ebook pakdenono


 
MEMBONGKAR SALAFY-WAHABY
Kompilasi & Konversi Ke CHM Oleh Pengikut Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Layout : Pakdenono.com

<BACK

DEPAN

NEXT>

.

 


Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (29)

Ibnu Abdil Wahhâb Tetap Gotot Mengafirkan Kaum Muslim Kendati Ia Akui Mereka Telah Bersyahâdatain, Percaya Hari Akhir, Beriman Dengan Al Qur’an dan Menegakkan Syari’at!

Satu hal, yang mesti mendapat perhatian kita semua bahwa mereka yang divonis kafir oleh Imam Besar Wahhâbiyah; Ibnu Abdil Wahhâb adalah kaum yang ia akui masih mengakui keesaan Allah SWT, mengimani kenabian Rasulullah saw., mengimani kesucian Al Qur’an al Karîm, mengimani akan adanya hari kiamat dan pembalasan, menegakkan shalat lima waktu (sebagai pemilah antara keimanan dan kekafiran), melaksanakan puasa di bulan suci Ramadhan… Ibnu Abdil Wahhâb mengakui bahwa kaum yang ia kafirkan adalah telah menerima dan mengimani tiga prinsip dasar Islam dan keimnan di atas; imam kepada Allah, imam kepada Rasul-Nya dan imam kepada hari pembalasan, dan menegakkan syari’at Islam, oleh karenanya, vonis pengafiran dan tuduhan kemusyrikan yang ia alamatkan kepada kaum Muslimin itu menuai protes keras dan dinilai sebagai sikap takfîr yang sangat berbahaya! Protes demi protes sejak awal kemunculannya.

Kaum Muslimin yang ia kafirkan tentu sangat keberatan dengan vonis arogan dan tuduhan semena-mena itu oleh Ibnu Abidl Wahhâb, kerenanya mereka menegaskan dan mepertanyakan dasar pengafiran atas mereka itu? sementara mereka (kaum Muslimin yang dikafirkan itu) masih beriman kepada Allah, kepada rasul-Nya, kepada hari akhir, dll… menanggapi pertannyaan dan protes itu, Ibnu Abdil Wahhâb mengajukan alasan-asalannya…. di sini dalam bagian akhir buku Kasyfu asy Syubuhat, Ibnu Abdil Wahhâb membeber alasan-alasan yang ia jadikan dasar vonis pengafiran itu!!

Dari keterangan dan pemaparan alasan yang ia ajukan, kita dapat melihat bahwa ia mengemukakan beberapa alasan…. namun sangat disayangkan semua alasan pengafiran itu sama sekali tidak bersadar dan jauh dari benar!

Dan agar Anda tidak tergesah-gesah menerima atau menolak apa yang saya katakan, maka perhatikan alasan-alasan Ibnu Abdil Wahhâb di bawah ini satu persatu!

Alasan Pertama: Kaum Muslimin Itu Kafir Karena Telah Mengkufuri Sebagian Agama!

Ibnu Abdil Wahhâb berkata:

Jika telah dipahami bahwa mereka yang diperangi Rasulullah Saw itu adalah orang-orang yang akalnya lebih sehat dan lebih ringan kesyirikannya dari pada mereka, maka ketahuilah bahwa mereka memiliki sanggahan-sanggahan terhadap apa yang kami sebutkan dan itu merupakan sanggahan terbesar mereka. Simaklah pertanyaan dan jawabannya berikut ini:

Mereka mengatakan: sesungguhnya orang-orang yang dituruni al-Quran tidak bersaksi akan keesaan Allah, mereka mendustakan Rasul, mengingkari hari kebangkitan, mendustakan al-Quran dan menyebutnya sebuah sihir. Sedang kami bersaksi akan keesaan Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, kami percaya terhadap al-Quran, beriman kepada hari kebangkitan, kami mendirikan salat dan berpuasa maka bagaimana mungkin kalian menyamakan kami dengan orang-orang musyrik?

Maka jawabannya adalah: Tidak ada perselisihan di antara seluruh ulama, bahwa jika seseorang percaya kepada Rasulullah di sebagian sesuatu dan mendustakannya di yang lain maka dia telah kafir dan tidak masuk ke dalam Islam. Begitu juga jika orang percaya kepada sebagian isi al-Quran dan mendustakan yang lainnya, seperti orang mengakui tauhid tapi mengingkari kewajiban salat, atau mengakui tauhid dan salat tapi mengingkari kewajiban zakat, atau mengakui semuanya tapi mengingkari kewajiban berpuasa, atau mengakui semuanya tapi mengingkari haji di mana Allah berfirman:

وَ لِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطاعَ إِلَيْهِ سَبيلاً وَ مَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعالَمينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali-Imran: 97)

dan barang siapa mengakui semuanya tapi mengingkari hari kebangkitan maka orang seperti ini secara ijma’ dan kesepakatan para ulama dianggap kafir; halal darah dan hartanya, sebagaimana firman Allah Swt:

إِنَّ الَّذينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَ رُسُلِهِ وَ يُريدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَ رُسُلِهِ وَ يَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَ نَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَ يُريدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذلِكَ سَبيلاً. أُولئِكَ هُمُ الْكافِرُونَ حَقًّا وَ أَعْتَدْنا لِلْكافِرينَ عَذاباً مُهيناً

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang- orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (An-Nisa’: (150-151)

Apabila Allah telah menjelaskan dalam kitab-Nya bahwa orang yang iman kepada sebagian dan mengingkari kepada sebagian yang lain maka itu benar-benar sebuah kekafiran. Dengan demikian hilanglah syubhah ini.

Dapat dikatakan pula sebagai jawaban: jika Anda mengakui bahwa orang yang mempercayai Rasul di dalam segala hal dan mengingkari kewajiban salat maka dia kafir, halal darah dan hartanya secara mufakat. Begitu pula jika dia mengakui segala sesuatu kecuali hari kebangkitan, atau mengingkari kewajiban puasa Ramadhan maka tidak ada perselisihan di antara mazhab-mazhab kalau dia adalah kafir.

Dan telah jelas bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar yang dibawa oleh nabi. Tauhid lebih besar dari pada salat, puasa, zakat dan haji. Bagaimana mungkin orang yang mengingkari hal-hal ini dianggap kafir kendati mengamalkan hal-hal yang dibawa Rasul? Kemudian dia tidak disebut sebagai seorang kafir saat mengingkari tauhid yang menjadi agama seluruh Rasul? Maha suci Allah, alangkah anehnya kebodohan ini.

_________________

Catatan: 26:

Abu Salafy Berkata:

Dari apa yang diuraikan Ibnu Abdil Wahhâb kita dapat melihat bagaimana keberatan yang dilayangkan penduduk kota Ahsâ’ dalam surat mereka dan bagaimana jawaban Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb….. keberatan mereka jelas, bahwa mereka masih beriman kepada Allah, rasul-Nya dan hari akhir…. mereka masih menegakkan shalat lima waktu dan menjalankan syari’at agama…. dan di sini kita juga menyaksiakn bahwa Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb juga mengakuinya… ia tidak menolak apa yang dikatakan penduduk kota Ahsâ’ tersebut… hanya saja, Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb tetap menjatuhkan vonis kafir atas kaum Muslimin dengan alasan bahwa siapapun yang beriman kepada sebagian agama dan mengkufuri sebagian lainnya maka ia harus dihukumi kafir! Halal darah dan hartanya!!

Itulah jawaban Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb!!

Akan tetepi seperti dapat disaksikan dan dirasakan bahwa jawaban itu sangat tidak mengena dan benar-benar menyimpang dari pertanyaan dan keberatan yang diajukan! Dan ini sebuah bukti kelemahan dan penyimpangan vonis Takfîr yang ditajuhkan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb kepada lawan-lawan pendapatnya!

Jawaban itu sangat mengherankan dan aneh! Sebab:

Pertama: Adalah berbeda secara mendasar antara:

A) Mengingkari sesuatu yang dibawa Rasulullah saw. secaara sengaja dan meremehkan setelah mengakui bahwa sesuatu itu adalah benar dibawa oleh Nabi saw.

B) Meninggalkan sebagian yang dibawa Rasulullah saw. dengan dasar ta’wîl, atau karena ia tidak mengatahui bahwa sesuatu itu adalah bagian dari ajaran agama yang dibawa oleh beliau saw. atau ia menganggap bahwa ia telah dimansukhkan, atau ditakhshish (dikhususkan keumumannya) atau ditaqyîd (diikat kemutlakannya)…

Siapapun yang mengingkari bagian agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. setelah ia ketahui dengan pasti bahwa itu bagian dari agama, seperti bahwa sesuatu itu yang dengan tegas disebutkan dalam Al Qur’an dan datang dalam Sunnah yang qath’iyyah (pasti), sehingga ia menjadi bagian dari yang ma’lûm bidharûrah (bagian yang pasti dari agama), maka tidak diragukan lagi bahwa yang mengingkarinya dihukumi kafir, sebab pada dasarnya ia mengingkari dan membohongkan Nabi saw.! Jika hal itu terjadi dari seorang Muslim maka ia dihukumi telah murtad dari agama Islam!

Hal ini sangat gamblang dan tidak perlu berpanjang-panjang dalam menguraikannya dengan melibatkan ayat-ayat Al Qur’an al Karîm, apalagi dengan menyebut ucapan dan fatwa-fatwa para ulama dalam bab tantang hukum orang Murtad dn lain sebagainya untuk mendukungnya… jadi apa yang dilakukan Syeikh dengan berpanjang-panjang sebenarnya adalah tanpa faedah!

