JUDUL ASLI                : ZAUJATUL ANBIYA ALAIHIM SALAM WA UMMAHATU   AL-MUSLIMIN RADHIYALLAHU ‘ANHUNNA

JUDUL TARJAMAH            : ISTRI PARA NABI

PENERBIT                 : DAAR ATS-TSAQOFIYYAH MESIR

TAHUN TERBIT       : 2004 M/1425 H

TOTAL                       : 192  HALAMAN

PENERJEMAH          : ACHMAD MACHRUS MUTTAQIN, S. FIL. I

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

  1. Mukaddimah…………………………………………………..
  2. Hawa……………………………………………………………..
  3. Penciptaan Hawa…………………………………………………….
  4. Kemunculan Nama Hawa……………………………………………………..
  5. Kesalahan Adam dan Hawa………………………………………..
  6. Adam AS: Antara Kenabian dan Pengingkaran………………………….
  7. Dimana Nabi Adam di turunkan?...................................................................
  8. Hawa Sebagai Seorang Istri dan Sosok Ibu……………………………….
  9. Antara Qabil dan Habil…………………………………………………….
  10. Penggembala dan Petani……………………………………………….
  11. Walaghah, Istri Nabi Nuh…………………………………….
  12. Sarrah, Istri Nabi Ibrahim…………………………………………….
  13. Walahah, Istri Nabi Luth………………………………………………
  14. Hajar…………………………………………………….
  15. Qanthuran dan Hijjun, Istri Nabi Ibrahim…………………………….
  16. ‘Imarah dan Sayyidah, Istri Nabi Ismail…………………………………….
  17. Rifqan, Istri Nabi Ishaq…………………………………………………….
  18. Liya, Rahel, dan Balha, Istri Nabi Yaqub………………………………
  19. Istri Nabi Yusuf……………………………………………………………
  20. Liya, Istri Nabi Ayub……………………………………………….
  21. Shafura, Istri Nabi Musa……………………………………………………
  22. Istri-istri Nabi Dawud……………………………………………………
  23. Balqis, Istri Nabi Sulaiman……………………………………..
  24. Al-Yashaabat, Istri Nabi Zakaria…………………………………………
  25. Istri-istri Nabi Muhammad Saw………………………………
  26. Sebuah kata dari sang istri…………………………………………………..
  27. Khatijah Binti Khuwailid…………………………………………………..
  28. Saudah binti Zam’ah……………………………………………………….
  29. Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shidiq………………………………………..
  30. Shafiyah binti ‘Umar……………………………………………………….
  31. Zainab binti Khuzaimah…………………………………………………..
  32. Umu Salamah……………………………………………………………
  33. Zainab binti Jahsyi…………………………………………………………….
  34. Juwairiyah binti Al-Harits…………………………………………………….
  35. Shafiyah binti Hayyi…………………………………………………………..
  36. Umu Habibah……………………………………………………………….
  37. Mimunah binti Al-Harits…………………………………………………..
  38. Mariyah Al-Qibthiyah…………………………………………………….
  39. Rihanah binti Syam’un………………………………………………….
  40. Penutup…………………………………………………………………..
  41. Daftar Pustaka…………………………………………………………….

 

 

 

 

 

 

 

Mukaddimah

 

            Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah. Aku memuji kepada Allah, memohon pertolongan kepada Allah, memohon ampuan kepada Allah, dan memintakan penjagaan dari kesalahan-kesalahan yang ada pada diriku dan juga amal-amal perbuatan yang tercela. Barang siapa yang diberikan hidayah oleh Allah, maka ia tidak akn tersesat dan barang siapa yang tersesat, maka itu pertanda bahwa ia tidak diberikan hidayah oleh Allah.

            Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Dia-lah yang maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia-lah yang maha kuasa, dan hanya kepada-Nya segala puji disanjungkan. Dia yang menghidupkan dan juga mematikan segala yang ada, Dia adalah Dzat yang berkuasa atas segala sesuatu yang ada.

            Dan aku juga bersaksi bahwa pemimpinku, Nabiku, tuanku Muhammad, putra Abdullah, dan juga uitusan Allah. Seorang pemuda yang menjadi kekasih Allah,  Allah telah mengutusnya dengan membawa hidayah-Nya dan juga agama yang benar, supaya diajarkan kepada semua mahluk yang ada. Maka turunlah utusan, amanatpun didatangkan, untuk menasehati umat. Dengan mengutus Nabi Muhammad, Allah membuka tabir, meninggalkan kami menuju awan yang putih, malamnya seperti halnya siangnya, tidak ada orang yang akan tersesat kecuali orang yang terpeleset dan binasa, semoga rahmat dan salam Allah senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, kepada keluarganya, para shahabat semuanya, dan juga para tabi’in berupa kebajikan sampai dengan hari kiamat.

Tidak banyak buku yang menulis tentang kisah para nabi yang dimulai dari nabi Adam As sampai dengan nabi Muhammad Saw.[1]  Beragam jenis tulisan yang mengulas tentang sejarah nabi Adam sampai dengan nabi Muhammad, antara yang mendetail dan panjang lebar dalam uraiannya dan antara yang berupa ringkasan secukupnya.

Al-Qur’an adalah sebuah anugrah yang agung dalam penceritaan dari para nabi-nabi, para umat-umat dan juga suku bangsa yang mana para nabi tersebut telah diutus kepada mereka dan mengajak mereka untuk meng-Esakan Allah. Dan melahirkan kisah-kisah yang melingkupi kehidupan umat tersebut, yang sesuai dengan jalan yang diridlai Allah, yang karena itulah mereka para nabi diutus oleh Allah.

Seprti halnya Al-Qur’an, sebagian surat dalam Al-Qur’an dinamai dengan nama para nabi, seperti nabi Yunus, nabi Hud, nabi Yusuf, nabi Ibrahim, nabi Muhammad dan juga nabi Nuh. Dan untuk menamakan dan mendasarkan kepada para nabi secara keseluruhan (semoga rahmat dan salam Allah senantiasa tercurahkan kepda mereka semua) ada dalam surat al-Anbiya!

Dan dalam kejelasan penceritaan para nabi ini, maka diperlukan adanya pelengkap berupa penceritaan istri-istri para nabi, baik dari sisi baiknya ataupun sisi buruknya para istri-istri nabi, dengan melihat kiprah yang diberikan oleh mereka selaku istri para nabi, baik kontribusi itu berupa dukungan ataupun berupa penentangan dengan menyimpan ataupun melaksanakan apa yang diperintahkan oleh suami mereka yang termaktub dalam risalah kerasulan, dan juga berjiwa amanah dalam menyampaikan risalah tersebut.

Para ahli sejarah dan juga para cendekiawan muslim merangkai pada masa yang cukup lama,  dan dalam abad-abad terakhir ini pada penceritaan istri para nabi, dengan mengumpulkan rangkaian sejarah kehidupan para nabi dan coba mencampurnya serta mengaitkanya satu dengan yang lain. Sebagian besar mereka lebih condong kepada kisah-kisah israiliyat yang ada, lalu setelah dilakukan pengecekan ternyata bentuknya meragukan, tidak jelas, tidak dapat diketahui adanya sebentuk ketidak cocokan dalam kisah israiliyat tersebut karena adanya bentuk penipuan.

Saya mengambil kisah-kisah israiliyah hanya sebagai referensi tambahan saja, yang saya gunakan untuk menguatkan kebenaran dan untuk penuturan yang lugas dengan pentakwilan yang ada dalam kitab Taurat mengenai ahlil al-kitab.

Dalam melakukan penulisan buku ini, saya lebih memilih untuk menulisya sendiri, semampu saya. Mengutarakan mengenai istri-istri  para nabi dalam sebuah buku. Akan tetapi saya juga meraa tertekan ketika mengisahkan derita yang dialami nabi dalam kehidupannya, karena hal ini termasuk dalam bahasan pokok, sedangkan kehidupan para  nabi tidak dapat lepas dari kehidupan para istrinya, karena dia adalah bagian yang tidak terpisahkan, yang ada dan untuk dijadikan sekutu dalam menjalani kehidupan.

Saya menerima bantuan berupa sesuatu yang dihasilkan oleh para ahli sejarah mengenai sebagian nama-nama dan juga rincian-rinciannya -yang dipindahkannya dari ahlil al-kitab- karena sesungguhnya saya ingin memberikan keterangan yang jelas, sehingga tidak ada kekaburan pada pembaca dan saya senantiasa berpedoman pada Al-Qur’an dan juga Hadits.

Saya juga memperhatikan perkembangan waktu terakhir ini.[2] Banyak bermunculan buku-buku yang berupa ringkasan, yang didalamnya sangat terlihat adanya sedikit keseriusan untuk menulisnya dan hanya sedikit saja yang memperberat bahasan tentang kehidupan para istri nabi, oleh karena itulah saya dalam buku ini berkeinginan untuk memerinci dan menjelaskan dengan panjang lebar, saya mencoba menjelaskan keterangan saya dengan sebaik-baiknya.

Tidak begitu mudah bagi saya dalam merunutkan kisah ini, kecuali saya haturkan banyak terima kasih kepada pemilik penerbit Daar Ats-Tsaqofi di Mesir, saudaraku yang mulia, yang telah menolong saya. Karena dia adalah orang yang memiliki keutamaan agung, dalam memberikan perhatian terhadap pemikiran yang tertuangkan dalam buku ini. Alhamdulillah.

Terakhir, saya memohon kepada Allah supaya amal saya ini dapat diterima oleh-Nya, dan dapat menjadi nilai tambah kebaikan saya dihari kiamat, sesungguhnya Allah adalah Dzat yang mulia dan Sang penolong.

 

 

 

 

Mesir, permulaan Rajab 1424 H/ 29 Agustus 2003

Muhammad Ali Qutb     

 

 

 

 

HAWA ‘Alaiha Salam

 

 

 

Penciptaan Hawa

            Allah berfirman dalam QS. An-Nisaa’:

Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisaa’: 1)

               Dan Allah juga berfirman dalam QS. Al-A’raf:

Artinya: Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". (QS. Al-A’raf: 189)

            Yang dimaksudkan dengan kata äÝÓ ÇáæÇÍÏÉ   adalah  Adam, karena telah didahului adanya penciptaan Hawa. Diriwayatkan dari Ibn Abbas RA dari Ibn Mas’ud RA dari sekelompok shahabat, mereka berkata:

            “Iblis dikeluarkan dari sorga, dan Nabi Adam tinggal di sorga, dia berjalan-jalan sendirian didalam sorga, dia tidak memiliki istri yang bisa diajak hidup bersama disorga, lalu dia tidur sesaat, ketika bangun tiba-tiba disebelah kepalanya ada seorang perempuan duduk, Allah telah menciptakan perempuan ini dari tulang rusuk nabi Adam, lalu nabi Adam bertanya:

“Siapa engkau?”

“Aku adalah perempuan”

“Mengapa engkau diciptakan?

“Untuk hidup bersamamu”

            Lalu para malaikat berkata kepada nabi Adam-mereka memperhatikan ilmu apa lagi yang dikuasai oleh nabi Adam-:

            “Siapa namanya, wahai Adam?”

            “Hawa”

            “Mengapa dia ada?”

            “Karena dia diciptakan dari sesuatu yang hidup”

            Dalam kitab Bukhari Muslim, dari Abu Hurairah, bahwasanyya Nabi Muhammad Saw. bersabda

            “Berwasiatlah kepada para wanita dengan baik, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, jika tulang rusuk itu bengkok, dan engkau hendak meluruskannya kembali, maka sama dengan engkau mematahkannya, jika engkau membiarkanya maka dia akan tetap bengkok, maka berwasiatkah kepada wanita dengan baik”[3]

            Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari Ibnu Abbas:

            “Bahwa sesungguhnya Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam sebelah kiri, ketika dia tertidur, dan kedudukan Adam pada seorang ibu sangatlah kokoh”

 

Nama Hawa:

            Menurut ahlil al-kitab, dalam kitab Taurat disebutkan nama Hawa akan tetapi tidak disertai dengan alasan atau keterangan dalam penyebutannya, berbalikan dengan apa yang telah disebutkan dalam hadits yang telah diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas dan Ibn Mas’ud dari para shahabat

            Orang-orang Arab telah mengetahui namanya, mereka telah menjadikannya sebuah nama dan mengenalkannya. Pada para shahabat perempuan, juga ditemukan empat macam farian dari nama ini.[4]

 

Adam, Hawa dan kesalahan

            Allah berfirman:

Artinya: Dan Kami berfirman: "Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah: 35)

            Keduanya dipindahkan dari istana dalam surga dan juga taman surga, yang mana mereka dapat bersenang-senang dengan berlindung didalamnya, memakan buah-buahannya, kesegaran air-air yang mengalir didalamnya, hidup mereka jauh dari kesusahan. Kebahagiaan melimputi mereka berdua, dan pengawasan Allah senantiasa menjaga mereka.

            Suatu hari, ketika mereka berdua sedang berjalan-jalan, sampailah keduanya pada pohon itu, sebuah pohon yang memang terlarang bagi mereka berdua. Pohon itu tidak berbeda dari pohon-pohon yang lain, baik dahannya, ataupun buanya. Pelarangan ini dimaksudkan oleh Allah sebagai bentuk ketaatan dan sebuah cobaan atas ketetapan berpegang teguh pada perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

             Didekat pohon itu, Syaitan pun membisiki keduanya bahwa pohon ini adalah pohon keabadian, ketika keduanya memakan buah dari pohon ini, maka keduanya akan menjadi hidup kekal, tidak akan pernah mati dan tidak akan pernah mengalami kefanaan. Akan tetapi keduanya bersikukuh untuk tidak menuruti iblis dan menolak dan seketika itu juga keduanya lari menajuh dari iblis.

Dan kesempatanpun kembali datang, dengan leluasa iblis membisiki keduanya dengan cara yang berbeda dan menunjukkan kepada mereka berdua bukti-bukti, membujuk mereka dengan kelezatan buah pohon itu, sampai akhirnya mereka berdua terbujuk dan terjerembab dalam kesalahan, mereka berdua memakan buah pohon itu!.

            Seketika itu juga terungkap, tampaklah dengan nyata kesalahan mereka berdua.[5] Mereka meraih dan mencoba menutupi aib mereka berdua dengan dedaunan sorga supaya kejelekan mereka tidak terlihat dan aib mereka dapat tertutupi, seperti adanya malapetaka yang berat atas sebuah kesalahan dan siksa yang berat.

Allah berfirman dalam mengimpali perkataan iblis:

  

Artinya: Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)". Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua", maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (QS. Al-A’raf: 20-22)

            Dalam hal ini, didalam kitab Taurat menyebutkan bahwa iblis ketika itu menjelma menjadi seekor ular, dan pohon itu bernama pohon tufah. Dan pada dasarnya Hawa-lah yang telah membujuk Adam dan Adam terbujuk, lalu keduanyanya pun terjerembab dalam kesalahan. Dalam Taurat juga disebutkan bahwasannya Hawa adalah sosok wanita pertama yang membuat kesalahan, hal ini ada dalam pokok akidah mereka.

            Seperti halnya juga dengan pendapat ini, sebagian para ahli tafsir banyak yang berpendapat pada adanya pemilihan keterangan inti mengenai pohon itu, dan mereka-pun banyak berpendapat mengenai pohon itu dengan berpangkal pada cerita-cerita israiliyat. Yang benar adalah sebuah keterangan yang tidak ada perselisihan ataupun pertentangan, yaitu seperti yang terkandung dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:

Artinya: Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (QS. Thaaha: 121)

            Durhaka dilakukan oleh nabi Adam, sedangkan bujuk rayu dilakukan oleh syaitan. Bujuk rayu, seperti yang diutarakan oleh al-Jauhari dalam kibab As-Shahah adalah

“Omongan hati, dikatakan juga: hatinya telah membujuk dirinya. Kata waswasatun disini yang bermasdar wiswasan dan juga waswasun: adalah sebuah kata benda, yang semakna dengan zalzala atau zilzala”

Allah berfirman:

Artinya: Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)".(QS. Al-A’raf: 20)

Yang dimaksud dalam ayat ini adalah keduanya (Adam dan Hawa), akan tetapi orang Arab sampai pada kesimpulan bahwasanya huruf-huruf ini semuanya adalah fi’il dan dikatakan bahwa kata æÓæÓ adalah ditujukan bagi suara yang indah, æÓæÓ adalah nama syaitan.

Landasan semua itu adalah jiwa manusia yang diliputi oleh penolakan terhadap kebaikan dan juga penolakan terhadap kejelekan. Firman Allah:

 

Artinya: dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, QS. Asy-Syams: 7-8)

Yang saya maksudkan bukanlah pohon Tufah, juga bukan ular, dengan mempertimbangkan sesuatu yang memang saya maksudkan yaitu berupa suatu pengingkaran dan juga perbuatan dosa, dan inilah yang saya maksudkan!

Semua itu terjadi ketika Adam belum menjadi nabi. Dan perbuatan dosa itu senantiasa diikuti dengan taubat dan kembali kepada jalan yang lurus. Allah berfirman:

Artinya: Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: "Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 36-39)

Nabi Adam: Antara kenabian dan perlawanan

             Sesuatu yang menakjubkan adalah ketika sebagian ulama berpandangan terhadap penentangan kenabian Adam As, yang disertai dengan dalil-dalil yang lemah, mereka saling berdebat dalam hal ini, sehingga muncullah banyak prdebatan.  Mereka secara tegas dan terang-tarangan saling bertengkar, akan tetapi kemana arah tujuan mereka? Demi Allah, bahwasannya Allah berfirman:

Artinya: Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga `Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (QS. Al-Imran: 33)

Dan Allah juga berfirman:

Artinya: Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.  (QS. Thaha: 121-122)

Kemana arah tujuan mereka dengan pilihan mereka?

Dimana Nabi Adam diturunkan?

            Dalam hal ini pendapat-pendapat yang ada kebanyakan berasal dari kisah-kisah israiliyat, atau menghubung-hubungkannya kepada kitab taurat yang berada diantara umat ahlul kitab dan juga para pemimpinnya, bahwasannya tempat nabi Adam diturunkan adalah di Hindia!? Sebagian dari mereka ada yang condong pada bahwasannya nabi Adam diturunkan di Jazirah Arab, seperti halnya yang diungkapkan para ulama sekarang, bahwasannya nabi Adam diurunkan di Damsyik. Semua pendapat yang ada ini ternyata tidak sampai pada taraf yang meyakinkan.

 

Hawa: Sebagai sosok istri dan juga sosok seorang Ibu

            Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf:

Artinya: Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". (QS. Al-A’raf: 189)

Tiba-tiba muncul tindakan yang mengejutkan, menjadi sesuatu yang umum dengan hanya memperkirakan dan juga penggambaran-penggambaran yang bersumber dari Allah. Menjelma menjadi sebuah kesepakatan antara para ulama dan juga peneliti serta para ahli sejarah, bahwa sesungguhnya Hawa dalam setiap kali hamil, pasti mengandung dua janin, yaitu laki-laki dan perempuan, sementara nabi Adam pada prinsipnya ketika beristri menginginkan pada kehamilan yang pertama mengandung anak laki-laki dan pada kehamilan yang kedua mengandung anak perempuan, lalu sebaliknya!, dengan maksud yang beragam, tidak ada keraguan bahwasannya penggambaran itu adalah sebentuk wahyu Allah kepada nabi Adam.

            Hawa adalah sosok sebaik-baiknya istri, dia sosok yang senantiasa berada dirumah, membahagiakan dan penuh cinta kasih kepada suaminya, Adam. Seperti halnya Hawa adalah sebaik-baiknya ibu bagi putra-putranya, senantiasa menjaga dan menolongnya serta mendidiknya.

 

Antara Qabil dan Habil

            Adapun Qabil adalah putra pertama Hawa, sedangkan Habil adalah putra kedua Hawa, kedua nama ini tercantum dalam kitab Taurat dan juga terdapat dalam kisah-kisah israiliyat. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ahli sejarah atas penuturan kedua nama ini dalam Al-Qur’an, dengan menyisakan sedikit perbedaan yang terpampang dalam penyebutan nama Qabil, karena dalam kitab Taurat disebutkan dengan nama Qaabin.[6]

            Seiring dengan berlalunya tahun dan abad, serta berlalunya malam-malam, hari demi hari, maka anak-anak inipun menjadi semakin besar. Mereka tumbuh dan berkembang sampai akhirnya dapat berjalan, dan menjaga dirinya, serta mencari keberhasilannya sendiri-sendiri.

Qabil dan Habil ternyata mampu melakukan berbagai pekerjaan dengan cekatan dan juga mereka mampu melakukan laku prihatin, mereka mampu menghadapi cobaan yang keras dan menerimanya, demikian juga mereka mampu mengusir  sekawanan hewan liar dan bahaya-bahaya yang ditimbulkan dari hewan-hewan liar., keduanya menjadi sosok penolong bagi Nabi Adam, bapak mereka dalam mengamankan nafkah keluarga dan juga kehidupan keluarga.

            Ini merupakan sebuah keluarga kecil, dari penyendirian sosok manusia pertama yang merindukan adanya kasih sayang, cinta kasih dan juga saling tolong menolong, mereka berdua berbalutkan cinta kasih dan kasih sayang.

            Kedua anak perempuan Nabi Adam juga tumbuh semakin besar, berakhlak mulia, mereka berdua memiliki rasa saling mengasihi, saling menutupi kekurangan dari satu sisi dan kepribadian satu sama lain. Qabil dan Habil dihiasi dengan adanya saling merelakan dan memenuhi kebutuhan mereka berdua, dan senantiasa mengerahkan seluruh kemampuan mereka dalam melakukan suatu pekerjaan, mencoba untuk menjaga keturunan keduanya dan tidak merusaknya

Qabil dan Habil serta kedua orang tuanya, Adam dan Hawa, mereka berdua senantiasa saling bekerja sama, tidak saling mementingkan kebutuhan sendiri, tidak saling mencemooh dan juga tidak saling mencela.

 

Peternak dan Petani

            Kebutuhan dalam sebuah keluarga pastilah berbeda-beda dan beragam, berupa kebutuhan hidup dan juga upaya-upaya untuk mempertahankan hidup yang mengakibatkan adanya beragam pekerjaan. Bumi adalah sesuatu yang diberikan Allah yang didalamnya terdapat pemberian-pemberian yang tersimpan. Dengan melakukan pengolahan bumi dalam berbagai caranya, maka bumi menjadi terlihat terang dan selama beberapa masa terlihat bagus, juga memberikan hasil, menjadi terasa luas dan berkembang pada masa yang lain. .

            Dalam hal ini Qabil sangat mencintai pekerjaannya, melakukannya dengan sepenuh hati, menyirami dan juga merawat tanaman-tanamannya, oleh karena itulah dia memperoleh keberhasilan. Tanaman tumbuh dan menghasilkan buah yang baik, dia dapat memenuhi kebutuhan dirinya dan juga keluarganya dapat ditolongnya, dari suatu kebutuhan kepada kebutuhan yang lain dan dari musim ke musim. Dengan demikian tampaklah adanya keberuntungan dari bercocok tanam.

            Adapun Habil mengambil jalan yang lain, ketika ia menemukan adanya sumber kebaikan dan sesuatu yang dapat dihasilkan pada binatang ternak, berupa bulu-bulunya, kulit-kulitnya dan juga dagingnya. Ternaknya menjadi banyak, tersebar, sampai-sampai merepotkan hidupnya dan kebutuhan-kebutuhan hidup yang lain.

Untuk memeliharanya, ia menggiringnya, dia menginap disebuah rumah yang dibangun didekat kandang ternaknya untuk memberikan perlindungan dan juga menjaganya. Oleh karena itulah ternaknya menjadi banyak, bunting dan melahirkan, maka dengan serta merta ternaknya semakin bertambah, maka ada kebaikan yang dapat dia berikan dan sedikit kenikmatan yang dapat merata dalam keluarga.

Adapun saudara perempuan yang perawan, yang lahir bersamaan dengan Qabil lebih cantik dari pada saudaranya perawan, yang lahir bersamaan dengan Habil, mereka telah tumbuh menjadi sosok gadis, sosok wanita yang telah matang.  Dia mencintai Habil dengan sepenuh hatinya, dan ternyata Habil juga menanggapi cintanya. Hal ini merupakan sebentuk ilham dari Allah dan kebijaksanaan dari Allah Swt.

Beragam cara dilakukan Qabil untuk menarik simpatinya terhadap dirinya, ia menghendaki untuk mengikat cintanya pada dirinya, dia senantiasa membuat kesan dalam hatinya, akan tetapi ia tidak terkesan dan juga tidak tergerak untuk mencintai Qabil. Tali cinta telah meneduhi mereka, antara dua hati yang dipenuhi dengan cinta, hatinya dan juga hati Habil.

 Dengan leluasa Syaitan bergegas meniupkan bisikan-bisikan iri dan kedengkian pada diri Qabill, seperti halnya kehidupan Adam dan Hawa, dan memaksa keduanya keluar dari sorga, mengoda keduanya untuk melakukan dosa, demikian juga yang dia lakukan pada hari itu, iblis tidak ingin Adam dan Hawa, serta keluarganya berkumpul dalam balutan ridla dan kasih sayang.

Apakah iblis lupa terhadap permusuhannya dengan Adam pada suatu hari ketika Allah memerintahkannya  untuk bersujud, dia menolak dan malah berlagak sombong, mengancam dan menakut-nakuti, ketika ia teringat akan kejadian itu, ia akan mengerahkan segala kekuatannya tanpa akhir. Membisikkan kejelekan kepada Adam, menggodanya dan menjerumuskan dalam mencintai berbuat dosa, dan akhirnya Adam akan tertolak dari  sorga.

Kembali iblis menggoda, karena adanya cinta dalam diri Qabil dan ingin menguasai kekasih Habil. Dia duduk dikursinya, dia mentulikan kedua telinganya dari mendengar, membutakan kedua matanya dari melihat, lalu tindakannya meretas dalam anggota tubuhnya, dia menyerang saudaranya, Habil pada saat suasana sepi. Dia terlihat sangat marah kepada Habil dan dia tidak mau melepaskan Habil dari genggaman kedua tangannya, kecuali setelah Habil menjadi mayat, seorlah-olah dia hendak menyelam dalam darah saudaranya sendiri.

Dia berdiri tidak begitu jauh, melihat apa yang telah dilakukannya dengan tangannya sendiri. Lalu dia merasa bingung dan tergeraklah hatinya. Pada satu sisi dia merasa setuju dengan bisikan dalam dirinya, yang mengatakan bahwa saudara itu seharusnya saling membantu dan bukan membunuh.

Artinya: Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. (QS. Al-Maidah: 30)

            Secara tiba-tiba, ia mencela dirinya sendiri atas tindakannya, diapun menjadi sangat berputus asa dan juga bersedih, dia dalam keraguan dan kebingungan, dia kehilangan kecerdikannya. Apa yang dilakukannya? Mengapa ia melakukannya? Bagaimana ia melakukannya?

            Lalu dia duduk dalam celaan dan hinaan, kesedihan yang mendalam telah memberatkannnya, dan kakinya tidak mampu menahannya. Beberapa langkah dari posisinya, hinggaplah burung gagak, mengepakkan sayapnya dan menggali tanah dengan paruhnya dan juga cakarnya, sehingga terbentuklah sebuah lobang, yang akan ia gunakan untuk meletakkan sesuatu yang ia bawa, lalu ia menghiasinya dengan tanah yang bagus dalam lobang tersebut. Dan terbang kembali diangkasa, tinggi dan berputar-putar.

            Burung gagak ini pada dasarnya adalah utusan dari Allah, ia diutus untuk memberitahu Qabil bagaimana cara menguburkan jasad saudaranya yang telah dibunuhnya, Habil.

Artinya: Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (QS. Al-Maidah: 31)

 

 

Burung mengajari seorang manusia?

            Tidak dapat disangsikan lagi bahwa ini merupakan sebuah hikmah yang sempurna. Dari hikmah ini memunculkan banyak dalil-dalil dan juga pemahaman baru. Cukuplah dari hikmah ini bahwasannya Allah dengan kekuasaan-Nya seorang dapat mencukupi kebutuhan-kebutuhan mahluk yang ada, baik manusia maupun hewan-hewan, ataupun burung-burung dan juga bebatuan, serta tumbuhan.           

            Mata Qabil terfokus pada burung gagak dan tindakannya, demikian juga ia terfokus pada pikiran dan kekawatirannya, ketika dia melihat sesuatu yang dilihatnya dia berkata dengan keras, dengan penuh penyesalan:

Artinya: Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (QS. Al-Maidah: 31)

Lalu dia melakukan pekerjaannya, menggali kuburan dengan memanjang, yang diperlebar kedua sisinya. Dia merasa memakan hatinya sendiri yang terasa panas, bercucuran air mata penyesalan. Akan tetapi ia berusaha untuk membersihkan dosa-dosanya ataupun dengan kata lain memohon ampunan. Telah mengalir darah manusia pertama yang disembelih karena syahwat dan hawa nafsu, berbuat dosa kepada Tuhannya dan tunduk kepada syaitan.

            Benarlah apa yang disabdakan Rasulullah Saw.:

            “Janganlah engkau membunuh seseorang karena menganiaya, kecuali hanya yang terjadi pada anak Adam pertama, dia menanggung darahnya, karena sesungguhnya dialah manusia pertama yang melakukan pembunuhan”[7]

 

Adam dan Hawa merasa susah melihat keadaan kedua putinya!!

            Dikatakan bahwa siksaan Qabil telah dipercepat ketika dia masih berada didunia ketika bagian tubuhnya digantungkan pada pupunya. Dan wajahnya ditengadahkan menghadap matahari, kemanapun berputar, sebagai ganti dari dosanya yang telah membunuh saudaranya.

            Benarlah apa yang disabdakan nabi Muhammad:

            “Tidak ada dosa yang pantas disebutkan, Allah akan menjadikannya siksaan baginya didunia, beserta penghinaan kepada saudaranya diakherat, dari berbuat keji dan juga memutus tali silaturrahmi” [8]

               Dikatakan dalam kitab Taurat yang dihubungkan dengan ahlil kitab mengenai Qabil, bahwasannya keluarganya telah mengucilkannya dan diapun pergi menjauh dari mereka dan bermukim di Nawadan, sebelah timur ‘And. Disanalah dia memperbanyak keturunannya. (hanya Allah yang tahu)

               Segera saja Allah mengganti Qabil dan mengaruniai Adam dan Hawa dengan kelahiran Syis diantara mereka berdua dan adapun makna dari kata Syis seperti halnya yang diutarakan oleh para ahli tafsir dan juga ahli sejarah: adalah pemberian Allah, maksudnya adalah Adam dan Hawa menamakannya demikian karena keduanya diberikan rizki berupa kelahiran Syis setelah kematian Habil.

               Adam dan Hawa hidup dalam rentang waktu yang lama, dan bertambahlah keturunannya semakin banyak, telah datang suatu riwayat dalam hal ini bahwa keturunannya bertambah sangat banyak dan menjadi sebuah keluarga besar, hanya Allah yang maha tahu, tidak ada yang pasti dari semua ini.

               Ketika ajal Adam mendekat, dia berkata kepada putra-putranya, seperti halnya yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dengan sanad yang shahih dari Ubay bin Ka’ab:

               “Wahai keturunanku, sesungguhnya aku rindu akan buah sorga, lantas merekapun bergegas mencari buah sorga. Para malaikat menerima mereka, mereka membawa buah-buahan yang sudah matang. Mereka membawa kapak dan juga busur, juga keranjang dari pelepah kurma  lalu para malaikat berkata kepada mereka: wahai anak Adam apa yang engkau kehendaki dan apa yang engkau cari? Mereka menjawab: bapak kami sakit dan merindukan buah sorga, lalu para malaikat berkata kepada mereka: kembalilah engkau semua, bapakmu telah meninggal, merekapun mendatangi bapak mereka, ketika Hawa melihat mereka, iapun memberitahukan mereka tentang kondisi bapak mereka, Adam. Adam berkata: kepada-Mu aku kembali, sesungguhnya aku datang sebelum kalian, maka akan terasa sepilah antara aku dan para malaikat Tuhanku, lalu mereka menerima Adam, memandikan, mengkafani, dan menguburkannya, mereka menggali lobang untuk menguburkan Adam, menshalatinya. Mereka masuk kedalam liang kuburnya dan meletakkan Adam dalam kuburannya, lalu menutupnya, lalu berkata: Wahai bani Adam ini adalah tempat istirahatmu”

            Banyak riwayat yang berbeda-beda dalam hal tempat dimakamkannya Adam, yang paling masyhur seperti yang diutarakan oleh Ibnu Katsir bahwasannya Adam dimakamkan disebuah gunung yang terdapat jurang didaerah Hindia. Dikatakan bahwasannya digunung Abi Qubais di Makkah dan dikatakan pula bahwasannya Nabi Nuh ketika terjadi taufan, dia membawa Adam dan juga Hawa dalam sebuah peti dan menguburkan keduanya di baitul muqaddas. Kepalanya disebelah masjid Ibrahim dan kedua kakinya berada di sebuah batu besar baitul muqaddas.

            Setelah Adam meninggal, Hawa hidup tidak begitu lama, dia meninggal satu tahun setelah Adam wafat, ini menurut riwayat yang masyhur. Pangkat kenabian setelah Adam diwariskan kepada putranya, Syis. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Saw. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan kitab shahihnya, yang memuat limapuluh halaman yang terdapat didalamnya ayat-ayat dan hukum-hukum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

WALAGHAH[9]

           

·         Istri Nabi Nuh AS

·         Lepas dari keimanan dan menjadi kafir, serta tenggelam didalamnya

·         Menghianati dakwah suaminya, berbeda dengan suaminya!

·         Dia menjadi contoh bagi orang-orang kafir

·         Dia tenggelam dalam badai topan, lalu masuk kedalam api neraka jahim.

Artinya: Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah. (QS. Nuh: 25)

            Allah berfirman dalam surat At-Tahrim:

Artibta:  Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)".(QS. At-Tahrim: 10)

 

            Masa-masa antara nabi Adam dan nabi Nuh telah lewat. Orang-orang pada waktu itu berjalan sesuai dengan petunjuk Allah dalam bertauhid (meng-Esakan Allah) dan meramaikan bumi, mendirikan ketaatan dan juga ibadah.  Lalu muncullah dalam umat nabi Nuh, bani Rasib.[10] Sekelompok orang yang memang terlihat alim, juga mulia dan dapat dijadikan panutan.

Dengan memanfaatkan contoh tersebut mereka mengajak untuk beragama dan senantiasa berhubungan dengan Allah. Bani Rasib-pun mencintai orang-orang tersebut, tunduk dan patuh kepada mereka, bertindak sesuai dengan tindakan mereka dan mereka membentuk sebuah kekuatan.

Ketika masa hidup mereka hampir habis dan telah semakin mendekat saja waktunya untuk meninggalkan dunia, sampai akhirnya Allah memilih mereka untuk menjadi tetangga-Nya, bani Rasib-pun merasa susah, bahkan terlihat sangat bersedih. Mereka menyesalkan perpisahan ini, mereka berjanji untuk tetap mengingat mereka dalam diri mereka masing-masing

Dalam hal ini, antara cinta dan kesedihan menyisakan tempat masuk bagi iblis untuk masuk kedalam hati mereka, iblis membisikkan bisikan jahat kepada mereka untuk mengambil bagian dari cinta mereka dan membuat beberapa duplikat-duplikat, supaya orang-orang yang telah berpisah dengan mereka tidak hilang dari mata dan pandangan mereka dan senantiasa melimputi pikiran mereka sepanjang masa!

Mereka mengerjakan bisikan iblis dan membuat duplikat itu.! Dan tampaklah untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia adanya duplikat (patung). Ada patung Wad, Sawa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasar, disesuaikan dengan nama-nama orang shalih yang meninggalkan mereka! Dan mereka meletakkannya di banyak tempat, yang merupakan tempat petilasan dari orang-orang shallih tersebut.

Mereka terlihat sangat teguh dalam pendiriannya ini sampai dengan beberapa masa! Dalam menganggap suci dan mengagungkan yang pada dasarnya kedua hal ini tidak sampai pada tingkat ibadah. Lalu iblis mengambil dari celah kecintaan mereka ini tempat masuk kedalam hati mereka, membisikkan bisikan jahat kepada mereka, untuk membuat gambar bagi patung-patung tersebut didalam rumah mereka masing-masing. Dan mereka-pun menuruti iblis. Maka jadilah mereka orang kafir pertama dan mensekutukan Allah, juga penyembah patung, mereka berpegang teguh dalam tindakannya ini.

