ebook pakdenono


 
MEMBONGKAR WAHABY-SALAFY
Kompilasi & Konversi Ke CHM Oleh Ibnu Isa Elbangkalany
Email : ibnuisa@mecca.com

Layout : Pakdenono.com

<BACK

DEPAN

NEXT>

.

 


Ibnu Taimiyah Menshahihkan Hadis Tawasssul, lalu Apa kata kaum Wahhabi

Di antara praktik yang dikategorikan syirik dalam pandangan kaum Wahhâbiyah adalah bertawassul !

Bertawassul artinya memohon hajat kita kepada Allah SWT dengan kedudukan seorang nabi atau hamba sheleh. Dalam pandangan kaum Wahhâbiyah, praktik memohon hajat kepada Allah SWT dengan menyebut kedudukan seorang nabi atau hamba shaleh mengandung unsur kemusyrikan…. menyekutukan Allah SWT dengan nabi atau hamba sheleh tersebut!

Jika benar pemahaman menyimpang mereka tentang hakikat tawassul, maka yang pertama kali mengajarkan kemusyrikan adalah Rasulullah saw.! Nabi-lah biang kemusyrikan di tengah-tengah umat manusia! Wal iyâdzubillah min adh dhalâl.

Jika benar pemahaman mereka, maka yang harus bertanggung jawab atas terjadinya kemusyrikan di tengah-tengah umat Islam adalah Ibnu Taimiyah, Syeikh Islamnya kaum Wahhâbiyah! Sebab ia menshshihkan hadis ‘Nabi mengajarkan sahabatnya bertawassul’.

Dalam kesempatan ini saya tidak bermaksud membeber dalil-dalil ditetapkan tawassul dalam syari’at Islam melalui ayat dan hadis-hadis shahihah… akan tetapi saya hanya bermaksud membuktikan bahwa Syeikhul Islamnya kaum WWahhâbiyah ternyata berseberangan dan menentang akidah Wahhâbiyah!

Perhatikan hadis di bawah ini:

عن عثمان بن حنيف أنّه قال: إنّ رجلاً ضريراً أتى النبي فقال: أُدعُ الله أن يعافيني فقال _ صلى الله عليه وآله وسلم _ : «إن شئتَ دعوتُ وإن شئتَ صبرتَ وهو خير».

قال: فادعه، قال: فأمره أن يتوضّأ فيُحسن وضوءه ويصلّي ركعتين ويدعو بهذا الدعاء: «اللّهمّ إنّي أسألك وأتوجّه إليك بنبيّك محمّد نبي الرحمة، يا محمد إنّي أتوجه بك إلى ربّي في حاجتي لتُقضى، اللّهمّ شفّعه فيَّ».

قال ابن حنيف: فوالله ما تفرّقنا وطال بنا الحديث حتى دخل علينا كأن لم يكن به ضرّ

 

“Dari Utsman ibn Hunaif, ia berkata, “Ada seorang buta datang menemui Nabi saw. lalu berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah agar menyembuhkanku (dari kebutaan)’ Maka beliau saw. bersabda, ‘Jika engkau mau aku berdoa, aku doakan. Jika engkau mau bersabar, itu lebih baik gabimu.’

Orang itu berkata, ‘Doakan saja.’

Maka Nabi saw. memerintahnya berwudhu’ dengan benar, lalu shalat dua raka’at dan berdoa dengan doa ini:

اللّهمّ إنّي أسألك وأتوجّه إليك بنبيّك محمّد نبي الرحمة، يا محمد إنّي أتوجه بك إلى ربّي في حاجتي لتُقضى، اللّهمّ شفّعه فيَّ.

‘Ya Allah, aku memohon kepada Mu dan menghadap kepada Mu dengan Nabi Mu Muhammad; nabi (pembawa) rahmat. Hai Muhammad, aku menghadap kepada Tuhanku denganmu dalam hajatku ini agar dipenuhi. Ya Allah jadikan beliau pemberi syafa’at bagiku.”

Ibnu Hunaif berkata, ‘Demi Allah, kami belum berpisah (dari majlis itu) dan panjang pembicaraan kita melainkan orang itu masuk ke tempat kami seakan tidak pernah buta.’”

(Hadis ini diriwayatkan oleh Turmudzi dalam Sunan-nya, Kitab ad Da’awât, bab ke 119, dengan hadis no.3578, Ibnu Mâjah dalam Sunan-nya,,1/441 hadis no.1385 dan Musnad Ahmad,4/138).

Dalam berargumentasi dengan hadis di atas tentang disyari’atkannya bertawassul dengaan kedudukan hamba istimewa; Nabi Muhammad saw. perlu dilakukan pembuktian pada dua level; sanad dan kesempurnaan mataannya.

