ebook pakdenono


 
MEMBONGKAR WAHABY-SALAFY
Kompilasi & Konversi Ke CHM Oleh Ibnu Isa Elbangkalany
Email : ibnuisa@mecca.com

Layout : Pakdenono.com

<BACK

DEPAN

NEXT>

.

 


Imam Besar Wahhabi ; Ibnu Abdil Wahhab Memfitnah Para Sahabat Nabi SAW.

Mayoritas Sahabat Nabi Saw. Tidak Mampu Memahami Hakikat Tauhid!

Dalam kitab at Tauhid-nya yang merupakan doktrin kaku Sekte Wahhabiyah, Ibnu Abdil Wahhab mengawalinya dengan menyebut beberapa ayat yang memerintah agar mengesakan Allah dalam penyembahan, ibadah!

Prinisp ini tentunya tidak diperselisihkan oleh seluruh kaum Muslim. Andai kitab tersebut ia tulis untuk kaum kafir, maka akan terasa tepat mencecer ayat-ayat tersebut di awal kitab itu! Namun sangat disayangkan, kitab at Tauhid, dikarang untuk ditujukan kepada lawan-lawan da’wah Wahhabiyah dari kalangan kaum Muslim selain pengikut sekte Wahhabiyah! yang dalam pandangan mereka, kaum Muslimin selain Wahhabiyah itu telah melakukan praktik-praktik penyembahan selain Allah SWT seperti bertawassul, bertabarruk, beristighatsah, dll. Akan tetapi terlepas dari itu semua, ada satu masalah yang ingin saya soroti dari sikap dan keyakinan Ibnu Abdi Wahhab dalam akhir bab pertama tersebut.

Sebelum menutup pembahasan bab pertama, Ibnu Abdi Wahhab menyebutkan sebuah hadis riwayat Imam Bukhari&Imam Muslim dari sahabat Mu’âdz ibn Jabal ra., ia berkata, “Aku mengendarai keledai bersama Nabi saw., lalu beliau bersabda kepadaku, ‘Hai Mu’âdz, tahukan engkau apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya? Dan apa hak hamba atas Allah? Aku berkata, ‘Allah dan rasul-Nya yang tahu.’

Beliau bersabda:

حقُّ اللهِ على العباد أنْ يعبدوه ولا يشركوا به شيئًا. و حقُّ العباد على الله أنْ لا يُعَذِّبَ مَن لا يُشْرِكَ بِهِ شيئا.

“Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan hak hamba atas Allah ialah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah saw., bolehkan aku berita gembirakan hal ini kepada orang-orang?

Beliau menjawab, “Jangan engkau lakukan, agar mereka tidak berpasrah diri (tidak berbuat)”.(Baca Kitab al Tauhid dengan syarah Tafhu al Majîd oleh Syeikh Abdurrahman Âlu Syeikh:26-28.)

Setelahnya, Ibnu Abdil Wahhab menyebutkan 24 kesimpulan dari ayat-auyat dan dua hadis dalam pembahasan itu. Pada kesimpulaan ke 15 ia mengatakan:

الخامسة عشرة: أنَّ هذه الْمسألة لا يعرفُها أكثَرُ الصحابةِ.

Kelima belas: Sesungguhnya masalah ini tidak diketahui kebanyakan sahabat. (Fath al Majîd:30)

Mengapa demikian? Siapa yang harus dipersalahkan atas kebutaan mayoritas sahabat atas hakikat Tauhid fil Ibadah, tauhid dalam penghambaan?

Syeikh Abdurrahmab –pensyarah Kitab at Tauhid- mempersalahkan sahabat Mu’âdz ra. yang pada gilirannya juga mempersalahkan Nabi saw. karena beliau saw. yang memerintahnya untuk merahasiakan msalah terpenting dalam hirarki ajaran Islam!! Ia berkata, “Masalah itu tidak diketahui kebanyakan sahabat” dikarenakan Nabi saw. memerintah Mu’âdz untuk merahasiakannya dari orang-orang karena takut mereka berpanggku tangan mengandalkan keluasan rahmat Allah dan tidak beramal. Kemudian Mu’adz tidak menyampaikan pesan ini kecuali menjelang kematiannya karena takut dosa merasiakan ilmu. Kerena itu kebanyakan sahabat tidak mengetahuinya di masa hidup Mu’adz. (Fath al Majîd:30)

Terlepas dari siapa yang harus dipersalahkan di sini! Yang pasti dalam pandangan Imam Besar Sekte Wahhabiyah, kebanyakan sahabat Nabi saw. tidak mengetahui hakikat Tauhid ini!! Sebuah masalah yang sungguh teramat penting untuk mereka ketahui, sebab seperti ditegaskan dalam kesimpulan ke 24 oleh Ibnu Abdil Wahhab bahwa masalah ini sangat agung!!

Ia berkata:

الرابعة و العشرون: عِظَمُ شَأْنِ هذه الْمَسْألة.

“Betapa agungnya masalah ini.” (Fath al Majîd:31)

Abu Salafy berkata:

Apabila bebanyakan sahabat Nabi saw. tidak mengetahui hakikat penghambaan yang sebenarnya yang tidak tercampur dengan unsur-unsur kemusyrikan dan kekufuran –tentunya seperti yang telah diketahui dan difahami dengan baik moleh kaum Wahhabiyah-, maka apakah mungkin mereka itu mampu menyembah Allah SWT dengan tanpa menodainya dengan kemusyrikan?!

