Vol: 004

Rounded Rectangle: AQIDAHThn. XI/Dzulqo'dah 1432 H

Mengenal Ahlussunnah wal Jama'ah


Ahlussunnah wal Jamaah dalam lintas Sejarah

Sebenarnya sistem pemahaman Islam menurut Ahlussunnah wal Jamaah hanya merupakan kelangsungan desain yang dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur-rasyidin. Namun sistem ini kemudian menonjol setelah lahirnya madzhab Mutazilah pada abad ke II H.

Seorang Ulama besar bernama Al-Imam Al-Bashry dari golongan At-Tabiin di Bashrah mempunyai sebuah majlis talim, tempat mengembangkan dan memancarkan ilmu Islam. Beliau wafat tahun 110 H. Diantara murid beliau, bernama Washil bin Atha. Ia adalah salah seorang murid yang pandai dan fasih dalam bahasa Arab.

Pada suatu ketika timbul masalah antara guru dan murid, tentang seorang mumin yang melakukan dosa besar. Pertanyaan yang diajukannya, apakah dia masih tetap mumin atau tidak? Jawaban Al-Imam Hasan Al-Bashry, Dia tetap mumin selama ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi dia fasik dengan perbuatan maksiatnya. Keterangan ini berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadits karena Al-Imam Hasan Al-Bashry mempergunakan dalil akal tetapi lebih mengutamakan dalil Quran dan Hadits.

Dalil yang dimaksud, sebagai berikut; pertama, dalam surat An-Nisa: 48;

(: 48)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa seseorang yang berbuat syirik, tetapi Allah mengampuni dosa selian itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang mempersekutukan Tuhan ia telah membuat dosa yang sangat besar.

Octagon: 1Kedua, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

. : . .

Dari shahabat Abu Dzarrin berkata; Rasulullah SAW bersabda: Datang kepadaku pesuruh Allah menyampaikan kepadamu. Barang siapa yang mati dari umatku sedang ia tidak mempersekutukan Allah maka ia akan masuk surga, lalu saya (Abu Dzarrin) berkata; walaupun ia pernah berzina dan mencuri ? berkata (Rasul) : meskipun ia telah berzina dan mencuri. (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

. .

Allah berfirman: Demi kegagahanku dan kebesaranku dan demi ketinggian serta keagunganku, benar akan aku keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan; Tiada Tuhan selain Allah.

Tetapi, jawaban gurunya tersebut, ditanggapi berbeda oleh muridnya, Washil bin Atha. Menurut Washil, orang mumin yang melakukan dosa besar itu sudah bukan mumin lagi. Sebab menurut pandangannya, bagaimana mungkin, seorang mumin melakukan dosa besar? Jika melakukan dosa besar, berarti iman yang ada padanya itu iman dusta.

Kemudian, dalam perkembangan berikutnya, sang murid tersebut dikucilkan oleh gurunya. Hingga ke pojok masjid dan dipisah dari jamaahnya. Karena peristiwa demikian itu Washil disebut mutazilah, yakni orang yang diasingkan. Adapun beberapa teman yang bergabung bersama Washil bin Atha, antara lain bernama Amr bin Ubaid.

Selanjutnya, mereka memproklamirkan kelompoknya dengan sebutan Mutazilah. Kelompok ini, ternyata dalam cara berfikirnya, juga dipengaruhi oleh ilmu dan falsafat Yunani. Sehingga, terkadang mereka terlalu berani menafsirkan Al-Quran sejalan dengan akalnya. Kelompok semacam ini, dalam sejarahnya terpecah menjadi golongan-golongan yang tidak terhitung karena tiap-tiap mereka mempunyai pandangan sendiri-sendiri. Bahkan, diantara mereka ada yang terlalu ekstrim, berani menolak Al-Quran dan Assunnah, bila bertentangan dengan pertimabangan akalnya.

Semenjak itulah maka para ulama yang mengutamakan dalil al-Quran dan Hadits namun tetap menghargai akal pikiran mulai memasyarakatkan cara dan sistem mereka di dalam memahami agama. Kelompok ini kemudian disebut kelompok Ahlussunnah wal Jamaah. Sebenarnya pola pemikiran model terakhir ini hanya merupakan kelangsungan dari sistem pemahaman agama yang telah berlaku semenjak Rasulullah SAW dan para shahabatnya.

