Judul buku                  : PARA PEMIMPIN WANITA (An-NISAA RAAIDAAT MIN AS- SYARAF)

Judul tarjamahan         : PARA PEMIMPIN WANITA

Penulis                         : IMLI NASRULLAH

Penerbit                       : AL-DAR AL-MASRIAH AL-LUBNANIAH CAIRO MESIR

Tahun terbit                 : 2001

Jumlah halaman           : 147 HALAMAN

Penerjemah                  : ACHMAD MACHRUS MUTTAQIN, S. FIL. I

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

 

Pembahasan-pembahasan ini didahului dengan menampilkan wajah-wajah dari para pemimpin wanita, yang ditulis pada periode-periode yang terputus-putus. Maksud dari adanya pemilihan tokoh-tokoh dari para pemimpin wanita ini adalah berdasarkan kecemerlangan kekuasaan mereka dalam pergulatan dunia wanita yang mengguncang zaman dan sejarah. Kekuatan yang ada pada dirinya sendiri dan juga perkara-perkara lain yang melingkupinya dalam menampakkan kekuatan mereka dan juga mewujudkan ambisi mereka.

            Dalam beberapa masa, mereka telah berhasil dalam mewujudkan ambisi dan juga misi-misi mereka, akan tetapi dalam banyak hal ternyata mereka gagal dalam mencapai kebahagiaan yang bersifat pribadi.

            Beberapa pandangan yang tersebar diatas lembaran-lembaran kertas yang saling berurutan, mengaitkannya dengan beribu-ribu ragam warna dari beberapa ragam keilmuan, keahlian, sastra dan juga politik, yang kesemuanya itu berada pada seting zaman para pemimpin wanita tersebut hidup, yang memang tersembunyi dalam relung-relung jurang masa yang sangat curam, yaitu bagian dimana keberhasilan dan ketenaran sedang berlangsung dalam beberapa masa atau pergulatan keras yang berharga, untuk kemudian menggali sesuatu yang baru yang tersembunyi.

            Hal ini adalah sebuah pergulatan yang ada pada saat itu, yang mungkin akan terulang pada masa yang akan datang, berupa beberapa hal yang mungkin dapat diterapkan bagi para wanita zaman sekarang, sekiranya para wanita zaman sekarang mengetahui perjalanan para pemimpin wanita tersebut, baik dari sisi keilmuan ataupun sepak terjangnya. Maka setidaknya para wanita zaman sekarang berada dalam bayang-bayang semu dari kemunculan para pemimpin wanita tersebut, terbebas dari tali kekang dan belenggu ketundukan.

            Dan pada ketundukan dari semua gerakan-gerakan yang bersifat feminisme yang bertujuan untuk membebaskan harkat wanita. Sesungguhnya kebajikan-kebajikan dari para wanita yang bijak, walaupun terasa jauh, pastilah akan senantiasa ada dengan sendirinya dibelakang pergerakan baru yang dijadikan kendaraan yang mucul kemudian. Sepertinya mereka berada dalam bayang-bayang yang terasa sangat jauh dari kedudukan dan kekuasaan yang ada saat ini.

            Ini bukanlah sebuah kenyataan yang terjadi hanya pada wanita Arab atau wanita negri timur saja, maka perhatikanlah, bahwa sesungguhnya hal ini merupakan kenyataan-kenyataan para wanita yang ada diamanapun berada, hal ini mengokohkan pendapatku mengenai para wanita yang menguasai sebuah negara yang diikat dengan namanya dan juga kebesarannya, seperti halnya perjalanan sistem pemerintahan para pemimpin wanita tersebut yang sebagian besar dijalankan oleh kaum wanita, yang terlebih dulu diberikan pemahaman mengenai teori keadilan masyarakat.

            Adapun tindakan saya menempatkan wanita-wanita Arab dalam pembahasan-pembahasan ini adalah berdasarkan keunggulan mayoritas yang ada pada diri seorang wanita. Saya menghendaki keberadaan dari tiap-tiap para pemimpin wanita yang ada pada masa lalu dapat menyala-nyala kembali, memberikan petunjuk dan juga dapat memberikan ilham yang menerangi keberanian-keberanian para pemimpin wanita masa depan.

 

 

Imli Nasrullah

 

 

 

SUMAIRAMS

 

 

“Sesungguhnya waktu kembaliku sudahlah jelas, maka katakanlah pada orang-orang Caldean, jika mereka menginginkanku dan memiliku, maka aku benar-benar akan berubah seperti dulu”

 

 

Para ahli sejarah Yunani kuno menyatakan bahwa Sumairams adalah seorang ratu di Irak. Seperti halnya anggapan sebagian para ahli sejarah dari Jerman yang menyebutkan bahwasannya Sumairams hanya merupakan sebuah dongeng belaka, akan tetapi para ahli arkeologi dari Jerman pada tahun 1909 berhasil menemukan patung Sumairams dalam reruntuhan kota Syarqat, yaitu ibu kota pertama bangsa Asyiria. Dan patung itupun digali untuk kemudian dilakukan penelitian mendalam, yang pada akhirnya dapat mengantarkan saya untuk memulai pembahasan mengenai Sumairams.

Seperti halnya penemuan patung Sumairams, kisah-kisah dan cerita-cerita yang sangat menarik mengenai Sumairams pun kemudian coba dihubung-hubungkan. Saya tidak menuturkannya, akan tetapi saya mencoba untuk merangkai dan mengaitkan cerita yang saling berhubungan dengan sejarah kepahlawanan yang muncul dan berkembang dalam kota Babilonia.  Sebelum akhirnya kota Babilonia dapat dikuasai oleh raja Tiglath Pileser I (antara tahun 1256-1258 SM).

Dia adalah raja Asyria, sebuah negara yang sangat rawan dengan peperangan-peperangan yang sangat banyak. Diantaranya adalah peperangan melawan Raja Belsaurussur dan berhasil ditaklukkannya, kemudian dinamakan kota Belsar. Kemudian muncullah nama Sumairams dan suaminya yang pertama, seorang pemimpin tentara Asyiria, Caldea pada peperangan itu. Nama aslinya pun mendapat tambahan, untuk menyesuiakan dengan nama raja Tiglath Pileser, yang menikahinya setelah kematian suaminya yang pertama.

Saya kembali pada cerita mengenai kisah kelahirannya. Dikarenakan situasi dan kondisi kelahirannya tidak diketahui sejarahnya dengan jelas, maka disini akan diketengahkan kisah kelahirannya berdasarkan bukti-bukti yang ada dan sudah tersusun, berupa tulisan-tulisan yang ada pada buku, kisah-kisah kepahlawanan yang mengagumkan yang ada dalam sejarah Asqalan di daerah Palestina, yang merupakan kota kelahirannya.

Dikatakan bahwasanya Dynosius dewa bangsa Yunani menjadi linglung karena mencintai Atsar Ghootix, dewa cinta dan kecantikan. Akan tetapi Atsar Ghootix tidak mencintainya dan Atsar Ghootix pun berubah menjadi seekor ikan. Dengan bantuan para dewa-dewa negri timur yang mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu Atsar Ghootix dan membebaskannya dari kutukan menjadi ikan, inilah yang kemudian menjadi awal persahabatannya dengan seorang pemuda ganteng yang berjumpa dengannya dalam perjalanan, sewaktu dia keluar dari laut yang sangat luas dan dalam.

Para dewa mensyaratkan kepada pemuda itu untuk menjaga Atsar Ghootix untuk kembali keasalnya, ke laut. Supaya tidak memperlihatkan kejelekan kelakukannya.

Wanita muda itu-ikan laut- keluar dengan sangat leluasa, mengelilingi Asqalan dan menatap sosok pemuda ganteng yang mengagumkan, lalu ia berubah menjadi seekor burung  dan membentangkan sayapnya didepan pemuda itu. Ketika dia mengetahui adanya perasaan takut yang menghinggapi pemuda itu, kemudian ia bergegas untuk menenangkan rasa takut pemuda itu dengan berkata:

“Wahai pemuda yang terkasih, aku adalah sosok wanita yang ditaqdirkan oleh-Nya  untuk tidak  mencintai, selain mencintaimu”

Pemuda itu adalah seorang penenun dan dia sedang dalam perjalanan untuk menjual barang dagangannya, dengan harapan nantinya ketika pulang ia dapat membawa uang, yang dengan uang tersebut nantinya ia dapat membeli obat untuk ibunya yang sedang sakit. Akan tetapi cinta Atsar Ghotix telah membius dirinya dan menjadikannya menuruti semua kemauan Atsar Ghootix.

Keduanya hidup bersama, sampai akhirnya mereka mencari saat yang baik untuk kembali ke negri yang pernah ditinggalkan Atsar Ghootix, yaitu Syan’ar di Irak. Dari Syan’ar kemudian dia berpindah ke Areeda, sebuah kota orang-orang Caldean yang indah, sebuah kota dimana antara wanita dan lelaki saling berbaur. Namun yang menjadi perhatian utamanya adalah sakit yang yang menimpa dadanya, dan dia tidak dapat menyembuhkannya selagi tidak dapat dihadirkan baginya kulit Anqalis supaya dioleskan didadanya.

Secara reflek, dia pergi menuruti perintah-perintah Atsar Ghootix, dan dia tidak mengetahui bahwa perintah-perintah Atsar Ghotix tersebut dapat membunuhnya, sedangkan  Atsar Ghotix telah mengetahui cara mengelak dari pembunuhan. Akan tetapi ternyata dia mampu mengatasi penyergapan yang ditujukan kepada mereka berdua dan menuntun keduanya menuju tempat pulang yang diinginkan, berkendarakan ontanya yang senantiasa setia mengikuti mereka berdua walau dalam keadaan yang sangat panas, lantas dia memilih sebidang tanah dan menjadikannnya seperti sorga di sebuah tanah datar Syan’ar, dan berdiam disana sambil menunggu kelahiran janin yang dikandungnya.

Akhirnya dia melahirkan seorang putri yang kecantikannya menakjubkan. Hal inilah yang kemudian menjadikannya mau untuk memakan apa saja yang ditemukan yang telah dipilah dan dipilihnya terlebih dulu, supaya kesehatan diri dan bayinya dapat senantiasa terjaga, seperti burung-burung, ikan dan juga hewan-hewan lainya dan dia juga menuliskan beberapa azimat diatas kulit binatang. Dia memakaikan kalung dileher putrinya yang berisi azimat yang dapat menyelamatkannya dari bahaya.

Sewaktu dia sedang asyik menyusukan putrinya, tiba-tiba dia mendengar panggilan yang seolah-olah melihatnya:

“Atsar Ghootix, wahai kekasih para tuhan, sesungguhnya para saudaramu telah menantimu dengan tangis yang penuh harap. Keinginanmu telah mencapai puncak, dan tibalah saatnya engkau kembali dari perjalananmu, berbahagialah dan jangan lagi bimbang”

Adapun keraguan itu muncul disebabkan oleh adanya ketakutan Atsar Ghotix terhadap nasib dari bayi perempuannya, hal ini dikarenakan ia meninggalkan bayinya di tanah lapang, akan tetapi suara itu kembali menenangkan dirinya bahwa anaknya nantinya dalam dalam keadaan aman.

Sebelum selesai ia menyusui anaknya, tiba-tiba ia melihat tujuh burung merpati yang menontonkan tindakan yang sewenang-wenang disampingnya, ia terus saja menunggu adegan itu karena memang menarik perhatiannya dalam upayanya menyerahkan penjagaan putrinya.

Ibu itu meninggalkan bayinya dikeranjang sampah, dan penyakit pun menggerogoti usus sang bayi. Akan tetapi serombongan burung yang berwarna putih melihat kejadian ini, yang sangat menggugah simpati terhadap bayi tersebut, yang disebabkan ketenangan yang ditampilkan oleh bayi tersebut.

Burung-burung itupun lantas menggantikan penjagaan terhadap bayi perempuan itu selama tiga hari, sampai akhirnya secara kebetulan burung-burung itu bertemu dengan raja Sorgan, seorang raja terkenal dari bangsa Caldean. Sorgan pun mendengar tangisan sang bayi, lalu dengan bergegas ia mendatangi sumber dari suara itu. Ketika Sorgan melihat bayi perempuan itu, segera saja ia menggendongnya dan pulang dengan membawa serta bayi perempuan itu kerumah, supaya dapat meletakkannya dalam asuhan istrinya, Baraziyu.

Kemudian kedua suami istri inipun merasa bingung untuk memilihkan nama yang cocok bagi bayi perempuan ini. Setelah keduanya dilanda kebingungan, akhirnya keduanya memutuskan untuk memberi nama bayi perempuan itu dengan Sumai-Ram, adalah sebuah nama yang mulia.

Kedua suami istri ini semakin bertambah mesra, dengan adanya pemberian bayi perempuan ini, yang telah memasuki sisi cinta murni dan kebahagiaan hidup kedua pasangan suami istri ini yang dirasa kering. Keduanyapun mencoba untuk mencurahkan kasih sayang dan juga penjagaan terhadap bayi itu secara maksimal. Bayi itupun tumbuh menjadi sosok yang cantik dan juga cerdas.

Ketika usinya menginjak empat belas tahun, berkobarlah perang yang sangat mematikan antara orang-orang Asyiria dan orang-orang Caldean. Sumairams pergi untuk melihat kecamuk peperangan itu dengan sembunyi-sembunyi, iapun bersembunyi disuatu tempat persembunyian, mengamati dengan seksama kecamuk peperangan itu dari tempat persembunyaiannya.

Dengan bermodalkan semangat yang membara dan juga keberanian, akhirnya Sumairams maju ke medan pertempuran. Tidak lama kemudian ia kembali menuju tempat persembunyiannya semula, melakukan shalat dan memohon kepada Tuhan-nya supaya berkenan menolong pasukan negaranya.

Berkat tindakannya, para tentara Caldeanpun mendapat pertolongan dapat mengalahkan tentara Asyiria, segera saja ia bergerak menuju kediaman untuk mengabarkan berita gembira ini kepada keluarganya dan juga rakyatnya.

Dia telah berhasil melewati dua rintangan sekaligus, akan tetapi kedua orang tuanya tidak mengetahuinya. Mereka baru mengetahui hal ini setelah melihat kedok penyamaran yang dilakukan oleh Sumairams, kedua orang tuanya merasa gembira mendengar cerita heroik yang dialami oleh Sumairams. Keduanya mendengarkan cerita itu dengan seksama, dengan perasaan hampir tidak percaya.

Setelah kejadian ini berlalu selama tiga atau empat tahun, peperangan barupun berkobar, sewaktu orang-orang Ilamiyyun sangat menginginkan untuk mengusai Caldean, dan mereka sepakat untuk menyerang orang-orang Caldean.

Dalam kesempatan ini, Sumairams memohon kepada kedua orang tuanya untuk memperbolehkannya pergi menuju medan pertempuran, menunaikan kewajibannya. Keduanya-pun mengizinkan Sumairams untuk berperang dengan syarat kedua orang tuanya akan mendampinginya.

Kedua orang tuanya tidak percaya akan kejadian yang baru saja dilihatnya, ketika Sumairams membuang senjatanya dan meninggalkan kedua orang tuanya untuk bergabung dalam kecamuk peperangan. Dia melihat raja Caldean terjatuh dan segera saja ia melompat untuk melarikannya.

Ia menolong sang raja dengan membalut luka sang raja yang dapat membunuhnya dengan sapu tangan yang terbuat dari katun berwarna putih yang sangat berharga baginya. Ketika Sumairams melarikan sang raja menuju Babilonia, tiba-tiba Sumairams berhenti. Dengan berapi-api, Sumairams memberikan semangat kepada para prajurit untuk menyelesaikan peperangan.

Sumairams keluar dari medan pertempuran. Setelah peperangan itu, ternyata Sumairams kembali mengikuti peperangan-peperangan yang lain. Dan selamanya ia akan nampak seperti laki-laki. Dia juga menyaksikan suatu peperangan yang mana para tentara Asyiria mendapat pertolongan dan berhasil mengalahkan tentara Caldean, dan mereka berhasil menguasai kota Babilonia dan secara otomatis menguasai orang-orang Caldean.

Usai sudah tahun dimana Babilonia diliputi oleh pertolongan, sewaktu pasukan Asyiria bertambah kuat yang dipimpin oleh Kandalanu, hal ini dikarenakan golongan-golongan yang pada asalnya tercerai berai menjadi bersatu, yang dipelopori oleh para pemuda dan para pemudi. Dalam kondisi seperti itu, Sumairams tidak ingin untuk melawan, ia keluar dengan kecantikannya mendekati para pemuda, menampakkan sikap kelembutannya, dan duduk diantara para pemudi, mencoba bernyanyi dengan sebaik-baiknya.

Seorang panglima pasukan melihat perbedaan yang nampak pada Sumairams, lantas ia bertanya: kamu ini siiapa? Lantas ia mengutus salah satu kawannya untuk mengantarkan Sumairams ketempat duduknya.

Perasaan Sorgan menjadi panik, sewaktu datang seorang utusan panglima, memanggilnya supaya menolongnya dengan membawa seorang perempuan. Ketika Sorgan  sudah berada didepan panglima, panglimapun bertanya:

"Apakah kau tahu, dihadapan siapa engkau berdiri, dan untuk apa engkau diundang datang ketempat ini?"  

Sorgan menjawab dengan suara yang merendah:

"Benar, wahai tuanku"

Sang panglima berkata:

"Hari ini aku melihat seorang wanita Babilonia yang sangat cantik, dan aku berkeinginan untuk menjadikannya sebagai istriku, ketika dia tidak bersedia atau menolak, maka aku akan menjadikannya salah satu dari beberapa pelayan kaisar"

Sorgan menjawab:

"ini adalah sebuah kehormatan agung bagi saya dan juga keluarga. Dan mengenai wanita itu, saya belum dapat memberikan keputusan kepada anda, kelak paduka pasti akan menemukan dalam diri Sumairams sosok yang mencintai dengan tulus dan sempurna."

Pembicaraan ini menjadi rahasia dua laki-laki ini. Rakyat Babilonia heran atas kebingungan pemimpin mereka, karena desakan permintaan panglima. Lalu pada suatu hari mereka melihat kereta kebesaran yang dikhususkan bagi panglima, melewati jalanan. Dalam kereta itu nampak pemimpin mereka, istri dan juga anak perempuannya.

Setelah lewat beberapa hari, pemimpin Babilonia mengumumkan berita gembira tentang sosok pemimpin yang baik, seorang pahlawan Asyiria yang menjadi panglima, yang bernama Kandalu.

Sumairams adalah sosok wanita yang kuat, yang menjadikannya berbeda dengan wanita lainnya. Tidak lama kemudian setelah menikah, ia mulai mempengaruhi suaminya dengan pandangan-pandangannya, nasehat-nasehat dan juga kecerdikannya. Sebagian kawan-kawannya melihat hal ini, lantas mereka mengabarkan hal ini kepada raja, dengan menyerahkan Sumairams, mereka mengira bahwa panglima memang telah dibutakan matanya ketika ia benar-benar telah menghendaki wanita.

Tighlat Neneb memanggil panglimanya, untuk menjelaskan apa yang sebernarnya sedang terjadi. Sang panglima memenuhi panggilan ini dengan ditemani oleh Sumairams, ia tidak berdiri pada posisi netral akan tetapi masuk ketengah-tengah pedebatan untuk menyaksikan keberanian suaminya dan juga bagusnya pandangan suaminya mengenai bentuk strategi politiknya.

Sumairams-pun berpedoman pada cara-cara yang ditempuh oleh suaminya, tentang bagaimana caranya mengalahkan musuh orang-orang Caldean yang tunduk dan setia kepada raja dan mendiami Asyiria. Dan dalam hal ini ia begitu bijaksana.

Sang raja mendengar pendapat Sumairams dan kagum akan kecerdikannya, dan juga kecantikannya. Maka sang rajapun memberikan restu kepada panglimanya, dan bersepakat dengannya untuk mengumumkan perang yang nantinya dalam peperangan itu akan bersekutu antara orang-orang Caldean dan Asyiria melawan orang-orang Baktar, seketika itu juga.

Sumairams mendengarkan dengan seksama, akan tetapi dalam diamnya ia tidaklah mematuhi perintah sang raja, akan tetapi menentangnya, ia memiliki alasan sendiri untuk tidak mematuhi sang raja, karena ia memiliki tanda-tanda yang mengabarkan kepadanya dan selalu saja membayang-bayanginya, berdasarkan kedalamannya dalam ilmu perbintangan. Ia menginstruksikan kepada sekawanan prajurit untuk memulai bergerak, pada saat ini tidaklah baik bagi keselamatannya, akan tetapi sang raja membentaknya, apa yang kau ketahui dari perang, wahai gadis kecil?

Kembali Sumairams berusaha untuk meyakinkan sang raja akan pendapatnya. Sang raja memang menerima penolakan yang ditujukan kepadanya, akan tetapi sang raja mengejek Sumairams dan ini adalah sesuatu yang menjadikan Sumairams kembali merasakan suatu kesedihan yang mendalam, karena menurut pandangannya, bahwasannya sang raja akan mengirim para prajuritnya menuju kematian.

Akan tetapi Sumairams tidak tinggal diam dan berpangku kedua tangan, dengan sigap ia mencoba melepaskan penganiayaan ini, sehingga ia mencari seorang laki-laki dan pergi secara sembunyi-sembunyi menuju perbatasan kota Bahtarin. Untuk menguak beberapa rahasia. Diapun beristirahat setelah mengelilingi benteng pertahanan kota.untuk menguak tempat ini, mengetahui sedikit mengenai bangunannya. Seharian ia mengawali pekerjaannya ini. Lantas ia pulang menemui suaminya dan mengabarkan kepadanya. Kemudian ia menemani suaminya pada subuh hari menuju istana raja untuk memberitahu raja mengenai rahasia benteng kota Bakhtarin.

Sang raja memperhatikan Sumairams dengan seksama dengan penuh haru: lantas ia berkata:

"sesungguhnya engkau, jika tidak jujur kepadaku, maka aku akan menyerahkan kepalamu kepada para algojo"

Adapun Sumairams hanya menginginkan dari sang raja untuk menangguhkan penyerbuan sehari saja.

"Apa sebabnya?" sang raja bertanya kepada Sumairams.

Lalu ia menjawab:

"Aku menghendaki sepuluh orang pemuda yang penyabar dalam menangung kesusahan, yang dipersenjatai dengan pedang yang dapat menghancurkan, karena kita akan melakukan penghancuran tempat yang akan kita datangi, yaitu suatu tempat yang dapat membuka benteng, lalu kita akan membangunnya kembali menjadi sebuah benteng baru. Dari tapal batas ini memungkinkan bagi prajurit berkuda dan kereta untuk masuk kedalam jantung kota."

Dalam kesempatan ini, sang raja mengabulkan permintaan Sumairams, lalu sang raja memanggil sepuluh orang pemuda yang kuat-kuat.untuk pergi menemani Sumairams. Dalam pekerjaan ini, mereka melakukannya dengan wajah berseri, mereka adalah orang-orang yang kembali terakhir. Karena salah satu dari mereka yang terkenal seorang pemberani, melangkahi macan yang sedang tidur, sebab itulah terjadi kegaduhan. Pemuda-pemuda itu berlarian menuju tempat-tempat sekitarnya, akan tetapi kawan-kawan mereka beramai-ramai membunuh macan itu.

Dan untuk menjelaskan mengenai kebenaran cerita itu, Sumairams membangunkan barisan pasukannya dan mengeluarkan kepala macan itu dan melemparkan-nya melewati hadapan sang raja, yang kagum dengan keberanian Sumairams dan semakin bertambah saja kepercayaan sang raja kepada Sumairams. Hal ini dibuktikan dengan pemberian mandat untuk memimpin pasukan dan mendorong mereka untuk senantiasa berani dalam menghadapi peperangan.

Sang suami menemani Sumairams dalam peperangan berikutnya, akan tetapi ia terkena luka yang mematikan, dan akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya diatas pangkuan sumairams. Sumairams ternyata tidak dapat menyelematkan suaminya dengan menyembuhkan lukanya, sang raja memerintahkan untuk membalutnya dengan perban, lalu sang raja dengan kereta kebesarannya mendatangi Sumairams untuk membawa serta pulang ke istana. Akan tetapi wanita yang penuh dengan ambisi ini tidak lantas menyerah karena kesedihannya ini, akan tetapi tetap mengikuti jalannya peperangan walaupun diliputi dengan perasaan susah.

Dengan kehebatannya, sang raja dapat tertolong dari kekalahan musuhnya, dan sang rajapun menyertainya dalam perjalanan pulang menuju wilayah kekuasaan Asyiria, dan kemasyhurannya telah lebih dulu mendahuluinya, maka kelak ia akan mendapatkan suatu kemsyhuran yang memang pada dasarnya sudah berjalan.

Kedua orang tuanya senantiasa menyertainya, termasuk menyaksikan kemasyhuran sumairams. Akan tetapi tidak lama kemudia Sorgan meninggal karena terserang suatu penyakit, dan diapun memanggil Sumairams untuk menghadap dan menjelaskan kepadanya mengenai makna dari jimat yang terdapat dalam kalungnya yang digantungkan dileher.

Ia menjelaskan kepada sumairams dua makna dari jimat tersebut:

1.      Menangkal Syahwat-syahwat badan yang terselubung

2.      Waspada dari pengaruh yang masuk

Lantas ia memberikan sebuah jimat lagi kepada Sumairams, sebuah jimat yang selalu ia bawa dalam peperangan. Dia mewarisi jimat itu dari ayahnya. Dan kalimat terakhir yang di ucapkannya kepada sumairams adalah:

"Selamat tinggal wahai putri Atsar Ghootix"

##########

Tidak lama kemudian, sebelum sang raja mengumumkan keinginannya untuk memperistri Sumairams, ia memintakan persetujuan dari keluarga sumairams, memintakan petunjuk berupa pendapat kepada Sumairams, juga memohon pertolongan dengan kekuatannya. Seperti halnya sang raja sewaktu memanggil Sumairams untuk mempertimbangkan ajakan menikah sang raja dan bersekutu dengan raja dalam pemerintahan, sang rajapun mengirimkan utusannya untuk menyebarkan berita sampai keseluruh pelosok negri tentang hal ini .

Dengan keagungannya, Sumairamspun memberikan perlindungan dalam rangka untuk memperbaiki kerja-kerja pemerintahan dan juga nasib juga rakyat jelata. Tidak lama kemudian, Sumairams mengandung dan melahirkan seorang putra yang kemudian diberi nama Niniveh. Sang raja memiliki tiga orang anak dari istri-istrinya yang terdahulu, yang tertua adalah Aswar Nashir Ball.

Dikisahkan bahwa sesungguhnya Sumairams mencintai Aswar Nashir Ball, akan tetapi Aswar Nashir Ball tidak menanggapi cintanya. Dan hal inilah yang menyebabkan sumairams berusaha mencari kesempatan untuk mendapatkan cinta tulus darinya.

Adapun sang ayah telah menguasakan wilayah Caldean kepadanya, lantas iapun bersenang-senang untuk memuaskan hawa nafsunya dan tidak memperhatikan perintah-perintah yang diterimanya dari sang raja, ayahnya sendiri. Sang ayah akhirnya mengirimkan seorang utusan kepadanya, untuk memperingatkannya dari tindakan-tindakan bodoh yang dilakukan, namun ternyata ia juga tidak meperdulikannya.

Sumairamspun sibuk untuk meletakkan benih-benih kemarahan yang dapat membangkitkan amarah dan memanaskan dada sang ayah terhadap anaknya, dan selang tidak begitu lama sang raja menumpahkan kemarahannya, untuk mendidik tata krama sang anak  yang durhaka. 

Sang ratupun mengirimkan seorang utusan rahasia untuk mengabarkan kepada anaknya tentang rencana-renacanya ayahnya, hal ini dijadikan kesempatan yang baik untuk dapat bertemu dengannya. Ketika sang raja mengirimkan seorang utusan kepada sang anak, memintanya untuk membuat sebuah kesepakatan damai, akan tetapi sang anak malah  membunuh utusan itu, demikian juga dengan utusan-utusan yang lain, nasibnya tidak lebih beruntung dari pada utusan yang pertama.

              Sang anakpun meluap-luap kemarahannya, namun sang ayah sama sekali tidak dapat berhadapan secara langsung dengan sang anak dalam sebuah peperangan yang sangat mematikan, maka dengan pelan-pelan sang raja menjauh dari kecamuk peperangan itu. Dengan leluasa Sumairams mengitari jalan-jalan kota Niniveh, dia telah dibutakan oleh ambisi. Mempengaruhi rakyat untuk menentang Aswar Nashir Ball. Kabar ini pun sampai ketelinga Aswar Nashir Ball, dan segera ia menyelamatnya diri dari bertemu dengan Sumairams.

            Akan tetapi, tempat perlindungan baginya terasa jauh untuk dapat mengelak dari Sumairams, karenanya akhirnya kembali lagi terjadi peperangan yang sengit, Sumairams menemukan suatu cara untuk dapat menangkapnya hidup-hidup Aswar Nashir Ball, dan dia berhasil. Menuntunnya sebagai sosok tawanan yang hina, mengurungnya dalam tahanan sampai dengan akhir hayatnya. Dengan demikian selamatlah kekuasaan Sumairams dari rongrongan anaknya sendiri.

            Ketika orang-orang Caldean menuntut revolusi dan memisahkan diri dari Asyiria, Sumairams pergi menemui mereka. Dengan panjang lebar ia mengenalkan dirinya dan asal usulnya kepada para penduduk, bahwasannya ia adalah dari sebangsa mereka dan secara otomatis juga saudara mereka. Lantas Sumairams melakukan tindakan-tindakan untuk memperbaiki keadaan mereka yang sederhana dan terjajah. Membuat suatu hukum sebelum akhirnya kembali menemui Niniveh, ia merasa lega dengan tindakannya.

            Dengan kehebatannya, Sumairams menyulap Kota Babilonia menjadi seperti salah satu bagian dari sorga firdaus, lalu mendirikan taman-taman, dan yang paling terkenal diantara cipataannya adalah taman gantung, yaitu suatu taman yang digambarkan seperti salah satu  bentuk keajaiban-keajaiban masa itu. Disamping Sumairams membuat taman-taman, ia juga memanjangkan rumah-rumah yang terbuat dari batu, meninggikan jembatan-jembatan, menanami perkebunan dan juga taman-taman, serta membangun benteng-benteng yang besar

            Tidak ada sesuatu yang terlupakan dalam hatinya, tenggelam dalam relung waktu yang menyapa dirinya, ternyata ia merasa kesepian dan ingin dicintai, untuk dapat menyalurkan hasrat kewanitaannya. Ia melupakan wasiat ayahnya yang terakhir.

#########

            Dia adalah sosok pemimpin wanita yang agung, yang menguasai kekuatan hukum dengan kokoh, perencana bentuk suatu negara. Kemudian muncullah dalam benaknya ide untuk melakukan penaklukan-penaklukan. Lalu ia memanggil penasehat spiritualnya untuk menghadap, Byrus. Yaitu salah seorang yang dapat menyimpan rahasia-rahasianya, dan ia selalu meminta pendapatnya dalam suatu perkara yang sedang ia hadapi, dan jawaban-jawabannya selalu menyejukkan, serta dapat mengobati kecemasan-kecemasannya:

            “Sebaiknya engkau segera saja melakukan hal itu dengan cepat, sebelum akhirnya tidak ada lagi yang dapat membantumu.”

Dengan segera bertindak, Sumairams melakukan penaklukan-penaklukan dengan intens sampai ke wilayah Mesir, tepian laut merah dan juga negri Syam. Dimanapun ia berhenti, ia selalu menyebarkan bahasa Armenia dan menjadikannya sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Dalam salah satu peperangan di Habasyah, terbunuhlah seorang pemuda yang sangat dikasihinya.

            Ketika ia kembali ke negaranya, ia menyerahkan sepenuhnya kendali pemerintahan kepada anaknya, lalu ia memerintahkan kepada anaknya untuk memperkuat dalam hal pekerjaan, peperangan dan kehidupan. Sebelum meninggal, pemuda itu ternyata juga sangat mencintainya, dia adalah pemuda dari kebanyakan orang-orang Asyiria. Dengan panjang lebar, Sumairams memaksakan keinginannya kepada ibunya, dan ia menyangkakan bahwa pembebasan pemuda itu digadaikan kepada Sumairams.

            Dia adalah sosok pemimpin wanita yang agung, pemimpin yang menyebarkan banyak mata-mata, dan mengawasi semua pergerakan-pergerakan disemua tempat. Semua tempat tidak ada yang luput dari pengawasannya. Ia mengirimkan seorang utusan untuk mengunjungi pemuda itu dan saudara-saudaranya yang melindungianya.

Dengan mudah Sumairams dapat menaklukkan pemuda itu dan saudaranya, sehingga keduanya tunduk dan bersujud dihadapan Sumairams, lantas Sumairams mengusir pemuda itu dan ia mencari seorang anak untuk membantu berpihak kepadanya, membantu memahamkan kepada pemuda itu bahwa ini semua adalah hanya sebuah tipuan Sumairams belaka.

            Sumiarams adalah sosok yang memiliki kecantikan yang menyilaukan, ia tidak memiliki kekuatan untuk hidup tanpa cinta yang menyala-nyala yang mengibakan. Lantas ia memilih seorang kekasih baru, seorang pemuda yang sangat dicintainya. Dalam benaknya ia sadar, bahwasannya ia adalah seorang raja, penjaga kepala pemerintahan. Akan tetapi sifat kelembutannya tidak menjadikannya statis, seperti halnya tidak menjadikannya menyibukkan diri dengan ambisi berkuasa, memiliki negara yang kaya, memiliki lautan, memiliki banyak mutiara. Dia memang membutuhkan semua itu supaya dia dapat memperkokoh kekuasaannya, memperkuat pasukanya, dan semakin memperkokoh singgasananya.

            Kemudian muncullah beberapa peperangan dengan bangsa barat. Cepat-cepat ia memberikan penekanan serius kepada para pemuda untuk membuat kapal dan membangun sebuah armada yang kuat. Ia memiliki cambuk yang tajam, yang memungkinkan baginya untuk dapat menggerakkan seluruh kekuatan dan mengerahkannya untuk melayaninya.

            Secara umum, tindakannya dalam kesempatan-kesempatan yang lampau. Ia berjalan, mencoba mengenalkan dirinya, mempercayakan putranya dan juga para petinggi-petinggi untuk menjalankan pemerintahan ditengah kepergiannya. Akan tetapi raja yang hendak ditujunya, yaitu Sinderbad, raja Barat menyiapkan bala tentaranya disesuaikan dengan jumlah tentara Sumairams, yaitu berupa pasukan gajah.

            Sumairams kalah dalam pertempuan itu, pulang dengan hati yang remuk redam, terbelenggu. Akan tetapi ia berhasil membawa serta sebagian mutiara, gadis-gadis dan juga barang dagangan Barat yang amat berharga. Nampak jelas kekecewaannya, hal ini nampaknya semakin bertambah, ketika ia pulang dan bertemu putranya yang sangat dicintanya, ia telah kembali kepada putranya, menerimanya beserta Kanaikhu, seorang hakim tinggi kerajaan. Dan sepertinya ia juga harus menerima kenyataan bahwasannya ibunya harus menjauh dari singasana kerajaan.

            Lalu Sumairams mengutus seorang pesuruh istana, memintakan Kanaikhu untuk  datang ke istana, lalu ia mengolok-olok Kanaikhu didepan orang-orang penting. Hal ini membekas dalam diri Kanaikhu dan menjadikannya semakin membenci sumairmas dan hendak melawannya beserta rakyat Asyiria.

            Seorang penyihir yang licik berhasil menguasai Sumairams, dengan memberinya sebuah permainan baru berupa bola yang terlihat menyenangkan. Dan sangat memungkinkan bagi Sumairams dengan keunggulan kecantikan yang dimilikinya, kecerdasan dan kuatnya penalaran, untuk melemparkannya kepada orang-orang penting dan penyihir itu memindahkan kehendaknya menjadi bersebrangan dengan kehendak Sumairams, karenanya ia menjadi marah kepada Kanaiku, lantas mereka pun menghukumnya dengan rajam dan iapun pulang ke rumahnya untuk bersembunyi, menyendiri, terhina, sampai dengan akhir hayatnya. Adapun pemuda itu, maka ia menghilang dan tidak kembali lagi.

#########

            Sumairams kembali pada keadaan semula, yaitu mencintai dengan tanpa asal usulnya yang baru, maka dalam kekuasaan sebuah negara ada seorang hakim yang kuat, Sumairams menginginkan supaya sang hakim patuh dan setia kepadanya, dan namanya adalah Arakafittasak, yang menjadi hakim diwilayah Armenia. Sekaligus penguasa Armenia. Melihat kenyataan yang ada, dia adalah seseorang yang tampan, Sumairamspun mengirimkan kepadanya sepucuk surat yang pertama:

            “Sesungguhnya Sumairams adalah raja Acadean dan Sumeria, Raja Babilonia dan Niniveh, penguasa Mesir, yang kekuasannya tidak bertepi dan kekuatannya tidak berujung, tidak ada yang menyamai kekuasannya….”

Dengan bahasa ini, ia menghadap kepada seseorang yang dicintainya dalam perkenalan kepadanya perantaraan seseorang bahwa dia adalah suruhannya.

