RUH MENURUT GHAZALI

Ruh adalah suatu pembahasan yang tidak mudah sebagaimana yang telah dipaparkan dari berbagai literatur, ada yang beranggapan bahwa ruh adalah badan, dan adapula yang beranggapan bahwa ruh adalah bagian dari badan dan ada yang beranggapan bahwa ruh adalah akal dan ada yang beranggapan bahwa ruh adalah Nafs, dan adapula yang beranggapan bahwa ruh adalah hati. dan lain sebagainya.
Dari sinilah penulis ingin mengetahui lebih jauh ruh menurut Ghazali, karena Ghazali lah yang sering membahas tentang ruh, yang mana dalam konsep ruh Al-Ghazali terdapat hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara akal, ruh, hati dan juga Nafs. Karena satu sama lainnya saling berhubungan, jika ingin mengetahui salah satu konsep dari empat ini harus menjelaskan semuanya terlebih dahulu.
Riwayat Al-Ghazali

Ada baiknya sebelum memulai pembahasan penulis ingin mencoba menjelaskan tentang riwayat hidup sang Hujjatul Islam. Al-Ghazali bernama lengkap Zainuddin Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Ahmad Attusi, yang mempunyai banyak panggilan yaitu Zainuddin, Syeikhul Imam, Albahru, Hujjatul Islam, A’jubatul Zaman, yang lahir ditusi pada tahun 450 Hijriyah. Dan ada yang beranggapan bahwa Al-Ghazali lahir pada tahun 405 Hijriyyah yang bertepatan dengan 1057 Masehi. .adapun bapaknya adalah seorang yang miskin yang menjual kain ditokonya, dari pekerjaan inilah bapaknya dapat makan dan menafkahi keluarganya. Dan didalam do’a setiap shalatnya dia selalu meminta agar diberikan seorang anak yang berilmu, kemudian Allah menjawab do’anya dan memberikan anak Abi Hamid Al-Ghazali yang menjadi seorang ahli fikih dizamannya dan Ahmad yang menjadi penasehat yang terkenal, bapaknya wafat ketika Ghazali dan saudaranya masih kecil.
Untuk mencari ilmu seperti ilmu fiqh, ushuluddin, ushul fiqh, debat, mantiq, filsafat dan taswuf Ghazali berpindah-pindah tempat sehingga mempunyai banyak guru, adapun guru-guru Ghazali yang diketahui banyak orang adalah:
1. Abu Qosim Ismail
Nama lengkapnya adalah Ismail Bin Mus’adah Bin Ismail seorang pakar dalam ilmu fiqih di daerah jarjan yang lahir pada tahun 407 hijriyyah dan meninggal pada tahun 488 hijriyyah.
2. Abu Ma’ali Juwaini
Nama lengkapnya adalah Imam Haromain Abdul Malik Bin Abdullah Bin Yusuf, seorang ahli ushul fiqh syafi’I dan seorang mutakallim dari golongan asy’ari yang lahir di juwaini daerah nisaburi pada tahun 419 hijriyyah dan meninggal pada tahun 478 hijriyyah. Adapun karya-karyanya adalah Al-Burhan, Wal Warokat Keduanya Dalam Ilmu Ushul Fiqh, As-Syamil Fi Ushuluddin Ala Mazdhabi Asyairah, Nihayatu Al-Matlabi Fi Fiqh.
3. Al-Faramadzi
Nama lengkapnya adalah Abu Ali Fadhl Bin Muhammad Bin Ali Al-Faramadzi yang dinisbatkan dengan faramadz yang merupakan salah satu daerah di thusi seorang fakar dalam bidang tasawwuf yang lahir pada tahun 407 hijriyyah yang meninggal dithusi pada tahun 477 hijriyyah.
4. Nasr Al- Maqdasi
Nama lengkapnya adalah abu fath nasr bin Ibrahim bin nasr nabilasi al-maqdasi seorang pakar dalam bidang hadist dan fiqh yang bermadzhab syafi’I yang lahir sebelu tahun 410 dia adalah seorang muhaddis dan faqih yang terkenal dan banyak orang yang ingin belajar darinya dan kebanyakan dari muridnya menjadi seorang yang berpengaruh dalam ilmu hadisr dan fikh seperti Ghazali. Dan wafat pada tahun 490 hijriyyah. Karyanya adalah Al-Hujjah Ala Tarik Al-Mahjah Dan Tadzhib Fil Madzhab.
