Hasil Kajian Hukum Fiqih Sholat dan Thoharoh

http://hidupdenganpahamfiqih.wordpress.com/

 

Sholat Part IX

1. SHALAT SAMBIL MENAHAN KENTUT

Sebut saja mas Polo, Ia seorang yang dijuluki dengan raja kentut. Ia mampu ngentut dengan berbagai macam model, mulai dari suara yang keras memanjang, terputus-putus bahkan yang nyaris tak terdengarpun Ia bisa melakukannya. Pada suatu ketika, di tengah-tengah melakukan shalat, Ia merasa ada yang mau keluar dari perutnya (kentut). Karena dia sedang shalat, akhirnya dia menahan sampai shalatnya selesai. Apa hukum menahan kentut pada saat mau melakukan shalat?

Jawab: Makruh, jika hendak melakukan shalat. Apabila dalam keadaan shalat, menahan kentut hukumnya wajib, karena membatalkan fardlu hukumnya haram.

Referensi:

1 : 226 )

() ( ) . ( )

 

2. MELIHAT NAJIS DIPAKAIAN ORANG YANG SEDANG SHALAT

Neng Aisyah termasuk diantara gadis yang paling aktif berjamaah dibanding teman-temannya yang lain. Pada suatu ketika, dia terlambat untuk berjamaah di masjid. Demi pahala shalat berjamaah, akhirnya dia muter-muter di masjid untuk mencari imam, dilalah ia menemukan Akang Rahmad yang sedang shalat. Setelah didekati, Neng Aisyah kaget, sebab dipakaian Akang Rahmad terdapat najis. Apakah bagi Neng Aisyah wajib memberitahu kepadanya?

Jawab: Wajib.

Referensi:

1 : 177

 

3. SHALATNYA ORANG PIKUN

Kondisi orang pikun sangat memprihatinkan. Aktivitas yang baru dilakukan saja, semisal shalat, sering kali lupa, sehingga selalu mengulanginya. Begitu juga sebaliknya, dia sering tidak shalat karena merasa sudah melakukannya. Bagaimana tinjauan fiqh terhadap kewajiban dan status shalatnya?

Jawab: Dalam keadan pikun orang tersebut tidak berkewajiban menjalankan sholat, karena sudah tidak mukallaf(tamyiz). Dan ia tidak wajib untuk meng-qadla-i shalatnya selama pikunnya menghabiskan waktu dan timbulnya di awal waktu yang tidak muat untuk di gunakan sholat. Atau saat sadar normal kembali dia tidak menemukan waktu yang muat untuk takbiratul al-ihram.

Referensi:

: 168

: 213

1 : 72

 

4. FENOMENA PARA PENUMPANG KERETA API

Menggunakan jasa kereta api merupakan pilihan ekonomis bagi mereka yang ingin bepergian jauh. Kendati demikian, jasa kereta api tersebut tetap saja menyisakan masalah terkait dengan ibadah fardlu bagi mereka yang peduli dengan agamanya. Sebab, ketika hendak bersuci dan melakukan shalat fardlu secara sempurna, para penumpang yang berada di atas kereta terasa sangat kesulitan atau bahkan tidak bisa melakukannya. Sementara jika turun dari kereta, mereka takut ketinggalan. Apakah baginya wajib melaksanakan shalat dalam keadaan semacam di atas?

Jawab: Tetap wajib shalat sebisa mungkin, dalam rangka untuk menghormati waktu shalat. Dan baginya harus meng-qadl-inya.

Referensi:

3 : 223

( )

 

Sholat Part VIII

41. JABAT TANGAN SETELAH SHALAT

Kalau setelah shalat jamaah ada yang berjabat tangan (jawa; salaman), pasti jamaahnya orang NU. Adakah dalil yang menganjurkan berjabat tangan setelah melakukan shalat?

Jawab: Pada dasarnya dalil secara khusus tidak ada. Namun dalil yang menjelaskan sunahnya berjabat tangan ada, yaitu;

 

( )

Tidak dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan,

kecuali dosanya diampuni sebelum mereka berpisah

 

Sebenarnya kesunahan berjabat tangan bisa dilakukan dimana saja, misalnya; di sawah atau di pasar. Dan juga dapat dilakukan kepada orang yang sudah kita kenal atau belum. Namun hal ini sulit diwujudkan. Oleh karenanya, ulama NU memanfaatkan shalat jamaah sebagai media untuk berjabat tangan sekaligus mempererat hubungan silaturrahim antar sesama.

Referensi:

3 : 470

()

 

42. LEWAT DI DEPAN ORANG SHALAT

Karena saking semangatnya shalat berjamaah, kang Otoy mesti ada di barisan yang paling depan. Namun nasib sial menimpanya, ketika sedang shalat, dia kebelet ingin buang air besar. Karena takut keluar di tempat tersebut, tanpa pikir panjang dia langsung lari melewati orang-orang yang sedang shalat. Bolehkah lewat di depan orang yang sedang shalat ketika tidak menemukan jalan lain?

Jawab: Menurut al-Adzri diperbolehkan, apabila sangat terpaksa. Sedangkan menurut al-Asnwi, boleh lewat di depan orang shalat, walaupun tidak dalam keadaan terpaksa, asalkan tidak ada jalan lain.

Referensi:

: 91

[ ]

 

43. DUDUK LAGI SETELAH BERDIRI UNTUK TASYAHHUD AWAL

Sering terjadi, ketika sujud pada rakaat yang kedua, seseorang lupa tidak melakukan Tasyahhud al-Awwal dan langsung berdiri. Anehnya, disaat teringat telah meninggalkan Tasyahhud al-Awwal mereka duduk kembali untuk melakukannya. Apakah diperbolehkan duduk kembali untuk melakukan Tasyahhud al-Awwal?

Jawab: Tidak boleh, sebab sesuatu yang wajib (dalam hal ini berdiri) tidak boleh ditinggalkan hanya karena melakukan kesunahan (Tasyahhud al-Awwal).

Referensi:

4 : 58

( ) ( )

 

44. KETENTUAN MENGERASKAN BACAAN SHALAT QADLÂ

Shalat yang dilakukan pada malam hari, seperti; Maghrib, Isya dan Shubuh, disunahkan mengeraskan suara. Namun semua itu dalam shalat ada bukan qadla. Apabila qadl shalat Maghrib dilakukan pada siang hari, apakah sunah mengeraskan suara? Atau sebaliknya, qadl shalat Zhuhur dilakukan pada malam hari?

Jawab: Dalam shalat qadl, yang menjadi pertimbangan sunah dan tidaknya mengeraskan suara adalah, waktu dimana shalat qadl dikerjakan. Jika dilakukan pada malam hari, maka sunah mengeraskan suara, walaupun qadl shalat Zhuhur, begitu juga sebaliknya.

Referensi:

2 : 65

( )

 

Sholat Part IX

35. SETELAH SALAM TERINGAT TELAH MENINGGALKAN RUKUN

Karena takut ditinggal teman, mas Udin ketika melakukan shalat sangat cepat sekali. Sehingga dia tidak merasa, bahwa ada sebagian rukun yang ia tinggalkan. Dia baru sadar kalau ada sebagian rukun yang belum ia kerjakan pada waktu selesai salm. Apakah yang harus dilakukan jika setelah selesai shalat, teringat ternyata ada sebagian rukun yang ditinggalkan?

Jawab: Cukup meneruskan shalatnya, apabila ingatnya tidak lama dari waktu salm. Jika lama, maka harus mengulagi dari awal.

Catatan : Mengenai ukuran lama dan tidaknya, dikembalikan pada urf.

Referensi:

4 : 43

( )

 

36. HITUNGAN GERAKAN YANG MEMBATALKAN SHALAT

Seseorang ketika melakukan takbrat al-intiql setelah ruku, terkadang menjulurkan tangannya, tak terasa kedua tangannya terayun-ayun secara bersamaan, bahkan kadang sampai dua ayunan atau lebih. Bagi seseorang yang menggerakkan atau mengayungkan kedua tangan secara bersamaan, apakah dihitung satu gerakan ataukah dua gerakan?

Jawab: Dihitung dua gerakan.

Referensi:

1 : 140

( ) ( )

 

37. MENGUSIR NYAMUK KETIKA SHALAT

Karena dikerubuti nyamuk, seseorang yang sedang melakukan shalat, berusaha menghalaunya sampai bergerak lebih dari tiga gerakan. Batalkah shalatnya?

Jawab: Tidak batal, karena hal itu dianggap gerakan sebab dlorrot.

Referensi:

: 89

 

38. BERGOYANG-GOYANG KETIKA SHALAT

Mungkin ketika shalat terlalu asyik saat membaca Fatihahnya, atau mungkin karena suara imamnya sangat merdu, tanpa disadari tubuhnya bergoyang-goyang kekanan-kekiri seperti layangan. Apakah yang demikian dapat Membatalkan shalat?

Jawab: Ya, jika sampai bergerak tiga kali. Jika tidak maka hukumnya hukumnya makruh.

Referensi:

: 90

( )

 

39. BERGARUK-GARUK RIA SAAT SHALAT

Karena tidak kuat, seseorang yang punya penyakit gatal-gatal, menggaruk-garuk tubuhnya sampai melebihi tiga gerakan. Apakah gerakan tersebut dapat membatalkan shalat?

Jawab: Tidak batal, jika tidak mampu menahan gatal-gatal tersebut tanpa digaruk melebihi tiga kali gerakan.

Referensi:

220-221

( )

2 : 155

 

40. QADLÂSHALAT YANG JUMLAHNYA TIDAK DIKETAHUI

Kepedulian orang zaman sekarang terhadap ibadah boleh dibilang sangat minim sekali. Lebih-lebih ibadah shalat. Sehingga tak jarang karena kecerobohannya itu, mereka lupa berapa shalat yang mereka tinggalkan. Berapakah shalat yang harus di-qadl jika jumlah shalat yang ditinggalkannya tidak diketahui?

Jawab: Diperinci; bagi mereka yang sering melakukan shalat, hanya berkewajiban meng-qadl shalat yang yakin ditinggalkannya. Namun bagi mereka yang sering meninggalkan shalat, wajib meng-qadl shalat sampai yakin mengerjakan semuanya.

Referensi:

3 : 77

( ) ( )

 

Sholat Part VII

30. SUJUD SEBAGIAN DAHI TERTUTUP RAMBUT

Kadang karena takut ketinggalan berjamaah, mas Khoiron ketika memakai peci (kopyah) sebagian rambutnya masih menjuntai (jawa; klewer) ke dahi. Sehingga ketika sujud, rambut tersebut menutupi sebagian dahinya. Apakah sujudnya tidak sah ketika sebagian dahi tertutupi oleh rambut?

Jawab: Tetap sah, karena sujud cukup dengan meletakkan sebagian dahi.

Referensi:

1 : 211

()

 

31. BANGUN DARI SUJUD KARENA KAGET

Entah karena apa, seseorang secara spontan (tidak menyengaja) bangun dari sujud (mungkin karena kaget). Kemudian dia meneruskan dengan rukun setelahnya, tanpa kembali bersujud. Benarkah tindakan orang tersebut?

Jawab: Tidak benar, baginya harus kembali ke posisi sujud, sebelum melakukan rukun setelahnya.

Referensi:

2 : 38

 

32. POSISI DADA HARUS TETAP KETIKA SALAM PERTAMA

Menolehkan kepala saat melakukan salm, hukumnya disunnahkan. Namun, kebanyakan masyarakat juga memalingkan dadanya ketika menolehkan kepala. Apakah memalingkankan dada sebelum mengucapkan Mm-nya lafadz pada saat salam pertama dapat membatalkan shalat?

Jawab: Ya, bisa membatalkan shalat.

Referensi:

: 89

( )

2 : 90

( )

 

33. RAGU-RAGU MENINGGALKAN RUKUN KETIKA SHALAT

Memang benar, orang yang lagi susah, gelisah dan resah, pikirannya kacau, tidak nyambung alias tidak konek. Bahkan saat shalatpun konsentrasinya terganggu. Apa yang harus dilakukan, jika di tengah melakukan shalat timbul keraguan atau bahkan lupa ada sebagian rukun yang tidak dikerjakan, semisal ruku?

Jawab: Diperinci; jika ia ingat sebelum melakukan ruku pada rakaat setelahnya, maka ia harus kembali untuk mengerjakan ruku yang ditinggalkan. Dan jika ia ingat saat melakukan ruku atau setelah rukupada rakaat setelahnya, maka cukup meneruskan shalatnya dan menambah satu rakaat.

