DAFTAR PERTANYAAN JAMA'AH PENGAJIAN

MAJELIS TA'LIM HAROMAIN

(Ahad Pon, 10 April 2011)

 

1.       Gambaran Masalah: Pada saat ini banyak orang yang menyemir rambut dengan warna-warni dan tujuannya pun bermacam-macam, mulai untuk menutupi uban, supaya terlihat rapih, dan lain-lain. Hal itu tidak hanya dilakukan oleh anak muda juga sebagian orang tua.

Pertanyaan: Bagaimana hukum menyemir rambut baik bagi pria maupun wanita? (H. Salman, Kalideres)

Jawaban: Hukum menyemir rambut terkait beberapa hal diantaranya warna, pemakai, tujuan dan bahan semir tersebut. Menggunakan semir warna hitam hukumnya haram, sedangkan semir warna kuning dan merah hukumnya boleh. Hal ini didasarkan pada hadits shahih dari Nabi Saw.

 

- - ) - - ( 4 / 139 ( : ( - - ( 1 / 376)

Diriwayatkan dari Ibnu Abas berkata, Rasulullah Saw. bersabda: "Kelak pada akhir zaman akan muncul sekelompok kaum yang menyemir (rambut mereka) seperti kantung makanan (telih-jawa) burung, mereka tidak akan bisa mencium aroma surga (HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud Jld. 4 hlm. 139). Dari Abi Darda' berkata, Rasulullah Saw. bersabda: "Barangsiapa menyemir dengan warna hitam maka Allah akan menghitamkan mukanya kelak di hari kiamat" (HR. Thabrani dalam Musnad Syamiyin, Jld. 1 hlm, 376)

: : : : : : : ( - 3 / 604)

Dari Abi Abdillah Al Qurasy berkata: suatu ketika Abdullah bin Amr hadir dengan jenggotnya yang telah dihitamkan. Kemudian Abdullah bin Amr berkata: Assalamu'alaikum wahai pemuda. Ibnu Umar bertanya:"Adakah engkau tidak mengenaliku, wahai Abu Abdirrahman ?. Abdullah bin Amr menjawab: ya, aku (dahulu) mengenalimu sebagai orang yang sudah tua, namun sekarang engkau (tampak) muda, sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah bersabda: warna kuning adalah semirnya orang mukmin, merah semirnya orang muslim dan hitam semirnya orang kafir.

Oleh karena itu dalam kitab-kitab fikih para ulama berkesimpulan bahwa menyemir kuning dan merah hukumnya boleh, sedangkan menyemir rambut dengan warna hitam hukumnya tidak boleh/haram.Imam Nawawi menjelaskan dalam Majmu'

 

: .....() ( - ( 1 / 294)

Disunahkan menyemir rambut uban dengan kuning atau merah, sebagaimana disepakati oleh Ashab kita.para ulama bersepakat mencela (melarang) menyemir rambut kepala atau jenggot dengan warna hitam.

Namun demikian, harus diperhatikan bahwa semir yang dipakai bukan termasuk bahan semir yang dapat menghalangi air ketika kita berwudlu atau mandi wajib, dan juga bukan berasal dari bahan yang najis.

2.       Gambaran Masalah: Sebagaimana diketahui, dalam kitab-kitab sudah dijelaskan tentang harta-harta yang wajib dizakati seperti hewan ternak, harta dagangan, emas-perak, hasil panen (padi dan sejenisnya) dan lain-lain. Namun pada saat ini muncul istilah zakat profesi.

Pertanyaan: Bagaimana penjelasan mengenai zakat Profesi ? Bagaimana pendapat para ulama tentang hal itu? (H. Amron, Adimulyo)

Jawaban: Allah berfirman dalam Al Baqarah: 43; (dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat), juga dalam Surat Al Ma'arij: 24-25. Zakat bagi penghasilan atau zakat profesi adalah zakat yang dikenakan pada setiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun bersama dengan orang/lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan (uang) halal yang memenuhi nisab (batas minimum untuk wajib zakat). Contohmya adalah pejabat, pegawai negeri atau swasta, dokter, konsultan, advokat, dosen, dan sejenisnya. Terkait zakat profesi, memang terdapat perbedaan pendapat. Bagi pendapat yang mewajibkan, zakat profesi dikategorikan sebagai al-mal al-mustafad yang mana bila telah memenuhi ketentuan satu nishab dan satu haul wajib dikeluarkan. Dasar yang digunakan oleh pendapat ini adalah pendapat sebagian shahabat seperti Ibnu Abas, Ibnu Mas'ud, dan tabi'in seperti Al Zuhry, Hasan Basri dan Makhul. Adapun ukuran yang wajib dikeluarkan adalah 2,5% dan dikeluarkan setelah memenuhi ketentuan satu nishab dan satu haul (tahun). Syaikh Wahbah Al Zuhaily menjelaskan dalam kitab Al Fiqh Al Islam J. 3 hlm. 294

