DAFTAR PERTANYAAN JAMA'AH PENGAJIAN

MAJLIS TA'LIM HAROMAIN GOMBONG

(Ahad Pon, 15 Mei 2011)

 

1.       Gambaran Masalah: Si Ahmad hendak membangun rumah dan butuh biaya banyak untuk matrial dan tukang. Si Amir kemudian nitip 10 sak semen kepada Ahmad namun bukan wujud semen yang diberikan kepada Ahmad melainkan sejumlah uang yakni Rp 500.000 yang seharga 10 sak semen (pada waktu itu(@ 50.000). Perjanjianya, bila suatu saat si Amir membutuhkan maka dia akan minta uang kepada Ahmad dengan seharaga semen pada saat ia butuh. Uang tersebut oleh Ahmad tidak untuk membeli semen, tapi untuk beli yang lainya yang dibutuhkan. Selang dua tahun ketika Amir membutuhkan, harga semen sudah Rp. 60.000 per sak, sehingga Ahmad harus memberikan sejumlah Rp. 600.000.

Pertanyaan: Apakah akad semacam itu diperbolehkan ? mengingat hal itu sering terjadi, mohon musyawirin menyampaikan penjelasanya.

Jawaban:

K. Hafidz

- Boleh, in kana mitsliyan fa mitslian, in kana mutaqowwim maka boleh mutaqowwim

نهاية الزين - (ج 1 / ص 241)

( ولمقرض استرداد ) في عين المقرض إن بقي في ملك المقترض أو زال عن ملكه ثم عاد وإن كان مؤجرا فيأخذه مسلوب المنفعة أو يأخذ مثله أو كان معلقا عتقه بصفة أو مدبرا ويرجع المقرض مع زيادة متصلة لا منفصلة بخلاف ما لو تعلق بالمقترض حق لازم كرهن وكتابة وتعلق أرض جناية برقبته فلا يرجع فيه حينئذ وإذا تلف مقرض ولو شرعا وجب على مقترض رد مثل ما اقترضه حقيقة في المثلى ولو في نقد بطل التعامل به وصورة في المتقوم لأنه صلى الله عليه وسلم اقترض بكرا ورد رباعيا بفتح الراء وتخفيف الياء وهو ما دخل في السنة السابعة والبكر الفتي من الإبل ( و ) جاز من غير كراهة ( نفع ) يصل لمقرض من مقترض ( بلا شرط ) في العقد بل يسن ذلك للمقترض لقوله صلى الله عليه وسلم إن خياركم أحاسنكم قضاء وأحاسن جمع أحسن وفي رواية إن خياركم محاسنكم قضاء ومحاسن بضم الميم معناه ذو المحاسن وقيل جمع محسن بفتح الميم نعم يمتنع على مقترض لنحو محجوره أو جهة وقف رد الزائد والأوجه أن الإقراض ممن تعود الزيادة بقصدها مكروه وأن المقرض يملك الزائد من غير لفظ لأنه وقع تبعا وأيضا فهو يشبه الهدية فيمتنع على الباذل رجوعه فيه لدخوله في ملك الآخذ بمجرد الدفع

 والأوجه أن المقترض إذا دفع أكثر مما عليه وادعى أنه إنما دفع ذلك ظنا منه أنه الذي عليه حلف ورجع فيه ولا يجوز قرض نقد أو غيره إن اقترن بشرط جر نفع مقرض

نهاية الزين - (ج 1 / ص 240)

( الإقراض ) الذي هو شرعا تمليك الشيء برد بدله من المثل حقيقة في المثلى وصورة في المتقوم ( سنة ) متأكدة

 قال صلى الله عليه وسلم من نفس عن أخيه كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة والله في عون العبد ما دام في عون أخيه رواه مسلم

Kitab:

Tashih: Boleh

Bila bentuk akadnya nitip, maka wajib menyampaikan sesuai bentuknya, bila tidak ada maka diperkirakan sesuai dengan harganya. Maka harus disertai kesepakatan.

 

2.       Gambaran Masalah: Umar berhutang uang kepada Sufyan sejumlah 10 juta, dalam tempo satu tahun dan sebagia jaminanya adalah 1 buah sepeda motor. Kemudian sepeda motor tersebut dipakai oleh Sufyan untuk keperluan sehari-hari selama Umar belum melunasi hutangnya. Kasus seperti itu juga sering terjadi pada jaminan berupa sawah/tanah dan lain-lain

Pertanyaan: Apakah penjaminan dengan cara seperti itu benar menurut Fikih?