Referensi:

1 : 208

 

34. RAGU-RAGU MENINGGALKAN RUKUN SETELAH SHALAT

Seseorang yang sedang kebingungan atau sangat susah, apalagi terkait masalah tuntutan ekonomi, pastinya pikirannya tidak akan tenang bahkan bisa dibilang kacau. Bahkan saking bingungnya, saat shalatpun terkadang mereka bengong dengan pandangan yang kosong. Akibatnya walaupun shalat yang dilakukan sudah selesai, tapi masih ragu-ragu apakah rukun-rukun shalat sudah dikerjakan semua atau tidak. Apakah keraguan setelah selesainya shalat dapat mempengaruhi terhadap sahnya shalat?

Jawab: Tidak, karena dengan selesainya shalat, semua masalah dianggap selesai.

Referensi:

1 : 231

( ) ( ) ( )

 

Sholat Part VI

24. MENGULANG-ULANG AYAT DALAM AL-FATIHAH

Fatihah merupakan salah satu rukun qauly shalat. Dalam membacanya disyaratkan harus muwlah (terus-menerus) tanpa disertai pemisah. Apakah mengulang-ulang bacaan Fatihah dapat memutus muwlah-nya, sehingga wajib memulai lagi dari awal?

Jawab: Tidak dianggap memutus muwlah.

Referensi:

1 : 141

( )

 

25. BACA FATIHAH BERGAYA LOGHAT ARAB

Mungkin terlalu ke-arab-arab-an, seseorang ketika membaca Fatihah huruf Qaf-nya lafadz ( ) menyerupai huruf Kaf. Sahkah shalatnya orang tersebut?

Jawab: Shalatnya sah.

Referensi:

: 67

 

26. KETENTUAN MEMBACA DOA IFTITÂH

Doa iftith merupakan bagian kesunnahan dalam shalat. Namun tidak sedikit seorang mushalli yang lupa akan hal itu. Apakah ketika mushalli telah melakukan takbr, terus terlanjur membaca taawwudz atau Fatihah masih disunahkan membaca doa iftith?

Jawab: Tidak disunahkan, karena kesunahan membaca doa iftith jika belum didahului oleh bacaan apapun.

Referensi:

: 72

( )

 

27. WAKTU KESUNAHAN MEMBACA TAAWWUDZ

Mayoritas masyarakat belum mengetahui hal-hal yang disunahkan dalam shalat, diantaranya adalah membaca taawwudz. Kebanyakan dari mereka langsung membaca basmalah tanpa membaca taawwudz dahulu. Hal ini juga berlanjut pada rakaat-rakaat seterusnya. Apakah hukum kesunahan membaca taawwudz sebelum Fatihah hanya pada rakaat pertama saja atau juga pada tiap-tiap rakaat?

Jawab: Disunahkan disetiap rakaat.

Referensi:

: 72

( )

 

28. KEABSAHAN RUKUSAAT SALAH LANGKAH

Seseorang turun dari itidl bertujuan melakukan sujud, namun sebelum sampai ke tempat sujud, dia teringat, ternyata belum melakukan ruku. Seketika itu orang tersebut langsung ruku tanpa berdiri dulu. Sahkah rukunya, mengingat dia turun bukan karena melakukan ruku tapi bertujuan mau sujud?

Jawab: Tidak sah, karena syarat dari ruku adalah turunnya tidak boleh bertujuan selain ruku. Namun menurut Imam Asnwi tetap sah.

Referensi:

1 : 176

( ) ( )

 

29. POSISI KEDUA TANGAN KETIKA ITIDÂL

Seperti yang sering kita lihat, seorang mushalli pada saat ber-itidl, tangannya ada yang disedapkan, juga ada yang dibiarkan atau dilepaskan ke bawah. Bagaimana cara memposisikan kedua tangan ketika dalam keadaan itidl?

Jawab: Cara yang dipilih oleh imam Nawawi dan Ibnu Hajar adalah, seperti halnya meletakkan kedua tangan setelah membaca Takbrat al-Ihrm.

Referensi:

1 : 140

( ) ( )

 

Sholat Part V

20. CARA NIAT SHALAT SAAT WAKTU MAU HABIS

Shalat di akhir waktu tetap dikatakan ad, jika masih menyisakan waktu yang cukup untuk mengerjakan satu rakaat. Apa yang harus diucapkan seseorang dalam berniat, ketika waktu shalat tidak mencukupi untuk mengerjakan satu rakaat?

Jawab: Harus niat shalat qadl.

Referensi:

1 : 280

( )

 

21. MENG-QADLÂ SHALATNYA ORANG YANG TELAH MENINGGAL

Sekarang ini satu persatu tradisi wong NU, sudah mulai digrogoti dan bahkan dianggap sesat oleh sebagian kalangan. Oleh karenanya, jika Kang Santri yang merupakan tumpuan masyarakat tidak segera bertindak, maka virus tersebut lambat laun akan menyebar di kalangan orang awam. Diantara tradisi yang yang paling disorot oleh mereka adalah meng-qodh-i shalatnya orang yang sudah meninggal. Dimana pada waktu hidupnya, dia belum sempat untuk meng-qadl-inya, dikarenakan sakit atau lain sebagainya. Bolehkah meng-qadl shalatnya seseorang yang sudah meninggal? Dan adakah dalilnya?

Jawab: Menurut sebagian ulama hukumnya boleh. Sedangkan dalil yang mendasarinya adalah:

 

Referensi:

1 : 33

( )

3 : 440

8 : 318

: 1- 2- 3-

 

22. TIDAK FASHÎH MEMBACA TAKBIR

Mungkin karena tidak mengaji, seseorang ketika mengucapkan Takbirat al-Ihrm dalam shalat, huruf Hamzah-nya ( ) diganti dengan huruf wawu (). Sahkah shalatnya?

Jawab: Tidak sah dan harus mengaji dulu.

Referensi:

1 : 148

( ) ( )

 

23. SHALAT SAMBIL BERSANDAR

Sebut saja Lina. Dia tergolong gadis cantik yang banyak mendapat sorotan dari pemuda desanya. Sayangnya ketika di amati saat ia melakukan shalat, ia layaknya anak kecil umur 5 tahun yang masih suka dolanan. Bagaimana tidak, saat ia shalat, ia suka bersandar di tembok seperti nenek-nenek lansia (lanjut usia) yang sudah tidak kuat berdiri lagi. Sahkah shalatnya Lina yang bersandar di tembok pada saat berdiri?

Jawab: Sah, akan tetapi hukumnya makruh.

Referensi :

2 : 9

 

Sholat Part IV

16. SUJUD TANPA MELETAKKAN TANGAN

Sujud dengan meletakkan jidat (kening) merupakan syarat dapat dianggap sahnya melakukan sujud. Disamping itu, dalam praktek bersujud melibatkan beberapa anggota badan yang lain, seperti kedua tangan, lutut dan kedua kaki. Apakah saat melakukan sujud wajib meletakkan kedua telapak tangan, kedua lutut dan kaki?

Jawab: Menurut Imam an-Nawawi, hukumnya wajib. Sedangkan menurut ar-Rfii tidak wajib.

Referensi:

1 : 109 110

1 : 182

 

17. PENGGANTIAN HURUF DALAM AL-FATIHAH

Entah dengan alasan apa (mungkin karena tidak pernah mengaji), kebanyakan saat membaca Fatihah dalam shalat, huruf Dlad diganti dengan huruf Dza. Apakah hal tersebut dapat membatalkan shalat?

Jawab: Menurut pendapatnya al-Fakhrr ar-Rzi tidak batal, karena sulitnya membedakan kedua huruf tersebut.

Referensi:

: 67

( )

 

18. SHALATNYA ORANG YANG TIDAK MAMPU DUDUK

Melihat kondisi orang sakit terutama yang ada di rumah sakit, sangat begitu memperihatinkan, ada yang hanya bisa duduk tidak bisa berdiri, juga ada yang bisanya hanya tidur saja. Sedangkan yang tahapannya sangat parah, bisanya hanya melihat tanpa sepatah katapun. Bagaimanakah cara shalatnya seseorang jika tidak mampu shalat sambil duduk ?

Jawab: Dengan cara tidur miring serta menghadapkan wajahnya ke arah kiblat. Sedangkan yang lebih baik, miring di atas lambung bagian kanan seperti posisi mayit. Pendapat lain mengatakan; shalat dengan cara tidur terlentang serta menghadapkan kedua kakinya ke arah kiblat dan kepalanya agak diangkat.

Referensi:

1 : 236

 

19. KEWAJIBAN MENGHADAP KIBLAT BAGI ORANG SAKIT

Tempat tidur yang ada dirumah sakit, posisinya bermacam-macam, ada yang membujur kearah barat, timur dan lain sebagainya. Bahkan tidak jarang posisi tempat tidur tersebut menyulitkan bagi para pasien untuk menghadap kiblat ketika hendak melakukan shalat sambil tidur. Jika hal itu terjadi, bagaimanakah cara shalatnya pasien tersebut?

Jawab: Shalat sebisa mungkin dan harus meng-qadl.

Referensi:

1 : 151

 

Sholat Part III

11. KELUARNYA DARAH MIMISAN SAAT SHALAT

Bagi seseorang yang mengidap penyakit mimisan (sering keluar darah dari hidungnya) sewaktu-waktu akan kambuh kembali. Apalagi setelah bekerja berat. Sehingga tidak penutup kemungkinan darah mimisan tersebut akan keluar pada saat melakukan shalat. Batalkah shalat seseorang jika di tengah melakukan shalat, hidungnya keluar darah (jawa; mimisan) mengingat darah tersebut merupakan hal yang najis?

Jawab: Tidak batal apabila keluarnya sedikit, karena di-mafu.

Referensi:

2 : 137

 

12. SELESAI SHALAT TERNYATA BAJU TERDAPAT NAJISNYA

Seseorang ketika melaksanakan shalat, tidak tahu kalau baju yang dipakainya, ternyata terdapat najis yang tidak di-mafu. Akhirnya ia baru mengetahuinya setelah selesai melakukan shalat. Apakah orang tersebut wajib mengulangi shalatnya, ketika tahu kalau bajunya terdapat najis?

Jawab: Wajib mengulangi lagi, karena suci dari najis merupakan syarat sahnya shalat.

Referensi:

1 : 92

( )

 

13. KEWAJIBAN SHALAT BAGI ORANG SEKARAT

Selama nyawa masih dikandung badan, yang namanya ibadah shalat tidak mengenal istilah dispensasi untuk dapat ditinggalkan. Namun jika kita melihat orang yang sedang sekarat dalam waktu cukup lama, kayaknya secara rasional sudah tidak mungkin lagi untuk melakukan shalat. Sekalipun dengan praktek yang paling ringan, yakni; shalat dengan cara memakai isyarat. Apakah bagi seseorang yang sedang sekarat masih terkena kewajiban mengerjakan shalat?

Jawab: Menurut Imam Ab Hanifah, jika sudah tidak mampu shalat dengan isyarat, maka tidak berkewajiban shalat.

Referensi:

2 :

: 128

( )

 

14. ANAK KECIL MERANGKUL ORANG SHALAT

Seorang anak yang baru berusia 3 tahun, memang sangat menyenangkan sekali. Saking sayangnya, walaupun baru datang dari kerja, sang ayah sangat senang menggendongnya. Yang jadi masalah, terkadang anak yang sedang lucu-lucunya itu menghampiri dan merangkul ayahnya ketika sedang melakukan shalat. Padahal anak tersebut sering main-main di tanah, yang ada kemungkinan akan terkena najis. Bagaimana hukum shalat seseorang seperti dalam kasus di atas?

Jawab: Shalatnya tidak batal asalkan sang anak tidak dipastikan membawa najis.

Referensi:

1 : 444

( )

 

15. SHALAT TANPA WUDLU DAN TAYAMMUM

Penjara memang tempat para penjahat, mulai kelas kakap sampai yang kelas teri, semuanya ada disana. Dan tak sedikit diantara mereka gara-gara dijebloskan ke penjara, akhirnya mau kembali lagi ke jalan yang lurus (bertaubat). Namun jangan dikira tempat dipenjara sama dengan yang diluar. Kadang-kadang kamar yang mereka tempati tidak disediakan alat bersuci. Sehingga untuk melakukan shalat secara sempurna, seakan-akan sangat sulit dilaksanakan. Apakah seseorang yang tidak menemukan alat bersuci, baik air maupun debu tetap diwajibkan mengerjakan shalat?

Jawab: Menurut qaul Jadid wajib mengerjakan shalat dalam rangka untuk menghormati waktu, serta berkewajiban mengulangi shalat tersebut ketika sudah menemukan alat bersuci.

Referensi:

1 : 110

: 128

 

Sholat Part II

6. STANDARISASI MENUTUP AURAT

Syarat sahnya shalat adalah harus menutupi aurat baik dari arah atas ataupun samping, mengecualikan arah bawah. Bagaimana kejelasan tentang arah atas, bawah dan arah samping aurat?

