DAFTAR PERTANYAAN DAN JAWABAN

MAJLIS TA'LIM HAROMAIN GOMBONG

(Ahad Pon, 30 Januari 2011

1.       Pertanyaan: Bagaimana caranya agar kita menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain?

Jawaban: Diantara hamba-hamba Allah yang paling dicintaiNya adalah orang yang banyak mendatangkan kemanfaatan bagi orang lain. Pada dasarnya banyak cara yang dapat kita lakukan untuk member manfaat bagi orang lain. Tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta kemampuan kita. Al Thabrani (Mu'jam Kabir jilid 11 hlm. 83) menulis sebuah hadits Nabi Saw. yang menjelaskan hal itu;

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ , أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ وَأَيُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا , وَمَنَ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ , وَمَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ مَلأَ اللَّهُ قَلْبَهُ رَجَاءً يَوْمَ الْقِيَامَةِ , وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيهِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى يَتَهَيَّأَ لَهُ أَثْبَتَ اللَّهُ قَدَمَهُ يَوْمَ تَزُولُ الأَقْدَامِ.

Diriwayatkan dari Ibn Umar, bahwasanya seseorang pernah menghadap Nabi Saw. seraya berkata; ”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintaiNya ?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia dan amal yang
paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitanya atau engkau melunasi utangnya atau menghilangkan kelaparannya.
Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini —yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari
perhitungan). ” (HR. Thabrani)

Hadits tersebut memuat banyak hikmah tentang berbagai cara supaya dapat mendatangkan kemanfaatan bagi orang lain baik dari sikap, ucapan, simpati, berkorban harta benda dan lain-lain. Sangat bijak ungkapan ulama yang menyatakan "الخير المتعدي أفضل من القصير" Kebaikan yang merata (dapat dirasakan orang lain) lebih utama ketimbang kebaikan yang terbatas (hanya dirasakan diri sendiri). Intinya mendatangkan kebaikan bagi orang lain apapun bentuknya selama tidak bertentangan dengan syariat agama adalah sangat dianjurkan.   

2.       Pertanyaan: Bagaimana cara yang baik untuk mengajak teman/tetangga kita yang belum pernah atau belum mau menjalankan ibadah kepada Allah SWT?

Jawaban: Para ulama menerangkan bahwa dakwah kepada Allah Azza wa Jalla itu hukumnya fardhu kifayah, selama negeri-negeri itu memiliki para du’at (juru dakwah) yang tinggal di dalamnya. Terkadang berdakwah itu hukumnya menjadi fardhu ’ain apabila seseorang berada di suatu tempat yang tidak ada seorang pun yang melaksanakannya kecuali ia. Namun dianjurkan kepada tiap orang Islam hendaknya mengajak saudaranya menuju kejalan Allah. Prinsip dakwah sebagaimana diterangkan dalam Al Qur'an adalah dengan kebijakan, mauidzah,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ [النحل/125

3.       Pertanyaan: Apakah ada do'a khusus untuk mengobati hati yang sedang sakit, atau malas mengerjakan ibadah kepada Allah SWT?

Jawaban: Penyakit hati memang dapat menghinggapi siapa saja kecuali mereka yang dijaga oleh Allah. Selain dengan usaha menjaga dan membersihkan hati secara terus menerus, juga dibarengi dengan permohonan kepada Allah supaya diberi hidayah dan dijauhkan dari perbuatan yang dapat menyebabkan suburnya penyakit hati. Salah satu do'a yang diajarkan Rasulullah Saw. sebagaimana ditulis dalam kitab Sunan Nasai hadits ke 5553

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ لاَ أُعَلِّمُكُمْ إِلاَّ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُعَلِّمُنَا يَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَعِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَدَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam, berkata; "aku tidaklah mengajarkan kepada kalian semua kecuali apa yang telah Rasul Saw. ajarkan kepada kami. Yakni Rasul berkata: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sifat lemah, malas, kikir, takut, pikun, dan dari siksa kubur. Ya Allah, berikan hati kami sifat taqwa serta sucikan (dari sifat jelek), karena Engkau adalah sebaik-baik orang yang mensucikan hati, Engkau adalah penguasa hati. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hati yang tidak dapat khusyu', jiwa yang tidak pernah puas, ilmu yang tak bermanfaat, dan do'a yang tak terkabulkan.

4.       Pertanyaan: Bagaimana cara beramal yang ikhlas lillahi ta'ala supaya bias diterima oleh Allah SWT?

5.       Pertanyaan: Shalatnya baik (rajin) tetapi maksiatnya jalan terus, hal itu bagaimana?

Jawab: Merupakan salah satu fungsi shalat adalah mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar, sebagaimana firman Allah;

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ (العنكبوت/45)

Dan dirikanlah shalat, karena sesungguhnya (dengan mendirikan) shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. (al 'Ankabut: 45)

Namun pada kenyataanya memang sering terjadi, seseorang shalatnya rajin namun maksiatnya juga tetap rajin. Hal tersebut juga telah diisyaratkan dalam hadits Nabi Saw. (dalam Mu'jam Kabir Al Thabrani, jilid 9 hlm. 268)

المعجم الكبير للطبراني - (ج 9 / ص 268)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلا بُعْدًا

Diriwayatkan dari Ibnu Abas RA, Rasul Saw. bersabda; "barang siapa shalatnya tidak mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, maka niscaya tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh" (HR. Thabrani)

Sedangkan menurut Ibnu Mas'ud (dalam Tafsir Al Thabari, Jilid 20 hlm. 42) dan Al Ghazali (dalam Faidl Al Qadir, jilid 6 hlm. 287),  yang demikian itu setidaknya disebabkan oleh dua hal; karena tidak memenuhi ketentuan-ketentuan shalat yang benar, dan karena shalatnya dilakukan tidak dengan khusyu' dan Oleh karena itu imam Ghazali menganggap khusyu' sebagai bagian dari syarat shalat.