5. Abu Fatyan Al-Ruasi
Nama lengkapnya adalah Umar Bin Abdul Karim Bin Sa’dawiyah Al-Dahsatani seorang pakar dan hafal hadist setiap pengarang seperti hadist Bukhari, Ahmad, Nasa’i, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah. lahir didahsatan pada tahun 428 hijriyyah, namanya tlah terkenal dinegara-negara seperti Nisaburi, Baghdad, Dahsatan, Damaskus, Mesir dsb. Dan beliau wafat pada tahun 503 hijriyyah.
Adapun karya yang sudah dihasilkan oleh hujjatul islam menjadi empat bagian:
1. Kitab Tasawuf
Al-Adab Fi Ad-Din, Adab Sufiyyah, Arbai’in Fi Ushuluddin, Al- Imla Ala Ishkal Hayat, Ihya Ulumuddin, Ayyuha Al-Walad, Bidayatu Al-Hidayat Wa Tahdzib An-Nufus Bil Adab Syari’ah, Jawahir Qur’an Wa Dauruhu, Al-Hikmah Fi Ma’rifatullah, Khulashoh At-Tashonif, Ad-Durrotul Fakhirah Fi Kasbi Ulum Akhirah, Risalah Al-Laduniyah, Risalah Wa’dziyah, Fatihat Ulum, Qawaid Al-Aasaraoh, Kasb Wa Tabyin Fi Gururi Al-Kholq Ajmain, Al-Mursyid Al-Amin Ila Mau’idzah Mu’munin, Mishkatul Anwar, Mukasyafat Al-Qulub Al-Muqorrub Ila Hadrot Allamul Guyub, Manhajul Abidin Ila Jannah, Mizanul Amal.
2. Kitab Aqidah
Ajwibah Al-Ghazaliyyahfi Masail Ukhrowyyah, Iqtishod Fil ‘Itiqad, Iljamul Awam An Ilmu Kalam, Risalah Qadasiyyah Fi Qawaid ‘Aqaid, Aqidah Ahl Sunnah, Fadhail Batiniyyah Wa Fadhail Mustadzhiriyyah, Tafaruq Baina Islam Wa Zandaqah, Qistos Mustaqim, Kimiya Sa’adah, Mustadzhari, Madnun Bihi Ala Goiri Ahlihi, Maqsud Al-Usna Fi Syarhi Asmaillah Husna.
3. Kitab Fiqih dan Ushul
Asrar Hajj, Mustashfa Fi Ilm Ushul, Wajiz Fi Furu’
4. Kitab Mantiq dan Filsafat
Tahafut Al-Falasifah, Risalah Thoir, Muhik Nadhori Fi Manthiq, Mishkat Anwar, Ma’arij Quds Fi Madarij Ma’rifat Nafs, Mi’yar Ilm Fi Manthiq, Maqosid Falasifah, Munqidz Mina Dhalal.
Ada baiknya sebelum menbahas konsep ruh menurut Ghazali penulis ingin menjelaskan hubungan antara Qolb, ruh, Nafs, dan akal.
Qolb
Qolb menurut pengertian Ghazali terbagi menjadi dua pengertian: Pertama Qolb adalah sebuah daging yang berada dalam tubuh yang tepatnya sebelah kiri dari dada Qolb berupa daging khusus berada dalam batin manusia tepatnya dalam sebuah rongga yang dipenuhi oleh gumpalan darah hitam. Qolb inilah yang merupakan sumber ruh manusia dan menjadi tempat rahasia-rahasia manusia Qolb ini adalah anugrah yang diberikan oleh Allah SWT kepada makhluknya baik hewan maupun manusia. Adapun perbedaan antara Qolb manusia dan hewan, Qolb manusia dapat berfungsi dan dapat bekerja serta hidup, sedangkan Qulb hewan tidak berfungsi dan dapat dikatakan mati untuk kelangsungan hidupnya hewan dianugrahkan oleh Allah suatu insting, sedangkan manusia menggunakan Qolb untuk kelangsungan hidupnya.