Jawab: Maksud arah atas bagi laki-laki adalah, menutupi pusar serta anggota yang lurus dengan pusar. Untuk arah bawah, dimulai dari lutut serta anggota yang lurus dengan lutut. Sedangkan arah samping adalah, tertutupnya semua angota antara pusar dan lutut. Mengenai arah atas bagi perempuan adalah, menutupi kepala, pundak dan sisi samping wajahnya. Untuk arah bawahnya, bagian arah yang terletak di bawah telapak kakinya. Sedangkan arah sampingnya, semua anggota aurat diantara kepala dan kaki perempuan.

Referensi:

: 84

( )

 

7. PEMAKAIAN MUKENA YANG KURANG HATI-HATI

Aurat perempuan dalam shalat adalah menutup seluruh anggota badan, kecuali muka dan dua telapak tangan. Namun hal ini kadang kurang diperhatikan oleh kaum hawa, belum lagi model mukena yang agak lebar, sehingga kemungkinan besar pada saat melakukan takbir atau ruku ada sebagian auratnya yang akan terlihat. Batalkah shalatnya seorang wanita ketika sebagian auratnya terlihat seperti kasus diatas?

Jawab: Batal, karena terlihat dari arah samping.

Referensi:

: 85

 

8. KERAWANAN BAJU KOKO TERKAIT TERLIHATNYA AURAT

Zaman sekarang, baju bukan hanya untuk menutupi aurat, lebih dari itu, baju dijadikan media untuk bergaya. Akibatnya, baju untuk shalatpun ikut termodif, seperti baju koko yang didesain seperti kaos oblong. Sehingga ketika dipakai untuk shalat, aurat rawan kelihatan dari bagian atas. Sahkah shalat dengan menggunakan model baju seperti di atas?

Jawab: Tidak sah, jika auratnya kelihatan dari atas.

Referensi:

1 : 203

 

9. AURAT TERBUKA KARENA HEMBUSAN ANGIN

Pada suatu ketika, ada seseorang sedang melaksakan shalat di luar serambi masjid. Karena angin sangat kencang, maklum musim kemarau, akhirnya sarungnya terbuka. Apakah terbukanya aurat yang disebabkan karena hembusan angin dapat membatalkan shalat?

Jawab: Tidak membatalkan shalat, apabila seketika itu langsung ditutup.

Referensi:

: 84

( )

 

10. DAGU TERMASUK AURAT SHALAT WANITA

Model dan ukuran mukena (baca; rukuh) yang dijual di pasar-pasar sangat bervariasi, ada yang bentuknya terpotong juga ada yang seperti jubah tanpa potongan. Namun diantara dua model ini, tak jarang kaum wanita ketika menggunakannya untuk shalat, dagunya masih kelihatan. Batalkah shalatnya perempuan yang dagunya kelihatan?

Jawab: Menurut ulama kalangan Syfiiyyah shalatnya batal. Namun menurut ulama Hanafiyyah dan Mlikiyyah, terlihatnya dagu saat shalat tidak membatalkan shalat.

Referensi:

: 59

 

Sholat Part IV

16. SUJUD TANPA MELETAKKAN TANGAN

Sujud dengan meletakkan jidat (kening) merupakan syarat dapat dianggap sahnya melakukan sujud. Disamping itu, dalam praktek bersujud melibatkan beberapa anggota badan yang lain, seperti kedua tangan, lutut dan kedua kaki. Apakah saat melakukan sujud wajib meletakkan kedua telapak tangan, kedua lutut dan kaki?

Jawab: Menurut Imam an-Nawawi, hukumnya wajib. Sedangkan menurut ar-Rfii tidak wajib.

Referensi:

1 : 109 110

1 : 182

 

17. PENGGANTIAN HURUF DALAM AL-FATIHAH

Entah dengan alasan apa (mungkin karena tidak pernah mengaji), kebanyakan saat membaca Fatihah dalam shalat, huruf Dlad diganti dengan huruf Dza. Apakah hal tersebut dapat membatalkan shalat?

Jawab: Menurut pendapatnya al-Fakhrr ar-Rzi tidak batal, karena sulitnya membedakan kedua huruf tersebut.

Referensi:

: 67

( )

 

18. SHALATNYA ORANG YANG TIDAK MAMPU DUDUK

Melihat kondisi orang sakit terutama yang ada di rumah sakit, sangat begitu memperihatinkan, ada yang hanya bisa duduk tidak bisa berdiri, juga ada yang bisanya hanya tidur saja. Sedangkan yang tahapannya sangat parah, bisanya hanya melihat tanpa sepatah katapun. Bagaimanakah cara shalatnya seseorang jika tidak mampu shalat sambil duduk ?

Jawab: Dengan cara tidur miring serta menghadapkan wajahnya ke arah kiblat. Sedangkan yang lebih baik, miring di atas lambung bagian kanan seperti posisi mayit. Pendapat lain mengatakan; shalat dengan cara tidur terlentang serta menghadapkan kedua kakinya ke arah kiblat dan kepalanya agak diangkat.

Referensi:

1 : 236

 

19. KEWAJIBAN MENGHADAP KIBLAT BAGI ORANG SAKIT

Tempat tidur yang ada dirumah sakit, posisinya bermacam-macam, ada yang membujur kearah barat, timur dan lain sebagainya. Bahkan tidak jarang posisi tempat tidur tersebut menyulitkan bagi para pasien untuk menghadap kiblat ketika hendak melakukan shalat sambil tidur. Jika hal itu terjadi, bagaimanakah cara shalatnya pasien tersebut?

Jawab: Shalat sebisa mungkin dan harus meng-qadl.

Referensi:

1 : 151

 

Problematika Dalam Sholat

BAB SHALAT

 

1. QADLÂ SHALATNYA ORANG YANG DIBIUS

Ketika pasien diperkirakan tidak kuat menahan rasa sakit, biasanya sebelum dilakukan operasi terlebih dahulu pasien diberi obat bius, supaya tidak sadarkan diri. Apakah bagi dia wajib meng-qadl shalat yang ditinggalkan akibat pembiusan tersebut?

Jawab: Tidak wajib, karena pembiusan yang berakibat hilangnya akal dalam rangka pengobatan, hukumnya diperbolehkan.

Referensi:

3 : 8

( )

 

2. QADLÂ SHALAT WANITA YANG MENGGUGURKAN KANDUNGAN

Entah karena apa, perempuan hamil muda menggugurkan kandungannya dengan cara minum obat. Apakah shalat yang ditinggalkan pada saat keluar darah nifas setelah menggugurkan kandungannya wajib di-qadl?

Jawab: Tidak wajib qadl, karena tidak wajibnya qadl sebab nifas atau haid merupakan azmah, yakni walaupun keluarnya darah ada unsur maksiat, tetap tidak wajib qadl.

Referensi:

3 : 10

 

3. DATANGNYA FAKTOR PENCEGAH SHALAT

Haidl dan penyakit epilepsi adalah dua hal yang dapat mencegah untuk melakukan ibadah shalat. Namun yang menjadi masalah, bila darah haid atau penyakit epilepsi datang pada saat waktu sudah masuk, sementara belum melakukan shalat, apakah masih berkewajiban meng-qadl shalatnya?

Jawab: Harus di-qadl-i, jika waktu yang dilewatkan tersebut kira-kira cukup digunakan untuk mengerjakan shalat atau cukup digunakan bersuci dan mengerjakan shalat bagi .

Referensi:

1 : 72

( ) () ( ) ( ) () () ( ) () ()

 

4. HILANGNYA FAKTOR PENCEGAH SHALAT

Faktor pencegah shalat seperti gila, kerasukan jin, lebih-lebih darah haid, disamping datangnya tidak bisa diprediksi dan juga berakhirnya sewaktu-waktu bisa terjadi. Bahkan tak jarang tiga hal tersebut hilang ketika pada saat waktu yang hanya cukup melakukan Takbirat al-Ihrm. Jika demikian, apakah masih dituntut untuk mengerjakan shalat?

Jawab: Tetap berkewajiban melakukan shalat tersebut, serta meng-qadl shalat sebelumnya, jika bisa di-jama.

Referensi:

1 : 140

 

5. FENOMENA SHALAT MENGHADAP KEBARAT

Negara Indonesia berada di arah timur Kabah. Kebanyakan masyarakat ketika hendak shalat, langsung menghadap ke arah barat, tanpa mempertimbangkan apakah sudah tepat lurus dengan fisik Kabah atau tidak. Sahkah shalatnya jika hanya menghadap ke arah barat?

Jawab: Sah menurut pendapat yang dipilih oleh Imam Ghazli. Karena bagi mereka yang jauh dari Kabah, cukup menghadap ke arah dimana Kabah berada. Tidak harus tepat lurus menghadap fisik Kabah.

Referensi:

: 63

( )

 

Toharoh Part IV

19. AIR JEDING BERBAU KARENA BANGKAI IKAN

Menaruh ikan dalam jeding, merupakan hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat, sebab dengan cara seperti itu, air dapat bertahan lama. Karena kotoran-kotoran yang ditimbulkan dari air tersebut biasanya dimakan oleh ikan. Namun tak jarang ikan tersebut mati membusuk di dalamnya. Apakah air kolam yang baunya berubah anyir akibat bangkainya ikan tetap suci mensucikan?

Jawab: Ya tetap suci mensucikan, jika bangkai tersebut tidak mengeluarkan cairan aroma busuk yang bisa menyatu dengan air. Karena bangkai ikan tetap suci.

Referensi:

5 : 270

( ) ( )

 

20. AIR JEDING BANYAK KEJATUHAN AIR MUSTAMAL

Sering terjadi, ketika air jeding yang berisi dua qullah atau lebih, sedang digunakan wudlu oleh para jamaah, tentunya banyak air mustamal berjatuhan masuk ke dalam jeding lagi. Hal ini menimbulkan tanda tanya terkait bisa dan tidaknya dibuat bersuci. Apakah air tersebut dapat digunakan kembali?

Jawab: Dapat digunakan lagi, karena air berukuran dua qullah atau lebih tidak dapat berstatus mustamal.

Referensi:

1 : 87

( ) ( )

 

21. PERBEDAAN ANTARA MUKHÂLITH DAN MUJÂWIR

Air yang salah satu sifatnya berubah tidak bisa dibuat bersuci lagi, jika perubahannya akibat benda yang mukhlith bukan mujwir. Apa perbedaan mukhlith dan mujwir tersebut?

Jawab: Mukhlith adalah benda yang tidak dapat dipisahkan dari air (baca: lebur). Sedangkan mujwir adalah kebalikannya. Hanya saja ada benda yang selamanya mujwir, seperti; batu. Ada yang berupa mukhlith, kemudian menjadi mujwir, seperti; debu. Dan ada pula yang menjadi mujwir, kemudian menjadi mukhlith, semisal daun teh.

Referensi:

1 : 22

( )

 

Thoharoh Part III

14. PERUBAHAN YANG BISA MENGHILANGKAN KEMUTLAKAN AIR

Dalam literatur kutubussalaf dijelaskan, bahwa air mutaghayyir adalah air yang salah satu sifatnya berubah sampai menghilangkan kemutlakan nama air dan hukumnya suci tapi tidak mensucikan. Kendati demikian, masih ada beberapa hal yang perlu ketegasan terkait keterangan diatas. Diantaranya adalah batasan hilang dan tidaknya sebuah kemutlakan nama air. Sejauh mana perubahan bisa dikatakan menghilangkan kemutlakan nama air?

Jawab: Sekira ketika air tercampur dengan sesuatu, bentuk perubahannya banyak dan air tidak akan disebut, kecuali dengan sebutan yang mengikat, seperti; air teh, air kuah, air susu, atau semacamnya. Berbeda jika perubahannya sedikit. Sehingga hanya disebut dengan air yang berbau susu atau bau teh.

Referensi:

1 : 21

( )

 

15. AIR KERUH JERNIH KEMBALI KARENA KAPORIT

Di zaman yang serba canggih ini, semuanya harus praktis, higienis, dan innovative. Air yang semula keruh, menjadi jernih kembali, hanya dengan memasukkan zat tertentu seperti kaporit. Apakah air tersebut dapat digunakan bersuci?

Jawab: Ya, dapat digunakan bersuci.

Referens:

: 47

 

16. WARNA AIR KOLAM BERUBAH WARNA

Air kolam yang lama tidak terpakai, biasanya warnanya berubah. Bahkan sampai kehijau-hijauan, apalagi kalau ada lumutnya. Apakah air tersebut masih bisa dibuat sesuci?

Jawab: Tetap mensucikan.

