Prakata



 

KISAH TELADAN UNTUK ANAK-ANAK

 

Compiled by Erman
Citramas Indah E/22
Batu Besar, Batam
E-mail:
4erman@telkom.net




 

DAFTAR ISI


   01.  Siksaan Yang Teramat Berat
   02.  Seorang Mukmin Kecil
   03.  Bening Hati Sang Nabi
   04.  Bening Hati Sang Sufi
   05.  Cahaya Yang Tak Pernah Padam
   06.  Pesan Sebuah Tulang
   07.  Keinginan Besar Muaffak
   08.  Hamparan Untuk Halimah
   09.  Tamu Dari Makkah
   10.  Abu Hanifah Yang Taat
   11.  Qarun Si Pembohong
   12.  Gadis Jujur
   13.  Kejujuran Sang Imam
   14.  Keteguhan Hati Sang Nabi
   15.  Keteguhan Hati Abu Bakar
   16.  Keteguhan Hati Imam Al-Ghazali
   17.  Rendah Hati Sang Nabi
   18.  Rendah Hati Sang Panglima
   19.  Saat Diam Menjadi Emas
   20.  Penggembala Yang Agung
   21.  Syuhada Padang Pasir
   22.  Kendaraan Seorang Bijak
   23.  Tak Punya Pendirian
   24.  Si Penggali Parit
   25.  Hakim Yang Teguh
   26.  Uang Pembawa Berkah
   27.  Si Pemerah Susu
   28.  Penolong Misterius
   29.  Tangan Di Atas Lebih Mulia
   30.  Seuntai Kalung Fatimah
   31.  Seuntai Kalung Fatimah

 

Siksaan Yang Teramat Berat


Bagi seorang budak, pergi menjumpai Nabi SAW. Bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan mudah. Keluar rumah majikannya untuk keperluan sendiri pun tidak bisa. Apalagi untuk menjumpai Nabi Muhammad SAW, yang menjadi musuh kaum musyrikin Quraisy. Musuh majikan Bilal sendiri!

Dengan susah payah, akhirnya Bilal bin Rabah berhasil menjumpai Nabi Muhammad SAW. Ia menyatakan maksudnya untuk masuk Islam. Nabi mengajarkan cara-cara masuk Islam dengan berwudhu (bersuci), lalu mengucapkan dua kalimat syahadat kemudian melakukan shalat dua rakaat.

Betapa bahagia dan beruntungnya Bilal, karena Nabi sendiri yang mengajarkan syariah Islam kepadanya. Namun, keislamannya harus disembunyikan. Sangat berbahaya jika majikannya tahu akan hal itu. Untuk itu, Bilal menjalankan perintah agamanya secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi, pada akhirnya ketahuan juga.

Umayyah bin khalaf marah besar. Terkutuklah budaknya yang berani-beraninya menjadi pengikut Muhammad itu! Sesaat Umayyah bin Khalaf kehilangan akal. Bagaimana dia bisa lengah menjaga budaknya? Bagaimana sampai si budak tidak ketahuan pergi diam-diam menjumpai Muhammad?

Dalam hati, Umayyah bin Khalaf sebenarnya mengakui kelebihan-kelebihan Muhammad. Bahwa anak Abdullah itu, si Muhammad, memang orang yang sangat jujur. Orang yang tidak pernah berdusta. Dia, juga berperilaku sangat sopan, rendah hati, ramah. Pendek kata, banyak hal yang baik pada diri Muhammad itu. Namun, bahwa dia mengajarkan agama baru yang bertentangan dengan agama kaum Quraisy, itulah yang salah besar menurut Umayyah bin Khalaf. Itu tidak boleh dibiarkan. Harus diperangi, dimusuhi, dan jika mungkin dibasmi!

Umayyah punya sahabat bernama Uqbah bin Mu'ith. Uqbah mendengar perihal budak Umayyah yang masuk Islam itu.
"Celakalah engkau Umayyah!" katanya. "budakmu menjadi pengikut orang yang menghina agama kita. Yang menghina tuhan-tuhan kita Al-Laata dan Al-Uzza!"
"Ya. Celakalah budak itu. Apa yang harus kulakukan terhadapnya?"
"Siksa dia sampai mau meninggalkan agamanya yang sesat itu!"
"Akan kusiksa dia sampai mati kalau dia tidak mau meninggalkan kesesatannya!"

Kesesatan! Siapakah yang sesat ? si budak Habsyi yang telah menganut agama kebenaran atau mereka yang menyembah berhala-berhala mati itu? Orang-orang sesat itu menganggap yang benarlah yang sesat!

Matahari sedang terik-teriknya. Padang pasir menjadi bagaikan hamparan bara. Pada saat seperti itu, Bilal bin Rabah ditelanjangi lalu diseret ke tengah padang pasir. Tidak terbayangkan betapa panas butir-butir pasir itu. Bilal ditelentangkan. Matahari dipuncak langit membakar bagian depan tubuhnya. Sementara punggungnya disengat panas pasir yang bagaikan bara api.

Tidak itu saja yang dialaminya. Seorang musyrikin yang menjadi algojo penyiksa, mengambil sebongkah batu besar. Batu itu diangkat tinggi-tinggi, lalu dijatuhkan ke dada Bilal!

Batu itu berat sekali, juga panas tidak kepalang. Batu itu menghantam dada Bilal sampai tulang-tulang iganya patah dan terus dibiarkan menindih dada. Mengimpit dengan beratnya, dan membakar dengan panasnya.

"Ingkari agama sesat ajaran Muhammad!" seru algojo penyiksa Bilal. "Siksaan ini akan dihentikan bila engkau meninggalkan kesesatanmu!"
Bilal tidak sudi mengingkari keyakinan dan keimanannya.
"Ucapkan Al-Laata dan Al-Uzza. Namun, apa yang terdengar dari mulut Bilal?
"Ahad.....Ahad.....Ahad....." Begitu yang didengar Umayyah bin Khalaf dan para algojo yang menyiksa Bilal.
"Apa yang kau katakan?" jerit Umayyah bin Khalaf dengan kalapnya.
"Ahad....Ahad.....Ahad....."

Bilal hanya berucap begitu berulang-ulang. Maksudnya adalah Allah yang Maha Tunggal atau 'Allah yang Maha Esa'.

Siksaan dilanjutkan. Berbagai cara keji dan kejam dilakukan hingga hampir tidak ada bagian tubuh Bilal yang tidak terluka. Namun dia tetap tabah. Dia tetap mengucapkan Ahad....Ahad. tidak sudi memuji dan menyerukan Al-Laata dan Al-Uzza seperti yang diharapkan para penyiksanya.

Umayyah bin Khalaf dan para algojo kehilangan akal. Bagaimana lagi cara menyiksa Bilal, supaya budak Habsyi itu menyerah?
       
Hari telah sore. Sinar matahari tidak sepanas bara lagi. Siksaan itu dihentikan. Bilal akan dibawa pulang ke rumah Umayyah bin Khalaf.  Akan tetapi, tidak begitu saja disuruh berjalan. Lehernya diikat seperti kambing. Lalu Umayyah bin Kalaf memanggil anak-anak kecil. Disuruhnya anak-anak itu menggiring Bilal melalui lembah dan bukit-bukit. Mereka bersorak-sorai riuh. Memukul, mencakar, dan meludahi Bilal sepanjang jalan.

"Ini pelajaran bagi budak-budak lain yang berani menjadi pengikut Muhammad!" kata Umayyah bin Khalaf. "Juga pelajaran bagi para pemilik budak. Mereka harus mewaspadai budak-budaknya."

Siksaan itu diulanginya keesokan harinya. Demikian pula lusanya. Namun, Bilal tidak mau menyerah. Dari mulutnya terus terdengar Ahad......Ahad......Ahad

Seorang Quraisy datang dan berseru ketika Bilal sedang disiksa
"Hentikan!" katanya dengan suara lantang. Apa yang kalian lakukan ini? Menyiksa seorang budak dengan sekejam ini? Lepaskan dia!"
Orang itu tampaknya berpengaruh. Bilal dilepaskan dan ikatan ditubuhnya dibuka. Orang Quraisy itu lalu memberinya minum. "Terima kasih......" ucap Bilal dengan suaranya yang lemah. Ia sungguh tidak berdaya. Seluruh tubuhnya penuh luka. Seluruh tulangnya bagaikan remuk belaka. Bernafas pun sangat menyakitkan dadanya. Bicara sangat menyakitkan rahangnya.

"Mengapa kau keras kepala begitu, Bilal?" Tanya orang Quraisy itu. "Mestinya lunakkan hatimu, supaya siksaan ini tidak terus menerus kau terima. Kau sendiri yang merugi." Bilal diam mendengar ucapan orang Quraisy ini.

Umayyah bin Khalaf itu merasa malu jika menghentikan siksaan sebelum kau meneruti kehendaknya," kata orang Quraisy itu dengan kata-kata lembut. "Ucapkanlah Al-Laata dan Al-Uzza, meskipun tidak dengan sepenuh hatimu. Supaya Umayyah bin Khalaf menghentikan siksaan ini tidak dengan rasa malu."

"Ahad.....Ahad......Ahad....." terdengar dari mulut Bilal ucapan itu.
Orang Quraisy itu marah. Dia serentak berdiri. Terkutuk! Kamu memang budak celaka! Siksa dia sampai mati!" Teriaknya.
Ternyata itu memang siasat para penyiksa Bilal. Ada yang membujuk dengan kata-kata manis supaya Bilal menyerah. Namun, budak Habsyi itu tetap pada pendirian dan keyakinannya. Mati baginya tidak menjadi persoalan lagi. Sakit bukan hal yang menakutkan. Bukanlah dia telah mengalaminya selama berhari-hari ini? Dia tidak mati juga, tentunya karena Allah tidak menghendakinya.

Bilal kembali disiksa. Begitu berjalan sampai berhari-hari. Para penyiksanya sampai jenuh dan bosan. Kehilangan akal untuk menaklukkan budak yang keras kepala itu.
Penganiayaan terhadap budak yang memeluk agama Islam pada waktu itu sering terjadi, bahkan ada yang sampai mati. Orang-orang musyrikin Quraisy bisa menyiksa budak sampai mati. Mereka tidak khawatir akan tindakan balas dendam dari kerabat si budak sebab para budak itu tidak mempunyai kabilah (kaum / keluarga besar)

Berbeda dengan orang yang bukan budak. Kerabat dan anggota kabilahnya pasti akan menuntut balas. Menyiksa budak itu sangat aman. Bukankah budak tidak lebih dari binatang ternak bagi mereka?

Penyiksaan terhadap Bilal ini didengar oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Orang ini telah memeluk Islam. Dulu ia mempunyai banyak sekali budak karena dia orang kaya. Di masyarakat Quraisy pada waktu itu, semakin kaya seorang akan semakin banyak memiliki budak. Kini Abu Bakar Ash-Shiddiq telah membebaskan budak-budaknya, karena Islam menentang perbudakan. Tinggal seorang budak negro yang masih belum dimerdekakan.
Abu Bakar mendatangi tempat penyiksaan Bilal bin Rabah. Dengan iba disaksikannya penyiksaan yang kejam tidak berperikemanusiaan itu. Para algojo penyiksa itu sudah berlaku bagai binatang saja. Tidak punya rasa belas kasihan sedikit pun terhadap manusia lemah yang kebetulan derajatnya dianggap serendah ternak karena dia budak.
"Apa kau tidak malu menyiksa orang yang lemah itu?" tegur Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Umayyah bin Khalaf.
Engkaulah yang merusak kepercayaannya dan engkau pula yang menjauhkannya dariku!" seru Umayyah bin Khalaf dengan geramnya. Ia tahu, Abu Bakar Ash-Shiddiq itu orang Islam, sama seperti Bilal.

"Aku mempunyai seorang budak negro yang kuat. Jauh lebih kuat dari pada orang yang kau siksa itu. Ia akan kuserahkan kepadamu. Kutukar dengan budak lemah itu."
Umayyah bin Khalaf benar-benar telah kehabisan akal untuk mengatasi kebandelan budaknya itu. Ia sendiri sudah ingin mengakhiri penyiksaan itu, karena dia tahu Bilal tidak akan mau menyerah. Namun, jika menghentikan penyiksaan tanpa alasan, dia akan merasa sangat malu. Kini ada orang yang menawarkan pengganti Bilal.
"Bawa kesini budak negro itu," kata Umayyah bin Khalaf.
Budak negro itu dipanggil. Inilah saat yang paling bersejarah bagi Bilal. Ia telah pasrah dan rela mati asalkan tetap dalam iman Islamnya. Ia pun menyangka tidak lama lagi ajalnya akan tiba karena tubuhnya tidak tahan lagi terhadap siksaan berat itu. Tiba-tiba ada orang menyelamatkannya!

Ia dilepaskan dari tali yang mengikatnya. Tubuhnya lunglai sehingga Abu Bakar harus memapahnya ketika membawanya pergi dari tempat itu. Bilal berlutut di depan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
"Terima kasih, Tuan......." katanya lemah sekali. "Kini hamba menjadi milik Tuan.....".
"Tidak," Kata Abu Bakar Ash-Siddiq. "Kau kumerdekakan".

Dimerdekakan adalah hal yang sangat luar biasa bagi seorang budak. Artinya, dia dibebaskan dari perbudakan. Dia menjadi orang yang merdeka yang tidak diperbudak oleh siapapun. Bilal bagaikan tidak percaya akan apa yang didengarnya. Namun sungguh ia benar-benar mendengar ucapan itu. Ucapan yang keluar dari mulut seorang muslim sejati. Orang yang telah memerdekakan budak-budaknya. Tidak dianggapnya bahwa itu merupakan kerugian besar baginya, padahal budak-budak itu dulu dibelinya dengan mahal di pasar budak.

Islam mengajarkan persamaan hak setiap manusia. Di mata Allah, derajat manusia sama. Yang membedakannya adalah amal ibadah mereka.

Bilal bukan satu-satunya budak yang disiksa yang dibebaskan oleh Abu Bakar Ash-Siddiq. Masih banyak lagi budak muslim yang disiksa dan dibeli oleh Abu Bakar Ash-Siddiq, kemudian dibebaskan. Diantaranya adalah Amir bin Fuhairah, budak-budak perempuan bernama Labibah, Zinnirah, dan An-Nahdiyyah.

Bilal bin Rabah kemudian menjumpai Nabi Muhammad SAW. Ia tetap bersama Nabi sampai ikut hijrah ke Madinah. Sejak saat itu Bilal tidak pernah terpisahkan dari Nabi.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Seorang Mukmin Kecil

 

Seorang Mukmin Kecil


Manakala Umar Bin Khatab menjadi Amirul Mukminin, dia merasakan tanggung jawab yang diamanatkan kepadanya sangatlah sulit dan berat. Dia harus berjaga setiap malam untuk mengurusi dan memperhatikan keaadaan seluruh penduduknya, sedangkan pada saat yang sama dia juga memikul tugas untuk menyiarkan agama Islam ke seluruh dunia, dan mengirimkan tentara perang untuk melawan tentara Persia dan tentara Romawi...

Dia sama sekali tidak ingin memiliki sasuatu apapun yang ada di dunia ini, dia hanya berusaha untuk mempersiapkan kehidupannya di akhirat kelak, beribadah, dan banyak berzikir kepada Allah SWT.

Manakala Umar bin Khatab berjalan keluar dari Madinah Al-Munawwarah berkeliling kesana-kemari untuk melihat keadaan kaum Muslimin, yang jauh dari kota Madinah, ibukota pemerintahannya, dia berjumpa dengan seorang hamba sahaya kecil yang sedang menggembalakan domba. Umar merasa tertarik untuk berbincang-bincang dengannya.

Penggembala kecil itu tidak mengetahui bahwa orang yang akan mengajaknya berbincang-bincang adalah Amirul Mukminin, seorang Khalifah pengganti Rasullullah SAW.

Umar tergerak hatinya untuk menguji hamba sahaya kecil panggembala domba itu. Umar lalu berkata kapadanya sambil menunjuk seekor domba yang gemuk.
" Maukah engkau memberikanlah  domba itu kepadaku?."
"Apa ?" Penggembala kecil itu menyergah dengan suara kuat karena kaget.
Kemudian Umar berkata lagi:
" Mengapa engkau tidak mau memberikannya kepadaku ?"
" Sesungguhnya aku ini telah mendapatkan amanat dan kepercayaan. Kalaulah domba-domba itu milikku, maka aku tidak akan merasa keberatan untuk memberikan seekor diantaranya."
Umar berkata: " Sikapmu itu merupakan sifat yang sangat kikir."
Penggembala kecil itu kemudian menjawab ucapan Umar:
" Aku wahai tuan, adalah seorang hamba sahaya majikanku. Dan dia adalah pemilik domba-domba ini. Aku tidak berhak untuk memberikannya kepadamu dan juga untuk diriku sendiri."
Umar berkata kepadanya: " Janganlah kamu besikap bodoh... katakan saja kepada majikanmu bahwa sesungguhnya seekor serigala telah menerkam dan memakannya ketika domba itu jauh dari kawanannya... majikanmu pasti mempercayai ucapanmu, karena kejadian serupa itu sudah sangat biasa, dan sering kali terjadi."
"Tidak, tidak, wahai tuanku .... ini mustahil.... aku tidak akan melakukan tindakan seperti itu. Andaipun majikanku mempercayai ucapanku, lalu apakah aku bisa menyembunyikannya dari Allah SWT yang tidak ada sesuatupun yang bisa disembunyikan dari-Nya?. Apakah aku bisa menyembunyikannya dari malaikat pancatat amal perbuatan kita, Raqib dan Atid?.

Umar kemudian meninggalkan penggembala kecil itu, tanpa  mengucapkan sepatah katapun... akan tetapi ia sangat terkagum dengan jawaban yang menunjukkan dalamnya keimanan penggembala kecil itu kepada Allah SWT, yang mengetahui segala sesuatu yang berlaku, baik yang kecil maupun yang besar. Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

Umar bin Khatab kembali ke Madinah dan langsung menuju ke rumah pemilik domba yang digembalakan oleh anak kecil tadi dan mengetuk pintu rumahnya. Lelaki pemilik domba itu merasa sangat heran karena Amirul Mukminin mengetuk pintu rumahnya. Maka keluarlah dia untuk menyambut kedatangannya, dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.

Selanjutnya, Sayyidina Umar berkata kepada lelaki itu, " Apakah engkau mempunyai seorang hamba kecil yang menggembalakan sekawanan domba milikmu di luar kota Madinah?"
" Ya", jawabnya.
Umar berkata lagi kepadanya: "Aku ingin agar engkau menjual anak itu kepadaku bersama seluruh kawanan domba yang digembalakannya."
" Bagaimana jika aku tidak ingin menjualnya?"
"Aku akan datang lagi kesini untuk membelinya, seperti hari ini."  jawab Umar.
" Apakah Amirul Mukminin bersedia jika hamba kecil berikut domba yang digembalakannya kuhadiahkan saja?"
Umar menjawab: " Tidak... Aku tidak ingin menerimanya sebagai hadiah. Aku hanya ingin membelinya."
"Kalau begitu, bayarlah kawanan domba beserta anak itu sesuai dengan harga yang engkau inginkan."  kata si pemilik domba.
"Umar menjawab: "Aku telah mengatakannya kepadamu bahwa aku mesti membayar harganya."

Kedua hamba Allah itu kemudian menghitung harga sekawanan domba itu, berikut harga hamba sahaya kecil penggembalanya, seperti harga yang berlaku di pasaran pada waktu itu. Lalu Umar melakukan pembayaran kepada lelaki itu.

Pada saat anak kecil penggembala domba pulang bersama domba-domba yang digembalakannya, ia sangat heran melihat lelaki yang pernah meminta seekor domba kepadanya, sedang duduk di samping majikannya,.
Rasa herannya berubah menjadi rasa takut, ketika dia mengetahui bahwa lelaki itu tidak lain adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab.

Saat-saat yang menegangkan bagi anak itu tiba, ketika ia dipanggil oleh Sayyidina Umar dan majikannya. Dia melangkahkan kakinya dengan sangat berat, dia berjalan pelan-pelan, dengan perasaan duka cita yang menyelimuti dirinya.

Ternyata Amirul Mukminin berdiri menyambut kedatangannya seraya berkata : "Bergembiralah, dan bersuka rialah, wahai saudara bangsa Arab."
Penggembala kecil itu tidak mempercayai apa yang telah didengar oleh kedua telinganya.....
Mengingat status dirinya sebagai seorang hamba sahaya, dia merasa tidak yakin bahwa kata sambutan itu adalah untuk dirinya, apalagi ketika melihat Umar sampai berdiri menyambutnya.
Lidahnya terasa kelu dan tidak kuasa untuk mengucapkan sepatah katapun. Tiba-tiba Amirul Mukminin berkata kepadanya : "Kesinilah........Kesinilah untuk duduk disampingku."
Penggembala kecil itu semakin kaget, dan dia semakin tidak kuasa untuk berkata apa-apa atau melangkahkan kakinya ke depan. Kakinya bergetar, matanya terbelalak, dan mulutnya terbuka.
"Saya..., saya diminta duduk di samping Amirul Mukminin?.
Penggembala kecil itu belum juga mempercayai apa yang telah berlangsung dan telah terjadi. Barangkali ini hanya mimpi, katanya dalam hati.
Dia masih tetap terdiam di tempatnya, tidak berkata dan juga tidak bergerak.
Suara Amirul Mukminin semakin kuat memanggil penggembala kecil itu: "Ketahuilah olehmu bahwa sejak saat ini engkau telah menjadi manusia yang merdeka, demi Allah SWT."
Pada saat itulah penggembala itu baru bergerak. Dia ingin bersujud di kaki Amirul Mukminin, atau mencium kedua tangannya, akan tetapi dia takut dan  malu......Bumi ini terasa berputar, kemudian dia mencari sesuatu untuk tempat bersandar. Terdengar olehnya Sayyidina Umar melanjutkan perkataannya : "Dan domba-domba itu menjadi milikmu."
Penggembala kecil itu tidak dapat lagi menguasai dirinya, meneteslah air mata gembira ke kedua pipinya.              
Sayyidina Umar kemudian meletakkan kedua tangannya di atas pundak anak itu, dan menepuk-nepuknya agar dia tenang kembali seraya berkata:
"Janganlah engkau merasa heran dan kaget, karena sesungguhnya pada saat kita berada di tempat penggembalaan domba itu, engkau telah menyampaikan sebuah kalimat yang telah menyelamatkanmu dari penghambaan (perbudakan) di dunia. Engkau telah mengatakan :'Andaipun majikanku mempercayai ucapanku, lalu apakah aku bisa menyembunyikannya dari Allah SWT yang tidak ada sesuatupun yang bisa disembunyikan dari-Nya?"
"Itulah kalimat iman yang memindahkan dirimu kepada dunia bebas merdeka. Kami tidak hendak mengekalkan seorang manusia mukmin untuk tetap menjadi hamba sahaya bagi manusia..... Sesungguhnya aku telah memohon kepada Allah agar menyelamatkan dirimu dari azab di akhirat kelak, sebagaimana Dia telah menyelamatkan dirimu dari azab penghambaan di dunia ini."