Jawaban:

Penjaminan (gadai) semacam itu tidak diperbolehkan karena dapat merugikan salah satu pihak yakni pihak penghutang. Sebagaimana hadits Nabi:

بلوغ المرام من أدلة الأحكام - (ج 1 / ص 327)

وَعَنْ عَلِيٍّ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ -صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً, فَهُوَ رِبًا(رَوَاهُ اَلْحَارِثُ بْنُ أَبِي أُسَامَةَ)

Dari Ali Ra. berkata, Rasulullah Saw. Bersabda: "Tiap utang piutang yang mendatangkan manfaat termasuk riba.

Maksudnya bahwa tiap hutang piutang yang disyaratkan dalam perjanjian untuk memberi manfaat bagi pemberi hutang maka termasuk riba'. Namun bila

Namun bila

نهاية الزين - (ج 1 / ص 244)

( و ) لا يصح الرهن بشرط ما يضر الراهن وينفع المرتهن ك ( شرط منفعته ) أي المرهون ( لمرتهن ) من غير تقييد بمدة فيبطل الشرط وكذا الرهن على القول الأظهر لتغيير قضية العقد.

Mushahih:

Rahn harus berdassar pada saling menguntungkan tidak merugikan. Bila dalam akad ada salah satu yang dirugikan maka hukumnya dilarang. Marhun adalah tsiqoh, statusnya untuk memperkuat/meyakinkan. Apabila marhun dimanfaatkan oleh murtahin maka rahin akan dirugikan. Maka dalam rahn bila intifa' rahan dalam sulbi 'aqd. Maka hukumnya juga tidak boleh. Bila tidak disyaratan diawal maka hukumnya mubah.

3.       Gambaran Masalah: Pada saat ta'ziah kematian, sebagian orang Islam yang datang untuk ta'ziah ada yang berpakaian hitam-hitam sebagai wujud berkabung/berduka cita.

Pertanyaan:

a.        Apakah haram hukumnya bila sengaja memakai pakaian hitam-hitam saat berta'ziah?

b.       Apakah ada dasarnya malakukan mandi setelah ta'ziah, sebagaimana sering dilakukan oleh sebagian orang-orang tua zaman dahulu? (Hj. Siti Zahroh, Grenggeng)

Jawaban:

a.        Pada dasarnya menggunakan pakaian hitam adalah boleh, karena Rasulullah pun pernah menggunakan yang berwarna hitam. Hanya saja, ketika suatu jenis pakaian telah menjadi ciri khas dari orang kafir seperti pakaian serba hitam-hitam ketika melayat orang mati, maka Imam Ghozali dalam kitab ihya’ 'ulum al din (j. 2 hlm. 110) menyatakan bahwa hukum memakainya adalah haram karena termasuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan gaya hidup dan pakaian orang-orang kafir, sebagaimana hadits Nabi:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ (رواه أبو داود, 4033)

Dari Ibnu 'Umar berkata, Rasulullah Saw. bersabda: barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia adalah bagian dari mereka (HR. Abu Dawud, 4033)

Namun bila hanya sekedar memakai pakaian hitam-hitam saja tanpa ada niat yang lain maka hukumnya makruh bagi laki-laki dan boleh bagi wanita. Dalam kitab Maushu'ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah J 2 h 4142 dijelaskan:

وَتَسْوِيدُ الثِّيَابِ لِلتَّعْزِيَةِ مَكْرُوهٌ لِلرِّجَال ، وَلاَ بَأْسَ بِهِ لِلنِّسَاءِ

Memakai pakaian hitam-hitam untuk berta'ziah hukumnya makruh bagi laki-laki, dan boleh bagi perempuan.

Penjelasan serupa juga ditemukan dalam Fatawi Fiqhiyyah Qubra, j. 9 hlm 356, 'Aun al Ma'bud j. 5 hlm. 172

b.       Tidak terdapat dasarnya, yang disunahkan mandi adalah orang yang memandikan jenazah, sementara orang yang membawa jenazah disunahkan untuk berwudlu.