Referensi:

1 : 67

( ) ( )

 

17. RAGU-RAGU TENTANG PERUBAHAN AIR

Telah disebutkan, bahwa ketika perubahan sifat air sangat dominan, sehingga menghilangkan sifat mutlaknya air, maka air tidak mensucikan lagi. Bagaimana jika ragu-ragu mengenai banyak sedikitnya perubahan air tersebut?

Jawab: Tetap mensucikan, karena hukum asal air tersebut adalah suci. Dan hukum asal, tidak akan berubah hanya dengan sekedar keraguan.

Referensi:

1 : 119

( ) ( )

 

18. AIR REBUSAN

Seperti biasa, sebelum air sumur mau dikonsumsi terlebih dahulu harus direbus sampai mendidih. Karena air tersebut sudah khusus untuk diminum, akhirnya masyarakat menganggap air itu tidak boleh digunakan untuk bersuci. Apakah air yang sudah direbus untuk dijadikan minuman tetap berstatus air mutlak, sehingga bisa untuk mensucikan?

Jawab: Ya.

Referensi:

1 : 51

 

Toharoh Part II

5. WUDLU DI SUNGAI YANG ADA KOTORAN MANUSIA

Sungai-sungai di pedesaan, kegunaanya sangat multi fungsi. Disamping digunakan sebagai mandi dan mencuci dan juga sungai tersebut dimanfaatkan sebagai tempat berak. Akibatnya, seringkali kita temukan kotoran-kotoran manusia terapung bak perahu yang sedang berlayar. Apakah ketika berwudlu, posisi kita harus menjauh dari benda najis terdebut?

Jawab: Tidak harus menjauh, karena air yang lebih dari dua qullah, tetap suci selama tidak berubah.

Referensi:

1 : 192

( ) ( )

 

6. AIR MUTANAJJIS NETRAL KEMBALI

Air dua qullah setatusnya menjadi mutanajjis bila salah satu dari sifatnya berubah akibat terkena benda najis. Baik yang berubah berupa bau, rasa ataupun warnanya. Jika perubahan tersebut hilang dengan sendirinya, apakah bisa kembali suci mensucikan?

Jawab: Ya, dapat suci mensucikan kembali. Karena penyebab najisnya sudah hilang.

Referensi:

1 : 86

( ) ( ) ( )

 

7. AIR SEDIKIT TERKENA NAJIS TAPI TIDAK BERUBAH

Sungguh memperihatinkan kehidupan orang-orang yang berada di daerah yang kekeringan. Untuk mendapatkan air satu ember saja mereka harus rela menunggu hingga berjam-jam. Bahkan saking sulitnya mendapatkan air, mereka sampai tidak menghiraukan dalam mengambil air tersebut. Sehingga tak jarang air yang mereka bawa terkena percikan-percikan air yang jatuh ke tanah. Adakah ulama dari kalangan Syafiiyyah yang berpendapat, bahwa air sedikit ketika terkena najis tetap suci mensucikan?

Jawab: Ada. Yaitu pendapat Imam Ibn al-Mundzir, al-Ghazly dan ar-Ryni. Asalkan air yang terkena najis tersebut tidak berubah.

Referensi:

1 : 30

 

8. AIR MUSTAMAL BOLEH DIPAKAI

Air mustamal adalah air yang sudah digunakan untuk menghilangkan najis ataupun hadast dan hukumnya suci namun tidak bisa dibuat bersuci lagi. Adakah pendapat yang memperbolehkan air mustamal dibuat bersuci kembali, mengingat di desa-desa yang kekeringan sulit mendapatkan air untuk bersuci?

Jawab: Ada, yaitu pendapat Imam Zuhry, Imam Mlik dan Imam al-AuzI serta pendapat Imam Ibn al-Mundzir.

Referensi:

1 : 206

 

9. SEMUT DALAM MINUMAN

Dimana ada gula pasti disana ada semut, itulah alasan sulitnya terhindar dari bangkainya semut. Sehingga saat memasukkan gula untuk membuat secangkir teh atau kopi, bangkainya semut sering terbawa dan mengambang dalam sebuah minuman. Apakah masuknya bangkainya semut dalam kasus diatas dapat menajiskan?

Jawab: Tidak menajiskan, karena bangkai tersebut hanya terbawa, bukan sengaja dimasukkan.

Referensi:

1 : 35

 

10. BANGKAI NYAMUK DIKELUARKAN JATUH KEMBALI

Biasanya minuman yang tidak tertutup, banyak kemasukan hewan-hewan kecil, seperti; nyamuk, semut atau yang lain, bahkan terkadang sampai mati di dalamnya. Akibatnya sebelum menikmati minuman tersebut terlabih dahulu harus mengeluarkan bangkainya hewan. Apakah bangkai hewan yang saat dikeluarkan jatuh kembali ke sebuah minuman tetap di-mafu?

Jawab: Ya, tetap di-mafu (tidak menajiskan).

Referensi:

1 : 324

 

11. AIR AQUARIUM TERDAPAT KOTORAN IKAN

Aquarium dengan beraneka ragam ikan hias, merupakan pilihan tepat untuk menghiasi ruang tamu. Tak jarang aquarium tersebut banyak terdapat kotoran ikannya. Bagaimana status air aquarium yang terdapat kotoran ikan?

Jawab: Hukumnya mutanajjis, karena tujuan hiasan tidak termasuk hajat.

Referensi:

1 : 89

( )

 

12. AIR KOLAM BERUBAH KARENA KEJATUHAN DAUN

Karena terlalu banyaknya dedaunan yang berjatuhan di kolam, warna airnya berubah kehijau-hijauan. Bahkan perubahan tersebut sampai berdampak pada rasanya, akibat membusuknya dedaunan yang terendam di kolam tersebut. Bolehkah air itu dibuat bersuci?

Jawab: Tetap diperbolehkan, karena hal tersebut sulit dihindarkan.

Referensi:

: 10

 

13. AIR TERCAMPUR MINYAK

Karena banyaknya kecampuran dengan sejenis minyak, baik berupa minyak wangi, minyak tanah atau minyak goreng, salah satu dari sifatnya air ada yang berubah. Bahkan perubahan tersebut sangat kentara banget. Apakah perubahan air akibat kejaruhan minyak dapat merubah status hukumnya?

Jawab: Tidak merubah, yakni tetap suci mensucikan. Sebab perubahan tersebut hanya terpengaruh oleh aroma. Karena minyak termasuk benda mujwir (benda yang tidak bisa larut dengan air), bukan benda mukhlit yang bisa menyatu dengan air.

Referensi:

1 : 8

( ) ( ) ( ) ( )

 

Wudlu Part IX

39. MENYENTUH KITAB YANG TERDAPAT AYAT AL-QURAN

Hampir tidak terlewatkan dalam setiap literatur klasik (kitab salaf), dimana didalamnya mesti akan mencamtumkan ayat-ayat al-Quran yang dijadikan sebagai sandaran atau dalil dalam setiap merumuskan suatu hukum. Namun kadang bagi para pembaca kitab-kitab klasik tidak terlalu memperhatikan terkait apakah ayat yang diselipkan dalam literatur klasik tersebut boleh dipegang atau tidak. Bagaimana hukum menyentuh ayat tersebut bagi orang yang berhadats?

Jawab: Menurut pendapat yang shahh boleh.

Referensi:

1 : 26

 

40. TERJEMAHAN AL-QURAN

Dewasa ini banyak sekali beredar terjemahan al-Quran dengan corak dan macam yang berbeda-beda. Semua itu tidak lain, demi mempermudah bagi kalangan awam yang merasa kesulitan dalam mempelajari kandungan isi al-Quran. Terlepas dari itu, tak sedikit dari kalangan masyarakat yang belum mengetahui setatus terjemahan al-Quran itu sendiri. Sehingga tak jarang terjemahan tersebut tidak dimuliakan layaknya al-Quran dimuliakan. Apakah terjemahan al-Quran hukumnya sama dengan tafsir?

Jawab: Tidak sama, akan tetapi terjemahan tersebut masih dihukumi mushhaf, artinya haram menyentuh dan membawanya.

Referensi:

: 33

 

41. MEMEGANG TAFSIR DAN TULISAN AL-QURAN LATIN

Diantara karia yang sangat populer yang pernah ditorehkan oleh al-Imam as-Suyuthy dalam bidang tafsir adalah kitab Tafsir al-Jallain, dalam karangannya ini, beliau mencoba memberikan sebuah penafsiran pada ayat-ayat al-Quran secara singkat, padat, tidak berbelit-belit dan mudah memahami kandungan firman Allah. Dan sampai ayat-ayat al-Quran dan tafsirannya selesihnya tidak terpaut jauh.

Pertanyaan:

a. Apakah Tafsir al-Jallain termasuk tafsir yang hurufnya lebih banyak dari huruf al-Quran?

b. Apakah al-Quran yang ditulis dengan selain bahasa arab hukumnya sama dengan al-Quran yang ditulis dengan berbahasa Arab?

Jawab:

a. Ya, namun sebaiknya bersuci dahulu sebelum menyentuh atau membawanya, karena hurufnya hanya selisih dua, sehingga dikhawatirkan ada kesalahan cetak.

Referensi:

1 : 82

 

b. Tulisan al-Quran dengan selain bahasa Arab hukumnya sama dengan yang berbahasa Arab.

Referensi:

1 : 53

 

Wudlu Part VIII

30. SETATUS WUDLUNYA ORANG YANG AMBEYEN

Ambeien merupakan salah satu jenis penyakit yang tidak tergolong ganas, dan jenis penyakit ini biasanya menyerang seseorang yang keseringan duduk. Biasanya jika orang sudah terkena penyakit ini, maka bol-nya akan selalu keluar. Tidak itu saja, kadang dari bol itu mengeluarkan semacam darah. Apakah keluarnya ambeien (jawa; bol) bisa membatalkan wudlu? dan Apakah keluarnya darah dari penyakit ambeyen (bawsir) dapat membatalkan wudlu?

Jawab: Ya, apabila ambeyen tersebut tumbuh dari dalam anus atau tambah keluar, jika sebelumnya sudah diluar. Sedangkan keluarnya darah yang disebabkan dari penyakit ambeyen, apabila darah tersebut keluar dari dalam anus, maka dapat membatalkan.

Referensi:

1 : 59

: 39

( )

31. ANUS BUATAN

Beberapa waktu lalu telah beredar disurat kabar, bahwa ada sorang anak yang dilahirkan tanpa anus. Karena demi keselamatan sang bayi, akhirnya pihak dokter yang menanganinya mengambil keputusan untuk untuk membuat anus buatan. Dan alhamdulillah sampai sekarang banyi tersebut sudah menunjukkan perkembangan yang cukup lumayan. Apakah keluarnya kotoran dari lubang bekas operasi dapat membatalkan wudlu, sebagaimana jika keluar dari lubang kemaluan atau anus?

Jawab: Diperinci:

Apabila anus dan kemaluan masih berfungsi, maka tidak membatalkan.

Apabila anus dan kemaluan mengalami kebuntuan sejak lahir, maka dapat membatalkan.

Apabila kebuntuan tersebut baru datang, maka membatalkan, jika lubang operasi itu terletak di bawah pusar.

Referensi:

: 44

[ ]

 

32. MENYENTUH KEMALUAN ANAK KECIL

Acap kali kita dihadapkan sebuah dilema keseharian namun kadang kita kurang merespon hal tersebut. Diantaranya sebagaimana kita ketahui bersama adalah menyentuh alat kelamin anak kecil. Apakah menyentuh kemaluan anak kecil dapat membatalan wudlu?

Jawab: Ya, bisa membatalkan.

Referensi:

1 : 45

 

33. MENYENTUH KEMALUAN YANG MEMBATALKAN WUDLU

Diantara hal yang dapat membatalkan wudlu adalah menyentuh kemaluan atau alat kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Bagian manakah alat kelamin laki-laki atau perempuan yang dapat membatalkan wudlu ketika disentuh?

Jawab: Untuk laki-laki, yang membatalkan ialah batang dzakar-nya mulai dari pangkal sampai ujung, sedangkan untuk perempuan adalah tempat pertemuan antara dua bibir kemaluannya.

Referensi:

1 : 142

 

34. AIR SISA WUDLU DIBILAS DENGAN HANDUK

Merupakan hal yang lumrah, dimana setiap selesai mandi atau berwdlu sisa-sisa atau bekas air yang masih berada dianggota badan dibilas dengan handuk, entah karena faktor cuaca yang kurang kondusif atau mungkin karena kebiasaan. Apa hukum membersihkan bekas air wudlu dari anggota badan dengan semisal handuk?

Jawab: Makruh, karena terkesan menghilangkan bekas-bekas ibadah, kecuali ada udzur.

