ebook pakdenono


 
MEMBONGKAR WAHABY-SALAFY
Kompilasi & Konversi Ke CHM Oleh Ibnu Isa Elbangkalany
Email : ibnuisa@mecca.com

Layout : Pakdenono.com

<BACK

DEPAN

NEXT>

.

 


Metode Dasar Pemahaman Islam Kaffah

Kenaifan Metodelogi Islam Ala Wahabiyah

Banyak sekali kesalahan pemahaman terhadap ajaran Islam mulia yang kemudian di atas namakan Islam itu sendiri, sehingga wajah cemerlang Islam tercoreng olehnya. Penyimpangan dan kekeliruan dalam memahami ajaran Islam dari sumber utamanya; Al Qur’an dan Sunnah Shahihah akibat dari kesalahan metode pengkajian adalah penyebab utamanya. Salah satu contoh dari penyimpangan pemahaman ajaran Islam akibat kesalahan metode dasar itu tercermin dengan kentalnya pada pemahan Islam ala Wahhabiyah yang kebanyakan doktrin dan metodenya diadopsi dari metode Madrasah pemikiran Ibnu Tamiyah.

Karenanya, untuk meluruskan kesalahan pemahaman Islam ala Wahhabiyah kita perlu menperhatikan dasar-dasar yang benar dan komprehensif tentang metode pemahan Islam.

Dasar Pertama:

Hukum-hukum Syari’at Islam ada yang bersifat dharûriy (pasti) seperti wajibnya shalat, puasa dan haramnya berzina, mengkonsumsi khamr dan berbohong. Semua itu tidak perlu bersusah menegakkan dalil tentangnya dan tidak ada ruang untuk berijtihad untuk menyalainya dan barang siapa yang mengingkarinya setelah tegak bukti maka ia dihukum keluar dari Islam.

Dan ada pula yang bersifat nadzari atau untuk menetapkannya dibutuhkan olah pikir dan meneliti dalil tentangnya, seperti apakah amal perbuatan hamba itu diciptakan Allah sementara hamba hanya berperang memiliki kasb, apakah sifat Allah itu ‘ainu Dzat atau bukan, dan apakah Kalam Allah itu bersifat kalam nafsiy serta apakah Allah dapat dilihat di akhirat atau tidak dan apakah imamah itu ditetapkan berdasarkan nash atau berdasarkan syurâ (baiat), dll. contoh-contoh di atas terkait dengan akidah, ushûl, adapun yang terkait dengan hukum syari’at/fikih ialah seperti hukum syak/ragu dalam shalat apakah membatalkan atau tidak, bagaimana hukum mendirikan bangunan di atas atau di sampin kuburan, hukum halal yang tidak ada dalil khusus tentangnya seperti merokok dll. semua itu harus diambil dari dalil Al Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan hukum akal bagi yang mampu dan menguasainya, sementara bagi yang awam/tidak mampu maka harus bertaqlid/berujuk kepada yang alim/mujtahid.

Dalam area kedua ini tidak dibenarkan memvonis sesat atau fasik atas salah satu pihak yang berbeda pendapat tentangnya, apalagi memvonis-nya telah kafir! Sebab ia bukan termasuk dhrûriyyât agama, sebagaimana tidak dibolehkan kita memaksa orang yang berbeda pendapat agar mengikuti pendapat orang lain dan meninggalkan menjalankan berdasarkan pendapatnya. Setiap orang akan diberi uzur atas hasil ijtihad dan pilihannya. Bagi yang salah dalam ijtiadnya mendapat satu pahala dan bagi yang benar mendapatkan dua pahala.

Ibnu Taimiyah pun mengakui hal ini, ia berkata, “Pendapat para Salaf dan para imam fatwa seperti Abu Hanifah, Syafi’i, ats Tsawri, Daud ibn Ali dan lainnya, mereka semua tidak menvonis berdosa atas yang berijtihad yang salah baik dalam masalah ushûl ataupun furûi.” [1]

Karenanya, barang siapa berijtihad dalam menghalalkan rokok misalnya atau membolehkan bertabarruk dengan Nabi saw., atau mencium makam suci beliau, atau melakukan perjalanan untuk menziarai makam suci beliau maka bagi yang berijthad selainnya tidak dibenarkan menvonisnya dengan bid’ah, sesat, fasik apalagi musyrik dan kafir! Sebab ia bukan dari dharûriyyât agama ini.

