KAJIAN SINGKAT TENTANG HISAB

Oleh: Muhammad "Yudin" Taqyudin (Kang Taqi)

Sekjend KOMMA

 

 

HISAB berasal dari bahasa Arab "hasaba" artinya menghitung, mengira dan membilang. Jadi hisab adalah kiraan, hitungan dan bilangan. Kata ini banyak disebut dalam al-Quran diantaranya mengandung makna perhitungan perbuatan manusia. Dalam disiplin ilmu falak (astronomi), kata hisab mengandung arti sebagai ilmu hitung posisi benda-benda langit. Posisi benda langit  yang dimaksud di sini adalah lebih khusus kepada posisi matahari dan bulan dilihat dari pengamat di bumi. Hitungan posisi ini penting dalam kaitannya dengan syariah khususnya masalah ibadah misalnya; shalat fardu menggunakan posisi matahari sebagai acuan waktunya, penentuan arah kiblat dengan menghitung posisi bayangan matahari, penentuan awal bulan hijriyah dengan melihat posisi bulan dan mengetahui kapan terjadi gerhana dengan menghitung posisi matahari dan bulan. Ilmu Falak yang mempelajari kaidah-kaidah Imu Syariah tersebut dinamakan Falak Syar'i  (Ilmu Falak + Ilmu Syariah = Falak Syar'i).  Di Indonesia nama yang populer adalah Falak saja.

Beberapa Dalil Tentang Hisab

Keberadaan benda-benda langit sangatlah tetap dan bisa diperkirakan keberadaannya. Misalnya, matahari dan bulan memiliki tempat beredarnya masing-masing. Beberapa ayat al-Quran menunjukkan hal tersebut.

"Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan." (QS Arrahman ayat 5

 

"Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.

Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua[1267].

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya." (QS Yaasin ayat 38-40)

 

[1267] Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, Dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.

 

Adapun mengenai penggunaan ilmu hisab dalam penentuan awal-awal bulan dalam kalender hijriyah, di antaranya ialah hadits riwayat Muttafaq 'Alaih dari Ibnu 'Umar Radhiallahu 'anhuma, ia berkata

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: "إذا رايتموه فأفطروا، فإن غم عليكم فاقدروا له.

Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Apabila kalian melihat awal bulan (Ramadhan) hendaklah kalian berpuasa, dan apabila kalian melihat awal bulan (Syawal) hendaklah kalian berbuka, dan apabila mendung atas kalian, hendaklah kalian memperkirakannya."

Perkataan "memperkirakannya", tidak mungkin memperkirakan begitu saja tanpa ada dasar ilmunya. Oleh karena itu, para ulama klasik dan kontemporer menyusun ilmu yang dapat mengetahui awal waktu bulan Ramadhan, Syawwal, dan lainnya. Ilmu tersebut sering disebut Ilmu Hisab atau Ilmu Falak.

Sistem hisab dalam Falak

Terdapat banyak metode hisab (sistem hisab) untuk menentukan posisi bulan, matahari dan benda langit lain dalam ilmu Falak.  Sistem hisab ini dibedakan berdasarkan metode yang digunakan berkaitan dengan tingkat ketelitian atau hasil perhitungan yang dihasilkan.

