Benarkah Tarawih 20 Rakaat ?

Pendahuluan
Adalah suatu kenyataan bahwa sholat tarawih merupakan sholat sunnah tambahan yang dilakukan pada bulan ramadlan. Hanya syiah saja yang menolaknya. Demikian juga dengan salafy/wahaby, mereka tidak menganggap bahwa shalat tarawih adalah sholat sunnah tambahan di bulan ramadlan. Mereka meyakini bahawa sholat tahajud yang dikerjakan malam hari di bulan-bulan biasa juga merupakan sholat malam di bulan ramadlan. Jadi tidak ada sholat tambahan di bulan ramadlan. Mereka adalah firqah yang tidak bermadzab, dan mengklaim mengambil hukum langsung dari hadits-hadits nabi saw.

Ada riwayat yang mendukung bahwa tentang adanya (bagusnya) tambahan sholat sunnat di bulan suci ini. Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa baginda Nabi saw bersabda:

Barangsiapa menghidupkan malam-malam di bulan ramadlan dengan iman dan mengharap pahala, semua dosa-dosanya di masa lalu akan diampuni (Shahih Muslim, vol.1, hal 259)

Hadits ini menandakan bahwa Rasulullah saw menganjurkan umat untuk menghidupkan malam-malam selama bulan ramadlan, semisal dengan sholat malam. Tapi apakah beliau menambah-nambah juga sholat sunnahnya (di bulan suci ini) ?

Mungkinkah beliau seorang Nabi yang menganjurkan sholat malam di bulan ramadlan sementara beliau malah tidak mengerjakannya? Sejarah beliau membuktikan bahwa sabda beliau sesuai dengan perbuatannya. Beliau memberi contoh praktek apa yang beliau katakan. Jadi adalah tidak mungkin beliau meninggalkan sholat sunnah di bulan ramadlan. Beliau pasti mengerjakannya.

Dalam hal jumlah rakaat sholat tarawih, telah berlaku selama dua belas abad, umat ini telah melakukannya dengan 20 rakaat tarawih tanpa ada bantahan dari pihak manapun. Ini telah dipraktekkan sejak masa Rasulullah saw, masa sahabat ra, tabi’in, dan para ulama rhm sampai dua abad yang yang lalu, ketika muncul firqah baru yang menamakan dirinya ahlul hadits mencetuskan teori bahwa tarawih hanya 8 rakaat. Sampai sekarang, sholat tarawih di tanah haramain (Mekkah dan Madinah) adalah 20 rakaat dan ribuan umat islam menyaksikan dan mengerjakannya di bulan ramadlan.

Jika kita anggap bahwa 8 rakaat tarawih adalah yang benar, maka itu berarti bahwa mayoritas umat islam telah menyalahi amalan yang telah dilakukannya selama berabad-abad. Demikian juga, tidak ada masjid dari masa baginda nabi saw sampai dua abad yang lalu mempraktekkan sholat tarawih 8 rakaat. Ada madzab tertentu denagn delapan rakaat, sebagaimana ulama seperti imam Tirmidzi mengatakan dalam Jami’-nya, tetapi tidak ada keterangan dalam kitab-kitab hadits shahih yang menyatakan ada orang mempraktekkan 8 rakaat di masjid manapun.

Dalam tulisan ini, akan dibuktikan bahwa sholat tarawih adalah sholat sunnat tambahan di bulan ramadlan, dan bahwa jumlahnya adalah 20 rakaat. Harapan kami, tulisan ini menghilangkan semua keraguan dan mengklarifikasi masalah-masalah di antara umat islam. Semoga Allah meridloi. Amien.

Bab Satu

Masa-Masa Awal

Ibn Sihab mengisahkan bahwa setelah Nabi saw wafat, orang-orang tetap mempraktekkan sholat tarawih secara sendiri-sendiri dan itu kerjakan di era sayidina Abu Bakar ra dan di awal-awal masa kekhalifahan Umar ra.

Abdur Rahman Ibn Abdil Qarri mengisahkan bahwa dia keluar bersama Umar ra di satu malam dalam bulan ramadlan ke masjid. Orang-orang sedang mengerjakan sholat dalam kelompok-kelompok. Beberapa sholat sendirian atau satu orang sholat sebagai imam dengan beberapa kelompok di belakangnya. Umar ra mengemukakan keinginan beliau untuk menyatukan orang-orang itu di belakang satu imam dan berharap mereka melaksanakan sholat dalam satu jamaah. Beliau berpendapat bahwa hal itu sangat lebih baik dari pada orang-orang bersholat dalam kelompok-kelompok atau sendirian. Kemudian beliau mewujudkan keinginan beliau, menghimpun orang-orang sholat di belakang Ubay Ibn Ka’b ra. (Bukhari vol. 1, hal 269)

Urwa ra mengisahkan bahwa Aisya ra memberitahukan padanya bahwa Nabi saw keluar ke masjid di tengah malam dan bersholat bersama-sama dengan beberapa orang. Keesokan harinya orang-orang itu mengabarkan akan hal ini dan semakin banyak orang yang ikut berjamaah di malam berikutnya. Keesokan harinya kembali orang-orang membicarakan akan hal ini. Pada malam ketiga, masjid penuh. Pada malam ke empat, masjid tidak dapat memenuhi lagi jamaah. Nabi saw hanya datang keesokan harinya untuk sholat subuh. Setelah sholat subuh, beliau berpidato dan mengatakan kepada jamaah bahwa dia mengetahui kehadiran mereka di masjid tetapi beliau tidak datang karena takut bahwa tarawih menjadi diwajibkan atas mereka. Beliau takut bahwa umatnya tidak akan mampu untuk mengerjakannya. (Bukhari vol. 1, hal 269)

Istilah Sunnah
Ketika kata sunnah dipakai, itu tidak hanya sunnah dari Rasul saw, tetapi juga praktek dari empat khalifah sesudahnya. Hal ini diambil dari hadits Rasul saw yaitu,

Peganglah kuat-kuat sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin.(Abu Dawud vol 2 hal 635, Tirmidzi vol 2 hal 108, Sunan Darimi vol 1 hal 43 dan Ibn Majah hal 5).

Hadits ini terang-terangan menandakan bahwa umat islam juga meneladani perkataan dan perbuatan khulafa. Beberapa ulama seperti Syeikh Abdul Ghani Muhaddits Dhelwi memperluas bahwa kata khulafa adalah umum dan menunjuk kepada orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah saw, empat Imam dan khalifah Umar Ibn Abdil Aziz. (Inhajul Hajah hal 5).

Hadits di atas juga secara jelas dapat dijelaskan bahwa sebagaimana wajib mengikuti sunnah Rasulullah saw, juga perlu mengadopsi jalan yang ditempuh khulafaurrasyidin. Dan pendapat para ulama, bahkan jalan yg ditempuh para mujtahid pun seharusnya diadopsi. Semua khulafa dan mujtahidin tidak mengerjakan (sholat tarawih) kurang dari 20 rakaat. Sehingga mengerjakannya kurang dari 20 rakaat adalah berselisih dengan sunnah khulafa.

