Taubat, Minta Maaf dan Ampunan

Permasalahan

Dalam agama Islam diterangkan, bila manusia bersalah kepada Allah kemudian mau bertaubat maka Allah mengampuni. Bila manusia bersalah kepada sesamanya sebelum ia minta maaf, Allah tidak akan mengampuni.

Bagaimana cara minta maaf kepada orang tua atau sesama manusia sedangkan sebelum ia minta maaf sudah meninggal dunia? Masih bisakah Allah mengampuni dan bagaimana caranya?

Jawaban

Caranya ialah dengan jalan memintakan ampun kepada Allah swt akan kesalahan-kesalahan dari orang tua atau orang yang telah didhalimi dan banyak berbuat amal dan doa yang pahalanya dikirimkan kepada orang tua dan orang yang didhalimi yang sudah meninggal dunia, sehingga apabila amal baiknya diberikan kepada orang yang didhalimi, dia tidak bangkrut karenanya.

Dasar Pengambilan

Irsyadul 'Ibad, Syaikh Zainuddin, Surabaya, Maktabah Ahmad bin Sa'id bin Nabhan, t.t. hal. 80:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ يُؤْخَذُ بِيَدِ الْعَبْدِ وَالأَمَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُنَادَى بِهِ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ هَذَا فُلاَنُ ابْنُ فُلاَنٍ مَنْ كَانَ لَهُ عَلَيْهِ حَقٌّ فَلْيَأْتِ إِلَى حَقِّهِ قَالَ فَتَفْرَحُ الْمَرْأَةُ أَنْ يَكُوْنَ لَهَا حَقٌّ عَلَى ابْنِهَا أَوْ أَخِيْهَا ثُمَّ قَرَأَ فَلاَ أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذً وَلاَ يَتَسَآءَلُوْنَ قَالَ فَيَغْفِرُاللهُ مِنْ حَقِّهِ مَا يَشَآءُ وَلاَ يَغْفِرُ مِنْ حُقُوْقِ النَّاسِ شَيْئًا فَيُقْضَى فَيُنْصَبُ الْعَبْدُ لِلنَّاسِ ثُمَّ يَقُوْلُ اللهُ لأَصْحَابِ الْحُقُوْقِ أُئْتُوْا إِلَى حُقُوْقِكُمْ قَالَ فَيَقُوْلُ الْعَبْدُ يَا رَبِّ فَنِيَتِ الدُّنْيَا فَمِنْ أَيْنَ أُوْتِيْهِمْ حُقُوْقَهُمْ فَيَقُوْلُ اللهُ لِمَلاَئِكَتِهِ خُذُوْا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَأَعْطُوْا كُلَّ ذِيْ حَقٍّ حَقَّهُ بِقَدْرِ طَلَبَتِهِ فَإِنْ كَانَ وَلِيًّا للهِ وَفَضُلَ لَهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ ضَاعَفَهَا اللهُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ بِهَا وَإِنْ كَانَ عَبْدًا شَقِيًّا يَفْضُلْ لَهُ شَيْءٌ فَيَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ رَبَّنَا فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ وَبَقِيَ طَالِبُوْنَ فَيَقُوْلُ اللهُ خُذُوْا مِنْ سَيِّئَاتِهِمْ فَأَضِيْفُوْهُ إِلَى سَيِّئَاتِهِ ثُمَّ صُكُّوْا لَهُ صَكًّا إِلَى النَّارِ .

"Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah saw. bersabda: 'Akan ditangkap tangan hamba laki-laki dan hamba perempuan kemudian diundangkan di hadapan makhluk:

"Inilah si Fulan anak dari Fulan. Barangsiapa yang memiliki hak atasnya, hendaklah dia datang untuk mengambil haknya. Maka bergembiralah orang perempuan andaikata dia mempunyai hak atas anaknya atau saudara laki-lakinya.

Kemudian Rasulullah membaca:

"Pada hari kiamat tidak ada hubungan keluarga di antara manusia dan mereka tidak dapat saling bertanya.

Rasulullah bersabda: "Kemudian Allah mengampunkan dari hak-Nya apa yang Dia kehendaki dan tidak berkenan mengampunkan dari hak-hak manusia sedikitpun, kemudian hamba itu diputusi dan ditegakkan untuk manusia, kemudian Allah berfirman kepada para pemilik hak:

"Datanglah kalian untuk mengambil hak-hak kalian.

Rasulullah saw bersabda: "Kemudian hamba tersebut berkata:

"Wahai Tuhanku, dunia telah rusak, maka dari manakah saya dapat memberi mereka akan hak-hak mereka?"

Lalu Allah berfirman kepada para malaikat-Nya:

"Ambillah amal-amal baiknya dan berilah setiap orang akan haknya sebanyak tuntutannya".

Maka jika hamba itu adalah seorang kekasih Allah dan masih lebih baginya amal seberat atom, Allah akan melipat gandakan amal tersebut sehingga dia masuk sorga sebab amal tersebut. Dan jika dia seorang hamba yang celaka dan tidak lebih baginya amal sedikitpun, maka para malaikat berkata:

"Wahai Tuhan kami, telah habis amal-amal baiknya sedang masih tersisa orang-orang yang menuntut".

Lalu Allah berfirman:

"Ambillah amal-amal jelek mereka dan tambahkanlah pada amal jeleknya, kemudian pukulkanlah kepadanya dengan pukulah yang keras menuju neraka"