ebook pakdenono


 
MEMBONGKAR SALAFY-WAHABY
Kompilasi & Konversi Ke CHM Oleh Pengikut Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Layout : Pakdenono.com

<BACK

DEPAN

Wassalam

.

 


Kitab Kasyfu asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas (34)

Berkata Syeikh:

وَيُقَالُ - أَيْضاً -: إِذَا كَانَ الأَوَّلُونَ لَمْ يَكْفُرُوا إِلاَّ لأَنَّهُمْ جَمَعُوا بَيْنَ الشِّرْكِ وَتكْذِيبِ الرُّسُلِ ، وَالْقُرْآنِ ، وَإِنْكَارِ الْبَعْثِ ، وَغَيْرِ ذَلِكَ فَمَا مَعْنَى البَابِ الَّذِي ذَكَرَهُ العُلَمَاءُ في كُلِّ مَذْهَبٍ : (بَابُ : حُكْمِ الْمُرْتَدِّ) وَهُوَ الْمُسْلِمُ الَّذِي يَكْفُرُ بَعُدَ إِسْلاَمِهِ . ثُمَّ ذَكَرُوا أنواعا كَثِيرَةً ، كُلُّ نَوْعٍ مِنْهَا يُكَفِّرُ، وَيُحِلُّ دَمَ الرَّجُلِ وَمَالَهُ ، حتّى إِنَّهُمْ ذَكَرُوا أشْيَاءَ يَسِيرَةً عِنْدَ مَنْ فَعَلَهَا، مِثْلَ كَلِمَةٍ يَذْكُرُهَا بِلِسَانِهِ دَونَ قَلْبِهِ ، أَوْ كَلِمَةٍ يَذْكُرُهَا عَلَىَ وَجْهِ الْمَزْحِ وَاللَّعِبِ .

Dan juga dapat dikatakan (sebagai jawaban): jika orang-orang terdahulu itu tidak menjadi kafir kecuali karena mereka menggabungkan antara kesyirikan dan pendustan terhadap Rasul, al-Quran dan mengingkari hari kebangkitan dan yang lainnya, maka apa arti dari bab-bab yang disebut oleh ulama di dalam setiap mazhab: hukum orang yang murtad, seorang muslim yang kafir setelah keislamannya, kemudian mereka menyebutkan berbagai jenis darinya di mana setiap darinya disebut sebagai seorang kafir, yang halal darah dan hartanya bahkan mereka menyebut hal-hal sepele seperti menyebut sebuah kalimat dengan lisannya tanpa meyakini atau menyebut kalimat berdasarkan main-main dan bercanda.

_____________

Catatan 30:

Abu Salafy berkata:

Salah satu bukti nyata kebenaran analisa sebagian pengamat bahwa salah satu ciri khas kaum Wahhabiyah yang meraka warisi dari Imam Besar mereka adalah ketidak-mengertian mereka akan argumentasi lawan diskusi mereka atau metidak-mauan mereka untuk mengertinya. Di sini ciri tersebut terlihat jelas, di mana Syeikh Ibnu Abdil Wahhab mengajukan sebuah dalil/argmentasi untuk membenarkan vonis pengafirannya atas kaum Muslim dengan mengankat masalah kemurtadan dalam kiab-kitab fikih yang telah diteragkan dan dijabarkan para fukahâ’.

Syeikh mengatakan jika vonis kekafarian atas seorang yang walaupun ia mengakui syahadatain dan mengerjakan shaalat dll, itu baru bisa ditajuhkan atasnya setelah ia menggabungkan aantara kemusyrikan, mengkufuri Rasulullah saw. dan mengingkari Al Qur’an al Karîm serta mengingkari adanya hari kebangkitan kelak, maka apa arti ketetapan para ulama dan fukahâ’ tentang hukum kemurtadan? Bukankah seorang ynag murtad itu adaalah seorang Muslim yaang kafir setelah sebelumnya ia memekul Islam?!