Dasar Kedua:

Kitabullah adalah Kalam Allah SWT yang diturunkan atas Nabi-Nya saw… ia adalah pasti, qath’iy secara sanad berdasarkan kesepakatan umat Islam. Adapun dalâlah, kandungannya terdapat di dalamnya ayat-ayat yang muhkam, mutasyâbih, mujmal, dan mubayyan.

Yang muhkam adalah yang gamblang dalâlah-nya, ia dinamai mubayyan. Yang mutasyâbih adalah yang dalâlah-nya tidak gamblang, ada bebarapa kemungkinan makna yang sejajar, ia juga dinamai mujmal.

Mubayyan terbagi menjadi dua kategori, nash, yaitu tidak mengandung perbedaan makna apapun tentangnya. Yang kedua adalah dzâhir yaitu makna yang rajah/lebih unggul walaupun masih ada kemungkinan makna lain di dalamnya. Sementara makna yang marjûh/kalah unggul dinamai muawwal.

Di dalam Al Qur’an juga terdapat yang ‘âm/umum dan khâsh/khusus, muthlaq dan muqayyad (diikat) dan nâsikh (yang menghapus) dan mansûkh (yang dihapus). Dalam kode etik pemahaman Al Qur’an tidak dibenarkan berhujjah selain dengan nash dan dzâhir kecuali apabila telah diterangkan oleh Sunnah yang pasti atau ijma’. Sebagaimana tidak dibenarkan beramal berdasarkan yang ‘âm atau muthlaq sebelum mengecek dengan seksama adanya kemungkinan pengkhususan yang ‘âm atau pengikatan yang muthlaq itu.

Karena adanya ragam yang detail ini dalam Al Qur’an, maka terbuka peluang bagi pemilik pendapat baik yang haq maupun yang batil untuk berdalil dengan ayat-ayatnya -dengan hanya memperhatikan dzâhir-nya saja- untuk mendukung pendaatnya. Bisa saja seorang bersandar kepada yang haqiqah dan melupakan tanda-tanda yang memalingkannya dari makna haqiqah kepada makna majâzi, atau berdalil dengan yang muthlaq tanpa melihat yang men-taqyid-nya atau dengan yang ‘âm dan melupakan yang men-takhshis-nya, dan lain sebagainya.

Mereka yang meyakini bahwa Allah dapat dilihat dengan mata kepala kelak di akhirat berdalil dengan ayat Al Qur’an tertentu, sementara yang menolaknya juga berdalil dengan ayat lain. Yang berhujjah bahwa hamba tidak memilki ikhityar berdalil dengan ayat Al-Qur’an tertentu, sementara yang meyakini kebalikannya juga berdalil dengan ayat yang lain. Mereka yang menokak adanya ampunan bagi yang berbuat dosa berdalil dengan ayat Al-Qur’an tertentu sedangkan yang meyakni bahwa semua dosa hamba pasti akan diampuni dan tidak ada siksaan atas siapapun juga dapat berdalil dengan ayat tertentu lainnya. Dan demikian seterusnya. Yag meyakini bahwa kita dibolehkan memohon syafa’at kepada Nabi di dunia ini berdalil dengan ayat Al Qur’an, sementara kaum Wahhabiyah yang melarang hal itu juga berdalil dengan ayat Al-Qur’an!