Ahlussunnah Waljamaah sebagai Madzhab

Ahlussunnah Waljamaah merupakan akumulasi pemikiran keagamaan dalam berbagai bidang yang dihasilkan para ulama untuk menjawab persoalan yang muncul pada zaman tertentu. Karenanya, proses terbentuknya Ahlussunnah Waljamaah sebagai suatu faham atau madzhab membutuhkan jangka waktu yang panjang. Seperti diketahui, pemikiran keagamaan dalam berbagai bidang, seperti ilmu Tauhid, Fiqih, atau Tasawuf terbentuk tidak dalam satu masa, tetapi muncul bertahap dan dalam waktu yang berbeda. 

Madzhab adalah metode memahami ajaran agama. Di dalam Islam ada berbagai macam madzhab, di antaranya; madzhab politik, seperti Khawarij, Syiah dan Ahlus Sunnah; madzhab kalam, contoh terpentingnya Mutazilah, Asyariyah dan Maturidiyah; dan madzhab fiqh, misal yang utama adalah Malikiyah, Syafiiyah, Hanafiyah dan Hanbaliyah, bisa juga ditambah dengan Syiah, Dhahiriyah dan Ibadiyah.

Istilah Ahlussunah wal jamaah terdiri dari tiga kata, "ahlun", "as-sunah" dan "al-jamaah". Ketiga-tiganya merupakan satu kesatuan, bukan sesuatu yang tak terpisah-pisah.

Octagon: 2a. Ahlun

Dalam kitab Al-Munjid fil-Lughah wal-Aalam, kata "ahl" mengandung dua makna, yakni selain bermakna keluarga dan kerabat, "ahl" juga dapat berarti pemeluk aliran atau pengikut madzhab, jika dikaitkan dengan aliran atau madzhab sebagaimana tercantum pada Al-Qamus al-Muhith.

Adapun dalam Al-Quran sendiri, sekurangnya ada tiga makna "ahl": pertama, "ahl" berarti keluarga, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat Hud ayat 45 :

(: 45

Ya Allah sesungguhnya anakku adalah dari keluargaku.

Juga dalam surat Thoha ayat 132:

(: 132)

Suruhlah keluargamu untuk mengerjakan sholat

Kedua, "ahl" berarti penduduk, seperti dalam firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Arof ayat 96.

(: 96)

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, maka kami bukakan atas mereka keberkahan dari langit dan bumi.

Ketiga, ahl berarti orang yang memiliki sesuatu disiplin ilmu; (Ahli Sejarah, Ahli Kimia). Dalam Al-Quran Allah berfirman surat An-Nahl ayat 43.

(:43)

Bertanyalah kamu sekalian kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.

b. As-Sunnah

Menurut Abul Baqa dalam kitab Kulliyyat secara bahasa, "as-sunnah" berarti jalan, sekalipun jalan itu tidak disukai. Arti lainnya, ath-thariqah, al-hadits, as-sirah, at-tabiah dan asy-syariah. Yakni, jalan atau sistem atau cara atau tradisi. Menurut istilah syara, as-Sunnah ialah sebutan bagi jalan yang disukai dan dijalani dalam agama, sebagaimana dipraktekkan Rasulullah SAW, baik perkataan, perbuatan ataupun persetujuan Nabi SAW.

Maka dalam hal ini As-sunnah dibagi menjadi 3 macam. Pertama, As-sunnah al-Qauliyah yaitu sunnah Nabi yang berupa perkataan atau ucapan yang keluar dari lisan Rasulullah SAW Kedua, As-Sunnah Al-Filiyyah yakni sunnah Nabi yang berupa perbuatan dan pekerjaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketiga, As-Sunnah at-Taqririyah yakni segala perkataan dan perbuatan shahabat yang didengar dan diketahui Nabi Muhammad SAW kemudian beliau diam tanda menyetujuinya. Lebih jauh lagi, as-sunnah juga memasukkan perbuatan, fatwa dan tradisi para Sahabat (atsarus sahabah). 

c. Arti Kata Al-Jamaah

Menurut Al-Munjid, kata "al-jamaah" berarti segala sesuatu yang terdiri dari tiga atau lebih. Dalam Al-Mujam al-Wasith, al-jamaah adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan. Adapun pengertian "al-jamaah" secara syara ialah kelompok mayoritas dalam golongan Islam.  