 قال ابن مسعود: من لم يطع صلاته لم يزدد من الله إلا بعدا. وذلك أن طاعته لها إقامته إياها بحدودها، وفي طاعته لها مزدجر عن الفحشاء والمنكر. (تفسير الطبري - (ج 20 / ص 42).

Ibnu Mas'ud berkata; "Barang siapa yang tidak taat pada shalatnya maka tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh. Hal itu karena, yang dimaksud taat seseorang pada shalatnya berarti menunaikanya sesuai dengan ketentuan-ketentuanya. Ketaatan seseorang pada shalatnya akan mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar.

واستدل به الغزالي على أن الخشوع شرط للصلاة قال : لأن صلاة الغافل لا تمنع من الفحشاء والمنكر. (فيض القدير - (ج 6 / ص 287)

Dengan dasar ayat tersebut (al 'Ankabut; 45), Imam Ghazaliberpendapat bahwa khusyu' merupakan salah satu syarat shalat. Beliau berkata: (alasannya) karena sesungguhnya shalatnya orang yang lalai tidak akan mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar.

Walaupun demikian, bila mana seseorang ketika melakukan maksiat masih ingat kepada Allah dengan rsa takut serta khawatir atas apa yang ia lakukan, maka ia masih bisa diharapkan (mendapat ampunanNya). Demikian menurut Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari Jilid 20 hlm. 481.

6.       Pertanyaan: Shalat kakinya mengikat anjing, walaupun shalatnya ditempat yang suci, bagaimana hukumnya?

Jawaban: Shalatnya tidak syah, karena salah satu syarat shalat adalah suci pakaian termasuk yang dibawanya. Dalam Al Muhadzab jilid 1 hlm. 116 dijelaskan:

وإن كان في وسطه حبل مشدود إلى كلب صغير لم تصح صلاته لأنه حامل للكلب لأنه إذا مشى انجر معه وإن كان مشدودا إلى كلب كبير ففيه وجهان : أحدهما لا تصح صلاته لأنه حامل لما هو متصل بالنجاسة فهو كالعمامة على رأسه وطرفها على نجاسة والثاني تصح لأن الكلب اختيارا

Bila mana pada perut seseorang terdapat tali yang terikatkan pada anjing kecil maka shalatnya tidak syah karena itu berarti ia membawa anjing (najis), juga karena jika ia berjalan niscaya anjing akan tertarik bersamanya.

7.       Pertanyaan: Shalat witir rekaatnya ada yang 2-1 dengan 2x salam, ada 3 rekaat sekaligus dengan satu kali salam. Mohon dijelaskan masing-masing  dasar/haditsnya!

Dasar Shalat Witir; hadts Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunan Abi Dawud Jilid 4 hlm. 426.

سنن أبى داود - (ج 4 / ص 416)

عَنْ أَبِى أَيُّوبَ الأَنْصَارِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ ».

 

 

 

Dasar Memisahkan Shalat Witir:

صحيح ابن حبان - (ج 10 / ص 341)

عن ابن عمر ، قال : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعُنَاهُ

فتح المعين - (ج 1 / ص 289)

ويجوز لمن زاد على ركعة الفصل بين كل ركعتين بالسلام - وهو أفضل من الوصل - بتشهد أو تشهدين في الركعتين الاخيرتين، ولا يجوز الوصل بأكثر من تشهدين. والوصل خلاف الاولى، فيما عدا الثلاث، وفيها مكروه للنهي عنه في خبر.

المستدرك - (ج 1 / ص 446)

عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : لا توتروا بثلاث و لا تشبهوا بصلاة المغرب أوتروا بخمس أو بسبع

Dasar shalat witir tiga kali satu salam:

سنن الترمذى - (ج 2 / ص 302)

عَنْ عَلِىٍّ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِثَلاَثٍ يَقْرَأُ فِيهِنَّ بِتِسْعِ سُوَرٍ مِنَ الْمُفَصَّلِ يَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ بِثَلاَثِ سُوَرٍ آخِرُهُنَّ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ )

الأشباه والنظائر - (ج 1 / ص 257)

مَا كَانَ أَكْثَرَ فِعْلًا ، كَانَ أَكْثَرَ فَضْلًا " أَصْلُهُ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَائِشَةَ { أَجْرُكِ عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

وَمِنْ ثَمَّ كَانَ فَصْلُ الْوِتْرِ أَفْضَلَ مِنْ وَصْلِهِ ؛ لِزِيَادَةِ النِّيَّةِ ، وَالتَّكْبِيرِ ، وَالسَّلَامِ .

 

8.       Pertanyaan:Wudlu apa bisa dianggap sabab shalat syukril wudlu diwaktu larangan shalat?

Bisa

Wudlu termasuk sabab mutaqaddim:

فتح المعين - (ج 1 / ص 142)

يكره تحريما صلاة لا سبب لها، كالنفل المطلق ومنه صلاة التسابيح، أو لها سبب متأخر كركعتي استخارة وإحرام بعد أداء صبح حتى ترتفع الشمس كرمح، وعصر حتى تغرب، وعند استواء غير يوم الجمعة. لا ما له سبب متقدم كركعتي وضوء وطواف وتحية وكسوف.

 

9.       Apakah shalat syukril wudlu dahulu atau shalat tahiyatul masjid dulu yang sebaiknya dilakukan? Ada yang mengatakan dua shalat digabung, niatnya bagaimana?

Shalat Syukril wudlu didahulukan karena sababnya lebih dahulu, bila waktu memungkinkan, maka shalat tahiyat juga dilakukan.

Bila hendak menggabungkanya maka cukup niat salah satuya saja.

فتح المعين - (ج 1 / ص 298)

وتتأدى ركعتا التحية وما بعدها بركعتين فأكثر من فرض أو نفل آخر، وإن لم ينوها معه، أي يسقط طلبها بذلك.

