Telah diketahui bahwa segala yang wajib bagi sekalian Rasulalyhimushshalatu wassalam yaitu 4 perkara, dan yang mustahil pada mereka itu 4 perkara, yaitu lawan dari yang wajib. Dan yang harus bagi mereka itu satu perkara. Maka jumlahnya 9 ‘aqaid pada sekalian Rasul. Dan disertakan di sini 4 perkara pada rukun iman:

1.      Percaya pada sekalian Rasulalyhimushshalatu wassalam dan bahwasanya Nabi Muhammad adalah Rasul penghabisan dan beliau lebih utama dari sekalian makhluq.

2.      Percaya pada sekalian Malaikat.

3.      Percaya pada semua kabar/berita yang turun dari langit.

4.      Percaya pada hari qiamat.

Maka jumlahnya 13 ‘aqaid, ini masuk pada kalimah syahadah yang kedua sebagaimana tersebut di bawah ini. Sebab semua itulah diberitakan oleh Rasulullah SAW, maka tiap-tiap yang diberitakan oleh beliau adalah haq/benar.

 

 

 

1.      Shiddiq. Nabi Muhammad dan sekalian Rasul haq/benar perkataannya.

2.      Amanah. Nabi Muhammad dan sekalian Rasul dipercaya dengan sempurna sehingga orang merasa aman terhadapnya.

3.      Tabligh. Nabi Muhammad dan sekalian Rasul telah menyampaikan segala perintah Allah Ta’ala.

4.      Fathanah. Nabi Muhammad dan sekalian Rasul sempurna pemahaman dan pengetahuannya.

5.      Mustahil pada sekalian mereka itu lawan empat perkara di atas.

6.      Harus bagi sekalian mereka itu bertingkah laku seperti layaknya manusia yang tiada menjadi kekurangan.

7.      Sekalian Rasul shalatullahalayhimu wa salam adalah haq/benar.

8.      Nabi Muhammad SAWpenghabisan/penutup para Rasul (Khataman Nabiyyin) dan lebih utama dari sekalian makhluq.

9.      Benar sekalian mereka itu (‘alayhimussalam)

10.  Benar sekalian kitab yang turun kepada sekalian Rasul.

11.  Benar segala kabar tentang hari qiamat yang telah dikabarkan oleh Rasulullah SAW.

 

Maka dengan apa yang telah tersebut di dalam kitab ini memadailah untuk mendapatkan yang wajib daripada ilmu tauhid. Adapun yang lebih dari ini daripada kitab-kitab ilmu ushul yang panjang penjabarannya dan yang dalam ibarat/pelajarannya, maka tiada harus untuk mengajarkan yang demikian itu kepada sembarang orang (yang belum baik ilmunya). Dalam kitab Syeikh Ibnu Hajar dikatakan: “Termasuk dosa besar yaitu membebankan kepada orang yang bodoh dan orang-orang yang belum biasa membaca segala ilmu atas memikir pada Dzat Allah Ta’ala dan pada ShifatNya dan pada segala ilmu ushuluddin yang orang-orang itu tiada sampai aqalnya untuk menerima mafhumnya, maka ini menjadi menyesatkan mereka, sebab mereka dapat menyangka apa saja tentang Dzat Allah Ta’ala atau ShifatNya Yang bahwa itu mustahil pada Allah Ta’ala, maka dengan yang demikian itulah bisa menjadi kafir atau menjadi ahli bid’ah pada hal ia keliru, suka hatinya dengan sangkaannya itu. Ia menyangka bahwa ia telah mengerti betul-betul, maka bahwa sangkanya itu didapat dari kejahilannya dan dari tiada ‘aqalnya.