Ketika kerusakan telah meluas dan juga penyembah patung semakin meluas, Allah mengutus hamba-Nya dan sekaligus menjadi rasul-Nya, Nuh As. Untuk mengajak umatnya kepada beribadah kepada Allah yang Esa karena tidak ada sekutu bagi-Nya, dan melarang dari menyembah patung dan juga gambar! Menakut-nakuti mereka dengan siksaan Allah didunia dan akhirat, sesungguhnya mereka dalam keadaan salah dan hendaklah mereka bertakbir. Allah berfirman:

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih". Nuh berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan ta`atlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui". (QS. Nuh: 1-4)

            Nabi Nuh tinggal bersama umatnya dan terus mendoakan mereka supaya mendapatkan petunjuk selama seribu tahun, kecuali lima puluh tahun. Betapa lamanya rentang waktu tersebut!! Betapa kerasnya hati mereka!! Betapa sabarnya nabi Nuh menghadapi mereka. Nabi Nuh tidak pernah meninggalkan alasan kecuali ia pasti mengungkapkannya, ia juga tidak meninggalkan cara kecuali ia mengikutinya, baik yang bersifat sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan, baik diwaktu malam ataupun siang. Akan tetapi mereka memang jauh dari iman dan lari dari kebenaran, jauh dari hidayah.

            Hanya sekelompok kecil yang mengikuti jejak nabi Nuh, yang berupa orang-orang lemah dan miskin. Sedangkan para pembesar dan juga orang-orang kaya dan pemilik kekuasaan menentang nabi Nuh. Mereka semakin menambah rasa permusuhannya saja kepada nabi Nuh, berbuat dosa dan lari dari kebenaran. Nabi Nuh berkata:

Artinya: Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, --sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun--, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh: 5-12)

            Mereka menertawakan nabi Nuh, menggangapnya pembuat bid’ah dan menghinakan nabi Nuh serta orang-orang yang menjadi pengikutnya, mereka menganggap nabi Nuh sebagai pembohong, lacut dan mereka berkata:

Artinya: Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". (QS. Huud: 27)

               Dan mereka pun saling memanggil diantara mereka:

Artinya: Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa`, yaghuts, ya`uq dan nasr". (QS. Nuh: 23)

            Istri nabi Nuh adalah ibarat mata baginya dan juga bagi kaumnya. Tampak bahwasanya dia adalah salah satu dari golongan orang-orang kaya dan mendukung sahabat raja dan selalu saja menuruti perintahnya. Nabi Nuh memperistrinya sebelum Allah memilihnya menjadi rasul dan juga nabi. Istrinya ini melahirkan beberapa anak, diantaranya yaitu: Yaman, Haman, Yafian, dan seorang anak perempuan yang diberikan nama ‘Abir.[11]

            Ketika nabi Nuh memangku amanat kerasulan, Walaghah-pun menjadi semakin tenggelam dalam jurang kesesatan. Didalam rumah ia selalu sjaa mengamati segala yang dia temui, lalu menyebarkannya kepada umatnya dan merekapun mengetahui tindakannya! Itu adalah bentuk penghianatan , penghiatan terbesar adalah menyebar luaskan rahasia rumah tangga!

            Tetapi, penghianatan mana yang lebih besar dari merasa dengki dari kebenaran dan hidayah kepada sesuatu yang salah dan sesat? Dia terus saja bertindak seperti itu, dan Allah-pun semakin menambah kesesatannya, melalaikan hatinya dari mengingat-Nya dan senantiasa mengikuti hawa nafsunya.

Artinya: Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). (QS. AshShafat: 75)

Artinya: Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku;  maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mu'min besertaku".(QS. Asy-Syu’ara: 117-118)

Artinya: Maka dia mengadu kepada Tuhannya: "bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku)".(QS. Al-Qamar: 10)

Artinya: Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma`siat lagi sangat kafir. (QS. Nuh: 26-27)

Setelah nabi Nuh menyebarkan risalah dengan sebaik-baiknya, dan mengajak umatnya kepada hidayah dan kebenaran. Dia sangat sabar dalam menghadapi umatnya dan senantiasa mengasihi meraka, membelai dan menimang. Ketika dia tidak menemukan dari mereka hati yang sadar dan telinga yang mau mendengarkan ajakannya, hal ini dikarenakan ketika nabi Nuh mengajak mereka, ternyata mereka semakin bertambah enggan dan lari menjauh dari ajakan nabi Nuh.

Sesungguhnya jika mereka meninggalkan ajakan nabi Nuh ini dan semakin lari menjauh darinya, lalu mereka berkeluarga, maka tidak menutup kemungkinan mereka tidak akan beranak pinak, kecuali memiliki keluarga yang jelek dari mereka dan menjadi sangat kafir.

            Dalam hal ini nabi Nuh berdoa kepada Tuhannya, untuk membuka hijab antara dia dan umatnya yang teraniaya dan melebur jejak mereka dan membersihkan bumi dari keturunan mereka. Allah mengabulkan doanya dan Allah mewahyukan kepada nabi Nuh untuk membuat perahu untuk mengangkut dirinya dan juga para pengikutnya, sebagai cara untuk menyelamatkan diri.

 

Selamat dari Topan yang merata diseluruh bumi!

            Langit menurunkan hujan dengan derasnya, dan bengawan-bengawan sampai meluap dan mata air pun bermunculan dan lautpun bergelombang, dengan gelombang setinggi gunung. Adapun kapal yang mengangkut nabi Nuh dan orang-orang mukmin yang turut bersama nabi Nuh. Dalam kapal tersebut juga dikumpulkan hewan-hewan dan burung dari setiap jenisnya dua pasang. Hewan-hewan tersebut kelak akan ada kembali:

Artinya: Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Huud: 41)

            Pada awalnya nabi Nuh hanya membuat perahu, dan Allah menunjukkan cara membuatnya, dari pepohonan. Dengan memilih yang telah benar-benar tua, dan memotongnya lau mengeringkannya dan membentangkan layar diatasnya. Segera saja nabi Nuh mengumpulkan kayu-kayu. Istrinya, Wallaghah mengejeknya dari tindakan nabi Nuh tersebut, dan mengira bahwa nabi Nuh telah benar-benar gila.

            Demikian juga umatnya yang menentang, umat yang sombong:

Artinya: Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami) (QS. Huud: 38).

Artinya :Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal." (QS. Huud: 38-39)

            Ketika permukaan tanah telah penuh dengan air yang muncul dari bawah tanah, dan memadamkan semua api yang ada ditanah, maka ini adalah permulaan dari topan. Dan curah hujan turun dengan lebatnya terus menerus tanpa henti dan bumi memunculkan banyak mata air dan air tidak terserap masuk kedalam bumi, akan tetapi semakin meninggi dan tingi, menutupi bumi dan menghanyutkan.

Dalam kapal itu masuklah nabi Nuh dan para pengikutnya yang beriman yang berjumlah sedikit dan sebagian keluarganya, yaitu kedua anaknya: Haamun dan Yafits, memenuhi kapal. Dalam kapal itu juga terdapat banyak hewan-hewan dan burung dari setiap jenis dua pasang.

Artinya: Lalu Kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tannur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Al-Mu’minun: 27)

            Dan Wallaghah, istrinya masih seperti penceritaan diawal pembicaraan. Ia menolak untuk masuk kedalam kapal dan bersikukuh untuk tetap bersama umatnya , yaitu orang-orang yang ditenggelamkan dan dimasukkan kedalam api neraka. Demikian juga dengan putranya, Yaman. Yang telah mengira nahwasannya ia akan selamat jika ia menaiki gunung.

Nabi Nuh merasa kasihan kepadanya dan berdoa kepada Allah untuknya:

Artinya: Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." (QS. Huud: 42)

            Akan tetapi putranya bersikukuh pada bujukan hatinya dan menuruti syaitan, maka dia berkata:

Artinya: Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. Huud: 43)

            Dan berlayarlah kapal itu:

Artinya: Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." (QS. Huud: 42)

Berhari-hari dan malam nabi Nuh berdoa kepada Tuhannya:

Artinya: Dan berdo`alah: "Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat." (QS. Al-Mu’minun: 29)

Dan Allah mengabulkannya:

Artinya: Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim." (QS. Huud: 44)

Air telah menutupi langit, dan air bumi telah menenggelamkan diseluruh belahan bumi sampai dengan pinggiran, dan kapal nabi Nuh tetap berlayar sampai pucuk gunung Judiy.[12]

Lalu nabi Nuh turun dari kapalnya dan juga orang-orang yang turut serta bersamanya. Dia membuat sebuah kehidupan baru dan mulailah perjalanan manusia jilid dua.

 

 

 

 

 

 

 

SARRAH ‘ALAIHA SALAM

Sarrah dengan ditasydid ra’-nya sangat menyenangkan hati karena bersih akidahnya dan juga karena bening imannya. Sangat menyejukkan pandangan karena kecantikannya, kebaikannya dan juga rasa simpatinya. Dia tidak memeluk agama yang dianut umatnya, karena takut pada adanya langit rekaan mereka yang bertingkat tujuh, yang mereka sembah-sembah. Mereka senantiasa memperlihatkan kepadanya akan ciptaan-ciptaan tuhan mereka, yang digantungkan dengan kasih sayang dan penjagaan ditengah ketundukan raja dan hukum yang berlaku.

Dia adalah putri dari paman Ibrahim, ayahnya bernama Haaran saudara Naarikh[13] orang tua Ibrahim. Dikatakan bahwa ayahnya, Haaraan adalah seorang raja ditanah Babilonia. Dan sebelum masuk kedalam pembicaraan mengenai Sarrah, maka kita harus berbicara dulu mengenai Ibrahim ‘alaihi salam, kekasih Allah. Karena Ibrahim adalah pangkal dan Sarrah adalah cabang, Ibrahim adalah nabi dan Sarrah adalah istrinya

Maka sewaktu ia telah benar-benar siap dalam menyampaikan risalahnya, ia menemukan kecenderungan umatnya dari kebenaran dan kenyataan. Dengan pertolongan dan kekuasaan Allah, dan Allah memilih Ibrahim:

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan) nya. (QS. Al-Anbiya: 51)

            Umatnya telah membuat penyerupaan terhadap sesembahan mereka, dari selain Allah, berupa langit dan patung-patung, yang selalu mereka rawat dan sucikan, dan mereka mendekat kepada patung-patung itu dan merasa takut kepadanya.

            Ini adalah permulaan perkara yang diberikan hidayah Allah, berupa hubungan antara hati dan akal dalam berdzikir pada kenyataan dan berangan-angan didalam kenyataan:

Artinya: Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. Al-An’am: 75-79)

            Itu merupakan permulaan dan juga titik tolak perjalanan kenabian Ibrahim. Terjadilah peperangan Ibrahim melawan orang-orang Musyrik, baik dengan perkataan ataupun tindakan:

Artinya: (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata". Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?"  Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu" (QS. Al-Anbiya: 52-56).

            Oleh karea itulah Ibrahim berperang dari kata-kata menuju tindakan.

Artinya: Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim" Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim" (QS. Al-Anbiya: 57-60).

Maka Ibrahim masuk kedalam pusat ujian kenabiannya, karena kedunguan umatnya yang berpegang teguh pada hukum-hukumnya lalu menegakkan hukum mereka sendiri dengan membakar Ibrahim dalam api, dan pembesar-pembesar merekapun berkumpul:

Artinya: Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan". Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara". Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)", kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara". Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa`at sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?" Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak". Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim". mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. (QS. Al-Anbiya: 61-70)

            Kehendak Allah untuk menolong Ibrahim dan menghancurkan kebatilan. Dan Nabi Ibrahim-pun keluar dari cobaan ini dengan selamat dan sehat. Rekayasa dan tipu daya mereka tidak mencelakkan Ibrahim.

Artinya: Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. (QS. Asy-Syafat: 98)

            Dan atas kebencian dari disampaikannya kebenaran dihadapan mata orang-orang yang tersesat, tidak ada jalan lain kecuali mereka senantiasa berada dalam bayang-bayang permusuhan dan keangkuhan, serta tipu daya. Ibrahim dicoba dengan raja yang senantiasa memaksakan kehendaknya, sombong, senantiasa merencanakan sesuatu terhadap rakyatnya berupa kekafiran dan kemusyrikan sampai pada memanggilnya dengan tuhan. Dia adalah Namrud, raja Babilonia.

Lalu datanglah Ibrahim mengajaknya untuk beribadah kepada Allah, Dzat yang Esa. Dia yang dapat menghidupkan dan mematikan dan dengan kekuasaan-Nya dapat menundukkan segala sesuatu. Hanya kepada-Nya tempat kembali. Akan tetapi raja Namrud malah bersikap sombong dan berkata:

            “Akulah yang menghidupkan dan mematikan”

            Lalu didatangkanlah dua orang pemuda dari penjara yang keduanya telah divonis hukuman mati, lalu Namrud membebaskan salah seorang dari keduanya dan membunuh satunya. Akan tetapi bukti ini yang bertujuan untuk memperingatkan Ibrahim tidak menggetarkannya, walaupun orang yang hadir dan melihat kejadian itu merasa bergetar. Karena nabi Ibrahim berkata untuk menanggapi pemaksaan ini dengan tanpa ragu dan takut:

Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah: 258)

Seketika itu gugurlah dakwaan Ibrahim dan lidah Namrud terasa kelu:

 

Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah: 258)

Dan nabi Ibrahim menghilang dari tempat itu. Dan tetap saja raja Namrud berada dalam permusuhannya. Tidak ada raja ataupun pemimpin.[14] Tidak pula rakyat biasa ataupun suatu suku yang mau mendengarkan dengan hati dan akalnya pada kebenaran dan mengikuti hidayah. Maka akhirnya Ibrahim pergi meninggalkan mereka dan mendiamkan mereka.

Artinya: Maka Luth membenarkan (kenabian) nya. Dan berkatalah Ibrahim: "Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-‘Ankabut: 26)

            Ibrahim-pun keluar dari daerahnya bersama dengan istrinya, Sarrah dan putra saudaranya Luth, dan turut serta pula istri dari Luth.[15]. mereka pergi menuju Palestina:

Artinya: Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.(QS. Al-Anbiya: 71)

            Saudara Ibrahim juga turut bersamanya, yang bernama Nahur beserta istrinya, Ma’ka’. Mereka mensyiarkan iman dan ketauhidan dinegri Palestina. Mereka berhenti melakukan perjalanan di Bait al-Muqaddas. Disana Allah memberikan wahyu kepadanya:

            “Sesungguhnya aku menjadikan bumi ini untukmu dan orang-orang yang berada dibelakangmu, orang-orang setelah kamu”

            Lalu nabi Ibrahim-pun bersujud, menyembah kepada Allah sebagai wujud syukurnya atas kenikmatan ini, seperti halnya ia membangun kubah baginya dan juga keluarganya. Dari bait al-muqaddas ia ingin melanjutkan perjalanan menuju Hebron.[16]yang merupakan sebuah desa kecil disebelah selatan bait al-muqaddas dan dia tinggal disana.

Dia telah melewati beberapa negara dan juga manusia, selama beberapa hari ia mengalami kesulitan hidup  dan kesusahan, karena adanya masa paceklik dan bencana. Dan Ibrahim beserta Sarrah menghendaki menuju Mesir untuk mencari makanan, sewaktu mereka sampai di Mesir, melewati tanah penguasa yang sombong.[17]lalu sang raja mengabarkan mengenai kecantikan dan keramahan Sarrah, lalu dalam diri sang raja terbesit rasa kasihan kepada Sarrah yang kelaparan.

Sang raja memanggil Ibrahim dan menanyakan mengenai Sarrah kepada Ibrahim. Ibrahim berkata:

“Dia adalah saudaraku”

Ketika Ibrahim kembali kepada Sarrah, ia berkata kepadanya:

“Sesungguhnya raja ini menanyakan kepadaku mengenai dirimu lalu aku menajwab bahwa engkau adalah saudaraku, tidak ada orang Islam pada saat ini, kecuali aku dan engkau, dan sesungguhnya engkau adalah saudara perempuanku, maka janganlah engkau membohongi aku dihadapan raja”

Sarrah dibawa menghadap raja, ketika ia masuk menemui sang raja, ia sangat antusias menyambut Sarrah dan segera mendekatinya menginginkan untuk mengambilnya. Lalu Sarrah menghadap qiblat, berwudlu dan dan melakukan shalat, ia berdoa:

“Ya Allah, jika Engkau mengetahui sesungguhnya aku telah beriman kepada-Mu dan juga rasul-Mu dan aku menjaga farjiku kecuali pada suamiku, maka jangan Engkau kuasakan diriku kepada orang kafir”

Lalu sang raja meraih Sarrah, menutupi dirinya dan dia jatuh terkulai, sepertinya ia telah mati. Dan Sarrahpun merasa takut dan berkata:

“Jika ia mati, maka akulah pembunuhnya!

Lalu sang raja bergerak dengan sendirinya. Dia bangkit mendekati Sarrah untuk kedua kalinya karena ia memang benar-benar menginginkannya, tiba-tiba ia mengalami kejadian seperti kejadian pertama, demikian juga dengan yang ketiga kalinya?[18] Lalu sang raja menjauhkan diri dari Sarrah, kejadian ini benar-benar membuatnya takut dan ngeri. Lalu sang raja memanggil seorang laki-laki pelayan dan berkata kepadanya:

“Sesungguhnya engkau tidak memberikanku seorang manusia, akan tetapi engkau memberiku syaitan. Keluarkan dia dari hadapanku dan berikan ia Hajar”

Maka kembalilah Sarrah kepada Ibrahim, dan waktu itu Ibrahim sedang berdiri, shalat. Ketika ia merasakan kedatangan Sarrah, maka Ibrahimpun menoleh dan bertanya kepadanya: Apakah ada berita penting!?[19] Dia menjawab:

“Allah telah mengalahkan tipu daya orang-ornag yang menganiaya dan dan mengambil dariku Hajar”

Maka dengan sekejap, Sarrah menjadi pemimpin bangsa Qibti Mesir, hal ini dikarenakan ia menjadi pelayan di istana raja firaun. Maka Sarrah-pun mendapatkan kedudukan dan juga pertalian nasab dengan firaun, karena dalam keturunan firaun tidak ada dalam istananya yang dapat hidup saling bertetangga kecuali mereka yang mempunyai asal-usul dari mereka.. 

Lalu nabi Ibrahim kembali berjalan dari Mesir dengan keluarganya kembali menuju tanah Palestina. Dia membawaa serta hewan ternak, budak juga uang yang banyak. Semuanya ia dapatkan dalam perjalannya menuju Mesir. Orang-orang negaranya-pun menyambutnya dengan memuliakan mereka. Dan mengikrarkan ketaatan dan ketundukan, lalu putra saudaranya, Luth meminta izin untuk pergi merantau menuju wilayah al-Fuur.[20]

Merupakan pusat kota Sadum. Ibu kota negara itu, pada saat itu. Ibrahim mengizinkannya, maka Luth-pun pergi dengan keluarganya, pelayan juga hartanya, sampai akhirnya ketika tampak maksud dan tujuannya, tiba-tiba ada yang menyerang dan memaksanya dari salah satu keluarganya  dan hendak menguasai semua milik Luth, berupa uang dan juga hewan ternak.

Dan sampailah berita ini kepada nabi Ibrahim, lalu Ibrahim mengirimkan kepada mereka pemuda yang berjumlah tiga ratus delapan belas, dari sahabat dan juga pengikutnya, maka selamatlah Luth dan hartanyapun kembali dan musuh-musuh Allah dan rasul-Nya-pun dibunuh, merekapun lari kocar-kacir sampai akhirnya sampai disebelah kiri daerah Damsyik dan sepasukan tentara menangkap mereka di ketika berada di desa Barzah.

Lalu Luth kembali ke negaranya dengan langkah mantap, dan orang-orang negaranya menemuinya dan juga pemimpin negaranya dengan memuliakan dan ketundukan pada kekuasaan. Seperti halnya ketika Luth kembali ke Sudum, untuk tinggal menetap dan diapun diberikan wahyu kenabian dan kerasulan.

Sampai disini, wahai pembaca yang mulia, ternyata kita telah memasuki kehidupan istri-istri nabi Ibrahim dan juga nabi Luth, yaitu Sarrah atau Hajar dan Waalahah!  Hal ini berdasarkan urutan periode yang ada  dan kembalinya mereka kedalam masyarakat.

Setelah Ibrahim dan Sarrah kembali dari Mesir dan Luth menetap di tanah Sudum, waktu itu usia nabi Ibrahim telah lebih dari delapan puluh tahun, dan belum juga memiliki anak. Sarrah berkata kepada Ibrahim:

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagiku untuk memiliki anak”

Maka aku-pun bermasyarakat dengan umatku dalam keadaan seperti ini-Hajar- semoga saja Allah memberikan kita rizki kepadaku dari Hajar berupa anak!” karena Ibrahim mencintai Sarrah dalam kerelaannya, kesempurnaannya yang memiliki watak keibuan yang nampak pada diri Sarrah.[21] Hal ini memang dimiliki oleh Sarrah.

Ketika Ibrahim menggauli Hajar, maka Hajar-pun hamil. Lantas melahirkan seorang anak laki-laki dan kedua orang tua bayi ini memberikan nama Ismail. Usia nabi Ibrahim pada saat itu delapan puluh enam tahun. Ibrahim sangat mencintai putranya dan juga istrinya, keduanya sangat dikasihi nabi Ibrahim. Tiba-tiba muncul rasa cemburu dalam diri Sarrah.

Rasa cemburu ini semakin menjadi-jadi saja, lantas Sarrah-pun menginginkan untuk pergi dengan membawa serta putranya, sehingga nabi Ibrahim tidak dapat melihatnya. Sarrah dan putranya pergi menuju gurun Faaran didaerah Hijaz, dan tinggal dilembah Bakkah di kota Makkah, yang pada waktu itu masih berupa tanah kering, tidak ada air disana, tidak ada susu dan juga tidak ada tanaman.

Adapun Sarrah, karena tindakan rasa cemburunya, dia tergerak kembali jiwa keperempuannya yang menyebabkan ia harus hamil lagi. Maka setelah tiga belas tahun berlalu dari kelahiran Ismail, datanglah kabar gembira dari Allah kepada nabi Ibrahim dengan lahirnya nabi Ishaq. Dan pada waktu itu usia nabi Ibrahim berusia seratus tahun dan Sarrah berusia sembilan puluh tahun. Kabar gembira dari Allah ini disampaikan oleh tiga malaikat, yaitu; Jibril, Mikail dan juga Israfil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

WAALAHAH

 

Nabi Luth kembali, setelah sekian lama meninggalkan keluarganya menuju tanah Sudum, sebuah negara yang dipilihnya menjadi tempat tinggalnya. Akan tetapi penduduk negara itu terjerembab dalam kesesatan yang nyata. Mereka adalah manusia yang memiliki budi pekerti yang paling jelek. Mereka mendatangi sesuatu yang buruk yang pernah dilakukan sebelumnya oleh salah seorang pemimpin mereka.

Mereka mendatangi para lelaki dan mereka juga memuji para wanita dengan terang-terangan, kepada yang dicintainya. Mereka melepaskan pakaian mereka, menampakkan aurat mereka dan mereka merasa bangga dengan tindakannya ini, tidak ada penolakan ataupun pelarangan dalam tindakan mereka. Mereka adalah orang pertama yang membuka aurat dengan terang-terangan dalam sejarah manusia.

Nabi Luth mencoba untuk memberikan petunjuk dan melarang mereka dari tindakan mereka tersebut, dan menakut-nakuti mereka akan siksaan Allah, Dzat yang tidak akan membiarkan umatnya yang berbuat dosa.

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu". Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar". (QS. Al-‘Ankabut: 28-29)

Artinya: Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul, ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa?" Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia,  dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas". (QS. Asy-Syu’ara: 160-166)

Lalu dengan apa mereka menjawab ajakan nabi Luth?

Artinya: Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar". (QS. Al-‘Ankabut: 29)

Artinya: Mereka menjawab: "Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir" (QS. Asy-Syu’ara: 167)

Balasan akan dosa-dosa mereka dan pengingkaran mereka dan tenggelamnya mereka dalam kesesatan mereka, maka mereka wajib diberikan deraan, dengan segala macam jenis dan bentuknya.

Allah mengutus malaikat Jibril, Mikail, dan juga Israfil[22] untuk mendera umat nabi Luth, masyarakat Sudum, dengan deraan yang pedih dan menjadikan mereka sebagai pelajaran bagi orang-orang yang mengingatnya.

Pada waktu itu, mereka juga membawa berita gembira kepada nabi Ibrahim dan juga Sarrah dengan kelahiran Ishaq, mereka mendatangi nabi Ibrahim dengan menyamar sebagai tamu:

Artinya: Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Salaman" (Selamat). Ibrahim menjawab: "Salamun" (Selamatlah), maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya`qub.  Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh. Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." (QS. Huud: 69-73)

 Aladdy berkata:

“Dan datanglah malaikat menemui nabi Ibrahim dengan menyerupai umat nabi Luth, mereka mendatanginya pada waktu siang. Ketika mereka sampai di bengawan Sudum, mereka bertemu dengan putri nabi Luth yang sedang mengambil air dari bengawan itu untuk keluarganya. Nabi Luth pada saat itu memiliki dua orang anak perempuan, yang besar bernama Raitsan dan yang kecil bernama Dzar’atan. Lalu para malaikat itu berkata kepada putri nabi Luth:

“Wahai wanita, apakah disini ada rumah?”

Dia menjawab:

“Benar, tempat kalian semua. Kalian jangan masuk sampai dengan empunya mendatangimu”

Dia melakukan hal ini karena menghawatirkan mereka dari kelakuan umatnya, lalu datanglah ayahnya dan berkata:

“Wahai putriku, apakah engkau mengusir dua orang pemuda dipintu kota, aku tidak melihat wajah umatku sama sekali yang lebih bagus dari mereka. Semoga umatku tidak mendapati mereka dan menjadikan mereka malu. Umat nabi Luth melarang nabi Luth untuk menerima tamu laki-laki, mereka berkata:

“Kami merasa kesepian, maka kami mendatangi para lelaki”

Nabi Luth datang bersama dengan mereka, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali keluarganya, lantas istrinya keluar mengabarkan kepada umatnya, bahwa didalam rumah nabi Luth ada beberapa orang pemuda yang belum pernah aku melihatnya seperit wajah kalian sama sekali, dan mereka-pun mendatangi rumah nabi Luth dan mengusir pemuda-pemuda tersebut dari rumah nabi Luth:

Artinya: Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: "Ini adalah hari yang amat sulit." Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: "Hai kaumku, inilah puteri-puteri (negeri) ku mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama) ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" (QS. Huud: 77-78)

Umatnya mendatangi rumah nabi Luth, mereka hendak mendobrak rumah nabi Luth. Pada waktu itu nabi Luth beradaa di belakang pintu untuk menghalangi mereka, dan menasehati mereka, mengingatkan mereka akan istri-istri mereka dan menyerahkannya kepada mereka anak-anak perempuan mereka. Maka sesungguhnya seorang nabi jauh lebih utama dari orang mukmin dan dari mereka semua, istri-istri mereka dan juga ibu-ibu mereka, para orang mukmin.

Sampai saat itu, nabi Luth tidak mengetahui siapa sebenarnya tamu-tamunya itu, dan sesungguhnya mereka itu adalah malaikat, Tuhannya telah memerintahkan mereka, lalu Luth berkata:

Artinya: Luth berkata: "Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." (QS. Huud: 80)

            Seketika itu juga, para malaikat menjelaskan dari pengutusannya, lantas mereka berkata:

Artinya: Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?".(QS. Huud: 81)

            Kalian tunjukkanlah akan siksa yang akan ditimpakan kepada umatku, lalu mereka menyuruh nabi Luth keluar dengan keluarganya dan juga putrinya dari rumah. Dan dari kota, semuanya. Dan mereka mengabarkan kepada nabi Luth bahwasannya siksa Allah akan datang diawal subuh. Maka janganlah menoleh salah satu diantara kalian kebelakang, kecuali aku memerintahkan engkau.

            Kecuali Waalahah yang memang seorang yang tersesat dan binasa. Dia adalah wanita yang menghianati amanat kenabian, seperti yang telah diutarakan diawal. Sesunnguhnya ia akan menerima siksaan yang hina di dunia dan siksa di akhirat jauh lebih menghinakan.

            Dan nabi Luth-pun keluar dari pintu belakang bersama dengan putrinya, demikian juga dengan istrinya, Waalahah. Sampai mereka dengan terlihat menjauh dari rumah, maka terjadilah suatu kejadian yang menimpakan rumah-rumah dan juga penghuninya. Malaikat Jibril mencabuti rumah-rumah itu dengan sayapnya, dan tercerabutlah delapan kota beserta orang yang ada didalamnya termasuk manusia dan juga hewan. Mengangkat mereka sehingga sampai keawan.[23]Lalu Jibril membalikkan mereka, menjadikannya terjungkir.

Artinya: Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,[24] yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (QS. Huud: 82-83)

karena menuruti perintah Allah, maka nabi Luth dan putrinya tidak menoleh kebelakang, kecuali istrinya, Waalahah.  Sewaktu ia mendengar suara gempa dan goncangan, dia tidak mempercayainya, baik sebelum kejadian ataupun sesudah hal itu terjadi. Dia meminta tolong dan menjerit, dia ditemukan dengan umatnya dan dia termasuk dalam golongan orang-orang yang binasa.

Artinya: Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih. (QS. Adz-Dzariat: 37)

            Allah menjadikan bekas tempat itu menjadi lautan yang berbau busuk[25], airnya-pun tidak dapat dimanfaatkan, dan juga tanah yang berada disekitarnya menjadi berbau busuk karenanya. Hal ini dikarenakan kerendahan dan kehinaan yang sangat pada masyarakatnya, menjadi sebentuk ibarat, petuah dan juga contoh, bukti atas kekusaan Allah dan juga keagungan-Nya, dalam tindakan-Nya kepada orang-orang yang mendurhakai perintah-Nya, mengingkari rasul-Nya dan mengikuti hawa nafsunya dan mengkhianati tuannya. Juga dijadikan bukti akan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang beriman dalam menyelamatkan mereka dari kebinasaan. Dan mengeluarkan mereka semua dari kegelapan menuju cahaya.

Artinya: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (QS. Asy-Syu’ara: 174-175)

 

 

 

 

HAJAR ‘ALAIHA SALAM

 

 

Saya kembali lagi kepada Hajar ‘Alaiha salam.

Nabi Ibrahim pergi bersama dengan Hajar dan juga putranya menjauh dari pandangan mata Sarrah. Mereka berdua pergi ke gurun Faaraan di Hijaz.

Imam Bukhari, imam Ahmad, dari Ibnu Abbas, mengisahkan kepada saya  mengenai kisah tersebut dari Rasulullah. Dia bersabda:

“Lalu Ibrahim datang beserta dengan istrinya dan juga putranya, Ismail. Dia masih menyusui Ismail sampai akhirnya nabi Ibrahim menempatkan mereka berdua pada sebuah rumah, dekat pohon besar diatas zamzam diatas sebuah masjid, dan Makkah bukanlah satu-satunya masjid saat itu. Disana tidak ada air sama sekali, lantas nabi Ibrahim meletakkan begitu saja keduanya disana, dan meletakkan disisi keduanya sebuah kantong kulit yang berisikan buah, mereka dapat mengambil air dengan kantong tersebut, lalu Ibrahim berhenti sejenak, lantas meninggalkannya”

Ibu Ismail mengikutinya, lalu dia berkata:

“Wahai Ibrahim engkau akan pergi kemana dan meninggalkan kami dilembah ini yang tidak terdapat sesuatu apapun?”

Hajar mengatakan hal itu secara berulang-ulang kepada Ibrahim dan Ibrahim-pun tidak menoleh sama sekali kepada Hajar, lalu Hajar berkata:

   “Apakah Allah memerintahkan engkau melakukan hal ini?”

Ibrahim berkata:

“Ya”

Hajar berkata:

“Kalau demikian, maka janganlah engkau memperdulikanku”

Lalu Hajar-pun kembali ketempatnya, disisi Ismail.

Lalu Ibrahim-pun pergi, sampai akhirnya ia sampai disebuah bukit, sekiranya orang-orang tidak akan melihatnya. Dia menghadapkan wajahnya ke rumah itu, lalu ia berdoa dengan segala macam doa, seraya mengangkat tanganya:

Artinya: Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)

Ibu Ismail-pun menyusui putranya, dan meminum air itu, sehingga rasa hausnya hilang dan kini Ismail yang merasa haus, dan akhirnya ia terlantar karena menunggu Ibrahim.[26]Iapun mengigau karena lelah menunggu Ibrahim, lalu dia menjumpai bukit Shafa gunung terdekat yang ada disekitarnya, lalu dia menaiki bukit tersebut  dan menghadap lembah, melihat kebawah, apakah dia dapat menemukan seseorang? Akan tetapi ia tidak menemukan seorang pun.

Lalu dia turun dari bukit Shafa, sehingga ia sampai didasar jurang dan lengannya tergelincir, lalu ia berjalan layaknya jalan orang yang menahan susah dan sakit, hingga ia dapat melintasi jurang. Lalu sampailah ia di Marwah lantas ia berdiri diatasnya dan melihat apakah dia dapat meilhat seseorang? Akan tetapi ia tidak melihat siapa-pun. Ia melakukannya sebanyak tujuh kali.

            Ibnu Abbas berkata, bahwasannya nabi bersabda:

            “Oleh karena itulah orang-orang melakukan sa’i diantara dua bukit tersebut (Shafa dan Marwah)”

            Sewaktu ia melihat-lihat dari atas bukit Marwah,[27] ia mendengar suara lalu dia berkata:

            “Diam”

            Dia berkata pada dirinya sendiri, lalu dia mengeluarkan suara, lantas diapun mendengar suaranya sendiri. Dia berkata:

            “Aku telah mendengar bahwasannya Engkau akan memberikan pertolongan”

Tiba-tiba dengan kekuasaan Allah dia berada disisi sumber zamzam. Lalu dia menghentak dnegan kakinya sehingga muncullah air. Lantas dia mencoba untuk memagarinya dan berkata dengan menengadahkan tangannya. Dia mengambil air tersebut dan memasukkannya kedalam wadah air yang terbuat dari kulit dan nabi Ibrahim-pun akhirnya kembali lagi, setelah lama pergi.

Ibnu Abbas berkata, bahwasannya Rasulullah bersabda:

“Allah merahmati ibu Ismail, jika saja zamzam dibiarkan saja niscaya zamzam akan menjadi sumberan yang tersia-siakan”[28]

            Hajar-pun meminum air zamzam tersebut lantas ia menyusui putranya, lalu Allah berfirman kepada Hajar:

            “Janganlah engkau takut terlantar, sesungguhnya engkau sekarang berada dirumah Allah, yang akan dibangun oleh anak ini dan juga ayahnya, sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya”

            Rumah itu berada dibagian atas dari bumi, seperti halnya singgasana Tuhan. Hajar mengambil rintik-rintik hujan sebelum sampai ketanah dan ia mengambilnya dari sebelah kanan dan juga kirinya, ia melakukan hal ini sampai akhirnya lewatlah seorang kawan menghampiri mereka, orang Jurhum, atau penduduk asli dari bangsa Jurhum, menghampiri mereka dengan menyisir gurun.  

Lalu mereka berlindung dibawah Makkah, mereka berlari begitu cepat, seolah-olah mereka terbang, lantas mereka berkata:

“Sesungguhnya burung ini akan mengitari air, didepan kita dijurang ini tidak ada air sama sekali”,

Lalu mereka mengirmkan seorang utusan mereka,[29] atau mungkin dua orang utusan, untuk mencari air. Lalu mereka kembali dan mengabarkan bahwa mereka menemukan air dan merekapun mendatanginya dan ibu Ismail yang memiliki air  itu. lalu mereka berkata:

“Apakah engkau mengizinkan kami untuk istirahat disebelahmu?”

Ia menjawab:

“Ya, boleh. Akan tetapi engkau tidak memiliki hak akan air yang aku miliki”

Mereka menjawab:

“Ya, benar”

Ibnu Abbas berkata, bahwasannya Rasulullah bersabda:

“Ibu Ismail merasa kasihan kepada mereka, karena pada dasarnya ia mencintai sesamanya, merekapun istirahat dan mengajak keluarga mereka untuk turut serta istirahat bersama mereka.”

Ismail tumbuh semakin besar. Ia mulai mengenal bahasa Arab dari bangsa Jurhum, demikian juga ia mahir dalam menaiki kuda, lalu ia belajar menggunakan senjata, sampai akhirnya ia sangat mahir manggunakannya. Nabi Ibrahim mendatangi mereka hanya sesekali saja, untuk berkunjung memastikan keadaan mereka lalu ia akan pergi, kembali menuju Palestina.

Sebelum datangnya kabar gembira kepadanya, dengan kelahiran Ishaq, ia bermimpi bahwasannya ia menyembelih putra satu-satunya.[30] Mimpi seorang nabi adalah benar dan merupakan sebuah wahyu, sehingga wajib untuk melaksanakannya. Lalu nabi Ibrahim menuju jurang di Makkah dengan lusuh, seperti yang ia lakukan sebelumnya, lantas ia memberitahukan kepada putranya, supaya hati putranya dapat menerima dan mudah baginya untuk menjalankan meraih putranya dengan lapang atau menyembelihnya dengan terpaksa:

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS. Asy-Shaffat: 102).

