Metode menghilangkan Ta'arud al-Hadith

 

Ilmu yang membahas dan mengkaji hadith-hadith yang tampaknya saling bertentangan di sebut dengan ilmu Mukhtalif al-Hadith wa Mushkiluh. Dr. Muhammad 'Ajaj al-Khatib mendefinisikan ilmu ini dengan:

العلم الذي يبحث في الأحاديث آلتي ظاهرها متعارض فيزيل تعارضها أو يوفق بينه كما يبحث فى الأحاديث التي يشكل فهمها أو تصورها فيدفع أشكالها ويوضح حقيقتها
 

"Ilmu yang nmembahas hadith-hadith yang tamaknya saling bertentangan, lalu menghilangkan pertentangan itu atau mengkompromikannya, disamping membahas
hadith yang sulit di pahami dan di mengerti, lalu menghilangkan kesulitan itu dan menjelaskan hakekatnya".20

Ulama telah memberikan perhatian serius terhadap ilmu ini sejak masa sahabat, yang menjadi rujukan utama segala persoalan setelah Rasulullah SAW wafat. Mereka melakukan ijtihad mengenai berbagai hukum, memadukan antar berbagai hadith, menjelaskan dan menerangkan maksudnya. Kemudian generasi demi generasi mengikuti jejak mereka, mengkompromikan antar hadith yang tampaknya saling bertentangan dan menghjilangkan kesulitan dalam memahaminya.

Dalam menghilangkan ta'arudul hadith, para ulama sepakat menggunakan beberapa metode berikut ini.

Jam'u (mengkompromikan)

Definisinya adalah:

التوقف بين الدليلين المتعارضين على وجه يزيل تعارضهما 
 

"Menyelaraskan atau menyesuaikan dua dalil yang saling bertentangan dengan suatu cara yang dapat menghindarkan pertentangan tersebut (sehingga tidak ada pertentangan antara keduanya dan atau dapat diamalkan secara bersama-sama)".21

Macam-macam jama':

Mentakhshis 'Am-nya

Dalam kitab "al-Minhaj" dan syarahnya, menurut madzab Syafi'iyah, apabila terjadi pertentangan antara lafad 'am dan khash, maka ada dua kemungkinan. Pertama, mungkin salah satunya lebih khash (khusus) daripada lainnya secara mutlak. Kedua, mungkin ke-'am-annya dan ke-khash-annya hanya terletak pada satu sisi saja.

Apabila kondisi pertama terjadi maka lafad khash lebih diunggulkan dan diamalkan daripada lafad 'am-nya. Karena lafad khash masih dapat merealisasikan apa yang terkandung dalam lafad 'am. Mengamalkan lafad khash berarti mengamalkan ketentuan kekhususannya dan mengamalkan lafad 'am berarti mengamalkan ketentuan lain di luar ketentuan yang terkandung dalam lafad khash.

Apabila kondisi kedua yang terjadi dan terdapat sesuatu yang dapat diunggulkan, maka itulah yang diamalkan. Namun apabila tidak terdapat sesuatu yang dapat diunggulkan, maka seorang mujtahid dapat memilih mana diantara keduanya yang diamalkan. Keduanya tidak dapat diamalkan secara bersamaan. Contoh, hadith nabi:

"Barangsiapa yang lupa melaksanakan shalat, maka shalatlah di kala ingat".22

Bersamaan dengan larangan Rasulullah SAW, shalat di waktu karahah (Makruh).23 Apabila ditinjau hadith pertama bersifat umum. Namun bila ditinjau dari segi shalatnya, hadith ini bersifat khusus, karena menunjuk pada sebagian shalat saja, yaitu shalat qadla' Apabila ditinjau dari segi shalatnya, maka hadith kedua bersifat umum. Namun apabila ditinjau dari segi waktunya, maka hadith kedua bersifat khusus, karena menunjuk pada sebagian waktu saja, yaitu waktu makruh. Dari sinilah madzab Syafi'i mengunggulkan hadith pertama. Sehingga mereka memperbolehkan mengqada' shalat yang tertinggal pada waktu karahah.

Mentaqyid muthlaq-nya

Mayoritas ulama berpendapat bahwa lafad muthlaq dapat dipahami secara muqayyat. Artinya, lafad muthlaq yang terdapat pada salah satu hadith yang bertentangan harus dipahami secara muqayyad berdasarkan hadith satunya. Sebagaimana contoh hadith yang berarti:

Dari Nafi' dari Umar ra. Bahwasanya rasulullahSAW. Mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha' kurma atau gandum kepada setiap muslim yang merdeka, budak, laki-laki maupun perempuan.24

Bukhari juga meriwayatkan hadith lain tanpa menyebutkan lafad: "setiap muslim". Turmudzi berkata,

Lebih dari satu rawi yang meriwayatkan hadith tersebut dengan tanpa menyebut lafad setiap muslim.