Dari pengertian kebahasaan di atas, maka makna Ahlussunnah wal jamaah dalam sejarah Islam adalah golongan terbesar ummat Islam yang mengikuti sistem pemahaman Islam, baik dalam tauhid dan fiqih dengan mengutamakan dalil Al-Quran dan Hadits dari pada dalil akal. Hal itu, sebagaimana tercantum dalam sunnah Rasulullah SAW dan sunnah Khulafaurrasyidin RA. Istilah Ahlussunnah Waljamaah dalam banyak hal serupa dengan istilah Ahlussunnah Waljamaah Wal-atsar, Ahlulhadits Wassunnah, Ahlussunnah Wal-ashab al-Hadits, Ahlussunnah Wal-istiqamah, dan Ahlulhaqq Wassunnah.

Untuk menguatkan hal-hal di atas terdapat beberapa hadits yang dapat dikemukakan misalnya, dalam kitab Faidlul Qadir juz II, lalu kitab Sunan Abi Daud juz. IV, kitab Sunan Tirmidzy juz V, kitab Sunan Ibnu Majah juz. II dan dalam kitab Al-Milal wan Nihal juz. I. Secara berurutan, teks dalam kitab-kitab tersebut, sebagai berikut:

: ,

 Dari Anas: sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat atas kesesatan, maka apabila kamu melihat perbedaan pendapat maka kamu ikuti golongan yang terbanyak.

, .

Octagon: 3Sesungguhnya barang siapa yang hidup diantara kamu setelah wafatku maka ia akan melihat perselisihan-perselisihan yang banyak, maka hendaknya kamu berpegangan dengan sunnahku dan sunnah Khufaur-rasyidin yang mendapat hidayat, peganglah sunnahku dan sunnah Khulafaur-rasyidin dengan kuat dan gigitlsh dengan geraham. HR. Abu Dawud

  , , : . : ) )

 Sesungguhnya Bani Israil pecah menjadi 72 golongan dan ummatku akan pecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan, mereka bertanya: siapakah yang satu golongan itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab; mereka itu yang bersama aku dan sahabat-sahabatku.

: , . : .

Dari Shahabat Auf r.a. berkata; Rasulullah bersabda; Demi yang jiwa saya ditangan-Nya, benar-benar akan pecah ummatku menjadi 73 golongan, satu masuk surga dan 72 golongan masuk neraka, ditanya siapa yang di surga Rasulullah? Beliau menjawab; golongan mayoritas (jamaah). Dan yang dimaksud dengan golongan mayoritas mereka yang sesuai dengan sunnah para shahabat.

, , , : : , : : . .

Rasulullah SAW menyampaikan "akan pecah ummatku menjadi 73 golongan, yang selamat satu golongan, dan sisanya hancur, ditanya siapakah yang selamat Rasulullah? Beliau menjawab Ahlussunnah wal Jamaah, beliau ditanya lagi apa maksud dari Ahlussunnah wal Jamaah? Beliau menjawab; golongan yang mengikuti sunnahku dan sunnah shahabatku.

Rounded Rectangle: AMALIYAH

 

Doa, Bacaan Al-Quran, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati

Apakah doa, bacaan Al-Quran, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa doa, bacaan Al-Quran, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan. (QS An-Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak yang sholeh yang mendoakan dia.

Mereka sepertinya, hanya secara tekstual (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, doa, bacaan Al-Quran, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman. (QS Al-Hasyr 59: 10)

Dalam hal ini hubungan orang mumin dengan orang mumin tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mumin laki dan perempuan. (QS Muhammad 47: 19). Juga bertentangan dengan kandungan hadits;

Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu. (HR Abu Dawud).

Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfaat doa perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

Octagon: 3Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 hlm 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat.

Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti doa kepada orang mati dan lain-lainnya.

Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

: :

Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.

Bahkan Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu Fatawa jilid 24, berkata: Orang yang berkata bahwa doa tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati, mereka itu ahli bidah, sebab para ulama telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfaat dari doa dan amal shaleh orang yang hidup.

Folded Corner: Pembina: Syuriah dan Musytasyar MWC NU Kuwarasan Kebumen, Pemimpin Umum: H. Jawahir, S.Pd.I. Pemimpin Redaksi: H. Fauzin Jamil, M.S.I. Tim Redaksi: H. Sudiharto, MH.. Lay Out/Grafis : Redaktur. Humas & Distributor: H. Afif, Arif Rahman. Diterbitkan oleh: MWC NU Kuwarasan. Alamat: Ds. Lemahduwur 01/01 Kuwarasan Kebumen. Web: http://annahdliyyah.blogspot.com  Email: an_nahdiyyah@yahoo.co.id. Contact Person: 085327000860, 081226718083

Demikianlah uraian singkat bahwasanya amalan orang yang masih hidup manfaatnya dapat sampai kepada orang yang meninggal..