Sheikh Badrudîn Aini (855 A.H.) berkata dalam tafsirnya tentang Hidayah:

Tidak ada keraguan bahwa pahala diperoleh jika mengikuti Abu Bakar dan Umar ra dan seseorang akan mendapat dosa jika tidak mengikutinya karena kita diperintahkan untuk mematuhi mereka. Rasulullah saw bersabda, “Ikuti keduanya setelah aku yaitu Abu Bakar dan Umar”. Jadi mencontoh jalan mereka adalah wajib dan jika menolaknya harus dicela dan dihukum. (Majmuatul Fataawa, vol.1 hal 215)

Kamâluddin Ibn Humâm (869 A.H.) menuliskan dalam Tahrîrul Usûl: Ulama-ulama Hanafi membagi azimah menjadi:

(a) Fardu – yang mana kewajibannya adalah mutlak
(b) Wajib – yang mana kewajibannya adalah sangat mungkin
(c) Sunnah – cara yang diadopsi dari baginda rasul saw, dan khulafaurrasyidin atau salah satu dari mereka.

Ditunjukkan pada masa tabi’in, Hussami mencatat bahwa istilah sunnah merujuk pada perkataan/perbuatan Rasulullah saw atau Khulafaurrasyidin. Pendeknya, istilah sunnah adalah berlaku umum, merujuk pada sunnah Rasul saw dan sunnah Khulafa. Dan sunnah khulafa adalah 20 rakaat tarawih. Tidak ada di antara mereka yang mengerjakannya kurang dari itu. Mereka yakin bahwa itu adalah petunjuk dari Rasulullah saw untuk bersembahyang lebih di bulan ramadlan.

Bab 2

Berbagai riwayat sehubungan dengan tarawih 20 rakaat

(1) Diriwayatkan oleh Yazid Ibn Khusayfah dari Sâib Ibn Yazîd bahwa semua orang mengerjakan sholat tarawih 20 rakaat dalam bulan ramadlan pada masa khalifah Umar Ibn Khatab ra. (Baihaqi dalam As Sunaul Kubra, vol.2 hal 496)

Riwayat ini diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad shahih dalam Ma’rifah sementara Imam Nawawi (676 A.H), Ibnul Iraqi dan Imâm Suyuti (911 A.H.) mensahihkan riwayat ini dalam Khulasah, Syarh Taqrib dan Masabih.

(2) Yazid Ibn Ruman meriwayatkan bahwa semua orang mengerjakan sholat 23 rakaat dalam bulan ramadlan pada masa kekhalifahan Umar ra.(20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir) (Baihaqi dalam As Sunaul Kubra, vol.2 hal 496).

Dalam hal riwayat ini berkisah tentang masa sahabat Umar, maka Yazid Ibn Ruman yang tidak hidup pada masa itu bukanlah hal yang penting. Masalah ini sudah sangat umum diketahui. (Untuk lebih jelasnya, lihat Rakaat Tarawih oleh Syeikh Habibur Rahman Azmi, hal 63-68)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Malik (179 A.H) dalam kitab Muwatta-nya (hal 9). Imam Syafi’i berkata,”Kitab yang paling terpercaya setelah Quran adalah al Muwatta. Para ulama hadits sepakat bahwa apapun yang tertulis adalah benar menurut pendapat Imam Malik dan selaras dengan prinsip-prinsip beliau.

Jadi, walaupun hadits ini mursal di dalam As-Sunanul Kubra, tetapi hadits ini termuat pula di dalam al Muwatta Imam Malik. Selain itu, hadits mursal diterima oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Imam Syafi’i menerima hadits mursal jika didukung oleh riwayat-riwayat yang lain. (Syarh Nukhbatul Fikr, hal 64) Riwayat-riwayat lain mencukupi untuk mendukung hadits ini.

(3) Umar Ibn Khatab ra memerintahkan seseorang mengimami sholat tarawih 20 rakaat untuk orang banyak (Abubakr Ibn Shaibah dalam Musannaf-nya, vol.1 hal 483)

(4) Ubayy Ibn Ka’b ra biasa memimpin sembahyang dengan 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. (Abu Dawud hal.202)

(5) Ulama Tâbi´î yang utama, Atâ berkata, “Saya menemui orang-orang mengerjakan tarawih 20 rakaat dan 3 rakaat witir (Abubakr Ibn Shaibah dalam Musannaf-nya, vol.1 pg.483)

(6) Abul Khusaib berkata bahwa Suwaid Ibn Ghaflah biasa melakukan lima duduk, yaitu dia biasa mengerjakan 20 rakaat (dan duduk setelah 4 rakaat) . (Baihaqi vol.2 hal 496)

(7) Nâfi Ibn Umar mengatakan bahwa Ibn Abi Mulaykah biasa mengerjakan 20 rakaat untuk mereka dalam bulan ramadlan. (Abubakr Ibn Shaibah dalam Musannaf-nya)

(8) Dilaporkan oleh Saîb Ibn Ubaid bahwa Ali Ibn Rabî´ah biasa mengerjakan 5 tarawih (yaitu 20 rakaat dan istirahat setiap 4 rakaat) dengan orang-orang, dan dia biasa mengerjakan 3 rakaat witir. (Abubakr Ibn Shaibah dalam Musannaf-nya)

(9) Ibn Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw biasa mengerjakan sembahyang 20 rakaat dalam bulan ramadlan sendirian dan beliau juga mengerjakan witir. (Abubakr Ibn Shaibah dalam Musannaf-nya dan Baihaqi)

Hadits ini telah diterima oleh umat dan dipraktekkan tanpa keraguan di seluruh dunia. Meskipun demikian, pihak wahaby memperdebatkan sanad hadits ini.

Mereka melemahkan karena ada dalam hadits ini periwayat yang bernama Ibrâhim Ibn Uthmân. Menurut mereka, dia sangat lemah dan tidak jujur. Tetapi wahaby ini juga, yang menetapkan fardu-nya (atau sunat-nya) surat fatihah dalam rukun sholat jenazah, dengan memakai hadits dengan periwayat yang sama, Ibrâhim Ibn Uthmân. (Salatur Rasul dari Hakim Muhammad Siyalkuti, hal 434). Di sini tidak ada kritikan apapun tentang periwayat, ataupun memberi keterangan tentang kesahihan haditsnya.

Al Hafidz Ibn Hajar menyatakan bahwa Ibrâhim Ibn Uthmân adalah seorang hafidz, yaitu dia seorang yang terkemuka di bidang hadits. Tidak seorangpun meragukan ingatannya. Beberapa ulama seperti Imam Shu’bah mengkritisi kesahihannya sementara ulama-ulama yang lain seperti Yazid Ibn Harun memandangnya sebagai sahih. Jadi, dia dikatakan sebagai periwayat yang mukhtalaf. Sehingga haditsnya turun kategori menjadi hasan. Hal ini dengan asumsi bahwa ada kritik dari Imam Shu’bah. Tetapi jika kritikannya dapat dimentahkan, maka hadits itu menjadi sahih.

Syeikh Abdul Aziz, seorang ulama terkemuka Delhi menyatakan bahwa beliau bukan periwayat yang lemah yang dapat menyebabkan periwayatan beliau ditolak.

