makna dasar (_masturan_--yang ditutup) dengan makna lain (satiran). Pemahaman ini terjadi hanya berdasarkan pada logika dan kebiasaan semata, bukan dari sisi struktur kalimatnya.

Berbeda dengan ungkapan isti'arah berikut ini:

... وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا ...
 

Dan kepalaku telah ditumbuhi uban. (QS: 19:4)

Secara leksikal kata "isyta'ala" bermakna menyala, "al-ra'su" bermakna kepala, dan "syaiba" bermakna uban. Namun kurang tepat jika ungkapan tersebut diterjemahkan "dan kepalaku menyala uban". Karena yang lebih pas adalah "dan kepalaku telah ditumbuhi uban". Perpindahan (penggunaan) makna "isyta'ala"(menyala) kepada "nabata" (tumbuh) adalah sesuai(musyabahah), karena dalam ungkapan itu ada kata "al-ra'su".

Maksudnya, kata "nabata" diserupakan dengan "isyta'ala"karena begitu banyaknya uban yang tumbuh di kepala. Kemudian kata "nabata" dibuang dan yang menjadiqarinah (indikator) adalah kata "syaiba" (uban). Qarinahyang dimaksud adalah kata atau keadaan yang tidak memperbolehkan sebuah kata diterjemahkan atau dipahami secara leksikal (haqiqi).

Keindahan dan kesempurnaan ungkapan dalam ayat ini tidak hanya terletak atau berpulang pada peminjaman kata (isti'arah) yang digunakan, melainkan juga berpulang pada kekhususan formulasi kalimat dalam ayat itu sendiri. Formulasi yang dimaksud adalah pilihan gaya tutur yang dipakai serta relasi antar struktur bagian kalimat yang satu dengan bagian lainnya. Kata"isyta'ala" dalam konteks ini mengacu kepada rambut yang memutih, meskipun secara leksikal dianggap mengacu kepada kata "al-ra'su".

Rahasia dari ungkapan ini terletak pada kata "isyta'ala"yang mengacu kepada rambut yang memutih, seolah rambut terbakar sehingga seluruhnya berubah menjadi warna putih. Makna dasar dari ungkapan ayat di atas adalah "rambut yang memutih", akan tetapi dengan struktur kalimat dalam ayat itu maknanya berkembang menjadi "rambut kepala memutih dengan tidak meninggalkan sisa sehelai rambut pun yang berwarna hitam".

Tasybih (Simile)

Secara etimologis tasybih berarti penyerupaan. Sedangkan secara terminologis adalah menyerupakan dua perkara atau lebih yang memiliki kesamaan dalam hal tertentu (Ahmad al-Hasyimi: 1960:247). Para sastrawan Arab menjelaskan bahwa tasybih merupakan elemen vital dalam karya sastra.

Menurut mereka tasybih memiliki empat unsur utama, yaitu:

  • sesuatu yang diperbandingkan (al-musyabbah)

  • obyek perbandingan (al-musyabbah bih)

  • alasan perbandingan (wajh al-syibh)

  • perangkat perbandingan (adat al-tasybih).

Sedangkan al-musyabbah dan musyabbah bih disebuttharafan al-tasybih, yaitu dua pilar yang harus ada dalam ungkapan kalimat yang berbentuk tasybih. Apabila salah satu yang muncul, apakah itu musyabbah ataumusyabbah bih maka pembahasan ini bukan termasuk kategori tasybih, melainkan masuk pada kajian isti'arah. Karena itu, konsep majaz, isti'arah, dan tasybih mempunyai kaitan dan saling berhubungan.

Ahmad Badawi (1950:190) mengatakan, tasybihberfungsi memperjelas makna serta memperkuat maksud dari sebuah ungkapan. Sehingga orang yang mendengarkan pembicaraan bisa merasakan seperti pengalaman psikologis si pembicara. Dalam persoalan-persoalan yang berkaitan dengan eskatologis al-Qur'an seringkali digunakan bahasa metaforis yang diungkapkan dalam bentuk gaya bahasa simile (tasybih).