Dasar Ketiga:

Sunnah adalah ucapan, tindakan atau taqrîr pribadi ma’shum. Dan disyaratkan dalam berhujjah dengan sunnah berbentuk tindakan, fi’il adalah adanya kejelasan padanya. Jika beliau mengerjakan sebuah pekerjaan tertentu, lalu tidak diketahui dengan pasti stasusnya maka dapat dipastikan ia tidak haram, walaupun belum dapat dipastikan apakah ia wajib, nadb/anjuran atau malah makrûh. Dan untuk menetapkan sunnah haruslah dengan ke-mutawatir-an yaitu berita yang dibawa oleh sekelompok orang yang tidak mungkin bersekongkol untuk membuat-buat, atau dengan berita yang diliputi oleh tanda-tanya, qarâin yang menentramkan akan kebenarannya. Sunnah tidak dapat diterima dari berita seorang yang fasik, atau majhûl (tidak dikenal identitas dan atau kualitas kepribadiannya). Sebab berita mereka tidak memberikan kepastian dan atau karena mereka tidak boleh diandalkan oleh Syari’at, serta karena larangan mengikuti dzan.

Adapun berita yang dibawa oleh seorang yang adil dan terpercaya maka ia dapat diandalkan kendati belum memberikan ilm, kepastian kandungan sebagaimana dibeberkan dalam kajian Ushul Fikih.

Sedangkan keadilan dimaksud ialah bakat yang tertanam yang mendorong penyandangnya untuk selalu berbuat kebajikan dan meninggalkan keburukan dan maksiat/dosa besar serta tidak berterus menerus berbuat dosa kecil dan meninggalkan hal-hal yang mencoreng nama harumnya. Menetapkan keadilan bagi seorang di zaman kita sekarang ini adalah hal sangat sulit, sebab yang jalan dapat kita tempuh hanya terbatas pada pemberitaan orang lain tentang seorang itu. Di samping itu lapora orang para pendahulu tantang seseorang yang akan kita teliti itu sering bertentangan satu dengan lainnya. Ada yang menta’dil/menilai baik sedangkan yang lain menjarh/menilai buruk. Kendati para ulama telah meramu formula khusus untuk mengatasi kondisi semacam itu.

Dari sini dapat dimengerti bahwa gegabah dalam menerima kandungan sebuah hadis dengan sekedar ia ada dan termuat dalam sebuah kitab tertentu atau didasrkan kepada penshahihan seorang ulama lalu menyalahkan orang lain apalagi menvonis kafir atau musyrik adalah kesalahan fatal!

Di sampang itu untuk mengamakan sebuah khabar/hadis harus dipastikan bahwa ia tidak bertentangan dengan dalil pasti berupa ijma’ kaum Muslimin atau prilaku-kolektif, Sîratul Muslimîn, atau nash Al Qur’an, atau hadis lain yang mutawatir.

Sebagaimana Al Qur’an, sunnah juga terdapat di dalamnya berbagai ragam pembagian yang telah lewat disebutkan dalam Al Qur’an. maka juga harus dilakukan hal yang sama ketika hendak berhujjah atau mengamalkan berdasar hadis tertentu.

Karena adanya beragam macam kondisi teks dalam Sunnah maka ia juga dapat ditarik ke sana dan kemari untuk setiap golongan demi mendukung pandangannya. Sebagia contoh, para pengikut Ghulam Ahmad al Qadiani berdalil untuk mendukung kesesatan mereka dengan hadis, “Tidak ada mahdi selain Isa.”

Maka bagi siapapun yang mau mencari-cari pembenaran atas pendapatnya ia bisa berdalil dengan Al Qur’an dan Sunnah. Adapun yang mencari kebenaran pasti akan berhati-hati dalam berdalil dengan keduanya, ia tidak akan berdalil dengan dzâhir ayat atau hadis sebelum mencari kepastian akan ada atau tidak adanya penentangnya, baik dalil akal, atau naqli atau ijma’ dan selama ia belum meneliti status sanad hadis tersebut!

Dasar Keempat:

Hadis-hadis yang datang dari Nabi saw. yang saling kontradiksi itu banyak sekali. Penyebabnya, di antaranya dikarenakan adanya pemalsuan yang justru telah terjadi sejak di masa beliau saw. masih hidup. Setalah wafat beliau, para pemalsu itu mendekatkan diri kepada para penguasa demi mencari harta atau mendukung dengan kepalsuan pendapat mereka dll.