(10) Shaytar Ibn Shakl yang adalah murid dari Alî kwh melaporkan bahwa beliau (Alî) biasa membuat imamat sembahyang 20 rakaat di bulan ramadlan dan kemudian beliau yang mengimami 3 rakaat witir. (Baihaqi vol.2 hal.496)

(11) Abdur Rahmân Sulami meriwayatkan bahwa sahabat Alî kwh memanggil Qurrâ (pembaca Quran) dalam bulan ramadlan dan memerintahkan seorang dari mereka untuk mengimami sholat 20 rakaat sementara Alî kwh yang akan memimpin sembahyang witir. (Baihaqi vol.2 hal.496)

(12) Dikatakan dari Qiyamul Lail oleh Muhammad Ibn Ka’b Al-Qurazi bahwa semua orang-orang biasa mengerjakan 20 rakaat tarawih di bulan ramadlan. Mereka biasa memanjangkan bacaan quran dan mengerjakan 3 rakaat witir (Qiyamul Layl oleh Muhammad b. Nasr Marwazi hal.91)

(13) A’mash berkata bahwa Abdullah Ibn Mas’ud ra biasa mengerjakan 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. (Qiyamul Layl oleh Muhammad b. Nasr Marwazi hal.91)

(14) Nafi, budak yang dibebaskan oleh Ibn Umar ra dan murid dari Aisya ra, Abu Hurairah dan Abu Rafi’ ra, meriwayatkan bahwa dia melihat orang-orang mengerjakan 36 rakaat tarawih dan kemudian witir. (Tuhfatul Ahwazi vol.2 hal.73)

(15) Dawud Ibn Qais meriwayatkan bahwa dalam masa kekhalifahan Umar Ibn Abdil Aziz (101 A.H) dan Aban Ibn Utsman (105 A.H) dia melihat orang-orang Madinah mengerjakan sembahyang 36 rakaat. Khalifah Umar Ibn Abdil Aziz memerintahkan Qurra untuk mengerjakan sembahyang 36 rakaat. (Qiyamul Layl oleh Muhammad b. Nasr Marwazi hal.91-92)

(16) Abdul Aziz bin Rafai’ (Rahimahullâh) menyebutkan bahwa Ubay bin Ka’ab ra biasa mengimami sembahyang 20 rakaat tarawih dan kemudian 3 rakaat witir. (Atharus Sunan hal.53)

(17) Ubay bin Ka’ab ra meriwayatkan bahwa Umar ra memerintahkan padanya dengan mengatakan bahwa jika ia mengimami sembahyang (tarawih) maka hal itu akan lebih baik. Kemudian beliau berkata,”Kerjakan 20 rakaat untuk orang-orang .” ( Atharus Sunan hal.255)

(18) Diriwayatkan oleh Hasan bahwa Umar Ibnul Khattab ra mengumpulkan orang-orang (bersholat ) dengan Ubay Ibn Ka’b ra dan ia biasa mengimami 20 rakaat (tarawih) untuk mereka. (Abu Dawud)

Ada 2 keterangan mengenai Sunan Abu Dawud ini. Sebagian tertulis 20 rakaat, sebagian yang lain tertulis 20 malam. Keduanya diterima sebagai hadits. Shaikh Muhammad Ali As-Sâbuni dari Makkah juga menuliskan hadits ini dalam kitabnya, Al-Hadyun Nabawi As-Sahîh fî Prayerit-Tarâwîh. Al Allamah Dzahabi meriwayatkan hadits ini dengan kata-kata 20 rakaat di dalam Siyar Alamin Nubala-nya.

Syeikh Ibn Taymiyyah menyatakan bahwa telah terbukti bahwa Ubay Ibn Ka’b ra biasa mengerjakan 20 rakaat tarawih sebagai imam dari para jamaah dan kemudian mengerjakan 3 rakaat witir. Kebanyakan ulama menyimpulkan hal itu adalah sunnah karena ia mengerjakan itu di antara para Muhajirin dan Ansar dan tidak seorangpun menyanggahnya.(Fataawa Ibn Taymiyyah)

Ibn Taymiyyah menyatakan di manapun ketika seseorang mengerjakan tarawih sebagaimana madzab Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, yaitu 20 rakaat, atau 36 rakaat sebagaimana Imam Malik, atau 23 atau 11, maka dia telah melakukannya dengan baik. (Fataawa Al-Kubra, vol.4 hal.176) Beliau juga berpendapat bahwa kebanyakan umat islam mengerjakannya dengan 20 rakaat. (Majmuah Fataawah Ibn Taymiyyah, vol.22 hal.272)

Banyak riwayat-riwayat lain yang membuktikan jumlah rakaat 20 ini. Abdullah Ibn Masud ra juga biasa mengerjakan 20 rakaat. (Tuhfatul Ahwazi vol.2 hal.75)

Sampai dengan era Imam Malik (179 A.H), adalah kebiasaan resmi Madinah adalah 36 rakaat. Kadang-kadang sampai 41 rakaat. Imam Tirmidzi menunjukkan bahwa kebiasaan Madinah adalah 41 rakaat. Sembahyang 36 dikerjakan di mana saja pengikut Imam Malik berada.

Di Makkah, sampai era Ata Ibn Abi Rabah (114 A.H), 20 rakaat biasa dikerjakan. (Musannaf Ibn Abi Shaibah). Imam Syafi’i (204 A.H) sependapat dengan hal ini. Imam Tirmidzi menyebutkan bahwa kebanyakan ulama telah menerima riwayat Ali dan Umar ra dll – yaitu 20 rakaat. Nafi Ibn Umar menyebutkan bahwa Ibn Abi Mulaykah (117 A.H.) biasa dengan orang-orang mengerjakan 20 rakaat.

Abdullâh Ibn Masûd (32 A.H.), Suwaid Ibn Ghaflah (81 A.H), Ali Ibn Rabîah, Sufyân Thauri, Abdullah Ibn Mubârak (181 A.H.) dari Khurasân, Dawûd Zâhiri, Imâm Abu Hanîfa (150 A.H.) dan semua pengikutnya, Imâm Ahmad Ibn Hanbal (241 A.H.) dan semua pengikutnya, Imâm Shâfi’î dan semua pengikutnya mengerjakannya dengan 20 rakaat.

Ringkasnya, itu semua adalah amalan para salafus shaleh sejak zaman Umar ra sampai dengan sekitar pertengahan abad ke tiga di pusat-pusat utama para ulama seperti Makkah, Madinah, Kufa, Basrah, Baghdad, Khurasân, dll. Semua kitab-kitab muktabar dari ke empat madzab dan yang lainnya sepakat dengan sembahyang 20 rakaat (tarawih). (lebih detailnya lihat Bidayatul Mujtahid vol.1 hal. 210; Tirmidhi vol.1 hal.112; Kashful Qana hal.276; Sharh Muhtahil Iradat vol.1 hal. 256, Mughni Ibn Qudamah; Sharh Nawawi ala Muslim)

Ijma

Mullah Ali Qâri menyebutkan bahwa para sahabat ra telah ber-ijma dalam amalan sembahyang tarawih 20 rakaat. (Mirqat vol.3 hal.194) Allâmah Ibn Abdul Barr Mâliki dan Ibn Hajar Makki telah meriwayatkan ijma sembahyang 20 rakaat ini. Allâmah Qâdi Khan, Allâmah Shamsuddîn, Allâmah Qastalâni, Sheikh Muhammad Zakarriyya Kandhelwi, Allâmah Abdul Hayy Lucknowi dan Nawwâb Siddiq Hasan telah meriwayatkan Ijmâ ini. (Fataawa Qadi Khan, Sharh Muqanna vol.1 hal.852, Sharh Bukhari of Qastalani). Imâm Nawawi menyebutkan bahwa praktek 20 rakaat telah diamalkan sejak zaman salafus shaleh dan telah kuat hujahnya.

