DAFTAR PERTANYAAN JAMA'AH PENGAJIAN

MAJLIS TA'LIM HAROMAIN GOMBONG

(Ahad Pon, 19 Juni 2011)

 

1.       Gambaran Masalah: Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti pertemuan ibu-ibu. Pada pertemuan tersebut ada pengarahan cara membuat abon dari bekicot. Setahu saya bahwa bekicot itu diharamkan.

Pertanyaan: Mohon penjelasan dasar hukumnya? (Hj. Dwi Titi Maryani, Tambaksari)

Jawaban:

Allah Swt. membolehkan manusia untuk memakan segala yang telah dikaruniakanNya selama hal itu adalah halal lagi baik dan tidak ada dalil yang mengharamkanya. QS. An Nahl; 114

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ (النحل/114)

(Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang Telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu Hanya kepada-Nya saja menyembah).

Sedangkan bekicot menurut para Ulama termasuk binatang yang diharamkan karena menjijikan (istikhbats). Kategori  menjijikan didasarkan pada pandangan orang-orang Arab yang memahami nash al Qur'an dan Hadits, bukan atas pandangan tiap orang semata. Dalam Hayat al Hayawan al Kubra J. 1 hlm 234 dijelaskan;

الحلزون: ....وحكمه: التحريم لاستخباثه. وقد قال الرافعي في السرطان أنه يحرم لما فيه من الضرر لأنه داخل في عموم تحريم الصدف

(bekicot) … (dan hukumnya) di haramkan karena menjijikkan. Ar Rafii sungguh telah berkata dalam masalah kepiting: Sesungguhnya bekicot itu haram karena di dalammnya terdapat kemudaratan, dan karena bekicot itu masuk dalam keumuman dari keharaman rumah kerang

2.       Pertanyaan:

a.        Apakah betul bahwa setiap malam jum'at ahli kubur menengok/pulang ke rumah?

b.       Apakah orang yang sudah meninggal dapat mengetahui keadaan ahli warisnya yang masih hidup di dunia?

c.        Ada yang mengatakan bahwa membaca surat yasin yang ditujukan kepada ahli kubur termasuk bid'ah, mohon penjelasanya?

Jawaban:

a.        Betul, arwah ahli qubur tiap malam jum'at dapat saja pulang kerumah atas kehendak Allah. Dalam kitab Ushfuriyah dijelaskan bahwa Ahli Kubur dapat berkunjung kerumahnya tiap malam Jumat. Hal ini pun tidak bertentangan dengan perkataan Anas bin Malik bahwa para arwah terbebas, pergi kemana ia mau. Kitab Mafahim Yajibu an Tusahhaha hlm. 178

وقال مالك بن أنس بلغني أن الأرواح مرسلة تذهب حيث شاءت

b.       Orang yang telah meninggal dengan seizin Allah dapat mengetahui keadaan ahli warisnya atau orang-orang yang masih hidup. Dalam kitab Mafahim Yajibu An Tusahhah hlm 177 dijelaskan bahwa orang yang telah mati dapat mengetahui keadaan orang yang masih hidup termasuk ahli warisnya/keluarganya. Dasarnya adalah hadits Nabi Saw: 

عن ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَا مِنْ أَحَدٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ أَخِيهِ الْمُؤْمِنِ كَانَ يَعْرِفُهُ فِي الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ، إلَّا عَرَفَهُ، وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ}

c.        Bukan termasuk Bid'ah, karena amaliyah tersebut juga memiliki dasar dalam ajaran Islam. Misalnya

Di antara dalil bahwa mayyit mendapat manfaat dari bacaan al Qur'an orang lain adalah hadits Ma'qil ibn Yasar:

" اِقْرَءُوْا يَس عَلَى مَوْتَاكُمْ " (رواه أبو داود والنسائي وابن ماجه وابن حبان وصححه).

" Bacalah surat Yaasin untuk mayit kalian " (H.R Abu Dawud, an– Nasai, Ibn Majah dan Ibn Hibban dan dishahihkannya).

Hadits ini memang dinyatakan lemah oleh sebagian ahli hadits, tetapi Ibn Hibban mengatakan hadits ini shahih dan Abu Dawud diam (tidak mengomentarinya) maka dia tergolong hadits Hasan (sesuai dengan istilah Abu Dawud dalam Sunan-nya), dan al Hafizh as-Suyuthi juga mengatakan bahwa hadits ini Hasan.