               Pilihan antara ketaatan dan  Melaksankan perintah!

            Adapun sang putra tidak meremehkan kepada seorang nabi dan risalahnya yang memuat ilmu Allah dan tidak ada kekuatan pada dirinya untuk menolak ataupun melawan. Lalu ia berkata:

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS. Asy-Shaffat: 102).

Ini adalah sebuah jawaban dalam ketaatan yang sangat kepada orang tua dan kepada Tuhan umat manusia

            Lalu Ibrahim dan Ismail pergi menjauh dari pandangan Hajar, ketika sampai di Mina, Ismail dibaringkan oleh bapaknya ditanah:

Artinya: Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (QS. Asy-Shaffat: 103)

            Nabi Ismail telah pasrah, ia menyerahkan dirinya karena memang ini adalah perintah Allah. Nabi Ibrahim bertakbir dan Ismail bersaksi. Dan nabi Ibrahim meraih parang untuk menggorok leher Ismail, melaksanakan perintah Allah:

Artinya: Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (QS. Asy-Shaffat: 104-106)

            Tiba-tiba nabi Ibrahim dihentikan dari tindakannya ini dan iapun berhenti:

“Telah berhasil maksud dari mengujimu, ketaatanmu dan bergegasnya engkau melaksanakan perintah Allah, aku telah menyerahkan putramu sebagai qurban, seperrti halnya engkau berlari dari sebelum tubuhmu masuk neraka. Aku adalah laksana ayah bagi dua orang tamu, maka ini adalah cobaan yang nyata dan iktibar agung. Ismail bukanlah orang yang lebih tipis imannya dari pada engkau, sewaktu engkau mendekatinya untuk menyembelih Ismail, guna melaksanakan perintah Allah. Semua ini adalah laksana tebusan yang benar:

Artinya: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Asy-Shaffat: 107)

Tiba-tiba seekor kambing gibas yang bertanduk garang mendahului mereka, dan Ibrahim-pun segera menyembelihnya:

Artinya: Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim"  Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.  Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (QS. Asy-Shaffat: 108-111)

Lalu nabi Ibrahim kembali lagi ke Palestina dan mendapati kebar gembira dengan kelahiran Ishaq, segera saja ia menjatuhkan diri ketanah, bersujud kepada Allah, sebentuk rasa syukur dan pujian:

Artinya: Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi[31] yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. (QS. Asy-Shaffat: 112-113)

            Setelah kehamilah Sarrah sempurna, maka lahirlah Ishaq dan ia tumbuh menjadi seorang remaja. Tidak lama kemudian Allah memanggil Sarrah kembali kesisi-Nya, maka Ibrahim-pun bersedih karena perpisahannya dengan Sarrah, bahkan terlihat sangat sedihdan terus meratapinya.

            Nabi Ibrahim membeli sepetak tanah dari seorang laki-laki untuk menguburkannya, laki-laki itu bernama ‘Afran bin Sakhr seharga empat ratus mitsqal. Adapun Hajar meninggal di Makkah dan ketika ia meninggal, nabi Ibrahim tidak menghadiri kematiannya, maka Ismail-lah yang menguburkannya.[32] Dan Ibrahim juga sangat bersedih akan kematiannya karena dia adalah sosok kekasih, belahan jiwanya.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Qanthuran dan Hajjun[33]

Nabi Ibrahim menikahinya setelah kematian Sarrah dan Hajar, darinya lahirlah enam orang putra, mereka adalah Madyan, Zamran, Saraj, Yaqsyan, Nasyaq. Hal ini dituturkan oleh Abu Qasim As-Suhaili dalam bukunya At-Ta’rif wal I’lam dan dia tidak menyebutkan nama anak yang keenam.

Adapun putra pertamanya, Madyan: dia menjadi pemimpin masyarakat yang padanya nabi Syu’aib diutus:

Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu`aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman".(QS. Al-A;raf: 85)

Apakah nabi Syu’aib termasuk dari golongan mereka, dari keturunan mereka? Atau dia dari keturunan lain yang menyambung keturunan dengan mereka? Dalam hal ini masih banyak perbedaan pendapat.

            Ibnu Katsir berpendapat:

            “Orang-orang Madyan adalah orang-orang Arab yang menempati kotanya yang memang bernama Madyan, sebuah kota yang terletak dekat daerah Ma’an dipinggiran Syam, yang masih termasuk daerah Hijaz, dekat dengan laut mati, mereka adalah generasi yang paling dekat masanya (masa nabi Syu’aib)”

Yang saya tahu Madyan adalah sebuah suku. Mereka adalah keturunan Madyan putra nabi Ibrahim dan Syu’aib adalah nabi mereka putra Mikail bin Yasyjan. Seperti yang dituturkan pleh Ibnu Ishaq bahwa dalam bahasa suryani ia bernama Yatsrun. Dalam hal ini ada beberapa pendapat:

  1. Syu’aib bin Yasykhar bin Laawi bin Yaqub
  2. Syu’aib bin ‘Ifan bin Madyan bin Ibrahim
  3. Syu’aib bin Dhaifur bin ‘Ifan bin Tsabit bin Madyan bin Ibrahim

Ada juga yang berpendapat lain dari nasab-nasab yang telah dituturkan ini. Ibnu ‘Asakir berkata:

“Dikatakan bahwa neneknya atau ibunya adalah putri nabi Luth. Dari Wahab bin Munabbih berkata bahwa Syu’aib dan Mulgham adalah salah seorang yang beriman kepada nabi Ibrahim pada hari nabi Ibrahim dibakar dan dia turut serta berhijrah menuju Syam, lalu mereka berdua menikahi kedua putri nabi Luth, hal ini juga dituturkan oleh Ibnu Qutaibah”

 Dan dalam hal ini juga menyisakan banyak pendapat yang berbeda-beda pula. Abu Qasim As-Suhaili menuturkan dalam bukunya, bahwasannya nabi Ibrahim setelah menikahi Qanthuran, ia menikahi Hajjun binti Amin. Dan lahirlah Kaisan, Sauraj, Umaim, Luthan dan Nafis. Apakah nabi Ibrahim menikahi Hajjun setelah Qanthuran meninggal atau dia menikahi Hajjun sewaktu Qanthuran masih hidup? Sampai saat ini pertanyaan ini masih menggantung

Tidak satupun putra nabi Ibrahim dari Hajjun binti Amin yang memiliki keluarga ataupun keturunan atau selain yang telah disebutkan tadi. Semuanya berdasarkan kisah israiliyat dari Ka’ab al-Ahbar atau Wahab bin Munabbih atau selain dari keduanya, yaitu orang-orang yang menyebarkan berita-berita ini keapda manusia. Lalu sebagian ulama dan para peneliti mengambilnya/mengutipnya dan menerimanya dan sebagian besar menolaknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘Amaarah binti Sa’d ibnu Umamah bin Akil al-‘amaliqi dan As-Sayyidah binti Mudhad binti Umar Al-Jurhumi

 

“Orang pertama yang fasih dan jelas lisannya dalam kehidupan orang Arab adalah Ismail, pada saat itu ia berusia empat belas tahun”[34]

Setelah meninggalnya Hajar, kemudian Ismail menikah dengan seorang wanita dari kaum ‘Amaaliq, mereka adalah orang Arab yang berbondong-bondong datang ke Makkah dan meramaikannya, lantas mereka menetap disana bersanding dengan kabilah Jurhum, yaitu orang-orang yang pertama kali tinggal dan menetap di Makkah bersama Hajar.

Mereka meminta izin kepada Hajar untuk mengambil air zamzam, lantas Hajar-pun mengizinkan mereka untuk mengambil air zamzam. Nama wanita dari kaum ‘Amaaliq itu adalah ‘Amaarah binti Sa’d.

Kebiasaan nabi Ibrahim ‘Alaihi salam datang ke Makkah adalah untuk bertandang menemui Hajar dan juga putranya, Ismail. Hal ini dikarenakan nabi Ibrahim tidak mengetahui keadaan mereka dan supaya ia merasa tenang, yang berlangsung selama beberapa waktu.

Maka Ibrahim datang ke Makkah, dan melihat kenyataan bahwasannya Hajar telah meninggal dan Ismail telah beristri. Dia tidak menemukan putranya dirumah, lalu ia bertanya kepada istri putranya ‘Amaarah mengenai Ismail. Dia berkata:

“Ismail meninggalkanku, katanya dia pergi dariku untuk mencari makanan dan minum” 

Lalu ia bertanya lagi kepada ‘Amarah:

“Bagaimana keadaan kalian?”

Dia menjawab:

“Kami dalam keadaan bahagia, walaupun kami hidup dalam kesulitan dan kesusahan”

Dia berkeluh kesah kepada nabi Ibrahim mengenai kesulitan hidupnya. Nabi ibrahim menganggap bahwasannya ia bukanlah wanita yang menerima keadaan hidup dan menerimanya dengan lapang. Dia bukanlah sosok istri yang shalihah yang pantas mendampingi nabi, dengan melihat kisahnya. Dan nabi Ibrahim berkata kepada ‘Amaarah:

“Jika suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya, dan sampaikan kepadanya kata-kataku ini: telah berubah ambang pintumu”

Nabi Ibrahim tidak mengatakan kepada ‘Amarah mengenai dirinya.

Ketika nabi Ismail pulang dari kepergiannya, dia membawa sesuatu sebagai hadiah.[35] Dia berkata kepada istrinya:

“Apakah engkau didatangi seseorang?”

Dia menjawab:

“Benar, ada seorang laki-laki tua mendatangiku yang memiliki ciri-ciri seperti ini… dan seperti ini.., lalu dia menanyakan kepadaku mengenai dirimu, maka akupun memberitahukannya. Dia juga bertanya kepadaku bagaimana kehidupanmu? Dan aku mengatakan kepadanya bahwa aku hidup dalam kesulitan dan kesusahan.”

Lalu Ismail berkata:

“Apakah dia berpesan sesuatu kepadamu?”

Dia menjawab:

“Ya benar, dia memintaku utnuk menyampaikan salam kepadamu, dan berkata kepadamu: telah berubah ambang pintumu”

            Ismail berkata:

            “Dia adalah bapakku, dia memerintahkan aku untuk menceraikanmu, kembalilah kepada keluargamu karena aku telah menceraikanmu.

            Lantas nabi Ismail menikahi Sayyidah binti Mudhad al-Jurhumiyah. Dan nabi Ibrahim-pun datang menjenguk mereka setelah beberapa waktu berlalu. Dia tidak menemukan putranya, Ismail. Nabi Ibrahim hanya bertemu dengan Sayyidah, istrinya. Lalu nabi Ibrahim bertanya kepadanya mengenai nabi Ismail, dan dia menjawab:

            “Dia pergi keluar”

            Lalu nabi Ibrahim bertanya lagi:

            “bagimana kabarmu? Dan bagaimana kehidupan kalian?”

Dia menjawab:

            “Kami hidup bahagia dan berkecukupan” dia lantas memanjatkan puji kepada Allah.

Lalu nabi Ibrahim bertanya lagi kepadanya:

            “Apa yang kalian makan sehari-hari?”

            Dia menjawab:

            “Daging”

            Lalu nabi Ibrahim bertanya lagi kepadanya:

            “Apa minuman kalian?”

            Dia menjawab:

            “Air”

            Lantas nabi Ibrahim berdoa, dengan mengucapkan:

            “Ya Allah semoga Engkau berkahi dalam daging dan air mereka”

            Ibrahim berkata kepada Sayyidah:

            “Kalau nanti suamimu sudah pulang, maka sampaikanlah salamku kepadanya dan katakan padanya: telah tetap ambang pintumu”

            Sewaktu Ismail pulang, dia bertanya kepadanya:

            “Apakah ada seseorang yang mendatangimu?”

            Dia menjawab:

            “Benar, ada seorang laki-laki tua yang sangat sopan mendatangiku. Dia bertanya kepadaku mengenai dirimu, lalu aku memberitahukan kepadanya mengenai dirimu, lalu dia bertanya lagi kepadaku: bagaimana kehidupanmu? Dan aku katakan kepadanya bahwa kehidupanku baik-baik saja”

            Lalu nabi Ismail berkata:

            “Apakah dia berpesan sesuatu kepadamu?”

            Dia berkata:

            “Ya benar, dia berkirim salam kepadamu dan memintamu untuk melanggengkan ambang pintumu”

 

 

            Nabi Ismail berkata:

            “Dia adalah bapakku, engkau telah disapa olehnya dan dia memintaku untuk tetap mempertahankanmu sebagai istriku”

            Nabi Ismail dikaruniai dua belas anak laki-laki darinya, mereka adalah:

  1. Naabit
  2. Qaidaar
  3. Azbal
  4. Maisyi
  5. Masma’
  6. Masy
  7. Dausha
  8. Aazar
  9. Bathuur
  10. Nabsy
  11. Thaim
  12. Qaidzum

Muhammad bin Ishaq menyebutkan semua nama-nama mereka, nama-nama itu adalah nama-nama sesungguhnya menurut ahlil kitab. Nabi Ismail juga memiliki seorang putri yang bernama Qismah. Menjelang kematiannya, Nabi Ismail berwasiat kepada saudaranya, Ishaq untuk mau manikahi putrinya dari putranya ‘Aish saudara Yakub.

 

 

 

 

RIFQAN BINTI  BATUIL

 

Al-Qur’an tidak menukilkan sedikitpun mengenai kisah istri nabi Ishaq yang bernama Rifaqah, tidak juga tertuang dalam hadits suatu isyarat yang merujuk kepadanya, akan tetapi para ahli sejarah dan buku-buku sejarah yang ada, berpedoman pada periwayatan Taurat.[36] Yang ada ditangan ahlil kitab, mereka mengutarakan hal ini dan saya menyampaikannya kepada anda, wahai pembaca budiman, seperti apa yang mereka utarakan.[37]

Ringkasnya kisah, bahwasannya ketika nabi Ibrahim sudah berusia tua didatangi oleh salah seorang yang pernah ia bebaskan, berkunjung kerumahnya karena ada suatu maksud tertentu.[38] Dihadapannya, nabi Ibrahim bersumpah bahwasannya dia tidak akan memperbolehkan putranya, Ishaq untuk menikah dengan wanita dari golongan orang-orang Kan’an yang berada di Palestina, dia akan mencarikan istri bagi putranya dari keluarganya sendiri atau dari keturunan ayahnya. Dan pada prinsipnya ia tidak melarang putranya untuk pergi, akan tetapi ia hanya melarang putranya menikah dan melarang putranya pindah.

Lalu orang itu pergi, dan segera tergerak untuk mencarikan sesuatu yang terbaik sebagai hadiah bagi istrinya, dia membeli onta dan juga perhiasan yang menyenangkan, dan dia pergi menuju Araam.[39] Dia meninggalkan ontanya diluar kota, dimana keluarga Nahuur, saudara Ibrahim tinggal. Dia bersama seorang wanita yang tampak cantik, wanita itu keluar dari kota dan dia melepasnya dengan penjagaannya. Dia memenuhi gucinya lantas berkata keapda wanita itu:

“Berilah aku minum”

Lalu guci diturunkan dan wanita itu memberinya air untuk diminumnya. Dan wanita itu berkata:

“Ontamu juga harus diberi minum”

Dia hendak membawa serta wanita ini setelah ia selesai memberi minum ontanya dan menghiasi hidungnya dengan Khuzamah[40] yang terbuat dari emas, dan juga memakaikan gelang emas pada kedua tangannya, serta menanyainya bahwa dia putri siapa? Apakah bapaknya mempunyai tempat untuk dia menginap dan juga ontanya?

Wanita itu memberitahukannya bahwa ia adalah putri Batuil dari Nahuur[41] apakah mereka memiliki tempat menginap dan tempat untuk mengikat ontanya, segera wanita itu pergi menuju rumah dan mengabarkan tentang apa yang dia alami, nama perempuan itu adalah: Rifaqah. Dan berdirilah Laabn bin Batuil.[42]  Seketika itu juga, untuk menyambut kedatangan budak Ibrahim, untuk bertamu kepadanya. Dia melakukan hal ini karena dia memuliakan kedudukan budak Ibrahim.

Seketika itu juga ia mengabarkan kepada orang-orang, bahwa budak Ibrahim telah datang kepadanya dan dia menghendaki Rifaqah untuk putra tuannya, orang-orang mengabulkan apa yang dia kehendaki. Budak Ibrahim itu memberi Rifaqah wadah dari emas dan perak, pakaian serta perhiasan bagi saudaranya dan juga ibunya, lalu dia meminta orang-orang yang berkerumun untuk segera pergi. Segera saja dia bertemu dengan Rifaqah, dan untuk selanjutnya pergi dengan Rifaqah menuju rumah tuannya.

Kemuliaan Ishaq nampak setelah kematian ibunya, Sarrah. Dan dari sela-sela kehidupan Ishaq saya menemukan bahwasannya ia tidak memiliki perhatian khusus selain pewarisan kenabian setelah bapaknya, Ibrahim. Lalu ia melaksanakan warisan ini dengan sebaik-baiknya, Ibrahim mewariskan kenabian kepadanya.

Rifaqah hamil dari pernikahannya dengan Ishaq, lantas ia melahirkan dua orang putra. Dalam riwayat Taurat juga mengatakan demikian.[43]:

“Bahwa Ishaq sewaktu memperistri Rifqan[44] binti Batuil ketika ayahnya masih hidup, usianya pada saat itu adalah empat puluh tahun dan Rifaqah adalah seorang yang mandul, lalu ia berdoa kepada Allah, lantas hamillah Rifaqah, dan melahirkan dua orang putra, putra pertamanya bernama ‘Aishu, yaitu orang yang oleh orang Arab dikenal dengan nama al-‘Aish, dia adalah cikal bakal orang Romawi, yang kedua adalah Kharaj, dia adalah orang yang menerima siksaan saudaranya, lantas mereka menamainya Yakub dia adalah seorang Israil dan dihubungkan padanya keturunan bani Israil.”

Ishaq lebih mencintai al-‘Aishu dari pada Yakub, karena dia tidak begitu mencintainya, sedangkan istrinya, Rifaqah lebih mencintai Yakub karena dia anak yang paling kecil.

Ketika Ishaq sudah tua dan matanya sudah mulai berkurang pandangannya, dia meminta makanan kepada putranya al-‘Aish, dan memerintahkannya untuk pergi berburu untuknya dan memasakkan untuknya, dia memohonkan keberkahan juga berdoa untuknya. ‘Aish adalah seorang pemburu, segera saja ia pergi untuk berburu.

Rifaqah memerintahkan putranya, Yakub untuk menyembelih keledai kurus miliknya, dan keduanya memasakkan makanan seperti yang dikehendaki ayahnya. Yakub mendatangi ayahnya lebih dulu sebelum saudaranya datang, lalu Rifaqah berdiri memakaikan pakaian saudaranya kepada Yakub, Rifaqah menempelkan pada lengan dan leher Yakub kulit keledai, karena al-‘Aish adalah seorang yang tubuhnya berbulu dan Yakub tidak demikian.

Ketika Yakub mendatangi ayahnya dan mendekat, Ishaq berkata:

“Siapa engaku”

Yakub menjawab:

“Anakmu”

Ishaq memeluknya dan merabanya, dia berkata:

“Suaramu adalah suara Yakub adapun tubuh dan pakaianmu adalah ‘Aish”

Nabi Ishaq makan dan setelah selesai ia berdoa supaya Yakub diberikan kedudukan terhormat, kata-katanya juga tertuju pada orang-orang, serta suku-suku setelahnya, dan juga diberikan banyak rizki.

Setelah Yakub pergi dari hadapan Ishaq, datanglah saudaranya, ‘Aish membawa apa yang diperintahkan bapaknya dan dia mendekat kepada bapaknya. Lalu Ishaq berkata kepadanya:

“Apa ini, wahai anakku?”

Dia menajwab:

“Ini adalah makanan yang bapak mintakan”

Lalu Ishaq berkata:

“Apakah engkau datang kepadaku dengan membawa ini sebelum saatnya aku mintakan dan engkau makan darinya lebih dulu dan kemudian aku memanggilmu?”

Dia berkata:

“Tidak, demi Allah”

Dia tahu bahwa saudarnaya telah mendahuluinya menghidangkan makanan, dia mendapatkan bukti yang kuat bagi dirinya atas tindakan saudarnaya. Orang-orang mengatakan bahwasannya ia mengancam Yakub akan membunuhnya jika kedua orang tuanya telah meninggal. Kedua orang tuanya bertanya kepadanya dan memanggilnya dengan ragam permintaan yang lain, supaya keluarganya menjadi orang-orang yang kuat diatas bumi dan rizki mereka banyak dan juga keturunannya.

Sewaktu ibunya, Rifaqah mendengar ancaman ‘Aish terhadap saudaranya, Yakub, ia memerintahkan putranya, Yakub untuk pergi menuju saudaranya Laaban di Palestina. Dia akan tinggal disana sampai dengan kemarahan saudaranya mereda. Sampai akhirnya Yakub menikahi putri saudara laki-laki ibunya itu. Rifaqah berkata bahwa suaminya, Ishaq memerintahkan seperti itu dan berwasiat kepadanya dan berdoa untuknya untuk segera melaksanakannya.

Yakub pergi berlari menuju Haaran, dan ‘Aish tetap tinggal di Palestina bersama bapaknya, Ishaq dan juga ibunya, Rifaqah. Dia mewarisi kesultanan dari bapaknya dan dia memiliki banyak harta, budak, ternak dan juga memiliki kekuasaan untuk memberikan perintah kepada rakyatnya.

Rifaqah hidup dalam kesepian sampai dengan Allah mengutus Yakub menjadi seorang nabi dan rasul, kembali dari Haaran ke Palestina, dengan membawa serta istri-istrinya, anak-anaknya dalam sebuah keluarga besar dan berdamai dengan saudaranya, ‘Aish.

Tidak ada buku sejarah yang menuturkan mengenai kematian Rifaqah dan juga dimana dia disemayamkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LIYA, RAAHIL[45], ZULFA DAN JUGA BALHA

 

Yakub pergi berlari dari ancaman saudarnya, al-‘Aish, karena telah memenuhi panggilan bapaknya, Ishaq alaihi salam. Dalam riwayat taurat dikatakan:

“Dia kemalaman disuatu tempat dan tidur disana, dia mengambil batu dan meletakkannya dibawah kepalanya dan tertidur. Dia bermimpi dalam tidurnya naik kelangit dan jatuh kembali kebumi. Para malaikat pada saat itu mengangkatnya dan menurunkannya kembali, dan Allah Swt. menasehatinya dan berkata kepadanya: “Aku akan memberikan keberkahan kepadamu dan menjadikan banyak keluargamu, memperindah bumi ini untukmu dan untuk penggantimu, setelah engkau” [48]

 Setelah ia bangun dari tidurnya, ia sangat merasa bahagia atas apa yang dia mimpikan dan dia berjanji kepada Allah, jika ia kembali kepada keluaranya dalam keadaan selamat, maka ia akan membangun ditempat ini, sebuah tempat untuk beribadah kepada Allah, dan atas semua pemberian yang dirizkikan Allah kepadanya, maka sepuluh persennnya akan dishadaqahkan.

Lalu ia menandai tempat itu dengan sebuah batu, dan dia memberikan tanda pada batu itu dengan meminyaki supaya ia mengenalnya, tempat itu dinamakan bait al-Ibil, maksudnya adalah baitullah?[49]

Ketika Yakub sampai dirumah pamannya, Laaban di Haaran, pada saat itu pamannya memiliki dua orang anak perempuan. Yang besar bernama Liya dan yang kecil bernama Raahail, keduanya memiliki paras yang cantik-cantik. Yakub menghendaki untuk menikahinya dan pamannya mengabulkannya dengan syarat Yakub harus menggembalakan kambingnya selama tujuh tahun.

Setelah berlalu masa tujuh tahun bersama pamannya, Yakub membuat pesta dan mengumpulkan orang-orang. Putri pamannya yang besar yang bernama Liya memberikan lentera kepada Yakub. Kedua mata Yakub memang agak lemah yang memperburuk penglihatannya. Ketika pagi menjelang, Yakub baru menyadari benar bahwa dia adalah Liya, maka ia-pun berkata kepada pamannya

“Mengapa engkau mencegahku? Aku hanya melamar Raahail darimu?”

Dia menjawab:

“Bukanlah dari pengadatan kami, untuk menikahi yang kecil sebelum yang besar menikah. Jika engkau menginginkan saudaranya, maka bekerjalah tujuh tahun lagi dan aku akan menikahkan engkau dengannya. Dan dia bekerja lagi, menggembalakan kambing selama tujuh tahun dan benar, pamannya menikahkan ia dengan saudaranya, Raahail.[50]          

Dan Laaban memberikan pembantu kepada masing-masing putrinya. Dia memberikan pembantu kepada Liya, yang bernama Zulfa dan memberikan pembantu kepada Raahail, yang bernama Balha. Allah telah memberika beberapa putra kepada Liya. Ini adalah putra Yakub yang dilahirkan pertama: Raubin, Syam’un, Laawi, Yahwadzaa.

Melihat hal ini, Raahail nampak cemburu, akan tetapi ia tidak dapat hamil dan ia memberikan pembantunya, Balha kepada Yakub. Lalu Yakub menggaulinya dan hamillah Balha.

Dia melahirkan seorang putra yang diberinya nama Daan, dan kemudian ia hamil lagi dan melahirkan seorang putra lagi yang diberikan nama Naifatali. Demikian juga dengan Liya, dia memberikan pembantunya, Zulfa kepada Yakub dan Zulfa melahirkan dua putra Yakub, yaitu Jaad dan Usyair. Keduanya berjenis kelamin laki-laki. Lalu Liya kembali hamil dan melahirkan putra yang kelima dan diberikan nama Isakhar. Sampai akhirnya ia melahirkan putranya yang keenam dan diberikan nama Zabalun[51] dan kembali lagi ia hamil dan melahirkan anak perempuan yang diberikan nama Dina, jadi semua putranya berjumlah tujuh dari ayah Yakub.

Raahail berdoa kepada Allah dan meminta kepada-Nya untuk kiranya Allah memberikannya putra dari Yakub. Allah mendengar doa Raahail dan mengabulkan permintaannya. Raahail-pun akhirnya hamil dari Yakub dan melahirkan seorang putra yang agung, bagus perawakannya dan ganteng, yang dinamai Yusuf. Semuanya bermukim ditanaha Haaran dan Yakub menggembalakan kambing pamannya kembali, setelah ia menikahi kedua putri pamannya selama enam tahun. Jadi masa ia bermukim di Haaran adalah dua puluh tahun.

Lantas Yakub meminta pamannya untuk memperkenankan dirinya kembali menjenguk keluarganya, lalu pamannya berkata kepada Yakub:

“Sesungguhnya aku telah mendapatkan kebahagiaan atas diriku, yang disebabkan olehmu. Maka mintalah engkau kepadaku dari hartaku sekehendakmu”

Ismail berkata:

“Berikan aku semua kambingmu yang hamil, tahun ini juga aku akan pergi. Kambing-kambing itu yang memiliki warna putih bercampur dengan hitam dan semua warna putihnya harus terlihat cerah dan juga semua kambing kacang yang berwarna putih dan tidak bertanduk”

Pamannya menjawab:

“Baiklah”

Anak-anak nabi Yakub menginginkan untuk mempertontonkan kambing-kambing bapaknya, yaitu kambing-kambing yang memiliki ciri seperti yang disebutkan tadi, dengan harapan supaya kambing-kambing itu melahirkan anak tidak serupa dengan induknya. Mereka berjalan dan dengan menggiring kambing-kambing tersebut selama tiga hari

Yakub memotong ranting-ranting yang masih basah untuk dijadikan tempat berlindung dan berteduh sementara. Dia menguliti ranting-ranting tersebut dengan cepat dan setelah itu ia segera memberikan minum kambing-kambingnya. Ketika ia melihat kambing-kambingnya, ia kaget. Anak-anak kambing yang ada dalam perut induknya bergerak-gerak dan keluar dari rahim induknya, ternyata warna anak-anak kambing itu menyerupai induknya.

Maka Yakub memiliki banyak kambing, kendaraan dan juga pelayan. Kehidupan pamannya dan juga putra-putranya berubah karena Yakub, seolah-olah mereka menggantungkan hidup kepada Yakub.

Allah mewahyukan kepada Yakub untuk kembali kenegara bapaknya dan umatnya, dan mengambil janji darinya untuk senantiasa bersama bapaknya. Ia mengutakan hal ini kepada keluarganya, dan mereka mengabulkan permintaan Yakub. Mereka semua mentaati Yakub.

Dia membawa serta keluarganya dan juga pengawalnya. Raahail mencuri beberapa patung milik ayahnya, ketika mereka berhasil melewati batas Negara, mereka bertemu dengan Laabaan dan juga rakyatnya. Laabaan dan Yakum berkumpul, dia memperlambat kepergian Yakub tanpa disadari oleh Yakub, lalu ia memberitahukan kepada Yakub maksud mereka dan akhirnya melepas kepergian Yakub dengan pesta, memainkan alat musik dan gendang, sampai akhirnya istri-istri dan juga putra Yakub kelelahan.

Mengapa mereka mengambil patung-patung itu dan membawa sertanya? Yakub tidak mengetahui tentang patung-patung itu? Mereka mengelak telah mengambil patung-patung itu, lalu ia memasuki rumah putrinya dan ibunya, mungkin saja disembunyikan disana, akan tetapi ia tidak mennemukan apa-apa.

Raahail menyembunyikan patung-patung itu di pelana onta dan dia sendiri berada dibawahnya, ia tidak dapat berdiri dan terasa sulit untuk melakukannya karena dia sedang datang bulan (Dikatakan bahwasannya ia meletakkannya dalam gendongan yang ada diperut Yusuf, waktu itu ia masih seorang anak kecil yang masih dalam masa susuannya. Ini adalah yang benar, karena beralur seperti yang tertera dalam firman Allah dalam surat Yususf:

Artinya: Mereka berkata: "Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu". Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): "Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu". (QS. Yusuf: 77)

Setelah Yakub berikrar janji kepada pamannya, Laabaan. Ia-pun pergi menuju Palestina dengan mengharap kepada Allah untuk mengampuni kesalahan-kesalahan saudaranya ‘Aish, yaitu orang yang menyebabkan ia pergi karena ancamannya. Dalam genggaman kedua tangannya ia membawa hadiah untuk saudaranya, ‘Aish. Ketika bertemu, langsung saja dia bersimpuh dan merendahkan diri dihadapan saudaranya, ‘Aish dan ‘Aish menciumnya sebagai bentuk penyambutan kedatangan Yakub. Dia berdiri dihadapannya, sampai dengan Yakub turun dari bait al-Muqaddas dan membangun tempat penyembelihan dan juga tempat beribadah, yang dinamai Bait al-Jamal.

Raahail hamil, sewaktu Raahail melahirkan ia nampak kesulitan dan terlihat sangat tersiksa, dia meninggal setelah melahirkan. Dia melahiran seorang anak yang diberikan nama Bunyamin saudara Yusuf dari ibunya. Dia adalah putra Yakub yang paling kecil. Yakub memakamkan Raahail di Afraat di Bathlehm dan meletakkan tanda di kuburannya dengan sebuah batu, supaya suatu hari nanti ia masih mengetahui bahwasannya ini adalah kuburan Raahail atau juga bisa disebut dengan nisan Raahail.

Yakub segera pindah ke Haabrun untuk menemani orang tuanya, Ishaq, lalu Ishaq sakit dan Allah menghendakinya meninggal dan putranya (Yakub dan ‘Aish) menguburkannya disebuah tempat dimana Ibrahim dan Sarrah dimakamkan.

 

 

Istri Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam

 

Pertanyaan-pertanyaan itu terlontar ditengah-tengah pembahasan, sampai akhirnya saya berhenti ketika menuliskan nama istri nabi Ayub. Buku-buku sejarah yang ada saling berbeda-beda pendapat dalam membahasnya, mereka berkata:[52]

“Liya binti Yakub atau Rahmah binti Aqrayim atau Liya binti Mansya. Atau Ibnu Yusuf Ibnu Yakub dan menurut Ibnu Katsir bahwa nama yang ketigalah yang paling masyhur”

Nabi Yusuf menikah, akan tetapi hal ini dilakukannya setelah ia terbebas dari belenggu penjara dan raja menjamin kebebasannya. Kisah mengenai dirinya sangat terkenal dan disebutkan berulang-ulang dalam hadits dengan pembeberan dan perinciannya, akan tetapi saya menggunakannya untuk dipelajari dan mencuplikkan beberapa hal diantaranya:

  1. Pertumbuhan nabi Yusuf hingga memiliki budi pekerti yang luhur, memiliki sifat-sifat terpuji dan membenarkan keberadaan Allah.
  2. Dia mampu menahan hawa nafsu dari syahwat dan juga rayuannya
  3. Dia beriman disaat kesulitan menderanya
  4. Senantiasa berlindung kepada Allah dalam segala cobaan yang mendera
  5. Sikapnya yang selalu memaafkan setelah cobaan menderanya
  6. Kesabaran yang selalu membaluti sepanjang kehidupannya, mulai dari penganiayaan saudaranya sendiri terhadap dirinya, sewaktu dia dilemparkan kedalam sumur sampai dengan ia menjadi seorang budak di istana raja, juga rayuan seorang wanita agung kepada dirinya, sampai akhirnya nabi Yusuf menikahinya, juga merasakan gelapnya penjara yang pekat, juga menanggung permintaan raja dengan kuat dan amanah.

Artinya: Mereka berkata: "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?" Yusuf menjawab: "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami". Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik". (QS. Yusuf: 90)

 

            Dan lain sebagainya, yang tentunya sangat banyak jumlahnya. Orang yang menikahkan yusuf adalah rajanya sendiri. Mereka berkata:

            “Yusuf pada saat itu berusia tiga puluh tahun, sang raja menikahkan yusuf dengan seorang wanita yang memiliki kedudukan tinggi”

            Tsa’labi mengisahkan:

            “Bahwasannya sang raja ingin mengasingkan Qathfir yang agung dari jabatannya dan memberikannya kepada Yusuf”

            Dikatakan juga, bahwa ketika Qathfir meninggal, sang raja menikahkan Yusuf dengan istrinya, Zulaikha.[53] Dan nabi Yusuf mendapatinya ternyata masih perawan, karena suaminya tidak mendekati wanita. Dan Zulaikha  melahirkan dua orang anak  laki-laki untuk nabi Yusuf, yaitu: Aqrayim dan Mansya.

 

 

 

 

 

LIYA, ISTRI NABI AYUB ALAIHI SALAM

           

 

Artinya: Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta`at (kepada Tuhannya). (QS. Shaad: 44)

Seperti halnya kesabarannya dalam menghadapi cobaan yang menderanya, demikian juga dengan istrinya

Diriwayatkan dari rasulullah Saw. dia berdabda:

“Sesungguhnya orang yang paling berat cobaannya dari golongan nabi, maka ambillah tauladan darinya”[54]

Dikatakan bahwasannya nabi Ayub memiliki nasab sebagai berikut: Ayub bin Maush bin Wa’wabal bin ‘Aish bin Ishaq bin Ibrahim. Ada juga pendapat lain mengenai nasab nabi Ayub ini, namun tetap bermuara pada nabi Ibrahim. Imam Ibnu Katsir berkata:

“Berkatalah para ulama ahli tafsir dan juga para ahli sejarah dan lain sebagainya: Ayub adalah seorang pemuda yang memiliki banyak harta yang dihasilkan dari pekerjaan-pekerjaan yang dilakoninya, berupa pertanian, memiliki banyak budak, peternakan, tanah yang sangat luas dan juga subur di Hauran”

Hauran bukanlah Haaran, yang terletak dipinggiran sebelah barat Suriyah yang berbatasan dengan Yordania. Dari penggambaran adanya tanah yang bagus di Suriyah, maka sangat cocok untuk ditanami. Terlebih tanaman gandum.

Ibnu Katsir berkata:

“Ibnu ‘Asakir mengisahkan, bahwasannya seluruh tanah Hauran adalah milik nabi Ayub. Dia memiliki banyak anak dan merupakan sebuah keluarga besar, lantas semuanya berubah total. Dan tubuhnya didera cobaan dengan berbagai macam cobaan, tidak tersisa dari tubuhnya yang selamat, kecuali hati dan mulutnya, yang senantiasa ia gunakan untuk berdzikir kepada Allah. Dalam keadaan seperti itu, ia nampak sabar, senantiasa berdzikir kepada Allah siang dan malam, pagi dan juga sore”

Ketika ia dicoba dengan kekayaan, memiliki banyak uang dan harta yang melimpah dia tetap menjadi orang yang bersyukur, lalu dia dicoba dengan kemiskinan dan penyakit, dia tetap sabar. Orang-orang yang sabar dan orang-orang yang bersyukur keduanya akan masuk sorga. Dan nampak juga pada diri istrinya sebentuk sabar dan syukur dalam dua keadaan itu dengan nampak jelas. Dia memiliki nikmat Allah yang diberikan kepada hambanya dan dia juga mengetahui haknya. Lalu dia dicoba dengan hilangnya semua nikmat yang dimilikinya, dan keluarganya menderita sakit, dia adalah contoh istri yang shalihah.