Lalu, apabila mereka tidak mengetahui hakikat ibadah yang murni yang harus ditegakkan di atas pondasi pengingkaran kepaada Thâghût (yitu segala apapun yang disembah selain Allah, seperti yang ditegaskan Ibnu Abdil Wahhab dalam kesimpulan ke 7 dan 8), maka mungkinkah para sahaabaat mulia itu mengenal hakikat Tauhid?

Sebab seperti kata Syeikh Ibnu Abdil Wahhab:

الثانية: إنَ العبادةَ هِيَ التوحيد، لأّنَّ الخصومة فيه.

“Kedua: Sesungguhnya ibadah itu hanya tauhid dan padanya terletak persengketaan.” (Fath al Majîd:29)

Maka, karena mayoritas sahabat Nabi saw. tidak mengetahui hakikat ibadah yang murni, maka ibadah, penghambaan yang dikerjakan orang yang tidak mengenal hakikat ibadah itu sama artinya dengan tidak menyembah Allah SWT… Tanpa disadari mereka telah menyembah Thâghût; sesembahan selain Allah!!

Adakah pelecehan terhadap para sahabat Nabi kita Muhammad saw. lebih dari tuduhan keji yang dilontarkan Imam Besar Wahhabiyah; Syeikh Abnu Abdil Wahhhab ini?!

Abu Salafy berkataa:

Selain itu, dalam pernyataan kesimpulan ke 15 di atas Ibnu Abdil Wahhab menegaskan bahwa Sesungguhnya masalah ini tidak diketahui kebanyakan sahabat, maka bagaimana sekarang Ibnu Abdil Wahhab memaksa seluruh kaum Muslim (yang kebanyakan adalah kaum awam untuk mengetahuinya?! Dan jika mereka tidak mengetahuinya, mereka ia vonis sebagai Musyrikun!!

Jika masalah seurgen itu para sahabat tidak mengetahuinya, lalu apa mungkin kita, yang kata kaum Wahhabiyah-tidak lebih pandai dari para sahabat Nabi saw. itu bias memahaminya?!

Jika kebanyakan sahabat mulia Nabi saw. tidak mengetahuinya, lalu bagaimana penduduk desa Dir’iyyah (lokasi bercokolnya Sekte wahhabiyah) bisa mampu memahaminya? Apakah ia hendak mengatakan bahwa para sahabat dan pengikuitnya lebih cerdas dan peduli terhadap ajaran agama lebih dari sahabat mulia Nabi saw.?!

Satu Lagi Kenaifah Imam Besar wahhabiyah!

Ada lagi yang lebih aneh dari segala yang aneh! Ibnu Abdil Wahhab menyebutkan pada kesimpulan ke 16 bahwa merahasiakan ilmu itu boleh demi maslahat!

Ia berkata:

السادسة عشرة: جواز كِتمانِ العلم لِلْمصلحة.

“Dibolehkannya merahasiakan ilmu demi maslahat.”

Tentu yang ia maksud adalah perintah Nabi saw. kepada Mu’adz agar merahasiakan sabda yang beliau sampaikan kepadanya! Nah, sekarang pertanyaannya adalah: Bagaimana Ibnu Abdil Wahhab menjadikan sesuatun yang diperintahkan Nabi saw. kepada Mu’adz agar merahasiakannya, sebagai pembukaan misi Dakwahnya? Apa ini bukan sikap yang aneh?!

Bukankan Sayyidina Mu’adz baru menyampaikan pesan rahasia itu di detik-detik akhir hidupnya, ta’atstsuman, karena takut dosa sebab merahasiakan ilmu! (seperti yang dikatakan Syeikh Abdurramhan).

Imam Besar Wahhabiyah Menentang Nabi Muhammad saw.!

Satu lagi kenaifan dan kerancuan berfikir Imam besar Wahhabiyah yang dapat kita saksikan dengan jelas ialah bahwa ia menyimpulkan dari hadis Mu’âdz di atas dengan kesimpulan sebagai berikut:

السابعة عشرة: إسْتِحبابُ بشارةِ الْمسلمِ بما يَسُرُّهُ.عة عشرة: إسْتِحبابُ بشارةِ الْمسلمِ بما يَسُرُّهُ.

“Ketujuh belas: Disunnahkan/diistihbâbkan/dianjurkannya memberi kabar gembira kepada seorang Muslim dengan berita yang menngembirakan.”

Abu Salafy berkata:

Coba Anda baca, renungkan dan perhatikan kembali lengkap riwayat Mu’adz di atas… Bukankah ketika Mu’âdz meminta izin dan restu kepada Nabi saw. untuk mengabar-gembirakan sabda tersebut, beliau saw. melarangnya?! Lalu mengapakah sesuatun yag dilarang Nabi saw. Muhammad saw. justru ditetapkan Ibnu Abdil Wahhab sebagai yang mustahabb?! Apa dia ingin mensejajarkan dirinya dengan Nabi Muhammad saw.? Merasa punya hak menentukan hokum, ini halal! Ini haram! Ini makruh! Ini Mustahabb!

Atau apa maunya?!

Al hasil, makin banyak kitab Imam Besar Wahhabi kit abaca, makin ketahuan penyimpangan dan kekeliruannya!

Karenanya, saran saya untuk para perawis ajaran Sekte wahhabiyah lebih afdhal, kalian merahasiakan kitab-kitab ulama dan panutan kalian dan tidak membiarkannya menyebar dan keluar dari lingkungan kaum awam yang mengikuti ajakan kalian, sebab jika menyebar akan semakin membuat ketahuan belang ajaran kalian! Itu sekedar nasihat tulus saya, semoga kalian tidak tersinggung!

 


 

 

 

2

<BACK

DEPAN

NEXT>

2