Hisab Urfi (`urf = kebiasaan atau tradisi) adalah hisab yang melandasi perhitungannya dengan kaidah-kaidah sederhana. Pada sistem hisab ini perhitungan bulan komariyah ditentukan berdasarkan umur rata-rata bulan sehingga dalam setahun komariyah umur dibuat bervariasi 29 dan 30 hari. Bulan bernomor ganjil yaitu mulai Muharram berjumlah 30 hari dan bulan bernomor genap yaitu mulai Shafar berumur 29 hari. Tetapi khusus bulan Zulhijjah (bulan 12) pada tahun kabisat komariyah berumur 30 hari.  Tahun kabisat komariyah memiliki siklus 30 tahun dimana didalamnya terdapat 11 tahun yang disebut tahun kabisat (panjang) memiliki 355 hari, dan 19 tahun yang disebut basithah (pendek) memiliki 354 hari. Tahun kabisat ini terdapat pada tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan ke 29 dari keseluruhan siklus kabisat selama 30 tahun. Dengan demikian kalau dirata-rata maka periode umur bulan (bulan sinodis / lunasi) menurut Hisab Urfi adalah (11 x 355 hari) + (19 x 354 hari) : (12 x 30 tahun) = 29 hari 12 jam 44 menit ( menurut hitungan astronomis: 29 hari 12 jam 44 menit 2,88 detik ). Walau terlihat sudah cukup teliti namun yang jadi masalah adalah aturan 29 dan 30 serta aturan kabisat tidak menujukkan posisi bulan yang sebenarnya dan hanya pendekatan. Oleh sebab itulah maka hisab ini tidak bisa dijadikan acuan untuk penentuan awal bulan yang berkaitan dengan ibadah misalnya Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah.

Hisab Taqribi ( taqrobu = pendekatan, aproksimasi ) adalah sistem hisab yang sudah menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematik namun masih menggunakan rumus-rumus sederhana sehingga hasilnya kurang teliti. Sistem hisab ini merupakan warisan para ilmuwan falak Islam masa lalu dan hingga sekarang masih menjadi acuan hisab di banyak pesantren di Indonesia. hasil hisab taqribi akan sangat mudah dikenali saat penentuan ijtimak dan tinggi hilal menjelang 1 Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah yaitu terlihatnya selisih yang cukup besar terhadap hitungan astronomis modern. Beberapa kitab falak yang berkembang di Indonesia yang masuk dalam kategori Hisab Taqribi misalnya; Sullam al Nayyirain, Ittifaq Dzatil Bainy, Fat al Rauf al Manan, Al Qawaid al Falakiyah dsb.

Hisab Haqiqi ( haqiqah = realitas atau yang sebenarnya )  menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematik menggunakan rumus-rumus terbaru dilengkapi dengan data-data astronomis terbaru sehingga memiliki tingkat ketelitian yang tinggi. Sedikit kelemahan dari sistem hisab ini adalah penggunaan kalkulator yang mengakibatkan hasil hisab kurang sempurna atau teliti karena banyak bilangan yang terpotong akibat digit kalkulator yang terbatas. Beberapa sistem hisab haqiqi yang berkembang di Indonesia diantaranya: Hisab Hakiki, Tadzkirah al Ikhwan, Badi'ah al Mitsal dan  Menara Kudus, Al Manahij al Hamidiyah,  Al Khushah al Wafiyah,  dsb.

Hisab Haqiqi Tahqiqi ( tahqiq = pasti ) sebenarnya merupakan pengembangan dari sistem hisab haqiqi yang diklaim oleh penyusunnya memiliki tingkat akurasi yang sangat-sangat tinggi sehingga mencapai derajat "pasti". Klaim seperti ini sebenarnya tidak berdasar karena tingkat "pasti" itu tentunya harus bisa dibuktikan secara ilmiah menggunakan kaidah-kaidah ilmiah juga. Namun sejauh mana hasil hisab tersebut telah dapat dibuktikan secara ilmiah sehingga mendapat julukan "pasti" ini yang menjadi pertanyaan. Sedangkan perhitungan astronomis modern saja hingga kini masih menggunakan angka ralat (delta T) dalam setiap rumusnya.  Namun demikian hal ini merupakan kemajuan bagi perkembangan sistem hisab di Indonesia. Sebab sistem hisab ini ternyata sudah melakukan perhitungan menggunakan komputer serta beberapa diantaranya sudah dibuat dalam bentuk software/program komputer yang siap pakai.  Beberapa diantara sistem hisab tersebut misalnya : Al Falakiyah, Nurul Anwar,

