ebook pakdenono


 
MEMBONGKAR WAHABY-SALAFY
Kompilasi & Konversi Ke CHM Oleh Ibnu Isa Elbangkalany
Email : ibnuisa@mecca.com

Layout : Pakdenono.com

<BACK

DEPAN

NEXT>

.

 


Benarkah Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab telah Bertaubat

Jika kitab “As-Showa’iq al-Ilahiyah fi Mazhab al-Wahhabiyah” adalah merupakan surat teguran Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab terhadap adiknya (Muhammad bin Abdul Wahhab) secara langsung, namun kitab kedua beliau; “Fashlul Khitab fi Mazhab Muhammad bin Abdul Wahhab” adalah surat yang ditujukan kepada “Hasan bin ‘Idan”, salah satu sahabat dan pendukung setia nan fanatik Muhammad bin Abdul Wahhab (pencetus Wahabisme). Jadi ada dua karya yang berbeda dari Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab yang keduanya berfungsi sama, mengkritisi ajaran Wahabisme, walaupun keduanya berbeda dari sisi obyek yang diajak bicara. Dan tidak benar jika dikatakan bahwa terjadi perubahan judul dari karya beliau tadi. Karena ada dua buku dengan dua judul yang berbeda.

—————————————————-

    Benarkah Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab telah Bertaubat?

Salah seorang teman Wahhaby menyatakan bahwa di akhir hayat Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab –salah seorang ulama mazhab Hambali, saudara tua dan sekandung Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri Wahabisme- beliau bertaubat dan menyesali segala yang telah dilakukannya berupa penentangan keras terhadap ajaran adiknya, Wahabisme. Penentangan itu dilakukannya dengan berupa nasehat kepada Sang adik, baik melalui lisan maupun dengan menulis surat (risalah) yang selama ini dilakukannya atas keyakinan ajaran Sang adik. Bukti-bukti konkrit, kuat dan ilmiah telah beliau sampaikan ke Sang adik, namun apa daya, ikhtiyar menerima kebenaran bukan terletak pada tangan Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab. Apakah benar Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab tobat dari memusuhi sekte ajaran adiknya yang dikenal dengan Wahabiyah itu?

Namun salah satu pendapat teman Wahaby tadi tidak sendiri. Sebelumnya, terdapat individu lain yang menyatakan hal yang sama. Bedanya individu Wahaby tersebut merupakan seorang penulis, bukan hanya seorang bloger ataupun yang hanya punya hoby mengintip-ngintip blog orang. Namun kesamaannya adalah, selain dia sesama pengikut Wahaby, ia juga sama-sama malu-malu (mungkin masih ragu dan takut salah) untuk menyatakan hal itu, karena tidak punya bukti konkrit yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Orang yang saya maksud adalah Khairuddin az-Zarkali yang bermazhab Wahaby asal Syiria. Dalam kitab “al-A’lam” jilid 3 halaman 130 dia menyatakan dalam karyanya tersebut; “Ada yang menyatakan bahwa Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab telah bertaubat dalam menentang pemikiran adiknya, Muhammad bin Abdul Wahhab”. Namun dalam bukunya itu dia tidak berani memberi isyarat tentang kebenaran pernyataan tadi, apalagi meyakininya dengan menyebut bukti-bukti konkrit. Hal itu karena memang ketiadaan bukti yang konkrit serta otentik akan ke-taubat-an Syeikh Sulaiman dalam penentangannya atas ajaran adiknya.

Ada seorang penulis lain asal Syiria yang juga menjelaskan tentang pribadi Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab. Dia adalah Umar Ridho Kahhalah pengarang kitab “Mu’jam al-Mu’allifin” (lihat jilid 4 halaman 269, tentang Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab). Cuman terjadi perbedaan di antara kedua penulis tadi sewaktu menyebut tahun wafat Syeikh Sulaiman. Al-Kahhalah menyebutkan bahwa Syeikh Sulaiman meninggal tahun 1206 Hijriyah. Sedang az-Zarkali menyebutkannya pada tahun 1210 Hijriyah.

