ebook pakdenono


 
MEMBONGKAR WAHABY-SALAFY
Kompilasi & Konversi Ke CHM Oleh Ibnu Isa Elbangkalany
Email : ibnuisa@mecca.com

Layout : Pakdenono.com

<BACK

DEPAN

NEXT>

.

 


Ibnu Abdil Wahhab Selain Wahahabiyah Kafir_Musyrik ! (4)

Dua Kota Suci Makkah dan Madinah adalah Kota Kafir dan Penduduknya adalah Musyikûn!

Umat Islam yang memilih tinggal di dua kota suci, Makkah al Mukarramah dan Madinah al Munawwarah dengan niatan mulia untuk lebih mendekatkann diri kepada Allah SWT dengan dilipat gandakan berbagai pahala kebajikan dan amal shaleh mereka, dan sebagai bukti kecintaan mereka kepada Allah SWT dan rasul-Nya dengan bertetangga di dengan rumah Suci-Nya dan kota suci Nabi-Nya, jugg tidak selamat dari vonis pengkafiran brutal Ibnu Abdil Wahhâb dengan satu alasan yang sederhana bahwa mereka tidak mau menerima konsep Tauhid seperti yang ia pahami dengan pemahamannya yang dangkal dan menyimpang itu.

Dengan satu alasan naif bahwa mereka adalah Musyrikûn, sebab mereka suka menziarai makam suci nabi Muhammad saw. dan para sahabat serta hamba-hamba shaleh yang dikebumikan di dua kota suci tersebut dan itu dalam pandangan Ibnu Abdil Wahhâb adalah sama dengan penyembahan… jadi dua kota suci Islam itu kini berubah menjadi negeri Kafir! Keimanan yang kokoh penduduk Makkah dan Madinah kepada keesaan Allah SWT dan kerasulan Muhammad saw. serta kesetiaan mereka dalam menjalankan rukun-rukun Islam tidak mampu menyelamatkan mereka dari vonis pengkafiran Pendiri Sekte Wahhâbiyah itu!

Contoh Ketujuh: Makkah dan Madinah Adalah Negeri Kafir!

Syaikh Ibnu Abdil Wahhâb telah mambagi-bagi kota dan negeri yang ditinggali kaum Muslimin menjadi negeri Islam, Dâr Islam dan negeri kekafiran, Dâr al Kufri. Seluruh daerah dan negeri Umat Islam yang belum menerima ajakan Syaikh Ibnu Abdil Wahhâb adalah Dâr al Kufri, tidak dikecualikan kota suci Makkah dan Madinah sebelum diduduki Syaikh dan Ibnu Sa’ud bersama tentaranya; para penganut sekte Wahhâbiyah!!

Penegasan itu dapat Anda jumpai dalam banyak tempat dalam ad Durar as Saniyyah, di antaranya:10/12, 64,75 dan 86.

Contoh Kedelapan: Penduduk Kota Suci Makkah dan Madinah adalah Kafir!

Dalam banyak stitmennya, Syaikh Ibnu Abdil Wahhâb menyebut bahwa ajakannya adalah Tauhid Murni dari kemusyrikan, dan apa yang sedang dijalankan kaum Muslimin di berbagai belahan dunia Islam adalah telah menyimpang dan adalah kemusyrikan!! Tidak terkecuali agama yang tengah diyakini penduduk kota Suci Makkah dan Madinah, agama mereka adalah agama kemusyrikan yang Allah mengutus Nabi-Nya untuk memberantasnya! Lalu datangnya kaum Wahhâbiyah pelanjut da’wah Ibnu Abdil Wahhâb dengan menambahkan bahwa mereka (penduduk kota Suci Makkah dan Madinah) adalah penyembah kuburan! Kemudian tidak puas dengan itu semua, mereka mengatakan bahwa siapa saja yang enggan mengafirkan mereka maka ia juga kafir!! Walaupun ia membenci mereka dan mencintai Islam dan kaum Muslimin (kaum Wahhâbiyah, maksudnya).

Semua doktrin berbahaya itu dapat Anda jumpai dalam ad Durar as Saniyyah,10/86 dan 9/291.

Doktrin itu diyakini oleh para pengikut Syaikh Ibnu Abdil Wahhâb sampai mereka mampu menguasai dua kota suci Umat Islam; Makkah dan Madinah. Dan setalah dua kota suci Umat Islam ditaklukkan kaum Wahhâbiyah di masa kekuasaan Sa’ud ibn Abdil Aziz ibn Muhammad pada tahun 1222 H, para ulama di dua kota tersebut dipaksa menandatangani sebuah berita acara berisikan pengakuan mereka bahwa penduduk dua kota suci Makkah dan Madinah sebelum penaklukan tersebut adalah berada:

في الكفْرِ الأكبرِ المُبِيْحِ للدَمِ و المالِ.

dalam kekafiran besar, yang menyebabkan halalnya darah dan harta mereka…

dan negeri-negeri umat Islam di seluruh dunia berada dalam kemusyrikan terbesar! Pemaksaan itu terjadi pada tahun 1225 H.

Untuk mengetahui data tentangnya, saya persilahkan Anda melihat langsung ad Durar as Saniyyah,1/314-317.

Dan tidak diragukan lagi bahwa penandatanganan berita acara itu di bawah ancaman pedang para algojo dan tukang jagal Wahhâbiyah yang haus darah lagi tak kenal rahmat, sebab sebelum pendudukan dua kota suci Umat Islam oleh Tentara Wahhâbiyah para ulama Islam itu adalah kontra dan penentang keras da’wah Ibnu Abdil Wahhâb.