Referensi:

: 59

,

 

35. MENULIS AL-QURAN DALAM KEADAAN HADATS

Sebut saja kang Dikkrun yang tidak diragukan lagi dalam hal khath (gaya tulis arab), dia sering mendapat order dari teman-temannya untuk dibuatkan tulisan ayat al-Quran baik dalam acara maulid Nabi atau acara yang lain. Bahkan pernah suatu ketika dia diminta oleh sebuah perusahan untuk menulis al-Quran dan hasilnya akan dicetak. Namun dibalik kemahirannya itu tak jarang dia dalam menggarap tulisan tersebut tidak dalam keadaan suci alias berhadast. Apakah orang yang berhadats boleh menulis al-Quran?

Jawab: Boleh, asalkan tidak sampai menyentuh tulisannya.

Referensi:

1 : 146

 

36. BATASAN MENYENTUH AL-QURAN

Sudah maklum adanya bahwa bagi yang berhadats tidak diperkenankan menyentuh al-Quran, sebab al-Quran merupakan kalam Allah yang harus dimuliakan. Namun ironisnya banyak kalangan masyarakat yang belum mengetahui keharaman menyentuh al-Quran, apakah semuanya atau hanya seputar tulisan al-Quran serta yang mengelilinya saja. Sebatas manakah keharaman menyentuh al-Quran? Apakah meliputi tepi kertas serta bagian yang kosong dari tulisan?

Jawab: Keharamannya meliputi kesemuanya kertas baik yang kosong atau yang bertulis.

Referensi:

1 : 75 76

( )

1 : 40

( )

 

37. KECIL-KECIL MEGANG AL-QURAN

Sering kita melihat, dimana anak-anak kecil yang beru belajar cara memaca al-Quran, oleh para gurunya kurang diperhatikan dalam hal apakah anak itu punya wudlu atau tidak. Bagaimana hukum membiarkan anak-anak kecil yang sedang belajar ngaji menyentuh al-Quran sementara mereka tidak mempunya wudlu?

Jawab: Boleh, asalkan untuk tujuan belajar mengaji bukan yang lain.

Referensi:

1 : 375

 

38. MEMBUKA AL-QURAN DENGAN KAYU

Untuk mempermudah proses belajar mengajar al-Quran dan demi mencapai hasil yang maksimal dalam mebaca al-Quran, bayak cara yang dilakukan oleh para guru ngaji al-Quran diantaranya adalah kayu kecil. Bolehkah bagi yang berhadats membolak-balik lembar kertas al-Quran dengan memakai kayu kecil?

Jawab: Diperbolehkan, karena kayu tersebut dianggap sebagai benda yang terpisah darinya.

Referensi:

1 : 249

1 :82

( ) ϡ . ǡ

 

Wudlu Part VII

24. CARA NIAT BAGI ORANG YANG SELALU BERHADATS

Niat dalam setiap ibadah mempunyai peran yang sangat penting. Tanpa niat, sebuah ibadah tidak ada nilai sama sekali. Niat dalam setiap ibadah disesuaikan dengan bentuk ibadah itu sendiri. Bagaimanakah cara niatnya seseorang yang selalu berhadats, seperti orang beser atau wanita yang selalu mengeluarkan darah istihdlah ketika hendak berwudlu?

Jawab: Caranya adalah dengan niat agar diperbolehkan melakukan shalat

( ), tidak cukup hanya dengan niat menghilangkan hadats saja.

Referensi:

1 : 53

 

25. TATA CARA TATSLITS MENGUSAP RAMBUT KEPALA

Tatslits (mengulangi sampai tiga kali) merpakan bagian kesuahan dalam setiap membasuh anggota dalam wudlu, tak terkecuali adalah ketika mengusap kepala. Apakah seseorang yang membasuh rambutnya di bagian atas, samping kanan dan samping kiri mendapatkan kesunahan membasuh tiga kali?

Jawab: Tidak, karena kesunahan membasuh tiga kali pada rambut kepala, harus di bagian rambut yang sama, tidak berpindah-pindah.

Referensi:

: 37

( )

 

26. WUDLUNYA ORANG YANG KAKINYA TERTUSUK DURI

Pada suatu ketika mas Arul bersih-bersih di halaman rumahnya yang dipenuhi dengan bunga-bunga. Namun disaat dia membersihkan sebagian bunga yang berduri, ia menginjak duri. karena durinya tergolong kecil, akhirnya mas Arul tidak menghiraukannya dan dibiarkan saja hingga beberapa hari. Apakah duri yang tertancap ditelapak kaki harus dilepas ketika hendak membasuh kaki saat berwudlu?

Jawab: Diperinci;

Apabila ujung duri itu tampak atau tidak tertutup oleh kulit dan sekira dilepas akan terlihat rongganya, maka wajib dilepas.

Jika sekira dilepas, dagingnya akan menutup kembali, maka tidak wajib melepasnya.

Namun bila duri sudah tertutup oleh daging, maka sah melakukan wudlu tanpa melepasnya.

Referensi:

1 : 172

1 : 187

 

27. OLI BUKAN PENGHALANG MASUKNYA AIR PADA KULIT

Diantara syarat dalam wudlu adalah sampainya air pada anggota wudlu, sehingga jika terdapat penghalang masuknya air pada kulit, maka wudlunya tidak sah. Apakah minyak goreng, oli dan lain sebagainya termasuk penghalang sampainya air pada anggota wudlu?

Jawab: Tidak termasuk.

Referensi:

1 : 387

( )

28. RAGU-RAGU SETELAH BERWUDLU

Pada suatu ketika kang Abik berwudlu untuk melaksanakan shalat ashar, setelah selesai wudlu, dia masih ragu-ragu, ada sebagian anggotanya yang terlewatkan. Apakah ragu-ragu dalam pembasuhan anggota setelah wudlu selesai dapat mempengarui sahnya wudlu, sehingga wajib mengulanginya, atau tidak?

Jawab: Tidak berpengaruh, yakni tidak perlu mengulang.

Referensi:

1 : 41

( )

 

29. MENYENTUH LAWAN JENIS YANG MASIH KECIL

Bersentuhan antar lawan jenis dapat mengakibatkan batalnya wudlu, namun jika kita tengok kejadian dimasyarakat kayaknya masalah ini kurang begitu diperhatikan terutama jika lawan jenisnya mereka anggap masih kecil. Apakah menyentuh lawan jenis yang masih anak-anak dapat membatalkan wudlu?

Jawab: Bisa membatalkan, jika menurut pandangan umum anak-anak terebut telah sampai pada usia yang dapat menarik perhatian lawan jenis ( ).

Referensi:

: 21

 

Problem Wudlu Part IV

9. MATA TERDAPAT BELEK

Belek (kotoran mata) yang menempel dimata, baik karena bangun tidur atau sakit mata, kadang-kadang walaupun sudah cuci muka, masih saja belum hilang melekat dibagian sekeliling rambut mata. Bahkan mereka yang baru selesai dari wudlunya, ketika bercermin ternyata masih terdapat belek yang masih menempel. Hal ini menimbulkan tanda tanya terkait syaratnya wudlu, yaitu tidak ada penghalang yang bisa mencegah sampainya air pada kulit. Sahkah wudlunya seseorang yang masih terdapat belek di matanya?

Jawab: Tidak sah jika bisa menghalangi sampainya air.

Referensi:

1 : 66

 

10. KOTORAN KUKU

Kotoran yang terdapat pada kuku mencerminkan kepribadian seseorang. Namun hal itu tidak berlaku bagi petani dimana kesehariannya tak luput dari bersentuhan dengan lumpur. Apalagi tukang service yang selalu bergelut dengan oli dan sebagainya. Sahkah wudlunya jika di bawah kukunya terdapat kotoran yang menghalangi sampainya air ke kulit?

Jawab: Menurut imam al-Ghazly, al-Juwainy dan al-Qaffl tetap sah.

Referensi:

: 22

.

 

11. WUDLUNYA ORANG YANG TERBAKAR

Seseorang yang pernah terbakar api, kulitnya akan melepuh dan berair. Apakah bagian dalam kulitnya wajib dibasuh?

Jawab: Wajib dibasuh jika kulit yang melepuh sudah pecah dan belum melekat dengan kulit bagian dalam.

Referensi:

1 : 65

 

12. WUDLU DENGAN CARA MENYELAM

Berenang disungai merupakan pilihan ekonomis untuk merefreskan tubuh. Apalagi dipagi hari, kesegaran tubuh sangat terasa sekali. Disamping itu, berenang di sungai akan lebih memudahkan untuk meratakan air disekujur tubuh bagi mereka yang sedang berhadast besar. Sahkah berwudlu dengan cara menyelam tanpa berdiam lama di dalam air yang sekira cukup untuk melakukan tertib?

Jawab: Wudlunya sah.

Referensi:

1 : 42

1 : 35

 

13. PERSENTUHAN LAWAN JENIS DISAAT THAWAF

Haji merupakan ibadah yang sangat istimewa. Disamping sebagai penyempurna rukun islam dan juga salah satu ibadah yang bisa mengumpulkan seluruh umat Islam dari berbagai penjuru dunia. Namun bagi mereka yang ingin melaksanakannya perlu pengetahuan ilmu yang mumpuni. Banyak hal yang harus diketahui terkait problematika dalam ibadah haji. Diantaranya, sulitnya terhindar dari persentuhan dengan lawan jenis ketika berthawaf. Sementara wudlu merupakan syarat dari keabsahan thawaf. Bagaimana solusinya?

Jawab: Mengikuti pendapat yang mengatakan, bahwa seorang yang disentuh tidak batal wudlunya. Atau mengikuti pendapat yang mengatakan, bahwa persentuhan bisa membatalkan, jika dilakukan dengan sengaja.

Referensi:

1 : 37

( ) ( ) ( )

2 : 28

 

14. WUDLUNYA ORANG YANG RAGU-RAGU KETIKA TIDUR

Sering ditemui seseorang yang tidur sambil duduk, tubuhnya tidak stabil, doyong seakan-akan mau roboh. Kadang-kadang sampai condong ke depan, sehingga pantatnya terangkat. Batalkah wudlunya jika ia ragu-ragu, apakah ketika terangkatnya pantat tersebut terjadi saat masih tertidur atau sudah bangun?

Jawab: Tidak batal.

Referensi:

1 : 220

1 : 220

 

15. WUDLUNYA ORANG KURUS TIDUR SAMBIL DUDUK

Tidur dalam keadaan menetapkan pantat (baca; duduk) tidak membatalkan wudlu, karena tidak adanya dugaan kuat keluarnya angin dari patatnya (baca; kentut). Bagaimana jika hal itu terjadi pada seseorang yang tubuhnya sangat kurus, apakah wudlunya batal?

Jawab: Wudlunya batal, jika pantat dan tempat duduknya masih terdapat rongga, sehingga berpotensi keluar kentut.

Referensi:

1 : 28

( ) ( )

 

16. BATASAN TELAPAK TANGAN

Seperti yang telah diketahui, menyentuh kemaluan dapat membatalkan wudlu, jika menyentuhnya menggunakan telapak tangan. Sebatas manakah bagian dari telapak tangan yang membatalkan ketika menyentuh kemaluan?

Jawab: Bagian yang tidak terlihat ketika mempertemukan kedua telapak tangan disertai tekanan yang sedang. Sementara jika disentuh dengan ujung jari atau kulit diantara jari-jemari dan tepi telapak tangan, hukumnya tidak membatalkan.

Referensi:

1 : 148

( )

 

Thoharoh Jilid V

8. AIR MUSTAMAL BOLEH DIPAKAI

Air mustamal adalah air yang sudah digunakan untuk menghilangkan najis ataupun hadast dan hukumnya suci namun tidak bisa dibuat bersuci lagi. Adakah pendapat yang memperbolehkan air mustamal dibuat bersuci kembali, mengingat di desa-desa yang kekeringan sulit mendapatkan air untuk bersuci?

Jawab: Ada, yaitu pendapat Imam Zuhry, Imam Mlik dan Imam al-AuzI serta pendapat Imam Ibn al-Mundzir.

Referensi:

1 : 206

 

9. SEMUT DALAM MINUMAN

Dimana ada gula pasti disana ada semut, itulah alasan sulitnya terhindar dari bangkainya semut. Sehingga saat memasukkan gula untuk membuat secangkir teh atau kopi, bangkainya semut sering terbawa dan mengambang dalam sebuah minuman. Apakah masuknya bangkainya semut dalam kasus diatas dapat menajiskan?

Jawab: Tidak menajiskan, karena bangkai tersebut hanya terbawa, bukan sengaja dimasukkan.

Referensi:

1 : 35

 

10. BANGKAI NYAMUK DIKELUARKAN JATUH KEMBALI

Biasanya minuman yang tidak tertutup, banyak kemasukan hewan-hewan kecil, seperti; nyamuk, semut atau yang lain, bahkan terkadang sampai mati di dalamnya. Akibatnya sebelum menikmati minuman tersebut terlabih dahulu harus mengeluarkan bangkainya hewan. Apakah bangkai hewan yang saat dikeluarkan jatuh kembali ke sebuah minuman tetap di-mafu?

