ebook pakdenono


 
MEMBONGKAR WAHABY-SALAFY
Kompilasi & Konversi Ke CHM Oleh Ibnu Isa Elbangkalany
Email : ibnuisa@mecca.com

Layout : Pakdenono.com

<BACK

DEPAN

NEXT>

.

 


Kaum Wahhabiyah Mujassimah Memalsu Atas Nama Salaf ! (1)

Kepalsuan Penukilan Ucapan Imam Abu Hanifah!

Akidah tajsîm yang memposturisasi Allah SWT dengan menetapkan berbagai sifat jism untuk Allah adalah akidah yang menyimpang … Maha Suci Allah dari kekurangan sifat-sifat dan kebutuhan!

Kendati kefasadan dan kesesatan akidah tajsim telah nyata dari bukti-bukti Al-Qur’an dan Sunnah shahihah, namun demikian kaum Mujassimah tak henti-hentinya mempropagandakan akidah mereka melalui ayat-ayat Al-Qur’an tertentu yang mereka plesetkan artinya. Atau Sunnah shahihah yang mereka salah artikan…. Dan yang tidak jarang mereka lakukan adalah memalsu hadis-hadis atas nama Nabi suci Muhammad a saw. dan atau para sahabat mulia. Selain cara-cara kotor itu mereka tempuh, mereka juga tidak segan memalsu atas nama para imam dan ulama Salaf demi melariskan bidha’ah (barang dagangaan akidah murahan) mereka. nama-nama para imam besar mereka bawa-bawa, pernyataan para pembesar ulama mereka sebut-sebut agar kaum awam terkesima dan terpesona serta menganggap bahwa demikianlah akidah yang diyakini Salaful Ummah dan para imamul Ummah. Dan karena banyak pihak tertipu dengan lebel “Salaf” yang selalu ditempelkan pada setiap akidah porduk kaum penyimpang itu; kaum Mujassimah yang kini diwarisi dan diperjaungkan kaum Wahhabiyah, walau mereka sangat keberatan disebut Mujassimah, tetapi kenyataan yang akan membuktikan bahwa mereka benar-benar Mujassimah yang membungkus diri dengan nama Mazhab Salaf!!

Sedekedar sebagai contoh pemalsuan atas nama Salaf yang merupakan kejahatan kaum Mujassimah dalam membutakan umat Islam dari akidah shahihah yang jauh dari tasybîh dan tajsîsm, saya akan sebutkan beberapa contoh sebagai bukti akan hal itu.

Kaum Mujassimah Berbohong Atas Nama Abu Hanifah

Mereka menyebut-nyebut bahwa Imam Besar Ahlusunnah Abu Hanifah –rh- berkata:

مَنْ قال لا أعْرِفُ ربِّي في السماء أم في الأرضِ فقد كفر، لأَنَّ اللهَ يقول: {الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏}، و عرشه فوق سبع سماواته.

“Barang siapa berkata, ‘Aku tidak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia benar-benar telah kafir. Sebab Alllah telah berfirman:

الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏.

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)

dan Arsy-Nya di atas tujuh lapis langit.”

Abu Salafy berkata:

Pernyataan yang mereka nisbahkan kepada Abu Hanifah di atas adalah kebohongan dan kepalsuan belaka!! Namun kaum Mujassimah memang gemar memalsu dan junűd, bala tentara mereka berbahagia dengan penemuan pernyataan-pernyataan palsu seperti contoh di atas!!

Pernyataan itu benar-benar telah dipalsukan atas nama Imam Abu Hanifah… perawi yang membawa berita itu adalah seorang gembong pembohong dan pemalsu ulung bernama Abu Muthî’ al Balkhi.

Adz Dzahabi berkata tentangnya, “ia seorang kadzdzâb (pembohong besar) wadhdhâ’ (pemalsu). Baca Mîzân al I’tidâl,1/574.

Ketika seorang perawi disebut sebagai kadzdzâb atau wadhdhâ’ itu berarti ia berada di atas puncak keburukan kualitas… ia adalah pencacat atas seorang perawi yang paling berat. Demikian diterangkan dalam kajian jarhi wa ta’dîl !

Imam Ahmad berkata tentangnya:

لا ينبغي أن يُروى عنه شيئٌ.