Ibn Qudâmah menyebutkan dalam Al-Mughni bahwa ini sudah seperti ijma. (Al Mughni vol.1 hal.803) Ibn Hajar Makki menyebutkan bahwa para sahabat ra telah bersepakat dengan 20 rakaat. (Mirqat). Hal ini telah mencukupi dalam hal hujah untuk 20 rakaat karena sunnah khulafa selaras dengan sunnah Nabi saw.

Hudzaifa meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda,”Ikuti dua setelah aku”. dan beliau menunjuk kepada Abu Bakr danUmar ra.(Tirmidhi vol.2 hal. 229) Jika 20 rakaat bukan sunnah, maka sahabat Umar ra telah melakukan hal yang seburuk-buruknya bidah. Dan jika demikian, para sahabat yang lain tidak akan menerimanya. Mereka mengetahui sabda-sabda dan perbuatan-perbuatan Nabi saw. Imâm Abu Yusuf menyebut bahwa beliau bertanya pada Imâm Abu Hanifa tentang tarâwîh dan praktek dari Umar ra. Imâm Abu Hanifa menjawab bahwa tarawih adalah sunnah muakkadah dan Umar ra tidak melakukan yg demikian sekehendaknya sendiri ataupun beliau melakukan seburuk-buruknya bidah. Beliau memulai itu untuk mengamalkan apa yang beliau peroleh dari Nabi saw. (Maraqil Falah hal.8)

Syeikh Atiyyah Muhammed Sâlim yang merupakan hakim agung di Madina Munawwarah dan mufti di Masjidun Nabawi (Alâ Sâhibihi As-salâm) menuliskan dalam kitabnya bahwa beliau telah mencatat sejarah sembahyang tarawih selama lebih dari seribu tahun di Masjidun Nabawi (Alâ Sâhibihi As-salâm). Beliau mencatat bahwa peristiwa-peristiwa bersejarah sejak era Nabi saw hingga 1390 H, yaitu hampir 14 abad. Dari kitab beliau dipastikan bahwa selama periode itu, sembahyang tarawih tidak pernah kurang dari 20 rakaat di Masjidun Nabawi (Alâ Sâhibihi As-salâm). Yang ada adalah 20 rakaat atau lebih (tidak pernah kurang). Setelah memaparkan fakta sejarah ini, Syeikh Atiyyah bertanya kepada pembaca, sepanjang abad periode itu, benarkah 8 rakaat merupakan batas maksimum limit atau benarkah amalah yang kurang dari 20 rakaat yang dibenarkan?! Telah 1400 tahun, sembahyang tarawih adalah antara 20 sampai 40 rakaat. Tak seorangpun yang mempunyai iman akan mengatakan bahwa praktek sembahyang (tarawih) lebih dari 8 rakaat adalah terlarang.

Sebelumnya di th 1376 H, seorang ulama hadits dari India, Moulanâ Habibur Rahman Azmi menulis kitab berjudul “Raka’ât-e-Tarâwîh”, di sana tertulis:

“Penentangan dari Ghair Muqallidîn (sekelompok orang yang tidak mengikuti madzab) di India ini dimulai baru sejak sekitar seratus tahun terakhir ini dan tidak pernah terdengar sebelumnya. Di seluruh dunia islam, 20 rakaat atau lebih telah lama diamalkan. Dengan kata lain, dari era Umar ra hingga saat itu, tidak ada masjid di dunia ini yang di dalamnya diamalkan 8 rakaat tarawih, yang mana mengimplikasikan bahwa sepanjang sekitar 1250-an tahun, semua muslim (ahlu sunnah) mengerjakan 20 rakaat atau lebih sebagai sunnah. Setelah masa yang panjang itu, muncul sekte ini dan membuat pernyataan – bahwa apa yang umat islam lakukan selama ini tidak benar. Yang benar hanyalah yang 8 rakaat. Kemudian Habibur Rahman Azmi membahas dari kitab-kitab hadits tentang praktek tarawih selama 1250 tahun ini. Beliau menyebutkan bahwa amalan umat islam (20 rakaat) ini tidak bertentangan dengan hadits, bahkan selaras dengan sunnah Rasulullah saw dan para khalifah yang diberi petunjuk ra.

Sheikh Atiyyah, dengan cara yang hampir sama membuktikan kevalidan dari 20 rakaat dari sudut pandang sejarah dan hadits. Beliau juga mengutip dari kitab-kitab dari para Imam Madzab (Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah rhm) dan kemudian mengutip hadits shahih berikut:

“Peganglah kuat-kuat sunnahku dan sunnah khulafa yang diberi petunjuk (yaitu Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali ra.”(Mishkat hal.30)

Akhirnya kami bertanya, adakah fuqaha atau muhadits yang menolak 20 rakaat tarawih sejak era Umar hingga era penjajahan Inggris? Adakah kitab-kitab yang menolak amalan tersebut (20 rakaat) di era sepanjang itu?

Bab 3

Pendapat Para Ulama

Ada beberapa riwayat yang meriwayatkankan tentang sembahyang tarawih lebih dari 20 rakaat. Faktanya, lebih dari 150 tahun standard tarawih di Madinah adalah 36 rakaat. Hal ini disebabkan karena ada beberapa jamaah mengerjakan sembahyang 4 rakaat sendiri-sendiri di setiap antara sembahyang tarawih, sehingga dengan demikian ada 16 rakaat sholat sunnah plus 20 rakaat tarawih. Namun demikian, hanya yang 20 rakaat saja yang dikerjakan secara berjamaah.

Tetapi akhirnya tambahan 4 rakaat di setiap interval tarawih itu ditinggalkan dan sembahyang 20 rakaat menjadi standard amal tarawih di setiap kota. Di sini, walaupun tidak semua nama-nama ulama disebut secara eksplisit di dalam buku-buku fiqh, tetapi dapat dipastikan bahwa setelah zaman Rasulullah saw dan para sahabat serta tabi’in & tabi’it tabi’in, semua ulama ahlu sunnah wal jamaah menetapkan 20 rakaat tarawih sebagai madzab resmi.