Karena bahasa metaforis memiliki kekuatan yang bisa mempertemukan antara ikatan emosional dan pemahaman kognitif sehingga seseorang dimungkinkan untuk mampu melihat dan merasakan sesuatu yang berada jauh di belakang teks. Contoh, bagaimana al-Qur'an menggambarkan hari kiamat? Di situ ditampilkan suara derap pasukan berkuda yang gagah yang siap melumatkan musuh dalam sekejap. Ada lagi al-Qur'an menggambarkan ketika suatu saat nanti bintang-gemintang saling bertabrakan yang satu menghancurkan yang lain sehingga memunculkan suara gemuruh yang tak terpikirkan dan manusia pun lari tunggang langgang karena ketakutan.

Menurut analisa psiko-linguistik, metafor dan bahasa ikonografik yang disajikan al-Qur'an sangat efektif untuk menghancurkan kesombongan masyarakat jahiliyah Arab kala itu yang tingkat sastranya dikenal sangat tinggi (Komaruddin Hidayat: 1996:83).

Perhatikan firman Allah yang melukiskan peristiwa hari kiamat dalam surat al-Qari'ah ayat 1-5:

الْقَارِعَةُ ۝ مَا الْقَارِعَةُ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ ۝ يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ ۝ وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ ۝
 

Hari kiamat 
Apakah hari kiamat itu? 
Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? 
Pada hari itu manusia seperti kupu-kupu yang bertebaran. 
Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui seperti apa hari kiamat itu? Masyarakat Arab yang menjadi sasaran pertama al-Qur'an diturunkan mereka berhati keras, berwatak kaku, berpikiran sempit yang terkungkung oleh pengunungan dan padang pasir yang gersang, serta tidak ada tanaman yang tumbuh maka untuk meneguhkan keyakinan mereka bahwa kehidupan di dunia adalah fana Allah menggambarkan hari kiamat seperti kupu-kupu yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.

Dalam keyakinan kita, sebagai seorang muslim tentu hari kiamat tidak sama persis seperti illustrasi dalam ayat-ayat di atas. Tetapi hal itu perlu dipahami, bahwa peristiwa-peristiwa ghaib seringkali diilustrasikan dengan sesuatu yang konkrit karena konteks masyarakat yang dihadapi Nabi memiliki karakter dan watak yang kaku. Karena latar demikian itu, maka hari kiamat dipersamakan dengan sesuatu yang nampak oleh penglihatan mereka. Dengan maksud agar mereka bisa membaca sehingga tumbuh keyakinan kuat terhadap ajaran yang dibawa Nabi SAW.

Juga dalam firman Allah yang menggambarkan sifat-sifat penghuni neraka lantaran mereka tidak mensyukuri ni'mat yang diberikan. Perhatikan surat al-A'raf ayat 179 berikut:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
 

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Kandungan tasybih dalam ayat di atas adalah "ula'ika kal an'am" (mereka seperti binatang ternak). Sebuah gaya bahasa yang ringkas, padat, jelas, dan penuh dengan makna. Orang-orang yang kufur terhadap ni'mat Allah, seperti orang yang dikaruniai hati tapi tidak dipergunakan untuk berpikir, dikaruniai penglihatan tapi tidak dipergunakan untuk melihat kebesaran-Nya, dan dikaruniai telinga tapi tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah maka Allah cukup mempersamakan mereka dengan satu ungkapan, yaitu "binatang ternak", bahkan lebih sesat.

Walaupun ia punya panca indra yang lengkap, tetapi ia tidak punya rasa malu, sering memakan milik orang lain, dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Secara sosiologis, Allah mempersamakan mereka dengan binatang ternak karena pada umumnya masyarakat Arab memelihara binatang-binatang ternak dan itu menjadi simbol kekayaan. Dan bahkan dalam al-Qur'an ada satu surat yang diberi nama surat "al-ِAn'am" (binatang ternak). Dengan seringnya mereka melihat binatang ternak maka akan menjadi mudah untuk mengetahui sifat-sifatnya yang buruk dan tidak manusiawi itu. Yang pada akhirnya mereka bisa membandingkan antara orang-orang yang pandai bersyukur dan orang-orang yang kufur, yang diibaratkan dalam al-Qur'an seperti binatang ternak.

