Tentang Menguruk Sungai dan Tentang Aurat Wanita

  1. Si Fulan rumahnya di pinggir sungai. Ia menanami tepi sungai dengan tanaman air seperti enceng gondok, kerangkong dll. Tanaman tersebut terus berkembang biak sehingga menjadi luas. Pada bagian tepinya ia gunakan untuk buang sampah, kadang-kadang ia juga menebang pohon di tepi sungai, kemudian dilemparkan di atas enceng gondok tersebut.

    Dari tumpukan sampah dan daun yang membusuk, serta endapan lumpur ahirnya tanah pak fulan ber tambah luas menjorok ke sungai. Tanah yang semula lokasi sungai berubah menjadi miliknya. Rumah yang dulu di pinggir sungai, kini bisa menambah beberapa kamar lagi berkat keberhasilan pak fulan menguruk sungai tersebut.

    Bagaimana hukumnya mendapatkan tanah dengan cara tersebut? Mohon disertai dasar pengambilannya.

  2. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Namun dalam budaya kita (termasuk di dalamnya ustadzah, pengurus Muslimat, bu Nyai, dll) mereka mengenakan jarik, kebaya, dan kerpus. Sekilas mereka memang menutup aurat, tetapi bila diteliti masih banyak bagian yang belum tertutup. Di antaranya telinga, leher, sedikit bagian dada, kaki, dan tangan.

    Bagaimanakah hukum membuka sebagian aurat tersebut? Haramkah? Mohon penjelasanya dari Bapak kiai.

Jawaban:

  1. Hukumya haram, karana dia telah melakukan perbuatan ghasab, yaitu mempergunakan yang bukan hak miliknya tanpa izin.

    Dasar pengambilan:

     

    1. Hadist riwayat Sayyidah Aisyah ra yang disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim:

      مَنْ ظَلَمَ قَيْدَ شِبْرٍ مِنَ الأرْضِ طُوِّ قَََََََََََََََََََََهُ مِنْ سَبْعِ اَرَضِيْنَ

       

      ”Barangsiapa yang berbuat zalim (merampas) tanah sepanjang satu jengkal, maka tanah tersebut sejak dari bumi yang ke tujuh akan dikalungkan kepadanya di hari kiamat”.

       

    2. Kitab at Tadzhib halaman 139:

      (فَََََصْلُ) وَمَنْ غَصَبَ مالاً لاَِحَدِ لَزِمَهُ رَدُّهُ وَالغَصْبُ مِنَ الَكَبَائِرِ، وَالأَصْلُ فىِ تَحْرِيْمِهِ اياَتُ كَثِيْرَةُ ، مِنْهاَ قَوْ لُهُ تَعَالَى: وَلاَتأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ باِلْبَاطِلِ. (سورة البشرة: 188)

       

      (Pasal) Barang siapa yang mengambil harta milik orang lain tanpa izin, maka dia wajib mengembalikannya. Ghasab itu adalah termasuk dosa besar, dan dasar keharamannya adalah ayat-ayat yang banyak, yang antara lain firman Allah dalam surat Al Baqarah: 188, “Dan janganlah sebahagian dari kamu sekalian memakan harta sebahagian dari kamu sekalian dengan jalan bathil ...”
       

  2. Hukumnya haram, dan ada pula yang menyatakan makruh jika tidak menimbulkan syahwat bagi orang yang memandangnya.

    Dasar pengambilan:

    Kitab Fathul Muin hamisy kitab I’anatut Thalibin juz 3 halaman 260:

    وَلاَ يَحِلُّ النَّظْرُ إِلَى عُنُقِ الحُرَّةِ وَرَأْسِهَا قَطْعًا. وَقِيْلَ يَحِلُّ مَعَ الكَرَاهَةِ النَّظْرُ بِلاَ شَهْوَةٍ.

    Dan tidak halal memandang leher dan kepala wanita merdeka secara mutlak. Dan dikatakan makruh memandangnya dengan tanpa syahwat.