Arakafittasak segera mengirimkan jawan kepada Sumairams dengan mantap, yang menjelaskan bahwasannya ia tidak mau menerima cinta Sumairams, maka kembali Sumairams mengirimkan beberapa utusan untuk memperlihatkan kekuatannya, pemaksaannya, menakut-nakuti atas tindakannya menolak cinta Sumairams. Akan tetapi dalam watak Sumairams, terdapat adanya keteguhan dirinya ketika ia melakukan ancaman ataupun janji atau mendiamkan atas tindakan seseorang yang telah menolak keinginannya.

Sumairamspun berlari menuju pasukannya, untuk memerangi pemuda Armenia yang pemberani. Dia melihat bahwa pemuda itu pasti mau menerima wanita sepertinya atas pemimpin tentaranta, sumairamspun kagum akan kebagusannya dan mengirimkan surat dengan penuh kelembutan, memintanya untuk memberikan kejelasan sikapnya. Akan tetapi ia tidak menaggapinya dan bersikap seperti yang dulu, malahan hendak membunuh Sumairam. Karena dalam benaknya hal itu adalah haknya yang harus disingkirkan dalam kerajaannya.

Tidak lama kemudian ia gugur dalam sebuah kecamuk peperangan, yang disebabkan oleh luka yang sangat parah, lalu Sumairams memerintahkan untuk memindahkannya ke kemah dan Sumairams berusaha untuk mengobatinya, akan tetapi tidak lama kemudian ia meninggal. Lantas Sumairams menyerahkan jasadnya kepada rakyatnya untuk dikuburkan, seperti layaknya seorang pahlawan.

Sumairams menghendaki dibangunkan sebuah desa dtempat terjadinya peperangan untuk mengenangkan pertolongannya. Dan dia juga kembali seperti kebiasaan seorang prajurit, walaupun sebenarnya hatinya diliputi oleh kesedihan. Hal ini dikarenakan ia tidak dapat menerima perpisahan denga sosok pemuda pemberani, yang telah menawannya, menyerahkan seluruh hidupnya yang berharga untuk keteguhan.

Bertambahlah kesedihan dalam hatinya, ketika ia tidak melihat putranya, Niniveh dalam upacra penyambutan kedatangannya, dan ia tau bahwasanya putranya pergi dalam perjalanan untuk berburu. Sumairamsm memanggil Byrus . dan memberinya cincin khusus untuk dikirimkan melalui seorang utusan dengan cepat kepada putranya dan itu adalah sebuah bentuk isyarat darinya, untuk mendatangkan putranya segera. Akan tetapi putranya tidak mau mematuhinya, menolak mendatangi panggilannya dan malah bersembunyi diantara dua bukit yang jauh letaknya dari pengawasan mata-mata Sumairams, supaya sulit tongkat patuh kepada ibunya.

#########

 Hal itu adalah sebuah pukulan berat yang menimpa Sumairams, akan tetapi ia tidak menginginkan untuk mengerahkan tindakan kekerasan kepada putranya. Dia merasa bahwa semua keagungan dan kekuasaan tidak memberikan sesuatu yang sebanding dalam pandangannya, lebih khusus, ketika tampak jelas baginya bahwa segala sesuatu ada batasan dan akhirannya.

Dia juga memanggil para pembesar kerajaannya, meminta mereka untuk menolak segala macam bentuk kunjungan, tidak mengizinkan seorangpun untuk menemuinya, kecuali hakim Byrus. Seperti yang diperintahkan Sumairams kepada Byrus, untuk mengerahkan pengawasan digerbang istana, terlebih menjelang malam, mengerahkan segenap kekuatannya, jika Niniveh berani masuk, walaupun dia tidak menyulut peperangan.

Sumairams memanggil hakim Byrus dan berkata kepadanya:

“Bahwa kamu tidak akan lagi melihat Sumairams dan aku tidak akan melihatmu lagi setelah ini, bahwa aku sungguh telah terbuai dalam keenakan alam ini, sesungguhnya aku sangat takut menghadapi alam yang lain, alam yang sesungguhnya, alam ruh dan tempat berdiam abadi. Sesungguhnya waktu kembaliku sudahlah sangat jelas, maka katakanlah kepada orang-orang Caldean, jika mereka menginginkanku dan memiliku, maka aku akan benar-benar berubah seperti dulu. Katakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya jiwa Sumairams akan tetap bersama mereka, oleh karena itulah kalian jangan menghianati Niniveh karena aku sangat mengasihinya bahkan lebih banyak dari pada aku mengasihi hidupku sendiri dan keutamaanya adalah juga keutamaanku…”

Adapun kematiannya tidak diketahui sejarahnya secara jelas seperti halnya sejarah kelahirannya.

 

   

 

           

 

 

BALQIS, RATU SABA’

 

 

 

 

 

“Dimanakah, dimana tempat kembali yang kekal, kota yang dibangun dengan mencengangkan, istana yang megah yang dibangun untuk ratu Balqis”

 

 

Siapakah wanita yang muncul dalam sejarah itu, yang berada dalam cerita-cerita yang muncul masih dalam keadaan tercerai-berai. Terkenal dalam peradaban timur dan barat, seperti yang tertuang dalam kegiatan-kegiatan penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan besar yang kemudian disempurnakan oleh para praktisi pendidikan, para pujangga, dan juga ahli sejarah? Apakah disana memang benar-benar terdapat seorang ratu?

####

Benar. Disana terdapat seorang ratu yang bernama Balqis, hal ini dengan berpangkal pada perkiraan para ahli sejarah. Dia adalah seorang ratu Saba’, seorang ratu yang sangat menghormati nabi Sulaiman al-Hakim, suatu penghormatan yang bersifat abadi. Seputar sikap penghormatannya ini muncul dan beredarlah kisah-kisah dan juga cerita diantara keduanya. Dan saya hendak mengetengahkan tulisan mengenai pribadi ratu Balqis.

Saya dengan susah payah mencoba untuk mengetengahkannya pada masa modern saat ini, membeberkannya semampu saya, dari cerita-cerita yang saya coba pindahkan dari masa lampau, masa sekitar tiga ribu tahun yang lalu.

###

Para peneliti dan para ahli sejarah tidak hanya menyibukkan dirinya dengan sejarah wanita saja, seperti halnya mereka menyibukkan diri dengan sejarah ratu Balqis. Semangat yang berapi-api yang dikobarkan oleh ratu Balqis, serta tempat tinggalnya yang sangat mencengangkan, senantiasa memberikan ilham tersendiri bagi para penyair dan juga peneliti, sampai dengan saat ini.

Senada dengan saya, adalah sebuah syair yang didendangkan oleh seorang penyair kebangsaan Inggris William Batll Rheits, ia berkata mengenai ratu Balqis:

“…..Dan Nabi Sulaimanpun bernyanyi untuk ratu Saba’ dan mencium kedua matanya yang indah, dia berkata: tidak ada disana seorang pria atau wanita yang lahir dibawah matahari yang berani mengungguliku dalam kebijaksanaan dan juga pengetahuan,  juga dalam segala sesuatu yang ada pada diriku. Sesungguhnya cinta adalah sesuatu yang dapat memindahkan alam menuju lautan yang kecil.”

###

 Batll Rheits telah banyak menulis syair mengenai ratu Balqis, hal itu dilakukannya sekitar tahun 1919 dan tahun 1921, masa sesudah tiga ribu tahun dari nyanyian nabi Sulaiman tersebut. Pemahaman yang muncul dari sosok wanita ini (menurut para ahli sejarah, diantaranya adalah al-Libani Hatta) yang sampai ketelingaku mengenai wanita yang agung itu  adalah bahwa ia sosok wanita yang senantiasa terlihat cantik yang tergambar dalam syair-syairnya. Wanita itu berasal dari jazirah Arab dari kabilah Fidar. Lalu apakah benar bahwa wanita itu adalah Balqis? Dalam hal ini tidak ada yang menguatkan berita ini ataupun juga menolaknya.

###

Saya mengikuti penelitian mengenai sejarahnya yang mencengangkan dengan semua kemustahilan dan sandaran yang tercatat oleh pena-pena para para ahlinya. Saya berpendapat, sebaiknya hal-hal yang terlihat mustahil supaya disisihkan, dan dalam kesempatan ini saya menduplikasikan wajahnya yang sesungguhnya, yang tentunya wajah berdasarkan cerita-cerita.

Saya pertama kali membaca mengenai ratu Saba’ dalam kitab Taurat-masa lampau-ketika sampai pada bab (muluk awal/raja-raja pertama) lantas teks itu diulang-ulang secara harfiyah dalam (Akhbaar al-Ayyam Ats-Tsani/ kabar-kabar pada hari kedua) dari dalam kitab Taurat itu sendiri.

Ini adalah sebuah teks periwayatan Arab:

“Ratu Saba’ mendengar berita mengenai Nabi Sulaiman, lantas ia datang menemui Nabi Sulaiman untuk mengujinya dengan beberapa pertanyaan. Dia datang menuju pendopo Nabi Sulaiman dengan membawa gelas yang sangat besar. Dengan kecantikan yang berbalutkan wewangian, emas yang begitu banyak dan juga batu-batu mulia. Dia mendatangi nabi Sulaiman, mengungkapkan segala yang ada dalam hatinya dan mengabarkan kepada nabi Sulaiman dengan semua omongannya.

Tidak ada perkara yang tersembunyi yang tidak dikabarkan oleh ratu itu kepada nabi Sulaiman. Setelah ratu Saba’ melihat semua kebijaksanaan nabi Sulaiman, rumah yang telah dibangunnya, makanan-makanan yang dihidangkan, tempat duduk para abdinya, rumah para pelayannyadan juga pakaiannya, minumannya, jenis makanannya yang dipersembahkan kepada Tuhan-nya, maka ia berkseimpulan bahwasannya dalam rumah itu ada jiwa yang dekat dengan Tuhannya. Lalu ratu Balqis berkata kepada Nabi Sulaiman: benarlah kabar yang aku dengar dinegaraku mengenai dirimu dan kebijaksanaanmu dan aku tidak mempercayai berita-berita yang aku dengar sampai dengan aku membuktikannya sendiri dan melihat secara langsung dengan kedua mataku. Ini adalah sebagian perkara yang tidak pernah aku dengar beritanya. Bertambahlah keyakinanku akan kebijaksanaan dan kebaikan atas berita yang aku dengar mengenai engkau dan semoga engkau diberkahi. Sang ratu memberi nabi Sulaiman seratus duapuluh kilo gram emas, wewangian yang sangat banyak, batu-batu mulia. Konon batu-batu mulia ini musnah setelah semua bebatuan yang bagus-bagus ini diberikan oleh ratu Saba kepada nabi Sulaiman.

Dari tesks ini muncul sejarah ratu Saba’ dalam wujudnya yang asli, yaitu cerita mengenai seorang ratu yang kaya raya, cerdas dan cinta akan kebijaksanaan.

Saya memutus perjalanan yang sangat jauh, dari moment ratu Balqis mendengarkan kebijaksanaan nabi Sulaiman, seperti halnya juga saya mengetengahkan pertanyaan-pertanyaan dan maksud-maksud yang dilontarkan ratu Balqis kepada nabi Sulaiman. Dia, dalam perkataannya yang saya nukilkan mencukupkan dengan isyarat pada kata negaraku dan tanah airku dengan tidak menyebutkan nama negaranya yang sesungguhnya.

Para ahli sejarah juga tidak mencatat nama ayahnya dan juga keturunannya. Para cendekiawan dan juga peneliti berusaha membuang ketidak jelasan ini, dengan berusaha lebih banyak mendalami dalam mempelajari lokasi kejadian, buku-buku pelajaran sekolah, naskah-naskah yang tergolong sangat langka dan terlihat usang, yang mungkin masuk dalam kelompok sampah atau sesuatu yang tidak berguna.

Sesuatu yang memberikan nilai tambah tersendiri, berupa adanya sebuah penelitian  penting, penyelidikan jejak sang ratu ini, sesuatu yang ditemukan dari peti-peti yang dibawa oleh ratu Saba’ sebagai hadiah nabi Sulaiman, ini semua adalah sebagian dari petunjuk mengenai negaranya.

Adapun mengenai masanya, yaitu dengan menggunakan perkiraan para ahli sejarah masa-masa tahun kesepuluh sebelum masehi. Mereka telah meletakkan tanda-tanda pada tempat-tempat yang didatangi oleh ratu Balqis, dan mereka meyakini bahwa tempat itu adalah Hadramaut. Ahli sejarah Hatta memperkirakan bahwa tempat tinggal ratu Saba’ bukanlah di Habsyi ataupun Yaman, seperti yang ditujukkan oleh beberapa bukti-bukti yang ada, akan tetapi ratu Balqis datang dari benteng kerajaan Saba’ dan juga pasar-pasarnya yang terletak dipinggir-pinggir kampung

Dengan berbekal kenyataan yang diketahui, berkatalah ahli sejarah yang bernama Saterbu:

“Kota Saba’ menjadi kota terkaya dari kabilah-kabilah Arab yang ada. Disana banyak dibuat perkakas-perkakas dari emas dan juga perak, diantaranya adalah ranjang besi yang kuat, tiang penyangga rumah tinggal dan juga tempat air, tempat minum. Beragam rumah yang megah, yang mana pintu-pintunya, tembok-temboknya, gerbangnya dibuat dengan berbagai model dan bentuk yang ditempeli dengan emas, perak dan juga batu-batu mulia.”      

Akan tetapi malapetaka itu datang, muncul dalam bentuk bencana yang menyedihkan berupa hujan lebat yang mengaliri bumi dan juga tempat-tempat tinggal, yang menghancurkan dan menenggelamkan suatu peradaban yang sudah mengakar dan menjadikan rumah-rumah porak poranda diwilayah Saba’ seperti yang kita ketahui dalam kisah-kisah yang terkenal.

###

Dalam kitab Injil, ulasan tentang pembahasan ratu Saba’ diulang kembali, dengan menggunakan inisial Malakah At-tayammun, seperti yang juga disebutkan pembahasannya dalam Al-Quran dalam surat An-Naml. Kisah yang ada dalam Al-Qur’an telah banyak memberikan pengaruh di sekolah-sekolah, para ahli sejarah, dan juga para peneliti. Yaitu berupa beberapa keterangan mengenai ratu Saba’ yang muncul dari pribadi Nabi Sulaiman al-Hakim:

Artinya: Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang". Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. (QS. An-Naml: 20-21)

            Negri Saba’ juga disebutkan dalam Al-Qur’an surat Saba’ dan juga dalam riwayat-riwayat yang dibuat oleh orang-orang yang berpegangan pada Al-Qur’an. Mereka semuanya menyandarkan pada Al-Qur’an dalam menjadikannya asal atau sumber penceritaan, terlebih ketika sudah memasuki pembahasan tentang cerita Persia, mengenai keindahannya dan juga menggambarkan kota Persia itu.

###

            Adapun ahli sejarah yang pertama kali melakukan pembahasan mengenai ratu Balqis adalah al-Ya’qubi, yaitu pada tahun 890 SM. Dalam sebuah riwayat yang lain menyebutkan bahwa kabilah Saba’ tidak meninggalkan Jazirah Arab sampai dengan tahun 650 SM dan disitu tidak disebutkan adanya nama Balqis sebagai sosok ratu Saba’, hal ini berlangsung sampai dengan abad pertama Hijriah.

Telah sampai kepadaku potongan-potongan Syair dari lagu-lagu yang didalamnya menyebutkan tentang ratu Balqis. Hal ini ditulis pada tahun keempat dan kelima sesudah masehi.

            Salah satunya adalah lagu yang ditulis oleh salah satu raja Saba’ yang pernah berkuasa disana:

            “Wahai wanita-wanita yang menyerupai Balqis dan Matahari,

              Aku adalah  keturunan dari orang-orang yang agung,

              Dan Balqis telah berkuasa selama sembilan puluh tahun,

              Dengan kebesaran dan ketenarannya,

             Istananya begitu megah, yang dihiasi dengan zamrud dan yaqut”

            Dan raja Hamra-pun berkata:

            “ Dimanakah, dimana tempat kembali yang kekal,

   Kota yang dibangun dengan mencengankan,

   Istana yang megah yang dibangun untuk ratu Balqis?”

###

            Adapun riwayat mengenai cerita sejarah ratu yang agung yang saya peroleh, imam Ath-Thabari berbicara mengenai ratu Balqis, dengan menukil dari Ibnu Ishaq bahwasannya ia memperkirakan bahwa ratu Balqis adalah pelopor dari berdirinya suatau peradaban, dia berada dalam pembahasan-pembahasan kisahnya dan juga ucapan-ucapannya yang ada dalam Al-Qur’an. Disamping itu, juga terdapat gambar dari ratu Balqis, berdasarkan jejak-jejak yang ditinggalkan dalam dua peradaban, yaitu Persia dan Habasyah. Ada sebuah gambar yang terkenal yang terlukis pada kaca yang tersimpan di Cantenburg Inggris.

###

            Lebih khusus dalam hal ini, adalah sebagian perkara yang ada dalam periwayatan Ath-Thabari, diantaranya yaitu: bahwa setelah nabi Sulaiman mendengar keterangan dari burung Hud-hud yang pernah melihat ratu Saba, Nabi Sulaian segera mengirimkan seorang utusan kepada ratu Saba’ yang waktu itu berada dikemahnya, kemudian ratu Saba’ mengumpulkan para prajurit istana dan berkata kepada mereka:

“ Jumlahmu semua ada berapa, untuk mengikutiku menyerang Sulaiman!”

Para wazir ratu Balqis yang berdiri disampingnya memberikan isyarat kepadanya  dengan menunjukan sebuah kendaraan perang dan bahwasannya ada seribu panglima, setiap dari mereka adalah seorang raja diraja, yang memerintah beribu-ribu pasukan. Sebelum bergerak, ratu Balqis mengeluarkan perintah untuk memindahkan singgasananya yang berlapis yaqut, zamrud dan mutiara, menjaganya ditempat yang aman, yang mana untuk menuju ketempat aman itu, harus melewati tujuh pintu dan setiap pintu dikunci dengan beberapa kunci. Dia juga memerintahkan kepada salah seorang panglima perang untuk melakukan pemantauan terhadap cara pemeliharaan singgasana dan petinya.

###

Nabi Sulaiman terus saja mengikuti perkembangan cerita-cerita seputar ratu Balqis, hal ini dilakukan semenjak ia mengetahui gerak-gerik ratu Balqis. Kemudian nabi Sulaiman-pun bertanya kepada prajuritnya:

“Apakah aku harus menemuinya?

 Mereka (para prajurit) menunjukkan dukungannya kepada nabi Sulaiman, lantas nabi Sulaiman mengutus jin untuk memberikan kabar-kabar perjalanan, dan memerikan tanda dengan membunyikan genderang, mengumpulkan kekuatan manusia dan yang bukan manusia, untuk memindahkan benteng istana kehadapan ratu Balqis.

Lalu nabi Sulaiman memerintahkan untuk memperkuat barisan gajah, yang diperintahkan untuk membuat air sungai tiruan yang memotong pintu masuk menuju singgasananya, sehingga ketika ada seorang ratu akan masuk kedalamnya, maka ia akan mengangkat pucuk kainnya, seolah-olah dia dibuat bingung dengan berkubang di air.

Disisi Balqis, nabi Sulaiman melihat dan juga orang-orang yang berada disekitarnya, bahwa ada kulit berbulu yang menutupi kedua kaki ratu Balqis, hal ini semakin mempersulit ratu Balqis, ia juga tercengang ketika ia melihat istananya, berada dihadapannya

Para peneliti dan periwayat berhenti lama disini, dalam pembahasan ini. Kebanyakan tulisan yang ada mengenai ratu ini hanya mencukupkan sampainya ia ke istana nabi Sulaiman, kenyataan ia mengangkat pucuk bajunya, sewaktu ia mencelupkan kedua kakinya ke dalam air sungai buatan.

Adapun pertanyaan-pertanyaan yang dibawa oleh ratu Balqis untuk menguji nabi Sulaiman, saya hanya mengetengahkannya sedikit, dalam bentuknya yang simpel dan sederhana. Dan juga hal-hal lain yang tidak dapat tersaingi dalam keagungan wanita itu, kemuliaannya, dan juga kedudukannya yang seimbang dengan salah satu dari para pemimpin zaman itu.   

kemudian muncul juga sebuah cerita yang bagus yang berkisah antara ratu Balqis dan juga nabi Sulaiman, sesudah nabi Sulaiman mengirimkan suratnya kepada ratu Balqis. Ia mengumumkan kepada para pelayan istana, bahwasannya ia akan mengirimkan hadiah kepada nabi Sulaiman, ketika nabi Sulaiman mau menerimanya. Maka itu dikarenakan adanya orang lain, selain dirinya. Dan jika ia menolak, maka penolakannya karena kehendak Allah.

Adapun hadiah itu adalah berupa bijian dari mutiara yang kusut, dan ratu Balqis memintakan nabi Sulaiman untuk menjadikan mutiara itu dapat bersinar. Nabi Sulaiman marah, dan mengancam akan menyerang kerajaan Saba’, akan tetapi para prajuritnya menasehati nabi Sulaiamn untuk bersikap santai, sebagai upaya untuk melindungi diri mereka atas ketidak mampuan untuk menjadikan mutiara itu bersinar.

Ratu Balqis memaksa jin ifrit, dan mereka memberikan isyarat kepada nabi Sulaiman untuk mengirirm ulat sutra untuk melakukan pekerjaan penting. Ratu Balqis mengambil benang jahit yang diselipkan dimulutnya, dan mulailah ia menjahit. Entah mengapa akhirnya ratu Balqis menerima atas kemenangan nabi Sulaiman, dan membebaskan dirinya untuk senantiasa berkunjung.

  Ini adalah kisah-kisah suatu kekaisaran, akan tetapi kisah-kisah ini banyak mengandung isyarat-isyarat, yaitu yang menunjukkan pada kedudukan seorang wanita, keagungan peradaban negaranya, lebih dulu sempurna yang telah diciptakan oleh wanita itu, sampai akhirnya para ahli sejarah menuturkan bahwa yang dimaksud dengan kata “Saddu al-Maarib”, adalah seorang raja yang dapat menikmati kemewahan hidup.

Ternyata ia-pun berpedoman pada para insinyur bangunan untuk menyempurnakan bangunan yang ada yang sebelumnya tidak diketahuinya. Dengan keunggulannya, dan sebab adanya sebuah pasar yang bagus, menjadikan kerajaan ini bersinar, dan sang ratu-pun menginginkan adanya pembahasan untuk membangun pasar baru. Untuk menampung barang dagangannya.

Lalu ia melakukan perjalanan ke barat untuk mengunjungi nabi Sulaiman dan dia bisa bertemu secara langsung dengan nabi Sulaiman melalui perantaraan seorang kurir, pergi menuju pelabuhan yang bercabang yang telah dapat membangun sebuah peradaban cemerlang pada masa itu. Diantaranya adalah peradaban Phoenix. Nabi sulaiman ternyata juga menginginkan untuk mendapatkan harta rampasan, berupa kapal-kapal laut, emas, perak, batu-batu mulia yang tersebar melimpah dikerajaan Saba’.

Orang-orang yang memiliki pandangan dalam hal ini, menjadikan ratu Balqis sebagai sosok pengendali yang mengatur kelancaran perdagangan antara dua negara, seperti apa yang saya lihat dan saya dengar pada saat sekarang ini. Akan tetapi salah satu tokoh sufi yang agung, Jalaludin ar-Rumi, melihat bahwa dalam perjalanan ratu Balqis adalah sebuah perjalanan manusia biasa yang hendak menyendiri dari kegelisahan batin, dan menenagka jiwanya yang memamng bertingkat-tingkat seperti langit.

Lantas masuklah sebuah cerita, sebuah berita yang berkembang dalam kesukuan. Bahwa di negara Hindi atau Habasyah telah menjadikan ratu Balqis sebagai tokoh panutan suku di negara itu.

Dalam penuturan para periwayat ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban, yang tidak dapat dijumpai dalam tulisan-tulisan sejarah ataupun buku. Dalam hal ini ada seseorang yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kata Maarib adalah wanita penguasa Saba’, ketika terjadi topan besar musnahlah seluruh peradaban kota, dan bekas-bekas peradaban terkubur. Karena sesungguhnya hadiah-hadiah yang diberikan oleh ratu Balqis tidak akan sebanyak itu kecuali dalam sebuah negara yang besar, dan memiliki suatu peradaban yang maju. Dalam surat Saba’ terlihat adanya pujian terhadap peradaban tersebut:

Artinya: Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". (QS. Saba’: 15)

  Dan seorang ratu yang datang dari muka bumi untuk mendengarkan kebijaksanaan nabi Sulaiman, itu dipanggil dengan sebutan Nicolas menurut ahli sejarah Yusifus, yang mengatakan bahwasanya ia dalah seorang penguasa Habasyah dan Mesir. Akan tetapi orang-orang Arab mengatakan bahwa dia adalah Balqis, hal ini berdasarkan keterangan ahli sejarah De Bosh, yang mengatakan bahwa :

“Yang benar adalah bahwa ia merupakan ratu Saba’, kekuasaannya meluas sampai dengan daerah Habasyah dan namanya sangat terkenal dilingkungan orang-orang Habasyah”

Dalam hal ini dikenal juga nama lain dari ratu Saba’, yaitu Fransis Brutus, dia adalah seorang ratu Saba’, yang datang untuk mendengar kebijaksanaan nabi Sulaiman, membawakan hadiah yang bagus-bagus bagi nabi Sulaiman. Lalu disandarkan bahwasannya dia hidup bersamanya, ketika keduanya telah menikah, maka ia melahirkan anak dari nabi Sulaiman setelah ia pulang ke negrinya, yang kemudian diberi nama Minalek. Dia adalah cikal bakal keturunan raja yang memerintah Habasyah dalam beberapa masa.

Cerita ini diulang-ulang oleh utusan Jerman sebanyak dua kali dan mengukuhkan bahwasannya:

“Minalek adalah putra ratu Saba dari nabi Sulaiman, dia telah diutus oleh ratu Saba’ untuk menjalankan istana ayahnya untuk membesarkannya dan mengembalikannya kepada ibunya, lalu ia mensyratkan kepada orang-orang untuk mengirimkan setiap satu dari mereka putranya yang masih perawan untuk menemaninya, seperti itulah lantas Minalek menjadi seorang raja. Habasyah, dan memperistri orang-orang Habasyah yang menemaninya.

###

Adapun nama Balqis tidak dapat disebutkan bagi ratu Saba’ saja, saya mengenal banyak nama Balqis sendiri dalam masa-masa yang saya jumpai, antara Balqis dan ratu Balqis yang memerintah Yaman. Dalam beberap masa, disekolah-sekolah terdapat kesalahan-kesalahan yang berada dalam rangkaian kata antara ratu Saba’ dan orang yang menyandang namanya dari ratu-ratu yang ada pada zaman sekarang.

###

Apakah anda melihat adanya keuntungan dalam pembahasan mengenai cerita yang sesungguhnya, dari sebuah kekaisaran? Saya ulangi lagi pernyaan saya sekali lagi, dan saya tidak menemukan jawaban yang pasti. Akan tetapi saya menduga bahwa saya tidak menulis pembahasan sejarah, akan tetapi saya hanya memindahkan gambar wajah seorang wanita yang agung dan juga sifat-sifatnya yang agung dan tersohor.

Kebesarannya terus saja tertulis dalam setiap masa sampai kepada saya, saya tinggalkan pandangan saya yang menjadi rahasia-rahasianya yang penting, yang tidak akan pernah menyurupkan sinarnya ketika rahasia itu dikaitkan dengannya, menjadi tunduk pada masa selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CLEOPATRA

 

 

“KEBERANIANKU MENGUKUHKAN JULUKANKU: AKU ADALAH API, AKU ADALAH ANGIN, AKU ADALAH ELEMEN YANG MENGEKALKAN HIDUPKU”

 

 

 

 

 

Saya mendahulukan Cleopatra, sebagai sosok wanita negri Timur, sosok wanita yang memiliki rangkain jejak kehidupan yang indah dan berharga. Bukan saja pada zaman Cleopatra itu sendiri masih hidup, akan tetapi zaman-zaman berikutnya. Orang-orang berbondong-bondong hendak menuliskan sejarah kehidupannya dalam bentuk riwayat-riwayat atau syair-syair ataupun mengangkatnya menjadi sebuah film layar lebar. Menggambarkannya dalam kehidupan nyata. Ternyata dia tetap menjadi sosok yang memikat, sosok yang penuh misteri  yang membangkitkan gairah para ahli sejarah.

Untuk memurnikan jati diri sesungguhnya dari Cleopatra, saya akan mencoba untuk kembali kemasa Cleopatra hidup dan kontribusinya pada saat itu, akan tetapi hal tersebut dirasa mustahil, dan pada saat ini saya hanya memiliki gambar paras mukanya, tulisan-tulisan mengenai Cleopatra dan juga cerita-cerita yang mendekati kejadian sesungguhnya, yang telah tenggelam dalam arus zaman. Dia adalah Cleopatra, ratu Mesir yang agung.

###

Tergambar dalam benak saya, bentuk diri dari Cleopatra yang terbentuk dalam cerita-cerita dengan beragam penyandarannya. Saya mencoba untuk memindahkannya secara tersendiri mengenai Cleopatra, tidak diketahui oleh manusia, kaum wanita. Apakah hal itu mungkin saya lakukan?

Menurut para ahli sejarah, Cleopatra dilahirkan pada tahun 69 SM di Mesir. Anak dari seorang selir Ptolemaios XIII, seorang keturunan para firaun dan merupakan raja terakhir dari para firaun. Cleopatra menikahi saudaranya sendiri, yaitu Ptolemaios. Waktu itu Cleopatra berusia tiga belas tahun.

Nampak sangat jelas sekali, bahwa pernikahan ini adalah sebuah pernikahan dibawah umur dalam pemahaman saya pada saat ini. Pada saat itu juga terlihat adanya semacam tradisi yang kuat pada masa Cleopatra, yaitu diperbolehkannya seorang saudara laki-laki memperistri saudara perempuannya sendiri.

Cleopatra pada waktu itu memang terlihat dalam kondisi akil baligh. Sosok wanita yang telah keluar dari masa anak-anak dengan kecantikan yang memikat hati, sehingga ahli sejarah Beatrix, yaitu seseorang yang menulis mengenai dirinya dengan memanjang lebarkan kisahnya, tidak menyia-nyiakan isyarat-isyarat yang menunjukkan kecantikan Cleopatra yang telah menyeruak masuk kedalam setiap sanubari setiap orang.

###

 Akan tetapi daya pikat Cleopatra tidak hanya terbatas pada kecantikan wajah dan badannya saja, akan tetapi sampai dengan kepribadiannya, karena dalam dirinya berkumpul tanda-tanda yang menguatkannya: dia adalah sosok wanita yang sangat cerdas dan bijaksana, cantik yang tidak ada bandingannya dalam lingkungannya, gerak geriknya begitu menggoda, terkenal sampai ke negri barat, menyukai kehidupan mewah, wanita yang begitu memikat dalam kehidupan dan sosok wanita yang berambisi untuk memerintah, wanita yang sempurna dan simpatik.

Akan tetapi dia cenderung menurutkan hawa nafsunya: ketika dia sedang dilanda cinta, maka dia akan menyendiri, demi seseorang yang dicintai, dan ketika dia membenci, maka dia akan menyiksa laksana penyiksaan terhadap musuh dengan tanpa belas kasihan. Dikisahkan bahwa musuh pertamanya yang diampuninya adalah saudaranya sendiri dan orang-orang yang iri hati terhadap kekuasan dan istananya.

###

Cleopatra menggantikan ayahnya, Ptolemaios Euergetes dalam pemerintahan, bersama dengan saudaranya. Dia bukanlah wanita keturunan firaun satu-satunya yang mempunyai nama Cleopatra, akan tetapi sebelumnya telah ada tiga orang pemimpin wanita (nama aslinya Philopatra, menurut ejaan bahasa Yunani) akan tetapi Cleopatra adalah pemimpin wanita yang paling tersohor. Wanita yang berhasil menguasai pemerintahan yang sebelumnya belum pernah dicapai oleh wanita negri Timur.

Kesohorannya dikarenakan ia adalah sosok pribadi yang memikat, dengan segala pemikiran dan kekuatan kekuasannya. Ia memberanikan diri untuk tampil sebagai sosok pemimpin yang pemberani tatkala terbukti bahwa saudaranya Ptolemaios, adalah seorang yang lemah, lantas muncul dalam dirinya sifat tamak, dan tumbuhlah diantara keduanya benih-benih pengerahan kekuatan, tidak lama kemudian terjadilah perang keluarga.

Cleopatra melawan saudaranya sendiri dan ia bersekutu dengan kaisar Romawi, yang berkunjung ke Mesir dalam kesempatan itu, karena pertolongannya dalam memerangi Parsalus dan menolak perdamaian Bumiba. Ini terjadi pada tahun 48 SM.

Sang kaisar tepikat Cleopatra, kecantikan dan kecerdasannya telah berhasil menyihir sang kaisar. Sang kaisar hidup bersama Cleopatra dengan berpindah-pindah. Para ahli sejarah menilai Cleopatra pada saat itu dengan segala kelembutannya telah berhasil memikat hati sang kaisar. Terkadang keduanya berpindah-pindah ketempat-tempat yang dekat, dari Iskandariyah ke Aswan, dan digurun pasir  mereka seringkali menghabiskan hari-harinya.

Terkadang sang kaisar juga menyendiri dari istrinya, dan akhirnya sang kaisar menikahi Cleopatra dan menjadikannya sebagai ratu Mesir, sesudah ia berpisah dengan saudaranya, dan iapun menjadi sosok yang dibenci oleh saudaranya.

###

Dia adalah sosok ratu yang memiliki kekuasaan penuh dan kaisar menggadaikan kebesaran Cleopatra. Dan mengunakan kesempatan ini untuk menikmati kenikmatan hidup seorang ratu disisinya. Dan kaisarpun berpindah menetap di istana Cleopatra, dia lupa dengan statusnya sebagai raja dan permasalahan-permasalahan istananya.

Pada tahun empat puluh enam sebelum masehi sang kaisar kembali ke negara Romawi dan tidak lama kemudian Cleopatrapun menyusul sang kaisar, ternyata dia mempunyai keinginan yang cukup menggelitik, suatu ambisi yang berkobar dalam hatinya, bahwa dia menginginkan seorang anak dari kaisar, kaisar Romawi. Akan tetapi Cleopatra tidak lama tinggal di Romawi.

Belum sempat ia untuk menampakkan kebijaksanaannya, berkobarlah pemberontakan, yang tidak lama kemudian keadaan ini merembet pada adanya peperangan keluarga yang menjadikan sang kaisar terusir, sewaktu para kerabatnya meminta sang kaisar untuk meninggalkan istana.

Orang-orang yang setia kepada kaisar tinggal sedikit. Ketika kaisar terbunuh pada tahun empat puluh empat sebelum masehi, Cleopatra-pun kembali ke Mesir untuk memperbaiki dan menggerakkan kembali roda kekuasannya dan menantikan saat-saat yang tepat untuk melakukan penyerangan ke Romawi, akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, saat-saat yang dinantikan untuk menyerang Romawi itu tidak kunjung datang .

###

Banyak orang yang tidak menyukai kepemimpinan kaisar, oleh karena itulah sering terjadi adanya peperangan-peperangan kecil diantara rakyat kaisar, mereka menginginkan kemerdekaan dengan cara melakukan tindakan-tindakan yang baru, ada sesuatu yang menggelisahkan yaitu adanya pihak asing yang menggantungkan diri dengan kepahlawananku, Cleopatra.

Orang lain mungkin saja dapat menolong dengan cara mengeluarkannya dari kemelut itu, dengan melakukan penyerangan secara tiba-tiba dan secara tiba-tiba pula menjadi bagian dari keluarga istana untuk menyelamatkan kekaisaran, yang saya maksudkan adalah Markus Antonius atau Mark Antony, yang merupakan anak keturunan kaisar. Dia adalah sosok pemimpin yang bagus perawakannya, sosok yang kuat, kehidupannya dimulai dengan kisah cinta yang heroik, yang dipenuhi dengan permainan dan kegilaan.

Akan tetapi Peperangan-peperangan yang menimpa Cleopatra dan pengalamannya dalam pasukan adalah tindakan-tindakan yang dapat memotivasi diri seroang Markus Antonius, dan sikapnya pun semakin gagah. Seorang sejarahwan yang bernama  Beatrix. Mensifati Markus Antonius itu mirip dan sangat menyerupai Hirakla. Dan para ahli sejarahpun bersepakat bahwa semua orang yang menggunakan nama Antony dalam keluarganya, maka mereka adalah para keturunan Hirakla yang kuat.

Markus Antony tidak dapat hidup bebas, dengan melepaskan kepemimpinan, yang diberikan untuk menentang kaisar, dia tidak menyukai hal ini. Ketika dia dalam keadaan bimbang, terjadilah sebuah perselisihan pendapat umum disekitarnya, dan mereka yang yang menentang mendatanginya, sampai akhirnya dia dapat mengalahkan musuh-musuhnya, dan mendapatkan kemenangan mutlak.

Sewaktu ia melakukan penundukan terhadap Romawi, ia juga menginginkan negri timur. Dia memanggil orang untuk menghadap, yaitu Bakhus, Wahb al-Farah dan Anas. Mereka adalah representasi dari kelompoknya masing-masing, untuk mendapatkan maksud berupa penaklukan.

