Bermadzhab Jama'i

Dalam dekade muqollidin dewasa ini seringkali kita dihadapkan pada problematika yang tidak diketahui kepastian hukumnya, karena tidak disinggung dalam kitab-kitab muktabaroh/kutubus salaf. Kalaupun ada itu hanya dengan tersirat atau mirip-mirip saja. Kadang kala masalah tersebut diputuskan dengan suatu kaidah usuliyah atau kaidah fiqhiyah lalu finallah masalah itu.

Adapun yang ingin kami tanyakan dari Bapak pengasuh adalah:

  1. Sebatas manakah kebolehannya menyamakan masalah baru tersebut dengan masalah yang termaktub dalam kitab-kitab muktabaroh/kutubus salaf sehingga hukumnya bisa disamakan?

  2. Apa sajakah syarat yang harus dipenuhi dalam memasukkan atau menghukumi suatu masalah dengan kaidah-kaidah usuliyah ataupun kaidah-kaidah fiqhiyah?

Jawaban:

  1. Seseorang boleh menyamakan hukum dari suatu masalah yang baru dengan hukum dari masalah yang telah termaktub dalam kitab-kitab Muktabaroh/kutubus salaf, manakala ia telah mencapai derajat seorang mufti.

  2. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang mufti dapat kita jumpai antara lain dalam kitab Majmu' syarah al Muhadzdzabjuz 1 halaman 40-47 yang antara lain berbunyi:

    (الحَالَةُ الرَّبِعَةُ: أنْ يَقُومَ بِحِفْظِ المَذْهَبِ وَ نَقْلِهِ وَفَهْمِهِ فِى الوَاضَحَاتِ وَالمُسْكِلَةِ وَلَكِنْ عِنْدَهُ ضُعْفٌ تَقْرِيْرِ أَدِلَّتِهِ وَتَحْرِيْرِقِيَسَتِهِ. فَهَذَا يَعْتَمِدُ نَقْلِهِ وَفَتْوَاهُ بِهِ فِيمَا يَحْكِيْهِ مِنْ مَسْتُورَاتِ مَذْهَبِهِ مِنْ نُصُوصِ إمَامِهِ وَتَفْرِيْعِ المُجتَهِدِيْنَ فِى مَذْهَبِهِ. وَمَا لاَيَجِدُهُ مَنْقُولاً إن وُجِدَ فِى المَنْقُولِ مَعْنَاهُ بِحَيْثُ يُدْرَكُ بِغَيْرِ كِبِيْرِ فِكْرٍأنَّهُ لاَفَرْقَ بَيْنَهُمَا, جَازَ إلْحَاقُهُ بِهِ الفَتْوَى بِهِ. وَكَذَا مَا يُعْلَمُ إنْدِرَاجُهُ تَحْتَ ضَابِط ممهد فى المَذهَبِ. وَمَا لَيْسَ كَذَالِكَ يَجِبُ إِمْسَاكُهٌ عَنِ الفَتْوَى فِيْهِ.

    Dari pengertian yang dapat kita peroleh maka sistem bermadzhab yang harus kita lakukan adalah bermadzhab secara qouli. Jika kita ternyata menghadapi sesuatu masalah baru yang tidak termaktub dalam kitab madzhab secara jelas, maka sistem bermadzhab yang harus kita lakukan adalah secara manhaji (dalam arti sempit). Karena bermadzhab secara manhaji sulit didapati di Indonesia secara perorangan (fardy) maka menurut keputusan halaqoh yang diselenggarakan RMI (Rabithah Maahid Islamy) di Denanyar Jombang beberapa tahun lalu, harus dilakukan secara Jama'iy.