Hisab Kontemporer / Modern

Sistem hisab ini yang menggunakan alat bantu komputer yang canggih menggunakan rumus-rumus yang dikenal dengan istilah algoritma. Beberapa diantaranya terkenal terkenal karena memiliki tingkat keterlitian yang tinggi sehingga dikelompokkan dalam High Accuracy Algorithm diantara :  Jean Meeus, VSOP87, ELP2000 Chapront-Touse,  dsb.   dengan tingkat ketelitian yang tinggi dan sangat akurat seperti Jean Meeus, New Comb, EW Brown, Almanac Nautica, Astronomical Almanac, Mawaqit, Ascript, Astro Info, Starrynight dan banyak software-software falak yang lain.

Para pakar falak dan astronomi  selalu berusaha menyempurnakan rumus-rumus untuk menghitung posisi benda-benda langit hingga pada tingkat ketelitian yang 'pasti /qath'i ''. Hal ini tentunya hanya bisa dibuktikan dan diuji saat terjadinya peristiwa-peristiwa astronomis seperti terbit matahari, terbenam matahari, terbit bulan, terbenam bulan, gerhana matahari, gerhana bulan, kenampakan planet dan komet, posisi bintang dan peristiwa astronomis yang lain.

 

Biografi Singkat Penyusun Kitab Sullam al-Nayyirain

 

Guru Manshur, begitulah panggilan akkrab pengarang Kitab Sullam al-Nayyirain. Beliau memiliki nama lengkap KH Muhammad Manshur bin 'Abdul Hamid bin Muhammad Damiri al-Batawi, yang lebih dikenal dengan Guru Manshur Jembatan Lima, atau Guru Manshur al-Manshuriyah al-Khairiyah Jembatan Lima Jakarta. Guru Manshur dilahirkan di Jakarta pada tahun 1878 M / 1295 H, dan meninggal dunia pada tahun 1968 M / 1388 H. Ayahnya bernama KH 'Abdul Hamid bin KH Muhammad Damiri, seorang ulama dan guru agama yang terkenal di Jakarta, terutama di daerah sekitar Kampung Sawah, Jembatan Lima.

 

Pengarang Kitab Sullam Al-Nayyirain ini menimba illmu-ilmu keagamaan langsung kepada ayahnya. Sesudah ayahnya meninggal dunia, ia belajar kepada kakak kandungnya, KH Mahbub bin KH 'Abdul Hamid dan kak sepupunya, KH Tabrani bin KH 'Abdul Gani. Selain itu, ia juga belajar kepada seorang ulama dari Meester Cornelis bernama H. Mujtaba bin Ahmad sebelum Guru Manshur pergi ke Makkah selama 4 tahun. Selama belajar di Makkah ia menimba berbagai ilmu dari sejumlah ulama terkenal, seperti Syaikh Mukhtar 'Atharid al-Bogori, Syaikh 'Umar Bajunaid al-Hadhrami, Syaikh 'Ali al-Maliki, Syaikh Sa'id Al-Yamani, Syaikh 'Umar Sumbawa, dan pernah menjadi sekretaris pribadi Syaikh 'Umar Sumbawa.

 

Deskripsi Ringkas Kitab Sullam Al-Nayyirain

 

Sullam al-Nayyirain fi Ma'rifah al-Ijtima' wa al-Kusufain terdiri dari tiga risalah, yaitu al-Risalah al-Ula membahas tentang ijtima' (conjunction), al-Risalah al-Tsaniyah membahas tentang gerhana bulan  (kusuf), dan  al-Risalah al-Tsalitsah membahas tentang gerhana matahari (kusuf), dan untuk melakukan perhitungan / hisab awal bulan dan gerhana menggunakan khulashah al-Jadawil (kumpulan jadwal/tabel).