Dia dapat dikenali dari sifatnya yang tidak mudah memaafkan dan senantiasa menginginkan untuk dapat memaksakan kekuatannya, oleh karena itulah dia tidak dapat diperkirakan, bahwa seseorang yang memujinya ataupun mengecewakannya pada hari ini, sangat mungkin berbalik menjadi musuhnya dan melawannya esok hari. Hal ini didasarkan pada kejadian-kejadian yang ada sewaktu dengan ratu Mesir dan negri timur, Cleopatra. Sosok yang memiliki kecantikan memikat dan pribadi yang sempurna.

###

Markus Antonius dapat memenangkan peperangan dengan Barisian, yang terjadi  sewaktu ia mengirimkan seseorang untuk mencari Cleopatra dan memintanya untuk mengunjunginya menuju Sisilia, menghadap dirinya, untuk menghilangkan kegelisahan hatinya terhadap Cleopatra, dia adalah penolong Makus Antonius atas musuhnya Kasius.

Ia mengutus seorang utusan kepada Cleopatra, ynag bernama Dilius. Seseorang yang memang pernah melihat wajah Cleeopatra juga pernah mendengarkan omongannya, sehingga Markus Antoni sangat percaya kepadanya bahwa ia tidak akan tertipu oleh wanita yang menyerupai Cleopatra. Akan tetapi sebaliknya, dia memang dekat dan memuji-muji Cleopata disisinya, tatkala ia mengunjunginya diistana, dan menasehatinya untuk tidak menolak ajakannya dan berpesan kepadanya untuk menyerah kalah dengan segenap kebesaran dan keagungannya.

Cleopatra memperhatikan kata-kata Dilius dengan seksama dan mempercayainya. Akan tetapi kepercayaan terbesarnya karena dirinya sendiri dan pemberian yang melimpah sebelumnya oleh kaisar.

Cleopatra pada saat itu dalam keadaan yang sedang bersinar, sosok wanita yang sangat matang dan bertubuh seksi, ditambah dengan kecantikan dan kecerdasan yang dimilikinya. Dia bukanlah seorang wanita yang pelit, sewaktu ia menginginkan untuk bepergian, ia selalu membagi-bagikan harta dan juga berbagi kesenangan. Jangan lupa, ada kelebihan yang dimilikinya yang sangat penting: yaitu dia adalah sosok wanita yang sangat memikat dan menawan hati.

Sewaktu Cleopatra menolak utusan-utusan Markus Antonius dan juga utusan-utusan saudaranya yang datang sebelumnya, dia mengambil sikap tegas, dengan hati-hati ia pergi berjalan menuju sebuah bengawan. Dan para periwayat menceritakan kepada saya bahwa perahunya itu berlapiskan emas, layarnya terbuat dari kain yang berwarna merah tua. Adapun dayung-dayungnya terbuat dari perak, yang sangat menyilaukan pandangan air ketika datang purnama.

Sang ratu tertidur di singgasananya. Ia tertidur dibawah kemah yang berlapiskan emas, dia memilih baju yang menyerupai milik dewi Venus, dewa kecantikan. Berjajar disekelilingnya anak-anak kecil yang mengibaskan sayapnya, seperti dewi Aphrodite sang dewa cinta Yunani. Setiap dari mereka telah membawa pengganti anak panah dan busur yang berlapiskan emas. Adapun perempuan-perempuannya, maka pakian-pakainanya menyerupai pakaian putri duyung.

Ketika kapal itu melaju, maka terciumlah semerbak darinya bebauan wewangian yang sangat langka, pemandangan ini menarik minat orang-orang untuk pergi ketepian sungai, berdiri dan berjajar rapi, menyambut kedatangan dewi Venus menuju pemondokan Bakhus, hal ini dimaksudkan untuk keselamatan negara.

###

Hal ini bukanlah merupakan gambaran yang tersusun dalam angan-angan, melainkan bersumber dari buku sejarah karya Blutrik. Apakah ada tanda-tanda menakjubkan yang mengelilingi Cleopatra? Dan siapa orangnya, yang memiliki kedudukan tinggi tidak bersimpuh dan tunduk kepada kebesaran wanita itu?

Pada saat itu Markus Antonius menunggu Cleopatra, tiba-tiba lewat disebelahnya sesuatu yang mengejutkan akan tetapi tidak seorangpun yang melihatnya, mereka meninggalkannya begitu saja dan pergi dengan cepat menyambut Cleopatra. Ketika ia mengirimkan seorang utusan untuk mengundang Cleopatra pada jamuan makan malam bersamanya, maka jawabannya adalah:

“Lebih baik anda yang mengunjungiku, wahai tuanku”

Undangan itu menampakkan adanya niat baik  yang muncul dari kebesarannya. Dan terbukti bahwa ia melakukan kunjungan atas undangan yang diberikan oleh Cleopatra kepadanya, melewati semua yang ada, terlebih kemashuran yang sedang melekat yang menyerupai dahan-dahan pepohonan. Segala sesuatunya nampak begitu indah dan menakjubkan. Suatu bentuk penggambaran yang benar dari merasakan pemilik kebesaran.

Pada hari berikutnya, Markus Antonius mengundang Cleopatra untuk menghadiri Jamuan makan malam, ia sangat bahagia jika dia dapat menyenangkan hati Cleopatra dengan jamuan makan malam itu, akan tetapi terbukti bahwa yang terjadi adalah sebaliknya dalam kesempatan itu, ketika diketahui kekurangan yang ada dalam dirinya. Yaitu; berupa terbuktinya bahwa Cleopatra merupakan sosok wanita yang benar-benar pemberani, banyak memiliki istana.

Seperti halnya daya pikatnya tidak terbatas pada kecantikannya saja, akan tetapi tubuhnya juga sangat memikat, sampai dengan kecerdasannya yang melebihi orang yang mengenalnya ataupun orang-orang terdekatnya. Dia adalah sosok wanita yang memiliki kecerdikan, perasaan yang tajam, terlebih pada penemuan sesuatu yang baru, pemilik suara yang seperti gemericik hujan yang mengalirkan air deras diantara awan mendung.

Dia menebarkan pengaruh dengan omongannya yang lemah lembut, dan kemampuan berbicaranya yang dapat membahagiakan dengan tidak membutuhkan bantuan penerjemah, karena dia menguasai banyak bahasa, diantaranya: bahasa Habsyi, bahasa Arab, bahasa Yahudi, bahasa Siria, dan Yunani, sampai dengan dialek-dialek suku-suku yang berbeda-beda.

Pengetahuannya yang luas ini, merupakan sesuatu yang tidak pernah dimiliki orang-orang sebelumnya, karena sesungguhnya kebanyakan para raja sedikit memahami ilmu pengetahuan, akan tetapi mereka senantiasa mewakilkan urusannya kepada kawan-kawannya dan juga para wazir.

###

Markus Antonius sangat tunduk dan patuh kepada Cleopatra dan menemaninya melakukanperjalanan ke Iskandariyah, sewaktu dia masih beristrikan Pulpia, yang rela berperang demi dia di Romawi, senantiasa bersikap halus kepadanya, dengan terus membiarkannya berada disi Cleopatra seperti seorang bayi yang sakit, selalu saja menyia-nyiakan waktunya, waktu yang sangat berharga yang sangat dibutuhkan untuk mengamankan posisinya dalam kekuasaan.

Para ahli sejarah tidak menyebutkan potongan sejarah hidup dan juga adanya hubungan saling ketergantungan antara dua pencinta ini, seperti halnya kisah yang ada antara Markus Antonius dengan Cleopatra, sapai mereka berdua diberikan julukan: Kekasih Abadi.

###

Seorang filosof Yunani yang bernama Plato memberikan empat cara wanita menaklukkan para lelaki, sehingga sang lelaki menjadi sangat bersimpati kepadanya, Cleopatra sendiri memiliki seribu cara untuk menaklukkan lelaki, yang ia kerahkan semuanya untuk mendapatkan Markus Antonius selama-lamanya, dengan keagungan dan kecerdikannya: Cleopatra senantiasa menemaninya dalam melakukan permainan, seperti halnya ia selalu menemaninya ketika makan dan minum. Dan ia senantiasa melakukan permainan yang beragam untuk menghibur diri.

Para ahli sejarah mengisahkan, bahwa mereka berdua pada awalnya melakukan hal ini secara sembunyi-sembunyi dari pantauan pelayan yang mengelilingi rumah-rumah di Iskandariyah, yang dapat menghalangi mereka berdua, dan keadaan ini menjadikan mereka berdua mencari jalan tembus untuk menyelinap ketika sebagian besar pasukan telah pulang dari perjalanan jauh dari negri lain, dengan tubuh yang lusuh, karena telah melakukan pertempuran..

Orang-orang Iskandariyah merasa sangat senang dengan keadaan ini, mereka menerima para kabilah-kabilah yang saling menghibur di Romawi, mereka dapat meninggalkan ternak mereka dinegri Romawi. Perbatasan negara yang ada diantara kedua negara ini dijadikan tempat untuk melakukan perjalanan dan berburu, ketika Cleopatra memberikannya kepada Markus Antonius.

Semua orang tertawa ketika Markus Antonius mengalami kesialan dalam mencari ikan, dalam suatu perjalanan yang dilakukannya dengan Cleopatra, tidak terhitung banyaknya ejekan yang dilontarkan Cleopatra kepada Markus Antonius, dan salah seorang pembantu mereka bergegas membentangkan hasil tangkapan ikan Markus Antonius dipancing dan Cleopatra melihatnya, ia tidak tahu akan maksud hal ini.

Dihari berikutnya, dengan cepat Cleopatra mengambil ikan itu dan menyerahkannya kepada pembantunya supaya menggantungkan ikan tersebut setelah terlebih dulu dibubuhi garam pada ranjang MarkusAntonius. Setelah jelas keadannya, semuanya tenggelam dalam tawa dan Cleopatra berteriak-teriak minta tolong untuk menyelamatkan kehormatan Markus Antonius:

“Wahai pemimpin yang agung, apakah engkau akan meninggalkan kami dalam keadaan miskin, sebagai pencari ikan, sedangkan engkau, buruanmu adalah harta karun dan kerajaan-kerajaan”  

###

Sangat memungkinkan bagi sang pemimpin untuk tetap dapat hidup senang, jika saja tidak datang berita buruk dari Romawi: istrinya, Pulpia telah melakukan penyerangan dengan saudaranya Lusius, menyerang kaisar. Mereka berdua kalah dan lari ke Italia. Markus Antonisu tahu bahwa sesungguhnya Pulpia tidak mengikuti peperangan itu kecuali untuk menguntit Cleopatra, dan meminta Markus Antonius untuk kembali.

Keadaan Cleopatra semakin memburuk saja setelah terserang penyakit dan meninggal dalam perjalanan menuju negri Timur. Markus Antonius kembali ke Romawi dan memperistri Oktavia saudara kandung kaisar, seorang putri yang cantik. 

Usai sudah perjalanan kisah cinta Cleopatra, dia meninggalkan dua orang anak laki-laki, yaitu Iskandar dan Ptolemaios, dan seorang anak perempuan yang diberi nama seperti namanya sendiri, Cleopatra.

Oktavia pindah, menjauh dari adanya kemungkinan perang saudara baru. Menyelamatkan diri dan mengabdikan dirinya kepada rakyat jelata. Ini adalah masa paling terdekat anatar dirinya dengan rakyat jelata dan juga hal ini merupakan balasan yang menimpa Markus Antonius yang telah gagal membebaskan diri dari pengaruh Cleopatra, lalu kembali kepada dirinya, dan dengannya ia menguasai Mesir, Qabrus, Libia, dan sebagian Syria. Sekutu Cleopatra adalah anaknya sendiri yang menjadi raja, yaitu sang kaisar.

Adapun para raja-raja yang lain, mereka berlindung kepada Cleopatra, dan kepada kedua anaknya mereka meminta perlindungan kepada Cleopatra. Adapun julukan bagi keduanya adalah: Matahari dan Rembulan, diberikanlah kepadanya Armenia, Irak dan Karibia kepada Iskandar dam Phoenix dan sebagian Siria kepada Ptolemaios. Pada acara penobatan, Cleopatra menampakkan diri, dia memakai jubah Dewi Isis tuhan kesuburan dan dewi ibu menurut orang-orang Mesir pada saat itu.

###

 Akibat dari kelakuan Markus Antonius ini, kaisar menjadi marah, menantangnya untuk berperang di laut, waktu itu dia di Armenia, dia menolak menggunakan kekuatan pasukan tempur lautnya, dan kesusahannya bertmbah ketika mengetahui bahwasannya Cleopatra meninggalkannya menuju medan peperangan dengan membawa serta enam puluh kapal perang.

Memang benar, bahwa jiwa seorang pencinta hidup dalam diri seseorang yang dicintai, seperti yang dikatakan oleh Blutrik. Markus Antonius merasa bahwa jiwanya lari bersama kekasihnya, hilanglah kesadarannya. Dia rela meninggalkan tentaranya, yang berperang demi dirinya dan demi Cleopatara, untuk kemudian kemudian menyusulnya.

Ketika sampai ketempat Cleopatra, Markus Antonius menaiki kapal Cleopatra. Ia diam, tidak berkata apa-apa kepada Cleopatra, sampai akhirnya ada seorang pelayan wanita menghampiri mereka berdua. Dan kembalilah keadaan seperti semula, cair dan bersahabat.

Para prajurit Markus Antonius tidak membenarkan tindannya meninggalkan para prajurit, merekapun menunggu kepulangan Markus Antonius, akan tetapi dengan kekecewaan baru. Ketika sampai di Afrika, Cleopatra mengirimkan seorang utusan ke Mesir, hanya dikawal oleh dua orang prajurit. Dengan keadaan yang buruk dengan rambut tergelung dan meletakkannya sampai jenggot.

###

Sesampainya utusan itu di Iskandariyah, ia mengungkapkan bahwa Cleopatra ingin melaksanakan rencana yang telah diperhitungkannya masak-masak, yaitu mempertahankan armada lautnya yang saat ini sedang mengapung diteluk Arab, dia dapat hidup dengan tentram jauh dari peperangan dan tepencil dari istana. Ia menolak ajakan untuk kembali kepada Markus Antonius seperti dulu, dan memilih untuk hidup menyendiri.

Cleopatra ternyata tidak dapat hidup lebih baik, karena kemudian terjadi lagi perang saudara yang lain. siapa saja yang mengetahui hal ini pasti akan mengerahkan tindakan untuk bergegas menjauh dari bahaya ini. Dia telah mempunyai banyak pengalaman untuk membaca adanya kemungkinan-kemungkian yang akan muncul. Akan tetapi dia tidak dapat menyelamatkan diri dari sakit yang menderanya, seekor ular telah mematuknya.

Seorang tabib kepercayaannya mengatakan bahwa patukan ular ini tidak akan berpengaruh pada tubuh, dan diapun terbius oleh patukan ular itu, terlihat seperti mengantuk. Dia tidak melupakan keadaan politik yang berkembang, keinginannya kedepan adalah menyelamatkan anak-anaknya, setelah dia meninggal. Maka ia meminta kaisar untuk memberikan kekuasaan Mesir kepada putra-putranya. Adapun Markus Antonius setelah dilacak, ternyata ia hidup di Mesir seperti orang-orang yang telah kembali dari pengasingan.

###

  Kisah kehidupan itu adalah kisah kehidupan orang-orang yang jatuh cinta. Sang kaisar tidak mengabulkan permintaan Cleopatra memintakan kekuasaan kecuali dengan syarat Cleopatra mau membunuh Markus Antonius atau mengusirnya dari Mesir dan tidak kembali lagi ke Mesir untuk mencarinya. Ini bukanlah sebuah tipuan kaisar kepada ratu Mesir, berupa menolak kehidupan dan menginginkan kematian, maka hal ini akan memunculkan pemakaman-pemakaman agung yang menyerupai piramid, yang digunakan untuk menyimpan kotak-kotak harta berupa emas dan perak, zamrud, intan.

Sang kaisar merasa takut jika saja wanita asing ini mendahuluinya mengambil perhiasan yang berada dalam kotak-kotak tersebut, seperti halnya nyala api, ketika sudah dekat Iskandariyah, dia mengirimkan seorang utusan kepada Cleopatra untuk menyampaikan salamnya dan memberinya keamanan dan juga mengabarkan kepadanya bahwa ia menyimpan banyak perhiasan yang bagus untuknya.

Markus Antonius menyerang istana kaisar, dan kaisar tidak berdaya menghadapi penyerangan ini, akan tetapi ia tetap beusaha mencegah Markus Antonius sekiranya hendak menggulingkannya dan melawannya untuk perang tanding. Sang kaisar memanggilnya untuk menghadapinya. Markus Antonius dengan beberapa prajuritnya melakukan penyerangan bersama-sama untuk menghadapi kaisar, ia mengatakan kepada kaisar bahwa karena Cleopatralah ia serahkan hidup dan matinya, wanita yang telah menyerahkan dirinya kepada kaisar.

 Markus Antonius merusak tempat Cleopatra, dengan mudah ia menghancurkan pintu-pintu yang terbuat dari besi, menertawakan Cleopatra dan menakut-nakutinya. Lalu Cleopatra mengirirmkan seorang utusan kepadanya yang mengabarkan berita sebenarnya perihal kematiannya, mereka berteriak-teriak kepada Markus Antonius dengan suara keras:

“Sekarang, wahai Markus Antonius, mengapa engkau datang terlambat? Sebuah kekuatan telah mengoyak dirimu, yang merupakan sebab tunggal yang karenanya engkau hidup”

Lalu Markus Antonius masuk kedalam kamar dan melepaskan baju besinya dan membalas:

“Kesedihanku terhadapmu tidak mencemaskanku, wahai Cleopatra. Semakin dekat saja rasanya aku akan bersatu denganmu, akan tetapi ada hal yang emmaksaku bahwasannya para raja-raja yang agung ini adalah lebih penakut dari pada seorang wanita”

Lalu Markus Antonius memanggil pembantunya, Irus yang selalu membuntutinya hendak membunuhnya ketika ada kesempatan, dipanggilnya untuk melaksanakan kewajibannya. Sang pembantu mengangkat pedang, terlihat dengan jelas bahwa ia akan menjatuhkan pedang itu tepat dileher tuannya, tiba-tiba pedang itu berputar dan mengenai  dirinya sendiri, diapun tersungkur dikedua kaki Markus Antonius, dia berkata:

“Hebat, wahai Irus. Tuanmu telah mengetahui tindakanmu, jangan kau ulangi lagi tindakanmu ini”

Pedang itu terjatuh disampingnya dan menimbulkan luka yang tidak mematikan, namun terlihat sangat parah. Lalu Markus Antonius memanggil beberapa orang untuk segera mengobati lukanya, akan tetapi mereka semua lari dan meniggalkannya. Sampai akhirnya Dudem, sekretaris Cleopatra menghampirinya dan membawanya kepada tuannya. Dudem memperlihatkan seutas tali dan segera mengikatnya dibenteng yang dijadikan sebagai hiburan rakyat.

Dikisahkan oleh orang-orang yang melihat kejadian ini, terlebih pada adegan-adegan terakhir, seorang pemimpin yang menjadi pahlawan, mengangkat kedua tangannya keatas dua pinggangnya, sepertinya ia menyerahkan dirinya kepada Cleopatra dan dengan leluasa Cleopatra memeluk dirinya dengan kedua tangannya, dan memanggilnya:

“Wahai tuanku, suamiku, pemimpinku, rajaku”

Dan ia terus meratapinya. Dalam senyumannya yang terakhir, ia mengajak Cleopatra untuk menikmati waktu-waktu terakhir kebersamaannya, hanya mengingatnya, masa-masa keagungan dan kebesarannya.

Dikisahkan bahwa Cleopatra pergi seorang diri, setelah kematian suaminya. Akan tetapi utusan kaisar datang dan menepiskan pisau besar yang ada ditangan Cleopatra. Dalam kondisi seperti itu, kaisar memasuki kota Iskandariyah dengan kemenangan mutlak dan kedua putra Cleopatra menjalankan pemerintahan disana dengan baik, adapun putri Cleopatra, Sizariyun, diberinya harta benda yang dapat digunakannya dalam perjalanan menuju Habasyah.

Telah tersiar kabar diantara para rajurit istana, setelah hal ini diadukan kepada guru kaisar. Ketika sang kaisar memintakan pendapat wazirnya tentang apa yang yang dilakukannya dalam menyikapi keadaan ini, sang wazir menjawab:

“Begitu banyak kaisar, tidak ada yang menyukai keadaan seperti ini”

Demikian juga mengenai perintah untuk membunuhnya, setelah ibunya meninggal.

###

Adapun masa-masa terakhir dari hidup Cleopatra, terdapat puncak kejadian-kejadian yang menyedihkan, karena ia terjangkit sakit panas yang ditimbulkan oleh lukanya. Dia meminta kepada tabibnya untuk segera mengobatinya. Sewaktu sang kaisar menjenguknya, ia melompat dari tempat tidurnya dan bersujud dikedua telapak kaki kaisar. Sebagian orang mengatakan, bahwa Cleopatra memohonkan kehidupannya, yang jelas ia memintakan keridloan sang kaisar demi anak-anak Cleopatra dan iapun menyerahkan kotak-kotak perhiasan yang ia miliki kepada kaisar, akan tetapi salah satu diantara mereka membisikkan sesuatu ketelinga sang kaisar:

“Sebagian mutiaranya telah hilang”

Sang kaisar mengetahui, bahwa Cleopatra menjaga mutiara-mutiara itu untuk dihadiahkan kepada kedua istri kaisar, yaitu Oktavia dan Lyvia. Ia mencoba menjalani sisa-sisa masa hidupnya, untuk pindah. Ia menerima pinangan Markus Antonius, ia menghiasi Cleopatra dengan beragam warna, ia menginginkan suatu resepsi pernikahan yang mewah bagi Cleopatra.

Datanglah seorang petani miskin yang membawa keranjang kecil yang dipenuhinya dengan buah tin yang masak. Cleopatrapun menerimanya, lalu membawa keranjang itu keluar dan diserahkan kepada pelayannya. Ia juga menulis surat kepada kaisar, yang meminta untuk menguburkannya disamping Markus Antonius. Sang kaisar paham akan maksud dari surat itu, lantas ia mengirim bala bantuan untuk membebaskan Cleopatra, setelah lewat beberapa masa.

Para ahli sejarah mengatakan bahwa ular khas Mesir yang menggigitkan bisanya kepada Cleopatra itu bersembunyi dicekungan kranjang, lalu Cleopatra membawanya. Kepala ular itu sangat dekat dengan dada Cleopatra, setelah kranjang itu menempel, ularpun menggigit. Dua gigitan saja yang berhasil menembus tubuh ratu yang berlindung dari daya pikat dan kecantikannya.

 Utusan kaisar menemukan peti yang sangat berharga disebelah Cleopatra, dan pelayannya Irus telah mati dikakinya. Adapun pelayan kedua, Tisarimiyun mendesak untuk mendapatkan bagian dari perhiasan terakhir tuannya, ketika salah seorang tamu menanyakan kepadanya:

“Apakah perhiasan ini dikerjakan dengan sempurna, wahai Tisarimiyun?

Dia menjawab:

“Benar, seperti halnya yang layak bagi seorang ratu dari keturunan para firaun.”

Dia mengatakan hal itu dan setelah itu dia mati, tidak bergerak lagi.

###

Mereka tidak menemukan bekas racun pada tubuh Cleopatra. Tidak ada seorangpun yang melihat ular yang menggigit Cleopatra, akan tetapi beberapa anak kecil mengaku melihat jejak-jejak ular itu dipasir disepanjang jalan keluar.

###

Demikianlah akhir kisah cerita sosok wanita yang agung. Wafatnya tercatat pada tahun 30 SM. Dia hidup selama tiga puluh sembilan tahun, dan memerintah sendiri sebuah kerajaan selama dua puluh dua tahun dan empat belas tahun memerintah bersama Markus Antonius sebuah kekaisaran.

Selama lebih dua ribu tahun kisahnya mengilhami para penyair dan peneliti. Shakespare menulis tentang Cleopatra dengan judul Antonius dan Cleopatra. Kisahnya telah disebarluaskan dalam enam bentuk film cinema. Selama penayangan enam buah sinema tersebut, lantas berkembang menjadi mendekati tujuh bentuk sinema mengenai Cleopatra. Film ini diperankan oleh para aktris dan artis terkenal, seperti Claudit Corbit, Vivian Lie, Sopia Lauren, Elisabet Tylor dan Hilda O’Neil.

Adapaun film-filmnya banyak yang dikurangi dari cerita yang sesungguhnya. Diantaranya adanya pelaknatan keluarga firaun dan saya tidak menemukan akhir cerita yang lebih baik dari karya Shakespare tentang sejarah Cleopatra dari cerita asalnya:

“Bentangkanlah diriku diatas permukaan sungai Nil dan biarkanlah usia senja sebagai akhir hidupku”

Dan kata-kata terakhir Cleopatra yang diucapkannya ketika nafasnya mulai terpenggal-penggal:

“Keberanianku mengukuhkan julukanku: aku adalah api, aku adalah angin aku adalah elemen yang mengekalkan hidupku”

Adapun Tusyarimiyun mengucapkan selamat tinggal kepada Cleopatra dengan kata-kata berikut:

“Terkenallah wahai engkau yang mati, karena engkau menjadi sosok ratu sekarang, wanita paling cantik”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Zanubaya

 

 

 

 

 

 

“Kecantikan para wanita negri Timur menyatu dalam dirinya, kecantikan lahir, kebijaksanaan, satra dan filsafat”

 

 

 

Zanubayaa, Zainab, Az-Zuba’(dalam bahasa Armenia). Semua nama-nama ini adalah menunjukkan kepada seorang wanita yang terkenal dalam sejarah Arab, Zanubaya yang seorang ratu.

####

Dimanakah sesungguhnya kisah cerita Zanubaya berasal? Dan dimana akhir kisah cerita Zanubaya yang dikisahkan oleh para periwayat selama kurun waktu tujuh belas abad? Bagaimana mungkin dapat menguak kisah sebenarnya dari tumpukan-tumpukan cerita-cerita yang ada?

Cerita-cerita mengenai Zanubaya telah tertimbun, menurut keterangan para ahli sejarah, dan juga tulisan-tulisan para periwayat. Yaitu orang-orang yang bersepakat pada adanya suatu keajaiban yang mencenngangkan mengenai sosok seorang wanita yang langka, yang hidup pada kurun waktu abad ke tiga Masehi.

Seorang ahli sejarah dari Rumania, Tribilus Buliu mengatakan:

“Bahwa Zanubaya sangat gemar mendengarkan lagu-lagu pujian kepada para raja-raja yang terkenal dalam sejarah negri Timur, dengan kecantikannya. Seperti Sumairams sang ratu Aswar, Didon sang pemilik kubah emas, Cleopatra sang ratu Mesir, dia adalah neneknya dari jalur ibu, menurut pandangan para periwayat”

Akan tetapi dia melebihi para wanita-wanita yang agung tersebut, dengan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik dan juga hal-hal yang berbau kekerasan dan kekuatan fisik. Maka digambarkan bahwa ia adalah sosok wanita agung negri Timur, karena kemuliaan akhlaq dan kesempurnaan diri yang melekat padanya.

###

Saya membaca penggambaran Tribilus tentang kecantikan Zanubaya dan juga sikapnya:

“kecantikannya melebihi semua sifat yang ada, wajahnya lebih condong berwarna sawo matang, kedua biji matanya berwarna hitam legam, sperti kedua alis burung Nasar, gigi-giginya putih seperti untaian mutiara, perawakannya tinggi dan suaranya keras, nampak jelas padanya adanya kemashuran dan juga kedudukan tinggi. Keteguhan hati, ramah, murah senyum dan lembut. Dia juga sosok yang memiliki pemikiran yang bagus dan pandangan cemerlang.”

Ketika sang ratu keluar, maka dia senantiasa memakaikan tutup kepala diatas kepalanya yang khusus dibuat oleh para perajin Armenia, memakai baju yang sisi-sisinya beruntaikan permata dan membiarkan kedua lengannya terbuka, dia senantiasa menolak untuk berpindah kedalam tandunya. Dia berjalan dengan tegap, menemani suaminya dalam setiap perjalanannya.

Seorang ahli sejarah yang bernama Cornelius Cabtulinius, berkata mengenai diri Zanubaya:

“Kecantikan para wanita negri Timur menyatu dalam dirinya, kecantikan lahir, kebijaksanaan, satra dan filsafat. Ia telah mendalami pendidikan Yunani, dia juga mempelajari bahasa Armenia, bahasa Qibti dan juga sebagian bahasa latin, dia adalah sosok wanita yang luas pengetahuannya mengenai sejarah negri timur dan barat”

Dalam hal ini, ada yang mengatakan bahwasannya Zanubaya pernah menulis mengenai sejarah negri timur dan barat. Khususnya Mesir, Asia dan juga Yunani. Dia juga membaca karya Homerus dan Plato, mencintai para ulama dan juga sastrawan. Setelah ia manaiki tahta, maka berkumpullah disekelilingnya para cendekiawan dan juga para filosof, yang paling mashur diantara mereka dalam bahasa dan filsafat adalah Loubertus al-Biruti dan ahli sejarah Busianus ad-Damsyiqi dan pelukis agung Klikartas.

Adapun filosof yang ulung adalah Kunjinus dia adalah seorang tokoh yang paling unggul dalam bidang sastra, filsafat dan juga politik. Seperti halnya seorang uskup Turki al-Alim Baulis As-Simyati. Dia adalah sorang mata-mata istana Zanubaya dan ia telah melihat kecantikan paras wajah Zanubaya, akan tetapi para peyanan istana memintanya untuk tetap merahasiakan hal ini. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa Zanubaya adalah sosok wanita penolong, akan tetapi yang lain menolak pendapat ini.

###

Zanubaya memiliki sepasang mata yang besar, merupakan anak perempuan keturunan bangsa Arab As-Samida’ yang agung. Sudah menjadi kodratnya bahwa ia akan diperistri oleh seorang pemuda Arab yang agung, ayitu Adzinah al-Khirani. Seorang pemimpin yang menguasai/menaklukkan negri Timur Rumania. Kekuasannya terbentang sampai dengan ke wilayah Suriah dan sekitarnya. Beberapa peperangan yang pernah dilakukannya, semuanya menggunakan pasukan berkuda.

Ketika Adzinah keluar untuk berperang, maka ia meninggalkan kunci kekuasaan kepada Zanubaya. Ini mengharuskannya untuk menjalankannya dengan tradisi politik. Kembali para ahli sejarah menilai tentang diri Zanubaya bahwa ia adalah seorang yang pandai dalam politik kenegaraan.

###

Sampai sini, saya menemukan sosok wanita agung dalam ukuran kebanyakan orang. Lalu sampai akhirnya tibalah saat yang memanggilnya untuk memfungsikan kekuatannya secara penuh. Dan dia tidak memiliki pengetahuan ataupun pengertian dalam kedudukannya yang baru, hal ini terjadi setelah ia menduduki kedudukan tinggi dan akhirnya ia berpesan kepada anak pertamanya Wahab Al-Lata, setelah suaminya terbunuh dan Herodos menggantikan posisi suaminya sebagai raja, atas kekuasaan Ma’an. Herodos merupakan anak dari istrinya yang pertama, anak saudara laki-laki Adzinah, seseorang yang menginginkan menguasai singgasana.

Ternyata pembunuhan itu tidak menenangkan pelakunya, karena tidak lama kemudian keluarga Herodos sangat marah dan mereka membunuhnya. Demikianlah, kemudian Zanubaya tercatat dalam sejarah sebagai sosok wanita yang memiliki kekuasaan kuat. Saya mencatat disini bahwa Adzinah dan Zanubaya memiliki tiga orang putra, yaitu: Wahab Al-Lata, Khairan, Tiimullah, dan juga tiga orang anak perempuan, yaitu: Libiah, Lawanidah, dan Autaribah.

Sebagian para ahli sejarah mengunggulkannya, terlebih penulis dari Persia, Ernest De Kantalu; bahwasanya Zanubaya terlibat dalam pembunuhan suami dan anaknya karena ia menginginkan untuk munguasai pemerintahan, akan tetapi dalam hal ini tidak ditemukan adanya saksi yang dapat menguatkan pendapat ini ataupun menafikannya.

Yang terpenting bahwa kehidupan Zanubaya jauh dari keterlibatan urusan pemerintahan yang berawal dari masa yang sebentar yang terpisah. Sebelum ia benar-benar ikut terjun dalam medan peperangan yang terjadi antara Adzinah dan raja Persia. Dia bersekutu dan mengambil keuntungan terhadap pemerintahan yang ada, yaitu yang mengalahkan raja Sabur dan merampas hartanya. Dengan bantuan kabilah-kabilah yang ada dan orang-orang Tadmir.[1]

  Kedua suami istri itu mengikuti peperangan-peperangan yang terjadi di negara-negara Arab dan Persia, sampai akhirnya Adzinah mendapat julukan raja diraja. Dalam hal ini putranya, Herodos bersekutu dengannya dalam pemerintahan pada masa yang sebentar sebelum selesi pelantikan keduanya.

###

Zanubaya ditetapkan sebagai sosok wanita yang menguasai bidang politik. Dia adalah sosok wanita yang teguh hati dan bijaksana dalam setiap keadaan, berakhlak mulia, arif dalam tindakan dan kehendaknya (ini adalah sifat terpenting bagi setiap pemimpin pada setiap masa). Negri Tadmir dipenuhi dengan limpahan harta benda, bertumpuk-tumpuk peti harta yang memenuhi gudang-gudang Kisra, raja Persia.

Hal ini sangat menguntungkan Zanubaya, kedudukan negri tadmir yang berbeda, dia berteriak ditengah gurun pasir dan menghunus/membegal para kafilah[2] yang membawa barang dagangan berharga, yang melakukan perdagangan antara negri timur dan barat. Sepertinya Madinah berpindah dalam hari-harinnya, kepada Babilonia karena disana banyak dijumpai adanya ragam bahasa asing.

###

Dia adalah sosok ratu yang cantik, hal ini tidak menyurutkan kecintaannya pada kebesaran. Maka dia mengerahkan segenap kekuasannya seperti halnya Kaisar Romawi dan juga raja Persia. Dia mengundang para prajurit pada jamuan makannya. Dia adalah seorang wanita yang menyukai kesederhanaan dalam makan dan minum. Ketika dia menjamu para pasukannya, maka ia rela mengeluarkan banyak beaya yang menunjukkan kedermawannanya. Ia memakaikan topi baja buatan Romawi dikepalanya yang berhiaskan permata langka dan memakai pakaian berwarna ungu pada salah satu sisi pundaknya, sekiranya dapat menutupi lenganya yang lain yang terbuka meniru tata cara busana Yunani kuno

Tampak jelas dia adalah sosok yang memiliki semangat yang berkobar-kobar, pemberani dalam barisan pasukan, seperti halnya juga dalam deretan rakyat jelata, dia diagungkan banyak orang karena kecintaannya dekat dengan rakyat.

Ia senantiasa menghadiri majlis-majlis/perkumpulan-perkumpulan para kepala suku dan orang-orang penting dengan balutan baju kebesarannya. Dikepalanya memakaikan mahkota raja, dipundaknya nampak ada syal yang berwarna ungu, baju kekaisaran. Semua orang yang hadir bersujud dihadapannya, sebagai bentuk penghormatan.

Mata uang yang ada berupa emas dan perak yang bergambarkan dirinya dan juga gambar putranya. Akan tetapi hal ini sebenarnya dimaksudkan untuk menghilangkan adanya bentuk penghormatan yang berlebihan.

Kehidupan yang ada pada keluarga kaisar, keberadaan candi-candi, dan juga benteng-benteng, serta bangunan-bangunan kota yang terletak ditepian sungai yang beraliran deras terjadi perubahan besar pada masa Zanubaya memerintah, rakyatnya mendapatkan kehidupan yang makmur. Perbaikan pertanian gandum yang ditanam pada lahan kering dilakukan secara merata disekitar Tadmir, mengalirlah air ketanah-tanah kering tersebut dan jalan-jalan menjadi rata.

###

Pemerintahan yang ada diRomawi diharapkan dapat terus berjalan walaupun tanpa restu. Raja Herkoliyanus merasa kawatir dari ancaman para raja negri Timur, lantas iapun mengobarkan api peperangan kepada Zanubaya dan mengrimkan sepasukan besar untuk menyerang Zanubaya, maka terjadilah peperangan pertama di perbatasan Persia dan perang itu berakhir dengan kemenangan berada dipihak Zanubaya dan terbunuhlah raja Romawi Herkoliyanus. Seorang ahli sejarah kebangsaan persia, Syabani menuliskan:

“Bahwa sesungguhnya Asia membantu Romawi dalam peperangan itu, dan hancurlah markas-markas tentara yang terletak diantara kedua negara itu”

###

Setelah kemenangan ini, Zanubaya dianugrahi gelar sebagai ratu negri Timur, dan kebesarannya terbentang jauh sampai dengan batas-batas Tadmir. Karena kebijaksanannya, ia telah menjadikan salah seorang putranya pada suatu hari menjadi raja Romawi.