Dalam kedua hadith tersebut terdapat obyek hukum yang sama yaitu zakat fitrah, dan ketentuan hukum yang sama yaitu wajibnya zakat fitrah. Mutlaq dan muqayyadnya terdapat pada sebab hukumnya, yaitu seseorang yang ditanggung wajib zakatnya (muzakki). Pada hadith pertama, wajib zakat dibatasi dengan sifat Islam (muslim), sedang hadith kedua, wajib zakat tidak dibatasi dengan sifat tersebut. Artinya, lafad mutlaq yang terdapat pada hadith kedua harus dipahami secara muqayyad berdasarkan hadith pertama. Sehingga zakat fitrah tidak diwajibkan kecuali pada orang muslim yang menjadi tanggungan wajib zakat. Selanjutnya ulama berperndapat bahwa zakat tidak diwajibkan kepada selain orang Islam. Begitu pula, budak (orang yang menjadi tanggungan) yang non Islam.

Nasakh (Menggugurkan salah satunya)

Dengan menggunakan pertimbangan:

  • Salah satu nash yang datang terakhir diketahui secara konkret sehingga dalil (hadith) yang terakhir bisa menasakh dalil (hadith) yang awal.

  • Bila tidak dapat diketahui mana yang awal dan mana yang akhir maka dicarikan dalil pendukung bagi keduanya sehingga dapat diketahui kekuatan hukum diantara keduanya dan yang paling kuat dipilh.

  • Memilih salah satunya dengan jalan mentarjihnya.25

Tarjih

Al-Amidi mendefinisikan tarjih dengan

اقتران أحد الصالحين للدلالة على المطلوب مع تعارضهما بما يوجب العمل به وإهمال الأخر
 

"Membandingkan salah satu dari dua dalil yang patut dijadikan dasar hukum yang saling bertentangan berdasarkan sesuatu yang mengharuskannya untuk diamalkan dan menggugurkan dalil lainnya".26

Mayoritas ulama berpendapat bahwa mengamalkan dalil yang lebih unggul adalah wajib bila dihubungkan dengan adanya dalil yang tidak unggul (lemah), karena dalil yang lemah tidak boleh diamalkan, baik pengunggulan (tarjih) tersebut bersifat qath'i maupun dzanni. Wajib mengutamakan dalil yang lebih unggul dari dua dalil dzanni yang saling bertentangan jika ada unsur yang mengutamakannya. Sebagaimana mereka lebih mengunggulkan hadith yang diriwayatkan oleh Aisyah ra. Tentang wajibnya mandi jinabah, sekalipun bukan karena telah melakukan coitus, yaitu hadith:

الماء من الماء 
 

"Kewajiban mandi (besar) itu karena keluarnya air (sperma)".27

Alasan ditarjihnya hadith ini adalah karena istri-istri Nabi SAW. Lebih tahu terhadap perbuatan beliau daripada orang lain. Para ulama juga lebih mengutamakan hadith yang dfiriwayatkan oleh Aisyah ra. Berikut ini:

Bahwasanya Nabi SAW. Pernah mandi jinabah pada pagi hari saat beliau berpuasa"28

Daripada hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

Bahwasanya Nabi SAW. Bersabda: "Barangsiapa pada saat terbit fajar (pagi hari) dalam keadaan jinabah maka puasanya tidak sah".29

Adapun pentarjih-an hadith, para ahl Ushul memberikan beberapa pertimbangan di dalamnya, meliputi:

  • Tarjih berdasarkan keadaan perawi

  • Tarjih berdasarkan jumlah rawi

  • Tarjih berdasarkan keluhuran rawi

  • Tarjih berdasarkan kefaqihan rawi

  • Tarjih berdasarkan pengetahuan rawi dalam Bahasa Arab

  • Tarjih berdasarkan kelebihan pengetahuan dalam Ilmu Fiqh dan Bahasa Arab

  • Tarjih berdasarkan kesempurnaan Akidah rawi

  • Tarjih berdasarkan rawi sebagai pelaku peristiwa

  • Tarjih berdasarkan seniortitas rawi

  • Tarjih berdasarkan kedhabithan rawi

  • Tarjih berdasarkan kemasyhuran sifat adil dan tsiqah rawi

  • Tarjih berdasarkan nama rawi

  • Tarjih berdasarkan keadaan saat menerima hadith

  • Tarjih berdasarkan adanya hubungan langsung antara rawi dengan riwayatnya

  • Tarjih berdasarkan masa keis;laman rawi

  • Tarjih berdasarkan keadaan riwayat

  • Tarjih berdasarkan cara penerimaan hadith

  • Tarjih berdasarkan kepribadian rawi

  • Tarjih berdasarkan cara (dasar) periwayatan

  • Tarjih berdasarkan pergaulan

  1. Tarjih berdasarkan usia periwayatan rawi

  2. Tarjih berdasarkan tata cara periwayatan

  3. Tarjih berdasarkan waktu periwayatan

  4. Tarjih berdasarkan redaksi hadith

  5. Tarjih berdasarkan kandungan hukum hadith

  6. Tarjih berdasarkan unsur-unsur eksternal30