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : من غسل ميتا فليغتسل ومن حمله فليتوضأ (رواه البيهقي )

Dari Abi Hurairah bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: barang siapa usai memandikan mayit maka hendaknya ia mandi dan barang siapa membawanya/menandunya maka hendaknya berwudlu (HR. Baihaqi)

4.       Gambaran Masalah: Di desa Lemahduwur ada lima orang kepala keluarga yang setiap usai panen padi mereka membagikan zakat kepada masyarakat sekitarnya, rata-rata setiap keluarga mendapat + 8 kg padi. Namun para penerima zakat tersebut menghendaki agar diuangkan saja zakatnya, oleh panitia padinya dijual lalu uangnya dibagikan.

Pertanyaan: Apakah cara seperti itu dibenarkan menurut hukum fikih? (H. Dalimi, Lemahduwur)

Jawaban: Diperbolehkan selama ada izin dari si penerima zakat, namun bila si penerima zakat tidak membolehkanya maka tidak boleh menjualkanya. Dalam Al Majmu' j. 6 hlm. 175 dijelaskan;

لا يجوز للامام ولا للساعي بيع شئ من مال الزكاة من غير ضرورة بل يوصلها الي المستحقين بأعيانها .... فلم يجز بيع مالهم بغير اذنهم

Tidak boleh bagi imam (pemerintah yang berwenang) dan pengumpul zakat untuk menjual sesuatu dari harta zakat tanpa ada darurat, bahkan harus menyerahkanya kepada orang-orang yang berhak sebagaimana keadaanya ….maka tidak boleh menjual harta mereka tanpa seizinya.

Keterangan serupa juga dapat ditemukan dalam dalam Al Fiqh Islam wa Adillatuh j. 3 hlm. 336  

وقال الشافعي وغيره: يجوز استرداد الزكاة بالشراء وغيره؛ لقول النبي صلّى الله عليه وسلم السابق: «لا تحل الصدقة لغني إلا لخمسة: رجل ابتاعها بماله...» (3) قال النووي (4) عن حديث عمر: هذا نهي تنزيه لا تحريم، فيكره لمن تصدق بشيء أو أخرجه في زكاة أو كفارة أو نذر أو نحو ذلك من القربات أن يشتريه ممن دفعه هو إليه أو يهبه أو يتملكه باختياره منه، فأما إذا ورثه منه، فلا كراهة فيه.

 

5.       Gambaran Masalah: Do'a Iftitah dalam shalat ada yang dengan membaca …. اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ dan ada yang membaca كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا dst.

Pertanyaan: Dari dua do'a tersebut, do'a mana yang lebih kuat dasar dalilnya menurut para ulama? (H. Suradi)

Jawaban: Kedua do'a tersebut sama-sama berdasar pada hadits yang shahih dan juga boleh untuk do'a iftitah. Hanya saja do'a iftitah yang terdapat وجهي للذي فطر السماوات والأرض حنيفا مسلما وما أنا من المشركين إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا من المسلمين lebih utama sebagaimana dijelaskan dalam Al Muhadzab j. 1 hlm. 71

فصل في دعاء الاستفتاح  ثم يقرأ دعاء لاستفتاح وهو سنة والأفضل أن يقول ما رواه علي بن أبي طالب كرم الله وجهه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا قام إلى المكتوبة كبر وقال وجهت وجهي للذي فطر السماوات والأرض حنيفا مسلما وما أنا من المشركين إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا من المسلمين اللهم أنت الملك لا إله إلا أنت أنت ربي وأنا عبدك ظلمت نفسي وعترفت بذنبي فغفر لي ذنوبي جميعا إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت وهدني لأحسن الأخلاق لا يهديني لأحسنها إلا أنت وصرف عني سيئها لا يصرف عني سيئها إلا أنت لبيك وسعديك والخير كله في يديك والشر ليس إليك تباركت وتعاليت أستغفرك وأتوب إليك

6.       Gambaran Masalah: Saya pernah membaca dalam buku bahwa Nabi Muhammad Saw. pernah membaca Qunut pada saat shalat maghrib atau juga shalat-shalat lainya.