Dalam kisah perjalanan kehidupannya ini, anaknya, Wahab Al-Lata telah menyempurnakannya. Lantas Zanubaya menjadikan kedua putranya, Timullah dan Khairan sebagai pemimpin dan mengenalkan negara-negara Latin kepada keduanya, mendidik keduanya dengan cara-cara penguasa, dan mengatakan kepda keduanya, sebuah julukan “Kaisar”. Ia mengizinkan kedua putranya ini untuk menaiki kereta kerajaan dan menjalin persahabatan dengan kawan-kawan Zanubaya, khususnya Persia. Lalu terjadilah perjanjian damai dengan raja Sabur.

Kemenangannya atas Herkoliyanus telah menggelisahkan kerajaan Rumania, yang pada waktu itu diperintah oleh raja Ariliyus Klodiyus. Seorang ahli sejarah mengatakan kepadaku bahwa ia adalah sesepuh orang-orang Rumania, mereka mengatakan sesuatu dalam sela-sela acara penobatannya:

“Selamatlah aku dari Zanubaya dan Victoria” (Victoria adalah sosok pemimpin wanita yang suka berlebih-lebihan).”

Klodiyus tetap menjadi kaisar untuk mewujudkan amanat itu, adapun Zanubaya berpindah ke Mesir tanah air neneknya yang pertama, Cleopatra.

Zanubaya mengirimkan beribu-ribu pasukan, yang berjumlah sekitar tujuh puluh ribu pasukan, yang dipimpin oleh Zubad, pasukan terbesarnya. Dalam hal ini ada yang berpendapat bahwa pemimpin tentara ini tidak lain adalah saudara Zanubaya sendiri Zubad, sang penguasa Tadmir.

###

Yang terpenting adalah bahwa ratu negri Timur sangat diuntungkan dengan penyerangan Mesir, dan dia meninggalkan seorang perwakilan di Mesir, dia masih kerabat dengannya, yang bernama Firmus. Dengan cepat kekuasannya meluas sampai dengan batas-batas sungai yang berair deras sampai dengan tepian laut tengah. Hal ini benar-benar telah menguatkan kekuasaan snag ratu dan muncullah ancaman dari raja-raja negri Timur lainnya.

Terjadilah perubahan suasana dari di negri Romawi, ketika Klodisius meninggal dan digantikan oleh Urlayanius. Ini adalah kelompok pertama yang hendak menggulingkan Zanubaya. Dan zanubaya menginginkan perang, lalu pasukannya dibagi menjadi tiga kelompok dan terjadilah peperangan yang sengit, yang memungkinkan bagi Urlayanius untuk menguasai Tadmir, akan tetapi ia gagal mengalahkan Zanubaya.

Suratnya  yang terkenal keada Romawi adalah:

“Berkatalah kalian semua seperti halnya kalian memuji diri kalian semua, berkatalah bahwa aku memerangi seorang wanita. Ini benar, bahwa aku memerangi seorang wanita yang agung, walaupun telah diketahui dengan seksama bahwa dia adalah Zanubaya, untuk mengambil harta-harta kalian supaya aku mendapatkan pujian. Sesuangguhnya ia adalah sosok wanita yang kuat, pemilik pendapat yang teguh, cerdas dan juga bijaksana. Dalam hatiku mengatakan bahwasannya aku tidak akan pernah lagi menghadapi musuh seperti dirinya, akan tetapi aku akan memenangkannya…”   

Seorang ahli sejarah latin yang bernama Pubiskus menguatkan pada yang lain. Dari pendapat Urlayanius kepada musuhnya yang menggetarkannya, dia menulis dan mengatakan kepada zanubaya:

“Sebagian orang tertawa, bahwasannya aku menyerang seorang perempuan. Akan tetapi Zainab dalam peperangan dapat berubah lebih kuat dari pada laki-laki.”

####

Jelas sudah bahwa Urlayanius mengirimkan seorang utusan, untuk menghadapi Zanubaya menyerahkan suratnya untuk menakut-nakuti. Meminta kepada Zanubaya untuk menyerah kepadanya dengan membuat sebuah kesepakatan:

“Bahwa apa yang kamu baca dalam suratku kepadamu ini tidak berlaku secuilpun kepada seseorang sebelumnya. Engkau adalah seorang wanita pemberani, tanpa adanya uluran jabat tangan, aku menginginkanmu untuk menyerah kepadaku? Aku mengingatkanmu bahwa Cleopatra, bekas kematian nya adalah karena ular yang langka dan mematikan” 

Urlayanius menjadi marah, dia terhimpit oleh kepungan di Tadmir, dan berantakan sekutu-sekutu Zanubaya. Ketika Zanubaya mengetahui penghianatan mereka, segera saja ia menaiki ontanya dan menghunuskan pedangnya melawan raja Romawi. Kuda pasukan musuh terkena lubang jebakan, ketika Zanubaya hendak berpindah untuk melewati aliran air yang jernih, mereka menemukan Zanubaya dan menggiringnya ke daratan dan memaksanya, kemudian mereka memindahkan Zanubaya ke Tadmir sebagai seorang tawanan kaisar. 

Ketika Urlianus melihat Zanubaya, ia bergegas berkata kepada Zanubaya:

“Sekarang engkau berada dalam kekuasaanku, wahai Zainab. Apakah engkau telah bertindak lancang dengan menghina kaisar Rumania?”

Zanubaya mengembalikan kesepakatan kepada Kaisar:

“Sekarang aku tahu bahwa engkau sesungguhnya adalah seorang kaisar, karena engkau telah mengalahkanku”

Urlianus tidak memberikan ampunan kepada para pengikut Zanubaya dan memerintahkan untuk membunuh para penasehat-penasehatnya juga, seorang filofof yang terkenal diantara mereka adalah Lunjius. Dia mengalami kehinaan karena hal ini. Lalu para tentara Rumania kembali kepada Zanubaya, dan hancurlah bangunan-bangunan istana Zanubaya yang megah. Meninggalkan sisa-sisa kesruskan.

Adapun kesaksian yang terakhir mengatakan bahwa Urlianus membebaskan tawanan: bahwa kaisar Romawi memerintahkan untuk menawan sang ratu yang pemberani, akan tetapi dengan rantai terikat yang terbuat dari emas dan memboyongnya beserta anak-anaknya ke Romawi, pada tahun 272 M. dengan dilihatkan oleh rakyatnya, ini adalah sebuah saksi atas kemenangan Urlianus. Disamping Zanubaya yang diboyong, kereta kerjaan yang berlapiskan emas milik Zanubaya juga ikut diboyong, juga kendaraan-kendaraan yang digunakan untuk menjemput kedua putranya sewaktu menyelamatkan pemerintahan.

Dalam sisa-sisa waktu hidupnya, Zanubaya hidup sebagai tahanan yang dimuliakan. Dalam kaisar berada dalam daerah-daerah Romawi. Memberikan kebebasan berusaha bagi Zanubaya untuk berusaha, memberikan waktunya yang begitu penting dengan putra-putranya. Seorang ahli sejarah, Tribilus mengatakan bahwa putra Zanubaya Timullah menjadi seorang pengkhutbah yang menguasai bahasa Latin. Dan putri-putrinya dipersunting oleh para pemimpin Rumania, dan keluarganya tetap ada sampai dengan akhir abad ke empat masehi.

###

Sempurnalah kisah Zanubaya, yang dikumpulkan dari cerita-cerita Arab kuno. Dalam syair-syairnya ditemukan adanya cerita-cerita mengenai Zanubaya yang lengkap dan panjang.dikatakan bahwasannya ia dijuluki Az-Ziba’(yang berbulu tipis muka dan telinganya), karena begitu lengkapnya kisah mengenai dirinya dalam syair-syairnya. Ibnu al-Kalbi mengatakan :

“Bahwa ia memiliki rambut tebal. Ketika ia membersihkan dirinya, maka ia mengibaskan rambutnya kebelakang. Ketika ia mengurai rambutnya, maka ia akan menutupinya”

Orang-orang Arab membuatkan patung, dalam keberanian dan keagungan dirinya.

            Ketika para ahli sejarah berselisih pendapat, atau berbeda kesepakatan pada kebenaran berita yang ada dalam kisah Zanubaya, maka sesungguhnya jejaknya akan tetap ada di kota Tadmir. Dalam kebesaran kerajaannya yang jauh. Ia dikukuhkan sebagai sosok wanita agung, ia lewat di negri Timur Arab dan meninggalkan diatasnya sebuah keberanian Zanubaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Al-Khanasa

 

 

“Adapun keteguhan hatinya laksana bara api yang menyala-nyala, adapun Muawiyah laksana penyakit dalam dirinya”

 

 

 

 

 

 

Bayangan wajah Khanasa ketika masa-masa remajanya, melintasi beratus-ratus tahun yang lalu, untuk dapat sampai kepada saya.dalam bentuknya yang beragam, yang dituliskan oleh para ahli syair, melalui sela-sela syairnya dan juga mengenai kisah-kisah hidupnya. Saya berpedoman pada dua dua buah gambar yang telah usang mengenai dirinya:

Dalam gambar pertama saya melihat adanya wajah sosok wanita yang agung, yang mungkin menyerupainya. Sebuah gambaran yang menyerupai sosok wanita muda dengan kecantikannya dan tahi lalat yang ada dihidungnya. Ini adalah sebuah ciri kecantikan yang sangat menyenangkan, karena hidung adalah bagian terujung dari wajah, yang terletak agak naik sedikit dari ujung hidung. Keindahan yang terletak pada hidungnya ini adalah sesuatu yang didamba-dambakan oleh setiap wanita zaman sekarang. Sampai-sampai jika memungkinkan para wanita akan memaksa Khanasa untuk melukai hidungnya dan memberikan tahi lalatnya kepada mereka.

            Adapun gambaran kedua adalah sosok Khanasa yang terlihat sebagai sosok wanita yang senantiasa meratapi kematian selamanya, cengeng, suka meratap, bebalutkan baju kesenduan, tumbuh dalam dekapan kesedihan sampai akhirnya dia putus asa.

            Saya tidak mengetahui secara pasti kapan Khanasa dilahirkan. Akan tetapi para ahli sejarah bersepakat untuk perpedoman pada pendapat para peneliti abad pertama sebelum sejarah Islam tentang kelahiran Tamadhar binti Umar bin Harits bin Syarid dari keluarga Salim, salah satu kabilah terkemuka yang ada dinegara Najd, bahwa ia dilahirkan pada paruh abad terahir dari masa Jahiliyah, seperti halnya ketenarannya yang terjadi mendekati seperempat abad dalam Islam

            Ia meinggal pada tahun 646 M (24 H). oleh karena itulah dia terhitung dalam kelompok jumlah orang-orang besar yang mengalami zaman jahiliyah dan Islam. Adapun masa kebesarannya dikatakan pada masa jahiliyah dan mengikuti orang-orang jahiliyah, kecuali hanya sebagian orang saja, yang tampak jernih pada paras mukanya. Jiwa baru yang bersinar dalam gurun Arab.

###

Kabilah Salim adalah sebuah kabilah yang merawatnya, salah satu kabilah kuat yang ada di Arab, terkenal akan keberanian para prajuritnya, dan kedudukannya yang tinggi diantara orang-orang Arab. Inilah yang menjadikan para ahli sejarah memuliakannya. Seperti halnya orang tuanya yang memang seseorang yang terhormat.

Adapun saudaranya, Muawiyah adalah salah seorang anggota kabilah terkuat pertama yang ada sampai dengan ia meninggal dalam suatu peperangan, lantas tampillah saudaranya yang bernama Shakhr, untuk memperkuat kabilahnya dan menjadi pemimpin, menggantikan saudaranya, Muawiyah.

####

            Para ahli sejarah bersepakat, bahwasannya Tamadhar atau Umu Umar atau Khanasa adalah sosok wanita yang sangat kuat. Dia tumbuh dalam pemeliharaan dalam keluarga yang mulia. Ia tumbuh menjadi besar dan merdeka, dan juga percaya diri. Ketika kedudukannya dalam keluarga telah mewajibkannya untuk turut campur dalam pemerintahan, hal ini terlihat  dari sela-sela kecantikan tubuhnya dan keagungan dirinya. Kecerdasan yang ia miliki begitu cemerlang, sampai-sampai orang tuanya tidak segan-segan untuk sesekali mengunjunginya  untuk memintakan pendapat.

Akan tetapi kisah yang terpenting, yang semakin meyakinkan saya mengenai kekuatan diri Khanasa, dia adalah sosok wanita yang senantiasa terlihat menasehati dan menaruh perhatian tinggi kepada rakyatnya.

###

            Saya tidak mengetahui lebih banyak mengenai masa pertumbuhan Khanasa semasa kecil, kecuali saya menggantungkan hal ini pada kisah para periwayat yang mengabarkan kepada saya bahwa kehidupan Khanasa telah terdokumentasikan, ketika ia memberikan nasehatnya kepada Hawazin dan pemimpin Bani Jasm, Duraid bin Shamit.

            Duraid sedang memandikan kudanya, ketika tiba-tiba ada pemandangan seorang wanita yang menghentikannya, memalingkan pandangannya yang menggerakkannya untuk melihat wanita itu karena kecantikannya dan perawakannya yang tinggi semampai. Dikatakan bahwa wanita itu sedang memandikan ontanya. (dia memabasahi ontanya dengan air hujan). Ia memakai baju kumal. Ketika telah selesai, maka dia melepas pakaiannya dan mencucinya, dia tidak merasa bahwasannya ada yang telah mengintipnya. Ketika telah selesai mengerjakan semuanya, iapun kembali melewati jalan semula.

            Seorang penunggang kuda bersembunyi, dan dengan diam-diam menemuinya dengan kewaspadaannya, sampai akhirnya ia mengetahui bahwasanya wanita itu adalah Tamadhar binti Umar, saduara perempuan kawanya, Muawiyah. Sosok wanita yang memiliki hati mulia: Khanasa. Itu adalah sebuah julukan yang diucapkan oleh para wanita di kabilahnya, kerena kecintaan mereka terhadap Khanasa dan juga tahi lalat yang ada pada hidungnya. Tamadhar adalah wanita yang paling mulia diantara mereka.

###

            Orang tua Khanasa mendatangi Duraid, dan dia menyambut kedatangannya dengan mengatakan selamat datang secara berulang-ulang: dia berkata:

            “Suatu tanda kebahagiaan adalah ketika engkau memberikan minuman ke rumah-rumah orang-orang keturunan Salim? 

            Duraid menjawab pertanyaan itu:

            “Kedatanganku adalah untuk meminang putrimu, Tamadhar”

            Sang ayah menjawab:

            “Selamat datang, wahai engkau Aba Qurrah, putra yang mulia yang tidak ada cela dalam keturunanmu, seorang pemimpin yang selalu mendapatkan keinginannya, dan seseorang yang gagah berani”

            Sang ayah terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia merasa khawatir akan membuat suatu kesalahan:

            “Akan tetapi Tamadhar adalah orang yang sudah dewasa dan sudah mandiri, dia bukan lagi anak-anak yang belum mandiri. Saya akan menyampaikan hal ini kepadanya dan biarlah dia yang memutuskan”.

Lalu sang ayah memintakan izin kepadanya, untuk masuk kedalam menemui putrinya dengan memanggil-manggil penuh rasa gembira:

“Wahai Khanasa, seorang pahlawan dari Hawazan telah datang menemuimu, seperti layaknya orang miskin yang kesusahan. Dia hendak menikahi pemimpin Bani Jasm, hari ini atau besok?”

Kembali sang ayah menemui tamunya dengan perasaan khawatir

“Wahai Aba Qurrah, ternyata dia tidak mau, mungkin saja dia akan menyukai anda setelah kejadian ini”

Duraid tidak memberikan tambahan penjelasan apapun, ketika mendengar jawaban Khanasa demikian, lalu dia pergi, dengan tidak menambahkan sepatah katapun. Dia mengejek Khanasa dengan sebuah syair yang banyak dibicarakan orang, sebagian orang menganjurkan kepada Khanasa untuk membalasnya, lalu dia berkata:

“Aku tidak akan membalas ejekannya”

Ini adalah sepenggal riwayat, yang mengukuhkan saya bahwasannya Khanasa adalah sosok wanita yang mandiri, sosok wanita yang kuat, jika dinisbatkan kepada kedudukan wanita pada masanya, bukan hanya itu, melainkan pada setiap masa.

###

Setelah kejadian ini, Khanasa membuktikan ucapannya dengan tindakan, dia menikah dengan Rawahah bin Abdil Aziz As-Sulami, salah satu putra pamannya. Dia tidak menulis satu bait syairpun dalam pernikahan ini, terkadang dia menulis syair, namun syair itu kemudian hilang, atau juga karena suaminya tidak mendukung kebiasannya  dan tidak dapat memberikan komentar terhadap syair-syairnya.

Dalam keadaan apapun ternyata suaminya tidak dapat menerima kebiasaannya, tidak lama kemudian terungkaplah bahwa suaminya tidak lagi disukainya. Suaminya tidak lagi menghormatinya, senantiasa menyusahkan dan suka menghambur-hamburkan uang. Khanasa meminta bantuan kepada saudaranya, Shakhr. Ketika dia mengalami kesulitan keuangan, Shakhr pun memberinya uang dan kembali suaminya menghambur-hamburkannya, suatu kegembiraan yang menyakitkan.   

            Dikisahkan, bahwa ketika Khanasa mendatangi saudaranya untuk yang keempat kalinya untuk meminta bantuan karena suaminya membutuhkan bantuan itu, Shakhr pun memberikannya:

            “Demi Allah aku tidak memberinya karena kemiskinannya, dia adalah sosok yang suci dari perbuatan tercela, sungguh telah tertutupi aibnya. Walaupun aku harus binasa, terkoyak oleh keledainya dan aku akan mengambil rambutnya sebagai lambang kemuliannya”

            Dua bait syair ini tertulis pada seutas tali yang diikatkan pada leher Khanasa, sampai dengan akhir hidupnya, seperti yang akan kita lihat setelah ini. Dengan alasan apapun, akhirnya usai sudah pernikahan mereka, mereka bercerai dan Khanasa kembali kerumah orang tuanya, anak pertamanya menemaninya yang bernama Abdullah dan mendapatkan julukan Abu Syajarah.

###

            Suaminya yang kedua juga merupakan putra pamannya sendiri juga. Nama suaminya itu adalah Mirdas bin Abi Amir As-Sulami, yang berjuluk al-Faidh (sang dermawan), karena kemurahan hatinya, dari pernikahannya dengan Mirdas bin Abi Amir As-Sulami ini, Khanasa memiliki tiga orang anak, yaitu: Yazid, Muawiyah, dan Umar. Dan juga seorang putri yaitu Umarah binti Mirdas.

            Suaminya yang kedua ini lebih baik dari pada suaminya yang pertama. Kematian suaminya ini sangat membekas dalam dirinya, ia melepaskan kepergian suaminya dengan sebuah syair yang berisikan banyak kenangan-kenangan. Dia tidak mengungkapkan kenangan-kenangannya bersama suaminya, maka hal ini tetap menjadi sebuah misteri.

###

            Saya mencoba untuk menyambungkan orang yang berpengaruh dalam kehidupan Khanasa dan hal-hal lain yang ada yang dikaitkan kepadaya, yang menyerupai kepahlawanan dalam kisah cerita-cerita. Dia adalah saudaranya sendiri, Shakhr. Khanasa telah menolak memakaikan baju kerajaan darinya, karena sedikitnya kelompok manusia yang dapat hidup, semuanya dengan jalan manusia lainnya, menyalahi keadaan.

            Khanasa tenggelam dalam meratapi Shakhr selama tiga puluh tahun, sampai akhirnya ia mengikat rambutnya dengan tali, yang kemudian menjadi julukannya, sebuah nama yang menggambarkan kesabarannya.

            Adapun pahlawan yang kedua adalah saudara tertuanya, Muawiyah. Dia meninggal lebih dulu sebelum Shakhr, dia adalah kekuatan terpenting dalam keluarga Salim, dia adalah orang yang terkuat dalam perang. Dia menjadikan kabilahnya terpandang diantara kabilah-kabilah yang lainnya, ketika ia terbunuh dalam salah satu peperangan, maka Shakhr menggantikan kedudukannya.

            Dia berkata dalam sebuah komentarnya terhadap syair Khanasa, sesungguhnya Khanasa berkata hanya satu rumah atau dua rumah saja, sampai akhirnya terjadi gempa bumi  besar yang menewaskan saudaranya, diapun lantas mendendangkan syairnya secara sempurna.

            Akan tetapi pendapat ini bukanlah sebuah pendapat yang sempurna, ketika saya memperhatikan riwayat-riwayat para ahli sejarah dan juga peneliti, bahwasannya Khanasa telah lebih dulu terkenal sebelumnya, yaitu pada masa gadisnya ketika masih muda, ketika Duraid datang untuk melamarnya, jika tidak, bagaimana saya menafsirkan tentang keinginan masyarakat waktu itu yang meminta Khanasa untuk membela diri dan membalas ejekan Duraid, bagaiana dengan kekuatannya dan juga kepercayaan dirinya?

###

            Khanasa mensifati kedua saudaranya dengan sifat-sifat yang indah, ketika ia berkata:

“Demi Allah, Shakhr adalah bagaikan sorga bagi orang-orang miskin, yang dapat membunuh para tentara dengan cepat walaupun tanpa senjata. Dan demi Allah, bahwa Muawiyah orang yang selalu melaksanakan ucapannya”

Dikatakan kepada Khanasa:

“Siapakah yang paling dermawan dan paling agung diantara keduanya?”

Dia berkata:

“Adapun Shakhr adalah laksana panas pada musim kemarau, dan Muawiyah adalah laksana hawa dingin yang menyejukkan”

Dikatakan kepadanya:

“Siapakah yang paling menyakitkan dan paling menyedihkan diantara keduanya”

Dia menjawab:

“Adapun Shakhr memiliki keteguhan hati laksana bara api yang menyala-nyala, adapun Muawiyah laksana penyakit dalam dirinya”

###

Sedikit tambahan kata-kata, bahwa Muawiyah dan Shakhr adalah dua orang yang senantiasa melindungi Khanasa, jika tidak karena kedua saudaranyanya ini maka bakat penyairnya tidak akan muncul dan menjadikannya terkenal yang telah mengabadikan namanya diantara penyair-penyair besar Arab.

Seperti yang telah saya katakan diawal, Muawiyah terbunuh dalam salah satu penyerangannya terhadap Bani Qurrah, dan seperti dalam kebiasannya, maka yang menggantikan posisinya dalah saudaranya yang muda, Shakhr. Dia membantai musuh-musuhnya dan akhirnya dapat membunuh Duraid yang telah membunuh saudaranya.

Diapun menjadi pahlawan bagi kabilahnya. Dan terangkatlah derajatnya. Kisah hidupnya ramai diperbincangkan orang. Dia juga pernah melakukan sebuah penyerangan terhadap kabilah Bani Asad bin Khuzaimah, dan terjadilah pertempuran yang sengit. Kawan-kawannya tercerai berai dan meninggalkan dirinya sendirian. Lalu Abu Saur menikamnya dengan kuat tepat pada lambungnya. Tikaman itu melukainya dan dia berusaha mengobati selama beberapa tahun sampai akhirnya membunuhnya.

Keinginan Khanasa, dengan memperhatikan apa yang telah dikatakan oleh para periwayat adalah mengetahui bagaimana kejadian yang sesunggunya, musibah yang menimpa Shakhr? Hatinya senantiasa dilanda kerisauan, merasakan keadaan kota yang ditinggalkan saudaranya. Hal ini menunjukkan kepada saya tentang adanya kebesaran hati dalam jiwanya, berupa simpati, yang dicurahkan kepada saudaranya. Ini adalah sesuatu yang aneh dan langka: dia tidak kuasa menaggungkan kegelisahannya, seperti halnya dia tidak kuasa mendengar kisah seorang pahlawan yang kalah  dalam sebuah penyerangan dan pasrah karena menderita luka.

Hal ini semakin menguatkan tentang keberaniannya yang tangguh, dan juga semakin menguatkan saya pada pendapat-pendapat lain mengenai dirinya. Sangat jelas, bahwa ia adalah seorang pemberani dan sosok yang memiliki keinginan kuat, keduanya dapat diluluhkan oleh rasa simpatinya.

###

Putra tertuanya adalah Abdullah (Abu Syajarah), yang merupakan putra dari suami pertamanya. Dia adalah seorang yang kuat dan pemberani, masuk Islam dengan kabilahnya pada tahun 8 H. Lalu keluar Islam sebentar sebelum akhirnya kembali memeluk Islam dan memuliakan Islamnya, lalu ia bersaksi beserta ketiga saudarara dalam sebuah perang suci pada tahun 16 H. sewaktu mereka keluar beserta tentara umat Islam untuk menyerang Persia.

Dikisahkan bahwa Khanasa menyertai putra-putranya, dia mengobarkan semangat perang kepada mereka dengan kata-katanya yang bagus, dan menceritakan kepada mereka tentang sorga, dia berkata:

“Wahai umatku, sesungguhnya kalian adalah orang-orang Islam yang taat, perjalanan kalian adalah bagi orang-orang yang terpilih. Demi Allah, tidak ada Tuhan selain-Nya, kalian adalah putra dari seorang ayah yang satu dan putra dari seorang ibu yang satu. Tidak ada aib dalam keturunanmu dan tidak ada perubahan dalam keturunanmu.

Ketahuilah bahwa rumah yang ada di sorga jauh lebih baik dari rumah yang didunia. Bersabarlah, jadilah engkau orang-orang yang sabar, bertaqwalah kepada Allah , mungkin saja engkau menjadi orang-orang yang beruntung. Ketika engkau melihat peperangan, maka bersiap sedialah untuk maju kemedan pertempuran, nyalakanlah api pada daun-daun peperangan dan sempurnakanlah peperangan. Berkelahilah dalam kecamuk peperangan  raihlah seseuatu yang kalian inginkan dan juga kemuliaan, dalam rumah keabadian dan kemuliaan.”

Ketika nampak subuh pada mereka, mereka saling membangunkan, mereka menyanyikan beberapa buah lagu yang menuturkan didalamnya orang-orang yang malang sampai akhirnya mereka terbunuh. Ketika sampai kepada Khanasa kabar mengenai mereka, dia berkata:

“Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah memberikan kemuliaan kepadaku dengan terbunuhnya mereka, dan aku memohonan kepada Tuhanku untuk megumpulkanku dengan mereka dalam kasih sayang-Mu yang abadi”

Apakah saya akan melanjutkan untuk menyempurnakan riwayat ini? Tergantung. Akan tetapi syair Khanasa disandarkan pada riwayat ini, ia adalah sosok wanita yang sangat pemberani, sewaktu memeluk Islam dan beriman, tidak terhitung lagi kesedihan dan perasaan putus asa yang dia biarkan dalam meratapi kedua saudaranya. Atau dia adalah seorang yang lemah? Dia memiliki keterbatasan yang menjadikannya tidak dapat melakukan hal-hal baru, yang dapat digunakan untuk tempat pelampiasan dengan menuliskan simpatinya dalam sebuah syair.

###

Dikisahkan bahwasannya Khanasa berlindung pada satu rumah atau dua rumah, sampai akhirnya Muawiyah, saudara tertuanya meninggal. Dan ia menuliskan lagu-lagu ratapan. Pendapat ini diterima oleh sebagian para peneliti, dan sebagian yang lain menolaknya pada sebab-sebab munculnya ratapan Khanasa. Akan tetapi dalam hal ini, ada sesuatu yang tidak dapat diragukan, yaitu bahwa musibah terbesar berupa adanya luka seorang penyair, karena dia mengalami luka yang mendalam dalam hidupnya.

Kehidupan Khanasa senantiasa diliputi oleh kesibukan, sampai ahirnya datang kesedihan besar menimpa berupa kematian pahlawan yang pemberani, Muawiyah, dia menampakkan lukanya dengan syairnya yang memilukan. Disusul kemudian dengan yang kedua kalinya, berupa kematian Shakhr yang menyentuhnya mendalam.

Shakhr adalah saudaranya, dia adalah orang paling mulia diantara rakyatnya, kedua saudaranya ini sangat mencintai Khanasa. Mereka adalah sandaran Khanasa ketika susah dan menjadi tempat berlindung  dari ketakutan tatkala kesusahan mendera. Kepada siapa dia akan mencurahkan kata-katanya? Dan bagaimana ia tidak mengeluarkan isi hatinya terhadap saudaranya ini, dengan menitikkan air mata yang terasa panas membakar pelupuk matanya dan melukainya selama tiga puluh tahun? Terlebih ini adalah sesuatu yang dinanti-nantikan oleh saudaranya itu dari Khanasa.

Ratsa’ adalah sebuah istilah yang menunjukkan perasaan sedih yang sangat mendalam yang menimpa para wanita pada masa jahiliyah, merupakan sebuah ujian yang melekat pada wanita waktu itu. Seperti halnya ini juga menjadi jalan kemasyhuran dan keabadian bagi kabilah. Seorang laki-laki akan menantikan dirinya akan ditangisi oleh wanita. Syair ratapan adalah mulut dari kondisi kabilah. Kalimat-kalimatnya begitu berisi yang menampakkan kesesahan suatu masyarakat dan membangkitkan masyarakat untuk menunut balas.

Demikian juga hal ini juga menjadikan Shakhr dan Muawiyah, perasaan saudara wanitanya terpaut kepadanya, kepada dua orang pahlawan dan kemuliaan kedudukannya, keduanya dimuliakan untuk dijadikan sebagai panutan bagi bani Salim. Seperti halnya untuk mengingat-ingat keduanya, maka diperingatilah hari besar dan acara perayaan. Kabilah itu menjadi terkenal dengan kemasyhuran Khanasa.

Syair ratapan pada masa Khanasa ada dua macam bentuk: ada kalanya karena berkabung dan ada kalanya karena pertemuan. Adapun syair Khanasa terbagi menjadi dua macam: yaitu syair yang dia ucapkan pada masa jahiliyah (ini yang terpenting) dan karena syair ini ia mencapai kemasyhuran, lalu syairnya ketika ia memeluk Islam, yang sangat memungkinkan untuk membedakannya dari penggambaran-penggambaran dan pemahaman-pemahan penguasannya terhadap agama baru pada Arab badui.

###

Dikisahkan bahwa Aisyah, ibu para orang mukmin pernah mengunjungi Khanasa, ia merasa susah ketika melihatnya sewaktu ia melihat Khanasa mencukur rambutnya, berpakaian gamis tanpa lengan yang menandakan perasaan susahnya. Merangak dengan tongkat layaknya orang tua, lalu ia berkata kepada Khanasa:

“Apakah engkau Khanasa?”

Dia menjawab:

“Benar, wahai ibu”

Aisyah berkata:

“apakah engkau memakai gamis tanpa lengan, dan Islam melarang memakaikannya”

Kepalanya tertunduk dan dia menjawab dengan kesedihan mendalam:

“Saya tidak mengetahui akan alarangan ini”

Lalu Aisyah bertanya kepada Khanasa:

“Apa yang menyebabkan engkau tidak mengetahuinya?

“Kematian saudaraku, Shakhr.”

Beredarlah kabar-kabar yang mengisahkan dirinya yang diakibatkan oleh kematian saudaranya. Semoga kemuliaan dan keagungan saudaranya melimpah kepadanya.

###

Dalam sebuah riwayat yang lain mengatakan bahwasannya Khanasa tinggal di Madinah, dan merupakan orang jahiliyah, bukanlah orang Islam.

Pada masa Umar, ia mendatangi Khanasa dan berkata:

“Wahai Khanasa…”

Dia mengangkat kepalanya dan berkata:

“Apa yang engkau kehendaki?”

Lalu umar kembali melontarkan pertayaan sebelum Khanasa menjawab:

“Apa yang telah melukai kedua matamu”

Dia menjawab:

“Tangisan akan kejadian-kejadian yang menyusahkan”

Umar berkata:

“Mereka semua mati dalam keadaan jahiliyah, mereka adalah api bagi Abu Lahab, penghuni perut neraka jahannam.

Dia menjawab:

“Itulah yang menjadikan bertambah deritaku”

Umar berkata:

“Bersumpahlah kepadaku atas ucapanmu”

Ketika Khanasa bersumpah kepada Umar, Umar berkata kepada orang yang ada disebelahnya:

“Tinggalkanlah dia, karena sesungguhnya ia dalam keadaan kesedihan yang mendalam”

Akan tetapi Khanasa pada akhirnya menerima untuk mempelajari Islam, dia membuang dua alas kakinya yang tergantung pada keledainya sebagai wujud keseriusannya dalam mempelajari Islam, yang jelas, ia meninggalkan rambutnya terusai tidak terurus yang tumbuh diatas kepalanya, untuk merawatnya kembali.

###

Adapun kedudukannya dalam dunia syair, seperti yang telah dikatakan oleh Jarir mengenai Khanasa, sewaktu ditanya:

“Siapakah orang yang ahli dalam syair?

Dia berkata:

“Saya, jika bukan wanita ini (ia menghendaki Khanasa)

Adapun Basyar, ia berkata:

“Seorang wanita tidak akan bersyair kecuali mengungkapkan kesedihannya dalam syair tersebut”

Dikatakan juga kepadanya:

“Apakah Khanasa juga seperti itu”

Dia menjawab:

‘Dia juga seperti itu, karena seorang laki-laki”

Dalam hal ini, ada pendapat lain yang mengukuhkan kedudukan Khanasa:

“Tidak ada sama sekali wanita sebelum Khanasa dan sesudahnya yang lebih masyhur darinya”

Dikisahkan bahwa seorang saudagar yang bernama adz-Dzibyan duduk-duduk santai pada musim pasar ‘Ukadz. Lalu datang kepadanya al-A’yasy dan Hasan bin Tsabit mendendangkan syair kepadanya. Lalu datanglah Khanasa, mendengkan syair yang lebih bagus dari syair kedua orang tersebu. Saudagar tersebut kagum dan berkata kepadanya:

“Demi Allah, jika saja tidak kedua penghibur ini telah mendahuluimu, maka aku memintamu untuk bernyanyi untukku dengan baik dan aku pasti akan mengatakan bahwa engkau adalah orang yang paling masyhur dalam pasar musiman ini”

Dalam sebuah riwayat yang lain: jika saja saat ini bukanlah waktu sore hari yang telah mendahuluimu, maka aku pasti akan mengatakan bahwa engkau adalah orang yang paling masyhur diantara manusia dan jin.

###

Semua ini, jika saja menunjukan pada sesuatu, maka itu adalah pada suatu kekuatan besar. Suatu kekuatan yang ada pada diri Khanasa. Masanya telah mensifatinya, memujinya orang-orang dahulu dan sekarang, mereka mengambil ilham dari lagu-lagunya, yang panjangnya tidak melebihi tiga puluh lima baris. Salah seorang tokoh syair besar pada masanya, sampai dengan masa-masa sesudahnya.

Seperti halnya juga, ia telah menyepi dalam ratapannya selama tujuh puluh tajun, seperti yang telah dikatakan kepada saudaranya Shakhr dalam sebuah syair. Yang mana waktu tidak adakn pernah dapat menyusutkan kedudukannya, atau mempengaruhi kehormatannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Laila al-Akhyaliyah

“Walaupun sesungguhnya Laila al-Akahyaliyah tunduk kepadaku dan dan aku tidak memiliki tentara serta sebilah pedang yang besar. Pasti aku akan memberinya suatu kebahagiaan ataupun arak yang aku berikan kepadanya dalam keadaan yang amat haus yang tidak memabukkan disisi kuburannya.”

 

 

 

 

 

Namanya melintasi perjalanan zaman, dia akan senantiasa tetap tercatat dalam sejarah, dia adalah pemilik sebuah nama yang berhak disebutkan selamanya. Laila al-Akhyaliyah: saya membacanya sebagai sosok seorang penyair wanita, seperti halnya saya membaca syair lagu-lagunya yang mengisahkan dirinya dengan seorang lelaki bernama Taubah.

Syairnya senantiasa menghanyutkan zaman, akan tetapi sesuatu yang menjadi sesuatu yang agung, yang mampu melampaui ketenaran syairnya adalah kisah cerita mengenai pribadi seorang wanita.

###

Tidak mudah bagi saya untuk memisahkan kisah ceritanya dari zaman kemunculannya, lantas memberinya kesempatan untuk melepaskannya, lalu mendendangkan syairnya, menyatakan dengan terbuka cintanya kepada seorang penyair laki-laki. Saya memilih penyair laki-laki itu dan saya juga memilih Laila al-Akhyaliyah, dalam suatu masa yang terdapat didalamnya seorang wanita yang bersembunyi dibalik tirai dan juga tembok yang berupa omongan-omongan juga cerita-cerita.

Maksudnya adalah para wanita pada zaman itu memiliki cita-cita yang tingi. Ada yang mewujudkan cita-cita itu ataupun menolak ceta-cita itu untuk mewujudkannya, hanya berangan-angan dan tidak mewujudkannya. Karena semua hal ini berada dalam sebuah tembok tebal, hanya terdapat sedikit lobang bagi para wanita untuk dapat menerobosnya, yaitu ketika mereka menjadi para penyair wanita, atau memiliki kedudukan tinggi dalam masyarakat.

Saya mengetengahkan contoh seorang penyair wanita yang disebut-sebut sebagai pemimpin penyair wanita sepanjang zaman, yaitu Khanasa. Yang muncul lebih dulu dari pada Laila al-Akhiliyah dalam dunia syair yang membawakan syair-syairnya pada mimbar-mimbar terhormat. Ketika dia kembali dari pasar ‘Ukadz. Syair-syairnya memperlihatkan kecerdasannya, yang dilombakan oleh para kritikus syair pada masanya.

