TAHLILAN (KENDURI ARWAH - SELAMATAN KEMATIAN)
MENURUT MADZHAB IMAM SYAFII

Disertai Komentar Ulama Lainnya Tentang Membaca al-Quran Untuk Orang Mati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MUQADDIMAH

ya@ya@a@i


 

 

 

 

 

Masyarakat muslim Indonesia adalah mayoritas penganut madzhab Imam Syafii atau biasa disebut
sebagai Syafiiyah (penganut Madzhab Syafii). Namun, sebagain lainnya ada yang tidak bermadzhab
Syafii. Di Indonesia, Tahlilan banyak dilakukan oleh penganut Syafiiyah walaupun yang lainnya pun
ada juga yang melakukannya. Tentunya tahlilan bukan sekedar kegiatan yang tidak memiliki dasar
dalam syariat Islam, bahkan kalau ditelusuri dan dikaji secara lebih mendalam secara satu persatu
amalan-amalan yang ada dalam tahlilan maka tidak ada yang bertentangan dengan hukum Islam,
sebaliknya semuanya merupakan amalah sunnah yang diamalkan secara bersama-sama. Oleh karena
itu, ulama seperti walisongo dalam menyebarkan Islam sangatlah bijaksana dan lihai sehingga Islam
hadir di Indonesia dengan tanpa anarkis dan frontal, salah satu buahnya sekaligus kelihaian dari para
ulama walisongo adalah diperkenalkannya kegiatan tahlilan dengan sangat bijaksana.

 

Tahlilan, sebagian kaum Muslimin menyebutnya dengan majelis tahlil, selamatan kematian,

kenduri arwah dan lain sebagainya. Apapun itu, pada dasarnya tahlilan adalah sebutan untuk sebuah kegiatan dzikir dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Taalaa. Yang mana didalamnya berisi kalimat-kalimat thayyibah, tahmid, takbir, tasybih hingga shalawat, doa dan permohonan ampunan untuk orang yang meninggal dunia, pembacaan al-Quran untuk yang meninggal dunia dan yang lainnya. Semua ini merupakan amaliyah yang tidak ada yang bertentangan dengan syariat Islam bahkan merupakan amaliyah yang memang dianjurkan untuk memperbanyaknya.

 

Istilah tahlilan sendiri diambil dari mashdar dari fiil madzi Hallalla - Yuhallilu - Tahlilan, yang

bermakna membaca kalimat Laa Ilaaha Ilaallah. Dari sini kemudian kegiatan merahmati mayyit ini di namakan tahlilan karena kalimat thayyibah tersebut banyak dibaca didalamnya dan juga penamaan seperti ini sebagaimana penamaan shalat sunnah tasbih, dimana bacaan tasbih dalam shalat tersebut dibaca dengan jumlah yang banyak (300 kali), sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Namun, masingmasing tempat kadang memiliki sebutan tersendiri yang esensinya sebenarnya sama, sehingga ada yang menyebutnya sebagai Majelis Tahlil, Selamatan Kematian, Yasinan (karena dimulai dengan pembacaaan Yasiin), Kenduri Arwah, Tahlil, dan lain sebagainya.

 

Tahlilan sudah ada sejak dahulu, di Indonesia pun atau Nusantara pun tahlilan sudah ada jauh sebelum munculnya aliran yang kontra, yang mana tahlilan di Indonesia di prakarsai oleh para ulama seperti walisongo dan para dai penyebar Islam lainnya. Tahlilan sebagai warisan walisongo terus di laksanakan oleh masyarakat muslim hingga masa kini bersamaan dengan sikap kontra segelintir kaum muslimin yang memang muncul di era-era dibelakangan. Dalam bahasan ini setidaknya ada beberapa hal pokok dalam tahlilan yang harus dipaparkan sebab kadang sering dipermasalah. Untuk mempermudah memahami masalah ini yakni amaliyah-amaliyah masyru yang terdapat dalam tahlilan (kenduri arwah) maka bisa di rincikan sebagai berikut :

 

I. DOA UNTUK ORANG MATI

 

Kaitan dengan doa, hal ini tidak begitu dipermasalahkan, sebab telah menjadi kepakatan ulama ahlus sunnah wal jamaah bahwa doa sampai kepada orang mati dan memberikan manfaat bagi orang mati. Begitu banyak dalil yang menguatkan hal ini. Diantaranya dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagaimana Allah Subhanahu wa Taalaa telah berfirman :

ﻢﻴﺣ ﻚﻧ ﺎﻨﺑ ﻮﻨﻣ ﻦﻳﺬﻠﻟ ﻼﻏ ﺎﻨﺑﻮﻠﻗ ﻲﻓ ﻞﻌﺠﺗ ﺎﻤﻳﻹﺎﺑ ﺎﻧﻮﻘﺒﺳ ﻦﻳﺬﻟ ﺎﻨﻧﻮﺧﻹ ﺎﻨﻟ ﺮﻔﻏ ﺎﻨﺑ ﻮﻟﻮﻘﻳ ﻢﻫﺪﻌﺑ ﻦﻣ ﺎﺟ ﻦﻳﺬﻟ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: "Ya
Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari
kami,
dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang
yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."
(QS. al-Hasyr 59 ; 10)

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa taalaa memberitahukan bahwa orang-orang yang datang setelah
para sahabat Muhajirin maupun Anshar mendoakan dan memohonkan ampun untuk saudara-
saudaranya yang beriman yang telah (wafat) mendahului mereka sampai hari qiamat. 1 Mereka yang

 

 

1 Lihat : Tafsirul Jalalain karya al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli (asy-Syafii).


 

 

 

 

 

 

dimaksudkan adalah para tabiin dimana mereka datang setelah masa para sahabat, mereka berdoa
untuk diri mereka sendiri dan untuk saudara mukminnya serta memohon ampun untuk mereka. 2

ﺎﻨﻣﺆﻤﻟ ﻦﻴﻨﻣﺆ ﻤﻠ ﻚﺒﻧ ﺬﻟ ﺮﻔﻐﺘ ﺳ

dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan (QS. Muhammad 47 : 19)

 

Ayat ini mengisyaratkan bermanfaatnya doa atau permohonan ampun oleh yang hidup kepada orang yang meninggal dunia. Serta perintah untuk memohonkan ampunan bagi orang-orang mukmin.

ﺎﺒﺗ ﻦﻴﻤﻟﺎﻈﻟ ﺰﺗ ﺎﻨﻣﺆﻤﻟ ﻦﻴﻨﻣﺆﻤﻠﻟ ﺎﻨﻣﺆﻣ ﻲﺘﻴﺑ ﻞﺧ ﻦﻤﻟ ﺪﻟﻮﻟ ﻲﻟ ﺮﻔﻏ

Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan. (QS. Nuh 71 : 28)

 

Allah Subhanahu wa Taalaa juga berfirman :

ﻢﻬﻟ ﻦﻜﺳ ﻚﺗ ﻼﺻ ﻢ ﻬﻴﻠﻋ ﻞﺻ

dan mendo'alah untuk mereka, sesungguhnya do'a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa

bagi mereka (QS. at-Taubah : 104)

 

Frasa shalli alayhim maksudnya adalah berdolah dan mohon ampulan untuk mereka, 3 ini

menunjukkan bahwa doa bermanfaat kepada orang lain.

ﻼﺴﻟ ﻮﻘﻴﻓ ﻊﻴﻘﺒﻟ ﻰﻟ ﻞﻴﻠﻟ ﺮﺧ ﻦﻣ ﺮﺨﻳ ﻢﻠﺳ ﻪﻴﻠﻋ ﻰﻠﺻ ﻮﺳ ﻦﻣ ﺎﻬﺘﻠﻴﻟ ﺎﻛ ﺎﻤﻠﻛ ﻢﻠﺳ ﻪﻴﻠﻋ ﻰﻠﺻ ﻮﺳ ﺎﻛ
.ﺪﻗﺮﻐﻟ ﻊﻴﻘﺑ ﻞﻫﻷ ﺮﻔﻏ ﻢﻬﻠﻟ ﻮﻘﺣﻻ ﻢﻜﺑ ﺎﺷ ﺎﻧ ﻮﻠﺟﺆﻣ ﺪﻏ ﺪﻋﻮﺗ ﺎﻣ ﻢﻛﺎﺗ ﻦﻴﻨﻣﺆﻣ ﻮﻗ ﻢﻜﻴﻠﻋ

Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam pada malam hari yaitu keluar pada akhir malam ke
pekuburan Baqi, kemudian Rasulullah mengucapkan Assalamualaykum dar qaumin

muminin wa ataakum ma tuaduwna ghadan muajjaluwna wa innaa InsyaAllahu bikum laa hiquwn, Allahummaghfir lil-Ahli Baqi al-Gharqad. 4

Ini salah satu ayat dan hadits yang menyatakan bahwa mendoakan orang mati adalah masyru
(perkara yang disyariatkan), dan menganjurkan kaum muslimin agar mendoakan saudara muslimnya
yang telah meninggal dunia. Banyak-ayat-ayat serupa dan hadits-hadits yang menunjukkan hal itu.