Kedua Qolb adalah suatu yang lembut yang dianugrahkan Allah yang menjadi hakekat manusia dan dengan Qolb ini manusia dapat membedakan antara alim dan arif, Qolb inilah yang menunjukkan, menentukan sesuatu yang akan dilakukan oleh manusia baik perbuatan yang baik maupun yang buruk sehingga kehidupan manusia dan Qolb juga yang menjadikan sifat manusia seperti binatang bahkan lebih rendah dan dapat juga menjadikan derajat manusia seperti malaikat bahkan lebih tiggi dan Qolb ini pula mempunyai hubungan dengan Qolb jismani. Qolb adalah penguasa perbuatan manusia baik syahwat dan juga marah seperti berbohong, bermusuhan, membunuh dan setiap pekerjaan yang tercela dari sinilah Qolb mempunyai peran penting untuk mencegah perbuatan yang tercela tersebut seperti halnya pemerintahan yang mana seorang khalifah mempunyai kekuasaan atas semua wazir-wazirnya dan apabila tardapat penyimpangan dari wazir tersebut maka khalifat akan dilepas jabatannya begitu juga dengan Qolb. jadi Qolb mempunyai fungsi yang amat penting dalam perbuatan-perbuatan manusia baik yang mulia maupun yang tercela.
Ruh
Pembahasan tentang ruh adalah suatu pembahasan yang berkaitan dengan badan atau tubuh, dalam pembahasan ruh Ghazali membagi pengertian ruh menjadi dua bagian yaitu:
Pertama Ruh adalah suatu tubuh yang lembut bersumber dari rongga hati jasmani manusia kemudian tersebar keseluruh pokok-pokok dari bagian tubuh yang menerangi cahaya kehidupan dan panca indera. Seperti pelita yang menerangi ruangan dalam suatu rumah maka cahayanya akan menerangi setiap sudut dari rumah tersebut lalu menjadikan suatu rumah terang menderang karena cahaya yang diberikan pelita begitu pula halnya dengan tubuh yang selalu diterangi oleh cahaya ruh yang bersih dan terang.
Kedua Ruh adalah suatu kelembutan ilmu yang terdapat dalam diri manusia karena dengan ruh inilah manusia menjadi seorang yang berilmu dan orang yang bisa membedakan antara baik buruk yang kemudian fungsi ruh adalah memberikan petunjuk melalui cahayanya yang selalu menerangi dalam tubuh sehingga manusia mengetahui dan mencapai ma’rifatullah. Mungkin ghazali ingin menerangkan bahwa ruh adalah hala yang paling penting dalam jasad, karena ruh merupakan cahaya yang menerangi jasad, jasad tanpa ruh bagaikan pohon tanpa buah, dan seperi computer tanpa prossesor.
Nafs
Dalam pembahasan Nafs Ghazali membagi arti menjadi dua: Pertama Nafs adalah kekuatan amarah dan syahwat dalam diri manusia yang kebanyakan diartikan dalam ilmu tasawuf bahwa Nafs adalah suatu sifat yang tercela dalam diri manusia karena dengan Nafslah manusia dapat terjerumus dalam perbuatan yang tercela dan dengan Nafsnya pulalah manusia dapat menjadi seorang yang mempunyai sifat yang terpuji seperti orang yang sering berbuat kehinaan adalah orang yang mengikuti Nafs syahwatnya sedangkan orang yangterpuji adalah orang yang dapat mengendalikan sifat yang terpuji.
Kedua Nafs adalah kelembutan dalam suatu hakekat manusia Nafs manusia dan dzat manusia mempunyai sifat yang bermacam-macam sesuai dengan keadaan manusia apabila dalam suatu permasalahan Nafs syahwat dapat terkendali maka disebut Nafs mut’mainnah. Apabila dalam suatu permasalahan manusia berada jauh atau tidak terdapat sifat Allah dan bukan merpakan Nafs dari Allah melainkan Nafs yang datang dari ajakan golongan setan maka disebut dengan Nafs lawwamah. Sedangkan manusia yang mengedepankan Nafs dan syahwatnya dalam suatu permasalahan dan mengikuti ajakan setan maka Nafs ini disebut Nafs amrotu bissu’. Nafs adalah suatu rasa yang dapat dirasakan oleh lima indera seperti mata melihat, telinga mendengar, hidung mencium, kulit perangsang, lidah perasa adapun fungsi Nafs adalah sebagai penggerak bagi badan dan mempunyai kekuatan yang tersembunyi dan dapat terlihat dibagian dari badan. Adapun kekuatan Nafsu dapat dibagi menjadi dua pertama sebagai penggerak kedua sebagai alat untuk berfikir. dalam Nafsu terdapat suatu kekuatan yang tersembunyi dan akan ketahuan ketika terkena dorongan seperti suatu motifasi yang diberikan kepada orang yang sudah putus asa.