Contoh lain bentuk ungkapan tasybih juga ditemukan dalam surat an-Nur ayat 39 di bawah ini:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
 

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketatapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. 24:39)

Melihat kondisi geografi tanah Arab yang sulit untuk mendapatkan air, maka dalam ayat tersebut Allah mempersamakan amal-amal orang kafir seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air dan bila didatangi tidak didapatinya. Satu gambaran yang benar-benar membuat mereka untuk berpikir mendalam, bahwa apa yang mereka lakukan selama ini di hadapan Allah tidak mendapatkan balasan sedikit pun. Mempersamakan amal-amal orang kafir dengan fatamorgana karena di tempat mereka hidup sangat sulit untuk mendapatkan air, dan itu menjadi sumber kehidupan masyarakat Arab secara keseluruhan. Persamaan itu akan membuat mereka lebih nyata untuk membaca fenomena alam yang kemudian direfleksikan kepada keyakinannya yang selama ini dianggap benar.

Bagaimana al-Qur'an memberikan kabar gembira kepada orang yang beriman dan berbuat kebaikan? Perhatikan ayat berikut.

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
 

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:25)

Sebuah perumpamaan yang dapat memikat hati masyarakat Arab, jika mereka beriman dan berbuat baik maka baginya surga yang penuh dengan air, buah-buahan, dan isteri-isteri. Tidak bersahabatnya kondisi alam membuat mereka kekurangan sumber air, serta tandusnya tanah padang pasir mengakibatkan sulitnya untuk mendapatkan bahan makanan. Peperangan-peperangan yang terjadi di antara mereka banyak disebabkan oleh kebutuhan pokok tersebut, dan bahkan dipicu oleh kecintaan kepada seorang perempuan.

Kebutuhan fisik berupa air dan buah-buahan, serta kebutuhan biologis berupa isteri-isteri (bentuk jamak) merupakan fenomena dan realita yang menimpa masyarakat Arab. Untuk menggugah keyakinannya, agar mereka mau beriman kepada ajaran yang dibawa Nabi dan kemudian diwujudkan dalam bentuk perbuatan nyata maka al-Qur'an menyampaikan dengan gaya bahasa tasybih. Surga yang digambarkan suatu tempat yang penuh dengan air, buah-buahan, dan isteri-isteri adalah bentuk perumpamaan yang dapat memberikan stimulus, membangkitkan sugesti, dan menjadi dambaan dalam hidup mereka.

Isti'arah (Hipalase)

Para ahli bahasa, termasuk kritikus sastra meski banyak memberikan definisi isti'arah berbeda-beda, namun inti yang dimaksud saling mendekati. Misalnya definisi yang dikemukakan Ibn Qutaibah (w. 276 H), isti'arah adalah peminjaman kata untuk dipakai dalam kata yang lain karena ada beberapa faktor. Pada lazimnya, orang Arab sering meminjam kata dan menempatkannya untuk kata lain tatkala ditemukan alasan-alasan yang memungkinkan.

Juga dengan Tsa'lab (w. 291 H), ia mengatakan, isti'arah adalah peminjaman makna 
kata untuk kata lainnya yang mana kata tersebut pada awalnya tidak memiliki makna yang dipinjamkan. Sementara al-Jurjani (w. 471 H) mendefinisikan isti'arah sebagai peralihan makna dari kata yang dalam penggunaan bahasa keseharian memiliki makna dasar, atau makna asli, kemudian karena alasan tertentu makna tersebut beralih kepada makna lainnya bahkan terkadang melampaui batas makna leksikalnya. Ia menjelaskan, bahwa isti'arah senantiasa mengandung unsur perbandingan.