Beberapa ulama yang mendukung pendapat ini adalah antara lain :

Syeikhul Islam Imam Ibn Abdul Barr Qurtubi (463 A.H): Pendapat beliau bahwa sembahyang 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir adalah berdasarkan riwayat yang paling kuat. (Masabih)

Imam Ghazali (550 A.H) menulis: tarawih itu 20 rakaat, hal ini sudah sangat masyhur dan sunnah muakkadah. (Ihya ul Ulum vol.1 hal.139)

Syeikh Abdul Qadir Jailani (561 A.H) menulis, sembahyang tarawih adalah sunnah Rasulullah saw dan itu meliputi 20 rakaat. (Ghunyatut Talibin hal.464)

Imâm Ibn Qudâma Hambali (620 A.H) menyebutkan: Menurut Imam Ahmad Ibn Hambal, pendapat yang paling kuat adalah 20 rakaat. (Al Ghina vol.1 hal.802)

Imâm Nawawi (676 A.H.), pensyarah hadits Sahih Muslim menulis: Ingat bahwa tarawih secara bulat disepakati sebagai amal sunnah umat islam. Dan itu adalah 20 rakaat. (Kitabul Azkaar hal.83)

Syeikh Ibn Taymiyah (728 A.H.) menulis: Telah diterima bahwa Ubay Ibn Ka’b biasa mengimami sembahyang untuk jamaah dengan 20 rakaat di bulan ramadlan dan 3 rakaat witir. Dari sini, para ulama bersepakat 20 rakaat sebagai sunnat karena Ubay biasa mengimami jamaah yang terdiri atas Muhajirin dan Anshar dan tidak seorangpun di antara mereka menolaknya. (Fataawa Ibn Taymiyyah vol.23 hal.112)

Allamah Subki (756 A.H.) menulis dalam Minhaj: bahwa jumlah rakaat di malam-malam itu (ramadlan) belum ditetapkan dari Rasulullah saw, namun madzab kami adalah 20 rakaat.

Allamah Badrudîn Aini (855 A.H.) membuktikan secara meyakinkan dalam Syarah Sahih Bukhari-nya tentang kesahihan 20 rakaat tarawih ini. (Aini Sharh Bukhari)

Hâfiz Ibn Hajar Asqalâni (852 A.H.) menyebutkan bahwa praktek 20 rakaat sudah sangat populer. (Al Masabih)

Abdul Wahhâb Sharâni (973 A.H.) di dalam pendapatnya bahwa 20 rakaat tarawih di bulan ramadlan lebih baik dengan berjamaah. (Mizan Sha’rani)

Ibn Âbidîn Shâmi (1203 A.H.) menulis: Tarawih adalah sunnah muakkadah karena era Khulafaurrasyidin memastikannya. Itu adalah 20 rakaat setelah Isya’. Ini adalah pendapat Jumhur dan semua orang mempraktekkannya dari timur sampai barat. (Ad Durrul Mukhtar vol.1 hal.511)

Dan masih banyak lagi.

BAB 4

Hadits Aisya ra

Ada pendapat bahwa sembahyang 8 rakaat tarawih adalah berasal dari Rasulullah saw. Mereka mengutip hadits sahih Bukhari dari Aisya ra berikut ini;

Aisya ra ditanya tentang sembahyang Rasulullah saw. Beliau menjawab,”Rasulullah saw sembahyang tidak melebihi dari 11 rakaat di bulan ramadlan maupun di bulan-bulan yang lain. Beliau biasa mengerjakan sholat 4 rakaat dan jangan tanya bagusnya dan lamanya sholat beliau. Kemudian mengerjakan 4 rakaat lagi dan jangan tanya bagus dan lamanya. Kemudian beliau mengerjakan 3 rakaat. Kemudian Aisya ra bertanya kepada Nabi saw,” Yaa Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum mengerjakan witir?” Beliau saw menjawab,” Yaa Aisya, mataku tidur tapi tidak dengan hatiku.” (Bukhari)

Hadits ini jelas menunjukkan bahwa Rasulullah saw biasa mengerjakan sembahyang 8 rakaat dan 3 witir.

Pendapat ini (bahwa 8 rakaat tarawih berasal dari Rasulullah saw) keliru, dengan beberapa alasan sebagai berikut :

Pertama

Dalam hadits ini, kata-kata ‘di bulan-bulan yang lain’, yaitu selain ramadlan. Di bulan-bulan lain beliau saw juga biasa mengerjakan sembahyang 11 rakaat menunjukkan bahwa pertanyaan kepada Aisya ra itu berkenaan dalam hal sembahyang tahajud yang mana beliau saw mengerjakannya di semua ke dua belas bulan itu. Aisya ra juga mengatakan hadits berikut:

“Dalam sepuluh malam ramadlan, Rasulullah saw lebih-lebih lagi, selalu terjaga sepanjang malam dan membangunkan keluarganya juga.” (Bukhari)

Dari sini, pertanyaan mungkin muncul bahwa beliau saw menambah sembahyangnya di bulan ramadlan. Padahal Aisya ra menyatakan bahwa kebiasaan sembahyang Rasulullah saw adalah 11 rakaat. Ini secara jelas membuktikan bahwa hadits tersebut (yang pertama di atas) adalah berkenaan dengan tahajud dan bukan tarawih.

Kedua

Anggaplah bahwa hadits di atas tentang tarawih juga, maka hal itu akan berselisih dengan bahwa Rasulullah saw sembahyang tidak melebihi dari 11 rakaat, karena ada hadits yang lain Aisya menyatakan bahwa Rasulullah saw mengerjakan 13 rakaat.

Pensyarah hadits semisal Hafidz Ibn Hajar menyelaraskan kedua hadits ini dengan menyebutkan bahwa keduanya merujuk kepada kondisi dan waktu yang berbeda. Kadang-kadang Rasulullah saw mengerjakan sembahyang 13 rakaat dan di waktu lain hanya 11 rakaat. (Fathul Bari vol 3, hal.14)

Moulânâ Abdur Rahmân Mubârakpûri (1353 A.H.), salah seorang ulama wahaby juga mengakui fakta bahwa Rasulullah saw juga mengerjakan sembahyang 13 rakaat. (Tuhfatul Ahwazi vol.2 hal.3)

Hadits 13 rakaat ini secara tegas menolak klaim bahwa Rasulullah saw tidak pernah sembahyang melebihi dari 11 rakaat.

Syeikh Suyuti mengutip kalimat dari Allamah Baji bahwa kata-kata Aisya ra ‘tidak melebihi’ berarti kebiasaan yang paling sering beliau saw kerjakan, dan bukan selama-nya/terus menerus. (Tanwirul Hawalik vol.1 hal.142)

Ke tiga

Imâm Muhammad Ibn Nasr Marwazi (294 A.H.) menulis satu bab mengenai jumlah rakaat tarawih di dalam kitabnya ‘Qiyamul Layl’. Dalam bab ini beliau menunjukkan banyak sekali hadits, tetapi beliau tidak secara jelas mengarah kepada hadits Aisya ra di atas. Ini membuktikan bahwa hadits di atas adalah tentang sholat malam, dan bukan tarawih.