Akal
Dalam pengertian akal Ghazali membagi menjadi dua: Pertama akal adalah segala sesuatu permasalahan yang menimbulkan ilmu pengetahuan yang berada dalam hati. jadi hakekat akal adalah hati sebagaimana disebutkan dalam al-qur’an “Qulubun La Ya’qilun” dengan demikian jelaslah bahwa akal terdapat dalam hati setiap manusia dimulai dari permasalahan dalam otak dan kemudian dipikirkan dalam hati dan berakhir dengan perbuatan.
Kedua kelembutan yang diawali dengan ilmu-ilmu pengetahuan dalam hati kemudian direalisasikan dalam kehidupan sehingga orang yang berilmu akan mengetahui dan sadar bahwa dalam dirinya terdapat suatu wujud yang berdiri sendiri dan didalam wujud tersebut mempunyai sifat dan tidak disifati.
Akal adalah gambaran hasil kepercayaan yang diperoleh dari Nafs dengan fitrah dan juga ilmu yang didapat secara berusaha, dari hasil usaha inilah maka akan mencapai suatu ilmu yang dapat diterima oleh akal. Dalam buku kitab an-Nafs akal terbagi menjadi dua bagian yang pertama adalah akal nadzori akal yang menerima kekuatan Nafs dari perkara kulli adapun akal amali adalah suatu kekuatan Nafs yang berkeinginan untuk menggerakan suatu yang juz’i.
Menurut Ghazali akal adalah suatu jembatan untuk mencapai suatu ilmu sedangkan ilmu adalah satu dan tidak terbagi ataupun menempati suatu ruang, karena apabila ilmu menempati ruang maka ilmu akan musnah dan tidak dapat terbagi karena apabila ilmu terbagi maka akan hilang sebagian dan akan abadi sebagian yang lain. Mungkin akal menurut Ghazali adalah suatu jembatan untuk mencapai suatu ilmu yang mana tidak terdapat jembatan yang lain selain jembatan itu(akal). Seperti halnya beribadah kepada Allah adalah satu-satunya jalan menuju surga yang penuh dengan kebahagiaan.
Ruh Menurut Ghazali
Ghazali memulai pembahasan ruh sebagaimana tanah berawal untuk menghidupkan adam dan mani untuk menghidupkan anak dan keturunannya ruh berawal dari mani yang berada dalam rahim seorang ibu yang kemudian Allah meniupkan ruh kedalam jasad bayi dan dianugrahi dengan cahaya seperti Allah menganugrahi cahaya bagi bulan dan matahari untuk menerangi alam ini.
Ruh adalah jauhar dan bukan ard karena ruh mengetahui dirinya dan penciptanya dan dapat berfikir sedangkan ard tidak memiliki sifat ini semua. Dan ruh bukan jism karena jism memiliki bagian-bagian seperti tangan kaki kepala dan lain sebagainya sedangkan ruh tidak memiliki bagian dan apabila ruh memiliki bagian maka bagian itu akan memiliki ilmu dan bagian yang lain tidak memiliki ilmu sebagaimana yang dimiliki oleh satu bagian tersebut.
Ruh bukanlah didalam jism dan bukan diluar jism melainkan suatu sifat yang menjadi penghubung dangan badan dan ruh tidak terikat dengan ruang dan waktu seperti halnya jism dan ard, dan ruh disini bukanlah bagian dari Allah apabila bagian dari Allah maka ruh akan dipenuhi terus seperti halnya pengemis maja akan selalu dipenuhi dengan uang dan yang ada dalam pikirannya hanyalah uang begitu juga ruh maka akan berorientasi terus bagian dari Allah.
