Buat di Cianjur saya tau karena saya aslinya. Eyang Dalem Cikundul putra dari Eyang Dalem Arya Wangsa Goparna dari Nangka Beurit Sagalaherang subang dimakamkan di Bukit Pasir Gajah Majalaya Cikundul beserta sanak saudara dan keturunan2 beliau termasuk Camat Cikalong Pertama dan Cicitnya yang Pendiri Silat Cikalong Eyang Mama Haji Ibrahim Djajaperbata Bin Dalem Aom Rajadiradja.
Eyang Surya Padang dimakamkan di seberangnya yaitu di Gunung Sawit beserta Eyang Sawit yang konon masih keturunan2 dari para prajurit Pajajaran yang hijrah akibat Islamnisasi dari Banten dan Cirebon. Eyang Gunung Jati alias Eyang Dalem Arya Kidul nu linggih di Bukit Babakan Jati Cianjur yanb\g jadi tempat favorit saya buat tirakatan karena sekalipun di pinggir kota tapi jauh dari mana2 jadi biasa fokus kalau buat ritual. Eyang Dalem Arya Cikondang alias Eyang Dalem Arya Adimanggala di makamkannya ada 2 karena beliau punya ilmu Panca Sona yang legendaris itu,untuk dari leher kebawah dimakamkan di tepi sungai cikondang dibawah pohon mangga di tengah2 sawah,kalau kepalanya ada di bukit cikondang dan tempatnya wingit&angker banget bagi yang ingin tirakatan. Perlu diketahui saya punya babad dan silsilah ketrurunan Eyang Dalem Cikundul/Raden Jayasasana dari beliau kebawah dan dari beliau keatas. Ok dekian dulu buat sekarang

 

Tapak Jejak Ulama Legendaris KH. Abdullah Bin NuhBy red

Tak ada kata paling indah untuk melukiskan dan mengenang jasa-jasanya, kecuali dengan satu ungkapan bahwa KH Abdullah bin Nuh adalah seorang ulama legendaris, berilmu amaliyah dan beramal ilmiyah

 Sosoknya jauh dari pesona kepahlawanan. Tinggi semampai dengan kulit kuning langsat, tutur katanya lembut, selembut senyum dan tatap matanya, tetapi dikancah pendidikan, sepak terjangnya laksana singa gurun yang pantang menyerah, dialah Al Ustadz, Al Alim, Al Mutawadli bahkan Al Mujahid fi Sabilillah KH Abdullah bin Nuh yang tak kenal lelah, penerus cita-cita dan pendiri beberapa yayasan pendidikan Islam di Indonesia. jasa-jasanya pantas dicatat sejarah. Seorang nasionalis yang selalu ‘membakar’ murid-muridnya dengan semangat persaudaraan.

Lahir di Cianjur, tepatnya di Kampung Bojong Meron pada tahun 1324 H. atau lengkapnya tanggal 30 Juni 1905 M. Ayahnya Rd Mohamad Nuh bin Idris lahir tahun 1879. Dikenal sebagai pendiri Madrasah Al I’anah Cianjur dan murid utama KH Muhtar seorang guru besar di Masjidil Harom Makkah. Rd Mohamad Nuh bin Idris Wafat tahun 1966. Sedangkan Ibunya bernama Raden Aisyah binti Rd. Muhammad Sumintapura adalah seorang Wedana di Tasikmalaya di Zaman colonial Belanda.

Melihat kepada nasabnya, KH Abdullah bin Nuh itu putra dari KH Rd Nuh bin Rd H Idris bin Rd H Arifin bin Rd H Sholeh bin Rd H Musyidin Nata Praja bin Rd Aria Wiratanudatar V (dalem Muhyiddin) bin Rd Aria Wiratanudatar IV(dalem Sabiruddin) bin Rd Aria Wiratanudatar III (Dalam Astramanggala) bin Rd Aria Wiratanudatar II (dalam Wiramanggala) bin Rd Aria Wiratanudatar I (Dalem Cikundul).

Di usia balitanya, KH Abdullah bin Nuh dibawa keluarganya bermukim di Makkah. Disana beliau tinggal selama 2 tahun bersama Nyi Raden Kalifah Respati, nenek ayahnya yang kaya raya di Cianjur dan ingin meninggal di Makkah. Mungkin, karena pengalaman di Makkah itulah hingga dihati beliau tumbuh berkembang bakatnya untuk menjadi penyair dan sastrawan Arab. Pasalnya seringkali beliau bercerita pada keluarganya tentang pedagang-pedagang makanan pagi di Makkah yang menjajakan barang dagangan sambil berseru “El Batato Ya Nas” . rupanya pengalaman itu cukup mendalam di relung hati beliau, sehingga pada saat-saat tertentu beliau suka bernyanyi nyanyi kecil “El Batato Ya Nas...El Batato Ya Nas.” Kalau di Indonesia, tak ubahnya seperti pedagang-pedagang yang ada di Jogya yang menjajakan dagangannya sambil berseru “Gudege nggih den.... Gudege nggih den”.