Sang penggembala kecil kemudian menggiring domba-dombanya.....
Sekarang dia telah memiliki kemerdekaan dan kebebasan, memiliki domba, serta mempunyai hak untuk memberikan seekor diantaranya kepada Umar bin Khattab, Amirul Mukminin, khalifah pengganti Rasulullah SAW.

Umar tersenyum kepada penggembala kecil itu atas usahanya untuk mengungkapkan terima kasihnya kepadanya. Umar kemudian berkata :
"Sesungguhnya segala puji dan ucapan terima kasih hanyalah patut disampaikan kepada Allah SWT yang telah memberikan petunjuk-Nya kepada kita. 

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Bening Hati Sang Nabi

 

Bening Hati Sang Nabi


Dalam hidupnya,  Rasulullah SAW selalu bersifat rendah hati dan pemaaf. Tiada terhitung banyaknya cacian dan hinaan yang diterima beliau dari kaum kafir. Namun, beliau tetap berbuat baik terhadap orang-orang yang menghinanya itu. Salah seorang yang sangat membenci Nabi Muhammad SAW adalah seorang nenek tua Yahudi. Kebetulan jika Nabi ke masjid selalu melewati rumah si nenek. Suatu hari Nabi lewat, si nenek sedang menyapu rumahnya. Buru-buru si nenek mengumpulkan sampah dan debu dari rumahnya. Ketika Nabi lewat di depan jendela, maka dilemparkannyalah sampah dan debu itu. Nabi terkejut, namun ia tidak marah begitu tahu siapa yang melemparnya. Malah Nabi mengangguk sambil tersenyum. "Assalamu'alaikum!" sapa Nabi. Nenek itu malah melotot kepada Nabi. "Enyah, kau!" kata si nenek.

Keesokan harinya, Nabi lewat lagi di depan rumah si nenek. Masya Allah, ternyata si nenek sudah bersiap-siap lagi melempar Nabi dengan kotoran. Kali ini dia juga meludahi Nabi. Bagaimana sikap Nabi Muhammad? Lagi-lagi, Nabi hanya tersenyum dan berusaha membersihkan pakaiannya. Si nenek menjadi tambah marah karena Nabi SAW, tidak terpengaruh.

Begitulah, beberapa hari Nabi lewat di depan rumah si nenek tersebut. Setiap kali itu pula ia menerima lemparan sampah dan debu. Nabi tetap saja tidak marah.             Suatu kali Nabi SAW, lewat lagi di depan rumah sang nenek. Tapi, kali ini lain. Si  nenek tidak kelihatan. Padahal, Nabi sudah bersiap-siap menyapanya. "Aneh," pikir sang Nabi, "pasti ada sesuatu terjadi pada si nenek." Nabi lalu mendatangi tetangga si nenek. "Apakah engkau tahu apa yang terjadi dengan nenek di sebelah rumah ini? Aku tidak melihatnya hari ini," tanya Nabi.

"Mengapa engkau begitu peduli pada dia, wahai Rasulullah? Bukankah ia selama ini menghinamu?"

Nabi hanya tersenyum mendengar pertanyaan tetangga si nenek. Tetangga itu lalu menjelaskan bahwa si nenek itu tinggal sebatang kara, dan kini sedang sakit keras.

Maka, bergegaslah Nabi Muhammad menuju rumah si nenek yang sedang sakit. Di rumah itu, Nabi membantu memasak makanan, mengambilkan air dari sumur, dan membersihkan debu-debu di rumah. Si nenek heran melihat ada orang yang membantunya. Ia berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Lalu, tahulah ia siapa sebenarnya yang membantunya. Begitu melihat wajah Nabi yang sangat tulus, nenek itupun menitikkan air mata. Selama ini tidak ada yang mau merawatnya. Tapi, justru orang yang selama ini dihinanya, dengan penuh kasih sayang merawatnya. Sungguh mulia hati orang ini. Si nenek lalu meminta maaf kepada Nabi.

Begitulah salah satu kisah tentang kemuliaan dan kebeningan hati Nabi Muhammad SAW. Karena itu, para sahabat dan orang-orang yang pernah mengenal beliau begitu menyayangi beliau. Ketika beliau wafat, orang segagah Umar bin Khattab juga menangis tersedu-sedu.

Nah, adik-adik, si nenek tadi juga akhirnya masuk Islam. Ia kemudian menjadi salah seorang muslimah yang taat. Banyak orang masuk Islam karena melihat akhlak Nabi Muhammad SAW, yang sangat luar biasa. Kita bisa meniru apa yang beliau lakukan kepada orang lain, termasuk musuhnya.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Bening Hati Sang Sufi

 

Bening Hati Sang Sufi


Salah satu kelompok orang-orang alim disebut kaum sufi. Kaum sufi adalah kaum yang sangat mencintai Allah. Mereka sengaja meninggalkan hiruk pikuk dunia dan senantiasa berzikir kepada Allah. Ciri kaum ini adalah hidup dalam keterbatasan, dan mereka senang berpakaian putih-putih. Kaum sufi bekerja hanya sekadar untuk makan, tidak mengejar harta benda lainnya.

Ada seorang tokoh sufi terkenal bernama Ibrahim ibnu Adham al-Balkhi. Ia adalah lulusan sekolah sufi khurasan yang mengajarkan disiplin diri dan hidup sederhana. Ibrahim berasal dari keluarga bangsawan di Balkh. Suatu ketika Sultan Ibrahim ibnu Adham pergi ke hutan untuk berburu. Di hutan lebat itu, dia melihat sebuah benteng tua. Disana ia melihat sebuah pilar batu yang besar. Ketika ia mencoba mencabut batu dari pilar itu, dia menemukan harta terpendam. Ibrahim sejenak tercenung. Ia telah memperoleh pendidikan tentang kehidupan.

"Aku akan memberikannya kepada fakir miskin," pikirnya, dan kemudian pergi. Tidak berapa lama, sultan Ibrahim ibnu Adham melihat seorang fakir miskin sedang mengumpulkan ranting kering. Ia merasa senang karena bertemu dengan orang yang dicarinya.

"Ikutlah bersamaku," katanya," aku akan menunjukkan kepadamu harta yang akan membuatmu senang dan bahagia sepanjang hidupmu."

Tukang kayu tua itu mendongak perlahan dan menjawab tenang,"Baiklah, Tuan. Ambillah harta itu untuk dirimu sendiri. Anda lebih memerlukannya dari pada hamba. Hamba telah mengetahui perihal harta itu sejak hamba anak-anak."

Ketika mendengar itu, Sultan Ibrahim merasa sangat malu. Ia sangat takjub dengan kejujuran orang miskin itu."Tukang kayu itu lebih berhak menjadi raja daripada aku yang hanya memikirkan kekayaan,"pikirnya. Sultan terus memikirkan peristiwa ini. Kemudian, ia pun menyerahkan kerajaannya kepada orang lain.

Sultan Ibrahim ibnu Adham juga memutuskan meninggalkan kekayaan, keluarga, dan orang-orang yang dicintainya. Ia kemudian terkenal sebagai seorang sufi yang meninggalkan hiruk pikuk kehidupan dunia. Kehidupannya diisi dengan membaca Al-qur'an dan berzikir. Ia mengembara dan makan sekadarnya dari hasil cucuran keringatnya.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Cahaya Yang Tak Pernah Padam


 

Cahaya Yang Tak Pernah Padam


Pada saat Nabi Muhammad SAW berdakwah, beliau selalu mendapat perlakuan tidak baik dari Abu Lahab dan kawan-kawan. Ejekan, hinaan, dan penganiayaan diterima Nabi SAW dan pengikutnya. Namun, sedikit pun tidak melemahkan iman mereka. Tidak pula menyurutkan tekad dan semangat Nabi SAW dalam menjalankan dakwahnya.

Abu lahab bersama kawan-kawannya, Abu Jahal, dan Abu sufyan semakin geram melihat pengikut Nabi SAW bertambah banyak. Memang, mereka selalu hadir jika Nabi SAW sedang berdakwah, tetapi dikepala mereka tersimpan beribu rencana jahat untuk mengacaukannya.

"Wahai Muhammad!" teriak Abu Lahab ketika Nabi SAW sedang berdakwah. "Kamu mengaku sebagai Nabi, tetapi kami tak pernah melihat buktinya! Bagaimana kami percaya...? "ejek Abu Lahab.

"Sekarang, perlihatkan mukjizatmu!" seru Abu Jahal pula.

"Ya! Sebagaimana mukjizat nabi Isa. Coba hidupkan orang yang sudah mati!" kata Abu Sufyan.

"Bisakah kamu mengubah bukit safa dan marwah menjadi bukit emas?!" kata yang lainnya mengolok-olok Nabi.

Muhammad SAW tidak menanggapi ulah orang-orang jahil itu. Begitu pula pengikutnya, tidak terpengaruh sedikitpun. Allah yang Maha Kuasa menurunkan Wahyu-Nya kepada Nabi SAW, untuk menyanggah perkataan orang-orang kafir itu.

Lalu Nabi SAW, menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada kaum yang sesat itu.

"Hai, kaum Quraisy! Sesungguhnya Allah telah berfirman, Katakanlah bahwa aku tidak kuasa memberi kemanfaatan dan kemudaratan bagi diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.

Jika aku tahu barang yang ghaib, tentu aku perbanyak berbuat amal kebajikan, dan tentu aku tidak akan mendapat kesusahan. Tidaklah aku, melainkan Basyir dan Nazir, menyampaikan janji bahagia dan berita pernyataan sengsara."

"Sudahlah, Muhammad! Jika kamu mau menghentikan pekerjaanmu, kami akan mengangkatmu menjadi raja. Atau kami memberimu harta, kekayaan, dan kemewahan...'" kata Abu Jahal.

Abu jahal dan kawan-kawannya tetap mendustakan Nabi. Mereka hanya ingin mempengaruhi pengikutnya agar kembali menyembah berhala.

"Kenapa kalian menuntutku untuk memperlihatkan mukjizat? Sedangkan wahyu yang kusampaikan ini lebih dari segala macam mukjizat. Cahaya yang tak pernah padam," Kata Nabi SAW.

Pengikut Nabi SAW semakin teguh imannya mendengar wahyu yang disampaikan beliau. Keadaan itu membuat kaum kafir kian marah dan menentang usaha-usaha Muhammad. Mereka amat membencinya. Mereka beranggapan ia sudah menghina tuhan-tuhan mereka. Maka suatu hari, orang-orang kafir itu datang kepada Abu Thalib, paman Nabi SAW sendiri. Mereka mengadukan semua perbuatan Nabi Muhammad SAW.

Abu Thalib, seorang pelindung dan pembela Nabi SAW, meskipun waktu itu tidak masuk Islam. Dengan penuh bijaksana ia menengahinya, akan tetapi kali ini orang kafir tidak merasa puas dengan Abu Thalib.

"Hai Abu Thalib, selama ini kamu selalu membela Muhammad dan melindunginya dari kami. Coba suruh Muhammad menghentikan perbuatannya itu! Kalau tidak' maka kami akan bertindak sendiri!" Abu Sufyan mengancam dengan keras.

"Kami akan bunuh Muhammad! Jika ia masih terus menghina berhala kami," sahutnya lagi tidak main-main.

Abu Thalib tertegun, ia amat bingung harus berbuat apa. Muhammad adalah keponakannya yang sangat ia cintai dan sayangi. Sedangkan ia sendiri masih menyembah berhala seperti kaum kafir. Ia tak ada niat untuk meninggalkan agamanya. Tetapi, kalau sampai menyerahkan Nabi SAW  ke tangan orang-orang itu, Abu Thalib tidak bisa.

Ah!.....hati orang tua itu terasa gundah, karena rasa sayang yang begitu besar pada Nabi Muhammad SAW, Abu Thalib segera memanggil Nabi SAW. Diceritakannya semua ancaman orang kafir itu dengan hati yang cemas.

"Anakku, dengarkanlah," kata Abu Thalib. Nabi Muhammad SAW menatap pamannya dengan perasaan berdebar-debar. Nabi menunggu apa yang akan dikatakan Abu Thalib.

"Aku harap kamu bisa menjaga dirimu dan diriku. Jangan membebani aku dengan sesuatu yang tak sanggup aku pikul," kata Abu Thalib.

Sungguh , Nabi SAW sedih mendengarnya. Satu-satunya orang yang selalu membelanya, kini seakan tidak mau lagi membela. Tetapi, Nabi SAW tidak mau kaumnya terus menerus berada dalam kegelapan dan kesesatan. Beliau sudah diberi petunjuk dengan cahaya kebenaran.
Dengan semangat yang menyala, Nabi memandang pamannya. "Wahai, Pamanku!" kata Nabi SAW. "Meskipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku, agar aku meninggalkan seruanku. Sungguh, sampai mati pun tidak akan kutinggalkan!"

Tanpa menoleh lagi, Rasulullah meninggalkan Abu Thalib. Alangkah bergetar seluruh tubuh Abu Thalib mendengar ucapan itu. Ia tertegun beberapa saat. Lalu segera memanggil Nabi lagi.

"Anakku! Pergilah dengan tenang. Katakanlah apa yang ingin kamu katakan pada kaummu. Sungguh, aku tidak akan menyerahkan dirimu pada orang-orang kafir," kata Abu Thalib penuh haru.

Abu Thalib pun memerintahkan keluarganya, bani Muthalib dan Bani Hasyim untuk melindungi Nabi SAW dari penganiayaan kaum Quraisy.

Nabi Muhammad SAW meneruskan perjuangannya, walaupun orang-orang kafir menghalanginya dengan tindakan-tindakan yang kejam.

Begitu besar makna dan pengaruh ucapan Nabi di depan pamannya, seakan menggema di dalam dada kaum muslimin. Mereka rela berkorban jiwa sekalipun, asalkan tetap menyiarkan agama Allah.

Kesungguhan Nabi SAW menjalankan dakwah telah membuat musuhnya kalang kabut. Tetapi, menjadi batu magnet yang menarik setiap pengikutnya untuk tetap setia pada ajaran-Nya.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Pesan Sebuah Tulang

 

Pesan Sebuah Tulang


Sudah berhari-hari orang Yahudi itu berjalan menuju Madinah. Ia ingin menemui Khalifah Umar bin Khattab, Amirulmukminin. Ia banyak mendengar kabar bahwa bahwa Amirul Mukminin seorang yang terkenal bersungguh-sungguh menegakkan keadilan. Jauh-jauh ia datang dari Mesir dengan sebuah harapan, Khalifah mau memperhatikan nasibnya yang tertindas.

Baru ketika matahari condong ke barat, ia tiba di Madinah. Walaupun badannya terasa letih, namun air mukanya tampak berseri. Ia gembira telah sampai di negeri Amirulmukminin yang aman. Dengan tergopoh-gopoh, orang Yahudi itu memasuki halaman rumah Umar bin Khattab, lalu meminta izin pada prajurit yang sedang berjaga.

"Jangan-jangan.....Khalifah tidak mau menerimaku....," katanya dipenuhi rasa cemas. Ia menunggu di luar pintu.Prajurit masuk menemui khalifah Umar.

"Wahai Amirul Mukminin, ada orang Yahudi ingin menghadap Tuan<" sahut prajurit. "Bawalah ke hadapanku," Perintah Khalifah.

Orang Yahudi pun masuk disertai pengawal. Ada ketenangan di hati orang Yahudi ketika melihat Khalifah yang begitu lembut dan perhatian. Bertambah terperanjat orang Yahudi itu, ternyata Amirul Mukminin menjamunya dengan aneka makanan dan minuman.

"Saat ini kau adalah tamuku, silahkan nikmati jamuannya," sambut Khalifah. Rupanya benar.....apa yang kudengar tentang Khalifah, kata orang Yahudi dalam Hati.

Setelah dijamu layaknya tamu dari jauh, Khalifah meminta kepada orang Yahudi untuk menyampaikan maksud kedatangannya. "Ya Amirul Mukminin, saya ini orang miskin...," kata orang Yahudi memulai pembicaraan. Amirul Mukminin mendengarkannya dengan penuh perhatian. "Di Mesir, kami punya sebidang tanah," lanjut orang Yahudi.

"Ya..lalu, ada apa? Tanya Amirul Mukminin. "Tanah itu satu-satunya milik saya yang sudah lama saya tinggali bersama anak dan istri saya. Tapi gubernur mau membangun Masjid yang besar di daerah itu. Gubernur akan menggusur tanah dan rumah saya itu....," tutur orang Yahudi sedih, matanya berkaca-kaca. "Kami yang sudah miskin ini mau pindah kemana? Jika semua milik kami digusur oleh gubernur.....tolonglah saya yang lemah ini, saya minta keadilan dari Tuan."

Orang Yahudi memohon dengan memelas. "Oh, begitu ya? Tanah dan rumahmu mau digusur oleh gubernurku," kata Amirul Mukminin mengangguk-angguk.

Khalifah Umar tampak merenung. Ia sedang berpikir keras memecahkan masalah yang dihadapi orang Yahudi.

"Kau tidak bermaksud menjual menjual rumah dan tanahmu, hai Yahudi?" tanya Khalifah.

"Tidak!"orang Yahudi menggelengkan kepalanya.

"Sebab cuma itulah harta kami. Saya tidak rela melepasnya kepada siapapun....," Orang Yahudi tetap pada pendiriannya.

"Baik-baik, aku akan membantumu," kata Amirul Mukminin. Hati orang Yahudi merasa lega karena Amirulmukminin mau membantu kesusahannya.

"Hai, Yahudi," kata khalifah kemudian. "Tolong ambilkan tulang di bak sampah itu!" perintahnya.

"Maaf, Tuan menyuruh saya mengambil tulang itu....?"tanya orang Yahudi ragu. Ia tidak mengerti untuk apa tulang yang sudah dibuang harus diambil lagi. Namun, ia menuruti juga perintah Khalifah.

"Ini tulangnya, Tuan. "Orang Yahudi menyerahkan tulang unta kepada khalifah.

Lalu, Khalifah Umar membuat garis lurus dan gambar pedang pada tulang itu.

"Serahkan tulang ini pada gubernur Mesir!" kata Amirul Mukminin lagi.

Orang Yahudi menatap tulang yang ada. Garis lurus dan gambar pedangnya itu. Ia tidak puas. Kedatangannya menghadap khalifah untuk mendapat keadilan,tetapi khalifah hanya memberinya tulang untuk diserahkan kepada gubernur.

" Ya Amirulmukminin, jauh-jauh saya datng minta tuan membereskan masalah saya, tapi tuan malah memberi tulang ini kepada gubernur...?" sahut orang yahudi.

" Serahkan saja tulang itu!" jawab khalifah pendek. Orang yahudi tidak membantah lagi. Iapun bertolak ke mesir dengan dipenuhi beribu pertanyaan dikepalanya.

" Aneh.... Khalifah Umar Menyuruhku untuk memberikan tulang ini pada gubernur....,"
gumamnya sepanjang perjalanan kenegrinya. Setibanya di mesir, orang yahudi bergegas menuju kediaman gubernur.

" Wahai Tuan Gubernur, saya orang yahudi yang tanahnya akan kau gusur itu, " kata orang yahudi. " Oh kau rupanya., ada apa lagi?" kata gubernur.

" Saya baru saja menghadap Amirulmukminin," kata orang yahudi. " Lantas ada apa?"

" Saya disuruh memberikan tulang ini ...."

Orang yahudipun segera menyerahkan tulang onta ke tangan gubernur. Diperiksanya tulang itu baik-baik. Wajah gubernur berubah pucat. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin mengucur di dahinya ketika melihat gambar pada tulang itu. Sebuah garis lurus dan gambar pedang yang dibuat khalifah Umarsudah membuat hati gubernur ketakutan bukan main.

" Hai, pengawal!" tiba-tiba ia berteriak keras.

" Serahkan tanah orang yahudi ini sekarang juga! Batalkan rencana menggusur rumah dan tanahnya! Kita cari tempat lain untuk membangun masjid," kata gubernur.

Orang yahudi menjadi heran dibuatnya. Ia dungguh tidak mengerti dengan perubahan keputusan gubenur yang kan mengembalikan tanah miliknya. Hanya dengan melihat tulang yang bergmbar pedang dan garis lurus dari kh;ifah tadi, gubernur tampak sangat ketakutan.

" Hai,, Yahudi! Sekarang jiga ku kembalikan tanah dan milikmu.tinggallah engkau dan keluargamu disana sesuka hati....," sahut gubernur terbata-bata.

Pesan dalam tulang itu dirsakan gubernur seakan-akan khalifah Umar berada dihadapannya dengan wajah yang amat marah. Ya! Gubernur merasa seolah-olah dicambuk dan ditebas lehernya oleh Amirulmukminin.

" Tuan Gubernur ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi....? Kenapa tuan tampak ketakutan melihat tulang yang ada garis lurusdan gambar pedang itu....? Padahal Amirulmukminin tidak mengatakan apa-apa?" tanya orang yahudi masih tak mengerti.

" Hai, Yahudi Tahukah kau? Sesungguhnya Amirulmukminin sudah memberi peringatan keras padaku lewat tulang ini," kata Gubernur.

Orang yahudi bertambah heran saja.

Sesungguhnya tulang ini membawa sebuah pesan peringatan.
Garis lurus, artinya Khalifah Umar memintaku agar aku sungguh-sungguh menegakkan keadilan terhadap siapapun. Dan gambar Pedang, artinya kalau aku tidak berlaku adil, maka khalifah akan bertindak. Aku haris menjadi penguasa yang adil sebelum aku yang menjadi tulang belulang...." Gubernur mencertakan isi pesan yang terkandung dalam tulang onta itu.

Kini orang yahudi pun mengerti semuanya. Betapa ia sangat kagum kepada Amirulmukminin yang sungguh-sungguh memperhatikan nasib orng tertindas seperti dirinya meskipun ia bukan dari kaum muslimin.

