ebook pakdenono


 
MEMBONGKAR WAHABY-SALAFY
Kompilasi & Konversi Ke CHM Oleh Ibnu Isa Elbangkalany
Email : ibnuisa@mecca.com

Layout : Pakdenono.com

<BACK

DEPAN

NEXT>

.

 


Kaum Salaf Mena’wil Ayat-ayat_Hadis-hadis Shifat

Melanjutkan pembuktian yang telah kami beber pada dua artikel beberapa waktu lalu: Benarkah Wahhabiyah Pewaris Sejati Mazhab Salaf (1-2)… di sini kami akan tambahkan bukti-bukti lain bahwa kaum Salaf (generasi awal, kedua dan ketiga Umat Islam) dalam menyikapi teks-teks keagamaan yang dikelompokkan kaum Mujassimah dan Musyabbihah sebagai ayat-ayat atau hadis-hadis shitaf, mereka melakukan ta’wîl….

Sebelumnya bagaiama telah And abaca Ibnu Abbas ra. Mena’wil beberapa “ayat shifat”… dan itu adalah bukti nyata bagaimana para shabatan mulia mena’wilkan ayat-ayat tersebut…. Tidak seperti yang diklaim kaum Mujassimah, bahwa mereka memaknainya dengan makna dangkal yang mentajsim dan mentasybihkan Allah dengan makhluk-Nya. Maha suci Allah dari pensifatan kaum jahil.

Imam Ahmad Mena’wil

(1) Al Hafidz al Baihaqi dalam kitabnya Manâqib al Imâm asy Syafi’i seperti dinukil Ibnu Katsir dalam al Bidâyah wa an Nihâyah-nya,10/327:

“Al Baihaqi meriwayatkan dari Hakim dari Abu ‘Amr ibn Sammâk dari Hanbal bahwa Ahmad ibn Hanbal mena’wilkan ayat:

و جاء رَبُّكَ

“Dan datanglah Tuhamu”

dengan ta’wilan:

جاء ثوابُهُ

“Datang pahala-Nya.”

Setelahnya Ibnu Katsir berkomentar:

و هذا إسنادٌ لا غبارَ عليهِ

“Ini adalah sanad yang tidak ada debu atasnya/bersih.”

Ibnu Katsir juga berkata dalam kitab tersebut di atas,10/327:

و كلامُه (أحمد) في نفْيِ التشبِيه و تركِ الخوضِ في الكلامِ و التمسُّكِ بما وردَ في الكتابِ و السُّنَّةِ عن النبي (ص) و عن أصحابهِ.

“Dan perkataannya (Ahmad) tentang menafikan penyerupaan dan meninggalkan mendalami pembicaraan (tentangnya) serta berpegang dengan apa yang datang dalam al Kitab dan Sunna dari Nabi saw. Dan (atsar) dari para sahabat.”

Jadi jelas sekali bahwa Imam Ahmad (rh) menetang keras tasybîh/penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya seperti yang diyakini kaum Mujassimah dan Musyabbihah. Walaupun setelah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya ditutup dengan kata-kata: ‘tidak seperti turunnya makhluk’ misalnya!

(2) Al Khallâl (seorang ulama’ mujassim yang sering dibanggakan kaum Wahhabi) meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Hanbal bahwa ia mendengar pamannya; Imam Ahmad ibn Hanbal berkata, “Mereka berhujjah atasku ketika berdiskusi dengan hadis, ‘Akan dating pada hari kiamat surah al Baqarah…. ‘, lalu Imam Ahmad berkata:

فقلتُ لهُم: إنَّما هو الثوابُ.

“Yang datang itu pahala (membaca)nya.”

Coba renungkan, wahai saudaraku –hadakallah ila al haqqil mubîn-, bukankah apa yang dilakukan Imam Ahmad itu mena’wil?!

Selain dua contoh di atas masih banyak cointoh lainnya.

 

Imam Bukhari Mena’wil

Al Hafidz al Baihaqi menukil dalam kitab al Asm^a’ wa ash Shifât-nya:480 dari al Bukhari bahwa beliau berkata:

معنى الضحك: الرحمةُ

“Arti dhahik (tertawa) (yang disandarkan kepada Allah) adalah rahmat.”

Dalam kesempatan lain:298 al Baihaqi juga menukil dari al farbari dari Muhammad ibn Ismail al Bukhari (rh) bahwa beliau berkata:

معنى الضحك –أي فب الحديث- : الرحمةُ

“Arti dhahik (tertawa) -dalam hadis itu- (yang disandarkan kepada Allah) adalah rahmat.”

Ibnu Hajar telah menukil ta’wil ini dalam Fathu al Bâri-nya.

Hadis dhahik yang dimaksud adalah riwayat Imam Bukhari dan lainnya dari sahabat Abu Hurairah ra. Yang berbunyi:

يَضْحَكُ اللهُ مِن رَجُلين يَقتُلُ أحدُهما الآخَرَ يدخُلانِ الجَنَّةَ.

“Allah tertawa dari dua orang yang satu membunuh yang lainnya, (lalu) keduanya masuk surga.” (HR. Bukhari, Muslim, an Nasa’i, dan Imam Malik dalam Muwaththa’)

Hadis serupa juga terdapat dalam Afrâd Imam Muslim, 1/175 hadis no.310.

Secara bahasa arti dhahika adalah tertawa. Dhahika yang dialami manusia misalnya adalah dengan membuka mulut. Dan tentunya makna ini mustahil atas Allah SWT.

Seperti telah And abaca, Imam Bukhari mena’wilkan kata dhahika tesebut dengan arti rahmat. Demikian juga para ulama Ahlusunnah, sepeti Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim. Ia berkata:

و قد قَدَّمنا معنى الضحك من الله تعالى ، وهو الرضا والرحمة و إرادة الخير لِمَن يشاء رحمتَهُ عن عبادِهِ.

“Dan telah kami sebutkan makna dhahikanya Allah –Ta’ala- yaitu merelaan, rahmat dan kehendak kebaikan bagi hamba yang dikehendaki kebaikan baginya.” (Syarah Muslim,3/43)

Ibnu al Jauzi juga berkata:

“Dan sekelompok ulama telah mena’wilkannya. Al Khaththâbi berkata:

معنى ضحك الجبار عز وجل (المراد به) الرضى و حسنُ الْمجازاةِ.

‘Makna tertawanya al Jabbâr (Allah) –Azza wa Jalla- adalah kerelaan dan kebaikan balasan.’” (Daf’u Subah at Tasybîh:180)

Adapun kaum Mujassimah, seperti Qadgi Abu Ya’lâ memaknai kata tertawa dengan apa adanya, sesuai dengan dzahir kata tersebut tanpa mena’wil…. Denga satu alas an yang lugu dan membuktikan keawaman peyakinnya, yaitu karena kata tersebut telah dipergunakan dalam hadis atau Al Qur’an!

Apakah Anda meragukan bahwa Imam Bukhari termasuk aimmah Salaf (imam generasi Salaf)?!

Apa Anda meragukan bahwa Imam Ahmad ibn Hanbal termasuk pembesar imam-imam generasi Salaf?

Tidakkah mereka semua mena’wil?

Bukankah mereka memalingkan kata-kata yang dzahirnya menunjukkan tajsim denga ta’wil yang sesuai dengan Kemaha Sucian dan Kemaha Agungan Allah SWT.?!

Jadi dimana Anda dapat menemukan akar aliran yang sementara ini Anda yakini wahai saudaraku Mujassim dan Musyabbih ?

 


 

 

 

2

<BACK

DEPAN

NEXT>

2