DAFTAR PERTANYAAN DAN JAWABAN

MAJLIS TA'LIM HAROMAIN GOMBONG

(Ahad Pon, 30 Januari 2011

1.       Pertanyaan: Bagaimana caranya agar kita menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain?

Jawaban: Diantara hamba-hamba Allah yang paling dicintaiNya adalah orang yang banyak mendatangkan kemanfaatan bagi orang lain. Pada dasarnya banyak cara yang dapat kita lakukan untuk member manfaat bagi orang lain. Tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta kemampuan kita. Al Thabrani (Mu'jam Kabir jilid 11 hlm. 83) menulis sebuah hadits Nabi Saw. yang menjelaskan hal itu;

, : , : , , , , , , , , .

Diriwayatkan dari Ibn Umar, bahwasanya seseorang pernah menghadap Nabi Saw. seraya berkata; Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintaiNya ? Rasulullah saw menjawab,Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia dan amal yang
paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitanya atau engkau melunasi utangnya atau menghilangkan kelaparannya.
Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini yaitu Masjid Madinahselama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari
perhitungan). (HR. Thabrani)

Hadits tersebut memuat banyak hikmah tentang berbagai cara supaya dapat mendatangkan kemanfaatan bagi orang lain baik dari sikap, ucapan, simpati, berkorban harta benda dan lain-lain. Sangat bijak ungkapan ulama yang menyatakan " " Kebaikan yang merata (dapat dirasakan orang lain) lebih utama ketimbang kebaikan yang terbatas (hanya dirasakan diri sendiri). Intinya mendatangkan kebaikan bagi orang lain apapun bentuknya selama tidak bertentangan dengan syariat agama adalah sangat dianjurkan.

2.       Pertanyaan: Bagaimana cara yang baik untuk mengajak teman/tetangga kita yang belum pernah atau belum mau menjalankan ibadah kepada Allah SWT?

Jawaban: Para ulama menerangkan bahwa dakwah kepada Allah Azza wa Jalla itu hukumnya fardhu kifayah, selama negeri-negeri itu memiliki para duat (juru dakwah) yang tinggal di dalamnya. Terkadang berdakwah itu hukumnya menjadi fardhu ain apabila seseorang berada di suatu tempat yang tidak ada seorang pun yang melaksanakannya kecuali ia. Namun dianjurkan kepada tiap orang Islam hendaknya mengajak saudaranya menuju kejalan Allah. Prinsip dakwah sebagaimana diterangkan dalam Al Qur'an adalah dengan kebijakan, mauidzah,

[/125

3.       Pertanyaan: Apakah ada do'a khusus untuk mengobati hati yang sedang sakit, atau malas mengerjakan ibadah kepada Allah SWT?

Jawaban: Penyakit hati memang dapat menghinggapi siapa saja kecuali mereka yang dijaga oleh Allah. Selain dengan usaha menjaga dan membersihkan hati secara terus menerus, juga dibarengi dengan permohonan kepada Allah supaya diberi hidayah dan dijauhkan dari perbuatan yang dapat menyebabkan suburnya penyakit hati. Salah satu do'a yang diajarkan Rasulullah Saw. sebagaimana ditulis dalam kitab Sunan Nasai hadits ke 5553

- -

Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam, berkata; "aku tidaklah mengajarkan kepada kalian semua kecuali apa yang telah Rasul Saw. ajarkan kepada kami. Yakni Rasul berkata: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sifat lemah, malas, kikir, takut, pikun, dan dari siksa kubur. Ya Allah, berikan hati kami sifat taqwa serta sucikan (dari sifat jelek), karena Engkau adalah sebaik-baik orang yang mensucikan hati, Engkau adalah penguasa hati. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hati yang tidak dapat khusyu', jiwa yang tidak pernah puas, ilmu yang tak bermanfaat, dan do'a yang tak terkabulkan.

4.       Pertanyaan: Bagaimana cara beramal yang ikhlas lillahi ta'ala supaya bias diterima oleh Allah SWT?

5.       Pertanyaan: Shalatnya baik (rajin) tetapi maksiatnya jalan terus, hal itu bagaimana?

Jawab: Merupakan salah satu fungsi shalat adalah mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar, sebagaimana firman Allah;

(/45)

Dan dirikanlah shalat, karena sesungguhnya (dengan mendirikan) shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. (al 'Ankabut: 45)

Namun pada kenyataanya memang sering terjadi, seseorang shalatnya rajin namun maksiatnya juga tetap rajin. Hal tersebut juga telah diisyaratkan dalam hadits Nabi Saw. (dalam Mu'jam Kabir Al Thabrani, jilid 9 hlm. 268)

- ( 9 / 268)

ǡ : :

Diriwayatkan dari Ibnu Abas RA, Rasul Saw. bersabda; "barang siapa shalatnya tidak mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, maka niscaya tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh" (HR. Thabrani)

Sedangkan menurut Ibnu Mas'ud (dalam Tafsir Al Thabari, Jilid 20 hlm. 42) dan Al Ghazali (dalam Faidl Al Qadir, jilid 6 hlm. 287), yang demikian itu setidaknya disebabkan oleh dua hal; karena tidak memenuhi ketentuan-ketentuan shalat yang benar, dan karena shalatnya dilakukan tidak dengan khusyu' dan Oleh karena itu imam Ghazali menganggap khusyu' sebagai bagian dari syarat shalat.

: . ǡ . ( - ( 20 / 42).

Ibnu Mas'ud berkata; "Barang siapa yang tidak taat pada shalatnya maka tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh. Hal itu karena, yang dimaksud taat seseorang pada shalatnya berarti menunaikanya sesuai dengan ketentuan-ketentuanya. Ketaatan seseorang pada shalatnya akan mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar.