Pulang di Makkah, Pendidikan formalnya diawali dari Madrasah Al I’anah Almubarokah yang didirikan Ayahnya pada tahun 1912. Salah satu Mandrasah yang boleh dibilang sebagai kawah candra dimuka bagi kelahiran para pahlawan dan sastrawan muslim yang kebesaran namanya tidak hengkang digerus zaman.

Sejak kecil, kecerdasan dan ketajaman hati, KH Abdullah bin Nuh memang sudah terang keunggulan ilmunya. Di usianya yang baru 8 tahun sudah mengusai bahasa Arab. Juara Al Fiah, sanggup menghafal Al Fiah Ibnu Malik dari awal sampai akhir bahkan, dibalik dari akhir keawal. Selain belajar di Al I’anah, beliau pun tidak henti-hentinya menggali dan menimba ilmu dari ayahnya. hal itu pernah ungkapkannya kepada salah seorang muridnya. Kata Beliau : “Mama Mah Tiasa Maca Ihya Teh Khusus Ti Bapak Mama”.

Pada tahun 1918, Madrasah Al I’anah melahirkan murid-murid pilihannya yang terdiri dari Rd. Abullah (KH Abdullah bin Nuh) Rd. M Zen, Rd. Taefur Yusuf, Rd. Asy’ari, Rd. Akung dan Rd. M Soleh Qurowi. Ke 6 orang murid yang bergelar dakhiliyyah itu diberangkatkan ke Pekalongan, mereka bermukim di internat (Pondok pesantren) Syamailul Huda. yang dipimpinan oleh seorang Guru besar Sayyid Muhammad bin Hasyim bin Tohir Al Alawi Al Hadromi, keturunan Hadrol Maut yang tinggal di Jl. Dahrian (sekarang Jl. Semarang) Pekalongan. Di Syamailul Huda, Rd Abdullah bin Nuh kecil mondok bersama 30 orang sahabat seniornya yang sudah terlebih dahulu bermukim dan belajar disana. Mereka datang dari berbagai daerah. Ambon, Menado, Surabaya, Malaysia bahkan ada juga yang dari Singapore.

Tahun 1922, Sayyid Muhammad bin Hasyim Hijrah ke Surabaya. KH Abdullah bin Nuh ikut diboyong, karena Beliau merupakan salah seorang murid terbaik yang menjadi kesayangannya. Di Surabaya Sayyid Muhammad bin Hasyim mendirikan “Hadrolmaut School”. Selain digembleng cara mengajar, berpidato, memimpin dan lain-lain yang diperlukan, di “Hadromaut School” itupun KH Abdullah bin Nuh diperbantukan untuk mengajar.

Memasuki tahun 1925, KH Abdullah bin Nuh bersama 15 orang murid pilihan lainnya dibawa oleh Sayyid Muhammad bin Hasyim ke Mesir dalam upaya memperdalam ilmu agama diperguruan tinggi Mesir yang waktu itu hanya ada dua, yakni Jamiatul Azhar (syari’ah) dan Madrasah Darul Ulum Al Ulya (Al-Adaab). Peristiwa itu bertepatan dengan didudukinya Kota Mekkah Almukaromah oleh Wahabiyyin yang berbuntut dengan keluarnya Malik Husen meninggalkan Makkah.

Selama di Mesir, mula-mula tinggal di Syari’ul Hilmiyyah, lalu berpindah ke Syari’ul Bi’tsah Bi Midanil Abbasyiah dan diperbantukan menjadi khodam-khodam/tukang masaknya orang orang Yaman, sedangkan di Al Azhar, KH Abdullah bin Nuh tidak belajar bahasa Arab lagi, karena memang sebelum berangkat kesana Beliau sudah benar-benar pandai dan ahli, bahkan sudah mengusai pula berbagai bahasa lainnya, disana Beliau hanya mempelajari dan memperdalam ilmu fiqih.

Siang malam KH. Abdullah bin Nuh nyaris tidak ada hentinya untuk belajar, usai belajar dari Jami’atul Azhar, pulang kerumah hanya berganti pakaian, kemudian keluar lagi dengan memakai pantolan, berdasi dan memakai torbus untuk mengikuti pengajian-pengajian diluar Al Azhar. Mahasiswa Al Azhar mempunyai ciri khas yakni berjubah dan mengenakan sorban yang dililitkan kepala (udeng).

KH Abdullah bin Nuh belajar di Mesir hanya 2 tahun, itupun dikarenakan putra gurunya yang beliau temani tidak merasa betah, sedangkan Guru besar Sayyid Muhammad bin Hasyim pulang ke Hardomaut, akhirnya KH Abdullah bin Nuh memutuskan untuk pulang ke Indonesia.(End/Gentra Madani)

 

 

Silsilah nama tempat di cianjur

Jul 23, 2007 - 00:00:00 | Dibaca : 454 Kali

Nama nama tempat di cianjur muncul sebagian ketika Bupati Pertama Cianjur R. Aria Wiramanggala atau Dalem Tarik Kolot yang pada waktu itu masih di cibalagung mendapat petunjuk untuk membuka lokasi pemerintahan cianjur yang baru yang berdekatan dengan Pangguyangan Badak Putih (pemandian Badak Putih).

