STAGNASI BAHTSUL MASAIL NU

           

            Secara faktual-empiris, Bahtsul Masail NU telah mengalami stagnasi. Kemendegan ini mulai terasakan setelah munculnya asumsi dogmatis bahwa capaian para sarjana klasik (baca: mujtahid) telah sempurna dan given, sehingga tidak butuh lagi pembaruan pemikiran. Secara nyata hal itu dapat dilihat dari berbagai aktivitas Bahtsul Masail NU yang sering berkutat pada kutipan sana sini, tanpa ada upaya verifikasi dan falsivikasi terhadap referensi yang terproduk dalam konteks masa lalu. Dan sedikit dari para peserta yang berani melakukan reinterpretasi terhadap teks-teks keagamaan, karena menganggap bahwa penafsiran klasik telah final.

            Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Pertama, doktrin ditutupnya pintu ijtihad telah berdampak pada pemasungan kebebasan intelektualitas para ulama. Jika pun tidak ditutup, formulasi perumusan berbagai kriteria ijtihad yang sangat ketat, dinilai telah menumbuhkan pesimisme ulama NU untuk menembusnya.

Kedua, kodifikasi (tadwîn) atas pendapat-pendapat ijtihadi ulama klasik, baik ijtihad untuk mengatasi problematika yang sedang terjadi maupun yang diprediksikan akan terjadi. Sehingga, Bahtsul Masail NU hanya mencukupkan diri pada produk lama dengan cara merujuknya. Dengan demikian tidak ada dorongan sosial dan intelektual yang menggerakkan dinamika pemikiran untuk lebih maju. Dan meskipun dalam Munas NU 1992 telah ada komitmen untuk melakukan ijtihad kolektif (jamai), hasilnya belum seberapa.

            Ketiga, fanatisme (ta’ashub). Banyak aktivis Bahtsul Masail NU yang lebih cenderung memformulasikan rumusan dengan corak Syafi’iyyah, tanpa adanya kritik terlebih dahulu terhadap apa yang telah dirumuskan Syafiyyah. Mereka tidak menggubris bahwa terkadang Syafi’i sangat Arabis. Lebih parah lagi, meski sebagian peserta telah menawarkan teknis perumusan dengan metode komparasi antar madzhab, namun hasilnya masih sangat beraroma Syafi’iyyah. Akibatnya, muncul berbagai rumusan yang kurang obyektif.

            Ijitihad jama’i dalam Munas NU 1992 sebenarnya singkron dengan pendapat Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya, Ijtihad fi al-Syari’ah al-Islâmiyyah. Dia mencoba menawarkan tiga alternatif bentuk ijtihad kontemporer: pertama, ijtihad intiqa’i; ijtihad dalam bentuk penyeleksian terhadap pendapat ulama klasik (qudama‘) yang dipandang lebih cocok dan otentik dari sudut pandang landasannya. Kedua, ijtihad insya’i; ijtihad dengan cara mengambil konklusi hukum baru dalam masalah kontemporer, di mana permasalahan tersebut belum pernah dikaji oleh ulama klasik. Ketiga, kombinasi ijtihad intiqa’i dan insya’i; menyeleksi komentar ulama klasik yang lebih cocok dengan problematika aktual dan yang lebih kuat, kemudian ditambahkan pada pendapat itu berupa unsur-unsur ijtihad baru. Ketiga bentuk penalaran ijtihad tersebut dapat dilakukan secara personal (ijtihad fardi) maupun kolektif (ijtihad jama’i).

            Yang seharusnya dilakukan NU, sebelum berbahtsul masail, adalah upaya mendekonstruksi dan merekonstruksi turâts klasik guna menyeleksi pendapat ulama yang benar dan yang salah. Sebab, bagaimanapun juga kitab-kitab klasik “yang agung” hanyalah merupakan hasil intelektual-interpretatif terhadap al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian, interpretasi tersebut belum tentu tepat karena mengingat ulama bukanlah orang yang ma’shum (terjaga dari salah dan lupa), sehingga konseptualisasinya harus tunduk untuk dikritik, dalam bentuk pelurusan dan bukan hujatan.

            Landasan normatif dekonstruksi-rekontrsuksi turats di atas adalah petuah bijak sahabat Ibnu Abas, ‘Atha,’ serta Mujahid dari kalangan tabi’in; “Kullu insan yukhadu kalamuhu aw yutraku illa al-Nabi”; pendapat setiap manusia dapat diambil atau dibuang karena benar atau salah secara epistemologis, kecuali perkataan Nabi. Al-Qur’an dan Hadîts, dalam dirinya sendiri,  merupakan kebenaran mutlak yang harus diterima. Ini berbeda dengan penafsiran manusia yang dapat diterima karena benar dan ditolak karena salah. Yusuf Qardhawi juga menyatakan –tanpa merendahkan martabat ulama klasik–, Al-Qur’an dan Hadîts adalah benar, akan tetapi pemahaman dan penafsiran ulama belum tentu tepat. Oleh karenanya,  dibutuhkan kajian selektif-kritis untuk  menguji kebenaran penafsiran ulama klasik,  yang sesuai dengan wahyu Ilahi dan yang tidak. Kesalahan pemahaman bukanlah hal buruk sebab tetap diapresiasi oleh Alloh swt sendiri dengan menganugerahi satu pahala ijtihad. Upaya tersebut bukan hanya kuat secara logika formal, namun juga diperkuat dengan adanya relevansi sosial yang kuat. Semua pemikiran ulama klasik memiliki konteks sosial sendiri yang berbeda dengan sekarang, juga di antara mereka ada yang berkecenderungan tesktualis-literalis yang rawan terjebak kesalahan.

            Sudah menjadi hukum sejarah, setiap produk pemikiran, termasuk khazanah kitab-kitab klasik, akan dibaca oleh generasi berikutnya yang seringkali memiliki basis epistemologis berbeda. Pembacaan generasi berikutnya ini biasanya melakukan kritik (naqd), verifikasi (tashih), atau falsivikasi (ibthal). Di era kebebasan intelektual dan kebutuhan akan merespons berbagai tantangan kontemporer ini, sudah menjadi keniscayaan sejarah melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi terhadap khazanah klasik kita.

Bahstul Masail NU harus senantiasa melalukan revitalisasi dan reaktualisasi. Karena hubungan antara ‘reaktualisasi-revitalisasi’ dengan ‘perubahan situasi-kondisi’ merupakan hubungan kait kelindang ibarat dua sisi mata uang yang hanya dapat dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan. Artinya, reaktualisasi dan revitalisasi harus terus dilakukan selama adanya perubahan situasi dan kondisi.