            Laila al-Akhiliyah adalah seorang penyair wanita dengan bentuk dan warna yang lain. Ketika Khanasa berduka cita atas kematian kedua saudaranya yang menyebabkan kemasyhuran dan keabadiannya, maka sesungguhnya syair-syair sendu adalah syair-syair yang mencantumkan namanya sepanjang masa, yang sampai kepada saya secara turun temurun dengan melebih-lebihkan dalam keberanian dan kesetiaannya.

###

Saya tidak mengetahui secara sempurna mengenai sejarah kelahiran Laila al-Akhiliyah binti al-Akhil (bin Dzi ar-Rihalah bin Syadad bin Ubadah bin ‘Uqail), saya hanya mengetahui sejarah meninggalnya saja, seperti yang dikemukakan oleh para ahli sejarah, yaitu pada tahun  80 H. Hal ini yang saya maksudkan bahwasannya para penyair perempuan dilahirkan dan berkembang pada abad pertama Islam.

Para ahli sejarah dan juga buku-buku sejarah menuturkan mengenai sifat-sifat seorang wanita yang bernama Laila al-Akhiliyah, lantas mereka mengabarkannya kepada saya bahwa dia adalah seorang wanita yang cantik, seorang wanita yang bagus bicaranya, seorang penyair yang unggul diatara para penyair yang ada pada waktu itu. Akan tetapi tidak hanya berhenti disitu saja, bahwa kepandaiannya hanya terletak pada membuat syair-syair saja, akan tetapi ia  juga melestarikan syair-syair cinta Arab, hari-hari besarnya dan juga kemashurannya.

Hal ini semakin mengukuhkan saya bahwa sesungguhnya wanita Arab pada masa itu, tidak hanya mencukupkan diri dengan pemberian yang ada pada mereka, akan tetapi mereka senantiasa mengembangkan syair-syair yang telah diketahuinya. Pada masa Laila al-Akhiliyah mereka merasa haus akan ilmu pengetahuan yang sempurna, ilmu mengenai syair-syair cinta adalah salah satunya. Demikian juga dengan menjaga sejarah dan memindahkannya dari masa kemasa.

###

Semua ini senantiasa berada dalam bayang-bayang sosok kunci yang ada dibalik kemasyhurannya, yang saya maksudkan adalah Taubah bin Humair al-‘Uqaili. Salah satu anggota bani Khafajah, dia adalah sosok yang telah mengangkat kedudukan Laila al-Akhiliyah akan tetapi rahasia ini tidak lama tersimpan, karena Laila al-Akhiliyah mengungkapkannya dalam syair-syairnya, yang dikisahkan dalam sebuah kumpulan syair, lalu dicatat dalam sebuah buku sastra supaya ia dapat menjaganya setelah kematian Laila al-Akhiliyah.

Taubah adalah seorang pemuda pemberani yang berakhlak mulia, bagus bicaranya, dan juga seorang penyair. Sebagian bentuk syairnya terhadap Laila al-Akhiliyah adalah:

“Walaupun seseungguhnya Laila al-Akahyaliyah tunduk kepadaku dan dan aku tidak memiliki tentara serta sebilah pedang yang besar. Pasti aku akan memberinya suatu kebahagiaan ataupun arak yang aku berikan kepadanya dalam keadaan yang amat haus yang tidak memabukkan disisi kuburannya.”

###

  Ketika saya melihat adanya suatu bentuk kekaguman dari kalimat-kalimat yang saling berlawanan dalam syair Taubah, adanya tarik menarik antara dua sisi cinta dan bahaya yang mengancam, hidup dan mati, hal ini dikarenakan bahwa seorang penyair adalah sosok pejuang, dia adalah sosok pemberani yang kuat, ini adalah jati dirinya yang sesungguhnya  dalam petualangan hidupnya.

Sepertinya ia sangat mendalami berbagai macam sebab yang menjadikan syair-syairnya berbeda-beda berdasarkan kedudukannya, karena sifat pemberani adalah sifat yang paling menonjol dalam diri seorang laki-laki, yang diperolehnya dengan terlebih dulu melakukan pembelaan diri dari keganasan macan.

Telah dikatakan lebih dulu mengenai Taubah untuk memposisikan dirinya, walupun hanya dalam inti-inti dari syair-syairnya. Dia terbunuh dalam sebuah peperangan. Ketika kabar mengenai kematiannya sampai kepada Laila al-Akhiliyah, secara spontan dia sangat bersedih atas kematiannya, dan melepaskan perhiasan yang ada pada lehernya dan memakiakan pakaian duka, lalu dengan mudah mendendangkan syair-syair ratapan terhadap kematian Taubah. Ini adalah syair terbaik yang pernah didendangkannya.

Disela-sela duka citanya yang tersiar karena kematian pemuda pemberani, hal ini saya ungkapkan sekali lagi, bahwa Khanasa, seperti yang telah kita ketahui bahwasannya ia tidak mendendangkan syair-syairnya kepada suaminya ataupun kekasihnya, akan tetapi kepada saudaranya yang kuat.

Salah satu syair yang paling terkenal dari Laila al-Akhiliyah adalah:

“Tangis seorang perawan adalah karena sakit pada betisnya karena lelah, yang menderanya pada musim penghujan dan kemarau yang juga terjadi pada permulaan musim semi, pada seorang pemuda yang mendapatkan semua kemuliaan dan tidak ada hidupmu sehingga terjaga kemuliaan semuanya.”

Dari sela-sela kata-katanya, saya mengetahui bahwa Taubah adalah seseorang yang baru menginjak dewasa, akan tetapi ia tidak menyukai diusianya yang masih tergolong muda, sudah mendapatkan kemuliaan. Mendapatkan penghargaan karena keberanian dan keunggulannya.

Saya merunut pembacaan mengenai paras muka Taubah, dengan menggambarkanya melalui bait-bait syair ini yang terlihat sempurna kehalusanya, dia berkata:

“Ada seorang pemuda yang mendaji pemimpin dengan menyandang pujian dan kemualiaan, sebuah jalan rahasia yang tidak banyak dilihat kebanyakan orang, seorang pemuda yang hidupnya dari wanita kekasihnya, sosok pemberani yang memiliki kekuatan tersembunyi yang mencengaangkan” 

Saya tidak membaca syair-syair yang menggambarkan secara langsung paras muka Taubah sehingga saya dapat mengira-ngirakannya, akan tetapi ini merupakan kebiasaan para ratu pada zaman itu, dan merupakan sebuah ketundukan masyarakat, karena sebuah syair mengandung maksud manusia, mencatatkan kata-kata meletakkan gambarannya.

Lalu saya kembali menikmati syair-syair Laila al-Akhiliyah:

“Aku membagi tangis tangisku setelah kematian Taubah, aku mengumpulkannya dalam sebuah lingkaran yang didalamnya terdaat beberapa lingkaran lagi”

Ini adalah sebuah perkara yang selalu dipegang teguh oleh para penyair, senantiasa menyesuaikan kata-kata, mereka tidak pernah mengubahnya, kecuali pada syair ratapan.

Dia mendengar ada orang yang menghina kematian pemuda kekasihnya, diapun merasa terguncang dan berkata:

“Demi umurku, tidak ada peperangan tanpa pemuda, ketika para pemuda itu tidak lagi hidup dalam kesepian”

###

Syair-syair Laila al-Akhiliyah berjalan melintasi gurun, dan para periwayat meriwayatkannya, terkenallah nama Laila al-Akhiliyah, dia adalah sosok pahlawan. Terlebih tidak lama kemudian dia berkukuh hati, tidak mncukupkan dirinya dengan tetesan air mata, akan tetapi ia menetapi rencana yang telah dirancangkan oleh Taubah untuknya. Diapun keluar menuju barisan tentara wanita untuk berperang.

Saya tidak tahu banyak mengenai kabar dirinya dalam peperangan, yang paling masyhur yang sampai kepada saya adalah kisahnya dengan khalifah Muawiyah. Khlalifah Muawiyah memberinya isyarat dari atas bukit, dia menyangka Laila al-Akhiliyah adalah seorang laki-laki ksatria, maka ia memerintahkan kepada salah satu pengikutnya untuk menemui Laila al-Akhiliyah dan menghadapkan kepadanya. Maka berjalanlah utusan Muawiyah dibelakang laki-laki ksatria yang disangkakannya, ternyata dia adalah seorang wanita ksatria, maka terbongkarlah rahasia Laila al-Akhiliyah, lalu dia menghadap Muawiyah dan berkata:

“Muawiyah aku tidak mengukuhkan kedatanganku kepadamu dengan turun dari kendaraanku seperti halnya kuda yang bagus dan kencang larinya, menjelajah bumi yang dikehendaki seperti engkau, ketika ada orang yang pucat karena susah dan memberinya minum dan aku mengharapkan kebaikan darimu untuk tetap hidup supaya dapat menghadang mega”  

Seorang wanita ksatria yang peka perasaannya? Tiba-tiba dia datang, Muawiyah terkejut. Muawiyah pernah mendengar kisahnya bersama Taubah, lalu Muawiyah bertanya:

“Apa yang engkau kehendaki, wahai Laila?

Dia menjawab:

“Tidak pantas orang sepertiku meminta sesuatu kepada orang seperti engkau, engkau boleh memilihkannya”

Dikatakan bahwa Muawiyah memberinya lima puluh onta. Sepertinya Muawiyah ingin menjawab pertanyaan Laila al-Akhiliyah, dia bertanya kepadanya:

Celakalah engkau, wahai Laila, apakah engkau seperti yang dikatakan orang-orang, bersama Taubah?

Dia menjawab:

“Wahai pemimpin umat Islam, tidak semua orang berkata benar”

Lalu dia melanjutkan dengan kata-kata yang indah:

“Manusia adalah ibarat pohon pembohong, mereka semua menghasut ternak dimanapun berada, dan kepada semua orang. Taubah adalah ibarat anak yang menempel, pembatas mulut, kawan yang menggembirakan, pembawa berita yang agung, orang yang memaafkan kesalahan, serta bagus pandangannya”  

Muawiyah menganggap panjang dalam pembelaan diri Laila, lalu Laila mebacakan sebuah syair yang berisikan pujian kepada Taubah, lalu Muawiyah bertanya kepadanya:

“engkau adalah orang-orang yang sempurna”

Dia menjawab:

“Saya adalah orang-orang yang penuh dengan kekurangan, wahai tuanku”

Kembali Muawiyah bertanya kepadanya:

“Selama ini engkau dimana?”

Dia menjawab:

“Beragam ujian telah mendatangiku sewaktu ujian-ujian itu telah menimpaku dengan sempurna, dan berkurang dari masa kemasa sampai akhirnya menimpaku lagi. Menjadi seperti seekor singa betina yang kakinya pincang, anak-anak singa dan juga pemiliknya menerima keadaan ini menunjukkan kebijaksanaanya dengan bersimpati ketika mencoba untuk membuang racun yang mematikan sehingga tidak membunuhnya”  

###

Laila al-Akhiliyah pernah berdebat dengan Marwan bin al-Hakim dan Abdul Malik bin Marwan. Beberapa alasan yang dilontarkannya adalah:

“Ketika ada beberapa alasan mengenai bumi yang sakit maka temukanlah sumber penyakitnya dan obatilah. Kesembuhan bumi dari penyakit itu adalah pertentangan yang menjadikan anak-anak meminum air anak sungai yang bergoncang”

Perdebatan itu semakin mengasikkan, lantas Marwan bin al-Hakim dan Abdul Malik bin Marwan berkata:

“Engkau tidak mengatakan bahwa aku adalah seorang pemuda, akan tetapi negkau mengatakan aku sebagai orang tua yang renta”

Lalu ia bertanya kepada Laila al-Akhiliyah:

“Wanita mana yang lebih engkau sukai ketika mereka datang disisimu?”

Dia berkata:

“Siapa sja wanita-wanita itu, wahai pemimpin?”

Muawiyah berkata:

“Umi Jilas binti Sa’id bin ‘Ash al-Umawi, dan Hindun binti Asma’ bin Kharijah al-Fazariyah, dan Hindun binti Muhallib binti Abi Safarah al-‘Itkiyyah”

Dia berkata:

“Orang yang seimbang denganku yang lebih aku sukai, aku menghendaki Hindun binti Asma’ bin Kharijah al-Fazariyah.

Sehari kemudian, dia menemuinya dan Muawiyah berkata:

“Wahai pemuda, berilah ia limaratus dinar”

Laila al-Akhiliyah berkata:

“Wahai raja, apakah engkau menganggapnya sebagai uang lauk pauk (Laila mengehndaki onta berwarna putih)

            Lalu berkatalah orang itu:

“Perintah raja kepadamu adalah memberikanmu domba”

Dia berkata:

“Sang raja lebih mulia dari hal ini”

Dikatakan bahwa laila al-Akhiliyah menjadikan tiga ekor onta betina untuk mengejek raja, dan sang raja untuk memberikannya seekor domba. Dalam kesempatan yang lain, para ahli sejarah menuturkan bahwa Laila al-Akhiliyah marah kepada An-Nabighah al-Ja’di atas kelakuannya, karena dia telah membacakan sebuah syair mengenai dirinya yang membangkitkan amarahnya, ia bangkit dari tempat duduknya dan inilah sebagian dari kata-katanya:

“Wahai kekasihku Laila, aku berkata kepadamu: ingatlah bahwa engkau telah melakukan suatu penipuan yang memalukan”

Kata “hala” ini digunakan untuk membentak kuda, berkobarlah amarah sang penyair wanita dan membalasnya dengan kata-kata yang tidak kalah keras darinya:

“Wahai Nabigh, janganlah engkau menangis, janganlah kamu sendirian. Aku akan menjagamu diantara dua penjagamu yang buta”

Perdebatan An-Nabighah dan Laila al-Akhiliyah ini tidak hanya pada dua bait syair ini saja, jika saja saya mengetengahkan keterangannya ini, maka saya akan menunjukkan pada kedudukan seorang pemberani dan juga seorang yang tersohor, dengan tanpa menafikan adanya penyair agung pada zamannya.

Saya merasa, saya telah emmbaca sejarah kehidupan penyair wanita ini, walaupun apa yang sampai kepada saya mengenai dirinya tidak lain keculai data-data yang terbatas, untuk seorang wanita penting, dihadapan para peneliti yang sudah masuk kedalam dengan menguak sisi yang tersembunyi yang berada dalam kegelapan, karena disebabkan oleh kesulitan saya untuk membatasi sejarah kehidupannya.

Saya tidak menemukan kata-kata terakhir untuknya yang lebih baik dari pada sebait syair ini, yang diucapkanya sewaktu ia hidup disisi salah seorang pemuda:

“Pemuda adalah sosok yang hanya dapat hidup dari pemudi yang dicintainya, memiliki keberanian yang muncul dari kekuatan laksana batu apung yang tersembunyi”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Arwa As-Shalihiyah

 

 

 

“Wahai Tuanku, saya melihat dalam mimpi bahwa ditanganku terdapat sapu yang aku gunakan untuk menyapu istana raja, saya As-Sulaihi”

 

 

 

 

Dalam relung hati sejarah Arab muncul sebuah kisah yang berjalan merayap diatas tanah Yaman hampir seribu tahun yang lalu. Dia adalah Arwa As-Salihiyah seorang wanita yang memerintah Yaman pada tahun 1098-1138 M (495-532 H). pemerintahannya kala itu sangat disegani dan dihormati dan juga sangat kuat. Dengan tidak meninggalkan kecintaannya kepada rakyat jelata, karena cinta itulah yang menjadikan taat beribadah sepanjang masa.

Ketika saya menghitung untuk menuturkan sejarah Arab pada abad-abad yang lalu itu, saya menemukan bahwa kekuasaan  Arwa As-Salihiyah itu adalah sebuah pemerintahan yang lebih mendekati pada sebuah cerita yang direka-reka. Karena wanita pada zamannya, senantiasa terbelenggu dalam kebodohan yang tersembunyi dalam pekatnya kegelapan dan wajah  Arwa As-Salihiyah terlihat bagaikan bintang yang memerah ditengah kegelapan.

Saya melihatnya untuk mengukuhkan bahwa seorang wanita ketika bersenjatakan lengkap dan memiliki ilmu pengetahuan serta kekuatan diri yang mantap, sangat memungkinkannya untuk dapat menundukkan tantangan-tantangan yang ada, dan mendapatkan keberhasilan dalam perjalanannya, selagi jalan itu dapat mengantarkannya ke tujuan walaupun sulit dan terjal.

###

Arwa As-Salihiyah dilahirkan dikota ‘And, pada tahun 1046 M. Ia masih bayi ketika ayahnya meninggal, Ahmad as-Sulaihi. Dibawah reruntuhan rumahnya yang terletak ditepian sungai besar. Lalu kerabatnya mengasuhnya, raja Ali As-Sulaihi dan mengamantkan perawatan Arwa As-Salihiyah kepada istriya Asma’ yang merupakan sosok wanita terkuat pada zamannya, dia adalah sosok wanita yang kuat, pendapat-pendapat yang benar, kecerdasan dan juga pemberani.

Dikisahkan dari sang raja, ia berkata:

“Wahai Asma’, muliakanlah dia, demi Allah, karena dia adalah wanita yang menanggungkan perlindunganku, penjaga pemerintahan ini pada orang sesudahku”

Maksud dari perkataannya ini adalah bahwa Arwa As-Salihiyah bakal menjadi sosok yang sempurna, menjaga kebaikan keluarga yang merawatnya, sang raja tidak mengetahui bahwa kata-katanya itu lebih mendekati pada bentuk pengusiran halus, yang nantinya waktulah yang akan membuktikannya.

###

Para ahli sejarah mengisahkan bahwa Arwa As-Salihiyah mendatangi Asma’ pada suatu pagi, dan berkata kepadanya:

 “Wahai Tuanku, saya melihat dalam mimpi bahwa ditanganku terdapat sapu yang aku gunakan untuk menyapu istana raja, saya As-Sulaihi”

Asma mendengarkannya dengan sungguh-sungguh, sebelum ia menjawabnya:

“Wahai Arwa, aku juga seperti engkau, demi Allah, saya telah menyapu keluarga Sulaihi dan aku memberikan pada mereka urusan-urusan mereka”

Kata-kata ini muncul lebih dulu, sebelum akhirnya seorang anak yatim bernama Arwa menjadi sosok penguasa pemerintahan.

###

Sudah menjadi suatu kebiasaan dalam pekerjaan mengasuh yang diberikan kepada Asma’ bahwa seorang istri akan memilih sendiri putranya yang akan diasuh, Ahmad al-Mukarram. Pilihannya jatuh pada Arwa As-Salihiyah, sosok perempuan yang terlahir miskin dalam pangkuannya dan dia mengetahui adanya kemungkinan bahwa bayi ini kelak memiliki budi pekerti yang baik, kecerdasan tinggi, dan kecantikan yang memikat penglihatan, hal inilah yang semakin menambah harga bayi wanita ini.

Dia adalah sosok wanita yang kulitnya putih, merah kedua pipiya, tinggi perawakannya, berbadan sedang, sempurna kecantikannya bening suaranya dan agak cenderung terlihat gemuk) semua itu adalah kelebihan-kelebihan yang dicintai orah para wanita zaman itu.

Arwa as-Salihiyah menikah dengan al-Makarim ketika usinya menginjak delapan belas tahun dan kekuasaan ayahnya menjadi maharnya, yaitu kota ‘And. Keluarga ini dikaruniai buah hati berupa empat orang anak, mereka adalah; Ali, Muhammad, Fatimah, dan Umu Hamdan.

###

Arwa as-Shalihiyah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menjaga keutuhan rumah tangga dan keluarganya. Ketika tampuk pemerintahan berpindah ketanagn suaminya, al-Mukarram setelah ayahnya meninggal. Ia sangat mempercayai istrinya, dan memberitahukannya akan perkara-perkara penting yang menggerakkan roda pemerintahan dan juga menjaga kedaulatannya. Hal ini dilakukan karena ia menegetahui adanya kebenaran-kebenaran dalam pendapatnya, kebijaksanaan dan pemikirannya.

Orang-orang menjulukinya sebagai Balqis kecil mennyamakannya dengan Balqis, ratu Saba’. Dengan melaksanakan pendapat Arwa, keluarga kerajaan itu berpindah dari dari Shan’a ke kota Dzi Jabalah untuk mendiami istana Daar al-‘Izzi pada musim penghujan. Adapun pada musim kemarau, maka mereka akan berpindah ke benteng At-Ta’akkar.

Kehidupan Arwa As-Salihiyah bukanlah kehidupan yang dapat untuk bersantai-santai. Dia, sewaktu kedua matanya terbuka melihat kejadian yang ada berupa pepernagan yang meletus diantara dua kelompok rakyatnya. Raja Ali, yang merupakan ayah dari suaminya  terbunuh dalam salah satu peperangan itu. Dan berpindahlah kekuasaan setelahnya kepada putranya al-Mukarram dan tidak lama kemudian dia juga mengahirinya, ketika terlibat dalam peperangan Zubaida  terkena luka yang parah, yang disebabkan oleh adanya penyerangan, dia terhalang manusia dan akhirnya ia memberikan kekuasaan penuh kepada istrinya untuk menjalankan roda pemerintahan.

Kemudian muncullah Arwa as-Shalihiyah sebagai pemimpin pemerintahan, setelah dia memimpin pemerintahan dari balik tirai. Dia adalah orang pertama yang melaksnakan hukuman mati, setelah hal ini mendapat isyarat diperbolehkan oleh suaminya. Bertambahlah aktivitasnya, ketika suaminya meninggal, pemerintahan Fatimiyah diserahkan kepadanya, Al-Musytanshir yang telah menyerahkan semua urusan pemerintahan dan berwasiat kepada putranya Ali, dan padaku terdapat sebuah perjanjian yang ada ketika usianya menginjak sepuluh tahun.   

Sang raja mengetahui bahwa Arwa as-Shalihiyah adalah sosok yang baik, dia mengetahui bahwa Arwa as-Shalihiyah sosok wanita yang unggul, sosok yang taat beribadah, senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan, cerdas, merakyat dan bijaksana. Dia adalah sosok wanita yang gemar membaca dan menulis, menjaga kelestarian berita-berita dan syair-syair, sejarah-sejarah dan juga menghidupkan hari-hari bersejarah. Sepertinya ia juga sangat mendalami ilmu agama.

Hal inilah yang menjadikan sang raja menganugrahi Arwa as-Shalihiyah julukan “pemimpin para raja Yaman” dan “pemimpin wanita para pemimpin orang-orang mukmin”, kedua julukan ini adalah dua julukan yang sangat langka yang dapat diperoleh wanita.

###

Sampailah Arwa as-Shalihiyah menduduki tanggung jawab besar, urusan-urusan pemerintahan tersusun bertumpuk ketika diserahkan kepadanya terkait dengan masalah pemerintahan. Akan tetapi warisan terberat yang dilimpahkan kepadanya dalam pemerintahan adalah hutang.

Sa’id al-Ahwal telah membunuh sang raja agung, orang tua suaminya, lalu sesudah itu membunuh suaminya. Hutang inilah yang tidak henti-hentinya terus membelenggu kehidupan, dan menghalanginya dalam salah satu peperangan yang mengakibatkan kekalahannya. Akan tetapi hal ini menjadikan hatinya gusar dan bertekad dengan panglima pasukannya untuk menggariskan sebuah kemungkinan dengan bantuannya untuk memperdayakan musuhnya dan mengalahkannya, dengan kebesaran diri para prajuritnya.

Akan tetapi urusan-urusan itu tidak kunjung membaik dan dapat terbebebas darinya, dengan tidak adanya Sa’id al-Ahwal. Karena kemudian muncul perselisihan-perselisihan dikalangan orang-orang bani Sulaihi dan orang-orang bani Zuwaihi, maka kembali sang ratu disibukkan dengan hal ini pada suatu periode masa, lalu iapun mampu menyelesaikan perbedaan ini, karena kebijaksanaan yang dimilikinya dalam menjalankan roda pemerintahan.

Dia adalah sosok wanita, yang berjalan untuk memulihkan keadaan politik dan terus saja memulihkannya. Dia adalah wanita yang berada ditengah-tengah keluarganya yang mengalami bencana yang datang silih berganti.

Setelah ia kehilangan suaminya, kemudian putranya Ahmad dan Ali meninggal, dan menyisakan dua orang anak perempuannya.

Ini adalah bencana keluarga, ketika muncul seseroang yang menginginkan untuk memimpin kekuasaan bani As-Sulaihi, yang bernama Saba’ yang masih terhitung saudara dengannya. Dia datang untuk menuntut haknya dalam menguasai usrusan-urusan pemerintahan. Akan tetapi Arwa as-Shalihiyah mengecewakannya dan dia datang dengan cara-cara yang lain untuk mendapatkan yang diinginkannya.

###

Saba’ berjanji akan dapat memecahkan permasalahan yang menimpanya ketika dia menikahinya, akan tetapi ia menolak permintaan Saba’ untuk yang kedua kalinya, maka Saba’pun mengumpulkan pasukannya dan hendak menyerangnya, yang ia maksudkan untuk menaburkan benih-benih ketakukan dalam hatinya, menunjukkan keunggulannya atas Arwa as-Shalihiyah, dan diapun bersiap menyerangnya.

Akan tetapi Arwa as-Shalihiyah tidak lantas membiarkannya, ia mengumpulkan pasukannya untuk menghadang Saba’, hampir saja terjadi peperangan diantara bani Sulaihi jika saja tidak ada seorang raja yang menjadi penengah, Sulaiman bin Amir Az-Zuwahi. Maka terjadilah gencatan senjata, sewaktu dimintakan kepada Saba’ untuk bertemu dengan khalifah dan menerima pendapatnya untuk memecahkan permasalahan ini.

Saba’ tunduk terhadap nasihat ini dan menyepikan jalan dari barisan para tentara, lalu ia mengirimkan dua orang utusan kepada khalifah.

###

Khalifah bersedia untuk menikahkan Arwa as-Shalihiyah dengan Saba’ jika hal ini memang dapat memecahkan masalah, lalu sang khalifah mengirimkan utusan khusus kepada raja Sulaiman untuk memintakan persetujuan kepada Arwa as-Shalihiyah atas rencana pernikahan ini.

Arwa as-Shalihiyah menentang permintaan khalifah untuk mematuhi perintahnya, akan tetapi tidak lama kemudian ia tunduk, didepan desakan politik dan terjadilah pernikahan itu.. ini adalah sebuah berita baru tentang pernikahan dalam sejarah raja-raja.

Setelah melangsungkan akad nikah, Arwa as-Shalihiyah tetap menempati istananya, Daar al-‘Izzi. As-Sultan Saba’ menginginkannya, namun ia tidak menanggapinya, dan mencukupkan diri dengan mengirimkan pelayan dari pelayan-pelayan yang dimilikinya. Hal ini menyinggung kemuliaan Sultan, lalu ia mengembalikan pelayan yang dikirimkan oleh Arwa as-Shalihiyah dengan membekalinya sepucuk surat yang mengungkapkan kemarahannya dan memintanya untuk mengembalikan kehormatannya yang terhina.

Arwa as-Shalihiyah berpendapat bahwa ia telah menerima dia sebagai suami secara politis yang terjadi karena permintaan khalifah, akan tetapi ia menolak dia layaknya seorang pria yang menjadi suaminya dalam pengertian syariat.

Dia menghabiskan malam-malamnya sendiri di salah satu sisi istana supaya orang menyangka bahwa kehidupan rumah tangganya sempurna, lalu pergi ketika fajar menjelang dan berdiam di benteng al-Asyyah.

Saba’ tetap menjadi suami secara politis, sampai akhirnya datang uluran tangan penolong kepada Arwa as-Shalihiyah sampai dengan ajal menjemputnya.

Pernikahan ini telah berhasil dalam menenangkan kesepakatan walaupun sebentar. Akan tetapi setelah meninggalnya Saba’, muncullah pemberontakan-pemberontakan dan  daerah-daerahnya yang merupakan keuasaan kerajaan Suliahi. Arwa as-Shalihiyah tidak mampu mengembalikannya, akan tetapi menurut pendapatnya, yang terpenting adalah mengukuhkan apa yang tersisa dari kekuasaannya, dia tetap saja memerintah sampai akhirnya ajal menjemput. Dia mencapai usia sembilan puluh dua tahun. Ia memerintah selama hampir empat puluh tahun. Dengan kematiannya maka berakhirlah pemerintahan orang-orang Sulaihi di Yaman.

Ada sesuatu yang terselip dalam penuturan dirinya, bahwasannya Arwa as-Shalihiyah mengenai keteguhan hatinya dalam politik, sangat memperhatikan rakyatnya dengan membuat undang-undang dalam kehidupan rakyatnya dan juga undang-undang perekonomian, ia meminta bantuan kepada para penasehat-penasehat dari lain, sama seperti yang terjadi pada masa saya sekarang.

Ia menjalin hubungan-hubungan persahabatan, membangun madrasah-madrasah dan juga masjid-masjid, mengalirkan air sampai kedesa-desa dan juga kota. Dia juga sangat menghormati kepercayaan-kepercayaan lain yang ada, berupa madzhab-,adzhab lain yang ada dalam masyarakat, membebaskan ketakutan untuk memeluk agama.

Sang ratu telah menuliskan wasiatnya dua tahun sebelum kematiannya, didalamnya tercatat beragam kekayaannya yang melimpah, dia menghibahkan harta simpanannya berupa mahkota yang langka setelah wafatnya.

“Untuk mendekatkan diri, dengan pemberian itu ia ingin lebih mendekatkan diri kepada waliyullah Al-Imam At-Toyib Abi al-Qashim, pemimpin orang-orang mukmin ketika mengharap darinya dari pahala yang diberikan Allah dan mengharapkan ridla-Nya dan mendekat disisi-Nya supaya kelak dihari kebangkitan besar termasuk dalam golongan orang-orang yang selamat” 

Beberapa wasiatnya:

Aku berwasiat, ketika kematian datang kepadanya, suatu perkara yang pasti akan ditimpakan Allah kepada umatnya, sama antara yang kuat dan yang lemah, orang yang dimuliakan dan orang yang mulia, adail dalam putusannya, melaksanakannya dalam menghakimi rakyatnya yang keluar darinya(Arwa as-Shalihiyah ) dari semua yang  ditinggalkannya, semua perkara yang diserahkannya dan tercantum dalam buku ini adalah sebagai berikut:

Diantaranya yaitu; ikat kepala besar yang terbuat dari emas dan dihiasi dengan batu-batu cincin, ditengahnya terdapat yakut berwarna merah, yang dikelilingi mutiara pada sisi kanan kirinya, dan juga dua yakut yang berwarna biru, juga dua manik-manik yang halus yang dijahit semuanya dengan berbalutkan mutiara salah satunya adalah mutiara yang kecil-kecil dan berjumlah dua ratus satu biji-bijian mutiara dan lainnya berupa mutiara besar yang berjumlah dua ratus. Dua jenis mutiara ini jika ditimbang bobotnya semua mencapai tujuh puluh kilo.

Diantaranya juga ada sorban yang terbuat dari emas putih, yang ditempeli seratus biji-bijian mutiara, dua puluh enam biji-bijian mutiara yang berbentuk mata cincin, ditengahnya terdapat mutiara yang lembut, yang dikelilingi oleh batu mata cincin berwarna merah pada kedua sisinya, dan keduanya dikelilingi lagi dengan beberapa batu mata cincin yang berwarna merah, biru, hijau, berta semuanya empat puluh tiga kilo.

Diantaranya adalah sorban yang terbuat dari emas saja yang dilapisi dengan mutiara, ditengahnya terdapat batu mata cincin  berupa yakut berwarna biru, dan tiga batu mata cincin disisi kanan dan kirinya sampai dengan ujung batu mata cincin itu ada dua yang berwarna hijau dipingirnya, semuanya berjumlah seratus mutiara, berat semuanya mencapai tiga puluh kilo.

Diantaranya sorban dari emas juga, yang dipasangi batu mata cincin dengan dasaran mutiaramasing-masing dipisahkan oleh batu mata akik yan lain, semua mutiara itu berjumlah seratus mutiara yang terpasanga tersendiri dan dua puluh enam mutiara yang berlapiskan emas, berat semuanya adalah sepuluh kilo.

Diantaranya adalah topi dari mutiara, jumlah keseluruhan mutiaranya adalah seratus buah  dan sembilan belas mutiara yang berlapiskan emas, berat semuanya adalah sebelas kilo.

Diantaranya adalah sembilan puluh enam butir mutiara , dari jumlah itu terdapat dua puluh mutiara alam, dan sembilan puluh satu yang berlapiskan emas, berat semuanya adalah tiga puluh empat kilo..

Diantaranya adalah enam belas butir permata yang sangat berharga yang berlapirkan emas dan jumlah mutiaranya adalah sebanyak duaratus empat puluh depalapan biji, berrat semuanya adalah tiga puluh tiga setengah kilo.

Diantara adalah dua puluh dua batang emas yang nampak bersinar, semuanya terdiri dari seratus biji yang sangat berharga dan sembilan puluh delapan biji mutiara yang berlapiskan emas berta seluruhnya adalah lima puluh kilo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khaulah binti al-Azwar

 

 

“Wahai sang raja, sesungguhnya aku tidak membencimu akan tetapi aku hanya malu kepadamu”

 

 

 

 

 

 

Cerita ini merangkak dalam perut sejarah Arab, dan sampai kepada saya dengan cara menafsirkannya dari cerita-cerita yang ada dan bukti yang ada pada para periwayat; Khaulah binti Azwar, ksatria Arab yang pemberani.

Samar-samar kisah perjalanannya muncul dari sejarah Arab disela-sela masa pergulatan antara tentara Arab dan tentara Romawi, sang khalifah benar-benar mempertaruhkan semuanya disana. Dibawah komando panglima yang agung, Khalid bin Walid. Dia menjadi pemimpin peperangan yang berkecamuk di negri-negri Syam, hal ini adalah sesuatu menampakkan kemampuannya dalam berperang.

###

Khalid bin Walid jauh dari medan pertempuran itu. Dia disibukkan dengan dalam pertempuran-pertempuran meghadapi negri-negri Timur. Dengan cepat ia dapat memasuki jantung pertahanan musuh, memotong gurun pasir dalam waktu sepuluh hari. Ini adalah sebuah tulisan kiasan dalam kecepatannya, menyamakannya kepada cara-cara kebiasaan yang ada pada masa itu.

Ketika ia sampai dipinggiran kota Damsyik, segera ia kumpulkan kekutan pasukan yang dimilikinya, dan semuanya berjumlah tidak lebih dari lima puluh ribu tentara, untuk menghadapi tentara-tentara Romawi, yang jumlahnya lebih dari dua ratus rinu pasukan.

Ini adalah sebuah sejarah, yang bearda diatas lembaran-lembara tulisan, sebuah   tulisan yang mengisahkan Khaulah sang pahlawan. Dia memiliki seorang saudara laki-laki yang biasa dipanggil dengan Dharar. Dia tidak berada dalam markas pasukan, akan tetapi ia terkenal dengan keberaniannya, kemampuannya dalam berperang yang tergolong langka.

Dia adalah seperti apa yang telah dikabarkan oleh para periwayat kepada saya, ketika sudah terhunus pedangnya dan ia sudah naik keatas punggung kudanya, maka dia akan dengan sigap membunuh musuh-musuhnya, yang mengirimkan ancaman dalam diri orang-orang Persia dan mereka akan berhamburan, lari dari jalan-jalan menuju keberbagai arah.

Diketahui bahwasannya Dharar tidak terbiasa memakaikan baju besi untuk menghalangi pukulan-pukulan yang menderanya ataupun topi baja yang melindungi kepalanya, akan tetapi dia mendatangi hiruk pikuk medan pertempuran dengan bertelanjang dada menampakkan bulunya yang kusut, dia tidak takut mati.

###

Adapun Khaulah, tidak berkurang sedikitpun keberaniannya seperti halnya saudaranya. Ada suatu kesempatan yang memungkinkan baginya untuk menunjukkan keberaniannya, dan diapun menggunakan kesempatan itu ketika melakukan serangkaian ujian yang diadakan oleh panglima agung, Khalid bin Walid, wanita itu mengerahkan seluruh kemampuan berkelahinya dalam peperangan, kemampuan cara pengobatan luka dan juga menyuplai makanan

Khaulah adalah seorang wanita yang cantik, cerdas dan juga pemberani. Inilah yang menjadikannya diperbolehkan untuk tinggal di markas tentara perempuan dan mengobarkan semangat dalam dada kawan-kawannya, dia selalu tampil digaris depan tatkala terjun kedalam medan pertempuran dengan tanpa ragu-ragu dan rasa takut, para tentara wanita itu adalah sosok yang berpengalaman dalam peperangan yang ada dimasa lalu.

Dalam puncak meluapnya amarah peperangan, sampailah berita kepadanya mengenai terbunuhnya saudaranya dalam perang Ajnadain, sebuah kota di sebelah timur Makkah.

Para ahli sejarah mengatakan kepada saya bahwa sang panglima berjalan untuk menemui pasukannya, untuk menjemput Dharar. Sewaktu dia masih dalam perjalanan, lewatlah seorang ksatria yang menghadangnya dan menusukkan tombaknya, ia tidak menjelaskan apa-apa selain menatap dengan tajam, berbicara sendiri tanpa sadar, tidak memalingkan sesuatu yang ada disekitarnya, sampai akhirnya tentara Romawi menemukannya.