"Tuan Gubernur, saya sangat kagum pada Amirulmikminin dan keadila yang diberikan pemerintah islam. Karenanya, saya ingin menjadi orang Muslim. Saat ini saya rela melepaskan tanah itu karena Allah semata."
Tanpa ragu sedikitpun orang yahudi itu langsung bersahabat dan merelakan tanahnya untuk didirikan sebuah masjid.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Keinginan Besar Muaffak


 

Keinginan Besar Muaffak


Suara azan baru saja bergema dari menara masjiddi pusat kota Damsyik. Muaffak dan isterinya segera menggelar sajadahnya. Keduanya lalu tanggelam dalam do'a yang khusuk. Lama sekali laki-laki itu bermunajat diatas sajadahnya.
Ia baru beranjak setelah matahari memancakan cahayanya yang hangat. Lalu bergegas menyiapkan peralatan sepatunya. Sebentar kemudian, ia pun mulai disibukkan dengan pekerjaannya. Ia memang mahir dalam memperbaiki sandal, sepatu, dan terumpah yang rusak. Muaffak, lelaki miskin namun ulet bekerja untuk memperbaiki keadaan hidupnya. Dirumah yang kecil dan sederhana, ia tinggal bersama isterinya yang sedang hamil.

Muaffak mempunyai keinginan besar untuk menunaikan ibadah haji.
Tetapi karena hidupnya yang tidak berkecukupan, keinginan itu hanya tinggal keinginan belaka. Sebab perjjalanan haji dari Damsyik ke Makkah tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Namun, rupanya lelaki saleh itu tidak berputus asa. Ia selalu berbaik sangka dan bekerja dengan sungguh-sungguh.
" Biarpun pekerjaanku hanya sebagai tukang sepatu, aku harus bisa menabung sedikit demi sedikit. Insya Allah jika tabunganku mencukupi, aku dapat beribadah haji juga kelak," tekat muaffak sunguh-sunguh.
Dia semakin giat bekerja tanpa mengenal lelah. Setiap hari dicarinya order sepatu atau sandal orang yang rusak untuk diperbaiki. Dengan setia, isterinya selalu membantu muaffak.
Sampai bertahun-tahun kemudian, ia dapat mengumpulkan uang sebanyak tiga ratus dirham.
Dalam benak dan perasaannya, muaffak sudah dapat mengongkosi dirinya pergi naik haji dengan uang tabugan itu. Betapa gembira hatinya tidak terkira. Keinginannya untuk mengijakkan kakinya ketanah suci, berdo'a didepan ka'bah, berziarah ke makam nabi saw, sebentar lagi akan terwujud. Ia tinggal menuggu musim haji tiba.
Muaffak bertetangga dengan seorang janda miskin dengan beberapa anaknya yang yatim.. Ia sering memperhatikan perempuan itu pulang hingga malam hari untuk mencari nafkah bagi anak-anaknya.
Suatu malam, Muaffak melihat janda miskin itu baru pulang dengan membawa bungkusan. Rupanya ia baru saj mencari nafkah sekadarnya. Terlihat kesedihan dan kelelahan diwajahnya yang keriput. Anak-anaknya menyambut dengan suka cita dalam keadaan perut yang lapar.
" Kasihan tetangga kita itu, dis banting tulang sendirian demi anak-anaknya," desis isteri Muaffak.
Bebrapa saat kemudian, terciumlah bau sedap masakan dari kediaman janda miskin itu. Dan rupanya aroma masakan itu tercium pula oleh isteri Muaffak yang sedang mengandung itu.

" Masya Allah! Masakan sipakah ini? Sedap nian kiranya...." bisiknya sambil menelan air liur. Tiba-tiba saja ia merasa ingin mencicipi masakan yang sedap itu.
Mungkin bawaan cabang bayi yang dikandungnya.
Iapun segera mencari tau darimana asal masakan itu. Begitu tahu kalau masakan tersebut dari rumah janda miskin itu, dimintanya Muaffak untuk menemuinya.
Demi menyenangkan hati isterinya Muaffak mendatangi rumah tetangganya.
" Maaf bu, iteri saya mencium bau masakan enak yang ibu buat. Ia menginginkan masakan itu barang sedikit saja. Bolehkah kami memintanya bu?" kata muaffak baik-baik.

Perempuan itu tertegun. Air mukanya berubah sedih. Lalu dengan pilu ia berkata, " Saya segan mengatakan asal-usul masakan ini. Tapi kebaikan kalian berdua saya ceritakan yang sebenarnya. Sejak beberapa hari yang lalu, persediaan makanan kami habis. Dari kemarin saya sudah berusaha mencari nafkah, tapi tak memparoleh hasil. Padahal anak-anak saya butuh makan." Sejenak perempuan itu menghela nafasnya yang berat. " Tadi saya menemukan bangkai keledai di jalan. Karena sudah lelah, saya nekat memotongnya lalu saya masak untuk dimakan.

Karena bangkai makanan itu haram bagi anda. Tapi halal bagi kami yang dalam darirat...," selanjutnya dengan mata yang berlinang. Muaffak terperanjat. Ia sangat iba. Lalu bergegas pulang. Diambilnya simpanan uangnya yang tiga ratus diham itu. Tanpa pikir panjang lagi, ia berikan uang yang diperolehnya dari hasil kerja keras selama ini.
Padahal, uang itu sudah diniatkan untuk ongkos naik hajinya. " Terimalah uang ini untuk anak-anak yatimmu, bu," ugkapnya dengan Ikhlas.

Betapa terharunya janda miskin itu. Mereka tidak akan kelaparan lagi utnuk waktu yang cukup lama.  " Terimakasih, tuan sudah bermurah hati menolong kami dari kelapran,"  ucap perempuan itu tertunduk. " saya tidak tau bagaimana membalas kebaikan tuan. Semoga Allah akan membalasnya dengan rahmat yang berlimpah. " mendengar do'a permpuan itu, muaffak menitikkan air mata.

Musim hajipun tiba. Muaffak batal menunaikan ibadah hajikarena uangnya sudah tidak ada lagi. Tapi hati laki-laki itu bahagia, bisa menolong kesengsaraan seorang janda miskin dan anak-anaknya yang miskin.
Pada musim haji waktu itu, salah seorang ulama besar, Abdullah bin Mubarak, manunaikan  ibadah haji. Suatu sore, seusai tawaf berkali-kali ia merasa sangat letih. Lalu, iapun beistirahat di Hijr Ismail. Antara tidur dan tidak, tiba-tiba ia mendengar percakapan dua malaikat.

" Berapa orang yang menunaikan ibadah haji tahun ini?"
" Enam ratus ribu orang."

" Kira-kira berapa orang yang hajinya diterima Allah?"
" Tak seorangpun!"
" Tapi seorang tukang tambal sepatu dari Damsyik bernama Muaffak diterima hajinya oleh Allah, kendati Ia tidak menunaikan ibadah haji. Dan berkat hajinya orang inilah, maka semua jamaah haji sekaranng diterima juga oleh Allah."

Begitu malaikat itu menghilang Abdullah bin Mubarak tersadar dari setengah tidurnya.
" Masya Allah! Amal perbuatan apa yang dilakukan Muaffak? Begitu besar pengaruhnya disisi Allah...," bisik Abdullah terpesona.
Selesai ibadah haji, ulama besar itu bergegas ke Damsyik.. Ia ingin sekali menemui Muaffak. Dan begitu bertemu, ulama itu langsung menceritakan kejadiannya waktu di Hijr Ismail. Muaffak sendiri baru menyadari, lalu bersyukur atas karunia itu kahadirat Allah. Muaffak lalu mengisahkan perjuangannya untuk mencapai cita-citanya ingin beribadah haji, tapi tida jadi berangkat. " Saya tidak menyesal tidak jadi berhaji karena saya mengharap keridhaan Allah," kata Muaffak.

" Tuan, andalah seorang haji yang mabrur atas ridha Allah...," kata sang ulama kagum.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Hamparan Untuk Halimah

 

Hamparan Untuk Halimah


Sesudah kaum muslimin menyerang kota Thaif, mereka berhasil menahan beberapa tawanan musuh. Salah satu di antaranya seorang perempuan, Syaima namanya.  Syaima terancam hukuman. Ia diperlakukan dengan kasar. Prajurit Islam membawanya ke sebuah sel yang pengap.

Tiba-tiba Syaima berteriak,"Tolonglah Tuan, jangan kurung saya! Saya ini saudara sesusuan Muhammad!"

Prajurit terkejut. Syaima segera dibawa menghadap Rasulullah Saw.

"Ya Rasulullah, sesungguhnya saya ini Syaima, saudara sesusuanmu," kata Syaima. Mendengar pengakuan itu, Rasulullah bertanya," Bagaimana aku bisa mengetahui kalau kau saudara sesusuanku?"

"Di punggungku ada bekas luka. Sewaktu aku menggendongmu, kau menggigit punggungku hingga berbekas," jawab Syaima.

Rasulullah meminta salah seorang perempuan untuk melihat tanda itu dan dia membenarkan. Lalu seketika wajah Rasulullah berseri-seri.

"Kemarilah Syaima, saudaraku!" sambut Rasulullah seraya tersenyum. Kemudian, beliau menghamparkan jubahnya untuk tempat duduk Syaima. Diberikannya makanan dan buah-buahan untuk menjamu saudaranya itu. Rasulullah menanyakan kabar keluarga yang pernah mengasuhnya semasa kecil dulu.

Kemudian, Rasulullah menawarkan sesuatu kepada Syaima.

"Syaima, apakah kau mau tinggal bersamaku, atau mau pulang kampung?" tanya Rasulullah.

"Aku ingin pulang kampung dan kembali ke keluargaku."kata Syaima. Rasulullah tidak marah. Malahan, beliau menyuruh prajurit untuk mengantarkan Syaima serta membekalinya dengan makanan dan barang-barang berharga.

Bagi Rasulullah, berjumpa dengan Syaima membangkitkan kembali kenangan tentang ibu susuannya, Halimah As-Sa'diyah. Ketika itu datanglah serombongan perempuan dari bani Sa'ad. Mereka mencari bayi orang-orang Quraisy untuk disusui. Dari menyusui bayi-bayi itu, mereka mendapat upah. Biasanya, mereka menyusui sekaligus memelihara bayi-bayi itu selama dua tahun. Halimah pun tidak mau ketinggalan. Kebetulan, ia sendiri sedang menyusui bayi perempuannya, Syaima.

Malam itu, Syaima kecil menangis minta air susu ibunya. Namun ada keanehan yang terjadi. Air susu ibunya tidak keluar. Kemudian, halimah membawa unta betina untuk diperah susunya. Apa boleh buat, air susu unta itu pun tidak keluar.

Setelah itu, Halimah mendatangi rumah Aminah. "Apa bayi ini memerlukan ibu susuan?" tanya Halimah. "Benar," sahut Aminah. "Apakah kau bersedia menjadi ibu susuannya?"

"Siapa ayah bayi ini?"

"Abdullah bin Abdul Muthalib."

"Dimana dia?"

"Sudah meninggal sejak bayi ini dalam kandunganku,"

Aminah mengecup kening bayi cakap di pangkuannya. Ia berharap, perempuan itu mau menyusui Muhammad karena ia sendiri tidak dapat menyusui dengan baik.

Halimah sangat kecewa. Ternyata, bayi itu sudah yatim.

"Aku akan mencari bayi lain." Karena khawatir tidak ada yang mengupah, para ibu susuan tidak mau menerima bayi yatim.

Teman-teman Halimah sudah mendapat bayi susuan. Mereka bersiap-siap akan kembali ke kampungnya membawa bayi-bayi itu. Halimah merasa sedih.

"Aku tidak akan pulang sebelum mendapat bayi susuan," kata Halimah pada suaminya.

"Hanya ada satu bayi yang belum mendapat ibu susuan. Bolehkah aku mengambil bayi yatim itu?"

"Tidak apa-apa. Semoga Allah memberi berkah karena kita merawat anak yatim," kata Harits suaminya.

Halimah segera mendatangi rumah Aminah. Dia pun membawa bayi Muhammad sebagai anak susuannya.

Benar! Allah memberi berkah. Tiba-tiba saja, air susunya keluar banyak hingga cukup untuk menyusui Syaima dan Muhammad. Unta betina miliknya pun kini mengeluarkan air susu yang banyak. Bahkan, ketika dalam perjalanan pulang, keledainya berjalan sangat cepat. Berbeda dengan sangat berangkat, keledai itu berjalan terseok-seok.

Betapa Rasulullah Saw, sangat menghormati serta memuliakan Halimah. Beliau tidak pernah melupakan kebaikan keluarga Halimah. Sampai beliau berkeluarga dan menjadi Rasul pun, tetap menyatakan rasa hormatnya pada ibu susuannya itu.

Suatu hari, Halimah datang ke rumah Rasulullah untuk minta pertolongan,

"Marilah duduk di dekatku wahai ibunda," kata Rasul lemah lembut. Beliau menghamparkan jubahnya untuk tempat duduk Halimah. Maka, Halimah pun duduk disamping Rasulullah.

"Bagaimana keadaan keluarga di kampung?" tanya Nabi.

Halimah menceritakan kesusahan yang tengah dialaminya karena bahaya kelaparan yang menimpa tanah Arab.

Ketika pulang, Halimah dibekali agar tidak kehausan dan kambing sebanyak lima puluh ekor.

Begitu besar penghormatan Rasulullah terhadap ibu susuannya, hingga setiap Halimah berkunjung ke rumahnya, jubahnya sendiri yang dibentangkan untuk hamparan duduk Halimah.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Tamu Dari Makkah

 

Tamu Dari Makkah


Siang itu, langit kota Madinah amat terik seolah akan membakar kulit. Membuat sebagian besar penduduknya enggan keluar rumah. Mereka lebih memilih tinggal di dalam untuk menghindari sengatan yang luar biasa panasnya.

Namun, seorang perempuan tua berjalan tertatih-tatih di tengah panas matahari. Kedua tangannya membawa bungkusan besar, ia datang dari Makkah. Tampak tetesan keringat di wajahnya yang keriput. Sebentar-sebentar ia berhenti di bawah pohon untuk melepaskan lelahnya. Di balik mata cekungnya tersimpan beribu harapan untuk bertemu seseorang.

Inikah rumahnya? Tanya perempuan itu dalam hati. Dengan ragu, ia mendekati sebuah rumah mungil yang sederhana.

Seorang perempuan cantik kebetulan tengah berdiri di depan pintu. Rupanya Asma binti Abu Bakar.

"Betulkah ini rumah Asma?" tanya perempuan itu seraya mengusap keringat.

"Ya, benar ini rumah Asma," dia mengerutkan dahinya untuk menegaskan penglihatannya. Rasanya ia sudah pernah mengenal perempuan itu. Tetapi, siapa dan dimana? Sejenak ia terdiam dan mengingatnya.

Kerinduan Asma yang selama ini dipendamnya hampir tak terbendung lagi. Ia berlari menghampiri ibunya. Betapa Asma ingin memeluk dan mencium ibu yang telah lama dinantikannya.

Tiba-tiba, Asma menghentikan langkahnya. Ia teringat ibunya masih musyrik, belum beriman kepada Allah. Asma memang anaknya. Dahulu perempuan itu istri dari Abu Bakar ketika mereka masih sama-sama menyembah berhala. Lalu, Abu Bakar masuk agama Islam yang dibawa Muhammad. Abu Bakar pun bercerai dengan perempuan itu.

Asma mengurungkan niatnya.

"Nak, kenapa tidak menyuruh ibumu masuk?" perempuan itu menatap Asma dengan rasa rindu dan sayang yang besar.

Asma terdiam. Tidak terasa air matanya berderai di pipi. Asma sangat bingung menghadapi ibu kandungnya yang masih musyrik itu. Apa ia boleh dipersilahkan masuk ke rumah? Apa boleh di peluk? Ah, sungguh Asma belum tahu.

Dengan hati tersayat, Asma masuk kerumah. Ia membiarkan ibunya tetap berdiri di halaman rumah. Di bawah sengatan terik matahari. Asma bergegas mencari Aslam, pembantunya.

"Aslam, tolong temui Rasulullah," kata Asma."Tanyakan pada beliau, apakah ibuku yang belum beriman itu boleh masuk ke rumahku?"

"Baik, aku segera ke sana," sahut Aslam. "Cepatlah Aslam. Aku tak tega membiarkan ibuku kepanasan di luar sana!"

Aslam bergegas menuju rumah Rasulullah. Tiba di hadapan Rasul, ia menceritakan apa yang di alami oleh Asma.

"Katakan pada Asma, persilakan ibunya masuk. Hormati dan muliakanlah. Tidak ada larangan bagi seorang anak untuk menghormati orang tua yang belum beriman kepada Allah," kata Rasulullah.

Pembantu itu pun segera pulang dan menyampaikan pesan Rasulullah. Hati Asma terasa lega. Asma berlari ke luar rumah menyambut ibunya dengan senyum ramah. Asma memeluk ibunya erat-erat, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang.

"Silakan masuk, Bunda," ajak Asma sambil menuntun tangan ibunya. "Lihatlah cucu-cucu Bunda yang sudah besar-besar."

Ibunya tersenyum senang mendapatkan Asma hidup bahagia. Dikeluarkannya bungkusan berisi oleh-oleh aneka makanan yang dibuatnya sendiri.

"Asma, Bunda buatkan makanan kesukaanmu," katanya. Asma terharu. Rupanya, ibu masih mengingat semua kegemarannya. Asma menghormati ibunya dengan baik sekali. Dalam hati, ia bersyukur dapat menyayangi ibunya walaupun ibunya belum menjadi seorang Muslimah.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Abu Hanifah Yang Taat

 

Abu Hanifah Yang Taat


Akibat menolak diangkat menjadi hakim, Abu Hanifah ditangkap. Ulama ahli hukum Islam itu pun di penjara. Sang penguasa rupanya marah besar hingga menjatuhkan hukuman yang berat.

Dalam penjara, ulama besar itu setiap hari mendapat siksaan dan pukulan. Abu Hanifah sedih sekali. Yang membuatnya sedih bukan karena siksaan yang diterimanya, melainkan karena cemas memikirkan ibunya. Beliau sedih kerena kehilangan waktu untuk berbuat baik kepada ibunya.

Setelah masa hukumannya berakhir, Abu Hanifah dibebaskan. Ia bersyukur dapat bersama ibunya kembali.

"Ibu, bagaimana keadaanmu selama aku tidak ada?" tanya Abu Hanifah.

"Alhamdulillah......ibu baik-baik saja," jawab ibu Abu Hanifah sambil tersenyum.

Abu Hanifah kembali menekuni ilmu agama Islam. Banyak orang yang belajar kepadanya. Akan tetapi, bagi ibu Abu Hanifah ia tetap hanya seorang anak. Ibunya menganggap Abu Hanifah bukan seorang ulama besar. Abu Hanifah sering mendapat teguran. Anak yang taat itu pun tak pernah membantahnya.

Suatu hari, ibunya brtanya tentang wajib dan sahnya shalat. Abu Hanifah lalu memberi jawaban. Ibunya tidak percaya meskipun Abu Hanifah berkata benar.

"Aku tak mau mendengar kata-katamu," ucap ibu Hanifah. "Aku hanya percaya pada fatwa Zar'ah Al-Qas," katanya lagi.

Zar'ah Al-Qas adalah ulama yang pernah belajar ilmu hukum Islam kepada Abu Hanifah." Sekarang juga antarkan aku ke rumahnya,"pinta ibunya.

Mendengar ucapan ibunya, Abu Hanifah tidak kesal sedikit pun. Abu Hanifah mengantar ibunya ke rumah Zar'ah Al-Qas.

"Saudaraku Zar'ah Al-Qas, ibuku meminta fatwa tentang wajib dan sahnya shalat," kata Abu Hanifah begitu tiba di rumah Zar'ah Al-Qas.

Zar'ah Al-Qas terheran-heran kenapa ibu Abu Hanifah harus jauh-jauh datang ke rumahnya hanya untuk pertanyaan itu? Bukankah Abu Hanifah sendiri seorang ulama? Sudah pasti putranya itu dapat menjawab dengan mudah.

"Tuan, Anda kan seorang ulama besar? kenapa Anda harus datang padaku?" tanya Zar'ah Al-Qas.

"Ibuku hanya mau mendengar fatwa dari anda," sahut Abu Hanifah.

Zar'ah tersenyum," baiklah, kalau begitu jawabanku sama dengan fatwa putra anda," kata Zar'ah Al-Qas akhirnya.

"Ucapkanlah fatwamu," kata Abu Hanifah tegas.

Lalu Zar'ah Al-Qas pun memberikan fatwa. Bunyinya sama persis dengan apa yang telah diucapkan oleh Abu Hanifah. Ibu Abu Hanifah bernafas lega.

"Aku percaya kalau kau yang mengatakannya," kata ibu Abu Hanifah puas. Padahal, sebetulnya fatwa dari Zar'ah Al-Qas itu hasil ijtihad (mencari dengan sungguh-sungguh) putranya sendiri, Abu Hanifah.

Dua hari kemudian, ibu Abu Hanifah menyuruh putranya pergi ke majelis Umar bin Zar. Lagi-lagi untuk menanyakan masalah agama. Dengan taat, Abu Hanifah mengikuti perintah ibunya. Padahal, ia sendiri dapat menjawab pertanyaan ibunya dengan mudah.

Umar bin Zar merasa aneh. Hanya untuk mengajukan pertanyaan ibunya, Abu Hanifah datang ke majelisnya.

"Tuan, Andalah ahlinya. Kenapa harus bertanya kepada saya?" kata Umar bin Zar.

Abu Hanifah tetap meminta fatwa Umar bin Zar sesuai permintaan ibunya.

"Yang pasti, hukum membantah orang tua adalah dosa besar," kata Abu Hanifah.

Umar bin Zar termangu. Ia begitu kagum akan ketaatan Abu Hanifah kepada ibunya.

"Baiklah, kalau begitu apa jawaban atas pertanyaan ibu Anda?"

Abu Hanifah memberikan keterangan yang diperlukan.

"Sekarang, sampaikanlah jawaban itu pada ibu anda. Jangan katakan kalau itu fatwa anda,"ucap Umar bin Zar sambil tersenyum.

Abu Hanifah pulang membawa fatwa Umar bin Zar yang sebetulnya jawabannya sendiri. Ibunya mempercayai apa yang diucapkan Umar bin Zar.

Hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Ibunya sering menyuruh Abu Hanifah mendatangi majelis-majelis untuk menanyakan masalah agama. Abu Hanifah selalu menaati perintah ibunya. Ibunya tidak pernah mau mendengar fatwa dari Abu Hanifah meskipun beliau seorang ulama yang sangat pintar.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Qarun Si Pembohong

 

Qarun Si Pembohong


Pada zaman Nabi Musa a.s, hiduplah seorang yang dianugerahi kekayaan yang berlimpah, Qarun namanya. Ia memiliki rumah yang megah dan indah serta di penuhi barang-barang mewah. Begitu juga sawah dan hewan ternaknya tak terhitung lagi. Bahkan, Qarun punya harta simpanan yang sangat banyak untuk mengangkut kuncinya saja dibutuhkan banyak orang.

