ebook pakdenono


 
MEMBONGKAR WAHABY-SALAFY
Kompilasi & Konversi Ke CHM Oleh Ibnu Isa Elbangkalany
Email : ibnuisa@mecca.com

Layout : Pakdenono.com

<BACK

DEPAN

NEXT>

.

 


Membongkar Syubhat Kaum Mujassimah

Di tengah-tengah dunia pemikiran kaum Muslimin di masa silam pernah muncul sekelompok orang yang meyakini konsep Tajsīm dan Tasybīh, bahwa Allah SWT itu berpostur, bertempat pada tempat tertentu, dan menetapkan bagi Allah SWT berbagai konsekuensi fisik, seperti bergerak, diam dll.

Munculnya pola pandan menyimpang seperti itu, akibat dari syubhat-syubhat (bukan dalil) yang meracuni pikirang mereka. Syubhat-syubhat itu berupa beberapa dzahir ayat (yang tentunya maksudnya bukan seperti pengertian dangkal yang mereka fahami) atau adanya beberapa hadis (baik shahih maupun bukan) atau beberepa pernyataan Salaf (sahabat dan tokoh-tokoh ulama generesi tiga pertama).

Ciri paling menonjol pada pola pandang kelompok ini adalah pengingkarannya terhadap penggunaan majāz dalam bahasa Arab, dan kecenderungannya menerima dan berpegang pada riwayat yang mengesankan (bahkan menunjukkan) tajsīm dan menutup mata dari riwayat yang mensucikan Allah dari penyerupaan dengan hamba-Nya.

Dalam kesempatan sebelumnya: Sekte Wahhabiyah Pewaris Mazhab Mujassimah telah kami paparkan masalah dan kami buktikn bagiamana kecenderungan memihak kepadda hadis-hadis yang menunjukkan tajsim telah membuat mereka menutup mata dari riwayat lain dalam hadis yang sama yang mensucikan Allah SWT. kini saya ajak para pembaca setia Abu Salafy menyaksikan langsung dominasi kecendreungan tersebut.

Dalam pembuktian bahwa Allah SWT berada/bersemayma di atas langit, kaum Mujassimah (yang sekerang lebih diwakili oleh kelompok Salafy/Wahhabi, seperti didemonstrasikan oleh Syeikh Wahhabi; Nāshiruddīn al Albani dalam Mukhtashar al Uluw dan Syeikh as Sabt dalam kitab Ar Rahmān ’Alā al Asryi Istawā) membawakan beberapa hadis, sebagiannya shahih sanadnya, sementara sebagian lainnya cacat secara kualitas sanadnya (walaupun oleh sebagian Mujassimah Modern disulap menjadi hadis shahih).

Adapun hadis-hadis yang shahih sanadnya tidak jarang mereka salah dalam memaknainya, akibat terpesonanya hati dan pikiran mereka kepada syubhat konsep Tajsīm dan Tasybīh.

Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti istidlālh/upaya pengajuan dalil oleh mereka.

Hadis Pertama:

أَلاَ تَأْمَنُونِى وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِى السَّمَاءِ ، يَأْتِينِى خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً

“Tidaklah kalian percaya padaku, padahal aku ini kepercayaan yang dilangit, dimana khabar datang kepadaku pada pagi dan sore hari” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jawab:

Abu salafy berkata:

Setiap ayat/hadis yang menyebut kata: مَنْ فِى السَّمَاءuntuk Allah SWT maka yang dimaksud dalam bahara orang-orang Arab (yang Al Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka) adalah makna majāzi, yaitu keagungan, kemuliaan dan ketinggian maknawi, bukan ketinggain hissi (material).

Seorang pujangga Arab klasik bersyair:

علونا السماءَ مَجْد ُنا وجدودُنا*** و إِنَّا لنبغِي فوق ذلك مظهرا

Kami menaiki langit, kejayaan daan moyang kami*** dan kami menginginkan kemenangan di atas itu.

Jelas sekali bahwa yang dimaksdu menaiki/meningggii langit bukan langit fisik di atas kita itu, akan tetapi langit kemuliaan dan keagungan.