 

Dasar perhitungan yang digunakan sistem ini adalah sangat mudah dan praktis, sehingga setiap orang dapat menggunakannya, cara perhitungannya menggunakan sistem penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian (pingporolansudo atau Pipolondo Jawa) yang artinya perkalian, epmbagian, penjumlahan dan pengurangan), dan menggunakan jadwal dan tabel yang terdapat dalam buku Khulashah al-Jadawil, tetapi hurufnya masih menggunakan "abajadun", sehingga setiap orang harus terlebih dahulu mengetahui arti dari huruf-huruf tersebut.

 

Mengeni sistem-sistem yang dianut dalam Sullam al-Nayyirain mengikuti sistem yang ditempuh oleh Ulugh Beik. Hal ini diakui sendiri oleh Guru Manshur. Dengan demikian, kaidah-kaidah yang dipergunakannya mengikuti kaidah-kaidah yang berasal dari Ulugh Beik (Ulul Beg). Ulugh Bek memang sangat terkenal dan banyak jasanya dalam sejarah perkembangan astronomi Islam.  Nama lengkapnya ialah Mohammad Taragi Ulul Beg, dilahirkan di Sultaniye dekat Samarkand, 22 Maret 1394 M / 18 Jumadil Awal 796 H. Ulug Bek adalah seorang raja Tartar di Turki yang sangat populer, sebab ia sangat ahli dalam ilmu astronomi. Ia merupakan cucu Timurlenk. Sebelum menjadi raja Turki, Ulug Bek pernah menjabat sebagai gubernur Samarkand. Pada tahun 1421 M, ia mendirikan Observatorium di Samarkand, dan bersama-sama dengan beberapa sarjana ia menyusun data-data astronomis, yang dikenal dengan naman Zeij Ulugh Beyj. Zeyj (tabel) tersebut selesai disusun pada tahun 1437 M, dan pada abad 17, zeij ini diterjemahkan ke bahasa Barat. Dan, zeij tersebut saat ini berada di tangan Anda, para peserta pelatihan Ilmu Hisab KOMMA, dengan judul Hiyal Jadawil.

 

Adapun beberapa istilah dalam metode Sullam al-Nayyirain  yang digunakan adalah sebagai berikut:

1.       Al-'Alamah ialah waktu terjadinya ijtima' (conjunction) berdasarkan perhitungan rata-rata.

2.      Al-Hish-shah ialah tenggang waktu yang harus diperhitungkan dari kedudukan benda langit ke dalam kedudukan benda langit lainnya.

3.      Al-Khash-shah ialah gerak bulan sepanjang lintasannya dihitung dari titik haml (Aries) sesudah dikoreksi lintasannya.

4.      Al-Markaz ialah kedudukan matahari pada busur lintasannya.

5.      Al-Auj ialah posisi terjauh matahari dari bumi pada busur lintasannya.

 

Buruj-buruj (bintang/zodiac) : Haml (Aries), Tsaur (Taurus), Jauza (Gemini), Sarathan (Cancer), Asad (Leo), Sunbulah (V irgo), Mizan (Libra), 'Aqrab (Scorpio), Qaws (Sagitarius), Jady (Capricornus), Dalwu (Aquarius), dan Hut (Pisces).

 

Peringatan:

 

Pengetahuan kita mengenai Ilmu Hisab / Ilmu Falak, bukan untuk membuat sensasi perbedaan dengan masyarakat umum ataupun pemerintah. Namun, dengan mengetahui kajian ilmu hisab, kita bisa memahami bagaimana penentuan awal-awal Ramadhan. Mengingat banyaknya metode dan kategori dalam penentuan awal bulan Hijriyah, kita juga bisa memaklumi terhadap perbedaan yang terjadi akibat perbedaan tersebut. Oleh karena itu, hendaknya kita menanamkan nilai-nilai toleransi (tasamuh) saling menghargai antarumat Islam yang berbeda dalam menjalani dan menyikapi awal Ramadhan atau Syawal yang berbeda. Bagi yang berbeda, hendaknya menahan diri dari perbuatan saling mencela. Wallohu a'lam bish-shawab.