1.      Pada saat ini banyak perempuan yang mengidap penyakit keputihan (pada farjinya selalu mengeluarkan lender yang terkadang berbau busuk.

Pertanyaan:

a.       Najis atau sucikah keputihan tersebut?

b.      Jelaskan tanda-tandanya!

Jawaban:

a.       Terdapat Tafsil tentang hokum keputihan,

Bila pengertian keputihan adalah lendir yang ditimbulkan dari infeksi luka maka hukumnya najis muthlak.

-          Ma'khadz: 'ianah Juz 1 h 84

(: ) ѡ ˡ . (: ) : . . . . (: ) ѡ ˡ . (: ) : ޡ . (: ) ͡ . : .

 

Bila pengertian keputihan adalah lendir normal pada tiap perempuan dan dapat pula karena infeksi, maka bila normal ditafsil.

-          Lendir/kelembaban yang keluar dari organ farji yang wajib dibasuh ketika Istinja' (organ farji yang tampak ketika wanita duduk) maka hukumnya suci. Bila keluar dari balik farji (organ farji yang tidak tersentu dzakar mujami') maka hukumnya najis karena tergolong keluar dari dalam (jauf), Bila keluar dari organ farji yang tidak wajib dibasuh namun dapat terjangkau dzakar mujami' maka hukumnya suci menurut qaul Ashah

-          Ma'khadz: Ianah Tholibin juz 1 h 106

(: ) . ǡ . (: ) . (: ) . (: ) . (: ) : ɡ . : ǡ . ǡ ̡ . ͡ . . : . : .

 

2.      A. Seorang kafir yang berbuat amal shaleh apabila masuk Islam, apakah amal tersebut ada pahalanya?

B. Apa sebabnya seorang murtad yang kembali masuk Islam wajib mengqada' shalat ketika murtad saja? Dan kenapa shalat yang dikerjakan sebelum murtad tidak wajib di qadha?

Jawaban:

  1. Seorang Musyrik atau kafir yang berbuat baik (qurbah) yang tidak disyaratkan niat dalam perbuatan tersebut maka ia memperoleh pahala jika masuk Islam, dan tidak memperoleh pahala di akhirat bila kemudian ia mati dalam keadaan kafirnya, sedangkan bila ibadah tersebut tergolong yag disyaratkan niat maka tidak mendapat pahala di Akhirat

Ma'khadz:

-          Kitab Hasyiah Qulyubi : Juz 2 hal 116

- - ( 2 / 116)

: ( ) .

 

 

 

-          Kitab Majmu' Juz 3 h 4

- ( 3 / 4)

() " "

 

  1. Seorang murtad yang masuk islam hanya wajib mengqodo' kewajiban yang ditinggalkan ketika keadaan murtad saja sebagai taghlidz baginya, sedangkan kewajiban sebelum murtad tidak wajib diqodo' karena ia masih dalam keadaan Ahliyatul wujub. Kewajiban itu terhapus pahalanya bila ia mati dalam keadaan murtadnya.

Ma'khadz. : Hasyiah Qulyubi Juz 2 h. 112 pada ) )

- - ( 2 / 112)

( ) ( ) ( ) .

) ) ( )

3.      Pertanyaan: Orang yang melahirkan lewat operasi cesar apakah wajib mandi wiladah dan nifas?

Jawaban:

Orang yang melahirkan melalui cesar ada dua pendapat. Pertama, Wajib mandi menurut Qaul Yadzhar dengan berdasar pada tetapnya keibuan bagi si anak.

Kedua, tidak wajib mandi, karena anak dianggap mani yang telah berbentuk. Sedangkan mani yang keluar tidak melalui jalan kewajaranya tidak wajib mandi.

Demikian halnya Orang yang operasi cesar bila mana setelahnya dari farjinya keluar darah sebelum lima belas hari tetap wajib mandi.

 

Ma'khadz:

-          Hasyiah Bujairimi 'ala al Khatib Juz 2 hlm 273 dan 275 bab mujib al Ghusli

-          - ( 2 / 273)

( ) ( ) .

: ( ) . .