Konsep isti'arah sebenarnya berangkat dan bermuara dari bentuk gaya bahasa tasybih. Jadi, pada hakikatnya ungkapan bentuk isti'arah ini adalah ungkapan bentuk tasybih yang paling tinggi. Menurut Ahmad al-Hasyimi (1960:304) dan para ahli balaghah lainnya, isti'arah mempunyai tiga unsur:

  • musta'ar lah (musyabbah)

  • musta'ar minhu (musyabbah bih)

  • musta'ar (kata yang dipinjam).

Untuk lebih jelasnya perhatikan firman Allah surat Ibrahim ayat 1:

الر. كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
 

Alif, laam raa. (ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

Dalam ayat di atas terdapat tiga kata yang dipinjam yaitu:

  • al-dzulumat (gelap gulita),

  • al-nur (cahaya),

  • al-shirat (jalan).

Kata "al-dzulumat" dipinjam dari kata "al-kufr" (kekufuran), asalnya kekufuran diserupakan dengan suasana gelap gulita karena sama-sama tidak ada cahaya atau petunjuk.

Kemudian kata "al-kufr" dibuang dan maksudnya dipinjamkan kepada kata "al-dzulumat". Juga kata "al-nur" dipinjam dari kata "al-iman" (keimanan), asalnya keimanan diserupakan dengan cahaya karena sama-sama menerangi kehidupan. Kemudian kata "al-iman" dibuang dan maksudnya dipinjamkan kepada kata "al-nur".

Dan kata "al-shirat" dipinjam dari kata "al-Islam" (keislaman), asalnya jalan diserupakan dengan Islam karena sama-sama memberikan cara atau petunjuk. Kemudian kata "al-Islam" dibuang dan maksudnya dipinjamkan kepada kata "al-shirat".

Jadi, dalam memahami ayat tersebut hendaknya kata "al-dzulumat" dipahami sebagai kekufuran, kata "al-nur" dipahami dengan keimanan, dan kata "al-shirat" dipahami dengan keislaman.

Secara logika, diturunkannya al-Qur'an untuk manusia bukan karena mereka supaya keluar dari suasana gelap gulita menuju cahaya untuk memperoleh jalan. Al-Qur'an adalah wahyu sebagai pedoman hidup manusia, ia diturunkan oleh Allah agar manusia bisa keluar dari kekufuran menuju keimanan dengan aturan yang telah ditetapkan dalam syari'at Islam.

Contoh isti'arah yang lain adalah:

... وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
 

Dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur'an), mereka itulah orang-ornag yang beruntung. (QS. 7:157)

Kata "nur" di sini dipinjam untuk memperjelas misi dan pesan kenabian, karena keduanya memiliki fungsi untuk meyakinkan, menghilangkan, serta menepis keraguan atas kebenaran misi kenabian tersebut. Jaid maksud kata "al-nur" di sini adalah kehadiran Nabi Muhammad SAWbersama misinya yang membawa keselamatan dan kebahagiaan hidup.

Banyak ditemukan dalam al-Qur'an, misalnya kehadiran Nabi, al-Qur'an, keimanan, bahkan Allah sendiri sering disimbolkan dengan kata al-nur (cahaya). Secara psikologis, untuk menyampaikan kebenaran kepada orang-orang Arab pra-Islam yang sudah memiliki keyakinan paganisme, yaitu menyembah berhala maka al-Qur'an sangat memperhatikan aspek psikis mereka. Mereka terbiasa hidup nomad, berwatak kasar, dan tuhan yang disembah adalah berhala yang nampak oleh penglihatan. Karena itu, ketika al-Qur'an menyampaikan kebenaran, lebih-lebih yang terkait dengan persoalan ghaib (abstrak) maka al-Qur'an menggunakan bahasa metaforik dan simbolik.

Menurut kritikus sastra bahwa dalam beberapa karya sastra jahili bahasa yang dituangkan memiliki nilai imajinasi yang tinggi. Faktor ini muncul karena para sastrawan jahili terbiasa hidup di pegunungan, jauh dari sumber air, dan kondisi tanah yang tidak menguntungkan maka untuk menggapai kehidupan yang menyenangakan mereka mengeksploatasikan melalui gubahan-gubahan karya sastra, sekalipun itu hanya dalam hayalan. Munculnya gaya bahasa tasybih, majaz,istia'rah, dan sebagainya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas imajinasi yang dikembangkan. Sehingga sangat beralasan, apabila al-Qur'an menyampaikan pesan moral kepada mereka dengan menggunakan gaya bahasa yang sudah mereka pahami.