 

Ulama besar madzhab Syafiiyah yaitu al-Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar menyebutkan :

ﻦﻣ ﺎﺟ ﻦﻳ ﺬ} :ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻪﻠﻟ ﻮﻘﺑ ﺠﺘﺣﻮ ﻢﻬﻠﺼﻳ ﻢﻬﻌﻔﻨﻳ ﻮﻣﻸﻟ ﺎﻋﺪﻟ ﻰﻠﻋ ﺎﻤﻠﻌﻟ ﻊﻤﺟ : ﻩﺮﻴﻏ ﻮﻗ ﻦﻣ ﻴﻤﻟﻊﻔﻨﻳﺎﻣ ﺎﺑ

ﻪﻟﻮﻘﻛﻮﻬﺸﻤﻟﺚﻳﺎﺣﻷﻲﻓﺎﻫﺎﻨﻌﻤﺑﻮﻬﺸﻤﻟﺎﻳﻵﻦﻣﻚﻟﺮﻴﻏ{ﺎﻤﻳﻹﺎﺑ ﺎﻧﻮ ﺒﺳ ﻦﻳﺬﻟ ﺎﻨ ﻹ ﺎﻨﻟﻔﻏ ﺎﻨﱠﺑ ﻟﻮﻘ


.ﻚﻟ ﺮﻴﻏ " ﺎﻨﻴ " :ﻢﻠﺳ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟ ﻰﻠﺻ ﻪﻟﻮﻘﻛ " ﺪﻗ


ﻮﺧ ﻢﻫﺪﻌ
ﻊﻴ ﻘﺑ ﻞﻫﻷ " :ﻢﻠﺳ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟ ﻰﻠﺻ


ﻟﺤ ﺮﻔ ﻠﻢﻬﱠ ﺮﻔ ﻠﻢﻬﱠ


Bab perkataan dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi mayyit : Ulama telah ber-ijma

(bersepakat ) bahwa doa untuk orang meninggal dunia bermanfaat dan pahalanya sampai

kepada mereka. Dan Ulama berhujjah dengan firman Allah : {Dan orang-orang yang

datang sesudah mereka, mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-

saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami (59:10)}, dan ayat-ayat lainnya yang
maknanya masyhur, serta dengan hadits-hadits masyhur seperti doa Nabi shallallahu alayhi
wa sallam ya Allah berikanlah ampunan kepada ahli pekuburan Baqi al-Gharqad, juga doa :

 

 

 

2 Lihat : Tafsir Maalimut Tanzil lil-Imam al-Baghawi asy-Syafii (w. 516 H).

3 Lihat ; Ibid. Ash-Shalah menurut bahasa adalah doa. Frasa sakanun lahum yaitu sesunguhnya doamu sebagai rahmat bagi mereka, ini qaul Ibnu Abbas. ; Juga didalam Tafsir al-Quran al-Adhiim, Ibnu Katsir.

4 Shahih Muslim no. 1618 ; Sunan an-Nasai no. 2012 ; Assunanul Kubra lil-Imam al-Baihaqiy (4/79) ; Musnad Abu Yala no. 4635 ; Shahih Ibnu Hibban no. 3239 ;

 


 

 

 

 

 

 

ya Allah berikanlah Ampunan kepada yang masih hidup dan sudah meninggal diantara

kami, dan hadits- yang lainnya. 5

 

Didalam Minhajuth Thalibin :

 

.ﻲﺒﻨﺟ ﻦﻣ ﺎﻋ ﺔﻗﺪﺻ ﺖﻴﻤﻟ ﻊﻔﻨﺗ

dan memberikan manfaat kepada mayyit berupa shadaqah juga doa dari ahli waris dan orang lain 6

 

Imam al-Mufassir Ibnu Katsir asy-Syafii terkait doa dan shadaqah juga menyatakan sampai.

 

ﺎﻤﻬﻴﻠﻋ ﺎﺸﻟ ﻦﻣ ﻮﺼﻨﻣ ﺎﻤﻬﻟﻮﺻ ﻰﻠﻋ ﻊﻤﺠﻣ ﺬﻓ ﺔﻗﺪﺼﻟ ﺎﻋﺪﻟ ﺎﻣﺄﻓ

Adapun doa dan shadaqah, maka pada yang demikian ulama telah sepakat atas sampainya pahala keduanya, dan telah ada nas-nas dari syariat atas keduanya. 7

 

Syaikh an-Nawawi al-Bantani (Sayyid Ulama Hijaz) didalam Nihayatuz Zain :

ﺔﺑﺎﺟﻺﻟ ﺮﻗ ﺮﻘﻟﺐﻘﻋ ﺖﻴﻤﻟﻊﻔﻨﻳﺎﻋﺪﻟ

dan doa memberikan manfaat bagi mayyit, sedangkan doa yang mengiringi pembacaan al-

Quran lebih dekat di ijabah.8

 

Syaikh al-Allamah Zainudddin bin Abdul Aziz al-Malibari didalam Fathul Muin :

ﺪﻌﺑ ﻪﻨﻋ ﻩﺮﻴﻏ ﻦﻣ ﻪﺗﺎﻴﺣ ﻲﻓ ﻪﻨﻣ ﺮﺠﺷ ﺮﻏ ﺮﺌﺑ ﺮﻔﺣ ﺪﺠﺴﻣ ﺎﻨﺑ ﻩﺮﻴﻏ ﻒﺤﺼﻤﻟ ﻒﻗ ﺎﻬﻨﻣ ﻪﻨﻋ ﺔﻗﺪﺻ ﻩﺮﻴﻏ ﻦﻣ ﺎﺘﻴﻣ ﻊﻔﻨﺗ

ﺎﻣ ﱠﻻ ﺎﺴﻧ ﺲﻴﻟ } :ﻰﻟﺎﻌﺗﻪﻟﻮﻗﻪﻟﻩﺪﻟﺎﻔﻐﺘﺳﺎﺑﺔﻨﺠﻟﻲﻓﺪﺒﻌﻟﺔﺟﻊﻓﺮﻳﻰﻟﺎﻌﺗﺮﺒﺨﻟﻲﻓﺢﺻﺎﻋﺎﻤﺟﻪﻟﺎﻋ.ﻪﺗﻮﻣ

.ﻮﺴﻨﻣ ﻞﻴﻗ ﻚﻟﺬﺑ ﻮﺼﺨﻣ ﺎﻋ { ﺳﻰ

dan memberikan manfaat bagi mayyit dari ahli waris atau orang lain berupa shadaqah
darinya, diantara contohnya adalah mewaqafkan mushhaf dan yang lainnya, membangun
masjid, sumur dan menanam pohon pada masa dia masih hidup atau dari orang lain yang
dilakukan untuknya setelah kematiannya, dan doa juga bermanfaat bagi orag mati
berdasarkan ijma, dan telah shahih khabar bahwa Allah Taalaa mengangkat derajat seorang
hamba di surga dengan istighafar (permohonan ampun) putranya untuknya 9. dan tentang
firman Allah {wa an laysa lil-insaani ilaa maa saaa} adalah amun makhsush dengan hal itu,
bahkan dikatakan mansukh. 10

 

Sayyid al-Bakri Syatha ad-Dimyathi didalam Ianatuth Thalibin :

 

ﻩﺮﻴﻏ ﻦﻣ ﻪﻟ ﺎﻋ ﺎﻀﻳ ﻪﻌﻔﻨﻳ ﺔﻗﺪﺻ ﻰﻠﻋ ﻮﻄﻌﻣ (ﺎﻋ :ﻪﻟﻮﻗ)

Frasa (doa) mathuf atas lafadz shadaqah, yakni doa juga memberikan manfaat bagi orang mati baik dari ahli waris atau orang lain.11

 

Syaikhul Islam al-Imam Zakariyya al-Anshari didalam Fathul Wahab :

 

ﺎﻌﻓ {ﻰﻌﺳ ﺎﻣ ﺎﺴﻧﻺﻟ ﺲﻴﻟ } :ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻪﻟﻮﻗ ﺎﻣ ﻩﺮﻴﻏ ﺎﻤﺟﻹﺎﺑ " ﺎﻋ ﺔﻗﺪﺻ " ﻩﺮﻴﻏ ﻦﻣ ﺖﻴﻤﻟ " ﻪﻌﻔﻨﻳ "

ﻲﻋﺪﻟ ﺪﺼﺘﻤﻟ ﻪﺑ ﻊﻔﺘﻨﻳ ﻚﻟﺬﺑ ﺖﻴﻤﻟ ﻊﻔﺘﻨﻳ ﺎﻤﻛ ﻮﺴﻨﻣ ﻞﻴﻗ ﻚﻟﺬﺑ ﻮﺼﺨﻣ

 

 

 

5 Lihat Al-Adzkar li-Syaikhil Islam al-Imam an-Nawawi hal. 150.

6 Lihat ; Minhajuth Thalibin lil-Imam an-Nawawi [hal. 193].

7 Lihat ; Tafsirul Quran al-Adzhim li-Ibni Katsir (7/465).

8 Lihat : Niyahatuz Zain fiy Irsyadil Mubtadi-in lil-Syaikh Ibnu Umar an-Nawawi al-Jawi [hal. 162]

9 Haditsnya terdapat dalam Shahih Muslim (1631), Ibnu Majah [3660], Musnad Ahmad [8540] dan ad-Darimi [3464].

10 Lihat : Fathul Muin bisyarhi Qurrati Ain, al-Allamah Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari [hal. 431].

