DALIL TENTANG TELON-TELON

قال رسول الله ص م : ان احدكم يجمع خلقه فى بطن امه اربعين يوما ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك ثم يرسل اليه الملك فينفخ فيه الروح ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه واجله وعمله وشقيّ او سعيد

Rosululloh saw bersabda  : Sesungguhnya proses kejadian manusia dalam perut ibunya yaitu berupa sperma selama 40 hari, kemudian berupa darah selama 40 hari, dan berupa daging selama 40 hari, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh dan menulis 4 perkara yaitu  : 1. menulis rizkinya 2. panjang pendek umurnya 3. amal-amalnya 4. bahagia atau celaka (Arba'in Nawawi)

كيف تكفرون بالله وكنتم امواتا فاحياكم ثم يميتكم ثم يحييكم ثم اليه ترجعون (البقرة 28)

Artinya : Mengapa kamu kafir kepada Alloh, padahal kamu tadinya mati, lalu Alloh menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali (Al Baqoroh : 28)

ولقد خلقنا الانسان من سلالة من طين ثم جعلناه نطفة فى قرر مكين ثم خلقنا النطفة علقة فخلقنا العلقة مضغة فخلقنا المضغة عظاما فكسونا العظام لحما ثم انشأناه خلقا اخر فتبارك الله احسن الخالقين

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sari tanah, kemudian Kami jadikan (sari tanah) itu air mani dalam tempat yang teguh, kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, kemudian tulang belulang itu kami tutup dengan daging, sesudah itu Kami jadikan makhluk yang (berbentuk) lain. Maha suci Alloh pencipta yang paling baik (pandai). QS Al Mukminun 12-14

DALIL TENTANG TINGKEPAN

هو الذى خلقكم من نفس واحدة وجعل منها زوجها ليسكن اليها, فلما تغشها حملت حملا خفيفا فمرت به, فلما اثقلت دعوا الله ربهما لئن اتيتنا صالحا لنكونن من الشاكرين (الاعراف 189)

Dialah yang menjadikan kamu dari jenis yang satu dan diciptakanNya pula pasangannya supaya dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya perempuan itu mengandung beban (kandungan) yang ringan, setelah beberapa waktu dia hamil tua, kemudian keduanya berdoa kepada Alloh, tuhannya : sesungguhnya jika engkau memberi kami anak yang baik sudah barang tentu kami termasuk orang-orang yang bersyukur.

DALIL AQIQOH

قال النبى ص م : الغلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه فى اليوم السابع ويحلق رأسه ويسمّى.وفىلفظ اخر:كل مولود مرهون بعقيقته  

Nabi saw bersabda : Tiap anak itu digadaikan, sehingga ditebus dengan aqiqohnya. Dia diaqiqohi pada hari ke 7, dicukur rambutnya dan diberi nama (Kifayatul Ahyar hal 242 juz 2)

Hadits lain mengatakan : Tiap anak yang lahir digadaikan dengan aqiqohnya.

DALIL TENTANG SYUKURAN/SELAMATAN

ما سلككم فى سقر. قالوا لم نك من المصلّين,ولم نك نطعم المسكين,وكنّا نخوض مع الخائضين,وكنّا نكذب بيوم الدين

Apakah yang menyebabkan kamu masuk neraka saqor ? Mereka menjawab  : Kami tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat, dan kami tidak memberi makan fakir miskin, dan kami berkata kosong (ngrasani) bersama orang-orang yang berkata kosong, dan kami mendustakan adanya hari pembalasan (QS Al Muddatsir 42-46)

   ولا يحضّ على طعام المسكين              Dan tiada memberi makanan pada faqir miskin (QS Al Ma'un : 3)  

الجنة مشتقة الى اربعة نفر  : تال القرآن وحافظ اللسان ومطعم الجيعان وصائم رمضان

Surga itu merindukan 4 golongan  : 1. orang yang membaca Al Qur'an  2. orang yang menjaga lisan  3. Pemberi makan terhadap orang yang lapar  4. orang yang puasa bulan Romadlon

Perlu diketahui bahwa kata syukuran atau selamatan itu biasanya juga diucapkan dengan kata-kata lain yang maksudnya sama diantaranya  : walimahan, prasmanan, resepsi kenduri, standing party dll.

DALIL TENTANG TAHLIL

وان ليس للانسان الا ما سعى, وان سعيه سوف يرى

Dan bahwa manusia itu hanya memperoleh apa yang diusahakannya (dikerjakannya) dan hasil usahanya nanti akan dilihatnya (QS An Najm 39-40). Orang jawa mengistilahkan ayat ini dengan hukum karma.

الميت فىالقبر كمثل من غرق فى اليمّ ينتظر دعاء اهله

Orang mati dikubur itu seperti orang yang tenggelam dilautan, yang menanti doa dari keluarganya.