: . ( - ( 6 / 287)

Dengan dasar ayat tersebut (al 'Ankabut; 45), Imam Ghazaliberpendapat bahwa khusyu' merupakan salah satu syarat shalat. Beliau berkata: (alasannya) karena sesungguhnya shalatnya orang yang lalai tidak akan mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar.

Walaupun demikian, bila mana seseorang ketika melakukan maksiat masih ingat kepada Allah dengan rsa takut serta khawatir atas apa yang ia lakukan, maka ia masih bisa diharapkan (mendapat ampunanNya). Demikian menurut Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari Jilid 20 hlm. 481.

6.       Pertanyaan: Shalat kakinya mengikat anjing, walaupun shalatnya ditempat yang suci, bagaimana hukumnya?

Jawaban: Shalatnya tidak syah, karena salah satu syarat shalat adalah suci pakaian termasuk yang dibawanya. Dalam Al Muhadzab jilid 1 hlm. 116 dijelaskan:

:

Bila mana pada perut seseorang terdapat tali yang terikatkan pada anjing kecil maka shalatnya tidak syah karena itu berarti ia membawa anjing (najis), juga karena jika ia berjalan niscaya anjing akan tertarik bersamanya.

7.       Pertanyaan: Shalat witir rekaatnya ada yang 2-1 dengan 2x salam, ada 3 rekaat sekaligus dengan satu kali salam. Mohon dijelaskan masing-masing dasar/haditsnya!

Dasar Shalat Witir; hadts Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunan Abi Dawud Jilid 4 hlm. 426.

- ( 4 / 416)

- - .

 

 

 

Dasar Memisahkan Shalat Witir:

- ( 10 / 341)

:

- ( 1 / 289)

- - . ˡ .

- ( 1 / 446)

:

Dasar shalat witir tiga kali satu salam:

- ( 2 / 302)

- - ( )

- ( 1 / 257)

" { } .

.

 

8.       Pertanyaan:Wudlu apa bisa dianggap sabab shalat syukril wudlu diwaktu larangan shalat?

Bisa

Wudlu termasuk sabab mutaqaddim:

- ( 1 / 142)

ǡ ͡ ͡ ȡ . .

 

9.       Apakah shalat syukril wudlu dahulu atau shalat tahiyatul masjid dulu yang sebaiknya dilakukan? Ada yang mengatakan dua shalat digabung, niatnya bagaimana?

Shalat Syukril wudlu didahulukan karena sababnya lebih dahulu, bila waktu memungkinkan, maka shalat tahiyat juga dilakukan.

Bila hendak menggabungkanya maka cukup niat salah satuya saja.

- ( 1 / 298)

ѡ .

- ( 1 / 228)

10.    Letak mayat yang dishalati apakah boleh kepala mayat menghadap ke selatan? Tapi dari yang saya tahu harus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PERTANYAAN JAMA'AH PENGAJIAN

MAJLIS TA'LIM HAROMAIN GOMBONG

(Ahad Pon, 6 Maret 2011

 

1.      Deskripsi Masalah: Seseorang melakukan shalat sunah ba'da Isya kemudian diakhiri dengan melakukan shalat witir satu rekaat sebagai penutupnya. Pada malam hari ia bangun tidur dan melakukan shalat tahajud.

Pertanyaan: Apakah perlu orang tersebut melakukan shalat witir lagi, karena ia melakukan shalat sunah tahajud? Kalau perlu berapa rekaat sebaiknya? Mohon penjelasannya!

2.      Deskripsi masalah: Selain dimasjid, shalat berjamaah juga banyak dilakukan di mushala-mushala baik yang sudah diwaqafkan atau yang belum.

Pertanyaan: Apakah sama nilainya shalat berjamaah di masjid dengan shalat berjamaah di mushala pribadi yang belum diwaqafkan? Mohon penjelasanya!

3.      Deskripsi masalah: Sebagaimana diketahui bahwa tiap orang Islam yang telah mampu dan memenuhi syarat-syarat haji diwajibkan menunaikanya sekali dalam seumur kecuali bila nadzar. Tetapi karena masih memiliki cukup biaya, banyak juga orang yang melakukanya untuk kedua dan seterusnya?

Pertanyaan: menurut para ulama, lebih baik mana menggunakan biaya tersebut untuk pergi haji yang kedua dan seterusnya atau untuk membantu saudara-saudaranya yang kekurangan secara ekonomi?

4.      Deskripsi masalah: didalam kitab Taqrib dan Tanwirul Qulub diterangkan tentang haramnya membuat bangunan kuburan yang berada dipemakaman umum dan makruh bila dipemakaman pribadi. Dan sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tanwirul Qulub: (diharamkan membuat bangunan kuburan dipemakaman wakaf kecuali untuk makam Nabi, Syahid, 'Alim atau orang shalih).

Pertanyaan:

a.       Mohon penjelasan tentang Syahid, 'Alim dan Shalih sebagaimana yang dimaksud dalam kitab tersebut!

b.      Apa 'ilat diperbolehkanya membangun makam Nabi, Syahid, 'Alim dan orang Shalih?

5.      Deskripsi masalah: Dipemakaman umum sering kali kita lihat banyak ditanami/ditumbuhi tanaman-tanaman yang besar dan juga memiliki akar-akar yang keras serta besar. Tanaman-tanaman tersebut terkadang menyulitkan bila hendak menggali kubur yang baru, bahkan terkadang akar-akarnya dapat masuk kedalam liang kubur mengenai mayit yang sudah terkubur lama. Padahal ada yang mengatakan sunah menanami tanaman dikuburan karena akan memintakan ampunan bagi yang dikubur.