:...... ϻ ..... ( ) ( ) ҡ ѡ . : ѡ .... . ( - ( 3 / 294(

Perihal kedua: tentang zakat penghasilan kerja dan profesi:..pemasukan (penghasilan) yang diperoleh oleh seseorang dari pekerjaanya baik bagi pekerja bebas atau pegawai, dalam istilah fikih termasuk dalam golongan al mal al mustafad (harta yang diperoleh). Yang menjadi ketetapan dalam madzhab empat bahwa tidak wajib zakat pada al mal al mustafad kecuali telah sampai satu nishab dan satu tahunPendapat yang mewajibkan zakat al mal al mustafad memungkinkan pengeluaran zakat cukup saat menerima penghasilan, meskipun belum satu tahun, dengan berpedoman pendapat sebagian shahabat (Ibnu Abas, Ibnu Mas'ud dan Mu'awiyah) dan pendapat Umar bin Abdul Aziz, Al Baqir, As Shadiq, An Nasir dan Dawud Al Dzahiri. Zakatnya adalah 2,5 %.....Apabila seorang muslim telah mengeluarkan zakat profesinya pada saat menerima penghasilanya, maka pada saat sampai satu tahun tidak mengeluarkannya kembali.

Pendapat serupa juga dijelaskan oleh Yusuf Qardlawi dalam Fiqh Zakat hlm. 423. Ibnu Hazm dalam Al Mahaly J. 6 hlm. 84-86.

3.       Gambaran Masalah: Saya adalah seorang PNS, setiap bulan saya menyisihkan 2,5% dari gaji saya dengan niat sebagai zakat yang saya berikan langsung kepada orang yang berhak, tanpa menunggu sampai akhir tahun.

Pertanyaan: Apakah zakat yang saya lakukan sudah benar? (Hj. Triswati, Adimulyo)

Jawaban: Apabila mengikuti pendapat sesuai dengan nomor dua diatas, maka apa yang dilakukan (yakni mengeluarkan 2,5% dari penghasilan tiap kali menerimanya) selama telah memenuhi satu nishab maka hukumnya, diperbolehkan. Namun jika belum memenuhi satu nishab maka termasuk shadaqah sunah dan berpahala.

. ( - ( 1 / 166)

Setiap harta yang kewajiban zakatnya dengan (memenuhi) haul (satu tahun) dan nishab maka tidak diperbolehkan mendahulukannya (mengeluarkan zakat sebelum sampai satu haul) selama belum memenuhi satu nishab. Karena yang demikian berarti belum ditemukan sebab yang mewajibkanya dan tidak boleh mendahulukanya (al Muhadzab J. 1 hlm. 166).

Penjelasan serupa juga terdapat pada; Fath Al Wahab j. 1 hlm. 202, Majmu' J. 6 hlm. 144. Fiqh. Islam J. 3 hlm.179.

4.       Pertanyaan: Apakah ada dasarnya pelaksanaan shalat sakartul maut? (H. Suradi, Ori).

Jawaban: Shalat Sakaratul Maut adalah shalat sunah yang dilakukan seseorang dengan harapan supaya mendapatkan kemudahan ketika ia menghadapi sakaratul maut. Dalil yang digunakan adalah hadits dha'if yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Dijelaskan dalam kitab Nuzhatul Majalis hlm. 117, Faidlul Qadir j. 6 hlm 218.

. ( - ( 1 / 117) : ( - ( 6 / 218)

Dari Ibnu Umar RA dari Nabi Saw. barangsiapa shalat dua rekaat pada malam jum'at setelah tenggelam matahari dengan membaca fatihah sekali, surat sebanyak 15 x dalam setiap rekaat, maka Allah akan memudahkanya ketiak sakaratul maut dan akan menjaganya dari siksa kubur. (Nuzhatul Majalis, hlm 123) Dalam kitab Faidlul Qadir, j. 6 hlm. 218. terdapat susunan kata tambahan;"dan Allah akan memudahkanya melewati shirat". Ibnu Hajar dalam kitab Amalih menyebut hadits ini sanadnya dhai'f (lemah).