Ibnu ‘Asakir berpedoman pada sebuah hadits, lalu dia berkata:

“Sakitnya begitu lama, sampai akhirnya Allah menyembuhkannya dengan rerumputan dan beragam tumbuha-tumbuhan. Dia keluar dari desanya, dia dilempari kotoran dari luar desa”[55] 

            Orang-orang memutus hubungan dengannya, tidak ada seorangpun yang sudi merawatnya kecuali istrinya sendiri, Liya. Dia senantiasa menjaga hak-hak suaminya yang harus ia penuhi, dia telah begitu kenal kepada suaminya, baik akan kebaikan suaminya kepada dirinya ataupun cintanya kepada dirinya.

Dia senantiasa menjaga dan merawat nabi Ayub, menolongnya untuk memenuhi kebutuhannya, senantiasa menjaga kesehatannya. Keadaan Liya semakin payah, uangnya tinggal sedikit, yang mengharuskan ia bekerja sebagai pelayan untuk mendapatkan upah untuk memberikan makan suaminya, dan melaksanakan kewajibannya.

Dia adalah sosok wanita yang penyabar, ia tetap bersama nabi Ayub, walaupun dalam keadaan kehilangan harta benda dan juga anak. Tidak ada yang khusus baginya dari cobaan yang mendera suaminya. Kesulitan tidak memiliki kekuasaan, dan menjadi pelayan manusia setelah menjadi orang kaya yang berkecukupan, pelayan  dan juga kehormatan.

Ibnu Katsir berkata:

“Dikisahkan dari Wahab bin Munabbih dan yang lainnya, dari para ulama bani israil dalam menceritakan nabi Ayub, sangat panjang, mengenai kejadian hilangnya harta dan anak-anaknya, dan juga cobaan pada tubuhnya. Hanya Allah yang lebih tahu akan kesehatannya.”

Para periwayat dan juga para ahli sejarah, serta buku-buku sejarah yang ada  berbeda pendapat dalam menyebutkan lamanya nabi Ayub menerima cobaan itu. Dikatakan tiga belas tahun, dikatakan tujuh tahun, dan juga dua belas tahun.

As-Sadi mengisahkan kepada saya kondisi kehidupan istri nabi Ayub dalam cobaan yang mendera nabi Ayub. Dia berkata:

“Daging-dagingnya rontok, hingga tidak tersisa keculai tulang dan urat sarafnya. Istrinya senantiasa mendatanginya dengan membawakan pasir yang ditebarkan dibawah nabi Ayub. Ketika keadaan ini berlangsung lama menimpanya

Ia berkata kepada Ayub:

“Wahai Ayub, apakah engkau tidak meminta kepada Tuhanmu untuk membebaskan ini semua darimu?

Ayub Berkata:

“Aku telah hidup selama tujuh puluh tahun dalam keadaan sehat, apakah terlihat sedikit bagi Allah untukku bersabar selama tujuh puluh tahun?

Istrinya kaget mendengar kata-kata Ayub ini. Dan dia menjadi pelayan orang-orang untuk mendapatkan upah dan memberi makan Ayub, lantas setelah orang-orang tahu bahwasannya ia adalah istri nabi Ayub, dengan serta mereta tidak ada orang lagi yang mau memperkejakannya, karena mereka takut dapat tertular penyakitnya, atau hal ini akan menjadikan mereka berkumpul dengan nabi Ayub.

Sewaktu ia tidak bisa lagi menemukan orang yang mau memperkerjakannya, dia menjual sebagian ikatan rambutnya yang bagus untuk ditukar dengan makanan yang bagus dan enak. Lantas ia mendatangi Ayub. Lalu ayub bertanya:

“Darimana engkau mendapatkan ini?”

Dia menjawab:

“Aku bekerja menjadi pelayan”

Keesokan harinya, ia juga tidak menemukan satu orangpun yang mau mempekerjakan dirinya, dan diapun kemudian menjual ikatan rambutnya lagi yang lain untuk dibelikan makanan, lalu mendatangi Ayub, kembali ia mengingkari telah menjual ikatan rambutnya. Nabi ayub bersumpah tidak akan memakan makanan ini, sampai istrinya memberitahukannya dari mana makanan ini berasal? Lalu dia membuka tutup kepalanya, ketika nabi Ayub melihat kepalanya tercukur, nabi Ayub berkata dalam doanya:

Artinya: Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". (QS Al-Anbiya: 83)

Artinya: Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. QS. Al-Anbiya : 84)

Artinya: (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta`at (kepada Tuhannya). (QS. Shaad: 42-44)

Allah mendengar panggilan dan doa Ayub. Lalu Allah mewahyukan kepadanya untuk memukul bumi dengan kakinya, lalu muncullah mata air yang sangat dingin. Allah memerintahkannya untuk mandi dari air yang dingin itu dan meminumya, lalu nabi Ayub melaksanakannya. Seketika itu Allah menghilangkan darinya apa yang selama ini menderanya, berupa cobaan, penyakit dan menggantikannya dengan kenikmatan berupa kesehatan.

Istrinya senantiasa membantunya untuk memenuhi kebutuhannya, sewaktu masa-masa sulit menderanya, sebelum ia berdoa dan memanggil Allah, ketika ia melihat istrinya, istrinya telah menjual kedua ikatan rambutnya, maka diapun bersumpah untuk memukul istrinya dengan seratus cambukan!

Ketika istrinya kembali, maka Allah telah melupakan kejadian yang baru saja terjadi pada diri Ayub, akan tetapi Ayub tidak menyadarinya, jika saja istrinya tidak mengingatkannya. Lantas istrinya bertanya kepada Ayyub dengan penuh ketercengangan:

            “Keberkahan apa yang telah dilimpahkan Allah kepada engkau?, apakah engkau melihat nabi Allah mengalami penganiayaan ini. Demi Allah, Dzat yang maha kuasa akan hal itu. Aku tidak melihat seorang laki-laki yang menyerupai engkau, karena engkau baik”

            Ayub berkata:

            “Apakah itu aku?”

            Lantas Allah memuliakan Ayub karena istrinya ini yang sangat penyabar. Dan dia menyandang pangkat kenabian. Allah mewahyukan kepadanya untuk mengambil dughtsan, yaitu sejenis rumbai-rumbai yang berkumpul pada sebuah tangkai dan memukulkannya kepada istrinya dengan satu kali pukulan, tuntaslah sudah deraan itu, dan dia mendapat keringanan.

Artinya: Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta`at (kepada Tuhannya). (QS. Shaad: 44)

            Seperti halnya ketika Allah mengembalikan Ayub dari sakit menjadi sehat, demikian juga Allah mengembalikan Ayub dari miskin menjadi kaya kembali dan bahkan lebih kaya. Demikian juga Allah mengembalikan anak Ayub, berupa beberapa anak laki-laki ataupun anak perempuan

Artinya: Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QS. Al-Anbiya: 84)

 

Artinya: Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shaad: 43)

            Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata:

            “Seorang laki-laki diutus oleh Allah untuk menghadap Ayub, hendak menjualkan emas kepada Ayub, lalu Ayub menerimanya dan memasukannya kedalam pakaiannya. Lalu dikatakan: wahai Ayub apakah mencukupi bagimu apa yang aku berikan? Ayub menjawab: Wahai Tuhanku, siapa yang tidak membutuhkan lagi rahmat-Mu?[56]

            Ibnu Hibban meriwatkan:

            “Pada Ayub memiliki dua gundukan[57]. Satu gundukan berupa gandum dan satu gundukan lagi berupa jagung. Lantas Allah mengutus kepadanya dua mega. Sewaktu salah satu dari mega itu berada pada gundukan gandum, maka bertebaranlah emas diatas  gundukan gandum itu, hingga melimpah ruah. Demikian juga bertebaran pada gundukan yang lain, yaitu gundukan jagung, bertebaran mata uang, hingga melimpah ruah.”

            Suatu pendapat yang mengatakan mengenai anaknya, bahwa Dzulkifli termaktub juga dalam Al-Qur’an:

Artinya: Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh. (QS. AL-ANbiya: 85-86)

            Dia adalah Yasyar bin Ayub, yang kelak mewarisi kenabian setelah ayahnya dan menunaikan cita-cita dan tugas kenabian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Shafura[58]

 

Musa ‘Alaihi salam dia adalah Musa putra ‘Amran bin Maahin bin ‘Azir bin Laawi Ibnu yakub bin Ishaq bin Ibrahim[59]. Allah menuturkan nabi Musa dalam banyak tempat yang terpisah-pisah dalam Al-Qur’an. Dan juga menuturkan kisahnya dalam banyak tempat dan menguraikannya secara panjang lebar dan menyeluruh[60]

Perkara yang menjadi pijakan saya adalah sebuah hadits dari nabi, dengan maksud akan melakukan pembahasan yang terfokus mengenai istri-istri para nabi, dengan membatasi diri pada yang sesuai dengan kekinian. Periode kelahiran dan juga masa pertumbuhan nabi Musa berada dirumah Firaun, telah masyhur diketahui dan tidak akan diulas lagi dalam pembahasan ini

Saya mencukupkan diri dengan beberpa ayat yang menjelaskan hal ini, Allah berfirman:

Artinya: Thaa Siin Miim. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Qur'an) yang nyata (dari Allah). Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir`aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Fir`aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir`aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir`aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu (QS. Al-Qashash: 1-6)

Dan Allah berfirman:

Artinya: Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. . Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir`aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir`aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah isteri Fir`aun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa`at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedang mereka tiada menyadari. (QS. Al-Qashash: 7-9)

Dan Allah berfirman:

Artinya: Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia" Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: "Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?". Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (QS. Al-Qashash: 10-13)

Dan Allah berfirman:

Artinya: Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir`aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). Musa mendo`a: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Musa berkata: "Ya Tuhanku, demi ni`mat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa".  (QS. Al-Qashash: 14-17)

Lalu Allah berfirman:

Artinya: Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: "Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)". Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: "Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian". Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: "Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu". Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo`a: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu". (QS. Al-Qashash: 18-21)

Sampai sini saya sampai pada pokok pembahasan, nantinya hal ini akan saya kaitkan pada pokok pembahasan.

Nabi Musa keluar dari Mesir dengan rasa takut yang mencekam dan sembunyi-sembunyi. Dia sangat kuatir jika saja ada salah seorang rakyat firaun menemukan dirinya. Dia tidak tahu kemana dia harus menghadap dan dia juga tidak tahu kemana harus pergi, ketika dia melangkahkan kakinya. Dan ketika ia sampai didaerah Madyan, dia berdoa:

Artinya: Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdo`a (lagi): "Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar". (QS. Al-Qashash: 22)

Mungkin saja jalan ini dapat menjadi sebuah jalan yang dapat mengantarkannya mendapatkan yang dimaksudkannya. Antara Mesir dan Madyan terbentang jarak yang sangat jauh dan terjal. Membutuhkan perjalanan lama. Madyan berada disekitar teluk ‘Aqabah, merupakan sisi paling ujung sebelah kiri dari teluk tersebut dan terletak disebelah kiri Hijaz dan selatan Palestina.

Imam Thabari dalam kitab sejarahnya dari Sa’id bin Jabr berkata:

“Jarak antara Mesir dan Madyan tidak lebih dari delapan malam, dengan mengendarai onta”

Lalu bagaimana dengan tekad Musa yang hendak pergi ke Madyan dengan berjalan kaki dan tidak membawa perbekalan dijalan. Dan tidak bisa memperkirakan perjalanannya, dia hanya menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah, tidak ada kawan yanag menyertai. Dia tidak memiliki makanan selain daun-daun pohon.

Dari Ibnu Abbas berkata:

“Bahwasannya nabi Musa mendatangi sumber air di Madyan dan juga sayur-sayuran untuk mengganjal perutnya supaya tidak bergoncang. Dia keluar dari Mesir menuju Madyan dengan berjalan kaki, sesampainya ia di Madyan tampak alas kakinya sudah tipis. Maksudnya adalah kulit yang menempel ketanah dikakinya telah membahayakan dirinya dalam perjalanan karena sudah berlobang, sehingga ia membuangnya.”

Artinya: Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya". (QS. Al-Qashash: 23)

Akan tetapi pertama kali ia sampai ditanah Madyan adalah demi air yang ada disana. Disana terdapat sebuah sumur, dimana orang-orang sekitarnya mengambl air dari sana untuk minum. Lalu orang-orang-para penggembala-melihatnya, lalu mereka berlomba-lomba untuk mendekati sumur tersebut untuk dapat meminum airnya dan juga memberi minum hewan ternaknya.

Nabi Musa melihat dua orang wanita yang masih muda, keduanya hanya berdiri jauh dari sumur itu karena menghindarkan diri dari gerombolan kambing-kambing para penggembala yang menghalanginya. Lantas nabi Musa bertanya kepada keduanya tentang kehendak mereka berdua. Desakan-desakan orang-orang itu terlihat sangat menyakitkan dan mengakibatkan kedua wanita itu hanya terpaku berdiri, terkucil.

Lalu nabi Musa melihat bahwasannya kemungkinan kedua wanita tersebut tidak bisa mengambil air, sampai dengan para penggembala itu selesai memberi minum ternaknya. Kedua wanita tersebut adalah putri seorang yang sudah tua, yang sudah rapuh karena dimakan usia, maka dia tidak kuat lagi untuk melakukan pekerjaannya, dan kedua putrinya menggantikan tugasnya untuk menggembalakan kambingnya.

Artinya: Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdo`a: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (QS. Al-Qashash: 24)

 Para ahli tafsir berkata:

“Para penggembala itu setelah selesai dari maksudnya, lantas mereka meletakkan diatas bibir sumur tersebut sebuah tutup yang besar sekali, lantas kedua wanita itu mendatangi sumur tersebut sambil menggiring kambing mereka untuk minum air sisa dari kambing-kambing para penggembala. Pada saat yang sama datanglah nabi Musa dan mengangkat tutup itu seorang diri.[61] Lalu dia memberi minum kedua wanita tersebut dan juga kambing-kambingnya, lalu ia membuang batu tersebut.”

Berkatalah Amirul mukminin, Umar bin Khatab:

“Batu itu tidak dapat diangkat kecuali oleh sepuluh orang, nabi Musa hanya membutuhkan satu timba[62] untuk mencukupkan minum kedua wanita tersebut”

Artinya: Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdo`a: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (QS. Al-Qashash: 24)

Setelah ia selesai menolong kedua wanita tersebut, ia-pun beristirahat, dibawah pohon yang rindang dan berdoa kepada Tuhannya. Kedua wanita itu kembali kepada bapaknya, benar-benar menjadi sebuah aib kepulangan kedua wanita tersebut yang masih gadis diluar kebiasaan mereka berdua. Kedua wanita tersebut menceritakan kepada bapaknya mengenai orang asing, dan kisah orang asing tersebut dengannya. Lalu bapaknya mengutus salah satu dari mereka untuk memanggil orang asing tersebut[63]

Artinya: Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu`aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya). Syu`aib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu". (QS. Al-Qashash: 25)

Diapun mendatangi nabi Musa dengan malu-malu, dia berjalan dengan penuh semangat. Adapun ketika pulang, dia berjalan dengan cepat. Nabi Musa tetap saja duduk dibawah pohon yang rindang seperti sewaktu wanita itu meninggalkannya, karena ia tidak punya tempat untuk pulang dan juga tidak memiliki rumah. Wanita itu berkata kepada nabi Musa:

Artinya: Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu`aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya). Syu`aib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu". (QS. Al-Qashash: 25)

Lalu dia pergi bersama wanita itu, pada prinsipnya ia tidak menyukai balasan, akan tetapi dia sangat lapar dan juga terlihat snagat kesusahan karena jauhnya perjalanan yang ia tempuh. Lalu ia menghendaki supaya dapat kenyang dan bisa istirahat. Dia memperkenalkan diri kepada orang tua yang memang penduduk Madyan.

Sewaktu dia mendatangi orang tua tersebut, ia menceritakan kisah dirinya dan juga kisah sebab mengapa dirinya sampai keluar dari Mesir, orang tua itu adalah salah seorang umat nabi Syu’aib.[64] Lalu dia berkata:

“Aku telah mengetahui dan paham akan kisahmu.”

Lalu ia berkata kepada Musa:

Artinya: Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu`aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya). Syu`aib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu". (QS. Al-Qashash: 25)

Lalu ia memberi nabi Musa makan dan minum dan memuliakan kedudukannya, menginapkan nabi Musa dirumahnya. Kedua wanita itu mendengar ucapan nabi Musa dan ia sangat kagum kepada nabi Musa karena kekuatannya dan sifat amanahnya, dan yang paling besar , Shafura[65]. Berkata kepada bapaknya:

Artinya: Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS. Al-Qashash: 26)

Dan omongan itu, seputar pengasingan nabi Musa. Orang tua itu berkata kepada putrinya:

“Apa yang kamu ketahui tentang hal ini? Dengan kekuatan dan sifat amanahnya?”

Dia menjawab:

“Dia sanggup mengangkat tutup sumur itu, yang tidak dapat diangkat kecuali oleh sepuluh orang, ketika ia datang bersamaku, maka aku berjalan didepannya dan dia berkata: kamu sebaiknya berada dibelakangku. Ketika ia salah jalan, maka ia akan menjulurkan tongkatnya untuk memberitahukan dengan tongkat itu dimana jalan yang benar”.

Orang tua dari Madyan itu mengetahui kekaguman putrinya terhadap diri Musa, sepertinya ia menghendaki pemuda yang menolongnya dalam pekerjaannya, dan memberinya beberapa permintaan. Hal itu disimpan dalam hati oleh dirinya. Lantas orang tua itu mengemukakan kepada Musa bahwa ia akan menikahkannya dengan putrinya dan maharnya berupa dia harus bekerja padanya

Artinya: Berkatalah dia (Syu`aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik" (QS. Al-Qashash: 27)

Engkau menjadi pembantuku selama delapan tahun, jika engkau kuat sampai dengan sepuluh tahun, maka hal ini akan menjadikanmu sebagai sosok yang mulia dan sosok yang memiliki pergaulan yang bagus. Ketahuilah, bahwasannya aku tidak menginginkan tenagamu. Mungkin kelak engkau akan menemukan aku, insya Allah, dalam sebuah sejarah yang bagus mengenai diriku dan bersamamu.

Lalu nabi Musa menjawabnya dengan menerimanya dan dengan perasaan legowo:

Artinya: Dia (Musa) berkata: "Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan". (QS. Al-Qashash: 28)

 Dan nabi Musa-pun menikah dan tinggal di Madyan, guna mencari ilmu supaya dapat sempurna. Nabi Muhammad Saw. Pernah ditanyakan kepadanya mengenai istri nabi Musa, ia menjawab:

“Adapun nabi Musa memperkejakan dirinya selama delapan tahun atau sepuluh tahun yang digunakan sebagai mahar dan juga makanan pengganjal perut” [66]

Seperti sabda Rasulullah Saw. Dari dua pilihan:

“Aku bertanya keada Jibril, manakah yang akan dipilih Musa diantara dua pilihan itu? Dia menjawab: Yang paling sempurna diantara keduanya”[67]

 

Diriwayatkan dari ibnu Abbas:

“Disela-sela masa sepuluh tahun tersebut, istri nabi Musa melahirkan dua orang putra”

Ketika masa kerja nabi Musa telah habis, dia meminta izin kepada orang tua tersebut untuk pergi, dan dia mengizinkan Musa pergi, lalu Musa meminta istrinya supaya ayahnya berkenan memberinya kambing yang telah digembalakannya. Lalu ayahnya memberinya anak kambing yang lahir pada tahun itu.

Dikisahkan bahwa nabi Musa menghendaki tongkatnya untuk meancapkan  pucuknya kedalam dasar telaga, yaitu sebuah telaga yang nantinya kambing-kambingnya dapat minum dari situ. Lalu ia mengambilnya dan meminumkannya pada kambing-kambingnya. Dia berdiri didepan telaga itu dan memukul dengan tongkatnya disekitar kambingnya, dan semua kambing-kambing itu tiba-tiba mengandung dan melahirkan anak. Maka bertambahlah sekawanan kambingnya.

Lalu dia pergi dengan keluarganya, dengan istrinya dan juga kedua anaknya. Dan juga menggiring kambingnya dengan tongkatnya menuju Mesir, yaitu tempat dimana ia pernah keluar darinya dengan ketakutan. Namun kemudian dia memiliki keinginan untuk pulang kepada ibunya dan juga umatnya, bani israil:

Artinya: Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan". Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: "Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam,  dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): "Hai Musa, datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia ke luar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada) mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mu`jizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir`aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik". (QS. Al-Qashash: 29-32)

            Sampai dengan waktu itu, hidup nabi Musa senantiasa dalam perlindungan Allah. Memberinya kekuatan supaya ia dapat menjalankan perintah-Nya, menjadikan ia tumbuh dan berkembang, serta menguatkan tubuhnya. Karena ia akan diutus untuk menjadi seorang nabi dan rasul.

            Nabi Musa dan keluarganya, kedua anaknya dan juga kambingnya terjebak ditengah gurun Sinai, ketika malam menutupi mereka di jurang “Thua” , malam itu sangat pekat, cuaca yang ada waktu itu sangat dingin. Lantas nabi Musa berhenti sebentar, karena dia tidak tahu apa yang harus dikerjakannya?

            Ketika dia dalam keadaan bingung seperti itu, tiba-tiba dia melihat dari jauh ada api yang menyala-nyala disebelah gunung Thuur. Lalu dia meminta keluarganya supaya diam ditempat mereka masing-masing selama ia mendatangi api tersebut. Lalu nabi Musa mendatangi api tersebut, dan kemudian membawa bara api tersebut untuk dinyalakan, dengan harapan nantinya mereka dapat menemukan seseorang disampingnya yang dapat menolongnya atau menunjukkan jalan pada mereka.

            Imam Ibnu Katsir berkata bahwasannya nabi Musa melihat orang lain dari bara api itu selain mereka, sesungguhnya api ini adalah cahaya, dan tidak baik bagi siapapun untuk melihatnya:

Artinya: Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa.  Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu) Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa" (QS. Thaha: 11-16).

            Ketika nabi Musa sampai ditempat api tersebut, dia menemukannya menyala-nyala disebuah pohon  ‘Ausj.[68] Pohon itu semuanya terbakar oleh api tersebut, anehnya semua itu karena pohon itu masih tumbuh dan menghijau, dia berhenti dan terheran-heran.

            Lalu dia mendengar suara yang mendatangi pohon itu yang menerangi, memanggilnya dan memperkenalkan bahwa dia adalah Allah Swt. Dzat yang agung kekuasannya. Dia memerintahkan supaya Musa melepas kedua alas kakinya,[69] untuk memuliakan dan menghormati sebidang tanah yang diberkahi, apalagi dimalam yang diberkahi tersebut. Malam dimana Allah berbicara langsung kepada Musa dan memberinya pangkat kenabian juga risalah.

Dia mengabarkan kepada Musa bahwasannya ia adalah Tuhan semesta alam, tidak ada Tuhan selain-Nya. Dzat, yang tidak sah suatu ibadah dan mendirikan shalat kecuali karena-Nya. Dunia ini bukanlah rumah keabadian, dan rumah keabadian yang sejati adalah hari kiamat. Suatu hari yang harus ada dan nyata untuk membalas semua tindakan yang dilakukan oleh diri, baik itu yang baik ataupun tercela. Mengingatkan kepada Musa untuk beramal demi hari kiamat dan menjauhkan orang yang tidak beriman kepada hari kiamat yaitu orang-orang yang mendurhakai tuannya dan mengikuti hawa nafsunya..

Nabi Musa memperhatikan dengan seksama sesuatu yang dia dengar dan dia lihat, lalu dia berdiri dengan penuh kebingungan sampai-sampai tidak bisa bergerak. Lalu datanglah kepadanya panggilan kedua yang terdengar ramah dan menyenangkan:

Artinya: Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?(QS. Thaha”17)

Artinya: Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". (QS. Thaha: 18)

Nabi Musa menambahi dalam jawaban atas pertanyaan tersebut, telah lega rasa hatinya karena sebagian perkara yang ada telah terungkap. Lalu datanglah perintah dari Allah Swt.

Artinya: Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. (QS. Thaha: 19-20)

Hal itu sangat menakutkan pandangannya, lantas ia berpaling darinya dengan berlari:

Artinya: dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): "Hai Musa, datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. (QS. Al-Qashash: 31)

Lalu kembali nabi Musa berlari, karena dia adalah seorang manusia juga yang memiliki rasa takut yang hinggap dalam dirinya. Dan dia tidak menoleh, lalu Allah memanggilnya:

 

Artinya: dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): "Hai Musa, datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. (QS. Al-Qashash: 31)

Lalu dia merasa tenang dan kembali:

Artinya: Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, (QS. Thaha: 21)

Dia meletakkan tangannya pada saku baju besinya, lalu dia meletakkan tangannya ditengah mulutnya, sewaktu ia melakukan hal ini. Tiba-tiba ular itu berubah menjadi sebuah tongkat lagi yang berjambul. Lalu Allah memanggilnya:

Artinya: Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia ke luar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada) mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mu`jizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir`aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik". (Qs. Al-Qashash: 32)

Lalu nabi Musa memasukkan kembali tangannya kedalam saku, yaitu suatu lobang yang yang ada dibaju dekat leher, lalu dia mengeluarkannya kembali. Tiba-tiba muncul cahaya putih yang menyebar terlihat begitu indah dan tidak terlihat adanya bercak pada cahaya itu serta tidak pula berpendar.[70] Seperti yang telah ditunjukan oleh Allah, supaya nabi Musa meletakkan tangannya pada hatinya, ketika hatinya tergetar merasa takut, maka setelah itu, hatinya pun menjadi tenang kembali.

Nabi Musa kembali kepada keluarganya, dan dia telah menguasai tuntutan yang terkandung dalam kenabian dan memegang sebuah amanah risalah. Dan dia berencana untuk kembali berhadapan dengan firaun, setelah dia menjadi korban pemaksaan kesewenag-wenangan fi'aun karena kekuasaan yang dimilikinya. Dan dia memperbarui keimanan kepada umatnya, bani israil. Lalu mereka pergi keluar dari Mesir menuju bumi yang disucikan.

Istrinya, Shafuura adalah orang pertama yang mempercayai kenabian Musa dan juga membenarkannya. Dia mengetahui kenabian Musa dari pengertian-pengertian bagus yang diberikan kepada Musa, yang memang Allah sengaja membuat untuk dirinya. Lalu istrinya senantiasa mengikuti Musa. Dia adalah sebaik-baik istri yang shalih bagi seorang nabi dan rasul, Musa.

Artinya: Musa berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan) ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku". Allah berfirman: "Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mu`jizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang". (QS. Al-Qashas: 33-35)

 Adapun nabi Musa tidak begitu fasih dalam bahasa sehari-hari,[71] lalu ia meminta kepada Allah untuk juga mengutus saudaranya, Harun, supaya dia dapat menjadi patihnya yang dapat memotifasi dirinya serta menjadi sandaran baginya. Dan Allah mengabulkan permintaan Musa, dan memberitahukannya tentang hal ini, supaya dia dapat bangkit dengan kekuatannya untuk menumbangkan firaun dan agamanya.

Ketika keadaan semakin memburuk dan kekejaman yang ada semakin menggila, atau dengan kata lain terjadi adanya suatu jalinan kekuatan kezaliman dan kemunkaran.

Nabi Musa mengikuti saja kendaraan yang dia tumpangi yang membawanya kembali ke Mesir, sampai akhirnya ia sampai di Mesir. Hal pertama yang dia lakukan adalah berziarah kemakam ibunya dan menemui saudaranya, Harun. Dari sinilah lantas mereka berdua membulatkan tekad untuk menghadapi firaun dan memperingatkannya dengan perkataan yang lembut dan ucapan yang jelas serta santun.

Artinya: maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (QS. Thaha: 44)

Inilah permulaan pergulatan antara kebenaran dan kebatilan, yang memakan waktu lama, dan semakin bertambah lama sampai bertahun-tahun. Musa dan Harun tidak pernah menyerah dari melaksanakn dakwah dan firaun semakin sombong dan terlihat sangat memusuhi. Mereka berdua mengajak firaun untuk menyembah Allah, akan tetapi ia malah semakin bertambah saja kesombongan dan kecongkakannya serta kezalimannya dan mengingkari adanya Allah:

Artinya: Dia (Musa) berkata: "Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan". (QS. Al-Qashash: 28)

Artinya: Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi". (QS An-Nazi'at: 23-24)

Banyak sekali kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi dan juga kekecewaan-kekecewaan. Akan tetapi Musa dan Harun tidak henti-hentinya mengajak firaun dengan perkataan yang santun, sampai akhirnya Musa berbuat nekat menentang kekuasannya dengan menakut-nakuti dan mengancam, lalu firaun berkata kepada Musa:

Artinya: Fir`aun berkata: "Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan". Musa berkata: "Dan apakah (kamu akan melakukan itu) kendatipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata?" Fir`aun berkata: "Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang benar". (QS. Asy-Syu'ara: 29-31)

Dalam keadaan seperti ini nabi Musa sangat membutuhkan petunjuk dan Mukjizat dan juga pertanda-pertanda. Kecelatan lidah Musa adalah kelemahan yang diberikan Allah supaya dia tidak berbohong:

Artinya: Maka Musa melemparkan tongkatnya, yang tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular yang nyata. Dan ia menarik tangannya (dari dalam bajunya), maka tiba-tiba tangan itu jadi putih (bersinar) bagi orang-orang yang melihatnya. (QS. Asy-Syu'ara: 32-33)

Sihir[72] adalah sesuatu yang sudah umum dalam diri dan pemahaman manusia. Mereka semua bisa bersihir. Dan dalam hal ini mereka sangat memuliakan firaun. Karena dialah yang paling mahir, ketika firaun melihat yang telah dilakukan Musa , lalu dia berkata:

Artinya: Berkata Fir`aun: "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kamipun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)". (QS. Thaha: 57-58)

Lalu hal ini disusul dengan persaksian, karena firaun mendatangkan tukang sihirnya dari segala penjuru negaranya:

Artinya: Maka Fir`aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Berkata Musa kepada mereka: "Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa". Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata: "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama. (QS. Thaha: 60-63)

Lalu :

Artinya: (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: "Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Berkata Musa: "Silakan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: "Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang". (QS. QS. Thaha: 65-69)

Dimana posisi sihir dari mukjizat?

Maka mereka yang unggul pasti akan dapat mengalahkan:

Artinya: Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, "(yaitu) Tuhan Musa dan Harun". (QS. Al-A'raf: 119-122)

Allah membuka hati mereka dari lupa yang telah menutupi, dan menyinari hati mereka dengan cahaya petunjuk dan menyingkirkan darinya tutup yang selalu melingkupi hati mereka dan menjadikan mereka bertaubat dan kembali kepada Tuhan mereka, mereka luruh dihadapan Allah dengan bersujud.

Ini adalah permulaan dari berakhirnya kekuasaan firaun. Mukjizat tongkat itu tetap dalam genggaman tangan nabi Musa, tongkat itu diberikan kepada Musa tepat pada waktunya, tidak ada yang lebih mulia dari Musa pada saat itu. Nabi Musa dan umatnya, bani Israil keluar dari Mesir menuju ke timur, dan firaun membuntuti mereka dengan para tentaranya dan juga pasukannya, yang bertujuan untuk menemukan mereka dan membunuhnya:

Artinya: Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mu`jizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (QS. Asy-Syu'ara: 61-68)

Nabi Musa dan orang-orang yang turut serta bersamanya menuju laut. Mereka berkata:

"Aku tidak mengerti semua ini, apakah kita akan menenggelamkan diri kedalam laut yang terbentang dihadapan kita dan musuh berada dibelakang kita? Ini adalah jalan terakir"

Lalu nabi Musa berkata:

Artinya: Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS. Asy-Syu'ara: 63)

Allah mewahyukan kepada Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya, lalu dia melaksanakannya, dan terbelahlah air laut tersebut, terbelah menjadi dua bagian. Menjadi seperti dua gunung dari air yang keras dan diantara gunung tersebut terdapat jalan yang kering. Dan nabi Musa menutup jalan itu setelah terlebih dulu nabi Musa dan para pengikutnya melintasinya.

Firaun dan bala tentaranya mengikuti mereka, ketika mereka sampai ditengah-tengah, tiba-tiba air merapat menuju mereka dari segala penjuru:

Artinya: Maka Fir`aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. (QS. Thaaha: 78)

Dan semuanya tenggelam (pembahasan mengenai kisah nabi Musa sangatlah banyak dan juga panjang lebar. Pada kisah-kisah itu ada yang membicarakan secara khusus mengenai kisah nabi Musa, sedangkan saya bermaksud untuk membicarakan tentang istri nabi Musa, Shafura putri syaikh Madyan. Dia yang telah menemani nabi Musa dalam perjalanan itu, semenjak nabi Musa menghendaki untuk memperistrinya, sampai dengan Musa bekerja kepada bapaknya demi mempersunting dirinya, lalu ia melakukan perjalanan dengan Musa menuju Mesir, dan nabi Musa diberikan wahyu dan Allah berbicara langsung kepada Musa di bukit Sinai tepatnya di gunung Thuur di jurang Thuwa.)

Dia adalah orang pertama yang mempercayai kenabian Musa dan membenarkannya dan selalu mendampinginya dalam segala keadaan, dan perjalanannya tidak lebih dari itu, jika saja tulisan para ahli sejarah tidak memberikan keterangan lain mengenai dirinya, baik itu yang sangat dekat berkaitan dengan dirinya ataupun tidak. Hingga tidak pada kitab orang-orang ahli kitab

Saya juga tidak mengetahui secara pasti kapan dia meninggal, apakah dia meninggal sebelum nabi Musa wafat atau sesudahnya? Beserta kejadian-kejadian yang melingkupinya dan omongan-omongan yang senantiasa menyertai keberadaan bani israil di tanah Sinai, dalam beberapa abad. (Hal ini digantungkan hanya kepada Allah yang mengetahuinya)

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing) Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (QS. Al-Baqarah: 60)

Setelah bani israil selamat dari kekejaman firaun dan berhasil melintasi laut, akhirnya mereka sampai di gurun Sinai dan menetap disana. Mereka sangat membutuhkan air, untuk minum dan juga memberikan minum kepada ternak mereka, jika tidak mendapatkan air, maka mereka semua bisa mati.

Lalu Allah mewahyukan kepada hamba-Nya yang sekaligus juga menjadi nabi-Nya, Musa. Untuk memukulkan tongkatnya pada batu (berupa karang yang sangat keras). Lalu karang itu terbelah dan muncullah air dan mengalir dari karang itu, dua belas mata air. Hal ini berdasarkan cucu keturunan yahudi yang berjumlah dua belas.[73] Diketahui bahwa semua keturunan yahudi dari bani israil meminum air itu dari kebutuhannya untuk minum, semua itu berkat kasih sayang dan kemuliaan Allah, mereka semua bersaksi.

Dari sini, kepandaianku terasa buntu, akalku dan juga hatiku, mengacaukan ketentuan yang ada, antara laut dan batu karang.

Laut yang menjadi keras, karang yang dapat memunculkan dan mengalirkan air, air yang meredamkan cobaan.

Demi Allah, Dzat yang maha kuasa atas semua mahluk-Nya yang ada, yang telah mengkhususkan mereka dengan hanya seorang diri, Dzat yang telah menundakan kekhususan itu ataupun memindahkannya, dengan tanda-tanda dari-Nya. Tongkat itu adalah sebuah tanda. Dan yang paling menakjubkan adalah bahwasannya bani israil adalah orang-orang yang melihat tanda-tanda itu dengan mata kepalanya sendiri dalam balutan kebenaran. Mereka menyimpang, lantas Allah-pun menyimpangkan hati mereka dan menjerumuskan dalam fitnah, saling mengikuti satu dengan yang lain.

Mereka mencari pengganti buah Manna dan Salwa[74] dengan mentimun, bawang putih, tumbuhan biji-bijian dan juga bawang merah, mereka beralasan bahwasannya mereka tidak mencukupkan diri denagn satu jenis makanan. Mereka menghendaki melihat Allah dengan terang-terangan.

Mereka mengambil anak sapi sebagai tuhan mereka, sewaktu nabi Musa meninggalkan mereka untuk bertemu dengan Tuhannya. Mereka terlihat menyimpang dalam kegiatannya menyembelih sapi, seperti yang Allah wahyukan kepada Musa untuk menjelaskan yang sebenarnya, dan membuka rahasia kepada mereka tentang orang yang terbunuh dan orang yang membunuh. Yang benar adalah sesuatu yang harus diikuti, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang fasik.