Pertanyaan:

a.       Bagaimana sebaiknya cara memelihara kuburan umum yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar?

b.      Apakah boleh menebangi pohon-pohon itu karena dianggap menyulitkan dan membahayakan mayit yang dikubur?

6.      Deskripsi masalah: Sebagaimana diketahui sekarang banyak jasa penyelenggaraan haji amanat atau badal haji untuk orang yang telah meninggal atau masih hidup tapi fisiknya tidak mampu.

Pertanyaan:

a.       Apakah pahala amanat haji/badal haji bisa sampai kepada orang yang dibadali hajinya?

b.      Dan apakah orang perempuan boleh membadali haji untuk orang laki-laki dan sebaliknya? Mohon penjelasanya dari hadits atau pendapat para ulama!

7.      Deskripsi masalah: Pada sekitar tahun 70-an ada beberapa orang yang membentuk yayasan yang bergerak dibidang jasa penyelenggaraan ibadah haji dengan biaya tertentu dan banyak diikuti oleh masyarakat, karena pada saat itu penyelenggaraan haji belum seperti sekarang ini. Setelah banyak calhaj yang melunasi biaya yang ditentukan, ternyata yayasan tersebut tidak bisa memberangkatkan para calhaj yang telah mendaftar dan biaya yang telah disetorkan juga tidak dikembalikan kepada para calhaj. Yayasan tersebut kemudian bubar dan banyak para calhaj yang gagal berangkat haji karena sudah kehabisan biaya. Sayangnya lagi para pendirinya sekarang banyak yang telah meninggal dunia.

Pertanyaan:

a.       Apakah para ahli waris para calhaj tersebut boleh menuntut kepada ahli waris pendiri yayasan tersebut?

b.      Dan apakah para calhaj yang gagal pergi haji karena tertipu (seperti masalah diatas) terhitung tetap berkewajiban?

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PERTANYAAN JAMA'AH PENGAJIAN

MAJLIS TA'LIM HAROMAIN GOMBONG

(Ahad Pon, 6 Maret 2011

 

1.      Deskripsi Masalah: Seseorang melakukan shalat sunah ba'da Isya kemudian diakhiri dengan melakukan shalat witir satu rekaat sebagai penutupnya. Pada malam hari ia bangun tidur dan melakukan shalat tahajud.

Pertanyaan: Apakah perlu orang tersebut melakukan shalat witir lagi, karena ia melakukan shalat sunah tahajud? Kalau perlu berapa rekaat sebaiknya? Mohon penjelasannya!

Jawab: Orang yang sudah melakukan shalat witir setelah shalat Isya, kemudian malam harinya ia bangun dan shalat sunah tahajud, tidak boleh mengulangi witirnya lagi, karena terdapat hadits .

Refrensi: 1) Hasyiah Qulyubi wa 'Amirah J. 3 hlm. 138

2) 'Ianah Thalibin J. 1 hlm.

) ) { } ) - - ( 3 / 138(

Jika seorang melakukan witir kemudian ia melakukan shalat tahajud maka tidak boleh mengulangi shalat witir kembali, sesuai dengan hadits:"tidak ada dua kali witir dalam satu malam" (HR. Abu Dawud dan lainnya)

1.       

( ) ( - (1 / 252)

Perkataan mushanif; "dan tidak disunahkan mengulangi witir kembali" yakni tidak dituntut mengulangi kembali witir, bila seorang mengulanginya dengan sengaja dan mengetahui (hukumnya) dengan niat melakukan witir maka haram hukumnya dan tidak syah, sesuai dengan hadits: :"tidak ada dua kali witir dalam satu malam".

2.      Deskripsi masalah: Selain dimasjid, shalat berjamaah juga banyak dilakukan di mushala-mushala baik yang sudah diwaqafkan atau yang belum.

Pertanyaan: Apakah sama nilainya shalat berjamaah di masjid dengan shalat berjamaah di mushala pribadi yang belum diwaqafkan? Mohon penjelasanya!

Jawaban: Pada prinsipnya lebih utama berjamaah dengan jamaah yang lebih banyak baik dimasjid maupun ditempat lainnya. Namun menurut pendapat yang dipilih oleh para imam pengikut madzhab Syafi'I (al Aujah) bahwa jamaah di Masjid lebih utama dari pada di mushala atau rumah meskipun lebih banyak jamaahnya, kecuali;

-          Jika imam jamaah yang lebih banyak itu ahli bid'ah, fasiq, atau tidak mengakui sebagian rukun dan syarat shalat maka lebih baik baik shalat berjamaah dengan imam yang shalih, dan meyakini syarat dan rukunnya meskipun jumlah jamaahnya sedikit.

-          Jika dikhawatirkan jamaah masjid yang dekat akan kosong akibat ketidakkehadiranya maka lebih utama ia shalat dimasjid tersebut meskipun sedikit lebih jamaahnya.

1.      - (7 / 397- 402)

( ) ( ) { } ( ) . ..... ( ) ( ) ( ) ...... : ) .

2.      - ( 2 / 8)

(: ) ϡ . ɡ - - : . (: ) . (: ) ʡ ʡ .

3.      Deskripsi masalah: Sebagaimana diketahui bahwa tiap orang Islam yang telah mampu dan memenuhi syarat-syarat haji diwajibkan menunaikanya sekali dalam seumur kecuali bila nadzar. Tetapi karena masih memiliki cukup biaya, banyak juga orang yang melakukanya untuk kedua dan seterusnya?

Pertanyaan: menurut para ulama, lebih baik mana menggunakan biaya tersebut untuk pergi haji yang kedua dan seterusnya atau untuk membantu saudara-saudaranya yang kekurangan secara ekonomi?