Saya mengikuti riwayat-riwayat yang mendekatkan pada cerita ini;

“Khalid bin Walid bertanya, dimana ksatria yang telah menjadikannya terluka? lalu ia menemuinya dengan pasukannya sampai akhirnya ia bertemu dengan tentara Romawi. Sang ksatria itu membantai musuh-musuhnya, dan berteriak kepada mereka dengan teriakan ancaman. Dia menghancurkan arak-arakan tentara musuh, dan mengepung mereka, dan menghunuskan pedangnya dari berbagai arah sampai akhirnya mereka banyak yang terbunuh”

            Sebagian tentara menyangka bahwa ksatria itu adalah Khalid, terlalu sulit untuk membedakan, sehingga ia tidak memperhatikan mana yang sebenarnya musuh, sewaktu  orang-orang kebingungan dari perkara mengenai siapakah sebenarnya ksatria yang mengagumkan itu.

            Kawannya bertanya kepada sang panglima (Khaulah):

            “Siapakah ksatria itu?

            Dia menjawab:

            “Khalid bin Walid”

            “Demi Allah saya sangat memusuhinya dan kagum kepadanya atas sesuatu yang tampak dari wataknya”

            Keduanya mengikuti omongan yang ada, sewaktu ksatria itu muncul:

            “Seperti bintang yang bersinar, kilat yang berlalu dalam jejaknya, sewaktu ia mendekati seseorang, ia mengabaikannya dan juga tentaranya”.

            Ketika bertemu dengan pasukan Khalid, mereka meludah disisinya, menanyakan namanya: dikatakan bahwasannya Khalid angkat bicara supaya membuka cadarnya, sewaktu ia mencaci maki Khalid, dia berkata keapda Khalid:

“Wahai sang raja, sesungguhnya aku tidak membencimu akan tetapi aku hanya malu kepadamu, engkau adalah pemimpin yang agung, aku adalah golongan seorang yang lemah, anak-anak yang dipingit akan tetapi yang menggerakkanku untuk melakukan ini adalah kehancuran hatiku, karena kesedihan yang mendalam”

###

Hati yang pemberani dan omongan yang bagus!! Sang panglima bertambah kekagumannya, dan meminta kepada ksatria untuk mengatakan jati dirinya yang sesungguhnya.  Lalu Khaulah berkata:

“Saya adalah Khaulah binti Azwar wahai pemimpin, aku bersama wanita-wanita sebangsaku, sewaktu mereka mengabarkanku bahwa saudaraku tertawan, aku bergerak, dan bertindak memuruti pendapat kata hatiku”

Lalu Khalid menjelaskan kepada pasukannya, supaya mereka dapat menerima Khaulah binti Azwar bersama mereka dan ikut berperang bersamanya dan menyelamatkan saudaranya.

###

Khaulah adalah sisi lain dari beberapa sisi kepahlawanan, keberanian dan juga kecerdikan yang ada. Dia bergerak bersama para wanita dalam beberapa peperangan di gurun pasir. Dia berkhotbah kepada mereka, mengajak mereka untuk berperang sampai akhirnya para wanita itu bertempur dalam menghadapi kekuatan musuh.

Salah seorang wanita bertanya kepadanya, wanita itu bernama Nuwairah:

“Kami tidak tahu bagaimana cara melakukannya, wahai saudaraku, kami tidak sanggup untuk berperang, dan kami juga tidak memiliki senjata?

Khaulah menjawab:

“Akan tetapi kita memiliki siasat perang, lakukanlah apa yang aku intruksikan kepadamu”

Nuwairah berkata:

:”Kami akan melaksanakan apa yang engkau intruksikan. Bagi kami, mati sebagai tawan lebih baik”

Mereka benar-benar melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Khaulah kepada mereka. Ambillah tongkat besi penyangga kemah itu, dan ikatkan tali-talinya supaya dapat menampung kita semua, semoga saja Allah menolong kita.

Berkatalah ‘Afra’ binti ‘Afar:

“Demi Allah, aku tidak melaksanakan suatu pekerjaan kecuali pekerjaan yang aku sukai, diantaranya adalah apa yang engaku perintahkan”

Lalu masing-masing dari mereka meraih tongkat-tongkat penyangga kemah tersebut. Khaulah ikut serta juga dengan meletakkan tongkat itu dipundaknya, dan para wanita berjalan dibelakangnya, lalu mereka berkata kepada Khaulah:

“Kami tidak akan bercerai berai, kami laksana lingkaran yang berputar, dan tidak akan pernah terpisah, hanya kematian yang dapat mencerai-beraikan kami, kami menghancurkan tombak-tombak musuh dan mematahkan pedang-peadang mereka.”

Para periwayat meyakini, bahwa Khaulah telah merencanakan suatu penyerangan. Seorang yang cerdik dan cerdas tentu memiliki banyak rencana dengan pasukannya yang besar, terlebih dia adalah seorang yang ahli dalam siasat perang. Dia menginstruksikan kepada beberapa wanita untuk bergiliran jaga, sebelum dia dan beberapa kawannya mengajak mereka untuk melakukan penyergapan, menghunuskan pedang-pedang mereka, lalu mereka semua bergerak menghancurkan markas panglima Romawi. Ternyata dia sedang bersantai-santai dengan kawan-kawannya, tidak memperdulikan serangan yang dilakukan oleh para wanita itu.

Penyerangan itu terjadi dengan tiba-tiba, dengan leluasa para wanita itu membunuh semua tentara musuh yang ada dalam peperangan itu, barisan tentara musuh pun menjadi kocar-kacir.

Para ahli sejarah melihat, penyerangan ini adalah sebuah penyerangan yang datang dengan tiba-tiba yang tidak pernah diperkirakan musuh. Khaulah dan bala tentaranya berhasil memerdekakan kota Damsyik. Khaulah keluar dari medan pertempuran dengan memperoleh kemenangan, dan dia berkata:

“Saya adalah wanita yang penurut dan pemalu, saya tidak mengingkari bahwa saya telah menyerang kelompok orang, karena sesungguhnya dalam peperangan aku adalah laksana api yang menyala, dihari itu mereka meminum siksaan besar”

Bagaimana dengan Dharar?

Seperti yang telah diketahui, bahwa saudaranya menjadi tawanan. Sebelum sampai adanya berita kepadanya mengenai keberanian Khaulah, dia bersama dengan pasukannya bergerak untuk membantunya, dan keluarlah para tentara Arab dari peperangan itu untuk menolong, perjalanan mereka ternyata dibuntuti oleh Hams dan Hamah. Akan tetapi Dharar berdiri ditempat yang memungkinkannya untuk bersembunyi dari musuh-musuhnya, sebuah tempat yang diyakini sebagai tempat keramat.

Ketika Khaulah mengetahui keadaan seperti itu, maka ia bergegas untuk menyelamatkannya, akan tetapi berita mengenai kematiannya datang lebih dulu. Khaulah meratai kematian saudaranya, dengan lagu yang memperlihatkan terbakarnya hati dan kepedihan hati yang mendalam:

“Ingatlah bahwa sang pembawa berita datang mengabarkan kepadaku setelah terjadinya perpisahan, maka dalam keadaan seperti ini siapakah yang lebih sibuk dari padaku wahai umatku. Andai saja engkau tahu bahwasannya aku melihat ini adalah akhir dari pertemuan akan tetapi aku berhenti sejenak untuk mengucapkan perpisahan dan mengutarakan janjiku. Ingatlah wahai orang-orang asing apakah engkau seorang pembawa berita? Apakah kedatangan para orang-orang asing dapat menghiburku? Salam sejahtera kepada semua kekasih disetiap masa walaupun mereka ada setelahku dan mereka terhalangi dariku”    

Dalam ratapannya, ia memiliki lagu yang lain, yang mengingatkanku kepada sosok penyair wanita agung, Khanasa, yang meratapi kedua saudaranya. Kemunculan syair ini mengisyaratkan bahwa sesungguhnya seorang wanita adalah sosok yang cerdas, halus dan juga memiliki perasaan yang peka. Maksudnya, semua hal itu ada dalam diri Khaulah, unggul, pemberani, pemilik perasaan yang lembut, jiwa yang ramah. Ini adalah sebuah bukti kekayaan dirinya. Seperti halnya ini juga menjadi suatu isyarat adanya beragam jenis wanita yang ada di alam ini, dizaman yang susah pada masa lalu.

###

Adapun lagu Khaulah yang berisikan ratapan kepada saudaranya, maka saya mencukupkannya pada dua bait syair ini:

“Apakah setelah saudaraku merasakan kegelapan mataku, bagaimana ia tidur dengan tangan yang terluka, saya akan menagisi apa yang menjadikanku hidup, kepada kekasih. Yang lebih mulia dariku dari mataku yang kanan”

Ini semua adalah cerita-cerita mengenai Khaulah yang sampai kepada saya. Sosok wanita terkenal, pemberani dan langka dikalangan para wanita Arab. Ini adalah sebuah bukti bahwasannya wanita, ketika diberikan kesempatan padanya untuk bertindak dan berserikat dalam zaman apapun, mereka tidak akan menyia-nyiakan dan menunda-nundanya. Dalam kemampuan salah satu dari mereka menjadi kawan bagi pria, sampai dengan melakukan tindakan-tindakan besar dalam peperangan dan kesusahan yang melanda.

Para periwayat mencukupkan diri mengenai sejarah Khaulah seperti ini, mereka tidak mengabarkan kepdaku bagaimana kehidupan sang pahlawan setelah kematian saudaranya, dan dalam keadaan damai. Dan saya tidak tahu; apakah dia menikah ataukah dia tetap tidak menikah? Apakah dia tetap terus bersyair, atau mencukupkan diri dengan zuhud seperti berita yang sampai kepadaku?

Dia eninggal pada masa khalifah Utsman bin ‘Affan. Di abad pertama hijriyah, akan tetapi dia tetap menjadi contoh keberanian yang langka, kepahlawannaya mengilhami para penyair dan sekolah-sekolah sampai sekarang.    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Walladah binti al-Mustakfa

 

“Dan aku bagimu adalah laksana sesuatu yang amat berharga, jika saja sinar matahari tidak menguliti dan cahaya rembulan tidak juga muncul, juga bintang tidak kunjung menerangi…”

 

 

 

Terasa sulit untuk menuliskan syair-syair cerita yang terbingkai dalam lagu yang berupa syair yang terdiri dari tujuh sampai dengan sepuluh bait syair. Sesungguhnya engkau pada saat ini, merasakan bahwasannya kalimat-kalimat itu terasa hampa dari dari keindahan  dan warna-warni yang ada telah hilang. Walladah adalah seorang penyair Spanyol yang terkenal.

Kemunculannya sesudah masa seribu tahun sesudahnya, wajahnya bersinar dan terkenal, seumpama bintang pada malam-malam di Spanyol yang terasa lembut, seumpama onta yang berlari kencang diantara semak belukar dan gedung-gedung. Syair-syair yang agung melimpah ruah, hasil karya cipta pria-pria terkenal dan juga wanita-wanita terkenal yang mengisi suatu masa dalam sejarah Arab, dengan pembawaan yang khusus dan berbeda, perjalanan waktu telah mengalahkannya dengan menghilangkan jejak-jejaknya atau mengurangi makna yang terkandung didalamnya.

###

  Walladah, adalah putri Al-Mustakfa Billah, Walladah adalah seorang ratu dan seorang penyair. Ia ditakdirkan untuk pertama kali mempelajari sastra di Spanyol, seorang yang terkenal pada suatu masa. Dia adalah seorang terkasih, yang luluh dalam mencintai seornag pemimpin mulia, dia berjuluk Dzi al-Wazirataini (pemilik dua patih); yaitu pedang dan pena.

Dia menolak ketika dipanggil sastrawan, akan tetapi ia bersungguh-sungguh dalam mempelajari sastra. Pada sela-sela perlombaan-perlombaan syair antara dia dan sang pemimpin, muncul sebuah kisah cinta yang indah dalam sejarah Arab.

Dikota Qurthub ia tinggal, disanalah dia lahir. Qurthub adalah sebuah kota peradaban dan keindahan, merupakan pusat keagungan bangsa Arab. Seorang ratu yang datang dalam masyarakat kota Qurthub. Buku-buku Arab banyak yang menuliskannya, dalam bidang pendidikan, kisah negri Spanyol, pembahasan mengenai kesuburan tanah, tumbuhan yang sebuh yang dapat tumbuh dan berkembang sehingga menghasilkan buah yang bagus. Semuanya selalu saja dikaitkan dengannya.

Seperti yang telah diketahui oleh orang-orang Arab sekarang, dalam daratan negara itu bahwa sesungguhnya syair itu telah hilang, lepas dari kemuliannya karena usianya yang tua, dan juga adanya taklid yang menjerat, penambahan baru, yang lembut, menyempurnakan kehidupan dan kegembiraan dan juga kesenangan hidup berkecukupan.

Ini adalah suatu kegemaran, yang mengalir dalam darah seorang penyair, yang terus saja hidup sampai sekarang, yang terus saja berubah menjadi segar kembali dan melegakan mereka, sepertinya mereka menjadikan zaman sebagai sarapan bagi mereka dan tidak tunduk dengan zaman.

###

Dari cuplikan kisah Waladah, saya mampu membaca kisah wanita pada zaman itu, terlebih seorang wanita yang agung, yang sempurna kebijaksanaannya. Seorang ahli sejarah yang bernama Ibnu Basam berkata mengenai dirinya:

“Ia adalah sosok wanita penghuni zamannya, satu-satunya wanita zamannya: datang sebagai seorang syahid, wanita terhormat sepanjang masa, bagus pandangan dan pengalamannya, cantik lahir dan batinnya, perkumpulannya mampu menekan dan mencerai-beraikan musuh untuk memerdekakan Mesir, kematiannya laksana gurauan yang digunakan untuk memperbaiki undang-undang dan masyarakat. Mengaburkan ahli sastra untuk mengetengahkan permulaannya dan para penyair saling menghancurkan satu sama lain dan praktisi sekolahan untuk menikmati masanya dan  berkawan dengannya, untuk memudahkan penghalangnya, banyaknya perhatiannya, yang bercampur dengan kedudukannya yang tinggi, kemuliaan nasabnya dan juga kebersihan pakaiannya”

###

Para ahli sejarah yang lain, menuliskan tentang bentuk dirinya dengan kata-kata pilihan. Hal ini mengindikasikan bahwa sesungguhnya wanita yang berbeda dari sesamanya karena memiliki kecerdasan, kecantikan, kecerdikan, penyair dan sastrawan akan menjadi panutan dalam lingkungannya. Ia menaggungkan masyarakatnya yang telah memberinya kekayaan. Masyarakat itu yang ada dalam bait syair: permainan untuk memperbaiki undang-undang dan masyarakat.  Dan jadilah pemain-pemain yang baik.

Ada seorang patih yang menginginkan dirinya, dengan santainya ia menyanyikan lagu-lagu yang ditujukan kepadanya. Tidak henti-hentinya ia melihat kejadian itu, seperti yang telah kita ketahui mengenai wanita dalam sejarah. Dia adalah sosok wanita yang berbahagia pada zamannya, wanita yang gemar bersyair. Ia tidak merasa malu ketika sedang menari-nari dengan bagus, yang mendapatkan tepuk tangan dari para lelaki. Menjadi ajang taruhan keinginan seseorang dengan lainnya, dan saling mengajukan syair-syair ciptaannya masing-masing

Abu al-Walid ibnu Zaidun berhasil megalahkannya, dan dia menginginkannya. Abu al-Walid ibnu Zaidun adalah seorang penyair besar, berkedudukan tinggi yang memiliki keberanian dan kecerdikan. Dia tidak suka diagung-agungkan, sosok yang mahir dalam berbicara, semua itu adalah sifat-sifat yang disukai oleh para pria zaman itu.

Mulanya ia hanya mengacuhkan kesan pertama yang ada dalam hatinya. Dalam kelanjutannya ia menggantikannya dengan perasaan cinta dan syair. Hal ini menjadi api kedengkian dalam hati kebanyakan orang yang menaruh hati kepada Khaulah, lalu mereka bergerak untuk merusak hubungan antara kedua insan yang sedang dilanda cinta ini. Semua ini adalah perlombaan syair, dalam syair-syair cinta, teguran dan juga cercaan. Semua kata-kata mungkin saja dapat digunakan oleh dua insan yang sedang dilanda cinta, dalam keadaan lapang ataupun marah.

###

Ibnu Zaidun berkata mengenai Walladah dalam sebuah syairnya yang mengagumkan. Akan tetapi sanjungan dan pujianya dan juga kelembutan yang menjadi karakter dari syairnya dan juga sekaligus menjadi karakter dirinya yang membedakannya dari para penyair zamannya. Apakah disana ada orang yang membacakan syair Arab, dengan tidak berpangkal dari syair-syairnya yang terkenal? Ini adalah salah satu bentuk syair Walladah

“Aku lahir dirumah yang terhormat dari sanak keluargaku, menggantikan kebaikan yang aku jumpai yang merasuk sampai kedalam kalbu”

Sesungguhnya hati-hati yang dilanda cinta itu dapat membangkitkan zaman, mereka mencucurkan air mata kerinduan, nereka menggambarkannya dengan syair yang menyedihkan sebagai sebuah ujian yang terasa berat. Inilah yang dapat mengusirnya sebagai seorang raja di hati rakyatnya.

###

Saya harus kembali kepada perlombaan-perlombaan antara seorang penyair dan kekasihnya, supaya saya dapat melihat seberapa banyak wanita-wanita yang mencintainya. Sosok wanita yang lancar berbicara, penguasa dirinya dan juga kata-katanya. Dan seberapa banyak syair-syair yang matang, syair-syair yang dibuatnya dalam perdebatan yang ada diantara mereka berdua, setelah ia mengumumkan untuk menyudahi perdebatan dengannya dan memberikan emas yang berada diatas kain syal sebelah kanan pundaknya dan juga yang ada disebelah kirinya. At-Tharaz adalah sejenis kain syal dalam kamus al-‘Asyri, yang merupakan baju para ratu pada masa itu.

Walladah menuliskan sesuatu pada sisi sebelah kananya:

“Demi Allah, aku selalu memperbaiki kemuliaanku. Aku berjalan di jalanku dan menemukan tempat yang membingungkan, jika memang cintaku memungkinkan untuk mendamaikan maka ambilah, dan aku memberikan ciumanku kepada orang yang mencintainya”

Tidak, dia tidak menyerah, dia tidak segera tunduk, para ahli sejarah menguatkan adanya kelembutan budi pekertinya, dengan memaksanya untk membuka perasaan terhadap Waladah. Jika saja kasih sayang dicurahkan, maka hal ini tidak akan mencegahnya untuk menuliskan gambaran yang menutupi diatas hati untuk bersyair.

Syair-syairnya ini jelas sangat menggairahkan pada saat itu. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini memberikan petunjuk pada bukti-bukti yang dimiliki oleh para wanita Arab di Spanyol sebagai sosok yang agung, kuat dan juga gigih.

###

Dia adalah seorang penyair wanita pemberani, tidak ada yang menggerakkannya  untuk mengirimkan sepucuk surat yang berisi syair kepada kekasihnya, dan dia berkata didalamnya:

“Aku selalu menantikan tatkala kegelapan malam menutupi dan mengunjungiku. Sesungguhnya aku melihat bahwa malam itu menyimpan rahasia, “Dan aku bagimu adalah laksana sesuatu yang amat berharga, jika saja sinar matahari tidak menguliti dan cahaya rembulan tidak juga muncul, juga bintang tidak kunjung menerangi…”

 Apa yang dikatakannya pada saat perjumpaan terakhirnya? Kata-kata indah yang lain dari sekian banyak kata-kata indah yang ia miliki selalu saja mengilhami para penyair  sampai sekarang:

“Kesabaran memanggil orang yang dicintai, dan juga memanggilmu, tersiarlah rahasia apa yang engkau panggilkan, wahai saudara sang rembulan yang bersinar tenang, Allah telah menjagamu dalam beberapa masa kemunculanmu, jika malam-malam sesudahmu terasa panjang, maka berapa banyak malam aku mengeluh atas sedikitnya malam bersamamu”

Para ahli sejarah dan juga kritikus sejarah berkata, diantaranya adalah Karim al-Bustani, bahwa sesungguhnya Ahmad Sauqi ketika mengetengahkan pribadi Waladah , dengan sebuah syairnya yang terkenal:

“Jiwaku kembali berlalu denganmu, dan sebaik baik hari-hari adalah hari kepulanganku”

Walladah membaca tulisan pena kekasihnya, ia mengulang-ulang syairnya yang mencucurkan air mata:

“Ingatlah, apa yang akan terjadi pada jalanku setelah perpisahan ini, aku akan mengeluhkan semua kasih sayang yang pernah aku jumpai, dan untuk sementara waktu aku akan mengunjunginya pada musim penghujan, menginap dalam bara api pasar yang terbakar, bagaimana pada pagi harinya dapat melepaskan diri , perkiraan yang aku buat terkesan tergesa-gesa, aku berserah diri terhadap siraman Allah kebumi yang telah meberimu tempat tinggal dengan sederetan pohon korma, hujan yang turun terus-menerus yang membahayakan karena turun dengan sangat deras.”

###

Mengapa Ibnu Zaidun berpindah, ketika hal ini semua merupakan keadannya dan juga keadaannya sendiri?

Dalam hal ini banyak sekali cerita-cerita yang dikisahkan dari beberapa sebab yang menimpa jalinan cinta kasih kedua insan. Datanglah seseorang yang mengabarkan kepada Walladah bahwasannya Ibnu Zaidun, orang yang berdiam dalam lubuk hatinya yang terdalam, yang telah menjadikan ia menjadi sosok sastrawan tersohor, ternyata mencintai pembantunya yang seorang negro. Ia sangat marah dan berbuat kasar dengan membabibuta, menampakkan kebesarannya dan memandang rendah Ibnu Zaidun

Apakah diperbolehkan bagi Ibnu Zaidun untuk mencintai Walladah dan juga mencintai pembantunya? Dalam tanda-tanda pengusiran terhadap dirinya?

Ia sangat marah kepada Ibnu Zaidun, akan tetapi kemarahannya tidak memalingkannya akan semua kasih sayang dan cintanya. Dia menuliskan kesalahan-kesalahan Ibnu Zaidun, dengan kata-kata yang halus, sebagai bentuk pengharapan supaya ia mau membuka kesalahannya kepada Ibnu Zaidan:

“Jika keberadaanku menjadi bagian dalam udara yang ada disekitarku, maka engkau tidak akan mencintai pembantuku, dan engkau tidak akan memaksa dan meninggalkan tunas yang berbuah dengan kecantikannya, akan tetapi tunas itu lebih terlihat tidak akan berbuah, aku tahu, bahwasannya diriku adalah laksana rembulan dilangit, akan tetapi kebijaksanannku telah mencelakakanku, dengan membelinya”  

Adanya fitnahan-fitnahan yang datang terus-menerus telah menambah sakit kepalanya, semuanya memberikan isyarat dengan jari telunjuk kepada kekasihnya yang tidak menjaga kedudukannya, tidak menjaga cintanya. Pada awalnya mereka, Ibnu ‘Abdus, Zair Ibnu Jahwar mereka adalah orang-orang yang bersaing dengan Ibnu Zaidun untuk mendapatkan cinta Walladah.

Seperti halnya seekor ulat yang mengukir diatas akar-akar pohon, sehingga menjadikannya rapuh dan menjadikan layu dahan-dahannya. Demikian juga dengan kata-kata yang jelas-jelas mengandung racun yang menyerang tumbuhan bernama cinta yang sedang tumbuh, sehingga mampu mengulitinya dari kekuatan yan dimiliki, meninggalkannya menjadi jejak yang tertiup angin kencang dan menggantinya dengan sampah.

Kemudian arus politik mengikat Walladah, dia tidak lagi mengeinginkan seorang patih dan mengusirnya dari Cordoba dan pada sepanjang usianya terdengar adanya kisah kekasih dan juga bagusnya pandangannya.

###

Seorang wanita yang menjadi panutan zamannya yang memberikan petunjuk pada zamannya, bahwasannya saat itu telah terjadi kegilaan hawa nafsu, ketika ia merasa bahwa kemuliaannya direndahkan dan marah kepada kekasihnya dengan membentaknya dan mencacai makinya dan menjulukinya dengan buaya darat, dia berkata kepada kekasihnya:

“Bahwa sesungguhnya Ibnu Zaidun adalah orang yang bodoh, yang menggerakkanku untuk berbuat aniaya, dan hal ini tidak berdosa bagiku”

Sindiran-sindiran pahit datang silih berganti, yang menjadikan para ahli sejarah dan juga kritikus menjadi ragu untuk menisbatkan bahasa ini kepada orang yang dikenal memiliki kehalusan tutur kata dan kelembutan jiwa. Akan tetapi siapa orangnya yang mampu untuk menetapkan hukum kepastian untuk menentang tindakan seorang perempuan ketika kebesarannya terluka?

Ketika terbukti bahwa orang yang mencintainya dan ia sangat mencintai orang itu lebih memilih pembantunya yang hitam dari pada dirinya? Ataukah kisah-kisah ini sesungguhnya merupakan gambaran dalam angan-anagan saja? Atau omongan seorang pembohong?

###

Saya tidak mampu untuk mengetengahkan kebijaksanaan dengan menerima atau menolak cerita yang terjadi setelah seribu tahun yang lalu. Saya hanya mengambil kisah-kisah yang sampai kepada saya dari mulut-mulut para periwayat dan juga kritikus, yang saling berlawanan dengan perkataannya:

“Bertanyalah kepadaku tentang hidupku, maka aku akan memberikannya, aku tidak dapat menolakmu”

Akan tetapi siapa orangnya yang memungkinkan untuk mengawasi pergantian pergaulan wanita? Terlebih seorang wanita penyair?

###

Demikianlah, telah selesai kisah cinta yang agung, yang meinggalkan luka kepada dua insan yang mencinta, dan melahirkan sebuah syair siksaan, tamat dan berterbangan. Tidak diketahui dari Walladah bahwasanya ia hidup berkecukupan dengan tanpa Ibnu Zaidun, dia memiliki lagu-lagu yang lain, yang memang bukan merupakan lagu yang terkenal dalam syairnya.

Demikian juga tidak diketahui darinya bahwasannya ia menikah lagi setelah perpisahannya dengan Ibnu Zaidun, akan tetapi ia hidup menyendiri sepanjang sisa usianya, dengan melihat keterangan yang dilontarkan oleh Ibnu Basykawal dalam bukunya Ashilah, dia berkata: Dia hidup menyendiri dalam sisa usianya yang lama, dan tidak menikah sama sekali.Dikatakan bahwasannya ia meninggal pada tahun 484 H.

Adapun seorang ahli sejarah kebangsaan Prancis, Gustaf Lobon, tidak menafikan bahwa adanya pemikiran dalam bidang sastra yang berkembang di Prancis, bersumber dari Spanyol. Dengan demikian maka Walladah merupakan pemimpin pemikiran di Barat. Seperti halnya ‘Aliyah yang menjadi pemimpain Walladah di negri Timur yang terjadi pada masa lampau. Hal ini jika menunjukkan pada suatu bukti yang tidak diragukan, yang merupakan sebuah alasan jelas mengenai kedudukan yang dicapai seorang wanita pada masa itu dalam sejarah Arab.

Demikian juga dengan kebalikan dari rupa para wanita Spanyol, seperti yang kita ketahui bahwasannya mereka sangat berpengaruh dalam peradaban dan kemerdekaan berfikir, dan memilih syair sebagai satu-satunya cara terhalus untuk berkembang. Mereka memilih syair sebagai cara mereka untuk menguji keragu-raguan yang ada dalam diri mereka, dari kerinduan, perasaan cinta, kepedihan hati karena cinta, dan merasa bahagia karena cinta.

Mereka tidak merasa rendah diri berhadapan dengan para penyair pria pada masanya, akan tetapi mereka menganggap sama mereka semua, mereka saling berbicara dengan bahasa mereka, dan saling memuji dalam setiap pekerjaan yang dilakoninya. Hal ini terjadi pada masa wanita Arab berada dalam bayang-bayang kebodohan, terlupakan dibalik tembok sejarah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

As-Sittu Nasab

 

Dia adalah wanita tercantik dalam sejarah ratu-ratu Lebanon

 

 

 

 

 

 

 

Dalam sejarah Lebanon, pemerintahan Al-Amir Fahruddin al-Ma’ani II membentang sampai kenegri Timur. Perjalanan waktu tidak kuasa untuk menipiskan kebaikan dan kecantikannya. Bahkan sebaliknya, saya, pada hari ini tidak mengetahui secara jelas sejarah saya sendiri, saya mencoba mengingat-ingat masa lalu saya dan membuka selimut yang menutupinya yang meninggalkan sedikit bayangan mengenai dirinya dimata saya. Sebelum benar-benar tertutup dibelakang lembaran sejarah.

###

Ketika saya menginginkan untuk membahas suatu rahasia, dari seorang wanita yang merah pipinya, sosok wanita yang dapat meraih sukses dengan gemilang, Fahruddin. Maka saya meyakinkan diri, dengan tanpa ragu, menyatakan bahwa wajahnya begitu cantik; keturunan ksatria, wanita tercantik dalam sejarah ratu-ratu. Walladah Fahruddin; As-Sittu Nasab yang agung. Hal ini berdasarkan namanya dan juga negaranya, serta zamannya, dia juga mendapatkan julukan Sulthanah seperti halnya julukan yang diberikan oleh para ahli sejarah Barat.

Dari mana sumber kekuatan wanita? Dan apa rahasianya? Dalam perjalanan sejarah yang terasa jauh itu, berupa sejarah negri Timur, bagaimana saya dapat menggambarkan wajahnya diatas sketsa wajah yang baru?

###

Orang pertama yang menaruh perhatian serius kepada As-Sittu Nasab, dengan melihat perjalanan dan kisah kehidupanya yang tercatat, adalah seorang ahli sejarah besar yang bernama Yusuf Ibrahin Yazbik, dia juga mengungkap adanya kekuasaan khusus yang ada pada putra As-Sittu Nasab, seorang pemimpin Lebanon yang bersih, yang sukses dengan sangat gemilang, dalam semua tindakannya sampai dengan melampaui pendapat-pendapat As-Sittu Nasab yang sangat bagus, kemandiriannya, pandangannya yang senantiasa jauh kedepan dan juga kelembutan jiwanya.

Para ahli sejarah tidak berbeda pendapat mengenai kenyataan ini, baik mereka yang datang sebelum Yusuf Ibrahin Yazbik ataupun mereka yang datang sesudahnya. Dalam hal ini telah terjadi sebuah kesepakatan bulat, diantara tulisan-tulisan sejarah, sehingga dapat menggambarkan bentuknya yang elok, bahwasannya As-Sittu Nasab adalah sosok pemimpin wanita yang agung.

Dia adalah sosok yang saya kehendaki, tidak ada bukti-bukti sejarah tertulis mengenai dirinya yang menerangkannya secara rinci, maka hanya dengan menelitinya secara seksama,  untuk selanjutnya mengetengahkan As-Sittu Nasab dengan untaian huruf-huruf cahaya. Perkembangannya yang terdapat dalam mata-mata yang selalu saja muncul mengintainya, yang menjadi pertanda akan keungulannya. Dalam masanya, juga sama seperti halnya dalam masa-masa politik dalam suaru wilayah dibelahan bumi, dia adalah sosok pemimpin yang menerangi semua yang ada, yang senantiasa memperhatikan kelompoknya, mengikuti peperangan kecil ataupun besar.

###

As-Sittu Nasab adalah anak dari keluarga ksatria, dia dilahirkan pada saat adanya kekosongan ksatria, pada tahun 1546 M, hal ini dengan melihat perkiraan para ahli sejarah. Mereka tidak memberitahukan siapa nama kedua orang tua As-Sittu Nasab dan juga tidak menuturkan mengenai kisah kedua orang tuanya. Mereka hanya mencatat dan mendokumentasikan nama saudara laki-laki As-Sittu Nasab yang bernama Al-Amir Saifuddin.

Para ahli sejarah mengabarkan kepada saya bahwasannya As-Sittu Nasab tumbuh dan berkembang secara terhormat. Dia adalah sosok wanita yang memiliki wajah cantik dan juga perawakan tubuh yang bagus, sosok yang memiliki ketangkasan dan juga daya tarik, budi pekerti yang bagus dan kecerdasan yang terpancar dari kedua matanya yang senantiasa terlihat waspada, sampai dengan lidahnya yang tajam, retrorika yang bagus, dan berpandangan luas. Dia adalah sosok wanita yang sempurna, wanita yang menjadi contoh bagi zamannya dan bagi semua zaman.

###

Saya tidak mengetahui secara sempurna bagaimana perkemkembangan pemimpin wanita ini, dimana ia menimba ilmu, akan tetapi ia secara umum dapat dilihat dari sifat-sifat yang saya sebutkan tadi diatas, pendidikannya yang dia dapat dalam keluarganya yang dilingkupi suasana kejayaan pemerintahan pada saat itu.raja Qarqamaz Ma’an putra dari Al-Amir Fahruddin 1 yang telah menganugrahkan kepada putranya kekuasaan Utsmani yang berjuluk Sulthan al-Barr. Sempurnalah pernikahan kedua suami istri tersebut, pada tahun 1570  M dengan lahirnya dua orang putra, yaitu Fahruddin dan Yunus.

Akan tetapi hari-hari As-Sittu Nasab tidaklah semuanya membahagiakan, dia pernah hidup sebentar dalam suasana kesusahan yang sangat mendera, suami yang selingkuh, sebelum akhirnya angin kekejaman bertiup kencang yang mengkoyak layar kapal, dan menarik sosok wanita menuju kehidupan baru, yaitu menjadi pemimpin pasukan.

###

Hal ini terjadi pada masa yang telah lampau, ketika rakyat berani memindahkan harta-harta kerajaan yang dihasilkan negaranya kedalam topi-topi tarbus dan langsung menghadap As-Sittu Nasab untuk kemudian menuju satu tempat yang tinggi dikota Konstantinopel. Para pencuri itu mencoba menghancurkan As-Sittu Nasab dalam sebuah penyerangan disiang hari dan merampas harta benda darinya. Kehawatiran datang secara serta-merta dalam wilayah pemerintahan keluarga Saifuddin, dan juga pemerintahan terdekat seperti pemerintahan keluarga Asaf, dan juga pemerintahan tertinggi yaitu keluarga Ma’an.

Dalam balutan kekhawatiran, para pencuri itu menghancurkan para tentara kerajaan dari segala penjuru, markas-markas ketiga pemimpin tersebut. Dengan leluasa mereka membunuh manusia, membakar kota dan desa, merampas serta merampok, dan tidak meninggalkan tempat itu sebelum menghilangkan jejak terlebih dahulu yang dapat diketahui.

Pasukannya bergerak sampai dengan menuju kerajaan Ibrahim Basya, dan juga Misr, sampai akhirnya turunlah sang pengintai gerak-gerik musuh yang dapat mencelakakannya yang tidak memiliki rasa belas kasihan kepada mereka.

Para ahli sejarah mencatat banyak kejadian-kejadian baru yang tidak masuk akal, dari cara-cara pembalasan, ancaman-ancaman, yang memaksa As-Sittu Nasab untuk melakukannya.

Pencarian yang terpenting, yang dilakukannya adalah mencari pemimpin agung Al-Amir Qarqamaz yang bersembunyi disuatu tempat aman di Tirun, dekat negara Naikha. Dalam hal itu ada dua periwayatan mengenai sebab kematiannya: pertama adalah karena dia tertimpa sakit karena terlalu memikirkan kondisi rakyat dan negaranya, dan yang kedua yang sampai kepada saya bahwasannya Basya menunjukkan tempat persembunyiannya, dan memerintahkan untuk menyulut kayu yang masih basah didepan pintu-pintu dan memenuhinya dengan asap dan matilah sang pemimpin karena tercekik.

###

Sang istri tidak merasa bersedih, dan menyisakan satu pilihan berupa menyelamatkan kedua anaknya. Waktu itu Fahruddin masih berusia dua belas tahun, sedangkan Yunus berusia tidak lebih dari sepuluh tahun. Dia memilih tempat pelarian yang sangat terpencil, sekiranya sang pemimpin tidak pernah memperhatikannya.

Demikianlah kisah kejadian perjanjiannya kepada orang-orang terdekatnya, yang merupakan para sesepuh Bani Hurmus untuk memindahkan kedua anaknya, dengan ketakutan yang sangat mendera, sampai dengan akhirnya tiba diwilayah orang-orang kristen. Ini adalah tindakan mulia yang dilakukan orang tua demi anaknya, dalam perjalananya ia bertemu dengan seorang pendeta dan berkawan dengannya, dia terkenal akan sifatnya yang bagus. Dia adalah Sidyaq Ibrahim ibnu Sidyaq Sarkis al-Khazin.

Sebuah nama yang saya ungkapkan secara sempurna. Karena dia adalah sosok lelaki yang menancapkan kekuasaan pertama dalam perlindungan dua pemerintahan, dan memerintah keduanya dalam daerah yang dilanda pertumpahan darah. Tetesan darah yang membinasakan dari kebengisan dan juga pasukan yang berkobar. Ketika Al-Khazin mengetahui bahwa daerahnya berpantai, dia lantas membuka rahasia kedua anaknya dan memindahkannya ke kastil Bahrashaf, dekat Bakfia, akan tetapi ia merasa bahwa tempat itu tidaklah aman, seperti yang dia inginkan, lantas iapun kembali pergi dan meuju tempat yang terpencil yang dilebati dengan pohon-pohon dijantung kota Konstantinopel.