Qarun memang seorang yang pandai dan ahli dalam bekerja. Namun sayang, Qarun amat pelit dan kejam. Ia hanya mau memeras tenaga orang-orang untuk memperkaya dirinya tanpa diberi upah. Hanya sedikit makanan dibagikan supaya mereka tidak mati kelaparan.

Qarun senang berjalan-jalan memamerkan kekayaannya sehingga membuat kagum orang yang melihatnya.

"Wah! Sungguh beruntung Qarun! Punya harta yang banyak!"teriak orang-orang

"Kalau saja aku kaya raya seperti Qarun, tentu hidupku akan senang sepanjang masa!" teriak yang lainnya.

Bukan main bangganya Qarun mendengar pujian itu. Ia semakin larut dalam kesombongan.

Suatu siang, utusan Nabi Musa datang menjumpai Qarun. Orang itu menyampaikan pesan Nabi Musa bahwa Qarun wajib memberikan zakat atas hartanya kepada fakir miskin.

"Apa?! Memangnya siapa Musa itu?" Muka Qarun merah padam."Aku mendapat harta kekayaan ini dengan susah payah. Sekarang harus dibagikan pada orang miskin. Enak saja!" kata Qarun marah-marah.

"Hartaku ini kuperoleh dengan kerja keras dan kepandaianku sendiri! Tak ada yang membantuku,"sahut Qarun dengan angkuhnya.

Lalu, Nabi Musa sendiri yang datang ke rumah Qarun untuk menyampaikan kewajiban membayar zakat.

Melihat Musa muncul dihadapannya, entah kenapa Qarun jadi gemetaran. Ia merasa takut pada Musa. Wajah beringasnya berubah ramah sekali.

"Mari! Silakan, saudaraku,"kata Qarun pada Nabi Musa. Ia membungkukkan badannya tanda hormat.

"Tak perlu bermanis muka kepadaku. Benarkah kau menolak memberikan zakat? Allah telah memberimu harta yang berlimpah! Kau harus mengeluarkan zakat bagi fakir miskin.

Sungguh, aku menyuruhmu berzakat atas perintah Allah," kata Nabi Musa.

Qarun amat ketakutan. Ia tidak bisa marah pada Musa.

"O, tentu!" kata Qarun."Akan kusuruh kepala gudang menghitung semua kekayaanku dan mengeluarkan zakatnya."

"Musa pun mempercayai ucapan Qarun. Pengawal dan pembantu Qarun sangat heran melihat sikap Qarun yang pengecut. Dibelakang Nabi Musa, Qarun berani menjelekkannya. Tapi di depan Nabi Musa, ia malah menghormatinya.

Sepeninggal Nabi Musa, Qarun mulai sadar akan kepengecutannya.

"Hmmmm! Aku harus menemui Musa dengan sombong! Aku harus mengembalikan kewibawaanku di depan pembantuku," kata Qarun.

"Aku tidak akan mengeluarkan zakat. Harta yang kupunya bukan untuk dibagikan pada orang miskin!" umpat Qarun.

Keesokan harinya, Nabi Musa menemui Qarun lagi untuk memperingatkan kewajiban berzakat. Kali ini Qarun menyambut Nabi Musa dengan wajah yang sombong. Ia berdiri tegak di depan pintu. Dikenakannya pakaian yang bagus dan perhiasan yang mahal-mahal. Agar kelihatan besar dan Nabi Musa akan merasa rendah dihadapannya.

"Hai Qarun! Kau sudah berbohong padaku. Kemarin kau bilang akan memberikan zakat pada orang miskin, tapi nyatanya kau menolak perintah Allah," kata Nabi Musa.

"Hai Musa! Ketahuilah, semua harta kekayaanku ini kuperoleh dengan kerja keras. Mengapa harus dibagikan pada orang miskin?"bantah Qarun dengan angkuh.

Nabi Musa kini mengetahui kalau Qarun seorang yang munafik. Si pembohong Besar. tak henti-hentinya Nabi Musa mengingatkan akan hukuman Allah bagi orang yang berdusta. Namun, Qarun tetap dalam kebanggan dirinya.

"Aku akan memohon kepada Allah supaya menenggelamkan semua harta kekayaanmu kedasar bumi,"sahut Nabi Musa.

"Ha..ha..ha.....cobalah meminta pada Tuhanmu. Aku tidak takut! Aku banyak memiliki kekayaan yang dapat menolongku,"kilah Qarun. Ia tidak mengindahkan ancaman Nabi Musa.

Nabi Musa lalu berdo'a seraya mengangkat tangannya. Allah mengabulkan do'a Nabi-Nya. Tiba-tiba, tanah yang dipijak Qarun menjadi retak dan terbelah. Rumah megah besrta isinya milik Qarun tenggelam.

"Oh.....tidak! rumahku....., hartaku......tolong.....," Qarun menjerit sedih. Dalam waktu sekejap saja semua kekayaannya amblas ke dalam tanah. Dan Qarun sendiri jatuh ke dasar bumi. Terkubur bersama harta kekayaannya yang banyak itu.

Orang-orang yang dulu berangan-angan mempunyai kekayaan yang banyak seperti Qarun kini menyadari kekhilafannya.

"Sungguh malang! Allah telah menghukum Qarun dan membinasakan seluruh hartanya," kata orang-orang itu. Karena pertolongan Allah, Nabi Musa dan kaumnya selamat.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Gadis Jujur

 

Gadis Jujur


Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.

Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.

"Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini," kata anak perempuan itu.

"Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit."

"Benar anakku," kata ibunya.

"Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak," harap anaknya.

"Hmmm....., sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan," kata ibunya.

Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.

"Nak," bisik ibunya seraya mendekat. "Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah."

Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.

"Tidak, bu!" katanya cepat.

"Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air." Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.

"Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu," gerutu ibunya kesal.

"Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?"

"Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita," kata ibunya tetap memaksa.

"Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!"

"Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya,"tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang.

Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.

"Aku tidak mau melakukan ketidak jujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,"kata anak itu.

Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.

Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.
" Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!" gumam khalifah Umar. Khalifah Umar beranjak meniggalkan gubuk itu.Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.

Keesokan paginya, khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Di ceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.

" Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya," kata khalifah Umar. " Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat."

Ashim bin Umar menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan di tangkap karena suatu kesalahan.

" Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami....," sahut ibu tua ketakutan.

Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.

"Bagaimana mungkin?
Tuan adalah seorang putra khalifah , tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?" tanya seorang ibu dengan perasaan ragu.

" Khalifah adalah orang yang tidak ,membedakan manusia. Sebab, hanya ketawakalanlah yang meninggikan derajad seseorang disisi Allah," kata Ashim sambil tersenyum.

" Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur," kata Khalifah Umar.
Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya.
Bagaimana khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.

" Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian...," jelas khalifah Umar.

Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.

Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Bebrapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Kejujuran Sang Imam

 

Kejujuran Sang Imam


Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota kufah. Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijual. Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya di tempat yang terbuka. Supaya kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.

Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.

"Mari silakan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai,"tawar Imam Hanafi tersenyum ramah.

Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri.

"Bolehkah aku melihat pakaian itu?" tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengambilkannya.

"Berapa harganya?"tanyanya sambil memandangi pakaian itu. Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya."Imam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.

"Sayang sekali."perempuan itu tampak kecewa.

"Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?"

"Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja."

"Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,"katanya.

"Tidak apa-apa, terima kasih,"sahut Imam Hanafi tetap tersenyum dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka sering menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.

Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak. Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali. Imam Hanafi lalu menghampirinya.

"Silakan, baju itu bahannya halus sekali. Harganya pun tak begitu mahal."

"Memang, saya pun sangat menyukainya." Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih. "Tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini orang miskin,"katanya lagi.

Imam Hanafi merasa iba. Orang itu begitu menyukai baju ini, saya akan menghadiahkannya untuk ibu,"kata Imam Hanafi.

"Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?"
"Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih."Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.

"Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi." Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.

Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar. Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu. Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya sesama pedagang.

Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain yang ada cacatnya itu.

"Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja," kata Imam Hanafi. Sahabatnya mengangguk. Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian.

Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya.

"Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang,"kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.

"Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?" tanya Hanafi.

"Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh."sahabatnya sangat menyesal.

Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yang membeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.

"Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya,"ucap Imam Hanafi.

Sampai larut malam, Imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui. Imam Hanafi amat sedih.

Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.

"Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu,"ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.

Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.

Keesokan harinya Imam Hanafi kedatangan utusan seorang pejabat pemerintah. Pejabat itu memberikan hadiah uang sebanyak 10.000 dirham sebagai tanda terima kasih. Rupanya sang ayah merasa bangga anaknya bisa berguru pada Imam Hanafi di majelis pengajiannya. Imam Hanafi menyimpan uang sebanyak itu disudut rumahnya. Ia tidak pernah menggunakan uang itu untuk keperluannya atau menyedekahkannya sedikitpun pada fakir miskin.

Seorang tetangganya merasa aneh melihat hadiah uang itu masih utuh.

"Kenapa Anda tidak memakainya atau menyedekahkannya?" tanyanya.

"Tidak, Aku khawatir uang itu adalah uang haram," kata Imam Hanafi.

Barulah tetangganya mengerti kenapa Imam Hanafi berbuat begitu. Uang itu pun tetap tersimpan disudut rumahnya. Setelah beliau wafat, hadiah uang tersebut dikembalikan lagi kepada yang memberinya.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Keteguhan Hati Sang Nabi

 

Keteguhan Hati Sang Nabi


Ada satu contoh yang bisa kita ambil dari perilaku Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad Saw, adalah orang yang terkenal teguh hatinya. Maksudnya, ia sangat taat dalam menjalankan kebenaran. Suatu kebenaran yang datang dari Allah dipertahankannya walau keselamatan beliau terancam.

Alkisah, Nabi Muhammad Saw, telah menerima wahyu dari Allah. Nabi diutus kepada seluruh umat manusia untuk menyembah Allah. Nabi diutus kepada seluruh umat manusia untuk menyembah Allah. Sejak itu, Nabi mulai aktif berdakwah sendirian.

Pada awalnya, beliau berdakwah kepada istrinya, lalu kepada kaum kerabatnya. Karena Nabi berasal dari suku Quraisy, beliau sering berdakwah setiap ada perkumpulan suku Quraisy. Nabi tidak mendapatkan banyak sambutan, tetapi lebih banyak cemoohan.

Semakin lama para tokoh Quraisy mulai gusar juga. Beramai-ramai mereka menemui paman Nabi, Abu Thalib. Selama ini, beliaulah yang menjadi pelindung Nabi setelah kakek Nabi meninggal. Seseorang berkata,"Hai, Abu Thalib! Kau tahu anak saudaramu itu telah membuat fitnah dihalaman rumah kita, bahkan perkumpulan kita. Ia mengatakan sesuatu yang tidak kita sukai. Kami berharap engkau dapat menghentikannya!"

Abu Thalib lalu memanggil putranya, Aqil."Wahai Aqil, pergilah engkau cari Muhammad, dan bawa ia kepadaku!"

Aqil pergi mencari dan mendapati Muhammad berada di sebuah pondok dari deretan rumah Abu Thalib. Lalu, Muhammad berjalan beriringan dengan Aqil. Ia tampak susah payah berjalan karena kelaparan. Duh, sungguh melihat keadaan junjungan kita ini, hati menjadi terenyuh. Beliau memang sering menahan lapar dan dingin ketika sedang berdakwah.

Sesampainya dirumah, Abu Thalib berkata kepadanya,"Wahai Anak saudaraku! Sungguh aku tahu bahwa kau anak baik-baik. Tadi, telah datang beberapa orang dari kaummu yang menuduh engkau selalu berbuat yang tidak baik. Engkau mengatakan sesuatu yang mereka tidak suka. Engkau menyakiti hati mereka. Nah, aku pikir lebih baik engkau hentikan kata-kata serupa itu!"

Nabi Muhammad termenung seketika mendengar perkataan pamannya. Pada mulanya, beliau merasa kecewa. Nabi menyangka sang paman tidak akan membelanya lagi. Ia lalu memandang ke atas langit."Wahai, pamanku! Jika mereka letakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku untuk memaksaku berhenti berdakwah, aku tetap tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya!"

Nabi Muhammad Saw mengucapkannya sambil terisak. Bahkan, beliau sempat menangis sambil terus pergi meninggalkan pamannya.

Abu Thalib merasa serba salah. Lalu, ia kembali memanggil Muhammad.

"Wahai, Anak Saudaraku! Teruskan dan serukanlah apa yang kamu inginkan. Sungguh, aku akan tetap membelamu!"

Oh, sungguh ucapan ini menambah keteguhan hati Nabi Muhammad Saw. Inilah salah satu hal yang membuat beliau begitu mencintai pamannya. Kelak, ketika pamannya wafat dan juga istrinya, Nabi Saw sangat berduka sekali. Tahun wafatnya dua orang tersebut, terkenal dengan sebutan "Tahun Duka Cita".

Selepas meninggalnya Abu Thalib, Nabi Muhammad Saw tetap bersemangat untuk berdakwah. Namun, ia kehilangan orang yang membelanya selama ini. Akibatnya, para pemimpin Quraisy pun mulai berencana mencelakainya. Bahkan, ada yang ingin membunuhnya.

Suatu ketika, Nabi berada di Ka'bah. Beliau hendak melaksanakan shalat. Ketika itu dengan diam-diam, datanglah Uqbah bin Abu Mu'aith. Tiba-tiba, Uqbah membelitkan selembar kain ke tengkuk nabi Muhammad Saw. Kain itu disentakkan dengan kuat sekali. Nabi Muhammad tercekik dan jatuh tersungkur. Orang-orang yang melihat kejadian itu menjerit. Mereka menyangka Nabi telah wafat.

Abu Bakar r.a., sahabat beliau, melihat hal itu. Ia dengan cepat menghampiri Uqbah dan melepaskan cekikannya. Abu Bakar pun membentak Uqbah,"Apa-apaan ini? Apakah engkau hendak membunuh orang yang mengatakan bahwa'Tuhanku adalah Allah'?"

Uqbah tidak menjawab pertanyaan Abu Bakar r.a. Ia  langsung ngeloyor pergi, dan berkumpul kembali dengan para pemimpin Quraisy.

Nabi Muhammad Saw, tetap bersabar menerima perlakuan itu. Ia tidak berkata sepatah pun. Ia malah bangkit, lalu menunaikan shalatnya yang terganggu.
Sedemikian teguh hati Nabi dalam menerima celaan, hinaan, bahkan siksaan.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Keteguhan Hati Abu Bakar

 

Keteguhan Hati Abu Bakar


Abu bakar merupakan sahabat Nabi yang sangat setia, beliau termasuk orang yang paling awal memeluk Islam. Ia orang kedua yang memeluk Islam setelah siti Khadijah, istri Nabi Muhammad Saw. Kelak setelah Nabi Muhammad Saw wafat, beliau juga dikenal sebagai khalifah pertama kaum muslim.

Abu bakar juga terkenal karena kecintaan dan kepercayaannya yang tinggi terhadap Nabi Saw. Karena itu, ia mendapat gelar ash-shiddiq dibelakang namanya. Gelar itu artinya"yang selalu membenarkan".

Abu Bakar-lah orang yang pertama kali membenarkan perjalanan Nabi dalam kisah Isra' Mi'raj.

Sejak meneguhkan hatinya memeluk islam, Abu Bakar menjadi salah seorang pembela Islam. Ia mendesak Nabi Saw untuk memperluas cara berdakwah. Abu Bakar pun menjadi wakil Nabi dalam menyampaikan ajaran Islam.

Suatu ketika, Abu Bakar berpidato di Ka'bah. Nabi Saw duduk di sampingnya, Abu Bakar menjadi orang pertama yang menyeru untuk menyembah Allah Swt., dan mengakui Nabi Muhammad sebagai utusan Allah. Oleh karena itu, ia pun menjadi incaran kaum musyrikin.

Kebencian kaum musyrikin makin menjadi-jadi terhadap Islam. Abu Bakar pun menjadi sasaran kemarahan mereka. Suatu hari, Abu Bakar dipukul beramai-ramai. Ia tersungkur ke tanah, lalu ditendang dari kiri dan kanan. Seseorang bernama Utbah bin Rabi'ah merenggut sandal Abu Bakar. Sandal itu lalu dihantamkannya ke wajah Abu Bakar.

Masya Allah, wajah sahabat Nabi itu menjadi benjut dan lebam. Untunglah, datang orang-orang dari suku Bani Taym (sukunya Abu Bakar) melindungi Abu Bakar dari orang-orang yang hendak memukulnya.

Abu Bakar sudah dalam keadaan sekarat. Orang-orang dari suku Bani Taym membawanya ke rumah. Lalu, orang-orang tadi pun kembali ke masjid sambil mengancam,"Demi Allah, jika Abu Bakar mati, maka kami akan membunuh Utbah bin Rabi'ah!"

Banyak orang dari suku Bani Taym berkumpul di rumah Abu Bakar. Kemudian, Ayah Abu Bakar, Abu Quhafah, mencoba memanggil-manggil anaknya. Akhirnya, Abu Bakar siuman dan bisa berkata-kata lagi. Tapi, apa yang pertama kali ditanyakan Abu Bakar? Antara sadar dan tidak, ia terus berkata-kata lagi. "Dimana Nabi? Apa yang terjadi dengan Nabi?"

Orang-orang menenangkan Abu Bakar. Lalu sang Ibu, Ummu Khair, mencoba membujuk anaknya untuk makan malam. Tapi, Abu Bakar tidak mempedulikannya. Ia malah terus bertanya-tanya tentang Nabi Saw. Demikianlah, betapa cintanya Abu Bakar kepada Nabi Muhammad Saw.

Akhirnya, Abu Bakar meminta Ibunya untuk menemui Ummu Jamil. Abu Bakar mengatakan bahwa Ummu Jamil pasti tahu keadaan Nabi Saw. Maka, oleh ibunya dibawalah Ummu Jamil kerumah. Ummu Jamil terkejut melihat keadaan Abu Bakar yang sudah payah sekali. Kemudian, Ummu Jamil membisikkan kepada Abu Bakar bahwa Nabi dalam keadaan baik-baik saja. Abu Bakar pun merasa lega. Namun ia tetap saja tidak mau makan." Demi Allah, aku tidak akan merasakan makan dan minum sampai aku menemui Nabi Saw!"

Begitu sabar ibu Abu Bakar memenuhi keinginan Aanaknya. Ketika keadaan aman, dibawalah Aabu Bakar menemui Nabi Muhammad Saw. Saat itu Nabi Saw berada dirumah Ibnu Arqam. Melihat keadaan Aabu Bakar yang begitu menyedihkan, bangkitlah segera Nabi Saw. Ia memeluk dan mencium Abu Bakar, sahabat yang dicintai dan sangat mencintainya.

Abu Bakar menenangkan Nabi yang tampak sedih.

"Demi ayah dan ibuku, wahai Muhammad! Aku ini tidak apa-apa, dan janganlah engkau terlalu merasa khawatir. Cuma ada yang terasa sakit diwajahku karena pukulan Utbah. Tapi, sebentar lagi juga hilang! Dan ini, Ibuku yang telah memenuhi keinginanku, sedangkan engkau adalah orang yang diberkati. Tolonglah ajak dia memeluk Islam, dan do'akanlah ia agar terhindar dari api Neraka!"
       
Nabi Saw pun mengislamkan ibunda Abu Bakar serta mendoakannya. selanjutnya, sejak peristiwa itu kaum Muslimin tinggal dirumah Ibnu Arqam selama kurang lebih satu bulan. Saat itu mereka berjumlah 39 orang. Tepat ketika hari Abu Bakar dipukul orang, Hamzah bin Abdul Muthalib (salah seorang paman Nabi memeluk Islam.

Kemudian, Nabi Saw berdo'a kepada Allah agar islam dikuatkan oleh salah seorang diantara Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam. Baru saja beliau berdo'a pada hari Rabu, tiba-tiba hari kamis datang Umar bin Khattab memeluk Islam.

Nabi Saw dan kaum muslimin yang lain serentak mengucapkan takbir atas Islamnya Umar

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Keteguhan Hati Imam Al-Ghazali

 

Keteguhan Hati Imam Al-Ghazali


Kisah ini menceritakan tentang seorang tokoh sufi yang sangat terkenal. Beliau adalah Imam Al-Ghazali yang dilahirkan di kota Gazalah, di Iran utara. Jadi, nama tempat kelahirannya menjadi namanya juga (ini kebiasaan  bagi orang-orang Arab).

Nama sebenarnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad At-Tusi Al-Ghazali. Beliau berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya hanya seorang pemintal benang tenun. Namun, ayahnya ingin sekali anaknya menjadi orang yang berilmu.

Sebelum meninggal, ayahnya menitipkan Al-Ghazali dan saudaranya, Ahmad, kepada seorang sahabatnya.

Kala itu, sang ayah hanya meninggalkan warisan yang tidak seberapa. Oleh sahabat ayahnya, Al-Ghazali dan Ahmad dimasukkan sekolah. Al-Ghazali menjadi anak yang haus ilmu. Ia banyak belajar berbagai hal.

Ketika Al-Ghazali menginjak usia remaja, sahabat ayahnya sudah tidak sanggup lagi menyekolahkannya. "Abu Hamid, harta ayahmu yang dititipkan kepadaku telah habis. Aku merasa tidak sanggup lagi untuk menyekolahkanmu. Oleh karena itu, aku sarankan untuk mencari biaya pendidikan ke luar kota. Kudengar di Thus ada seorang ulama kaya yang suka membantu orang-orang tidak mampu. Datanglah ke sana.!"

Beruntunglah ketika pindah ke kota Thus, Al-Ghazali mendapat bea siswa dari Ahmad bin Muhammad Razkafi. Ulama inilah yang telah mengajarkan kepada Al-Ghazali tentang cara membaca Al-Qur'an, hadits, dan fiqh. Al-Ghazali sangat cepat menguasai pelajaran. Dalam waktu singkat ia telah fasih membaca Al-Qur'an, hafal banyak hadits, dan tahu banyak tentang hukum islam. Hal ini membuat Al-Ghazali semakin meneguhkan hatinya untuk belajar. Ia ingin mengangkat derajatnya dengan ilmu pengetahuan.

Selesai menamatkan pendidikan di kota Thus, Al-Ghazali meminta izin untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Atas restu gurunya dan bantuan pemuka setempat, Al-Ghazali bisa melanjutkan pendidikan ke kota jurjan. Ia belajar di sebuah sekolah yang di pimpin oleh ulama besar bernama Abu Nasar ismaili. Disini, ia belajar selama tiga tahun. Setelah itu, kembali ke kotanya.

