Sistem Gadai Pertanahan

Sudah menjadi adat kebiasaan secara turun temurun di daerah kami mengenai sistem gadai (gaden) yang menyangkut masalah tanah. Contoh: Si A mempunyai tanah seluas 1 ha digadaikan kepada si B selama lima tahun dengan uang, binatang atau emas. Setelah jangka waktunya habis 5 tahun, si pemilik tanah (si A) tetap mengembalikan sebesar kesepakatan semula.

  1. Bagaimana hukumnya sistem gadai (gaden) tersebut ditinjau dari segi agama?

  2. Bagaimana hukumnya hasil dari tanah tersebut?

  3. Bagaimana hukumnya penyapihan anak dari tetek ibunya?

  4. Sampai usia berapakah ketentuan tentang penyapihan anak dari tetek ibunya ditinjau dari segi agama?

Jawaban

  1. Hukum sistem gadai tersebut boleh.

  2. Hukum dari hasil tanah tersebut harus diserahkan kepada pemilik tanah (orang yang menggadaikan). Karena barang yang digadaikan itu adalah suatu amanat yang harus dijaga , dan tidak boleh memanfaatkan barang gadaian kecuali mendapat izin dari pemiliknya.

    Dasar pengambilan

    1. Kitab Hamisy Ianatut Thalibin Juz 3 cet. Darul Fikr halaman 66

      وَهُوَ جَعْلُ عَيْنٍ يَجُوْزُ بَيْعُهَا وَثِيْقَةً بِدَيْنٍ يُسْتَوفَى مِنْهَا عِنْدَ تَعَذُّرِ وَفَائِهِ.


      Gadai itu adalah menjadikan barang yang halal dijual belikan sebagai jaminan yang sebahagian dari barang tersebut (seharga hutang) akan diambil oleh yang memberi hutang jika orang yang berhutang tidak dapat melunasi.

    2. Kitab Bughyatul Musytarsyidin halaman 136

      (مسألة ش) إِرْتَهَنَ أَرْضًا فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهَا يَسْتَغِلُّهَا مِنْ غَيْرِ نَذْرٍ وَلاَ إِبَاحَةٍ مِنَ الْمَالِكِ لَزِمَهُ أَقْصَى أَجْرِ مَنَافِعِ مَا وَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ مِنْهَا فَإِنْ تَلِفَتِ الأَرْضُ حِيُنَئِذٍ لَزِمَهُ أَقْصَى الْقِيَمِ لأَِنَّ فَائِدَةَ الَرَّهْنِ إِنَّمَا هُوَ التَوَثُّقُ بِالدَّيْنِ لِيَسْتَوْفِيْهِ مِنَ الْمَرْهُوْنِ عِنْدَ تَعَذُّرِ الإِيْفَاءِ وَالتَّقَدُّم بِهِ عَلَى غَيْرِهِ فَقَطْ.

      Seseorang telah menerima gadai sebidang tanah, kemudian dia menguasai tanah tersebut untuk diambil hasilnya tanpa ada nadzar dan kebolehan dari pemilik tanah (orang yang menggadaikan). Maka orang menerima gadai tersebut wajib memberi kepada pemilik tanah hasil yang terbanyak dari tanah tersebut. Jika tanah itu rusak, maka wajib bagi penerima gadai untuk membayar harga tertinggi dari tanah tersebut. Sebab faedah gadai itu hanya suatu kepercayaan hutang agar sebahagian dari barang yang digadaikan tersebut dapat dipergunakan untuk membayar hutang, pada waktu orang yang berhutang tidak dapat melunasi dan berhalangan menjual barang yang digadaikan kepada orang lain sebelum batas waktunya habis.

  3. Hukum penyapihan itu diperbolehkan. Pada dasarnya agama tidak membatasi sampai berapa usia seorang anak harus disapih dari tetek ibunya. Akan tetapi pada umumnya yang paling baik menyapih anak itu ketika dia berumur dua tahun. Sebagaimana telah disebutkan oleh Al qur`an di dalam kitab Tafsir Munir, juz: 2, halaman 171 yang berbunyi

    ( وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ ) اَيْ فِطَامُهُ فِي تَمَامِ عَامِيْنِ وَهِيَ تَمَامُ مُدَّةِ الرَّضَاعِ عِنْدَ الشَّافِعِى وَمُدَّةُ الرَّضَاعِ عِنْدَ حَنِيْفَةَ ثَلاَثُوُنَ شَهْرًا.

    (Memisah anak sampai umur dua tahun) maksudnya adalah menyapih anak sampai umur dua tahun penuh. Yang dimaksud dua tahun itu adalah masa menyusukan anak, berdasarkan pendapat Imam Syafi`i. Dan menurut Abu Hanifah masa menyusukan itu selama tiga puluh bulan.