Mereka adalah penakut untuk sampai pada tanah yang diberkahi, yaitu sebidang tanah yang mereka pernah keluar dari sana. Lantas mereka berkata kepada Musa:

Artinya: Mereka berkata: "Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya." (QS. Al-Maidah: 22)

Mereka menyakiti nabi mereka sendiri yang juga sekaligus menjadi Rasul mereka. Mereka menghendaki untuk mempermalukannya dan menjerumuskan dalam kesusahan, akan tetapi Allah melihatnya:

Artinya:  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah. (QS. Al-Ahzab: 69)

Dalam kondisi seperti ini, nabi Musa terlihat putus asa untuk menjadikan baik umatnya, dia memanggil Tuhannya, lalu berkata:

Artinya: Berkata Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu" (QS. Al-Maidah: 25)

Mereka juga beranggapan bahwa nabi Musalah yang menyebabkan saudaranya, Harun  meninggal, bahkan lebih jauh mereka beranggapan bahwa nabi Musa telah membunuhnya karena dengki dan cemburu. Semoga Allah membinasakan mereka jika mereka berbohong. Kematian Musa sudah dekat, sewaktu ia masuk kedalam bumi yang disucikan, ia meminta kepada Allah untuk menampakkan ditanah yang disucikan itu dengan kekuasaan-Nya melemparkan batu, supaya ia dapat melihatnya. Itulah yang dicarinya selama ini.

Imam Bukhari dalam kitab shahihnya[75] meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah Saw. Dia berkata:

"Jika engkau ada disana, pasti aku akan menunjukkan kepadamu makamnya yang berada disebelah jalan diatas tanah yang berwarna merah"[76]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Istri-Istri Nabi Dawud

 

 

Nasab nabi Dawud hanya sampai kepada Yahwadza bin Yakub bin Ishaq bin Ibrahim. Nabi Ibrahim adalah orang pertama yang menjadi cikal bakal para nabi dan juga raja-raja dalam bani israil.

Dawud mulai keluar dari rumahnya untuk menggembalakan kambing-kambing ayahnya pada usia tiga belas tahun dan mengawasi saudara perempuannya, dari orang-orang yang keluar menjadi tentara raja Thalut untuk memerangi musuh mereka Jalut[79] dan juga tentaranya

Ketika terlihat orang-orang sedang berkumpul dan pada saat itu, ternyata kejahatan tentara Jalut semakin kentara saja. Maka Thalut berkata para sahabatnya:

Artinya: Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 249)

Dan secara terang-terangan Jalut turun kemedan perang dengan kemauan yang membaja, menantang dan mengajak untuk berperang, namun tidak seorangpun dari tentara Thalut yang memenuhi tantangan Jalut untuk berperang tanding dengannya. Lalu datanglah Dawud, dia seorang pemuda. Dan berkata kepada Thalut:

"Saya akan menghadapinya dan bertarung dengannya"

Thalut meremehkan dan mengejeknya. Lalu Dawud berlutut untuk mendapatkan yang diinginkan, yaitu bertarung dengan Jalut. Lalu Thalut dengan terpaksa menyetujui keinginannya. Dawud dengan berbekal pekerjaannya dalam mengembalakan kambing melempar Jalut dengan ketapel.[80] Dia membawa beberapa peluru dalam sebuah kantong: berupa lima buah batu yang halus yang ia pilihkan dari lembah tempat ia menggembalakan kambingnya disana.

Ketika Jalut menampakkan diri, dia bangkit menghadapi Dawud dan berkata kepadanya:
            "Pulanglah, aku sangat benci untuk membunuhmu"

Dawud menjawab:

"Akan tetapi aku sangat senang jika dapat membunuhmu"

Lalu Dawud melemparkan batu-batu itu sekuat tenaga dengan ketapelnya keudara, terdengar desingan suara dari lemparan batu itu, laksana angin yang mendesis. Lantas kembali ia melemparkan batu dengan ketapelnya dan tepat mengenai jidat Jalut.

Batu itu membelah kepalanya, dia jatuh terbunuh. Dan pasukannya pun terpukul mundur dan lari dalam keadaan kocar-kacir. Sepasukan kecil orang mukmin telah dapat mnegalahkan sepasukan besar orang musyrik yang jahat.

Thalut menghendaki untuk memuliakan Dawud, lalu dia menikahkan Dawud dengan putri semata wayangnya, Miyakal. Menjadikan Dawud sebagai kerabat, juga saudara-saudaranya. Dan memberinya imbalan berupa kedudukan dikerajaannya. Istrinya adalah seorang wanita yang bertaqwa dan shalihah. Dawud menerimanya dengan lapang hati sebagai istrinya, dan dia merelakan dirinya untuk diperistrikan dengan Dawud dan mencintainya, dia hidup berbahagia dengan Dawud.

Sungguh besar wibawa Dawud, orang-orang bani israil condong kepadanya. Kerajaan Thalut menjadi lemah dimata mereka. Thalut merasa bahwa kerajaannya mendekati kehancuran, dia iri kepada Dawud, dan ingin merebut kembali dari Dawud. Dan untuk melaksanakannya, ia membuat banyak rencana jahat. Akan tetapi Miyakal tetap berpihak kepada suaminya, Dawud, mendukungnya dan mewaspadakannya. Demikian juga dengan saudara Miyakal yang bernama Yunasan bertindak seperti dirinya, yang memang sangat mencintai Dawud dan tidak dapat berpindah kelain hati. Laksana bayang-bayang yang tidak dapat dipisahkan dari asalnya.

Dawud terpaksa harus pergi mengungsi menuju sebuah jurang dan berlindung didalam goa, lari dari penyiksaan yang dilakukan Thalut. Para sahabat-sahabat dan juga pengikutnya turut serta dengan Dawud.

Dalam lingkungan yang asri dan bebas, jauh dari hiruk pikuk urusan dunia. Hati Dawud terpancang kepada Allah dan datanglah kepadanya, pangkat kenabian. Turunlah kepadanya kitab Zabur. Gunung-gunung dan burung-burung tunduk dan pasrah kepadanya. Lalu diberikannya kebijaksanaan dan seruan dakwah, sempurnalah nikmat lahir dan juga batin, bagi Dawud:

Artinya: Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat ta`at kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. (QS. Shaad: 18-20)

Semakin sering saja Dawud menghadap kepada Tuhannya dengan ketaatan dan beribadah. Dia senantiasa tidur pada tengah malam dan bangun pada sepertiga malam untuk melakukan shalat dan bertasbih dan tidur dalam seperenam malam. Dia senantiasa berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari, dia tidak lari ketika bertemu dengan Tuhannya[81]

 Allah semakin memuliakan dirinya dengan menguasakan besi padanya:

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Saba': 10-11)

Dia membuat baju besi dari besi itu. Dan Allah memudahkan ia melakukannya, besi yang ada ditangannya laksana lilin yang dapat diperlakukan sekehendak hatinya dengan tanpa terasa panas dan membakar. Thalut menjadi semakin gusar dan berkali-kali mencoba menemukan Dawud. Dia pergi keluar dengan pasukannya untuk mendapatkan Dawud, dan ternayta kerajaan Dawud berdiri diantara gunung-gunung, jurang dan juga goa-goa, akan tetapi disana dia tidak menemukan Dawud. Dan bahkan sebaliknya, bukan Thalut yang menemukan Dawud, akan tetapi Dawud yang menemukan Thalut. Dawud mendapati Thalut dihadapannya sedang tertidur dan sangat mudah bagi Dawud untuk membunuh Thalut. Dua kali hal ini terjadi, lalu Dawud memaafkan Thalut.

Kedengkian Thalut kepada Dawud semakin bertambah saja. Dan istrinya Miyakal putri Thalut yang juga istri Dawud selalu memberikan yang terbaik bagi suaminya, dan sesekali menolongnya dengan omongan-omongan ataupun tindakan dan menyampaikan kepada Dawud akan hal ini, berupa rencana buruk ayahnya  dan bahwasannya berita ini dari saudaranya, Yunasan.

Hal ini tidak berkepanjangan, karena Thalut keluar dari sarangnya untuk memerangi orang-orang Palestina. Mereka menyerang Palestina dan mencoba untuk membumi hanguskan. Jalut ikut berperang dalam peperanagn ini.

Sangat memungkinkan bagi nabi Dawud untuk menggulingkan pemerintahan yang sah, jika saja dia memiliki keinginan untuk menguasai mereka, dengan meminta tolong, mengumpulkan orang-orang yang ada disekitarnya, lalu mereka diminta untuk menganggap Dawud sebagai raja mereka menggantikan Thalut menjadi raja dirumah Yahwadza di Hebron.

Ini adalah awal kenabian Dawud dimana berkumpul disana para raja mulai dari zaman nabi Adam:

Artinya: Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. (QS. Al-Baqarah: 251)

Akan tetapi Dawud tidak diberikan putra dari istrinya, Miyakal.

Kisah mengenai pernikahan nabi Dawud dengan seorang janda yang menjadi pemimpin, Auriba. Terdapat dalam Taurat, yang mengisahkannya dan terlihat asing, namun mengagumkan, memang terlihat saling bersesuaian dan bagus. Ini adalah kisah nabi Dawud yang ada dalam taurat, beserta para nabi-nabi yang lain. Dalam taurat ada hal-hal yang terkesan saling berlawanan ketika membuktikan Dawud dengan cintanya yang sangat mendalam kepada keluarganya, orang yang senantiasa berbuat baik,  bertaqwa dan bersih kekuasannya.[82].

Lalu hal ini dipahami sebagai bentuk kecenderungan Dawud ingin membebaskan diri dari seorang pemimpin, Auriba untuk menjadi istrinya. Ia mencintainya karena adanya keuatamaan yang dimilikinya dan juga ia terlihat sosok wanita yang penuh kasih sayang. Sedangkan ia telah dinobatkan sebagai nabi. Maka bagaimana mungkin ia akan merelakan dirinya untuk melakukan tindakan rendah ini?

Dikatakan dalam taurat, bahwasanya Dawud melihat seorang wanita yang sedang berias, waktu itu Dawud sedang berjalan-jalan diteras rumahnya. Lantas ia berjalan menuju wanita yang sedang merias diri itu. Seketika itu wanita tersebut kaget dan ternyata Dawud menyukai tingkahnya ini. Lalu Dawud mendatangi wanita tersebut dan tidur bersamanya, sehingga ia hamil, lantas dia memberitahukan hal ini kepada Dawud. Suaminya, Auriba adalah sosok yang perkasa dalam medan tempur.

Wanita itu mendatangi suaminya untuk menanyakan mengenai pertempuran terbuka. Dan dia berkata bahwa ada seorang laki-laki telah mengatakan sebuah janji kepada istrinya, hingga ia tidak tenang dengan masalah yang menimpa istrinya tersebut, ketika diberitahukan kepadanya bahwa setelah kejadian itu dia hamil. Akan tetapi laki-laki itu berada dalam keadaan yang sangat sulit.

Lalu laki-laki itu tidur dipintu rumah Dawud dan wanitanya tidak menjenguknya, karena laki-laki itu bukanlah orang yang bertaqwa, karena dia menggauli istrinya, sedangkan saudaranya di medan perang yang mana mereka jauh dari istri-istri mereka.

Ketika Dawud mengetahui permasalahannya, dia tidak mau menjadi perantara karena tidak adanya keterangan yang jelas dari permasalahannya, kecuali pengaduan Auriba ketika di medan perang dengan membawa bendera. Laki-laki itu terpisah dari pasukannya setelah ia maju kedepan. Dengan cara ini pemuda itu akan mati, dan datanglah istrinya dengan membawa serta anaknya dalam suasana duka itu.

Dawud menikahinya, lalu anaknya sakit, dan Dawud merasa sedih karenanya dan ia terlihat sangat susah, sampai-sampai tidak ada orang yang mampu untuk menolong kesedihannya, lalu anak itu mati. Dan dari wanita ini lahirlah Sulaiman. Ini adalah kisah yang ada dalam taurat dari pernikahan Dawud dengan janda Auriba dan melahirkan anak bernama Sulaiman

Cukuplah celah dari kisah ini dan terlihat tidak menggantung.

Saya menghendaki satu kata: kenapa istri dari Dawud yang seorang janda tidak merasa susah, dan memiliki cara untuk menghibur diri, seperti halnya yang dilakukan oleh sahabat rasul Saw. Saksi-saksi dalam kejadian ini sangatlah banyak.

Dawud dikaruniai seorang putra, yaitu Sulaiman. Dia tumbuh dan berkembang. Pada waktu mudanya, dia diberikan sesuatu oleh bapaknya, yaitu dia diberikan kebijakan dan perintah dakwah. Mereka mengisahkannya:

"Sesungguhnya tumbuhan itu pasti ada yang menanamnya, atau kebun yang menunjukkan adanya tanaman yang menghijau. Kambing-kambing memilih tanaman itu tanpa sepengetahuan pemiliknya, kambing-kambing itu memakannya pada waktu malam. Lalu datanglah orang-orang yang meminta keadilan kepada Dawud, dan Sulaiman berada disebelahnya. Lalu Dawud memberikan kebijaksanaan dengan memberikan kambing bagi orang yang memiliki tempat penebaran benih sebagai ganti atas rumputnya, yang telah dirusak oleh kambing tersebut.

Sulaiman menggembalakan kambing Dawud untuknya pada waktu malam, lalu Sulaiman berkata, pada saat itu dia berusia sebelas tahun: bukan dia yang menemaniku wahai ayah. Dia menyuruh untuk mengusir kambing-kambing kepada pemilik rumput  dan mereka mengambil manfaat dari susu kambing dan juga anak-anak kambing, juga bulunya.

Denda dikenakan pada pemilik kambing, mereka berdiri padanya seperti keadaan semula, lalu mereka mnarik kembali gugatannya

Artinya: Mereka berkata: "Kapankah janji itu akan datang, jika kamu sekalian adalah orang-orang yang benar?" Andaikata orang-orang kafir itu mengetahui, waktu (di mana) mereka itu tidak mampu mengelakkan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka, sedang mereka (tidak pula) mendapat pertolongan, (tentulah mereka tiada meminta disegerakan). (QS. Al-Anbiya: 38-39)

Dawud menerima pendapat Sulaiman, dan memberikan kebijaksanaannya

Abu Hurairah mengatakan kepadaku dari Rasulullah mengenai kematian Dawud, Rasulullah Saw. berkata:

"Dawud memiliki cinta yang sangat besar, ketika dia pergi dia selalu saja mengunci rumahnya, maka tidak ada orang lain yang akan masuk kedalam keluarganya sampai dengan ia pulang.”

Pada suatu hari dia keluar dan pintunya dikunci. Lalu istrinya pulang menuju rumah, tiba-tiba ada seorang laki-laki ditengah rumah. Lalu dia berkata kepada orang yang ada didalam rumah: dari mana pemuda ini masuk, sedangkan rumah dalam keadaan dikunci? Demi Allah, ia hendak membukakan pintu untuk Dawud.

Lalu datanglah Dawud, ia melihat ada seorang pemuda ditengah rumahnya. Lalu Dawud berkata kepadanya:

"Siapa engkau?"

Dia berkata:

"Aku, Dzat yang tidak dapat disingkirkan oleh raja dan tidak dapat menghalangiku hijab"

Dawud berkata:

"Demi Allah, apakah engkau malaikat maut? Selamat datang dengan membawa perintah Allah"

Lalu dia diam, sampai akhirnya dia mencabut nyawanya. Ketika dia dimandikan, dikafani dan setelah selesai muncullah matahari. Lalu Sulaiman berkata kepada burung:

"Teduhilah Dawud"

Lalu burung-burung itru meneduhi mereka, sampai akhirnya bumipun meneduhi mereka. Lalu Sulaiman berkata keapda burung-burung tersebut:

"Rapatkan sayapmu"

Abu Hurairah berkata, Rasulullah mencocokkan dengan ungkapanku, tentang bagaimana burung-burung itu melakukannya, lalu Rasulullah Saw. Menerimanya dengan tangannya, dan burung elang terlihat gagah pada saat itu.

Dalam rujukan rujukan sejarah sejarah kehidupan Dawud, aku berhenti pada hal-hal berikut:

Putra-putra Dawud adalah:

  1. Aminun, yang memulia dari istri yang bernama Adlyanu'am al-Bazra'aliyah
  2. Danil, dari istri yang bernama Abijabal al-Karmaliyah
  3. Absyalum dari istri Maqallah binti Talmay raja Jasywar
  4. Audunyaah dari istri Hujait
  5. Syafthabah dari istri Abithal
  6. Yatsra'am dari istri yang disebut dengan 'Ajlah

Keenam anak itu dilahirkan di Habron, sebelum dia meninggal, di Yerusalem, istrinya melahirkan anak untuknya disana: Syam'an, Syauban, Natan, Sulaiman dan yang paling menggembirakan mereka adalah dari Batsyu' bin 'Amitil.[83]

Dan dari selain istri-istrinya ini, juga lahir beberapa anak laki-laki. Mereka adalah: Kabjar, Basyami', Yafalith, Naujah, Nafij, Yafi', Yasyama'. Yang dua adalah Ilyada' dan Ilbanlat.

Di Yerusalem juga lahir putrinya yang bernama Tamara. Periwatan-periwayatan ini, yang telah disebutkan adalah mengenai putra-putra nabi Dawud dari beberapa istrinya dan tidak disebutkan putra-putra nabi Dawud dari selian istri-istri yang tercantum diatas.[84]

 

 .

 

 

 

 

 

 

 

BALQIS.[85] RAJA SABA'

Istri nabi Sulaiman 'Alaihi Salam

 

Artinya: Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata". (QS. An-Naml:16)

            Diketahui bahwasannya ia dapat berbicara dengan burung dan juga hewan-hewan lainnya. Menghentikan angin yang berhembus semilir, yang sewaktu-waktu dapat berhembus kencang menuju arah mana saja. Dia mampu menundukkan jin dan juga syaitan dibawah kekuasaannya untuk menjadi pembantunya, dan memberinya segala sesuatu yang diinginkannya, hal ini disebabkan karena Allah telah mengabulkan doanya.

Artinya: Ia berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi". (QS. Shaad: 35)

            Sebagai timbal baliknya, dia senantiasa bersyukur, taat dan ikhlas beribadah, menyatakan kebenaran dan keadilan.

Artinya: maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo`a: "Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (QS. An-Naml: 19)

            Kisah nabi Sulaiman dan ratu Balqis, ratu Saba' ini terjadi di negri Yaman, yang bermula dari reka-reka tentara-tentara nabi Sulaiman. Semua tentaranya yang terdiri dari Manusia, Jin, Burung dan juga hewan-hewan lainnya.

Nabi Sulaiman merasa kesepian, ketika dia tidak menemukan burung Hudhud, lalu dia berkata:

            "Aku tidak melihat Hudhud? Apakah dia pergi dari tempatnya karena ada kepentingan, atau karena dia sakit dan tidak nampak? Jika yang terjadi adalah yang pertama, maka aku akan menghukumnya atau aku akan menyembelihnya sebagai hukuman dan balasan baginya, jika yang terjadi adalah karena lainnya, maka aku akan mempertimbangkannya"

            Ternyata Hudhud bertengger tidak jauh dari Sulaiman berdiri, ia pergi tidak lama. Sewaktu Sulaiman datang, maka Hudhud menunjukkan ketaatannya, melayani dan merendahkan diri. Dia berkata:

            "Wahai tuanku, aku mengetahui sesuatu yang tidak engkau ketahui dan tidak engkau kenal. Baru saja aku dari negri Saba'. Aku datang kesana demi engkau dengan penuh keyakinan, mengutarakan kehendakmu. Aku bertemu dengan seorang wanita yang menjadi pemimpin umat, seorang wanit yang memiliki kekuasaan dan kekayaan, dia juga memiliki kerajaan yang besar.

            Yang paling menyedihkan darinya adalah bahwasannya aku mendapatinya dan juga umatnya menyembah matahari dan bersujud kepadanya, mereka tidak menyembah Allah. Hal ini adalah kesesatan rekaan syaitan kepada mereka. Syaitan yang telah menghiasi tindakan mereka dan mencegah mereka dari jalan yang lurus. Ini bagaimana wahai tuanku? Bagaimana mungkin mereka tidak menyembah Allah, Dzat yang telah mengeluarkan sesuatu yang tersembunyi dari langit dan bumi, mengetahui rahasia dan juga cakrawala."

            Nabi Sulaiman mendengarkan dengan seksama cerita Hudhud, karena ia tidak betah menunggu bukti yang dapat dilihatnya, dia berkata kepada Hudhud:

            "Saya akan melihat dulu, apakah engkau berkata benar atau engkau berbohong"

Lalu nabi Sulaiman memberinya surat, supaya diberikan kepada sang ratu juga rakyatnya. Nabi Sulaiman memerintahkan Hudhud supaya memberikannya dengan sembunyi-sembunyi. Hudhud membawanya dan terbang dengan membawa surat tersebut. Lalu dia masuk kedalam kamar sang ratu dan menjatuhkan surat itu diatas tempat tidurnya, lalu dia menunggu untuk memastikan apakah dia akan membalasnya.

Ratu Balqis menemukan sepucuk surat diatas tempat tidurnya, lalu dia mengambilnya. Lantas dia memanggil para pembesar negaranya untuk segera berkumpul, dan mengutarakan permasalahan yang ada untuk dimusyawarahkan. Mereka berkata kepada Balqis:

"Kami, seperti yang sudah dikenal luas adalah orang-orang yang kuat dan tidak gentar untuk menghadapi apapun, dan juga tidak takut menghadapi ancaman. Semua perkara yang ada kami kembalikan kepada perintahmu, kami akan mentaatinya"

Balqis berkata-dia adalah seorang wanita yang cerdas-:

"Ketahuilah, bahwasannya jika para raja menyerang sebuah negara, pastinya dia akan membinasakannya dan memporak-porandakannya, merendahkan martabat manusia-manusianya, dengan kekuatan dan kekuasaannya. Aku berpendapat untuk berdamai saja dengan Sulaiman dan menyambutnya"

Balqis mengirimkan utusan kepada Sulaiman dengan membawa serta banyak hadiah, lalu dia menanti balasan. Mereka semua terpaku kepada Balqis atas pendapatnya. Ketika hadiah-hadiah itu sampai kepada Sulaiman, ia tertawa seraya mengejek, dan berkata:

Artinya: Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: "Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. (QS. An-Naml: 36)

Sulaiman mengembalikan hadiah-hadiah itu beserta yang ada didalamnya, dan mengutus supaya Balqis dan juga rakyatnya berjanji untuk melepaskan diri dari menyembah selain Allah. Jika tidak, maka Sulaiman akan mendatangi mereka dengan membawa serta bala tentaranya yang tidak ada bandingannya, dan tidak ada yang mampu menandingi kekuatannya, untuk segera memaksa mereka dengan keras atau mereka menyerah dan memeluk Islam serta memperlihatkan ketauhidan

Lalu nabi Sulaiman memanggil:

Artinya: Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri". Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS. An-Naml: 38-40)

Dalam sekejap mata, tiba-tiba kerajaan Balqis berada diantara kedua tangan nabi Sulaiman, ketika nabi Sulaiman melihat bahwasannya kerajaan Balqis berada dikedua tangannya, dia tetap memegangnya:

Artinya: Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS. An-Naml: 40)

Nabi Sulaiman berpendapat bahwa hanya dengan ilmu dan iman orang-orang akan dapat menalarnya. Bahwa sesungguhnya hikmah dari hal ini semuanya adalah sebuah pelajaran dan juga pengkabaran! Dia berkata:

“Ini adalah suatu bukti dalam upaya untuk mendekatkan diri dan beriman, khusu' dan yakin kepada Allah.”

Pada waktu itu, Balqis telah pergi meninggalkan Saba' dalam iring-iringan para raja dan juga para pengiring yang saling berdesak-desakan, mulai dari para pembesar, sampai dengan para prajurit, untuk menuntut tindakan Sulaiman yang telah mengembalikan hadiah yang diberikannya kepada Suaiman.

Ia sangat mementingkan keselamatan negaranya dan juga rakyatnya, segera saja ia mendatangi kerajaan Sulaiman di baitul muqaddas yang sangat terkenal kekuasannya, dan ternyata tidak berbeda jauh dengan istananya. Sebelum kedatangan Balqis, Sulaiman berkata kepada sebagian kawan-kawannya

Artinya: Dia berkata: "Robahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal (nya)". (QS. An-Naml: 41)

Mereka merubahnya memberitahukan dan mengetengahkan kepada Sulaiman supaya ia:

Artinya: Dia berkata: "Robahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal (nya)". (QS. An-Naml: 41)

Balqis menghadap kepada Sulaiman, yang memiliki kekuasaan atas kerajaan dan pemerintahan. Setelah Sulaiman mempersilahkan Balqis untuk menempati tempatnya, Sulaiamn menyambutnya dengan pengadatan para raja. Balqis bertanya:

Artinya: Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: "Serupa inikah singgasanamu?" Dia menjawab: "Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri". (QS. An-Naml: 42)

Hal ini semakin menunjukkan kebodohan Balqis dan terlihat betapa jauhnya Balqis dari Allah, walupun dia seorang yang cerdas. Dia sangat yakin bahwa yang dilihatnya ini adalah istananya yang hilang dan itu berada diantara tangan Sulaiman.

Nabi Sulaiman membiarkannya sebentar, setelah Balqis terlihat dipenuhi dengan tidakan-tindakan bodoh, lemah dan rendah sebab kekafiran mereka, lalu Sulaiman menyudahinya.

Nabi Sulaiman bangkit dari tempat duduknya, dan berdiri. Lalu para orang yang datang mengikutinya, bangkit. Iring-iringan itu kemudian menuju balairung istana yang terletak didalam istana, melewati halaman istana.dan dekat dari ruang terbuka

Nabi Sulaiman menggelar karpet disana karena ia memiliki maksud tertentu dan dia berjalan dibelakang. Ketika ratu Balqis akan menginjakkan kakinya dilantai istana, tersingkaplah betisnya. Ia melihat kedatangan iringing-iringan itu dengan terbalik di lantai, seperti ia melihat kepala terbalik dari belakang pandangannya. Dia menyangka bumi bagaikan air yang besar yang jernih dan bening.

Nabi Sulaiman tersenyum dan berkata:

Artinya: Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir. (QS. An-Naml: 43)

Tanahnya berlantaikan kristal bening dan bukan air seperti yang engkau sangkakan. Disini muncul kebodohan Balqis dan kecongkakannya. Kemudian dia menundukkan kepala dihadapan ilmu yang telah diberikan Allah kepada nabi-Nya, Sulaiman. Dan dihadapan kekuatan yang diberikan Allah sebagai sebuah anugrah baginya dari Allah.

Artinya: Dikatakan kepadanya: "Masuklah ke dalam istana". Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: "Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca". Berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam". (QS. An-Naml: 44)

 Nabi sulaiman memperistri ratu Balqis dan mengembalikannya ke Saba'. Nabi Sulaiman mengunjunginya sewaktu-waktu.

Balqis bukanlah istri satu-satunya nabi Sulaiman, dikatakan bahwa nabi Sulaiman memiliki empat ratus istri dan enam ratus selir, hal ini termaktub dalam kitab taurat. Seperti yang ada dalam kitab shahih Bukhari Muslim dari Abu Hurairah:

"Bahwa nabi Sulaiman memiliki empat ratus istri dan enam ratus selir. Pada suatu hari dia berkata: bahwasannya ia menggilir dalam semalam seribu istrinya tersebut dan setiap mereka akan hamil di Iran berperang dijalan Allah-tidak sampai dua kali-dia menggilir istri-istrinya. Tidak seorangpun dari istri-istrinya yang hamil kecuali satu yang datang dengan cinta seorang manusia"

Lalu nabi Muhammad berkata:

"Demi Allah, hidupku berada dalam kekuasaan-Nya jika saja aku memuji diri sendiri. Dia berkata: Insya Allah, maka kelak anak-anaknya akan dilahirkan di Iran, seperti yang ia ucapkan dan mereka berjuang dijalan Allah"

Apakah Balqis melahirkan anak dari Sulaiman? Para ahli kisah dan juga sebagian ahli tafsir menuturkan bahwasannya Balqis melahirkan seorang anak untuk Sulaiman, seperti yang disangkakan bahwasannya raja-raja Habasyah, mereka adalah cucu-cucu Sulaiman dari anak ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ilyashabat[87]

Zakaria adalah pembantu Haikal di baitul Muqaddas, demikian juga dengan 'Amran orang tua Maryam dan orang-orang yang memang secara syari'at nasab mereka sampai kepada Laawi ibnu Yakub dan Laawi adalah salah satu cucu dua belas itu.

Telah disampaikan diawal mengenai usianya, sampai akhirnya ia mencapai usia tujuh puluh tahun[90] akan tetapi dia tidak memiliki keturunan, karena istrinya, Yashabat seorang yang mandul. Dia sangat mengharapkan anak untuk mewarisinya, meneruskan dan melaksanakan amanat syariat, ditengah umat bani israil, yaitu orang-orang yang banyak menyimpang dari aturan yang berlaku dan juga terjerumus dalam kesesatan.

Pada akhirnya, secara kebetulan suatu ketika Hannah, ibu Maryam melahirkan. Hal ini dikarenakan ketaqwaannya, dia bernadzar bahwa bayi yang dikandungnya kelak untuk malayani Haikal.

Artinya: (Ingatlah), ketika isteri `Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Maka tatkala isteri `Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk." Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. ((QS. Al-‘Imrtan: 35-37)

Orang tua Maryam, ‘Amran meninggal dunia, lalu diadakan pengundian dalam keluarganya mengenai siapa yang berhak untuk mengasuh Maryam? Akhirnya terpilihlah paman dari ibu yang kemudian berhak mengasuh maryam, seperti yang diutarakan oleh nabi Muhammad.

“Yashabat adalah saudara Hannah dan Zakaria adalah suaminya, keluarlah undian Zakaria maka Maryam menjadi tanggungan Zakaria:

Artinya: Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (Al-‘Imran: 37)

Zakaria menunaikan kewajibannya, memberikan perlindungan dan melimpahinya dengan kasih sayang, demikian juga dengan istrinya yang juga sekaligus bibi dari Maryam. Dia terlihat sangat merasa kesepian, jika tidak berada disisi Maryam. Pagi dan sore, dia diberikan kebutuhan sehari-hari dan juga makanan, akan tetapi dia tidak ingin memakannya ataupun minum, karena dia melihat disekelilingnya, segala yang melingkupinya senantiasa mencukupinya, mereka datang dengan terlihat menyenangkan, dan ternyata ada orang lain yang datang mendatanginya dengan membawa semua ini:

 

Artinya: Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (Al-‘Imran: 37)

Suatu saat istri Zakaria terbangun disisi Zakaria, mencoba membuang kesediahan tentang anagn-angan memiliki anak dan kecintaannya terhadap keluarganya:

Artinya: Di sanalah Zakaria mendo`a kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do`a". (Al-‘Imran: 38)

Zakaria tenggelam dalam shalat, berdoa dan munajat. Lalu Allah mengabulkan permintaan hambanya, Zakaria:

Artinya: Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh." (Al-‘Imran: 39)

Antara membenarkan dan pengharapan, hati Zakaria dibuat gundah dan berkata:

Artinya: Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isterikupun seorang yang mandul?" Berfirman Allah: "Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya". (QS. Al-Imran: 40)

 

Artinya: Kaaf Haa Yaa `Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku.Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya`qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai". Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua". Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali". (QS. Maryam: 1-9)

Zakaria meminta Allah untuk memberikan bukti dari-Nya dan juga pertanda dari pengabulan doanya, lalu Allah mengabulkannya:

Artinya: Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat". (QS. Maryam: 10)

Maksudnya adalah tanda pengabulan doanya adalah bahwa engkau harus diam dan jangan berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan isyarat dan engkau dalam posisi itu seperti halnya mereka, memiliki postur tubuh yang ideal. Seketika itu juga Zakaria keluar dari tempat shalatnya dan  terlihat gembira. Allah telah memberikan keridlaan-Nya dan mewahyukan kepada umatnya, supaya mereka senantiasa bertasbih kepada-Nya:

Artinya: Maka Kami memperkenankan do`anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo`a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami. (QS. Al-Anbiya: 90)

Sempurnalah perkara Allah

 

ISTRI-ISTRI NABI MUHAMMAD Saw.

 

  1. Khatijah binti Khuwailid
  2. Saudah binti Zam’ah
  3. ‘Aisyah binti Abu Bakar
  4. Hafsah binti ‘Umar
  5. Zainab binti Khuzaimah (Ibu orang-orang miskin)
  6. Hindun binti Abi Umayyah (Umu Salamah)
  7. Zainab binti Jahsyi (al-Asdiyah)
  8. Juwairiyah binti al-Haris (al-Musthaliqiyah)
  9. Shafiyah binti Hubay (bin Akhtab)
  10. Ramlah binti Abi Sufyan (Umu HAbibah)
  11. Mariyah al-Qibtiyah
  12. Maimunah binti al-Harits (al-Hilaliyah)
  13. Rihanah binti Syam’un

Radhiyallahu ‘Anhunna

 

 



 

 

 

 

 

 

Kata pembuka wajib dari kisah ini

           

            Sebelum kita berbicara lebih jauh mengenai istri-istri Rasulullah Saw. dan juga sebelum kita bergerak untuk membicarakan tugas-tugas mereka, menemani suaminya, mengenai diri mereka masing-masing, terlebih dulu kita harus memperjelas keserupaan yang menyelinap dalam kelalaian kita, sebagai upaya dalam menjaga hati dan juga pikiran orang-orang, serta mengembalikannya seperti semula, memahamkan kembali bahwa nabi Muhammad Saw. juga memiliki syahwat kepada istri-istrinya.

Ini adalah perasaan prasangka orang-orang timur yang mereka-reka, yang ditujukan kepada nabi Muhammad, walaupun ternyata mereka terlihat setengah hati dalam mengatakannya.

Hal ini jika mereka kembalikan pada taurat yang mereka pegangi, untuk menjelaskan kepada diri mereka sendiri, maka seperti yang  pernah dikatakan dalam taurat tersebut (sewaktu-waktu mereka dapat tergelincir), lalu bagaimana dengan jumlah istri nabi Muhammad bila dibandingkan nabi-nabi dan juga utusan seselumnya? Nabi Dawud dan Sulaiman, misalnya.

            Jelas suatu kedurhakaan kepada Allah jika kita membantah hal itu, hal itu tidak boleh kita lakukan selamanya. Saya tidak mampu untuk melakukannya, akan tetapi saya hanya bisa menolak sesuatu yang menyimpang dan menghukumi sesuatu yang diucapkan.

Saya menyandarkan rekaan-rekaan mereka pada hal itu (kisah dalam taurat), pada nabi-nabi mereka dengan agamanya masing-masing yang tentunya selamanya tidak akan pernah sama, yang disertai dengan kesucian amanat dan tuntutan kenabian juga kerasulan, seperti rekayasa ataupun penghianatan, dan lain sebagainya.

Dr. Binti Syathii[91] berkata:

“Orang-orang timur tidak melihat secara jeli dalam permasalahan pengumpulan banyak istri ini, bagi seorang suami, kecuali hanya pada sisi luarnya saja dari inti pembahasan, yang terlihat kelewat batas. Ini adalah sebuah kesesatan yang didiktekan oleh orang-orang yang fanatik yang ceroboh dan rendahan, yang telah menyesatkan dan melenceng dari jalur ilmiah, yaitu orang yang melarang untuk mengqiaskan permasalahan beristri banyak dengan pengqiyasan pada zaman modern, yang merugikan perempuan, keluarga dan juga masyarakat, dari sisi pengandaian keadilan.”

            Sesuatu yang terlihat asing ini tidak berlaku untuk saat ini, pada pemahaman bahwasannya hukum beristri satu adalah bersumber dari kecermatan, yang berdasarkan Al-Qur’an dan kebutuhan jiwa. Dari sini, kemudian muncul adanya pengingkaran yang dilakukan oleh sebagian putra nabi dalam menjalani beristri banyak dalam suatu keadaan, diamana beristri banyak adalah hukum raja, yang tidak diketahui oleh selain dia kecuali dalam masa-masa yang sebentar dan periode tertentu. Hukum ini bukanlah sebuah pilihan, akan tetapi berdasarkan masa dan geografis, dalam tindakan mengumpulkan banyak istri yang dilakukan oleh para nabi ini, menjadikannya sebagi perhiasan kehidupan dunia.

            Sekarang sudah jelas bagi saya, bahwa beristri banyak adalah sebuah upaya yang dilakukan untuk menjauhkan wanita-wanita Arab dari perbudakan dan juga dakwaan. Hal ini juga dimaksudkan untuk meminta keridlaan seorang laki-laki, akan tetapi ternyata para lelaki (dalam permasalahan hak) lebih banyak dibebani hak yang terasa sangat membebani, dan membebaskan para wanita Arab dari hukum yang telah tersebar dari beristri banyak.