الأشباه والنظائر - (ج 1 / ص 228)

إذَا اجْتَمَعَ أَمْرَانِ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ ، وَلَمْ يَخْتَلِفْ مَقْصُودُهُمَا ، دَخَلَ أَحَدُهُمَا فِي الْآخَرِ غَالِبًا

10.    Letak mayat yang dishalati apakah boleh kepala mayat menghadap ke selatan? Tapi dari yang saya tahu harus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PERTANYAAN JAMA'AH PENGAJIAN

MAJLIS TA'LIM HAROMAIN GOMBONG

(Ahad Pon, 6 Maret 2011

 

1.      Deskripsi Masalah: Seseorang melakukan shalat sunah ba'da Isya kemudian diakhiri dengan melakukan shalat witir satu rekaat sebagai penutupnya. Pada malam hari ia bangun tidur dan melakukan shalat tahajud.

Pertanyaan: Apakah perlu orang tersebut melakukan shalat witir lagi, karena ia melakukan shalat sunah tahajud? Kalau perlu berapa rekaat sebaiknya? Mohon penjelasannya!

2.      Deskripsi masalah: Selain dimasjid, shalat berjamaah juga banyak dilakukan di mushala-mushala baik yang sudah diwaqafkan atau yang belum.

Pertanyaan: Apakah sama nilainya shalat berjamaah di masjid dengan shalat berjamaah di mushala pribadi yang belum diwaqafkan? Mohon penjelasanya!

3.      Deskripsi masalah: Sebagaimana diketahui bahwa tiap orang Islam yang telah mampu dan memenuhi syarat-syarat haji diwajibkan menunaikanya sekali dalam seumur kecuali bila nadzar. Tetapi karena masih memiliki cukup biaya, banyak juga orang yang melakukanya untuk kedua dan seterusnya?

Pertanyaan: menurut para ulama, lebih baik mana menggunakan biaya tersebut untuk pergi haji yang kedua dan seterusnya atau untuk membantu saudara-saudaranya yang kekurangan secara ekonomi?

4.      Deskripsi masalah: didalam kitab Taqrib dan Tanwirul Qulub diterangkan tentang haramnya membuat bangunan kuburan yang berada dipemakaman umum dan makruh bila dipemakaman pribadi. Dan sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tanwirul Qulub: ويحرم البناء على المقبرة الموقوفة الا لنبي أو شهيد أو عالم أو صالح (diharamkan membuat bangunan kuburan dipemakaman wakaf kecuali untuk makam Nabi, Syahid, 'Alim atau orang shalih).

Pertanyaan:

a.       Mohon penjelasan tentang Syahid, 'Alim dan Shalih sebagaimana yang dimaksud dalam kitab tersebut!

b.      Apa 'ilat diperbolehkanya membangun makam Nabi, Syahid, 'Alim dan orang Shalih?

5.      Deskripsi masalah: Dipemakaman umum sering kali kita lihat banyak ditanami/ditumbuhi tanaman-tanaman yang besar dan juga memiliki akar-akar yang keras serta besar. Tanaman-tanaman tersebut terkadang menyulitkan bila  hendak menggali kubur yang baru, bahkan terkadang akar-akarnya dapat masuk kedalam liang kubur mengenai mayit yang sudah terkubur lama. Padahal ada yang mengatakan sunah menanami tanaman dikuburan karena akan memintakan ampunan bagi yang dikubur.

Pertanyaan:

a.       Bagaimana sebaiknya cara memelihara kuburan umum yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar?

b.      Apakah boleh menebangi pohon-pohon itu karena dianggap menyulitkan dan membahayakan mayit yang dikubur?

6.      Deskripsi masalah: Sebagaimana diketahui sekarang banyak jasa penyelenggaraan haji amanat atau badal haji untuk orang yang telah meninggal atau masih hidup tapi fisiknya tidak mampu.

Pertanyaan:

a.       Apakah pahala amanat haji/badal haji bisa sampai kepada orang yang dibadali hajinya?

b.      Dan apakah orang perempuan boleh membadali haji untuk orang laki-laki dan sebaliknya? Mohon penjelasanya dari hadits atau pendapat para ulama!

7.      Deskripsi masalah: Pada sekitar tahun 70-an ada beberapa orang yang membentuk yayasan yang bergerak dibidang jasa penyelenggaraan ibadah haji dengan biaya tertentu dan banyak diikuti oleh masyarakat, karena pada saat itu penyelenggaraan haji belum seperti sekarang ini. Setelah banyak calhaj yang melunasi biaya yang ditentukan, ternyata yayasan tersebut tidak bisa memberangkatkan para calhaj yang telah mendaftar dan biaya yang telah disetorkan juga tidak dikembalikan kepada para calhaj. Yayasan tersebut kemudian bubar dan banyak para calhaj yang gagal berangkat haji karena sudah kehabisan biaya. Sayangnya lagi para pendirinya sekarang banyak yang telah meninggal dunia.

Pertanyaan:

a.       Apakah para ahli waris para calhaj tersebut boleh menuntut kepada ahli waris pendiri yayasan tersebut?

b.      Dan apakah para calhaj yang gagal pergi haji karena tertipu (seperti masalah diatas) terhitung tetap berkewajiban?

 

DAFTAR PERTANYAAN JAMA'AH PENGAJIAN

MAJELIS TA'LIM HAROMAIN

(Ahad Pon, 10 April 2011)

 

1.       Gambaran Masalah: Pada saat ini banyak orang yang menyemir rambut dengan warna-warni dan tujuannya pun bermacam-macam, mulai untuk menutupi uban, supaya terlihat rapih, dan lain-lain. Hal itu tidak hanya dilakukan oleh anak muda juga sebagian orang tua.