Jawab: Ya, tetap di-mafu (tidak menajiskan).

Referensi:

1 : 324

 

11. AIR AQUARIUM TERDAPAT KOTORAN IKAN

Aquarium dengan beraneka ragam ikan hias, merupakan pilihan tepat untuk menghiasi ruang tamu. Tak jarang aquarium tersebut banyak terdapat kotoran ikannya. Bagaimana status air aquarium yang terdapat kotoran ikan?

Jawab: Hukumnya mutanajjis, karena tujuan hiasan tidak termasuk hajat.

Referensi:

1 : 89

( )

 

12. AIR KOLAM BERUBAH KARENA KEJATUHAN DAUN

Karena terlalu banyaknya dedaunan yang berjatuhan di kolam, warna airnya berubah kehijau-hijauan. Bahkan perubahan tersebut sampai berdampak pada rasanya, akibat membusuknya dedaunan yang terendam di kolam tersebut. Bolehkah air itu dibuat bersuci?

Jawab: Tetap diperbolehkan, karena hal tersebut sulit dihindarkan.

Referensi:

: 10

 

Wudlu Part VI

17. MENYENTUH KITAB TAFSIR BAGI ORANG HADATS

Berbagai macam disiplin ilmu membahas tentang al-Quran. Ada yang membahas tentang sisi tata bahasa dan sastranya seperti kitab Balaghah, ada juga yang mengupas tentang isi kandungan al-Quran seperti kitab tafsir. Untuk mempelajari semua itu, menyentuh dan membawa kitab tersebut tidak bisa kita dihindari. Sementara bagi kita yang berhadats haram menyentuh al-Quran. Bagaimana hukum membawa atau menyentuh kitab tafsir bagi yang berhadats?

Jawab: Membawa kitab tafsir hukumnya haram, jika al-Quran lebih banyak dari tafsirnya. Mengenai hukum menyentuhnya, menurut Imam Romli haram, jika yang disentuh hanya ayat al-Qurannya saja atau sekaligus dengan tafsirnya, namun ayat al-Qurannya lebih banyak. Sedangkan menurut Syekh Khtib secara mutlak diperbolehkan, apabila ayat al-Quran dalam tafsir tersebut lebih sedikit.

Referensi:

1 : 148

1 : 42

( )

 

18. MENYENTUH MEJA AL-QURAN BAGI ORANG HADATS

Pada malam bulan Ramadlan, syiar agama sangat semarak dengan banyaknya tadarus al-Quran di mushalla-mushalla. Lantunan al-Quran terdengung sampai di plosok-plosok desa. Sarana dan fasilitas dipersiapkan semuanya demi kelancaran tadarus. Mulai dari speaker, meja kecil tempat al-Quran, kopi, jajan dan lain sebagainya. Bagaimana hukum menyentuh meja kecil yang disediakan untuk tempat al-Quran bagi orang yang berhadats?

Jawab: Haram, jika di atasnya terdapat al-Quran.

Referensi:

1 : 372

 

19. MENYENTUH PAPAN YANG BERTULISKAN AL-QURAN

Untuk mempermudah menyampaikan pelajaran, ditempat-tempat ngaji sering disediakan fasilitas papan tulis. Tak jarang papan tulis tersebut ditulisi al-Quran. Bolehkah bagi yang berhadats menyentuh papan tulis yang bertuliskan ayat al-Quran?

Jawab: Tidak boleh, meskipun pada bagian yang tidak bertuliskan al-Quran. Karena papan tulis merupakan benda yang fungsinya untuk belajar mengajar. Dan itu dianggap menyerupai mushaf al-Quran.

Referensi:

1 : 372

 

20. HUKUM MENYENTUH SAMPUL AL-QURAN YANG TERPISAH

Telah diketahui, bagi yang berhadats tidak boleh menyentuh mushaf al-Quran, meliputi kertas yang tidak tertulis, sampul dan lain sebagainya. Bagaimana jika sampulnya telah terpisah, apakah menyentuhnya tetap diharamkan bagi yang berhadats?

Jawab: Tetap haram, selama belum digunakan sampul buku atau kitab selain al-Quran. Namun menurut Imam al-Isnwi hukumnya boleh.

Referensi:

1 : 74 75

( ) { }

 

21. STATUS TAFSIR YANG DITULIS DI PINGGIR

Disiplin ilmu yang membahas kandungan isi al-Quran (baca; kitab Tafsir) sangat beragam sekali. Ada yang ditulis di tengah, antara al-Quran dan tafsirnya jadi satu, ada juga model tafsir yang dipisah dari al-Qurannya, seperti tafsirnya ditulis dibawah atau dipinggir mushhaf al-Quran. Apakah tafsir yang ditulis dipinggir atau dibawah sama seperti tafsir pada umumnya ataukah masih dikatakan mushhaf, mengingat tafsirnya disendirikan dari al-Quran?

Jawab: Menurut Imam Romli hukumnya tetap sama dengan tafsir pada umumnya.

Referensi:

1 : 77

( ) ( )

 

22. MACAM-MACAM NIAT DALAM BERWUDLU

Dalam sebuah Hadits dijelaskan bahwa:keabsahan amal-amal tergantung pada niat. Kandungan dalam Hadits ini juga memasukkan ibadah berupa wudlu. Namun tidak sedikit masyarakat yang belum mengetahui ketentuan niat wudlu yang dianggap telah mencukupi. Sebatas manakah niat wudlu yang dianggap cukup?

Jawab: Niat yang dianggap cukup, apabila memilih diantara tiga pilihan;

Niat menghilangkan hadats atau bersuci dari hadats.

Niat supaya diperbolehkan melakukan shalat atau ibadah yang membutuhkan bersuci.

Niat fardlu wudlu atau niat melakukan wudlu.

Referensi:

1 : 18

.

 

23. BATASAN MELANGGENGKAN NIAT

Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa niat wudlu harus dilakukan pada saat pembasuhan wajah. Hanya saja kita kebingungan ketika ditanya apakah niat harus dilanggengkan sampai pembasuhan anggota terakhir atau hanya sampai selesainya membasuh wajah. Sampai kapankah niat itu harus dilakukan? Apakah sampai selesai?

Jawab: Niat tidak harus sampai akhir wudlu. Yang penting tidak ada kehendak untuk memutus wudlu.

Referensi:

1 : 139

 

Wudlu Bagian II

5. MEMBACA BASMALAH DI TENGAH WUDLU KARENA LUPA

Salah dan lupa merupakan sifat fitrah manusia yang tidak bisa dihindari. Hanya saja dengan berhati-hati semua itu bisa diminimalisir. Sebut saja kang Sotres yang sukanya grusa-grusu (croboh) dalam setiap tindakan termasuk ketika berwudlu. Bahkan kadang-kadang Ia tidak membaca basmalah disaat mau berwudlu, entah karena lupa atau memang disengaja. Jika pada permulaan wudlu sengaja atau lupa tidak membaca basmalah, apakah masih disunahkan untuk membaca basmalah dipertengahan wudlu?

Jawab: Tetap disunahkan, untuk lafadznya; . Atau cukup mengucapkan; .

Referensi:

1 : 160

1 : 123

 

6. DILEMA WUDLU DI KAMAR MANDI

Banyak sekali doa dan dzikir yang dianjurkan dalam bersuci. baik itu ketika mandi besar, ataupun wudlu. Namun yang menjadi dilema ketika bersuci dilakukan ditempat yang pernah digunakan buang hajat, seperti kamar mandi, WC dan sebagainya. Yang mana ditempat tersebut dilarang membaca doa ataupun dzikir. Apakah doa ataupun dzikir yang dianjurkan dalam bersuci tetap sunah dilakukan dalam kasus di atas?

Jawab: Tetap sunah, namun hanya di dalam hati.

Referensi:

1 : 194

1 : 194

 

7. TIGA BASUHAN KEDUA TANGAN TIDAK HARUS TERTIB

Termasuk dari kesunahan wudlu adalah membasuh tiap-tiap anggota sampai tiga basuhan. Hanya saja sedikit perlu ketegasan terkait ketentuan tiga basuhan kedua tangan, apakah harus dibasuh satu persatu ataukah boleh langsung bersamaan. Apakah kesunahan membasuh kedua tangan sampai tiga kali disyaratkan harus tertib, yakni mendahulukan tangan kanan sebelum tangan kiri?

Jawab: Tidak harus tertib.

Referensi:

1 : 127-128

 

8. PEMBASUHAN RAMBUT GONDRONG

Rambut merupakan sebuah mahkota bagi mereka yang menggapnya. Tak heran, para pemuja rambut rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk memodif rambutnya. Sementara bagi mereka yang ingin bergaya tapi uang tak punya, cukup meng-gondrong-kan rambutnya. Apakah mengusap ujung rambut yang panjang (jawa; gondrong) dapat mencukupi?

Jawab: Tidak dapat mencukupi, kecuali jika rambut itu diulur tidak keluar dari batas kepala. Untuk kejelasannya adalah;

Rambut kepala yang bagian depan dianggap masih dalam batas kepala jika rambut tersebut diulur ke bawah, maka tidak melebihi janggut.

Rambut kepala bagian kanan dan kiri dianggap masih dalam batas kepala jika rambut itu diulur ke bawah, tidak melebihi pundak.

Sedangkan rambut kepala bagian belakang dianggap masih dalam batas kepala jika rambut tersebut diulur ke bawah, maka tidak melebihi tengkuk.

Referensi:

: 16

 

9. MATA TERDAPAT BELEK

Belek (kotoran mata) yang menempel dimata, baik karena bangun tidur atau sakit mata, kadang-kadang walaupun sudah cuci muka, masih saja belum hilang melekat dibagian sekeliling rambut mata. Bahkan mereka yang baru selesai dari wudlunya, ketika bercermin ternyata masih terdapat belek yang masih menempel. Hal ini menimbulkan tanda tanya terkait syaratnya wudlu, yaitu tidak ada penghalang yang bisa mencegah sampainya air pada kulit. Sahkah wudlunya seseorang yang masih terdapat belek di matanya?

Jawab: Tidak sah jika bisa menghalangi sampainya air.

Referensi:

1 : 66

 

10. KOTORAN KUKU

Kotoran yang terdapat pada kuku mencerminkan kepribadian seseorang. Namun hal itu tidak berlaku bagi petani dimana kesehariannya tak luput dari bersentuhan dengan lumpur. Apalagi tukang service yang selalu bergelut dengan oli dan sebagainya. Sahkah wudlunya jika di bawah kukunya terdapat kotoran yang menghalangi sampainya air ke kulit?

Jawab: Menurut imam al-Ghazly, al-Juwainy dan al-Qaffl tetap sah.

Referensi:

: 22

.

 

Bab Wudlu

1. KESUNAHAN WUDLU HARUS DINIATI

Niat termasuk syarat mulak dari keabsahan sebuah ibadah adalah niat, tak terkecuali dalam wudlu, dimana niat merupakan rukun pertama yang harus dilakukan ketika membasuh muka. Apakah dalam melakukan kesunahan-kesunahan wudlu juga diperlukan niat?

Jawab: Ya, harus berniat untuk mendapatkan pahala kesunahan. Sedangkan waktunya, saat membasuh kedua telapak tangan.

Referensi:

1 : 199

1 : 159

 

2. MENGULANGI WUDLU KARENA RAGU-RAGU

Untuk menepis keraguan tentang batal dan tidaknya wudlu yang sudah dilakukan, seseorang mempunyai inisiatif melakukan wudlu kembali. Namun selesai berwudlu dia ingat, ternyata wudlu yang pertamanya sudah batal. Sahkah wudlunya yang kedua, mengingat ia melakukan wudlu disertai dengan ragu-ragu?

Jawab: Tidak sah, karena syarat dari niat harus dilakukan dengan mantap.

Referensi:

1 : 19

( )

 

3. WAKTU DISUNAHKANNYA TAJDÎD AL-WUDLÛ

Walaupun masalah wudlu kayaknya bagi umat Islam termasuk masalah mudah yang biasa kita lakukan setiap saat. Namun terkadang dikalangan orang awam terlalu apatis (masa bodoh) terhadap kesunahan-kesunahan wudlu, akibatnya tidak begitu paham kejelasan tatacaranya, seperti; masalah tajdd al-wudl (memperbaharui wudlu).

a. Kapankah tajdd al-wudl tersebut disunahkan?

Jawab: Menurut pendapat yang paling kuat, tajdd al-wudl disunahkan jika wudlu pertama telah digunakan untuk melakukan shalat, meskipun hanya shalat sunah.

Referensi:

: 39

( )

 

b. Cukupkah dalam wudlu kedua (tajdd al-wudl) niat menghilangkan hadats, mengingat dia tidak berhadats?

Jawab: Tetap mencukupi menurut Imam Ibn Hajar dan Ibn Imd.

Referensi:

1 : 103-104

 

4. TATACARA MEMBASUH WAJAH SECARA SEMPURNA

(sesuatu yang tidak wajib menjadi sebuah kewajiban, jika menjadi penyempurna perkara wajib). Itulah konsep yang di rumuskan oleh para ulama. Oleh karenanya, keterangan diatas meliputi segala jenis ibadah termasuk membasuh anggota wudlu. Untuk kesempurnaan pembasuhan wajah, anggota bagian manakah yang harus dibasuh?

Jawab: Sebagian kepala, leher dan bawah dagu.

Referensi:

1 : 416

( )

 

Beberapa Problem dalam Toharoh

BAB BERSUCI

(Thahrah; Cleaning before Praying)

 

1. KOLAM WUDLU TERKOTAK-KOTAK

Kolam tempat wudlu, adakalanya memanjang dengan beberapa sekat pemisah dan di tengahnya dibuatkan lubang kecil sebagai penghubung, sehingga berbentuk kotak-kotak. Apakah ukuran dua qullah atau tidaknya dihitung perkotak, karena dianggap pisah-pisah ataukah semuanya dianggap satu tempat?

Jawab: Semuanya dianggap satu tempat, jika air yang terdapat pada salah satu kotak digerakkan, maka air pada kotak yang lain ikut bergerak.

Referensi:

1 : 40

 

2. BAU AIR BERUBAH AKIBAT BERSANDING BANGKAI

Bangkai tikus yang sudah membusuk, akan mengeluarkan bau yang sangat menyengat. Bau tak sedap itu, akan menyebar ditempat-tempat sekelilingnya. Bahkan air yang tidak jauh dari bangkaipun, baunya ikut berubah karenanya. Apakah perubahan air akibat berdampingan dengan bangkai berdampak terhadap kesuciannya?

Jawab: Tidak, yakni airnya tetap suci mensucikan.

Referensi:

1 : 90

( ) .

 

3. STATUS BUSA AIR KENCING

Sering kita temui, ketika seseorang kencing di sungai, permukaan air mengeluarkan busa. Tak jarang busa tersebut mengenai pada betis atau celana. Bagaimana status busa tersebut?

Jawab: Suci, selagi busa tersebut tidak dipastikan bagian dari air kencing.

Referensi:

1 : 40

 

4. FENOMENA BUANG HAJAT DI SUNGAI

Buang air besar di sungai, merupakan tradisi masyarakat pedesaan. Hal ini menimbulkan masalah tersendiri, ketika pantulan air menyebar kemana-mana disaat jatuhnya kotoran ke sungai. Najiskah percikan air tersebut?

Jawab: Tidak.

Referensi:

1 : 42

 

5. WUDLU DI SUNGAI YANG ADA KOTORAN MANUSIA

Sungai-sungai di pedesaan, kegunaanya sangat multi fungsi. Disamping digunakan sebagai mandi dan mencuci dan juga sungai tersebut dimanfaatkan sebagai tempat berak. Akibatnya, seringkali kita temukan kotoran-kotoran manusia terapung bak perahu yang sedang berlayar. Apakah ketika berwudlu, posisi kita harus menjauh dari benda najis terdebut?

Jawab: Tidak harus menjauh, karena air yang lebih dari dua qullah, tetap suci selama tidak berubah.

Referensi:

1 : 192

( ) ( )

 

6. AIR MUTANAJJIS NETRAL KEMBALI

Air dua qullah setatusnya menjadi mutanajjis bila salah satu dari sifatnya berubah akibat terkena benda najis. Baik yang berubah berupa bau, rasa ataupun warnanya. Jika perubahan tersebut hilang dengan sendirinya, apakah bisa kembali suci mensucikan?

Jawab: Ya, dapat suci mensucikan kembali. Karena penyebab najisnya sudah hilang.

Referensi:

1 : 86

( ) ( ) ( )

 

7. AIR SEDIKIT TERKENA NAJIS TAPI TIDAK BERUBAH

Sungguh memperihatinkan kehidupan orang-orang yang berada di daerah yang kekeringan. Untuk mendapatkan air satu ember saja mereka harus rela menunggu hingga berjam-jam. Bahkan saking sulitnya mendapatkan air, mereka sampai tidak menghiraukan dalam mengambil air tersebut. Sehingga tak jarang air yang mereka bawa terkena percikan-percikan air yang jatuh ke tanah. Adakah ulama dari kalangan Syafiiyyah yang berpendapat, bahwa air sedikit ketika terkena najis tetap suci mensucikan?

Jawab: Ada. Yaitu pendapat Imam Ibn al-Mundzir, al-Ghazly dan ar-Ryni. Asalkan air yang terkena najis tersebut tidak berubah.

Referensi:

1 : 30

 

8. AIR MUSTAMAL BOLEH DIPAKAI

Air mustamal adalah air yang sudah digunakan untuk menghilangkan najis ataupun hadast dan hukumnya suci namun tidak bisa dibuat bersuci lagi. Adakah pendapat yang memperbolehkan air mustamal dibuat bersuci kembali, mengingat di desa-desa yang kekeringan sulit mendapatkan air untuk bersuci?

Jawab: Ada, yaitu pendapat Imam Zuhry, Imam Mlik dan Imam al-AuzI serta pendapat Imam Ibn al-Mundzir.

Referensi:

1 : 206

 

9. SEMUT DALAM MINUMAN

Dimana ada gula pasti disana ada semut, itulah alasan sulitnya terhindar dari bangkainya semut. Sehingga saat memasukkan gula untuk membuat secangkir teh atau kopi, bangkainya semut sering terbawa dan mengambang dalam sebuah minuman. Apakah masuknya bangkainya semut dalam kasus diatas dapat menajiskan?

Jawab: Tidak menajiskan, karena bangkai tersebut hanya terbawa, bukan sengaja dimasukkan.

Referensi:

1 : 35

 

10. BANGKAI NYAMUK DIKELUARKAN JATUH KEMBALI

Biasanya minuman yang tidak tertutup, banyak kemasukan hewan-hewan kecil, seperti; nyamuk, semut atau yang lain, bahkan terkadang sampai mati di dalamnya. Akibatnya sebelum menikmati minuman tersebut terlabih dahulu harus mengeluarkan bangkainya hewan. Apakah bangkai hewan yang saat dikeluarkan jatuh kembali ke sebuah minuman tetap di-mafu?

Jawab: Ya, tetap di-mafu (tidak menajiskan).

Referensi:

1 : 324

 

11. AIR AQUARIUM TERDAPAT KOTORAN IKAN

Aquarium dengan beraneka ragam ikan hias, merupakan pilihan tepat untuk menghiasi ruang tamu. Tak jarang aquarium tersebut banyak terdapat kotoran ikannya. Bagaimana status air aquarium yang terdapat kotoran ikan?

Jawab: Hukumnya mutanajjis, karena tujuan hiasan tidak termasuk hajat.

Referensi:

1 : 89

( )

 

12. AIR KOLAM BERUBAH KARENA KEJATUHAN DAUN

Karena terlalu banyaknya dedaunan yang berjatuhan di kolam, warna airnya berubah kehijau-hijauan. Bahkan perubahan tersebut sampai berdampak pada rasanya, akibat membusuknya dedaunan yang terendam di kolam tersebut. Bolehkah air itu dibuat bersuci?

Jawab: Tetap diperbolehkan, karena hal tersebut sulit dihindarkan.

Referensi:

: 10

 

13. AIR TERCAMPUR MINYAK

Karena banyaknya kecampuran dengan sejenis minyak, baik berupa minyak wangi, minyak tanah atau minyak goreng, salah satu dari sifatnya air ada yang berubah. Bahkan perubahan tersebut sangat kentara banget. Apakah perubahan air akibat kejaruhan minyak dapat merubah status hukumnya?

Jawab: Tidak merubah, yakni tetap suci mensucikan. Sebab perubahan tersebut hanya terpengaruh oleh aroma. Karena minyak termasuk benda mujwir (benda yang tidak bisa larut dengan air), bukan benda mukhlit yang bisa menyatu dengan air.

Referensi:

1 : 8

( ) ( ) ( ) ( )

 

14. PERUBAHAN YANG BISA MENGHILANGKAN KEMUTLAKAN AIR

Dalam literatur kutubussalaf dijelaskan, bahwa air mutaghayyir adalah air yang salah satu sifatnya berubah sampai menghilangkan kemutlakan nama air dan hukumnya suci tapi tidak mensucikan. Kendati demikian, masih ada beberapa hal yang perlu ketegasan terkait keterangan diatas. Diantaranya adalah batasan hilang dan tidaknya sebuah kemutlakan nama air. Sejauh mana perubahan bisa dikatakan menghilangkan kemutlakan nama air?

Jawab: Sekira ketika air tercampur dengan sesuatu, bentuk perubahannya banyak dan air tidak akan disebut, kecuali dengan sebutan yang mengikat, seperti; air teh, air kuah, air susu, atau semacamnya. Berbeda jika perubahannya sedikit. Sehingga hanya disebut dengan air yang berbau susu atau bau teh.

Referensi:

1 : 21

( )

 

15. AIR KERUH JERNIH KEMBALI KARENA KAPORIT

Di zaman yang serba canggih ini, semuanya harus praktis, higienis, dan innovative. Air yang semula keruh, menjadi jernih kembali, hanya dengan memasukkan zat tertentu seperti kaporit. Apakah air tersebut dapat digunakan bersuci?

Jawab: Ya, dapat digunakan bersuci.

Referens:

: 47

 

16. WARNA AIR KOLAM BERUBAH WARNA

Air kolam yang lama tidak terpakai, biasanya warnanya berubah. Bahkan sampai kehijau-hijauan, apalagi kalau ada lumutnya. Apakah air tersebut masih bisa dibuat sesuci?

Jawab: Tetap mensucikan.

Referensi:

1 : 67

( ) ( )

 

17. RAGU-RAGU TENTANG PERUBAHAN AIR

Telah disebutkan, bahwa ketika perubahan sifat air sangat dominan, sehingga menghilangkan sifat mutlaknya air, maka air tidak mensucikan lagi. Bagaimana jika ragu-ragu mengenai banyak sedikitnya perubahan air tersebut?

Jawab: Tetap mensucikan, karena hukum asal air tersebut adalah suci. Dan hukum asal, tidak akan berubah hanya dengan sekedar keraguan.

Referensi:

1 : 119

( ) ( )

 

18. AIR REBUSAN

Seperti biasa, sebelum air sumur mau dikonsumsi terlebih dahulu harus direbus sampai mendidih. Karena air tersebut sudah khusus untuk diminum, akhirnya masyarakat menganggap air itu tidak boleh digunakan untuk bersuci. Apakah air yang sudah direbus untuk dijadikan minuman tetap berstatus air mutlak, sehingga bisa untuk mensucikan?

Jawab: Ya.

Referensi:

1 : 51

 

19. AIR JEDING BERBAU KARENA BANGKAI IKAN

Menaruh ikan dalam jeding, merupakan hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat, sebab dengan cara seperti itu, air dapat bertahan lama. Karena kotoran-kotoran yang ditimbulkan dari air tersebut biasanya dimakan oleh ikan. Namun tak jarang ikan tersebut mati membusuk di dalamnya. Apakah air kolam yang baunya berubah anyir akibat bangkainya ikan tetap suci mensucikan?

Jawab: Ya tetap suci mensucikan, jika bangkai tersebut tidak mengeluarkan cairan aroma busuk yang bisa menyatu dengan air. Karena bangkai ikan tetap suci.

Referensi:

5 : 270

( ) ( )

 

20. AIR JEDING BANYAK KEJATUHAN AIR MUSTAMAL

Sering terjadi, ketika air jeding yang berisi dua qullah atau lebih, sedang digunakan wudlu oleh para jamaah, tentunya banyak air mustamal berjatuhan masuk ke dalam jeding lagi. Hal ini menimbulkan tanda tanya terkait bisa dan tidaknya dibuat bersuci. Apakah air tersebut dapat digunakan kembali?

Jawab: Dapat digunakan lagi, karena air berukuran dua qullah atau lebih tidak dapat berstatus mustamal.

Referensi:

1 : 87

( ) ( )

 

21. PERBEDAAN ANTARA MUKHÂLITH DAN MUJÂWIR

Air yang salah satu sifatnya berubah tidak bisa dibuat bersuci lagi, jika perubahannya akibat benda yang mukhlith bukan mujwir. Apa perbedaan mukhlith dan mujwir tersebut?