11 Lihat : Ianatuth Thalibin li-Sayyid al-Bakri Syatha ad-Dimyathi [3/256].


 

 

 

 

 

 

dan memberikan manfaat bagi orang mati baik dari ahli waris atau orang lain berupa
shadaqah dan doa berdasarkan ijma dan hujjah lainnnya, adapun firman Allah {wa an laysa
lil-insaani ilaa maa saaa} adalah amun makhshush dengan hal itu bahkan dikatakan

mansukh, sebagaimana itu bermanfaat bagi mayyit juga bermanfaat bagi person yang bershadaqah dan yang berdoa.12

 

Imam Ibnu Hajar al-Haitami didalam Tuhfatul Muhtaj :

ﻦﻣ) ﻪﻟ (ﺎﻋ) ﻪﺗﻮﻣ ﺪﻌﺑ ﻪﻨﻋ ﻩﺮﻴﻏ ﻦﻣ ﻪﺗﺎﻴﺣ ﻲﻓ ﻪﻨﻣ ﺮﺠﺷ ﺮﻏ ﺮﺌﺑ ﺮﻔﺣ ﻩﺮﻴﻏ ﻒﺤﺼﻤﻟ ﻒﻗ ﺎﻬﻨﻣ ﻪﻨﻋ (ﺔﻗﺪﺻ ﺖﻴﻤﻟ ﻊﻔﻨﻳ)
ﺎﺨﺳﺎﻧ ﻞﻴﻗ ﺎﺼﺼﺨﻣ ﺎﻤﻫ ﻪﻟ ﻩﺪﻟ ﺎﻔﻐﺘﺳﺎﺑ ﺔﻨﺠﻟ ﻲﻓ ﺪﺒﻌﻟ ﺔﺟ ﻊﻓﺮﻳ ﻰﻟﺎﻌﺗ :ﺮﺒﺨﻟ ﻲﻓ ﺢﺻ ﺎﻋﺎﻤﺟ (ﻲﺒﻨﺟ
ﺮﻓﺎﻜﻟ ﻰﻠﻋ ﻮﻤﺤﻣ ﻪﻧ ﻪﻨﻣ ﻪﻠﻳﺄﺗ ﻲﻓ ﺮﺜﻛ ﺪﻘﻓ ﻩﺮﻫﺎﻇ ﺪﻳ [39 :ﻢﺠﻨﻟ] {ﻰﻌﺳ ﺎﻣ ﺎﺴﻧﻺﻟ ﺲﻴﻟ } ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻪﻟﻮﻘﻟ

ﻪﻴﻓ ﻪﻟ ﻖﺣ ﻞﻀﻓ ﺾﺤﻣ ﻮﻬﻓ ﻪﻨﻋ ﻞﻌﻓ ﺎﻣ ﺎﻣ ﻰﻌﺳ ﺎﻤﻴﻓ ﻪﻟ ﻖﺣ ﻩﺎﻨﻌﻣ

dan memberikan manfaat kepada mayyit berupa shadaqah darinya, seperti mewaqafkan
mushhaf dan yang lainnya, menggali sumur dan menanam pohon pada masa hidupnya atau
dari orang lain untuknya setelah kematiannya, dan doa juga bermanfaat bagi orang mati baik
berasal dari ahli waris atau orang lain berdasarkan ijma dan telah shahih didalam khabar
bahwasanya Allah mengangkat derajat seorang hamba didalam surga dengan istighafar
anaknya untuknya, keduanya (ijma dan khabar) merupakan pengkhusus, bahkan dikatakan
sebagai penasikh untuk firman Allah {wa an laysa lil-insaani ilaa ma saaa} jika menginginkan
dhahirnya, namun jika tidak maka kebanyakan ulama mentawilnya, diantaranya itu dibawa
atas pengertian kepada orang kafir atau maknanya tidak ada haq baginya kecuali pada
perkara yang diusahakannya. 13

 

Imam Syamsuddin al-Khathib as-Sarbiniy didalam Mughni :

(ﻲﺒﻨﺟ ﻦﻣ) ﻪﻟ (ﺎﻋ) ﻚﻟ ﻮﺤﻧ ﺮﺌﺑ ﺮﻔﺣ ﺪﺠﺴﻣ ﺎﻨﺑ ﻒﻗ ﻪﻨﻋ (ﺔﻗﺪﺻ ﺖﻴﻤﻟ ﻊﻔﻨﺗ) ﺎﻘﻓ ﺖﻴﻤﻟ ﻊﻔﻨﻳ ﺎﻤﻴﻓ ﺮﺷ ﻢﺛ
ﻪﺗﺎﻴﺣ ﻲﻓ ﻚﻟ ﻦﻣ ﻪﻠﻌﻓ ﺎﻣ ﻪﻌﻔﻨﻳ ﺎﻤﻛ

kemudian disyariatkan tentang perkara yang bermanfaat bagi mayyit, maka kemudian ia
berkata (dan bermanfaat bagi mayyit berupa shadaqah) darinya, waqaf, membangun masjid,
menggali sumur dan seumpamanya, (juga bermanfaat berupa doa) untuknya (baik dari ahli
waris atau orang lain)
sebagaimana bermanfaatnya perkara yang ia kerjakan pada masa
hidupnya. 14

 

Al-Allamah Muhammad az-Zuhri al-Ghamrawi didalam As-Siraajul Wahaj :

ﺮﻗ ﻼﺻ ﻦﻣ ﻚﻟ ﺮﻴﻏ ﻪﻌﻔﻨﻳ ﻪﺗﺎﻴﺣ ﻲﻓ ﻚﻟ ﻦﻣ ﻪﻠﻌﻓ ﺎﻣ ﻪﻌﻔﻨﻳ ﺎﻤﻛ ﻲﺒﻨﺟ ﻦﻣ ﺎﻋ ﻼﺜﻣ ﻒﻗ ﻪﻨﻋ ﺔﻗﺪﺻ ﺖﻴﻤﻟ ﻊﻔﻨﺗ ﺮﻴﺨﻟ ﺎﻤﻋ ﻞﻜﻓ ﺮﻘﻟﺎﺑ ﺺﺘﺨﻳ ﺬﻫ ﻞﺑ ﻼﻔﻟ ﻩﺎﻧﺮﻗ ﺎﻣ ﻮﺛ ﻞﺻ ﻢﻬﻠﻟ ﻮﻘﻳ ﻲﻐﺒﻨﻳ ﺮﻘﻟ ﺮﻗ ﻊﻔﻧ ﻰﻠﻋ ﺮﺧﺄﺘﻤﻟ ﻦﻜﻟ
ﻲﺷ
ﻩﺮﺟ ﻦﻣ ﺺﻘﻨﻳ ﺖﻴﻤﻟ ﻦﻋ ﺪﺼﺘﻤﻟ ﺎﻓ ﺖﻴﻤﻠﻟ ﺎﻬﺑﻮﺛ ﻞﺜﻣ ﻞﻌﺠﻳ ﺄﺴﻳ ﻮﺠﻳ

dan shadaqah darinya bisa memberikan manfaat bagi mayyit seumpama mewaqafkan
sesuatu, juga doa dari ahli waris atau orang lain sebagaimana bermanfaatnya sesuatu yang
itu ia lakukan pada masa hidupnya
dan tidak memberikan manfaat berupa shalat dan
pembacaan al-Quran akan tetapi ulama mutaakhirin berpendapat atas bermanfaatnya
pembacaan al-Quran, dan sepatutrnya mengucapakan : ya Allah sampaikan apa apa yang
kami baca untuk fulan, bahkan ini tidak khusus untuk qiraah saja tetapi juga seluruh amal
kebaikan boleh untuk memohon kepada Allah agar menjadikan pahalanya untuk mayyit,
sungguh orang yang bershadaqah untuk mayyit tidak mengurangi pahalanya dirinya.15

 

Al-Allamah Syaikh Sulaiman al-Jamal didalam Futuhat al-Wahab :

 

 

12 Lihat : Fathul Wahab bisyarhi Minhajith Thullab lil-Imam Zakariyya al-Anshari [w. 926 H] (2/23).

13 Lihat : Tuhfatul Muhtaj fiy Syarhi al-Minhaj lil-Imam Ibnu Hajar al-Haitami [7/72].

14 Lihat : Mughni al-Muhtaj, Imam Syamsuddin al-Khatib as-Sarbini [4/110].

15 Lihat : as-Sirajul Wahaj alaa Matni al-Minhaj lil-Allamah Muhammad az-Zuhri [1/344]


 

 

 

 

ﻦﻣ ﻪﻟ ﺎﻋ ﻪﺗﻮﻣ ﺪﻌﺑ ﻪﻨﻋ ﻩﺮﻴﻏ ﻦﻣ ﻪﺗﺎﻴﺣ ﻲﻓ ﻪﻨﻣ ﺮﺠﺷ ﺮﻏ ﺮﺌﺑ ﺮﻔﺣ ﻩﺮﻴﻏ ﻒﺤﺼﻤﻟ ﻒﻗ ﺎﻬﻨﻣ (ﺔﻗﺪﺻ ﻪﻌﻔﻨﻳ :ﻪﻟﻮﻗ
ﺎﻋﺎﻤﺟ ﻲﺒﻨﺟ

(frasa bermanfaatnya shadaqah) diantaranya yakni waqaf untuk mushhaf dan yang lainnya,
menggali sumur dan menanam pohon darinya pada masa hidupnya atau dari orang lain
untuknya setelah kematiannya, dan doa untuknya dari ahli waris dan orang lain berdasarkan
ijma.16

Masih banyak lagi pertanyaan ulama-ulama Syafiiyah yang termaktub didalam kitab-kitab mereka. Oeh karena itu dapat disimpulkan bahwa doa jelas sampai dan memberikan kepada orang mati dan ulama telah berijma tentang ini. Artinya dari sini, mayyit bisa memperoleh manfaat dari amal orang lain berupa doa. Ini adalah amal baik dan penuh kasih sayang terhadap saudara muslimnya yang telah meninggal dunia, dan telah menjadi kebiasaan kaum muslimin terutama yang bermandzhab syafii baik di Indonesia yang lainnya, yang dikemas dalam kegiatan tahlilan.

