Vol: 001/Thn. XI/Rajab 1432 H

Menjawab Salah Paham Tentang Bid'ah.

 

 


Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah karya Hadratusy Syeikh KH. Hasyim Asyari, istilah "bidah" ini disandingkan dengan istilah "sunnah". Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab Uddatul Murid, kata bidah secara syara adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW, Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak. Nabi juga bersabda,Setiap perkara baru adalah bidah.

Menurut para ulama, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syariah atau salah satu cabangnya (furu).

Bidah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah Swt.

Allah yang menciptakan langit dan bumi. (Al-Baqarah 2: 117).

Adapun bidah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bidah itu baik dan kapan bidah itu jelek? Menurut Imam Syafii, sebagai berikut;

: ,

Bidah ada dua, bidah terpuji dan bidah tercela, bidah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bidah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela.

Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjamaah dengan dua puluh rakaat yang diimami oleh sahabat Ubai bin Kaab beliau berkata :

Sebagus bidah itu ialah ini.

Bolehkah kita mengadakan Bidah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya Bidah hasanah dan bidah sayyiah.

.

Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.

Apakah yang dimaksud dengan segala bidah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka?

Semua bidah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka.

Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.

Mari kita kembali kepada hadits.

Semua bidah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka.

Bidah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan, membuang sifat dari benda yang bersifat. Seandainya kita tulis sifat bidah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :

Semua bidah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka.

Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :

Semua bidah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka.

Jelek dan sesat paralel tidak bertentangan, hal ini terjadi pula dalam Al-Quran, Allah SWT telah membuang sifat kapal dalam firman-Nya :
(: 79)
Di belakang mereka ada raja yang akan merampas semua kapal dengan paksa. (Al-Kahfi : 79).

Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak menyebutkan kapal baik apakah kapal jelek; karena yang jelek tidak akan diambil oleh raja. Maka lafadh sama dengan tidak disebutkan sifatnya, walaupun pasti punya sifat, ialah kapal yang baik

Selain itu, ada pendapat lain tentang bidah dari Syaikh Zaruq, seperti dikutip Hadratusy Syaikh Hasyim Asyari. Menurutnya, ada tiga norma untuk menentukan, apakah perkara baru dalam urusan agama itu disebut bidah atau tidak: Pertama, jika perkara baru itu didukung oleh sebagian besar syariat dan sumbernya, maka perkara tersebut bukan merupakan bidah, akan tetapi jika tidak didukung sama sekali dari segala sudut, maka perkara tersebut batil dan sesat.

Kedua, diukur dengan kaidah-kaidah yang digunakan para imam dan generasi salaf yang telah mempraktikkan ajaran sunnah. Jika perkara baru tersebut bertentangan dengan perbuatan para ulama, maka dikategorikan sebagai bidah. Jika para ulama masih berselisih pendapat mengenai mana yang dianggap ajaran ushul (inti) dan mana yang furu (cabang), maka harus dikembalikan pada ajaran ushul dan dalil yang mendukungnya.

Ketiga, setiap perbuatan ditakar dengan timbangan hukum. Adapun rincian hukum dalam syara ada enam, yakni wajib, sunah, haram, makruh, khilaful aula, dan mubah. Setiap hal yang termasuk dalam salah satu hukum itu, berarti bias diidentifikasi dengan status hukum tersebut. Tetapi, jika tidak demikian, maka hal itu bisa dianggap bidah.

Syeikh Zaruq membagi bidah dalam tiga macam; pertama, bidah Sharihah (yang jelas dan terang). Yaitu bidah yang dipastikan tidak memiliki dasar syari, seperti wajib, sunnah, makruh atau yang lainnya. Menjalankan bidah ini berarti mematikan tradisi dan menghancurkan kebenaran. Jenis bidah ini merupakan bidah paling jelek. Meski bidah ini memiliki seribu sandaran dari hukum-hukum asal ataupun furu, tetapi tetap tidak ada pengaruhnya. Kedua, bidah idlafiyah (relasional), yakni bidah yang disandarkan pada suatu praktik tertentu. Seandainya-pun, praktik itu telah terbebas dari unsur bidah tersebut, maka tidak boleh memperdebatkan apakah praktik tersebut digolongkan sebagai sunnah atau bukan bidah.

Ketiga, bidah khilafi (bidah yang diperselisihkan), yaitu bidah yang memiliki dua sandaran utama yang sama-sama kuat argumentasinya. Maksudnya, dari satu sandaran utama tersebut, bagi yang cenderung mengatakan itu termasuk sunnah, maka bukan bidah. Tetapi, bagi yang melihat dengan sandaran utama itu termasuk bidah, maka berarti tidak termasuk sunnah, seperti soal dzikir berjamaah atau soal administrasi.

Hukum bidah menurut Ibnu Abd Salam, seperti dinukil Hadratusy Syeikh dalam kitab Risalah Ahlussunnah Waljamaah, ada lima macam: pertama, bidah yang hukumnya wajib, yakni melaksanakan sesuatu yang tidak pernah dipraktekkan Rasulullah SAW, misalnya mempelajari ilmu Nahwu atau mengkaji kata-kata asing (garib) yang bisa membantu pada pemahaman syariah.

Kedua, bidah yang hukumnya haram, seperti aliran Qadariyah, Jabariyyah dan Mujassimah. Ketiga, bidah yang hukumnya sunnah, seperti membangun pemondokan, madrasah (sekolah), dan semua hal baik yang tidak pernah ada pada periode awal. Keempat, bidah yang hukumnya makruh, seperti menghiasi masjid secara berlebihan atau menyobek-nyobek mushaf. Kelima, bidah yang hukumnya mubah, seperti berjabat tangan seusai shalat Shubuh maupun Ashar, menggunakan tempat makan dan minum yang berukuran lebar, menggunakan ukuran baju yang longgar, dan hal yang serupa.

Dengan penjelasan bidah seperti di atas, Hadratusy Syeikh kemudian menyatakan, bahwa memakai tasbih, melafazhkan niat shalat, tahlilan untuk mayyit dengan syarat tidak ada sesuatu yang menghalanginya, ziarah kubur, dan semacamnya, itu semua bukanlah bidah yang sesat. Adapun praktek-praktek, seperti pungutan di pasar-pasar malam, main dadu dan lain-lainnya merupakan bidah yang tidak baik.

*(Disarikan dari buku "Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) Menjawab", diterbitkan oleh PP LDNU)

 

Doa, Bacaan Al-Quran, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati

Apakah doa, bacaan Al-Quran, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa doa, bacaan Al-Quran, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan. (QS An-Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak yang sholeh yang mendoakan dia.

Mereka sepertinya, hanya secara harfiyah dalam memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, doa, bacaan Al-Quran, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman. (QS Al-Hasyr 59: 10)

Dalam hal ini hubungan orang mumin dengan orang mumin tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mumin laki dan perempuan. (QS Muhammad 47: 19)

Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu. (HR Abu Dawud).

Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfaat doa perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat.

Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti doa kepada orang mati dan lain-lainnya.

Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

: :

Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.

Folded Corner: Pembina: Musytasyar MWC NU Kuwarasan Kebumen, Pemimpin Umum: H. Jawahir, S.Pd.I. Pemimpin Redaksi: H. Fauzin Jamil, M.S.I. Tim Redaksi: H. Sudarto, MH.. Lay Out/Grafis : Redaksi. Diterbitkan oleh: MWC NU Kuwarasan. Alamat :. Email: an_nahdiyyah@yahoo.co.id. Contact Person: 085327000860