Penutup

 

Turunnya al-Qur'an secara evolusi (tadrij) selama lebih kurang 23 tahun memberikan kesan bahwa al-Qur'an berdialog dan sekaligus merespon prilaku masyarakat Arab saat dakwah Islam disampaikan. Indikasi ini dapat dilihat dengan munculnya konsep asbab al-nuzul dan nasikh mansukh yang menjadi tema tersendiri dalam studi ulumul Qur'an. Karena itu, untuk memperoleh pemahaman yang holistik dan komprehensip terhadap pesan-pesan al-Qur'an maka mengetahui konteks saat wahyu diturunkan menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.

Pada umumnya ungkapan-ungkapan dalam al-Qur'an ketika memaparkan kebiasaan hidup masyarakat Arab pra-Islam selalu menggunakan gaya bahasa metaforis (majaz). Pengungkapan dengan gaya bahasa ini sangat beralasan, karena secara psikologis mereka sudah memiliki keyakinan paganisme, hidup nomaden atau probabilistik, dan berwatak kasar.

Karena itu, ketika al-Qur'an menyampaikan kebenaran, lebih-lebih yang terkait dengan persoalan ghaib (eskatologis) maka bahasa al-Qur'an sangat memperhatikan aspek psikis mereka. Selain itu, ungkapan tersebut juga diyakini memiliki kekuatan yang bisa membangkitkan imajinasi kreatif untuk membuka wilayah pemahaman baru yang batas akhirnya belum diketahui.

Dengan demikian, Islam yang diyakini sebagai agamashalihun li kulli zamanin wa makanin dan membawa misirahmatan lil Alamin dapat direalisasikan sesuai dengan konteks pembacaan.