Mengenai karya-karya Syeikh Sulaiman yang menangkal ajaran adiknya (Wahabisme), Al-Kahhalah dalam kitab “Mu’jam al-Mu’allifin” (jilid 4 halaman 269) menyebutkan judul kitab “As-Showa’iq al-Ilahiyah fi Mazhab al-Wahhabiyah” (Petir-Petir Ilahi pada Mazhab Wahabisme). Begitu juga yang dinyatakan dalam kitab “Idhoh al-Maknun” (lihat jilid 2 halaman 72). Dan di dalam kitab “Idhoh al-Maknun” juga disinggung tentang kitab lain karya Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab yang berjudul “Fashlul Khitab fi Mazhab Muhammad bin Abdul Wahhab” (Seruan Utama pada Mazhab Muhammad bin Abdul Wahhab). Namun, surat panjang yang kemudian dicetak menjadi kitab yang sudah beberapa kali dicetak itu memiliki judul panjang; “Fashlul Khitab min Kitab Rabbil Arbab, wa Hadis Rasul al-Malak al-Wahhab, wa kalaam Uli al-Albab fi Mazhab Muhammad bin Abdul Wahhab” (Seruan Utama dari Kitab Penguasa dari segala penguasa (Allah SWT), dan hadis utusan Maha Kuasa dan Maha Pemberi anugerah (Muhammad SAW), dan ungkapan pemilik akal sehat pada mazhab Muhammad bin Abdul Wahhab). Kitab ini telah dicetak di beberapa Negara; di India pada tahun 1306 H, di Turkia pada tahun 1399 H, di Mesir, Lebanon dan beberapa Negara lainnya.

Jika kitab “As-Showa’iq al-Ilahiyah fi Mazhab al-Wahhabiyah” adalah merupakan surat teguran Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab terhadap adiknya (Muhammad bin Abdul Wahhab) secara langsung, namun kitab kedua beliau; “Fashlul Khitab fi Mazhab Muhammad bin Abdul Wahhab” adalah surat yang ditujukan kepada “Hasan bin ‘Idan”, salah satu sahabat dan pendukung setia nan fanatik Muhammad bin Abdul Wahhab (pencetus Wahabisme). Jadi ada dua karya yang berbeda dari Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab yang keduanya berfungsi sama, mengkritisi ajaran Wahabisme, walaupun keduanya berbeda dari sisi obyek yang diajak bicara. Dan tidak benar jika dikatakan bahwa terjadi perubahan judul dari karya beliau tadi. Karena ada dua buku dengan dua judul yang berbeda. Alhamdulillah, di perpustakaan pribadi kami, kedua kitab tadi tersimpan secara rapih dan menjadi salah satu koleksi berharga -dari sekian banyak buku dan referensi- dalam menyingkap hakekat Wahabisme, terkhusus Wahabisme (Salafy gadungan) yang berada di Indonesia.

Kedua surat itu walaupun memiliki perbedaan dari sisi obyek yang diajak bicara (satu buat sang adik, dan satu lagi buat pendukung fanatik buta adiknya), namun memiliki kesamaan dari sisi kekuatan dan keilmiahan argumentasinya, baik argument dari al-Quran, Hadis dan Salaf Saleh. Tentu sebagai seorang kakak, Syeikh Sulaiman tahu betul sifat dan watak adiknya yang hidup bersamanya dari semenjak kecil. Dia paham bahwa apa yang dilakukannya akan sia-sia, namun apa yang dilakukannya itu tidak lain hanya sebagai argumentasi pamungkas (Itmam al-Hujjah) akan segala perbuatan adiknya. Sehingga ia berpikir, dengan begitu ia tidak akan dimintai pertanggungjawaban lagi oleh Allah, kelak di akherat, sebagai seorang kakak dan seorang ulama yang dituntut harus sigap dalam melihat dan menyikapi segala penyimpangan, berdasarkan konsep “Amar Makruf Nahi Munkar” yang diperintahkan (diwajibkan) Islam.

Namun secara realita, usaha Syeikh Sulaiman tidak memberi hasil. Muhammad bin Abdul Wahhab tetap menjadi Muhammad bin Abdul Wahhab Sang pencetus Wahabisme, Syeikhul Wahhabiyah. Apalagi dia merasa di atas angin setelah mendapat dukungan penuh Klan Saud, dari sisi harta dan kekuatan. Sedang sejarah telah menulis bahwa kekuatan Klan Saud tadi didapat dari dukungan kerajaan Inggris, penjajah Jazirah Arab kala itu dalam memenangkan Klan Saud di atas semua kabilah Arab yang ada dan menentang keberadaan imperialis Inggris kala itu. Muhammad bin Abdul Wahhab tidak lagi bisa mendengar (tuli) dan melihat (buta) akan kebenaran argumen al-Quran, hadis dan ungkapan Salaf Saleh yang keluar dari siapapun, termasuk Sang kakak yang tergolong salah seorang ulama mazhab Hambali di zamannya. Segala usaha Syeikh Sulaiman terhadap Sang adik dan pendukung setia adiknya tadi ibarat apa yang pernah Allah SWT singgung dalam al-Quran yang berbunyi; “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS al-Qoshosh: 56). Karena orang-orang semacam itu (Muhammad bin Abdul Wahhab beserta pengikut setianya) ibarat apa yang telah disinggung dalam al-Quran:
Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?” (QS az-Zukhruf: 40)
Atau ayat:
Apakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan” (QS Yunus 43).