Sebagai langkah pertama Dalem Tarik Kolot melakukan perjalanan kearah utara dan membuka sebuah tempat yang diberi nama kampung muka yang berarti membuka atau depan. Saat ini kampong tersebut lebih dikenal dengan daerah muka.

Dari sana Dalem Tarik Kolot melakukan perjalanan lagi kearah utara dan membuka jalan yang diberi nama sayang heulang (sarang burung elang), nama tersebut muncul karena pada saat itu banyak burung elang disekitar tempat itu.

Pencarian lokasi pemerintahan masih terus dilakukan, dan untuk mempermudah pencarian Dalem Tarik Kolot berinisiatif mencari tempat yang lebih tinggi agar lokasi tempat pangguyangan badak putih dan tempat sekitarnya dapat dilihat dalam sebuah dataran. Setelah tempat yang dimaksud diketemukan kemudan Dalem Tarik Kolot memberi nama lokasi tersebut Panembong (panembongan atau kelihatan)

Kemudian Dalem kembali lagi menuju timur dan beristirahat disana beserta pasukannya dengan menggelar tempat untuk beristirahat dan dikenal lah tempat tersebut sebagai kampung gelar. Keesokan harinya Dalem dan pasukannya bersih-bersih dengan mandi di sebuah sungai yang sekarang disebut sungai cianjur, karena suhu cianjur pada waktu itu dingin sekali, sehingga setelah mandi beliau dan pasukan berjemur untuk menghangatkan diri, kampung tersebut dikenalah dengan kampung pamoyanan, tetapi versi lain untuk pamoyanan ini menyebutkan bahwa dahulu banyak harimau yang berjemur disekitar sana.

Di Pamoyanan itulah Dalem Tarik Kolot mendirikan tempat pemerintahan cianjur yang baru. Pendopo Cianjur sendiri dibangun pertama kali pada jaman pemerintahan R.A. Astra Manggala.

Silsilah lainnya :
Selakopi karena pada waktu itu banyak bunga putih, ternyata bunga itu adalah bunga kopi, maka dikenalah lokasi tersebut menjadi selakopi
Aria Cikondang dulunya sering disebut kampung banjar karena dikampung tersebut banyak orang-orang banjar (Kalimantan) yang dibawa oleh Pangeran Hidayatullah.

 

Makna Ziarah Makam

Print

E-mail

 

Written by Administrator   

Friday, 15 August 2008

 Tradisi ziarah ke wali yang sering dilakukan Gus Dur dan massa NU merupakan rasa penghormatan warga nadhliyin yang notabene memang lebih menghormati kematian ketimbang kelahiran. Ziarah merupakan tradisi masyarakat bukan tradisi agama. Namun keduanya baik agama dan tradisi orientasi sama untuk menghormati para pendahulu. Selain menghormati juga ada nilai informasi historis dari almarhum melalui juru kuncinya.
Tapi, tradisi ziarah ini banyak ditentang oleh kelompok muslim puritan. Bahkan tak jarang mereka menilai tradisi ini sebagai syirik atau penyekutuan terhadap Allah SWT.
Secara pribadi, saya menyukai ziarah terutama saat musim awal ramadhan dan akhir ramadhan atau saat syawal. Saya biasanya ziarah dan berdoa ke makam almarhum Ayah saya dan makam keluarga besar di desa.
Sebenarnya diri manusia meliputi sisi rasional dan irrasional. Ada jasad ada ruh, ada hati yang jasad dan ada hati yang ruhaniyah. Allah, malaikat, jin, akhirat dan hal-hal ghoib lainnya sebagian orang adalah sangat tidak rasional.
Dari pengalaman pribadi, saya setiap ziarah ada suasana tenang, teduh dan khusyu'.Kita dalam berziarah disaat berdo'a dan berdzikir sangat merasakan ketenangan, seperti kita berdo'a langsung dihadapan Allah SWT dengan diantar oleh Rosullullah SAW dan ditemani wali/almarhum yang kita ziarahi. Disana kita bisa melihat bahwa makam itu bukan sesuatu tempat selesainya kita bermuara tetapi itu adalah jalan pembuka untuk menuju yang kita idam-idamkan selama ini.
Dengan seringnya kita ziarah maka hidup duniawi itu sungguh sangat mentertawakan kita saja, sehingga kita jalani hidup itu dengan lebih ringan. 
Saya berharap kelak ada pemimpin yang "hobby" ziarah karena itu jelas yang dicontohkan oleh Rasullullah SAW sejak zaman sebelum kenabian, siapa lagi yang akan kita tiru jika bukan Rasullullah SAW. Saya yakin para pecinta Rasullullah SAW, pecinta para wali dan habib, pecinta ziarah akan terbebas dari cinta dunia dan dalam memimpin negara kecenderungannya lebih amanah.