ebook pakdenono


 
MEMBONGKAR WAHABY-SALAFY

Kompilasi & Konversi Ke CHM Oleh Ibnu Isa Elbangkalany
Email : ibnuisa@mecca.com

Layout : Pakdenono.com

<BACK

DEPAN

NEXT>

.

 


Memberi Penerangan Kuburan

Kita akan mencukupkan dengan pengakuan seorang alim dari kelompok Wahabi sendiri, Nashiruddi al-Bani dalam kitabnya yang berjudul Tahdzirul Masajid min it-Tikhodzil Qubur Masajid halaman 43-44 dimana ia mengatakan: “Hadis ini telah dinukil oleh Abu Dawud dan selainnya. Namun dari sisi sanad (urutan perawi) ternyata hadis ini dihukumi lemah (Dha’if), walaupun banyak dari kelompok Salafy (baca: Wahaby) menggunakan hadis ini. Bagaimanapun juga kebenaran harus diungkap dan diikuti. Salah seorang yang menyatakan bahwa hadis ini lemah adalah al-Muslim…

—————————————

-Memberi Penerangan Kuburan-

Salah satu hal yang sangat dibenci dan diharamkan oleh kaum Wahaby (Salafy palsu) adalah memberi penerangan terhadap kuburan. Lepas dari apakah fungsi dari pemberian penerangan tersebut namun ketika mereka ditanya tentang boleh atau tidaknya memberikan penerangan tersebut niscaya mereka akan menjawab secara mutlak “Haram”. Apalagi selain memberi penerangan atas kuburan juga ditambah dengan memberikan hiasan-hiasan pada makam para wali (baca: kekasih) Allah maka menurut mereka adalah haram di atas haram. Kaum Wahaby menyandarkan pendapatnya dengan riwayat yang dinukil oleh an-Nasa’i dalam kitab Sunan-nya jilid 4 halaman 95 atau kitab Mustadrak alas Shahihain jilid 1 halaman 530 hadis ke-1384 yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah bersabda: “Allah melaknat perempuan yang datang guna menziarahi kubur dan orang yang menjadikan kubur sebagai masjid, juga buat orang yang meneranginya (kuburan) dengan penerang”. Padahal jika kita melihat pendapat ulama Ahlusunah maka akan kita dapati bahwa mereka membolehkannya, bahkan dalam beberapa hal justru sangat menganjurkannya. Lantas apakah ulama Ahlusunah lupa atau lalai terhadap hadis tersebut sehingga mereka menfatwakan yang bertentangan dengan hadis tersebut, bahkan dengan tegas mereka menyatakan “boleh” untuk memberi penerang kuburan?

Sebelum kita melihat ungkapan beberapa ulama Ahlusunah, lebih baiknya terlebih dahulu akan kita perhatikan argumentasi hadis tersebut. Kita akan mencukupkan dengan pengakuan seorang alim dari kelompok Wahabi sendiri, Nashiruddi al-Bani dalam kitabnya yang berjudul Tahdzirul Masajid min it-Tikhodzil Qubur Masajid halaman 43-44 dimana ia mengatakan: “Hadis ini telah dinukil oleh Abu Dawud dan selainnya. Namun dari sisi sanad (urutan perawi) ternyata hadis ini dihukumi lemah (Dha’if), walaupun banyak dari kelompok Salafy (baca: Wahaby) menggunakan hadis ini. Bagaimanapun juga kebenaran harus diungkap dan diikuti. Salah seorang yang menyatakan bahwa hadis ini lemah adalah al-Muslim (pemilik kitab shahih). Beliau dalam karyanya yang berjudul at-Tafshil mengatakan: “Hadis ini tidak jelas. Masyarakat tidak berpegangan terhadap hadis yang diriwayatkan oleh Abu Shaleh Badzam. Orang itulah yang meriwayatkan hadis tadi dari Ibnu Abbas. Tidak jelas apakah benar bahwa ia telah mendengarkan hadis tersebut darinya (Ibnu Abbas)” ”. Al-Bani kembali mengatakan: “Kelemahan hadis ini telah saya tetapkan dalam kitab al-Ahadits adh-Dho’ifah wal Maudhu’ah wa Atsaruha as-Sayi’ fi al-Ummah”.