Pertanyaan: Bagaimana hukum menyemir rambut baik bagi pria maupun wanita? (H. Salman, Kalideres)

Hukum bersemir merah, kuning, baik pada keseluruhan rambut kepala atau hanya sebagian diperinci sebagai berikut:

·         Dalam kondisi rambut beruban dan pada saat model semir tersebut menyerupai (tasyabbuh) pada kebiasaan (adat) orang-orang fasik, maka hukum bersemir merah dan kuning bagi laki-laki atau wanita yang belum bersuami terjadi khilaf (perbedaan ulama). Menurut Imam Al-Ghazali hukumnya haram Dan menurut Imam ‘Izzuddin Ibnu ‘Abdissalam tetap diperbolehkan.

Dalam kondisi rambut tidak beruban, maka diperbolehkan bagi wanita yang sudah bersuami atas seijin suaminya. Namun bagi wanita yang belum bersuami terjadi khilaf (perbedaan ulama). Menurut sebagian ulama haram karena tasyabbuh bil fussaq (menyerupai kebiasaan orang-orang fasik). Dan menurut pendapat yang lain diperbolehkan apabila ada tujuan yang dibenarkan syariat (gharad shahih).

a.        Madzahibu Al-Arbaah vol II hal 46-47

b.       Fihusni As-Sair hal 11-12

c.        Ittihaf As-Sadah vol VII hal 591-592

d.       Al-Bahru Al-Muhith vol I hal 356

e.        Fath Al-Bari vol X hal 354

1. مذاهب الأربعة الجزء الثاني صحـ 46 – 47

حكم صباغة الشعر تفصيل المذاهب

الشافعية- قالوا : يكرة صباغة اللحية والشعر بالسواد إلا الخضاب بالصفرة والحمرة فإنه جائز إذا كان لغرض شرعي كالظهور الشجاع أمام الأعداء في الغزو ونحوه. فإذا كان لغرض فاسد كالتشبه بأهل الدين فهو مذموم, وكذلك يكره صبغها بالبياض كي يظهر بمظهر الشيب ليتوصل بذلك إلى الأغراض المذمومة كتوقيره والإحتفاء به وقبول شهادته وغير ذلك وكما يكره تبييض اللحية بالصبغ فإنه يكره نتف شيبها.

2. حسن السير فى بيان أحكام أنوع التشبه صحـ 11-12

ما نصه فإن قلت فقد صرح هذا الخضاب شعارا الأعاجم وقد نهينا عن التشبه بهم لأن من تشبه بقوم فهو منهم فما تصنع فى هذا التعارض قلت أما حجة الإسلام الغزالى رضى الله عنه فإنه قال فى كتاب السماع من إحيائه مهما صارت السنة شعارا لأهل البدعة قلنا لتركها خوفا من التشبه بهم وأما سلطان العلماء العزالدين عبد السلام فإنه أشار إلى رده فى فتاوه إذا قال المراد بالأعاجم الذين نهينا عن التشبه بهم أتباع الأكثرة فى ذالك الزمان ويختص النهى بما يفعلون على خلاف مقتضى شرعنا فأما ما فعلوه على وفق الإيجاب أو الندب أو الإباحة في شرعنا فلا يترك لأجل تعاطيهم إياه فإن الشرع لا ينهى عن التشبه بما أذن الله فيه.

3. إتحاف السادة المتقين الجزء السابع صحـ 591 – 592 ( دار الكتب العلمية )

(العلة الثالثة الاجتماع عليها لما أن صار من عادة أهل الفسق ) والفجور ( فيمنع من التشبه بهم لان من تشبه بقوم فهو منهم) الى أن قال (وبهذه العلة نقول بترك السنة مهما صارت شعارا لأهل البدعة خوفا من التشبه بهم ) وقد نقل الرافعي عن بعض أئمة الشافعية أنه كان يقول الأولى ترك رفع اليدين في الصلاة في ديارنا يعني ديار العجم قال لأنه صار شعارا للرافضة وله أمثلة كثيرة لكن قد يقال ليس كل شيء يفعله الفساق يحرم فعله على غيرهم ولو كان هذا معتبرا لكان الضرب بالدفوف والشبابة حراما الى أن قال.فلما لم يحرم شيء من ذلك علمنا أن هذه العلة عير معتبرة فتأمل .

4. البحر المحيط الجزء الأول صحـ 356

مسألة (لا يترك المندوب إذا صار شعارا للمبتدعة) ولا يترك لكونه صار شعارا للمبتدعة خلافا لابن أبي هريرة ولهذا ترك الترجيع في الأذان والجهر بالبسملة والقنوت في الصبح والتختم في اليمين وتسطيح القبور محتجا (بأنه صلى الله عليه وسلم ترك القيام للجنازة لما أخبر أن اليهود تفعله) وأجيب بأن له ذلك لأنه مشرع بخلاف غيره لا يترك سنة صحت عنه وفصل الغزالي بين السنن المستقلة وبين الهيئات التابعة فقال لا يترك القنوت إذا صار شعارا للمبتدعة بخلاف التسطيح والتختم في اليمين ونحوهما فإنها هيئات تابعة فحصل ثلاثة أوجه والصحيح المنع مطلقا .

5. فتح الباري شرح صحيح البخاري الجزء العاشر صحـ 354

والثغامه بضم المثلثة وتخفيف المعجمة نبات شديد البياض زهره وثمره قال: فمن كان في مثل حال أبي قحافة استحب له الخضاب لانه لا يحصل به الغرور لاحد ومن كان بخلافه فلا يستحب في حقّه,ولكن الخضاب مطلقا اولي لانه فيها امتثال الامر في مخالفة اهل الكتاب

6. شرح النووي على مسلم الجزء السابع صحـ 204

ومذهبنا استحباب خضاب الشيب للرجل والمرأة بصفرة أو حمرة ويحرم خضابه بالسواد على الأصح وقيل : يكره كراهة تنزيه والمختار التحريم لقوله صلى الله عليه وسلم : ( واجتنبوا السواد ) هذا مذهبنا .

7. حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء الثاني صحـ 480

وأما الخضاب وصبغ نحو الشعر والنقش وتطريف نحو الأصابع وتحمير الوجه وتجعيد الشعر فحرام بالنجس مطلقا وكذا بالسواد إلا لحية الرجل المحارب لإرهاب العدو وكذا بغير السواد إن منع منه حليل ، وإلا فيجوز لكن مع الكراهة في الخلية ،

8. حاشية الجمل الجزء الثاني صحـ 102

وفي فتاوى السيوطي في باب اللباس خضاب الشعر من الرأس واللحية بالحناء جائز للرجل بل سنة صرح به النووي في شرح المهذب نقلا عن اتفاق أصحابنا قال السيوطي وأما خضاب اليدين والرجلين بالحناء فمستحب للمرأة المتزوجة وحرام على الرجل ا هـ

9. إتحاف السادة المتقين الجزء الثاني صحـ 672

(الثانى الخضاب بالصفرة والحمرة وهو جائز ) إذا قرنته نية صالحة وهو أن يكون تلبيسا للشيب على الكفار فى الغزو عليهم والجهاد فيهم فإن لم يكن على هذه النية بل للتشبه بأهل الدين والصالحين وليس منهم فهو مذموم ولا يخفى أن مذهب المصنف أن الخضاب بغير السواد سنة سواء كان بحمرة أو صفرة وهذا لايحتاج فيه إلى نية الجهاد بل حاجة الجهاد تبيح السواد فضلا عن غيره كما تقدم فتأمل وقد قال رسول الله "الصفرة خضاب المسلمين والخمرة خضاب المؤمنين " – إلى أن قال – وفى الصحيحين من حيث ابن عمر أنه ويدل له ما رواه أبو داود في سننه مر رجل على النبي صلى الله عليه وسلم قد خضب بالحناء والكتم فقال هذا حسن فمر أخر خضب بالصفرة فقال هذا أحسن من هذا كله وما قال عياض من منع الخضاب مطلقا وعزاه لمالك والأكثرين لما روى من النهى عن تغيير الشيب ولأنه صلى الله عليه وسلم لم يغير شيبه وقد أجاب عنه النواوى بأنه ما مر من حديث ابن عمر وغيره لايمكن ولا تعليله قال والمختار أنه صلى الله عليه وسلم صبغ فى وقت وترك فى معظم الأوقات فأخبر كل بما رأى وهو صادق وهذا التأويل كالمتعين به بين الأحاديث.

10. عون المعبود الجزء الحادى عشرة صحـ 249

باب في الخضاب أي تغيير شيب الرأس واللحية يبلغ به أي يرفع الحديث إلى النبي صلى الله عليه وسلم إن اليهود والنصارى لا يصبغون أي لا يخضبون لحاهم وجاء صبغ من باب منع وضرب ونصر كما في القاموس فخالفوهم أي فأخضبوا لحاكم والحديث يدل على أن العلة في شرعية الخضاب هي مخالفة أهل الكتاب وبهذا يتأكد استحباب الخضاب وقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يبالغ في مخالفتهم ويأمر بها وهذه السنة قد كثر إشغال السلف بها ولهذا ترى المؤرخين في التراجم لهم يقولون وكان يخضب ولا تخضب قال النووي مذهبنا استحباب خضاب الشيب للرجل والمرأة بصفرة أو حمرة ويحرم بالسواد على الأصح انتهى

11. إعانة الطالبين الجزء الثاني صحـ 339)

(وقوله بحمرة أو صفرة ) أي لا بسواد أما به فيحرم إن كان لغير إرهاب العدو في الجهاد وذلك لخبر أبي دواد والنسائي وابن حبان في صحيحه والحاكم عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يكون قوم يخضبون في آخر الزمان بالسواد كحواصل الحمام لا يريحون رائحة الجنة قال في الزبد :

وحرموا خضاب شعر بسواد ** لرجل وامرأة لا للجهاد **

قال الرملي في شرحه نعم يجوز للمرأة ذلك بإذن زوجها أو سيدها لأن له غرضا في تزينها به اهـ

 

2.       Gambaran Masalah: Sebagaimana diketahui, dalam kitab-kitab sudah dijelaskan tentang harta-harta yang wajib dizakati seperti hewan ternak, harta dagangan, emas-perak, hasil panen (padi dan sejenisnya) dan lain-lain. Namun pada saat ini muncul istilah zakat profesi.

Pertanyaan: Bagaimana penjelasan mengenai zakat Profesi ? Bagaimana pendapat para ulama tentang hal itu? (H. Amron, Adimulyo)

الفقه الإسلامي وأدلته - (ج 3 / ص 294)

المطلب الثاني ـ زكاة كسب العمل والمهن الحرة :

العمل: إما حر غير مرتبط بالدولة كعمل الطبيب والمهندس والمحامي والخياط والنجار وغيرهم من أصحاب المهن الحرة.

وإما مقيد مرتبط بوظيفة تابعة للدولة أو نحوها من المؤسسات والشركات العامة أو الخاصة، فيعطى الموظف راتباً شهرياً كما هو معروف. والدخل الذي يكسبه كل من صاحب العمل الحر أو الموظف ينطبق عليه فقهاً وصف «المال المستفاد» (3) .

والمقرر في المذاهب الأربعة أنه لا زكاة في المال المستفاد حتى يبلغ نصاباً ويتم حولاً، ويزكى في رأي غير الشافعية المال المدخر كله ولو من آخر لحظة قبل انتهاء الحول بعد توفر أصل النصاب.

ويمكن القول بوجوب الزكاة في المال المستفاد بمجرد قبضه، ولو لم يمض عليه حول، أخذاً برأي بعض الصحابة (ابن عباس وابن مسعود ومعاوية) وبعض التابعين (الزهري والحسن البصري ومكحول) ورأي عمر بن عبد العزيز، والباقر والصادق والناصر، وداود الظاهري. ومقدار الواجب: هو ربع العشر، عملاً بعموم النصوص التي أوجبت الزكاة في النقود وهي ربع العشر، سواء حال عليها الحول، أم كانت مستفادة. وإذا زكى المسلم كسب العمل أو المهنة عند استفادته أو قبضه لايزكيه مرة أخرى عند انتهاء الحول.