Raja Sa’ud ibn Abdil Aziz ibn Muhammad ini dikenal sangat kental kewahhâbiyahannya, ia ektrim dalam menjatuhkan vonis pengafiran persis seperti Syaikh Ibnu Abdil Wahhâb! Ia bukan Sa’ud raja yunior yang memerintah Saudi Arabiah setelah kematian Abdil Aziz ibn Sa’ud. Sa’ud senior ini memerintah kerajaan Arab Saudi generasi pertama.

Berita Acara Taubat Ulama Makkah dan Madinah

Berita acara taubat yang ditandatangani para ulama Ahlusunnah di dua kota suci Umat Islam atas hunusan pedang-pedang para Gerombolan Wahhâbiyah dan para Penguasa Pendudukan itu dibuat di masa kekuasaan Sa’ud ibn Abdil Aziz ibn Muhammad. Isi berita acara pertaubatan itu sebagai berikut:

Naskah Taubat Ulama Makkah:

“Kami –para ulama Makkah yang menandatangani dan membubuhkan stepelnya dalam lembaran ini bersaksi bahwa: Agama yang ditegakkan Syeikh Muhammad ibn Adbil Wahhab –rh- dan yang mengajak kepadanya Imam kaum Muslimin; Sa’ud ibn Abdil Aziz yaitu berupa pentauhidan Allah dan meniadakan syirik yang ia sebutkan dalam tulisan ini bahwa ia adalah haq yang tiada keraguan di dalamnya. Dan apa yang dahulu terjadi di kota Makkah, Madinah, Mesir dan Syâm dan selainnya dari negeri-negeri hingga sekarang dari bermacam jenis kemusyrikan adalah kekafiran yang menyebabkan dihalalkannya darah dan harta serta menyebabkan dikekalkannya di dalam api neraka. Dan barang siapa tidak masuk dalam agama (yang ditegakkan Muhammad ibn Abdil Wahhâb) ini maka ia adalah menurut kami kafir kepada Allah dan hari akhir, dan adalah wajib atas Imam kaum Muslimin (Sa’ud ibn Abdil Aziz) dan kaum Muslmin untuk berjihad memerangi mereka sehingga mereka mau bertaubat dan mengamalkan agama ini.”

Kemudian di bawahnya disebutkan satu persatu nam-nama para ulama yang menandatangani berita acara itu yang mana sebelumnya mereka adalah penentang keras da’wah Syaikh Ibnu Abdil Wahhâb. Karenanya, tampak jelas sekali pemaksaan pada berita acara tersebut!

Naskah Taubah Ulama Madinah

Naskah pertaubatan yang ditandatangani ulama kota suci Madinah juga tidak jauh berbeda dengan naskah yang ditandatangani ulama kota suci Makkah, di antara isinya sebagai berikut:

“… Adapun yang dahulu terjadi di kota Makkah dan Madimah, demikian juga di negeri Syâm dan Mesir serta lainnya hingga saat ini dari bermacam kemusyrikan yang disebutkan dalam berita acara ini adalah kekafiran yang menghalalkan darah dan harta. Dan setiap yang tidak masuk dalam agama ini, mengamalkannya dan meyakininya, maka ia adalah kafir kepada Allah dan hari kebangkitan. Dan adalah wajib atas Imam kaum Muslimin dan seluruh umat Islam untuk bangkit menegakkan kewajiban jihad dan memerangi ahli kemusyrikan dan kaum penentang! Dan barang siapa yang menentang apa yang tertera dalam lembaran ini dari penduduk Mesir, Syâm, Iraq dan seluruh orang yang seagama dengan mereka maka ia kafir musyrik…!”

Setelah dua data berita acara pemaksan mengakui kekafiran yang dipaksakan kaum Wahhâbiyah tidak ada lagi tempat bagi kesamaran atau usaha menutup-nutupi atau mengelak bahwa doktrin ajaran Syaikh Ibnu Abdil Wahhâb ditegakkan di atas pengafiran kaum Muslimin dan sikap pengafiran itu telah mencapai puncaknya yang sulit dibayangkan… dan yang memperparah kenyataan ini ialah bahwa tidak adanya bukti ralatan atau niatan baik dari para pembesar Sekte Wahhâbiyah untuk meralatnya, apalagi mengkritiknya dan mengatakan bahwa Syeikh, Imam kami telah salah dalam bersikap dan menjatuhkan vonis pengafiran atas Umat Islam! Bahkan setiap usaha untuk mengkritisinya selalu diteropong dan diintimidasi oleh para Ekstrimis Wahhâbiyah, khususnya di negeri kelahirannya!

Maka tidaklah mengherankan apabila mereka selalu mencari-cari kambing hitam mengecambahnya fenomena pengafiran dan Ekstrimsime Eksternal (yang hanya aktif mengarahkan meriam-meriam pengafiran kepada sesama kaum Muslimin)… mereka menuduhnya bahwa pemikiran Abul A’la al Maududi atau Sayyid Quthb, misalnya sebagai biang kerok fenomena tersebut, lalu mereka mengecanya, sementara pemikiran-pemikiran ektrim Ibnu Abdil Wahhâb selalu mendapat pujian dan sanjungan tanpa pernah ditelaah dan diteliti dengan terbuka. Kini Syaikh Ibnu Abdil Wahhâb bak seorang nabi yang tak perlu lagi dipertanyakan kebanaran pendapat-pendapatnya… ia adalah kebenaran absolut!

Dan barang siapa mencoba memberanikan diri mengkritiknya maka ia akan digolongkan sebagai ulama sû’/ jahat dan divonis sebagai Penentang Agama Tauhid dan Penganjur Kemusyrikan!

 


 

 

 

2

<BACK

DEPAN

NEXT>

2