Itu jika kita melihat dari sisi sanad hadis. Taruhlah bahwa analisa Nashiruddin al-Bani (ahli hadis Wahaby) tadi tidak dapat kita terima, namun kembali harus kita lihat argumentasi (dilalah) yang dapat kita lihat dari hadis tersebut. Jika kita melihat kandungan hadisnya niscaya akan semakin terlihat kelemahan hadis tadi yang dijadikan landasan berpikir dan bertindak kaum Wahaby (Salafy palsu) yang Takfiry.

Pertama: Tentu hadis itu tidak dapat diterapkan secara mutlak pada semua kuburan. Hadis tadi tidak dapat dterapkan pada kuburan para nabi, rasul, waliyullah, imam dan para ulama saleh. Dimana mengagungkan kuburan mereka merupakan perwujudan dari “Ta’dhim Sya’airallah” (pengagungan syiar-syiar Allah) yang tercantum dalam ayat 32 surat al-Hajj dimana Allah swt berfirman: “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. Bagaimana tidak, Shofa dan Marwah yang hanya dikarenakan larian-larian kecil seorang Hajar (ibu nabi Ismail) yang bukan nabi saja tergolong syiar Allah sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian dari syiar Allah” (QS al-Baqarah: 158), apalagi jika itu adalah bekas-bekas penghulu para nabi dan rasul yang bernama Muhammad saw. Ataupun bekas-bekas para ulama dan kekasih Allah (baca: Waliyullah) dari umat Muhammad yang dinyatakan sebagai pewaris para nabi.

Kedua: Hadis tadi hanya dapat diterapkan pada hal-hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Terkhusus kuburan orang biasa yang jarang diziarahi oleh keluarga dan sanak familinya. Dengan memberi penerangan kuburan semacam itu niscaya akan menyebabkan membuang-buang harta bukan pada tempatnya (Israf / Mubadzir) yang diharamkan oleh Islam. Jadi pengharaman pada hadis tadi lebih dikarenakan sesuatu yang lain, membuang-buang harta tanpa tujuan (Mubadzir), bukan pemberian penerangan itu sendiri secara mutlak. Namun jika penerangan kuburan tersebut dipakai untuk menerangi kuburan orang-orang mulia –seperti contoh di atas tadi- dimana kuburan tersebut sering dipakai orang untuk berziarah, membaca al-Quran, membaca doa, melaksanakan shalat dan kegiatan-kegiatan berfaedah lain yang dihalalkan oleh Allah maka dalam kondisi semacam ini bukan hanya tidak dapat divonis haram atau makruh melainkan sangat ditekankan, karena menjadi perwujudan dari ungkapan Ta’awun ‘alal Birri wat Taqwa (tolong menolong dalam kebaikan dan takwa) sebagaimana yang diperintahkan dan dijelaskan dalam al-Quran surat al-Maidah ayat 2 dimana Allah berfirman: “Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran”. Jelas hal itu bukan masuk kategori dosa dan pelanggaran, karena jika itu kenyataannya maka mungkinkah Rasulullah yang kemudian diikuti oleh para Salaf Saleh melakukan dosa dan pelanggaran, sebagaimana nanti yang akan kita singgung?

Atas dasar itu pula akhirnya para ulama Ahlusunah menyatakan “boleh” memberikan penerangan terhadap kuburan para nabi, rasul dan para kekasih Ilahi (Waliyullah) lainnya. Azizi dalam kitab Syarh Jami’ as-Shaghir jilid tiga halaman 198 dalam rangka mensyarahi hadis tadi mengatakan: “Hadis tadi menjelaskan tentang ketidakperluan orang-orang yang masih hidup akan penerang. Namun jika hal tadi menyebabkan manfaat (buat yang masih hidup) maka tidak menjadi masalah”. Sanadi dalam mensyarahi kitab Sunan an-Nasa’i jilid keempat halaman 95 mengatakan: “Larangan memberikan penerangan tersebut dikarenakan penggunaan lampu untuk hal tersebut merupakan membuang-buang harta tanpa ada manfaat yang berarti. Hal ini meniscayakan bahwa jika terdapat manfaat di balik itu semua maka hal itu telah mengeluarkannya dari pelarangan”. Hal serupa juga dikemukakan oleh Syeikh Ali Nashif dalam kitab at-Tajul Jami’ lil Ushul jilid pertama halaman 381: “Memberi penerangan pada kubur merupakan perbuatan yang dilarang. Hal itu dikarenakan membuang-buang harta. Kecuali jika di sisi kuburan tersebut terdapat seorang yang masih hidup (yang memerlukan penerangan) maka hukumnya tidak apa-apa”.