            Ini adalah bagian dari sebuah masa yang diketahui diperbolehkan untuk beristri satu yang tertuang dalam syariat dan diperbolehkan bagi laki-laki untuk menarik yang lainnya, yaitu orang-orang yang mengumpuli para wanita yang sudah beristri dalam keadaan haram-sia-sia, hina dan merupakan aib-dan menjadi sumber beban seseorang, yang tidak terputus, berupa adanya anak jadah, anak-anak yang dibuang ibunya dijalan dan menjadi barang temuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khatijah binti Khuwailid

 

“Saya tidak menyebutkan kekurangan dari beberapa kekurangan orang Quraisyi, berupa lebar sudut mulutnya yang kelak akan binasa dihari tua, semoga Allah menggantinya dengan kebaikan kepadamu darinya!!”

Rasullah Saw. Menjawabnya dengan marah:

“Demi Allah, Allah tidak memberikan ganti kepadaku yang lebih baik darinya. Dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku, dia membenarkanku ketika orang-orang tidak mempercayaiku, memberikan bantuan kepadaku dengan hartanya, ketika orang-orang mencegahku. Dan Allah memerikan rizki kepadaku darinya seorang putra, tidak dari lainnya dari istri-istriku”[92]

            Dia adalah Khatijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdil ‘Uza bin Qushay al-Asdiyah al-Quraisyiyah, nasabnya bersambung dengan Rasulullah Saw. Pada kakek keduanya, Qushay.[93]

            Sebelum menikah dengan nabi, Khatijah pernah menikah dengan dua orang yang keduanya merupakan penguasa dan pemuka masyarakat Arab, mereka adalah: ‘Atiq bin ‘Aid bin ‘Abdillah al-Makhzumi dan Hindun ibnu Zararah at-Tamimi-Abi Halah.[94] Keduanya meninggal dan keduanya meninggalkan warisan yang sangat banyak kepada Khatijah dan juga uang yang berlimpah.

            Khatijah menjalankan hartanya itu untuk dirinya sendiri. Dia menggaji para pemuda dan menyertakannya dalam rombongan yang membawa dagangan dimusim penghujan ataupun musim kemarau. Dia seorang wanita yang cerdas, berakhlak mulia, sehingga terkenal di Makkah dengan sebutan yang suci, orang-orang menghormatinya dan memuliakan kedudukannya.

            Ketika Rasulullah Saw. Mencapai usia dua puluh lima tahun, dia masih bekerja kepada para pemuka Quraisyi menjadi penggembala kambing-kambing mereka untuk mendapatkan beberapa Qirat (1Qirat sama dengan 4/6 dinar), akan tetapi dia juga sering melakukan perjalanan bersama pamannya Abi Thalib menuju Syam, sehingga ia memahami prinsip dasar dari berdagang, yaitu adanya penjual dan pembeli. Setiap hari dia tinggal dirumah pamannya, Abi Thalib.

            Suatu hari pamannya berkata kepadanya:

“Wahai putra saudaraku, aku adalah orang yang tidak mempunyai uang, kesusahan menderaku, dan aku merasakan kegetiran bertahun-tahun. Aku tidak memiliki uang dan barang dagangan. Ini bukanlah pekerjaan yang biasa dilakukan orang-orangmu, akan keluar menuju Syam. Khatijah mengutus banyak laki-laki untuk menjalankan hartanya dan memberi mereka upah, jika engkau mendatanginya, maka aku sangat mendukungmu atas kemauanmu, ketika ia memberimu upah karena sifat amanahmu dan kesucianmu, jika engkau membenci untuk mendatangi Syam dan engkau takut kepada orang-orang Yahudi, maka aku pernah mendengar kabar bahwasannya dia juga pernah membeli seseorang dengan dua ekor onta.[95] Aku tidak rela kepadamu seharga sesuatu apapun yang pernah dia berikan, apakah engkau mau mengatakan kepadanya?”

 Rasulullah Saw. Menerimanya dan Khatijah menjanjikan kepada Muhammad, akan memberinya upah yang berlipat-lipat dari pada yang diberikan kepada orang lain. Muhammad menyanggupinya dan turut serta dalam rombongan dagang, yang tentunya bertujuan untuk mendapatkan laba dan Muhammad mendapatkan laba yang sangat besar.

Ketika dia pulang ke Makkah, maka pengiringnya, Maisarah sangat  terheran-heran akan peristiwa-peristiwa yang dilihatnya dari nabi Muhammad, dalam kelihaiannya dalam berdagang, dapat dipercaya dan juga amanah. Dia menceritakannya kepada majikannya. Hal ini membekas dalam hatinya yang menyebabkan dia mencintai Muhammad dan kagum kepadanya, akan tetapi Khatijah tidak mengutarakannya kepada siapapun, termasuk kepada kerabatnya, kawan-kawan ataupun para sahabatnya.

Nafisah binti Maniyah adalah salah seorang kerabat yang paling akrab dengannya. Dia melihat kebingungan Khatiah yang terpancar dari kedua matanya, maka dia terus saja merayu Khatijah, sampai akhirnya Khatijah mengutarakan semuanya kepada Nafisah, dia menuturkan kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri Muhammad. Nafisah menanggapi permasalahan yang menimpa diri Khatijah ini. Dan dia berjanji kepada Khatijah untuk menyampaikannya kepada Muhamad. Dari sinilah lantas ia pergi mendatangi Muhammad dan berkata kepadanya:

“Apa yang menyebabkan kamu tidak segera menikah dan apakah engkau akan merendahkan diri kepada sosok istri yang menguasaimu, ramah sopan dan juga lemah lembut dalam pergaulannya?”

Nabi Muhammad tidak dapat memutuskan, karena dia tidak memiliki kuasa dan berkata:

“Aku tidak dapat memutuskan perkara ini sendiri”

Nafisah berkata kepada Muhamamd:

“Jika engkau menginginkan Onta, uang, kemuliaan dan hidup berkecukupan apakah engkau tidak mengiayakan?”

Maka bergegaslah. Kahtijah, langsung saja menerima dengan tanpa ragu.

Lalu paman-pamannya Muhammad (Abu Thalib, Abbas dan Hamzah) menuju ke rumah Khatijah untuk melamar, disamping Khatijah juga ada pamannya, (Umar bin Asad bin ‘Abdil ‘Uza bin Qushay). Lalu berkatalah Abu Thalib, sesepuh bani Hasyim:

“Sesungguhnya Muhammad adalah seorang pemuda Quraisyi yang tidak berhiaskan kecuali keunggulan yang ada padanya berupa kehormatan, kemuliaan dan juga kecerdasan. Dia tidak memiliki banyak harta, karena sesungguhnya harta adalah laksana bayang-bayang yang akan hilang, pinjaman yang akan diminta kembali. Dan Khatijah binti Khuwailid mencintainya, demikian juga Muhammad mencintai Khatijah”

Paman Khatijah, ‘Umar bin Asad memuji Muhammad sebelum Muhammad melamar dan sesudah Muhammad menikahi Khatijah. Dia menikahkan Khatijah dengan Muhammad. Maharnya berupa dua belas auqiyah[96] atau setara dengan dua puluh anak onta[97]  Usia Khatijah pada saat itu empat puluh tahun, sedangkan usia nabi Muhammad adalah dua puluh lima tahun. Perbedaan usia ini tidak menjadi masalah bagi Muhammad. Dalam hal ini saya berkomentar:

“Memadukan akal yang unggul dengan akal yang unggul dan mahluk kepada mahluk”

Khatijah menjadi istri Muhammad, sebagai sosok istri yang shalihah dan ibu yang penuh kasih sayang. Nabi Muhammad membalasnya dengan memuliakan dan menghormati Khatijah dan mencurahkan budi pekertinya yang agung kepada Khatijah.

 Setelah berselang beberapa tahun, Khatijah hamil. Rasululullah diberikan dua orang putra dari Khatijah, keduanya adalah: Qasim dan ‘Abdullah. Akan tetapi keduanya tidak hidup lama, keduanya meninggal dibulan-bulan pertama mereka lahir.[98] Lalu Khatijah memberikan empat anak perempuan, yaitu: Zainab, Ruqayyah, Umi Kulsum dan Fatimah Az-Zahra. Adapun kelahiran Fatimah terjadi lima tahun sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi.

Pada usia empat puluh tahun, nabi Muhammad Saw. Senang menyepi, dia senang menyepi digoa Hira untuk mententramkan hatinya dan juga menjauh dari manusia, akan tetapi bukan karena Muhammad mendiamkan mereka dan menjauhkan diri dari mereka, akan tetapi Muhammad menjauh dari kejahiliyahan mereka, dari menyembah patung dan upaya diri untuk lari dari penganiayaan mereka, serta jalan sesat yang mereka tempuh.

Khatijah tidak mencegah ataupun melarang, akan tetapi ia malah menyemangati Muhammad dalam tindakannya, mendukungnya dan memberinya bekal makanan atau mengiriminya makanan jika Muhammad pergi lama, sampai berhari-hari dan malam. Juga seringkali Khatijah mengirimkan utusan untuk mengetahui keadaan Muhammad.

Pangkat kenabian terjadi pada salah satu keluarga Ismail, tarjadi berulang-ulang ditanah Arab, dalam tempat dan periode yang berbeda-beda. Sampai-sampai para nabi melihat bahwasannya tembok Ismail memang berupa pangkat kenabian, lalu mereka tinggal disana dengan taman-taman mereka yang indah, mengandaikan adanya kemenangan, seperti yang diketahui, bahwa mereka adalah orang-orang yang bijak. Yaitu orang-orang yang condong dari sesuatu yang menimpa umatnya berupa kejelekan akidah dan jalan yang sesat. Akan tetapi:

 

Artinya: Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah". Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya. (QS. Al-An’am: 124)

            Sampai akhirnya terjadilah peristiwa lailatul qadar yang menggetarkan dan mengguncangkan seluruh alam, sampai-sampai hati Rasulullah bergetar karenanya, bukankah hatimu telah dijaga dan dikawal oleh malaikat, mereka turun atas perintah Allah dari langit kebumi. Mereka sangat mulia berkat pancaran cahaya Tuhannya, Jibril memimpin mereka untuk berkata kepada Rasulullah: menyampaikan kepada Muhammad risalah Allah dan juga kenabian. Benarlah orang yang berkata

            “Malam itu adalah malam dimana Muhammad diberikan sebaik-baiknya rahmat ta’dzim dan juga salam”

            Dr. Binti Syatii berkata:

            “Wahyu tidak turun pada lailatul Qadar, wahyu turun digoa Hira, sampai akhirnya gelap diakhir malam menyapanya. Dia terlihat ketakutan dan pucat, sendi-sendinya mengigil. Ketika ia sampai dirumah, istrinya merasa bahwasannya ia telah diberikan sebuah amanat, lalu Muhammad mengatakannya kepadanya istrinya dengan suara yang gemetar, dan menggigil disisinya karena sangat ketakutan”

            Jika aku mengehendaki untuk menolak pendapat ini, maka terlebih dulu aku akan menambahkan apa yang dikatakan oleh Dr. Binti Syatii, pada kejadian ketika Muhammad pulang kepada istrinya dari goa Hira ke Makkah. Menurut saya, buku-buku sejarah, para ahli sejarah dan juga ulama tafsir serta yang lainnya terlalu melebih-lebihkan dalam pengisahanya.

Yang terpenting menurut saya adalah perkataan Dr. Syatii, bahwasannya Khatijah dengan perangai yang dimilikinya, berupa kelembutan sifat dan kecerdasannya telah memberikan andil yang cukup besar dari kejadian lailatul qadar. Ketika Muhammad mendatanginya, dan mengatakan kepadanya mengenai sesuatu yang barui saja terjadi dirinya, Khatijah mendapatkan keberkahan dari malam lailatul qadar itu dan memuliakannya.

“Allah telah menjaga kita, wahai ayah Qasim, berbahagialah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu, Demi Dzat yang memiliki Diri Khatijah, sesungguhnya aku sangat mengharapkan nabi umat ini, demi Allah tidak akan menghinakan kepadamu selamanya. Sesungguhnya engkau orang yang senang menjalin persaudaraan, senantiasa berkata benar, penanggung kesusahan, senantiasa menghormati tamu dan juga menolong untuk menggati hak orang lain”[99]

Telah diberikan hidayah kepadanya dari rasa takut dan telah mengukuhkannya (menjadi nabi)

            Lalu Khatijah pergi kerumah anak pamannya Waraqah bin Naufal, dia adalah pemuka orang Jahiliyah, yang telah telihat bosan untuk menyembah patung dan gemar membaca kitab ahlil kitab. Lalu Khatijah meminta tolong kepadanya, dia mengabarkan kepada putra pamanya itu, dari masalah yang sedang dihadapi Muhammad, lantas Waraqah mencermati dengan seksama dan berkata:

            “Quddus…Quddus…, demi Tuhan yang mana jiwa Waraqah berada dalam kekuasan-Nya. Sesunguhnya aku membenarkanmu wahai Khatijah. Malaikat Jibril telah datang, dia yang telah mendatangi Musa dan Isa. Dia adalah nabi umat ini, sampaikan ucapanku ini kepadanya dan teguhkan hatinya”[100]

            Khatijah kembali kerumah, dan mendapati Muhammad sudah tertidur. Ketika Muhammad bangun, Khatijah mengabarkan kepadanya perkataan Waraqah, lalu Muhammad melihat tempat tidurnya dan berkata:

               “Wahai Khatijah, waktu untuk tidur dan istirahat telah habis, Jibril telah memerintahkan aku untuk memberikan peringatan kepada manusia, dan mengajak mereka kepada Allah dan menyembah-Nya, siapa yang akan aku ajak? Dan siapa yang akan menerimanya?”

            Khatijah adalah orang pertama yang masuk Islam dan beriman. Dia meminta Muhammad untuk mengunjungi Waraqah. Pada saat itu Waraqah adalah seorang yang sudah tua dan pikun, yang terlihat sudah dekat dengan kematian. Dia membenarkan adanya berita gembira ini:

            “Demi Dzat yang menguasai dirku, engkau adalah nabi umat ini. Engkau akan mengalami penghianatan, penyiksaan, pengucilan dan peperangan. Akan tetapi pada saat itu, Allah memberikan pertolongan yang kelak akan diberitahukan kepadamu”

Lantas dia mencium kepala Rasulullah. Lalu nabi berkata kepadanya:

            “Atau orang yang dikeluarka oleh mereka?”

            Dia menjawab:

            “Benar, Tidak ada sama sekali seorang pemuda yang akan datang menyerupai kedatanganmu, kecuali aku bisa kembali seperti dulu, andai saja pada saat itu aku menjadi sosok pemuda, andai saja aku masih hidup”[101]

            Setelah berlalu beberapa tahun, istrinya menjadi sangat mencintai dan mengasihi nabi Muhammad Saw. Senantiasa menolongnya dan memberikan bantuan, mengukuhkan hatinya, menolongnya dalam menanggungkan kekerasan, siksaan dan cobaan pedih yang mendera, membelanjakan hartanya dijalan Allah, dia hanya mengharapkan ridla Allah.

            Setelah wahyu turun beberapa kali, tiba-tiba wahyu terhenti dari Muhammad. Nabi mengabarkan hal ini kepada Khatijah, bahwasannya Jibril menitipkan salam untuk Khatijah dari Allah. Dan Khatijah menjawab:

            “Minhu As-Salam wailaihi ya’udu As-Salam”

            Usia Khatijah menginjak enampuluh lima, dia telah mecapai sepertiga akhir dari suatu masa, masa dimana mewajibkan orang-orang Quraisyi memeluk Islam dan bani Hasyim, juga bani Muthalib dalam kelompok Abi Thalib. Tahun-tahun dimana harus menahan diri dari merasakan pedihnya berbagai macam cobaan, dia bersabar dan menanggungkan semuanya, akan tetapi akhirnya dia meninggal karena sakit.

            Abi Thalib meninggal lebih dulu dari Khatijah, pemuka bani Hasyim dan juga paman nabi. Setelah tiga hari, Khatijah menghadap Tuhannya. Rasulullah berdiri tepat di samping kepalanya, membelainya dan mencoba untuk melepaskan Khatijah. Kedua matanya bercucuran air mata kesedihan atas perpisahannya dengan Khatijah, dia tidak dapat berkata-kata, selain mengungkapkan kepada khatijah apa yang pernah dikatakan Jibril kepadanya:

      “Sesungguhnya Allah Menghiburmu dengan rumah di sorga yang terbuat dari mutiara, yang disana tidak ada kesusahan dan juga sakit”[102]

            Perpisahan dunia kerena sakit, seperti halnya pisahnya gigi. Dia dimakamkan di tempat ia tinggal, meninggalnya bertepatan tiga tahun sebelum hijrah, pada awal-awl bulan ramadlan di tahun itu. Yang kemudian dinamakan tahun kesusahan, semoga Allah meridlai kepergiannya, memuliakan tempatnya dalam sorga beserta putra-putranya, orang-orang yang membenarkan, para syuhada dan juga orang-orang yang shaleh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SAUDAH BINTI ZAM’AH RADLIYALLAHU ‘ANHA

 

Dia adalah Saudah binti Zam’ah binti Qais bin ‘Abdi Syams al-Quraisyiyah al-‘Amariyah. Ibunya adalah Asy-Syamus binti Qais bin Zaid al-Anshariyah dari bani ‘Adiy ibnu An-Najjar, yang merupakan beberapa paman Rasulullah. Dia memeluk Islam diawal-awal kelahiran Islam, lantas ia berhijrah dengan suaminya, As-Sakran bin ‘Umar bin ‘Abdi Syams, putra pamannya menuju Habasyah beserta dengan rombongan hijrah orang-orang Islam lainnya dengan idzin Rasulullah, ketika kesulitan mendera mereka berupa perlakuan buruk yang mendera mereka dibumi mereka sendiri, yang menyebabkan mereka tidak merasa nyaman, mereka disiksa dan difitnah.

Hijrah dan pergi menjauh dari masyarakatnya dan juga tanah kelahirannya adalah ujian pertama baginya. Kemudian ia tinggal tidak menetap dan selalu berpindah-pindah karena suaminya telah meninggal, dan ini adalah ujian kedua baginya, semua itu terjadi dalam perjuangannya dijalan Allah. Ketika dikabarkan kepada orang-orang muharijin (orang-orang Islam yang berhijrah) bahwasannya ‘Umar bin Khatab telah masuk Islam, sebagian dari mereka kembali ke Makkah dengan mantap, sebagian dari mereka juga ada yang enggan untuk kembali dan Saudah kembali bersama orang-orang yang kembali ke Makkah.

Dia kembali kerumah orang tuanya, Zam’ah yang sudah tua. Dia sudah payah untuk berjalan. Dia tinggal dengan orang tuanya untuk merawatnya, dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.

Setelah kematian Khatijah, rumah Rasulullah terasa sepi dari sosok wanita yang merawatnya. Rasulullah terlihat tampak kesepian ditempat ia beristirahat dan hatinya terlihat menjerit merasakan kesunyian hidup. Para shahabat melihat hal ini, dan mereka merasa sangat kasihan dan akan membantunya, jika saja Rasulullah ingin menikah lagi. Akan tetapi tidak satupun diantara mereka yang berani mengemukakan hal ini kepada Rasulullah.

Sampai akhirnya suatu ketika datanglah Khaulah binti Hakim.[103] Dia berkata:

“Wahai Rasulullah, sepertinya saya melihat anda senang menyendiri setelah Khatijah meninggal”

Rasulullah menajwab:

“Benar, dia adalah ibu bagi keluarga dan yang mengurusi rumah”

Kahulah diam sejenak dan berkata:

“Mengapa engkau tidak menikah lagi saja?”

Rasulullah menjawab:

“Siapa lagi orangnya, setelah Khatijah?”

Kembali Khaulah terdiam sebentar, lalu dia berkata:

“Engkau menginginkan gadis atau janda?”

Rasulullah menjawab:

“Jika gadis siapa orangnya dan jika janda siapa orangnya?”

Khaulah menajwab:

“Jika gadis, maka dia adalah putri seseorang yang sangat mengasihi anda, ‘Aisyah binti Abu Bakar dan jika janda maka dia adalah Saudah binti Zam’ah”

Lantas Rasulullah berfikir sejenak, lalu dia berkata:

“Adapun ‘Aisyah, dia itu masih kecil”[104]

Khaulah berkata:

“Engkau melamarnya sekarang dan menunggunya sampai ia terlihat dewasa, untuk tumbuh menjadi dewasa membutuhkan beberapa tahun, lalu siapa yang akan menjaga urusan keluarga?”

Rasulullah berkata:

“Aku telah mengetahui jati diri Saudah: Hijrahnya dan juga sepak terjangnya, keimananya dan juga kebaikannya. Engkau lamarkan kedua wanita tersebut untukku”

Sempurnalah lamaran nabi kepada ‘Aisyah dan pernikahannya dengan Saudah, dia masuk kedalam rumah nabi, menjadi ibu kedua bagi orang-orang yang beriman.

Khaulah mendatangi Saudah, dan berkata kepadanya:

“Allah memberimu kebaikan dan keberkahan apa wahai Saudah?

Saudah menjawab:

“Kebaikan dan keberkahan apa, wahai Khaulah?”

Khaulah berkata:

“Rasulullah telah mengutusku untuk melamarkanmu untuknya”

Saudah terkejut dan terheran-heran mendengar ucapan itu, lalu dia berkata dalam suasana kegembiraan:

“Aku merasa senang, aku akan menemui bapakku dulu dan mengutarakan hal ini kepadanya”

Lalu Khaulah masuk kedalam rumah untuk menemui bapak Saudah, dia adalah orang yang sudah tua, yang tidak memungkinkan untuk berhaji[105], lalu Khaulah menghiburnya dan berkata:

“Sesungguhnya Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Muthalib mengutusku untuk melamarkan Saudah kepadamu”

Dia berkata:

“Anugrah yang agung, lalu apa tanggapan Saudah?”

Khaulah berkata:

“Da sangat mencintai hal ini”

Lalu bapak Saudah memanggilnya dan mendengarkan langsung tanggapan Saudah akan hal ini. Lalu dia meminta Khaulah untuk memanggil Muhamad menemuinya, demikianlah maka sempurnalah lamaran dan pernikahan nabi dengan  Saudah. 

Saudah tidak termasuk dalam kategori wanita yang menggairahkan, karena dia bukanlah seorang yang cantik, dan dia telah tua. Akan tetapi dia bukanlah orang yang diragukan untuk dapat memberikan kasih sayang kepada putri-putri nabi dari ibu mereka, Khatijah. Apakah hanya sampai disini? Ternyata Rasulullah mengharapkan kabar yang mendebarkan dari wanita ini, sosok wanita yang masuk Islam pada permulaan Islam lahir dan menaggungnya, dia berhijrah dan mendapat siksaan, terlunta-lunta dan khilangan suaminya.

Benarlah Allah yang berfirman:

Artinya: Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min. (QS. At-Taubah: 128)

Maka masuklah Saudah binti Zam’ah kedalam rumah Rasulullah dan dia memahami kedudukan dan posisinya pada masa-masa permulaan, lantas dia mengetahui bahwa sesungguhnya dia telah dinikahi oleh Muhammad Rasulullah dan bukan Muhammad sebagai seorang laki-laki, yang hatinya selalu terpancang kepada Allah, berdakwah dan juga menyampaikan risalah.

Dan sesungguhnya kehendak Muhammad dan perasaan Muhammad bukanlah milik Muhammad sendiri akan tetapi ditujukan kepada umat Islam seluruhnya, dan sesungguhnya alasan mengapa Muhammad selalu berkata mengenai Khatijah adalah karena dialah, orang yang tidak henti-hentinya menjaga dirinya dalam Syariat. Saudah berpendapat demikian berdasarkan kebijaksanaannya yang muncul karena pengaruh usia dan juga cobaan ynag menderanya, dia merelakan hal ini dan menerimanya.

Hal ini tidak nampak dalam sela-sela jawabannya kepada Rasulullah pada saat Rasulullah  ingin menceraikannya:

“Demi Allah, saya tidak dapat memberikan penjagaan kepada istri-istri saya, akan tetapi saya sangat senang jika Allah mengutusku untuk menjadi suamimu dihari kiamat”

Pada saat itu dia adalah seorang yang gemuk, berat badannya.

‘Aisyah mengisahkan kepada saya, dia berkata:

“Saudah meminta izin kepada Rasulullah pada suatu malam di Muzdalifah, untuk menceraikannya sebelum berpisah dengan orang-orang, dia pada saat itu tidak nampak seperti orang yang frustasi, dia adalah wanita yang tegar[106] lalu nabi memberikan izin kepadanya”

‘Aisyah seringkali bersenda gurau dengan Saudah, menghiburnya dengan kisah ketika Rasulullah tertawa tatkala melihat kecerobohannya, dan menghiburnya untuk memperingan beban jiwanya dan menjadikannya ibarat bagi dirinya. Seperti yang pernah dikatakannya kepada Rasulullah sekali waktu:

“Aku bertopang dibelakangmu wahai Rasulullah, lalu aku menunduk sehingga aku harus menyumpal hidungku karena kuatir akan meneteskan darah, lalu Rasulullah tersenyum kepadaku”

Dia adalah sosok wanita yang baik, dia mengatakan dengan lisannya segala sesuatu yang bergemuruh dalam dadanya, dengan tanpa rasa canggung. Dikisahkan oleh Ibnu Ishaq al-Mathlabi, bahwasannya Saudah melihat Suhail bin ‘Umar[107] yang memiliki nama lain Abi Yazid, ketika dia datang dengan berjalan tergesa-gesa, berada dipelataran rumahnya, dia melipatkan kedua tangannya keleher, lalu Saudah berkata:

“Apakah engkau Aba Yazid, aku telah memberimu kekuasaan, apakah engkau tidak mati secara mulia?”

Rasulullah mendengar Saudah dan berkata:

“Wahai Saudah, apakah kepada Allah dan Rasul-Nya mereka menganjurkan”

Saudah berkata dengan rasa takut:

“Wahai rasululah demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak dapat menguasai diriku ketika melihat Aba Yazid melipatkan kedua tangannya keleher, untuk mengatakan apa yang engkau katakan.”

Ini adalah kebaikan dari dirinya yang bukan merupakan sebuah kebetulan  akan tetapi sudah menjadi tabiat. Dia senantiasa memperhatikan gerak-gerik Rasulullah, karena dia merasa cemburu pada masa-masa awal ‘Aisyah masuk kerumah Rasulullah, maka cinta Rasulullah terlihat hanya kepada ‘Aisyah. Hal ini membekas dalam diri Saudah dan meminta Rasulullah memilih diantara ‘Aisyah atau dirinya dan bukan untuk mencelakakan Rasulullah.

Dia mencoba untuk memahami dan memberikan perhatian dengan tetap mengawasi pada waktu-waktu santai dan kedekatannya dengannya, yang memaksanya berhadapan dengan adanya bahaya setelah hal ini. Dia mendapatkan bagian yang berbeda dari Rasulullah dari pada istri-istri Rasul yang lain, dari menginap dan nafaqah.

Rasululalh berkeinginan untuk memaafkannya atas sakit hatinya dan kasih sayangnya, lalu menceraikannya, lalu dia menempel pada Rasulullah dan berkata:

“Tahanlah aku….Demi Allah, saya tidak dapat memberikan penjagaan kepada istri-istri saya, akan tetapi saya sangat senang jika Allah mengutusku untuk menjadi suamimu dihari kiamat”

Lalu dia bersandar kepada Rasulullah:

“Pertahankan aku wahai Rasulullah, aku akan menyerahkan giliranku kepada ‘Aisyah sesungguhnya aku tidak menghendaki apa yang dikehendaki oleh para  wanita”[108]

Rasulullah tidak dapat menolak permintaanya. Rasulullah senantiasa bersikap lembut kepada ‘Aisyah dan Saudah, sampai dengan dia berusia seratus tahun. Dia meninggal di akhir masa kekhalifahan Umar bin Khatab. Semoga Allah meridlai Saudah binti Zam’ah dan memuliakan kuburnya.

 

 

‘Aisyah binti Abi Bakar

 

“Janganlah engkau menyakitiku karena ‘Aisyah, karena sesungguhnya demi Allah, tidak pernah wahtu turun, dan aku dalam selimut seorang wanita dari istri-istriku selainnya”[109]

            Ketika Rasulullah melamar ‘Aisyah, ia masih berusia tujuh tahun di Makkah. Dikatakan bahwasannya Rasulullah melihat diri ‘Aisayh dalam potongan kain tenun[110] dari sutra. . dikatakan pula bahwasannya ‘Aisyah adalah istri Rasulullah didunia dan akhirat.

            Usianya yang masih kecil memaksanya untuk senang bermain-main dan bersuka ria, akan tetapi dia adalah sosok wanita yang cerdas, bahkan sangat cerdas. Dia pernah dilamar Jubair bin Mut’im bin ’Adiy. Sewaktu Rasulullah melamarnya,  Abu Bakar menginginkan untuk tidak memberikan jawaban sampai dengan Jubair kembali (menarik lamarannya kepada ‘Aisyah). Ketika Abu Bakar merasa yakin bahwasannya Jubair dapat menahan dirinya dari menginginkan ‘Aisyah sebab Islam, maka Abu Bakar menerima lamaran Rasulullah dan dia sangat bergembira.

Sempurnalah pinangan Rasulullah dan dia memberikan mahar kepada ‘Aisyah sebanyak limaratus dirham. Rasulullah berkata kepada ibu ‘Aisyah, Ummu Rauman :

“Wahai Ummu Rauman, aku berpesan kepadamu untuk menjaga ‘Aisyah baik-baik untukku”

Ummu Rauman adalah seorang sahabat besar wanita (memang ada istilah sahabat besar dan sahabat kecil, yaitu orang-orang yang pertama masuk Islam dan dekat dengan nabi = sahabat besar) dari golongan orang-orang yang pertama masuk Islam. Dia meninggal di Madinah ketika Rasulullah masih hidup, Rasullah berziarah kemakamnya dan memintakan ampunan untuknya, dan berkata:

“Dari rahasia Allah, untuk dapat melihat wanita dari keindahan kedua matanya, maka lihatlah kepada Ummu Rauman” [111]

Setelah Hijrah, kedudukan Rasulullah semakin kokoh di Madinah, dia mengutus  Zaid bin Haritsah ke Makkah untuk menemani putri-putri Rasul, dia juga membawa surat Abu Bakar untuk putranya, ‘Abdullah memintanya untuk menemui dan menemani istrinya, Ummu Rauman dan juga menjaga Asma’ serta ‘Aisyah. Zaid ditemani oleh Abu Rafi’, lalu mereka berangkat bersama.

Dalam beberapa bulan Rasulullah disibukkan dengan berdakwah. Rasulullah membuat undang-undang di Madinah dan mengikat perjanjian dengan orang Yahudi dan menjalinkan persaudaraan dengan orang-orang Anshar dan Muahjirin dan membangun masjid Nabawi yang mulia, serta membangun kamar-kamar bagi keluarganya disekitar masjid.

Ummu Rauman mengingatkan Abu Bakar mengenai pinangan ‘Aisyah telah lewat dari tiga tahun. Lalu Abu Bakar berkata kepada Rasulullah:

“Apakah engkau tidak menginginkan untuk berkumpul dengan keluargamu, wahai Rasulullah”

Waktu itu Rasulullah telah menjadi suami ‘Asiyah.

            'Aisyah, ibu bagi orang-orang mukmin, mengisahkan kepada saya mengenai hari pernikahannya, dia berkata:

            "Rasulullah datang kerumahku, lalu para lelaki dan juga wanita dari golongan Anshar berkumpul menghadapnya. Lantas ibuku menemuiku dan pada waktu itu aku masih berada diayunan yang berada diantara dahan pohon dan ibuku-pun lantas menurunkanku. Lalu ibuku menyisirklan rambutku dan membasuhkan wajahku dengan sesuatu yang berbentuk cair. Lalu aku datang dengan dituntun sampai aku berada dimuka pintu dan aku berhenti, sehiingga aku menjadi setengah sadar. Lalu kembali ibuku membawaku masuk dan Rasulullah saat itu sedang duduk diatas dipan dalam rumahku. Lalu ibuku men-dudukkanku dikamar Rasulullah dan berkata:

            "Mereka semua adalah keluargamu, semoga Allah melimpahkan keberkahan-Nya dalam keluargamu itu dan semoga Allah memberkahi mereka atas dirimu"

            Pada saat itu, 'Aisyah seperti yang telah dikisahkan bahwa dia menikah dalam keadaan masih gadis, memiliki tubuh yang mungil, memiliki dua mata yang lebar dan rambut ikal, wajah yang cantik bercampur kemerahan.

            'Aisyah berpindah kerumahnya yang baru, disana tidak terdapat perabotan apapun selain hanya terdapat beberapa kamar yang menempel disisi masjid yang terbangun dari batu bata dan juga pelepah kurma. Di dalamnya terdapat tempat tidur kulit yang berisikan sabut dan diantara kamar dengan tanah hanya ada tikar yang tergelar. Dan pada pembuka pintu terdapat penutup berupa kain flanel

            Rasulullah telah menjadikan rumah yang agung ini sebagai tempat untuk berserah diri kepada Allah, menjadikannya sebagai menara yang tinggi yang menyebarkan ilmu dan pengetahuan serta petunjuk hidup, yang mencakup daerah yang luas dari perjalanan sejarah.

            Berkatalah salah satu dari orang-orang timur,[112] mereka yang berkisah mengenai pernikahan ‘Aisyah:

“Ketika ‘Aisyah telah menikah dengan Muhammad, dia mendatangi rumah Muhammad, orang-orang sangat menaruh simpati terhadap keberadaannya, walaupun disana juga ada beberapa gadis yang mengenal siapa gadis datang kepada nabi, pastinya dia adalah ‘Aisyah binti Abu Bakar. Pada hari-hari pertama dia masuk kerumah Rasulullah, dia banyak berdiam di masjid”

Persiapan yang dia lakukan untuk menghadapi kenyataan ini melampaui batasan yang ada, dia selalu menghafal setiap yang diucapkan nabi kepadanya, berupa kalamullah (Al-Qur’an). Dan bermain dengan segala bentuk permainan atau bersantai dengan Rasulullah dan memperdalam hukum, menyimpan syair-syair, juga hadits dalam bawah sadarnya.

Ujian-ujian yang berat dan pahit datang dan berlalu menghampiri dirinya, sampai dengan bahaya yang datang mendera bertubi-tubi, dan memaksanya untuk mengetahui posisinya disisi suaminya, dia adalah sosok kekasih yang istimewa, dia selalu melaksanakan pekerjaannya dengan penuh kasih sayang, melaksanakannya dengan sepenuh hati..

            Dia dirundung perasaan cemburu[113] dan hal ini nampak pada dirinya. Dia hidup bersandingan bersama Hafsah bin ‘Umar dan Saudah binti Zam’ah. Tiba-tiba dia menghadap orang-orang yang sederajat dengannya, mereka adalah Umu Salamah, Zainab binti Jahsyi, Shafiyyah binti Hayyi, Juwairiyah binti Harisah dan Mariyah Qibthiyah dan dimulailah sebuah rencana..[114]

            Akan tetapi Rasulullah tidak menyibukkan dirinya dengan perkara ini. Dakwah dan cita-citanya lebih penting dari pada hal ini, sampai akhirnya ketika masalah tersiar, maka Rasulullah menyuruh mereka semuanya pergi dalam beberapa bulan sebagai bentuk balasan dari hal ini, dan kabar yang ada ditengah masyarakat bahwasannya Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya.

            ‘Umar terlihat sangat ketakutan mendengar hal ini, jika saja berita ini memang benar adanya. Lalu dia berjalan menemui Rasulullah dan mengutarakan maksud kedatangannya setelah terlebih dulu berbasa-basi, lalu dia pergi dari hadapan nabi dengan hati tenang. Nabi tidak menceraikan istri-istrinya, karena dia adalah sebaik-baiknya suami bagi istri-istrinya, seperti yang diperintahkan Allah. Ternyata mereka hanya meminta nafaqah lahir yang longgar:

Artinya: Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat pada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia. Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Ahzab: 28-34)

            Allah dan Rasul-Nya telah memilih mereka untuk menjadi istri-istri nabi. 

            Yang memahamkan saya adalah jawaban ‘Aisyah , ketika dia bertanya:

“Apakah dalam tuntunan Allah dan Rasul-Nya engkau memilihku, wahai Rasulullah?”

Karena ketinggian iman ‘Aisyah, dia senantiasa menerima dari inti ajaran hidup dan dari hal-hal sepele yang berkaitan dengan cinta dan kasih sayang. Ada omongan bohong[115] dari tindakan-tindakan kejam yang sampai kepada ‘Aisyah. Dalam hidupnya, inilah cobaan yang paling pahit yang menderanya. Pemuka orang munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul menuduh dirinya sebagai ibu orang-orang mukmin yang berpaling dan juga merusak kemuliaan rumah nabi, sampai-sampai desanya menolak dirinya, juga sebagian orang muslim dengan tanpa kejelasan.