Jawaban: Pada prinsipnya "bila hajat lebih banyak dan manfaatnya lebih luas maka lebih utama". Dalam persoalan diatas membutuhkan perincian (Tafsil):

-          Jika saudara-saudaranya adalah faqir yang sangat membutuhkan, atau ahli berbuat kebaikan, atau termasuk keturunan Nabi Saw, maka memuliakanya (dengan meringankan bebannya lebih utama daripada berhaji berkali-kali.

-          Jika tidak memenuhi ketentuan tersebut maka haji sunat lebih utama

1.      - ( 2 / 621)

( )

4.      Deskripsi masalah: didalam kitab Taqrib dan Tanwirul Qulub diterangkan tentang haramnya membuat bangunan kuburan yang berada dipemakaman umum dan makruh bila dipemakaman pribadi. Dan sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tanwirul Qulub: (diharamkan membuat bangunan kuburan dipemakaman wakaf kecuali untuk makam Nabi, Syahid, 'Alim atau orang shalih).

Pertanyaan:

a.       Mohon penjelasan tentang Syahid, 'Alim dan Shalih sebagaimana yang dimaksud dalam kitab tersebut!

b.      Apa 'ilat diperbolehkanya membangun makam Nabi, Syahid, 'Alim dan orang Shalih?

Jawaban:

a.       Yang dimaksud dari tiga golongan tadi adalah apa yang dikehendaki dari tafsir surat An Nisa' 69;

Syahid adalah orang yang gugur dimedan peperangan sabilillah, 'Alim adalah orang yang tidak menyekutukan Allah, menghalalkan apa yang dihalalkaNya, menharamkan yang diharamkanNya, menjaga wasiatnya, meyakini bahwa dirinya akan bertemu denganNya dan akan amalnya dihisab olehNya. Shalih adalah orang yang senantiasa menunaikan hak-hak Allah dan hambaNya yakni orang yang lahir dan batinya baik.

1.      - ( 8 / 530)

" "". :"". :"" . " "" . (1) ="" "" . (2) - ( 3 / 91) "" : .

2.      - ( 6 / 544)

(5) : (6) ǡ .

3.      - ( 1 / 22)

.

 

 

b.      'Ilat diperbolehkanya membangun makam Nabi, Syahid, Alim dan Shalih menurut pendapat yang memperbolehkanya adalah untuk tujuan menghormati, menghidupkan ziarah kepada mereka, dan mencari berkah.

1.      - (2 / 16(

2.      - (3 / 200)

.

Catatan: membangun makam hukumnya haram bila makam berada dipemakaman umum (musabalah) secara muthlak, dan makruh bila ditempat yang dimilikinya atau diwakafkan kepadanya.

- ( 2 / 17)

5.      Deskripsi masalah: Dipemakaman umum sering kali kita lihat banyak ditanami/ditumbuhi tanaman-tanaman yang besar dan juga memiliki akar-akar yang keras serta besar. Tanaman-tanaman tersebut terkadang menyulitkan bila hendak menggali kubur yang baru, bahkan terkadang akar-akarnya dapat masuk kedalam liang kubur mengenai mayit yang sudah terkubur lama. Padahal ada yang mengatakan sunah menanami tanaman dikuburan karena akan memintakan ampunan bagi yang dikubur.

Pertanyaan:

a.       Bagaimana sebaiknya cara memelihara kuburan umum yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar?

b.      Apakah boleh menebangi pohon-pohon itu karena dianggap menyulitkan dan membahayakan mayit yang dikubur?

Jawaban:

a.       Para ulama menganggap baik meletakan tanaman yang masih hijau atau wewangian bunga diatas kubur, atau sekedar membiarkan tanaman kecil tumbuh diatasnya, namun haram hukumnya menanami dengan tanaman yang akar-akarnya dapat mencapai mayit.

b.      Boleh menebang pepohonan yang tumbuh diatas kuburan selama mendatangkan mashlahat bagi pemakaman tersebut dan tidak diperkenankan menanam sesuatu dikuburan tersebut meskipun diyakini mayitnya telah membusuk

1.      - ( 11 / 394)

( ) ( )

2.      - (6 / 157)

3.      - (1 / 202)

:

6.      Deskripsi masalah: Sebagaimana diketahui sekarang banyak jasa penyelenggaraan haji amanat atau badal haji untuk orang yang telah meninggal atau masih hidup tapi fisiknya tidak mampu.

Pertanyaan:

a.       Apakah pahala amanat haji/badal haji bisa sampai kepada orang yang dibadali hajinya?

b.      Dan apakah orang perempuan boleh membadali haji untuk orang laki-laki dan sebaliknya? Mohon penjelasanya dari hadits atau pendapat para ulama!

Jawaban:

a.       Pahala haji amanat sampai kepada yang dibadalinya

b.      Boleh seorang wanita membadali haji orang laki-laki demikian halnya sebaliknya

1.      - ( 14 / 337)

2.      - ( 2 / 657)

: . ( )

7.      Deskripsi masalah: Pada sekitar tahun 70-an ada beberapa orang yang membentuk yayasan yang bergerak dibidang jasa penyelenggaraan ibadah haji dengan biaya tertentu dan banyak diikuti oleh masyarakat, karena pada saat itu penyelenggaraan haji belum seperti sekarang ini. Setelah banyak calhaj yang melunasi biaya yang ditentukan, ternyata yayasan tersebut tidak bisa memberangkatkan para calhaj yang telah mendaftar dan biaya yang telah disetorkan juga tidak dikembalikan kepada para calhaj. Yayasan tersebut kemudian bubar dan banyak para calhaj yang gagal berangkat haji karena sudah kehabisan biaya. Sayangnya lagi para pendirinya sekarang banyak yang telah meninggal dunia.