 

Sanad Hadis:

Tidak seorang pun yang layak dipertimbangkan keterangannya mencacat keshahihan hadis ihi. Yang mencacatnya hanya akan memamerkan kejahilannya dalam ilmu Rijâl! Bahkan Ibnu Taimyah berkata demikian:

قد روى الترمذي حديثاً صحيحاً عن النبي أنّه علّم رجلاً أن يدعو فيقول: اللّهمّ إنّي أسألك وأتوجّه إليك بنبيّك. وروى النسائي نحو هذا الدعاء.

“Turmudzi telah meriwayatkan sebuah hadis shahih dari Nabi, beliau mengajarkan kepada seorang untuk berdoa dan berkata: “Ya Allah aku memohon kepada Mu dan menghadap kepada Mu dengan Nabi Mu.” Nasa’I juga meriwayaatkan hadis yang mirip dengan doa ini. (Baca: Majmû’ah ar Rasâil wa al masâil,1/13)

Imam Turmudzi juga menshahihkannya. Ia berkata:

هذا حديث حق حسن صحيح.

“Ini adalah hadis yang haq hasan shshih.”

Ibnu Majah berkata:

هذا حديث صحيح.

“Ini adalah hadis shahih.”

Syeikh ar Rifâ’i berkata:

لا شك أنّ هذا الحديث صحيح ومشهور.

“Tidak diragukan lagi bahwa hadis ini adalah shshih dan masyhur (At Tawashshul Ilâ hakikah at Tawassul:158)

Demikian juga dengan hadis riwayat Imam Bukhari di bawah ini:

“Adalah Umar ibn al Khaththab jika kaum Muslimin mengalami paceklik, mereka memohon turun hujan kepada Allah dengan kedudukan Abbas ibn Abdul Muththallib, dan ia berkata:

كان عمر بن الخطاب إذا قحطوا استسقى بالعباس بن عبد المطلب وقال: اللّهمّ إنّا كنّا نتوسّل إليك بنبيّنا فتسقينا، وإنّا نتوسّل إليك بعمّ نبيّنا فاسقنا، قال: فيُسقون

“Ya Allah dahulu kami bertawassul kepadaamu dengan Nabi kami lalu Engkau turunkan hujan untuk kami. Kami sekarang bertawassul kepada Mu dengan paman nabi kami, maka turunkan hujan untuk kami. (perawi) berkata,’Maka diturunkan hujan untuk mereka.’” (HR. Bukhari,2/32, Bab Shalat Istisqâ’)

adapun makna dan kandungan hadis di atas jelas sekali, Nabi saw. memerintah orang tersebut aagar membaca doa yang tegas-tegas memuat tawassul, “memohon kepada Allah dengan Nabi Mu” mengapakan kalimat itu diajarkan Nabi kepada sahabat tersebut? Bukankah itu inti bertawassul seperti yang sekarang dipraktikkan umat Islam, selain kaum Wahhâbiiyah? Mengapakah Nabi saw, tidak memerintah saja sahabat itu untuk langsung meminta kepada Allah SWT tanpa menyebut-nyebut nabi-Nya sebagai perantara dengan menyebbut kedudukannya sebagai nabi pembawa rahmat?!

Selain itu, mengapa, sejak awal kedatangan sahabat buta itu yang berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah agar menyembuhkanku (dari kebutaan)’ … mengapa Nabi saw. tidak menegurnya dan bersabda kepadanya, ‘Mintalah langsung kepada Allah, Allah itu lebih dekat kepada hamba-Nya dari urat nadi hamba itu sendiri! Jadi lansung saja minta kepada Allah tanpa perantara dan meminta orang lain mendoakanmu! Karena meminta-minta dari selain Allah itu syirik!

Apakah Nabi saw.tidak memahami kenyataan itu?! Dan hanya Ibnu Abdil Wahhab saja yang memahami bahwa meminta dari selain Allah itu syirik!!… bertawassul itu syirik!! Bahwa seorang hamba hendaknya memohon langsung dari Tuhannya!!

Abu Salafy berkata:

Nah,sekarang masihkan kaum Wahhâbiyah menganggap praktik bertawassul yang dilakukan kaum Muslimin Ahlusunnah wal Jama’ah dan Syi’ah sebagai kemusyrikan?!

Apa yang dilakukan kaum Muslimin tidak keluar dari apa yang dituntunkan Nabi Muhammad saw.

Yang aneh di sini ialah bahwa kaum Wahhâbiyah yang biasanya menyanjung tinggi ucapan-ucapan Ibnu Taimyah dan tidak jarang mereka menjadikannya setingkat nash suci yang tak boleh dibantah dan ditentang… mengapa kini mereka menyimpang dan menentangnya ?!

 


 

 

 

2

<BACK

DEPAN

NEXT>

2