Dalil yang lain adalah hadits Nabi:

" يس قَلْبُ اْلقُرْءَانِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَ الدَّارَ الْآَخِرَةَ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ، وَاقْرَءُوْهَا عَلىَ مَوْتَاكُمْ " (رواه أحمد)

Yasin adalah hatinya al Qur'an, tidaklah dibaca oleh seorangpun karena mengharap ridla Allah dan akhirat kecuali diampuni oleh Allah dosa– dosanya, dan bacalah Yasin ini  untuk mayit–mayit kalian "  (H.R. Ahmad)

Ahmad bin Muhammad al Marrudzi berkata : "Saya mendengar Ahmad ibn Hanbal -semoga Allah merahmatinya- berkata: "Apabila kalian memasuki areal pekuburan maka bacalah surat al Fatihah dan Mu'awwidzatayn dan surat al Ikhlas dan hadiahkanlah pahalanya untuk ahli kubur karena sesungguhnya pahala bacaan itu akan sampai kepada mereka".

Al Khallal juga meriwayatkan dalam al Jami' dari asy-Sya'bi bahwa ia berkata:

"كانت الأنصار إذا مات لهم ميت اختلفوا إلى قبره يقرءون له القرءان"

"Tradisi para sahabat Anshar jika meninggal salah seorang di antara mereka, maka mereka akan datang ke kuburnya silih berganti dan membacakan al Qur'an untuknya (mayit)".

 

3.       Pertanyaan: Apakah shalat hajat termasuk shalat lail atau bukan? Kalau bukan apakah dapat dilakukan pada siang hari? (Hj. Wiwik Suryani)

Jawaban: Shalat Hajat bukan termasuk shalat lail (shalat khusus malam hari), melainkan shalat yang disunahkan dikerjakan manakala seseorang memiliki hajat baik siang hari maupun malam hari. Hanya saja bila dilakukan dimalam hari memiliki keutamaan karena adanya keutamaan ibadah yang dilakukan dimalam hari. Hadits Nabi Saw. dalam kitab al Mustadrak 'Ala Shahihain J. 1 hlm. 466 dijelaskan;

عن عبد الله بن أبي أوفى قال : خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم يوما فقعد فقال : من كانت له حاجة إلى الله أو إلى أحد من بني آدم فليتوضأ و ليحسن وضوءه ثم ليصل ركعتين ثم يثني على الله و يصلي على النبي صلى الله عليه و سلم و ليقل : لا إله إلا الله الحليم الكريم سبحان الله رب العرش العظيم الحمد لله رب العالمين أسألك عزائم مغفرتك و العصمة من كل ذنب و السلامة من كل إثم

Dari Abdullah bin Abi Aufa berkata, suatu hari Rasulullah Saw. hadir dihadapan kita kemudian duduk seraya bersabda: barang siapa yang sedang memiliki hajat (kebutuhan) kepada Allah atau seseorang dari manusia maka hendaknya ia berwudlu dengan baik, lalu shalat dua rekaat lantas memuji kepada Allah dan bershalawat atas Nabi Saw. kemudian berdo'a: Tiada Tuhan selain Allah yang maha arif dan dermawan, Maha Suci Tuhan penguasa Arasy yang agung. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam, aku memohon kepada Engkau keagungan ampunanMu, terjaga dari segala dosa besar, dan selamat dari segala dosa-dosa kecil.

Dengan dasar hadits tersebut para ulama berpendapat bahwa shalat hajat dapat dilakukan kapanpun manakala seseorang memiliki hajat kepada Allah maupun pada manusia, baik dalam urusan agama maupun dunia. Imam Nawawi menjelaskan dalam Nihayat al Zain, 105 

ومنه صلاة الحاجة فمن ضاق عليه الأمر ومسته حاجة في صلاح دينه ودنياه وتعسر عليه ذلك فليصل هذه الصلاة الآتية

Diantara shalat sunat adalah shalat hajat. Barang siapa mengalami kesulitan suatu hal, atau terdesak kebutuhan baik urusan agama maupun dunia serta mengalami kesulitan atasnya, maka hendaknya ia melakukan shalat berikut ini (Shalat Hajat)

4.       Gambaran Pertanyaan: Sebagian kita ada yang pernah mendengar adanya babi ngepet (babi jadi-jadian yang berasal dari manusia)

a.        Apakah najis babi ngepet tersebut?

b.       Apakah juga termasuk hewan Ghairul Muhtarom yang halal dibunuh?

Jawaban;

a.        Tidak najis bila memang diyakini ia berasal dari manusia yang berubah wujudnya.

b.       Tidak boleh dibunuh bila memang diyakini berasal dari manusia.

Tuhfat al Muhtaj J. 3 hlm 258.