Demikianlah yang dimaksud dalam setiap nash yang datang dengan redaksi: مَنْ فِى السَّمَاء (andai ia shahih tentunya). Hal demikian dikarenakan dasar-dasar yang pasti dalam al Qur’an dan as Sunnah shahihah yang mengharuskan kita mensucikan Allah SWT dari bersemayam, bersentuhan dan bertempat di atas langit ata di atas bumi /bertempat pada makhluk-Nya.

Hadis di atas dalam riwayat Bukhari& Muslim, telah mengalami “olah kata” oleh perawi. Artinya si perawi meriwayatkannya dengan makna saja, ia tidak menghadirkan redaksi sebenarnya. Akan tetapi seperti telah saya singgung, kaum Mujassimah lebih cenderung membuka mata mereka ke aarah hadis di atas ketimbang membuka mata mereka terhadap riwayat lain dari hadis ini yang juga diriwayatkan Imam Bukhari. Untuk riwayat-riwayat yang tidak bersejalan dengan pikiran Tajsim mereka, mereka menutup mata dan telinga mereka, seperti pada kasus hadis Jāriyah yang telah lewat kami bicarakan.

Coba perhatikan, dalam Shahih Bukhari dan Muslim terdapat banyak redaksi periwayatan hadis di atas yang tersebar di beberapa tempat, akan tetapi tidak memuat kata: مَنْ فِى السَّمَاء yangb tentunya tidak akan membantu kaum Mujassimah, karenanya hadis itu tidak pernah mereka gubris.

Perhatikan hadis di bawah ini:

فَمن يُطيعُ اللهَ إذا عصيْتُهُ، فَيَأْمَنُنِي على أهلِ الأرضِ ولا تَأْمَنُونِى؟!

“Siapakah yang mena’ati Allah jika aku (Nabi saw.) menentaangnya?! Dia (Allah) mempercayaiku untuk mengurus penduduk bumi sedangkan kalian tidak mempercayaiku?!”

coba perhatikan radaksi hadis di atas lalu bandingkan dengan radaksi hadis sebelumnya yang juga diriwayatkaan Bukhari!

Al Hāfidz Ibnu Hajar al Asqllani mengomentari hadis tersebut dengan kata-katanya, “Nanti akan dibicarakan makna sabda: مَنْ فِى السَّمَاء pada Kitab at Tauhid.

Kemudian seperti beliau janjikan, beliau menguraikan makna kata tersebut:

“Al Kirmāni berkata, ‘Sabda: مَنْ فِى السَّمَاءmakna dzāhirnya jelas bukan yang dimaksudkan, sebab Allah Maha Suci dari bertempat di sebuah tempat, akan tetapi, karena sisi atas adalah sisi termulia di banding sisi-sisi lainnya, maka ia disandarkan kepada-Nya sebagai isyarat akan ketinggian Dzat dan sifat-Nya.’ Dan seperti inilah para ulama selainya menjawan/menerangkan setiap kata yang datang dalam nash yang menyebut kata atas dan semisalnya.” (Fathu al Bāri,28/193)

Abu Salaafy berkata: Andai seorang mau merenungkan dan meresapi keterangan di atas pasti ia akann selaamat dari syubhat kaum Mujassimah dan pemuja riwayat yang belum pasti; al hasyawiyah.

Jadi para ulama telah memaknai hadis-hadis yang memuat redaksi yang mengesankan keberadaan Allah SWT di sebuah tempat dengan pemaknaan yang sesuai dengan Kemaha Sucian dan Kemaha Agungan Allah SWT.

Akan tetapi sepeti berulang saya katakana, kaum Mujassimah dan mereka yang tertipu oleh syubhat kaum Mujasimah lebih tertarik mengedepankan hadis-hadis dengan redaksi yang mendukung konsep dan pandangan Tajsīm yang mereka yakini, walaupun mereka enggan disebut sebagai Pewaris Mazhab Mujassimah!

 


 

 

 

2

<BACK

DEPAN

NEXT>

2