ebook pakdenono


 
MEMBONGKAR SALAFY-WAHABY
Kompilasi & Konversi Ke CHM Oleh Pengikut Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Layout : Pakdenono.com

<BACK

DEPAN

NEXT>

.

 


Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (20)

Kepalsuan Atas Nam Salaful Ummah!

Dan sebelum saya menutup pembahasan ini, saya ingin mengajak Anda meneliti masalah ini dari tinjauan sejarah dan praktik kaum Salaf! Dimana kaum Wahhâbiyah sering kali dalam menolak atau menetapkan sesuatu keyakinan mendasarkannya atas praktik kaum Salaf; sahabat dan tabi’in serta genesari ketiga umat Islam!

Betapa sering kaum Wahhâbiyah menolak sebuah praktik tertentu yang dijalankan kaum Muslimin (selain wahhabi) dengan alasan bahwa Salaf umat ini tidak pernah mengerjakan praktik seperti itu!!

Dan untuk mendukung klaimnya, tidak jarang kaum Wahhâbiyah menolak data atau memalsu klaim bahwa Salaf tidak pernah mempraktikkannya! Sementara bukti-bukti saling menguatkan bahwa Salaf justru telah mempraktikkannya!

Dan dalam dunia pemalsuan klaim ijma’, sulit rasanya kita menemukan seorang tokoh yang berani memalsu lebih dari keberanian yang dimiliki Ibnu Taimiyah.

Dalam kasus kita ini, Ibnu Taimiyah dan para tokoh Wahhâbiyah tidak mau melewatkannya tanpa mengaku-ngaku dengan tanpa dasar bahwa tidak seorang pun dari Salaf yang melakukannya!

Ibnu Taimiyah berkata:

و لَم يذكر أحدٌ من العلماء أنه يشرع التوسل و الإستسقاء بالنبي و الصالح بعد موته ولا فِي مغيبه، و لا استحبوا ذلك فِي الإستسقاء ولا فِي الإستنصار و لا غير ذلك مِن الأدعية. و الدعاءُ مخُّ العبادة 

Dan tidak seoranmg pun dari para ulama mengatakan disyari’atkannya bertawassul dengan Nabi atau seorang shaleh setalah kematiannya dan di kala ia tidak hadir. Mereka tidak memustahabkan hal itu baik dalam istisqâ’ (doa memohon diturunkannya hujan), tidak pulah dalam doa memohon pertolongan dan doa-doa selainnya. Dan doa itu inti ibadah.”  (Ziyârahal Qubûr wa al Istijdâ’ bi al Maqbûr:43)

Dalam Risalah al-Hadiyyah as-Saniyyah disebutkan

Tidakk seorang pun dari Salaf umat ini; sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang memilih-milih menegakkan shaalat atau berdoa di sisi kuburn para nabi dan meminta dari mereka serta memohon bantuan/beristighatsah dengan mereka, tidak di kala ghaib mereka/di tempat jauh maupun di hadapan kuburan mereka.”  (Al Hadiyyah as Saniyyah:162. Terbitan al Manâr- Mesir)

Mungkin seorang pemula yang belum banyak mengetahui sajarah para sahabat dapat tertipu dengan ucapan di atas dan menganggapnya benar, akan tetapi anggapan itu akan segera sirna dan terbukti kepalsuan dan kebatilannya ketika ia telah mengetahui sejarah para sahabat walaupun hanya sekilas saja! Sebab ia akan dibuat melek dengan data-data akurat bahwa ternyata para sahabat, tabi’in dan generasi demi generasi umat Islam telah menjalankan prakti beristighatsah dengan Nabi saw….

Dalam kesempatan ini, saya hanya akan membawakan beberapa contoh sebagai pembuktian awal, dan bagi yang berminat mengetahuniya dengan lengkap dipersilahkan merujuk kitab-kitab para ulama Ahlusunnah yang khusus berbicara masalah tersebut!

A) Setelah wafat Rasulullah saw. Abu Bakar ra. datang melayatnya dan berkata:

اُذْكرْنا يا مُحمدُ عندَ رَبِّكَ، و لْنكُن فِي بالِكَ

Wahai Rasulullah, ingatlah kami di sisi Tuhanmu dan hendaknya kami selalu dalam benakmu.” (Ad-Durar as-Saniyyah; Sayyid Zaini Dahlan asy Syafi’i: 36)

B) Al Hafidz Abu Abdillah Muhammad ibn Musa an-Nu’mâni meriwayatkan dalam kitabnya Mishbâh adz-Dzalâm Fî al-Mustaghîtsîn Bi Khairil Anâm dengan sanad bersambung kepada Sayyidina Ali ra., beliau berkata, “Ada seorang Arab baduwi datang tiga hari setelah kami mengebumikan Rasulullah saw.. orang itu melemparkan badannya ke pusara Nabi saw. Dan menaburkan tanahnya ke atas kepalanya sambil meratap:

يا رسولَ الله! قلتَ فسمِعْنَا قولَكَ، و وَعَيْتَ عن اللهِ سبحانه و وعَيْنَا عنْكَ، و كان فيما أنزَلَ: { و لو أنَّهُم إِذْ ظلَموا أنفُسَهُم جاءوكَ فاستغفروا اللهَ و استغفر لَهُم الرسولَ لَوجدُوا اللهَ توابًا رحيمًا} و قد ظَلأَمتُ نفسِيْ و جِئْتُكَ تستغفِر لِي. فَنُودِيَ منَ القبْرِ: إنه قد غُفِرَ لَكَ.

Wahai Rasulullah, engkau berkata dan aku mendengar ucapanmu, engkau mengerti dari Allah SWT dan aku mengerti darimu. Dan di antara yang Allah turunkan adalah, “Sekiranya mereka ketika berbuat zalim terhadap diri mereka datang kepadamu lalu mereka memohon ampunan dari Allah dan engkau memohonkan ampunan bagi mereka pastilah mereka mendapati Allah Maha penerima taubat dan Maha rahmat.” Aku telah menzalimi diriku dan aku datang kepadamu agar engkau memohonkan ampunan bagiku.”

Lalu terdengar suara dari pusara itu, orang itu telah diampuni.!”

Riwayat di atas telah disebutkan as-Samhûdi dalam kitabnya Wafâ’ al Wafâ’, 2/1361 dan beliau banyak menyebutkan riwayat-riwayat serupa pada Bab kedelapan.

C.) Khalifah Manshûr al-Abbasi bertanya kepada Imam Malik (yang selalu dibanggakan keterangannya oleh kaum Salafiyah Wahhâbiyah dalam menetapkan akidah, khususnya tentang Tajsîm), “Wahai Abu Abdillah, apakah sebaiknya aku menghadap kiblat dan berdoa atau menghadap Rasulullah? Maka Imam Malik menjawab:

لِمَ تَصْرِفُ وجْهَكَ عنهُ و هو وسيلَتُكَ ووسيلَةُ أبيكَ آدَمَ إلى يومِ القيامَةِ؟! بل اسْتَقْبِلْهُ و اسْتَشْفِعْ بِهِ فَيُشَفِّعَكَ اللهُ، قال الله تعالى:  و لو أنَّهُم إِذْ ظلَموا أنفُسَهُم

Mengapa engkau memalingkan wajahmu darinya, sedangkan beliau adalah wasilahmu dan wasilah Adam ayahmu hingga hari kiamat?! Menghadaplah kepadanya dan mintalah syafa’at darinya maka Allah akan memberimu syafa’at. “Sekiranya mereka ketika berbuat zalim terhadap diri mereka…. “ (Wafâ’ al Wafâ’, 2/1376)

Inilah sekelumit data dan riwayat yang menerangkan kebiasaan dan praktik para as-Salaf ash-Shaleh; generasi sahabat dan tabi’in serta tabi’ut tabi’in dalam bertawassul, berdoa di hadapan pusara suci baginda Rasulullah saw. Serta memohon dari beliau untuik berkenan mendoakan dan memhohonkan ampun, maghfirah yang diklaim kaum Wahhâbiyah sebagai syirik dan menyekutukan Allah. Semoga sekelumit data di atas dapat membuka pikiran kita akan kebenaran praktik kaum Muslimin yang dikecam kaum Wahhâbiyah! 

 


 

 

 

2

<BACK

DEPAN

NEXT>

2