Dalam perjalanan pulang, Al-Ghazali mendapat pelajaran berharga. Keteguhan hatinya untuk belajar ilmu agama diuji oleh Allah. Ketika pulang, ia dicegat gerombolan perampok.

"Hai, anak muda! Serahkan hartamu kalau mau selamat!" hardik seorang perampok.

"Aku tidak memiliki apa pun selain pakaian dan buku-buku ini," ujar Al-Ghazali dengan penuh iba.

Para perampok itu menggeledah Al-Ghazali. Tapi, mereka tidak menemukan harta yang di cari. Mereka pun menjadi sangat kesal. Kemudian memberantakkan buku-buku catatan Al-Ghazali. Dengan penuh harap, Al-Ghazali memohon kepada mereka, "Wahai tuan, tolong kembalikan buku-buku catatanku. Engkau boleh ambil pakaian-pakaian milikku."

Perampok itu tak menghiraukan permohonan Al-Ghazali. Salah seorang dari mereka malah menyindirnya,"Untuk apa engkau belajar, kalau masih membutuhkan catatan-catatan tak berguna ini!" Para perampok itu lalu membakar buku-buku catatan milik Al-Ghazali.

Al-Ghazali hampir menangis karena kesal melihat ulah para perampok itu. Namun, kata-kata sindiran dari perampok terngiang-ngiang di telinganya.

Al-Ghazali benar-benar terpukul oleh kejadian tersebut. Sejak itu, ia meneguhkan hatinya untuk dapat menghafal seluruh catatannya. Selama tiga tahun ia kembali menghafal segala sesuatu yang telah dipelajarinya. Oleh karena itu, ia tidak memerlukan buku lagi. Subahanallah, karena kepintarannya, Al-Ghazali mampu menghafalkan semua yang telah dipelajarinya.

Orang yang telah teguh hatinya tidak akan mundur ketika ditimpa musibah. Setiap musibah pasti mengandung hikmah. Ingatlah bahwa seseorang yang sedang diuji dengan musibah, orang itu sedang diperhatikan oleh Allah.

Al-Ghazali kemudian menjadi sarjana yang sangat ahli dalam berbagai bidang. Keharuman namanya membuat ia diangkat menjadi guru besar hukum di Madrasah Nizamiyah di Baghdad. Dengan keteguhan hatinya, Al-Ghazali dianggap menjadi pembela kebenaran islam yang terbesar sehingga dijuluki Hujjatul Islam atau pembela Islam. Ia telah menulis sebuah karya terbesar berjudul Ihya' Ulum ad-Din (menghidupkan kembali ilmu agama). Kitab ini masih dibaca dan dipelajari orang hingga kini. Ia memang terkenal sebagai penulis. Karyanya yang sudah dibukukan berjumlah sekitar 228 buku mencakup berbagai bidang ilmu.

Pengaruh Al-Ghazali sangat besar dalam Islam. Tidak heran jika ada yang mengatakan bahwa ia adalah salah seorang tokoh terpenting setelah Nabi Muhammad Saw. Demikianlah kisah keteguhan hati sang tokoh sufi. Ia merupakan salah satu tukoh Islam yang banyak mengajarkan ilmu menata hati.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Rendah Hati Sang Nabi


 

Rendah Hati Sang Nabi


Rasulullah baru saja selesai berzikir dan berdo'a ketika fatimah datang.

"Assalamu'alaika ya Rasulullah," salam fatimah dari luar. Rasulullah segera membukakan pintu.

"Alaiki salam, kau rupanya Fatimah," jawab Rasulullah gembira. Wajahnya selalu berseri setiap kali menyambut kedatangan putrinya itu. Dipeluknya Fatimah dengan penuh kasih sayang. Sesudah beberapa saat, Rasulullah menangkap ada kedukaan di wajah putri yang amat dicintainya itu.

"Ada apa, putriku?" tanya Rasulullah.

"Ya Rasulullah, sudah berhari-hari kami sekeluarga kelaparan. Tidak ada makanan yang kami punya," sahut Fatimah.

Rasulullah tersenyum.

"Kemarilah, duduk di dekat Ayah," kata Rasulullah seraya mengulurkan tangannya. Fatimah mendekat. Rasulullah memegangi tangan Fatimah. Didekatkannya tangan Fatimah ke perut Rasul.

Fatimah tersentak. Ada batu-batu di balik jubah ayahnya.
Fatimah mengangkat wajah menatap Rasulullah.

"Ayahanda....." Tak kuasa Fatimah melanjutkan kata-katanya. Air matanya seolah menyekat tenggorokannya. Bila Rasulullah meletakkan batu-batu itu di perutnya, berarti Rasulullah dalam keadaan yang sangat lapar. Batu-batu itu untuk mengganjal agar rasa lapar tidak terlalu menyakitkan.

Rasulullah tersenyum kepada putri kesayangannya.

"Maafkan Ayah, Nak, di rumah ini pun tidak ada yang bisa dimasak," kata Rasulullah.

Melihat senyum ayahnya yang begitu indah, Fatimah menjadi tenang. Segera ia menghapus air matanya.

Ia sangat malu sudah mengeluhkan kesusahannya. Padahal, ayahnya sendiri dalam keadaan susah. Bagi putri Rasulullah tidak baik merasa dirinya susah. Ya! Karena ia putri seorang Nabi.

Fatimah pun pulang ke rumahnya dengan perut yang tetap lapar, namun hatinya begitu bahagia.

Setelah Fatimah pulang, Rasulullah membaringkan badannya di atas sehelai tikar. Baru beberapa saat beliau memejamkan mata, terdengar suara orang mengetuk pintu. Rasulullah pun bangkit membuka pintu. "Sahabatku Umar, masuklah," kata Rasul. Umar terkejut  memandangi wajah Rasul yang tampak pucat.

"Ya Rasulullah, apakah kau sakit?" tanya Umar. Rasul menggeleng sambil tersenyum. Senyum itu segera menghapus keletihan di wajahnya.

"Duduklah!" Rasulullah mempersilakan Umar duduk diatas tikar yang tersedia. Umar baru mengetahui kalau ia sudah menganggu tidur Rasulullah. Tampak jelaslah bekas anyaman tikar di wajah Rasulullah. Beginikah tempat berbaring Rasul Allah itu? Tikar itu sudah usang. Selain benda itu, tidak ada lagi perabotan yang lainnya.

Hati Umar sedih.

"Ya Rasulullah," katanya menahan duka,"kenapa hidupmu begitu kekurangan? Raja dan kaisar hidup dalam kesenangan dan kemewahan. Anda, Nabi dan Rasul yang besar. Kenapa menjalani hidup semiskin ini?" kata Umar dengan mata berkaca-kaca.

Rasulullah segera memotong perkataan Umar.

"Wahai Umar! Apakah jika aku tidak memiliki harta dan hidup mewah, berarti suatu kerugian bagiku? Apakah hanya karena benda-benda duniawi kita merasa kaya dan beruntung? Semua itu bukanlah sesuatu yang pantas dibandingkan,"jelas Rasulullah. Umar termangu. Tidak membantah perkataan Rasul. "Ketahuilah, suatu hari israfil datang kepadaku, menawarkan dua pilihan. Aku disuruh memilih apakah ingin menjadi nabi dan raja, atau menjadi nabi dan hamba? Lalu aku memilih menjadi nabi dan hamba," kata Rasulullah.

Ya, Rasulullah telah memilih menjadi seorang Nabi yang tidak punya kekuasaan dalam pemerintahan. Beliau tetap rendah hati meskipun memiliki umat yang mendiami bumi ini.

"Seumpama ketika itu aku memilih menjadi nabi dan raja. Sudah pasti gunung-gunung akan berubah menjadi emas dan permata bagiku," kata Rasul.

Umar terdiam, penuh ketakjuban terhadap sikap mulia Rasulullah.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Rendah Hati Sang Panglima


 

Rendah Hati Sang Panglima


Sejak pagi, Hasan dan Husein menangis.

"Diamlah, Anakku," kata Fatimah ," sebentar lagi ayahmu datang ," Ayah mereka , Ali bin Abi Thalib, sedang pergi.
Namun Hasan dan Husein tak mau berhenti menangis. Malah semakin keras.

Fatimah bergegas mencari sesuatu yang bisa dimasak. Tetapi malang sekali,di rumah itu tidak ada makanan sedikit pun.
Pasti Hasan dan Husein sangat lapar. Memang, keluarga Ali bin Abi Thalib hidup dalam kekurangan. Bahkan mereka sering dalam kelaparan.

"Jangan menangis, anakku sayang," bujuk Fatimah.
Fatimah memeluk kedua putranya dengan kasih sayang. Ia menyenandungkan lagu ninabobo kepada keduanya. Tangis Hasan dan Husein mulai mereda. Tidak berapa lama kemudian,Ali bin Abi Thalib tiba di rumah. " Apa ada makanan untukku, Fatimah ?" tanya Ali bin Abi Thalib. Fatimah menggeleng keras. Sudah beberapa hari Fatimah tidak memasak karena tidak ada sesuatu yang dapat dimasak.

"Hasan dan Husein menangis karena lapar," sahut Fatimah seraya memandang kedua putranya. Ali bin Abi Thalib tercengang. Dipanggilnya Hasan dan Husein.

"Kemarilah anak-anakku," panggil Ali seraya tersenyum lebar. Hasan dan Husein berhamburan ke pangkuan ayahnya. Tawa mereka pun terdengar.

"Ayah akan mencari makanan. Kalian ikut ?" kata ali.
Alangkah senang hati Hasan dan Husein diajak jalan- jalan oleh ayahnya .

"Tentu! kami mau ikut!" seru Hasandan Husein bersamaan.
Lalu Alibin Abi Thalib menuntun kudua putra kecilnya. Sepanjang jalan Ali bin Abi Thalib menghibur anak-anknya dengan cerita -cerita yang lucu. Hasan dan Husein tampak Gembira dan melupakan perut mereka yang lapar.

Fatimah tersenyum.hatinya lega melihat anak-anaknya kembali ceria. Ali bin Abi Thalib suaminya memang begitu mengagumkan. Fatimah tidak pernah merasa kekurangan walau hidupnya serba kekurangan. Bukankah Ali bin Abi Thalib seorang Panglima perang yang gagah berani? Yang selalu memenangkan peperangan yang besar.
Rasulullah sering menyerahkan tugas-tugas yang membawa panji-panji Islam kepadanya.
Kemuliaan di sisi Allah jauh lebih besar dibandingkan kemewahan yang melimpah.   

Ali bin Ali Thalib membawa Hasan dan Husein ke rumah seorang Yahudi.
"Tuan, apa anda membutuhkan orang untuk menimbakan air?
Tanya Ali. Orng Yahudi itu terheran-heran melihat Ali bin Abi Thalib.

"Bukankah Tuan adalah Ali bin Abi Thalib, seorng Panglima perang dan seorang menantu Rasulullah?" Orang Yahudi balik bertanya. Ia tahu kalau orang di hadapannya itu adalah seorang suami dari putri Rasulallah, pemimpin umat.

"Betul."

"Kenapa Tuan meminta pekerjaan kepada saya ?"

"Kedua putraku sedang lapar. Aku memerlukan beberapa butir Kurma." Ali memandangi kedua anaknya. Hasan dan Husein tampaktampak bermain-main dibawah sebuah pohon.

"Anda boleh memberi upah sebutir Kurma dari setiap satu timba air".
Aneh, orang seperti Ali bin Abi Thalib mau menerima upah untuk memberimakan putranya. Padahal, ia dan keluarganya mempunyai kedudukan yang tinggi dan disegani oleh penduduk Madinah.

"Baiklah, aku setuju," kata orang Yahudi. Setiap satu timba air, Ali bin Abi Thalib mendapat sebutir kurma yang manis.

Ali bin Abi Thalib lantas mengambil air dengan timbanya. Setiap butir kurma yang didapatkannya pada Hasan dan Husein.
Dengan gembira, kedua putranya memakan buah kurma.
Terkadang mereka saling berebut dan Ali bin Abi Thalib melerainya. Ali tidak memperdulikan keletihan badannya karena bekerja seberat itu. Semua dilakukannya dengan hati senang, demi kedua putranya  yang amat disayanginya.

"Apa kalian merasa kenyang?" tanya Ali.
Hasan dan Husein mengangguk.
Ali menyisihkan beberapa butir kurma untuk Fatimah. Sementara ia tidak memakan sebutir kurmapun padahal perutnya sangat lapar.

Ali bin Abi Thalib mengajak Hasan dan Husein pulang. Mereka bercanda sepanjang jalan. Saling berkejaran dan tertawa gembira. Hasan dan Husein selalu senang bila bepergian dengan ayahnya mereka.

Di pintu rumah, Fatimah menyambut mereka dengan senyum bahagia. Hasan dan Husein pun menceritakan kepada ibunya kalau mereka baru saja makan buah kurma yang manis.

"Kemana Tuan membawa mereka? " tanya Fatimah kepada Ali bin Abi Thalib.

"Ke rumah orang Yahudi. Disana aku mendapat upah kurma yang manis dari pekerjaanku menimba air," jawab Ali bin Abi Thalib.
       
Fatimah tersenyum bahagia. Ia sangat bangga pada Ali bin Abi Thalib karena dapat menyenangkan hati kedua anaknya. Sekarang Hasan dan Husein tertidur pulas di atas dipan. Perlahan-lahan Fatimah menyelimuti kedua putranya sambil membisikkan sesuatu.

" Anakku, besok kita berpuasa ya, karena kita tidak memiliki makanan lagi, bisik Fatimah. Rupanya bisikan itu terdengar oleh Ali. Maka, Ali pun mendekati kedua putranya yang sedang terlelap.

"Anakku, nanti ayah akan bekerja lagi agar kalian tidak menangis lagi karena lapar, "kata Ali seraya tersenyum.

Ali bin Abi Thalib tidak merasa malu mengerjakan pekerjaan kasar walaupun ia seorang panglima perang yang di takuti musuh dan disegani teman.               

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Saat Diam Menjadi Emas

 

Saat Diam Menjadi Emas


Majelis pengajian itu telah di penuhi oleh orang-orang.
Mereka duduk mengelilingi seorang Ulama. Al-Sya'bi, ulama itu bersiap-siap mengajarkan ilmunya.

Tiba-tiba diluar sana terdengar suara orang bertengkar.

"Ada apa ini?" tanya Al-Sya'bi.

"Kedudukanku lebih tinggi dari kamu. Sejak dahulu kaum bani Al-Amiri selalu lebih unggul dari segala hal," kata Al-Amiri bangga.

"Tidak! Akulah yang lebih tinggi!" teriak Al-Asadi tak mau kalah.

"Mana buktinya?" tantang Al-Amiri.

"Hemm......, kau mengaku lebih tinggi, tapi tidak bisa membuktikannya," kata Al-Amiri seraya menarik baju Al-Asadi dengan kasar. kedua tangannya diikat.

Al-Asadi diam tak berkutik. Al-Amiri merasa menang.

"Semua orang tahu kalau kaum Al-Amiri lebih tinggi kedudukannya!" sahut Al-Amiri sombong lalu mendorong Al-Asadi kehadapan Al-Sya'bi.

"Tolong, lepaskan saya, "kata Al-Asadi.
       
"Tidak akan kulepaskan! Jika Al-Sya'bi belum menentukan kalau akulah yang menang," kata Al- Amiri, sambil tersenyum kecut.
       
Al-Sya'bi menoleh kearah Al-Amiri.

" Lepaskanlah temanmu itu. Baru saya akan menentukan siapa yang menang diantara kalian, "kata Al-Sya'bi.

Dengan penuh rasa menang Al-Amiri melepaskan Al-Asadi.

"Al-Asadi, aku tidak berpendapat kalau kau sudah kalah. Sebab, kau memiliki enam kebanggaan yang tidak di punyai oleh orang lain," kata Al- Sya'bi.

"Tuan coba katakan kepadaku, apa enam kebanggaan yang dimiliki Al-Asadi itu?" tanya Al-Amiri penasaran. Al-Sya'bi pun tersenyum.

"Pertama, di antara kaum Asad ada wanita yang menjadi istri Rasulullah, yaitu Zainab binti Jahsy. Kedua, diantara kaum Asad ada yang dijamin masuk surga, ia adalah Ukasyah bin Muhsin yang mati Syahid. Ketiga, salah seorang dari kaum asad menjadi pengibar bendera pertama dalam islam, yaitu Abdullah bin Jahsy. Keempat, orang yang mengadakan baiat ialah Al-Ridwan dari kaum Asad. Kelima, dalam perang Badr terdapat tujuh persen kaum Asad. Keenam, harta rampasan yang pertama kali di bagi dalam Islam adalah harta rampasan kaum Asad," kata Al-Sya'bi. Wajah Al-Asadi pun berubah berseri-seri.

Al-Amiri terkejut bukan main. Ia tertunduk malu dan menaruh rasa hormat yang tinggi pada ulama itu. Ia tahu betul kalau Al-Sya'bi seorang ulama yang mulia.

"Maafkan aku, teman. Tidak seharusnya aku merendahkanmu," kata Al-Amiri kepada Al-Asadi. Keduanya lalu saling berpelukan. Tak ada pertengkaran lagi.

Ulama itu senang. Ia ingin menolong yang kalah dan yang lemah dari yang menang dan yang kuat. Dan seumpama Al-Amiri yang kalah, ia pun akan menerangkan kelebihan kaum Al-Amiri, yang tidak diketahui orang lain.

Al-Sya'bi kembali masuk ke majelisnya, dan memberikan pelajarannya. Seusai itu, ada seseorang yang berkata kepadanya.

"Tuan, Anda seorang ulama yang pandai dan ahli," kata orang itu. Al-Sya'bi merasa sangat malu di beri gelar semulia itu.

"Semoga Allah memberi rahmat kepadamu. Janganlah kamu memuji apa yang tidak kita miliki," kata Al-Sya'bi. Meskipun memiliki kedudukan tinggi, Al-Sya'bi tetap rendah hati.

Tidak berapa lama kemudian, datanglah seorang badui desa ke majelisnya. Dengan sungguh-sungguh ia mengikuti pelajaran. Al-Sya'bi memperhatikan orang baru itu. Ia kelihatan amat sederhana. Wajah dan sorot matanya tampak terang. Seperti genangan air di kolam bening. Tak sepatah kata keluar dari mulutnya selama berada di majelis.

"Kenapa tuan tidak bicara?"

Orang Badui itu menatap Al-Sya'bi. Seulas senyum tampak di bibirnya.

"Diamlah, maka anda akan selamat. Dan perhatikanlah, maka anda akan mengetahuinya. Bila keuntungan sesoirang itu diperoleh melalui telinganya, maka keuntungan itu akan kembali padanya dirinya. Dan jika keuntungan itu diperoleh melalui lisannya, maka keuntungan itu akan kembali kepada orang lain." Jawab orang Badui itu.

Al-Sya'bi tertegun.

"Sungguh tinggi ilmu orang Badui itu" kata Al-Sya'bi dalam hati.

Ucapan orang Badui itu selalu diingat dalam hidupnya sebagai pelajaran yang amat berharga. Al-Sya'bi memang tidak segan-segan mencari pengetahuan dari siapa saja walaupun orang itu lebih rendah kedudukannya.

Dan, kemampuan itu dicapai oleh orang yang rendah hati seperti Al-Sya'bi, seorang ulama dari Kufah.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Penggembala Yang Agung

 

Penggembala Yang Agung


Seperti biasa, hari itu Muhammad berangkat menggembalakan kambing ke lembah yang ditumbuhi rerumputan. Bersama teman-teman sebayanya. Muhammad datang ke tempat itu untuk menggembalakan ternak saudaranya. Tak jarang mereka harus tinggal berhari-hari di dusun terpencil yang jauh dari Makkah.

Muhammad duduk di atas sebuah batu. Sepasang matanya yang tenang penuh ke ikhlasan menatap tajam alam sekitarnya. Angin pegunungan yang bertiup menyegarkan badan. Matahari yang terbit di timur dan tenggelam di barat. Bulan dan bintang yang bermunculan pada malam hari. Semua teratur, berjalan sebagaimana mestinya. Jika tidak, pasti dunia ini akan binasa.

Pemandangan alam sangat menggoda hati Muhammad untuk terus merenungkan Sang Pencipta yang Mahakuasa, sebaik-baik pengatur alam beserta isinya. Muhammad duduk tafakur, tenggelam dalam alam renungan.

Lalu, diperhatikannya kambing-kambing gembalaan yang memakan rumput. Khawatir ada yang berpencar terlalu jauh. Sebab, disekitar tempat itu masih ada serigala dan binatang buas yang mengincar hewan ternak.

"Hus! Hus! Jangan terlalu jauh dari indukmu. Nanti ada serigala!" serunya.

Ia sangat bertanggung jawab pada pekerjaannya. Sesekali kambingnya mengembik. Lalu, kembali makan dengan tenang. Ketika melihat anak kambing yang bermain terlalu jauh, ia menggiringnya agar berkumpul kembali dengan kambing-kambing lainnya.

Dengan cermat, Muhammad memeriksa keadaan kalau-kalau ada serigala yang mengincar kambinngya. Jika memang ketahuan ada serigala, ia akan segera mengusirnya jauh-jauh. Begitulah, Nabi Muhammad pada masa kecilnya bekerja menjadi penggembala kambing keluarganya.

Kambing gembalaannya berkembang biak dengan cepat. Walaupun keturunan bangsawan Quraisy dan sanak saudaranya banyak yang kaya raya, tetapi Nabi Muhammad tidak mau menggantungkan hidupnya kepada mereka. Sesudah Nabi Muhammad yatim piatu, Abu Thalib, pamannya yang hidup kekurangan, mengasuhnya dengan penuh kasih sayang.

Ketika Muhammad berusia dua belas tahun, ia mulai berdagang bersama Abu Thalib ke tanah Syam. Akan tetapi, gagal. Sebelum mereka sampai di Syam, seorang pendeta bernama Buhaira memperingatkan bahwa jiwa Muhammad dalam bahaya. Abu Thalib pun segera membawa Muhammad pulang ke Makkah. Mereka hanya berdagang sekadarnya. Keselamatan Muhammad jauh lebih penting.

Sesudah itu, Abu Thalib mengajak Muhammad berdagang di pasar-pasar dekat kota Makkah saja. Dalam berdagang, Muhammad selalu melayani pembeli dengan ramah, tutur kata yang lemah lembut, dan jujur. Ia pandai menawarkan barang dagangannya sehingga dagangannya cepat habis terjual.

Seperti juga menggembala kambing, usaha dagang Muhammad berhasil baik. Sedikit demi sedikit barang dagangannya bertambah dan memperoleh untung yang besar. kini Muhammad di kenal sebagai pedagang yang berhasil di kota Makkah. Tetapi, ia tetap selalu bersyukur kepada Allah. Beliau tetap giat bekerja, gemar bersedekah, dan menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Walau telah menjadi Nabi dan mempunyai kedudukan yang tinggi, beliau tetap melakukan sendiri pekerjaan hariannya. Nabi selalu menambal sendiri bajunya yang robek, atau menjahit terompahnya yang putus talinya.

