Adzan, Tahlil dan Dzikir Fida'

Seperti kebiasaan yang terjadi di masyarakat setiap jenazah yang dimasukkan ke liang lahat, sebelum ditutup dengan tanah lalu pak mudin mengazani dan mengiqomahi akan tetapi iqomahnya tidak sama dengan iqomahnya waktu salat akan dimulai.

  1. Apakah benar atau memang ada qod qoomatil qiyamah itu? Mohon penjelasan.

  2. Bagaimana hukumnya membaca tahlil atau ikut mendoakan orang yang telah meninggal dunia, padahal dia selama hidupnya tidak pernah mengerjakan salat walaupun dia orang Islam/Islam KTP? Mohon penjelasan.

  3. Apakah benar menjadi seorang imam dzikir fida’ itu harus sudah minta ijin atau ijazah dari seorang guru mursyid? mohon penjelasan.

Jawaban:

  1. Dalam kitab Tanbihul Ghofilin bab Siddatu Alamil Maut kami memang menjumpai kata-kata qod qoomatil qiyamah yang dipergunakan untuk “kematian” seseorang. Akan tetapi bahwa bacaan iqomah qod qoomatis sholah diganti dengan qod qoomatil qiyamah maka hukumnya tidak boleh sebab lafadz iqomah sebagaimana lafadz adzan adalah sudah ditentukan oleh Nabi Muhammad saw. Sebagaimana misalnya adzan subuh, meskipun lafadz ruquud adalah sama artinya dengan lafadz naum akan tetapi tidak boleh lafadz as sholaatu khoirum minan naum diganti dengan lafadz as sholaatu khoirum minar ruquud.

    Dasar pengambilan:

    Kitab Hawasay As Syarwani wa Ibni Qosim al Ubaidiy ala Tuhfatu al Muhtaji bi syarhi al Minhaji Juz 2 halaman 91:

    وَيُكْرَهُ فِى غَيْرِ الصُبْحِ كَحَيَّ عَلَى خَيْرِ العَمَلِ مُطْلَقًا, فَإنْ جَعَلَهُ بَدلَ الحَيَّ عَلَتَيْنِ لَمْ يَصِحَّ أذَانُهُ. قَولُهُ (لَمْ يَصِحَّ أذَانُهُ) وَالقِيَاسُ حِينَئِذٍ حُرْمَتُهُ لأَنَّهُ بهِ صَارَ مُتَعَاطِيًا لِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ.

    Dimakruhkan di selain salat subuh bacaan seperti ‘hayya ala khoiril amal’ secara mutlak, jika menjadikan bacaan tersebut sebagai ganti dari kedua bacaan ‘hayya ala sholah’ dan ‘hayya ala al falah’ maka tidak sah adzannya. Penjelasan tentang ‘tidak sah adzannya’ dan qiyasnya ketika itu adalah keharamannya, karena dengan itu dia menjadi orang yang melakukan ibadah yang rusak.

  2. Jika orang yang tidak pernah mengerjakan salat itu masih merasa berkewajiban melakukan salat, tetapi dia tidak mampu melakukannya, maka hukumnya masih boleh ditahlilkan dan didoakan. Akan tetapi jika dia sudah merasa tidak berkewajiban melakukan salat, apalagi menentang kewajiban salat tersebut, maka hukumnya sudah tidak boleh ditahlilkan dan didoakan.

    Dasar pengambilan:

    Kitab Majmu’ mustamil ala arbai rosail halaman 6

    تَارِكُ الصَّلاَةِ لاَيُعَادُ فِى مَرَضِهِ وَلاَ يُتْبَعُ فِى جَنَازَتِهِ وَلاَ يُسَلِّمُ عَلَيْهِ وَيُؤَكَلُ وَلاَ يُشَارَبُ وَلاَ يُصَاحَبُ وَلاَ يُجَالَسُ وَلاَ دِيْنَ لَهُ وَلاَ أمَانَةَ لَهُ وَحَظَّ لَهُ فِي رَحْمَةِ اللهِ وَهُوَ مَعَ المُنَافِقِيْنَ فِى دَرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ (الحَدِيْث)

    Orang yang sengaja meninggalkan salat itu tidak boleh dikunjungi waktu sakit, jenazahnya tidak boleh diantarkan ke kubur, tidak boleh diberi salam, tidak boleh diberi makan, tidak boleh diberi minum, tidak boleh dijadikan teman, tidak boleh diajak duduk bersama. Dia adalah orang yang sama sekali tidak beragama, tidak dapat diamanati dan tidak ada bagiannya dalam rahmat Allah. Dia beserta orang munafiq ditingkat yang paling bawah dari neraka (hadist).

  3. Jika zikir fida’ tersebut memang salah satu amalan dari salah satu gerakan toriqoh, Maka untuk menjadi imam zikir tersebut, memang harus mendapat ijazah dari guru Mursyid thorikoh tersebut, akan tetapi jika zikir fida’tersebut adalah sebagaimana yang tersebut dalam kitab Irsyadul Ibad, artinya bukan amalan dari suatu gerakan torikoh, maka tidak harus mendapat ijazah dari guru mursyid.