Kinayah (Mitonimie)

Al-Mubarrad (w. 258 H) merupakan sarjana bahasa yang melakukan sistematisasi mengenai konsep kinayah. Dalam karyanya "al-Kamil", al-Mubarrad menguraikan tiga model kinayah beserta fungsinya:

  1. menjadikan sesuatu lebih umum

  2. memperindah ungkapan

  3. untaian pujian

Namun al-Mubarrad tidak banyak mengulas pada model pertama dan ketiga, ia lebih menitikberatkan pada model yang kedua, yaitu kinayah sebagai penyempurna keindahan ungkapan, khususnya yang diambil dari ayat-ayat al-Qur'an.

Kinayah adalah mengungkapan kata, tetapi yang dimaksud bukan makna dari kata itu, sekalipun bisa dibenarkan kalau dipahami sesuai dengan makna dasarnya.

Misalnya dalam pribahasa Arab:

اليد الطويلة
 

Tangan panjang

Di kalangan orang Arab sangat popular istilah "al-yad al-thawilah" untuk menyebut (sebagai kinayah) kepada seseorang yang suka memberi atau membantu. Tetapi kalau "al-yad al-thawilah" dipahami sebagai tangan yang panjang, sesuai dengan makna dasarnya juga tidak salah, inilah kinayah.

Perhatikan pula dalam surat al-Zukhruf ayat 18:

أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ
 

Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.

Menurut Fadlal Hasan, ayat tersebut diturunkan kepada Nabi yang dilatarbelakangi oleh kebiasaan orang Arab jahilayah yang membenci anak-anak perempuan dan menguburnya hidup-hidup. Selain itu, mereka juga menyangka bahwa malaikat itu anak perempuan Allah.

Kemudian ayat tersebut diturunkan sekaligus memperkuat kebodohan dan kedangkalan pemikiran mereka. Dalam ungkapan ayat di atas "man yunasysya'u fil hilyati" (orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan) adalah kinayah bagi seorang perempuan. Karena yang sering berhias dan berdandan, serta tidak memiliki kekuatan dalam pertengkaran adalah orang perempuan.

Jadi, konteks ayat di atas sebagai kinayah bagi orang perempuan Arab jahili yang memiliki kebiasaan berhias diri dan tidak punya kekuatan, sekalipun sifat-sifat itu juga terdapat pada perempuan zaman sekarang.

Tauriyah (menampakkan makna lain)

Tauriyah secara bahasa adalah menyembunyikan sesuatu dan menampakkan yang lain. Sedangkan secara istilah adalah menyampaikan bahasa atau kata dalam bentuk tunggal (mufrad), tetapi ia memiliki dua makna (ambigu), yaitu makna dekat (denotaif) dan makna jauh (konotatif), tetapi yang dimaksud adalah makna konotatifnya.

Misalnya dalam surat al-An'am ayat 60:

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
 

Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.

Pada kata "jarahtum" memiliki dua makna:

  • kamu kerjakan, sebagai makna dekat atau denotatif

  • melakukan dosa-dosa, sebagai makna jauh atau konotatif.

Tetapi yang dikehendaki dalam ayat di atas adalah makna yang kedua, yaitu melakukan dosa-dosa. Karena dalam konteks kalimat tersebut terkait dengan umur dan pertanggungjawaban amal perbuatan, sehingga kata"jarahtum" lebih tepat kalau dipahami melakukan dosa-dosa.

Pemahaman seperti ini tidak cukup dengan membaca terjemahnya saja, tetapi penguasaan terhadap sebab-sebab turunnya ayat, keterkaitan antara maksud kalimat yang satu dengan lainnya, dan ketajaman dzauq sangat menetukan. Dan masih banyak contoh lainnya, terutama yang berkaitan dengan al-mutasyabihat dan metafisik.