Dalam argumentasi yang dibanggakan Syeikh ini terdapat banyak kesalahan dan kepalsuan, serta ketidak mengertiannya akan argumen yang diajukan kaum Muslim yang keberatan dengan vonis membabi-buta Syeikh dalam mengafirkan kaum Muslim, antara lain:

Pertama: Para ulama islam dari berbagai mazhab yang mengecam pengafiran Syeikh atas kaum Muslim sama sekali tidak mengaatakan dan berkamsud mengatakan bahwa seorang Muslim tidak bolak dan tidak sah dianggap murtad dan keluar dari agama Islam kecuali jika ia metaangkum semua hal yang mengafirkan ttersebut, yaitu menyekutukan Alllah, mengkufuri kebanian dan kerasulan Nabi Muhammad saw. mengkufuri hari kebangkitan dan Al Qur’an, dll.

Para menentang Syeikh tidak mengatakan bahwa kaum terdahulu tidak kafir melainakn jika mereka merangku dan mengumpulkan semua hal di atas! sehingga seandainay satu di antara hal/unsur tersebut di atas kurang maka vonis kafir tersebut tidak sah!

Sebagaimana mereka juga tidak mengatakan bahwa selaain hal di atas tidak dapat dijadikan alasan pengafiran seorang Muslim! Sama sekali para penentang Syeikh tidak mengatakan itu, akan tetapi ketika Syeikh membabi buta dalam mengafrikan kaum Muslim dengan mengqiyas kondisi kaum Musyrik Quraisy dengan kondisi kaum Muslim yang sedang ia kafirkan, maka sanggahan tersebut mereka ajukan, sebab pengqiyasan itu jelas dengan seribu satu perbedaan mendasar!

Andai yang dilakukan kaum terdahulu yaitu kafir Quraisy hanya terbatas pada berstighatsah dan bertawassuul serta beristisyfâ’ dan mengagungkan kuburan makan benarlah pengiasan yang ia lakukan, akan tetaapi pada kenyataannya bahwa apa yang dilakukan kaum Musyrik Quraisy bukan apa yang disebut di atas… yang dilakukan kaum Musyrik Quraisy benar-benar sesuatun yang menyebabkan mereka sah dihukumi kafir dan musyrik!

Karenanya tidak ada petunjuk sama sekali bahwa bertawassul dll. itu penyebab kekafiran dan kemurtadaan seorang Muslim, maka dengan demikian tidak ada nilainya berpanjang-panjang menyebutkan bab kemurtadan dalam masalah ini, karena tidak ada yang meraagukan apalagi mengingkari bahwa bisa saja kemurtadan itu ditetepkan ke atas seorang walaupun ia bersyahadat denga dua syahatain. Akan tetapi inti permasalah dan perselisihannya terletak apakah hal-hal yang dianggap Syeikh sebagai penyebab kekafiran dan kemurtadan, sepertt bertawassul dll. itu benar-benar alasan yang cukup untuk menvonis kemurtadan seorang Muslim atau tidak! Dan hal ini tidak bisa diselesaikan dengan menyebutkan bab tentang kemurtadan!

Kedua: Tidak semua unsur penyebab kemurtadan yang disebutkan para fukaha’ dalam bab irtidâd/kemurtadan itu benar. Para fukahâ’ telah menyebutkan banyak hal yang menyebabkan kemurtadan seorang, sebagian di antaranya telah diijmâ’kan, sementaara sebagian lainnya masih diperselisihkan serta tidak jarang ada hal hal-hal yang mereka sebutkan sebagai unsur penyebab kemurtadan tidak diterima oleh mayoritas fukahâ’ dan ulama. Jelasnya mereka hampir tidak sekapat dalam banyak hal dan unsur penyebab kemurtadan, disampin apa yang mereka tetapkan sebagaim penyebab kemurtadan itu akan mereka tetapkan dengan memerhatikan kondisi pelakuknya, apakah ia melakukan atau mengucapkan atau meyakininya karena kajahilan, atau kerena ta’wil, atau keterpaksaan dll.