Pertanyaan:

a.        Apa dasar pelaksanaan Qunut pada saat shalat subuh?

b.       Dari mana dasar/dalil bacaan do'a qunut ….اللهم اهدني فيمن هديت ? (Hj. Asmiyati)

Jawaban:

a.        Dasar qunut pada waktu shalat subuh adalah hadits Nabi:

عن أنس ، « أن النبي صلى الله عليه وسلم قنت (1) شهرا يدعو عليهم ، ثم تركه ، فأما في الصبح فلم يزل يقنت حتى فارق الدنيا (رواه البيهقي)

Dari Anas bahwasanya Nabi Saw. pernah qunut satu bulan penuh kemudian beliau tidak melakukanya, adapun pada saat shalat subuh beliau senantiasa qutut sampai wafatnya (HR. Baihaqi)

Ulama Syafi'iyyah berpendapat bahwa membaca Qunut pada waktu shalat subuh adalah sunah Ab'ad sebagaimana dijelaskan dalam Al Majmu' j. 3 hlm. 494:

القنوت في الصبح بعد رفع الرأس من ركوع الركعة الثانية سنة عندنا بلا خلاف

Qunut pada shalat shubuh setelah mengangkat kepala dari ruku' (pada saat I'tidal) rekaat kedua adalah sunah menurut madzhab kita (syafi'iyyah) tanpa khilaf

السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي - (ج 2 / ص 209)

عَنْ حَسَنٍ أَوِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِىٍّ قَالَ : عَلَّمَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِى الْقُنُوتِ :« اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ ، إِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ »

Dari Hasan bin 'Ali Ra. berkata Rasulullah mengajariku beberapa kalimat (do'a) yang aku baca ketika qunut: :« اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ ، إِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ (ya Allah berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau beri kesehatan, berilah perlindungan seperti orang-orang yang telah engkau beri perlindungan, berilah berkah pada segala yang telah Engkau berikan, jauhkan kami dari segala kejahatan yang telah engkau pastikan, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang menentukan, dan Engkau tidak dapat ditentukan. Tidak akan hina orang yang telah Engkau lindungi, dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi, segala puji bagi Mu atas segala yang Engkau pastikan, kami memohon ampunan dan bertaubat kepadaMu

 

Sunah dalam shalat subuh untuk membaca Qunut pada rekaat kedua sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa sesungguhnya Nabi Saw berqunut satu bulan penuh kemudian beliau meninggalkanya

7.       Gambaran Masalah: Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti pertemuan ibu-ibu. Pada pertemuan tersebut ada pengarahan cara membuat abon dari bekicot. Setahu saya bahwa bekicot itu diharamkan.

Pertanyaan: Mohon penjelasan dasar hukumnya? (Hj. Dwi Titi Maryani, Tambaksari)

Jawaban:

حياة الحيوان الكبرى - (ج 1 / ص 234)

الحلزون: عود في جوف أنبوبة حجرية يوجد في سواحل البحار وشطوط الأنهار. وهذه الدودة تخرج بنصف بدنها من جوف تلك الأنبوبة الصدفية، وتمشي يمنة ويسرة تطلب مادة تغتذي بها فإذا أحست بلين ورطوبة انبسطت إليها، وإذا أحست بخشونة أو صلابة انقبضت وغاصت في جوف الأنبوبة الصدفية، حذراً من المؤذي لجسمها، وإذا انسابت جرت بيتها معها.

وحكمه: التحريم لاستخباثه. وقد قال الرافعي في السرطان أنه يحرم لما فيه من الضرر لأنه داخل في عموم تحريم الصدف

 

8.       Pertanyaan:

a.        Apakah betul bahwa setiap malam jum'at ahli kubur menengok/pulang ke rumah?

b.       Apakah orang yang sudah meninggal dapat mengetahui keadaan ahli warisnya yang masih hidup di dunia?

c.        Ada yang mengatakan bahwa membaca surat yasin yang ditujukan kepada ahli kubur termasuk bid'ah, mohon penjelasanya?

Jawaban:

9.       Pertanyaan: Apakah shalat hajat termasuk shalat lail atau bukan? Kalau bukan apakah dapat dilakukan pada siang hari? (Hj. Wiwik Suryani)

Jawaban:

10.    Gambaran Pertanyaan: Sebagian kita ada yang pernah mendengar adanya babi ngepet (babi jadi-jadian yang berasal dari manusia)

a.        Apakah najis babi ngepet tersebut?

b.       Apakah juga termasuk hewan Ghairul Muhtarom yang halal dibunuh?

Jawaban:  

11.    Ada gadis yang hamil diluar nikah, setelah diketahui kemudian dinikahkan sirri (tanpa petugas dari KUA). Apakah setelah lahir wajib nikah kembali dengan penghulu?

Jawaban: