KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DAN KEUTAMAAN BERAMAL DI DALAMNYA

1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda: Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk shaum, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan-Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya (tidak beramal baik di dalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini).(HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).

2. Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata: Aku berada di tempat Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. ia berkata: maka ia menerangkan tentang shaum Ramadhan ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru: Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah (dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan. (Riwayat Ahmad dan Nasai)

3. Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Shalat Lima waktu, Shalat Jumat sampai Shalat Jumat berikutnya, Shaum Ramadhan sampai Shaum Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi.(H.R.Muslim)

4. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Shaum dan Quran itu memintakan syafa?at seseorang hamba di hari Kiamat nanti. Shaum berkata: Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Dan berkata pula AL-Quran: Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari (karena membacaku), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat. (H.R. Ahmad, Hadits Hasan).

5. Diriwayatkan dari Sahal bin Saad: Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda: bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut Rayyaan. Pada hari kiamat dikatakan: Dimana orang yang shaum? (untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu, maka

ditutuplah pintu itu. (HR. Bukhary Muslim).

6. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang (HR.Bukhary Muslim).

KESIMPULAN:

Kesemua Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan

Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, di antaranya:

1. Bulan Ramadhan adalah:

a. Bulan yang penuh Barakah.

b. Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.

c. Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.

d. Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik

daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR.

e. Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat mashiyat agar menahan diri.

(dalil 1 & 2).

2. Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain:

a. Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.

b. Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syfaat.

c. Khusus bagi yang shaum disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah. (dalil 3, 4, 5 dan 6).

Sekitar Nisfu Sya'ban

Indeks > Masail > Aula > Tahun 1993 > 01

Di masyarakat kita masih banyak orang yang belum mengetahui tentang hal ihwal Nisfu Sya'ban; baik berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di dalamnya maupun dasar yang kuat berkaitan dengan perintah melakukan ibadah. Sebab, kenyataan di masyarakat banyak orang kalau menghadapi malam Nisfu Sya'ban melakukan berbagai ibadah. Di sisi lain, ada orang yang berpendapat bahwa melakukan ibadah seperti membaca Yasin, salat malam dan sebagainya tidak ada dalil yang kuat. Untuk itu mohon penjelasan mengenai duduk perkara dari ibadah Nisfu Sya'ban.

Jawaban:

Pada malam tanggal 15 Sya'ban (Nisfu Sya'ban) telah terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjuangan umat Islam yang tidak boleh kita lupakan sepanjang masa. Di antaranya adalah perintah memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas yang berada di Palestina ke Ka'bah yang berada di Masjidil Haram, Makkah pada tahun ke delapan Hijriyah.

Sebagaimana kita ketahui, sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah yang menjadi kiblat salat adalah Ka'bah. Kemudian setelah beliau hijrah ke Madinah, beliau memindahkan kiblat salat dari Ka'bah ke Baitul Muqoddas yang digunakan orang Yahudi sesuai dengan izin Allah untuk kiblat salat mereka. Perpindahan tersebut dimaksudkan untuk menjinakkan hati orang-orang Yahudi dan untuk menarik mereka kepada syariat al-Quran dan agama yang baru yaitu agama tauhid.

Tetapi setelah Rasulullah saw menghadap Baitul Muqoddas selama 16-17 bulan, ternyata harapan Rasulullah tidak terpenuhi. Orang-orang Yahudi di Madinah berpaling dari ajakan beliau, bahkan mereka merintangi Islamisasi yang dilakukan Nabi dan mereka telah bersepakat untuk menyakitinya. Mereka menentang Nabi dan tetap berada pada kesesatan.

Karena itu Rasulullah saw berulang kali berdoa memohon kepada Allah swt agar diperkenankan pindah kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka'bah lagi, setelah Rasul mendengar ejekan orang-orang Yahudi yang mengatakan, "Muhammad menyalahi kita dan mengikuti kiblat kita. Apakah yang memalingkan Muhammad dan para pengikutnya dari kiblat (Ka'bah) yang selama ini mereka gunakan?"

Ejekan mereka ini dijawab oleh Allah swt dalam surat al Baqarah ayat 143:

.

Dan kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu, melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot

Dan pada akhirnya Allah memperkenankan Rasulullah saw memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka'bah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 144.

Diantara kebiasaan yang dilakukan oleh umat Islam pada malam Nisfu Sya'ban adalah membaca surat Yasin tiga kali yang setiap kali diikuti doa yang antara lain isinya adalah:

"Ya Allah jika Engkau telah menetapkan aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab (buku induk) sebagai orang celaka atau orang-orang yang tercegah atau orang yang disempitkan rizkinya maka hapuskanlah ya Allah demi anugerah-Mu, kecelakaanku, ketercegahanku, dan kesempitan rizkiku.."

Bacaan Yasin tersebut dilakukan di masjid-masjid, surau-surau atau di rumah-rumah sesudah salat maghrib.

Sebagian dari orang-orang yang mengaku ahli ilmu telah menganggap ingkar perbuatan tersebut, menuduh orang-orang yang melakukannya telah berbuat bid'ah dan melakukan penyimpangan terhadap agama karena doa dianggap ada kesalahan ilmiyah yaitu meminta penghapusan dan penetapan dari Ummul Kitab. Padahal kedua hal tersebut tidak ada tempat bagi penggantian dan perubahan.

Tanggapan mereka ini kurang tepat, sebab dalam syarah kitab hadist Arbain Nawawi diterangkan bahwa takdir Allah swt itu ada empat macam:

1.        Takdir yang ada di ilmu Allah. Takdir ini tidak mungkin dapat berubah, sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda:

"Tiada Allah mencelakakan kecuali orang celaka, yaitu orang yang telah ditetapkan dalam ilmu Allah Taala bahwa dia adalah orang celaka."

2.       Takdir yang ada dalam Lauhul Mahfudh. Takdir ini mungkin dapat berubah, sebagaimana firman Allah dalam surat ar-Ra'du ayat 39 yang berbunyi:

.

"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang dikehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz)."

Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa beliau mengucapkan dalam doanya yaitu "Ya Allah jika engkau telah menetapkan aku sebagai orang yang celaka maka hapuslah kecelakaanku, dan tulislah aku sebagai orang yang bahagia".

3.       Takdir dalam kandungan, yaitu malaikat diperintahkan untuk mencatat rizki, umur, pekerjaan, kecelakaan, dan kebahagiaan dari bayi yang ada dalam kandungan tersebut.

4.       Takdir yang berupa penggiringan hal-hal yang telah ditetapkan kepada waktu-waktu yang telah ditentukan. Takdir ini juga dapat diubah sebagaimana hadits yang menyatakan: "Sesungguhnya sedekah dan silaturrahim dapat menolak kematian yang jelek dan mengubah menjadi bahagia." Dalam salah satu hadits Nabi Muhammad saw pernah bersabda,

.

"Sesungguhnya doa dan bencana itu diantara langit dan bumi, keduanya berperang; dan doa dapat menolak bencana, sebelum bencana tersebut turun."

Diantara kebiasaan kaum muslimin pada malam Nisfu Sya'ban adalah melakukan salat pada tengah malam dan datang ke pekuburan untuk memintakan maghfirah bagi para leluhur yang telah meninggal dunia. Kebiasaan seperti ini adalah berdasar dari amal perbuatan atau sunnah Nabi Muhammad saw. Antara lain ada hadist yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Musnadnya dari Sayidah Aisyah RA, yang artinya kurang lebih sebagai berikut:

"Pada suatu malam Rasulullah saw berdiri melakukan salat dan beliau memperlama sujudnya, sehingga aku mengira bahwa beliau telah meninggal dunia. Tatkala aku melihat hal yang demikian itu, maka aku berdiri lalu aku gerakkan ibu jari beliau dan ibu jari itu bergerak lalu aku kembali ke tempatku dan aku mendengar beliau mengucapkan dalam sujudnya: "Aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksa-Mu; aku berlindung dengan kerelaan-Mu dari murka-Mu; dan aku berlindung dengan Engkau dari Engkau. Aku tidak dapat menghitung sanjungan atas-Mu sebagaimana Engkau menyanjung atas diri-Mu." Setelah selesai dari salat beliau bersabda kepada Aisyah, "Ini adalah malam Nisfu Sya'ban. Sesungguhnya Allah 'azza wajalla berkenan melihat kepada para hamba-Nya pada malam Nisfu Sya'ban, kemudian mengampunkan bagi orang-orang yang meminta ampun, memberi rahmat kepada orang-orang yang memohon rahmat, dan mengakhiri ahli dendam seperti keadaan mereka."

Nabi Muhammad saw pada malam Nisfu Sya'ban berdoa untuk para umatnya, baik yang masih hidup maupun mati. Dalam hal ini Sayidah Aisyah RA meriwayatkan hadits:

.

"Sesungguhnya Nabi Muhammad saw telah keluar pada malam ini (malam Nisfu Sya'ban) ke pekuburan Baqi' (di kota Madinah) kemudian aku mendapati beliau (di pekuburan tersebut) sedang memintakan ampun bagi orang-orang mukminin dan mukminat dan para syuhada."

Banyak hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, at-Tirmidzi, at-Tabrani, Ibn Hibban, Ibn Majah, Baihaqi, dan an-Nasa'i bahwa Rasulullah saw menghormati malam Nisfu Sya'ban dan memuliakannya dengan memperbanyak salat, doa, dan istighfar.

 

LAILAT AL-QADAR

SUMBER: Media Isnet

Oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

Quraish Shihab

Berbicara tentang Lailat Al-Qadar mengharuskan kita  berbicara tentang surat Al-Qadar.

Surat  Al-Qadar  adalah  surat  ke-97  menurut urutannya dalam Mushaf.  Ia  ditempatkan  sesudah  surat  Iqra.  Para   ulama Al-Quran menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat Iqra. Bahkan sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surat
Al-Qadar turun setelah Nabi Saw. berhijrah ke Madinah.

Penempatan urutan surat dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah  Allah  Swt.,   dan   dari   perurutannya   ditemukan
keserasian-keserasian yang mengagumkan.

Kalau  dalam surat Iqra Nabi Saw. (demikian pula kaum Muslim) diperintahkan untuk membaca, dan yang dibaca itu  antara  lain
adalah  Al-Quran, maka wajar jika surat sesudahnya yakni surat Al-Qadar  ini  berbicara  tentang   turunnya   Al-Quran,   dan kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam Nuzul Al-Quran.

Bulan  Ramadhan  memiliki  sekian  banyak  keistimewaan, salah satunya adalah Lailat Al-Qadar, suatu malam yang oleh Al-Quran
lebih baik dari seribu bulan.

Tetapi  apa  dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja yakni malam ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang
lalu,  atau  terjadi  setiap  bulan  Ramadhan  sepanjang masa? Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang  yang  menantinya
pasti  akan mendapatkannya, dan benarkah ada tanda-tanda fisik material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya  air,
heningnya  malam,  dan  menunduknya pepohonan dan sebagainya)? Bahkan masih banyak lagi  pertanyaan  yang  dapat  dan  sering
muncul berkaitan dengan malam Al-Qadar itu.

Yang  pasti  dan  harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Quran  bahwa,  Ada  suatu  malam  yang  bernama
Lailat  Al-Qadar,  dan bahwa malam itu adalah malam yang penuh berkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar
dengan penuh kebijaksanaan.

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penah hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami (QS Al-Dukhan [44]: 3-5).

Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena kitab  suci menginformasikan bahwa ia diturunkan Allah pada bulan Ramadhan
(QS Al-Baqarah [2]: 185) serta pada malam Al-Qadar (QS Al-Qadr [97]: l).

Malam  tersebut  adalah  malam  mulia.  Tidak  mudah diketahui betapa besar kemuliannnya. Hal  ini  disyaratkan  oleh  adanya pertanyaan dalam bentuk pengagungan, yaitu:

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS Al-Qadr [97]: 2)

Tiga belas kali kalimat ma  adraka  terulang  dalam  Al-Quran, sepuluh  di  antaranya  mempertanyakan  tentang kehebatan yang
berkait dengan hari  kemudian,  seperti:  Ma  adraka  ma  yaum al-fashl,  dan sebagainya. Kesemuanya merupakan hal yang tidak
mudah  dijangkau  oleh  akal  pikiran  manusia,  kalau  enggan berkata  mustahil  dijangkaunya. Tiga kali ma adraka sisa dari
angka tiga belas itu adalah:

Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (QS Al-Thariq [86]: 2)

Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (QS Al-Balad [90]: 12)

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS Al-Qadr [97]: 2)

Pemakaian kata-kata ma adraka dalam Al-Quran berkaitan  dengan objek  pertanyaan  yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat,
dan sulit  dijangkau  hakikatnya  secara  sempurna  oleh  akal pikiran manusia.

Walaupun   demikian,   sementara   ulama   membedakan   antara pertanyaan ma  adraka  dan  ma  yudrika  yang  juga  digunakan
Al-Quran dalam tiga ayat.

Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu adalah dekat waktunya? (QS Al-Ahzab [33]: 63)

Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat? (QS Al-Syura [42]: 17~.

Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dandosa)? (QS Abasa [80]: 3).

Dua ayat pertama di  atas  mempertanyakan  dengan  ma  yudrika menyangkut   waktu   kedatangan  kiamat,  sedang  ayat  ketiga
berkaitan dengan kesucian jiwa manusia.  Ketiga  hal  tersebut tidak mungkin diketahui manusia.

Secara   gamblang   Al-Quran   demikian   pula   As-Sunnah-menyatakan bahwa Nabi Saw. tak mengetahui kapan datangnya hari
kiamat,  tidak  pula mengetahui tentang~perkara yang gaib. Ini berarti bahwa ma yudrika digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal
yang  tidak  mungkin  diketahui  walau oleh Nabi Saw. sendiri, sedang wa  ma  adraka,  walau  berupa  pertanyaan  namun  pada
akhirnya  Allah Swt. menyampaikannya kepada Nabi Saw. sehingga informasi  lanjutan  dapat  diperoleh  dari  beliau.  Demikian
perhedaan kedua kalimat tersebut.

Ini  berarti  bahwa  persoalan  Lailat Al-Qadar, harus dirujuk kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw., karena di  sanalah kita dapat memperoleh informasinya.

Kembali kepada pertanyaan semula, apa malam kemuliaan itu? Apa arti malam Qadar, dan mengapa malam itu dinamai  demikian?  Di
sini ditemukan berbagai jawaban.

Kata qadar sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti:

1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan  hidup  manusia. Pendapat  ini  dikuatkan  oleh penganutnya dengan firman Allah dalam surat Ad-Dukhan ayat 3 yang disebut di atas. (Ada  ulama yang  memahami  penetapan  itu  dalam batas setahun). Al-Quran yang turun pada malam Lailat Al-Qadar,  diartikan  bahwa  pada malam  itu  Allah  Swt.  mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya Muhammad Saw.,  guna  mengajak  manusia kepada  agama  yang  benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia baik sebagai  individu  maupunkelompok.

2. Kemuliaan.   Malam  tersebut  adalah  malam  mulia  tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih  sebagai  malam  turunnya Al-Quran,  serta  karena  ia  menjadi  titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata  qadar  yang  berarti  mulia ditemukan  dalam surat Al-Anam (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik:

Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat.

3. Sempit. Malam tersebut adalah  malam  yang  sempit,  karena banyakuya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr:

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh ((Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Kata qadar yang berarti sempit digunakan Al-Quran antara  lain dalam surat A1-Rad (13): 26:

Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya).

Ketiga arti tersebut  pada  hakikatnya  dapat  menjadi  benar,karena  bukankah  malam tersebut adalah malam mulia, yang bila

diraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan  bahwa  pada malam  itu  malaikat-malaikat  turun ke bumi membawa kedamaian dan  ketenangan.  Namun  demikian,  sebelum  kita  melanjutkan bahasan  tentang  Laitat  Al-Qadar,  maka terlebih dahulu akan dijawab pertanyaan tentang kehadirannya  adakah  setiap  tahun atau  hanya  sekali, yakni ketika turunnya Al-Quran lima belas
abad yang lalu?

Dari Al-Quran  kita  menemukan  penjelasan  bahwa  wahyu-wahyu Allah  itu diturunkan pada Lailat Al-Qadar. Akan tetapi karena
umat sepakat mempercayai bahwa  Al-Quran  telah  sempurna  dan tidak ada lagi wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., maka atas dasar logika itu, ada yang berpendapat bahwa malam  mulia itu sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang diperoleh oleh
malam  tersebut  adalah  karena  ia  terpilih  menjadi   waktu turunnya Al-Quran.

Pakar  hadis Ibnu Hajar menyebutkan satu riwayat dari penganut paham di atas yang menyatakan bahwa Nabi Saw. pernah  bersabda
bahwa malam qadar sudah tidak akan datang lagi.

Pendapat  tersebut ditolak oleh mayoritas ulama, karena mereka berpegang kepada teks ayat Al-Quran, serta sekian banyak  teks
hadis  yang  menunjukkan  bahwa  Lailat  Al-Qadar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan  Rasululllah  Saw.  menganjurkan
umatnya  untuk  mempersiapkan  jiwa menyambut malam mulia itu, secara khusus pada  malam-malam  ganjil  setelah  berlalu  dua
puluh Ramadhan.

[tulisan Arab]

Demikian sabda Nabi Saw.

Memang  turunnya  Al-Quran  lima  belas abad yang lalu terjadi pada malam Lailat Al-Qadar, tetapi  itu  bukan  berarti  bahwa
ketika  itu saja malam mulia itu hadir. Ini juga berarti bahwa kemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al-Quran ketika itu
turun,  tetapi  karena  adanya  faktor  intern  pada malam itu sendiri.

Pendapat di atas dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk  kata kerja  mudhari (present tense) oleh ayat 4 surat Al-Qadr yang
mengandung arti kesinambungan, atau  terjadinya  sesuatu  pada masa kini dan masa datang.

Nah, apakah bila Lailat Al-Qadar hadir, ia akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya  itu?
Tidak  sedikit  umat  Islam  yang  menduganya  demikian. Namun dugaan itu menurut hemat penulis keliru, karena hal itu  dapat
berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga baik untuk menyambutnya maupun tidak.  Di  sisi  1ain  berarti
bahwa   kehadirannya   ditandai  oleh  hal-hal  yang  bersifat fisik-material,  sedangkan  riwayat-riwayat  demikian,   tidak
dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.

Seandainya,  sekali  lagi  seandainya,  ada  tanda-tanda fisik material, maka itu pun takkan ditemui  oleh  orang-orang  yang
tidak    mempersiapkan   diri   dan   menyucikan   jiwa   guna menyambutnya. Air dan minyak tidak mungkin  akan  menyatu  dan
bertemu.  Kebaikan  dan  kemuliaan yang dihadirkan oleh Lailat Al-Qadar tidak mungkin akan diraih  kecuali  oleh  orang-orang
tertentu  saja.  Tamu  agung  yang  berkunjung ke satu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun
setiap  orang  di sana mendambakannya. Bukankah ada orang yang sangat rindu atas  kedatangan  kekasih,  namun  ternyata  sang
kekasih tidak sudi mampir menemuinya?

Demikian  juga  dengan  Lailat  Al-Qadar.  Itu  sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan  ini  adalah
bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan  Ramadhan.
Karena,  ketika  itu,  diharapkan  jiwa  manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai  satu  tingkat
kesadaran  dan  kesucian  yang  memungkinkan  malam  mulia itu berkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya  Rasul  Saw.
menganjurkan sekaligus mempraktekkan itikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah  mulai  bersemi,  dan Lailat  Al-Qadar  datang  menemui seseorang, ketika itu, malam
kehadirannya menjadi saat qadar dalam  arti,  saat  menentukan bagi  perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang. Saat
itu, bagi yang  bersangkutan  adalah  saat  titik  tolak  guna meraih  kemuliaan  dan  kejayaan hidup di dunia dan di akhirat
kelak. Dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna  menyertai dan  membimbingnya  menuju  kebaikan  sampai  terbitnya  fajar
kehidupannya yang baru kelak  di  hari  kemudian.  (Perhatikan kembali makna-makna Al-Qadar yang dikemukakan di atas!).

Syaikh  Muhammad Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia. Abduh  memberi ilustrasi berikut:

Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, baik dan buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antar keduanya, seakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu mencegah, sampai akhirnya sidang memutuskan sesuatu.

Yang  membisikkan  kebaikan  adalah  malaikat,   sedang   yang membisikkan  keburukan  adalah  setan  atau paling tidak, kata Abduh, penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat  atau setan.  Turunnya malaikat pada malam Lailatul Al-Qadar menemui orang yang mempersiapkan diri  menyambutnya,  menjadikan  yang bersangkutan  akan  selalu  disertai  oleh  malaikat. Sehingga jiwanya selalu terdorong  untuk  melakukan  kebaikan-kebaikan, dan  dia  sendiri  akan  selalu merasakan salam (rasa aman dan damai) yang tak terbatas sampai fajar malam  Lailat  Al-Qadar, tapi  sampai  akhir  hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian kelak.

Di atas telah di kemukakan bahwa Nabi Saw. menganjurkan sambil mengamalkan  itikaf  di  masjid  dalam  rangka perenungan dan
penyucian jiwa. Masjid adalah tempat  suci.  Segala  aktivitas kebajikan   bermula   di  masjid.  Di  masjid  pula  seseorang diharapkan merenung  tentang  diri  dan  masyarakatnya,  serta dapat  menghindar  dari  hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan  pengetahuan  dan  pengkayaan iman.  Itu  sebabnya  ketika  melaksanakan itikaf, dianjurkan untuk memperbanyak  doa  dan  bacaan  Al-Quran,  atau  bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa.

Malam  Qadar  yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung  tentang
diri  beliau  dan  masyarakat. Saat jiwa beliau telah mencapai kesuciannya,  turunlah  Ar-Ruh  (Jibril)  membawa  ajaran  dan membimbing  beliau  sehingga  terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat  manusia.
Karena  itu  pula  beliau  mengajarkan  kepada  umatnya, dalam rangka menyambut kehadiran Lailat Al-Qadar  itu,  antara  1ain adalah melakukan itikaf.

Walaupun  itikaf  dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktu berapa lama saja bahkan dalam pandangan Imam Syafii,  walau
sesaat  selama dibarengi oleh niat yang suci namun Nabi Saw. selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan
puasa.  Di  sanalah  beliau  bertadarus  dan  merenung  sambil berdoa.

Salah satu doa yang  paling  sering  beliau  baca  dan  hayati maknanya adalah:

Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami
dan siksa neraka (QS Al-Baqarah [2]: 201).

Doa ini bukan  sekadar  berarti  permohonan  untuk  memperoleh kebajikan  dunia  dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih-lebih
lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai  usaha.  Permohonan  itu  juga  berarti  upaya  untuk menjadikan  kebajikan  dan  kebahagiaan  yang  diperoleh dalam
kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di  dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.

Adapun   menyangkut   tanda   alamiah,   maka  Al-Quran  tidak menyinggungnya. Ada beberapa hadis mengingatkan hal  tersebut,
tetapi  hadis  tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, pakar hadis yang dikenal  melakukan  penyaringan  yang  cukup  ketat terhadap hadis Nabi Saw.

Muslim,  Abu  Daud,  dan  Al-Tirmidzi antara lain meriwayatkan melalui sahabat Nabi Ubay bin Kaab, sebagai berikut,

Tanda kehadiran Lailat Al-Qadr adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar.

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan,

Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula panas

Hadis ini dapat diperselisihkan kesahihannya, dan  karena  itu kita  dapat  berkata  bahwa  tanda  yang  paling jelas tentang
kehadiran Lailat Al-Qadar bagi seseorang adalah kedamaian  dan ketenangan.  Semoga  malam  mulia  itu berkenan mampir menemui
kita.

-
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhui atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net

Salat Tarawih

Indeks > Artikel > Shalat Tarawih

Sayyid Ali Fikri dalam bukunya "Khulashatul Kalam fi Arkanil Islam" halaman 114 menuturkan tentang salat tarawih sebagai berikut:

  Salat tarawih hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang hukumnya mendekati wajib) menurut para Imam Madzhab pada malam-malam bulan Ramadlan. Waktunya adalah setelah salat Isyak sampai terbit fajar; dan disunnahkan salat witir sesudahnya.

  Salat tarawih disunnahkan beristirahat sesudah tiap empat rakaat selama cukup untuk melakukan salat empat rakaat. Jumlah bilangannya adalah 20 rakaat dan setiap dua rakaat satu kali salam. Salat tarawih disunnahkan bagi orang laki-laki dan perempuan.

  Cara melakukan salat tarawih adalah seperti salat subuh, artinya setiap dua rakaat satu salam; tidak sah tanpa membaca Fatihah dan disunnahkan membaca ayat atau surat pada setiap rakaat.

Hikmah salat tarawih adalah untuk menguatkan jiwa, mengistirahatkan dan menyegarkannya guna melakukan ketaatan; dan juga untuk memudahkan mencerna makanan sesudah makan malam. Apabila sesudah berbuka puasa lalu tidur, maka makanan yang ada dalam perut besarnya tidak tercerna, sehingga dapat mengganggu kesehatan; kesegaran jasmaninya menjadi lesu dan rusak.

Orang yang pertama kali mengumpulkan orang-orang muslim untuk melakukan salat tarawih secara berjamaah dengan hitungan 20 rakaat adalah Khalifah Umar bin Khattab ra. dan disetujui oleh para sahabat Nabi pada waktu itu. Kegiatan tersebut berlangsung pada masa pemerintahan Khalifah Usman dan Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Kegiatan salat tarawih secara berjamaah seperti ini terkait sabda Rasulullah saw:

"Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari al-Khulafaur Rasyidin".

Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. bahkan menambah jumlah rakaatnya menjadi 36 (tiga puluh enam) rakaat. Tambahan ini beliau maksudkan untuk menyamakan dengan keutamaan dan pahala penduduk Makkah yang setiap kali selesai melakukan salat empat rakaat, mereka melakukan thawaf. Jadi Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. melakukan salat empat rakaat sebagai ganti dari satu kali thawaf agar dapat memperoleh pahala dan ganjaran berimbang.

Berdasarkan sunnah dari Khalifah Umar bin Khattab tersebut, maka :

1.        Menurut madzhab Hanafi, Syafii dan Hambali, jumlah salat tarawih adalah 20 rakaat selain salat witir.

2.       Menurut madzhab Maliki, jumlah salat tarawih adalah 36 (tigapuluh enam) rakaat, karena mengikuti sunnah dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Adapun orang yang melakukan salat tarawih 8 (delapan) rakaat dengan witir 3 (tiga) rakaat, adalah mengikuti hadits yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah yang berbunyi sebagai berikut:

: : . .

"Tiadalah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadlan dan tidak pula pada bulan lainnya atas sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga rakaat. Kemudian aku (Aisyah) bertanya, "Wahai Rasulullah, adakah Tuan tidur sebelum salat witir?" Beliau bersabda, "Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku tidak tidur."

Syekh Muhammad bin 'Allan dalam kitab "Dalilul Falihin" jilid III halaman 659 menerangkan bahwa hadits di atas adalah hadits tentang salat witir, karena salat witir itu paling banyak hanya sebelas rakaat, tidak boleh lebih. Hal itu terlihat dari ucapan Aisyah bahwa Nabi saw. tidak menambah salat, baik pada bulan Ramadlan atau lainnya melebihi sebelas rakaat. Sedangkan salat tarawih atau "qiyamu Ramadlan" hanya ada pada bulan Ramadlan saja.

Ucapan Aisyah "beliau salat empat rakaat dan Anda jangan bertanya tentang kebagusan dan panjangnya", tidaklah berarti bahwa beliau melakukan salat empat rakaat dengan satu kali salam. Sebab dalam hadits yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra. Nabi bersabda:

.

"Salat malam itu (dilakukan) dua rakaat dua rakaat, dan jika kamu khawatir akan subuh, salatlah witir satu rakaat".

Dalam hadits lain yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim, Ibnu Umar juga berkata :

.

"Adalah Nabi saw. melakukan salat dari waktu malam dua rakaat dua rakaat, dan melakukan witir dengan satu rakaat".

Pada masa Rasulullah saw. dan masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, salat tarawih dilaksanakan pada waktu tengah malam, namanya bukan salat tarawih, melainkan "qiyamu Ramadlan" (salat pada malam bulan Ramadlan). Nama "tarawih" diambil dari arti "istirahat" yang dilakukan setelah melakukan salat empat rakaat. Disamping itu perlu diketahui, bahwa pelaksanaan salat tarawih di Masjid al-Haram, Makkah adalah 20 rakaat dengan dua rakaat satu salam.

Almarhum K.H. Ali Ma'sum Krapyak, Yogyakarta dalam bukunya berjudul "Hujjatu Ahlis Sunnah Wal Jamaah" halaman 24 dan 40 menerangkan tentang "Salat Tarawih" yang artinya kurang lebih sebagai berikut:

  Salat tarawih, meskipun dalam hal ini terdapat perbedaan, sepatutnya tidak boleh ada saling mengingkari terhadap kepentingannya. Salat tarawih menurut kami, orang-orang yang bermadzhab Syafii, bahkan dalam madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah 20 rakaat. Salat tarawih hukumnya adalah sunnah muakkad bagi setiap laki-laki dan wanita, menurut madzhab Hanafi, Syafii, Hambali, dan Maliki.

  Menurut madzhab Syafii dan Hambali, salat tarawih disunnahkan untuk dilakukan secaran berjamaah. Madzhab Maliki berpendapat bahwa berjamaah dalam salat tarawih hukumnya mandub (derajatnya di bawah sunnah), sedang madzhab Hanafi berpendapat bahwa berjamaah dalam salat tarawih hukumnya sunnah kifayah bagi penduduk kampung. Dengan demikian apabila ada sebagian dari penduduk kampung tersebut telah melaksanakan dengan berjamaah, maka lainnya gugur dari tuntutan.

  Para imam madzhab telah menetapkan kesunnahan salat tarawih berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad saw. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits sebagai berikut:

.

"Nabi saw. keluar pada waktu tengah malam pada bulan Ramadlan, yaitu pada tiga malam yang terpisah: malam tanggal 23, 25, dan 27. Beliau salat di masjid dan orang-orang salat seperti salat beliau di masjid. Beliau salat dengan mereka delapan rakaat, artinya dengan empat kali salam sebagaimana keterangan mendatang, dan mereka menyempurnakan salat tersebut di rumah-rumah mereka, artinya sehingga salat tersebut sempurna 20 rakaat menurut keterangan mendatang. Dari mereka itu terdengar suara seperti suara lebah".

Dari hadits ini jelaslah bahwa Nabi Muhammad saw. telah mensunnahkan salat tarawih dan berjamaah. Akan tetapi beliau tidak melakukan salat dengan para sahabat sebanyak 20 rakaat sebagaimana amalan yang berlaku sejak zaman sahabat dan orang-orang sesudah mereka sampai sekarang.

Telah diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah ra. bahwa Nabi Muhammad saw. keluar sesudah tengah malam pada bulan Ramadlan dan beliau melakukan salat di masjid. Para sahabat lalu melakukan salat dengan beliau. Pada pagi harinya para sahabat memperbincangkan salat mereka dengan Rasulullah saw., sehingga pada malam kedua orang bertambah banyak. Kemudian Nabi saw. melakukan salat dan orang-orang melakukan salat dengan beliau. Pada malam ketiga tatkala orang-orang bertambah banyak sehingga masjid tidak mampu menampung para jamaah, Rasulullah saw. tidak keluar untuk jamaah, hingga beliau keluar untuk melakukan salat subuh. Setelah salat subuh, beliau menemui para jamaah dan bersabda, "Sesungguhnya tidaklah dikhawatirkan atas kepentingan kalian tadi malam; akan tetapi aku takut apabila salat malam itu diwajibkan atas kamu sekalian, sehingga kalian tidak mampu melaksanakannya!".

Setelah Rasulullah saw. wafat keadaan berjalan demikian sampai pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan permulaan kekhalifahan Umar bin Khattab ra. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. beliau mengumpulkan orang-orang laki-laki untuk berjamaah salat tarawih dengan diimami oleh Ubay bin Ka'ab dan orang-orang perempuan berjamaah dengan diimami oleh Usman bin Khatsamah. Oleh karena itu Khalifah Usman bin Affan berkata pada masa pemerintahan beliau, "Semoga Allah menerangi kubur Umar sebagaimana Umar telah menerangi masjid-masjid kita". Yang dikehendaki oleh hadits ini adalah bahwa Nabi saw. keluar dalam dua malam saja.

Menurut pendapat yang masyhur adalah bahwa Rasulullah saw. keluar pada para sahabat untuk melakukan salat tarawih bersama mereka tiga malam yaitu tanggal 23, 25, dan 27, dan beliau tidak keluar pada malam 29. Sesungguhnya Rasulullah saw tidak keluar tiga malam berturut-turut adalah karena kasihan kepada para sahabat. Beliau salat bersama para sahabat delapan rakaat; tetapi beliau menyempurnakan salat 20 rakaat di rumah beliau dan para sahabat menyempurnakan salat di rumah mereka 20 rakaat, dengan bukti bahwa dari mereka itu didengar suara seperti suara lebah. Nabi saw. tidak menyempurnakan bersama para sahabat 20 rakaat di masjid adalah karena kasihan kepada mereka.

Dari hadits ini menjadi jelas, bahwa jumlah salat tarawih yang mereka lakukan tidak terbatas hanya delapan rakaat, dengan bukti bahwa mereka menyempurnakannya di rumah-rumah mereka. Sedangkan pekerjaan Khalifah Umar ra. telah menjelaskan bahwa jumlah rakaatnya adalah 20, pada saat Umar ra. mengumpulkan orang-orang di masjid dan para sahabat menyetujuinya tak seorangpun dari para Khulafa'ur Rasyidun yang berbeda dengan Umar. Mereka terus menerus melakukan salat tarawih secara berjamaah sebanyak 20 rakaat. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. telah bersabda:

.

"Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari al-Khulafa ar-Rasyidun yang telah mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah tersebut dengan gigi geraham (berpegang teguhlah kamu sekalian pada sunnah-sunnah tersebut). HR Abu Dawud

Nabi Muhammad saw. juga bersabda sebagai berikut:

.

"Ikutlah kamu sekalian dengan kedua orang ini sesudah aku mangkat, yaitu Abu Bakar dan Umar". HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.

Telah diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab telah memerintahkan Ubay dan Tamim ad-Daari melakukan salat tarawih bersama orang-orang sebanyak 20 rakaat. Imam al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang sahih, bahwa mereka melakukan salat tarawih pada masa pemerintahan Umar bin Khattab 20 rakaat, dan menurut satu riwayat 23 rakaat. Pada masa pemerintahan Usman bin Affan juga seperti itu, sehingga menjadi ijmak. Dalam satu riwayat, Ali bin Abi Talib ra. mengimami dengan 20 rakaat dan salat witir dengan tiga rakaat.

Imam Abu Hanifah telah ditanya tentang apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra. Beliau menjelaskan, "Salat tarawih adalah sunnah muakkadah. Umar ra. tidak menentukan bilangan 20 rakaat tersebut dari kehendaknya sendiri. Dalam hal ini beliau bukanlah orang yang berbuat bid'ah. Beliau tidak memerintahkan salat 20 rakaat, kecuali berasal dari sumber pokoknya yaitu dari Rasulullah saw."

Khalifah Umar bin Khattab ra. telah membuat sunnah dalam hal salat tarawih ini dan telah mengumpulkan orang-orang dengan diimami oleh Ubay bin Ka'ab, sehingga Ubay bin Ka'ab melakukan salat tarawih secara berjamaah, sedangkan para sahabat mengikutinya. Di antara para sahabat yang mengikuti pada waktu itu terdapat Usman bin 'Affan, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, 'Abbas dan puteranya, Thalhah, az-Zubayr, Mu'adz, Ubay dan para sahabat Muhajirin dan sahabat Ansor lainnya ra. Pada waktu itu tak seorangpun dari para sahabat yang menolak atau menentangnya, bahkan mereka membantu dan menyetujuinya serta memerintahkan hal tersebut. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. bersabda:

.

"Para sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang di langit. Dengan siapa saja dari mereka kamu ikuti, maka kamu akan mendapatkan petunjuk".

Memang, pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ra. yang pada waktu itu beliau mengikuti orang Madinah, bilangan salat tarawih ditambah dan dijadikan 36 rakaat. Akan tetapi tambahan tersebut dimaksudkan untuk menyamakan keutamaan dengan penduduk Makkah; karena penduduk Makkah melakukan thawaf di Baitullah satu kali sesudah salat empat rakaat dengan dua kali salam. Maka Umar bin Abdul Aziz ra. yang pada waktu itu mengimami para jamaah berpendapat untuk melakukan salat empat rakaat dengan dua kali salam sebagai ganti dari thawaf.

Ini adalah dalil dari kebenaran ijtihad dari para ulama dalam menambahi ibadah yang telah disyariatkan. Sama sekali tidak perlu diragukan bahwa setiap orang diperbolehkan untuk melakukan salat sunnah semampu mungkin pada waktu malam atau siang hari, kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk melakukan salat.

Pengarang kitab "Al-Fiqhu 'Ala al-Madzahib al-Arbaah" menyatakan bahwa salat tarawih adalah 20 rakaat menurut semua imam madzhab kecuali witir.

Dalam kitab "Mizan" karangan Imam asy-Sya'rani halaman 148 dinyatakan bahwa termasuk pendapat Imam Abu Hanifah, asy-Syafii, dan Ahmad, salat tarawih adalah 20 rakaat. Imam asy-Syafii berkata, "20 rakaat bagi mereka adalah lebih saya sukai!". Sesungguhnya salat tarawih secara berjamaah adalah lebih utama. Imam Malik dalam salah satu riwayat menyatakan bahwa salat tarawih adalah 36 rakaat.

Dalam kitab "Bidayah al-Mujtahid" karangan Imam Qurthubi juz I halaman 21 diterangkan bahwa salat tarawih yang Umar bin Khattab mengumpulkan orang-orang untuk melakukannya secara berjamaah adalah disukai; dan mereka berbeda pendapat mengenai jumlah rakaat yang dilakukan orang-orang pada bulan Ramadlan. Imam Malik dalam salah satu dari kedua pendapat beliau, Imam Abu Hanifah, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad bin Hambal memilih 20 rakaat selain salat witir.

Pada pokoknya Imam Madzhab Empat tersebut memilih bahwa salat tarawih adalah 20 rakaat selain salat witir. Sedangkan orang yang berpendapat bahwa salat tarawih adalah 8 (delapan) rakaat adalah menyalahi dan menentang terhadap apa yang telah mereka pilih. Sebaiknya pendapat orang ini dibuang dan tidak usah diperhatikan, karena tidak termasuk golongan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yaitu golongan yang selamat, yang mengikuti sunnah Rasulullah saw. dan para sahabat beliau.

Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa salat tarawih delapan rakaat adalah berdasarkan hadits Aisyah ra. sebagaimana disebutkan di muka.

Hadits tersebut tidak sah untuk dijadikan dasar salat tarawih, karena maudlu' dari hadits tersebut yang nampak jelas adalah salat witir. Sebagaimana kita ketahui, salat witir itu paling sedikit adalah satu rakaat dan paling banyak adalah sebelas rakaat. Rasulullah saw. pada waktu sesudah tidur melakukan salat empat rakaat dengan dua salam tanpa disela, lalu melakukan salat empat rakaat dengan dua salam tanpa disela, kemudian melakukan salat tiga rakaat dengan dua salam juga tanpa disela. Hal ini menunjukkan bahwa hadits Aisyah ra. adalah salat witir:

1.        Ucapan Aisyah, "Apakah Engkau tidur sebelum engkau melakukan witir?" Sesungguhnya salat tarawih itu dikerjakan sesudah salat isyak dan sebelum tidur.

2.       Sementara itu salat tarawih tidak didapati pada selain bulan Ramadlan.

Dengan demikian tidak ada dalil yang menentang kebenaran salat tarawih 20 rakaat. Imam al-Qasthalani dalam kitab "Irsyad as-Sari" syarah dari Sahih Bukhari berkata, "Apa yang sudah diketahui, yaitu yang dipakai oleh "jumhur ulama" adalah bahwa bilangan/ jumlah rakaat salat tarawih 20 rakaat dengan sepuluh kali salam, sama dengan lima kali tarawih yang setiap tarawih empat rakaat dengan dua kali salam selain witir, yaitu tiga rakaat.

Dalam Sunan al-Baihaqiy dengan isnad yang sahih sebagaimana ucapan Zainuddin al-Iraqi dalam kitab "Syarah Taqrib", dari as-Sa'ib bin Yazid ra. katanya, "Mereka (para sahabat) melakukan salat pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra. pada bulan Ramadlan dengan 20 rakaat.

Imam Malik dalam kitab "Al-Muwaththa" meriwayatkan dari Yazid bin Rauman katanya, "Orang-orang pada zaman Khalifah Umar bin Khattab ra. melakukan salat dengan 23 rakaat. Imam al-Baihaqi telah mengumpulkan kedua riwayat tersebut dengan menyebutkan bahwa mereka melakukan witir tiga rakaat. Para ulama telah menghitung apa yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab sebagai ijmak.

Perlu kita ketahui bahwa salat tarawih adalah dua rakaat satu salam, menurut madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Dalam hal ini madzhab Syafii berpendapat bahwa wajib dari setiap dua rakaat; sehingga jika seseorang melakukan salat tarawih 20 rakaat dengan satu salam, maka hukumnya tidak sah".

Madzhab Hanafi, Maliki, dan Hambali berpendapat bawa disunnahkan melakukan salam pada akhir setiap dua rakaat. Jika ada orang yang melakukan salat tarawih 20 rakaat dengan satu salam, dan dia duduk pada permulaan setiap dua rakaat, maka hukumnya sah tetapi makruh. Jika tidak duduk pada permulaan setiap dua rakaat maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat dari para imam madzhab".

Adapun madzhab Syafii berpendapat bahwa wajib melakukan salam pada setiap dua rakaat. Jika orang melakukan salat tarawih 20 rakaat dengan satu salam, hukumnya tidak sah; baik dia duduk atau tidak pada permulaan setiap dua rakaat. Jadi menurut para ulama Syafiiyyah, salat tarawih harus dilakukan dua rakaat dua rakaat dan salam pada permulaan setiap dua rakaat.

Adapun ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa jika seseorang melakukan salat empat rakaat dengan satu salam, maka empat rakaat tersebut adalah sebagai ganti dari dua rakaat menurut kesepakatan mereka. Jika seseorang melakukan salat lebih dari empat rakaat dengan satu salam, maka keabsahannya diperselisihkan. Ada yang berpendapat sebagai ganti dari rakaat yang genap dari salat tarawih, dan ada yang berpendapat tidak sah".

Para ulama dari madzhab Hambali berpendapat bahwa salat seperti tersebut sah tetapi makruh dan dihitung 20 rakaat. Sedangkan para ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa salat yang demikian itu sah dan dihitung 20 rakaat. Orang yang melakukan salat demikian adalah orang yang meninggalkan kesunnahan tasyahhud dan kesunnahan salam pada setiap dua rakaat; dan yang demikian itu adalah makruh".

Rasulullah saw. bersabda:

. .

"Salat malam itu dilakukan dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kamu sekalian khawatir akan subuh, maka dia salat satu rakaat yang menjadi witir baginya dari salat yang telah dilakukan".

Hal yang menunjukkan bahwa bilangan salat tarawih 20 rakaat selain dari dalil-dalil tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Humaid dan at-Thabrani dari jalan Abu Syaibah bin Usman dari al-Hakam dari Muqassim dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. telah melakukan salat pada bulan Ramadlan 20 rakaat dan witir.

kh_masduqi*Pemakalah:* Drs. K.H. Achmad Masduqi Machfudh

 

 

Qunut Nazilah

Indeks > Doa > Qunut Nazilah

() . () .   () . ( ) . () () . ( . . . . . ) .     . . .  . . .   . .    .   . . . . .       .

Ya Allah, berilah kami petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk. Sejahterakanlah kami sebagaimana orang yang telah Engkau sejahterakan. Uruslah kami sebagaimana orang yang telah Engkau urus. Berilah kami berkah pada apa saja yang telah Engkau berikan. Jagalah kami dan lenyapkan dari kami berkat rahmat-Mu kejelekan dari apa yang telah Engkau putuskan.

(Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang memutuskan dan tidak diputuskan atas-Mu. Sesungguhnya tidak akan menjadi hina orang yang telah Engkau urusi. Dan tidak akan menjadi mulia orang yang telah Engkau musuhi. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau. Bagi-Mu segala puji atas apa saja yang telah Engkau putuskan. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu).

Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir, orang-orang musyrik dan orang-orang yang membuat kerusakan, yaitu mereka yang menghalang-halangi jalan-Mu, mendustakan para utusan-Mu, dan memerangi para kekasih-Mu. Ya Allah, keraskanlah injakan-Mu atas mereka dan jadikanlah siksa dan 'adzab-Mu pada mereka. Ya Allah, jadikanlah berselisih ucapan-ucapan di antara mereka. Ya Allah, cerai beraikan persatuan mereka. Ya Allah, koyak-koyaklah jama'ah mereka. Ya Allah, goncangkanlah kaki-kaki mereka; turunkanlah pada mereka siksa-Mu yang tidak Engkau kembalikan dari kaum yang durhaka. Ya Allah, tolonglah ummat dari pemimpin kami Nabi Muhammad.

Ya Allah, berilah rahmat ummat dari pemimpin kami Nabi Muhammad. Ya Allah, berilah jalan keluar kesulitan ummat dari pemimpin kami Nabi Muhammad. Ya Allah, selamatkanlah kami dan orang-orang muslim. Sejahterakanlah kami dan orang-orang muslim. Peliharalah kami dan mereka dari kejelekan musibah-musibah dunia dan agama. Ya Allah, kumpulkanlah antara hati-hati kami dan damaikanlah perselisihan di antara kami. Ya Allah, tolaklah dari kami harga yang mahal, bencana, wabah penyakit, perbuatan keji, paceklik, kelaparan, fitnah-fitnah, krisis, kemungkaran, pedang-pedang yang bertentangan, kesulitan-kesulitan dan ujian-ujian, apa yang nampak dari padanya dan apa yang tidak nampak, dari negeri kami pada khususnya dan negeri-negeri orang-orang muslim pada umumnya. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Kuasa atas setiap sesuatu.

Mudah-mudahan Allah menambahkan rahmat ta'dhim pada pemimpin kami Nabi Muhammad, nabi yang buta huruf, pada keluarga dan sahabat beliau dan semoga Allah menambahkan kemanjaan. Dan segala puji milik Allah, Tuhan seru sekalian alam.

Bermadzhab jama'i

Indeks > Masail > Aula > Tahun 1993 > 14

Dalam dekade muqollidin dewasa ini seringkali kita dihadapkan pada problematika yang tidak diketahui kepastian hukumnya, karena tidak disinggung dalam kitab-kitab muktabaroh/kutubus salaf. Kalaupun ada itu hanya dengan tersirat atau mirip-mirip saja. Kadang kala masalah tersebut diputuskan dengan suatu kaidah usuliyah atau kaidah fiqhiyah lalu finallah masalah itu.

Adapun yang ingin kami tanyakan dari Bapak pengasuh adalah:

1.        Sebatas manakah kebolehannya menyamakan masalah baru tersebut dengan masalah yang termaktub dalam kitab-kitab muktabaroh/kutubus salaf sehingga hukumnya bisa disamakan?

2.       Apa sajakah syarat yang harus dipenuhi dalam memasukkan atau menghukumi suatu masalah dengan kaidah-kaidah usuliyah ataupun kaidah-kaidah fiqhiyah?

Jawaban:

1.        Seseorang boleh menyamakan hukum dari suatu masalah yang baru dengan hukum dari masalah yang telah termaktub dalam kitab-kitab Muktabaroh/kutubus salaf, manakala ia telah mencapai derajat seorang mufti.

2.       Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang mufti dapat kita jumpai antara lain dalam kitab Majmu' syarah al Muhadzdzabjuz 1 halaman 40-47 yang antara lain berbunyi:

( : . . , . . .

Dari pengertian yang dapat kita peroleh maka sistem bermadzhab yang harus kita lakukan adalah bermadzhab secara qouli. Jika kita ternyata menghadapi sesuatu masalah baru yang tidak termaktub dalam kitab madzhab secara jelas, maka sistem bermadzhab yang harus kita lakukan adalah secara manhaji (dalam arti sempit). Karena bermadzhab secara manhaji sulit didapati di Indonesia secara perorangan (fardy) maka menurut keputusan halaqoh yang diselenggarakan RMI (Rabithah Maahid Islamy) di Denanyar Jombang beberapa tahun lalu, harus dilakukan secara Jama'iy

Tahlil dan tawasul untuk mayit

Indeks > Masail > Aula > Tahun 1996 > 05

Sebagai orang yang semenjak kecil hidup dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, saya sudah terbiasa mengikuti kegiatan ala NU. Salah satunya adalah kegiatan tahlil yang mana kegiatan ini diselenggarakan sebagai wasilah untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia.

Rangkaian bacaan tahlil ini sangat bagus sekali, sebab yang dibaca adalah kalimah-kalimah thoyibah dan ayat-ayat suci al-Quran. Hanya saja dalam teknis pelaksanaanya biasanya di desa-desa pada hari-hari tertentu. Sebagai contoh: umpamanya ada orang meninggal dunia kemudian dibacakan tahlil sampai tujuh hari terus disusul hari keempat puluh dan terakhir mendak pindho (nglepas) setelah waktu dua tahun.

Yang ingin saya tanyakan:

1.        Apakah hal tersebut memang ada dasar hukumnya dari agama Islam (al Quran-Hadist). Karena ada yang berkomentar bahwa itu adalah merupakan sinkretisme antara ajaran Islam dan non-Islam.

2.       Bagaimanakah hukumnya bertawasul dalam berdoa dengan orang-orang yang telah wafat yang notabenenya mereka kita yakini shalih.

Jawaban:

1.        Dasar hukum yang menerangkan bahwa pahala dari bacaan yang dilakukan oleh keluarga mayit atau orang lain itu dapat sampai kepada si mayit yang dikirimi pahala dari bacaan tersebut adalah banyak sekali. Antara lain hadist yang dikemukakan oleh Dr. Ahmad as-Syarbashi, guru besar pada Universitas al-Azhar, dalam kitabnya, Yas aluunaka fid Diini wal Hayaah juz 1 halaman 442, sebagai berikut:

: : !

Sungguh para ahli fiqh telah mengambil dalil atas kiriman pahala ibadah itu dapat sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia, dengan hadist bahwa sesungguhnya ada salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami bersedekah untuk keluarga kami yang sudah mati, kami melakukan haji untuk mereka dan kami berdoa bagi mereka; apakah hal tersebut pahalanya dapat sampai kepada mereka? Rasulullah bersabda: Ya! Sungguh pahala dari ibadah itu benar-benar akan sampai kepada mereka dan sesungguhnya mereka itu benar-benar bergembira dengan kiriman pahala tersebut, sebagaimana salah seorang dari kamu sekalian bergembira dengan hadiah apabila hadiah tersebut dikirimkan kepadanya!

Hanya saja dalam kitab Fatawa al-Kubra juz 2 halaman 7 diterangkan bahwa menempatkan selamatan mayat para hari ke-3 dan seterusnya, hukumnya adalah bidah yang makruh. Kecuali jika selamatan tersebut dilakukan dengan memaksakan diri (takalluf) sampai berhutang atau mempergunakan harta warisan anak yatim atau lainnya yang dilarang agama, maka hukumnya haram.

Adapun orang yang memberi komentar bahwa hal tersebut adalah sinkretisme antara ajaran agama Islam dengan non-Islam, maka sebenarnya orang tersebut tidak memahami sistem dakwah yang dilakukkan oleh Rasulullah saw, yang hanya memberikan bimbingan dan pengarahan terhadap kebudayaan dari bangsa-bangsa yang memeluk agama Islam yang bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam. Sehingga tidak lagi bertentangan dengan pokok-pokok ajaran agama Islam. Sehingga karenanya, maka komentar tersebut tidak perlu diperhatikan.

2.       Hukumnya boleh, sebab mukjizat dari para nabi, karomah dari para wali dan maunah dari para ulama shaleh itu tidak terputus dengan kematian mereka. Dalam kitab Syawahidul Haq, karangan Syeikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhani, cetakan Dinamika Berkah Utama Jakarta, tanpa tahun, halaman 118 disebutkan sebagai berikut:

.

Boleh bertawassul dengan mereka (para nabi dan wali) untuk memohon kepada Allah taala dan boleh meminta pertolongan dengan perantara para Nabi, Rasul, para ulama dan orang-orang yang shalih setelah mereka wafat, karena mukjizat para Nabi dan karomah para wali itu tidaklah terputus sebab kematian.

Khutbah memakai tongkat

Indeks > Masail > Aula > Tahun 1997 > 05

1.        Apakah ada dalilnya, sujud syukur harus didahului sujud tilawah?

2.       Bagaimana hukumnya orang khutbah memegang tongkat dengan tangan kanan?

3.       Bagaimana hukumnya orang khutbah yang mustami (pendengar) tidak tahu bahasa Arab, kemudian ada yang mengatakan boleh diterjemahkan kedalam bahasa Jawa. Apakah betul?

Jawaban:

1.        Tidak ada, sebab sujud syukur itu disebabkan karena kedatangan nikmat yang tiba-tiba atau tertolaknya sesuatu bencana dan tidak boleh dilakukan pada waktu sedang salat, karena sujud syukur itu tidak termasuk rangkaian salat. Sedang sujud tilawah adalah disebabkan karena membaca ayat-ayat sajdah, baik di luar salat maupun sedang dalam keadaan salat dengan berdiri.

Dasar pengambilan:

a.        Kitab Nihayatuz Zain halaman 81:

() , . , .

(cabang) Disunahkan sujud tilawah bagi orang yang membaca ayat sajadah dengan bacaan yang disyariatkan dan disengaja, atau bagi orang yang mendengarnya. Sujud tilawah itu disunahkan dengan sunat muakkad bagi orang yang mendengarkan ayat tersebut seperti sujud dari orang yang membacanya. Yang dimaksud dengan bacaan yang disyariatkan adalah bacaan yang tidak diharamkan dan tidak pula dimakruhkan bagi bacaan itu sendiri. Dan tidak termasuk bacaan yang tidak disengaja, seperti bacaan orang yang tidur, orang yang lupa, orang yang mabuk, burung, dan lain-lainnya. Dan tidak termasuk bacaan yang disyariatkan adalah bacaan lainnya sebagaimana bacaan orang yang sudah baligh yang muslim dalam keadaan junub, dan seperti bacaan orang yang salat dalam keadaan tidak berdiri.

b.       Kitab Fathul Wahhab juz 1 halaman 56:

. . . , . .

Sujud syukur itu tidak masuk dalam rangkaian sesuatu salat. Sujud syukur itu disunnahkan karena kedatangan nikmat yang tiba-tiba, seperti kelahiran seorang anak atau mendapat harta, karena mengikuti sunnah. Abu Dawud telah meriwayatkan nya. Berbeda kenikmatan-kenikmatan yang terus menerus seperti kesejahteraan dan agama Islam. Karena hal itu akan mendatangkan penghabisan umur; atau karena tertolaknya bencana, seperti selamat dari kehancuran atau tenggelam, karena mengikuti sunna. Ibn Hibban telah meriwayatkannya.

 

2.       Hukumnya makruh.

Dasar pengambilan:

Kitab al Hawasyil Madaniyah Juz 2 halaman 44:

, , , . .

Dan hendaklah khotib memegang pada seumpama tongkat atau pedang atau gendewa dengan tangan kirinya karena mengikuti ulama salaf, hikmahnya adalah sesungguhnya agama ini telah tegak dengan bantuan senjata, dan tangan kanannya adalah disibukkan dengan mimbar jika pada mimbar tersebut tidak terdapat najis seperti gading atau kotoran burung. Jika khotib tidak mendapatkan sesuatu dari hal tersebut, maka dia menjadikan tangan kanannya diatas tangan kirinya di bawah dadanya.

3.       Menerjemahkan rukun khutbah itu hukumnya boleh.

Dasar pengambilan:

Kitab Al Fiqhul Manhaji juz 1 halaman 206:

. , . .

Hendaklah rukun-rukun khutbah itu dibaca dengan bahasa Arab. Wajib bagi khotib untuk berkhutbah dengan bahasa Arab meskipun para hadirin tidak memahaminya. Jika disitu tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab, sedangkan telah lampau satu masa yang di celah waktu tersebut memungkinkan untuk mempelajari bahasa Arab, maka mereka semuanya berdosa, dan salat Jum'at tidaklah sah bagi mereka, dan mereka wajib melakukan salat dzuhur. Adapun jika tidak berlalu satu masa yang memungkinkan belajar bahasa Arab di sela-sela waktu tersebut, maka khotib menerjemahkan rukun-rukun khutbah dengan bahasa yang dia sukai dan dengan terjemah tersebut salat jumuahnya sah.

Hal ihwal alkohol

Indeks > Masail > Aula > Tahun 1997 > 08

Setelah kami membaca isi terbitan majalah AULA bulan juni 1996 tentang Alkohol dalam makanan, obat dan kosmetik yang disampaikan Suyono, Drs. MPd. Disitu dijelaskan bahwa hampir semua kebutuhan hidup manusia ada/dicampuri dengan alkohol, malahan lebih istimewa lagi alkohol di otak berfungsi sebagi depressen (penekan) yang mana kekuatan menekannya tergantung besar kecilnya kadar alkohol yang ada dalam darah.

1.        Bagaimana status hukumnya alkohol yang sengaja dibuat oleh manusia?

2.       Kalau alkohol itu dihukumi halal dan suci, kenapa bila dicampur dengan minuman dengan kadar tertentu (agak banyak) bisa mengakibatkan mabuk pada peminumnya sehingga dihukumi haram dan najis?

3.       Sedangkan kalau alkohol itu dihukumi haram dan najis, bagaimana kita bisa hidup, sebab hampir semua kebutuhan hidup manusia itu memerlukan alkohol.

4.       Kalau alkohol itu dihukumi haram dan najis karena kadar terlalu besar, bagaimana hukumnya meminum obat (pil) yang kadar alkoholnya juga besar, bahkan lebih besar sebab obat-obatan itu dibuat dari dedaunan?

Jawaban:

Apa yang tertulis pada majalah Aula terbitan bulan Juni 1996 tentang alkohol adalah benar. Hanya saja mungkin anda kurang teliti dalam memahami, karena dalam artikel tersebut sebenarnya tidak disebutkan bahwa:

  Hampir semua kebutuhan hidup manusia ada/dicampuri alkohol.

  Bernafas juga butuh alkohol.

Untuk itu harap anda menelaah kembali artikel tersebut dengan cermat. Adapun pertanyaan yang anda sampaikan, dapat kami jawab sebagai berikut:

1.        Alkohol yang sengaja dibuat oleh manusia itu hukumnya ada dua macam, ada yang memabukkan dan ada yang tidak memabukkan. Adapun yang memabukkan, hukumnya najis dan haram meminumnya.

Dasar pengambilan:

Kitab al Majmu Syarah al Muhadzdzab Juz 2 halaman 564:

: , .

Adapun Alkohol yang dihasilkan dari perasan buah itu, ada dua macam: memabukkan dan tidak memabukkan. Adapun yang memabukkan adalah najis menurut kami dan menurut jumhur ulama, dan meminumnya adalah haram. Dia mempunyai hukum arak dalam hal menajiskan dan mengharamkan serta kewajiban hukum had.

2.       Alkohol itu memang ada yang halal dan suci seperti alkohol yang terdapat dalam air tape, buah apel, buah anggur dan lain sebagainya. Akan tetapi kalau air tape itu misalnya didiamkan beberapa hari sampai keadaannya dapat memabukkan jika diminum, maka menjadi tidak halal dan tidak suci.

Jadi illat yang membuat tidak halal dan tidak suci adalah sifatnya yang memabukkan. Anda tentu tahu bahwa air nira (legen) dari enau, siwalan, atau kelapa itu halal dan suci. Tetapi manakala nira tersebut telah berubah menjadi tuak, maka hukumnya haram dan najis. Dan jika tuak tersebut telah berubah dengan sendirinya menjadi cuka, maka hukumnya kembali menjadi halal dan suci.

3.       Kehidupan manusia itu sebenarnya tidak harus memerlukan alkohol seperti apa yang saya pahami dari artikel yang ada di majalah AULA bulan Juni 1996 tentang alkohol tersebut. Barang kali ada baiknya jika anda menelaah kembali dengan lebih teliti.

4.       Kami telah menghubungi seorang dokter, dan ternyata obat-obatan yang berupa pil itu tidak mengandung alkohol, kecuali beberapa jenis tertentu dari obat sirup

Aneka macam budak

Indeks > Masail > Aula > Tahun 1997 > 10

Profesi kami adalah membaca kitab, tentunya dalam membaca kami selalu mendapat kesulitan dan ketidakfahaman.

Apa yang dimaksud dengan budak qinah, mudarobah, mustauladah, mukatabah, musytarokah, majusyiah, tsaniah, muktadah. (kifayatul akhyar halaman. 44juz 2)

Jawaban:

Yang dimaksud dengan:

  Qinah, adalah budak perempuan yang dimiliki oleh seseorang beserta kedua orang tuanya. Dan kalau budaknya laki-laki disebut qinun.

  Mudaabbaroh, adalah budak perempuan yang diomongi oleh majikanya demikian, Jika aku mati, maka engkau merdeka". Kalau budaknya laki-laki disebut mudabbar.

  Mastauladah, adalah budak perempuan yang dihamili oleh majikanya dan melahirkan anak dari hubungan seksual dengan majikannya

  Mukatabah, adalah budak perempuan (kalau laki-laki disebut mukatab) yang akan dimerdekakan oleh majikanya apabila membayar sejumlah uang kepada majikanya dalam waktu yang telah ditentukan dengan jalan mengangsur.

  Musytarokah, adalah budak perempuan yang dimiliki oleh lebih dari satu orang karena diwariskan oleh keluarganya yang meninggal dunia kepada ahli waris yang lebih dari satu orang atau karena ada dua orang yang membeli seorang budak perempuan dengan jalan syirkah.

  Majusiyah, adalah budak perempuan yang menganut agama majusi, yaitu agama yang mengangap ada dua tuhan, yaitu: tuhan terang (Ormuz), dan tuhan gelap (Ahriman).

  Murtadah, adalah budak perempuan yang telah memeluk agama Islam kemudian lari dari agama Islam.

Uang undian dan karya tulis fiksi

Indeks > Masail > Aula > Tahun 1997 > 16

1.        Seorang karyawan/pegawai biasanya terima gaji di muka baru pada bulan itu bekerja. Bagaimanakah seandainya di awal bulan September dia telah terima gaji bayaran tetapi karena kecelakaan atau sakit dia tidak bisa bekerja selama bulan September. Bagaimanakah dengan gaji yang diterimanya, berhutangkah dia?

Jika termasuk berhutang, bagaimana cara mengembalikan/mengesahkannya jika dia pegawai negeri?

2.       Bagaimana hukumnya membuat novel, komik, cerita-cerita atau sejenisnyadan di publikasikan (disampaikan pada orang lain) di cerita itu hanya hayalan belaka tetapi pembaca bisa membayagnkan seolah ada dan terjadi? Bisakah masuk kategori pembuat cerita bohong dan dusta?

  Seandainya karangan cerita itu diterbitkan oleh penerbit dan dapat imbalan, halal atau tidak imbalan tersebut?

  Apakah berpahala jika karangan fiksi itu isinya nasehat baik atau misi dakwah?

3.       Bagaimana pula dengan hukum mengikuti undian kuis seperti seperti dengan mengirim jawaban pada kartu pos atau mengirim bungkus kosong barang yang pemenangnya hanya diundi dan untung-untungan? Bagaimana hadiahnya dengan pemenangnya, halal atau tidak?

4.       Seorang guru membuat cerita karangan muridnya mengira benar-benar ada. Cerita itu disampaikan guru dengan tujuan mendidik dan memberi nasehat yang baik kepada muridnya. Seperti orang tua dulu memberi cerita si kancil kepada anaknya dengan tujuan memberi nasihat yang baik. Bagaimana hukum guru yang membuat cerita itu dan menyampaikanya kepada muridnya?

5.        Seorang guru sering dibuat jengkel dan kesal bahkan marah oleh tingkah laku atau sikap muridnya/ siswa. Bolehkah guru marah untuk mendidik? Bagaimana cara seandainya guru itu terpaksa harus menampakan rasa marahnya agar muridnya menurut?

Jawaban:

1.        Pegawai itu ada tiga macam:

  Pegawai tetap, yaitu pegawai yang tetap mempunyai hak menerima gaji penuh meskipun dia sakit sampai satu bulan lebih atau tidak masuk karena cuti di luar tanggungan.

  Pegawai bulanan, yaitu pegawai yang mempunyai hak penuh gaji satu bulan meskipun dia tidak masuk bekerja beberapa hari karena sakit atau cuti, kecuali cuti di luar tanggungan.

  Pegawai harian, yaitu pegawai yang berhak menerima gaji satu hari penuh pada setiap hari. Dia datang untuk bekerja, meskipun pada jam tertentu dia tidak bekerja karena melakukan salat, makan dan sebagainya yang tidak dapat dihindarkan.

Jadi pegawai negeri yang sakit seperti tersebut pada pertanyaan, dia tidak berhutang, karena gaji yang telah diterima awal bulan itu sudah menjadi haknya.

Dasar pengambilan Kitab Hamsy dari syarah Kitab Ar-Raudl juz 2 halaman 412:

( ) , . , . . , .

Andaikata seseorang yang mengambil upah untuk menjadi imam salat meskipun salat sunat seperti salat sunat tarawih, maka hukumnya tidak sah. (ucapan musanif Andaikata seseorang mengambil upah) dan seterusnya, sebagian dari ulamak ada yang mengira bahwa gaji mengimami dan uang saku karena menuntut ilmu dan yang seperti keduanya adalah termasuk bab ijarah (mengambil upah) sehingga seorang imam tidak berhak sedikit pun dari gaji tersebut apabila seorang imam tidak mengimami pada sebagian hari atau sebagian salat. Yang benar tidaklah demikian; melainkan gaji tersebut adalah termasuk bab pemberian nafkah dan pemberian rizqi yang di dasarkan pada perbuatan baik dan toleransi. Berbeda dengan buruh yang mengambil upah, maka upah tersebut termaduk pemberian imbalan. Oleh karennya, seseorang tidak boleh mengambil upah karena memutuskan perkara, tetapi boleh memberi rizqi kepeda hakim yang memutuskan perkara dari baitul maal (kas negara) menurut ijma.

2.       Jika novel, komik, cerita dan lainya yang dikarang seperti tersebut dalam pertanyaan itu hanya dimaksudkan sebagai hiburan yang tidak memiliki muatan pendidikan dan nasihat, maka pengaranya termasuk orang yang berbuat sia-sia padahal perbuatan sia-sia itu harus di tinggalkan oleh setiap orang muslim yang baik, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:

.

Termasuk kebaikan islam orang itu adalah meniggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.

Jika novel, komik, ceritera lainnya tersebut berisi pelecehan terhadap nilai-nilai agama, maka hukumnya berdosa.

Jika ceriteranya hanya sekedar hiburan belaka maka honor yang diperolehnya halal tetapi tidak membawa berkah. Dan jika berisi pelecehan terhadap nilai-nilai agama maka hukumnya haram, karena honor tersebut diterima dari hasil pekerjaan yang haram.

Jika ceriteranya berisi nasihat dan muatan dakwah, maka perbuatanya mendapat pahala selama ceritera tersebut tidak terdapat kebohongan (khayalan yang dusta).

Dasar pengambilan Sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Sayyidah Umi Kulsum:

: , .

Tiadalah Rasulullah saw, memberi keringanan sedikitpun dari orang yang berdusta, kecuali dalam tiga hal: Laki-laki yang berdusta kepada musuh dalam waktu perang. Laki-laki yang berdusta untuk mendamaikan orang muslim yang bertengkar. Laki-laki yang berdusta kepeda istrinya dengan mengatakan makanaya enak (padahal itu tidak enak) untuk tidak menyakiti hatinya.

3.       Hukumnya boleh, sebab semua orang yang mengikuti undian tersebut tidak mengeluarkan uang taruhan sebagaimana yang disebutkan dalam kitab fiqih sebagai qimar/judi.

Hadiahnya halal, karena hanya sebagai bonus dari barang yang telah dibelinya atau sebagai hadiah dari yang mengadakan kuis.

Dasar pengambilan Ahkamul Fuqoha Juz 3 halaman 16-17:

( ) : . . . , .

Adapun masalah Ha (masalah undian) maka hukumnya adalah menurut perincian mendatang: (1) Apabila undian itu didasarkan pada untung rugi, maka hukumnya adalah haram, karena undian tersebut termasuk qimar (judi); (2) Apabila undian itu tidak didasarkan pada untung atau rugi, tetapi menjamin hadiah yang tidak ditentukan seperti yang berlaku diantara kita sekarang ini, yaitu bahwa pembeli yang membeli sesuatu dengan harga yang sepadan, kemudian dia menerima surat undian yang telah dijanjikan yang didalam surat itu tertulis hadiah yang tidak ditentukan, tetapi hanya menurut hasil undiannya. Atau apa yang berlaku diantara kita, misalnya orang yang memberikan sokongan untuk membangun sebuah bangunan-bangunan untuk kebaikan, seperti bangunan madrasah, atau pondok pesantren atau masjid atau lainnya, orang tersebut menerima surat undian seperti tersebut. Kemudian setelah diundi, maka siapa saja yang surat undiannya cocok dengan sebagian dari hadiah-hadiah yang telah ditentukan, maka dialah yang berhak menerima hadiah. Undian seperti ini tidaklah haram, karena tidak termasuk qimar (judi). Hadiah yang disediakan tersebut disyaratkan tidak diambilkan dari sebagian uang sokongan.

4.       Hukumnya boleh, karena tokoh-tokoh yang ada dalam cerita yang disampaikan oleh guru seperti tokoh kancil dalam cerita orang tua dahulu kepada anaknya, hanyalah sebagai media (perantara) untuk memudahkan sang anak menerima dan memahami isi cerita yang disampaikan; sebab anak yang masih kecil itu masih sulit untuk memahami sesuat yang bersifat abstrak.

Dasar pengambilan Qaidah Ushul Fiqh

Perantara-perantara itu mempunyai hukum seperti hukum dari tujuan-tujuannya.

5.        Dalam ilmu mendidik yang paling modern sekarang ini memang masih dikenal sistem:

  Hukuman yang dapat berbentuk sikap marah yang ditunjukkan oleh guru kepada murid yang lalai terhadap kewajibannya, dengan maksud agar tidak lagi mengulangi kelalaiannya.

  Hadian yang dapat berbentuk pujian yang disampaikan guru kepada muridnya yang meraih prestasi, dengan maksud agar dia mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi yang telah dicapainya dan juga memberi dorongan kepada murid-murid yang lain untuk meraih prestasi.

  Persuasi atau rayuan atau bujukan yang dilakukan oleh guru kepada murid yang tidak mau mengerjakan tugas yang tidak disukainya.

Sudah barang tentu dalam menjalankan tiga macam sistem tersebut harus dijaga jangan sampai berlebihan, sehingga akan membawa dampak yang negatif bagi tujuan pendidikan itu sendiri

Belajar kitab tanpa bimbingan

Indeks > Masail > Aula > Tahun 1999 > 15

1.        Ada dua orang sedang salat berjamaah, yang seorang menjadi imam sedang yang lain menjadi makmum. Saat melaksanakan salat, imamnya batal, maka apakah yang harus dilakukan imam tersebut? Apakah langsung meninggalkan tempat salat? Bagaimana dengan makmumnya?

2.       Orang yang pandai ilmu nahwu dan sharaf serta ilmu alat lainnya, kemudian mempelajari kitab-kitab kuning dengan muthalaah sendiri tanpa seorang guru, apakah termasuk dalam Al Ilmu bila Syaikhin Fasyaikhuhu Syaithonun?

3.       Rumah kos-kosan apakah ada zakatnya? Bila ada, bagaimana cara menghitung nisabnya? Apakah sama dengan harta tijarah?

Jawaban:

1.        Ada dua pilihan:

  Imam langsung meninggalkan tempat salat dan segera pergi berwudlu.

  Makmum disunahkan menunggu imam untuk mengimami lagi, jika tempat wudlunya dekat. Jika tempat wudlunya jauh, sekira waktu untuk menunggu cukup untuk melakukan salat satu rakaat, maka salah seorang dari makmum, yang paling alim, boleh maju untuk mengganti imam, atau makmum memisahkan diri (mufaraqah) dari imam dan salat sendiri-sendiri.

2.       Orang yang mempelajari kitab-kitab kuning dengan muthalaah sendiri tanpa guru, meskipun dia pandai ilmu sharaf dan nahwu serta ilmu alat yang lain, bisa jadi dia termasuk Al Ilmu bila Syaikhin Fasyaikhuhu Syaithonun Karena seringkali kita menjumpai kalimat-kalimat yang pengertiannya tidak sama dengan arti yang ada dalam kamus, sehingga tanpa petunjuk dari guru, kita akan keliru dalam mengartikannya. Kita juga seringkali menjumpai ungkapan-ungkapan yang tidak dapat kita terjemahkan hanya dengan mengandalkan ilmu nahwu dan sharaf serta ilmu alam seperti ungkapan yang dikemukakan oleh Abu Bakar as Shiddiq:

Umar Ibn Khattab:

Usman Ibn Affan:

Ali Ibn Abi Thalib:

Ada beberapa alasan yang lain yang terlalu banyak untuk disebutkan disini.

3.       Rumah yang disediakan untuk tempat indekos adalah rumah yang kamar-kamarnya disediakan untuk disewa oleh orang-orang yang memerlukannya. Menyewakan kamar sama dengan menjual manfaat dari kamar tersebut. Dengan demikian orang yang membangun rumah untuk tempat indekos tersebut adalah sama dengan orang yang sengaja menjual manfaat dari rumah tersebut. Dengan demikian jika hasil bersih dari sewa rumah tersebut dalam satu tahun sudah ada satu nisah, seperti nisab tijarah, maka hasil tersebut wajib dizakati.

Dasar pengambilan:

1.        Kitab Majmu' Syarah al Muhadzdzab juz 4 halaman 262:

() . . : . . . . . .

(cabang). Para pendukung madzhab kami (madzhab Syafi'i) berpendapat: apabila di tengah-tengah salat, imam ingat bahwa dia adalah orang yang junub atau orang yang berhadats atau seseorang perempuan yang salat dengan orang-orang perempuan ingat bahwa sesungguhnya dia adalah wanita yang terputus dari haid yang belum mandi, maka wajib baginya keluar dari salat. Jika tempat bersuci itu dekat maka imam memberi isyarat kepada para jamaah agar mereka tetap diam dan imam pergi bersuci kemudian kembali dan bertakbiratul ikhram untuk salat. Para makmum mengikuti imam dalam sisa salat mereka. Mereka tidak memulai salat dari awal. Jika tempat bersuci itu jauh maka para makmum menyempurnakan salat dan tidak menunggu imam. Al Qodli Abu Thoyyib berkata: Imam Syafi'i berpendapat: Mereka (para makmum) boleh memilih. Jika mereka menginginkan, mereka boleh menyempurnakan salat secara sendiri-sendiri dan jika mereka menginginkan mereka boleh menyuruh maju salah seorang diantara mereka menjadi imam yang menyempurnakan salat dengan mereka, Imam Syafi'i berpendapat: Disunnahkan agar mereka menyempurnakan salat secara sendiri-sendiri. Al Qodli berkata: Sesungguhnya Imam Syafii berpendapat demikian hanyalah untuk keluar dari perbedaan pendapat mengenai keabsahan meminta ganti imam. Apabila imam memberi isyarat kepada mereka, sedangkan tempat bersuci itu dekat, maka disunnahkan untuk menunggu imam, sebagaimana telah kami sebutkan. Dalil kami adalah hadist yang telah lalu diriwayatkan oleh Abi Bakrah. Jika mereka tidak menunggu imam maka diperbolehkan; kemudian bagi mereka salat sendiri-sendiri dan boleh meminta ganti imam apabila kita membolehkannya. Syeikh Abu Hamid dalam ta'liq beliau, berpendapat: Hanya saja disunnahkan bagi mereka menunggu imam apabila waktu menunggu itu tidak melewati salat satu rakaat

Zakat untuk kyai dan imam waswas

Indeks > Masail > Aula > Tahun 1999 > 20

1.        Bagaimana hukumnya zakat yang dipergunakan untuk membangun pondok; padahal yang berhak menerima zakat itu adalah orang sebagaimana dijelaskan dalam al Quran?

2.       Saya pernah mendengar dari seorang Kyai yang mengatakan bahwa sodakoh itu lebih utama diberikan kepada ulama/kyai. Padahal dalam surat al Maa'un dijelaskan bahwa kita sebagai orang mukmin diperintahkan menyantuni anak yatim dan memberi makan orang miskin? Mohon penjelasan!

3.       Bagaimana hukum salat dari imam yang melakukan takbiratul ihram lebih dari tiga kali karena waswas. Sepengetahuan saya salat yang demikian itu tidak sah! Nah, apakah saya harus mengikuti imam tersebut? Kalau mengikuti, bagaimana hukum salat saya?

Jawaban

1.        Kalau kita menelaah kitab-kitab fiqh klasik mengenai 8 macam asnaf yang berhak menerima zakat, kita akan menjumpai bahwa kedelapan asnaf tersebut semuanya adalah orang, sehingga kata sabilillah dalam surat at Taubah ayat 60 adalah berarti orang-orang yang ikut pergi berperang untuk membela agama Islam yang tidak mendapat gaji. Semuanya adalah para sukarelawan. Sehingga kalau ada salah seorangulama salaf yang mempergunakan harta zakat yang diberikan kepada beliau untuk membangun pondok pesantren yang beliau asuh, maka beliau menerima zakat tersebut mungkin atas nama

a.        Orang miskin, yaitu orang yang penghasilannya lebih dari 50 % dari seluruhnya tetapi tidak pernah mencapai 100% atau,

b.       Ghorim, yaitu orang yang berhutang untuk membangun pondok pesantren dan tidak mampu membayarnya.
Kalau menurut fiqh modern seperti kitab Islam Aqidah wa as Syariah karangan Syaikh Mahmud Syaltout halaman 109, dinyatakan bahwa sabilillah dalam surat at Taubah ayat 60 adalah berarti kemaslahatan umum yang tidak boleh dimiliki oleh seseorang. Bagian dari hasil zakat untuk sabilillah ini tidak boleh dimanfaatkan secara khusus oleh seseorang. Yang berhak memiliki bagian ini adalah Allah swt dan pemanfaatannya adalah untuk makhluk Allah, yang antara lain untuk usaha-usaha mempersiapkan kekuatan dan kemampuan yang matang bagi para penganjur Islam yang selalu menunjukkan kepada masyarakat betapa indah dan luasnya agama Islam, betapa pentingnya ajaran dan hukum-hukum Islam itu bagi kehidupan manusia.

2.       Apa yang diterangkan oleh Kyai tersebut tidaklah bertentangan dengan apa yang dimaksud oleh surat al Maun. Sebab yang dimaksud oleh Kyai tersebut adalah bahwa apabila sama miskinnya, maka sedekah itu yang paling utama diberikan kepada Kyai, karena sedekah kepada Kyai tersebut berarti ikut membantu ketaqwaan yang dilakukan.
Dalam kitab Mauidlotul Mukminin halaman 52-53, disebutkan urutan keutamaan bersedekah kepada orang-orang yang berhak menerimanya, yang artinya sebagai berikut

a.        Orang-orang yang bertakwa, karena mereka akan mempergunakan harta sedekah yang mereka terima untuk bertakwa, sehingga sedekah kepada mereka itu berarti bersekutu dengan mereka dalama ketaatan yang mereka lakukan.

b.       Orang-orang yang khusus menekuni ilmu pengetahuan, karena menekuni ilmu pengetahuan itu jika niatnya benar, adalah ibadah yang paling mulila, sehingga ibadah kepada mereka ini berarti membantu untuk mendapatkan ilmu.

c.        Orang-orang yang jujur dalam ketakwaannya dan ahli tauhid yang setiapkali menerima pemberian dia selalu memuji Allah dan bersyukur kepadaNya, karena dia sadar bahwa kenikmatan itu pada hakekatnya adalah dari Allah swt, sedangkan orang yang memberikan sedekah kepadanya hanyalah sebagai perantara yang ditundukkan oleh kehendak Allah.

d.       Orang yang menyembunyikan hajatnya, tidak pernah mengeluh dan mengadu kepada orang lain, sebagaimana para sahabat Nabi saw yang mendiami serambi masjid Nabi (ahlus suffah).

e.       Orang yang mempunyai keluarga banyak atau orang yang tidak dapat bekerja karena sakit atau sebab-sebab lainnya sehingga menyerupai orang yang melarat.

f.         Kaum kerabat dan orang-orang yang mempunyai hubungan famili. Sedekah kepada mereka ini disamping berfungsi sebagai sedekah juga berfungsi sebagai penyambung tali silaturrahim.

3.       Orang yang ragu-ragu dalam niat atau dalam salah satu dari syarat-syarat salat, seperti ragu-ragu tentang kesucian dirinya, atau apakah dia berniat salat dzuhur atau ashar dan keraguan tersebut berlangsung selama waktu yang cukup untuk melakukan satu rukun, maka salatnya batal. Adapun jika keraguan itu dating dan lenyap dengan cepat, maka salatnya tidak batal sebagaimana disebutkan dalam kitab Nihayatuz Zain halaman 92

: : , : .

Yang kesembilan dari hal-hal yang membatalkan salat adalah ragu-ragu dalam niat atau dalam sesuatu dari syarat-syarat salat: seperti kesucian atau apakah seseorang berniat dzuhur atau ashar dan keraguan tersebut berjalan satu zaman yang cukup untuk satu rukun. Adapun andaikata keragu-raguan tersebut lenyap dengan cepat, seperti tergerak dalam hatinya sau keraguan dan lenyap dengan cepat, maka tidak membatalkan.

Adapun orang yang melakukan takbiratul ikhram berulangkali, biasanya tidak disebabkan ragu-ragu atau syak mengenai niat salat dzuhur atau asar, akan tetapi karena merasa bahwa niat yang diucapkan oleh hatinya tidak beriringan dengan tepat dengan takbir yang diucapkan oleh lisannya (muqorronah hakikiyah) sehingga mudah untuk dijangkiti penyakit was-was. Seandainya dia melakukan muqoronah urfiyah yaitu selama lisannya mengucapkan takbiratul ihram, hatinya melafalkan niat, tentulah tidak mudah untuk was-was sehingga harus takbiratul ihram berkali-kali.

Imam yang melakukan takbiratul ihram berulangkali, pada waktu dia takbiratul ihram yang terakhir kalinya, yaitu setelah hatinya mantap dan sudah tidak ada keraguan lagi, maka salatnya sah dan sah pula untuk dimakmumi.

Jadi bagi orang yang bermakmum dengan orang yang sering was-was, sebaiknya menunggu saja sampai imam mulai membaca Fatihah. Saya tidak menjumpai keterangan yang menyatakan bahwa apabila ada orang yang melakukan takbir lebih dari tiga kali salatnya menjadi tidak sah. Dalam kitab I'anatut Thalibin juz 1 halaman 133, disebutkan sebagai berikut

.

Andaikata seseorang bertakbiratul ihram berkali-kali dengan niat memulai salat dengan masing-masing takbir, maka dia masuk dalam salat dengan hitungan yang ganjil dan keluar dari salat dengan hitungan yang genap. Karena sesungguhnya dia pada waktu masuk takbiratul ihram yang pertama, maka dia keluar dengan takbiratul ihram yang kedua, karena memulai dengan takbiratul ihram yang kedua itu berarti membatalkan takbiratul ihram yang pertama.

Qiroah sab'ah dan amal jariyah

Indeks > Masail > Aula > Tahun 1999 > 23

1.        Al Quran diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril, kemudian dikalangan ulama Qurro' ada yang namanya qiroah sab'ah. Yang saya tanyakan, apakah Qiroah Sab'ah itu pernah disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw? Ataukah Qiroah itu timbul dari keilmuan para ulama itu sendiri? Jika demikian, bagaimana dengan ketentuan Al Quran itu sifatnya tauqifi hanya datang dari Allah?

2.       Banyak yang berpendapat bahwa sodaqoh jariyah itu pahalanya masih mengalir selama hasil sodaqoh itu diguanakan, kemudian bagaimana kalau sodaqoh itu sudah tidak digunakan lagi? Misalnya si A bersodaqoh untuk pembangunan masjid, tapi lama kelamaan masjid itu dibongkar total untuk direnofasi, apakah sodaqoh dari si A itu masih ada? dalam arti masih dicatat sebagai amal atau sodaqoh jariyah?

Jawaban

1.        Qiroah Sab'ah atau tujuh macam bacaan al Quran itu kesemuanya pernah disampaikan oleh malaikat Jibril as kepada Nabi Muhammad saw.
Dasar pengambilan
Kitab Shahih Muslim juz 1 halaman 361

: .

Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepada kami katanya:Ibnu Wahab telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab, katanya Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah saw, telah bersabda: Malaikat jibril telah membacakan Alquran kepadaku dengan satu macam bacaan. Kemudian aku mengulangi menjumpai jibril dan tiada henti-hentinya aku meminta tambahan bacaan kepada jibril, dan dia menambahinya sehingga sampai pada tujuh bacaan. (HR Muslim)

2.       Sodaqoh untuk pembangunan masjid, pondok pesantren, madrasah atau lainnya pahalanya akan terus mengalir kepada orang yang bersedekah, meskipun sudah meninggal dunia (amal jariah) selama harta yang disedekahkan tersebut masih tetap berada serta tetap dipergunakan dimasjid atau dipondok pesantren atau madrasah tersebut. Jika masjid tersebut, misalnya dibongkar total dan barang yang disedekahkan tersebut sudah tidak dipergunakan lagi, maka pahalanya sudah tidak mengalir lagi (terputus).

Oleh karena itu, pada waktu Masjid Agung Demak akan dibongkar tegelnya, karena ada orang yang ingin mewakafkan marmer sebagai gantinya, maka ahli waris dari orang yang mewakafkan tegel yang telah dipakai bertahun-tahun keberatan jika tegel tersebut dibongkar, sebab akan memutus pahala dari ayahnya. Akhirnya Masjid Agung Demak tidak dibongkar, sedang marmer yang diwakafkan diletakkan di atas tegel.

Memotong kuku saat haid

Indeks > Masail > Aula > Tahun 2000 > Feb 6

  Bolehkah memotong rambut dan kuku saat haid? Adakah tuntutannya di akhirat nanti?

  Halalkah memakan jangkrik?

Jawaban:

  Disunnahkan untuk tidak dilakukan.

31
.

Dan seseorang yang berkewajiban mandi disunnahkan baginya untuk tidak menghilangkan sesuatupun dari badannya walaupun hal itu berupa darah, rambut, dan atau kuku sampai orang tersebut mandi, karena setiap bagian tubuh manusia akan dikembalikan kelak di akhirat, Jikalau dihilangkan sebelum mandi maka hadats besar tersebut akan kembali lagi sebagai hujjah yang bisa mengalahkan bagi seseorang.

  Haram memakan jangkrik.

4 260
( ) .

Koperasi simpan pinjam

Indeks > Masail > Aula > Tahun 2000 > Feb 8

Saat ini banyak berdiri koprasi simpan pinjam, koprasi yag dimaksud adalah menerima simpanan sekaligus mengasih pinjaman kepada anggota. Dimana peminjam tidak dikenakan "Bunga", namun diharuskan membeli semacam blanko yag harganya bervariasi sesuai dengan besar uang yang dipinjam. Misalnya untuk pinjam uang Rp 50.000,- harus membeli dulu blanko Rp 2.500,-, untuk pinjam Rp 100.000,- blankonya Rp 5.000,- dan seterusnya. Jadi sebelum bendahara menyerahkan uang yang akan dipinjam, pemimjam harus membeli blanko, baru kemudian bendahara menyerahkan uang pinjaman kepada pemimjam, untuk selanjutnya pemimjam mengangsur sebanyak lima kali selama lima minggu tanpa ada tambahan lagi. Sedangkan jumlah uang dari penjualan blanko akan dibagi pada semua anggota sesuai dengan jumlah simpanan/tabungan anggota masing-masing.

Bagaimana hukumnya koperasi simpan pinjam tersebut menurut syari'at Islam?

Jawaban:

Tidak boleh.

3 20

Doa bersama umat agama lain

Indeks > Masail > Aula > Tahun 2001 > Apr 10

Baru-baru ini ada yang mengatasnamakan 40 ulama Jatim yang memberi fatwa haram doa bersama dengan orang kafir. Ini mungkin ditujukan ke orang-orang NU yang akhir-akhir ini sering mengadakan kegiatan semacam itu. Mungkin masalah ini tidak perlu dipermasalahkan seandainya orang-orang itu menghargai keyakinan orang lain. Tapi berhubung kami sendiri (di lingkungan kampus) sering ditanyakan pendapatnya, khususnya oleh orang-orang yang memang kurang sependapat, perlu dijelaskan sehingga paling tidak mereka tidak mengungkit-ungkit masalah tersebut.

1.        Apakah ada dasarnya kegiatan itu di Al Quran dan Hadist? Jika tidak, dasar apa yang dipakai?

2.       Apa sebenarnya yang dimaksud khilafiyah? Apa saja yang bisa dianggap khilafiyah?

Jawaban:

1.        Dasar dari Al Quran dan Hadits yang secara implisit menyatakan hukum doa bersama tidak ada, namun sesuai dengan keputusan Muktamar ke-30 di PP Lirboyo Kediri hukum doa bersama ini memang tidak diperbolehkan kecuali jika dalam praktek kita tidak mengamini doa mereka dan tempat duduknya terpisah dan tidak bercampur.

Dasar pengambilan:

a.        Majmu' Juz 5 halaman 66

.

Orang-orang kafir harus dikecualikan dalam melakukan doa istisqo' karena mereka adalah musuh Allah maka tidak diperkenankan menjadikan mereka perantara kepada Nya, kalau mereka datang dan membedakan diri (tidak berkumpul dengan muslimin) maka kedatangannya tidak dicegah karena mereka datang untuk mencari rizki.

b.       Jamal Juz 2 halaman 119

: .

Tidak diperkenankan mengamini doa orang-orang kafir karena doa mereka tidak akan diterima, karena Allah telah berfirman: Dan tiadalah doa orang-orang kafir itu kecuali dalam kesesatan.

2.       Khilafiyah itu adalah perbedaan pendapat ulama dalam menentukan hukum Islam> Kebanyakan perbedaan pendapat ini hanya pada masalah cabang fiqh dan penganalogian.

Dasar Pengambilan

Tadzkirun Nas bima wujida min masailil fiqhiyah halaman 23

.

Kebanyakan perbedaan di antara ulama itu pada masalah cabang fiqh dan beberapa analogi saja. Tentu saja salah seorang di antara mereka melakukan kekeliruan dalam beristinbath (mengambil dalil hukum) atau dalam menganalogikan.

Iuran Qurban

Indeks > Masail > Aula > Tahun 2001 > Des 07

Ketika tiba Hari Raya Idul Ad-ha, banyak kantor atau sekolah yang mengadakan iuran untuk membeli hewan Qurban. Iuran masing-masing individu jumlahnya sangat jauh dari harga beli hewan yang akan dikurbankan. Namun dengan alasan untuk sarana 'pembelajaran' atau Qurban sendiri, iuran itu pasti lancar dan sukses. Biasanya, kulit hasil sembelihan itu dijual untuk biaya operasional pelaksanaan qurban tersebut.

Pertanyaan

1.        Bolehkah tindakan Panitia menarik dana dengan tujuan di atas?

2.       Apakah menyembelih hewan Qurban seperti diatas termasuk yang dimaksud dalam ajaran Islam?

3.       Bolehkan menjual kulit Qurban untuk operasional?

4.       Bagaimana memberikan 'pelajaran Qurban' ybenar?

Jawaban

1.        Menyembelih hewan qurban itu hukumnya sunnah, maka bila panitia mengharuskan dengan ketentuan yang tidak memenuhi syarat dalam fiqh maka hal itu tidak diperkenankan apalagi kalau tidak memenuhi syarat, maka tidak mendapat pahala kesunatan menyembelih qurban.

2.       Menyembelih hewan qurban menurut ajaran Islam adalah 1 kambing untuk 1 orang, sapi atau unta untuk 7 orang. Dan untuk orang miskin yang ingin berqurban, Imam Abu Yahya Zakariya Al-Ansori menganjurkan untuk mengikuti madzhab Ibn Abbas yang menganggap kesunatan berqurban itu cukup dengan mengalirkan darah meskipun darah ayam jago.

3.       Kulit hewan qurban tidak boleh dijual ataupun disewakan dan hanya bisa dishodaqahkan, digunakan atau dipinjamkan.

4.       Panitia harus menjelaskan syarat rukun berqurban yang sesuai dengan tuntunan agama dan bila tidak mampu bisa mengikuti anjuran Imam Abu Yahya Zakariya Al-Ansori atau uang urunan tersebut dibelikan kambing yang kemudian diniatkan untuk qurban seseorang. Pada waktu menyembelih orang yang berqurban itu diminta meniatkan pahala qurban untuk orang yang membantu urunan membeli hewan qurban.

2 188

"Berqurban itu adalah sunnat yang dikukuhkan menurut kita (golongan Syafii) apabila jumlah anggota keluarga banyak hukumnya sunnat kifayah, apabila tidak banyak maka sunnat aini (sunnat bagi setiap anggauta keluarga)".

2 189

( )

"Dan seseorang dapat bersedekah dengan kulit qurban atau memanfaatkannya, maksudnya menggunakan dan meminjamkan kulit, bukan menjualnya atau menyewakannya".

255

() ()  

(Faidah) dari Ibn Abbas ra: "Sesungguhnya dalam berqurban cukup dengan mengalirkan darah meskipun dari ayam jago atau angsa sebagaimana dikatakan oleh Al-Maidani. Syaichuna (Imam Abu Yahya Zakariya Al-Ansori) menganjurkan orang-orang fakir untuk mengikuti madzhab tersebut, aqiqah juga di analogkan pada masalah qurban. Syaichuna juga mengatakan bagi orang yang melahirkan bayi dapat meng-aqiqahi dengan ayam jago menurut madzhab Ibn Abbas. (Masalah) Madzhab Syafii dan saya tidak mengetahui ulama yang berbeda pendapat dengannya tentang ketidakbolehan berqurban dengan seekor kambing untuk orang yang lebih banyak dari satu orang sampai pada pernyataan pengarang, Imam Khatib, Imam Ramli dan ulama yang lainnya berpendapat kalau orang lain bersekutu dalam masalah pahala qurban seperti ucapan seseorang: untukku atau ahli baitku maka hukumnya boleh dan pahalanya dapat diperoleh semuannya.

Deposito bank

Indeks > Masail > Aula > Tahun 2001 > Jun 06

Saya adalah seorang pelajar yang mendepositokan uang di sebuah bank, yang bunganya saya pakai untuk membayar sekolah/kuliah, makan, dll (termasuk alat-alat yang menunjangnya).

1.        Bagaimaan hukum mendepositokan uang di bank?

2.       Apakah Bank NUSUMA termasuk kriteria bank yang sehat menurut syar'i (yang notabene dalam naungan NU)?

3.       Jika sistem (Bank NUSUMA) tidak sependapat dengan kitab syar'i. Apakah alasan syar'i pendirian bank tersebut? Bukankah rela terhadap hal yang ada itu termasuk rela terhadap sesuatu yang ditimbulkannya?

4.       Termasuk akad apakah pendepositoan di atas? Dan jika tidak boleh bagaimana jalan keluarnya?

5.        Bagaimana hukum berinvestasi/menanam saham?

Jawab:

1.        Hukum mendepositokan uang di bank itu hukumnya boleh, sebab pemberian bunga dari deposito itu tidak disebutkan dalam akad.

Dasar Pengambilan:

a.        Kitab Jamal Fat-hul Wahhab juz 3 halaman 261:

. . .

"Tempat kerusakan akad pinjaman yang berbunga itu adalah apabila pemberian bunga itu disyaratkan dalam akad pinjam meminjam. Adapun apabila orang yang meminjam uang dan orang yang dipinjami telah sepakat keduanya terhadap bunga tersebut dan tidak terjadi syarat pemberian bunga dalam akad pinjam meminjam, maka akad tersebut tidak rusak. Andaikata seseorang bermaksud meminjamkan uang dengan maksud mendapat tambahan kepada orang yang sudah terkenal mengembalikan uang pinjaman dengan tambahan, maka mengenai kemakruhannya ada dua pendapat".

b.       Kitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 186:

( ): .

(Masalah Ba') Madzhab Syafi'i berpendapat bahwa tulisan semata-mata dalam semua akad, kabar-kabar dan pernyataan-pernyataan tidaklah termasuk hujjah syara'.

2.       Kami tidak mengetahui, apakah bank NUSUMA itu termasuk bank yang sehat menurut syara' atau tidak. Sebab pendirian bank NUSUMA tersebut diprakarsai oleh salah seorang tokoh yang menjadi Pengurus Besar NU, tetapi bukan hasil keputusan Bahtsul Masa'l Syuriyah NU, baik Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, dan Pengurus Cabang.

3.       Sebagaimana kami kemukakan di atas, bahwa pendirian bank NUSUMA itu diprakarsai oleh seorang tokoh yang pada waktu kebetulan menjadi Pengurus Besar NU, sedang kami yang pada waktu pendiriannya kebetulan menjadi Pengurus Syuriyah PWNU tidak diajak musyawarah atau dimintai pendapat, sehingga kami dan orang-orang lain yang seperti kami, tidak dapat dikatakan termasuk orang yang rela terhadap pendirian bank NUSUMA tersebut.

4.       Mendepositokan uang di bank itu termasuk akad wadi'ah (titipan) dengan idzin men-tasarruf-kan uang titipan tersebut oleh pihak bank.

5.        Kami tidak tahu persis apakah keuntungan yang diberikan oleh perusahaan kepada para pemegang saham adalah prosentasi dari keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan yang menjual sahamnya ataukan prosentasi dari modal orang yang menanamkan sahamnya. Jika berasal dari keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan yang menjual sahamnya, maka hukumnya halal, dan jika berasal dari prosentasi dari modal orang yang menanamkan sahamnya, maka hukumnya seperti bunga dari pinjaman.yang hukumnya haram; berdasarkan hadits yang berbunyi:

.

Setiap pinjaman yang menarik manfa'at adalah riba.

Shalat Jumat Beda Madzhab

Indeks > Masail > Aula > Tahun 2003 > Jul 03

Permasalahan

Dalam sebuah jamaah shalat Jumat, para makmumnya adalah penganut madzhab Syafii, sedang khatibnya tidak bermadzhab atau bermadzhab Hanafi. Sahkah jumatannya?

Jawaban

Jika makmum mengetahui bahwa imamnya telah mengerjakan apa-apa yang wajib dilakukan dalam shalat Jumat menurut makmum, maka Jumatannya sah. Demikiian pula jika makmum tidak mengetahui imamnya telah melakukan hal-hal yang membatalkan shalat.

Dasar pengambilan:

Kitab Ghoyatu Talkhisil Murad, Ibnu Ziyad, Hamisy Bughyatul Mustarsyidin, Mesir, Musthofa Al Babil Al Halabi, t..t., hal. 99:

: .

"Masalah: Sah makmum dengan orang yang berbeda madzhab jika makmum mengetahui imam melakukan apa-apa yang wajib menurut makmum; demikian pula jika makmum tidak mengetahui".

Kasyifatus Saja, Muhammad Nawawi Al Jawi, Syirkatul Maarif, Bandung, t.t. hal.84:

... : .

"Salah satu dari sebelas syarat makmum adalah agar makmum tidak menge-tahui dan tidak menduga dengan dugaan yang kuat akan kebatalan dari shalat imam-nya sebab hadats atau lainnya. Maka tidak sah makmum dengan orang yang disang-ka batal shalatnya, seperti seseorang yang bermadzhab Syafii yang makmum dengan seseorang yang bermadzhab Hanafi yang menyentuh kemaluannya sampai ucapan pengarang: Andaikata makmum mengetahui atau menyangka bahwa imam yang bermadzhab Hanafi misalnya, meninggalkan bacaan basmalah dengan cara tidak diam sesudah takbiratul ihram sekedar basmalah, maka tidak sah makmum dengan dia."

Batas Jarak Shalat Ghaib

Indeks > Masail > Aula > Tahun 2003 > Jul 09

Permasalahan

Berapa kilometer batas jarak mayit yang diperbolehkan untuk mensholati mayit secara ghoib?

Jawaban

Asalkan mayit itu berada di kota lain (kota Kecamatan), meskipun jaraknya dekat, maka boleh disholati ghoib.

Dasar Pengambilan

Kitab Anwarul Masalik, Syeikh Muhammad Zuhri Al Ghamrawi, Maktabah Al Hidayah, Surabaya, t.t., hal. 98

.

"Dan boleh disholati ghoib, mayit yang tidak ada dalam kota meskipun jarak-nya dekat, yaitu kurang dari jarak yang membolehkan sholat qashar. Dan tidak boleh disholati ghoib mayit yang berada dalam kota meskipun kota itu luas wilayahnya".

Sifat Ma'ani dan Ma'nawiyah bagi Allah

Indeks > Masail > Aula > Tahun 2003 > Jul 10

Permasalahan

Apa bedanya sifat ma'ani dan ma'nawiyah bagi Allah?

Jawaban

Sifat ma'ani yaitu sifat yang ada pada dzat Allah yang sesuai dengan kesem-purnaan Allah. Sedang sifat ma'nawiyah adalah sifat yang selalu tetap ada pada dzat Allah dan tidak mungkin pada suatu ketika Allah tidak bersifat demikian. Sebagai contoh: Kalau dinyatakan bahwa Allah itu bersifat "qudrah yang berarti "maha kuasa, maka sifat ini disebut sifat "ma'ani, artinya mungkin pada suatu ketika Allah itu tidak lagi Maha Kuasa. Tetapi setelah dinyatakan "kaunuhu Qadiran, dan sifat ini adalah sifat "ma'nawiyah, maka artinya adalah: Keadaan Allah itu selalu Maha Kuasa, sehingga tidak mungkin pada suatu ketika tidak Maha Kuasa.

Dasar Pengambilan

Jala'ul Afham, Muhammad Ihya' Ulumuddin, Nurul Haramain, tt., hal 26

: ... : ... , . : () . () , , , : . . . : , .

"Sifat-sifat ma'ani: Sifat-sifat itu disebut sifat ma'ani, karena sesungguhnya telah tetap bagi Allah ta'ala pengertian-pengertian yang ada lagi tegak pada dzat Allah serta sesuai dengan kesempurnaan-Nya.

Sifat-sifat ma'nawiyah adalah pembangsaan bagi sifat ma'ani yang tujuh yang dia adalah cabang dari sifat-sifat ma'ani.

Dinamakan sifat ma'nawiyah, karena sifat tersebut adalah harus ada dan pengertian-nya terus-menerus ada pada dzat Allah; yaitu keadaan Allah ta'ala adalah Dzat Yang Maha Kuasa, Dzat Yang Maha Berkehendak, Dzat Yang Maha Mengetahui, Dzat Yang Maha Hidup, Dzat Maha Mendengar, Dzat Yang Maha Melihat, dan Dzat Yang Maha Berbicara.

Adapun hikmah dari penuturan dari sifat-sifat ma'nawiyah ini beserta keada-annya adalah masuk pada sifat-sifat ma'ani yang telah disebutkan adalah sebagai berikut:

  Menuturkan akidah-akidah secara terperinci, karena sesungguhnya bahaya dari kebodohan terhadap hal tersebut adalah besar.

  Menolak faham Mu'tazilah, karena orang-orang Mu'tazilah itu mengingkarinya. Mereka berkata: "Sesungguhnya Allah ta'ala itu adalah Maha Kuasa dengan Dzat-Nya sendiri, Maha berkehendak dengan dzat-Nya sendiri tanpa kekuasaan dan tanpa kehendak, dan seterusnya. Mereka bermaksud dengan demikian itu adalah untuk mensucikan Allah ta'ala. Dan mereka berkata: Kita telah mensifati Allah ta'ala dengan sifat-sifat ini. Maka kemungkinan sifat-sifat tersebut keadaannya didahului oleh ketiadaan dan mungkin sedia tanpa permulaan. Jika sifat-sifat itu keadaannya adalah didahului oleh ketiadaan, maka mustahil bagi Allah ta'ala. Atau jika keadaannya tidak didahului oleh ketiadaan, maka hal yang qadim (sedia tanpa permulaan) itu menjadi banyak, sehingga hilanglah ke-esa-an Allah. Kami menjawab: Sesungguhnya sifat-sifat ini tidaklah berdiri sendiri, tetapi mengikuti dzat-Nya, yaitu sifat yang ada dan tegak pada dzat-Nya.

Hadiah Perlombaan

Indeks > Masail > Aula > Tahun 2004 > Feb 04

Permasalahan

Dalam kegiatan untuk memeriahkan hari ulang tahun RI ke 58, banyak warga mengadakan lomba-lomba yang mana biaya untuk hadiah tersebut yang dikeluarkan berasal dari peserta lomba atau berasal dari setiap kepala keluagra yang akan menjadi peserta lomba warganya diwajibkan, seperti lomba jalan santai nantinya mendapat hadiah sepeda motor, televisi dan lain-lain. Dalam hal ini sering sekali dilakukan oleh masyarakat khususnya orang Islam dan ini sangat membudaya sekali. Yang saya ketahui bahwa lomba dengan model itu adalah hukumnya haram dan termasuk judi seperti yang telah dijelskan pada rubrik bahtsul masail Muktamar XXX NU di PP Lirboyo di majalah Aula no. 03/ Tahun XXII Maret 2002.