Nabi Muhammad membawa sendiri barang yang dibelinya di pasar. Abu Hurairah yang saat itu menemaninya akan membawakan belanjaan itu, tapi Nabi melarangnya.

"Yang memiliki barang itulah yang lebih pantas membawa barangnya. Sebab, Allah menyukai orang yang tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain," kata Nabi.

Bahkan, dalam suatu perjalanan bersama sahabatnya, mereka beristirahat sebentar untuk memasak makanan. Nabi Muhammad ikut mencari dan memanggul kayu bakar untuk memasak.

"Ya Rasulullah, biarlah kami yang mencari dan mengangkut kayu. Anda silahkan beristirahat sambil menunggu hidangan," kata salah seorang sahabat.

"Aku pun harus ikut mencari kayu bakar," kata Nabi seraya tersenyum. Beliau tidak ingin berpangku tangan, sementara yang lain sibuk bekerja.

Dalam peperangan pun, Rasulullah sebagai panglima perang tidak hanya memerintah di tempat duduknya. Beliau ikut bertempur ke tengah medan pertempuran bersama sahabat-sahabatnya.

Salah satu peperangan yang hebat di zaman Rasulullah ialah perang khandak atau perang parit. Kaum Muslimin bekerja keras siang-malam untuk menggali parit raksasa. Nabi Muhammad pun ikut menggali dan masuk ke lubang parit. Bahkan, beliau menghancurkan batu-batu, menyekop, dan memikul tanah di bahunya.

Sewaktu menggali parit, para sahabat kewalahan dengan adanya batu yang sangat keras. Batu itu sukar dipecahkan oleh linggis maupun besi. Mereka melaporkannya pada Rasulullah.

"Ada batu yang keras sekali. Rasanya kami tak sanggup memecahkannya. Bagaimana ya, Rasul?" tanya sahabat. Lalu, Nabi turun kedalam parit. Seketika itu, dengan besi di tangannya, batu-batu itu dipecahkan. saKing kerasnya pukulan, bongkahan batu itu sampai menyemburkan api saat besi ditimpakan diatasnya.

Sungguh, pekerjaan yang amat berat dan menguras tenaga. Namun, peperangan tidak pernah terjadi. Musuh tidak jadi menyerang. Allah yang Mahakuasa mengusir mereka dengan kekuatan alam. Udara dingin dan badai gurun yang menakutkan, membuat musuh tak berdaya dan menyerah kalah.

Sejak kecil sampai akhir hayatnya, Nabi Muhammad tak pernah merepotkan orang lain. Malahan, beliau selalu memberi bantuan apa saja kepada orang-orang yang membutuhkannya.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Syuhada Padang Pasir

 

Syuhada Padang Pasir


Belakangan ini, Amar bin Jamuh merasa orang-orang di sekitarnya tidak lagi menghormatinya. Bahkan, keempat putranya pun seakan menjauhinya. Mereka lebih senang tinggal bersama sahabatnya.

"Kenapa orang-orang sepertinya memusuhiku?" bisik hati Amar sedih.

Padahal sebagai seorang bangsawan kaya di madinah, ia selalu membantu orang-orang miskin.

"Lebih baik aku mengadukan kesedihanku kepada Manat," kata Amar.

Amar bangkit dan menekankan tongkatnya kuat-kuat. Tongkat itu yang selalu membantunya berjalan ke mana-mana. Amar bin Jamuh seorang yang cacat kakinya. Namun, kekurangan itu tak membuatnya patah semangat.

Semasa mudanya, Amar giat bekerja meskipun orang tuanya kaya raya. Ia tidak mau menjadi beban keluarganya. Seperti saudaranya yang lain, Amar bekerja dengan penuh tanggung jawab.

"Wahai, Manat,"ucap Amar di depan patung kecilnya."Kini semua orang membenciku. Aku mohon, tenangkanlah hatiku."

Diam-diam, dari luar seseorang tengah mengawasinya. Dan, pelan-pelan masuk kamar pemujaan Amar.

"Ayah, kenapa masih menyembah berhala itu?" tanya Muadz putra Amar.

"Diamlah! Jangan menghina Tuhan nenek moyang kita!" bentak Amar.

Hati Muadz sangat iba melihat ayahnya masih menyembah berhala. Ia mengharapkan ayahnya segera memeluk Islam. Orang Islam dilarang menyembah berhala. Amar berpikir dan mulai mendapat jawaban tentang sikap anak-anak serta kaumnya yang memusuhi dirinya.

"Rupanya, agama Muhammad itulah penyebabnya...," gumam Amar.

Karena Muadz dan saudaranya sangat ingin menyadarkan ayahnya, maka mereka mengatur siasat.

Tatkala Amar sudah tertidur lelap, Muadz menyelinap masuk ke kamar pemujaan ayahnya. Kemudian mengambil Manat, dan membuangnya ke tempat sampah.

Pagi harinya, Amar sungguh terkejut. Ia tidak mendapatkan Manat di tempatnya. Buru-buru dicarinya patung itu. Bertambah berang hati Amar sewaktu menemukan tuhan kecilnya tergeletak di tengah tumpukan sampah yang kotor dan bau.

"Ya Manat, kenapa kau ada disini?" Amar memungut kembali berhalanya. Kemudian, Amar membersihkan kotoran di tubuh Manat dan melumurinya dengan minyak wangi. Setelah itu, Manat ditaruh pada tempatnya semula.

Malam berikutnya, Amar menemukan Manat di tempat sampah lagi. Lalu, Amar membersihkan kotoran dan membawa kembali berhalanya ke kamar pemujaan.

"Oh, Manat! Kenapa kau diam saja diperlakukan buruk.......?" keluh Amar ketika malam berikutnya menemukan Manat meringkuk tak berkutik di tempat sampah. Amar jadi ragu untuk mengambilnya kembali.

"Hei, Manat! Ternyata kau tidak berdaya sama sekali. Bagaimana akan menolongku kalau menolong dirimu sendiri saja tidak mampu!" umpat Amar.

Akhirnya, Amar membuang Manat di tempat sampah. Ia menyadari kesesatannya. Kalau selama ini Amar yang pincang berhasil menjadi orang kaya, itu bukanlah pertolongan berhala. Melainkan, karena keuletannya bekerja. Dan, Amar yakin ada Tuhan yang lebih berkuasa.

Amar segera memanggil keempat putranya dan menyatakan niatnya untuk masuk Islam.

"Antarkan aku kepada Rasulullah. Aku ingin mengucapkan syahadat,"
kata Amar.

Berita Islamnya Amar segera tersebar luas. Orang-orang pun menaruh rasa hormat yang tinggi kepadanya. Amar mendapatkan kembali kehormatan dan kemuliaan di tengah masyarakat Madinah.

Beberapa waktu kemudian, tersebar kabar bahwa kaum kafir akan menyerang Madinah. Nabi menganjurkan semua kaum Muslimin ikut berjihad di perang Badr.

"Aku pun akan ikut jihad bersama Rasulullah," kata Amar berapi-api. Mendengar itu, putra-putranya sangat khawatir akan keselamatan ayahnya.

"Ayah tidak perlu berjihad. Biarlah kami saja," cegah putranya.

"Kenapa? Aku juga ingin gugur sebagai Syuhada dan meraih surga," kata Amar.

"Ayah, kaki ayah cacat. Allah tidak membebankan kewajiban jihad kepada ayah,"kata Muadz.

"Memang benar, Rasulullah telah mengatakan, sebaiknya ayah di rumah saja,"sahut adik Muadz.

Alangkah sedihnya hati Amar. Di pandangi kakinya yang pincang itu.

"Kakiku yang pincang inilah yang menghalangiku berjihad. Padahal, aku amat merindukan surga," kata Amar. Dalam hatinya, ia ingin sekali menjadi syuhada. Apalagi ketika peperangan berakhir dengan kemenangan kaum Muslimin, hati Amar semakin berkobar untuk turut berjihad.

Rupanya kekalahan kaum kafir pada perang Badr telah membuat mereka dendam.

Kaum kafir menyusun kekuatan untuk menyerang kembali kaum Muslimin. Peperangan pun akan dilaksanakan di bukit Uhud.

Mendengar kabar itu, Amar menyambut panggilan jihad Rasulullah dengan penuh semangat. Kali ini, Amar akan ikut berjihad bersama Rasulullah meskipun putranya melarang.

"Ya Rasulullah, izinkanlah aku ikut berjihad. Walau kakiku pincang, tapi tangan dan tubuhku cukup kuat mengangkat pedang dan tombak," kata Amar meyakinkan Rasulullah.

"Baiklah, kau kuizinkan," kata Rasulullah. Amar sangat bersyukur.

Dengan gagah berani, Amar berangkat ke medan perang bersama kaum Muslimin.

"Allahu Akbar!" teriaknya seraya menghunuskan pedangnya. Tombaknya pun melesat mengenai beberapa musuh. Banyak tentara musuh yang dijatuhkannya.

Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah tombak musuh mengincar tubuh Amar. Tak terelakkan lagi, tombak itu menancap di punggung Amar. Ia terjatuh dengan darah bercucuran. Amar pun gugur menjadi Syuhada.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Kendaraan Seorang Bijak


 

Kendaraan Seorang Bijak


Matahari di padang pasir terasa membakar kulit. Hanya sesekali angin bertiup dan menerbangkan debu-debu yang memerihkan mata. Cukup membuat seorang pemuda kerepotan mengurangi samudra pasir yang membentang luas. Namun, hatinya agak tenang. Unta yang di tungganginya masih muda dan kuat. Ia berharap kendaraannya sanggup menempuh perjalanan yang jauh. Perbekalan yang dibawanya pun akan cukup membuatnya bertahan selama perjalanan. Masih separuh lagi perjalanan yang harus ditempuh pemuda itu.

"Mudah-mudahan, aku selamat sampai Makkah. Dan, segera melihat Baitullah yang selama ini kurindukan," katanya penuh harap.

Panggilan rukun Islam kelima itulah yang membulatkan tekadnya. Mengarungi padang pasir yang terik.

Tiba-tiba, pemuda itu menatap tajam ke arah seseorang yang tengah berjalan sendirian di padang pasir.

Kenapa orang itu berjalan sendiri di tempat seperti ini? Tanya pemuda itu dalam hati. Sungguh mengundang bahaya.

Pemuda tersebut menghentikan untanya di dekat orang itu. Ternyata, ia seseorang lelaki tua yang berjalan terseok-seok di bawah terik matahari. Lalu, anak muda itu segera turun dari kendaraannya.

"Wahai, Bapak Tua. Bapak mau pergi ke mana?" tanyanya ingin tahu.

"Insya Allah, aku akan ke Baitullah," jawab orang tua itu dengan tenang.

"Benarkah?!" anak muda itu terperanjat. Apa orang tua itu sudah tidak waras? Ke Baitullah dengan berjalan kaki?

"Betul, nak, aku akan melaksanakan ibadah haji," kata lelaki tua itu pula.

"Masya Allah, Baitullah itu jauh sekali dari sini. Bagaimana kalau bapak tersesat atau mati kelaparan? Lagi pula, semua orang yang kesana harus naik kendaraan. Kalau tidak naik unta, bisa naik kuda. Kalau berjalan kaki seperti bapak, kapan bapak bisa sampai ke sana?" pemuda itu tercenung.

Ia yang menunggang unta dan membawa perbekalan saja, masih merasa khawatir selama dalam perjalanan yang begitu jauh dan berbahaya. Siapapun tak akan sanggup menempuh perjalanan sejauh itu dengan berjalan kaki. Apa ia tidak salah bicara? Atau memang orang tua itu sudah terganggu ingatannya?

"Aku juga berkendaraan," kata lelaki tua itu mengejutkan.

Si pemuda yakin kalau dari kejauhan tadi, ia melihat orang tua itu berjalan sendirian tanpa kendaraan apa pun. Tapi, pak tua malah mengatakan dirinya memakai kendaraan.

Orang ini benar-benar sudah tidak waras. Ia merasa memakai kendaraan, padahal aku lihat ia berjalan kaki..., pikir si pemuda geli.

"Apa Bapak yakin kalau bapak memakai kendaraan?" tanya pemuda itu menahan senyumnya.

"Kau tidak melihat kendaraanku?" orang tua itu malah mengajukan pertanyaan yang membingungkan. Si pemuda, kini tak dapat lagi menyembunyikan kegeliannya.

"Kalau begitu, apa kendaraan yang bapak pakai?" tanyanya sambil tersenyum.

Orang tua itu termenung beberapa saat. Pandangannya menyapu padang pasir yang luas. Dengan sabar, si pemuda menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut orang tua itu. Akankah ia mampu menjawab pertanyaan tadi?

"Kalau aku melewati jalan yang mudah, lurus, dan datar, kugunakan kendaraan bernama syukur. Jika aku melewati jalan yang sulit dan mendaki, kugunakan kendaraan bernama sabar," jawab orang tua itu tenang.

Si pemuda ternganga dan tak berkedip mendengar kata-kata orang tua itu. Tak sabar, pemuda itu ingin segera mendengar kalimat selanjutnya dari lelaki tua tersebut.

"Jika takdir menimpa dan aku tidak sampai ke tujuan, kugunakan kendaraan ridha. Kalau aku tersesat atau menemui jalan buntu, kugunakan kendaraan tawakkal. Itulah kendaraanku menuju Baitullah," kata lelaki tua itu melanjutkan.

Mendengar kata-kata tersebut, si pemuda merasa terpesona. Seolah melihat untaian mutiara yang memancar indah. Menyejukkan hati yang sedang gelisah, cemas, dan gundah. Perkataan orang tua itu amat meresap ke dalam jiwa anak muda tersebut.

"Maukah bapak naik kendaraanku? Kita dapat pergi ke Baitullah bersama-sama," ajak si pemuda dengan sopan. Ia berharap akan mendengarkan untaian-untaian kalimat mutiara yang menyejukkan jiwa dari orang tua itu.

"Terima kasih, Nak, Allah sudah menyediakan kendaraan untukku. Aku tak boleh menyia-nyiakannya. Dengan ikut menunggang kendaraanmu, aku akan menjadi orang yang selamanya bergantung kepadamu," sahut orang tua itu dengan bijak, seraya melanjutkan perjalanannya.

Ternyata, orang tua itu adalah Ibrahim bin Adham, seorang ulama yang terkenal dengan kebijaksanaannya.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Tak Punya Pendirian

 

Tak Punya Pendirian


Ukbah bin Abi Mu'aith adalah seorang pemuda Quraisy yang baik. Walaupun belum masuk Islam, ia berteman baik dengan Nabi Muhammad Saw. Hampir setiap hari Ukbah bertemu Rasulullah. Sekedar mengobrol atau bertukar pikiran.

"Wahai Muhammad, aku berterima kasih padamu. Engkau sudah bersedia  menjadi temanku," kata Ukbah suatu siang. Ukbah gembira bukan main. Siapa yang tak bangga punya teman yang sangat terhormat seperti Muhammad? Yang disebut sebagai Nabi dan Rasul Allah itu? Bukankah Muhammad itu seorang yang agung dan berkedudukan tinggi? Terlebih lagi karena dirinya belum masuk agama yang dibawa Muhammad. Akan tetapi, Nabi Muhammad tidak pernah memusuhinya. Betapa Ukbah merasa bangga dapat berteman baik dengan Nabi Muhammad!

"Muhammad,"kata Ukbah.

"Apakah kau akan datang ke rumahku, jika aku  mengajakmu makan bersama di rumahku?"

"Boleh saja. Kalau itu tidak merepotkanmu,"kata Rasulullah. Benar bukan? Muhammad memang sangat baik. Ia menerima undangan Ukbah untuk makan di rumahnya.

Nabi Muhammad pun menepati janjinya memenuhi undangan Ukbah. Di rumahnya, Ukbah sudah menyiapkan hidangan yang istimewa. Aneka makanan yang lezat dan enak sudah disediakan. Ia pun melayani Nabi dengan sangat baik.

Sesudah bercakap-cakap, Ukbah mempersilakan Nabi untuk mencicipi makanan.

"Baiklah, aku ambil yang ini,"kata Nabi seraya meraih makanan di piring.

"Tentu. Silakan pilih apa yang kau suka,"sahut Ukbah.

Sebelum Nabi Muhammad memasukkan makanan ke mulutnya, Nabi Muhammad menoleh pada Ukbah.

"Aku akan memakan makanan dihadapanku ini, kalau kau mau mengucapkan dua kalimah syahadat," kata Nabi kemudian.

Mendengar ucapan Nabi itu, kontan Ukbah terhenyak. Kaget bukan main. Sebab, sejak Muhammad mengajarkan agama baru itu, Ukbah tidak ingin masuk Islam. Sedangkan dua kalimah syahadat adalah pernyataan bahwa seseorang telah masuk Islam. Ia tidak bermaksud meninggalkan agama berhala warisan leluhurnya.

"Bagaimana hai, Ukbah?"tanya Nabi membuyarkan kekagetan Ukbah. Ukbah hanya terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa atas terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan teman baiknya itu. Nabi Muhammad mengerti sikap Ukbah. Beliau tidak langsung pergi meskipun Ukbah tampak keberatan untuk menuruti permintaannya. Beliau tetap duduk di depan makanan yang terhidang itu.

Wahai Ukbah, apakah aku harus memakan makanan ini atau tidak? Kalau makan berarti kau harus mengucapkan dua kalimah syahadat," ulang Nabi.

Ukbah jadi merenung sejenak. Ah, tak enak rasanya menolak permintaan teman baik seperti Muhammad, batin Ukbah. Dan akhirnya Ukbah pun menuruti permintaan Nabi. Ukbah mengucapkan rukun Islam yang pertama itu. Maka resmilah ia menjadi seorang Muslim.

"Sekarang aku mau menikmati makanan yang kau hidangkan," kata Nabi setelah Ukbah mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah sangat puas dengan hidangan yang disuguhkan sahabatnya itu. Lalu, beliau pun berpamitan pada Ukbah.

Beberapa waktu setelah kejadian itu Ukbah bertemu dengan sahabat lamanya, Ubay bin Khalaf. Segera diceritakan pertemuannya dengan Muhammad yang baik hati itu.

"Ubay, aku pun sudah masuk agama Islam,"kata Ukbah.

Ubay amat terkejut. "Bodoh! Ukbah, kau bodoh sekali!

Kenapa kau ikuti ajaran sesat Muhammad?! Muhammad itu seorang pembual besar! Islam yang disebarkannya hanya mengada-ada!" kata Ubay dengan sengit. Sejak dulu ia memang orang yang sangat membenci Nabi Muhammad.

"Apa kau sudah gila? Sampai meninggalkan ajaran nenek moyang kita?" sahut Ubay.

Merasa dirinya diperolok-olok dan dimaki-maki Ubay, hati Ukbah menjadi goyah.

"Hei Ukbah! Kalau kau tidak segera melepaskan ajaran Islam maka kau akan lepas dari ikatan masyarakat Quraisy!" ancam Ubay menakut-nakuti. Ukbah tambah cemas dan ketakutan.

"Ubay, bisakah kau menolongku membebaskan ikatan dua kalimah syahadat yang pernah kuucapkan itu?" tanya Ukbah.

"Ah, itu sih, gampang!" jawab Ubay.

"Datangilah Muhammad. Caci maki dia dan ludahi wajahnya. Kalau kau sudah melakukan semua itu berarti kau telah meninggalkan agama sesat yang dibawa Muhammad!" hasut Ubay.

Dengan tidak memikirkan akibatnya Ukbah pun menuruti perintah Ubay. Ia segera menemui Muhammad di rumahnya. Kemudian tanpa membuang waktu lagi Ukbah mencaci-maki Nabi Muhammad dan meludahi wajahnya.

Sebagai orang yang memiliki sifat penyabar, Muhammad tidak langsung membalas perbuatan Ukbah. Akan tetapi, disambutnya cacian, ludahan, dan penghinaan itu dengan ucapan,"Bila suatu hari kita bertemu lagi maka pedangku akan menebas lehermu," kata Nabi.

Ukbah kemudian meninggalkan tempat itu. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Ubay. Diceritakannya kalau ia sudah melaksanakan perintah Ubay. Sambil tertawa senang Ubay memujinya sebagai orang yang sangat hebat. Namun, meskipun mendapat pujian selangit itu, hati kecil Ukbah merasa sangat terhimpit. Karena ia sudah melakukan perbuatan yang salah pada Muhammad, sahabat terbaiknya. Jiwanya pun jadi tersiksa.

"Hmmm......, kenapa dulu aku menuruti ajakan nabi itu? Tetapi, kenapa juga aku harus menuruti perintah si gila Ubay itu? Ah, hatiku benar-benar jadi kacau....," sesal Ukbah.

Apa yang di ucapkan Nabi Muhammad dulu, akhirnya terwujud juga. Mereka bertemu di kota Madinah. Waktu itu kebetulan Ukbah menjadi tawanan Nabi Muhammad, karena telah kalah dalam perang Badr. Rasulullah kemudian memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memenggal lehernya.

Malang sekali nasib Ukbah, orang yang tidak mempunyai pendirian. Jiwanya amat mudah dipengaruhi orang lain dan bujukan syetan.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Si Penggali Parit

 

Si Penggali Parit


Umar bin Khattab tidak saja di kenal sebagai khalifah yang berwibawa, tapi juga sederhana dan merakyat. Untuk mengetahui keadaan rakyatnya, Umar tak segan-segan menyamar jadi rakyat biasa.

Ia sering berjalan-jalan ke pelosok desa seorang diri. Pada saat seperti itu tak seorang pun mengenalinya bahwa ia sesungguhnya kepala pemerintahan. Kalau ia menjumpai rakyatnya sedang kesusahan, ia pun segera memberi bantuan.

Umar sadar, apa yang ada di tangannya saat itu bukanlah miliknya melainkan milik rakyat. Untuk itu Umar melarang keras anggota keluarganya berfoya-foya. Ia selalu berhemat dalam menggunakan keperluannya sehari-hari. Karena hematnya, untuk menggunakan lampu saja keluarga amirulmukminin ini amat berhati-hati. Lampu minyak itu baru dinyalakan bila ada pembicaraan penting. Jika tidak, lebih baik tidak pakai lampu.

"Anak-anakku, lebih baik kita bicara dalam gelap. Sebab, minyak yang digunakan untuk menyalakan lampu ini milik rakyat!" sahut khalifah ketika anaknya ingin bicara di tengah malam.