وبذلك يتساوى أصحاب الدخل المتعاقب مع الفلاح الذي تجب عليه زكاة الزروع والثمار بمجرد الحصاد والدياس.

 

فقه الزكاة - يوسف القرضاوي - (ج 1 / ص 423)

الرواتب والأجور مال مستفاد

والنتيجة من هذا التخريج - على ما فيه (أقرب اعتراض عليه ما يقوله كثير من الموظفين من إنفاق رواتبهم بعد أيام من قبضها، إلى حد الاقتراض وهذا يقطع الحول بالإجماع) - أن تؤخذ الزكاة من الرواتب ونحوها عن شهر واحد من اثنى عشر شهرًا ؛ لأن الذي يخضع للزكاة هو النصاب الثابت في أول الحول وأخره. والعجب أن يقول الأساتذة عن كسب العمل والمهن وما يجلبه من رواتب وإيراد: إنهم لا يعرفون له نظيرًا في الفقه إلا فيما روى عن أحمد في أجرة الدار ؛ هذا مع أن أقرب شئ يذكر هنا هو "المال المستفاد" وهو ما يستفيده المسلم ويملكه ملكًا جديدًا بأي وسيلة من وسائل التملك المشروع ؛ فالتكييف الفقهي الصحيح لهذا الكسب: أنه مال مستفاد. وقد ذهب إلى وجوب تزكيته في الحال جماعة من الصحابة ومن بعدهم دون اشتراط حول ؛ وإلى ذلك ذهب ابن عباس وابن مسعود ومعاوية والصادق والباقر والناصر وداود، ورُوى عن عمر بن عبد العزيز والحسن والزهري والأوزاعي.

المحلى - (ج 6 / ص 84)

وقال أبو حنيفة: لاَ يُزَكَّى الْمَالُ الْمُسْتَفَادُ إلاَّ حَتَّى يُتِمَّ حَوْلاً إلاَّ إنْ كَانَ عِنْدَهُ مَالٌ يَجِبُ فِي عَدَدِ مَا عِنْدَهُ مِنْهُ الزَّكَاةُ فِي أَوَّلِ الْحَوْلِ: فَإِنَّهُ إنْ اكْتَسَبَ بَعْدَ ذَلِكَ لَوْ قَبْلَ تَمَامِ الْحَوْلِ بِسَاعَةٍ شَيْئًا قَلَّ أَوْ كَثُرَ مِنْ جِنْسِ مَا عِنْدَهُ: فَإِنَّهُ يُزَكِّي الْمُكْتَسَبَ مَعَ الأَصْلِ, سَوَاءٌ عِنْدَهُ الذَّهَبُ, وَالْفِضَّةُ, وَالْمَاشِيَةُ, وَالأَوْلاَدُ, وَغَيْرُهَا.

وقال مالك: لاَ يُزَكَّى الْمَالُ الْمُسْتَفَادُ إلاَّ حَتَّى يُتِمَّ حَوْلاً, وَسَوَاءٌ كَانَ عِنْدَهُ مَا فِيهِ الزَّكَاةُ مِنْ جِنْسِهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ, إلاَّ الْمَاشِيَةَ; فَإِنَّ مَنْ اسْتَفَادَ مِنْهَا شَيْئًا بِغَيْرِ وِلاَدَةٍ مِنْهَا, فَإِنْ كَانَ الَّذِي عِنْدَهُ مِنْهَا نِصَابًا: زَكَّى الْجَمِيعَ عِنْدَ تَمَامِ الْحَوْلِ, وَإِلاَّ فَلاَ, وَإِنْ كَانَتْ مِنْ وِلاَدَةٍ زَكَّى الْجَمِيعَ بِحَوْلِ الآُمَّهَاتِ1 سَوَاءٌ كَانَتْ الآُمَّهَاتُ نِصَابًا أَوْ لَمْ تَكُنْ.

وقال الشافعي: لاَ يُزَكَّى مَالٌ مُسْتَفَادٌ مَعَ نِصَابٍ كَانَ عِنْدَ الَّذِي اسْتَفَادَهُ مِنْ جِنْسِهِ أَلْبَتَّةَ, إلاَّ أَوْلاَدَ الْمَاشِيَةِ مَعَ أُمَّهَاتِهَا فَقَطْ إذَا كَانَتْ الآُمَّهَاتُ نِصَابًا وَإِلاَّ فَلاَ.

فقه الزكاة - يوسف القرضاوي - (ج 1 / ص 436)

وقد اختلف أئمة المذاهب الأربعة في المال المستفاد، اختلافًا متفاوتًا، ذكره ابن حزم في المحلى فقال: قال أبو حنيفة: لا يزكى المال المستفاد إلا إذا تم له حول في ملك مالكه إلا إذا كان إذا عنده مال من جنسه تجب فيه الزكاة في أول الحول، بأن بلغ نصابًا، فإنه إن اكتسب بعد ذلك -ولو قبل تمام الحول بساعة- شيئًا، قلَّ أو كثر، من جنس ما عنده، فإنه يزكى المكتسب مع الأصل، سواء عنده الذهب والفضة والماشية والأولاد (أي أولاد الماشية) وغيرها (المحلى لابن حزم: 6 / 84).

وقال مالك: لا يزكى المال المستفاد حتى يتم حَوْلاً، وسواء أكان عنده ما فيه الزكاة من جنسه أم لم يكن إلا الماشية، فإن من استفاد منها شيئا بغير ولادة منها، فإن كان الذي عنده منها نصابًا زكَّى الجميع عند إتمام الحول، وإن كان أقل من النصاب فلا زكاة عليه، وإن كانت الماشية المستفادة من ولادة زكى الجميع بحول الأمهات، سواء أكانت الأمهات نصابًا أم لم تكن (المحلى لابن حزم: 6 / 84).