Pertanyaan:

a.       Apakah para ahli waris para calhaj tersebut boleh menuntut kepada ahli waris pendiri yayasan tersebut?

b.      Dan apakah para calhaj yang gagal pergi haji karena tertipu (seperti masalah diatas) terhitung tetap berkewajiban?

Jawaban:

a.       Tidak boleh menuntut kepada ahli waris, kecuali ahli waris memang menanggung semua tanggungan pendiri yayasan yang meninggal dunia.

1.       - ( 11 / 302)

( ) ( ) ( ) { } { }

2.       - ( 1 / 281)

: :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PERTANYAAN JAMA'AH PENGAJIAN

MAJLIS TA'LIM HAROMAIN GOMBONG

(Ahad Pon, 6 Maret 2011

 

8.      Deskripsi Masalah: Seseorang melakukan shalat sunah ba'da Isya kemudian diakhiri dengan melakukan shalat witir satu rekaat sebagai penutupnya. Pada malam hari ia bangun tidur dan melakukan shalat tahajud.

Pertanyaan: Apakah perlu orang tersebut melakukan shalat witir lagi, karena ia melakukan shalat sunah tahajud? Kalau perlu berapa rekaat sebaiknya? Mohon penjelasannya!

9.      Deskripsi masalah: Selain dimasjid, shalat berjamaah juga banyak dilakukan di mushala-mushala baik yang sudah diwaqafkan atau yang belum.

Pertanyaan: Apakah sama nilainya shalat berjamaah di masjid dengan shalat berjamaah di mushala pribadi yang belum diwaqafkan? Mohon penjelasanya!

10.  Deskripsi masalah: Sebagaimana diketahui bahwa tiap orang Islam yang telah mampu dan memenuhi syarat-syarat haji diwajibkan menunaikanya sekali dalam seumur kecuali bila nadzar. Tetapi karena masih memiliki cukup biaya, banyak juga orang yang melakukanya untuk kedua dan seterusnya?

Pertanyaan: menurut para ulama, lebih baik mana menggunakan biaya tersebut untuk pergi haji yang kedua dan seterusnya atau untuk membantu saudara-saudaranya yang kekurangan secara ekonomi?

11.  Deskripsi masalah: didalam kitab Taqrib dan Tanwirul Qulub diterangkan tentang haramnya membuat bangunan kuburan yang berada dipemakaman umum dan makruh bila dipemakaman pribadi. Dan sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tanwirul Qulub: (diharamkan membuat bangunan kuburan dipemakaman wakaf kecuali untuk makam Nabi, Syahid, 'Alim atau orang shalih).

Pertanyaan:

c.       Mohon penjelasan tentang Syahid, 'Alim dan Shalih sebagaimana yang dimaksud dalam kitab tersebut!

d.      Apa 'ilat diperbolehkanya membangun makam Nabi, Syahid, 'Alim dan orang Shalih?

12.  Deskripsi masalah: Dipemakaman umum sering kali kita lihat banyak ditanami/ditumbuhi tanaman-tanaman yang besar dan juga memiliki akar-akar yang keras serta besar. Tanaman-tanaman tersebut terkadang menyulitkan bila hendak menggali kubur yang baru, bahkan terkadang akar-akarnya dapat masuk kedalam liang kubur mengenai mayit yang sudah terkubur lama. Padahal ada yang mengatakan sunah menanami tanaman dikuburan karena akan memintakan ampunan bagi yang dikubur.

Pertanyaan:

c.       Bagaimana sebaiknya cara memelihara kuburan umum yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar?

d.      Apakah boleh menebangi pohon-pohon itu karena dianggap menyulitkan dan membahayakan mayit yang dikubur?

13.  Deskripsi masalah: Sebagaimana diketahui sekarang banyak jasa penyelenggaraan haji amanat atau badal haji untuk orang yang telah meninggal atau masih hidup tapi fisiknya tidak mampu.

Pertanyaan:

c.       Apakah pahala amanat haji/badal haji bisa sampai kepada orang yang dibadali hajinya?

d.      Dan apakah orang perempuan boleh membadali haji untuk orang laki-laki dan sebaliknya? Mohon penjelasanya dari hadits atau pendapat para ulama!

14.  Deskripsi masalah: Pada sekitar tahun 70-an ada beberapa orang yang membentuk yayasan yang bergerak dibidang jasa penyelenggaraan ibadah haji dengan biaya tertentu dan banyak diikuti oleh masyarakat, karena pada saat itu penyelenggaraan haji belum seperti sekarang ini. Setelah banyak calhaj yang melunasi biaya yang ditentukan, ternyata yayasan tersebut tidak bisa memberangkatkan para calhaj yang telah mendaftar dan biaya yang telah disetorkan juga tidak dikembalikan kepada para calhaj. Yayasan tersebut kemudian bubar dan banyak para calhaj yang gagal berangkat haji karena sudah kehabisan biaya. Sayangnya lagi para pendirinya sekarang banyak yang telah meninggal dunia.

Pertanyaan:

c.       Apakah para ahli waris para calhaj tersebut boleh menuntut kepada ahli waris pendiri yayasan tersebut?

d.      Dan apakah para calhaj yang gagal pergi haji karena tertipu (seperti masalah diatas) terhitung tetap berkewajiban?

 

DAFTAR PERTANYAAN DAN JAWABAN

JAMA'AH PENGAJIAN MAJLIS TA'LIM HAROMAIN GOMBONG

(Ahad Pon, 6 Maret 2011

 

1.       Deskripsi Masalah: Seseorang melakukan shalat sunah ba'da Isya kemudian diakhiri dengan melakukan shalat witir satu rekaat sebagai penutupnya. Pada malam hari ia bangun tidur dan melakukan shalat tahajud.

Pertanyaan: Apakah perlu orang tersebut melakukan shalat witir lagi, karena ia melakukan shalat sunah tahajud? Kalau perlu berapa rekaat sebaiknya? Mohon penjelasannya!