Ke empat

Di akhir hadits, Aisya ra bertanya kepada Rasulullah saw apakah beliau tidur sebelum witir, dan Rasulullah saw menjawab bahwa mata beliau tertidur tetapi tidak dengan hatinya. Tidak ada petunjuk yang jelas di dalam hadits apakah Rasulullah saw mengerjakan 8 rakaat dan kemudian tidur sementara para sahabat ra menunggu-nya. Namun demikian, beliau biasa mengerjakan tahajud di rumah dan kadang-kadang tidur sebelum witir. Dan juga, dalam tarawih, Aisya ra akan kelihatan di barisan perempuan di belakang laki-laki dan para jamaah akan mengetahuinya. Kenyataan bahwa mereka tidak melihatnya menandakan bahwa sembahyang tahajud dilakukan sendirian di rumah dan itu bukan tarawih.


Ke lima

Umumnya para muhadditsin mengklasifikasi setiap hadits dengan memberikan judul terlebih dahulu. Judul itu akan sesuai dengan materi subject yang dibahas. Faktanya, semua muhaddits tidak memberi judul dengan nama tarawih pada hadits ini. Ini menunjukkan bahwa hadits ini merujuk kepada shalat malam biasa dan bukan tarawih.

Imam Muhammad, seorang hakim agung, mengatakan bahwa alasannya adalah bahwa Rasulullah saw tidak melakukan penambahan pada tahajud karena adanya tambahan shalat ramadlan yaitu tarawih. Itulah hubungan antara hadits Aisya ra dengan judul bab hadits.

Hadits Aisya ra muncul beberapa kali di dalam Sahih Bukhari di dalam bab-bab berikut:

1. Kitabut Tahajud – Bab mengenai ibadah Rasulullah saw di malam bulan ramadlan dan bulan yang lain. (Referensi ini dan seterusnya merujuk kepada Qadimi Kutub Khana print of Sahih Bukhari, Karachi, Pakistan)

2. Kitabus Saum – Bab tentang keutamaan ibadah di bulan ramadlan

3. Bab – Rasulullah saw tertidur matanya, tidak dengan hatinya.

4. Bab tentang Witir.

Bab-bab tersebut secara jelas menunjukkan pada sembahyang tahajud. Bukan sholat tarawih. Imam Muslim, Imam Malik, Imâm Abdur Razzâq, Imâm Abu Dawûd, Imâm Nisâi, Imâm Tirmizi, Imâm Abu Awânah, Imâm Ibn Khuzaimah, Imâm Marwazi, Imâm Dârimi, pengarang Bulughul Marâm dan Mishkât semua merujuk hadits ini dalam karya mereka tetapi tidak ada di antara mereka yang meletakkannya di dalam Bab Tarawih.

Imam Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi menuliskan hadits ini dalam Qiyamul Layl (Muslim vol.1 pg254; Abu Dawud vol.1 pg.189; Tirmidhi vol.1 pg.99). Imam Tirmidzi bahkan tidak menyebutkan 8 rakaat dalam hal tarawih. Hal ini menandakan bahwa sampai masa Imam Tirmidzi, tidak ada pendapat ulama bahwa tarawih adalah 8 rakaat, dan tidak pula menghubungkan hadits ini kepada sembahyang tarawih.

Imam Malik dan Imam Nisai menuliskan hadits ini di dalam Bab Witir. (Muwatta Imam Malik pg.102, Nisai vol.1 pg.248)

Hadits ini juga diriwayatkan di dalam Bab Tahajud di dalam kitab-kitab Mishâtul Masâbîh, Musannaf Abdur Razzâq, Abu Awânah, Sahîh Ibn Khuzaimah, dan Sunan Dârimi.

Hafidz Ibn Hajar mengatakan:” Tampak padaku bahwa kebijakan tidak mengerjakan sembahyang lebih dari 11 rakaat adalah bahwa tahajud dan witir merupakan sholat malam sementara sholat siang yaitu Dhuhur (4 rakaat), Asr (4 rakaat) dan Maghrib (3 rakaat) juga total 11 rakaat. Sangat selaras jika jumlah sholat malam bersesuaian dengan jumlah sholat siang. (Fathul Bari vol.3 pg.16)

Ke enam

Aisya ra tidak pernah menggunakan hadits ini untuk menolak sembahyang 20 rakaat sepanjang era Umar ra, Utsman ra dan Ali kwh. Faktanya, hadits ini juga telah diriwayatkan oleh banyak sahabat ra, tetapi tidak ada seorangpun di antara mereka yang mengutip hadits ini untuk membantah orang-orang yang mengerjakan 20 rakaat.

Bahkan kaum salafy/wahaby tidak menggunakan hadits ini sebagaimana mestinya. Hadits ini menyebutkan “selain ramadlan”, tetapi apakah mereka mengerjakannya pula di luar ramadlan? Hadits ini menyebut empat-empat, tetapi ada yang mengerjakan dua-dua, Hadits ini menunjukkan bahwa sholat dilakukan di rumah, mereka mengerjakannya di masjid. Hadits ini menunjuk sembahyang dilakukan sendirian, mereka melakukannya dalam jamaah. Hadits ini menyebut tidur sebelum witir, mereka tidak tidur sebelum witir.

Wallahu ‘alam

Bab 5

Tarawih Tidak Sama Dengan Tahajud

Shalat tahajud adalah bukan tarawih, demikian pula sebaliknya. Tahajud dan tarawih berbeda karena hal-hal berikut ini:

(1) Tahajud diperintahkan oleh Allah swt yang berfirman kepada Rasulullah saw: Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya) (QS.73:2)

Ayat berikut juga mengindikasikan perintah tahajud: Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.(QS. 17:79. )

Sementara tarawih, justru Rasulullah saw takut jika itu akan diwajibkan untuk umatnya.

Dengan kata lain, tarawih dirintis oleh baginda Rasul saw. Ini disebut dalam hadits beliau, “Ini adalah bulan di mana Allah mewajibkan puasa sementara saya (Rasulullah saw) mengajarkan tarawih sebagai sunnah.” (Nisai vol.1 pg.308; Ibn Majah pg.94)

(2) Tahajud diperintahkan di Makkah, sementara tarawih ditetapkan di Madinah.

(3) Telah sepakat bahwa jumlah rakaat tahajud berasal dari Rasulullah saw. Maksimum 13 beserta witir dan minimum 7 rakaat termasuk witir. Namun, dalam hal tarawih, tidak ada jumlah yang pasti telah diriwayatkan pada malam ketika Rasulullah mengimami shalat di masjid di bulan ramadlan. Oleh karena itu, ada perbedaan pendapat di antara mujtahidin. Ada yang 20, ada yang 36 atau lebih. Jadi riwayat Imam Bukhari (yg mana 8 rakaat) tidak dapat dikatakan sebagai sholat tarawih. Menurut riwayat ini dapat disimpulkan bahwa Rasulullah saw tidak menambah sholat tahajudnya di bulan ramadlan, sebab beliau mengajarkan/merintis sholat lain di bulan itu yang dikenal dengan nama tarawih. Apa yang Aisya ra maksud di hadits itu adalah bahwa tahajud Nabi saw tidak berbeda antara bulan ramadlan ataupun di bulan-bulan yang lain. Namun, di bulan ramadlan, beliau saw menambah ibadahnya sesungguh-sungguhnya dengan mengerjakan tahajud dan juga tarawih. (Durrul Manthur vol.1 pg.185; Bukhari vol.1 pg. 271; Muslim vol.1 pg.372; Abu Dawood vol.1 pg.190; Sunan Darimi vol.1 pg.285)

(4) Kalimat berikut ditulis di kitab Muqanna, sebuah kitab yang sahih dalam madzab Hambali:

“Tarawih adalah 20 rakaat yang dikerjakan di bulan ramadlan dengan berjamaah. Jika seseorang ingin mengerjakan tahajud juga, maka dia tidak perlu mengerjakan witir setelah tarawih. Witirnya ditunda sampai setelah tahajud.” (Muqanna pg.184)

Dari kutipan di atas, jelas bahwa bahkan Imam Ahmad Ibn Hanbal (241 A.H), guru dari Imam Bukhari memahami bahwa tahajud dan tarawih adalah dua sembahyang yang berbeda. Imam Bukhari juga memahami hal ini. Beliau mengerjakan sholat tarawih dengan murid-muridnya di waktu malam yang awal dengan menyelesaikan bacaan Qurannya. Di akhir malam beliau mengerjakan tahajud sendirian. (Tarikh Baghdad)

Talq Ibn Ali ra, seorang sahabat, sembahyang tahajud setelah menyelesaikan tarawih dengan sahabat-sahabat ra yang lain. (Sunan Nisai)

(5) Tahajud umumnya dikerjakan setelah tidur sementara tarawih dikerjakan segera setelah Isya’. Di dalan Sahih Bukhari, Umar ra mendorong orang-orang untuk tidak meninggalkan shalat tahajud di akhir waktu malam walaupun telah mengerjakan tarawih di awal malamnya.

(6) Tahajud dikerjakan sepanjang tahun sementara tarawih hanya khusus di bulan ramadlan. Salafy pun mengakui hal ini. . Lihat Fataawa Ulama Hadith vol.6 pg.243)

(7) Jamaah merupakan pilihan dalam tarawih. Sementara hadits Aisya menunjuk kepada sembahyang yang dilakukan sendirian yaitu tahajud. (Majmauz Zawaid vol.3 pg.172 and Atharus Sunan pg.200)

Ada lagi perbedaan-perbedaan antara kedua shalat ini (tahajud dan tarawih). Maulana Rashid Ahmad Gangohi (1323 A.H) membuktikan dengan baik perbedaan-perbedaan itu dalam kitabnya Ar-Ray An-Najîh’. Demikian juga Moulânâ Qâsim Nanotwî menjelaskan perbedaan-perbedaan antara keduanya di dalam kitabnya ‘Al-Haqq As-Sarîh’.

Wallahu a’lam.

Bab 6

Hadits Jabir

Hadits yang dikutip oleh kelompok non-madzab sebagai berikut:

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu `anhu berkata: “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam shalat bersama kami pada bulan Ramadlan delapan raka’at dan beliau berwitir. Tatkala malam berikutnya kami berkumpul di Masjid dan berharap beliau keluar (ke masjid). Ternyata beliau tidak kunjung datang sampai pagi. Kemudian kami masuk dan mengatakan: “Wahai Rasulullah kami tadi malam berkumpul di masjid dan kami mengharap engkau shalat bersama kami.” Maka beliau berkata: “Sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan atas kalian

Analisa hadits

Dalam kesahihan hadits, salah seorang periwayatnya adalah Yaqub Ibn Adbillah Al-Qummi. Ibnu Katsir telah menolaknya dan menyebutkan bahwa Yaqub sebagai syiah dan riwayatnya tidak dapat diterima. (Al Bidayah wan Nihayah vol.8 pg.375). Riwayat ini juga bertolak belakang dengan Ijma sahabat ra.

Ada seorang periwayat dari Jabir ra yaitu Isa Ibn Jariyah. Ad Dzahabi dan Ibn Hajar menyebut periwayat ini dalam Mizanul Itidal (vol.2 pg.311) dan Tahzîb-at-Tahzîb. Beliau mengutip Yahya Ibn Main, ulama terkemuka di bidang ilmu ‘Jarh wat Tadîl’ (ilmu tentang kesahihan sebuah hadits). Menurut beliau, Isa Ibn Jariyah bukan periwayat yang sahih. Imam Nisai dan Abu Dawud memandangnya sebagai sebagai munkarul hadits. Nisai juga menyebutnya sebagai matruk. Saji Uqaili memandangnya sebagai lemah sementara Ibn Adi (365 A.H) mengatakan bahwa periwayatannya tidak mahfudz. Hanya Abu Zur’ah dan Ibn HIbban (354 A.H) menghormati kredibilitasnya. Prinsip-prinsip hadits menyatakan bahwa jarh (cacatnya) mendahului tadil (jujur-nya). Sehingga Isa dipandang sebagai majruh (tidak jujur), terutama ketika seseorang menggunakan riwayat-riwayat Imam Nisai dan Abu Dawud yang melalui dia.

Moulana Abdur Rahman Mubarakpuri (1353 A.H.) [seorang ulama salafy/wahaby] menulis bahwa hadits dari seorang yang diketahui sebagai munkarul hadits patut ditolak.(Ibkarul Matn pg.191) Dengan demikian, hadits ini tidak dapat diterima apalagi jika dia hanya satu-satunya periwayat dari Jabir dan tidak ada periwayat lain yang mendukung (mutâbi’).

Muhammad Ibn Humaid Râzi, periwayat lain dalam sanad hadits ini juga dipandang sebagai lemah, sehingga menjadikan hadits ini tidak dapat diterima. (Taqrib)

Wallahu a’lam.

sumber: http://qa.sunnipath.com/

Catatan tambahan dari: http://masud.co.uk/

Hadits ini juga dianalisis oleh Syeikh Abdur Rahim dalam Fatawa-nya (vol. 1, pg. 278-9), dengan kesimpulan hadits ini dloif. Beliau mengatakan:”Hadits ini sanadnya tak bisa dipercaya.” Dalam sanadnya terdapat Ibn Hamid Razi, yang berkenaan dengannya terdapat penilaian-penilaian seperti ini,

(1) Dia lemah – Hafidz az-Dzahabi (Mizanul I’tidal, vol.3, pp. 49-50
(2) Dia meriwayatkan banyak hadits munkar – Ya’qub Ibn Shaybah
(3) Dia ditolak – Imam Bukhari
(4) Dia pendusta – Abu Zur’ah
(5) Saya bersaksi dia pendusta – Ishaq Kausaj
(6) Dia meriwayatkan hadits apa saja; Saya belum pernah melihat seorang lelaki yang lebih tak tahu malu dibanding dia – Sauleh Jazrah
(7) Demi Allah! Dia pembohong – Ibn Kharash
(8) Dia tidak jujur – Imam Nisai

Sekarang berkenaan dengan periwayat kedua, Ya’qub ibn Abdullah Ash’ari al-Qummi,

(1) Dia tidak kuat – Daraqutni (see Mizanul I’tidal, vol. 3, pg. 324).

Berkenaan periwayat ke tiga, Isa ibn Jariyah,

(1) Dia pe-munkar hadits – Ibn Ma’in
(2) Haditsnya diingkari – Nisai
(3) Haditsnya ditolak (matruk ) – Nisai
(4) Haditsnya diingkari – Abu Dawud – synopsis
(5) Dia terhitung lemah – (Mizanul-I’tidal, vol. 2, pg. 311, oleh Hafiz al-Dhahabi).

Bab 7

Hadits Imam Malik dan Baihaqi

Hadits Imam Malik


Hadits berikut dari Imam Malik rhm yang sering dikutip oleh orang-orang non-madzab sebagai hujah 11 rakaat tarawih (dan witir)-nya,

Saib Ibn Yazid meriwayatkan bahwa Umar ra memerintahkan Ubay Ibn Ka’b ra dan Tamim Dari ra untuk mengerjakan 11 rakaat (termasuk witir) untuk orang banyak. (Muwatta Imam Malik – Asahhul Matabi, pg 98; Qiyamul Layl pg.91)

Analisis sanad hadits mencatat bahwa Muhammad Ibn Yusuf meriwayatkan dari Saib Ibn Yazid. Muhammad (Ibn Yusuf) mempunyai lima murid, dan masing-masing murid berbeda dalam meriwayatkan hadits ini. Ke lima murid itu adalah:

(1) Imâm Mâlik
(2) Yahyâ Ibn Qattân
(3) Abdul Azîz Ibn Muhammad
(4) Ibn Ishâq and
(5) Abdul Razzâq

Periwayatannya masing-masing sebagai berikut:

(1) Imam Malik mengatakan bahwa Umar ra memerintahkan Ubay Ibn Ka’b ra dan Tamim Dari ra untuk mengerjakan 11 rakaat.

Perintah Umar ra disebut. Sembahyang apa kemudian atau sembahyang ramadlan tidak disebut.

(2) Yahyâ Ibn Qattân mengatakan bahwa Umar ra mengumpulkan orang-orang dengan Ubay Ibn Ka’b dan Tamim Dari ra dan keduanya mulai mengerjakan sembahyang 11 rakaat.

Perintah Umar ra tidak disebut, sembahyang ramadlan-nya juga tidak disebut. Tidak jelas apakah keduanya mengerjakan 11 rakaat secara terpisah atau bersama-sama, tetapi yang jelas sholat witir tidak dapat dikerjakan dua kali apabila kedua imam sholat bersama.

(3) Abdul Aziz mengatakan bahwa mereka biasa mengerjakan sembahyang 11 rakaat pada era Umar ra.

Perintah Umar ra tidak disebut, demikian juga halnya dengan Ubay, Ka’b, ataupun ramadlan.

(4) Ibn Ishaq mengatakan bahwa mereka biasa mengerjakan sembahyang 13 rakaat di bulan ramadlan pada era Umar ra.

Perintah Umar ra tidak disebut, demikian juga dengan Ubay ataupun Tamim. Bahkan shalatnya dikatakan 13 rakaat.

(5) Abdur Razzaq mengatakan bahwa Umar ra memberikan perintah 21 rakaat.

Dalam riwayat ini, 21 rakaat disebut dan bukan 11 rakaat.

Sebagaimana halnya dengan riwayat Imam Malik, 11 rakaat tidak dapat diambil dari riwayat-riwayat lainnya. Pada perbedaan ini, periwayat Ibn Ishaq memilih 13, sementara Ibn Abdul Barr Maliki (463 A.H) condong ke 21. Dengan demikian periwayatan ini adalah mudtarib dikarenakan jumlah, sehingga tidak dapat diterima. Mudtarib adalah sebuah hadits yang diriwayatkan melalui jalur yang berbeda-beda sehingga isi dari masing-masing jalur berbeda dan tidak dimungkinkan untuk memilih salah satunya.

Analisis di atas untuk riwayat Muhammad Ibn Yusuf melalui Saib Ibn Yazid.

Catatan kami (orgawam) : Hadits (riwayat Imam Malik) ini sering ditampilkan oleh salafy/wahaby dalam dalil tarawihnya. Padahal kita tahu bahwa madzab Imam Malik untuk tarawih adalah 36 rakaat. Kami selalu tanyakan, bagaimana penjelasannya Imam Malik tidak memakai hadits ini (yaitu 11 rakaat) untuk madzabnya, tetapi malah bermadzab dengan 36 rakaat. … … … Tidak ada jawaban.

.

Hadits Imam Baihaqi

Sekarang beralih ke riwayat Yazid Ibn Khasifah via Saib yang mana disebutkan di dalam As-Sunan Al-Kubrâ oleh Baihaqî. (As Sunan Al-Kubra vol.2 pg.496)

Abu Zi’b meriwayatkan dari Yazîd Ibn Khasîfah dari Sâib Ibn Yazîd bahwa orang-orang biasa mengerjakan sembahyang 20 rakaat di bulan ramadlan semasa era Umar ra.

Imâm Nawawi (676 A.H), Iraqi (806 A.H) and Suyuti (911 A.H) mensahihkan hadits ini. (Tuhfatul Akhyar pg.192 dan Irshadus Sari pg.74)

Muhammad Ibn Jafar meriwayatkan dengan kalimat yang sama dari Yazîd sebagaimana Abu Zi’b. Riwayat ini disebut di dalam Marifatus Sunan of Baihaqi. Allamah Subki (756 A.H) and Mullâ Ali Qâri (1014 A.H) menulis di dalam Syarh Minhâj dan Syarh Muwata bahwa sanad periwayat hadits ini benar. (Tuhfatul Ahwazi vol.2 hal.75)

Dari riwayat di atas tampak jelas bahwa kedua murid Yazid bersepakat bulat riwayat bahwa selama era Umar ra, 20 rakaat adalah amal standard. Sebaliknya, ke lima murid Muhammad Ibn Yusuf meriwayatkannya berbeda-beda.

Dari sini, pilihan yang benar adalah yang bersandar pada riwayat Yazid Ibn Khasifa. Namun, salafy/wahaby anehnya mengesampingkan riwayat ini dan mengambil salah satu riwayat yang meragukan dari Muhammad Ibn Yusuf yang mempunyai versi yang berlain-lainan. Ini melawan prinsip-prinsip ilmu hadits.

Syeikh Atiyyah menyebutkan:” Praktek Rasulullah saw mengerjakan 13 rakaat sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abbas ra, 6 rakaat setelah sembahyang Isya dan 2 rakaat dengan yang mana Rasulullah saw biasa memulai sembahyang layl seperti diriwayatkan oleh Aisya ra, menyebabkan total 21 rakaat. Ini adalah mengapa Umar ra memerintahkan Ubay Ibn Ka’b ra untuk mengerjakan 21 rakaat. Jadi angka 21 rakaat terbukti di hadits ini. Ini tidak hanya pendapat Umar ra. (Salatut Tarawih, Sheikh Atiyyah, pg.22)

Moulana Fadlur-Rahman Azami menyebutkan bahwa meskipun bukti dari 20 (atau 23) rakaat tidak berasal dari hadits marfu (yaitu riwayat dengan sabda Nabi saw) dan hanya berdasarkan dari Umar ra, mengikutinya merupakan hal yang sunnah karena Rasulullah saw memerintahkan kita untuk mengikuti jalan Khulafa yang diberi petunjuk.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://qa.sunnipath.com/