Semua itu sudah jelas! Akan tetapi inti permasalahannya terletak apakah beristighâtsah, memohon syafâ’at dan bertawassul dengan kaum Shâlihîn itu termasuk hal-hal yang menyebabkan pengingkaran kepada dasar Tauhid dan mendudukkan manusia pada kedudukan Allah Dzat Yang Maha Perkasa, seperti yang dituduhkan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb atau tidak?! Itu yang penting! Dan para ulama Islam dari berbagai mazhab baik Ahlusunnah maupun Syi’ah seperti kami sebutkan dalam artikel-artikel sebelumnya bahwa semua itu tidak menodai kemurnian Tauhid barang sedikitpun!

Bertawassul tidak berarti mendudukkan manusia pada kedudukan Jabbârus Samâwâti wal Ardhi!

Beristighâtsah dengan kaum Shâlihîn tidak berarti mendudukkan manusia pada kedudukan Jabbârus Samâwâti wal Ardhi!

Bertasyaffu’ (meminta syâfa’at) kepada Nabi Muhammad saw. tidak berarti mendudukkan manusia pada kedudukan Jabbârus Samâwâti wal Ardhi!

Semua itu tidak keluar dari konteks berdoa dan memohon kepada Allah SWT dengan perantaraan kedudukan mulia hamba-hamba mulia di sisi Allah SWT!

Dan karena sikap kaum Wahabiyah yang menyamakan kaum Muslimin yang bertawassul dll. dengan kaum Musyrikin dalam penyembahan kepada arca dan berhala mereka, maka keberatan penduduk kota Ahsâ’ itu diajukan kepada Ibnu Abdil Wahhâb, sebab menyamakan kaum Mulsimin dengan kaum Musyrikun adalah mengqiyas dengan perbedaan yang nyata antara dua kondisi yang berbeda!

Bagiamana Ibnu Abdil Wahhâb menyamakan kaum Muslimin dengan kaum Msuyrikin, sementara kaum Musyrikin tidak meyakini syahâdatain, mereka membohongkan para rasul as., mengkufuri Al Qur’an, mengkufuri hari kebangkitan/kiamat, tidak menegakkan shalat dll. dan itu semua yang menyebabkan kekafiran mereka! Sementara kita (kaum Muslimin) mengimani semua dasar dan prinsip Islam itu! Jadi pengqiyasan yang ia lakukan adalah sangat menyimpang… Andai yang dilakuakn kaum Musyrikun hanya terbatas pada meminta syafa’at, bertawassul dan mengagungkan kuburan maka pengqiyasan itu berdasar dan mengena! Tetapi seperti telah saya buktikan bahwa ternyata apa yang dilaklukan kaum Musyrikin bukanlah hal-hal tersebut akan tetapi keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang mereka lakukan itulah yang menyebabkan mereka dihukumi kafir!

Jadi jawaban Syeikh Ibnu Abidl Wahhâb yang mengatakan: jika seseorang percaya kepada Rasulullah di sebagian sesuatu dan mendustakannya di yang lain maka dia telah kafir dan tidak masuk ke dalam Islam…. tidak mengena dan tidak berguna di sini! Karenanya, kata-kata kasarnya yang menutup rangkaian jawabannya: “Maha suci Allah, alangkah anehnya kebodohan ini” tidak layak mengena melainkan dirinya sendiri! Sungguh bodoh akal dangkal yang mengqiyaskan dua kondisi yang berbada dan menyamakan keduanya dalam satu vonis!

Kedua: Hal kedua dalam kesalahan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb adalah bahwa kaum Muslimin selain Wahhâbiyah (baik para ulamanya maupun kaum awamnya) tidak mengingkari sesuatu yang ma’lûm bidharûrah (bagian yang pasti dari agama), seperti dalam contoh-contoh yang disebutkan dan dituduhkan Syeikh kepada kaum Muslimin (lawan kaum Wahhâbiyah) yaitu meninggalkan shalat, zakat atau haji atau beriman dengan sebagian Al Qur’an dan mengkufuri sebagiannya yang lain… ! Itu hanya adalah percontohan yang tidak riil dalam konteks diskusi antara Wahhâbiyah dan kaum Mulimin yang sedang mereka kafirkan!

Siapakah dari kaum Muslimin yang sedang ia kafirkan itu yang mengingkari Tauhid Allah SWT?!

Siapakah dari kaum Muslimin yang sedang ia kafirkan itu yang mengingkari kerasulan Nabi Muhammad saw.?

Siapakah dari kaum Muslimin yang sedang ia kafirkan itu yang mengingkari keyakinan adanya hari kiamat dan pembalasan?