Untuk menangani adanya kontradiksi antara hadis-hadis yang saling bertentangan, para ulama telah menetapkan beberapa kaidah alternatif. Di antaranya hendaknya hadis itu disodorkan kepada Al Qur’an, yang sesusi dengannya diambil sementara yang berententangan ditolak. Di antaranya juga diambil yang sesuai dengan ijma’ atau prilaku kolektif umat Islam di sepanjang masa atau yang sesuai dengan yang berlaku di kalangan para sahabat dan tabi’în. Di antaranya melakukan uji kualitas sanad, untuk diterima yang shahih dan yang lemah apalagi palsu ditolak!

Dasar Kelima:

Al Qur’an dan Sunnah adalah berbahasa Arab, di dalamnya terdapat beragam variasi kata dan kalimat sebagaimana layaknya pembicaraan orang-orang Arab, seperti adanya bentuk haqiqah dan majâz.

Haqiqah [2] kata yang digunakan untuk arti yang asli diperuntukkannya, seperti ucapan kita, “Aku mendengar raungan asad di hutan.” Kata asad pada ucapan ini yang dimaksud adalah singa. Ini adalah kata yang dimaknai secara haqiqah/hakikat.

Sedangkan majâz adalah kata yang digunakan bukan dengan makna haqiqah-nya, karena adanya alasan tertentu yang membenarkan atau bahkan mengharuskan. Seperti contoh ucapan kita, “Aku menyaksikan asad di atas mimbar sedang berpidato.” Dalam contoh ini, kata asad tidak mungkin dimaknai singa, sebab seekor singa tidak mungkin berpidato di atas mimbar. Yang dimaksud dengannya adalah seorang pemberani. Alasan/qarînah yang mebenarkan pemalingan pemaknaan itu adalah adanya sifat yang menyatukan antara keduanya yaitu keberanian yang disimbolkan dengan seekor singa.

Menggunaan majâz banyak ditemukan dalam pembicaraan berbahasa Arab, di antaranya dalam Al Qur’an dan Sunnah.

Bentuk kata majâz dalam Al Qur’an antara lain dalam firman Allah:

 

يَدُ الله فَوقَ أَيْدِيْهِم

و اصْنَعِ الفُلْكَ بِأَعْيُنِهِمْوَجْهَهُ.

 

فَأَيْنَمَا تُوَلّوُا فَثّمَّ وَجْهُ اللهِ.

 

و يَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ.

 

الرحمنُ على العَرْشِ اسْتَوَى.

 

يَخافُوْنَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ.

 

و لِتُصْنَعَ علَى عيْنِيْ

فَإِنَّكَ يِأَعْيُنِنَا

كُلُّ شَيْئٍ هالِكٌ إلاَّ

إِلاَّ مِنْ رَحِمَ رَبُّكَ.

 

إِلاَّ مِنْ رَحِمَ اللهُ.

 

و غَضِبَ علَيْهِمْ.

 

اللهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ.

 

و جاءَ رَبُّكَ.

Kata جاء/ فوق/ رحِم/ غضب/ يستهزئ/ يد/وجه/عين dalam ayat-ayat di atas mesti diartikan secara majâz, dan qarînah yang membenarkannya adalah tidak mungkinnya kata-kata diartikan secara haqiqah yang akan meniscayakan sifat tajsîm dan bertempatnya Allah SWT di suatu tempat dan tidak adanya di tempat lain dan menjadi tempat bagi hal-hal yang hâdits.

Qarînah itu terkadang tersebutkan dalam rangkaian pembicaraan seperti lewat di sebutkan pada contoh tentang singa, disebutnya kata mimbar adalah qarînah, sebab binatang tidak akan berada di atas mimbar untuk berpidato. Terkadang qarînah berupa kondisi, hâliyah, bukan maqâliyah seperti disebut pada contoh-contoh di atas. Dalam kondisi seperti itu terkadang tidak langsung dapat ditangkap oleh sebagian pemahaman sementara orang, maka terjadilah kerancuan dalam pemahaman.

