Hukum Sumpah Pocong

Usulan dari PCNU Genggong Probolinggo

Sengketa perdata (mu'amalah) seringkali diwarnai pengingkaran gugatan (klaim), semisal pihak lawan merasa tidak menerima penyerahan sertifikat tanah yang diagunkan, merasa tidak berhutang kepada seseorang dan lain-lain. Dalam kasus tuduhan berlaku hal sama seperti pengingkaran atas tuduhan berpraktik sebagai dukun santet, tuduhan selingkuh dengan wanita bukan isterinya dan lain sebagainya. Dalam hal ini para pihak tidak memiliki dalil (fakta) untuk memperkuat gugatan maupun pengingkarannya.

Sementara dalam fiqih murafa'at dikenal adanya sumpah pemutus (yamin al-istidzar) sebagai upaya mengakhiri sengketa karena para pihak tidak dapat mengajukan alat bukti lain. Sebagaimana sumpah li'an untuk menyudahi tuduhan zina oleh suami kepada isterinya karena tak cukup saksi yang diperlukan. Demikian juga dalam kasus amanah lewat wasiat (Qs. Al Maidah: 106) dikenal cara pemberatan (taghlidl) sumpah yang ditandai oleh waktu (ba'da shalat ashar) dan tempat pengambilan sumpah di dalam masjid.

Akhir-akhir ini masyarakat banyak memprakarsai sara untuk mengakhiri sengketa/tuduhan dengan meminta kesediaan lawan untuk disumpah pocong. Pihak yang diminta bersumpah pocong dibalut kain kafan mayat berwarna putih, dibaringkan membujur tak ubahnya mayat yang siap dishalat-jenazahkan, kemudian dibimbing petugas tertentu untuk menyatakan sesuatu di bawah sumpah "demi Allah". Pada acara sumpah pocong tersebut, hakim peradilan tidak berperan kecuali sebatas mengawasi pelaksanaan sumpah atas permintaan itu.

Pertanyaan

  1. Tepatkah menurut hukum Islam bila sumpah pocong itu dijadikan upaya hukum alternatif guna menyudahi sengketa/tuduhan tertentu?

  2. Apakah landasan legitimasi syar'i terhadap tata cara pelaksanaan sumpah pocong itu?

Jawab

  1. Menurut hukum Islam sumpah pocong itu boleh sepanjang tidak di-i'tiqod-kan sebagai syariat (masyru).

  2. Legitimasi syar'i terhadap pelaksanaan sumpah pocong adalah untuk menguatkan sumpah.

Dasar Pengambilan

  1. I'anatut Thalibin juz 4 halaman 318

    (فرع ) يسن تغليظ يمين من المدعى والمدعى عليه وان لم يطلبه الخصم فى نكاح وطلاق و رجعة وعتق ووكلة وفى مال بالغ عشرين دينارا لا فيما دون ذلك لانه حقير فى نظر الشرعى نعم لو رآه الحكيم لنحو جراءة الحليف فعله وتغليظ يكون بالزمان وهو بعد العصروعصر الجمعة اولى بالمكان وهو للمسلمين عند المنبر اه (وقوله ويسن أن يقرأ الخ) عبارة غيره ومن التغليظ ان يوضع المصحف فى حجره ويطلع له سورة برأة ويقال له ضع يدك على ذلك ويقراء قوله تعالى ان الذين يشترون ... الأية اهـ

  2. Al Jami' li Ahkamil Qur'an Juz 6 Hal. 354.

  3. Ad Darul Nadzir Li Syeh Al Islam Al Huriy Hal. 91.