Para filosof menyepakati tentang hari kebaangkitan dan berbeda pendapat dalam masalah jasad dan ruh, kebanyak para filosof beranggapan bahwa hanya ruh saja yang dibangkitkan karena ruh lebih tinggi derajatnya, sedangkan menurut Ghazali ruh dan jasad yang dibangkitkan dihari kebangkitan karena ruh dan jasad tidak dapat dipisahkan. Sehingga ruh saja yang mendapat siksa neraka sedangkan menurut Ghazali ruh dan jasad yang disiksa dalam neraka karena dalam perbuatan manusia jasad dan ruh memiliki andil yang yang besar begitu pula dineraka keduanya yang harus disiksa. mungkin Ghazali ingin mengatakan bahwa ruh dan jasad itu satu tapi berbeda dan dalam perbedaannya ini tidak dapat dipisahkan antara satu dan yang lain dan apabila terlepas maka akan mati kedua-duanya.
Kesimpulan
Qolb, Nafs, akal semuanya ini saling berhubungan dan mempunyai fungsi masing-masing Qolb adalah sumber ruh dan didalamnya terdapat rahasia yang tidak dapat terlihat oleh penglihatan yang dzahir, dan Qolb ini bertugas untuk menunjukan dan mengarahkan suatu perbuatan yang akan diperbuat oleh jasad. Sedangkan Nafs adalah suatu amarah yang ditimbulkan oleh keadaan yang mana dalam amarah ini terdapat segi positif dan negatif yang menjadikan seorang berilmu dan tidak berilmu. Akal adalah jembatan untuk mencapi ilmu pengetahuan dan dengan akal pula manusia dapat mengetahui bahwa dalam dirinya terdapat suatu kekuatan untuk mencapi ilmu pengetahuan dan akal bertugas untuk mencapai ilmu pengetahuan dengan cara berusaha.
Adapun ruh menurut Ghazali adalah suatu jauhar yang berada dalam hati nurani yang paling dalam dan ruh memiliki peran yang sangat besar dalam perbuatan manusia karena ruhlah yang selalu menerangi manusia ketika berada dalam kegelapan seperti halnya pelita yang menerangi suatu ruangan, sehingga ruh dan badan tidak dapat terpisahkan layaknya gula dengan semut oleh karena itu Ghazali berpendapat bahwa dihari kebangkitan keduanya yang dibangkitkan dan dimasukkan keneraka maupun kesurga.

Referensi:
Abdurrahim Salim, Ahmad. “Fusul Fi Asilah Wa Tajwibah Li Imam Ghazali ”1991 Darul Misriyah Al-Lubnaniyyah :Kairo
Badawi, Abdurrahman. “Muallifat Al-Ghazali” 1977 An-Nasir Wa Kallatu Al-Matbuah : Kuwait
Donya, Sulaiman. “Tahafut Al-Falasifah Li Imam Ghazali” 1972 Darul Ma’arif :
Fahad Bin Muhammad Sarhan “Asasul Qiyas Liabi Hamid Al-Ghazali As-Syafi’i” 1993 Maktabah Abikan: Riyadh
Ibnu Sina, Abi Ali Husain Bin Abdullah. “Rosail Fi Al-Hikmah Wa At-Thabiat” Darul Arab: Kairo
Jad, Ahmad. “Mukasyafati Al-Qulub Al- Muqorrab Ila Hadhroti Allami Al- Guyub yang dinisbatkan Kepada Abi Hamid Al-Ghazali” 2004 Darul Hadits : Kairo
Muhammad Al-Ghazali, Abi Hamid Muhammad Bin.“Ma’ariju Al- Quds Fi Madarij Ma’rifati Al-Nafs”1988. Darul Kutub Al-Ilmiyah : Bairut, Libanon
Muhammad Al-Ghazali, Abi Hamid Muhammd Bin “Mi’roj Salikin Dalam Majmu’ Rosail” 1994 Darul Kutub Ilmiah :Bairut Libanon
Thabanah, Badawi. “Ihya Ulumuddin Lil Imam Al- Ghazali” Juz Ketiga. Karya Putra :Semarang.