Berlalulah hari-hari yang panjang dari Rasulullah, dia dalam keadaan itu terlihat sangat susah dan putus asa. ‘Aisyah tidak mengetahui apa yang telah tersebar, dan dikatakan kepadanya kecuali kebenaran yang ada. Sampai akhirnya ia mengetahui hal ini dan terasa bagaikan petir yang menyambar, kedua orang tuanya sangat mengecamnya atas tindakannya menyimpan berita tentang dirinya.

Ketika Rasulullah mendatanginya dirumah orang tuanya, Rasulullah berkata:

“Wahai ‘Aisyah, aku telah mendengar dari orang-orang mengenai engkau., maka takutlah engkau kepada allah, jika engkau mencela buruk dari apa yang dikatakan orang-orang, maka bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya Allah menerima taubat dari hambanya”

‘Aisyah melihat kepada kedua orang tuanya, menanti kata-kata dari mereka, akan tetapi ternyata mereka tetap diam dan terlihat bingung. Lalu ia menghadap Rasulullah dan berkata:

“Demi Allah, aku tidak akan bertaubat kepada Allah, atas apa yang dituduhkan kepadaku. Demi Allah, sesungguhnya aku lebih tahu, aku akan mempertegas apa yang dikatakan orang-orang. Allah mengetahui bahwasannya saya tidak mengatakan sesuatu yang tidak ada, akan tetapi aku mengingkari apa yang dikatakan mereka, mereka tidak membenarkanku, aku akan berkata seperti yang pernah diucapkan ayah  nabi Yusuf[116]:

Artinya: Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya`qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS. Yusuf: 18)

            Sekiranya dia meminta pertolongan kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah, sewaktu Rasulullah masih dalam ranjangnya, lalu ‘Aisyah meletakkan bantal yang terbuat dari kulit dibawah kepalanya. Lalu dia digembirakan karena wahyu itu, lantas menoleh kepada ‘Aisyah dan berkata:

               “Bergembiralah wahai engkau ‘Aisyah, Allah telah menurunkan pembebasanmu”

            Lalu nabi membacakan beberapa ayat dari surat An-Nur kepada ‘Aisyah:

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar." Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nur: 11-19)

            Ummu Rauman meminta ‘Aisyah untuk bangkit dan mencium kening Rasulullah, lalu ia berkata:

               “Demi Allah aku tidak akan berdiri kepadanya, sesungguhnya aku tidak memuji kecuali kepada Allah, Dia yang telah menurunkan pembebasanku”

            Kebali ‘Aisyah dalam penjagaan dan berlindung dirumahnya (dikamarnya). Dia menjadi sosok wanita yang kuat, mulia, penuh kasih sayang dari Allah dan dia kembali pada kedudukan dan tempatnya semula, setelah Rasulullah mengutarakan pembesasan ‘Aisyah, selang beberapa bulan.[117]Diakhir-akhir bulan Shafar pada tahun kesepuluh hijriah, pada suatu malam Rasulullah tidak dapat tidur, lalu dia pergi keluar menuju makam al-Baqi’, menghidupkan lentera dan memintakan ampunan bagi mereka setelah berpulang kesisi Allah. Ketika Rasulullah pulang, ia mendapati ‘Aisyah mengutarakan semuanya secara terang-terangan, dan dia berkata menerangkannya kepada Rasulullah, lalu Rasulullah berkata :

            “Demi Allah, wahai ‘Aisyah, saya tetap berpegang pada pengukuhan itu”

            Itu adalah permulaan nabi terkena penyakit panas yang menyebabkan beliau meninggal dan berpindah dari kehidupan bumi menuju akhirat. Salah satu kebiasaan Rasulullah adalah beliau selalu berjalan-jalan diwaktu pagi mengunjungi istri-istrinya untuk menghibur mereka dan menanyakan mengenai keadaan mereka..

Sewaktu Rasulullah berada dirumah Maimunah binti Al-Haris, beliau terkena sakit gigi. Lalu beliau duduk yang dikeleilingi para istri-istrinya untuk mencoba memberikan pertolongan kepadanya, dan berulang-ulang berkata:

            “Besok saya dimana? Besok saya dimana?”

            Dengan cinta mereka kepada nabi, serentak mereka menjawab:

            “Wahai Rasulullah, kami telah memberikan girliran kami kepada ‘Aisyah”

            Lalu nabi berpindah menuju kamar ‘Aisyah, istri yang merawat sakit nabi dan yang terlihat tidak tertidur semalaman untuk menjaga nabi serta menolongnya dari sakit gigi dan panas. Adapun istri-istri nabi berkumpul disisi ‘Aisyah, demikian juga dengan keluarga Fatimah, putra-putranya  semuanya dalam suasana simpati dan kesedihan yang sangat, sampai akhirnya terjadilah waktu perpisahan terakhir.

            ‘Aisyah berkata, menceritakan tentang detik-detik perpisahan itu:

            “Aku mendapati Rasulullah merasa berat dikamarku, lalu aku melihat wajahnya, tiba-tiba aku melihat dimatanya ada seseorang dan dia berkata: aku adalah kawan yang mulia dari sorga”

            Lalu aku berkata:

            “Silahkan engkau memilih, maka segeralah memilih demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran. Lalu Rasulullah memegangi antara paru-parunya dan dada bagian atas, dan dari kedua bibirnya terdengar kata-kata yang lirih, bahwasannya dia menerima berada dikamarku, lalu aku meletakkan kepalanya diatas bantal dan aku berdiri menghampiri istri-istri nabi dan aku memukul wajahku sendiri”[118]

            Salah satu dari kemuliaan ‘Aisyah adalah, Rasulullah dimakamkan dikamar ‘Aisyah, dengan membenarkan apa yang dikabarkan oleh Abu Bakar dari Rasululah bahwasannya para nabi dimakamkan dimanapun, sekiranya mereka menerimanya. Demikian juga dengan makam Rasulullah didepan kedua mata ‘Aisyah selamanya, sampai dengan berpisah dengan dunia.

            ‘Aisyah hidup pada masa kekhalifahan ayahnya sendiri, Abu Bakar. Dan kekhalifahan ‘Umar dan kekhalifahan Usman. Ia mendapatkan kedudukan yang dihormati dan dimuliakan. Rumah ‘Aisyah menjadi pusat ilmu dan keutamaan, yang selalau dipenuhi para pencari pengetahuan dan ketika berhaji senantiasa mengunjungi rumah itu pada setiap bulan Dzul Hijjah. Rumahnya juga menjadi tempat penempaan bagi banyak putra shahabat, seperti ‘Amrah binti ‘Abdurrahman al-Anshariyah dan ‘Urwah binti Zaubair dan Qasim ibnu Muhammad dan lain sebagainya

            Pembicaraan mengenai peran ‘Aisyah dari kelebihan-kelebihan ‘Aisyah seperti halnya ibu para orang mukmin. Dia selalu mengurangi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan menginfakkan selebihnya dijalan Allah.dan juga para musafir. Dia selalu saja memberi wewangian uang yang ia miliki dengan misik, ketika ditanyakan mengenai hal itu, dia berkata:

            “Karena uang itu akan berada ditangan Allah sebelum sampai ketangan orang miskin”

            Ketika ‘Usman wafat, dia dimintakan untuk berdiri memberikan persaksian,  dan memberikan keterangana, tidak menggantungkan permasalahan kepadanya. Hal ini diperlunak dengan adanya Zubair bin ‘Awam dan Talhah bin ‘Ubaidillah, selain ‘Ali. Mereka meminta adanya hukum qisas dari pembunuhan ‘Usman secepatnya.

            Dari kejadian ini kemudian muncullah perang Jamal, dikatakan demikian karena pada saat itu ‘Aisyah berada dalam tandu diatas onta. Peperangan itu berakhir dengan kekalahan dipihak tentara yang memintakan sumpah dan terjagalah ‘Ali sehingga tidak tertimpa rencana jahat ‘Aisyah. Dan dia kembali ke Madinah al-Mukarramah

Imbasnya, ‘Aisyah menjauhkan diri dari permainan politik, baik sedikit maupun banyak dan dia menghabiskan waktunya untuk beribadah dan menimba ilmu. Rumahnya menjadi corong bagi penimba fiqh dan hadits dan kata-katanya menjadi hujjah. Imam Az-Zuhri berkata:

“Jika saja ilmu ‘Aisyah dikumpulkan kepada ilmu semua istri-istri nabi, dan ilmu seluruh wanita, maka ilmu ‘Aisyah tetap lebih utama”

‘Aisyah meninggal pada hari selasa tanggal tujuh belas Ramadlan tahun 57 H, genap berusia enam puluh enam tahun. Abu Hurairah menshalatinya, jenasahnya dimakamkan pada tengah malam dimakam Baqi’ dengan penerangan dari pelepah daun kurma yang dicelupkan dalam minyak zaitun. Dan orang-orang berjalan berduyun-duyun dibelakang jenasahnya sambil menangis. Mereka tidak akan melupakan malam itu.

Semoga Allah meridlainya dan memuliakan kedudukannya dalam sorga dan mengumpulkannya bersama hamba-Nya, yaitu orang-orang yang shalih. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khafsah binti ’Umar

 

Setiap istri-istri Rasulullah memiliki tugas dan fungsinya sendiri-sendiri. Rasulullah mencintai istri-istrinya hanya sekedar untuk memenuhi tuntutan batinnya, mencurahkan kasih sayang dan menjalin hubungan keluarga. Oleh karena itulah lantas ia menikahi Hafsah binti ‘Umar.

Kata ÍÝÕÉ  adalah bentuk muannats dari kata ÍÝÕ  yanag merupakan salah satu nama harimau. Sehingga ‘Umar mendapatkan panggilan[119] nama kunyah Abi Hafsah. Hafsah dilahirkan lima tahun sebelum Muhammad diutus menjadi nabi. Dia merupakan wanita yang memeluk Islam pada permulaan kelahiran Islam sewaktu ayahnya masuk Islam.

Dia menikah dengan Khunais bin Hadzaqah As-Sahmi, setelah Khunais pulang dari Habasyah, yang mana dia juga hijrah kesana bersama dengan rombongan pertama. Lalu dia hijrah bersama-sama dengan Khunais ke Madinah. Khunais menyaksikan perang badar, dalam perang itu dia mendapatkan cobaan yang masih bisa diselamatkan. Lalu dia juga menyaksikan perang uhud, dan disana dia mendapatkan luka-luka yang tidak dapat tertolong lagi. Dia adalah sebaik-baik suami bagi seorang istri yang shalihah.

Terlalu dini Khafsah menjadi janda, karena pada saat itu usianya baru menginjak dua puluh tahun. Ayahnya, ‘Umar terlihat bingung dan merasakan keterputusasaannya. Air matanya tidak pernah mengering dalam hidupnya. ‘Umar berusaha untuk mencarikan suami baginya sebagai ganti suaminya yang telah meninggal.

Abu Bakar adalah orang terdekat ‘Umar dan lebih mengetahui hati ‘Umar setelah Rasulullah. Lalu ‘Umar dan Rasulullah mendatangi Abu Bakar dan menyerahkan Hafsah untuk dinikahi. Abu Bakar diam, tidak menjawab.tidak menolak namun juga tidak menerimanya. Lalu ‘Umar menyangka bahwa Abu Bakar menolak menikah dengan Hafsah, yang dapat dia raba dari diri Abu Bakar.

Usman pada saat itu baru saja menduda, setelah kematian istrinya, Ruqayyah putri Rasulullah. Dan ‘Umar datang menemuinya, untuk menyerahkan Hafsah supaya dinikahinya. Dalam hal ini ‘Umar memberikan kelonggaran kepada Usman, lalu Usman menganguhkannya beberapa hari. Setelah lewat beberapa hari, Usman menemui ‘Umar. Lalu Usman berkata:

“Untuk saat ini aku belum menginginkan menikah lagi”

‘Umar merasa dilecehkan yang melukai kebesarannya. Dia tidak bisa lagi membedakan keadaan yang menimpa dirinya dari kemuliaan dirinya, dia tidak dapat menemukan seseorang yang dapat meredakan lukanya ini kecuali Rasulullah, lalu dia mendatangi Rasulullah dengan muka masam dan penuh amarah, mengadukan kedua sahabatnya, Abu Bakar dan juga Usman. Lantas nabi meredakan amarahnya dan tersenyum kepadanya, mempersilahkannya duduk disebelahnya. Lantas nabi berkata:

“Wahai ‘Umar. Hafsah telah dinikahi oleh seseorang yang lebih baik dari Usman dan Usman telah menikah dengan seorang wanita yang lebih baik dari Hafsah”

Hati ‘Umar dipenuhi dengan angan-angan. Dia telah menemukan maksud dari petuah ini, lalu dia berdiri menghadap Rasulullah untuk berjabat tangan. Hatinya telah kembali mendapatkan hidayah dan jiwanya kembali tenang. Lalu dia pergi dari hadapan Rasulullah dan kegembiraan memenuhi hatinya. Suatu hari nanti ‘Umar tidak hanya sebagai sahabat saja, melainkan menjadi kerabat dengan Rasulullah Saw.

Didepan pintu, dia berpapasan dengan Abu Bakar, dia berhenti dan mengetahui semua yang ada pada diri ‘Umar. Lalu Abu Bakar berkata kepada ‘Umar:

“Aku tidak bertemu Ali, wahai ‘Umar. Rasulullah menghendaki Hafsah, dan aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah ini. Jika saja engkau membiarkan Hafsah, maka pastinya aku yang akan menikahinya”

Sempurnalah pernikahan Rasulullah dengan Hafsah, pada bulan Sya’ban di tahun ke tiga Hijriyah. Lalu Hafsah memasuki rumah nabi menjadi ibu bagi orang-orang mukmin.

Pada mulanya antara Hafsah dan ‘Aisyah terjadi persaingan, dengan saling mencurahkan cinta dan kasih sayang yang berlebih. Akan tetapi setelah keduanya saling pengertian, saling bantu membantu dan juga saling membenarkan, mereka bahu-membahu untuk menghadapi semua bahaya yang semakin banyak, masuk kedalam rumah nabi.

‘Umar sangat paham akan karakter putrinya, yaitu sosok yang lembut, namun juga keras. ‘Umar sangat menghawatirkannya, jika sampai ia tergelincir dalam keangkuhan ‘Aisyah. Maka ia berkata kepada putrinya:

“Dimana posisimu dari ‘Aisyah? Dan dimana posisi ayahmu dari ayah ‘Aisyah?”

‘Umar menakut-nakuti Hafsah dengan kemurkaan Allah dan Rasul-Nya.

Suatu hari, ‘Umar mendengar dari istrinya bahwa Hafsah berselisih dengan Rasulullah, sehingga hari-hari ‘Umar selalu diliputi dengan kemarahan. Lalu ia mendatangi Hafsah untuk menanyakan kepadanya dari kebenaran hal ini. Hafsah menjawabnya dengan lantang, lalu ‘Umar berkata:

“Ketahuilah, bahwasannya aku sangat menghawatirkanmu akan siksa Allah dan kemurkaan Rasulullah. Wahai putriku, engkau jangan terbujuk dengan hal ini. Sesuatu yang mengejutkan dan ambil hikmahnya saja dan cintailah Rasulullah karenanya. Demi Allah, aku mengetahui bahwasannya Rasulullah tidak mencintaimu, jika saja tidak ada aku pastinya Rasulullah menceraikanmu”

Dikisahkan bahwasannya ‘Aisyah dan Hafsah telah bersepakat untuk saling seiya sekata, dalam minuman madu yang diberikan kepada Rasulullah dari Zainab binti Jahsyi. Mereka berkata bahwasa mulut Rasulullah bau Maghafir.[120] Dan madu ini dapat menjaga Rasulullah dari al-‘Irqith.[121]

 Ketika Hafsah mengatakan hal itu, Rasulullah menjelaskan kepadanya bahwasannya ia telah minum madu itu di hadapan Zainab, dan Rasulullah tidak akan mengulanginya lagi dan mengharamkannya bagi dirinya dan mendiamkan Zainab. Lalu Allah berfirman:

Artinya: Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Tahrim: 1-2)

Akan tetapi Hafsah tidak menyimpan rahasia ini, ia malah menyebar luaskannya. Lalu nabi mencelanya dengan keras dan membuka semuanya tentang diri Hafsah dan juga ‘Aisyah. Lalu dia menceraikah Hafsah. Allah memperingatkan tindakannya dan sebelum berita ini tersebar:

Artinya: Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari isteri-isterinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mu'min yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang ta`at, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan. (QS. At-Tahrim: 3-5)

Kondisi ‘Umar bergoyang dan berguncang dengan sangat keras, dia terlihat kebingungan (cobaan apa lagi yang akan ditimpakan Allah kepadanya dan juga putrinya setelah ini)

Dikisahkan bahwasannya Jibril turun dari langit dipagi hari untuk menemui Rasulullah dan berkata kepada Rasulullah:

“Susunnguhnya Allah memerintahkanmu untuk merujuk Hafsah karena kasihan kepada ‘Umar”

Dalam riwayat yang lain :

“Rujuklah Hafsah, karena sesungguhnya ia adalah wanita yang senantiasa berpuasa dan menghidupkan malam dengan beribadah, dan dia adalah istrimu di sorga.”

Lalu Rasulullah merujuk Hafsah dan mengembalikannya dalam penjagaannya. Dan kembalilah jiwa ‘Umar setelah sebelumnya lenyap. Setelah Rasulullah wafat, Hafsah terpilih diantara para istri nabi untuk menjaga salinan tulisan Al-Qur’an. Karena hal ini, ‘Umar memberikan isyarat kepada Abu Bakar untuk segera mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an yang terpisah-pisah dalam mushaf, sebelum jauh jarak turunnya Al-Qur’an dan orang-orang yang menghafalnya meninggal. Diantara mereka telah banyak yang mati syahid, sebanyak seratus orang dalam sebuah peperangan.

Abu Bakar menyetujuinya, lalu dia mengumpulkan mushaf Al-Qur’an dan menyerahkannya kepada Hafsah. Dengan menyandarkan kepadanya, bahwa ia adalah seorang yang senantiasa berpuasa dan senantiasa menghidupkan waktu malam untuk beribadah, sosok wanita yang rajin beribadah, dia juga pandai membaca dan menulis, menghafal Al-Qur’an dan senantiasa menjaga amanat yang diembankan kepadanya.

Ketika masa kekhalifahan Usman bin ‘Afan, dia mengeluarkan salinan Al-Qur’an untuk dituliskan dalam satu mushaf dan dituliskan sebanyak tujuh salinan Al-Qur’an dengan dialek Quraisyi dan disebar kebeberapa kota.

Hafsah melewati masa hidupnya sebagai ibu bagi orang-orang mukmin sampai dengan kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Pada tahun 47 Hijriyah, Allah memanggilnya dan dia dimakamkan di pemakaman Baqi’. Semoga Allah meridlainya, dan menempatkannya dalam sorga Firdaus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Zainab binti Khuzaimah

 

Ibunya adalah Hindun binti ‘Auf.[123]

Dikatakan mengenai dirnya:

“Tidak diketahui wanita Arab yang makamnya lebih mulia dari Hindun binti ‘Auf, ibu Maimunah dan saudara-saudaranya”[124]

Zainab adalah saudara seibu maimunah binti Al-Harits al-Hilaliyyah.. demikian juga dengan Asma binti ‘Umais, istri dari Ja’far bin Abi Thalib.

Pendapat-pendapat yang ada mengenai suami dari Zainab saling berbeda-beda. Maka dikatakan bahwa ia adalah istri dari Thufail bin al-Harits Ibnu ‘Abdil Muthalib. Ketika dia meninggal, maka saudaranya, ‘Ubaidah bin al-Harits bin ‘Abdil Muthalib menggantikannya menjadi suami Zainab, dan setelah ia meninggal sebagai syahid, Rasulullah melamar Zainab.

Dikatakan pula bahwa sebelum dia menjadi istri ‘Ubaidah, terlebih dulu dia diperistri oleh Jahm bin Harits al-Hilali. Dikatakan pula bahwasannya dia diperistri oleh Abdullah bin Jahsyi dan setelah ia mati sebagai syahid, Rasulullah menggantikannya sebagai istri Zainab.

Dikatakan pula bahwasannya Rasulullah melamarnya kepada dirinya sendiri, lalu menyerahkan hal ini kepada Rasulullah lantas Rasulullah menikahinya. Dikatakan pula bahwa yang menikahkannya dengan Rasulullah adalah pamannya, Qabishah bin ‘Umar al-Hilali dan Rasulullah memberinya mahar empat ratus dirham.

Orang-orang juga berbeda pendapat mengenai waktu ia menjadi istri Rasulullah dan menjadi ibu bagi orang-orang mukmin, akan tetapi mereka tidak berselisih pendapat dalam kematiannya disisi Rasulullah.

Sebagian ulama mengatakan, bahwasannya dia bersanding hidup dengan Rasulullah selama delapan bulan, lalu meninggal. Adapun kebanyakan ulama mengatakan, bahwasannya ia hidup bersanding dengan Rasulullah selama tiga bulan, lalu Allah memanggilnya kembali.

Tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya Rasulullah menikahi Zainab binti Khuzaimah setelah suaminya meninggal sebagai Syahid. Baik itu suaminya yang bernama ‘Ubaidah bin al-Harits ataupun ‘Abdullah bin Jahsyi.

Sekedar  sedikit mengulang perkataan, bahwasannya beristri dengan janda orang yang mati syahid adalah sunnah yang diikuti, hal ini mengandung makna penghormatan dan juga memuliakan kepada orang yang mati syahid, tidak karena untuk menghibur janda tersebut.

Pendapat yang paling masyhur adalah yang paling sedikit, baik itu yang mengatakan delapan tahun ataupun tiga tahun dia hidup bersanding dengan Rasulullah. Dirumah nabi dia mendapatkan perlakuan yang mulia, dan julukan yang mulia, yaitu ibu orang-orang mukmin. Dia juga mendapatkan julukan lain yang diberikan Allah kepadanya, yaitu ibu bagi orang-orang miskin.

Hal ini dikarenakan ia memiliki sifat-sifat yang bagus dan mulia, menyayangi orang fakir dan miskin. Maka tidak begitu mengherankan apabila namanya tidak disebut dalam buku-buku sejarah keculai dibarengkan dengan julukan yang mulia ini. Ibnu Hisyam dalam buku sejarahnya mengatakan:

“Dia dinamakan sebagai ibu orang-orang miskin, karena kasih kasih sayangnya kepada mereka dan juga rasa simpatinya kepada mereka”

Imam Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya, Al-Ishabah dan juga Ibnu ‘Abdi al-Barr dalam kitabnya Al-Isti’ab:

“Dia dikatakan sebagai ibu orang-orang miskin karena dia senantiasa memberi makan kepada mereka dan bersedekah kepada mereka”[125]

Dia meninggal pada usia tiga puluh tahun, pada tahun ketiga Hijriyah. Rasulullah menshalatkannya dan memakamkannya di pemakaman Baqi’. Rasulullah sangat mencintainya dan memohonkan ampunan baginya. Dia adalah ibu orang-orang mukmin yang pertama dimakamkan di Baqi’.

Semoga Allah meridlainya, memberinya balasan baik atas amal perbuatan yang pernah dilakukannya, berupa kebaikan dan kasih sayang. Dan mempertemukan denganku dalam golongan hamba Allah yang shalih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hindun binti Abi Umayyah

 

Begitu banyak kisah dan kejadian yang dialami oleh Hindun dalam hidupnya, oleh karenanya ia naik menduduki derajat yang mulia, sampai dengan langit. Dia menjadi ibu orang-orang mukmin

Hindun binti Abi Umayyah bin Mughirah Al-Makhzumi masuk Islam diawal-awal kelahiran Islam, beserta dengan suaminya ‘Abdullah bin ‘Abdil Asad Al-Makhzumi putri bibi Rasulullah Saw., Barrah binti ‘Abdil Muthalib dan saudara sepersusuannya, karena keduanya disusukan oleh Tsuwaibah, budak perdikan Abi Lahab.

Ayahnya menjulukinya Zaadu Rakib, karena ketika bepergian tidak satupun kawannya yang meninggalkannya untuk menemaninya karena dia membawa membawa bekal, yang cukup bagi mereka semuanya.

Dia berhijrah ke Habasyah dengan suaminya, karena lari dari penganiayaan orang Quraisyi atas kekerasan dan pemaksaan yang dilakukan mereka. Diapun menanggungkan beragam kesusahan dan cobaan karena demi cintanya kepada Allah. Lalu ia kembali ke Makkah dengan suaminya, ketika sampai kepadanya berita tentang masuk Islamnya ‘Umar bin Khatab beserta orang-orang yang menentangnya.

Ketika Bai’at ‘Aqabah, Rasulullah mengizinkan kepada para sahabatnya untuk berhijrah ke Madinah, waktu itu suaminya adalah orang pertama yang berhijrah dengan keluarganya. Akan tetapi yang diharapkannya dan ia angan-angankan tidak sempurna. Dia bertemu dengan Bani Mughirah, yaitu umat Hindun yang berada dipinggiran Makkah, lalu mereka menolongnya dan meninggalkannya sendiri, sepertinya mereka berselisih dengan Bani ‘Abdi Asad, umat Abi Salamah, mereka menariknya sehingga mereka menjatuhkan tongkatnya.

 

Perpisahan antara suami dan istri serta anak keduanya

            Hindun tetap tinggal di Makkah, pada tahun-tahun keterkungkungan, yang mana tidak henti-hentinya dia menangis, peluhnya yang senantiasa membasahi. Sampai akhirnya keluarganya marasa kasihan kepadanya dan mereka berkata:

            “Temuilah suamimu, jika engkau mengehendaki”

            Lalu dia pergi dengan putrinya, Salamah seorang diri menuju Madinah. Akan tetapi Allah mendatangkan seorang lelaki yang coba menghalaunya, dia adalah Usman bin Talhah.[126] Untuk mencegahnya. Dia meratapi keadaannya, yang penuh dengan kesedihan. Lalu Usman menemaninya sampai ke Quba’ lalu kembali.

            Tidak diketahui sejarah hijrah dan kejadian-kejadian yang melingkupinya, yang membicarakan mengenai keluarga Abi Salamah.

            Abi Salamah menguasai sebagian besar dari panggilan Jihad dijalan Allah, baik sebagai prajurit ataupun pemimpin pasukan, dalam peperangan bersama nabi ataupun peperangan yang tidak diikuti nabi. Dalam perang uhud lengannya terluka  parah, dan dia mengobatinya sebentar. Dia menyangka bahwasannya lengannya harus dipotong.

Dia keluar dari medan perang dengan dipapah. Dengan perintah Rasulullah menuju Bani Asad, dan kembali dia mengikuti peperangan. Akan tetapi lukanya terlalu parah dan kembali ia mengucurkan darah. Rasulullah men-dudukannya supaya tidak lagi bergerak, akan tetapi dia tetap saja menginginkan berperang, sampai akhirnya Allah memanggilnya kembali.

            Rasulullah mendekatinya, dia berada di pembaringan. Dan orang-orang yang ada disekelilingnya mendoakan kebaikan kepadanya sampai akhirnya dia meninggal, lalu Rasulullah dengan tangannya memejamkan kedua matanya. Adapun Abu Salamah menjelang kematiannya sempat berdoa:

            “Ya Allah tinggalkanlah aku dalam keluargaku kebaikan”

Umu Slamah mendengarnya, dan tidak mengetahui lebih jauh dari doa tersebut, sampai akhirnya Rasulullah melamarnya. Rasulullah menshalatinya dan bertakbir sebanyak sembilan kali.[127]  Lalu dikatakan kepadanya:

            “Wahai Rasulullah, apakah engkau lupa?”

            Rasulullah menjawab:

            “Aku tidak lupa, jika aku bertakbir kepada Abi Salamah sebanyak seribu kali, maka aku menjadi keluarganya karenanya”[128]

            Setelah masa ‘iddah Umi Salamah selesai, Abu Bakar mendatanginya untuk melamarnya, dan menjadikannya istri demikian juga dengan kedatangan al-Faruq, dia menerima jawaban seperti apa yang diterima oleh sahabatnya. Lantas nabi mengutusnya untuk melamarnya, dia tidak keberatan. Akan tetapi ada sedikit yang mengganjal, walaupun ia memang mencintai nabi, akan tetapi ia lebih tua dan dia juga memiliki keluarga. Dia memiliki beberapa anak dari Abi Salamah, yaitu Salamah, Zainab, ‘Umar dan Durrah. Lalu nabi menjawabnya:

   “Jika engkau adalah seorang wanita yang telah tua, maka aku lebih tua darimu, adapun cinta, Allah telah menyala-nyalakan untukmu, dan adapun keluarga, maka hanya kepada Allah dan Rasul-Nya”

            Sempurnalah pernikahan itu pada bulan Syawal tahun 4 Hijriyah. Dan pada saat itu Ummu Salamah teringat akan doa suaminya, Abi Salamah:

            “Ya Allah, tinggalkan aku dalam keluargaku kebaikan”

            Rasulullah sendiri jauh lebih baik dari Abi Salamah. Dan masuklah Umu Salamah dan putra-putranya dalam penjagaan Rasulullah. Dan ibu bagi orang miskin itu berlalau, memasuki kamarnya. Dalam usianya yang sudah senja, ia tidak henti-hentinya berusaha memberikan sebagian kenikamatan yang dia peroleh untuk berbuat kebajikan. ‘Aisyah berkata:

            “Sewaktu Rasulullah menikahi Umu Salamah, saya merasa sangat susah, ketika diceritakan kepadaku tentang kecantikannya, kelembutannya, sampai akhirnya aku melihatnya sendiri. Aku melihat dia lebih jelek dari yang pernah dicirikan kepadaku”[129]

            Dia mendidik putra-putra Abi Salamah dirumah nabi, menjaganya dan melimpahkan kasih sayang kepada mereka. Senantiasa bersikap lemah lembut kepada mereka dari rasa simpati Rasulullah, sampai-sampai anggota keluarga yang lain terlihat memusuhi. ‘Aisyah sangat membanggakan dirinya atas kemuliaan yang ada, berupa turunnya wahyu kepada Rasulullah dirumahnya. Sewaktu Rasulullah menikahi Umu Salamah, maka ia berbagi kemuliaan itu dengannya.

            Oleh karena itu, ketika Nabi diberitahukan mengenai hal itu oleh Abu Lubabah, Basyir bin ‘Abdi al-Mundzir, ketika Bani Quraidhah memberikan isyarat kepada nabi, lalu nabi memberikan isyarat kepada mereka dan bersepakat bahwasannya dialah yang telah menyebarkan hal ini dan bukan Rasulullah. Dan dia berhalangan untuk menjalin hubungan dengan pelayan yang ada diemperan masjid, sampai akhirnya Allah memberikan taubat kepadanya.[130]

            Dan turunlah firman Allah dalam hal ini pada surat At-Taubah:

Artinya: Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taubah: 102)

            Dan hal ini berada dirumahnya, dan dia mendengar Rasulullah membacakan ayat yang mulia, dan Rasulullah berkata:

            “Abi Lubabah benar-benar sudah dipertaubatkan”

            Dia berkata dengan kegirangan:

            “Apakah aku boleh melihatnya, wahai Rasulullah?”

Rasulullah berkata:

“Ya boleh, jika engkau menghendaki”

Dihari perjanjian Hudaibiyah, dia bersikeras untuk memutus hubungan dan menyudahi perjanjian antara Rasulullah dan Suhail bin ‘Umar, seperti halnya dengan orang Quraisyi. Rasulullah menginginkan untuk bertahallul dari ihram, lalu menyembelih qurbannya dan mencukur rambutnya dan nabi memerintahkan para shabatnya untuk melakukan hal itu.

Akan tetapi, ternyata mereka tidak melaksanakannya. Nabi terlihat bersedih karena hal ini, dan masuk ke rumah Umu Salamah dengan terisak. Lalu Hindun berkata:

  “Apakah engkau menyukai hal itu? Mengeluarkan kata-kata dan tidak ada seorangpun  yang berkata-kata diantara mereka, walau sepatah kata, sehingga engkau menyembelih ontamu dan memanggil tukang cukurmu untuk mencukurmu”

Lalu Nabi menerima nasehat istrinya ini. Ketika para sahabat melihat hal ini, mereka segera untuk pergi haji, mencukur rambut mereka dan saling berdesak-desakan. Sampai-sampai mereka hampir saling membunuh.

Diriwayatkan bahwasannya Hindun adalah wanita yang menemani Rasululah dalam perang Khaibar dan peristiwa Fathu Makkah dan pengepungan Thaif, demikian juga ketika dalam perang Hawazan dan Haji wada’.

Setelah Rasulullah wafat, Umu Salamah mendapatkan kedudukan yang dimuliakan oleh para khalifah Rasulullah setelah Rasulullah (berupa kemuliaan dan kekuasaan). Untuk kedudukannya disisi Rasulullah dan posisinya diantara ibu para orang mukmin, dan semua sahabat.

Ketika terjadi fitnah antara ‘Ali, Talhah dan Zubair, juga ‘Aisyah. Umu Salamah mendukung Ali karramahullahu wajhah. Dan mencela ‘Aisyah dengan keras dan menakut-nakutinya dengan pengusiran. Dia berkata:

“Pengusiran yang seperti apa yang akan diberlakukan kepada mereka? Allah berada dibelakang umat ini!! Jika engkau berjalan dalam jalannmu ini, lalu dikatakan kepadaku: masuklah kalian kedalam sorga firdaus, maka aku akan merasa malu, jika bertemu Muhammad dengan terhalang oleh tirai dan memukulkannya kepadaku”

Dia hidup sampai dengan masa kekhalifahan Yazid bin Mu’awiyah. Dia meninggal pada tahun 61 Hijriyah setelah sampai kepadanya berita tentang meninggalnya Husain bin Ali. Pendapat yang masyhur bahwasannya ia adalah istri terakhir nabi yang wafat. Semoga Allah meridlai Umu Salamah, ibu orang-orang mukmin dan memuliakan tempatnya di sorga firdaus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Zainab binti Jahsyi

 

“Aku tidak pernah melihat sama sekali wanita yang lebih bagus dalam agamanya dari zainab, dan lebih bertaqwa kepada Allah, lebih benar perkataannya, menjalin kekerabatan, lebih besar sadaqahnya, lebih keras dalam mengerahkan kekuatan dirinya dalam beramal, yang dimaksudkan untuk bersedekah dan mendekatkan diri kepada Allah”[131]

Dia adalah Zainab binti Jahsyi bin Ratsab bin Ya’mar al-Asdiyah, saudara perempuan ‘Abdullah dan ‘Ubaidillah Abi Ahmad[132] dan Hamnah dan ibu mereka adalah Umaimah binti ‘Abdil Muthalib, bibi Rasulullah Saw.

Dia masuk Islam diawal kelahiran Islam beserta dengan keluarganya, saudara-saudaranya, kawan-kawannya dan juga ibunya. Dia sosok wanita yang sangat mulia dengan kecantikannya dan juga nasabnya. Dia menolak banyak pinangan yang ditujukan kepadanya dari para pembesar. Di Madinah, setelah hijrah, Zaid bin Harisah telah cukup usia untuk menikah. Hal ini terjadi sebelum ia menjadi budak perdikan Rasulullah dan Rasulullah mengangkatnya sebagai anak. Lalu datang perintah dari langit untuk menjelasakan hakikat nasab:

Artinya: Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).005. Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab: 4-5)

Maka batal-lah pengadatan pengangkatan anak dalam tradisi jahiliyah. Dan telah masyhur bahwaanya Zaid bin Harisah adalah budak perdikan Rasulullah. Dia ingin menikahkan Zaid bin Harisah. Rasulullah menemaninya beserta dengan paman beliau, Hamzah. Lalu nabi memilihkan untuknya, Zainab binti Jahsyi, akan tetapi Zainab dan saudaranya membenci pilihan ini, dan berbalik menentangnya, karena bagaimana mungkin seorang wanita yang mulia dipersembahkan kepada seorang budak perdikan?

Islam tidak membeda-bedakan antara orang yang mulia dan seorang budak perdikan:

 

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)

            Tidak henti-hentinya Rasulullah kembali merayu keduanya dalam upayanya menikahkan Zaid, sampai akhirnya turun firman Allah:

Artinya: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab : 36)

Keduanya tunduk karena perintah Allah dan Rasul-Nya, dan menikahlah Zaid dengan Zainab.

            Akan tetapi Zainab, dengan keberadaan dirinya dan keturunannya senantiasa melihat Zaid dari sisi yang tinggi. Zaid sangat bersabar atas perlakuan buruk Zainab kepadanya, lalu dia mengadukannya kepada Rasulullah, menginginkan untuk menceraikannya, nabi melarangnya dan memintanya untuk mempertahankan Zainab dan berkata kepada Zaid:

 Artinya: Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni`mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni`mat kepadanya: "Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu'min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. (QS. Al-Ahzab: 37)

            Dengan menyandarkan pada pemutusan kebiasaan orang-orang jahiliyah dan menolak ajaran mereka dengan menikahkan seorang wanita yang mulia dengan seorang budak perdikan. Demikian juga, dengan pernikahan ini Islam menolak kebiasaan pengangkatan anak untuk menguasainya:

 

Artinya: Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni`mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni`mat kepadanya: "Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu'min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. (QS. Al-Ahzab: 37)

            Maka dibutuhkan adanya syariat baru yang masih berkaitan dengan  pengangkatan anak.