II. SHADAQAH UNTUK ORANG MATI

 

Telah diketahui sebelumnya pada kutipan-kutipan diatas bahwa pahala shadaqah juga sampai kepada
orang mati sebagaimana doa, dan memberikan manfaat bagi orang mati. Sebagai tanbahan dari
pernyataan sebelumnya maka berikut diantara hadits dan juga pendapat ulama Syafiiyah lainnya
tentang bermanfaatnya shadaqah untuk orang mati. Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan :

ﺮﺟ ﺎﻬﻠﻓ ﺖﻗﺪﺼﺗ ﺖﻤﻠﻜﺗ ﻮﻟ ﺎﻬﻨﻇ ﻮﺗ ﻢﻟ ﺎﻬﺴﻔﻧ ﺖﺘﻠﺘﻓ ﻲﻣ ﻮﺳ ﺎﻳ ﺎﻘﻓ ﻢﻠﺳ ﻪﻴﻠﻋ ﻰﻠﺻ ﻲﺒﻨﻟ ﻰﺗ ﻼﺟ
ﻢﻌﻧ
ﺎﻗ ﺎﻬﻨﻋ ﺖﻗﺪﺼﺗ

Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alayhi wa sallam, kemudian ia berkata ; Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia (mendadak) namun ia belum sempat berwasiat, dan aku menduga seandainya sempat berkata-kata ia akan bershadaqah, apakah ia akan mendapatkan pahala jika aku bershadaqah atas beliau ?, Nabi kemudian menjawab ; Iya (maka bershadaqahlah, riwayat lain).17

 

Ketika mengomentari hadits ini, Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan :

ﺎﻋﺪﻟ ﻮﺻ ﻰﻠﻋ ﻮﻌﻤﺟ ﺬﻛ ﺎﻤﻠﻌﻟ ﺎﻤﺟﺈﺑ ﻚﻟﺬﻛ ﻮﻫ ﺎﻬﺑﻮﺛ ﻪﻠﺼﻳ ﺖﻴﻤﻟ ﻊﻔﻨﺗ ﺖﻴﻤﻟ ﻦﻋ ﺔﻗﺪﺼﻟ : ﺚﻳﺪﺤﻟ ﺬﻫ ﻲﻓ ﺢﺻﻷ ﻰﻠﻋ ﻮﻄﺘﻟ ﺞﺤﺑ ﻰﺻ ﺬﻛ ﻼﺳﻹ ﺞﺣ ﺎﻛ ﺖﻴﻤﻟ ﻦﻋ ﺞﺤﻟ ﺢﺼﻳ ﻊﻴﻤﺠﻟ ﻲﻓ ﻮﻟ ﻮﺼﻨﻟﺎﺑ ﻦﻳﺪﻟ ﺎﻀﻗ
ﻪﻴﻓ ﺔﺤﻴﺤﺼﻟ ﺚﻳﺎﺣﻸﻟ ﻪﻨﻋ ﻩﻮﺟ ﺢﺟﺮﻟﺎﻓ ﻮﺻ ﻪﻴﻠﻋ ﺎﻣ ﻮﺼﻟ ﻲﻓ ﺎﻤﻠﻌﻟ ﻒﻠﺘﺧ ﺎﻧﺪﻨﻋ

Pengertian dalam hadits ini adalah bahwa shadaqah dari mayyit bermanfaat dan pahalanya
sampai kepada mayyit, dan hal itu dengan ijma ulama, sebagaimana juga ulama ber-ijma
atas sampainya pahala doa dan membayar hutang berdasarkan nas-nas yang telah warid
didalam keseluruhannya, dan juga sah berhaji atas mayyit apabila haji Islam, dan seperti itu
juga ketika berwasiat haji sunnah berdasarkan pendapat yang ashah (lebih sah), dan Ulama
berikhtilaf tentang pahala orang yang meninggal dunia namun memiliki tanggungan puasa,
pendapat yang rajih (lebih unggul) memperbolehkannya (berpuasa atas namanya)

berdasarkan hadits-hadits shahih tentang hal itu. 18

ﺖﻴﻤﻟ ﻦﻣ ﻼﻜﻟ ﺎﺤﺻ ﺾﻌﺑ ﻦﻋ ﺎﺤﻟ ﻪﺑﺎﺘﻛ ﻲﻓ ﻲﻌﻓﺎﺸﻟ ﻪﻴﻘﻔﻟ ﺮﺼﺒﻟ ﺎﻤﻟ ﻦﺴﺤﻟ ﻮﺑ ﺎﻀﻘﻟ ﻰﻀﻗ ﻩﺎﻜﺣ ﺎﻣ ﺎﻣ
ﻪﻴﻠﻋ ﺞﻳﺮﻌﺗ ﻪﻴﻟ ﺎﻔﺘﻟ ﻼﻓ ﺔﻣﻷ ﺎﻤﺟ ﺔﻨﺴﻟ ﺎﺘﻜﻟ ﻮﺼﻨﻟ ﻒﻟﺎﺨﻣ ﻦﻴﺑ ﺄﻄﺧ ﺎﻌﻄﻗ ﻞﻃﺎﺑ ﺐﻫﺬﻣ ﻮﻬﻓ ﻮﺛ ﻪﺗﻮﻣ ﺪﻌﺑ ﻪﻘﺤﻠﻳ

 

 

 

 

16 Lihat : Futuhatul Wahab lil-Imam Sulaiman al-Jamal (Hasyiyatul Jamal) [4/67].

17 Shahih Muslim no. 1672 ( Bab sampainya pahala shadaqah dari mayyit atas dirinya) dan no. 3083 (Bab sampainya pahala shadaqah kepada mayyit), dalam bab ini Imam Muslim mencantum beberapa hadits lainnya yang redaksinya mirip ; Mustakhraj Abi Awanah no. 4701.

18 Lihat ; Syarah Shahih Muslim [3/444] Imam Nawawi


 

 

 

 

 

Adapun mengenai yang dikisahkan oleh Qadli dari pada qadli Abul Hasan al-Mawardi al-
Bashriy al-Faqih asy-Syafii didalam kitabnya (al-Hawiy) tentang sebagian ahli bicara yang
menyatakan bahwa mayyit tidak bisa menerima pahala setelah kematiannya, itu adalah
pendapat yang bathil secara qathi dan kekeliruan diantara mereka berdasarkan nas-nas al-
Quran, as-Sunnah dan kesepakatan (ijma) umat Islam, maka tidak ada toleransi bagi

mereka dan tidak perlu di hiraukan. 19

 

Banyak penjelasan kitab-kitab syafiiyah yang senada dengan hal diatas. Hal yang juga perlu di garis bawahi disini adalah bahwa seseorang bisa memperolah manfaat dari amal orang lain.

III. QIRAATUL QURAN UNTUK ORANG MATI

Dalam membahas masalah ini, memang ada perselisihan dalam madzhab Syafii yang mana ada dua qaul (pendapat) yang seolah-olah bertentangan, namun kalau dirincikan maka akan nampak tidak ada bedanya. Sedangkan Imam Tiga (Abu Hanifah, Malik dan Ahmad bin Hanbal) 20 berpendapat bahwa pahala bacaan al-Quran sampai kepada orang mati. Apa yang telah dituturkan oleh para Imam syafiiyah yakni berupa petunjuk-petunjuk atau aturan dalam permasalahan ini telah benarbenar diamalkan dengan baik dalam kegiatan tahlilan.