Ia membeli sebuah rumah dari seorang wanita tua yang bernama Ghadhiyyah, dan ia mengganti nama kedua pemimpin tersebut yang pertama dipanggil dengan nama Fakhr dan yang kedua dengan nama Yunan dan menjadikan keduanya sebagai putranya. Dia sangat memperhatikan pendidikan kedua putranya dan senantiasa membantunya dengan penuh kasih sayang dan keihlasan, ibunya adalah seorang ratu yang senantiasa menengoknya dalam penyamaran untuk dapat menjumpai keduanya, melihat keadaan keduanya, lalu kembali lagi ke tempat persembunyiannya dalam ketakutan yang mencekam.

###

Pada masa ini sang ratu hidup dalam keadaan kecemasan dan terlihat linglung. Dengan tidak memutus perhatian dari perjalanan perkembangan politik sampai dengan tahun 1590 M sewaktu Ibrahim Basya berpindah dari kekuasaan tertinggi dan menduduki posisi wilayah politik yang terbatas, berupa lembah yang cukup luas. Sementara itu, hal ini memungkinkan baginya untuk kembali menengok kedua putranya ditempat pengasingan, yaitu di Dir al-Qamar. Dia mengikat perjanjian dengan saudarnya Saifuddin untuk melatih kedua putranya cara menunggang kuda yang baik dan strategi peperangan dan juga pemerintahan.

Wanita ini tidak sedikitpun melupakan angan-angannya, bahwa ia mungkin saja dapat menggantikan saudaranya, selama cita-citanya dapat terwujud, dia adalah sosok orang yang sangat dicintainya. Semasa mudanya ia menginginkan sosok suami yang ia cintai, dan akhirnya merasakan kesusahan yang pahit  berupa perpisahan yang menyedihkan.       

Hari penyerahan kepemimpinan pemerintahan adalah hari yang menjadi saksi, saudara-saudaranya, para petinggi negri dan juga para penduduk yang berada di diatas bukit turun ke dataran, berkumpul diantara dua benteng dan Dir al-Qamar, meminta mereka untuk mengukuhkan kekuasaan dan memegang pemerintahan mewarisi ayahnya, dan merekapun melaksanakannya.

Pada saat itu Fahrudin masih berusia delapan belas tahun, para penduduk negri meluapkan kelegaannya akan adanya penyerahan kekuasaan, setelah kedzaliman yang menimpa mereka berlalu dan berlindung dalam kekuasaan pemimpin pemerintahan Utsmani.

Perlindungan para saudaranyanya telah menyelamtakan pemerintahan, dengan memberinya sokongan dana dan juga pasukan. Adapun sang ratu As-Sittu Nasab tidak melupakan anaknya walaupun sebentar, membiasakan untuk menunjukkan dirinya pada setiap pelarian dan juga kembali, karena ia memiliki pendapat yang benar, dan kebijaksanaan dalam pertimbangan suatau perkara dan juga penuh dengan keikhlasan, tidak ada maksud dalam dirinya untuk menyelamtakan anaknya, kecuali demi kebaikannya dan juga kebaikan negara dan kelompoknya.

Dia senantiasa memperhatikan setiap pertempuran yang berkecamuk, sebelum akhirnya perang tersebut usai secara sempurna, sekiranya anak-anaknya dapat bermain dengan leluasa dan tenang. Di sana terdapat dua orang pemimpin yang saling berseteru, melahirkan sikap permusuhan dan saling menilik satu kesempatan untuk menghancurkan, keduanya adalah; Al-Amir mansur bin Al-farikh pemimpin Baqa’ dan yusuf basya Syaifan pemimpin ‘Ukar.

Dalam keadaan ini ia mencoba untuk menolong menggerakkan roda pemerintahan dari belakang, dan dengan banyaknya wejangan ataupun kecerdasan dan juga kecerdikan yang dimilikinya. Dengan melihat hal-hal yang telah dikisahkan oleh para ahli sejarah, nampak jelas bahwasannya As-Sittu Nasab adalah sosok yang memiliki kekuatan luar biasa. Dalam menjalankan roda pemerintahan  ditengah masa kemunculannya. Dalam beberapa masa ia menanti sampai dengan ia merasa aman untuk mengambil kembali urusan-urusan menuju keadaan yang baik berupa rasa aman dan damai.

Seorang penulis kebangsaan Inggris, George Sands  menulis mengenai dirinya:

“Bahwa putranya pada dasarnya tidak dapat berperang, dan tidak dapat memimpin tindakan-tindakan besar, kecuali setelah kebijaksanaannya menunjukkan putranya dan mengambil pendapat-pendapatnya”

Adapun Santy, dia adalah seorang insinyur yang ditugaskan berada di Thuskanah, dan dia mencatat dalam buku hariannya:

“Bahwasannya Al-Amir Fahrudin menetapkan segala sesuatu yang menjadi keinginannya, karena terilhami dari ibunya”

Anak-anaknya yang telah sukses menjadi sosok pemimpin sangat mencintainya, memuliakannya, dengan membuat sebuah patung yang menggambarkan dirinya, sampai dengan setelah munculnya keagungan dan kekuatannya tetap menjadi sosok anak yang patuh yang selalu ia tunjukkan kepada ibunya. Ibunya senantiasa mencukupkan diri mengunjungi anaknya ketika mereka membutuhkannya.

Hal ini sama sekali tidak mengurangi kedudukan Fahrudin ataupun mengurangi derajatnya, akan tetapi malah sebaliknya, terdapat sebuah pertalian yang bagus, yang terjalin dengan sosok wanita yang membentengi dirinya dengan kebijaksanaanya, kecerdasannya, didikannya yang berupa cara-cara yang keras. As-Sittu Nasab mengabarkan kepada orang-orang dan juga urusan-urusan mereka, keinginan-keinginan mereka dalam bentuk tertentu dan memindahkan kepada putranya ringkasan keberaniannya, supaya dapat memberikan faedah darinya, dan menjauhkan dari terjerembab dalam kesalahan.

Dia adalah sosok wanita yang menganjurkan kepada putranya untuk melayani keluarga al-Khazin-mereka yang telah mendidiknya-dalam suatu daerah kekuasannya. Seperti halnya kebanyakan para penolong pemimpin, memberikan apa yang menjadi keinginan As-Sittu Nasab dan memberikan segala apa yang disukai As-Sittu Nasab, hal ini memberikan manfaat berupa keikhlasan mereka terhadap putranya dan memberikan pertolongan dalam peperangan anaknya.

As-Sittu Nasab memiliki tujuan yang jauh akan kebaikan orang, karena ia ingin menyatukan sayap-sayap Lebanon dalam satu pemerintahan dalam pemerintahan anaknya. Ini adalah salah satu langkah yang dia tempuh sebagai bentuk permulaan untuk mengangkat kedudukan anaknya, memberinya kebesaran dan juga kemuliaan, menjadikan namanya terkenal sepanjang masa dengan sifat-sifat keadilan  dan juga nasionalisme.

###

Salah seorang ahli sejarah mengabarkan bahwa Al-Amir Fahruddin, karena begitu percayanya ia kepada ibunya sampai-sampai ia berkeyakinan bahwa ibunya adalah sosok yang memiliki cita-cita agung, dan kelak akan menempati kedudukannya yang tinggi. Dia adalah sosok wanita yang memiliki kemahiran dalam ilmu perbintangan dan nujum, ia mengerahkan seluruh kemampuannya dan menuangkannya dalam sebuah tulisan, hal ini dimaskudkan untuk menjadi perlindungan dan sumber keberkahan darinya yang dapat memunculkan ilham berupa kekuatan dan petunjuk. Sebuah kekuatan yang dapat dipegang teguh dan mengikatnya dalam pertolongan ketika tertimpa kesusahan.

Dengan petunjuknya, Al-Amir Fahrudin mengambil inisiatif untuk batas kekuasaannya. Sesudah menyatukan Lebanon, ia bergerak untuk menyatukan daerah-daerah lain di negara palestina dan Suriah. Sebelum As-Sittu Nasab memberikan mandat kepada putranya dalam peperangan dan perundingan, serta membuat sebuah kesepakatan yang baik, ia terlebih dulu memberikan kekayaan kepada rakyatnya, rasa aman dan juga kemerdekaan.

Dalam hari-hari kekuasaan putranya, datanglah batas-batas kekuasannya berupa gerakan sayap kiri, sampai akhirnya Mesir selatan melakukan pembelotan. Akan tetapi sang pemimpin wanita ini tidak lantas memisahkan dari anaknya, tetapi ia merasa untuk senantiasa  menjaga dua rakyat dan menjaga kelangsungan mereka, mengumpulkan harta-harta kerajaan, dan mengirimkannya ke Konstantinopel setelah tiba waktunya. Suatu tempat yang tinggi, yang menampungnya dengan kerelaannya, pengejawantahan kekuasannya dalam mewujudkan kekuasannya yang luas.

Ini adalah perkara yang sangat penting, ketika saya berfikir bagaimana cara dinasti Utsmaniyah memperlakukan rakyatnya. Terlebih ini adalah suatu keberhasilan pergerakan roda politik. Yang telah memberikannya suatu kedudukan tinggi, dengan berjuluk Sulthan al-Barr, seperti halnya julukan yang telah dibrikan kepada kakeknya.

###

 Akan tetapi mata-mata yang mendengki tidaklah tertidur, hal inilah yang menimpa Fahrudin. Muncullah mata-mata yang mendengkinya menelisik dan memperhatikan dirinya, yang hendak menggulingkannya. Mereka semuanya tunduk kepada kekuasaan yang tinggi, jika saja pemimpin Lebanon mengibarkan bendera kebencian dan memerintahkan untuk melakukan penyerbuan dengan pasukan yang kuat, mengahancurkan daratan dan lautan, As-Sittu Nasab berjanji kepada pasukannya untuk menyerang Ahmad Basya Khafid seorang pemimpin Damsyik, dia adalah salah seorang musuh besar putranya, yang seperti halnya As-Sittu Nasab, ia juga menunggu kesempatan untuk mengahncurkan putranya.

Akan tetapi mata seorang ibu yang senantiasa terjaga, mendapatkan berita, dan memberikan isyarat kepada putranya untuk segera bergerak, menuju Thuskana supaya membahas pemimpinnya dengan keselamatan putranya. Ia senantiasa menyerahkan kendali pemereintahan tatkala ia pergi kepada saudaranya Al-Amir Yunus dan putranya Al-Amir Ali, akan tetapi yang memberikan putusan akan sebuah tindakan adalah sang ibu yang prkasa.

###

Pada waktu kepergian Fahrudin, Ahmad basya Hafid merayap menuju negaranya dengan membawa serta pasukan sebanyak lima puluh ribu pasukan. Akan tetapi kelompok yang terlatih menghadapinya, selama tiga bulan. Al-Basya sangat marah dan dengan sigap pasukanya menduduki singgasana, menolongnya dari pembunuhan dan kehancurannya, dan menyelamatkannya dalam perlindungan Yususf Basya Syaifan, pemerntahan yang terakhir, yang cemburu akan kemuliaan Fahrudin., dan meluapkan dendam mereka kepada istana raja, merekapun berpindah dan membunuhnya seperti yang telah dilakukan mereka didesa dan tempat tinggalnya.

Disisi As-Sittu Nasab berkumpullah para sesepuh kerajaan dan para pemuka masyarakat di Dir al-Qamar. Menyatukan pendapat mereka bahwasannya disana hanya ada seorang yang mungkin dapat meneruskan negaranya dari keruntuhan. Dia adalah As-Sittu Nasab, mereka meminta As-Sittu Nasab untuk menghadap Ahmad Basya Hafid, menemukan kembali pemerintahan dengan kebijaksanaanya dan dengan kecakapan polotiknya.

As-Sittu Nasab memenuhi keinginan mereka, dia bergegas untuk menghadap Ahmad Basya Hafid dengan ditemani tiga puluh orang sesepuh. Ketika bertemu Ahmad Basya Hafid sangat tertegun, dia begitu membingungkannya dengan apa yang muncul dari As-Sittu Nasab berupa keberanian, kefasihan berbicara dan juga kebijaksanannya dan juga keberaniannya. As-Sittu Nasab berani menyalahkan tindakannya dengan cara-cara yang lembut, , padahal dia adalah sosok yang memiliki jiwa sensitif. Lalu As-Sittu Nasab memberinya tiga ratus ribu domba, sebagai imbalan untuk menghentikan peperangan. Dan meninggalkan manusia-manusai dalam keadaan aman.

Ahmad Basya Hafid telah jemu dengan perang, dan dia menerima imbalan domba itu dan pergi dari Lebanon dan menarik seluruh sekutunya.

Demikianlah, maka berhasillah As-Sittu Nasab dalam menyelamatkan negaranya dari kehancuran, dengan kebijaksanaannya dan politiknya yang bagus.

###

Santy menuturkan; bahwa sang pemimpin wanita ini, ketika menemui Ahmad Basya hafid membentengi dirinya dengan keberanian pada kehendak Ahmad Basya Hafid untuk menghancurkan penjagaan istana, merobohkan negara dan menarik upeti untuk perbendaharaan negara.

Hal ini berlaku selamanya, ia melakukannya dalam semua tempat, melayani dengan pembicaraan, kecerdikan, memukul dengan dapat mematikan perasaan lawannya, lalu tertunduk kalah, dan luruh dalam dekapannya.

###

Dalam kekuasaan As-Sittu Nasab, tidak memiliki banyak harta. Dia menuliskan dalam buku catatan hutang yang ditinggalkannya, akan tetapi al-Wali tidak mempercayai hal ini, dan memindahkannya ke Damsyik, yang dijadikan sebagai barang jaminan hutang, sampai dengan As-Sittu Nasab melunasi hutangnya. Dalam sebuah cerita yang lain bahwasanya putranya Yunus menyerahkan semua hartanya akan tetapi Ahmad Basya Hafid tidak juga membebaskannya, karena ia kuatir akan keberanian As-Sittu Nasab.

Demikianlah ia senantiasa tetap dalam penjara pengusiran sampai dengan masa pengasingan anaknya, dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Jarkas Muhammad Basya, dia adalah saudara Fahrusin, menyerahkan semua urusan-urusan penting, sampai dengan masa pembebasannya dan kepulangannya ke Dir al-Qamar dengan dikelilingi kemuliaan dan kekuasaan.

Seperti halnya sewaktu ia menyerahkan surat kepada putranya yang mengukuhkan putranya bahwa ia merestui putranya menjadi raja yang agung. Akan tetapi fahrudin meragukan kebenaran surat tersebutsampai akhirnya ia menerima surat dari ibunya yang datang kemudian:

“Sesungguhnya aku tetap terpenjara di negri Syam sampai dengan datangnya pertolongan Allah kepadaku, memberikanku kekuasaan dan memulangkanku ke Dir al-Qamar, aku pada saat ini adalah sosok wanita yang agung. Aku menginginkan engkau datang menjengukku, melihatku sebelum kematianku” 

As-Sittu Nasab bersumpah demi anaknya, dengan pendidikan yang telah diberikan kepada anaknya, suapa anaknya mau kembali kepadanya, mencintai dirinya. Orang yang membaca surat itu mengomentari bahwasannya sang pemimpin wanita ini menginginkan sighat jamak ( kata yang menunjukkan arti banyak), sewaktu mengomongkan masalah politik kepada anaknya, akan tetapi ia kembali pada sighat mufrad ( kata yang menunjukkan makna satu), ketika seorang ibu memberikan nasehat kepada anaknya , ini adalah salah satu bentuk kecerdikan dan kebijaksanaannya.

###

 

Rajiah al-Farnisikani adalah seorang tabib dari Fahrudin, ia menjadi saksi yang tertuang dalam tulisannya berjudul “Al-Ardl al-Muqaddasah” bahwasannya Al-Amir Fahrudin adalah sosok yang mendalam pengetahuan dibidang nujum, filsafat yang diperoleh dari ibunya.

Ini adalah salah satu bukti dari sekian banyak bukti yang ada yang dimiliki olrh para ahli sejarah dan juga para cendekiawan, daklam keagungan sifat-sifat seornag wanita dan perjalanannya.  As-Sittu Nasab hidup sampai dengan tahun 1633 M dan meninggal pada usianya yang mendekati delapan puluh tujuh tahun, usianya dipenuhi dengan kehidupan pertentanagn dan juga kedamaian, dan dalam menghadapi anaknya, sosok yang sangat merasa susah kepadanya, digambarkan bahwa kepergiannya adalah mimpi buruk bagi anaknya, karena dia adalah keberkahan tersendiri dan sosok yang senantiasa memberi petunjuk secara tulus.

Anak-anaknya menjadi sial dalam kedudukannya, sewaktu kepergiannya, muncullah kemudain bintang keberuntungan yang menaungi mereka. Setelah dua tahun berlalu kepergian As-Sittu Nasab, datanglah musibah yang besar, sewaktu sang penguasa marah dan menahan keluarganya dan memerintahkan untuk membunuh mereka semua.

 

 

 

 

Waradah al-Yazaji

 

 

“Wahai Waradah dari Turki, sesungguhnya aku adalah bunga mawar Tanah Arab, maka diantara aku telah aku temukan nasab yang lebih dekat”

 

 

 

Saya ingin membayangkan gambaran diri dari Waradah terlebih dulu, ini merupakan satu-satunya gambar yang sampai ketangan saya yang dirasa memuat sebagian dari jati diri Waradah, peraupannya dalam gambar itu tidak begitu jelas, dikarenakan banyaknya pemindahan-pemindahan skets wajah diatas lembaran-lembaran buku dan juga majalah: seorang pemimpin wanita yang sedang duduk dengan tenang, memakaikan baju berwarna hitam, longgar dan menutupi tubuhnya hingga sampai bagian lekuk-lekuk kedua telapak kakinya.

Diatas kepalanya terdapat topi tarbus, yang merupakan model yang ditiru oleh para wanita-wanita agung pada masanya. Wajahnya terjaga dengan kecantikan yang mempesona, dengan tanpa menghilangkan kekurangan-kekurangan yang disengaja dalam gambar tersebut. Sesuatu yang paling indah yang ada dalam wajah itu adalah kedua matanya yang terlihat menyala-nyala.

Dia adalah Al-Yazajiyah atau biasa dipanggil dengan sebutan Waradah al-Yazaji, seorang wanita anak keturunan keluarga ilmuan dan juga sastrawan pada masa munculnya masa kebangkitan. Seorang pemimpin wanita pertama pada masa itu yang berani mengungkapkan penyiksaan yang dialaminya, dengan menggunakan untaian kalimat yang tertuliskan diatas lembaran kertas (ia menuliskannya dalam bentuk syair), dari kejadian-kejadian yang menimpanya yang telah berlalu atau sebuah bentuk perlawannya, dia adalah seorang pejuang bagi dirinya dan sesamanya.

###

Saya memiliki jejak-jejak Waradah al-Yazaji, berupa buku kumpulan syair yang berjudul “Hadiqah al-Wirdu”. Terkadang saya mengutip judul tersebut untuk menunjukkan namanya, atau mencantumkannya sebagai bentuk ketundukan yang menjadi pedoman bagi para penyair besar orang-orang Yazaji. Yaitu berupa penyebutan kata “al-Wirdu = bunga mawar) dalam lagu-lagu mereka.

Khalil, salah seornag saudaranya dalam sebuah bukunya mengatakan:

“Ingatlah, harumkanlah jiwaku dengan keharuman bunga mawar, telah datang kepadaku perpisahan musim semi dari jauh, demi Allah, bunga mawar tidak akan terus menerus menjadi sesuatu yang langka, dan tidak pula khusus ada dalam salah satu bulan”

Adapun putra saudara kandungnya, Syaikh Najib al-hadad memuji bunga mawar, dan kepada sosok diri Waradah al-Yazaji dalam bukunya:

“Bagi dirimu dari sinar Tuhan mendapatkan julukan mawar, sangatlah jauh apa yang ada pada mawar kebaikanmu dalam menyayangi, bagi bunga mawar hanya ada satu bulan lalu kemudian mati, dan mawarmu akan terus langgeng dan senantiasa membekas”

Salah seorang saudara kandungnya, yang bernama Ibrahim pernah memuji bukunya dengan sebuah lagu yang mengisahkan dirinya: 

“Dia adalah kekasihku yang telah kembali, aku menduga dengan melihat kebaikannya maka aku dapat merasa senang. Sang mawar, kembalimu kepadaku untuk menengok sang kekasih, kepulanganmu bagaikan purnama yang hilang lalu kemudian muncul kembali”

Dan dalam tanda-tnda kelakuannya, terdapat sebuah buku yang dapat dijadikan sebagai sandaran baru pada tulisan Waradah al-Yazaji. Dengan kekurangan yang ada, buku itu menjadi jejak tunggal yang mengitari saya dari diri seorang Waradah al-Yazaji, bahwasannya sejarah kehidupannya hampir semuanya dapat saya terima, karena semua itu bukanlah sesuatu yang sangat penting dalam rangkaian pemberiannya. Kehidupannya, dia adalah sosok wanita yang memiliki syair-syair yang menakjubkan, dan tidak dibukukan dalam bentuk untaian-untaian kalimat-kalimat.

###

Waradah al-Yazaji dilahirkan pada tahun 1838 M, disuatu wilayah yang bernama  Kafarsyim yang terletak di keramaian Beirut. Lalu, tidak lama kemudian ia dan juga keluarganya pindah ke Beirut. Disini merupakan awal bagi dirinya belajar dari ayahnya yang merupakan sosok ahli bahasa yang agung, Syaikh Nashif al-Yazaji, dengan segenap kemampuannya. Hal ini terjadi setelah dalam dirinya terlihat adanya kepandaian yang berbeda. Kecenderungan untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan juga sastra. Dia lebih memenjakan dirinya dengan mmpelajari bahasa Arab, dengan berpedoman pada kedua karya ayahnya yang berjudul; “Fashla al-Khitab” dan “Nuqtha ad-Dairah”.

Ia menamatkan sekolahnya pada salah satu madrasah yang ada, dan dia juga menekuni mempelajari bahasa Prancis. Adapun ayahnya, sewaktu pergi ke Madinah senantiasa mengiriminya surat yang berbahasakan syair, lalu dia juga membalasnya atas omongan ayahnya dengan syair juga. Lantas terjadilah kebiasaan padanya untuk membalas surat-surat sebagian para penyair.

Waradah al-Yazaji pertama kali membaca syair pada usia tiga belas tahun, ketika sudah matang, segera saja dia mengasah lebih tajam bahasanya. Tercatat, dia telah mengajar pada salah satu sekolah rumahan, seperti halnya yang dia lakukan dalam membantu mendidik saudaranya yang berusia dua belas tahun karena dia tinggal bersama mereka.

###

Setelah Waradah al-Yazaji menikah, ia senantiasa merawat dirinya yang bagus serta sedang perawakannya, senantiasa menggunakan kain penutup badan sewaktu meninggalkan rumah dan juga memakaikan topi tarbus. Dalam perkumpulan kelompoknya; dia selalu meminum kopi yang dituangkan dalam wadah air yang berbau harum, dibawah nyiur kelapa mengikuti tradisi keluarga ayahnya, menurut tata cara orang-orang Arab.

Ini adalah keterangan yang saya kutip darinya, seorang penulis sejarahnya yang bernama Mi Ziyadah. Dan saya berpedoman pada penggambaran terakhir yang lebih penting yang menunjukkan dirinya, karena berhati-hati dalam penyebutan nama keluarga memberikan warna baru bagi seorang wanita dari ketergantungan darinya. Dan tidak ada darinya pengikutan yang saya ketahui sampai saat ini. Dia menjadi tokoh panutan oleh beberapa kelompok yang tunduk kepadanya, yang sampai kepada saya dari peradaban barat.

###

Ayahnya, Syaikh Nashif bukanlah satu-satunya orang ahli sastra yang mempengaruhi diri Waradah al-Yazaji, dalam hal ini ada beberapa saudaranya, setiap dari mereka menuliskan sebuah syair, seperti salah satu diantara mereka yang beernama Ibrahim, dia adalah salah seorang ahli bahasa Arab yang agung, bukan saja pada masanya, akan tetapi pada masa-masa yang lalu dan juga masa yang akan datang. Dia berbicara dengan panjang lebar dalam menghidupkan bahasa Arab, dan mengeluarkannya dari masa kemunduran menuju cahaya baru dan berkembang.

Dengan keunggulan keadaan yang maju ini, maka keberadaan syair dapat tersebar dan membumi pada seluruh alam, dan juga par4a penyair masanya dan juga para ahli syair. Mereka duduk dalam kumpulan mereka, saling beradu argumen, mengadakan perlawanan dengan syair-syairnya, seperti yang telah dilakukan oleh Ibnu Razik al-Baghdadi seaktu ia mengikuti pertandingan bersyair:

“Tuangkanlah, dia mengalir dengan deras laksana hujan diwaktu pagi dari awan yang menggumpal yang membasahi, ditemukan dan mengalir dari sebuah kerinduan yang kuat”

Akan tetapi maksud-maksud yang agung yang ada dalam bukunya tidak mencantumkan syair ini, akan tetapi kebanyakan tulisannya hanya terdapat dalam majalah-majalah dan juga beredar dalam hubungan-hubungan kelompoknya sewaktu dilakukan pelacakan dalam hal ini, ternyata dia adalah salah seorang peminat majalah-majalah wanita dari beberapa majalah yang terbit.

Watak Waradah al-Yazaji adalah menjaga, menjaga segala sesuatu yang dapat menjadikan bagus syairnya, seperti mempraktekkan apa yang telah didapatnya.

Saya akan kembali lagi pada pembahasan syair-syairnya, setelah terlebih dulu menyempurnakan sejarah kehidupannya. Pada tahun 1866 M, Waradah al-Yazaji menikah dengan gurunya yang bernama Farneis Syam’un, dan darinya Waradah al-Yazaji dikaruniai lima orang putra, dua laki-laki dan tiga perempuan. Seperti halnya ia mengurus pendidikan saudaranya, ia juga dihadapkan dengan kesibukan mendidik anak-anaknya.

Salah seorang putranya yang bernama Salim Syam’un berhasil menjadi seorang dokter yang terkenal, demikian juga dengan yang lainnya menjadi sosok yang terkenal dalam bidang pendidikan, dengan tanpa melupakan kebesaran keluarganya dan juga deraan pertanyaan lain yang ditujukan kepadanya. Saya memperhatikan bahwa pekerjaan mendidik pada saat itu, lebih dekat kepada cara-cara yang dilakukan yang dilakukan seseorang dengan maksud untuk menghasilkan rizki.

Waradah al-Yazaji tinggal cukup lama dinegara kelahirannya, Lebanon. Sebelum akhirnya ia pindah pada tahun 1899 M ke Mesir bersama putranya yang seorang dokter. Dan bersama seorang putrinya yang bernama Labibah dan dia hidup di Mesir sampai dengan akhir hayatnya.

Para penyair yang ada tidak lantas tergeser atau menjauh dari gerakan sastra yang mulai bangkit di Mesir, yang pada saat itu berada ditangan para pemikir-pemikir, sekolah-sekolah dan juga wartawan-wartawan Lebanon, mereka yang mendatangi Waradah al-Yazaji. kecuali bahwasannya Waradah al-Yazaji adalah dari keluarga yang lebih dulu bergelut dengan dunia sastra, ketika puak-puak pergerkan itu baru memulai dan sedang mencari bentuknya. Terkadang Waradah al-Yazaji menyambangi kelompok-kelompok gerakan kebangkitan sastra yang sudah terbentuk. Dengan tidak menjadikan dirinya sebagai pondasi dalam gerakan mereka. Hal ini dikembalikan lagi pada usianya, usianya sudah melampaui lipatan keenam atau pada upaya dirinya yang berjuluk sebagai penjaga ketundukan.

###

Sebelum melahap syair-syair Waradah al-Yazaji, maka terlebih dulu saya harus menyempurnakan gambaran diri Waradah al-Yazaji secara utuh. Dia adalah sosok wanita yang hidup berbeda dari wanita-wanita pada masanya. Dengan penguasaannya pada teks-teks buku bahasa, luasnya pengetahuan dari keraguan-keraguan diri, yang tidak diketahui keberadaannya yang bersinar, terkadang dia menjadi pembatas masa kesulitan dari sekitarnya, maka tidak terkuak didepannya selain pintu-pintu pengetahuan, yang memungkinnya  untuk tertulis  diatas pintu-pintu tersebut  sesuatu yang mengisahkan keabadiannya.

Sebagai sosok seorang penyair wanita, dia memiliki daya menghafal yang sangat kuat, seperti yang digambarkan oleh Mi Ziyadah (aku mengetahuinya pada saat hari-harinya yang terakhir), inilah yang menyebabkan berpegangan padanya dengan mengikutinya dalam Syair seperti halnya dalam masa hidupnya. Bahwa Waradah al-Yazaji adalah sosok pemimpin penyair wanita pada masanya, tidak ada seorang wanitapun yang dapat mengubahnya, akan tetapi mereka malah mengambil segala sesuatu yang berlimpah yang ada pada diri Waradah al-Yazaji berupa cara-cara untuk dapat mengenal lebih dekat. Waradah al-Yazaji.

Mereka tidak memunculkan diri, bertindak lalim dengan merobek karyanya dan juga menantang dihadapannya, akan tetapi mereka menuntun perahu syair Waradah al-Yazaji dengan tenang, setapak demi setapak dari tepian. Dengan tidak bersungguh-sungguh untuk sampai kedalaman yang jauh., sekiranya dapat menyembunyikan kekerasan syair dalam memalingkan pengintaian.

###

Dalam fersi yang lain dikatakan bahwasannya Waradah al-Yazaji hidup ditengah-tengah masyarakatnya, dia adalah satu-satunya wanita yang seperti dia, dan sosok wanita yang paling agung dalam masyarakatnya, yang diunggulkan, disamping itu ia juga dilebih-lebihkan oleh masyarakatnya. Lihatlah, apakah ini merupakan suatu sebab dari ketetapan dalam lajur ketundukan yang melekat dalam kebiasaan yang menyenangkan?

Seperti halnya dengan kehidupan yang tidak dapat direka-reka dalam sebuah syair dengan menghubung-hubungkan keajaiban-keajaiban yang ada, dan keluar dari kebiasaan yang ada. Waradah al-Yazaji merasa sangat bersedih sekali sebab kematian saudaranya yang terbilang banyak, dari saudara laki-laki sekandung, dan juga beberapa saudara perempuan sanudara perempuannya sekandung.

Lalu orang tuanya pun meninggal, suaminya dan setelah itu anak perempuannya dan juga anak laki-lakinya, tidak tersisa dari keluarga besarnya selain anaknya yang seorang dokter, lalu dia bergantung kepada tangan anaknya. Dia melewati masa-masa sedih ini selama enam tahun dan akhirnya berpindah ke Mesir. Disana ia menjadi sosok penyair yang agung yang cerdas, syair-syairnya terkumpul dalam bukunya, berupa ratapan kepada kekasih yaitu orang-orang yang telah berpindah.

Akan tetapi hal itu jauh dari bayang-bayang syair ratapan yang diketahui oleh para penyair wanita yang telah mendahuluinya pada beberapa masa yang silam. Yang saya maksudkan adalah Khanasa.

###

Sangat memungkinkan bagi saya untuk menuliskan lagu-lagu yang ada pada buku “Hadiqah al-Wirdu” dibawah dua judul yang diketengahkan awalnya; pada majalah-majalah. Dan menegtengahkan bentuk lagu-lagu ini yang mudah penulisannya dalam buku-bukunya dan membicarakannya. Seorang penyair wanita Suriah yang sezaman dengannya, yang bernama Waradah Nuqulan at-Turki berkata:

“Wahai Waradah dari Turki, sesungguhnya aku adalah bunga mawar Tanah Arab, maka diantara aku telah aku temukan nasab yang lebih dekat”

 Lalu berulanglah telunjuk keagungan dari menunjukkan kebenaran, yang kembali dari perjalanan pada perpisahan hubungan, atau sebuah sanjungan ratu, ataupun pemimpin wanita atau pemimpin masyarakat.

Dia mengambil kcocokan pemindahan salah satu dari beberapa kawannya ke rumahnya yang baru atau anak kecil wanita, atau upaya menolong anak kecil itu untuk dapat ditulis dalam lagunya. Syairnya dalam majalah ini, lebih dekat dengan sebuah penulisan artikel, diatasnya tertulis adanya pergerakan kelompok wanita pada zamannya, dengan batasan-batasannya..

Kedua; Syair pembebasan dan juga sanjungan yang paling terkenal adalah berupa syair perlawanannya terhadap seorang penyair bernama Ibnu Zuraiq, seperti yang telah disebutkan diawal pembahasan, lalu dia memuji sejarah jurnalistik Arab, yang ditulis oleh  Philip De Tharazi.

Bahwa sesungguhnya kata-kata pujian jelas menunjukkan pada adanya kelonggaran pada batas-batas yang ada, karena syair itu lebih dekat pada pujian, secara sempurna seperti halnya pujian sebagian para hakim yang diutus.

###

Majalah sastra itu tetap saja menganggap penting hal ini, dngan surat-suratnya yang beredar disekelilingnya dan diantara penyair kbangsaan Mesir yang bernama ‘Aisyah Timur sewaktu menerbitkan bukunya yang terkahir yang berjudul Hilyah at-Tharaz, dia berkata mengenai Waradah al-Yazaji;

“Masa Siti ‘Aisyah telah kembali dalam dirinya, maka hiduplah dia dalam jejak-jejak ilmu yang telah lalu”

“Wahai jiwa yang berasal dari lembah sungai Nil, dia telah datang dan mengikat dengan salam yang berlebih. Tersebar sampai dengan Lebanon yang semerbak baunya, memikat hati, membangkitkan jiwa dari tiupan angin sepoi-sepoi”

###

Ketiga adalah syair cinta dan kerinduan, dia meletakkannya dibawah dua judul yang ditujukan kepada kawan-kawannya, sewaktu membuka beban-beban rahasia yang terpendam. Dan penyair tidak menuliskannya pada pelariannya ini untuk menghindari pungutan pajak yang ada pada masanya.

Saya bertanya kepada Mi Ziyadah:Apakah mungkin perkataan ini ditujukan kepada kawannya dan dalam syair itu ia berkata:

“Sang kekasih telah pergi, kesabaranku yang terbaikpun telah pergi. Kedua mataku menginginkan untuk dapat melihatnya kembali sebelum ajal menjemput. Wahai yang tidak terlihat, hatiku berjalan menapaki jejaknya, kerinduanku menumpuk dalam hatiku seperti gunung, jika engkau pergi dari pandanganku, maka kebagusan dirimu dalam hatiku tidak akan pernah berubah”.

Kemudian ia merasa adanya pemindahan pada cara-cara penyair zaman dahulu dalam membicarakan kekasihnya:

“Wahai orang yang pergi, hatiku telah terpaut disisimu, aku tetap memegang pendapatku yang menakjubkan kemunculannya”

“Wahai jiwa yang kering yang berada dalam lembah yang bersih dan memikat, carilah kawan, apakah engkau telah mengabarkan kepada mereka”

Selain adanya hal-hal tersebut yang berupa syair-syair perasaan hati yang sempurna dalam bangunan sastra dan bahasa. Selain hal ini memuat adanya paras muka yang baru, akan tetapi saya menuturkannya dengan kebagusan suara dalam bacaannya, dengan lagu-lagu yang ia tuliskan berupa syair-syair yang ada pada masa lalu.

###

Keempat; Syair kesedihan dan keputus asaan

Bahwa sesungguhnya syair pertobatan dan juga syair ratapan menempati hampir sebagian besar tulisan yang ada dalam buku Waradah al-Yazaji, walaupun dia sesungguhnya dalam hal ini, senantiasa mengikuti cara-cara yang juga ditempuh oleh para penyair zamannyta, lantas dia membeberkan sejarah dengan panjang lebar dan sempurna. Kecuali bahwasannya rasa simpatinya benar-benar kembali kepada meratapi saudara perempuannya, suaminya dan juga anaknya.

Dia memulai dengan hukum umum dalam filsafat kematian, kelemahan dari deraan kematian, karena mati tidak mengenal belas kasihan kepada siapapun, dan juga tidak menjaga makhluk yang ada, menunjukkan kemulian kedudukannya dan juga ketinggian derajatnya. Saya juga menemukan filsafat ini pada syair-syair yang ada sebelum Waradah al-Yazaji, kecuali adanya cobaan yang keras  yang menimpanya berbarengan dengan kematian., yang datang berulang kali ketika tidak ada orang yang memuliakannya, hal inilah yang menjadikannya sebagai salah seorang penulis syair ratapan pada masanya.