Dan terbukti bahwa penerangan terhadap kuburan merupakan hal lumrah yang telah dilakukan oleh para Salaf Saleh semenjak dahulu. Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh al-Baghdadi jilid 1 halaman 154 yang pengisahannya disandarkan kepada seorang syeikh penduduk Palestina, dimana ia menyatakan: “kulihat terdapat bangunan yang terang yang terletak di bawah tembok Kostantiniyah. Lantas kutanyakan perihal bangunan tersebut. Mereka menjawab: “Ini adalah makam Abu Ayyub al-Anshari seorang sahabat Rasulullah”. Kudatang mendekati makam tersebut. Kulihat makam beliau terletak di dalam bangunan tersebut dimana terdapat lampu yang tergantung dengan rantai dari arah atas atap”. Ibnu Jauzi dalam kitab al-Muntadham jilid 14 halaman 383 menyatakan: “Salah satu kejadian tahun 386 Hijriyah adalah para penghuni kota Basrah mengaku bahwa mereka telah berhasil menemukan kuburan tua yang ternyata kuburan Zubair bin Awam. Setelah itu berbagai peralatan penerangan dan penghias diletakkan (dalam pemakaman) dan lantas ditunjuk seseorang yang bertugas sebagai penjaga. Dan tanah yang berada di sekitarnya pun diwakafkan”.

Minimalnya, semua argument di atas mrupakan bukti bahwa pelarangan tersebut tidak sampai pada derajar haram, paling maksimal hanyalah dapat divonis sebagai makruh saja. Dan itupun tidak mutlak. Terbukti ada beberapa hal yang menyebabkan pemberian penerangan itu dihukumi boleh (Ja’iz). Malah jika itu termasuk kategori Ta’dhim Sya’ariallah atau Ta’awun ‘alal Birri wat Takwa -sebagaimana yang telah kita singgung di atas tadi- maka tergolong sesuatu yang sangat ditekankan. Belum lagi hadis di atas tadi –larangan pemberian lampu penerang- yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas juga bertentangan dengan hadis yang juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas juga yang pernah dinukil oleh at-Turmudzi dalam kitab al-Jami’ as-Shahih jilid 3 halaman 372 bab ke-62 dimana Ibnu Abbas berkata: “Suatu malam Rasulullah memasuki areal pemakaman (untuk berziarah). Saat itu ada seseorang yang menyiapkan penerang buat beliau”. Ini membuktikan bahwa menerangi pemakaman dengan lampu penerang tidak dapat dihukumi haram secara mutlak, namun sangat bergantung terhadap tujuan dan faedah di balik hal tersebut. Lantas bagaimana mungkin kaum Wahaby yang mengaku sebagai penghidup ajaran Salaf Saleh menfatwakan bahwa hal itu secara mutlak diharamkan? Apakah diamnya Rasul sewaktu disediakan lampu penerang oleh Sahabat beliau bukan merupakan dalil pembolehan? Apakah Wahaby hendak membikin syariat sendiri dengan pengharaman tersebut, padahal Rasulullah sang pembawa syariat Ilahi tidak mengharamkannya seara mutlak kecuali karena alasan Tabdzir (membuang-buang harta tanpa alasan jelas) saja, itupun hanya dapat diterapkan pada kuburan-kuburan tertentu saja, bukan semua kuburan? Terserah, mereka mau mengikuti Muhammad bin Abdillah yang Rasulullah ataukah Muhammad bin Abdul Wahab yang Laknatullah?

Wallahu a’lam

 


 

 

 

2

<BACK

DEPAN

NEXT>

2