 

Perlu diketahui, bahwa seandainya pun ada perselisihan dikalangan syafiiyah dalam masalah seperti
ini, maka itu hanyalah hal biasa yang sering terjadi ketika mengistinbath sebuah hukum diantara para
mujtahid dan bukanlah sarana untuk berpecah belah sesama kaum Muslimin, dan tidak pula pengikut
syafiiyah berpecah belah hanya karena hal itu, tidak ada kamus yang demikian sekalipun ulama
berbeda pendapat, semua harus disikapi dengan bijak. Akan tetapi, sebagian pengingkar tahlilan
selalu menggembar-gemborkan adanya perselisihan ini (masalah furu), mereka mempermasalahkan

 

19 Lihat ; Syarah Shahih Muslim [1/89-90] ;

20 Lihat : Mughni Muhtaj lil-Imam al-Khatib as-Sarbini [4/110] ;

 

Ȫ Ǫ

: ﷲ
: - ﷲ - Ǫ

.ܪ Ǫ Ǫ

dan diceritakan oleh mushannif didalam Syarh Muslim dan al-Adzkar tentang suatu pendapat bahawa pahala bacaan
al-Quran sampai kepada mayyit, seperti madzhab Imam Tiga (Abu Hanifah, Maliki dan Ahmad bin Hanbal), dan
sekelompok jamaah dari al-Ashhab (ulama Syafiiyyah) telah memilih pendapat ini, diantaranya seperti Ibnu Shalah,
al-Muhib ath-Thabari, Ibnu Abid Dam, shahib ad-Dakhair juga Ibnu Abi Ishruun, dan umat Islam beramal dengan hal
tersebut
, apa yang oleh kaum Muslimin di pandang baik maka itu baik disisi Allah. Imam As-Subki berkata : dan yang
menujukkan atas hal tersebut adalah khabar (hadits) berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Quran apabila di
tujukan (diniatkan) pembacaannya niscaya memberikan manfaat kepada mayyit dan meringankan (siksa) dengan
kemanfaatannya. Apabila telah tsabit bahwa surah al-Fatihah ketika di tujukan (diniatkan) manfaatnya oleh si

pembaca bisa bermanfaat bagi orang yang terkena sengatan, sedangkan Nabi shallallahu alayhi wa sallam taqrir atas kejadian tersebut dengan bersabda : Dari mana engkau tahu bahwa surah al-Fatihah adalah ruqiyyah ?, jika bermanfaat bagi orang hidup dengan mengqashadkannya (meniatkannya) maka kemanfaatan bagi mayyit dengan hal tersebut lebih utama. Selesai.

 

Ianathuth Thalibin lil-Imam al-Bakri Syatha ad-Dimyathi [3/258] ;

 

Ȫ Ǫ


: - ﷲ - Ǫ
:) ( Ǫ :) Ǫ Ǫ

(

..... (frasa, pahala bacaaan al-Quran tidak sampai kepada mayyit) merupakan qaul yang lemah (frasa ; dan
sebagian ashhab kami -syafiiyyah- mengatakan sampai pahalanya kepada mayyit ) merupakan qaul yang kuat atau
mukmatad
.

 

Tuhfatul Habib (Hasyiyah al-Bujairami) [2/302] :

 

dan sungguh al-Hafidz As-Suyuthi telah menaqal bahwa Jumhur Salafush Shaleh dan Aimmatuts Tsalatsah (Imam
Tiga : Abu Hanifah, Malik, Ahmad bin Hanbal) menyatakan sampainya pahala bacaan al-Quran untuk mayyit.


 

 

 

 

 

yang tidak terlalu dipermasalahkan oleh syafiiyah dan mereka mencoba memecah belah persatuan
umat Islam terutama Syafiiyah, dan ini tindakan yang terlarang (haram) dalam syariat Islam. Mereka
juga telah menebar permusuhan dan melemparkan banyak tuduhan-tuduhan bathil terhadap sesama
muslim, seolah-olah itu telah menjadi amal dan dzikir mereka sehari-hari, tiada hari tanpa menyakiti
umat Islam. Naudzubillah min dzalik. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam sangat benci terhadap
mereka yang suka menyakiti sesama muslimin. Berikut diantara qaul-qaul didalam madzhab Syafiiyah
yang sering dipermasalahkan : Imam an-Nawawi menyebut didalam al-Minhaj syarah Shahih Muslim :

ﻞﺒﻨﺣ ﻦﺑ ﺪﻤﺣ ﺎﻗ ﻪﺑ ﺎﻬﺑﻮﺛ ﻪﻠﺼﻳ : ﺎﻨﺑﺎﺤﺻ ﻦﻣ ﺔﻋﺎﻤﺟ ﺎﻗ ﺎﻬﺑﻮﺛ ﻪﻠﺼﻳ ﺮﻘﻟ ﺮﻗ ﺎﻨﺒﻫﺬﻣ ﻲﻓ ﻮﻬﺸﻤﻟ

Dan yang masyhur didalam madzhab kami (syafiiyah) bahwa bacaan al-Quran pahalanya tidak sampai kepada mayyit, sedangkan jamaah dari ulama kami (Syafiiyah) mengatakan pahalanya sampai, dengan ini Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat. 21

 

Dihalaman lainnya beliau juga menyebutkan :

ﺐﻫ ﺖﻴﻤﻟ ﻰﻟ ﺎﻬﺑﻮﺛ ﻞﺼﻳ ﻪﺑﺎﺤﺻ ﺾﻌﺑ ﺎﻗ ﺖﻴﻤﻟ ﻰﻟ ﺎﻬﺑﻮﺛ ﻞﺼﻳ ﻪﻧ ﻰﻌﻓﺎﺸﻟ ﺐﻫﺬﻣ ﻦﻣ ﻮﻬﺸﻤﻟﺎﻓ ﺮﻘﻟ ﺮﻗ ﺎﻣ
ﻰﻓ ﺎﺨﺒﻟ ﺢﻴﺤﺻ ﻰﻓ ﻚﻟ ﺮﻴﻏ ﺮﻘﻟ ﻮﺼﻟ ﻼﺼﻟ ﻦﻣ ﺎﺒﻌﻟ ﻊﻴﻤﺟ ﻮﺛ ﺖﻴﻤﻟ ﻰﻟ ﻞﺼﻳ ﻪﻧ ﻰﻟ ﺎﻤﻠﻌﻟ ﻦﻣ ﺎﻋﺎﻤﺟ
ﺎﺑ ﻰﺑ ﻦﺑ ﺎﻄﻋ ﻦﻋ ﺎﺤﻟ ﺐﺣﺎﺻ ﻰﻜﺣ ﺎﻬﻨﻋ ﻰﻠﺼﺗ ﻼﺻ ﺎﻬﻴﻠﻋ ﺎﻬﻣ ﺖﺗﺎﻣ ﻦﻣ ﺮﻣ ﺮﻤﻋ ﻦﺑ ﺬﻧ ﻪﻴﻠﻋ ﺎﻣ ﻦﻣ ﺎﺑ
ﺎﻨﺑﺎﺤﺻ ﻦﻣ ﺮﺼﻋ ﻰﺑ ﻦﺑ ﺔﺒﻫ ﻦﺑ ﺪﻤﺤﻣ ﻦﺑ ﺪﺒﻋ ﺪﻌﺳ ﻮﺑ ﺦﻴﺸﻟ ﺎﻗ ﺖﻴﻤﻟ ﻦﻋ ﻼﺼﻟ ﻮﺠﺑ ﻻﺎﻗ ﺎﻤﻬﻧ ﻪﻳﻮﻫ ﻦﺑ ﺎﺤﺳ
ﻞﻛ
ﻦﻋ ﻢﻌﻄﻳ ﺪﻌﺒﻳ ﺐﻳﺬﻬﺘﻟ ﻪﺑﺎﺘﻛ ﻰﻓ ﺎﻨﺑﺎﺤﺻ ﻦﻣ ﻮﻐﺒﻟ ﺪﻤﺤﻣ ﻮﺑ ﺎﻣﻻ ﺎﻗ ﺬﻫ ﺎﻴﺘﺧ ﻰﻟ ﺎﺼﺘﻧﻻ ﻪﺑﺎﺘﻛ ﻰﻓ ﻦﻳﺮﺧﺄﺘﻤﻟ

ﺎﻤﺟﻻﺎﺑ ﻞﺼﺗ ﺎﻬﻧﺎﻓ ﺞﺤﻟ ﺔﻗﺪﺼﻟ ﺎﻋﺪﻟ ﻰﻠﻋ ﺎﻴﻘﻟ ﻢﻬﻠﻴﻟ ﺎﻤﻛ ﻪﻧ ﻩﺬﻫ ﻞﻛ ﺎﻌﻃ ﺎﻌﻃ ﻦﻣ ﺪﻣ ﻼﺻ

Adapun pembacaan al-Quran, yang masyhur dari madzhab asy-Syafii pahalanya tidak
sampai kepada mayyit, sedangkan sebagian ashabusy syafii (ulama syafiiyah) mengatakan
pahalanya sampai kepada mayyit, dan pendapat kelompok-kelompok ulama juga mengatakan
sampainya pahala seluruh ibadah seperti shalat, puasa, pembacaan al-Quran dan selain yang
demikian, didalam kitab Shahih al-Bukhari pada bab orang yang meninggal yang memiliki
tanggungan nadzar, sesungguhnya Ibnu Umar memerintahkan kepada seseorang yang

ibunya wafat sedangkan masih memiliki tanggungan shalat supaya melakukan shalat atas
ibunya, dan diceritakan oleh pengarang kitab al-Hawi dari Atha bin Abu Ribah dan Ishaq bin
Ruwaihah bahwa keduanya mengatakan kebolehan shalat dari mayyit (pahalanya untuk
mayyit). Asy-Syaikh Abu Saad Abdullah bin Muhammad Hibbatullah bin Abu Ishrun dari
kalangan syafiiyyah mutaakhhirin (pada masa Imam an-Nawawi) didalam kitabnya al-Intishar
ilaa ikhtiyar adalah seperti pembahasan ini. Imam al-Mufassir Muhammad al-Baghawiy dari
anshabus syafii didalam kitab at-Tahdzib berkata ; tidak jauh (tidaklah melenceng) agar
memberikan makanan dari setiap shalat sebanyak satu mud, dan setiap hal ini izinnya
sempurna, dan dalil mereka adalah qiyas atas doa, shadaqah dan haji, sesungguhnya itu
sampai berdasarkan ijma. 22