قوام الدنيا باربع اشياء : علم العلماء وعدل الامراء وسخاوة الاغنياء ودعاء الفقراء

Tegaknya dunia itu dengan 4 perkara : 1. dengan ilmunya ulama' 2. dengan adilnya umaro' 3. dengan dermawannya orang-orang kaya 4. dengan doanya orang-orang fakir.

من لم يشكر على نعمائى ولم يصبر على بلائىفليخرج من تحت سمائى فليطلب ربا سواى (الحديث القدسى)

Artinya : Barang siapa tidak bersyukur atas ni'mat-Ku dan tidak sabar atas cobaan-Ku, maka keluarlah dari bawah langit-Ku dan carilah Tuhan selain Aku (Hadits Qudsy)

 

Memotong Rambut di Hari Ke-Tujuh

Kekayaan Indonesia akan ragam budaya, suku dan bahasa sangat tak ternilai harganya. Kekayaan ini semakin berlimpah bersama datangnya Islam di Nusantara. Proses saling mempengaruhi antar keduanya menghasilkan berbagai macam tradisi. Tradisi ini tidak hanya terbatas pada laku sosial semata, tetapi juga laku peribadatan. Di antara tradisi yang masih berlaku hingga kini adalah walimatut tasmiyah atau memberi nama sang bayi dan memotong rambutnya pada hari ke tujuh dengan disertai memotong kambing sebagai aqiqah.Bagi sebagian orang, tradisi ini bukanlah hal baru karena Rasulullah saw sendiri pernah melakukannya bahkan juga menganjurkannya kepada Sayyidah Fatimah ketika melahirkan Sayyidina Hasan. Hal ini tercatat dalam sebuah hadits yang sahih yang diriwayatkan oleh Hakim  “potonglah rambutnya dan sedekahlah dengan al-wariq (perak) sesuai dengan timbangan rambut itu”

Akan tetapi bagi sebagian yang lain menganggap hal ini adalah sesuatu yang baru yang memerlukan dasar hukum yang jelas. Hal ini perlu diluruskan. Berdasarkan beberapa hadits seperti yang dinukil oleh Wahbah Zuhaili dalam Al-fiqhul Islami wa Adillatuhu bahwa rasulullah saw juga memberikan aqiqah kepada Hasan dan Husain. :

وروت عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن الحسن والحسين وقال: قولوا "بسم الله اللهم لك وإليك عقيقة فلان"

Adapun yang dilarang adalah mengoleskan darah aqiqah ke kepala bayi. Karena hal ini dianggap oleh Rasulullah saw sebagai tradisi jahiliyah. Yang kemudian Rasulullah menggantinya dengan mengoleskan minyak wangi ke kepala bayi. Oleh karena itu, jikalau kita menemukan tradisi mengoleskan minyak wangi di jidat bayi pada acara aqiqah (biasanya berbarengan dengan bacaan maulid) sebenarnya merupakan sunnah Rasulullah saw.

Adzan dan Iqamah Saat Bayi Lahir

Anak adalah titipan Ilahi. Anak merupakan amanah yang harus dijaga dengan baik. Dalam upaya itulah seringkali orang tua berusaha sedemikian rupa agar kelak anak-anaknya menjadi orang yang shaleh/sholehah berguna bagi masyarakat dan agama. Dalam hal kesehatan jasmani, semenjak dalam kandungan oang tua telah berusaha menjaga kesehatannya dengan berbagai macam gizi yang dimakan oleh sang ibu. Begitu juga kesehatan mentalnya. Semenjak dalam kandungan orang tua selalu rajin berdoa dan melakukan bentuk ibadah tertentu dengan harapan amal ibadah tersebut mampu menjadi wasilah kesuksesan calon si bayi.

Oleh karena itu ketika dalam keadaan mengandung pasangan orang tua seringkali melakukan riyadhoh untuk sang bayi. Misalkan puasa senin-kamis atau membaca surat-surat tertentu seperti Surat Yusuf, Surat maryam, Waqiah, al-Muluk dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan dengan tujuan tabarrukan dan berdoa semoga si bayi menjadi seperti Nabi Yusuf bila lahir lelaki. Atau seperti Siti Maryam bila perempuan dengan rizki yang melimpah dan dihormati orang.

Begitu pula ketika sang bayi telah lahir di dunia, do’a sang Ibu/Bapak tidak pernah reda. Ketika bayi pertama kali terdengar tangisnya, saat itulah sang ayah akan membacakannya kalimat adzan di telinga sebelah kanan, dan kalimat iqamat pada telinga sebelah kiri. Tentunya semua dilakukan dengan tujuan tertentu.
Lantas bagaimanakah sebenarnya Islam memandang hal-hal seperti ini? Bagaimanakah hukum mengumandangkan adzan dan iqamah pada telinga bayi yang baru lahir? berdasarkan sebuah hadits dalam sunan Abu Dawud (444) ulama bersepakatn menghukumi hal tersebut dengan sunnah :

عن عبيد الله بن أبى رافع عن أبيه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أذن فى أذن الحسن بن علي حين ولدته فاطمة بالصلاة (سنن أبي داود رقم 444)

Dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ r.a Dari ayahnya, ia berkata: aku melihat Rasulullah saw mengumandangkan adzan di telinga Husain bin Ali ketika Siti Fatimah melahirkannya (yakni) dengan adzan shalat. (Sunan Abu Dawud: 444)

Begitu pula keterangan yang terdapat dalam Majmu’ fatawi wa Rasail halaman 112. Di sana diterangkan bahwa: “yang pertama mengumandangkan adzan di telinga kanan anak yang baru lahir, lalu membacakan iqamah di telinga kiri. Ulama telah menetapkan bahwa perbuatan ini tergolong sunnah. Mereka telah mengamalkan hal tersebut tanpa seorangpun mengingkarinya. Perbiatan ini ada relevansi, untuk mengusir syaithan dari anak yang baru lahir tersebut. Karena syaitan akan lari terbirit-birit ketika mereka mendengar adzan sebagaimana ada keterangan di dalam hadits. (Sumber; Fiqih Galak Gampil 2010)

 

Menggunakan Tasbih untuk Berdzikir

Dari dulu salah satu hal yang terus bergulir di sekitar wacana Islam Nusantara adalah perdebatan mengenai yang sunnah dan yang bid’ah. Dulu perdebatan semacam ini bertujuan untuk mendudukkan porsi masalah tersebut pada posisi ubudiyah yang ‘benar’. Hal ini cukup menggembirakan, karena menunjukkan masih adanya semangat keber-agama-an. Justru ketika tidak ada perdebatan itu, malah menjadi sesuatu yang menggelisahkan. Karena itu membuktikan melemahnya semangat keberagamaan di Indonesia, baik dikarenakan serangan globalisasi maupun firus liberalisasi. Akan tetapi, munculnya kembali perdebatan ‘yang sunnah’ dan ‘yang bid’ah’ akhir-akhir ini merupakan fenomena lain. Karena perdebatan ini bermuara pada kepentingan politik, bukan berniat mendudukkan sunnah bid’ah pada porsi ubudiyah.

Untuk menjaga stabilitas isu keagamaan, kali ini tim redaksi menurunkan tulisan Gus Mus mengenai hukum menggunakan tasbih. Selanjutnya beliau menulis bahwa:

Tasbih dalam bahasa Arab disebut sebagai subhah atau misbahah, dalam bentuknya yang sekarang (untaian manik-manik), memang merupakan produk ‘baru’. Sesuai namanya tasbih digunakan untuk menghitung bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (la ilaha illallah), dan sebagainya. Untuk zaman Rasulullah saw. untuk menghitung bacaan dalam berdzikir digunakan jari-jari, kerikil-kerikil, biji-biji kurma atau tali-tali yang disimpul.

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يعقد التسبيح بيمينه (رواه أبو داود)

Pernah kulihat Nabi saw menghitung bacaan tasbih dengan tangan kanannya.

Rasulullah saw. juga pernah menganjurkan para wanita untuk bertasbih dan bertahlil serta menghitungnya dengan jari-jemari, sebagaimana hadis dikeluarkan oleh Ibnu Syaiban, Abu Dawud, At-Turmudzi, dan Al-Hakim sebagai berikut:

عليكن بالتسبيح والتهليل والتقديس واعقدن بالأنامل فإنهن مسؤلات مستنطقات ولاتغفلن فتنسين الرحمة

Wajib atas kalian untuk membaca tasbih, tahlil, dan taqdis. Dan ikatlah (hitungan bacaan-bacaan itu) dengan jari-jemari. Karena sesunggunya jari-jari itu akan ditanya untuk diperiksa. Janganlah kalian lalai (jikalau kalian lalai) pasti dilupakan dari rahmat (Allah)

Sahabat Abu Hurairah r.a bila bertasbih menggunakan tali yang disimpul-simpul konon sampai seribu simpul. Sahabat Sa’ad bin Abi Waqash r.a diriwayatkan kalau bertasbih dengan menggunakan kerikil-kerikil atau biji-biji kurma. Demikian pula sahabat Abu Dzar dan beberapa sahabat lainnya.

Memang ada sementara ulama bahwa menggunakan jari-jemari lebih utama daripada menggunakan tasbih. Pendapat ini didasarkan atas hadits Ibnu Umar yang sudah disebutkan di atas. Namun dari segi maknanya(untuk sarana menghitung), saya pikir kedua cara itu tidak berbeda.

Dari sisi lain, untuk menghitung tasbih dan tahlil, sebenarnya tasbih mempunyai manfaat utamanya bagi kita yang hidup di zaman sibuk ini. Dengan membawa tasbih, seperti kebiasaan orang-orang Timur Tengah (di sana tasbih merupakan assesori macam cincin dan kacamata saja), sebenarnya kita bisa selalu atau sewaktu-waktu diingatkan untuk berdziki mengingat Allah. Artinya, setiap kali kita diingatkan bahwa yang ada di tangan kita adalah alat untuk berdzikir, maka besar kemungkinan kita pun lalu berdzikir.