وقال الشافعي: لا يزكى مال مستفاد إلا أن يحول عليه الحول، ولو كان عند الذي استفاده نصاب من جنسه، واستثنى من ذلك أولاد الماشية مع أمهاتها فقط إذا كانت الأمهات نصابا وإلا فلا (المحلى لابن حزم: 6 /84).

 

3.       Gambaran Masalah: Saya adalah seorang PNS, setiap bulan saya menyisihkan 2,5% dari gaji saya dengan niat sebagai zakat yang saya berikan langsung kepada orang yang berhak, tanpa menunggu sampai akhir tahun.

Pertanyaan: Apakah zakat yang saya lakukan sudah benar? (Hj. Triswati, Adimulyo)

 

4.       Pertanyaan: Apakah ada dasarnya pelaksanaan shalat sakartul maut? (H. Suradi, Ori).

 

5.       Pertanyaan: Apakah ada do'a I'tidal selain سمع الله لمن حمده, ربنا لك الحمد ...الح ? bila ada bagaimana bacaanya dan darimana dasar pengambilanya? (Hj. Ari T.)

المنهاج للنووي - (ج 1 / ص 28)

السَّادِسَ الِاعْتِدَالُ قَائِمًا مُطْمَئِنًّا، وَلَا يَقْصِدُ غَيْرَهُ فَلَوْ رَفَعَ فَزِعًا مِنْ شَيْءٍ لَمْ يَكْفِ. وَيُسَنُّ رَفْعُ يَدَيْهِ مَعَ ابْتِدَاءِ رَفْعِ رَأْسِهِ قَائِلاً: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَإِذَا انْتَصَبَ قَالَ: رَبَّنَا لَك الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، وَيَزِيدُ الْمُنْفَرِدُ: أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ وَكُلُّنَا لَك عَبْدٌ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.

6.       Gambaran Masalah: Pada saat ini sering terjadi seseorang menikahi wanita yang sedang hamil yang umumnya akibat hamil diluar nikah. Ada yang kemudian dinikahi oleh orang yang menghamilinya, tapi ada juga yang dinikahi oleh orang lain.

Pertanyaan:

a.        Bagaimana hukum pernikahan bila seorang gadis (lajang) yang hamil diluar nikah, menikah dengan orang yang telah yang menghamilinya? Bagaimana pula bila yang menikahi itu orang lain (bukan yang menghamilinya)?

b.       Bila seorang wanita janda telah bercerai lama namun kemudian ia hamil lagi dan akhirnya dinikahi oleh orang yang menghamilinya, bagaimana hukum pernikahanya?

 

7.       Gambaran Masalah: Si Ahmad hendak membangun rumah dan butuh biaya banyak untuk matrial dan tukang. Si Amir kemudian nitip 10 sak semen kepada Ahmad namun bukan wujud semen yang diberikan kepada amir melainkan sejumlah uang yakni Rp 500.000 yang seharga 10 sak semen pada waktu itu(@ 50.000). Perjanjianya, bila suatu saat si Amir membutuhkan maka dia akan minta uang kepada Ahmad dengan seharaga semen pada saat ia butuh. Uang tersebut oleh Ahmad tidak untuk membeli semen, tapi untuk beli yang lainya yang dibutuhkan. Selang dua tahun ketika Amir membutuhkan, harga semen sudah Rp. 60.000 per sak, sehingga Ahmad harus memberikan sejumlah Rp. 600.000.

Pertanyaan: Apakah akad semacam itu diperbolehkan ? mengingat hal itu sering terjadi, mohon penjelasanya.

 

8.       Gambaran Masalah: Umar berhutang uang kepada Sufyan sejumlah 10 juta, dalam tempo satu tahun dan sebagia jaminanya adalah 1 buah sepeda motor. Kemudian sepeda motor tersebut dipakai oleh Sufyan untuk keperluan sehari-hari selama Umar belum melunasi hutangnya. Kasus seperti itu juga sering terjadi pada jaminan berupa sawah/tanah dan lain-lain

Pertanyaan: Apakah penjaminan dengan cara seperti itu benar menurut Fikih?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menghitung Zakat Profesi
23/08/2007

Zakat penghasilan atau zakat profesi (al-mal al-mustafad) adalah zakat yang dikenakan pada setiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun bersama dengan orang/lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan (uang) halal yang memenuhi nisab (batas minimum untuk wajib zakat). Contohmya adalah pejabat, pegawai negeri atau swasta, dokter, konsultan, advokat, dosen, makelar, seniman dan sejenisnya.

Hukum zakat penghasilan berbeda pendapat antar ulama fiqh. Mayoritas ulama madzhab empat tidak mewajibkan zakat penghasilan pada saat menerima kecuali sudah mencapai nisab dan sudah sampai setahun (haul), namun para ulama mutaakhirin seperti Syekh Abdurrahman Hasan, Syekh Muhammad Abu Zahro, Syekh Abdul Wahhab Khallaf, Syekh Yusuf Al Qardlowi, Syekh Wahbah Az-Zuhaili, hasil kajian majma' fiqh dan fatwa MUI nomor 3 tahun 2003 menegaskan bahwa zakat penghasilan itu hukumnya wajib.