Majâz Dalam Kalimat

Terkadang majâz itu terdapat bukan pada kata, akan tetapi pada isnâd/penyandaran sebuah sifat atau pekerjaan, seperti menyandarkan kerja menumbuhkan kepada musim semi, atau menyandarkan berpuasa kepada siang hari dll. seperti dalam contoh di bawah ini:

 

أَنْبَتَ الربِيْعُ البقْلَ

Musim semi menumbuhkan sayuran

 

صامَ نهارُهُ

Siangnya berpuasa

 

جَرَى النهرُ

Sungai mengalir

 

بنَى الأميرُ

Amir itu membangun

Dalam contoh di atas menyandarkan menumbuhkan kepada musim semi adalah bentuk majâz, mengingat musim semi adalah waktu tumbuhnya tumbuhan itu, padahal semestinya kita menyandarkan pekerjaan menumuhkan itu kepada Allah SWT. Dialah Dzat yang menumbuhkan tumbuhan.

Menyandarkan berpuasa kepada siang hari, padahal yang berpuasa adalah orang, karena ia adalah waktu pelaksanaan puasa itu.

Menyandarkan mengalir kepada sungai padahal yang mengalir adalah air yang berada di dalam sungai itu, karena sungai adalah tempat air itu mengalir.

Menyandarkan kerjaan membangung kepada seorang amir, padahal yang membangun adalah tukang bangunan akan tetapi karena si amir itu yang menjadi penyebab/yang memerintah pembangunan maka kerjaan itu disandarkan kepadanya. Dan demikian seterusnya… semua itu adalah susunan dalam bahasa Arab yang menggnakan gaya majâz.

Dalam Al Qur’an kita menemukan ayat misalnya:

 

فَما رَبِحَتْ تِجارَتُهَُم

“Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka… “

Sementara yang dimaksud adalah mereka tidak beruntung dalam perniagaan mereka.

 

وَ إِذَا تُلِِيَتْ آياتُهُ زَادَتْهُمْ إيْمانًا.

“… dan apabila dibacakan ayat-ayatNya, maka ia menambah iman mereka … “

Kerjaan menambah iman mereka disandarkan kepada ayat, padahal yang menambah adalah Allah SWT.

Dan banyak contoh lainnya dalam Al Qur’an.

Penggunaan majâz harus disertai dengan qarînah baik lafdziyyah (tekstual) maupun aqliyah (rasional). Seperti ucapan seorang mukmin yang mengesakan Allah SWT.

 

أَنْبَتَ الربِيْعُ البقْلَ

“Musim semi menumbuhkan sayuran”

Kenyataan bahwa ia seorang mukmin yang mengesakan Allah SWT. sudah cukup sebagai alasan ucapan itu harus kita artikan dengan makna majâz dalam isnâd. Demikian juga ucapan seorang mukmin yang mengesakan Allah SWT., “Wahai Rasulullah, ampuni aku.” Atau “Sembuhkan putraku.” Atau “Panjangkan usiaku.” Atau “Berilah aku rizki.” Dan lain sebagainya. Ucapan-ucapan itu mesti kita fahami bahwa ia mengucapkannya dengan bentuk majâz dalam isnâd yaitu wahai Rasulullah, jadilah engkau sebagai sebab dalam semua yang aku sebutkan tadi dengan syafa’at dan permohonanmu kepada Allah SWT. qarînah yang menbenarkan pemaknaan yang demikian adalah karena pengucapnya adalah seorang Muslim Mukmin yang mengesakan Allah SWT. dari sini adalah salah apabila kita menyalakannya karena mengucapkan kata-kata demikian, apalagi menvonisnya telah kafir dan menyekutukan Allah dengan Rasul-Nya dan dengan demikian halallah darah dan hartanya!! Dan tidak menolak apa yang saya sampaikan ini kecuali seorang dungu yang tidak mengerti apa-apa tentang beragam variasi gaya bahasa Arab atau seorang yang degil yang gemar menetang hal-hal yang nyata!

_________________

[1] Minhâj as Sunnah,3/20.

[2] Kami terpaksa memerinci pembicaraan pada poin ini mengingat pentingnya dan agar manfa’atnya lebih umum

 


 

 

 

2

<BACK

DEPAN

NEXT>

2