Jawab: Mukhlith adalah benda yang tidak dapat dipisahkan dari air (baca: lebur). Sedangkan mujwir adalah kebalikannya. Hanya saja ada benda yang selamanya mujwir, seperti; batu. Ada yang berupa mukhlith, kemudian menjadi mujwir, seperti; debu. Dan ada pula yang menjadi mujwir, kemudian menjadi mukhlith, semisal daun teh.

Referensi:

1 : 22

( )

 

BAB BERSUCI

(Thahrah; Cleaning before Praying)

 

1. KOLAM WUDLU TERKOTAK-KOTAK

Kolam tempat wudlu, adakalanya memanjang dengan beberapa sekat pemisah dan di tengahnya dibuatkan lubang kecil sebagai penghubung, sehingga berbentuk kotak-kotak. Apakah ukuran dua qullah atau tidaknya dihitung perkotak, karena dianggap pisah-pisah ataukah semuanya dianggap satu tempat?

Jawab: Semuanya dianggap satu tempat, jika air yang terdapat pada salah satu kotak digerakkan, maka air pada kotak yang lain ikut bergerak.

Referensi:

1 : 40

 

2. BAU AIR BERUBAH AKIBAT BERSANDING BANGKAI

Bangkai tikus yang sudah membusuk, akan mengeluarkan bau yang sangat menyengat. Bau tak sedap itu, akan menyebar ditempat-tempat sekelilingnya. Bahkan air yang tidak jauh dari bangkaipun, baunya ikut berubah karenanya. Apakah perubahan air akibat berdampingan dengan bangkai berdampak terhadap kesuciannya?

Jawab: Tidak, yakni airnya tetap suci mensucikan.

Referensi:

1 : 90

( ) .

 

3. STATUS BUSA AIR KENCING

Sering kita temui, ketika seseorang kencing di sungai, permukaan air mengeluarkan busa. Tak jarang busa tersebut mengenai pada betis atau celana. Bagaimana status busa tersebut?

Jawab: Suci, selagi busa tersebut tidak dipastikan bagian dari air kencing.

Referensi:

1 : 40

 

4. FENOMENA BUANG HAJAT DI SUNGAI

Buang air besar di sungai, merupakan tradisi masyarakat pedesaan. Hal ini menimbulkan masalah tersendiri, ketika pantulan air menyebar kemana-mana disaat jatuhnya kotoran ke sungai. Najiskah percikan air tersebut?

Jawab: Tidak.

Referensi:

1 : 42

 

5. WUDLU DI SUNGAI YANG ADA KOTORAN MANUSIA

Sungai-sungai di pedesaan, kegunaanya sangat multi fungsi. Disamping digunakan sebagai mandi dan mencuci dan juga sungai tersebut dimanfaatkan sebagai tempat berak. Akibatnya, seringkali kita temukan kotoran-kotoran manusia terapung bak perahu yang sedang berlayar. Apakah ketika berwudlu, posisi kita harus menjauh dari benda najis terdebut?

Jawab: Tidak harus menjauh, karena air yang lebih dari dua qullah, tetap suci selama tidak berubah.

Referensi:

1 : 192

( ) ( )

 

6. AIR MUTANAJJIS NETRAL KEMBALI

Air dua qullah setatusnya menjadi mutanajjis bila salah satu dari sifatnya berubah akibat terkena benda najis. Baik yang berubah berupa bau, rasa ataupun warnanya. Jika perubahan tersebut hilang dengan sendirinya, apakah bisa kembali suci mensucikan?

Jawab: Ya, dapat suci mensucikan kembali. Karena penyebab najisnya sudah hilang.

Referensi:

1 : 86

( ) ( ) ( )

 

7. AIR SEDIKIT TERKENA NAJIS TAPI TIDAK BERUBAH

Sungguh memperihatinkan kehidupan orang-orang yang berada di daerah yang kekeringan. Untuk mendapatkan air satu ember saja mereka harus rela menunggu hingga berjam-jam. Bahkan saking sulitnya mendapatkan air, mereka sampai tidak menghiraukan dalam mengambil air tersebut. Sehingga tak jarang air yang mereka bawa terkena percikan-percikan air yang jatuh ke tanah. Adakah ulama dari kalangan Syafiiyyah yang berpendapat, bahwa air sedikit ketika terkena najis tetap suci mensucikan?

Jawab: Ada. Yaitu pendapat Imam Ibn al-Mundzir, al-Ghazly dan ar-Ryni. Asalkan air yang terkena najis tersebut tidak berubah.

Referensi:

1 : 30

 

8. AIR MUSTAMAL BOLEH DIPAKAI

Air mustamal adalah air yang sudah digunakan untuk menghilangkan najis ataupun hadast dan hukumnya suci namun tidak bisa dibuat bersuci lagi. Adakah pendapat yang memperbolehkan air mustamal dibuat bersuci kembali, mengingat di desa-desa yang kekeringan sulit mendapatkan air untuk bersuci?

Jawab: Ada, yaitu pendapat Imam Zuhry, Imam Mlik dan Imam al-AuzI serta pendapat Imam Ibn al-Mundzir.

Referensi:

1 : 206

 

9. SEMUT DALAM MINUMAN

Dimana ada gula pasti disana ada semut, itulah alasan sulitnya terhindar dari bangkainya semut. Sehingga saat memasukkan gula untuk membuat secangkir teh atau kopi, bangkainya semut sering terbawa dan mengambang dalam sebuah minuman. Apakah masuknya bangkainya semut dalam kasus diatas dapat menajiskan?

Jawab: Tidak menajiskan, karena bangkai tersebut hanya terbawa, bukan sengaja dimasukkan.

Referensi:

1 : 35

 

10. BANGKAI NYAMUK DIKELUARKAN JATUH KEMBALI

Biasanya minuman yang tidak tertutup, banyak kemasukan hewan-hewan kecil, seperti; nyamuk, semut atau yang lain, bahkan terkadang sampai mati di dalamnya. Akibatnya sebelum menikmati minuman tersebut terlabih dahulu harus mengeluarkan bangkainya hewan. Apakah bangkai hewan yang saat dikeluarkan jatuh kembali ke sebuah minuman tetap di-mafu?

Jawab: Ya, tetap di-mafu (tidak menajiskan).

Referensi:

1 : 324

 

11. AIR AQUARIUM TERDAPAT KOTORAN IKAN

Aquarium dengan beraneka ragam ikan hias, merupakan pilihan tepat untuk menghiasi ruang tamu. Tak jarang aquarium tersebut banyak terdapat kotoran ikannya. Bagaimana status air aquarium yang terdapat kotoran ikan?

Jawab: Hukumnya mutanajjis, karena tujuan hiasan tidak termasuk hajat.

Referensi:

1 : 89

( )

 

12. AIR KOLAM BERUBAH KARENA KEJATUHAN DAUN

Karena terlalu banyaknya dedaunan yang berjatuhan di kolam, warna airnya berubah kehijau-hijauan. Bahkan perubahan tersebut sampai berdampak pada rasanya, akibat membusuknya dedaunan yang terendam di kolam tersebut. Bolehkah air itu dibuat bersuci?

Jawab: Tetap diperbolehkan, karena hal tersebut sulit dihindarkan.

Referensi:

: 10

 

13. AIR TERCAMPUR MINYAK

Karena banyaknya kecampuran dengan sejenis minyak, baik berupa minyak wangi, minyak tanah atau minyak goreng, salah satu dari sifatnya air ada yang berubah. Bahkan perubahan tersebut sangat kentara banget. Apakah perubahan air akibat kejaruhan minyak dapat merubah status hukumnya?

Jawab: Tidak merubah, yakni tetap suci mensucikan. Sebab perubahan tersebut hanya terpengaruh oleh aroma. Karena minyak termasuk benda mujwir (benda yang tidak bisa larut dengan air), bukan benda mukhlit yang bisa menyatu dengan air.

Referensi:

1 : 8

( ) ( ) ( ) ( )

 

14. PERUBAHAN YANG BISA MENGHILANGKAN KEMUTLAKAN AIR

Dalam literatur kutubussalaf dijelaskan, bahwa air mutaghayyir adalah air yang salah satu sifatnya berubah sampai menghilangkan kemutlakan nama air dan hukumnya suci tapi tidak mensucikan. Kendati demikian, masih ada beberapa hal yang perlu ketegasan terkait keterangan diatas. Diantaranya adalah batasan hilang dan tidaknya sebuah kemutlakan nama air. Sejauh mana perubahan bisa dikatakan menghilangkan kemutlakan nama air?

Jawab: Sekira ketika air tercampur dengan sesuatu, bentuk perubahannya banyak dan air tidak akan disebut, kecuali dengan sebutan yang mengikat, seperti; air teh, air kuah, air susu, atau semacamnya. Berbeda jika perubahannya sedikit. Sehingga hanya disebut dengan air yang berbau susu atau bau teh.

Referensi:

1 : 21

( )

 

15. AIR KERUH JERNIH KEMBALI KARENA KAPORIT

Di zaman yang serba canggih ini, semuanya harus praktis, higienis, dan innovative. Air yang semula keruh, menjadi jernih kembali, hanya dengan memasukkan zat tertentu seperti kaporit. Apakah air tersebut dapat digunakan bersuci?

Jawab: Ya, dapat digunakan bersuci.

Referens:

: 47

 

16. WARNA AIR KOLAM BERUBAH WARNA

Air kolam yang lama tidak terpakai, biasanya warnanya berubah. Bahkan sampai kehijau-hijauan, apalagi kalau ada lumutnya. Apakah air tersebut masih bisa dibuat sesuci?

Jawab: Tetap mensucikan.

Referensi:

1 : 67

( ) ( )

 

17. RAGU-RAGU TENTANG PERUBAHAN AIR

Telah disebutkan, bahwa ketika perubahan sifat air sangat dominan, sehingga menghilangkan sifat mutlaknya air, maka air tidak mensucikan lagi. Bagaimana jika ragu-ragu mengenai banyak sedikitnya perubahan air tersebut?

Jawab: Tetap mensucikan, karena hukum asal air tersebut adalah suci. Dan hukum asal, tidak akan berubah hanya dengan sekedar keraguan.

Referensi:

1 : 119

( ) ( )

 

18. AIR REBUSAN

Seperti biasa, sebelum air sumur mau dikonsumsi terlebih dahulu harus direbus sampai mendidih. Karena air tersebut sudah khusus untuk diminum, akhirnya masyarakat menganggap air itu tidak boleh digunakan untuk bersuci. Apakah air yang sudah direbus untuk dijadikan minuman tetap berstatus air mutlak, sehingga bisa untuk mensucikan?

Jawab: Ya.

Referensi:

1 : 51

 

19. AIR JEDING BERBAU KARENA BANGKAI IKAN

Menaruh ikan dalam jeding, merupakan hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat, sebab dengan cara seperti itu, air dapat bertahan lama. Karena kotoran-kotoran yang ditimbulkan dari air tersebut biasanya dimakan oleh ikan. Namun tak jarang ikan tersebut mati membusuk di dalamnya. Apakah air kolam yang baunya berubah anyir akibat bangkainya ikan tetap suci mensucikan?

Jawab: Ya tetap suci mensucikan, jika bangkai tersebut tidak mengeluarkan cairan aroma busuk yang bisa menyatu dengan air. Karena bangkai ikan tetap suci.

Referensi:

5 : 270

( ) ( )

 

20. AIR JEDING BANYAK KEJATUHAN AIR MUSTAMAL

Sering terjadi, ketika air jeding yang berisi dua qullah atau lebih, sedang digunakan wudlu oleh para jamaah, tentunya banyak air mustamal berjatuhan masuk ke dalam jeding lagi. Hal ini menimbulkan tanda tanya terkait bisa dan tidaknya dibuat bersuci. Apakah air tersebut dapat digunakan kembali?

Jawab: Dapat digunakan lagi, karena air berukuran dua qullah atau lebih tidak dapat berstatus mustamal.

Referensi:

1 : 87

( ) ( )

 

21. PERBEDAAN ANTARA MUKHÂLITH DAN MUJÂWIR

Air yang salah satu sifatnya berubah tidak bisa dibuat bersuci lagi, jika perubahannya akibat benda yang mukhlith bukan mujwir. Apa perbedaan mukhlith dan mujwir tersebut?

Jawab: Mukhlith adalah benda yang tidak dapat dipisahkan dari air (baca: lebur). Sedangkan mujwir adalah kebalikannya. Hanya saja ada benda yang selamanya mujwir, seperti; batu. Ada yang berupa mukhlith, kemudian menjadi mujwir, seperti; debu. Dan ada pula yang menjadi mujwir, kemudian menjadi mukhlith, semisal daun teh.

Referensi:

1 : 22

( )