First page Back Continue Last page Overview Graphics

Al-‘Utsaimin membatalkan pernyataan sebelumnya:

Al-‘Utsaimin membatalkan pernyataan sebelumnya: وَمِنَ الْقَوَاعِدِ الْمُقَرَّرَةِ أَنَّ الْوَسَائِلَ لَهَا أَحْكَامُ الْمَقَاصِدِ، فَوَسَائِلُ الْمَشْرُوْعِ مَشْرُوْعَةٌ وَوَسَائِلُ غَيْرِ الْمَشْرُوْعِ غَيْرُ مَشْرُوْعَةٍ بَلْ وَسَائِلُ الْمُحَرَّمِ حَرَامٌ، فَالْمَدَارِسُ وَتَصْنِيْفُ الْعِلْمِ وَتَأْلِيْفُ الْكُتُبِ وَإِنْ كَانَ بِدْعَةً لَمْ يُوْجَدْ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ j عَلَى هَذَا الْوَجْهِ إِلاَّ أَنَّهُ لَيْسَ مَقْصَدًا بَلْ هُوَ وَسِيْلَةٌ وَالْوَسَائِلُ لَهَا أَحْكَامُ الْمَقَاصِدِ، وَلِهَذَا لَوْ بَنَى شَخْصٌ مَدْرَسَةً لِتَعْلِيْمِ عِلْمٍ مُحَرَّمٍ كَانَ الْبِنَاءُ حَرَامًا وَلَوْ بَنَى مَدْرَسَةً لِتَعْلِيْمِ عِلْمٍ شَرْعِيٍّ كَانَ الْبِنَاءُ مَشْرُوْعًا. (العثيمين، الإبداع في كمال الشرع وخطر الابتداع، ص/18-19). “Di antara kaedah yang ditetapkan adalah bahwa perantara itu mengikuti hukum tujuannya. Jadi perantara tujuan yang disyariatkan, juga disyariatkan. Perantara tujuan yang tidak disyariatkan, juga tidak disyariatkan. Bahkan perantara tujuan yang diharamkan juga diharamkan. Karena itu, pembangunan madrasah-madrasah, penyusunan ilmu pengetahuan dan kitab-kitab, meskipun bid’ah yang belum pernah ada pada masa Rasulullah J dalam bentuk seperti ini, namun ia bukan tujuan, melainkan hanya perantara, sedangkan hukum perantara mengikuti hukum tujuannya. Oleh karena itu, bila seorang membangun madrasah untuk mengajarkan ilmu yang diharamkan, maka membangunnya dihukumi haram. Bila ia membangun madrasah untuk mengajarkan syariat, maka membangunnya disyariatkan.” (Al-‘Utsaimin, al-Ibda’ fi Kamal al-Syar’i wa Khathar al-Ibtida’, hal. 18-19).