وَلَوْ مُسِخَ آدَمِيٌّ كَلْبًا فَيَنْبَغِي طَهَارَتُهُ اسْتِصْحَابًا لِمَا كَانَ وَلَوْ مُسِخَ الْكَلْبُ آدَمِيًّا فَيَنْبَغِي اسْتِصْحَابُ نَجَاسَتِهِ وَلَمْ نَرَ فِي ذَلِكَ شَيْئًا وَوَقَعَ الْبَحْثُ فِيهِ مَعَ الْفُضَلَاءِ فَتَحَرَّرْ ذَلِكَ بَحْثًا سم عَلَى حَجّ ا هـ ع ش .

Apa bila ada seseorang yang berubah wujud menjadi anjing, maka hendaknya tetap dihukumi kesucianya dengan mendasarkan pada hukum asalnya (anjing) tadi. Demikian halnya manakala ada anjing yang berubah wujud menjadi manusia maka hendaknya dihukumi kenajisanya (melihat asalnya manusia tersebut)

5.       Deskripsi Masalah: Seperti diketahui setiap menjelang akhir Romadhon banyak lembaga pendidikan seperti sekolah/madrasah dan pondok pesantren yang membentuk panitia penrimaan dan penyaluran zakat fitrah bagi para siswa/santri. Sedangkan sebagian siswa/santri banyak yang berasal dari luar daerah.u

Pertanyaan: Apakah pengeluaran zakat fitrah yang melalui panitia dilain daerahnya seperti yang dilakukan madrasah/sekolah dan pondok pesantren syah menurut ketentuan hukum fikih? Padahal banyak siswa/santri yang berasal dari luar daerah atau bukan sekitar lembaga tersebut. (H. Amron)

Jawaban: Syah, dengan mengikuti pendapat Ibnu 'Ujail dan Ibnu Shalah (keduanya termasuk ulama madzhab Syafi'iyah), dan mengikuti pendapat keduanya diperbolehkan. Terlebih lagi kegiatan tersebut dapat dijadikan tarbiyah (pendidikan) dan latihan beribadah bagi para siswa maupun santri. Dalam kitab I'anah Thalibin j. 2 hlm. 212 dan Bughyat al Mustarsyidin hlm. 217 dijelaskan;

بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 217)

(مسألة : ج) : وجدت الأصناف أو بعضهم بمحلّ وجب الدفع إليهم ، كبرت البلدة أو صغرت وحرم النقل ، ولم يجزه عن الزكاة إلا على مذهب أبي حنيفة القائل بجوازه ، واختاره كثيرون من الأصحاب ، خصوصاً إن كان لقريب أو صديق أو ذي فضل وقالوا : يسقط به الفرض ، فإذا نقل مع التقليد جاز وعليه عملنا وغيرنا ولذلك أدلة اهـ. وعبارة ب الراجح في المذهب عدم جواز نقل الزكاة ، واختار جمع الجواز كابن عجيل وابن الصلاح وغيرهما ، قال أبو مخرمة : وهو المختار إذا كان لنحو قريب ، واختاره الروياني ونقله الخطابي عن أكثر العلماء ، وبه قال ابن عتيق ، فيجوز تقليد هؤلاء في عمل النفس.

حاشية إعانة الطالبين - (ج 2 / ص 212)

(1) (قوله: قال ابن عجيل إلخ) سئل شيخنا وأستاذنا - أطال الله بقاءه - عن نقل زكاة المال من أرض الجاوة إلى مكة والميدينة رجاء ثواب التصدق على فقراء الحرمين، هل يوجد في مذهب الشافعي قول بجواز نقلها في ذلك ئ فأجاب - بما صورته.

(اعلم) - رحمك الله - إن مسألة نقل الزكاة فيها اختلاف كثير بين العلماء، والمشهور في مذهب الشافعي امتناع نقلها إذا وجد المستحقون لها في بلدها.

ومقابل المشهور جواز النقل، وهو مذهب الامام أبى حنيفة - رضى الله عنه - وكثير من المجتهدين، منهم الامام البخاري،

فإنه نرجم المسألة بقوله: باب أخذ الصدقة من الاغنياء - وترد على الفقراء حيث كانوا.

قال شارحه القسطلانى: ظاهره أن المولف يختار جواز نقل الزكاة من بلد المال.

وهو أيضا مذهب الحنفية والاصح عند الشافعية والمالكية عدم الجواز: انتهى.

وفى المنهاج والتحفة للعلامة ابن حجر: والاظهر منع نقل الزكاة.

وإن نقل مقبله أكثر العلماء، وانتصر له.

انتهى.

إذا تأملت ذلك ء علمت أن القول بالنقل يوجد في مذهب الامام الشافعي، ويجوز تقليده، والعمل بمقتضاه.