Hal ini mengacu pada pendapat sebgian sahabat (Ibnu Abbas, Ibnu Masud dan Mu'awiyah), Tabiin ( Az-Zuhri, Al-Hasan Al-Bashri, dan Makhul) juga pendapat Umar bin Abdul Aziz dan beberpa ulama fiqh lainnya. (Al-fiqh Al-Islami wa ‘Adillatuh, 2/866)

Juga berdasarkan firman Allah SWT: "... Ambilah olehmu zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka..." ( QS. At-Taubah 9:103) dan firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman! nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik..." ( QS. Al-Baqarah. 2:267)

Juga berdasarkan sebuah hadits shahih riwayat Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Keluarkanlah olehmu sekalian zakat dari harta kamu sekalian," dan hadits dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda: "Sedekah hanyalah dikelaurkan dari kelebihan/kebutuhan. tangan atas lebih baik daripada tangan dibawah. mulailah (dalam membelanjakan harta) dengan orang yang menjadi tanggung jawabmu." ( HR. Ahmad)

Dan juga bisa dijadikan bahan pertimbangan apa yang dijelaskan oleh penulis terkenal dari Mesir, Muhammad Ghazali dalam bukunya Al-Islam wal Audl' Aliqtishadiya: "Sangat tidak logik kalau tidak mewajibkan zakat kepada kalangan profesional seperti dokter yang penghasilannya sebulan bisa melebihi penghasilan petani setahun."

Jika kita mengikuti pendapat ulama yang mewajibkan zakat penghasilan, lalu bagaimana cara mengeluarkannya? Dikeluarkan penghasilan kotor  (bruto) atau penghasilan bersih (neto)? Ada tiga wacana tentang bruto atau neto seperti berikut ini.

Bruto atau Neto

Dalam buku fiqh zakat karya DR Yusuf Qaradlawi. bab zakat profesi dan penghasilan,  dijelaskan tentang cara mengeluarkan zakat penghasilan. Kalau kita klasifikasi ada tiga wacana:

1. Pengeluaran brotto, yaitu mengeluarkan zakat penghasilan kotor. Artinya, zakat penghasilan yang mencapai nisab 85 gr emas dalam jumlah setahun, dikeluarkan 2,5 % langsung ketika menerima sebelum dikurangi apapun. Jadi kalau dapat gaji atau honor dan penghasilan lainnya dalam sebulan mencapai 2 juta rupiah x 12 bulan = 24 juta, berarti dikeluarkan langsung 2,5 dari 2 juta tiap buan = 50 ribu atau dibayar di akhir tahun = 600 ribu.

Hal ini juga berdasarkan pendapat Az-Zuhri dan 'Auza'i, beliau menjelaskan: "Bila seorang memperoleh penghasilan dan ingin membelanjakannya sebelum bulan wajib zakat datang, maka hendaknya ia segera mengeluarkan zakat itu terlebih dahulu dari membelanjakannya" (Ibnu Abi Syaibah, Al-mushannif, 4/30). Dan juga menqiyaskan dengan  beberapa harta zakat yang langsung dikeluarkan tanpa dikurangi apapun, seperti zakat ternak, emas perak, ma'dzan dan rikaz.
   

2. Dipotong oprasional kerja, yaitu setelah menerima penghasilan gaji atau honor yang mencapai nisab, maka dipotong dahulu dengan biaya oprasional kerja. Contohnya, seorang yang mendapat gaji 2 juta  rupiah sebulan, dikurangi biaya transport dan konsumsi harian di tempat kerja sebanyak 500 ribu, sisanya 1.500.000. maka zakatnya dikeluarkan 2,5 dari 1.500.000= 37.500,-

Hal ini dianalogikan dengan zakat hasil bumi dan kurma serta sejenisnya. Bahwa biaya dikeluarkan lebih dahulu baru zakat dikeluarkan dari sisanya. Itu adalah pendapat Imam Atho' dan lain-lain dari itu zakat hasil bumi ada perbedaan prosentase zakat antara yang diairi dengan hujan yaitu 10%  dan melalui irigasi 5%.
 
3. Pengeluaran neto atau zakat bersih, yaitu mengeluarkan zakat dari harta yang masih mencapai nisab setelah dikurangi untuk kebutuhan pokok sehari-hari, baik pangan, papan, hutang dan kebutuhan pokok lainnya untuk keperlua dirinya, keluarga dan yang menjadi tanggungannya. Jika penghasilan setelah dikurangi kebutuhan pokok masih mencapai nisab, maka wajib zakat, akan tetapi kalau tidak mencapai nisab ya tidak wajib zakat, karena dia bukan termasuk muzakki (orang yang wajib zakat) bahkan menjadi mustahiq (orang yang berhak menerima zakat)karena sudah menjadi miskin dengan tidak cukupnya penghasilan terhadap kebutuhan pokok sehari-hari.

Hal ini berdasarkan hadits riwayat imam Al-Bukhari dari Hakim bin Hizam bahwa Rasulullah SAW bersabda: ".... dan paling baiknya zakat itu dikeluarkan dari kelebihan kebutuhan...". (lihat:  DR Yusuf Al-Qaradlawi. Fiqh Zakat, 486)

Kesimpulan, seorang yang mendapatkan penghasilan halal dan mencapai nisab (85 gr emas) wajib mengeluarkan zakat 2,5 %, boleh dikeluarkan setiap bulan atau di akhir tahun. Sebaiknya zakat dikeluarkan dari penghasilan kotor sebelum dikurangi kebutuhan yang lain. Ini lebih afdlal (utama) karena khawatir ada harta yang wajib zakat tapi tapi tidak dizakati, tentu akan mendapatkan adzab Allah baik di dunia dan di akhirat. Juga penjelasan Ibnu Rusd bahwa zakat itu ta’bbudi (pengabdian kepada Allah SWT) bukan hanya sekedar hak mustahiq. Tapi ada juga sebagian pendapat ulama membolehkan sebelum dikeluarkan zakat dikurangi dahulu biaya oprasional kerja atau kebutuhan pokok sehari-hari.

Semoga dengan zakat, harta menjadi bersih, berkemabang, berkah, bermanfaat dan meneyelamatkan pemiliknya dari siksa Allah SWT. Amiin ya mujibas sa`ilin.

H Abdurrahman Navis Lc
Wakil Katib Syuriyah PWNU Jawa Timur