Jawab: Orang yang sudah melakukan shalat witir setelah shalat Isya, kemudian malam harinya ia bangun dan shalat sunah tahajud, tidak boleh mengulangi witirnya lagi, karena terdapat hadits .

Referensi: 1) Hasyiah Qulyubi wa 'Amirah J. 3 hlm. 138. 2) 'Ianah Thalibin J. 1 hlm. 252

 

) ) { } ) - - ( 3 / 138(

Jika seorang melakukan witir kemudian ia melakukan shalat tahajud maka tidak boleh mengulangi shalat witir kembali, sesuai dengan hadits:"tidak ada dua kali witir dalam satu malam" (HR. Abu Dawud dan lainnya)

( ) ( - (1 / 252)

Perkataan mushanif; "dan tidak disunahkan mengulangi witir kembali" yakni tidak dituntut mengulangi kembali witir, bila seorang mengulanginya dengan sengaja dan mengetahui (hukumnya) dengan niat melakukan witir maka haram hukumnya dan tidak syah, sesuai dengan hadits: :"tidak ada dua kali witir dalam satu malam".

2.      Deskripsi masalah: Selain dimasjid, shalat berjamaah juga banyak dilakukan di mushala-mushala baik yang sudah diwaqafkan atau yang belum.

Pertanyaan: Apakah sama nilainya shalat berjamaah di masjid dengan shalat berjamaah di mushala pribadi yang belum diwaqafkan? Mohon penjelasanya!

Jawaban: Pada prinsipnya lebih utama berjamaah dengan jamaah yang lebih banyak baik dimasjid maupun ditempat lainnya. Namun menurut pendapat yang dipilih oleh para imam pengikut madzhab Syafi'I (al Aujah) bahwa jamaah di Masjid lebih utama dari pada di mushala atau rumah meskipun lebih banyak jamaahnya.

Referensi: 1) Tuhfat Al Muhtaj J. 7 hlm. 397 402. 2) Ianah Thalibin J. 2. Hlm 8

( ) ( ) { }...... : ) . ( - (7 / 397- 402)

Shalat yang lebih banyak jamaahnya baik di masjid atau ditempat lainya lebih utama sesuai dengan hadits shahih: "shalat Jamaah yang lebih banyak (jamaahnya) lebih disenangi Allah Ta'ala"perkataan mushanif: "baik di masjid atau ditempat lainya" dapat mengandung mengandung pengertian bahwa (shalat dengan) banyaknya jamaah di rumah lebih utama daripada (shalat dengan) sedikitnya jamaah dimasjid. Namun dijelaskan dalam Syarah Irsyad bahwa pendapat yang mu'tamad (yang dibuat pedoman) adalah sebaliknya, demikian halnya penjelasan Syaikh Syihab Al Ramli pada masalah ini seperti pendapat terdahulu bahwa pendapat yang dipilih (al Aujah) adalah pendapat sebaliknya (berarti shalat dimasjid lebih utama, meski sedikit jamahnya)

( - ( 2 / 5)

Adapun berjamaah shalat fardu di masjid bagi laki-laki lebih utama. namun apabila jamaah hanya ditemukan dirumahnya saja maka itu lebih utama. Demikian halnya andai kata jamaah yang lebih banyak itu berada dirumahnya dibanding dimasjid (maka lebih utama berjamaah dirumahnya) menurut pendapat yang dipedomani oleh Imam Adzra'I dan lainya. Namun Syikhuna berpendapat bahwa pendapat yang dipilih (oleh ulama syafi'iyah) adalah sebaliknya (yakni berjamaah dimasjid lebih utama meski sedikit jamahnya)

 

3.      Deskripsi masalah: Sebagaimana diketahui bahwa tiap orang Islam yang telah mampu dan memenuhi syarat-syarat haji diwajibkan menunaikanya sekali dalam seumur kecuali bila nadzar. Tetapi karena masih memiliki cukup biaya, banyak juga orang yang melakukanya untuk kedua dan seterusnya?

Pertanyaan: menurut para ulama, lebih baik mana menggunakan biaya tersebut untuk pergi haji yang kedua dan seterusnya atau untuk membantu saudara-saudaranya yang kekurangan secara ekonomi?

Jawaban: Salah satu wujud istitha'ah (mampu) dalam haji adalah adanya bekal untuk dirinya dan orang yang ditinggalkanya yakni orang yang menjadi tanggungannya. Dalam persoalan diatas membutuhkan perincian (Tafsil): Jika saudara-saudaranya merupakan tanggungjawabnya termasuk kelompok yang sangat membutuhkan (dharurat) maka lebih utama digunakan untuk memenuhi kebutuhanya tersebut. Namun jika belum sampai keadaan darurat tentu haji lebih utama baginya.

Referensi: 1) Ianah Thalibin J. 2 hlm. 282, 2) Hasyiah Ibn 'Abidin J. 2 hlm, 621

-           

( ) ..... ..... ( - ( 2 / 282)

Maksud istitha'ah (mampu) adalah adanya bekal untuk dirinya dan bekal untuk orang (yang ditinggalkannya) yang memang menjadi tanggungjawabnya.maksud dari orang yang menjadi tanggungjawabnya adalah istri, kerabat, budak dan termasuk orang-orang Islam yang sangat membutuhkan meskipun bukan dari keluarganya. Hal ini sesuai dengan pendapat para ulama bahwa menolak bahaya yang menimpa orang-orang Islam dengan cara memberi makan orang yang kelaparan, memberi pakaian orang yang telanjang dan lain sebagainya merupakan keharusan (fardlu) bagi orang yang memiliki kelebihan kekayaan untuk setahun.

