SEJARAH PERKEMBANGAN ASWAJADI INDONESIAPENDAHULUANIslam masuk ke Indonesia sejak zaman Khulafaur Rasyidin tepatnya pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Penyebaran Islam di Indonesia masuk melalui dua jalur utama yaitu Jalur Selatan yang bermadzhab Syafii (Arab, Yaman, India, Pakistan, Bangladesh, Malaka, Indonesia) dan Jalur Utara (Jalur Sutara) yang bermadzhab Hanafi (Turki, persia, Kazakhstan, Uzbekistan, Afganistan, Cina, Malaka, Indonesia). Penyebaran Islam semakin berhasil,khususnya di Pulau Jawa sejak abad ke-13 oleh Wali Sanga. Dari murid murid Wali Sanga inilah kemudian secara turun temurun menghasilkan Ulama  ulama besar di wilayah Nusantara seperti Syaikhuna Khoil Bangkalan (Madura), Syaikh Arsyad Al Banjari (Banjar, Kalimantan, Syaikh Yusuf Sulawesi,dan lain lain.Telaah terhadap Ahlussunnah Wal Jamaah ( Aswaja ) sebagai bagaian dari kajian keislaman merupakan upaya yang mendudukkan aswaja secaraproporsional, bukannya semata-mata untuk mempertahankan sebuah aliran atau golongan tertentu yang mungkin secara subyektif kita anggap baik karenarumusan dan konsep pemikiran teologis yang diformulasikan oleh suatu aliran, sangat dipengaruhi oleh suatu problem teologis pada masanya danmempunyai sifat dan aktualisasinya tertentu.Pemaksaan suatu aliran tertentu yang pernah berkembang di era tertentu untuk kita yakini, sama halnya dengan aliran teologi sebagai dogma dansekaligus mensucikan pemikiran keagamaan tertentu. Padahal aliran teologi merupakan fenomena sejarah yang senantiasa membutuhkan interpretasi sesuaidengan konteks zaman yang melingkupinya. Jika hal ini mampu kita antisipasi berarti kita telah memelihara kemerdekaan (hurriyah); yakni kebebasanberfikir (hurriyah al-rayi), kebebasan berusaha dan berinisiatif (hurriyah al-irodah) serta kebebasan berkiprah dan beraktivitas (hurriyah al-harokah).Selama kurun waktu berdirinya (1926) hingga sekitar tahun 1994, pengertian Aswaja tersebut bertahan di tubuh Nahdlatul Ulama. Baru padasekitar pertengahan dekade 1990 tersebut, muncul gugatan yang mempertanyakan, tepatkah Aswaja dianut sebagai madzhab, atau lebih tepat dipergunakandengan cara lain?

PENGERTIAN

1. Pengertian Aswaja secara BahasaAhlun : keluarga, golongan atau pengikut.Ahlussunnah : orang orang yang mengikuti

sunnah

(perkataan, pemikiran atau amal perbuatan Nabi Muhammad SAW.)Wal Jamaah : Mayoritas ulama dan jamaah umat Islam pengukut sunnah Rasul.Dengan demikian secara bahasa \aswaja berarti orang orang atau mayoritas para Ulama atau umat Islam yang mengikuti sunnah Rasul dan para Sahabatatau para Ulama.

2. Secara Istilah

Berarti golongan umat Islam yang dalam bidang Tauhid menganut pemikiran Imam Abu Hasan Al Asyari dan Abu Mansur Al Maturidi,sedangkan dalam bidang ilmu fiqih menganut Imam Madzhab 4 (Hanafi, Maliki, Syafii, Hambali) serta dalam bidang tasawuf menganut pada Imam AlGhazali dan Imam Junaid al Baghdadi.

3. MazhabSecara bahasa berasal dari kata madzhabun yang berarti tempat berjalan. Menurut istilah ialah metode atau cara yang dipakai seorang mujtahid(ulama yang memenuhi syarat berijtihad) dalam menetapkan hukum berdasarkan Al Quran dan Hadits. Maka bermadzhab ialah menjalankan syariat agamasesuai dengan hasil ijtihad Imam Mujtahid. Bermadzhab hukumnya wajib bagi yang tidak mampu berijtihad. Adapun yang mampu berijtihad makahukumnya boleh sepanjang memenuhi syarat syarat sebagai mujtahid. Bermadzhab bukan berarti tidak mengikuti Al Quran dan Hadits, sebab ijtihad paraImam Mujtahid berdasarkan Al Quran dan Hadits, baru jika mereka tidak mendapatkan nash di dalam keduanya, mereka kemudian berijtihad.Sebagaimana Hadits Rasul dari Imam Tirmidzi, yaitu ketika Nabi bertanya kepada Muadz bin Jabal :Nabi :

Dengan apa kamu memutuskan perkara Muadz?

Muadz :

Dengan sesuatu yang terdsapat dalam kitabullah (Al Qur an).

Nabi :

Kalau tidak engkau dapati dalam kitabullah?

Muadz :

Saya akan memutus sesuatu yang telah diputuskan oleh Rasulullah (Hadits).

Nabi :

Kalau tidak engkau dapati pada apa yang telah kuputuskan?

Muadz :

Saya akan berijtihad dengan menggunakan pikiran saya.

Nabi :

Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan dari utusanNya.

Pada waktu Rasulullah masih hidup, segala persoalan dapat diselesaikan oleh beliau. Perkembangan selanjutnya pada zaman sahabat, tabiin,tabiit tabiin, dan seterusnya banyak persoalan baru muncul, yang pada zaman Nabi belum ada. Karena sulitnya cara menentukan hukum berdasarkanSumber Hukum yang ada yaitu Al Quran, Sunnah Rasul, Ijma dan Qiyas dari para Sahabat, Tabiin, Tabiit Tabiin dan Ulama penerusnya. Hal iniberjalansampai tahun 500 H yaitu hampir ada 10 Madzhab

Namun setelah itu dari 10 madzhab yang ada meringkas menjadi 4 madzhab yang besar yaitu : Madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali yangdigunakan di dunia Islam sampai sekarang, kecuali yang anti madzhab.Jadi bermadzhab disini berarti cara yang ditempuh untuk mendapat kebenaran yang ada dalam Al Quran dan Hadits melalui pemahaman atauhasil pemikiran Imam Mujtahid. Adapun ciri ciri orang Islam yang anti Madzhab antara lain mempunyai sikap sebagai berikut :

Selalu mengatakan bahwa mereka adalah orang Islam, bukan Islam ini dan islam itu dan hanya berpedoman pada Al Quran dan Hadits. Danmenganggap sesat kalau bermadzhab.

Menganggap semua orang Islam berhak melakukan Ijtihad, menentukan hukum atau menafsirkan hukum sendiri dari Al Quran dan Hadits tanpamemperhatikan syarat syarat Ijtihad dan bantuan Ulama.

Tidak mengakui dan menghargai Ulama (Kyai) sebagai pewaris risalah Nabi.

Membenci adanya golongan golongan atau organisasi organisasi Islam selain golongannya.

Keras kepala, tidak mau kalah dalam berdebat walaupun sudah jelas salah, menganggap dirinya yang paling benar, suci, paling ahli surga danmenganggap muslim yang lain ahli bidah, sesat, kufur, murtad, dan lain-lain.

Suka menonjolkan identitas keislaman yang berbau Arabisme.(HR Imam Tirmidzi)Hukum fiqih Aswaja bersumber pada empat pokok :Al Quran, merupakan sumber hukum utama yang merupakan wahyu dari Allah SWT.As Sunnah, sember hukum kedua, berupa Hadits (sabda) dan Sunnah (Perilaku) Nabi yang merupakan penjelasan dan tauladan yang sesuai dengan AlQuran.Al Ijma, sumber hukum ketiga, yaitu kesepakatan para Ulama atas suatu hukum setelah watar Nabi.Al Qiyas, sumber Hukum ke empat, yaitu menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hukum, karena adanya

illat 

yang sama antara keduanya.Ahlussunah wal Jamaah mempunyai ciri pokok atau karakteristik dalam hal pengalaman yaitu :Tawazun (seimbang), keseimbangan antara urusan dunia dan akherat.Tawasuth (jalan tengah), dalam mengambil keputusan harus menggunakan berbagai pertimbangan dan tidak memihak sebelah.Tasamuh (toleransi), sikap saling menghormati, tidak memaksakan kehendak dan menghargai perbedaan.Itidal (lurus), selalu berjalan lurus dengan berpedoman pada kaidah kaidah agama.Amar Maruf Nahi Mungkar, mengajak pada kebenaran dan mencegah pada keburukan.RUANG LINGKUPMasuknya islam ke IndonesiaSejumlah ilmuan Belanda, memegang teori bahwa asal muasal Islam di Indonesia adalah Anak Benua India, bukanya Persia atau Arabia. Salahsatunya adalah Pijnapel dari Universitas Leiden. Dia mengatakan asal Islam di Indonesia dari wilayah Gujarat dan Malabar. Menurutnya adalah orang-orangArab yang bermazhab Syafii yang menetap di India yang membawa Islam ke Indonesia.Teori ini dikembangkan oleh Snouck Hurgronje yang berhujah, begitu Islam berpijak kokoh di beberapa kota pelabuhan Anak Benua India,Muslim Deccan, banyak diantara mereka tinggal di sana sebagai pedagang perantara dalam perdagangan Timur Tengah dengan Nusantara, datang ke duniaMelayu-Indonesia sebagai para penyebar Islam pertama. Baru kemudian mereka disusul orang-orang Arab, kebanyakan dari mereka adalah keturunan NabiMuhammad. Karena manggunakan gelar 

sayyid 

atau

syarif 

, yang menyelesaikan penyebaran Islam di Indonesia. Dan hal ini terjadi pada sekitar abad ke-12.Menurut hikayat raja-raja Pasai, seorang Syaikh Ismail datang dengan kapal dari Makkah ke Pasai, dimana ia membuat Merah Silau, penguasasetempat, masuk Islam. Merah Silau kemudian mengambil gelar Malik Al-Shaleh, yang wafat pada 698/1297. seabad kemudian seorang penguasa Malakajuga di Islamkan oleh Sayyid Abd. Al-Aziz, sorang Arab dari Jeddah. Seorang penguasa itu Parameswara mengambil gelar Mohammad Syah.Kebanyakan sarjana barat juga memegang teori bahwa penyebar agama Islam tersebut melakukan pekawinan dengan wanita setempat. Denganpembentukan keluarga muslim ini, maka nukleus komunitas muslim pun tercipta, yang pada waktunya nanti mempunyai andil yang besar buatperkembangan Islam di Nusantara. Selanjutnya para pedagang ini melakukan perkawinan dengan bangsawan lokal sehingga mereka atau keturunanyamemperoleh kekuasaan di dunia politik, untuk penyebaran agama Islam.Oleh karena pertumbuhan Islam pertama oleh para pedagang, maka pertumbuhan komunitas Islam muncul di daerah pesisir Sumatra, jawa danpulau lainya. Kerajaan Islam pertama juga muncul didaerah pesisir. Demikian halnya kerajaan Samudra Pasai, Aceh, Demak, Banten dan Cirebon, Ternatedan Tidore. Dari sana Islam menyebar ke daerah-daerah sekitar. Menjelang akhir abad ke 17, Islam sudah hampir merata di Nusantara.Penyebaran dan pertumbuhan Islam di Nusantara terletak di pundak para Ulama. Mereka membenuk kader-kader yang akan bertugas sebagaimubaligh ke daerah-daerah yang lebih luas. Cara ini dilakukan di dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti

pondok 

di Jawa,

dayah

di Aceh,

surau

diMinangkabau. Kemudian mereka juga membuat karya-karya yang tersebar dan di baca di berbagai tempat yang jauh. Karya-karya itu menunjukan pemikiranislam di Indonesia masa itu. Abad 16-17, merupakan masa masa kesuburan dalam penulisan sastra, filsafat, metafisika dan teologi rasional yangtidak ada

 

tolok bandingnya dimana-mana di zaman apapun di Asia Tenggara. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa ketika tradisi kebudayaan Islam sedang berkembangdi Indonesia, dipusat dunia Islam, bidang itu telah mapan. Bahkan disana terkenal dengan masa kebekuan, masa kemunduran pemikiran karena digalakkanya taklid. Dunia pemikiran Islam di Indonesia bagaimanapun juga mempunyai akar pemikiran yang bersumber di pusat dunia Islam tersebutsebelumnya.Gerakan modern islamPembaharuan Islam atau gerakan modern Islam merupkan jawaban yang ditunjukan terhadap krisis yang dihadapi umat Islam pada masanya.Kemunduran progresif kerajaan Usmani yang merupakan pemangku khilafah Islam, setelah abad ke 17, melahirkan kebangkitan Islam dikalangan wargaArab Imperium. Yag terpenting diantaranya adalah gerakan Wahabi, sebuah gerakan reformis puritanis (salafiah). Gerakan ini merupakan sarana yangmenyiapkan jembatan kearah pmbaruan yang bernuansa intelektual.Katalisator terkenal dari gerakan pembaharuan ini adalah Jamaludin Al-Afgani (1897). Ia mengajarkan solidaritas

pan Islam

dan pertahananterhadap imperialisme Eropa, dengan kembali ke Islam dalam suasana yang secara ilmiah di modernsasi.SEJARAH PERKEMBANGAN1. NU dan ASWAJANahdlatul Ulama adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama dengan tujuan memelihara tetap tegaknya ajaran Islam Ahlussunah walJamaah di Indonesia. Dengan demikian antara NU dan Aswaja mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan, NU sebagai organisasi / Jam iyyahmerupakan alat untuk menegakkan Aswaja dan Aswaja merupakan aqidah pokok Nahdlatul Ulama.Ulama secara lughowi (etimologis / kebahasaan) berarti orang yang pandai, dalam hal ini ilmu agama Islam. Begitu berharganya seorang Ulama,sampai Nabi pernah bersabda yang artinya :

Ulama itu pewaris Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewaiskan dirham atau dinar, melainkan hanyamewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang cukup banyak.

.Di Indonesia, seorang Ulama diidentikkan atau biasa disebut Kyai yang berarti orang yang sangat dihormati. Agar tidak gampang memperolehgelar Ulama atau Kyai, maka ada 3 kriteria yaitu :

Norma pokok yang harus dimiliki oleh seorang Ulama adalah ketaqwaan kepada Allah SWT.

Seorang Ulama mempunyai tugas utama mewarisi misi (risalah) Rasulullah SAW, meliputi : ucapan, ilmu, ajaran, perbuatan, tingkah laku, mentaldan moralnya.

Seorang Ulama memiliki tauladan dalam kehidupan sehari hari seperti : tekun beribadah, tidak cinta dunia, peka terhadap permasalahan dankepentingan umat & mengabdikan hidupnya di jalan Allah SWT.2. Kyai Hasyim Asyari dan NU : Pejuang SyariahKiai Hasyim Asyari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Kakeknya, Kiai Ustman,terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Ayah kakeknya, Kiai Sihah, adalah pendiriPesantren Tambakberas di Jombang.Sejak kecil hingga berusia empat belas tahun, putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, KyaiUtsman. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, sejak usia 15 tahun,ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain; mulai menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), PesantrenTrenggilis (Semarang), dan Pesantren Siwalan, Panji (Sidoarjo).Pada tahun 1892, Kiai Hasyim Asyari menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di Makkah. Di sana ia berguru kepada Syaikh Ahmad Khatibdan Syaikh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadis.Dalam perjalanan pulang ke Tanah Air, ia singgah di Johor, Malaysia, dan mengajar di sana. Pulang ke Indonesia tahun 1899, Kiai Hasyim Asyarimendirikan pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada Abad 20. Sejak tahun 1900, Kiai Hasyim Asyarimemosisikan Pesantren Tebuireng sebagai pusat pembaruan bagi pengajaran Islam tradisional. Di pesantren itu bukan hanya ilmu agama yang diajarkan,tetapi juga pengetahuan umum. Para santri belajar membaca huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi danberpidato.Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, Kiai Hasyim Asyari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti

kebangkitan ulama

. Organisasi ini berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim Asyari pun semakin besar dengan mendirikan organisasiNU, bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.Cikal-bakal berdirinya perkumpulan para ulama yang kemudian menjelma menjadi

Nahdhatul Ulama

(Kebangkitan Ulama) tidak terlepas darisejarah Khilafah. Ketika itu, tanggal 3 Maret 1924, Majelis Nasional yang bersidang di Ankara mengambil keputusan,

Khalifah telah berakhir tugas-tugasnya. Khilafah telah dihapuskan karena Khilafah, pemerintahan dan republik, semuanya menjadi satu gabungan dalam berbagai pengertian dankonsepnya.

Keputusan tersebut mengguncang umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Untuk merespon peristiwa itu, sebuah Komite Khilafah(

Comite Chilafat 

) didirikan di Surabaya tanggal 4 Oktober 1924 dengan ketua Wondosudirdjo (kemudian dikenal dengan nama Wondoamiseno) dari SarikatIslam dan wakil ketua KH A. Wahab Hasbullah dari golongan tradisi (yang kemudian melahirkan NU). Tujuannya untuk membahas undangan kongresKekhilafahan di Kairo

 

(

Bandera Islam,

16 Oktober 1924). Kemudian pada Desember 1924 berlangsung Kongres al-Islam yang diselenggarakan oleh KomiteKhilafah Pusat (

Centraal Comite Chilafat 

). Kongres memutuskan untuk mengirim delegasi ke Konferensi Khilafah di Kairo untuk menyampaikan proposalKhilafah. Setelah itu, diadakan lagi Kongres al-Islam di Yogyakarta pada 21-27 Agustus 1925. Topik Kongres ini masih seputar Khilafah dan situasi Hijazyang masih bergolak. Kongres diadakan lagi pada 6 Februari 1926 di Bandung; September 1926 di Surabaya, 1931, dan 1932. Majelis Islam Ala Indonesia(MIAI) yang melibatkan Sarikat Islam (SI), Nahdhatul ulama (NU), Muhammadiyah dan organisasi lainnya menyelenggarakan Kongres pada 26 Februarisampai 1 Maret 1938 di Surabaya. Arahnya adalah menyatukan kembali umat Islam.Meskipun pada awalnya, Kongres Al-Islam merupakan wadah untuk mengatasi perbedaan, pertikaian dan konflik di antara berbagai kelompok umat Islam akibat perbedaan pemahaman dan praktik keagamaan menyangkut persoalan

furiyah

(cabang), seperti dilakukan sebelumnya pada KongresUmat Islam (Kongres al-Islam Hindia) di Cirebon pada 31 Oktober-2 November 1922. Namun, pada perkembangan selanjutnya, lebih difokuskan untuk mewujudkan persatuan dan mencari penyelesaian masalah Khilafah.Lahirnya NU sendiri, yang merupakan kelanjutan dari Komite Merembuk Hijaz, yang tujuannya untuk melobi Ibnu Suud, penguasa Saudi saat itu,untuk mengakomodasi pemahaman umat yang bermazhab, jelas tidak terlepas dari sejarah keruntuhan Khilafah. Ibnu Suud sendiri adalah pengganti Syarif Husain, penguasa Arab yang lebih dulu membelot dari Khilafah Utsmaniyah. Jadi, secara historis lahirnya NU tidak terlepas dari persoalan Khilafah. Di sisilain, NU sejak kelahirannya tidak berpaham sekular dan tidak pula anti formalisasi. Bahkan NU memandang formalisasi syariah menjadi sebuah kebutuhan.Hanya saja, yang ditempuh NU dalam melakukan upaya formalisasi bukanlah cara-cara paksaan dan kekerasan, tetapi menggunakan cara gradual yangmengarah pada penyadaran. Hal ini karena sepak terjang NU senantiasa berpegang pada kaidah

fiqhiyah

seperti:

m l yudraku kulluh l yutraku kulluh

(apayang tidak bisa dicapai semua janganlah kemudian meninggalkan semua);

dar al-mafsid muqaddamun ala jalb al-mashlih

(mencegah kerusakan lebihdidahulukan daripada mengambil kemaslahatan). Sejarah NU menjadi bukti bahwa sejak kelahirannya NU justru

concern

pada perjuangan formalisasi Islam.KESIMPULANMelacak akar-akar sejarah munculnya istilah ahlul sunnah waljamaah, secara etimologis bahwa aswaja sudah terkenal sejak Rosulullah SAW.Sebagai konfigurasi sejarah, maka secara umum aswaja mengalami perkembangan dengan tiga tahab secara evolutif. Pertama, tahap embrional pemikiransunni dalam bidang teologi bersifat eklektik, yakni memilih salah satu pendapat yang dianggap paling benar. Pada tahap ini masih merupakan tahapkonsolidasi, tokoh yang menjadi penggerak adalah Hasan Al-Basri (110 H/728 M). Kedua, proses konsolidasi awal mencapai puncaknya setelah Imam Al-Syafii (205 H/820 M) berhasil menetapkan hadist sebagai sumber hukum kedua setelah Al- quran dalam konstruksi pemikiran hukum Islam. Pada tahapini, kajian dan diskusi tentang teologi sunni berlangsung secara intensif. Ketiga, merupakan kristalisasi teologi sunni disatu pihak menolak rasionalismedogma, di lain pihak menerima metode rasional dalam memahami agama. Proses kristalisasi ini dilakukan oleh tiga tokoh dan sekaligus ditempat yangberbeda pada waktu yang bersamaan, yakni; Abu Hasan Al-Asyari (324 H/935 M)di Mesopotamia, Abu Mansur Al-Maturidi (w.331 H/944 M) diSamarkand, Ahmad Bin Jafar Al-Thahawi (331 H/944 M) di Mesir. Pada zaman kristalisasi inilah Abu Hasan Al-Asyari meresmikan sebagai aliranpemikiran yang dikembangkan. Dan munculnya aswaja ini sebagai reaksi teologis-politis terhadap Mutazilah, Khowarij dan Syiah yang dipandang olehAsari sudah keluar dari paham yang semestinya.Lain dengan para Ulama NU di Indonesia menganggap aswaja sebagai upaya pembakuan atau menginstitusikan prinsip-prinsip tawasuth(moderat), tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang) serta taaddul (Keadilan). Perkembangan selanjutnya oleh Said Aqil Shiroj dalam mereformulasikanaswaja sebagai metode berfikir (manhaj al-fikr) keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berdasarkan atas dasar modernisasi, menjagakeseimbangan dan toleransi, tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka memberikan warna baru terhadap cetak biru (blue print) yang sudah mulai tidak menarik lagi dihadapan dunia modern

.Aswaja

I Pengantar Telaah terhadap Ahlussunnah Wal Jamaah ( Aswaja ) sebagai bagaian dari kajian keislaman merupakan upaya yang mendudukkan aswaja secaraproporsional, bukannya semata-mata untuk mempertahankan sebuah aliran atau golongan tertentu yang mungkin secara subyektif kita anggap baik karenarumusan dan konsep pemikiran teologis yang diformulasikan oleh suatu aliran, sangat dipengaruhi oleh suatu problem teologis pada masanya danmempunyai sifat dan aktualisasinya tertentu.Pemaksaan suatu aliran tertentu yang pernah berkembang di era tertentu untuk kita yakini, sama halnya dengan aliran teologi sebagai dogma dan sekaligusmensucikan pemikiran keagamaan tertentu. Padahal aliran teologi merupakan fenomena sejarah yang senantiasa membutuhkan interpretasi sesuai dengan

konteks zaman yang melingkupinya. Jika hal ini mampu kita antisipasi berarti kita telah memelihara kemerdekaan (hurriyah); yakni kebebasan berfikir (hurriyah al-rayi), kebebasan berusaha dan berinisiatif (hurriyah al-irodah) serta kebebasan berkiprah dan beraktivitas (hurriyah al-harokah) (Said AqilSiradj : 1998).Berangkat dari pemikiran diatas maka persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana meletakkan aswaja sebagai metologi berfikir (manhaj al-fikr)?.Jika mengharuskan untuk mengadakan sebuah pembaharuan makna atau inpretasi, maka pembaharuan yang bagaimana bisa relevan dengankepentingan Islam dan Umatnya khususnya dalam intern PMII. Apakah aswaja yang telah dikembangkan selama ini didalam tubuh PMII sudah masuk dalam kategori proporsional? Inilah yang mungkin akan menjadi tulisan dalam tulisan ini.II Aswaja Dan PerkembangannyaMelacak akar-akar sejarah munculnya istilah ahlul sunnah waljamaah, secara etimologis bahwa aswaja sudah terkenal sejak Rosulullah SAW. Sebagaikonfigurasi sejarah, maka secara umum aswaja mengalami perkembangan dengan tiga tahab secara evolutif. Pertama, tahab embrional pemikiran sunnidalam bidang teologi bersifat eklektik, yakni memilih salah satu pendapat yang dianggap paling benar. Pada tahab ini masih merupakan tahab konsolidasi,tokoh yang menjadi penggerak adalah Hasan al-Basri (w.110 H/728 M). Kedua, proses konsolidasi awal mencapai puncaknya setelah Imam al-SyafiI(w.205 H/820 M) berhasil menetapkan hadist sebagai sumber hukum kedua setelah Al- quran dalam konstruksi pemikiran hukum Islam. Pada tahab ini,kajian dan diskusi tentang teologi sunni berlangsung secara intensif. Ketiga, merupakan kristalisasi teologi sunni disatu pihak menolak rasionalisme dogma,di lain pihak menerima metode rasional dalam memahami agama. Proses kristalisasi ini dilakukan oleh tiga tokoh dan sekaligus ditempat yang berbeda padawaktu yang bersamaan, yakni; Abu Hasan al-Asyari (w.324 H/935 M)di Mesopotamia, Abu Mansur al-Maturidi (w.331 H/944 M) di Samarkand, AhmadBin Jafar al-Thahawi (w.331 H/944 M) di Mesir. ( Nourouzzaman Shidiqi : 1996). Pada zaman kristalisasi inilah Abu Hasan al-Asyari meresmikan sebagaialiran pemikiran yang dikembangkan. Dan munculnya aswaja ini sebagai reaksi teologis-politis terhadap Mutazilah, Khowarij dan Syiah yang dipandangoleh Asari sudah keluar dari paham yang semestinya.Lain dengan para Ulama NU di Indonesia menganggap aswaja sebagai upaya pembakuan atau menginstitusikan prinsip-prinsip tawasuth (moderat),tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang) serta taaddul (Keadilan). Perkembangan selanjutnya oleh Said Aqil Shiroj dalam mereformulasikan aswajasebagai metode berfikir (manhaj al-fikr) keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berdasarkan atas dasar modernisasi, menjagakeseimbangan dan toleransi, tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka memberikan warna baru terhadap cetak biru (blue print) yang sudah mulai tidak menarik lagi dihadapan dunia modern. Dari sinilah PMII menggunakan aswaja sebagai manhaj al fikr dalam landasan gerak.III Aswaja Sebagai Manhaj al-fikr Dalam wacana metode pemikiran, para teolog klasik dapat dikategorikan menjadi empat kelompok. Pertama, kelompok rasioalis yang diwakili oleh aliranMutazilah yang pelapori oleh Washil bin Atho, kedua, kelompok tekstualis dihidupkan dan dipertahankan oleh aliran salaf yang munculkan oleh IbnuTaimiyah serta generasi berikutnya. Ketiga, kelompok yang pemikirannya terfokuskan pada politik dan sejarah kaum muslimin yang diwakili oleh syiahdan Khawarij, dan keempat, pemikiran sintetis yang dikembangkan oleh Abu Hasan al-Asyari dan Abu Mansur al-Maturidi.Didalam PMII Aswaja dijadikan Manhajul Fikri artinya Aswaja bukan dijadikan tujuan dalam beragama melainkan dijadikan metode dalam berfikir untuk mencapai kebenaran agama. Walaupun banyak tokoh yang telah mencoba mendekontruksi isi atau konsep yang ada dalam aswaja tapi sampai sekarangAswaja dalam sebuah metode berfikir ada banyak relevasinya dalam kehidupan beragama, sehingga PMII lebih terbuka dalam mebuka ruang dialektikadengan siapapun dan kelompok apapun.Rumusan aswaja sebagai manhajul fikri pertama kali diintrodusir oleh Kang Said (panggilan akrab Said Aqil Siradj) dalam sebuah forum di Jakarta padatahun 1991. Upaya dekonstruktif ini selayaknya dihargai sebagai produk intelektual walaupun juga tidak bijaksana jika diterima begitu saja tanpa adadiscourse panjang dan mendalam dari pada dipandang sebagai upaya merusak norma atau tatanan teologis yang telah ada. Dalam perkembangannya,akhirnya rumusan baru Kang Said diratifikasi menjadi konsep dasar aswaja di PMII. Prinsip dasar dari aswaja sebagai manhajul fikri meliputi ; tawasuth(mederat), tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang). Aktualisasi dari prinsip yang pertama adalah bahwa selain wahyu, kita juga memposisikan akal padaposisi yang terhormat (namun tidak terjebak pada mengagung-agungkan akal) karena martabat kemanusiaan manusia terletak pada apakah dan bagaimanadia menggunakan akal yang dimilikinya. Artinya ada sebuah keterkaitan dan keseimbangan yang mendalam antara wahyu dan akal sehingga kita tidak terjebak pada paham skripturalisme (tekstual) dan rasionalisme. Selanjutnya, dalam konteks hubungan sosial, seorang kader PMII harus bisa menghargai danmentoleransi perbedaan yang ada bahkan sampai pada keyakinan sekalipun. Tidak dibenarkan kita memaksakan keyakinan apalagi hanya sekedar pendapatkita pada orang lain, yang diperbolehkan hanyalah sebatas menyampaikan dan mendialiektikakakan keyakinan atau pendapat tersebut, dan ending-nyadiserahkan pada otoritas individu dan hidayah dari Tuhan. Ini adalah menifestasi dari prinsip tasamuh dari aswaja sebagai manhajul fikri. Dan yang terakhir adalah tawazzun (seimbang). Penjabaran dari prinsip tawazzun meliputi berbagai aspek kehidupan, baik itu perilaku individu yang bersifat sosial maupundalam konteks politik sekalipun. Ini penting karena seringkali tindakan atau sikap yang diambil dalam berinteraksi di dunia ini disusupi oleh kepentingansesaat dan keberpihakan yang tidak seharusnya. walaupun dalam kenyataannya sangatlah sulit atau bahkan mungkin tidak ada orang yang tidak memilikikeberpihakan sama sekali, minimal keberpihakan terhadap netralitas. Artinya, dengan bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa memandang danmenposisikan segala sesuatu pada proporsinya masing-masing adalah sikap yang paling bijak, dan bukan tidak mengambil sikap karena itu adalahmanifestasi dari sikap pengecut dan oportunis.IV PenutupIni bukanlah sesuatu yang saklek yang tidak bisa direvisi atau bahkan diganti sama sekali dengan yang baru, sebab ini adalah hanya sebuah produk intelektual yang sangat dipengaruhi ruang dan waktu dan untuk menghindari pensucian pemikiran yang pada akhirnya akan berdampak pada kejumudan danstagnasi dalam berpikir. Sangat terbuka dan kemungkinan untuk mendialektikakan kembali dan kemudian merumuskan kembali menjadi rumusan yangkontekstual. Karena itu, yakinlah apa yang anda percayai saat ini adalah benar dan yang lain itu salah, tapi jangan tutup kemungkinan bahwa semuanya itubisa berbalik seratus delapan puluh derajat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASWAJA: Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah Versi NU

Pengantar

Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah (sunnism) adalah kelompok, paham atau aliran keagamaan mayoritas umat Islam. Dewasa ini sedikitnya ada 53 negara yang mayoritas umat Islamnya berfaham sunni>, termasuk Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah mencerminkan karakter sawa>d al-az}am (kelompok mayoritas umat Islam) yang patut diikuti pendapat, dan cara berpikirnya. Rasulullah Saw. bersabda :

Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat atas kesesatan, maka apabila kamu sekalian menjumpai perbedaan pendapat (di antara umat Islam), maka wajib atas kamu sekalian (mengikuti) golongan mayoritas (HR. Ibnu Majah

Selain itu, Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah adalah kelompok yang konsisten terhadap sunnah nabi dan para sahabat. Sehingga, diantara berbagai friksi (kelompok) umat Islam, kelompok ini dapat diyakini sebagai kelompok yang selamat, sesuai dengan hadits nabi :

 

Ummat Yahudi terpecah 71 atau 72 golongan, dan umat Nasrani terpecah juga sejumlah itu. Ummatku (akan) terpecah menjadi 73 golongan. Semua masuk neraka kecuali satu golongan. Sahabat bertanya: Siapakah golongan itu, ya Rasul? Rasul menjawab: Yang mengikuti aku dan sahabatku (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, di tengah kesimpang-siuran aliran keagamaan yang berkembang di tengah-tengah umat Islam saat ini, mengikuti Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah adalah pilihan yang tepat. Permasalahannya ialah, aliran-aliran itu baik langsung atau tidak sama-sama mengklaim sebagai bagian dari Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah. Padahal ekspresi keagamaan dan keyakinan mereka berbeda-beda. Sebut saja misalnya antara NU, Muhammadiyah, Persis, dan berbagai kelompok keagamaan baru yang ada di Indonesia dewasa ini

Tulisan ini, bermaksud memberikan deskripsi tentang Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah di lingkungan NU yang lebih dikenal dengan akronim ASWAJA. Asumsi yang mendasari tulisan ini ialah bahwa ASWAJA merupakan imlpementasi yang khas dari Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah pada komunitas muslim terbesar di Indonesia yang tergabung dalam Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Untuk memperjelas ke-khasan Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah di kalangan NU dimaksud, dewasa ini digunakan istilah Ahlussunnah wal-Jamaah an-Nahdliyyah

Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah dalam Dinamika Historis

a. Semula, Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah merupakan identitas bagi kelompok umat Islam yang menjauhkan diri dari rentetan konflik sepeninggal nabi. Komunitas ini lahir pada era ta>bii>n. Mulai H{asan al-Bis}ri> (w. 110/728 H) sampai Ah}mad b. H{anbal (w. 241 H/855 M). Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah era ini identik dengan Ahl al-H}adi>th, lawan dari Ahl al-Kala>m. Pada era ini, Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah berseberangan dengan Shi>`ah, Mu`tazi>lah dan Mutakallimu>n (ahli `Ilmu Kala>m). Corak Ahl al-Sunnah wa al-Jama>`ah era ini adalah taqdi>m al-Nas}s} `ala> al-`Aql (mendahulukan nas}s} dari pada akal). Pemikiran mereka ini relatif dapat menengahi antara ekstremitas Mutazi>lah dan Mujassimah, juga Qadiriyyah dan Jabba>riyah.

b. Berikutnya Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah dinisbatkan kepada para pengikut pemikiran imam al-Asyari (w. 324 H/935 M) dan para penerusnya. Pada era ini,  Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah mengalami rasionalisasi dari corak skriptualis Ahl al-H}adi>th serta relatif dapat menengahi pertentangan Ahl al-H{adi>ts dan rasionalitas kalam Mu`tazi>lah. Meskipun demikian, corak ini tidak tunggal, karena pemikiran teologi Ash`ariyah mengalami penyempurnaan-penyempurnaan oleh al-Ma>turi>di> (w. 333 H/994 M), al-Ba>qilla>ni> (w. 403 H/ 1012 M), dan al-Juwayni> atau Ima>m H{aramayn (w. 443 H/1051 M). Kemudian di tangan Al-Ghaza>li> (w. 505 H/1111 M), berkembang menjadi lebih luas ke wilayah tasawuf.

c.    Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah mengalami pelembagaan era al-Qa>dir (w. 422 H/1030 M) yang secara konstitusional menegaskan Ahl al-Sunnah wa al-Jama>`ah sebagai paham resmi negara dan memberlakukan peradilan berdasarkan empat madhhab (madha>hib al-arba`ah), disertai pengangkatan al-Ma>wardi seorang ulama bermadhhab Sha>fii<> sebagai Qad}i al-Qud}d}a>t (hakim agung). Penegasan ini tertuang dalam Risalah Qa>diriyyah. Momentum ini juga menandai pelembagaan Sunnisme pada bidang Fiqh.

d.    Pada era kontemporer, Berkembanglah gerakan pembaharuan Islam yang sebagai kelanjutan dari pemikiran Muh}ammad bin Abd al-Wahha>b (wahha>biyyah). Gerakan  ini bertumpu pada upaya purifikasi (pemurnian) Islam secara puritan. Gerakan ini merupakan kelanjutan dari  corak skriptualisme Ibn H{anbal, Ibn Taymiyyah, dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Mereka membidahkan berbagai ritual dan tradisi keagamaan umat Islam karena dinilai tidak didasarkan dalil-dalil nass yang sah dan sebaliknya, terkontaminasi budaya lokal dan tradisi dari luar Islam. Gerakan ini juga menyerukan ijtihad dan menolak taqlid kepada madzhab-madzhab. Kelompok pendukung Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah dalam hal ini berusaha keras membendung gerakan penerus Wahha>biyah. Di sisi lain, Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah juga menjadi respons atas gagasan modernisme yang cenderung mengadopsi pranata-pranata dari Barat.

AswajaPemahaman Singkat tentang Prinsip dan Ajarannya

a. Substansi Aswaja

Kelahiran NU tidak bisa dipisahkan dari dinamika kontemporer tersebut. Atau merupakan respons terhadap Wahhabiyah dan Islam Modernis. Hal ini tampak dalam seruan KHM. Hasyim Asyari kepada para ulama pengikut madzahib al-arbaah untuk bergabung ke dalam  jamiyah NU. Seruan ini tertuang dalam Muqaddimah Qanun Asasi NU. Tujuannya ialah untuk memagari umat dari propaganda para ahli bidah. Yang dimaksud tentu saja adalah para pendukung ajaran Wahhabi. Mereka ini selalu mencela tradisi-tradisi seperti tahli>lan, ziya>rah qubur, qunut, tawassul dan lain-lain sebagai perbuatan Bidah. Selain itu, mereka menganggap kebiasaan-kebiasaan para santri yang lain sebagai sesuatu yang mengandung unsur Tah}ayyul dan Khurafa>t. Mereka juga menyatakan bahwa kepengikutan terhadap ajaran madzhab merupakan sumber bidah dan kejumudan, dan oleh karenanya umat Islam harus berijtihad (ruju> ila al-Qura>n wa al-Sunnah).

Dengan demikian, yang dimaksud dengan Aswaja oleh NU adalah pola keberagamaan bermadzhab. Pola ini diyakini menjamin diperolehnya pemahaman agama yang benar dan otentik, karena secara metodologis dapat dipertanggungjawabkan transmisinya dari Rasulullah sebagai penerima wahyu sampai kepada umat di masa kini. Metode ini mempersyaratkan adanya Tasalsul (mata rantai periwayatan). Pola ini juga merupakan jalan tengah antara taqli>d buta dan keharusan ber-ijtiha>d. Karena sistem kemadzhaban berintikan penghargaan terhadap mata rantai periwayatan, maka di dalam tradisi NU, ulama adalah sosok yang sangat dihormati dan menjadi sokoguru jamiyah. Karena ia adalah sosok transmitter (wasilah) ajaran Islam (syuhud aynis-Syariah).

Pada perkembangannya, definisi Aswaja dirumuskan sebagai berikut : Paham keagamaan yang dalam bidang Fiqh mengikuti salah satu dari madzhab empat (H{anafi>, Ma>liki>, Sya>fii>, dan H{anbali>) ; dalam bidang Aqidah mengikuti Imam Asyari dan Imam Maturidzi, dan ;  dalam bidang Tasawuf mengikuti Imam Ghaza>li> dan Imam Junayd al-Baghda>di>. Definisi tersebut sebenarnya merupakan penyederhanaan dari konsep keberagamaan bermadzhab.

Pada Munas Alim Ulama di Lombok, dicetuskan bahwa kepengitutan terhadap madzhab tidak hanya secara Qawlan (produk yang dihasilkan) saja, tetapi juga Manhajiyyan (metode berpikirnya). Keputusan Ini juga menjadi jawaban atas kritikan bahwa pola bermadzhab dalam tradisi keagamaan NU itu ternyata membuat umat jumud, tidak berkembang.

b. Corak Aswaja

Aswaja mengembangkan prinsip moderasi dan toleransi. Moderasi yang dimaksud adalah penerjemahan dari tiga prinsip yang sebenarnya merupakan karakteristik Islam itu sendiri, yaitu at-tawassuth, al-itidal, dan at-tawazun. Seperti halnya dijelaskan dalam al-Quran, kata  berarti mengambil jalan tengah (QS. Al-Baqarah:143) ;   berarti tegak lurus, tidak condong ke kanan-kananan atau ke kiri-kirian (QS. Al-Maidah:9) ;   berarti seimbang (QS. Al-Hadid:25). Sedangkan toleransi ( ) sebenarnya merupakan penerjemahan nyata dari fungsi Islam sebagai rahmatan lil-`alamin.

Toleran tidak berarti kompromistis dengan mencampur adukkan semua unsur (sinkretis), bukan berarti eksklusif (mengucilkan diri dan menolak semua unsur), Sedangkan yang dimaksud toleran tidak berarti permisif (menerima/membolehkan apa saja) atau juga bersikap oportunistik. Toleran adalah sikap terbuka terhadap perbedaan. Termasuk di dalamnya perbedaan agama. Sementara, perbedaan di tengah umat disikapi sebagai keniscayaan, sejauh perbedaan tersebut tetap berada pada koridornya (majalul-ikhtilaf). Karena itu, perbedaan harus disikapi secara arif dengan mengedepankan musyawarah, tidak boleh disikapi secara radikal dan ekstrem.

Moderasi sebagai karakter Aswaja dimaksud sesuai dengan perkembangan historis Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah sebagaimana diuraikan di atas. Sehingga dengan demikian, Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah menolak segala bentuk ekstremitas pemikiran maupun gerakan keagamaan dan mencoba mencarikan jalan tengah sebagai solusi alternatif dari kecenderungan kedua ekstremitas.

Meskipun meyakini bahwa jalan tengah adalah jalan yang benar, namun Aswaja  tidak mengajarkan penggunaan jalan puritan sebagai bagian untuk memperjuangkan keyakinan. Hal ini, karena Aswaja mengajarkan sikap tasamuh. Aswaja lebih mengedepankan prinsip toleran (al-tasa>muh}) dalam melihat realitas keagamaan dan aktualisasinya yang berbeda-beda. Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah tidak pernah menampakkan wajahnya yang garang di dalam perang pemikiran (ghazw al-fikr).

Dalam konteks dinamika pemikiran Islam saat ini yang diwarnai berkembangnya berbagai aliran keagamaan (Islam), eksistensi Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah dapat diamati dari konsistensi memegangi kedua prinsip di atas. Secara substansial, pemikiran Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah dapat sama atau serupa dengan ideologi-ideologi lain, atau merupakan perpaduan sisi-sisi tertentu dari kecenderungan berbeda ideologi-ideologi tersebut. Namun yang pasti Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah, selalu menampakkan platform moderasi dan toleransinya.

Prinsip dan sikap ini hendaklah diterapkan di segala bidang. Baik pada bidang akidah, syariah akhlaq atau tasawuf, sosial kemasyarakatan, pengembangan kebudayaan, sampai bidang politik dan kenegaraan. Inilah yang membedakan Aswaja NU dengan sementara kelompok yang cenderung puritan dalam mendakwahkan keyakinannya, mudah mengkafirkan pihak lain, dan cenderung eksklusif.

Sikap seperti di ataslah yang membuat NU dapat diterima dan bekerjasama dengan semua kalangan, baik dalam internal umat Islam, lintas agama dan bahkan dalam hubungan-hubungan internasional. Hal ini dikarena NU mampu menyajikan Islam yang rah}matan lil-A<lami>n, ramah, toleran, dan tidak ekstrem.

c. Sikap terhadap Tradisi

Dalam konteks budaya, Aswaja mengandung penghargaan terhadap tradisi lama yang sudah baik dan  sikap responsif terhadap inovasi baru yang lebih bagus (al-muh}a>fadhoh ala> al-qadi>m al-s}a>lih} wa al-akhd bi al-jadi}d al-as}lah}). Dengan demikian, Aswaja mengajarkan kita untuk lebih selektif terhadap pranata budaya kontemporer, tidak serta merta mengadopsinya sebelum dipastikan benar-benar mengandung maslahat. Demikian juga terhadap tradisi lama yang sudah berjalan, tidak boleh meremahkan dan mengabaikannya sebelum benar-benar dipastikan tidak lagi relevan dan mengandung maslah}at. Sebaiknya tradisi-tradisi tersebut perlu direaktualisasi sesuai dengan perkembangan aktual apabila masih mengandung relevansi dan kemaslahatan.

Karakter ini berseberangan dengan keyakinan sementara kelompok yang cara beragamanya skriptualis, tekstualis dan juga formalis. Sehingga memandang bahwa segala apa yang tidak didapati pada amalan rasulullah dan para sahabatnya dianggap serba bidah dan sesat. Padahal, menurut paham Aswaja, tidak semua hal yang tidak didapati pada nass (al-Quran dan al-Sunnah) bisa disebut bidah dlalalah (sesat), sebaliknya, terdapat juga bidah yang baik (hasanah).

Waallahu Alam