-       - ( 2 / 275)

: ( ) ....... : : . . . : .

: . : . . : .

-          Al Bajuri, Juz 1 hlm 74 Fasl fi mujib al Ghusli

4.      Didesa banyak orang yangberternak hewan seperti kambing dan lain-lain dengan jalan maro bati (Gadu) didalam pelaksanaanya berfariasi, ada yang punya ternak dapat 50% yang gadu juga 50 % ada juga yang punya ternak dapat separo dari anak pertama berikutnya bergantian, ada juga pemiliki dapat 60% penggadu 40% karena alasan kandang dibuat pemilik.

Pertanyaan: Adakah akad yang memperbolehkanya?

Jawab:

5.      Dizaman dengan perkembangan serba modern, maka dilingkungan kaum muslim muncul konsep fiqih modern (Falsafah Al Syari'ah) dan fatwa yang asasnya adalah perubahan (yaduru) kebutuhan (al hajah) kesejahteraan (al mashlahah) seperti contoh dalam fiqh zakat zira'ah yang menurut konsep 10% menjadi 50% karena berbagai pertimbangan. Dalam transaksi bisnis mudharabah ketentuan dan pelaksanaan bagi hasil (nasbah) dilakukan secara positif (untung atau tidak tetap membayar nasbah sesuai kesepakatan). Dalam fikih munakahat menetapkan nasab pada bapak bagi pasangan suami istri yang melahirkan anak sebelum 6 bulan dari akad nikah (dengan pengakuan dan sumpah suami)

Pertanyaan:

  1. Bagaimana pendapat ulama thariqah tentang konsep modern?
  2. Bolehkah fatwa syariah dengan fikih tersebut?

Jawaban:

  1. Pada dasarnya thariqah berlandaskan pada konsep yang memenuhi ketentuan syariah, yakni bersumber dari sumber hokum Islam, serta mengikuti fatwa yang bersifat kehati-hatian. Pada masalah tersebut tidak bisa digeneralisir ditolak maupun diterima. Artinya tetap melihat konteks permasalahanya. Dalam kasus tersebut ada tiga hal yang dimasalahkan:

a.       Masalah Zakat yang dimaksud, memang dasar zakat zuru' 10% itu apabila dalam pengolahan pertanian pengairanya tadah hujan, atau menggunakan irigasi tanpa biaya. Bila menggunakan biaya maka 5%. Ilat zakat menjadi 5% , karena pengairannya (penglahanya) menggunakan biaya (tsaql mu'nah). Hal ini dapat dikiaskan dengan kondisi sekarang, dimana pengairanya mungkn tidak menggunakan biaya, tapi pada bagian lainya seperti pupuknya jelas menggunakan biaya yang tidak kecil. Karena persamaan ilat dapat dikiaskan dengan kasus pertanian dengan pengairan berbiaya.

Ma'khadz:

         - ( 2 / 183)

() . ( ) ѡ () () . : ǡ ǡ - -

         - ( 2 / 183)

(: ) . (: ) .

(: ) . - - : ǡ . ͡ . (: ) ѡ . (: ) . (: ) ɡ ǡ ɡ ɡ - - ߡ - -. (: ) ʡ . (: ) . (: ) ǡ . (: ) .

         - ( 5 / 462)

.

         - ( 9 / 13)

) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) { } { } { }

b.      Masalah Mudharabah yang dengan kesepakatan untung atau rugi tetap memberi Nasbah, adalah dilarang karena bila terjadi kerugian yang bukan factor kelalaian atau kecerobohan, tidak ada bagi hasilbagi sipemilik modal.

c.       Masalah anak yang lahir sebelum enam bulan dari akad dinisbatkan pada bapaknya karena pengakuan dan sumpahnya. Hal itu terdapat pendapat jumhur yang membolehkan.

Ma'khadz:

Fiqh Islam wa Adillatuh, Juz 10 hlm7257

         10 7257

, . , , .

 

         - ( 20 / 143)

: .

: .

: ( ) ( ) ( ) ( ) .

: : ( ) ( ) ( ) ( )

6.