Dalam hidupnya, Umar senantiasa memegang teguh amanat yang diembankan rakyat di pundaknya. Pribadi Umar yang begitu mulia terdengar dimana-mana. Seluruh rakyat sangat menghormatinya. Rupanya, cerita tentang keagungan Khalifah Umar ini terdengar pula oleh seorang raja negara tetangga. Raja tertarik dan ingin sekali bertemu dengan Umar.

Maka pada suatu hari dipersiapkanlah tentara kerajaan untuk mengawalnya berkunjung ke pemerintahan Umar. Ketika raja itu sampai di gerbang kota Madinah, dilihatnya seorang lelaki sedang sibuk menggali parit dan membersihkan got di pinggir jalan. Lalu, di panggilnya laki-laki itu.

"Wahai saudaraku!" seru raja sambil duduk di atas pelana kuda kebesarannya.

"Bisakah kau menunjukkan di mana letak istana dan singgasana Umar?" tanyanya kemudian. Lelaki itu segera menghentikan pekerjaannya. Lalu, ia memberi hormat.

"Wahai Tuan, Umar manakah yang Tuan maksudkan?" si penggali parit balik bertanya." Umar bin Khattab kepala pemerintahan kerajaan Islam yang terkenal bijaksana dan gagah berani," kata raja. Lelaki penggali parit itu tersenyum. "Tuan salah terka. Umar bin Khattab kepala pemerintahan Islam sebenarnya tidak punya istana dan singgasana seperti yang tuan duga. Ia orang biasa seperti saya," terang si penggali parit,".

"Ah benarkah? Mana mungkin kepala pemerintahan Islam yang terkenal agung seantero negeri itu tak punya istana?" raja itu mengerutkan dahinya.

"Tuan tidak percaya? Baiklah, ikuti saya," sahut penggali parit itu.

Lalu diajaknya rombongan raja itu menuju "istana" Umar. Setelah berjalan menelusuri lorong-lorong kampung, pasar, dan kota, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana. Diajaknya tamu kerajaan itu masuk dan dipersilakannya duduk.

Penggali parit itu pergi ke belakang dan ganti pakaian. Setelah itu ditemuinya tamu kerajaan itu. "Sekarang antarkanlah kami ke kerajaan Umar!"kata raja itu tak sabar.

Penggali parit tersenyum. "Tuan raja, tadi sudah saya katakan bahwa Umar bin Khattab tidak mempunyai kerajaan. Bila tuan masih juga bertanya di mana letak kerajaan Umar itu, maka saat ini juga tuan-tuan sedang berada di dalam istana Umar!"

Hah?!" Raja dan para pengawalnya terbelalak. Tentu saja mereka terkejut. Sebab, rumah yang di masukinya itu tidak menggambarkan sedikitpun sebagai pusat kerajaan. Meski rumah itu tampak bersih dan tersusun rapi, namun sangat sederhana.

Rupanya raja tak mau percaya begitu saja. Ia pun mengeluarkan pedangnya. Lalu berdiri sambil mengacungkan pedangnya.

"Jangan coba-coba menipuku! Pedang ini bisa memotong lehermu dalam sekejap!" ancamnya melotot.

Penggali parit itu tetap tersenyum. Lalu dengan tenangnya, ia pun berdiri." Di sini tidak ada rakyat yang berani berbohong. Bila ada, maka belum bicara pun pedang telah menebas lehernya. Letakkanlah pedang Tuan. Tak pantas kita bertengkar di istana Umar," kata penggali parit. Dengan tenang ia memegang pedang raja dan memasukkannya kembali pada sarungnya.

Raja terkesima melihat keberanian dan ketenangan si penggali parit. Antara percaya dan tidak, dipandanginya wajah penggali parit itu. Lantas, ia menebarkan kembali pandangannya menyaksikan "istana" Umar itu. Muncullah pelayan-pelayan dan pengawal-pengawal untuk menjamu mereka dengan upacara kebesaran. Namun, raja itu belum juga percaya.

"Benarkah ini istana Umar?"tanyanya pada pelayan-pelayan.

"Betul, Tuanku, inilah istana Umar bin Khattab," jawab salah seorang pelayan.

"Baiklah," katanya. Raja memang harus mempercayai ucapan pelayan itu.

"Tapi, dimanakah Umar? Tunjukkan padaku, aku ingin sekali bertemu dengannya dan bersalaman dengannya!" ujar sang raja.

Dengan sopan pelayan itu pun menunjuk ke arah lelaki penggali parit yang duduk di hadapan raja." Yang duduk di hadapan Tuan adalah Khalifah Umar bin Khattab" sahut pelayan itu.

"Hah?!" Raja kini benar-benar tercengang. Begitu pula para pengawalnya.

"Jad...jadi, anda Khalifah Umar itu...?" tanya raja dengan tergagap.

Si penggali parit mengangguk sambil tersenyum ramah.

"Sejak kita pertemu pertama kali di pintu gerbang kota Madinah, sebenarnya Tuan sudah berhadapan dengan Umar bin Khattab!" ujarnya dengan tenang.

Kemudian raja itu pun langsung menubruk Umar dan memeluknya erat sekali. Ia sangat terharu bahkan menangis melihat kesederhanaan Umar. Ia tak menyangka, Khalifah yang namanya disegani di seluruh negeri itu, ternyata rela menggali parit seorang diri di pinggir kota.

Sejak itu, raja selalu mengirim rakyatnya ke kota Madinah untuk mempelajari agama Islam.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Hakim Yang Teguh

 

Hakim Yang Teguh


Setiap pagi Syuraih bin Al-Harits Al-Kindi berangkat ke tempat kerjanya. Wajah dan sorot matanya tenang menyiratkan ke arifan pribadinya. Dari kearifannya itu pula keluar sikap dan pendiriannya yang teguh. Ia adalah seorang hakim yang disukai dan disegani masyarakat.

Syuraih terbiasa menghakimi kalangan kaum muslimin maupun orang-orang bukan muslim. Di pengadilannya, Syuraih tidak membedakan antara pejabat atau rakyat kecil, kaya atau miskin, muslim atau bukan muslim. Jika ia bersalah tetap tidak boleh dibela. Semua orang mendapat perlakuan yang adil dan bijaksana. 

Hari itu Syuraih kedatangan amirul mukminin, Umar bin Khaththab.

Rupanya, Khalifah Umar sedang mendapat masalah dengan seorang pedagang desa. Keduanya menghadap Syuraih untuk mendapatkan keputusan atas perkara yang dihadapinya.

Dengan wajah tenang dan berwibawa Syuraih memimpin sidang pengadilan.

"Silakan Tuan pedagang, apa yang mau Anda sampaikan?" tanya Syuraih.

"Pak hakim yang mulia, beberapa hari yang lalu amirul mukminin membeli seekor kuda dari saya," kata pedagang.

"Tapi kemarin, tiba-tiba ia ingin mengembalikannya lagi dan meminta ganti," lanjutnya.

Syuraih lalu berpaling pada Khalifah Umar.

"Dan sekarang giliran Anda, ya amirul mukminin," kata Syuraih.

"Aku ingin mengembalikan kuda itu padanya karena kudanya cacat dan berpenyakit sehingga larinya tidak kencang," kata Umar bin Khaththab.

"Bagaimana Tuan?" tanya Syuraih lagi.

"Saya tidak akan menerimanya lagi karena saya sudah menjual kuda itu dalam keadaan sehat dan tidak cacat," sahut pedagang kuda itu.

Syuraih mendengarkan semua keterangan dari kedua pihak dengan seksama. Lalu, Syuraih pun bertanya pada Umar bin Khaththab.

"Apakah ketika amirul mukminin membeli kuda itu, keadaannya sehat dan tidak cacat?" tanya Syuraih seraya menatap Umar.

"Ya benar!" jawab Umar jujur.

Hakim Syuraih pun memberi keputusan atas perkara itu.

"Nah, kalau begitu, peliharalah apa yang anda beli. Atau bila ingin mengembalikannya kembalikanlah seperti ketika anda menerimanya," tukas Syuraih dengan mantap.

Hati Amirulmukminin merasa tidak puas. Kekecewaan memenuhi rongga dadanya. Hakim Syuraih berada dipihak pedagang desa itu.

" Begitukah keputusanmu, Hakim Syuraih?" tanya Umar setengah memprotes keputusan itu.

Syuraih menganguk pasti. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Khalifah Umar merenung beberapa saat. Benar sekai apa yang dikatakan hakim itu. Syuraih telah memberikan keputusan yang bijaksana dan penuh keadilan. Dengan lapang dada, Umar dapat menerimanya. Jangan mentang-mentang ia pejabat lalu harus selalu dimenangkan perkaranya. Sementara nasib rakyat kecil tidak diperhatikan.

Begitulah, orang-orang selalu mempercayakan perkaranya diputuskan oleh Syuriah. Pengadilanya adalah tempat mendapatkan tempat yang seadil-adilnya.

Hingga pemerintahan Ali bin Abu Thalib, Syuriah tetap memangku jabatan hakim yang amat disegani dan dipercaya masyarakatkota Khuffah.

Suatu hari, Khalifah Ali mendatangi Hakim Syuriah untuk mengajulkn perkara dengan seorang Yahudi.

"Ada masalah apa, ya Amirulmukminin?" tanya Syuraih.

"Pak Hakim, aku mendapatkan baju perangku ditangan orang ini. Padahal, aku tidak pernah memberikan atau menjualnya pada siapappun," sahut Khalifah Ali.

"Bagaimana pendapatmu, wahai Tuhan Yahudi?" tanya Syraih pada lelaki itu.

" Bukan! Ini baju perangku. Sebab, sekarang berada di tanganku." Bantah orang itu tak mau kalah. Dengan bijaksana Syuraih menerima pendapat orang itu. Kemudoan menoleh pada Khalifah Ali. 

"Bagaimana Anda yakin kalau baju perang itu milikmu?" tanyanya lagi pada Ali.

"Aku yakin sekali. Karena satu-satunya orang yang memiliki baju perang seperti itu hanya aku. Baju perang itu terjatuh di suatu tempat. Dan kini, baju perang itu ada padanya. Bagaimana mungkin ia akan menjualnya di pasar?"

"Aku tidak meragukan apa yang Anda katakan itu. Tapi Anda wajib mengajukan dua orang saksi untuk dijadikan saksi atas apa yang Anda akui itu," kata Syuraih.

"Baiklah, aku bersedia mendatangkan dua saksi," kata Ali. Khalifah Ali begitu menyayangi baju perangnya. Karena baju itu, harta yang sangat berharga dan tinggi nilainya bagi khalifah. Ia sangat berharap baju perangnya bisa dimilikinya kembali.

"Pembantuku, Qanbar, akan kujadikan saksi. Dan satu lagi, Al-Hasan, anakku," sahut Khalifah Ali bersemangat. Sudah pasti keduanya dapat dijadikan saksi atas kebenaran ucapannya.

"Ya, amirulmukminin! Tidaklah sah kesaksian seorang anak terhadap ayahnya," kata Syuraih mengingatkan ketentuan yang sudah ditetapkan Allah.

"Subhanallah! Kesaksian Al-Hasan, salah seorang pemuda penghuni surga tidak diterima," ucap Ali mengeluh sedih.

"Betul! Aku hanya tidak membolehkan kesaksian anak pada ayahnya," tegas Syuraih tak bergeming. Pendiriannya berdasarkan ajaran Allah. Walaupun itu menyangkut khalifah besar, seorang ayah dari pemuda penghuni sorga yang telah disabdakan Rasulullah.

Khalifah Ali menarik napas berat mendengar keputusan Syuraih. Hatinya kecewa. Ia merasa kalah dan tak dapat memiliki baju perangnya kembali.

"Aku tidak punya saksi lain. Jadi, baju perang ini memang milikmu," kata Ali menyerahkan baju perangnya pada orang Yahudi itu. Ya! Jauh di lubuk hati Khalifah Ali mengakui kalau Hakim Syuraih sudah bertindak benar. Apa yang di tetapkan Allah harus ditegakkan. Tak terkecuali terhadap dirinya yang seorang Khalifah!

"Ya amirulmukminin!" Tiba-tiba Yahudi itu bersimpuh di hadapan Khalifah Ali.

"Memang betul! Baju perang ini milikmu! Hari ini, aku melihat seorang hakim yang begitu teguh menegakkan ajaran Allah. Ia memenangkan aku. Sungguh! Aku lihat Islam melakukan kebenaran! Saat ini juga aku akan menjadi penganut Islam.......," kata orang itu.

"Pak Hakim yang mulia, sebenarnya, aku telah memungut baju perang amirulmukminin sewaktu terjatuh pada peperangan di Siffin!" sahut orang Yahudi itu mengakui yang sebenarnya.

Mendengar perkataan orang itu, khalifah Ali berubah wajahnya. Ia segera merangkul lelaki itu seraya tersenyum bahagia.

" Karena kau sudah masuk islam, maka  kuhadiahkan baju perang itu kepadamu. Dan juga kuda ini, " Sahut Khlifah Ali dengan tulus.

Sungguh mengagumkan! Keputusan yang diberikan Hakim Syuraih.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Uang Pembawa Berkah

 

Uang Pembawa Berkah


Dipagi yang cerah, Rasulullah keluar rumah dengan senyumnya yang ramah dan menebarkan berkah. Beliau bermaksud jalan-jalan berkeliling pasar. Ditangannya membawa uang sebanyak delapan dirham.

Beberapa orang yang dilaluinya menyapa Rasulullah. " Ya Rasulullah, akan pergi kemanakahTuan sepagi ini?"

" Aku hanya ingin berjalan-jalan menghirup udara pagi," jawab Rasulullah seraya tersenyum.
Diperjalanan, beliau berttemu dengan seorang perempuan yang sedang menangis dipinggir jalan.

" Mengapa kau menangis?" tanya Rasulullah.

Sambil tesedu-sedu, ia menceritakan apa yang menimpanya. " Aku disuruh keluargaku kepasar untuk membeli beberapa keperluan. Aku diberi uang Dua dirham. Tapi ..., sekarang uang itu hilang entah kemana...," kata perempuan itu.

Tangisnya mesih belum terhenti. " Aku tidask bisa mendapatkan kembali uang itu. Aku  hanyalah seorang hamba sahaya...," katanya diantara isak tangis.

Rasulullah merasa iba melihatnya. Lalu memberilkan uangnya sebanyak dua dirham.

" Terimalah uang ini. Aku mengganti uang dua dirhammu yang hilang itu," kata Rasul.
Betapa gembira hati perempua itu.

" Terimakasih ya Rasulullah! Dengan uang ini, aku bosa belanja keperluan," sahutnya seraya menyusut air matanya.
Rawsulullah tersenyum. Beliaupun meninggalkan perempuan itu dan meneruskan perjalanannya.

Di pasar, orang-orang sibuk menawarkan barang dagangnnya.
Rasulullah mendatangi barang-barang yang mereka tawarkan dengan wajah berseri.

Lalu, sepasang matanya tertumpu pada baju gamis berwarna putih yang ditawarkan seorang pedagang. Rupanya hati Rasulullah tertarik dengan gamis itu dasn bermaksud membelinya.

Setelah keduanya sepakat  dengan baju gamis itu, Rasulullahpun mengeluarkan uang dari sakunya sebanyak empat dirham.
Rasulullah langsung memakai baju gamis itu. Beberapa saat kemudian, Rasulullah berjalan kembali mengelilingi pasar melihat-lihat barang lainnya.

Dari kejauhan, terdengar seorang laki-laki tua berteriak-teriak sambil bejalan terseok-seok. Pakiannya kumal dan compang-camping sampai auratnya hampir kelihatan.

" Wahai , Pengunjung Pasar...! Aku mohon belas kasihanmu. Aku sudah tak mampu lagi mengganti pakaianku yagn robek-robek ini. Pakaianku ini sudah tidak mempu lagi menahan rasa dingin...." kata orang tua itu meratap. Pengunjung pasar maupun pedagang tak ada yang mau menghiraukannya. Hanya menoleh sebentar, lalu menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing.

" Kasihanilah aku..., si Miskin ini ingin menutupi auratnya...
Barang siapa yang memberiku pakaian niscaya Allah akan melebihkannya dengan memberi pakaian dari surga," suaranya memelas. Tapi, tak seorang pun di pasar itu yang menaruh iba padanya.

Rasulullah yang mendengar ratapan laki-laki itu segera mensekat ke arahnya.

" Hai Orang Tua! Aku akan memberimu pakaian untuk menutup auratmu," kata Rasulullah. Tanpa pikir panjang lagi, Rasulullah melepaskan gamis yang baru dibelinya.

" Ambillah! Pakailah segera baju ini," kata Rasulullah lagi. Orang tua miskin itu lalu memakai gamis pemberian Rasulullah.

" Ya Rasulullah! Sungguh engkau telah bermurah hati padaku. Allah pasti melimpahkan rahmat-Nya...," sahut orang tua itu sambil berlalu meninggalkan Rasulullah.

Sesaat kemudian, Rasulullah masuk kembali kedalam pasar mencari pedagang gamis tadi. Rasulullah membeli baju gamis yang lainnya seharga dua dirham. Si pedagang sangat heran karenanya.

" Ya Rasulullah, engkau sudah membeli baju gamis seharga empat dirham, kenapa searang membeli lagi gamis lainnya seharga dua dirham?" tanya pedagang sambil menatap Rasulullah. Rasulullah tersenyum tenang.

" Memang betul, tadi aku sudah membeli gamis darimu. Tapi,dijalan ada orang tua yang lebih membutuhkan baju itu," tutur Rasulullah.

Hari sudah malam ketika Rasulullah pulang ke rumahnya. Tiba-tiba, di tengah jalan Rasulullah melihat kembali perempuan yang tadi siang ditolongnya. Perempuan itu menangis disebuah bawah pohon. Matanya tampak merah dan bengkak karena terlalu benyak menangis.

Rasulullah menyapa perempuan itu.

" Bukankah kau ini perempuan yang kehilangan uang dua dirham?"
tanya Rasulullah.

" Benar, ya Rasulullah," jawabnya sambil terisak.

" Mengapa kau masih disini? Bukankah keluargamu sedang menunggu dirumah? Apalagi  yang kau tangisi?" tanya Rasulullah kemudian.

" Sebenarnya, aku sudah terlalu lama pergi kepasar. Aku takut sekali jika pulang nanti, mereka akan menyiksaku," kakta perempuan itu penuh khawatir.

"Baiklah....kalau kau takut dimarahi, aku akan menghubungi keluargamu," sahut Rasulullah. Perempuan itu kini merasa tenang hatinya. Rasulullah mengantar perempuan itu sampai ke rumahnya.

"Assalamu'alaikum...,"salam Rasulullah di depan pintu rumah. Salamnya di dengarkan oleh penghuni rumah, tapi mereka tidak menjawabnya. Kemudian, Rasulullah mengulangi ucapan salamnya.

"Assalamu'alaikum...,"ucap Rasulullah. Penghuni rumah tetap tidak menjawab salam Rasulullah. Maka, Rasulullah pun mengucapkan salamnya yang ketiga kali dengan suara agak keras.

"Assalamu'alaikum....,"salam Rasulullah lagi. Mendengar salam Rasul yang agak keras, orang-orang di dalam rumah pun serentak menjawabnya.

"Wassalamu'alaika ya Rasulullah warahmatuhu wabarakatuhu...rupanya engkau, ya Rasulullah,"jawab mereka.

Rasulullah dipersilakan masuk dengan penuh hormat.

"Apakah kalian tidak mendengar bahwa aku sudah mengucapkan salam sebanyak tiga kali...?"tanya Rasulullah.

"Benar ya Rasulullah, kami mendengarnya...,"jawab mereka.

"Tapi, kami ingin Tuan memperbanyak salam kepada kami dan anak cucu kami, agar kami semua mendapat berkah dari salammu itu," lanjutnya.
        Lalu, Rasulullah mengutarakan kedatangannya ke rumah itu. Para penghuni rumah sangat bahagia mendapat kunjungan Rasulullah yang amat mulia itu.

"Budakmu ini sudah terlambat pulang. Ia takut apabila kembali, kalian akan menyiksanya,"kata Rasulullah. Sementara perempuan itu hanya menunduk penuh takut di belakang Rasulullah.

Para penghuni rumah malah tersenyum. Tidak tampak kemarahan dan kekecewaan sedikitpun di wajah mereka. Semua menyambut budak perempuan itu dengan baik.

"Kami sudah memaafkan dia," katanya. Membuat budak perempuan itu terkesima saking gembiranya.

"Sungguh ya Rasulullah, kami sudah memberimu siksaannya dengan tidak menjawab ucapan salammu yang pertama dan kedua. Kami juga telah memerdekakannya karena ia telah berjalan bersamamu. Sekarang, ia bebas dan merdeka karena Allah semata."

Bukan main bahagianya budak perempuan itu. Majikannya sudah memerdekakan dirinya berkat Rasulullah yang mulia.

"Alhamdulillah! Sungguh aku telah beruntung dapat berjalan denganmu, ya Rasulullah...,"kata budak perempuan itu.

Sesudah menyelesaikan urusannya, Rasulullah pun berpamitan pada pemilik rumag. Sebelumnya, Rasulullah mengatakan sesuatu di hadapan penghuni rumah.

"Saya belum pernah melihat uang delapan dirham yang lebih berkahnya, kecuali kali ini. Uang itu telah membawa rasa aman kepada yang ketakutan, terpenuhinya orang yang telanjang dengan sebuah pakaian, dan terbebas merdekanya seorang hamba sahaya," ungkap Rasul penuh syukur kepada Allah.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Si Pemerah Susu

 

Si Pemerah Susu


Abu Bakar setiap hari berkeliling di perkampungan Madinah. Ia terbiasa berkunjung ke rumah-rumah janda tua dan rumah anak-anak yatim piatu.

"Assalamu'alaikum...," salamnya di depan pintu rumah seorang janda tua.

"Wa'alaikum salam...!" jawab janda tua. Dibukanya pintu, lalu wajah perempuan tua itu menjadi berseri-seri.

"Oh, Abu Bakar rupanya," sambutnya gembira.

"Nek, apa mau kuperahkan susu kambingnya?" tanya Abu Bakar.

"Tidak usah, Tuan..." dengan malu-malu, perempuan tua itu mencoba menolak. Tapi, Abu Bakar mengetahui kalau kedatangannya memang sangat membantu pekerjaan perempuan tua itu.

"Mari Nek, aku bantu memerahkan susu," kata Abu Bakar tersenyum.

Abu Bakar pun memerahkan susu kambing sampai semua wadah terpenuhi. Sedangkan perempuan tua itu memandangi Abu Bakar dengan rasa kagum. Abu Bakar sering datang ke rumahnya untuk membantu memerah susu tanpa mengharap balasan. Kalau saja Abu Bakar tidak datang membantu, pasti ia kesusahan.