Apakah lomba yang diadakan tersebut hukumnya judi (haram), apabila haram apakah peserta lomba atau kepala keluarga tersebut ikut menanggung dosa padahal dia diwajibkan untuk mengikuti lomba tersebut dan mengapa para ulama tidak melarangnya?

Jawaban

Yang anda maksud mungkin Aula edisi Maret 2001, keputusan tersebut jelas-jelas mengkatagorikan praktek seperti yang anda maksud adalah memang termasuk judi. Dengan demikian seluruh yang terkait dengan kegiatan tersebut terkena dosa karena berdiam dari kemaksiatan tanpa ada udzur termasuk maksiat lisan. Kita juga tidak bisa beralasan karena diwajibkan, karena Rasulullah SAW, pernah bersabda bahwa kita memang harus taat dan patuh kepada pemerintah tetapi tidak dalam masalah kemaksiatan. Namun bila anda mencermati keputusan tersebut, Ulama tidak hanya mengharamkan, tetapi juga memberikan solusi.

Dasar Pengambilan

Isyadurrofiq juz 2 halaman 100

( )

Artinya: (Setiap apa yang padanya terdapat perjudian) Dan bentuknya yang sudah disepakati adalah apabila dikeluarkan sejumlah uang pengganti dari kedua belah fihak dengan jumlah yang sama. Dan inilah yang dimaksudkan dengan judi dalam ayat.

Hadits Bukhari Muslim

.

Wajib atas seorang muslim patuh dan taat (kepada pemerintah) mengenai apa saja yang ia suka dan ia benci, kecuali bila ia disuruh maksiat, maka tidak wajib mendengarkan dan tidak wajib taat. Hadits Riwayat Bukhari Muslim

Pemanfaatan rukhsoh

Indeks > Masail > Aula > Tahun 2004 > Jul 02

Berhubung kondisi masyaqqat tertentu, tersedia pilihan rukhsoh, seperti kebolehan berbuka puasa (ifthar) pada bulan ramadhan, jama' takdim/ta'khir dan meng-qashar sholat rubaiyyah, bertayammum sebagai pengganti dari wudhu'/mandi wajib, membunuh binatang dengan tidak mengalirkan darah dari wajadain yang berada di leher hewan, pernikahan dengan wali hakim dsb.

Pengamalan hukum rukhshoh disepakati sepanjang tidak terkait kondisi maksiat, seperti terbaca pada kaidah "Alrukhoshu laa tunathu bil ma'ashi". Namun dalam terapan hukumnya muncul kesulitan mengenai ukuran pasti masyaqat dan kriteria maksiat.

Pertanyaan

  Apakah wanita yang berhias diri (tazayyun) saat bepergian jauh di atas dua marhalah atau tanpa didampingi muhrimnya, dibenarkan mengamalkan hukum-hukum rukhshoh?

  Sekiranya kehamilan seorang wanita terjadi karena zina atau akibat diperkosa, apakah boleh mengamalkan hukum-hukum rukhshoh?

  Apakah boleh menjama' sholat bagi seseorang sebelum menjalani operasi medis?

  Halalkah mengkonsumsi hewan yang ditembak dengan sanapan angin ?

  Sahkan akad nikah "kawin lari "yang memanfaatkan jasa wali hakim ?

Jawaban

Seorang wanita berhias diri (tazayyun) saat bepergian jauh di atas radius dua marhalah tanpa didampingi muhrimnya untuk mengamalkan hukum-hukum rukhshoh, ditafsil/diperinci:

Jika wanita yang berhias diri itu didampingi oleh mahrom atau suaminya, maka hukumnya boleh mengamalkan hukum-hukum rukhshoh agama. Karena berhias diri itu bukan tujuan bepergian maksiat (ma'siat bi al-safar).

Dasar Pengambilan

Syarah Muhadzab Juz IV Hal 345-346

" " : . , ....... . ( ), . . .

"Cabang" mengenai madzhab-madzhab ulama: Madzhab kami membolehkan qashor pada setiap perjalanan yang bukan maksiat sama saja perjalanan yang wajib, perjalanan ketaatan, perjalanan mubah seperti perjalanan dagang dan lainnya. Tidak boleh meng-qasor sholat dalam perjalanan maksiat dan dengan ini telah berpendapat Imam Malik, Imam Ahmad dan para jumhur ulama dari para sahabat dan tabi'in dan orang-orang sesudah mereka ... Imam al-Auza'i, Abu Hanifah dan al-Muzanni membolehkan qashor dalam perjalanan maksiat dan lainnya. Dalil kami terhadap dua pendapat yang pertama adalah kemutlakan nash-nash dan pada dua pendapat yang akhir adalah firman Allah ta'ala:"Maka barangsiapa yang terpaksa karena kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang ia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah ia memakannya)", Dan juga apa yang disebutkan oleh mushonnif. Semua keringanan-keringanan perjalanan baginya terdapat hukum qashor dalam hal ini, sehingga orang yang berbuat maksiat dengan perjalanannya tidak boleh menganggap mubah sedikitpun dari keringanan-keringanan tersebut hingga ia bertaubat. Dan diantara keringanan keringanan tersebut adalah memakan bangkai dan imam Abu Hanifah membolehkannya. Dan dalil kami adalah ayat tersebut.

Jika wanita yang bepergian itu tidak didampingi oleh mahram atau suaminya, baik berhias diri atau tidak, maka tidak boleh mengamalkan hukum-hukum rukhshoh. Kecuali, perginya itu fardhu dan bersamaan dengan beberapa perempuan yang dipercaya (tsiqqah) atau sendirian dan dijamin aman dari fitnah, maka boleh mengamalkan hukum rukhshoh.

Dasar Pengambilan

Bughyatul Mustarsyidin Hal: 74

( ) .

"(Masalah Ya') Ketetapan dari hal yang membolehkan rukhshoh dalam perjalanan adalah apa yang imam Suyuthi telah menuturkannya dengan ucapannya: Mengerjakan keringanan rukhshoh apabila berhenti pada wujud sesuatu maka diteliti sesuatu tersebut, apabila melakukan sesuatu tersebut sendiri adalah haram, maka terlarang melakukan rukhshoh beserta sesuatu tersebut, jika tidak haram maka tidak terlarang melakukan rukhshoh. Artinya, melakukan sholat qoshor dan jama' adalah rukhshoh ( keringanan ) yang terhenti pada safar( perjalanan ). Sedangkan safar itu adalah berjalan dimuka bumi. Maka tatkala berjalan itu haram, seperti orang yang bepergian karena ma'siat maka tercegah semua rukhshoh. Keharaman perjalanan itu terkadang untuk menyia-nyiakan hak orang lain sebab perjalanannya seperti pelarian budak belian dan pembangkangan istri terhadap suami, perjalanan anak dari budak belian dan orang yang berhutang tanpa izin orang yng menghutangi dan perjalanan orang yang berhutang pada waktu keduanya wajib minta izin dan terkadang perjalanan itu untuk mendatangkan penderitaan terhadap dirinya sendiri maupun orang lain seperti membuat payah diri sendiri tanpa tujuan dan mengarungi laut beserta takut terhadap kecelakaan, perjalanan wanita sendirian atau diatas kendaraan atau perahu yang dipinjam tanpa izin atau beserta membuat payah binatang yang dikendarai atau dengan membawa harta orang lain tanpa izin. Dan terkadang orang yang melakukan perjalanan itu memaksudkan hal yang diharamkan seperti merampas, membegal, dan membunuh tanpa hak, menjual orang merdeka, menjual minuman yang memabukkan, narkoba, dan menjual sutera untuk dipakai orang yang haram memakainya dan lainnya. Ini jika yang mendorong adalah memaksudkan hal yang diharamkan yang telah dituturkan saja. Atau beserta hal yang diperbolehkan akan tetapi hal yang diperbolehkan itu karena mengikuti sekira apabila hal yang diharamkan itu terhalang maka ia tidak bepergian. Maka diketahui bahwa orang yang bepergian dengan membawa afiun dengan bermaksud menjualnya umpamanya, kepada orang yang disangka mempergunakannya dalam hal yang haram atau menjualnya untuk keperluan haram apabila maksudnya semata-mata untuk hal tersebut dan tidak ada baginya tujuan lainnya atau ada tujuan lain tetapi andaikata tidak ada maksud untuk menjual afiun dan tidak bepergian maka dia tidak melakukan safar maka dia tidak boleh mengambil rukhshoh perjalanan, sedangkan hukum dari pemilik kapal dalam hal tersebut adalah seperti hukum orang yang bepergian dalam keharaman dan mengambil keringanan dan ketiaadaan dari keduanya.

Fatawa Ibnu Hajr Juz II Hal: 213

"Dan yang dimaksud dengan fitnah adalah zina dan pendahuluan-pendahuluannya seperti memandang, berduaan dengan non muhrim, bersentuhan dan selain dari hal tersebut".

Tafsir Khozin Juz V Hal: 69

( ) ( ) .

"Firman Allah Ta'ala ( janganlah para wanita menampakkan ) ya'ni memperlihatkan perhiasan-perhiasan mereka pada selain muhrim. Dan Allah memaksudkan dengan perhiasan yang tersembunyi seperti, gelang kaki dan pewarna kuku di kaki, gelang di pergelangan tangan, anting-anting di telinga, kalung di leher, maka tidak boleh bagi wanita menampakkannya".

Asy-Syarwani Juz III Hal: 73

( ) .

( Yakni perbuatan dst ) Ibarot dari kitab al-Mughni yakni kesibukan ini termasuk idhofah dari isim yang disifati kepada sifatnya artinya apa ynag dipakai dari pakaian pada waktu sibuk.

Wanita hamil karena zina atau diperkosa hukumnya boleh mengamalkan hukum-hukum rukhshah agama.

Dasar Pengambilan Hukum

Sunan Abu Daud Kitab Puasa bab 43

: : . .

"Cabang yang ketiga: Tentang orang hamil dan menyusui. Dari Anas bin Malik dari seorang laki-laki dari Ibnu Abdillah bin Ka'ab bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah telah meletakkan sholat dalam perjalanan bagi musafir dan Allah telah memberi keringanan bagi musafir dalam berbuka dan Allah telah memberi keringanan berbuka pada orang menyusui dan orang hamil karena menghawatirkan atas anak keduanya". Diriwayatkan oleh Abu Daud.

Ittikhafu Ahlil Islam bikhushusiyyatis shiyami Hal: 275-276 karangan Imam Ahmad bin Hajar al-Haitami

. : . .

Apabila hal tersebut telah tetap, maka jika wanita yang sedang hamil atau sedang menyusui merasa khawatir meskipun dia mengambil upah atau suka rela atau disana terdapat orang lain selain yang mengambil upah dan sukarela meskipun dia menyusui suka rela dari dirinya sendiri dengan apabila takut sebab puasa terhadap hal yang membolehkan tayamum atau takut terhadap anak dengan apabila puasa itu membahayakan sang anak meskipun dia tidak takut akan kecelakaan anak, berbeda dengan orang yang telah mengungkapkan dengan kecelakaan, dari sana imam Qomuli dan lainnya berkata: Kekhawatiran terhadap anak adalah apabila orang yang hamil itu keguguran atau air susunya menjadi sedikit dalam satu kecelakaan atau hilang maka berbuka, serta apa yang telah disebutkan adalah wajib sebagai bandingan dari apa yang telah lalu mengenai tayamum meskipun anak itu adalah anak orang lain dan meskipun anaknya musuh menurut satu aspek karena anak musuh itu adalah dihormati berbeda dengan pendapat Imam Zarkasyi.

Kanzur Roghibin ala syarkhil minhaj wa khasyiyah al-Qalyubi juz II Hal: 60

( ) .

"Adapun orang hamil dan menyusui jika keduanya berbuka karena takut sebab puasa terhadap diri mereka sendiri atau takut bersama kedua anaknya sebagaimana yang telah dikatakan dalam syarakh muhadzab, maka wajib atas keduanya mengqada' tanpa fidyah seperti orang sakit, atau berbuka karena takut terhadap anak yakni anak masing-masing dari keduanya maka wajib atas keduanya mengqadha' puasa beserta membayar fidyah menurut pendapat yang lebih jelas.

Bujairomi Khotib Juz I hal: 344-345

( ) ( ).

"Orang yang sangat tua yang tidak mampu puasa seperti sebab puasa dia akan menjumpai kesulitan yang berat, maka dia boleh berbuka dan memberi makan ornag lain untuk setiap satu hari satu mud bahan makanan pokok. Dan orang yang hamil meskipun dari zina dan orang yang menyusui".

Menjama' sholat bagi seseorang yang akan menjalani operasi hukumnya tidak boleh, kecuali jika sebelum operasi dia sudah dalam keadaan sakit yang membolehkan sholat fardhu dengan duduk, maka boleh menjama' sholat._

Dasar pengambilan hukum

Khasyiyah al-Khaml ala Syarkhil Minhaj Juz I hal: 614

.

Ibarot al-Khalbi perkataannya juga dengan sebab seumpama hujan, keluar dari sebab perjalanan dan hujan selain keduanya. Maka tidak menjama' sebab selain keduanya
( safar dan hujan ) seperti sakit, lumpur, angin, kegelapan, dan takut menurut qaul yang dapat dipegangi. Dan terhadap kebolehan jama' sebab sakit maka haruslah penyakit itu termasuk hal-hal yang membolehkan duduk dalam sholat fardhu, menurut pendapat yang lebih jelas, berbeda dengan orang yang berpendapat bahwa penyakit itu pasti menimbulkan kesulitan, melakukan sholat fardhu pada waktunya seperti kesulitan yang ditimbulkan oleh hujan.

Bughyatul Mustarsyidin hal: 99

. .

Faedah, kami punya pendapat dalam bolehnya bepergian yang dekat yang dipilih oleh al-Bandaniji. Yang nampak dari hadist adalah kebolehan jama' meskipun tidak bepergian dalam syarakh Muslim. Al-Khottobi menceritakan dari Abi Ishaq, kebolehan jama' meskipun tidak bepergian karena hajat, meskipun tidak ada rasa takut dan tidak ada hujan dan tidak sakit. Demikian pendapat Ibnul Mandur.

I'anatut Tholibin Juz II hal: 104

( ) .

Ucapan mushonnif boleh menjama' sebab sakit, artinya karena kebenaran bahwa Rasulullah telah menjama' sholat di Madinah tanpa rasa takut dan hujan.

Khasyiyah al- Jamal 'ala syarkhil minhaj Juz II hal: 332

( ) ( ) " " .

Boleh meninggalkan puasa dengan niat mengambil keringanan karena penyakit, yang puasa itu berbahaya beserta penyakit tersebut. Ucapan mushonnif dengan niat mengambil keringanan ini adalah ikatan bagi kebolehan berbuka bagi orang yang sakit dan bepergian sebagaimana tersebut dalam syarakh kitab al-Bahjah. Maka jika masing-masing dari orang yang sakit dan bepergian berbuka dengan tanpa niat ini, maka dia adalah berdosa.

Qolyubi Juz I hal: 267

) ) .

Ucapan mushonnif dengan hujan mengecualikan lumpur, angin, kegelapan, dan takut. Maka tidak ada jama' sebab hal-hal tersebut. Demikian pula sebab sakit, berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh pemilik kitab ar-Raudh karena mengikuti pendapat dari kitab ar-Roudhoh karena kebolehan jama' sebab sakit dengan jama' taqdim atau ta'khir meskipun al-Adru'i berpendapat bahwa dia telah memberi fatwa dengan hal tersebut dan dia telah menukil bahwa hal tersebut adalah ketetapan imam syafi'i dan dengan pendapat tersebut dapat diketahui kebolehan amal seseorang sebab sakit untuk dirinya sendiri dan penderitaan atasnya. Dan harus penyakit itu telah ada pada saat takbirotul ihrom pada kedua sholat dan pada salamnya dari sholat yang pertama dan dalam keadaan diantara dua sholat sebagaimana jama' dalam waktu hujan.

Mengkonsumsi hewan yang ditembak dengan senapan angin hukumnya ditafsil:

1.        Jika binatang yang ditembak itu jinak hukumnya haram

2.       Jika binatangnya tidak jinak ( binatang buruan ):

  Menurut jumhur ulama' haram

  Menurut Malikiyyah halal dengan syarat membaca basmalah ketika menembak.

Dasar Pengambilan Hukum

Fathul Mu'in wa Khasyiyah tarsyikhul Mustafidin Hal: 50

( ) . ( ) .

Dan haram secara pasti menembak binatang buruan dengan senapan yang sudah biasa sekarang ini, yaitu apa yang diletakkan dengan besi dan dilemparkan dengan api karena senapan itu membakar dan menghancurkan dengan cepat pada umumnya. Ucapan mushonnif secara pasti artinya tanpa ada perbedaan pendapat diantara kitab berbeda dengan melempar, menembak dengan senapan tanah dalam hal ini ada perbedaan pendapat yanga akan datang. Madzhab Maliki berpendapat mengenai kebolehan menembak dengan senapan timah yang telah diketahui sekarang ( senapan angin ) dan halal memakan apa yang diburu dengannya dengan syarat membaca basmalah pada waktu menembak, jika meninggalkan bacaan basmalah karena lupa tidak berbahaya.

Khasyiyah ad-Dasuqi Juz II hal: 103

. .

Pada hasilnya bahwa berburu dengan senapan angin tidak didapati padanya nash/ketetapan hukum daripada ulama terdahulu karena menembak dengan senapan angin itu adalah hal yang baru karena kebaharuan bahan peledak pada pertengahan abad kedua. Dalam hal ini ulama' mutaakhir berbeda pendapat, diantara mereka ada yang berpendapat dengan kebolehan seperti Abu Abdillah al-Fauri Ibnul Manjur, Sayyid Abdur Rohman, Abdul Qodir al-Fasi, karena dalam peluru timah tersebut ada pengaliran darah dan pembunuhan yang cepat yang penyembelihan disyariatkan karenanya. Pengqiasan peluru timah dengan peluru tanah adalah rusak (tidak benar) karena wujud perbedaaan yaitu wujud lubang dan pecah pada peluru timah secara nyata dan ketiadaan hal tersebut pada peluru tanah. Hanyasanya kepentingan peluru tanah adalah meremukkan dan apa yang ada seperti ini tidak boleh dipergunakan karena peluru tanah itu melemparkan benda yang diharamkan menurut nash al-Qur'an.

Syarah Shohih Muslim Fi Hamisy Irsyad as-Sari Juz II Hal: 136

.

Makhqul, Auzai'i dan selainnya berkata tentang kehalalan secara mutlak demikian pula pendapat mereka dan Ibnu Abi Laila bahwa sesungguhnya halal memakan binatang yang dibunuh dengan peluru.

Al-Bujairimi alal Iqna' Juz IV hal: 275

--- --- .

Ibnu Abdis Salam telah memberi fatwa tentang keharaman menembak dengan peluru, dengan keharaman tersebut Ad-Dakhoir menjelaskan agar imam Nawawi memberi fatwa dengan kebolehannya, sampai katanya ini seluruhnya dibangsakan kepada kehalalan menembak. Adapun dihubungkan dengan kehalalan binatang yang ditembak yaitu binatang buruan maka binatang itu adalah haram secara mutlak.

Akad nikah yang memanfaatkan jasa wali hakim hukumnya ditafsil:

1.        Jika kepergiannya mencapai masafatil qashri, hukumnya boleh

2.       Jika kurang dari masafatil qashri, hukumnya tidak boleh kecuali:

  ta'adzurul murji'ah ( tidak bisa meminta izin wali seperti karena takut ).

  Harus kufu'

  Atas kemauan perempuan sendiri

Dasar Pengambilan hukum

I'anatut Tholibin Juz III hal: 307

( ) . .

Ucapan mushonnif: tidak boleh pindah kepada hakim artinya ( perwalian itu tidak boleh pindah kepada hakim beserta wujud dari wali dari kerabat meskipun jauh. Yang demikian itu karena sesungguhnya hakim itu adalah wali dari orang yang sama sekali tidak ada wali baginya, sedangkan di sini wali itu ada.

Bughyatul Mustarsyidin Hal: 206

( ) .

(Masalah syin) wali seorang perempuan pergi sejauh dua marhalah dari negeri perempuan tersebut, kemudian perempuan tersebut memberi izin kepada hakim yaitu yang hukum dari si hakim meliputi negeri dari perempuan tersebut. Dan jika hakim itu tidak berada dinegeri perempuan maka sah meskipun dekat dengan tempat wali atau keduanya wali dan hakim berada di satu kota bahkan meskipun qodhi yang telah disebutkan ( hakim ) lebih jauh tempatnya dari tempat si wali kepada perempuan tersebut karena yang menjadi alasan adalah kepergian wali yang menjadi syarat ketetapan bagi kewalian hakim yang telah didapati. Dan sama sekali tidak diperhitungkan mengenai masyaqqat( kesulitan) dan ketiadaannya.

Nihayatul Mukhtaj Juz: 6 Hal: 241

.

Andaikata wali nasab yang paling dekat atau orang-orang yang memiliki hak perwalian pergi sampai dua marhalah atau lebih meskipun dihukumi kematian wali tersebut dan tidak ada bagi wali wakil yang hadir dalam menikahkan wanita yang dibawah perwaliannya maka sultanlah yang menikahkannya, bukan wali yang jauh meskipun lama kepergiannya dan tidak diketahui tempatnya dan kehidupannya karena ketetapan perwalian dari orang yang pergi dan asal dari ketetapannya.

Ghoyatu Talkhisil Murod Hal: 208

.

I'anatut Tholibin Juz:III Hal: 267

( ...... )

Mahar membaca Qur'an sampai hatam

Indeks > Masail > Aula > Tahun 2004 > Nikah 18

Ada seorang laki-laki kawin dengan seorang wanita dengan mahar yang ditempokan berupa mambaca Al Quran sampai hatam. Mahar yang seperti ini sah apabila manfaatnya kembali kepada si isteri sebagaimana tatkala membaca berada di hadapan si isteri atau membacanya dengan niat untuk si isteri dan tidak sah apabila manfaatnya tidak kembali pada si isteri.

Dasar Hukum

Bughyatul Mustarsyidin, halaman 213

.

Lomba dengan pemungutan uang

Indeks > Masail > Muktamar > Kediri 1999 > 08

Lomba dengan menarik uang pendaftaran untuk hadiah, apakah termasuk judi?

Jawaban:

Lomba dengan menarik uang saat pendaftaran dari peserta untuk hadiah adalah judi, sedangkan yang bukan untuk hadiah tidak termasuk judi.

Dasar Pengambilan:

1- : 310
: ... .
2- : 102
: ( ) ǡ
. . .
3- : 10
: ǡ : ǡ .
4- 311
: '' '' , .

Solusi yang ditawarkan untuk penyelenggaraan lomba berhadiah:

1.        Uang pendaftaran tidak menjadi hadiah.

2.       Hadiah diperoleh dari sumber lain (sponsor)

3.       Jenis yang dilombakan tidak termasuk dalam larangan syariat seperti keterampilan dalam perang, jalan cepat, berenang, balap kuda dll.

Sumpah pocong sebagai penyelesaian sengketa gugatan atau tuduhan

Indeks > Masail > Wilayah > Lirboyo 2000 > 08

Usulan dari PCNU Genggong Probolinggo

Sengketa perdata (mu'amalah) seringkali diwarnai pengingkaran gugatan (klaim), semisal pihak lawan merasa tidak menerima penyerahan sertifikat tanah yang diagunkan, merasa tidak berhutang kepada seseorang dan lain-lain. Dalam kasus tuduhan berlaku hal sama seperti pengingkaran atas tuduhan berpraktik sebagai dukun santet, tuduhan selingkuh dengan wanita bukan isterinya dan lain sebagainya. Dalam hal ini para pihak tidak memiliki dalil (fakta) untuk memperkuat gugatan maupun pengingkarannya.

Sementara dalam fiqih murafa'at dikenal adanya sumpah pemutus (yamin al-istidzar) sebagai upaya mengakhiri sengketa karena para pihak tidak dapat mengajukan alat bukti lain. Sebagaimana sumpah li'an untuk menyudahi tuduhan zina oleh suami kepada isterinya karena tak cukup saksi yang diperlukan. Demikian juga dalam kasus amanah lewat wasiat (Qs. Al Maidah: 106) dikenal cara pemberatan (taghlidl) sumpah yang ditandai oleh waktu (ba'da shalat ashar) dan tempat pengambilan sumpah di dalam masjid.

Akhir-akhir ini masyarakat banyak memprakarsai sara untuk mengakhiri sengketa/tuduhan dengan meminta kesediaan lawan untuk disumpah pocong. Pihak yang diminta bersumpah pocong dibalut kain kafan mayat berwarna putih, dibaringkan membujur tak ubahnya mayat yang siap dishalat-jenazahkan, kemudian dibimbing petugas tertentu untuk menyatakan sesuatu di bawah sumpah "demi Allah". Pada acara sumpah pocong tersebut, hakim peradilan tidak berperan kecuali sebatas mengawasi pelaksanaan sumpah atas permintaan itu.

Pertanyaan

1.        Tepatkah menurut hukum Islam bila sumpah pocong itu dijadikan upaya hukum alternatif guna menyudahi sengketa/tuduhan tertentu?

2.       Apakah landasan legitimasi syar'i terhadap tata cara pelaksanaan sumpah pocong itu?

Jawab

1.        Menurut hukum Islam sumpah pocong itu boleh sepanjang tidak di-i'tiqod-kan sebagai syariat (masyru).

2.       Legitimasi syar'i terhadap pelaksanaan sumpah pocong adalah untuk menguatkan sumpah.

Dasar Pengambilan

1.        I'anatut Thalibin juz 4 halaman 318

( ) ( ) ...

2.       Al Jami' li Ahkamil Qur'an Juz 6 Hal. 354.

3.       Ad Darul Nadzir Li Syeh Al Islam Al Huriy Hal. 91

Kitab Fiqhus-sunnah sebagai Pedoman Tahkim

Indeks > Masail > Wilayah > Sukorejo 1980 > 02

Pertanyaan

Apakah kitab fiqhus sunnah dapat dipakai pedoman tahkim, seperti kita kitab fiqih lainnya yang mutamadad?

Jawaban

Tidak dapat digunakan sebagai pedoman tahkim, kitab tersebut hanya dipakai sebagai penguat atau pelengkap hukun-hukum yang berlandaskan salah satu madzab empat bagi orang yang sudah mumarosahlil madzahibil arbaah.

Dasar Pengambilan Dalil

Bughyatul Mustarsyidun, hal. 7

.

Ibnu sholah menukil dari ijma (kesepakatan para ulama) sesungguhnya tidak boleh taqlid (mengikuti) pada selain imam empat. S/d kata-kata . Barang siapa memberi fatwa dengan pendapat atau wajah (kasus hukum) dengan tanpa memandang atas tarjih (yang unggul) maka ia bodoh dan menentang terhadap ijma/kesepakatan para ulama.

Shalat Rebo Wekasan menurut Ulama Sufi

Pertanyaan

Shalat rebo wekasan dan rangkainnya, bagaimana hukumnya menurut fuqoha dan menurut ulama sufi?

Jawaban

Menurut fatwa Rais Akbar Almarhum Asyaikh Hasim Asy'ari tidak boleh. Shalat rebo wekasan karena tidak masyru'ah dalam syara' dan tidak ada dalil syar'i. adapun fatwa tersebut sabagaimana dokumen asli yang ada pada cabang NU Sidoarjo berikut ini.

Kados pundi hukumipun ngelampahi shalat rebo wulan shofar, kasebat wonten ing kitab mujarobat lan ingkang kasebat wonten ing akhir bab 18?

: ..... .

Sebagian orang yang ma'rifat dari ahli al-kasyafi dan tamkin menyebutkan: setiap tahun, turun 320.000 cobaan. Semuannya itu pada hari rabu akhir bulan shafar. Maka pada hari itu menjadi sulit-sulitnya hari di tahun tersebut. Barang siapa shalat di hari itu 4 rokaat dst.

Kados pundi hukumipun ngelampai shalat hadiyah ingkang kasebat wonten ing kitab:

: : ... : . . .

:

.

, - , . , , , . , , .

, , . . : , : ( ) . : . . . : .

: : . , ..... . : , , , , . .

( )

Disebutkan dalam nazhatil majalis dari jitab al-muhtar wa matholi'ul anwar. Dari Nabi Saw, tidak datang pada mayit hal yang lebih berat kecuali pada malam pertama. Maka belasilah mereka dengan shodaqoh. Barang siapa yang tidak punya, maka shalatlah 2 rokaat, setiap rokaat membaca fatiha, ayat qursi dan surat al-haakumu al-takasasur....dan qulhuallahuahad 11 kali, dan berdoa ya Allah saya shalat ini, engkau mengetahui apa yang saya kehendaki ya Allah kirimkanlah pahala shalatku ini kepada kuburan fulan bin fulan. Maka Allah akan mengirimkan saat itu juga 1000 malaikat ke kuburan fulan dan setiap malaikat membawa nur sebagai hadiyah yang menghibur dikuburnya, sampai terompret di tiup ( hari kiamat ) dan bagi orang yang melakukan shalat tersebut akan diberi pahala dengan pahala orang yang mati syahid sebanyak benda yang tersinari matahari, dan akan diberi pakaian perhiasan sebanyak 1000 macam. Telah saya sebutkan ini karena sengat besar manfaatnya dan takut tersia-sia. Maka sebaiknya, bagi setiap orang muslim untuk melakukan shalat tersebut pada setiap malam untuk kemanfaatan orang islam yang sudah mati.

Apakah setiap Mukmin adalah Muslim?

Indeks > Masail > Wilayah > Sukorejo 1980 > 06

Pertanyaan

Apakah setiap mukmin itu muslim dan sebaliknya?

Jawaban

Secara syar'i setiap mukmin itu muslim demikian pula sebaliknya tetapi kalau dilihat mafhumnya lafadz (menurut bahasa) memang tidak sama.

Dasar Pengambilan Dalil:

Dalilu Al-Falihun syarah Riyadu al-sholihin, I : 216-218

( ) . : .....

(Beritahuakan kepada kami tentang Islam) yaitu iman karena memandang kaitan erat antara pemahaman keduanya secara syara', maka tidak dianggap beriman dalam kenyataan syara' apabila tidak Islam dan tidak juga sebaliknya, keduanya sama dalam esensinya secara syara' dan berbeda dalam artian pemahaman keduanya, maka setiap mukmin secara syara' adalah muslim begitu pula setiap muslim adalah mukmin, maka apa yang ditunjukkan oleh hadist Jibril tentang perbedaan antara keduanya adalah melihat arti pemahaman, karena pemahaman Islam secara syara' adalah tunduk dengan pengalaman lahir secara syari'ah, iman menurut syara' ialah membetulkan dalam hati terhadap qaidah-qaidah syari'ah dengan arti bahwa iman itu terkadang syara' mengartikan secara luas pada dua pengertian (tunduk atas amalan/perbuatan yang dhohir/yang batin). Maka dipakailah setiap satu dari keduanya pada tempat yang lain. Seperti pemakaian kata iman untuk perbuatan yang dhohir dalam hadist: iman itu lebih dari 70 bab yang paling ringan adalah menyingkirkan duri di jalan (Al-Hadist)

٢١٩ : ( ) ǡ .

(Peringatan) islam menurut syar' adalah pengertiannya diartikan atas beberapa perbuatan yang dzahir, sebagaimana dalam hadits pengertian penyerahan diri menyanggupi (manut), talzum (saling terkait) diantara islam dan iman, memandang pengertian yang kedua, sedang bila memandang pada pangertian yang pertama maka iman itu bisa lepas dari islam, karena terkadang dijumpai keyakinan dan penyerahan diri secara batin dengan tanpa perbuatan yang dilakukan. Adapun islam dengan pengertian perbuatan yang dilaksanakan itu tidak mungkin terlepas dari iman, karena syarat sahnya amal/perbuatan adalah harus islam. Dan iman tidak menjadi syarat sahnya perbuatan/amal, berbeda dangan pandangan kaum mu'tazilah

MUI Haramkan SMS Berhadiah dan Premium Call

AHAD 02.11.2008/ 01:20 am

TEMPO Interaktif, Ponorogo: Majelis Ulama Indonesia mengharamkan pesan pendek (SMS) berhadiah dan premium call dalam keputusan ijtimak ulama yang dilakukan di Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jumat. Menurut para ulama, pesan pendek berhadiah serta premium call masuk kategori judi terselubung, yang secara otomatis dilarang dalam Islam.

Apa pun bentuknya, judi haram hukumnya, kata Anwar Abbas, Sekretaris MUI Pusat, ketika memimpin sidang komisi B (yang membahas hukum Islam tematis).

Sebenarnya, menurut Anwar, ada tiga pendapat berbeda yang muncul dalam pembahasan. Pertama, mengharamkan SMS berhadiah dan premium call, karena dianggap judi terselubung, dan judi dilarang agama. Kedua, diperbolehkan sepanjang tidak menimbulkan mudarat karena dalam dalil-dalil Al-Quran dan hadis tidak ada soal SMS berhadiah. Pendapat terakhir membolehkannya dengan alasan masalah judi-tidaknya SMS ini tidak jelas. Tapi mayoritas forum mengatakan ini judi, Anwar menegaskan.

Selain itu, dalam pertemuan MUI para ulama juga memutuskan mengharamkan unjuk rasa yang disertai dengan penyiksaan diri dan perusakan. Unjuk rasa dengan menyiksa diri dan merusak ini dicontohkan oleh para ulama berupa mogok makan serta menjahit mulut. Menurut para ulama, unjuk rasa seperti ini sangat dilarang agama karena menyalahi kodrat alami manusia. (Berita lengkapnya baca Koran Tempo edisi (27/5).

Rohman Taufiq

SMS Berhadiah

Islam adalah agama yang memberi tuntunan dan pedoman hidup secara menyeluruh dan mengantarkan manusia untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Ajaran Islam bertujuan memelihara keselamatan agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Segala sesuatu yang memberi manfaat bagi tercapainya tujuan tersebut diperintahkan, dianjurkan atau diizinkan untuk dilakukan, sedangkan yang merugikan bagi tercapainya tujuan tersebut dilarang atau dianjurkan untuk dijauhi.

Tidak dapat dielakkan lagi, bahwa teknologi dan media komunikasi semakin hari bertambah maju dan arus budayanya semakin deras, yang menurut futurolog kondang John Naisbitt dalam bukunya High Tech, High Touch, Technology and Our Search for Meaning (sebagaimana yang dikutip Setiawan Budi Utomo) semakin menggiring masyarakat ke zona mabuk teknologiyang ditandai dengan berbagai gejala sosiologis, yaitu: 1). Kita lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat, dari masalah agama sampai masalah gizi; 2). Kita takut sekaligus memuja teknologi; 3). Kita mengaburkan perbedaan antara yang nyata dan yang semu; 4). Kita menerima kekerasan sebagai suatu hak yang wajar; 5). Kita mencintai teknologi dalam wujud mainan; dan 6). Kita menjalani suatu kehidupan yang berjarak dan terenggut.

Dengan adanya kemajuan teknologi komunikasi, belakangan ini kita mengenal istilah Short Message Service (SMS). Yang belakangan ini fungsi SMS tidak hanya sebagai sarana untuk mengirimkan pesan singkat, akan tetapi digunakan juga sebagai sarana kuis berhadiah. Hal ini telah mengundang komentar dari berbagai pihak, karena masalah ini dianggap kontroversial.

Kuis SMS berhadiah dan macamnya

Di antara berbagai macam jenis kuis berhadiah yang paling marak pada akhir-akhir ini adalah kuis dengan menggunakan media SMS. Secara umum kuis SMS berhadiah ini dibedakan menjadi dua macam:

1.Kuis yang diselenggarakan oleh operator telepon (sebagai sponsor dan penyedia hadiah) untuk pelanggannya, dengan menggunakan tarif pulsa biasa bahkan ada yang gratis.

2.Kuis yang diselenggarakan oleh pihak lain bekerja sama dengan operator telepon, dengan menggunakan tarif pulsa premium, yakni berkisar antara Rp. 1.000 sampai Rp. 2.000. Sedangkan hadiah berasal dari akumulasi hasil perolehan SMS. Kuis ini yang diduga banyak kalangan, mengandung unsur judi.

Hukum Kuis Berhadiah

Maraknya kuis berhadiah melalui media SMS pada akhir-akhir ini menarik perhatian para ulama, sehingga mereka harus angkat bicara mengenai masalah ini untuk mendudukkan persoalan sebagaimana mestinya.

Majelis Ulama Indonesia mengharamkan pesan pendek (SMS) berhadiah dan premium call dalam keputusan ijtimak ulama yang dilakukan di Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jumat 26 Mei 2005. Menurut para ulama, pesan pendek berhadiah serta premium call masuk kategori judi terselubung, yang secara otomatis dilarang dalam Islam.

Menurut MUI Pusat, sebenarnya ada tiga pendapat berbeda yang muncul dalam pembahasan. Pertama, mengharamkan SMS berhadiah dan premium call, karena dianggap judi terselubung, dan judi dilarang agama. Kedua, diperbolehkan sepanjang tidak menimbulkan mudarat karena dalam dalil-dalil Al-Quran dan hadis tidak ada soal SMS berhadiah. Pendapat terakhir membolehkannya dengan alasan masalah judi-tidaknya SMS ini tidak jelas. Tapi mayoritas forum mengatakan ini judi.

PBNU juga telah memutuskan bahwa kuis melalui SMS atau telepon yang mengenakan tarif pulsa melebihi tarif wajar atau biasa hukumnya haram karena mengandung unsur maisir atau taruhan.

Menurut PBNU, hadiah yang diterima seseorang dari ribuan peserta kuis yang membayar harga pulsa melebihi tarif biasa tidak bisa disebut sebagai hadiah dalam pengertian hukum Islam. Hadiah dalam kuis itu lebih tepat disebut sebagai hasil judi yang secara tegas dan jelas diharamkan agama Islam.

Bayangkan, jika satu SMS sang bandar memperoleh Rp.2.000 dikalikan ribuan peserta kuis, sementara yang menang hanya mendapat satu sampai lima juta rupiah, maka kuis ini hanya menjadi sarana untuk mencari keuntungan bagi para pemberi hadiah atau bandarnya.

Fatwa atau oleh PBNU disebut putusan hukum tersebut merupakan hasil bahtsul masail di gedung PBNU, Rabu (16/8/2006), sebagai lanjutan dari bahtsul masail yang belum bisa dituntaskan pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Surabaya akhir Juli tahun 2007. Bahtsul masail yang diikuti para ulama dan kiai dari jajaran syuriah PBNU serta utusan dari LBM NU dari beberapa daerah yang telah diamanatkan oleh Munas dan Konbes.

By Mayara, Edisi 71 Th. VII/Juli 2008

Hukum undian menurut Islam

kaidah Dasar

Pertama : Kaidah yang tersebut dalam riwayat Imam Muslim dari Abi Hurairah radliyallahu anhu :

Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam melarang dari jual beli (dengan cara) gharar.

Gharar adalah apa yang belum diketahui diperoleh tidaknya atau apa yang tidak diketahui hakikat dan kadarnya.

Kedua : Kaidah syariat yang terkandung dalam firman Allah taala dalam surat Al Maidah ayat 90 dan 91:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, maisir, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu) (QS. Al-Maidah : 90-91).

Dalam hadits Abi Hurairah radliyallahu anhu, Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda :

Siapa yang berkata kepada temannya : Kemarilah, saya berqimar denganmu, maka hendaknya ia bershadaqah (HR. Bukhari 5642).Yaitu hendaknya ia membayar kaffarah (denda) menebus dosa ucapannya (Lihat Syarah Shahih Muslim 11/107, Fathul-Baari 8/612, Nailul-Authar 8/258, dan Aunul-Mabud 9/54).

Maisir : setiap muamalah yang orang masuk ke dalamnya setelah mengeluarkan biaya dengan dua kemungkinan; dia mungkin rugi dan mungkin beruntung.

Qimar : menurut sebagian ulama adalah sama dengan maisir, dan menurut senagian ulama lain qimar hanya pada muamalat yang berbentuk perlombaan dan pertaruhan

Tulisan diatas kutipan dari forum myquran.org Hukum undian dalam Islam

Mari kita lihat penipuan terselubung yang telah mereka (Provider SMS dan Penyelanggara Acara) buat kepada kita.

1. Bisnis SMS Premium.

Ini bisnis yang sangat menguntungkan dan bisa berkedok mencari bibit artis. Katakanlah sekali kirim sms sebesar Rp 2000,- dengan jatah 60 % untuk provider dan 40 % untuk bandar. Jadi sebagai bandar ia mengantongi Rp 800,-. Jika ada sepuluh juta orang yang mengirim sms maka ia sudah mengantongi 8 milyar. Padahal bisa saja setiap orang mengirim sms berulang kali. Belum juga sms buat kontestan lainnya. Siapapun bisa jadi bandar, asal punya modal untuk menyewa server dan membuat program aplikasinya.

2. Judi terselubung.

Selalu ada hadiah. Masyarakat selalu diminta mengirim berulang kali smsnya agar peserta pilihannya tidak tersisih dan kalau beruntung mendapat hadiah. Jika yang dipertaruhkan pulsa ( berarti uang ) untuk mendapatkan hadiah, maka ini bisa disebut judi.

3. Peserta atau orang tua yang tertipu

Sebagi contoh manajemen Indosiar mengikat kontrak eksklusif selama beberapa tahun tanpa ada jaminan hidup yang pasti. Mereka hanya dibayar kalau manggung, itupun kecil sekali dan tidak tentu jadwalnya. Dengan begitu banyaknya artis dalam manajemen mereka, jatah manggung tidak pernah merata. Selalu ada yang kelebihan job dan ada yang kekurangan job.

Tulisan diatas kutipan dari blog nya mas iman brotoseno Menggapai Impian

Sebagai contoh polling SMS, AFI 1. Berapakah jumlah vote yang masuk? Pada tanggal 28 Februari 2004, saat konser final, terkumpul vote sejumlah 2,5 juta hanya dalam waktu 3 jam dan semuanya berasal dari SMS berbayar. Dengan harga SMS premium sebesar Rp 2000,00/SMS sudah terkumpul dana Rp 5 miliar dimana 40% untuk penyelenggara program, selebihnya untuk SMS provider. Dengan melihat penerapan voting acara serupa di Indonesia, tidak heran beberapa teman menyatakan bahwa acara seperti AFI, Indonesian Idol, Penghuni Terakhir, KDI, sejatinya bukan mencari pemenang terbaik. Acara ini hanya sebagai kedok. Bisnis sebenarnya adalah SMS premium.