Terkait kebolehan menggunakan hadits dh'aif untuk mendorong perbuatan kebaikan (fadhailul a'mal), dijelaskan oleh imam Nawawi dalam Al Adzkar j. 1 hlm. 7 sebagai berikut:

:

Para ulama ahli hadits, ahli fiqh dan lainya berpendapat bahwa boleh dan dianggap sunah mengamalkan fadhail (keutamaan-keutamaan), targhib (mendorong kebaikan), tarhib (menakut-nakuti), dengan dasar hadits dhaif selama bukan hadits maudlu' (sangat lemah/palsu)

Adapun cara melaksanakan shalat sakaratul maut sesuai dengan hadits diatas adalah; -) shalat dilakukan sebanyak 2 rekaat, -) Waktunya malam jum'at setelah shalat maghrib, -) Niatnya: ....., -) Bacaan pada tiap rekaat: baca fatihah satu kali, surat sebanyak 15 x. Penjelasan mengenai shalat sakaratul maut juga terdapat pada kitab Khazinatul Asror hlm.40, Al Tsimarul Yami'ah hlm.

5.       Pertanyaan: Apakah ada do'a I'tidal selain , ? bila ada bagaimana bacaanya dan darimana dasar pengambilanya? (Hj. Ari T.)

Jawaban: Selain do'a terdapat beberapa do'a yang lain yang juga bersumber dari hadits Nabi yang shahih seperti atau atau atau atau . Namun yang paling utama menggunakan karena kebanyakan riwayat hadits menggunakan lafadz do'a tersebut.

( - ( 1 / 158)

Adapun setelah itu do'a yang paling utama dibaca adalah: dan bagi orang yang shalat sendiri disunahkan menambah do'a:

Penjelasan serupa juga terdapat dalam kitab Busyra Karim j. 6 hlm 78, Fathul Wahab J. 1 hlm. 43, Is'adur Rafiq hlm. 92, Tuhfatul Muhtaj, J. 6 hlm. 72. Al Minhaj, j. 1 hlm 28

6.       Gambaran Masalah: Pada saat ini sering terjadi seseorang menikahi wanita yang sedang hamil yang umumnya akibat hamil diluar nikah. Ada yang kemudian dinikahi oleh orang yang menghamilinya, tapi ada juga yang dinikahi oleh orang lain.

Pertanyaan:

a.        Bagaimana hukum pernikahan bila seorang gadis (lajang) yang hamil diluar nikah, menikah dengan orang yang telah yang menghamilinya? Bagaimana pula bila yang menikahi itu orang lain (bukan yang menghamilinya)?

b.       Bila seorang wanita janda telah bercerai lama namun kemudian ia hamil lagi dan akhirnya dinikahi oleh orang yang menghamilinya, bagaimana hukum pernikahanya?

Jawaban:

a.        Dalam Surat An Nisa' 24 disebutkan (dihalalkan bagimu menikahi perempuan selain mereka -yakni perempuan muhrimnya) maka hukum pernikahan gadis lajang yang hamil diluar nikah, tetap syah, baik dinikahi oleh pria yang menghamilinya atau orang lain, karena ia bukan termasuk muhrim. Hukum menggaulinya pun diperbolehkan meskipun belum melahirkan.

( 1 169)

jika seseorang menikahi wanita yang hamil dari zina maka nikahnya tetap syah secara pasti, dan ia juga boleh menggaulinya (meskipun) sebelum ia melahirkan, menurut pendapat yang paling shahih. (Bajuri, j.2 hlm, 169)

( - ( 16 / 242)

Ketika seorang perempuan berzina maka tidak wajib 'idah baik ia dalam keadaan tidak hamil maupun hamil. Jika ia dalam keadaan tidak hamil, maka bagi pria yang menzinai atau yang bukan boleh menikahinya. Dan bila seorang perempuan berzina pada masa idahnya, kemudian ia sampai hamil, maka idahnya tidak terputus. (Majmu' Syarah Muhadzab, J 16 hlm. 242)

b.       Janda yang berzina dan hamil, maka pernikahanya dianggap syah selama ia telah habis masa idahnya. Namun bila ia hamil masih dalam masa idah maka pernikahanya menunggu sampai ia melahirkan.

( - ( 4 / 388)

jika seseorang menikahi wanita yang hamil dari zina maka nikahnya tetap syah secara pasti, dan ia juga boleh menggaulinya (meskipun) sebelum ia melahirkan menurut pendapat yang paling shahih. Dan bila seorang perempuan berzina pada masa idahnya, kemudian ia sampai hamil, maka idahnya tidak terputus.