Dia telah berduka atas kematian keenam kawannya, saudaranya, orang tuanya juga suaminya, keuda anak laki-lakinya dan juga kedua putrinya. Ini adalah sebuah contoh dari sumber kemunculan lagu ratapan terhadap saudaranya, Habib:

“Wahai mata Waradah  yang sangat memikat dan terlihat sangat alami, aku menangis karena Habib telah pergi darimu”

Dia juga menyebutkan saudaranya yang bernama Faris, dia telah disebutkan dalam pembahasan diawal:

“Wahai Faris, hari yang paling membahagiakanku adalah kedatanganmu mendekati Habib, lalu kamu tidak mengeluh dari kebosananmu”

Dan dari ratapannya kepada ayahnya Syaikh Nasyif  dalam artikel filfilsafat:

“Kehidupan perhiasan hati, kematian adalah juga kematian hati kehidupan telah memberinya kelegaan besar”

Lalu dia menuturkan kedudukan ayahnya dalam dunia sastra dan mencatatnya:

“Ingatlah Negri Timur yang terhormat, demi Dzat yang telah menetapkannya dengan keutamaan pada semua makhluk yang ada”

Ketika suaminya meninggal, Waradah al-Yazaji telah dapat menangani kesedihannya, dia minum beberapa arak milik suaminya:

“Menimpa dan meimpa kembali, seperti halnya runtutan sebab dan juga kebiasaan. Waktu telah mencegah untuk meminta pertolongan dengan untaian kata-kata, selain untaian kata-kata duka dan cinta kasih”

Seberapa besar kedukaan yang dialami oleh seorang penyair wanita! Apakah ini menjadi pertanda akan kebesaran cintanya!. Akan tetapi puncak dari kesusahannya sewaktu kepergian anak-anaknya. Dia menghiasi diri dengan berfilsafat, mengucapkan kata-kata gembira bagaikan sebuah panah:

“Dengan setiap hati aku mencari, setelah engkau, madu. Engkau adalah hatiku dalam debu yang ada ditempat tinggi. Aku melihat api dihatiku setiap hari dan malam, menambah kehausan ketika semakin bertambah kesusahan ini, karena tidak ada pelindungku, kekasih dan jiwaku, kekuatan jiwaku dari pemeliharannya yang memabukkan ”  

Mengimbangi senandung ini, dia meratapi saudaranya Syaikh Ibrahim, dia adalah orang terakhir yang meninggalkannya. Pada dasarnya Syaikh Ibrahim bukanlah saudaranya, akan tetapi dia adalah sosk yang mengasah kepadandaian Waradah al-Yazaji dalam bidang bahasa dan sang pemilik kemasyhuran dan juga ketenarannya.   

Dalam hl ini dia lebih dekat dengan Khanasa, memiliki banyak keserupaan dalam beberapa bait-baitnya:

“Engkau telah memisahkanku Wahai kekasih jiwaku, dengan menjauh, maka bagaimana dengan hidupku, sedangkan engkau menjauh dariku?, wahai orang yang berucap, tidak henti-hentinya engkau berucap dan orang yang memiliki pendapat yang benar tidak dikukuhkan”

Sampai dengan ia berkata, telah digambarkan bahwasannya ia melewati Khanasa ketika meratapi saudaranya:

“Wahai Shakr, anak yang terusir pada saat ini terbentang baginya atasmu mengikuti dalam hawa nafsu yang terusir, sangat jauh sekali apa yang hilang dari Shakr, air mataku tidak jatuh berderai dan aku tidak menemukan Khanasa seperti apa yang aku temukan, menangis seorang, dan aku menangisi enam orang yang telah pergi mereka yang masing-masing memiliki kebaikan diantara masa yang mereka temukan”

###

Saya bertanya; apakah Waradah al-Yazaji meninggalkan sajak? Ataukah tulisan-tulisannya teringkas hanya pada syair-syairnya?

Saya tidak mengetahui hal itu, saya sampai kepada jalan penolong seorang wanita George Nickleon Baza, dia berkata bahwa sesungguhnya Waradah al-Yazaji terkenal setelah sebagian kata-katanya termuat dalam surat kabar dan juga majalah yang terbit pada masanya. Dia memiliki ciri tulisan yang orisinil dan sukar dipahami akan tetapi dia menuliskannya dengan jelas, tidak ada syair-syairnya yang tidak menarik perhatian orang banyak, seperti yang dilakukannya dalam bukunya Hadiqah al-Wirdu yang dicetak sebanyak tiga kali dalam hidupnya. Sebagian dicetak di Beirut pada tahun 1868 dan pada tahun 1887 dan sebagian yang lain di Mesir pada tahun 1913.

Terakhir, saya harus mengetengahkan sebuah kekuatan khusus yang muncul dari dunia sastra, Mi Ziyadah ketika mengetengahkan sejarah seorang penyair wanita dalam peradaban yang dia alami pada bulan Mei tahun 1924 di Kairo, lalu menyebarkannya dalam majalah al-Muqtathaf. Menyiapkan dalam bentuk permualaan untuk menanggulangi bencana perang dalam negara Waradah al-Yazaji  hal ini adalah akibat perang dunia kedua.

###

Demikian juga tertulis dalam kesustraan Imli Faris Ibrahim seperti gambaran Waradah al-Yazaji dalam hati pendidik yang menandai kemasyhurannya dalam bukunya Adibaatu Libanaaniyat Mi Ziyadah telah melewati, karena dia telah pergi menuju kedudukan dalam satra bagi Syair Waradah al-Yazaji.

Ketika dikatakan dalam Hadiqah al-Wirdu, disana sesuatu yang tidak mungkin dapat dilupakan orang, bahwa ia adalah pemimpin pertama pada masa kebangkitan, bukan saja di Lebanon akan tetapi di seluruh tanah Arab. Dia bertindak dengan adil, karena dia hendak mengeluarkan sebuah hukum dalam syairnya, mengekalkannya dan mengumpulkannya dalam bingkai masanya, sebagai hadiah pada zamannya.

Waradah al-Yazaji meninggalkan kepada saya pandangan yang selalu berubah-rubah. Dia meninggal pada tahun 1924 di kota Iskandariyah, mengingkari orang yang datang sesudahnya, seperti; dia meniru dalam jalan, meetapi, keberanian meghadapi hidup dalam keadaan susah.

Setelah kematiannya, terpanggil untuk memilih dari pemimpin-pemimpin wanita Lebanon  untuk menuliskannya dari sisi gambaran hiasan seorang penyair, digantungkan di tembok-tembok sekolah negara. Dia adalah sastrawan wanita pertama yang mengerahkan kekuatannya ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘AISYAH TIMUR

 

Telah tampak padanya kegembiraan, dan bersinarlah cahaya dalam malam yang gelap gulita”

 

 

 

 

Sewaktu ‘Aisyah Timur dilahirkan, bersinarlah matahari baru dari Timur dalam negrinya. Suatu kebangkitan yang cepat dari kesusahan yang mendera dalam masyarakatnya. Membawa janji dan kemurahan hati.

Sebelum sampai pada permulaan pembahasan tingkatan sejarah kebangkitan wanita, tidak menjadi suatu kebiasaan adanya wanita yang mengangkat suara, keluar dari batas-batas yang telah diketahui, atau suatu bentuk kesalahan yang melilit yang telah ditulisnya dalam suatu bangsa dan juga para panutan, pada saat keadaan lemah.

Dalam hal ini, para pembahas mempertanyakan, yaitu orang-orang yang tertarik untuk mempelajari sosok ‘Aisyah Timur dan juga penguasaannya dalam bidang sastra; dari mana kemunculan ‘Aisyah Timur dengan pemikirannya yang mendahului zamannya? Bagaimana cara mengerahkan perhatian kepadanya dengan baik, karena dia adalah wanita, dalam masa  bahwasannya beberapa masa adalah miliknya, mencukupkan diri dengan menerima peredaran yang biasa dilakukan oleh para wanita-wanita zaman dahulu, memecah keburukan yang mendahului klahirannya!

###

Secara umum, para pembahas menaruh perhatian, juga buku-buku sejarah. Mereka menolak pertanyaan yang dilontarkan, dari sela-sela jalan seorang wanita dan tindakannya dan jejaknya dalam dunia sastra, baik berupa syair ataupun sajak. Seperti pengadatan sebagian para ahli sejarah menafsirkannya dan menguraikan serta mengungkapkannya, sesuatu-sesuatu yang keluar dari kebiasaan yang menjadi pendahuluan kelahiran pembahasan ini yang dirasa penting pada tulisan mengenai sejarah wanita Arab.

Dalam kemunculan ‘Aisyah Timur dan juga sastranya yang dirasa penting, tercatat dia juga seorang pemimpin wanita pada masanya, yang saya maksudkan adalah seperti yang sisebutkan oleh Mi Ziyadah. Dia adalah sosok yang berjasa dalam menghidupkan kembali tiga sosok wanita yang telah mendahuluinya atau sezaman dengannya. Mereka memiliki tanda-tanda yang sangat terkenal menurut jalan yang dapat dirunut, mereka adalah; Waradah al-Yazaji, Bahitsah al-Badiyah dan ‘Aisyah Timur.

Dalam pandangannya, bahwa ‘Aisyah Timur menyendiri dalam gambarnya didepan saya karena tidak ada bukti yang mendekatkanya pada gambar yang menyerupainya walaupun serupa itu jauh.

###

Dia adalah ‘Aisyah Timur, sosok yang berbeda yang menjadi panutan. Dilahirkan pada tahun 1840 di kota Kairo. Dia adalah putri dari Ismail Basya Timur yang memiliki mata besar ciri khas bangsa Kurdi. Ayahnya diketahui sebagai salah satu prajurit Muhammad Ali dan dia berjasa dalam menyatukan kerajaan Mamalik. Sampai akhirnya dia diangkat menjadi kepala daerah dan naik pangkat sehingga ia menduduki jabatan walikota.

Akan tetapi putranya lebih menyukai sastra dari pada perang. Dia sedikit menaruh perhatian pada politik, dan berkawan baik dengan dewan raja, sehingga ia menjadi seorang kepala pelayan kerajaan. Dia memperistri seorang wanita yang memiliki kehormatan tinggi. Dan ‘Aisyah Timur dilahirkan sembilan tahun sebelum kematian Muhammad Ali dan meninggal pada tanggal 2 bulan Mei tahun 1902 setelah Abbas II memegang kekuasaan selama sepuluh tahun. Dia menyaksikan adanya perkembangan politik dan juga masyarakat Mesir pada masa empat pemerintahan dan juga tiga Khadiyyin.[3]

Ini merupakan kilasan sejarah ringkas, untuk menghubungkan sosok wanita dengan zamannya, yaitu sosok wanita yang silsilahnya dapat dipercaya dalam bidang pemerintahan, dia diundang ke istana dalam suatu perkumpulan, terlebih sewaktu adanya kunjungan pembesar-pembesar kerajaan tetangga, ia menjadi penerjemah karena dia menguasai tiga bahasa. Pergerakkannya senantiasa berada ditengah-tengah para bangsawan pada umumnya, jika saja dia tidak memiliki tabiat pribadi yang dapat menjadikannya lari dari setiap kekuatan dan condong ke iklim panas yang memberikan kesempatan padanya untuk mengerahkan semua angan-angannya, pemikirannya dan juga nalurinya sebagai seorang menulis.

Aisyah Timur adalah seorang penulis, ini adalah sebuah rahasia penting dalam dirinya. Dia menulis dalam suasana zaman yang sombong, yang membelenggu wanita dengan gambaran khusus, karena telah tercatatkan baginya peraturan-peraturan yang tidak bersahabat dengan pemikirannya, dan dia dikelilingi benteng yang menjulang tinggi yang tidak memungkinkan baginya untuk menembusnya.

Aisyah Timur dalam keluarganya adalah salah satu anak wanita dari tiga anak wanita yang dimiliki Ismail Basya. Salah satu diantara mereka telah meninggal dunia, yang bernama Affat. Aisyah Timur meratapi kematiannya dengan syair dalam sebuah bukunya Hilyah at-Tharaz, yang kedua adalah Munirah yang dipersunting oleh Ali Basya Asyif. Dan Aisyah menjadi anak yang berbeda dari saudara-saudaranya.

Orang tuanya lebih menyukainya untuk memperdalam Qira’ah dan menulis, maka orang tuanya mendatangkan dua orang guru baginya, yaitu Khalil Rajai untuk mengajarkan Qira’ah dan juga menulis dan Muannas Affandi untuk membelajarinya Al-Qur’an, fiqh dan juga menulis indah atau kaligrafi.

Ibunya menginginkan Aisyah Timur untuk tetap menetapi kodratnya sebagai wanita, dan belajar sesuatu yang bermanfaat dan diperbolehkan bagi wanita pada masa itu, seperti membordir, menjaga kehormatan keluarga dan rumah tangga. Akan tetapi dia adalah sosok anak perempuan yang suka kebebasan, tidak ada lingkaran pembatas yang mengelilinginya. Dan segala sesuatu yang dikhususkan bagi wanita, berupa perkumpulan-perkumpulan wanita yang dilengkapi dengan hiburan yang dapat berujung ke kamar lelaki, sekiranya sang ayah mau menetapkan perkumpulanya dalam perkumpulan para cendekiawan dan juga sastrawan.

Sang ayah tidak menghardiknya, ketika ia membuka diri akan kecenderungannya, akan tetapi sang ayah malah mendukungnya dengan sekuat tenaga. Dia menjadi pengikut seorang ahli sastra yang mebelajarinya sastra. Membelajarinya dasar-dasar syair, menghilangkan darinya dalam pandangan ibunya bahwasannya dia dalam bayang-bayang jauh dari pemahaman seorang anak, akan tetapi ia menyangka bahwa dalam watak anaknya ada sifat nyleneh. Dia senantiasa memohon kepada Allah untuk memberikan kesabaran kepada ibunya dan diberikan pertolongan padanya.

Perdebatan antara ayah dan ibu terus saja berlangsung, didepan mata kepala anak perempuannya yang dia tuliskan dalam pembukaan bukunya:

“Ibuku selalu saja bertindak kasar terhadapku, dengan marah dan mengancam, dan aku semakin menjauh dari keinginan untuk berlatih membordir walaupun hanya sedikit. Segera saja orang tuaku mengambil tindakan tegas (semoga Allah melimpahkan ampunan dalam kuburannya dan menempatkannya dalam salah satu kamar di Sorga Firdaus sebagai tempat tinggalnya). Dan berkata: tinggali saja anak perempuan ini secarik kertas dan pena, engkau tidak mencintainya, ajarilah ia tentang hukum sekehndakmu, lalu orang tuaku meraih kedua tanganku dan keluar bersamaku menuju suatu sekolahan”  

###

Ibunya tetap saja memaksa untuk blajar menenun, karena menenun adalah kebiasaan para wanita, dan guru yang bijak bagi anak keturunan Hawa. Ketika orang tuanya melihat gelagat anaknya berkeinginan untuk melakukan sesuatu yang mendorong kekerasan: sesungguhnya aku tidaklah rela untuk lari dari pekerjaan para wanita.

Sang ibu tidak hanya mencukupkan diri dengan nasehat saja, akan tetapi juga dengan paksaan serta ancaman, yang memaksa sang ayah untuk turut campur dalam permasalahan ini dengan kekuatannya, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki:

“Takutlah engkau dari upayamu menghancurkan hati anak perempuan kecil ini, dan menghancurkan kesucian hatinya. Tidak akan selamanya anak perempuanku memiliki watak  kecenderungan pada tinta dan juga lembaran-lembaran kertas. Maka janganlah engkau menghentikan jalan kecenderungannya dan kegemarannya, sebelum semuanya terlambat; Terimalah maafku wahai bunda dan berikanlah aku perlindunganmu. Ketika sudah ada padaku pengakuan sebagai seorang  penulis dan penyair wanita, maka hal ini dapat mendatangkan rahmat bagiku setelah kematianku”

Asumat adalah sebuah nama yang senantiasa diinginkan oleh para penulis dalam menuliskan karyanya dengan dua bahasa yaitu Turki dan Persia. Ini tertulis dalam pembukaan bukunya.

###

Ketika saya sudah berpindah dari persaksian perselisihan yang terjadi diantara kedua orang tuanya, maka kemudian saya akan menggambarkannya secara umum dari watak Aisyah Timur sewaktu kecil, pemerintahan yang berkuasa yang telah meremehkan ayahnya yang kuat  dalam membebaskan perbudakan, dari belenggu dan hukuman. Disamping itu, apakah cerita ini merupakan sebuah ringkasan jawaban dari pertanyaan para pembahas: dari mana asal mula kecenderungan Aisyah Timur terhadap dunia sastra?

Secara umum, disitu berlaku hukum kecenderungan yang murni berasal dari diri seseorang, yang merupakan sesuatu yang melekat dalam diri setiap anak yang akan terasah dan tumbuh ketika ditemukan padanya sebuah pendidikan yang bagus, lingkunagn yang melingkupinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Seorang tukang fitnah terkadang akan mati sebelum sempat bertunas, ketika bumi menjadi kering dan keras. Dengan mengambil sisi baik dari sejarah yang ada, bahwasannya Aisyah Timur mendapatkan pendidikan yang baik dalam lingkunagn pertamanya. Seperti halnya ia menyandarkan dirinya kepada lengan ayahnya yang kuat, demikian juga dengan sejarahnya.

###

Mi Ziyadah berkata: bahwasannya Aisyah Timur  muncul sewaktu para wanita berada dalam malam yang gelap dari kebodohan, dia datang bagaikan kilat yang membawa kegembiraan bagi para wanita Mesir dan para wanita yang akan datang. Pertama kali Aisyah Timur  menuliskan syair adalah pada usia tiga belas tahun. Dan dia menuliskannya dalam tiga bahsa sekaligus, yaitu Arab, Turki dan Persia.

Orang pertama yang membaca syairnya adalah ayahnya sendiri, yang senantiasa menjaga dan memperhatikannya, yang telah membukakan kepandaian yang ia miliki. Sewaktu ia mnyajikan syairnya kepada ayahnya, ia mengumpulkannya kepada ayahnya dan ayahnya memberikan semangat kepadanya, memperhatikannya dengan seksama bahwasannya dia bakal menemukan jati dirinya sendiri, terhadap kesalahan-kesalahan bahasa, kesulitan membuat kata-kata terakhir dalam bait syair, terlebih sang ayah menginginkan untuk mendatangkan guru bagi putrinya untuk mempelajarinya ilmu Arudl (Arudl=Suatu ilmu mengenai kaidah dasar nada).

Akan tetapi keadaan baru muncul dan tertulis dalam kehidupan penyair wanita ini, ketika datang pinangan Muhammad Taufik Zadah. Dan akhirnya menjadikannya istri pada tahun 1854 dan usianya pada waktu itu empat belas tahun. Saya tidak menyangka Aisyah Timur  tidak menekuni bidang ini dalam waktu yang lama, akan tetapi cuma mencukupkan diri dengan mengambil kaidah umumnya saja dan setelah itu berlalu meninggalkannya dan memilih berumah tangga dalam kehidupan suami istri.

Ia tetap menjadi pemimpin wanita dalam kelompoknya, ia tidak disibukkan dengan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rumah, akan tetapi yang mengerjakannya adalah para budak dan pembantunya. Ia senantiasa mendatangi anak-anak sekolah, hal ini memungkinkan baginya untuk mngerahkan kmampuannya kembali dalam bidang sastra. Ia merasa bahwasannya ia masih butuh untuk memperkuat bahasanya, lalu ia mendatangkan dua orang guru yang masing-masing menguasai ilmu sharaf dan nahwu dan juga arudl, ia belajar kepada keduanya sampai akhirnya ia bisa. Dan dia berhasil menciptakan bait syair dengan bahasa Arab, seperti halnya ia menciptakan syair dalam dua bahasa yaitu Turki dan Persia yang dia pelajari dari kedua orang tuanya.

Lagu-lagunya yang berbahasa Arab, ia kumpulkan dalam bukunya yang berjudul Hilyah At-Taraz yang memuat kejadian-kejadian yang dialami Aisyah Timur, ketika kumpulan tulisannya memuat dua bahasa Turki dan Persia muncullah buku Asumat dan dengan menggunakan nama julukannya Timuriyah, karena sesuatu yang ida sebarkan berupa sajak dnegan mengambil dua judul yaitu Nataij al-Akhwal dan Al-Mar’ah at-Taammul fi al-Amwar.

###

Syair tetap menjadi jalan pertama yang dia geluti, karena dia menyukai syair. Gambaran kecintaannya terhadap syair dan dalam permualaannya terlihat dalam syair berikut:

“Wahai diri yang penuh dengan nafsu, wahai bibir yang hitam dan manis, sia-sialah umurku dalam berandai-andai dan berkhayal. Jika saja Nabi Nuh selalu saja mengusapku, maka air mataku akan menetes dipipi ketika hal itu benar-benar terjadi”

Air mata itu tidak lama menetes. Dia adalah pemilik kemegahan dalam mengadakan walimahan menuju rumah pelaminannya. Menghampar didepannya permadani yang terbuat dari bulu, yang dijaga oleh tentara dari Persia, dan membawa lilin juga lentera, membangkitkan semangat kebangsaan, dengan musik seruling dan kendang yang ditabuh. Turut serta juga kendaraan agung nan elok dengan aksesoris yang indah dan dibelakangnya terdapat sebuah tulisan panjang dari deretan kendaraan-kendaraan yang mengiringinya.

Ini adalah sifat yang dapat digambarkan dari tulisan mengenai sejarahnya. Pengadatan pernikahan yang ada mempelajarinya dari kejadian tersebut. Dan hal ini mungkin saja akan tetap hanya menjadi perkiraan-perkiraan saja dalam bayang-bayang kehidupan para penulis setelah ia menikah tetap saja dalam bayang-bayang. Jika saja Zainab Fawwaz tidak mendokumentasikan paras mukanya dalam tulisannya:

“Aku meringkasnya dari belajar dan mendendangkan Syair, dan saya tidak dapat menggambarkan rumahnya. Dan itu memang sesuatu yang harus ada, apalagi setelah ia dikaruniai beberapa anak laki-laki dan juga perempuan” 

Setelah sepuluh tahun berlalu dari pernikahannya, keluarlah sang penyair wanita ini dengan memberi tahukannya setelah itu:

“ Setelah sepuluh tahun berlalu, buah hatinya yang pertama, yang bernama Tauhidah. Tiupan jiwa dan ruh kasih sayang, telah sampai pada usianya yang ke sembilan. Aku bisa menikmatinya, dengan melihatnya sepanjang hari dari subuh sampai dengan siang, diantara tempat tinta dan juga pena. Hari-harinya disibukkan sampai dengan sore dengan jarumnya, menenun dan membuat sebuah karya baru, orang-orang sering memanggilnya untuk minta tolong. Seorang penyair wanita dengan kesedihannya atas sesuatu yang menyakitkan menurutku ketika saya berada pada seusianya. Dari keputusan akan tindakannya ini

Ketika usia anaknya menginjak dua belas tahun, ia ingin melayani ibu dan bapaknya, apalagi salah satu kegemarannya adalah menjalankan rumah tangga dan orang yang ada didalamnya berupa pembantu dan pengikut. Maka sangatllah menyenangkan bagi saya untuk mengunjungi sudut halaman rumahnya.”

Tauhidah ini memiliki bagian yang sempurna dari cinta ibunya, sampai dengan  ibunya dapat mengetahui sakitnya  karena luka, ataupun kesusahan yang dalam, sebab dia adalah anak wanita yang terpilih.

###

Sewaktu ia menuliskan pelajaran, anaknya senantiasa menemaninya. Ia mampu melakukannya karena usianya yang masih muda dan semangatnya masih menyala-nyala untuk memahami ilmu Arudl lebih mendalam dari pada mengabaikannya. Sang ibu tidak meninggalkan penisbatannya ketika lewat, dengan tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikan anak perempuan ini  yang telah ditakdirkan pandai dalam bidang syair, seperti halnya juga dalam membordir dan menghargai tamu.

Disitu ada sebuah pilihan baru yang disebutkan oleh Aisyah Timur  ketika para pemimpin wanita mendatanginya, dengan maskud mengunjungi. Terkadang juga karena maksud untuk melamar gadis kecil ini, sosok yang muncul dan memikat yang dikenal dalam masyarakat. Tauhidah tidak bersikap ramah terhadap mereka, sewaktu ibunya datang menghampiri, ia berkata dengan lembut dengan cara-cara yang berlaku. Ia mengatakan kata  Çæ ÍÔÊæäÇ  namun karena adanya sedikit gagap maka kata itu terdengar   Çæ ÍÓÊæäÇlalu keluarlah sebuah ungkapan yang digunakan orang tuanya untuk memulai dan menjelaskan kesalahan itu dia berkata:

“para pengkritik akan berkata, sewaktu engkau berkata dengan ramah  kata   Çæ ÍÓÊæäÇ itu terasa berat dan salah,  Ô tidak boleh diganti dengan Ó , lafadhnya salah. Akan tetapi mulutnya tidak mampu mengucapkan tiga titik”

###

Dari buku Ad-Dar an-Mantsur saya mengetahui bahwasannya sang penyair wanita ini kehilangan orang tuanya pada tahun 1882  lalu dia menikah setelah berselang tiga tahun. Dia menjadi sosok wanita yang bijaksana, dan menggunakan waktunya untuk mempelajari dan mendalami bahasa sampai mahir, sampai akhirnya ia mampu membuat syair-syair panjang dan beragam bentuknya.

Akan tetapi kebanggaan Aisyah timur terhadap putrinya yang memiliki kemiripan dengannya dalam hal pemikiran dan juga hatinya tidak bertahan lama. Tuhidah meninggal pada usia dua puluh lima tahun karena sakit yang telah merampas kesehatannya dari penjagaan ibunya. Secara mengejutkan, tiba-tiba pada suatu hari ia menulis sebuah lagu yang berisikan ratapan terhadap dirinya sendiri.

Lalu ia mengetahui keterangan dari muridnya sendiri, bahwasannya pemudi itu mengambil makanannya didepan ibunya, dengan maksud meminta izinnya, beberpa saat kemudian ia selesai memakannya dan segera menuju tempat tidur, akan tetapi ia tidak tidur. Datanglah pertolongan dokter untuk menguak keadannya, setelah beberapa saat. Berganti sang anak yang menghibur ibunya dengan kata-kata yang menyandarkannya pada kedudukan yang tinggi dari kematiannya: lalu aku merangkul dan memeluknya dengan erat semalaman sampai subuh dalam keadaan menangis dan meratap juga berkabung.

Demikianlah selesai sudah kisah Tauhidah, dan ibunya terus saja menangisinya selama tujuh tahun berturut-turut sampai akhirnya penglihatannya melemah, dan menjadi pedih, kesehatannya mulai menurun. Lalu dia berserah memintakan nasehat kepada para kerabat, memintakan kesembuhan.

Saya meninggalkan kisah keadaannya sewaktu sakit dan kesembuhannya:

“Tubuhku menjadi lemah, sepertinya telah kehilangan gairah hidup  karena banyaknya kesulitan dan cobaan. Lalu Allah memberikan kenikmatan kepadaku dengan kesehatan dan menyinari kegelapan-kegelapan seperti halnya kepergianku dengan cahaya wujudnya putraku Mahmud, dia yang ada dalam kebahagiaan dalam rumah kesedihan.”

###

Anak laki-lakinya ini, dengan kemerdekaannya mengembalikan keberadaan ibunya seperti semula, lalu dia mencari peninggalannya, supaya dapat kembali menyiarkannya, wahai orang yang dalam kesedihan, ia membakar karya syairnya yang agung setelah kematian putrinya; wahai anakku, sesungguhnya ibumu ini pada saat sekarang tidak memiliki gairah membaca buku sastra apapun, dan ingin berpaling untuk menekuni tafsir Al-Qur’an, mempelajari hadits nabawi, aku menghibahkan kepadamu segala yang aku punya, buku, kertas-kertas, perbuatlah sekehendakmu, ketika engkau melihat didalamnya kemampuan, maka berlatih dan biasakanlah.

Keagungan dan kemashuran yang ada pada sang penyair perempuan akhirnya diwarisi oleh Mahmud, seperti berita yang sampai kepadaku.

###

Aisyah timur adalah seorang wanita, dimana saya menemukan sifat-sifatnya? Hal ini mengharuskan saya untuk kembali menengok tulisan Mi Ziyadah, saya mengetahui bahwa sesuatu yang paling ujung yang dapat diketahui bahwasannya sang penyair perempuan ini tidak tinggi dan tidak juga pendek, tidak juga putih ataupun sawo matang, tidak gemuk dan juga tidak kurus.

Sifat-sifat ini bersumber dari saudara kandungnya, Ahmad Timur Basya. Dia dilahirkan sewaktu Aisyah timur berumur tiga puluh satu tahun. Aisyah timur hidup dirumahnya sendiri dengan suaminya dan bukan dirumah orang tuanya. Salah seorang yang kenal dengannya berkata; demi Allah,  dia adalah sosok wanita yang manis. Salah seorang pemimpin wanita menyifatinya, bahwa ia adalah wanita yang cantik, mirip orang Turki.

Pemimpin masyarakat, Aisyah. Mengatakan bahwasannya Aisyah timur bersahabat dengan para wanita istana raja, para nyonya-nyonya istana senantiasa menundangnya dalam pesta-pesta dan acara kebesaran. Mereka menghendaki Aisyah timur untuk menterjemahkan bahasa-bahasa yang berlainan. Walaupun bayang-bayang sang penyair wanita ini masih terasa asing dengan pemikiran dan juga jiwanya dari lingkungannya, karena melampaui wanita-wanita sezamannya.

Bayang-bayang Aisyah timur tetap saja tertutup dan terhalangi keadaan para wanita pada zamannya. Dia tetap saja menulis sampai masa-masa berikutnya, sewaktu datang Huda Sya’rawi, dia adalah sosok pemimpin wanita penulis pertama di Mesir dan diseluruh negri Arab.

Bayang-bayang syair Aisyah timur berkeliling dalam pembahasan saya; yang pasti tidak sampai pada anak-anak perempuan sejenisnya, atau mengira-ngirakannya. Akan tetapi disana ada saksi-saksi cendekiawan dan sastrawan laki-laki, yang meletakkan nya dalam tingkatan pembukaannya. Syaikh Al-Ghamrawi berkata: dia adalah seorang penyair wanita pada masanya, walaupun orang-orang merasa sulit untuk memahami lebih banyak dari makna-makna yang dikandung.

Ajakannya akan  kemerdekaan menjadi pembuka bagi ajakan yang dilakukan oleh Qasim Amin. Sperti halnya keunggulan syair-syairnya yang telah ditulisnya selama beberapa tahun, seperti yang dilakukan Waradah al-Yazaji dalam ragam dan bentuknya. Dia memiliki keunggulan lipat tiga, karena dia menguasai tiga bahasa, yang dia praktekkan bukan saja dalam syairnya saja, melainkan dalam artikel, kisah-kisah cerita, penerjemah para raja pada masanya. Bahasa Arab adalah bahasa negaranya, Msir, bahasa Turki adalah bahasa ayahnya, bahasa Persia adalah bahasa sekolaha-sekolah dimana ia mendapatkan pelajaran satra Arab.

###.

   Adapun syair-syairnya yang lain terpencar dalam majalah-majalah. Baik syair yang bercerita keluarga, rayuan, nasehat budi pekerti, agama, dan juga kutukan. Dia mewajibkan dirinya dalam kebiasaan masyarakatnya untuk menuliskan untaian-untaian syair keluarga, sehingga datanglah undangan jamuan makan malam, dia menuliskan syairnya ditengah jalan  dengan cepat. Hal ini masuk dalam kelompok pujian yang layak diberikan kepadanya, terlebih undangan para pembesar negri, disitu ia mengeluarkan kempuan berpolitiknya.

Ketika ia menginginkan kebaikan dan kemakmuran bagi Mesir, maka dia melihat hal itu semuanya dapat diwujudkan dari tangan para pembesar tersebut. Yang memang berkompeten dalam hal itu. Salah satu dari tujuannya adalah menjaga, keselarasan dirinya dan kedudukannyua dalam masyarakat.

Adapun syair keluarganya banyak dipuji oleh anggota keluarganya, memberikan kesan mendalam dalam keluarga, berupa mensifati atau memuji anak-anaknya. Sebenarnya syairnya ini adalah sebuah bentuk ratapan, khususnya kepada putrinya Tauhidah, yang telah ia antarkan sampai dengan kedudukan tinggi, sehingga melewati Mi Zayadah seumurannya dengan lagu yang serupa dengan syair Inggris karya Tanison, salh satunya:

“Sangatlah agung pertemuan besok, dua sisi hidup seperti pengantin baru dengan kesenanganya. Doaku kepada Tuhanku sebagai tempat berlindung, adalah kawan bagi putriku, yang datang dalam perkawinan dengan maskawin yang banyak. Tidak akan pernah terlupakan demi hak yang telah membangun makamku supaya yang dikubur tidak merasa susah” 

Aisyah Timur merasa sengsara dalam cintanya, dalam kadaan ini ia mengatakan: tanpa manusia, dengan ini ia bermaksud menguji lisan. Rayuannya tidak lepas dari bingkai ketundukan, dia menuliskannya dengan bahasa laki-laki. Seperti halnya nasehat-nasehatnya dalam bidang akhlak dan juga agama, tetap berada dalam bayang-bayang zaman dan pemahamannya. Dia juga mempunyai syair-syair kutukan yang terlihat dari sela-sela kalimatnya yang lembut, yang tercipta untuk berjumpa dengan Tuhan.

  Sesuatu yang sangat menyiksa yang dituliskannya dalam sebuah syair yang biasa disebut pemerintahan suku, dia memindahkan kedalamnya masa-masa yang mengiringinya, dan para penyanyi mlagukannya, dan majulah situasiitu darinya:

“Hidupku setelah engkau jauh dariku penuh dengan tangis, janjimu telah menyia-nyiakan aku. Dan engkau, engkau besok adalah ruh, bagaimana engkau rela jauh dariku?

###

Adapun sajak Aisyah Timur, tidaklah juga lebih penting dari pada syairnya. Sajaknya berpedoman pada cara-cara yang berlaku dalam zamannya dan juga tujuannya. Puncaknya adalah pemindahan surat-surat dan menyampaikan nasehat-nasehat dan juga kebijaksanaan. Terlebih dalam menyampaikan sesuatu yang ia jaga berupa buku-buku baru. Dia telah memindahkan penulisan sebuah kisah, bayang-bayang telah menguranginya dalam membuat bahasan baru. Kisahnya tenggelam ketika digantungkan dalam penuturan-penuturan dari cerita-cerita orang-orang kuno.

Adapun dalam posisinya sebagai sosok wanita pemimpi, maka pendapat-pendapat umum dijadikan sebagai pedoman, dan juga kesempurnaan sajaknya. Akan tetapi ia adalah seorang pemimpin wanita dalam masyarakatnya, memerintah sebuah masyarakat yang sebelumnya belum mengenal revolusi. Sependapat dengan hal ini, adalah seperti yang telah diungkapkan diawal, Qasim Amin dalam ajakannya memerdekakan wanita dan kebagkitannya.

Aisyah Timur juga demikian adanya, dia membuka jalan dalam majalah-majalah yang menyuarakan masyarakat (majalah Bahitsah al-Badiyah), sebuah majalah yang telah mengupas tuntas mengenai dirinya, menginginkan untuk menemukan cara-cara yang jitu dan lembut.

###

Saya tidak menemukan dalam akhir pembicaraanku pada pemimpin wanita ini, khusunya dalam pembahasan pembebasan perbudakan, suatu perkara yang dekat, ketika diberikan perhatian padanya, tersembunyi dan meleleh secara pelan-pelan:

“Ini adalah kata-kata yang menuntunnya dalam mencintai engkau andai saja tidak dapat diungkapkan dengan pena. Dia datang, dengan tergesa-gesa dia berjalan tenang, dia takut akan terpeleset kakinya”

Allah mengasihi orang yang memiliki tiga nama dan menguasai tiga bahasa ini; Aisyah Asmat at-Timuriyah, pemimpin kebangkitan wanita, penyuaraan syair pertama. Ia sadar telah melawan arus zamannya dan telah berhasil membuka pintu kebebasan.

 

 

 

 

Daftar isi

Pembukaan…………………..

Sumairams……………………

Balqis…………………………

Cleopatra…………………………

Zanubaya………………………..

Khanasa………………………….

Layla al-Akhyaliyah…………………..

Arwa As-Sulaikhiyah……………………

Khawalah binti al-Azwar………………….

Walladah binti al-Mustakfa…………….

As-Sittu Nasab…………………………..

Waradah al-Yazaji……………………..

Aisyah Timur…………………………

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembahasan-pembahasan buku ini telah dapat dinikmati, yang terbagi dalam enam bagian, menampilkan para pemimpin wanita dari negri Timur maupun Barat. Saya telah memilihnya berdasarkan kecermelangan kekuasaannya yang dapat diraih oleh wanita-wanita tersebut dalam beberapa masa. Dari kekuatan yang dimilikinya dan juga segala sesuatu yang melingkupinya berdasarkan pertumbuhan kekuatan mereka. Dan cara mereka mewujudkan ambisi mereka dan menunjukkan kebijaksanaannya, yang disertai dengan adanya tingkatan kedudukan yang ada pada mereka.

Ketika saya menghidangkannya dihadapan para para pembaca Arab, cerita masyarakat ini dan keunggulan-keunggulan yang ada pada wanita, saya mengharapkan adanya setiap dari para pemimpin wanita masa depan mengambil petunjuk dan juga ilham dari para pemimpin wanita masa lalu.

Imli Nasrullah

 

 



[1] Tadmir =Palmyra adalah nama lain dari kota Syria dahulu.

[2] Suatu istilah bagi rombongan dagang

[3] Khadiyyin adalah gelar pembesar di negri Mesir zaman dahulu