 

( - ( 2 / 621)

Jika keadaan fakir sudah sangat membutuhkan, atau ahli kebajikan atau ia adalah keturunan Nabi maka terkadang memuliakanya lebih utama daripada haji dan umrah berulang kali dan membangun ribat (semacam pondokan)

4.      Deskripsi masalah: didalam kitab Taqrib dan Tanwirul Qulub diterangkan tentang haramnya membuat bangunan kuburan yang berada dipemakaman umum dan makruh bila dipemakaman pribadi. Dan sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tanwirul Qulub: (diharamkan membuat bangunan kuburan dipemakaman wakaf kecuali untuk makam Nabi, Syahid, 'Alim atau orang shalih).

Pertanyaan:

a.       Mohon penjelasan tentang Syahid, 'Alim dan Shalih sebagaimana yang dimaksud dalam kitab tersebut!

b.      Apa 'ilat (alas an) diperbolehkanya membangun makam Nabi, Syahid, 'Alim dan orang Shalih?

Jawaban:

a.       Yang dimaksud dari tiga golongan tersebut adalah apa yang dikehendaki dari tafsir surat An Nisa' 69;

Syahid adalah orang yang gugur dimedan peperangan sabilillah, 'Alim adalah orang yang tidak menyekutukan Allah, menghalalkan apa yang dihalalkaNya, menharamkan yang diharamkanNya, menjaga wasiatnya, meyakini bahwa dirinya akan bertemu denganNya dan akan amalnya dihisab olehNya. Shalih adalah orang yang senantiasa menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak hambaNya yakni orang yang lahir dan batinya baik.

Referensi: 1) Tafsir Al Thabari J. 8 hlm. 530. 2) Tafsir Ibn Katsir J. 6 hlm. 544. 3) Bustan al 'Arifin 22

" "" . "" "" . - ( 8 / 530) "" : . ( - ( 3 / 91)

Kata Shuhada' adalah bentuk jamak dari Syahid yakni orang yang terbunuh (di medan perang) dijalan Allah. Adapun kata Shalihin adalah bentuk jamak dari Shalih yakni orang yang lahir batinnya baik. Dalam bagian yang lain dijelaskan orang shalih adalah orang yang senantiasa menunaikan hak-hak Allah atas dirinya.

. ( - ( 1 / 22)

Adapun ketentuan orang shalih menurut Imam Abu Ishaq al Zujaj dalam kitab "ma'ani al Qur'an" dan Abu Ishak bin Qurqul, penyusun kitab Mathali' Anwar, adalah orang yang senantiasa menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak hambaNya.

(5) : (6) ǡ ( - ( 6 / 544).

Menurut Ibnu Abas, Alim adalah orang yang tidak pernah mensekutukan Allah, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, menjaga wasiatNya, dan berkeyakinan bahwa kelak ia akan bertemuNya dan dihisab amalnya.

b.      'Ilat (alas an) diperbolehkanya membangun makam Nabi, Syahid, Alim dan Shalih menurut pendapat yang memperbolehkanya adalah untuk tujuan menghormati, menghidupkan ziarah kepada mereka, dan mencari berkah.

Referensi: Hasyiah Bujairimi 'ala al Khatib J. 6 hlm. 156

: : ( - ( 6 / 156)

Memang benar (dilarang membangun kuburan), namun sebagian ulama mengecualikan kuburan para Nabi, Syuhada, dan orang-orang Shalih. Dalam redaksi al Rahmani:"benar, kuburan orang-orang shalih boleh dibangun meskipun dengan kubah dengan tujuan menghidupkan ziarah dan tabaruk (mencari berkah). Al Halabi berkata: "meskipun dipemakaman umum. Beliau juga berfatwa demikian.

5.      Deskripsi masalah: Dipemakaman umum sering kali kita lihat banyak ditanami/ditumbuhi tanaman-tanaman yang besar dan juga memiliki akar-akar yang keras serta besar. Tanaman-tanaman tersebut terkadang menyulitkan bila hendak menggali kubur yang baru, bahkan terkadang akar-akarnya dapat masuk kedalam liang kubur mengenai mayit yang sudah terkubur lama. Padahal ada yang mengatakan sunah menanami tanaman dikuburan karena akan memintakan ampunan bagi yang dikubur.

Pertanyaan:

a.       Bagaimana sebaiknya cara memelihara kuburan umum yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar?

b.      Apakah boleh menebangi pohon-pohon itu karena dianggap menyulitkan dan membahayakan mayit yang dikubur?

Jawaban:

a.       Para ulama menganggap baik meletakan tanaman yang masih hijau atau wewangian bunga diatas kubur, atau sekedar membiarkan tanaman kecil tumbuh diatasnya, namun haram hukumnya menanami dengan tanaman yang akar-akarnya dapat mencapai mayit atau dapat merusak kuburan.

b.      Boleh menebang pepohonan yang tumbuh diatas kuburan selama mendatangkan mashlahat bagi pemakaman tersebut dan tidak diperkenankan menanam sesuatu dikuburan tersebut meskipun diyakini mayitnya telah membusuk.

Referensi: 1) Hasyiah Bujairimi 'ala al Khatib, J. 6 hlm. 157. 2) Bughyat al Mustarsyidin hlm. 202

( (6 / 157)

Termasuk yang haram adalah menanam sesuatu dikuburan meskipun diyakini mayatnya telah membusuk, karena diperkenankan memanfaatkannya selain untuk mengubur, maka mencabutnya adalah wajib. Adapun pendapat Imam Mutawali tentang kebolehan menanaminya setelah membusuk adalah pendapat yang didasarkan apabila berada di tanah yang dimiliki.

: ( - (1 / 202)

Faidah: meletakan tanaman yang masih hijau daiatas kuburan dianggap baik menurut sebagian ulama, namun Al Khatabi mengingkarinya. Adapun menanam pohon diatas kuburan dan menyiraminya; jika sampai menyebabkan ambruknya kuburan atau akar-akarnya dapat mencapai mayit maka haram hukumnya, namun jika tidak maka makruh sekali. Bahkan pendapat yang lain menyatakan tetap haram

 

6.      Deskripsi masalah: Sebagaimana diketahui sekarang banyak jasa penyelenggaraan haji amanat atau badal haji untuk orang yang telah meninggal atau masih hidup tapi fisiknya tidak mampu.

Pertanyaan:

a.       Apakah pahala amanat haji/badal haji bisa sampai kepada orang yang dibadali hajinya?

b.      Dan apakah orang perempuan boleh membadali haji untuk orang laki-laki dan sebaliknya? Mohon penjelasanya dari hadits atau pendapat para ulama!

Jawaban:

a.       Pahala haji amanat sampai kepada yang dibadalinya

b.      Diperbolehkan seorang wanita membadali haji orang laki-laki demikian halnya sebaliknya selama memenuhi ketentuan-ketentuanya.

Referensi: 1) Shahih Bukhari J. 2 hlm. 656 2) Fath Al Bari J. 4 hlm. 65

: ( . ) ( - ( 2 / 656)

Diriwayatkan dari Ibnu Abas RA, bahwasanya seorang wanita datang menghadap Nabi Saw seraya berkata; sesungguhnya ibuku pernah nadzar hendak berhaji, namun belum sempat menunaikanya hingga ia meninggal, apakah aku dapat berhaji untuknya? Nabi Saw. menjawab;" ya, berhajilah untuknya. Bagaimana menurutmu jika ibumu mempunyai hutang, apa kamu akan membayarkanya? Tunaikan (hutang) Allah, kerana (hutang) Allah lebih berhak ditunaikan.

( - - ( 4 / 65)

Ibnu Bathal berkata: tidak ada perbedaan pendapat tentang kebolehan seorang laki-laki menghajikan perempuan, dan sebaliknya, hanya Al Hasan bin Shalih yang menentang pendapat ini.

7.      Deskripsi masalah: Pada sekitar tahun 70-an ada beberapa orang yang membentuk yayasan yang bergerak dibidang jasa penyelenggaraan ibadah haji dengan biaya tertentu dan banyak diikuti oleh masyarakat, karena pada saat itu penyelenggaraan haji belum seperti sekarang ini. Setelah banyak calhaj yang melunasi biaya yang ditentukan, ternyata yayasan tersebut tidak bisa memberangkatkan para calhaj yang telah mendaftar dan biaya yang telah disetorkan juga tidak dikembalikan kepada para calhaj. Yayasan tersebut kemudian bubar dan banyak para calhaj yang gagal berangkat haji karena sudah kehabisan biaya. Sayangnya lagi para pendirinya sekarang banyak yang telah meninggal dunia.

Pertanyaan:

a.       Apakah para ahli waris para calhaj tersebut boleh menuntut kepada ahli waris pendiri yayasan tersebut?

b.      Dan apakah para calhaj yang gagal pergi haji karena tertipu (seperti masalah diatas) terhitung tetap berkewajiban?

Jawaban:

a.       Tidak boleh menuntut kepada ahli waris, kecuali ahli waris memang menanggung semua tanggungan pendiri yayasan yang meninggal dunia.

b.      Bila masih memiliki harta yang cukup maka wajib haji, dan jika keburu meninggal dan ia memiliki harta maka wajib dibadalkan hajinya dari harta tersebut, jika tidak memilikinya maka disunahkan bagi ahli warisnya untuk menghajikanya.

Referensi: 1) Bughyat al Mustarsyidin hlm. 281 2) Fath Al Mu'in Hasyiah I'anah J. 2 hlm 285

: : ( - ( 1 / 281)

Faidah: Disunahkan segera melunasi hutang-hutang si mayit untuk mempercepat terbebasnya mayit dari hutang-hutangnya yang dapat menhalanginya memperoleh kedudukan mulia. Jika hutangnya tidak bisa terlunasi dengan harta peninggalanya, maka walinya (juga orang lain) hendaknya meminta kepada orang-orang yang menghutanginya untuk melimpahkan hutang simayit kepada si wali. Dengan demikian terbebaslah si mayit dari tanggunganya dengan adanya kerelaan mereka melimpahkan tanggungan kepada si wali. Dan hendaknya mereka menghalalkanya dengan cara yang benar sehingga si masyit betul-betul terbebas, dan (cara ini dilakukan) supaya keluar dari khilaf orang yang menganggap bahwa menanggung semacam itu tidak sah, seperti ucapan kepada orang yang menghutangi simayit:" gugurkan hak kamu atas mayit atau bebaskan ia dari tanggungannya dan sayalah yang akan menggantinya!." Bila hal yang demikian telah dilakukan maka mayit terbebas dan tanggunganya menjadi beban tanggungjawab orang yang menanggungnya, namun bukan berarti kepetingan orang yang menghutangi tidak lagi berhubungan dengan tirkah mayit, bahkan akan selalu berhubungan sampai hutangnya sempurna dilunasi, karena disana terdapat kemaslahatan si mayid, juga karena terkadang penanggung jawab tidak menunaikanya.

( - - ( 2 / 285)

Wajib mencarikan ganti (badal) bagi mayit yang memiliki kewajiban haji, (dengan biaya) dari harta peninggalanya, seperti hal dilunasi hutang-hutangnya dari harta tersebut. Jika ia tidak memiliki harta peninggalan maka bagi ahli warisnya sunah menghajikannya, bahkan jika orang lain yang melakukanya juga boleh meskipun tanpa seizinnya.