ebook pakdenono


 
MEMBONGKAR SALAFY-WAHABY
Kompilasi & Konversi Ke CHM Oleh Pengikut Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Layout : Pakdenono.com

<BACK

DEPAN

NEXT>

.

 


Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (19)

Pemilahan Antara Meminta Doa Dari Orang Mati Dan Dari Orang Hidup Adalah Tidak Berdasar!

Adapun pemilahan yang sering disebut-sebut kaum Wahhâbiyah antara meminta dari seorang yang masih hidup dan meminta dari seorang yang sudah mati dalam menentukan statusnya, maka ia perlu ditinjau di sini dalam dua sisi:

A) Adanya perbedaan antara “yang masih hidup dan yang sudah mati” dalam menentukan status kemusyrikan dan tidaknya sebuah perbuataan.

B) Ada atau tidak adanya manfa’at yang ditimbulkan dari “yang masih hidup dan yang sudah mati”.

Kita harus membahasnya dalam kedua sisi di atas.

Pertama yang perlu diketahui –dan telah saya jelaskan sebelumnya- bahwa status perbuatan tidak akan dipengaruhi oleh hidup atau mati seseorang yang menjadi obyek perbuatan kita.

Meyembah selain Allah SWT adalah syirik, baik yang disembah adalah orang hidup atau orang mati. Akal sehat setiap orang tidak akan membenarkan anggapan bahwa menyembah orang yang masih hidup bukan syirik! Akan tetapi menyembah orang yang sudah matilah yang dihukumi syirik! Yang namanya kemusyrikan tetap kemusyrikan, baik yang disekutukan dengan selain Allah SWT masih hidup maupun sudah mati!

Demikian pula dengan beristighâtsah (meminta bantuan) dengan Nabi saw. atau para waliyullah, tidak dapat dipilah statusnya dengan mengatakan meminta bantuan (istightsah) dengan manusia (nabi maupun selainnya) itu bukan syirik selagi manusia yang dimintai bantuan masih hidup…. Akan tetapi apabila ia orang yang telah mati maka ia adalah kemusyrikan!

Pemilahan status dengan dasar perbedaan kondisi obyek antara mati atau hidup adalah kebekuan atau pengingkaran atas kebenaran yang nyata… sebab yang berstatus syirik tidak akan berubah menjadi tauhid dan demikian juga sebaliknya!

Meminta Bantuan Do’a Dari Hamba-hamba Pilihan Allah Yang Telah Meninggal Dunia Tidak Sia-Saia!

Dalam kebiasaannya, kaum Wahhâbiyah dalam melawan kaum Muslimin selalu menggunakan senjata “Demi memurnikan Tauhid dan Penyembahan Allah”, dan telah Anda ketahui bersama di sini bahwa meminta bantuan berupa doa misalnya dari seorang hamba pilihan Allah yang telah meningggal dunia bukanlah syirik! Namun kali ini, sepertinya kaum Wahhâbiyah merubah setrategi penyerangannya… mereka merubahnya dengan bersenjata bahwa: “Meminta dari orang mati adalah sia-sai!”

Mari kita teliti alasan yang sering dikemukan kaum Wahhâbiyah ini… yang untuk membelanya, kaum Wahhâbiyah tidak segan-segan memperalat ayat- ayat Al Qur’an dengan memaksakan pemaknaannya demi menyesuai keyakinan batil mereka…. Di antaranya adalah:

Firman Allah SWT.

إِنَّكَ لا تُسْمِعُ الْمَوْتى‏ وَ لا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعاءَ إِذا وَلَّوْا مُدْبِرينَ.

“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang.” (QS. An Naml[27]; 80)

وَ ما يَسْتَوِي الْأَحْياءُ وَ لاَ الْأَمْواتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشاءُ وَ ما أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُور.

“Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” (QS. Al Fâthir[35]; 22)

Dalam berdalil dengan kedua ayat di atas kaum Wahhâbiyah menyimpulkan demikian: Allah SWT menyerupakan kaum Musyrikin dengan mayat-mayat/orang mati, amwât. Ketika Allah mengarahkan khithab kepada nabi-Nya saw. bahwa ‘Engkau hai Muhammad tidak akan dapat membuat famah mereka (kaum Musyrikin), sebab mereka bak orang-orang mati/mayat-mayat, tidak dapat mendengar…’ andai mayat-mayat itu bisa mendengar dan berbicara tidaklah tepat penyerupaan itu!

Maka -kata kaum Wahhâbiyah- demikian pula dengan meminta bantuan, baik berupa syafa’at atau do’a kepada orang yang sudah mati, sama dengan meminta bantaun dengan benda mati!

Tanggapan Atasnya:

Kaum Wahhâbiyah sepertinya tidak mengindahkan bukti-bukti yang menegaskan adanya kehidupan bagi para wali-wali Allah…. para syuhadâ’…

Para filsuf Islam telah membuktikan berdasarkan dalil-dalil yang kokoh bahwa ruh setelah berpisah dengan jasadnya setelah kematian, ia memiliki kehidupan khusus dan menikmati idrâk khusus… selain itu Al Qur’an telah mengesakan adanya kehidupan setelah kematian demikian pula dengan banyak hadis Nabi saw.

Coba Anda perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

وَ لا تَحْسَبَنَّ الَّذينَ قُتِلُوا في‏ سَبيلِ اللَّهِ أَمْواتاً بَلْ أَحْياءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ * فَرِحينَ بِما آتاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَ يَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَ لا هُمْ يَحْزَنُونَ

“ Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.* Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang- orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” ( QS. Âlu Imrân [3];169-170)

dan selain ayat di atas, banyak ayat lain yang menerangkan adanya kehidupan di alam barzakh setelah kematian.

Para ulama Islam dan para mufassir telah memahami dari ayat di atas bahwa para suhada’ adalah hidup kendati ruh-ruh suci mereka telah berpisah dengan jasad-jasad mereka.

Ibnu Katsîr berkata menafasirkan, “Allah –Ta’âlâ- mengabarkan bahwa para syuhada’ kendati telah terbunuh di alam dunia ini, ruhu-ruh mereka adalah hidup dan mendapat rizki di alam keabadian…. “Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka….” para syuhada’ yang telah terbunuh di jalan Allah itu hidup di sisi Tuhan mereka, dan mereka bergembira dengan kenikmatan yang mereka dapatkan, mereka bergirang hati dengan saudara-saudara mereka yang juga terbunuh di jalan Allah setelah mereka karena saudaara-saudara mereka kini telah datang bergabung dengan mereka…

Suddi bekata, ‘Di sodorkan kepada orang yang telah syahid sebuah kitab/berita yang berisakan bahwa temanku si fulan akan datang bergabung denganmu pada hari ini atau itu, maka ia bergirang hati atas berita itu, sebagaimana penguhni dunia bergirang hati dengaan datangnya teman yang lama pergi’. (Tafsir al Qur’ân al ‘Adzîm,1/426-428)

Syaukâni berkata, “Makna ayat ini menurut Jumûr (mayoritas ulama0 aadalah bahwa mereka (para syuhada’) adalah hidup dengan kehidupan yang sebenar arti…. “ (Fathu al Qadîr,1/399)

Syeikh M. Rasyîd Ridha berkata, “ ‘bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki’ di alam selain alam kita yang lebih baik darinya bagi para syuhada’ dan kaum shaleh selain mereka… dan karena kemuliaan dan keutamaannya, maka oleh Allah disandarkan kepada Dzat-Nya… keberadaan (di sisi) adalah kedisisian pemuliaan dan penghormatan bukan kedisisian tempat dan jarak….

Kehidupan yang dinikmati para syuhada’ adalah kehidupan ghaibiah, kami tidak akan membahas hakikatnya, kami tidak akan keluar dari apa yang disebutkan dalam wahyu, kami tidak berpendapat seperti pendapat kaum Mu’tazilah bahwa yang dimaksud dengannya adalah bahwa kelak mereka akan diberi kehidupan di akhirat. Sebab dzahir ayatnya mengatakan bahwa mereka hidup sejak mereka terbunuh di jalan Allah…. “ (tafsir al Manâr,4/233-324)

Lalu apa yang sebenarnya di maksud oleh dua ayat yang diajadikan kaum Wahhâbiyah sebagaoa dalil itu?

Makna ayat itu jelas sekali bahwa jasad-jasad yang telah terkubur di dalam perut bumi itu tidak mampu untuk memahami dan mengerti… dan hal itu adalah wajar sebab setelah berpisah dengan ruhnya, jasad-jasad itu menjadi benda mati yaang tak memiliki kefahman dan perasaan!

Tetapi satu poin penting di dalam kasus kita ini yang mungkin tidak dipertimbangkan oleh kaum Wahhâbiyah bahwa sebenarnya yang kita ajak bicara adalah bukan jasad-jasad yang terbukur di dalam perut bumi akan tetapi ruh-ruh suci mereka… kita mengalamatkan pembicaraan dan permintaan kita kepada ruh-ruh suci para nabi, para syuhada’ dan para waliyullah… kaluapun jasad-jasad mereka tidak dapat berkamunikasi dengan kita, tidak bebarti bahwa ruh-ruh suci mereka juga tidak mampu!

Salam dan ucapan selamat yang kita ucapkan adalah kita tujukan kepada ryh-ruh suci mereka!

Pembahasan tentang masalah sangat panjang, aka tetapi kami cukupkan di sini karena fokus bahasan kita adalah membuktikan bahwa meminta kepada para nabi, dan hamba-hamba pilhan Allah SWT bukanlah praktik kemusyrikan!

 


 

 

 

2

<BACK

DEPAN

NEXT>

2