"Nek, semua wadah sudah terisi...," kata Abu Bakar.

"Terima kasih banyak tuan, atas bantuannya hari ini,"ucap perempuan tua itu.

"Baiklah nek, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum," salam Abu Bakar.

"Wa'alaikum salam," jawab perempuan tua itu lagi.

Abu Bakar meninggalkan perempuan tua itu dengan hati gembira. Kemudian, ia singgah di rumah seorang anak yatim.

"Assalamu'alaikum," salam Abu Bakar. Seorang anak perempuan berlari kecil membukakan pintu.

"Wa'alaikum salam," jawabnya. Bukan main senangnya anak itu ketika melihat Abu Bakar datang.

"Tuan datang! Mari, silakan masuk," sambutnya penuh hormat.

"Nak, apa ibumu ada di rumah?" tanya Abu Bakar. Anak itu menggeleng pelan. "Ibu sedang mencari kayu bakar," kata anak itu.

"Mari, kumasakkan sesuatu untukmu," sahut Abu Bakar.

Abu Bakar memasak gandum untuk makanan anak yatim itu. Sungguh gembira anak perempuan itu menunggu makanan yang dimasak Abu Bakar. Tidak lama kemudian, makanan itu pun matang. Abu Bakar menyuguhkannya pada anak Yatim.

"Sekarang makanlah, Nak. Bila ibumu datang, ia tidak perlu memasak lagi,"kata Abu Bakar. Anak itu pun makan dengan lahapnya. Abu Bakar memandangnya sambil tersenyum.

"Baiklah, aku permisi. Insya Allah, Besok aku datang lagi memasak gandum untukmu,""kata Abu Bakar seraya mengusap kepala anak yatim itu dengan lembut.

"Terima kasih, Tuan,"ucapnya.

"Berhati-hatilah, Nak.

Assalamu'alaikum," salam Abu Bakar.

"Wa'alaikum salam," jawab anak itu.

Abu Bakar berjalan menuju rumah-rumah lainnya untuk membantu memerah susu atau memasakkan gandum sampai sore hari. Abu Bakar suka sekali dengan pekerjaannya itu. Setiap hari dilakukannya terus menerus.

Begitulah Abu Bakar...walaupun ia seorang saudagar yang kaya raya, orang-orang sangat segan dan menghormatinya. Harta kekayaannya banyak dipakai untuk perjuangan agama islam. Ia juga suka membeli budak-budak yang disiksa karena ketahuan memeluk Islam. Kemudian dimerdekakannya.

Ketika ia terpilih menjadi khalifah, setelah Rasulullah wafat, pekerjaan itu pun masih dilakukannya. Karena , kesibukannya banyak menyita waktu, Abu Bakar tidak bisa lagi mengunjungi rumah-rumah janda tua dan anak yatim.

Suatu siang, seorang gadis kecil membawa wadah di tangannya. Ia akan memerah susu kambing.

"Diamlah, aku mau memerah susu," katanya ketika kambingnya tidak mau diam. Tangannya yang mungil tidak cukup kuat menjinakkan kambing itu.

"Aduh...,kenapa tidak menurut?" sahut anak yatim itu. Kambingnya malah menghentak-hentakkan kakinya.

"Bu, kemana ya, orang itu?" tanyanya.

"Orang yang mana?" ibunya balik bertanya.

"Orang yang suka membantu memerah susu tidak datang lagi, ya?"

"Sudahlah nak, kau harus terbiasa mengerjakannya sendiri," kata ibunya.

Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu.

"Assalamu'alaikum," terucap salam dari luar.

"Wa'alaikum salam" jawab anak itu.

"Oh! Tuan datang lagi !" serunya ketika melihat laki-laki yang suka membantunya memerah susu sedang berdiri.
Abu Bakar tersenyum. Betapa gembira anak itu, sipemerah susu datang lagi. Sudah berapa hari ia tidak datang kerumahnya. 

"Nak, mari kuperahkan susu kambingmu,"kata Abu Bakar seperti biasanya. Anak itu bergegas memanggil ibunya.

"Bu! Si pemerah susu itu datang lagi!" serunya girang. "Ia mau membantu kita,"katanya lagi.

Mendengar suara anaknya, ibu itu segera keluar menemui Abu Bakar.

"Ya Allah! Anakku, kau tidak patut berkata seperti itu padanya. Tahukah kamu siapa tamu ini?" kata ibunya terperanjat.

"Dia si pemerah susu yang suka membantu kita,"jawab anak itu polos.

"Tidak, anakku...,beliau orang yang mulia. Beliaulah Khalifah Abu Bakar,"kata ibunya.

"Ya Amirulmukminin, maafkanlah anakku, ia tidak tahu siapa Tuan,"dengan wajah pucat ibunya mohon maaf. Gadis cilik itu tampak ketakutan sekali.

"Tidak apa-apa. Biarkan saja...,"kata Abu Bakar sambil tersenyum.

"Mari kuperahkan," kata Abu Bakar lagi.

Khalifah Abu Bakar lalu memerahkan susu kambing di rumah anak yatim itu. Kemudian datang ke rumah-rumah lainnya untuk memasakkan gandum.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Penolong Misterius

 

Penolong Misterius


Ketika senja telah turun mengganti siang dengan malam, seorang laki-laki bergegas mengambil air wudhu. Memenuhi panggilan adzan yang bergaung indah memenuhi angkasa.

"Allahu Akbar!" suara lelaki itu mengawali shalatnya.

Khusyuk sekali ia melaksanakan ibadah kepada Allah. Tampak kerutan di keningnya bekas-bekas sujud. Dalam sujudnya, ia tenggelam bersama untaian-untaian do'a. Seusai sholat, lama ia duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Ia terpaku dengan air mata mengalir, memohon ampunan Allah.

Dan bila malam sudah naik ke puncaknya, laki-laki itu baru beranjak dari sajadahnya.

"Rupanya malam sudah larut...,"bisiknya.

Ali Zainal Abidin, lelaki ahli ibadah itu berjalan menuju gudang yang penuh dengan bahan-bahan pangan. Ia pun membuka pintu gudang hartanya. Lalu, dikeluarkannya karung-karung berisi tepung, gandum, dan bahan-bahan makanan lainnya.

Di tengah malam yang gelap gulita itu, Ali Zainal Abidin membawa karung-karung tepung dan gandum di atas punggungnya yang lemah dan kurus. Ia berkeliling di kota Madinah memikul karung-karung itu, lalu menaruhnya di depan pintu rumah orang-orang yang membutuhkannya.

Di saat suasana hening dan sepi, di saat orang-orang tertidur pulas, Ali Zainal Abidin memberikan sedekah kepada fakir miskin di pelosok Madinah.

"Alhamdulillah..., harta titipan sudah kusampaikan kepada yang berhak,"kata Ali Zainal Abidin. Lega hatinya dapat menunaikan pekerjaan itu sebelum fajar menyingsing. Sebelum orang-orang terbangun dari mimpinya.

Ketika hari mulai terang, orang-orang berseru kegirangan mendapatkan sekarung tepung di depan pintu.

"Hah! Siapa yang sudah menaruh karung gandum ini?!" seru orang yang mendapat jatah makanan.

"Rezeki Allah telah datang! Seseorang membawakannya untuk kita!" sambut yang lainnya.

Begitu pula malam-malam berikutnya, Ali Zainal Abidin selalu mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin. Dengan langkah mengendap-endap, kalau-kalau ada yang memergokinya tengah berjalan di kegelapan malam. Ia segera meletakan karung-karung di muka pintu rumah orang-orang yang kelaparan.

"Sungguh! Kita terbebas darikesengsaraan dan kelaparan! Karena seorang penolong yang tidak diketahui!" kata orang miskin ketika pagi tiba.

"Ya! Semoga Allah melimpahkan harta yang berlipat kepada sang penolong...," timpal seorang temannya.          

Dari kejauhan, Ali Zainal Abidin mendengar semua berita orang yang mendapat sekarung tepung. Hatinya bersyukur pada Allah. Sebab, dengan memberi sedekah kepada fakir miskin hartanya tidak akan berkurang bahkan, kini hasil perdagangan dan pertanian Ali Zainal Abidin semakin bertambah keuntunga.

Tak seorang pun yang tahu dari mana karung-karung makanan itu? Dan siapa yang sudah mengirimkannya?

Ali Zainal Abidin senang melihat kaum miskin di kotanya tidak mengalami kelaparn. Ia selalu mencari tahu tentang orang-orang yang sedang kesusahan. Malam harinya, ia segera mengirimkan karung-karung makanan kepada mereka.

Malam itu, seperti biasanya, Ali Zainal Abidin memikul sekarung tepung di pundaknya. Berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan. Tiba-tiba tanpa di duga seseorang melompat dari semak belukar. Lalu menghadangnya!

"Hei! Serahkan semua harta kekayaanmu! Kalau tidak...," orang bertopeng itu mengancam dengan sebilah pisau tajam ke leher Ali Zainal Abidin.

Beberapa saat Ali terperangah. Ia tersadar kalau dirinya sedang di rampok. "Ayo cepat! Mana uangnya?!" gertak orang itu sambil mengacungkan pisau.

"Aku...aku...," Ali menurunkan karung di pundaknya, lalu sekuat tenaga melemparkan karung itu ke tubuh sang perampok. Membuat orang bertopeng itu terjengkang keras ke tanah. Ternyata beban karung itu mampu membuatnya tak dapat bergerak. Ali segera menarik topeng yang menutupi wajahnya. Dan orang itu tak bisa melawan Ali.

"Siapa kau?!" tanya Ali sambil memperhatikan wajah orang itu.

"Ampun, Tuan....jangan siksa saya...saya hanya seorang budak miskin...,"katanya ketakutan.

"Kenapa kau merampokku?" Tanya Ali kemudian.

"Maafkan saya, terpaksa saya merampok karena anak-anak saya kelaparan," sahutnya dengan wajah pucat.

Ali melepaskan karung yang menimpa badan orang itu. Napasnya terengah-engah. Ali tak sampai hati menanyainya terus.

"Ampunilah saya, Tuan. Saya menyesal sudah berbuat jahat..."

"Baik! Kau kulepaskan. Dan bawalah karung makanan ini untuk anak-anakmu. Kau sedang kesusahan, bukan?" kata Ali.

Beberapa saat orang itu terdiam. Hanya memandangi Ali dengan takjub.

"Sekarang pulanglah!" kata Ali.

Seketika orang itu pun bersimpuh di depan Ali sambil menangis.

"Tuan, terima kasih! Tuan sangat baik dan mulia! Saya bertobat kepada Allah...saya berjanji tidak akan mengulanginya," kata orang itu penuh sesal.

Ali tersenyum dan mengangguk.

"Hai, orang yang tobat! Aku merdekakan dirimu karena Allah! Sungguh, Allah maha pengampun." Orang itu bersyukur kepada Allah. Ali memberi hadiah kepadanya karena ia sudah bertobat atas kesalahannya.

"Aku minta, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang pertemuanmu denganku pada malam ini...," kata Ali sebelum orang itu pergi." Cukup kau doakan agar Allah mengampuni segala dosaku," sambung Ali.

Dan orang itu menepati janjinya. Ia tidak pernah mengatakan pada siapa pun bahwa Ali-lah yang selama ini telah mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin.

Suatu ketika Ali Zainal Abidin wafat. Orang yang dimerdekakan Ali segera bertakziah ke rumahnya. Ia ikut memandikan jenazahnya bersama orang-orang.

Orang-orang itu melihat bekas-bekas hitam di punggung di pundak jenazah Ali. Lalu mereka pun bertanya.

"Dari manakah asal bekas-bekas hitam ini?"

"Itu adalah bekas karung-karung tepung dan gandum yang biasa diantarkan Ali ke seratus rumah di Madinah," kata orang yang bertobat itu dengan rasa haru.

Barulah orang-orang tahu dari mana datangnya sumber rezeki yang mereka terima itu. Seiring dengan wafatnya Ali Zainal Abidin, keluarga-keluarga yang biasa di beri sumbangan itu merasa kehilangan.

Orang yang bertobat itu lalu mengangkat kedua tangan seraya berdo'a," Ya Allah, ampunilah dosa Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Saw." 

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Tangan Di Atas Lebih Mulia

 

Tangan Di Atas Lebih Mulia


Dengan penuh harap, lelaki berpakaian kumal itu menuju kota Madinah. Walaupun badannya terasa lelah tapi ia paksakan juga menempuh perjalanan yang cukup jauh. Kabarnya, di kota ada seorang Nabi yang baru hijrah. Namanya Muhammad Saw. Orangnya sangat santun dan penuh kasih sayang pada siapa saja. Apalagi terhadap fakir miskin, Nabi itu begitu mengasihinya.

"Tentu hatinya begitu mulia. Aku akan menemuinya," bisik lelaki itu.

Keringat yang mengucur di wajahnya tidak membuat lelaki miskin itu membatalkan niatnya. Dicarinya rumah Nabi Muhammad. Setiba di depan sebuah rumah, lelaki itu pun berseru memanggil Nabi.

"Wahai Rasulullah! Nabi kaum muslimin," kata lelaki itu agak keras.

Sebentar kemudian muncul seorang lelaki yang berwajah meneduhkan. Sifat kasih sayangnya memancar lembut dari sorot matanya.

"Ya Rasulullah, aku ini sedang kelaparan. Anak dan istriku sedang menderita. Berilah aku sedekah, Tuan," katanya dengan suara tertahan.

"Baik, tunggulah sebentar," jawab Nabi lemah lembut. Nabi masuk ke rumahnya dan membawa makanan untuk lelaki miskin itu. Dengan tangannya sendiri, Nabi menyerahkan sedekah makanan pada lelaki tersebut.

"Aku hanya dapat memberikan makanan sekadarnya," kata Rasulullah.

"Alhamdulillah. Terima kasih Tuan. Aku akan berdo'a agar Allah memberikan balasan yang berlipat," ucap lelaki miskin itu.

"Ambillah rezeki dari Allah ini," kata Rasulullah lagi.

Lelaki itu kemudian pergi membawa makanan dari Rasulullah ke kampungnya. Di sana, ia menyantap sedekah itu beserta anak dan istrinya.

"Sungguh dermawan Nabi umat Islam itu. Aku diperlakukannya dengan santun," cerita lelaki itu pada anak dan istrinya."Apa yang dikatakan orang-orang kalau Nabi Muhammad seorang yang amat mulia itu benar."

"Kalau begitu, besok kau pergi ke rumahnya lagi. Pasti ia akan memberi sedekah yang lebih banyak,"usul istrinya.

Lelaki miskin itu diam sejenak. Lalu mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Nabi Muhammad memang sangat mengasihi orang miskin. Apa pun akan di sedekahkannya dengan ikhlas karena Allah.

Keesokan harinya lelaki miskin itu datang kembali menemui Rasulullah untuk meminta sedekah. Ia amat yakin akan mendapatkannya seperti kemarin. Dengan pakaian yang robek di sana-sini, lelaki itu berdiri di depan pintu rumah Nabi.

"Ya Nabi Allah! Berilah aku sedekah.  Anakku belum makan apa-apa di rumah," pintanya memelas.

Rasulullah memandangi peminta-minta itu dengan heran.

"Bukankah kau ini orang yang datang kemarin?" tanya Nabi.

"Ya betul. Kasihanilah si miskin ini," ujarnya.

Nabi pun masuk ke rumahnya mengambil sejumlah uang untuk lelaki miskin itu. Lalu menyedekahkannya.

"Ini untukmu. Pergunakanlah dengan baik dijalan Allah," kata Rasulullah. Bukan main senangnya hati lelaki itu. Rasulullah memberi sedekah uang yang cukup banyak.

Peminta-minta itu pulang sambil bersiul. Ia tak menduga akan mendapat rezeki nomplok! Nabi Muhammad benar-benar seorang yang penyayang. Ia pun lalu membayangkan apa yang akan di sedekahkan Rasulullah padanya besok. Mungkin pakaian yang bagus atau emas permata...ah! siapa tahu? Bukankah beliau gemar bersedekah?

Lelaki itu kenbali menceritakan kemurahan hati Rasulullah.

" Saya jadi ingin menemuinya," kata isterinya.

" Besok aku mau datang lagi memionta sedekahnya." Lelaki itu kembali menerka-nerka barang berharga yang akan diberikan Rasululah.

" Aku jadi ingin bertemu dengan Rasulullah," sahut isterinya tiba-tiba.lelaki itu mengerutkan dahinya. " Kau mau ikut denganku?"

Beberapa saat lelaki itu berpikir. Boleh juga, sesekali memebawa isteri dan anaknya menemui Nabi. Pasti akan lebih meyakinkan! Rasulullah akan iba melihat kelurganya yang hidup serba kesusahan.

"Kau boleh ikut! Kau bisa membatuku nanti," katanya sambil tersenyum. Bahkan, lelaki itu sudah mempunyai maksud mejadi peminta-minta untuk mencari nafkah bagi keluarganya.

" Tak usah capek-capek kerja keras. Cukup dengan cukup dengan menadahkan tagangan dapat rezeki....," pikirnya senang.

Lalu keesokan harinya peminta-minta itu membawa isteri dan anaknya kerumah Rasulullah.

" Tuan, berilah kami sedekah sekadarnya," katanya degan nada memelas.

" Kasihanilah kami yang melarat ini...," timpal isterinya pula.

Rasulullah memperhatikan rombongan kecil itu. Nabi ingat benar lelaki itu yang datang kemarin  meminta sedekah.

" Tunggu sebentar," sahut Nabi. Peminta-minta itu gembira akan diberi sesuatu oleh Nabi. Dengan sabar ia menunggu dan mengharap rezeki yang lebih besar lagi.

Tak lama kemudiann, Nabi datang membawa sebuah kapak. Melihat itu, si Pengemis tercengang.

" Sedekahku hari ini sebuah kapak untukmu," kata Nabi.

Pengemis itu keheranan. Kenapa hari ini Rasululah tidak memberi sedekah makanan atau uang.

" Tuan, kapak ini untuk apa? Aku minta sedekah uang atau makanan...," sahut sang Pengemis.

" Kapak ini akan lebih bermamfaat buatmu. Kau bisa menggunakannya untuk menebang pohon, memotong kayu, dan pekerjaan lainnya. Pekerjaan itu dapat menghasilkan nafkah bagimu dan keluargamu," kata Nabi. Lelaki beserta isterinya itu tertegun.

Sungguh , ia tak menduga kalau Nabi akan memberi kapak sebagai sedekah.

" Gunakanlah kapak ini untuk mencari nafkah sehingga kau tidak meminta-minta lagi," sahut Nabi pula.

" Terimakasih, Tuan," ucap lalaki itu seraya menunduk.

Orang itupun lalu pergi dengan perasaan yang berkecamuk. Ia sangat malu menjadi peminta-minta untk mencari nafkah bagi keluarganya. Padahal, ia belum bagitu tua.Tenaganya masih kuat untuk bekerja apa saja. Ia menyesal sudah memafaatkan kemiskinannya sebagai alasan untuk mengemis. Bukankah Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh?

Sejak itu, lelaki itu tidak pernah meminta-minta lagi. Ia mencari nafkah dengan menggunakan kapak pemberian Rasulullah.
Kehidupannya pun meningkat berkat kerja keras dan ketekunannya selama ini.

Lelaki itu baru menyadari bahwa tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah. Karenanya, ia bertekad tak akan menadahkan tangannya kepada manusia. Dia akan menadahkan tangannya hanya kepada Allah yang Maha Penyayang.

TAMAT

Kisah Berikutnya:

Seuntai Kalung Fatimah

 

Seuntai Kalung Fatimah


Langkah orang tua itu tertatih-tatih menuju sebuah rumah sederhana. Dia baru saja menemui Nabi Muhammad dirumahnya yang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

"Assalamualaikum, wahai keluarga Nabi," seru seseorang dari luar. Fatimah, putri Rasulullah, bergegas membukakan pintu rumahnya.

"Wa'alaikum salam," jawab perempuan berwajah lembut itu.
Dilihatnya, seorang lelaki bepakaian compang-camping dan penuh tambalan. Badannya tampak lesu dan kelaparan.

"Siapa anda?" tanya Fatimah kemudian.

" Aku baru saja menjumpai Rasulullah untuk memohon sedekah sekadarnya. Tetapi, ayahmu tak mempunyai apa-apa untuk diberikan kepadaku. Beliau menyuruhku datang padamu," kata  lelaki tua itu. " Putri Nabi yang mulia, tolonglah saya yang miskin dan lapar ini," suaranya memelas.

Fatimah segera mencari sesuatu yang dapat diberikan pada orang itu. Akan tetapi, tak ada sedikitpun makanan atau pakaian untuk diberikan. Sesaat Fatimah kebingungan. Ia heran, kenapa Rasulullah menyuruh orang miskin itu menemuinya. Padahal, hidupnya sendiri tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Dirumahnya sering kekurangan makanan. Jadi, apa yang harus disedekahkan?

Oya! Fatimah teringat pada sehelai tikar yang biasa dipakai tidur oleh Hasan dan Husein, anaknya. Fatimah mengambil tikar tikar itu. Dan segera mamberikannya pada orang itu.

"Aku hanya mempunyai ini untukmu," kata Fatimah. Orang tua miskin itu mengerutkan alisnya. Tampak kesedihan tersembarut di wajah letihnya.

"Hai putri Nabi, aku sangat kelaparan. Kenapa kau malah memberikan tikar padaku.  Aku mohon, berilah sesuatu yang lain?" kata lelaki itu.

Fatimah tambah kebingungan. Apa lagi yang bisa diberikan? Hatinya sungguh tak tega melihat keadaan orang tua itu. Fatimah memang mudah tersentuh jika melihat orang miskin yang kelaparan. Ia ingin sekali menolongnya. Tak sengaja Fatimah meraba lehernya. Seuntai kalung melingkar disana. Tanpa pikir panjang, Fatimah melepas kalungnya. Lalu diberikan pada orang miskin itu.

" Ambillah kalung ini. Mudah-mudahan bisa memenuhi apa yang kau butuhkan," sahut Fatimah dengan ikhlas.

Sebenarnya, kalung itu barang yang amat berharga bagi Fatimah. Pamannya, Hamzah, menghadiahkan kalung itu pada hari pernikahannya. Tapi ia rela memberikannya kepada orang yang tengah membutuhkan pertolongannya.

" Terimakasih, wahai Putri Rasulullah. Allah akan membalas kebaikanmu," ucap orang tua itu dengan penuh bahagia. Orang tua miskin itu pun membawa kalung Fatimah dengan hati gembira. Ia segera menemui Rasulullah. Diperlihatkannya kalung itu kepada beliau.

TAMAT

Kisah Berikutnya: