Ifrad atu Qiran Ganti Tamattu'

Permasalahan:

  1. Bolehkah calon jamaah haji mengubah niat dari ifrad atau qiran menjadi tamattu' dan menganggap thawaf qudum-nya sebagai thawaf 'umrah. Kemudian melakukan sa'i umrah dan tahallul?

  2. Adakah denda yang harus dibayar semisal dam atau fidyah agar pergantian niat tersebut tetap sah?

Jawaban:

  1. Jumhur ulama salaf dan khalaf termasuk Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Asy-Syafi'i, Ibnu al-Shabagh dan al-'Abdari melarang langkah pengubahan niat dari ifrad atau qiran menjadi haji tamattu'. Baik karena udzur atau tidak. Hal itu merupakan konsekuensi dari pelaksanaan perintah:

    وَاَتِمُّوْا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ ِللهِ (البقرة 196)
    المجموع شرح المهذب 7 صـ 167-166
    إِذَا اَحْرَمَ بِالْحَجِّ لاَ يَجُوْزُ فَسْخُهُ وَقَلْبُهُ عُمْرَةً ، وَإِذَا اَحْرَمَ بِالْعُمْرَةِ لاَ يَجُوْزُ لَهُ فَسْخُهَا حَجًّا لاَ لِعُذْرٍ وَلاَ لِغَيْرِهِ ، وَسَوَآءٌ أَسَاقَ الْهَدْيَ أَمْ لاَ هَـذَا مَذْهَبُنَا [اَلشَّافِعِيَّةُ] قَالَ ابْنُ الصِّبَاغِ وَالْعَبْدَرِيُّ وَآخَرُوْنَ

    Apabila seseorang telah berihram haji, maka tidak boleh merusaknya dan menggantinya dengan umrah. Dan apabila telah berihram umrah, maka tidak boleh baginya merusaknya dan menggantinya dengan ihram haji. Tidak boleh karena udzur dan tidak pula karena lainnya. Dan baik dia telah menuntun binatang hadiah atau tidak. Ini adalah madzhab kami (Asy-Syafi'iyyah). Telah berpendapat demikian Ash-Shibagh, Al-'Abdariy, dan lain-lainnya.

    Jumhur mengartikan perintah Nabi saw kepada para sahabat yang tidak membawa binatang hadiah agar segera ber-tahallul dengan menyelesaikan umrahnya, sebagai pengaturan khusus bagi para sahabat yang tahun itu mengikuti pelaksanaan haji wada' bersama Nabi saw.

    اَخْرَجَ أَبُوْ دَاوُدَ : أَنَّ أَبَا ذَرٍّ كَانَ يَقُوْلُ فِيْمَنْ حَجَّ ثُمَّ فَسَخَهَا بِعُمْرَةٍ : لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ إِلاَّ لِلرَّكْبِ الَّذِيْنَ كَانُوْا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وَفىِ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ كَانَتِ الْمُتْعَةُ فيِ الْحَجِّ ِلأَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم خَآصَّةً .

    Abu Dawud telah meriwayatkan bahwa sesungguhnya Abu Dzar telah berkata mengenai orang yang haji, kemudian merusaknya dengan umrah. Hal itu tidak ada kecuali bagi kafilah yang mereka itu adalah orang-orang yang menyertai Rasulullah saw. Dan dalam satu riwayat dari Imam Muslim, melakukan tamattu' dalam haji itu adalah khusus bagi para sahabat Nabi Muhammad saw.

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ خَرَجْنَا مُهِلِّيْنَ بِالْحَجِّ فِيْ اَشْهُرِ الْحَجِّ وَحُرُمِ الْحَجِّ ، فَنَزَلْنَا سَرِفَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ِلأَصَحَابِهِ : "مَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ هَدْيٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَجْعَلَهَا عُمْرَةً فَليَفْعَلْ ، وَمَنْ كَانَ مَعَهُ هَدْيٌ فَلاَ" . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
    [اَللُّؤْلُؤُ والمرجان : جز 2 صـ 39 رقم : 755]

    Diriwayatkan dari 'Aisyah ra katanya: "Kami telah keluar dalam keadaan ihram haji pada bulan-bulan haji dan dalam bulan-bulan suci haji. Kemudian kami singgah di desa Sarifa; kemudian Nabi saw bersabda kepada sahabat-sahabat beliau, "Barangsiapa yang tidak membawa binatang hadiah dan senang untuk menjadikan ihramnya menjadi umrah, maka silakan dia mengerjakannya. Dan berangsiapa yang membawa binatang hadiah maka tidak boleh mengubah ihram hajinya menjadi umrah." Hadits ini disepakati oleh Bukhari dan Muslim.

    Jumhur mujtahidin (Abu Hanifah, Imam Malik, Asy-Syafi'i) memahami perintah Nabi saw tersebut terkait dengan kepentingan menghapus pandangan orang Arab sejak zaman Jahiliyah yang berpantang melaksanakan umrah pada bulan-bulan ibadah haji.

    لَبَّيْكَ اللَّـَهُمَّ لَبَّيْكَ ، اَلسَيِّدْ مُحَمَّدْ بِنْ عَلْوِيْ الْمَالِكِيْ ،
    صـ 119
    وَإِنَّمَا اُمِرُوْا بِهِ تِلْكَ السَّنَةَ لِيُخَالِفُوْا مَا كَانَتْ عَلَيْهِ الْجَاهِلِيَّةُ مِنْ تَحْرِيْمِ الْعُمْرَةِ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ وَإِنَّهَا مِنْ أَفْجَرِ الْفُجُوْرِ .

    "Hanyasanya mereka diperintahkan demikian pada tahun itu adalah agar mereka berbeda dengan apa yang terjadi pada zaman Jahiliyah mengenai keharaman umrah pada bulan-bulan haji dan sesungguhnya umrah tersebut termasuk perbuatan yang paling durhaka."

    Demikian pula jawaban Rasulullah saw terhadap pertanyaan Suraqah bin Jasy'am al-Mudlaji:

    أَلِعَامِنَا هَـَذَا اَمْ ِلأَبَدٍ ؟ فَشَبَّكَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اَصَابِعَهُ وَاحِدَةً فيِ اْلأُخْرَى وَقَالَ : دَخَلْتُ الْعُمْرَةَ فيِ الْحَجِّ هَـَذَا - مَرَّتَينْ ِ- لاَ بَلْ ِلأَبَدِ أَبَدٍ .

    "Adakah hal ini untuk tahun kita ini ataukah untuk selamanya?" Kemudian Rasulullah memasukkan jari-jari beliau yang satu pada yang lain dan bersabda, "Aku telah melakukan umrah pada bulan haji ini-dua kali-Tidak! Bahkan untuk selama-lamanya."

    Dimaksudkan sebagai penegasan hukum bolehnya mengerjakan ibadah umrah dalam bulan-bulan haji. Atau amalan umrah bisa dikerjakan menyatu dengan amalan haji dalam praktek qiran. Jawaban Rasulullah saw tersebut bukan melegalisasi perkenan mengubah (fasakh) haji menjadi umrah.

    1. Apabila calon jamaah haji ingin bertahan dengan niat ifrad-nya karena yang bersangkutan mengikuti pendapat jumhur, sedangkan ia ingin melepas kain ihramnya. Maka keinginan itu boleh dilakukan namun wajib disertai dengan membayar dam al-isa'ah. Walau demikian karena ifradnya tidak boleh mengerjakan ibadah selain thawaf qudum saja hingga saatnya wuquf di Arafah. Pelanggaran atas larangan-larangan yang lain berhubung ihramnya juga tetap tidak dibenarkan, dengan konsekuensi terkena dam isa'ah lainnya.

    2. Apabila calon jamaah haji ingin mengikuti pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan sekelompok ulama Zhahiri dengan cara mengubah niat ifrad atau qiran menjadi tamattu', maka yang bersangkutan harus membayar dam tamattu'. Dengan cara tersebut segera diteruskan mengerjakan thawaf wajib, sa'i serta tahallul umrah dalam kerangka tamattu'.

    3. Calon jamaah haji menggagalkan ifradnya. Kemudian kembali ke tapal batas miqat dan dari sana memulai dengan niat tamattu'. Dengan cara ini yang bersangkutan harus membayar dam tamattu'-nya.