Siapakah dari kaum Muslimin yang sedang ia kafirkan itu yang mengingkari kewajiban shalat, zakat, puasa bulan Ramadhan dan berjhaji ke tanah suci Makkah?

Lalu mengapakah ia menjawab dengan jawaban yang melenceng dari konteks perbincangan yang sedang didiskusikan?

Bukankah itu bukti kajahilan dan kelemahannya serta ketidak mampuannya dalam menata jawaban atas kebaratan terhadap vonis arogan semena-mena dan menyimpaangnya itu?!

Ketiga: Andai Syeikh mau meluangkan waktunya untuk mengkaji kitab-kitab para ulama Islam yang mendiskusikan masalah-masalah latar belakang perselisihan ulama dan bagaimana sikap yang harus diambil dalam menghadpi perbedaan yang terjadi pastilah ia tidak akan terjatuh dalam kejahilan ini… Andai ia mau membaca buku Raf’u al Malâm tulisan Imam dan idolanya sendiri yaitu Ibnu Taimiyah pastilah ia akan mengetahui uzur yang harus diberikan kepada para ulama yang sedang berselisih pendapat…. Sebab bisa jadi penolakan terhadap sebuah perintah atau larangan agama itu dikarenakan hadis/riwayat itu belum sampai kepadanya, atau ia telah sampai namun dalam pendapatnya hadis itu tidak shahih, atau hadis itu shahih namun ia memiliki makna yang berbeda dengan makna yang difahami oleh lawannya dan demikia seterusanya… lebih lanjut baca Raf’u al Malâm ‘An Aimmtil A’lâm[1].

Selain itu, Syeikh tidak memasukkan al jahl (ketidak-tahuan) dalam pertimbangan untuk menahan diri dari menjatuhkan vonis pengafiran. Ketidak-tahuan –seperti pernah saya jelaskan- adalah salah satu pencegah kuat tidak dibolehkannya menvonis kafir seseorang!

Dengan berdasar metodologi Syaikh Ibnu Abdil Wahhâb maka boleh dan sah-sah saja bagi para ulama yang sedang berselisih pendapat untuk saling mengafirkan satu sama lain, dengan alasan bahwa si alim itu telah mengkufuri sesuatu yang telah dibawa Rasulullah saw.! dan itu sama dengan membohongkan Rasulullah saw. secara total!! Dan begitu pula dengan si alim lainnya, ia juga akan mengalamatkan tuduhan yang sama kepada lawannya yang sedang berselisih pendapat dengannya. Dan dengan demikian rusaklah tatanan keagamaan umat Islam!

Sementara yang benar harus dikatakan bahwa lawan pendapat kamu itu jelas tidak menerima tuduhan bahwa ia mengingkari sesuatu yang dibawa Rasulullah saw…. ia pasti akan menjawab kamu dengan mengatakan misalnya: bahwa hadis yang kamu bawkan itu menrutu saya tidak shahih! Atau mengatakan: arti hadis itu begini bukan seperti yang kamu fahami! Atau: hadis yang kamu sampaikan itu bertentangan dengan hadis lain! dan seterusnya…. Jadi sebenarnya yang terjadi bukan pengingkaran sebagian agama dan mengkufuri sebagian lainnya!

Lagi pula orang lain dapat mengetrapkan metode Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb untuk mengalamatkan tuduhan serupa kepadanya dan kepada kaum Wahhâbiyah… mereka dapat saja memvonis Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dan kaum Wahhâbiyah telah kafir sebab mereka telah mengkufuri sebagian Al Qur’an dan mengimani sebagiannya…. Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dan kaum Wahhâbiyah telah mengkufuri ayat-ayat Al Qur’an yang mengharamkan pencucuran darah-darah kaum Muslimin dan melarang mengafirkan mereka! Dalam penilaian mereka, kaum Wahhâbiyah bisa saja divonis sebagai kafir sebab mereka beriman dengan sebagia Al Qur’an dan kufur terhadap sebagian lainnya!! Dan sebagai buktinya adalah sikap pengafiran yang gencar dilakukan kaum Wahhâbiyah di sepanjang masa bahkan hingga hari ini!!

Ini adalah alasan pertama yang menjadi dasar Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dalam mengafrikan kaum Muslimin yang ia akui sendiri masih bersyahâdatain, beriman akan hari kiamat dan menjalakan syari’at Islam…. dan setelahnya mari kita ikuti jawaban kedua Syeikh dalam alasan mengapa ia mengafirkan kaum Muslimin, yang tentunya juga tidak kalah naif dan menyimpangnya dari alasan pertama yang ia ajukan!!

(Bersambung)


[1] Dalam kitab tersebut, Ibnu Taimiyah menyebut sepuluh alasan yang kerenanya kita tidak boleh gegabah menyalahkan oraang lain, dan tentunya apalagi mengafirkannya.

 


 

 

 

2

<BACK

DEPAN

NEXT>

2