 

Juga dalam al-Majmu syarah al-Muhadzdzab :

ﻦﻣ ﺔﻋﺎﻤﺟ ﻞﺒﻨﺣ ﻦﺑ ﺪﻤﺣ ﺐﻫ .ﻞﺼﻳ ﻪﻧ ﺔﻋﺎﻤﺟ ﻲﻌﻓﺎﺸﻟ ﺐﻫﺬﻣ ﻦﻣ ﻮﻬﺸﻤﻟﺎﻓ ﺮﻘﻟ ﺮﻗ ﻮﺛ ﻮﺻ ﻲﻓ ﺎﻤﻠﻌﻟ ﻒﻠﺘﺧ
ﻢﻠﻋ ﻪﺗﺮﻗ ﺎﻣ ﻮﺛ ﻞﺻ ﻢﻬﻠﻟ :ﺮﻘﻟ ﺪﻌﺑ ﻮﻘﻳ ﺎﺘﺨﻤﻟ ﻞﺼﻳ ﻪﻧ ﻰﻟ ﻲﻌﻓﺎﺸﻟ ﺎﺤﺻ ﻦﻣ ﺔﻋﺎﻤﺟ ﺎﻤﻠﻌﻟ

Ulama berikhtilaf (berselisih pendapat) terkait sampainya pahala bacaan al-Quran, maka
yang masyhur dari madzhab asy-Syafii dan sekelompok ulama syafii berpendapat tidak
sampai, sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal, sekelompok ulama serta sebagian sahabat sy-
Syafii berpendapat sampai. Dan yang dipilih agar berdoa setelah pembacaan al-Quran : ya
Allah sampaikan (kepada Fulan) pahala apa yang telah aku baca, wallahu alam.23

 

Imam Syamsuddin Muhammad al-Khathib asy-Syarbini didalam Mughni :

 

 

21 Lihat : Syarah Shahih Muslim [7/90].

22 Lihat : Syarah Shahih Muslim [1/90].

23 Lihat : al-Majmu syarah al-Muhadzdzab lil-Imam an-Nawawi [15/522] ; al-Adzkar lil-Imam an-Nawawi hal. 165.


 

 

 

 

ﻪﻠﻘﻧ ﺎﻧﺪﻨﻋ ﻮﻬﺸﻤﻟ ﻮﻫ ﺎﻫ ﺮﻘﻟ ﺮﻗ ﺎﻫﺮﻴﻏ ﺎﻀﻗ ﻪﻨﻋ ﻼﺼﻟﺎﻛ ﻚﻟ ﺮﻴﻏ ﻮﺛ ﻪﻌﻔﻨﻳ ﻪﻧ ﻢﻬﻔﻳ ﺪﻗ ﻒﻨﺼﻤﻟ ﻼﻛ :ﻪﻴﺒﻨﺗ
ﻮﻄﻟ ﻲﺘﻌﻛ ﻼﺼﻟ ﻦﻣ ﺺﻴﺨﻠﺘﻟ ﺐﺣﺎﺻ ﻰﻨﺜﺘﺳ ﻦﻳﺮﺜﻛﻷ - ﻪﻨﻋ ﻲﺿ - ﻲﻌﻓﺎﺸﻟ ﻦﻋ ﺎﺘﻔﻟ ﻢﻠﺴﻣ ﺮﺷ ﻲﻓ ﻒﻨﺼﻤﻟ

Tahbihun : perkataan mushannif sungguh telah dipahami bahwa tidak bermanfaat pahala
selain itu (shadaqah) seperti shalat yang di qadha untuknya atau yang lainnya, pembacaan
al-Quran, dan yang demikian itu adalah qaul masyhur disisi kami (syafiiyah), mushannif
telah menuqilnya didalam Syarhu Muslim dan al-Fatawa dari Imam asy-Syafii -radliyallahu
anh- dan kebanyak ulama, pengecualian shahiu Talkhis seperti shalat ketika thawaf .24

 

Imam al-Mufassir Ibnu Katsir asy-Syafii didalam penjelasan tafsir QS. An-Najm ayat 39 juga

menyebutkan pendapat Imam asy-Syafii :

ﻰﺗﻮﻤﻟ ﻰﻟ ﺎﻬﺑﻮﺛ ﺪﻫ ﻞﺼﻳ ﺮﻘﻟ ﻪﻌﺒﺗ ﻦﻣ ﻪﻤﺣ ﻲﻌﻓﺎﺸﻟ ﻂﺒﻨﺘﺳ ﺔﻤﻳﺮﻜﻟ ﺔﻳﻵ ﻩﺬﻫ ﻦﻣ

Dan dari ayat ini, Imam asy-Syafii rahimahullah beristinbath (melakukan penggalian

hukum), demikian juga orang yang mengikutinya bahwa bacaan al-Quran tidak sampai menghadiahkan pahalanya kepada mayyit. 25

 

Dari beberapa kutipan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam Madzhab Syafii ada dua pendapat yang seolah-olah berseberangan, yakni ;

 

Pendapat yang menyatakan pahala bacaan al-Quran tidak sampai, ini pendapat Imam asy-Syafii,
sebagian pengikutnya ; kemudian ini di istilahkan oleh Imam an-Nawawi (dan ulama lainnya) sebagai

pendapat masyhur (qaul masyhur).

 

Pendapat yang menyatakan sampainya pahala bacaan al-Quran, ini pendapat badlu ashhabis Syafii
(sebagian ulama Syafiiyah) ; kemudian ini di istilahkan oleh Imam an-Nawawi (dan ulama lainnya)
sebagai
pendapat/qaul mukhtar (pendapat yang dipilih/ dipegang sebagai fatwa Madzhab dan
lebih kuat), pendapat ini juga dipegang oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan imam-imam lainnya.

 

PERMASALAHAN QAUL MASYHUR

Pernyataan qaul masyhur bahwa pahala bacaan al-Quran tidak sampai kepada orang mati adalah
tidak mutlak, itu karena ada qaul lain dari Imam asy-Syafii sendiri yang menyatakan sebaliknya.
Yakni berhubungan dengan kondisi dan hal-hal tertentu, seperti perkataan beliau Imam Syafii :

ﺖﻴﻤﻠﻟ ﻰﻋ ﺮﺒﻘﻟ ﺪﻨﻋ ﺮﻗ ﻮﻟ ﺐﺣ : ﻰﻌﻓﺎﺸﻟ ﺎﻗ

asy-Syafii berkata : aku menyukai sendainya dibacakan al-Quran disamping qubur dan

dibacakan doa untuk mayyit 26

Juga disebutkan oleh al-Imam al-Mawardi, al-Imam an-Nawawi, al-Imam Ibnu Allan dan yang lainnya dalam kitab masing-masing yang redaksinya sebagai berikut :

ﺎﻨﺴﺣ ﺎﻛﻩﺪﻨﻋ ﺮﻘﻟ ﻮﻤﺘﺧ ﺮﻘﻟ ﻦﻣ ﻲﺷ ﻩﺪﻨﻋ ﻳﺮﻘ ﺐﺤﺘﺴﻳ :ﻠﻟ ﻪﻤﺣ ﻲﻌﻓﺎﺸﻟ ﺎﻗ

Imam asy-Syafii rahimahullah berkata : disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Quran
disisi quburnya, dan apabila mereka mengkhatamkan al-Qura disisi quburnya maka itu
bagus 27

Kemudian hal ini dijelaskan oleh Ulama Syafiiyah lainnya seperti Syaikhul Islam al-Imam Zakariyya al-Anshari dalam dalam Fathul Wahab :

 

 

24 Lihat : Mughni Muhtaj lil-Imam Syamsuddin Muhammad al-Khathib asy-Syarbini (4/110).

25 Lihat : Tafsirul Quran al-Adzim lil-Imam Ibnu Katsir asy-Syafii [7/431].

26 Lihat : Marifatus Sunani wal Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits al-Baihaqi.

27 Lihat : Riyadlush Shalihin [1/295] lil-Imam an-Nawawi ; Dalilul Falihin [6/426] li-Imam Ibnu 'Allan ; al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-Syafii (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26] lil-Imam al-Mawardi dan lainnya.


 

 

 

 

 

ﺐﻫ ﻞﺼﻳ ﺎﻨﺑﺎﺤﺻ ﺾﻌﺑ ﺎﻗ ﺖﻴﻤﻟ ﻰﻟ ﺎﻬﺑﻮﺛ ﻞﺼﻳ ﻪﻧ ﻲﻌﻓﺎﺸﻟ ﺐﻫﺬﻣ ﻦﻣ ﻮﻬﺸﻤﻟ ﻢﻠﺴﻣ ﺮﺷ ﻲﻓ ﻮﻨﻟ ﺎﻘﻓ ﺮﻘﻟ ﺎﻣ

ﻰﻠﻋ ﻮﻤﺤﻣ ﺐﻫﺬﻤﻟ ﻮﻬﺸﻣ ﻦﻣ ﻪﻟﺎﻗ ﺎﻣ ﺎﻫﺮﻴﻏ ﺮﻗ ﻮﺻ ﻼﺻ ﻦﻣ ﺎﺒﻌﻟ ﻊﻴﻤﺟ ﻮﺛ ﻪﻴﻟ ﻞﺼﻳ ﻪﻧ ﻰﻟ ﺎﻤﻠﻌﻟ ﻦﻣ ﺎﻋﺎﻤﺟ ﺮﻘﻟ ﺾﻌﺑ ﺎﺒﻨﺘﺳﻻﺎﺑ ﺮﺒﺨﻟ ﻪﻴﻠﻋ ﺬﻟ ﻲﻜﺒﺴﻟ ﺎﻗ ﻞﺑ ﺪﻳ ﻢﻟ ﻩﻮﻧ ﻪﻟ ﻪﺗﺮﻗ ﻮﺛ ﻮﻨﻳ ﻢﻟ ﺖﻴﻤﻟ ﺮﻀﺤﺑ ﺮﻗ ﺎﻣ
ﺮﻟ ﺮﺷ ﻲﻓ ﻪﺗﺮﻛ ﺪﻗ ﻚﻟ ﻦﻴﺑ ﻪﻌﻔﻧ ﺖﻴﻤﻟ ﻊﻔﻧ ﻪﺑ ﺪﺼﻗ

Adapun pembacaan al-Quran, Imam an-Nawawi mengatakan didalam Syarh Muslim, yakni
masyhur dari madzhab asy-Syafii bahwa pahala bacaan al-Quran tidak sampai kepada
mayyit, sedangkan sebagian ashhab kami menyatakan sampai, dan kelompok-kelompok
ulama berpendapat bahwa sampainya pahala seluruh ibadah kepada mayyit seperti shalat,
puasa, pembacaan al-Quran dan yang lainnya. Dan apa yang dikatakan sebagai qaul
masyhur dibawa atas pengertian apabila pembacaannya tidak di hadapan mayyit, tidak
meniatkan pahala bacaannya untuknya atau meniatkannya, dan tidak mendoakannya
bahkan
Imam as-Subkiy berkata ; yang menunjukkan atas hal itu (sampainya pahala) adalah hadits
berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Quran apabila diqashadkan (ditujukan) dengan
bacaannya akan bermanfaat bagi mayyit dan diantara yang demikian, sungguh telah di
tuturkannya didalam syarah ar-Raudlah. 28

 

Syaikhul Islam al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami didalam al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubraa:

 

ﻪﺒﻘﻋ ﺪﻳ ﻢﻟ ﺖﻴﻤﻟ ﺮﻀﺤﺑ ﻦﻜﻳ ﻢﻟ ﺎﻣ ﻰﻠﻋ ﺐﻫﺬﻤﻟ ﻮﻬﺸﻣ ﻢﻬﻠﻤﺣ ﻲﻓ ﻦﻳﺮﺧﺄﺘﻤﻠﻟ ﺪﻴﻳﺄﺗ ﺬﻫ - ﻪﻨﻋ ﻲﺿ - ﻲﻌﻓﺎﺸﻟ ﻼﻛ

dan perkataan Imam asy-Syafii ini (bacaan al-Quran disamping mayyit/kuburan)

memperkuat pernyataan ulama-ulama Mutaakhkhirin dalam membawa pendapat masyhur
diatas pengertian apabila tidak dihadapan mayyit atau apabila tidak mengiringinya dengan
doa. 29

 

Lagi, dalam Tuhfatul Muhtaj :

ﺪﻳ ﻢﻟ ﻩﻮﻧ ﻪﻟ ﻪﺗﺮﻗ ﻮﺛ ﺎﻘﻟ ﻮﻨﻳ ﻢﻟ ﺖﻴﻤﻟ ﺮﻀﺤﺑ ﺮﻗ ﺎﻣ ﻰﻠﻋ ﺐﻫﺬﻤﻟ ﻮﻬﺸﻣ ﻪﻧ :ﻢﻠﺴﻣ ﺮﺷ ﻲﻓ ﻒﻨﺼﻤﻟ ﻪﻨﻋ ﺎﻗ
ﻪﻟ

Sesungguhnya pendapat masyhur adalah diatas pengertian apabila pembacaan bukan dihadapan mayyit (hadlirnya mayyit), pembacanya tidak meniatkan pahala bacaannya untuk mayyit atau meniatkannya, dan tidak mendoakannya untuk mayyit.30

 

Oleh karena itu Syaikh Sulaiman al-Jumal didalam Futuuhat al-Wahab (Hasyiyatul Jumal) mengatakan pula sebagai berikut :

ﺎﻀﻳ ﺪﻌﺑ ﻊﻣ ﻮﻟ ﻪﻟ ﻩﺎﻋ ﺪﻌﺑ ﻊﻣ ﻮﻟ ﻪﻟ ﻩﺪﺼﻗ ﻩﺪﻨﻋ ﻩﻮﻀﺣ ﺎﻣ ﻮﻣ ﺔﺛﻼﺛ ﻦﻣ ﺪﺣ ﺮﺸﺑ ﺖﻴﻤﻟ ﻊﻔﻨﺗ ﺮﻘﻟ ﻖﻴﻘﺤﺘﻟ

dan tahqiq bahwa bacaan al-Quran memberikan manfaat bagi mayyit dengan memenuhi
salah satu syarat dari 3 syarat yakni apabila dibacakan dihadapan (disisi) orang mati, atau
apabila di qashadkan (diniatkan/ditujukan) untuk orang mati walaupun jaraknya jauh, atau
mendoakan (bacaaannya) untuk orang mati walaupun jaraknya jauh juga.
Intahaa.31

ﻲﻓ ﺪﻤﺘﻌﻤﻟ ﻰﻠﻋ ﺎﻬﻏﺮﻓ ﺪﻌﺑ ﻪﻟ ﺎﻬﺑﻮﺛ ﻞﻌﺠﻳ ﻪﺘﻴﻨﺑ ﻪﺗﺮﻀﺤﺑ ﺖﻧﺎﻛ ﻦﻜﻟ ﺖﻴﻤﻠﻟ ﺎﻀﻳ ﻪﻠﺜﻣ ﻞﺼﺤﻳ ﺎﻘﻠﻟ ﺮﻘﻟ ﻮﺛ : ﺮﻓ
ﻪﺘﻴﻧ ﺎﻬﺒﻘﻋ ﻪﻟ ﺎﻋﺪﻟ ﻩﺮﺒﻗ ﺪﻨﻋ ﺮﻘﻟ ﻮﻣ ﺔﺛﻼﺛ ﻦﻣ ﺪﺣ ﺪﺟ ﺮﻘﻟ ﻮﺛ ﻞﺼﻳ : ﺎﻗ (ﺦﻟ ﺮﻘﻟ ﺎﻣ :ﻪﻟﻮﻗ) ﻚﻟ
ﻪﻟ ﻮﺜﻟ ﻮﺼﺣ

(Cabang) pahala bacaan al-Quran adalah bagi si pembaca dan pahalanya itu juga bisa
sampai kepada mayyit apabila dibaca dihadapan orang mati, atau meniatkannya, atau
menjadikan pahalanya untuk orang mati setelah selesai membaca menurut pendapat yang

 

 

28 Lihat : Fathul Wahab bisyarhi Minhajit Thullab lil-Imam Zakariyya al-Anshari asy-Syafii [2/23].

29 Lihat : al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubraa lil-Imam Ibnu Hajar al-Haitami [2/27].

30 Lihat : Tuhfatul Muhtaj fiy Syarhi al-Minhaj lil-Imam Ibn Hajar al-Haitami [7/74].

31 Lihat : Futuhaat al-Wahab li-Syaikh Sulailman al-Jamal [2/210].


 

 

 

 

 

 

kuat (muktamad) tentang hal itu,.... Frasa (adapun pembacaan al-Quran -sampai akhir-),

Imam Ramli berkata : pahala bacaan al-Quran sampai kepada mayyit apabila telah ada
salah satu dari 3 hal : membaca disamping quburnya, mendoakan untuknya mengiringi

pembacaan al-Quran dan meniatkan pahalanya sampai kepada orang mati.32

 

Imam an-Nawawi asy-Syafii rahimahullah:

 

ﻢﻠﻋ ﻼﻓ ﻰﻟ ﻪﺗﺮﻗ ﺎﻣ ﻮﺛ ﻞﺻ ﻢﻬﻠﻟ :ﻪﻏﺮﻓ ﺪﻌﺑ ﺎﻘﻟ ﻮﻘﻳ ﺎﻴﺘﺧﻻﺎﻓ

Dan yang dipilih (qaul mukhtar) agar berdoa setelah pembacaan al-Quran : ya Allah

sampaikan (kepada Fulan) pahala apa yang telah aku baca, wallahu alam.33

ﻮﺠﻳ ﻼﻓ ﻰﻋﺪﻠﻟ ﺲﻴﻟ ﺎﻤﺑ ﺖﻴﻤﻠﻟ ﺎﻋﺪﻟ ﺎﺟ ﺈﻓ ﺎﻋ ﻪﻧﻻ ﻪﺑ ﺰﺠﻟ ﻰﻐﺒﻨﻳ ﻪﺗﺮﻗ ﻮﺛ ﺎﺼﻳ ﺄﺳ ﻮﺻﻮﻟ ﺎﺘﺨﻤﻟ ﺮﻫﺎﻈﻟ ﺎﻤﻋﻻ ﺮﺋﺎﺳ ﻲﻓ ﺮﺠﻳ ﻞﺑ ﺮﻘﻟﺎﺑ ﺺﺨﻳ ﻰﻨﻌﻤﻟ ﺬﻫ ﺎﻋﺪﻟ ﺔﺑﺎﺠﺘﺳ ﻰﻠﻋ ﺎﻓﻮﻗﻮﻣ ﻪﻴﻓ ﺮﻣﻻ ﻰﻘﺒﻳ ﻰﻟ ﻪﻟ ﻮﻫ ﺎﻤﺑ
ﺎﻫﺮﻴﻏ ﺔﻴﺻﻮﺑ ﺪﻴﻌﺒﻟ ﺐﻳﺮﻘﻟ ﻰﺤﻟ ﺖﻴﻤﻟ ﻊﻔﻨﻳ ﻪﻧ ﻪﻴﻠﻋ ﻖﻔﺘﻣ ﺎﻋﺪﻟ

dan pendapat yang dipilih (qaul mukhtar) adalah sampai, apabila memohon kepada Allah
menyampaikan pahala bacaannya, dan selayaknya melanggengkan dengan hal ini karena
sesungguhnya ini doa, sebab apabila boleh berdoa untuk orang mati dengan perkara yang
bukan bagi yang berdoa, maka kebolehan dengan hal itu bagi mayyit lebih utama, dan
makna pengertian semacam ini tidak hanya khusus pada pembacaan al-Quran saja saja,
bahkan juga pada seluruh amal-amal lainnya, dan faktanya doa, ulama telah sepakat bahwa
itu bermanfaat bagi orang mati maupun orang hidup, baik dekat maupun jauh, baik dengan
wasiat atau tanpa wasiat. 34

 

Al-Imam al-Bujairami didalam Tuhfatul Habib :

ﻮﺛ ﻞﺜﻣ ﻪﻟ ﻞﺼﺣ ﻩﺮﺒﻗ ﺪﻨﻋ ﺮﻗ ﻪﻟ ﺎﻬﺑﻮﺛ ﻮﺼﺤﺑ ﺎﻬﺒﻘﻋ ﺎﻋ ﻪﻟ ﺮﻗ ﻮﺛ ﻮﻧ ﻪﻧ ﻞﺻﺎﺤﻟ (ﺖﻴﻤﻟ ﻊﻔﻨﻳ ﺎﻋﺪﻟ ) :ﻪﻟﻮﻗ
ﻮﺜﻟ ﺎﻀﻳ ﺎﻘﻠﻟ ﻞﺼﺣ ﻪﺗﺮﻗ

Frasa : (karena sesungguhnya doa bermanfaat bagi mayyit), walhasil sesungguhnya apabila pahala bacaan al-Quran diniatkan untuk mayyit atau di doakan menyampainya pahala bacaan al-Quran kepada mayyit mengiringi bacaan al-Quran atau membaca al-Quran disamping qubur niscaya sampai pahala bacaan al-Quran kepada mayyit dan bagi si qari (pembaca) juga mendapatkan pahala. 35

 

Al-Allamah Muhammad az-Zuhri didalam As-Siraaj :

ﺮﻗ ﻼﺻ ﻦﻣ ﻚﻟ ﺮﻴﻏ ﻪﻌﻔﻨﻳ ﻪﺗﺎﻴﺣ ﻲﻓ ﻚﻟ ﻦﻣ ﻪﻠﻌﻓ ﺎﻣ ﻪﻌﻔﻨﻳ ﺎﻤﻛ ﻲﺒﻨﺟ ﻦﻣ ﺎﻋ ﻼﺜﻣ ﻒﻗ ﻪﻨﻋ ﺔﻗﺪﺻ ﺖﻴﻤﻟ ﻊﻔﻨﺗ ﺮﻴﺨﻟ ﺎﻤﻋ ﻞﻜﻓ ﺮﻘﻟﺎﺑ ﺺﺘﺨﻳ ﺬﻫ ﻞﺑ ﻼﻔﻟ ﻩﺎﻧﺮﻗ ﺎﻣ ﻮﺛ ﻞﺻ ﻢﻬﻠﻟ ﻮﻘﻳ ﻲﻐﺒﻨﻳ ﺮﻘﻟ ﺮﻗ ﻊﻔﻧ ﻰﻠﻋ ﺮﺧﺄﺘﻤﻟ ﻦﻜﻟ
ﻲﺷ
ﻩﺮﺟ ﻦﻣ ﺺﻘﻨﻳ ﺖﻴﻤﻟ ﻦﻋ ﺪﺼﺘﻤﻟ ﺎﻓ ﺖﻴﻤﻠﻟ ﺎﻬﺑﻮﺛ ﻞﺜﻣ ﻞﻌﺠﻳ ﺄﺴﻳ ﻮﺠﻳ

Bermanfaat bagi mayyit yakni shadaqah mengatas namakan mayyit, misalnya waqaf, dan
(juga bermanfaat bagi mayyit yakni) doa dari ahli warisnya dan orang lain, sebagaimana
bermanfaatnya perkara yang dikerjakannya pada masa hidupnya, namun yang lainnya tidak
memberikan manfaat seperti shalat dan membaca al-Quran, akan tetapi ulama mutakhkhirin
menetapkan atas bermanfaatnya pembacaan al-Quran, oleh karena itu sepatutnya berdoa :
ya Allah sampaikanlah pahala apa yang telah kami baca kepada Fulan, bahkan hal
semacam ini tidak hanya khusus pembacaan al-Quran saja tetapi seluruh amal-amal
kebajikan lainnya
juga boleh dengan cara memohon kepada Allah agar menjadikan pahalanya
untuk mayyit, dan sesuangguhnya orang yang bershadaqah mengatas namakan mayyit
pahalanya tidak dikurangi. .36

 

32 Lihat : Ibid [4/67] ;

33 Lihat : al-Adzkar lil-Imam an-Nawawi [293]

34 Lihat : al-Majmu syarah al-Muhadzdzab lil-Imam an-Nawawi [15/522].

35 Lihat : Tuhfatul Habib (Hasyiyah al-Bujairami alaa al-Khatib) [2/303]

36 Lihat : as-Sirajul Wahaj alaa Matni al-Minhaj lil-Allamah Muhammad az-Zuhri [1/344]


 

 

 

 

 

 

Dari beberapa keterangan ulama-ulama Syafiiyah diatas maka dapat disimpulkan bahwa qaul masyhur pun sebenarnya menyatakan sampai apabila al-Quran dibaca hadapan mayyit termasuk membaca disamping qubur, 37 juga sampai apabila meniatkan pahalanya untuk orang mati yakni pahalanya ditujukan untuk orang mati, dan juga sampai apabila mendoakan bacaan al-Quran yang telah dibaca agar disampaikan kepada orang yang mati.

 

HILANGNYA PERSELISIHAN DAN PENERAPAN DALAM TAHLILAN

 

Setelah memahami maksud dari qaul masyhur maka marilah ketahui tentang keluasan ilmu dan
kebijaksaan ulama yang telah merangkai tahlilan. Yakni bahwa didalam tahlilan sudah tidak ada lagi

 

37 Banyak komentar dan anjuran ulama Syafiiyyah tentang membaca al-Quran di quburan untuk mayyit, sebagaimana yang sebagiannya telah disebutkan termasuk oleh al-Imam Syafii sendiri. Adapun berikut diantara komentar lainnya, yang juga berasal dari ulama Syafiiyyah diantara lain : al-Imam Ar-Rafii didalam Fathul Aziz bisyarhi al-Wajiz [5/249] :



Ъ

dan sunnah agar peziarah mengucapkan : Salamun Alaykum dara qaumi Mukminiin wa Innaa InsyaAllahu an
qariibi bikum laa hiquun Allahumma laa tahrimnaa ajrahum wa laa taftinnaa badahum, dan sepatutnya zair
(peziarah) mendekat ke kubur yang diziarahi seperti dekat kepada sahabatnya ketika masih hidup ketika
mengunjunginya, al-Qadli Abu ath-Thayyib ditanya tentang mengkhatamkan al-Quran dipekuburan maka beliau
menjawab ; ada pahala bagi pembacanya, sedangkan mayyit seperti orang yang hadir yang diharapkan
mendapatkan rahmat dan berkah baginya, Maka disunnahkan membaca al-Quran di pequburan berdasarkan
pengertian ini (yaitu mayyit bisa mendapatkan rahmat dan berkah dari pembacaan al-Quran) dan juga berdoa
mengiringi bacaan al-Quran niscaya lebih dekat untuk diterima sebab doa bermanfaat bagi mayyit
.

 

Al-Imam Ar-Ramli didalam Nihayatul Muhtaj ilaa syarhi al-Minhaj [3/36] :