Dari sini jelas sekali bahwa, kebenaran pernyataan yang menyatakan bahwa Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab telah bertobat merupakan pernyataan yang tidak berdasar. Karena tidak ada bukti konkrit dan otentik akan kebenaran hal itu, seperti bukti tertulis karya Syeikh Sulaiman sendiri atau paling tidak orang yang sezaman dengan beliau. Yang ada hanya pengakuan-pengakuan dari para ulama Wahaby kontemporer (yang tidak mengetahui ihwal meninggalnya Syeikh Sulaiman, apalagi hidupnya) yang menyatakan bahwa Syeikh Sulaiman telah tobat dan bahkan telah mengikuti bahkan menyokong sekte ajaran adiknya. Ini adalah pembohongan atas nama Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab. Semua itu mereka lakukan tidak lain hanya untuk membersihkan pengaruh negatif akibat pengingkaran kakak kandung pencetus Wahabisme yang akan memberikan image negatif terhadap perkembangan sekte Wahabisme ini.

Jadi, atas dasar itu jangan heran jika pengikut Wahhaby seperti Khairuddin az-Zarkali tidak berani dengan terang-terangan bahkan cenderung ragu dalam menghukumi kebenarannya. Apalagi ditambah dengan kenyataan yang ada di luar bahwa para pengikut sekte Wahhaby ini –terkhusus para dedengkotnya yang berada di Saudi, Yaman dan Kuwait- sangat membenci Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab. Jika Syeikh Sulaiman benar-benar telah bertaubat, kenapa ada kesepakatan (terkhusus antar ulama Wahaby beserta para santri mereka) untuk mencela dan menghina ulama mazhab Hambali (salah satu mazhab Ahlussunah wal Jamaah) ini? Jika mazhab Hambali (yang metode mazhabnya banyak diadopsi oleh Wahhaby) saja diolok-olok, bagaimana dengan mazhab lain Ahlussunah seperti mazhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i? Maka jangan heran jika para pengikut Wahaby akhirnya mudah mengolok-olok mazhab-mazhab resmi Ahlussunah wal Jamaah. Layakkah mereka mengaku sebagai Ahlussunah wal Jamaah?

[Sastro H]

NB:
Adapun orang-orang Wahaby kontemporer (tidak sezaman bahkan hidup jauh pasca Syeikh Sulaiman wafat) yang menulis tentang taubatnya Syekh Sulaiman bin Abdul Wahab dari penentangan ajaran Wahabisme (sekte bikinan adiknya) adalah:

“Ibnu Ghannam (Tarikh Nejed 1/143), Ibnu Bisyr (Unwan Majd hal. 25), Syaikh Mas’ud An Nadawi (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlih Mazhlum 48-50), Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (Ta’liq Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 95), Syaikh Ahmad bin Hajar Alu Abu Thami (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 30), Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwa’ir (Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab Syaikh muftara ‘alaihi lihat majalah Buhuts Islamiyah edisi 60/1421H), Syaikh Nashir Abdul Karim Al Aql (Islamiyah la Wahhabiyah hal. 183), Syaikh Muhammad As Sakakir (Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab wa Manhajuhu fi Dakwah hal. 126), Syaikh Sulaiman bin Abdurrahman Al Huqail (Hayat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 26. yang diberi kata pengantar oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh), dll.”

Jika kita lihat masa hidup mereka semua, maka bagaimana mungkin mereka akan bisa memberi kesaksian atas pertaubatan Syeikh Sulaiman sedang mereka tidak sezaman bahkan jauh dari zaman Syeikh Sulaiman wafat? Mungkinkah (secara logis dan ilmiah) orang-orang itu mampu memberikan secara langsung (tanpa merujuk orang-orang yang sezaman dengan Syeikh Sulaiman) kesaksian pertaubatan syeikh Sulaiman? Silahkan pembaca yang budiman renungkan!?

 


 

 

 

2

<BACK

DEPAN

NEXT>

2