والله أعلم.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PERTANYAAN JAMA'AH PENGAJIAN

MAJLIS TA'LIM HAROMAIN GOMBONG

(Ahad Pon, 24 Juli 2011)

 

1.       Pertanyaan: Bagaimana cara atau ketentuan ruju' yang masih dalam masa 'idah maupun diluar 'idah? Mohon penjelasannya?

 

2.       Deskripsi Masalah: Kaifiyah menshalati jenazah adalah sama dengan shalat jama'ah biasa, yaitu antara jenazah dan imam tidak ada satir (penghalang/penutup). Sedangkan dalam pelaksanaanya banyak orang yang menshalati jenazah yang sudah didalam kerenda yang tertutup.

Pertanyaan:

a.        Apakah syah cara seperti itu? Mohon penjelasannya

b.       Apakah penguburan jenazah dengan terbelo (peti mati) termasuk bid'ah sayyiah? (H. Amron)

3.       Deskripsi Masalah: Didalam Al Qur'an dijelaskan apabila terkena musibah kita diperintahkan membaca Tarji' (innaa lillahi wa innaa ilaihi raji'un). Dan dibeberapa daerah sering ditemukan kain penutup kerenda bertuliskan kalimah seperti itu.

Pertanyaan: Bagaimana sebaiknya mensikapi hal seperti itu?

 

4.       Deskripsi Masalah: Membaca hasil bahtsul masail al Haramain edisi 10 April 2011 no 6 tentang nikahnya wanita yang hamil diluar nikah tetap syah baik dengan orang yang menghamilinya maupun yang bukan.

Pertanyaan: Bagaimana apabila bayi hasil zina ternyata perempuan, dan pada masa dewasanya nanti apabila hendak menikah apakah syah menurut hukum bila dinikahkan oleh bapaknya? Padahal perempuan tersebut bukan dari dari titis bapaknya.

 

5.       Deskripsi Masalah: Mohon penjelasan mengenai Fidyah bagi orang yang telah meninggal dunia yang pada waktu hidupnya lebih banyak meninggalkan shalat dan puasa.

Pertanyaan:

a.        Bagaimana cara menghitung shalat dan puasa yang tertinggal bilamana tidak diketahui secara jelas?

b.       Apakah anaknya/ahli warisnya berkewajiban membayarkan fidyah tersebut?

c.        Apabila ankanya/ahli warisnya tidak mampu, apakah harus diambilkan/dijualkan dari harta peninggalan si mayit?

d.       Apakah shalat atau puasa yang ditinggalkan itu karena disengaja, juga tetap boleh di fidyah?(Hj. Siti)

 

6.       Deskripsi Masalah: Sebagaimana diketahui bahwa shalat sunah ada yang disunahkan dilakukan secara berjamaah dan ada yang tidak. Sementara itu ada beberapa shalat sunah seperti; Shalat Tasbih, Shalat Hajat, Shalat Tahajud yang dikerjakan secara berjamaah.

Pertanyaan:

a.        Apakah shalat Tasbih, shalat Hajat dan shalat Tahajud termasuk yang diperbolehkan secara berjamaah? Bagaimana hukumnya?

b.       Apakah shalat jama'ah baik fardlu atau sunah yang dikerjakan dimalam hari bacaan imamnya keras (jahr) dan yang dikerjakan di siang hari bacaanya lirih (sirr)?

c.        Apakah shalat jenazah yang dilakukan secara berjamaah pada malam maupun siang hari, bacaan imamnya harus lirih (sirr) suaranya?(Hj. Warsiti)

 

7.       Pertanyaan: Apakah shalat Nisfu Sya'ban ada dasarnya dalam Qur'an atau Hadits? Kalau berdasar hadits apakah termasuk hadits yang dapat diikuti? (H. Sunardi)

 

8.       Deskripsi Masalah: Dalam dunia pendidikan saat ini baik di tingkat dasar maupun perguruan tinggi memerlukan berbagai media/sarana pembelajaran yang memadai. Media tersebut ada yang imitasi (tiruan) dan ada yang memang asli. Penggunaan media yang asli bertujuan supaya pembelajaran lebih nyata dan mudah dipahami.

Pertanyaan:

a.        Apakah dalam Islam diperbolehkan apabila seseorang yang meninggal dunia jazadnya di wakafkan/disumbangkan untuk kepentingan praktek pembelajaran? (H. Sakijo)

b.       Apakah diperbolehkan menjadikan hewan tertentu (misalnya katak, ular dll) sebagai praktek percobaan dalam pembelajaran, misalnya dengan membedahnya untuk mengetahui organ-organ didalamnya secara langsung? (Tambahan)