“Tidak sepatutnya diriwayatkan apapun darinya.”

Yahya ibn Ma’in berkata, “Orang itu tidak berharga sedikitpun.”

Ibnu Hajar al Asqallani menghimpun sederetan komentar yang mencacat perawi andalan kaum Mujassimah yang satu ini:

Abu Hatim ar Razi:

كان مُرجِئا كَذَّابا.

“Ia adalah seorang murjiah pembohong, kadzdzâb.”

Adz Dzahabi telah memastikan bahwa ia telah memalsu hadis Nabi, maka untuk itu dapat dilihat pada biografi Utsman ibn Abdullah al-Umawi.” (Lisân al Mîzân,2/335)

 

Abu Salafy berkata:

Pembaca dapat memperhatikan kualitas perawi andalah kaum Wahhabiyah Mujassimah ini…! dan renungkan apa yang dikatakan Imam Ahmad di atas! Mungkinkah seorang yang dengan tanpa rasa takut kepada siksa Allah memalsu hadis atas nama Nabi suci saw. mungkinkah orang seperti itu akan segan memalsu atas nama orang biasa seperti Abu Hanifah… yang tentunya berbohong atas namanya lebih ringan konsekuensi dan dosanya (tentunya jika dia masih percaya dengan adanya siksa Allah!)

Dan yang sangat mengherankan ialah bahwa kaum Wahhabiyah Mujassimah, seperti Syeikh al-Albâni dkk. Keberatan menerima Abu Muthî’ sebagai periwayat kitab al Fiqhu al Akbar karya Abu Hanifah dengan alasan karena di dalamnya terdapat bagian-bagian yang menyelisihi akidah mereka, sementara itu mereka dengan tanpa malu membanggakan Abu Muthî’ sebagai yang menukil pernyataan Imam Abu Hanifah yang mengatakaan Allah di langit lapis ketujuh di atas Arysi-Nya!!

Ada pula kelinglungan kaum Wahhabiyah Mujassimah ketika mengatakan bahwa Abu Muthî’ dapat diandalkan dalam periwayatan pernyataan-pernyataan Abu Hanifah, tidak ketika menukil dari selainnya termasuk juga ketika menukil hadis Nabi saw.!!

Subhanallah! Ini adalah dagelan yang tidak lucu dalam agama! Sebab seorang yang berani memalsu atas nama Nabi suci saw., akankah ia segan memalsu atas nama selainnya?!

Tetapi memang beginilah kaum “Dagelan” itu! Mereka membangun pondasi akidah menyimpang mereka di atas “lelucon”!!

Sebagai bukti, berapa banyak Syeikh al-Albâni menolak menshahihkan sebuah pernyataan dari seorang imam/tokoh dikarenakan ada perawi yang dha’if menurutnya!! Seperti ketika ia menolak pernyataan Abu Hanifah dan Abu Yusuf (muridnya) melalui jalur Muhammad ibn Syujâ’ al Tsalji:

و لكنه إسنادٌ هالكٌ، الثلجي هذا متروك كما فِي التفريب.

“Akan tetapi sanad/jalurnya adalah hâlik/binasa. Al Tsalji adalah perawi matrűk (dibuang periwayatannya) seperti disebutkan dalam at Taqrîb.”

Lebih lanjut saya persilahkan kaum wahhabiyah Mujassimah membaca Mukhtashar al ‘Uluw:156

Dari sini dapat kita saksikan bahwa dalam keyakinna para tokoh Mujassimah itu tidak ada tempat bagi pembeda-bedaan antara membawa/meriwayatkan hadis Nabi saw. atau menukil riwayat pernyataan seorang ulama… jika ia cacat ya tetap cacat!

Akan tetapi beginilah kenyataaannya… kita selalu berhadaapan dengan kaum mutanâqidh, yang tak henti-hentiya memamerkan kontardiski akidah dan keyakinannya sendiri….

Dan akhirnya saya katakan…

Kepalsuan menjadi andalah dan acuan….

Kedangkalan sebagai modal utama penafsiran…

Kebohongan sebagai komoditas unggulan…

Innâ Lillâhi wa Innâ Ilahi Râji’űn.

 


 

 

 

2

<BACK

DEPAN

NEXT>

2