Ketiga: Para fukahâ’ yang kini dirujuk oleh Syeikh (walaupun biasanya ia kecam dan ia sebut sebagai tuhan-tuhan kecil, arbâb selain Allah SWT), baik paraa fukahâ’ yang hidup di zaman Syeikh yang tersebar di berbagai penjuru dunia Islam, seperti Mekkah dan Madinah, di tanah Hijâz, Riyâdh, Mesir, Irak, Syira, Yaman,…,…, tidak satu pun dari mereka yang menyebut hal yang diyakini Syeikh sebagai penyebab kemurtadan seperti bertawassul, beristighâtsah, bertasyaffu’ dengaan Nabi Muhammad dan kaum Shalihin, dll. dan ini adalaah sebuaah bukti nyata adanya ijmâ’ dari paaraa fukahâ’ itu bahwa hal-hal tersebut di atas tidak termasuk penyebab kemurtadan. Maka derngan demikian palsu dan batallah argumentasi yang diajukan Syeikh dengan mengandalkan fatwa-fatwa para fukahâ’ itu… apa yang ia sebutkan justeru berbalik melawannya sendiri!

Keempat: Para fukahâ’ yang ia rujuk dalaam masalah ini tidak satupun dari mereka yang “menggebyah uyah” dengan membabi-buta pengafiran atas sebuah komunitas dikarenakan kemurtadan atau kemusyrikan seseorang atau beberapaa orang dari kumunitas tersebut, para fukahâ’ hanya akan membatas hukum kemurtadaan itu pada person pekalu atau penyandang kemurtadaan! Itupun dengaan ekstra haati-hati dengan mempertimbangkan seluru unsur yang diperlukan!

Berbeda dengan apa yang dilakuakn Syeikh, dimana ia menvonis kafir dan musyrik sebuah penduduk desa atau kota, misalnya dikarenakan di desa ataau kota tersebut terdapat praktik kemusyrikan yang dilakukan oleh sebagai masyarakatnya…. seperti contoh-contoh yang telah disebutkan dalam sejarah penyebaran Wahhabi di masa awal penyebarannya dan hingga kini.

Adapun anggapan bahwa para fukahâ’ mengafirkan dengan dasar seperti apa yang ia katakan: “bahkan mereka menyebut hal-hal sepele seperti menyebut sebuah kalimat dengan lisannya tanpa meyakini atau menyebut kalimat berdasarkan main-main dan bercanda”, maka hal itu tidak benar! Apa yang meraka katakan tidak semutlak apa yang dikatakan Syeikh Ibnu Abdil Wahhab… Apa yang dikatakan para fukahâ’ dalam bab tentang kemurtadan itu ialah: “Barang siapa mengucap kata-kata kekufuran seperti bahwa Allah itu adalah Tuhan ketiga dari serangkai tiga tuhan dengan nada mengecek atau ingkar dan menentang keesaan Alllah SWT maka ia dihukumi telah murtad dan keluar gari agama Islam.” Lebih lanjut saya persilahkan Anda membaca kitab-kitab fikih mazhab Imam Syafi’i: Al Iqnâ’ Fî Halli Alfâdzi Abi Syujâ’ dan Hasyiyah-nya,2/229 dan Hasyiyah asy Syarq6awi Alâ Syarhi at Tahrîr; Zakaria al Anshari,2/390.

Tidak asal mengucapkan kata-kata seperti itu langsung dipastikan telah murtad, seperti yang hendak dikesankan oleh Syeikh Ibnu Abdil Wahhab dengan mengeneralisir kata-kata dengan maksud meremehkan hukum kemurtadan atas Muslim! Maka perhatikan poin ini baik-baik!

Adapun kata-kataanya: atau menyebut kalimat berdasarkan main-main dan bercanda” akan Anda ketahui kebatilannya pada catatan akan datang insya Allah, dan sebenarnya ia adalah pengkhianatan dan penipuan dalam penukilan! Waspadalah!

Dari semua ini dapat Anda saksikan kenaifan alasan yang diajukan Syeikh Imam Besar kaum Wahhabiyah dalam menvonis kafir kaum Muslim!


 

 

 

2

<BACK

DEPAN

Wassalam

2