Tulisan diatas kutipan dari blog digidynamic Stop SMS Judi

Dengan dalih demokrasi, penonton yang menentukan pilihan, event-event seleb instan seperti Indonesian Idol, AFI, KDI dsb tidak lupa menyertakan partisipasi penonton dirumah. Tidak tanggung-tanggung, nasib para kontestan apakah melaju atau angkat koper diserahkan kepada mekanisme polling SMS (premium) dimana penonton boleh (dan dibujuk) mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya.

Tulisan diatas kutipan dari blog deltawhisk Rampok legal di negeri edan

Kita tahu betul, sebenarnya kontes semacam ini adalah hasil import dari luar negeri, tetapi lagi lagi penyelenggara dan provider SMS sangat kreatif dalam mencari utung sebesar besarnya.

Pada acara American Idol voting kepada nomor tiap-tiap peserta baik yang melalui panggilan telepon atau SMS baru bisa dilakukan ketika acara telah berakhir dan hanya dibatasi selama 2 jam saja dan yang paling menarik adalah gratis, hal ini sangat kontras dengan apa yang terjadi dengan ajang-ajang serupa yang di negeri ini. Dimana seingat saya voting hanya dapat dilakukan melalui SMS dan dapat dilakukan kapan saja serta biaya yang dibebankan adalah biaya SMS premium.

Tulisan diatas kutipan dari blog wedhouz.net Pertaruhan bakat.

Sepertinya tidak hanya orang dewasa saja yang sudah teracuni, dunia dan pemikiran anak anak pun sedikti demi sedikit sudah terjamah racun Idol ini.

Kita pasti tidak ingin membonsai anak-anak di mana mereka tidak boleh menjadi dewasa, tapi kita juga tidak ingin mengkarbit mereka menjadi lebih cepat matang dari usianya. Ada fase yang tidak mereka rasakan yaitu fase menjadi anak dengan jiwa yang tidak terbebani oleh rumitnya suasana hati orang dewasa. Hendaknya kita juga jangan menjadikan anak sebagai obsesi pribadi kita di mana anak harus populer dan menanggung beban popularitas, lalu di mana tanggung jawab orang tua mereka ?

Tulisan diatas kutipan dari blog Aisha Kid Prihatin Acara Idola Cilik di RCTI

beberapa kata saya saya ganti dengan kita

Banyak contoh kasus tragedi tragis dari Idola idola yang gagal. Diantara mereka harus terbelit utang ratusan juta, malu untuk pulang kampung bertemu keluarga dan saudara. Contoh kasus tragis bisa di baca disini:

1. Inilah hasil industri televisi, mencetak artis instan dengan terbelit utang

2. Ian Kasolo - Kisah Selebriti Gagal

3. Bisnis Mimpi Memberi Keuntungan Hingga 140 Milyar Buat TV Swasta. Para Finalis Kebanyakan Jatuh Miskin

Sebenernya sedjak bulan mei 2006 MUI sendiri pernah mengeluarkan Fatwa bahwa SMS Berhadiah Haram. SMS berhadiah ini dianggap MUI mengandung maysir (judi), tabdzir (menghamburkan), gharar (sesuatu yang tak jelas), dharar (bahaya), ighra (angan-angan kosong), dan israf (pemborosan). Namun, selama hadiahnya tidak berasal dari SMS peserta atau hadiah berasal dari sponsor, maka diperbolehkan.

SMS berhadiah itu ada unsur judinya, ada maysir, jadi ketika orang harus membayar dari harga pulsa kemudian kelebihannya itu dikumpulkan untuk memberi hadiah, pada si pemenang dan juga untuk keuntungan si pelaksana. Lalu juga dianggap gharar atau ketidakjelasan, artinya ada gambling. Kemudian ada tharar, ada bahaya. Ada ighra atau rangsangan sehingga orang maunya membayar terus, karena mau mencari hadiah yang besar. Di situ juga ada khimar, atau pertaruhan. Kemudian di situ juga ada tabdzir atau menghambur-hamburkan uang yang tidak jelas urusannya, jelas Maruf Amin, Ketua Komisi Fatwa MUI.

Tulisan diatas kutipan dari blog papirus biru Halal - Haram SMS Berhadiah

Tapi sayangnya fatwa dan upaya penertiban kuis SMS judi tesrebut selalu menemui hambatan karena MUI tidak memiliki kewenangan. Kita bisa lihat semakin lama acara acara seperti itu semakin marak dan ramai di beberapa stasiun Televisi kita..

Begitu parahkan moral bangsa kita? begitu burukkah negeri ini? begitu boborokkah akidah kita? sampe harus menggadaikan kebahagian surga hanya dengan ketenaran sesaat di dunia?

Hanya karena Iming iming hadiah dan iming iming ketenaran sesaat mereka lupa daratan.. segala bentuk materi di korbankan, keimanan di gadaikan bener bener keterlaluan. Dan parahnya pemerintah dan ulama sendiri tidak tegas.. bahkan sebagian dari mereka mungkin ada yg mendukung acara seperti ini. Lihatlah kaena mementingkan kesukuan, para bupatu bahkan gubernur sampe rela meluangkan waktu dan memberikan dukungan penuh kepada wakil daerahnya (ironis memang).

Mari kita tolak Judi SMS, Judi Idol idolan yg membuat banyak rakyat menderita lahir dan bathin, dunia dan akherat.

Mari kita mulai dari diri sendiri

*referensi Al Quran online dan terjemahan diambil dari Qur`an Exploler

April 16, 2008 | Filed Under blog

MUI : SMS Berhadiah = Judi = Haram !

SAYA sangat setuju sekali dengan keputusan ini. Tumben MUI menghasilkan keputusan yang cerdas (ga ada maksud apa2 lho saya tulis ini).

Walhasil, biar bagaimanapun juga sms berhadiah memang sama seperti judi, tapi terselubung. Hampir-hampir mirip dengan SDSB atau TOGEL, tapi teknologi nya beda.

Dengan SDSB/TOGEL, kita keluarkan uang tunai untuk membeli nomor pasangan. Sedangkan sms berhadiah, kita mengirim sms untuk menjawab quiz (ada juga yang tanpa quiz), lalu mendapatkan nomor PIN (ada juga yang tidak). Makanya itu, mengapa saya bilang SDSB/TOGEL dan sms berhadiah itu hampir mirip.

Untungnya saya memang tidak suka dengan sms berhadiah ini dan iming-imingnya. Karena saya tidak begitu suka dengan sesuatu yang berbau mengadu nasib. Kalau kita hitung-hitung menurut ilmu peluang, peluang kita untuk mendapat hadiah sangaaaaaaaaaaat kecil sekali. Walaupun 1000 sms yang kita kirim, jumlah total sms yang masuk pun mungkin puluhan ribu, ratusan ribu atau bahkan jutaan. Hitung saja, dengan nilai sms normal (rata Rp. 350/sms) kalau dikalikan dengan 1000x kita kirim sms, maka akan terbuang sia uang kita sebesar 350rb. Syukur-syukur kalau dapat, modal kembali, tidak dapat? gigit jari. Itu saya hanya membandingkan dengan nilai uang dari sms normal, bagaimana dengan sms premium? bisa berkali lipat kita menghamburkan uang.

Yang saya tidak habis pikir adalah, bagaimana pola pikir orang Indonesia ini. Mengharapkan uang mudah dengan mengikuti undian-undian. Saya rasa, inilah yang ditangkap oleh para operator selular dan perusahaan yang bekerja sama dengan operator selular tersebut.

Ah, kalau terus dibahas ngalor-ngidul, tidak ada habis-habisnya. Pokoknya, intinya saya sangat setuju dan mengacungi jempol kepada MUI dalam mengeluarkan keputusan ini. Tinggal bagaimana pemerintah (mayoritas muslim?) menanggapi keputusan ini dengan menyediakan undang-undang yang sejalan dengan keputusan ini.

Di tulis oleh Naif Alas pada 01:04Kategori : Opini, Sehari-hari

Ilustrasi

BERI KOMENTAR

CETAK BERITA INI

KIRIM KE TEMAN

KOMENTAR FANS AA GYM

Ikuti Kuis Berhadiah, Revenge Movies

Kapanlagi.com - Da`i kondang KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) membantah telah ditegur oleh Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung KH Miftah Farid terkait soal SMS berhadiah umroh. Pak Miftah hanya bertabayyun atau minta klarifikasi, dan door prize umroh adalah kerjasama Telkomsel dengan Haddad Alwi. Samasekali tidak ada kaitan dengan Aa. Aa sudah menjelaskan hal itu kepada Pak Miftah, ujarnya di Ciamis, Jawa Barat, ketika dihubungi wartawan melalui telpon dari Bandung, Selasa (21/2).

Aa Gym mengakui datang ke acara Doa Bersama Menuju Bandung Bermartabat di lapangan Gasibu Bandung, 19 Februari 2006. Pada acara yang diselenggarakan Pemkot Bandung dan Telkomsel itu diumumkan hadiah umroh yang dimenangkan oleh Ustad Dadang Komarudin.

Aa datang atas undangan dari Pemkot Bandung. Aa diundang hanya sebagai pembicara dan membacakan do`a pada acara tersebut. Aa tidak mengetahui adanya SMS berhadiah umroh atau apapun bentuknya, tuturnya.

Menurut pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid itu, pada acara tersebut diumumkan bahwa layanan SMS yang digulirkan oleh Telkomsel dan Haddad Alwi bukan untuk undian berhadiah Umroh, tetapi adalah SMS layanan renungan Shalawat.

Sedangkan hadiah umroh yang diserahkan melalui Aa Gym kepada Ustad Dadang merupakan hadiah dari Telkomsel kepada seseorang yang telah berjasa dalam perjuangan pendidikan Islam. Bukan dari hasil undian atau SMS, tegasnya.

Pernyataan Aa Gym tersebut dibenarkan oleh General Manager MQTV, Eka Budiman Sumadji. Eka menjelaskan, MQTV bertindak sebagai event organizer yang ditunjuk oleh Pemkot Bandung dalam acara do`a bersama itu. Ia membantah adanya SMS berhadiah umroh yang dilakukan Telkomsel maupun MQTV.

Hadiah umroh diberikan kepada Ustad Dadang berdasarkan pilihan dari berbagai pihak, di antaranya MUI dan Dewan Mesjid. Tidak ada samasekali kaitan dengan undian atau sejenisnya, katanya.

Senada dengan Eka, Manager Grapari Telkomsel Bandung R Herry Setiawan membantah adanya SMS berhadiah umroh. Kami sedang gencar mempromosikan tausyiah Haddad Alwi yang dapat diakses melalui Telkomsel dengan mengirinmkan SMS ke nomor 6105, katanya.

Sedangkan hadiah umroh merupakan partisipasi Telkomsel kepada masyarakat yang berdedikasi dalam pendidikan Islam. Setelah kami memilih beberapa nama, akhirnya kami menyerahkan rejeki tersebut kepada Ustad Dadang Komarudin. Kami luruskan, tidak ada SMS berhadiah umroh, tegasnya.

Sementara itu Ketua Dewan Mesjid Kota Bandung H Buchori Muslim menyesalkan beredarnya isu SMS berhadiah umroh yang dikaitkan dengan Aa Gym. Saya mengetahui betul duduk perkaranya, karena saya sempat bertabayyun dengan Aa, katanya.

Menurut Buchori, saat pertama kali melihat baligo acara tersebut, dirinya sempat kaget atas kata-kata yang tertulis di baligo. Di sana dituliskan adanya door prize umroh dengan mengirimkan SMS ke nomor tertentu.

Saat itu saya bertabayyun atau klarifikasi terhadap Aa, karena jika melihat secara sekilas unsur perjudiannya kental. Tetapi ternyata Aa tidak mengetahui masalah tersebut, ungkapnya.

Buchori kemudian mendapat klarifikasi dari pihak MQTV bahwa pemenang hadiah umroh bukan berasal dari undian SMS, tetapi berdasarkan pemilihan. Saat itu saya langsung katakan, hadiah umroh tersebut halal, ujarnya. (*/dar

kalau biaya pengiriman SMS nggak beda dengan pengiriman SMS pada umumnya, guwe nggak tahu. perlu di teliti + investigasi ke halal annya.

kalau biaya pengiriman SMS lebih mahal dibandingkan dengan pengiriman SMS pada umumnya, kelebihan nilai tersebutlah yang dipakai untuk bertaruh. guwe cenderung meng HARAM kan nya.

tapi, lebih baik menunggu keputusan MUI.

hmmm

coba deh lihat siaran langsung pertandingan olahraga, khususnya sepakbola

yang patut dipermasalhakan adalah biasanya pemirsa disuruh memilih siapa yang menang, A/B atau seri

pemenang kuis ditentukan dari undian SMS jawaban yang emnang

apa nggak ada nilai judinya tuh?

MUI Haramkan SMS Berhadiah

JAKARTA Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia II menyatakan, SMS berhadiah yang kini marak, hukumnya haram. Kegiatan itu dianggap telah mengandung unsur-unsur judi. Untuk itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta pemerintah menertibkannya. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Maruf Amin, memaparkan, definisi SMS berhadiah yang dinyatakan haram itu adalah suatu model pengiriman SMS mengenai berbagai masalah tertentu yang disertai dengan janji pemberian hadiah. Dijelaskannya, SMS berhadiah mengandung judi karena mengundi nasib yang menyebabkan konsumen berharap-harap cemas memperoleh hadiah besar dengan cara yang mudah. Selain itu, kata Maruf, mengandung tabdzir, sebab cenderung membentuk perilaku mubazir yang menyia-nyiakan harta dalam kegiatan yang berunsur maksiat/haram.

SMS berhadiah juga sudah mengandung gharar, yakni tergolong permainan tak jelas dan bersifat mengelabui, ujar dia Selasa (30/5), saat memaparkan hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia II yang berlangsung 25-27 Mei lalu di Ponpes Gontor Ponorogo. Maruf mengingatkan, SMS berhadiah lebih untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya (kapitalisme) bagi produsen atau penyedia jasa melalui trik pemberian hadiah.

SMS berhadiah yang diharamkan, kata Maruf, bisa berbentuk bisnis kegiatan kontes, kuis, olah raga, permainan, kompetisi, dan sejenisnya. Maruf menambahkan, hukum haram untuk SMS berhadiah berlaku secara umum bagi pihak-pihak yang terlibat. Hukum haram dikecualikan jika hadiah bukan ditarik dari peserta SMS berhadiah, ungkap dia. Selain membahas masalah kontemporer, keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa yang terbilang sangat penting lainnya adalah peneguhan bentuk dan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk final. Menurut dia, umat Islam wajib memelihara keutuhan NKRI dan menjaga dari segala bentuk pengkhianatan terhadap kesepakatan dan upaya sparatisme oleh siapapun dengan alasan apapun. (hri )

Burdah, Munajat Ulama Pilihan
24/08/2009

news81251082040Judul Buku : Burdah: Antara Kasidah, Mistis dan Sejarah
Penulis : Muhammad Adib
Editor : Mahbub Djamaluddin
Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan : I, Mei 2009
Tebal : xvi+98 Halaman
Peresensi : Ach. Syaiful A'la*

Pertengahan tahun 2007, kalangan kaum muslimin terutama bagi warga nahdliyyin dihebohkan dengan tudingan syirik yang dilakukan oleh H Mahrus Ali melalui karya bukunya Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik (seperti Nariyah, al-Fatih, Munjiyat, Thibul Qulub).

Tudingan bahwa amaliah yang dilakukan oleh warga nahdliyyin adalah syirik, mendapat respon fositif dari salah satu Tim Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM-NU) Kabupaten Jember, dengan jawaban yang lebih argumentatif dan lengkap berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadits dalam bentuk karyanya Membongkar Kebohongan Buku (Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik (seperti Nariyah, al-Fatih, Munjiyat, Thibul Qulub).

Di balik munculnya tudingan syirik bagi amaliah warga nahdliyyin, ada fenomena yang menarik, ternyata setalah Pusat Pengembangan Intelektual (P2I) Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, mengadakan debat terbuka untuk mempertemukan (mencari titik temu, kalimatun sawa) dari dua pendapat yang bersebarangan alias sedang tidak sejalan itu, H Mahrus Ali, yang menuding syirik terhadap amaliah warga nahdliyyin sebagai penulis buku, tidak berani hadir untuk mempertanggung jawabkan hasil ijtihadnya sendiri. Kerdil. Bahkan Syeikh H Muammal Hamidy, yang memberikan pengantar dalam bukunya H Mahrus Ali tesebut dengan memunculkan term baru, mungkin istilah ini sangat tidak akrab di telinga kaum muslimin, yakni dengan istilah mukmin musyrik, padahal dua kata ini tidak bisa bersandingan jati satu.

Karena tidak bisa mempertahankan alias argumennya lemah, Muammal Hamidy juga akhirnya mencabut pernyataan tersebut di depan peserta seminar dan disaksikan oleh beberapa media.

Salah satu yang dianggap syirik amalan warga nahdliyyin oleh Mahrus Ali dalam bukunya, yakni burdah. Bahkan pesantren yang istiqamah membaca burdah, seperti pondok pesantren Sidogiri, oleh H Mahrus Ali dikecam sebagai agent of kekufuran dan bersiap-siap untuk masuk Neraka dengan berbagai alasan dan beberapa literatur yang dikemukakan oleh H Mahrus Ali.

Kalau meminjam istilahnya Dr. Habib Mohammad Baharun, burdah diartikan sebagai gubahan syair-syair madah yang menyejukkan hatibagaikan mata air jernih yang tidak pernah berhenti mengalir, membasahi seluruh daratan kering kemudian menjadi hijau (green nature).

Burdah karya Imam Al-Bushiri ini, telah banyak diterjemahkan keberbagai bahasa dibelahan dunia, diantaranya adalah Negara Inggris, Jerman, Turki, Melayu, termasuk ke dalam bahasa Indonesia yang kini hasil terjemahannya ada ditangan pembaca.

Bahkan para sastrawan dunia telah mengakui, bahwa burdah adalah salah satu bentuk karya puisi yang dalam kesusastraan Arab dikenal paling kuat dan bertahan, mudah dihafal, berbobot, kaya dengan estetik, romantik dan apik. Misalnya : amin tadzkuriji jirani bidzi salamimazajta daman jara min muqlatin bidami (Apakah karena ingat tetangga, di negeri Dzi Salam sana-Engkau deraikan air mata bercampur darah duka?), amhayyatir-raiha min tilqai kadzimatinwa aumadhal barqu fi dzulumaI min idhami (Ataukah karena hembusan angin dari jalan kazhimah-Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman lembah Idham).

Terbitnya buku ini tiada lain (hanya) untuk mempermudah pembaca memahami karya Imam Al-Bushiri yang sedang tenggelam dalam gubangan kecintaan beliau kepada utusan Allah, bukan berarti untuk mengultuskan Nabi Muhammad SAW sebagai Tuhan, penyelamat. Hakikat memuji Nabi Muhammad SAW bukanlah menganggap sebagai Tuhan, tetapi menyanjung sebagai manusia pilihan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran: Kami tidak mengutus engkau (Hai Muhammad) keculai sebagai rahmat bagi alam semesta. Disini terlihat karya Al-Bushri, seperti Abaana mauliduhu an thibi unshurihiya thibu mubtadaI minhu wa muhtatami (Kelahiran Rasulullah SAW, menampakkan kesucian dirinya-Alangkah harum titik mulanya, Alangkah harum titik akhirnya).

Memang saking rendah diri (sikap tawadu) yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW, beliau pernah suatu ketika menolak untuk dikultus-individukan berlebihan dalam pujian, seperti umat-umat terhadulu yang memuji para utusan Tuhan. Kekhawatiran tersebut takut dikemudian hari menimbulkan seperti pengultusan yang dilakukan umat Nasrani dan Yahudi yang menempatkan para utusan sebagai makhluk yang sejajar dan memiliki kemiripan dengan Tuhan.

Khazanah burdah sekarang hampir mulai sepi di lingkungan masyarakat dan pondok pesantren, kecuali memang ada beberapa pondok pesantren yang masih tetap mempertahankan burdah, syair-syair, dan nazdam di lembaganya atau masyarakat yang masih menggalakkan kumpulan (jamiyah) di perkampungan dengan terlebih dahulu dimulai dengan alunan burdah. Kalau beberapa tahun silam, jika tuan masuk pondok pesantren, mungkin tidak sepi dengan syair, nazdam, dan burdah. Kesemua itu, dahulu digunakan ketika akan memulai atau mengakhiri kegiatan proses belajar mengajar (ngaji) di pesantren.

Kini zamannya telah berubah, santri lebih senang dengan alunan lagu-lagu barat, seperti musik India, dangdut(an), pop, kroncongan dan lainnya, ketimbang lagu-lagu burdah, padahal kalau kita cermati terkadang tidak mengandung makna dan estetika sama-sekali.

Semoga dengan hadirnya buku ini diruang pembaca, bisa menjadi jendela awal untuk (kita) dan tetap mempertahankan nilai-nilai lama yang baik, dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik demi kemajuan Agama (al-muhafadzatu ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah). Semoga!

*Peresensi adalah Direktur Komunitas Baca Surabaya (Kombas)