Adapun kebiasaan orang jahiliyah menghukumi untuk tidak menikahkan anak angkat dengan istri anak angkatnya setelah mereka dicerai. Tidak ada keadilan dan bagian dan juga tidak ada diberikan adanya kebiasaan waris. Maka sempurnalah penceraian Zainab dari Zaid. Dan Rasulullah menikahi Zainab.

Adapun pendapat-pendapat mengenai hal ini yang dilontarkan oleh para ahli tafsir, orang-orang yang memiliki kepentingan dan orang-orang timur dari memindahkan dan menakwilkan dan menghubungkan semua itu dengan hawa nafsu yang telah disebutkan dalam diri Rasulullah, maka kecenderungannya adalah untuk menghilangkannya. Syariat tidak tunduk kepada hawa nafsu.

Zainab sangat merasa gembira akan sesuatu yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah, berupa perintah untuk melamarnya, setelah ia diceraikan oleh Zaid dan masa ‘idahnya telah habis. Lalu ia meninggalkan yang ada ditangannya berupa sesuatu yang terlihat menyibukkannya. Dia berdiri, melaksankan shalat bersyukur dan memuji kepada Tuhannya.[133]   

Acara pesta pernikahan itu terlihat meriah, karena Rasulullah menyembelih kambing dan memerintahkan budak perdikannya, Anas bin Malik untuk mengundang orang-orang datang kepesta pernikahannya. Mereka berurutan secara berkelompok. Datang suatu kelompok, lalu pergi, lalu masuk lagi kelompok yang lain

Akan tetapi sebagian tamu ada yang bersenang-senang ditempat itu, lalu mereka berlama-lama disana. Hal ini sangat memberatkan Rasulullah, lalu mereka pergi. Setelah mereka pergi, nabi menurunkan penutup pintu dan turunlah ayat hijab dan tata krama berkunjung kerumah Rasulullah:

 

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah. (QS. Al-Ahzab: 53)

            Ini adalah syariat lain yang menyertai pernikahan Zainab. Pernikahannya terjadi pada tahun 5 Hijriyah, pada saat itu ia berusia tiga puluh lima tahun dia memasuki rumah nabi dalam keadaan sulit, akan tetapi ia tidak menanggalkan kebesarannya. Lantas ia berkata kepada para istri nabi:

               “Aku lebih mulia kedudukannya dari pada kalian, dan lebih mulia kisahnya: kalian dinikahkan oleh keluargamu dan aku dinikahkan oleh Allah diatas langit yang berlapis tujuh”

Zainab tinggal dirumah Rasulullah selama lima tahun. Dia menjadi contoh bagi istri-istri nabi yang shalih, sebagai sosok yang taat beribadah, dan juga berhati khusu’. Dia sosok wanita yang trampil, bekerja dengan kedua tangannya sendiri dan senantiasa mengerahkan segenap usahanya dalam melakukan pekerjaan. Bersedekah dengan sesuatu yang kelak akan kembali kepada dirinya, menginfaqkannya dijalan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. ‘Aisyah menjadi saksinya

Umu Salamah berkata mengenai dirinya:

“Bagi Rasulullah, Zainab adalah sosok wanita yang mengagumkan. Dan beliau senantiasa memperbanyak kekagumannya. Dia adalah wanita shalihah yang senantiasa menghidupkan malam untuk beribadah, senantiasa berpuasa, trampil. Bersedekah dengan hasil pekerjaannya kepada orang miskin”

Diriwayatkan dari ‘Aisyah juga:

:”Dia berkata: Rasulullah berkata lebih cepat-cepatnya kalian bertemu denganku adalah orang yang paling panjang tangannya diantara kalian. Jika aku mengumpulkan kalian semua dalam satu rumahku-setelah wafatnya Rasulullah-maka aku akan menjululurkan tanganku ditembok. Tidak henti-hentinya kami melakukan hal itu sampai Zainab bin Jahsyi meninggal, dan kami tidak lebih panjang. Maka kami sekarang mengerti bahwasannya nabi mengghendaki panjang tangan dengan shadaqah dan Zainab adalah wanita yang trampil kedua tangannya, menyamak dan menjahit dan bershadaqah dijalan Allah.”[134]   

Seperti yang dikisahkan bahwa ‘Umar bin Khatab pada masa kekhalifahanya mengutus kepadanya untuk memberinya dua belas ribu dirham, dia berkata:

“Ya Allah semoga Engkau tidak menemukan aku dengan uang ini dikemudian hari, menjadi fitnah”[135]

Lalu ia membagi uang tersebut kepada keluarganya dan juga orang-orang yang membutuhkan, lalu sampailah hal ini kepada ‘Umar. Lalu dia berdiri didepan pintu rumah Zainab, dan mengucapkan salam dan berkata:

“Aku telah mengetahui apa yang engkau lakukan, aku mengirimimu seribu supaya engkau menyimpannya dan aku mengirimu lagi seribu, lalu engkau menshadaqahkan semuanya, hingga tersisa padamu satu dirham”

Pada tahun 20 Hijriyah, menjelang kematiannya, dia berkata:

“Aku banyak memiliki kain kafan, maka sesungguhnya ‘Umar akan mengutus seseorang untuk mengkafaniku, bersedekahlah dengan salah satunya, jika kalian mampu untuk bersedekah dengan jarit[136], maka bersedekahlah”

‘Umar menshalatinya, dan mengiring jenasahnya beserta dengan orang-orang Madinah sampai ke Baqi’. Dia adalah istri yang pertama-tama yang akan bertemu dengan Rasulullah.

Semoga Allah meridlai ibu bai orang-orang mukmin, Zainab binti Jahsyi dan meluhurkan kedudukannya didalam sorga, dan berteduh bersamanya dibawah bendera Rasulullah dan meminumkan kami dari telaganya yang mulia dengan satu tegukan yang tidak akan merasa haus setelahnya selamanya.

 

 

 

Juwairiyah binti Al-Harits

 

Pada tahun ke 6 Hijriyah setelah perang Ahzab dan Bani Quraidhah, sampailah kabar kepada Rasulullah bahwa Bani Musthaliq mereka hidup dalam ketimpangan. Lalu berkumpulah mereka untuk membunuh nabi dengan pasukan yang dimiliki pemimpin mereka, Al-Haris bin Abi Dharar. Lalu mereka keluar dengan  tergesa-gesa menuju Al-Haris sampai akhirnya mereka bertemu disebuah sumberan air (antara mereka dan pasukan Rasulullah).

Dikatakan juga bagi mereka dengan Al-Maryi'129. Mereka berperang dan saling membunuh. Banyak wanita dari istri-istri mereka yang gugur menjadi janda, salah satu diantara mereka adalah Barrah putri pemimpin mereka, Al-Haris. Lalu mereka semua diboyong ke Madinah.

            Barrah menjadi bagian Tsabit bin Qais bin Syamas, lalu dia menjadi budak mukatabnya130 atas kemerdekaan dirinya. Dan Barrah meminta tolong kepada Rasulullah pada status mukatabnya. Lalu dia mendatangi Rasulullah yang pada saat itu berada dirumah 'Aisyah. Dia meminta izin kepada 'Aisyah, lalu 'Aisyah berdiri menyambutnya, dia melihat dipintu ada sesosok wanita yang manis, yang berwajah oval. Pastinya seseorang tidak akan melihatnya, kecuali akan mengambilnya untuk dirinya sendiri, 'Aisyah membencinya saat pertama melihatnya, dan lebih menyukai untuk menghalangi pertemuan antara dia dengan Rasulullah Saw.131

            Akan tetapi Barrah memohon dan memaksa, maka akhirnya 'Aisyahpun menyerah. Barrah berdiri dihadapan Rasulullah Saw. Dia berkata dengan merendahkan dirinya dan terlihat sangat memelas:

               "Wahai Rasulullah, saya adalah putri Al-Haris bin Abi Dharar, seorang kepala suku. Cobaan telah melanda rakyatku, sesuatu yang tidak asing lagi bagi anda. Lalu aku menjadi bagian Tsabit bin Qais, lalu aku menjadikan diriku budak mukatab, aku datang kepadamu untuk meminta pertolongan akan masalahku ini"

            Lalu Rasulullah melihatnya, dengan pandangan penuh rasa kasihan, iba dan juga simpati. Lalu dia berkata

            "Apakah engkau dalam kebaikan dari hal tersebut?"

            Dia menjawab dengan berseri:

            “Apa itu, wahai Rasulullah?”

            Rasulullah berkata:

            “Aku yang akan menebus kemerdekaanmu dan menikahimu”

            Barrah menemukan jawaban yang jauh dari bayangannya, lalu dia berkata dengan tanpa ragu:

            “Ya, wahai Rasulullah”

            Rasulullah berkata:

            “Kerjakanlah”

            Hubungan keluarga karena pernikahan yang ada pada Bani Musthaliq dan putri pemimpin mereka, telah banyak berpengaruh dalam dirinya dan menjadi nilai tersendiri baginya. Sempurnalah pernikahan itu. Dan Rasulullah menebus kemerdekaannya dan menamainya dengan Juwairiyah. Tashghir (mengikutkan wazan ÝÚíá  atau ÝÚíÚíá) dalam kebiasaan bahasa Arab, menurut orang Arab mengandung makna cinta/ saling mencintai, dan Juwairiyah adalah tashghir dati kata Jariyah.

            Lalu ayahnya datang ke Madinah dalam keadaan sudah memeluk Islam untuk membebaskan putrinya yang ditawan. Dia sangat kuatir pada perlakuan salah satu suku yang ada di Madinah, ketika dia ke sana dengan membawa dua anak onta yang bagus.[137] Sampai akhirnya dia memasuki Madinah dengan tidak membawa dua anak onta tersebut.

            Dia menemui Rasulullah, dan berkata:

               “Wahai Muhammad, putriku memiliki penyakit dan ini adalah obatnya, putriku tidak memiliki penyakit sejenisnya, dan hidupnya terasa sepi”

Rasulullah menjawab:

            “ Apakah engkau mengetahui kebaikannya, apakah dia tidak dapat sembuh?”

Yakni: jika engkau menghendakinya, maka dia panas

            Harits bekata:

            “Ya”

            Lalu ayahnya menemui Juwairiyah dan menuturkan kepadanya hal itu. Dan Juwairiyah berkata:

            “Allah dan Rasul-Nya telah memilihku”

            Lalu dia jatuh dalam tangan Al-haris. Sebelum ia menuju Madinah, Rasulullah bertanya kepadanya dari dua anak onta yang menghawatirkannya. Pada saat itu, tiba-tiba mulut Al-Harits berkata:

            “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah”

            Maka Al-Harits masuk Islam yang disertai oleh Bani Musthaliq. Ini adalah sebuah karamah, dan disana terdapat karamah yang lain, yang dikisahkan oleh ‘Aisyah, dengan mengungkapkan maksudnya saja:

            Tidak cepat kabar tersiar kepada orang-orang, bahwasannya Rasulullah telah menikah dengan putri Al-Harits bin Abi Dharar. Lalu mereka berdatangan untuk memuliakan wanita pemimpin mereka, yang telah dimuliakan oleh nabi mereka dengan menikahinya. Mereka berdatangan beserta orang-orang yang ada disekitarnya dari rakyatnya untuk menggembirakannya, mereka berkata: dia adalah hati Rasulullah

            Tidak ada wanita yang lebih agung manfaatnya dalam pandangan rakyatnya kecuali dia, telah dimerdekaan berkat pernikahannya dengan Rasulullah, seratus keluarga dani Bani Musthaliq.( Sebelum dia menikah dengan Rasulullah, dia adalah istri dari Maafi’ bin Shafwan al-Musthaliqiy).

Juwairiyah hidup sebagai ibu orang-orang mukmin. Dia tidak melupakan kisah yang mengharukan yang pernah dialaminya. Dia selamat dari tidak berpakaian waktu muda, dan rakyatnya menolongnya dari kehinaan, lalu mereka masuk agama Allah. Dia dimulaikan dengan menikah dengan Muhammad Rasulullah.

Dia hidup sampai dengan masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dia meninggal pada tahun 56 Hijriyah. Marwan bin Al-Hakam, penguasa Madinah menshalatinya dan dia disemayamkan di Baqi’. Semoga Allah meridlai ibu orang-orang mukmin ini, Juwairiyah binti Al-Harits dan mengangkat kedudukannya, dan semoga aku dipertemukan dengannya dalam kelompok hamba Allah yang Shalih.

 

SHAFIYAH BINTI HAYYI

 

“Adapun sabtu, aku tidak mencintainya lagi setelah Allah mengganti jum’at untukku. Adapun yahudi, saya mengasihi mereka karena saya berasal dari sana”

Dalam permulaan tahun 7 Hijriyah pada bulan Muharram, terjadilah perang Khaibar. Setelah perang Thahanah dan hari-hari yang penuh musibah. Shafiyah binti Hayyi bin Akhtab berada di Saba dan suaminya yang bernama Kinanah bin Rabi’ bin Abi Huqaiq adalah seorang penjaga kandang singa dan juga penjara. Dia memukul leher suaminya karena dia tidak mempercayai Rasulullah dan menerima hukuman bagi dirinya.

Pada saat itu Shafiyah berusia tujuh belas tahun, dia terlihat cantik, manis dan putih bersih. Datanglah Bilal kepadanya, beserta putri paman Shafiyah, Bilal menuntun keduanya menghadap Rasulullah, melewati medan peperangan yang dipenuhi dengan orang-orang yahudi yang mati. Tiaba-tiba putri pamannya berteriak histeris dan menguraikan rambutnya dan menyebar-nyebarkan tanah. Shafiyah terdiam dan memendam rasa sedihnya.

Ketika Rasulullah melihat keduanya, ia berkata kepada Bilal:

“Jauhkan kedua syaitan perempuan ini dariku” yaitu Shafiyah dan putri pamannya

Lalu Bilal berkata:

“Allah maha pemaaf dan pengasih”

Rasulullah berkata:

“Apakah engkau menanggalkan kasih sayang dalam hatimu, wahai Bilal, ketika engkau lewat dengan dua orang wanita melewati orang-orang mereka yang terbunuh?”

Rasulullah mengetahui bahwasannya sebagian para sahabat berebut untuk mendapatkan Shafiyah untuk diri mereka sendiri. Lalu nabi menyuruh Shafiyah untuk berlindung dibelakangnya dan memberinya selendang. Hal itu adalah sebuah pemberitahuan bahwasannya nabi memilih dirinya untuk nabi sendiri.

Hal itu bukannya mengesankan dirinya, akan tetapi Shafiyah malah ingin menolaknya, dan juga bahwa sesungguhnya dia adalah putri pemimpin Hayyi dan istri pemimpin Kinanah bin Abi Huqaiq, dia tidak dapat menutupi dirinya bahwa dia adalah seorang budak dan tawanan perang. Rasulullah memperlihatkan padanya kemerdekaannya, mau menerimanya dan juga mahar untuknya, lalu dia diam.

Anas bin Malik meriwayatkan:

“Ketika Rasulullah meminang Shafiyah binti Hayyi, dia berkata kepadanya: apakah engaku memiliki cita-cita? Dia menjawab: Wahai Rasulullah aku memiliki bayangan yang sulit diperoleh dalam kemusyrikan, bagaimana mungkin Allah memperkenankan aku untuk memeluk Islam?. Rasulullah melihat kebawah salah satu dua matanya yang hijau, lalu dia menanyakan penyebabnya, dia menjawab: aku bermimpi  sepertinya rembulan telah sempurna dan jatuh menimpa rumahku, aku menceritakan hal itu kepada suamiku, Kinanah lalu dia melihat pipiku dan berkata kepadaku: Tidak apa-apa,  kecuali engkau akan dianugrahi dengan pemimpin Hijaz, Muhammad.

Rasulullah menghendaki untuk membangunkan rumah untuknya dan mereka telah pulang dari perang Khaibar. Mereka adalah kerabat dekat Shafiyah. Lalu dia melarang Rasulullah melakukan hal ini untuk dirinya. Rasulullah menyadarinya, Ketika mereka dalam pengaruh minuman keras, jauh dari Khaibar, dia menghalau nabi, lalu nabi menikahinya dan bertanya kepadanya:

“Apa yang menyebabkan penolakanmu yang pertama?”

Dia menjawab:

“Aku takut engkau akan dekat dengan orang yahudi”    

Pada malam pesta pernikahannya, Abu Ayub al-Anshari, Khalid bin Zaid menjaga kemah Rasulullah, ketika subuh Rasulullah melihat Abu Ayub mengitari kemah itu. Lalu dia bertanya:

“Ada apa denganmu, wahai Abu Ayub?”

Dia menjawab:

“Wahai Rasulullah, aku menghawatirkanmu dari wanita ini, aku telah membunuh bapaknya, suaminya dan juga rakyatnya. Tiba-tiba dia meninggalkan kekafirannya, maka aku menghawatirkanmu darinya”

Lalu Rasulullah mendoakan Abu Ayub dengan berkata:

“Ya Allah semoga engkau menjaga Abu Ayub, seperti halnya dia semalaman menjagaku”

Sebenarnya kekawatiran Abu Ayub hanya kepada Rasulullah dan bukan dari Shafiyah, akan tetapi dari penghianatan yahudi. Maka dikisahkan bahwa Zainab, istri Salam bin Musykam. Jauh-jauh mengadukan perlakuan buruk suaminya, mendatangi Rasulullah mengharapkan untuk membebaskan dirinya dari suaminya. Ketika dia merasakan kata-katanya dan tidak meminta pertolongan. Nabi memerintahkan Zainab untuk berjanji, lalu Rasulullah memukul lehernya.

Shafiyah masuk kedalam rumah nabi, menempati kamarnya, menjadi ibu bagi orang-orang mukmin. Akan tetapi dalam rumah sahabat Haritsah bin Nu’man sepi ditinggalkannya.

‘Aisyah cemburu, dan bermaksud menyelidikinya, melihatnya untuk membuktikan apa yang pernah dikatakan kepadanya, berupa kabar kecantikan dan kebaikannya, demi cintanya pada Rasulullah. Rasulullah melihat kelebat dirinya, lalu ia membuntuti ‘Aisyah. Dari jauh Rasulullah melihat ‘Aisyah memasuki rumah Haritsah bin Nu’man. Ketika ia keluar, nabi mencegatnya dengan menarik pakaiannya dan bertanya :

“Bagaimana engkau melihatnya, wahai wanita berambut pirang?”

Dia merapikan dirinya dan berkata:

“Aku melihat wanita yahudi”

Rasulullah membantah perkataan ‘Aisyah:

“Engkau jangan berkata seperti itu kepadaku, sesungguhnya Shafiyah telah masuk Islam dan Islamnya sudah bagus”

Anggapan Shafiyah sebagai wanita yahudi ini tidak saja dilontarkan oleh ‘Aisyah saja, akan tetapi juga oleh Hafsah, Zainab bin Jahsyi, serta yang lainnya, sampai akhirnya Shafiyah mendengar hal ini, lalu dia menangis.

Suatu hari, Rasulullah mendatanginya dan air matanya terlihat menetes dengan deras dari pelupuk matanya. Lalu nabi bertanya kepadanya apa yang menyebabkannya menangis, maka Shafiyah pun memberitahukan kepada nabi tentang berita yang dia dengar. Lalu nabi berkata kepadanya:

“Seyogyanya engkau berkata kepada mereka132 : Bagaimana mungkin kalian lebih baik dariku, suamiku Muhammad, bapakku adalah Harun133 dan pamanku adalah Musa”

Kata-kata Rasulullah ini menjadi penyejuk hati Shafiyah dan mententramkan jiwanya.

Dikisahkan bahwa Rasulullah berada dalam perjalanan, dan ikut serta dalam perjalanannya itu para istri-istrinya, Zainab binti Jahsyi, dan Shafiyah. Lalu tiba-tiba onta Shafiyah sakit, nabi berkata kepada Zainab, dia memiliki onta lebih:

“Sesungguhnya onta Shafiyah sakit, maka berikanlah dia onta”

Dia menjawab:

“Aku memberikannya kepada wanita yahudi itu?”

Rasullah berpaling darinya dengan kemarahan yang meluap. Dikatakan bahwasannya Rasulullah meninggalkan Zainab selama dua bulan atau mungkin tiga bulan atau mendiamkannya. Kata-kata itu menyelimuti dan merasuk dalam diri mereka sampai dengan nabi sakit dan akhirnya meninggal. Nabi melewatkan waktunya bersama Shafiyah kurang lebih tiga tahun. Dikatakan bahwasannya para ibu orang-orang mukmin berkumpul disekitar tempat tidur nabi. Shafiyah berkata:

“Sesungguhnya aku, demi Allah, wahai nabi Allah. Aku sangat mencintai perlakuan anda kepada saya”

Para istri-istri nabi yang lain saling mengerdipkan matanya satu sama lain. Mereka tidak memperhatikan kecuali perkataan Rasulullah kepada mereka:

“Berkumurlah kalian semua”

Lalu mereka berkata dengan pelan:

“Dari sebab hal apa kami harus berkumur?”

Rasulullah berkata:

“Dari kerdipan mata kalian kepada Shafiyah, demi Allah dia adalah wanita shadiqah (senantiasa berkata  jujur)”

 Pertentangan itu terus saja berlangsung sampai dengan masa kekhalifahan ‘Umar bin Khatab. Hal ini diketahui karena pembantu Shafiyah pernah datang kepada ‘Umar dan berkata:

“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Shafiyah mencintai hari sabtu dan keturunan yahudi”

Lantas ‘Umar mengirim utusan kepada Shafiyah untuk meminta penjelasan. Lalu Shafiyah menjawab:

“Adapun hari sabtu, kini aku sudah tidak mencintainya lagi semenjak Allah memberikan ganti hari jum’at kepadaku, adapun yahudi, bahwasannya aku mencintai mereka karena aku keturunan mereka”

Kebaikannya lagi adalah, bahwa dia menyukai menjalin kekerabatan walau dengan orang-orang musyrik:

Artinya: Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al-Luqman: 15)

            Shafiyah hanya diam atas tindakan pembantunya, dia telah mengetahui sepak terjang pembantunya kepada dirinya. Lalu Shafiyah bertanya kepada pembantunya:

“Siapa yang memerintahkanmu melakukan semua ini? “

Dia berkata:

“Syaitan”

Lantas Shafiyah berkata kepadanya:

“Pergilah engkau, sesungguhnya engkau terasa panas”.

            Shafiyah hanya diam saja, pada hari-hari ia difitnah oleh Usman. Diam dengan berdzikir dan bersyukur. Usman telah menyiksanya dengan caranya sendiri dengan mengurung dan mengisolisir, memutus pemberian makanan dan juga air. Dia tinggal dengan sangat memprihatuinkan, diantara rumahnya dan rumah Usman, dia memindahkan makanan dan air kerumah134  

            Dia hidup sampai dengan masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dia meninggal pada tahun 50 Hijriyah. Marwan bin Hakam menshalatinya dan dia dimakamkan di Baqi’ beserta dengan para ibu orang-orang mukmin yang lain. Semoga Allah meridlai ibu orang-orang mukmin, Shafiyah binti Hayyi, menerima pahalanya, dan menjunjung kedudukannya beserta dengan para shadiqin, para syuhada’ dan juga shalihin.

 

 

 

Romlah binti Abi Sufyan

 

 

 

 

Romlah dilahirkan tujuh belas tahun sebelum kenabian Muhammad. Dia masuk Islam pada masa permulaan Islam lahir beserta dengan suaminya, ‘Ubaidillah bin Jahsyi. Dan dia berhijrah dengan suaminya ke Habasyah dalam keadaan mengandung. Disana dia melahirkan putrinya, Habibah.

Pada suatu malam dia bermimpi. Dia melihat suaminya, ‘Ubaidillah dalam rupa yang jelek. Setelah beberapa hari, suaminya meminta tolong kepadanya dan menuangkan arak untuk diminumnya, dan tidak mudah bagi Romlah dalam permintaan suaminya ini untuk menerimanya, lalu dia meninggalkan suaminya begitu saja. Dan tidak lama kemudian suaminya meninggal dan mencampakkan Romlah.

Hubungan yang ada antara Rasulullah dan orang-orang yang berhijrah ke Habasyah tidak putus, mereka semakin mempererat dengan berita-berita orang-orang Islam dan dengan wahyu yang telah mereka ketahui ataupun hukum. Demikian juga mereka melakukan untuk mengirim putra-putra mereka menjadi pengikut Rasulullah.

Tidak diragukan, dari kembalinya Umi Habibah dari negaranya, keluarganya dan juga para muslimin. Demikian juga kematian suaminya dan terbuangnya dirinya, semuanya itu membekas dalam dirinya dan menjadikannya terlihat susah dan sedih. Akan tetapi dia senantiasa memegang teguh iman dan keislamannya. Dan senantiasa berlindung kepada Allah, lalu dia menemukan rasa aman dan kedamaian.

Apakah Umi Habibah ditinggalkan dalam deraan cobaan yang menimpanya? Tidak, demi Dzat yang telah mengutus Muhammad dengan haq.

Dia mendengar pintunya diketuk oleh seseorang, lalu dia berdiri dan membukanya. Ternyata dia adalah seorang pelayan yang bernama Abrahah utusan raja Najasyi. Dia berkata kepada Romlah:

“Sesungguhnya raja berkata kepadamu: Wakilkan dirimu kepadaku dari seseorang yang akan menikahimu, dari nabi orang-orang Arab. Dia telah mengutus kepada raja untuk melamarkanmu untuknya”

Kebahagiaan yang menyelimutinya hampir saja menerbangkannya. Lalu dia mencopot gelang yang ada pada tangannya yang terbuat dari perak dan memakaikannya kepada pelayan itu, sebagai tanda kebahagiaannya. Dia mengutus kepada pemuka orang-orang yang berhijrah dari rakyatnya, bani Umayyah, Khalid bin Sa’id bin ‘Ash, mewakilkan padanya dalam pernikahan dirinya.

Lalu raja Najasyi mengundang orang-orang yang berhijrah ke istananya. Ketika mereka semua telah berkumpul, dia berkata:

“Sesungguhnya Muhammad Ibnu ‘Abdillah berkirim surat kepadaku untuk menikahkan dirinya dengan Ummu Habibah binti Abi Sufyan, siapa pemimpin kalian yang akan menjadi wali Ummu Habibah?”[138]

Mereka berkata:

“Dia telah mewakilkan dirinya kepada Khalid bin Sa’id bin ‘Ash”

Lalu raaja Najasyi berkata kepadanya:

“Nikahkanlah dia dari nabi kalian semua, aku akan memberikan mahar darinya untuk Ummu Habibah empat ratus dinar”

Khalid berkata:

“Aku mengabulkan apa yang dimintakan Rasulullah dan aku nikahkan Ummu Habibah kepada Rasulullah”

Raja Najasyi mengadakan perayaan pesta pernikahan bagi mereka dengan berkata:

“Duduklah kalian semua, sesungguhnya sunnah para nabi ketika mereka menikah adalah memberikan makanan pada pernikahannya”   

            Pada pagi hari selanjutnya, datanglah pelayan Najasyi kepada Ummi Habibah dengan membawakan hadiah-hadiah dari istri raja, seperti barang antik, minyak anbar, dan juga wewangian. Ummu Habibah memberinya lima puluh dinar dari mahar yang dia terima dan berkata:

            “Kemarin aku memberimu gelang, karena aku kemarin tidak memiliki uang. Dan sekarang Allah telah memberiku uang”

            Pelayan itu meolak untuk menerimanya, seperti halnya ia menolak gelang pemberiannya. Dan berkata:

            “Raja menyuruhku untuk tidak mengambil sesuatu apapun suatu kehormatan bagiku pemberian ini dan ini adalah hadiah-hadiah istri-istri raja kepadamu, terimalah dengan baik dan pujilah Allah.”  

            Setelah beberapa tahun, sampai akhirnya terjadi perang Khaibar dan orang-orang yang berhijrah kembali dari Habasyah ke Madinah, dan Umi Habibah juga kembali bersama mereka.

            Sesuatu yang membekas dari nabi adalah pidatonya yang paling terkenal ketika menyambut kedatangan sahabat-sahabatnya yang berhijarh, yaitu orang-orang yang lama perginya:

                  “Aku tidak melihat sesuatu yang memikat hati seorang ibu dari perang Khaibar dengan kedatangan Ja’far dan kawan-kawannya”

            Salah satu hal yang juga menakjubkan adalah bahwa istri Rasulullah, Shafiyah binti Hayyi pemimpin Bani Nadlir turut serta dengan putrinya, juga dengan Umi Habibah binti Abi Sufyan pemimpin Quraisyi. Telah masyhur pada mulut Abi Sufyan bahwasannya dia berkata, sewaktu ia mengetahui Rasulullah telah menikahi putrinya, Umi Habibah:

            “Itu adalah sebuah kecelakaan, laksana terpotong hidungnya”

            Umi Habibah tinggal disamping istri-istri Rasulullah, yang sudah diketahui kedudukannya, pangkatnya serta batasan-batasannyadan dia tidak melangkah dengan mereka dalam kecemburuan mereka. Dia telah melewati dan mengalami hijrah juga pertolongan, dengan segala kesusahan dan cobaannya, cobaan yang mendera diri Umi Habibah. Dai membuka lembaran-lembaran baru yang memancarkan cahaya-cahaya keimanan yang terang.

            Keagungan, ketenaran dan kedudukan yang dia peroleh adalah dari bapaknya, Abi Sufyan. Pada hari kedatangan para musafir Quraisyi ke Madinah yang melahirkan perjanjian Hudaibiyah, ketika Abu Sufyan datang hendak menolak untuk menguatkan perjanjian, dan memperbarui waktu perjanjian. Pada awalnya ia bermaksud kerumah putrinya, Umi Habibah.

            Umi Habibah mengajaknya masuk kedalam rumahnya, Umi Habibah tidak melihatnya ketika dia hijrah ke Habasyah.[139] Dia mendatangi pemimpinnya dengan sembunyi-sembunyi, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

             Dia beruluk salam dan masuk kedalam, dia menginginkan untuk duduk diatas tempat tidur Rasulullah, lalu Umi Habibah diterlihat tergesa-gesa dan membiarkannya. Lalu dia berkata dalam ketaktuban:

            “Wahai putriku, apakah engkau mencintai aku dari tempat tidur ibu yang mencintainya dariku”

            Jawaban Umi Habibah merindukan pemimpin untuk memuliakannya dan mengkhusu’kan hati karena menghormati dan mulut terdiam dan orang tua itu berkata sendiri, kata-katanya memisah antara iman dan kafir.

            Umi Habibah berkata:

               “Ini adalah ranjang Rasulullah dan engkau adalah orang musyrik, maka aku tidak suka engkau mendudukinya”

            Abu Sufyan berkata dengan penuh luapan emosi, dia meninggalkan rumah:

            “Pasti akan datang kepadamu wahai putriku, banyak kesusahan”

            Dia menjawab:

            “melainkan kebaikan dan semua kebaikan”

            Abu Sufyan tetap dalam kekuasaan kemusyrikan sampai dengan peristiwa penaklukan Makkah lalu dia memeluk Islam, lalu dia membuka kesusahan Umi Habibah yang membebani. Umi Habibah tetap dalam keislaman dan keimanannya, untuk tetap tinggal dirumah Raulullah sampai dengan dalam waktu-waktu yang terasa susah yang menyakitkan, tidak diketahui darinya tempat tinggal dan juga kata-kata yang menggambarkan adanya sebentuk solusi. Perselisihan dan keributan semakin menjadi-jadi di akhir-akhir kekhalifahan Usman.

            Ketika dia menderita sakit dan dicoba dengan waktu perpisahan, untuk kemudian menghadap Allah. Berkumpullah para kerabatnya disampingnya, dia berkata kepada ‘Aisyah:

“Para kerabatku telah berkumpul disandingku, semoga Allah mengampuniku dan juga kepadamu”

‘Aisyah menghalalkan hak Adam yang mungkin ada padanya dan memberikan maaf kepadanya, Umi Habibah berkata:

“Rahasiakanlah hal ini untukku  maka Allah akan menjaga rahasiamu”

Demikian juga diantara dia dengan Umi Salamah

Dia meninggal pada tahun 44 Hijriyah[140] dan saudaranya, Mu’awiyah dalam masa kekuatan kekhalifahannya, dia adalah saudara khalifah dan yang tidak mungkin dilupakan selamanya adalah bahwa ia istri nabi, ibu orang-orang mukmin. Dia meninggal dengan tenang dan dimakamkan di Baqi’. Semoga Allah meridlai ibu orang-orang mukmin, Umi Habibah, Romlah binti Abi Sufyan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Maimunah bin Al-Harits

 

“Adapun dia adalah orang yang yang paling bertaqwa dan senang menjalin persaudaraan, demi Allah”

            Diakhir tahun 7 Hijriyah dan setelah perang Khaibar, Rasulullah dan orang-orang Islam bersiap-siap untuk mengikat perjanjian, atau yang bisa dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah, ketika mereka mendatangi Makah, orang Quraisyi mengosongkan Makkah dan orang-orang Islam memasuki Makah, Rasulullah mendahului mereka dengan menaiki ontanya, Al-Qashwa dan ‘Ubaidillah bin Rawahah memegang tali kekang , dengan bersenandung menarik simpati:

Menyingkirlah wahai orang-orang kafir dari jalan Rasulullah  #

Menyingkirlah kalian semua kebaikan ada pada Rasulullah.

Ya Tuhanku sesungguhnya aku beriman dengan perkataan Rasulullah #

Aku mengetahui hak Allah dalam penerimaannya

 

 

            Orang-orang Makkah menjawabnya dengan talbiyah:

“Labbaik allahumma labbaik, labbaik laa syariika laka labbaik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa starika laka labbaik”

            Suara Rasulullah terdengar keras, dia berkata:

“Laa ilaaha illallah wahdahu, shadaqa wa’dahu, wanasara ‘abdahu, waa’azza jundahu wahazamal ahzab wahdahu”

            Orang-ornag musyrik telah siap untuk berperang, karena mengira orang-orang Islam sedang dalam keadaan lemah. Demam Yatsrib di Madinah telah menjadikan mereka terlihat payah, mereka menungu, mereka melihat cerita hal ini. Nabi memerintahkan sahabatnya untuk mempercepat thawaf mereka disamping ka’bah. Batas akhir ketiga yang pertama, mereka menghadang pasukan orang-orang musyrik sampai ke sarang mereka.

            Hati Barrah binti al-Harits bedebar-debar melihat Rasulullah. Dia melihat Rasulullah dan dia dibiarkan begitu saja oleh suaminya, Abi Zahm bin Abdil ‘Uzza[142] dia sekarang dalam perlindunagn saudaranya, Umi Fadl istri ‘Abbas bin ‘Abdil Muthalib, paman nabi, dia adalah orang Islam.

            Dia memberitahukan semua isi hatinya kepada saudaranya, Umi Fadl, bahwasannya ia diminta untuk menjadi istri Rasulullah. Dan Umi Fadl menceritakan hal ini kepada suaminya, mengenai apa yang dialami Barrah. Dan Barrah mewakilkan perkaranya kepadanya.

Ibnu Abbas tidak menambahkan dalam memangku amanat yang dimintakan dan menyampaikan surat. Dia pergi menemui Rasulullah dan mengutarakan permasalahan Barrah. Dia menawarkan Barrah kepada Rasulullah untuk diperistri. Dan Rasulullah menerimanya dan memberinya mahar empat ratus dirham. Rasulullah mengutus putra pamannya, Ja’far bin Abi Thalib. Dia adalah suami saudara perempuan Barrah, dari ibunya Asma’ binti ‘Umais untuk melamar Barrah dan menikahkan Rasulullah dengan Barrah, adapun wali dari Barrah adalah pamannya, Al-‘Abbas.

Ketika Barrah mendengar berita yang jelas, dia sedang berada diatas onta dan dia terjun dari atas onta dan berkata:

“Wahai onta, ada apa dengan Rasulullah?”[143]

 Umat Islam tinggal di Makkah dalam beberapa hari , sampai dengan terjadinya kesepakatan perjanjian Hudaibiyah. Ketika waktunya hampir habis, datanglah utusan Quraisyi meminta Rasulullah untuk meninggalkan Makkah dan Rasulullah berkata kepada mereka:

“Jika kalian meninggalkanku, maka kalian tidak akan dapat tinggal menetap diantara keadaan kalian sekarang ini dan aku dapat membuatkan kalian makanan maka mendekatlah kepadaku”

Mereka menjawab dengan jawaban yang sangat kasar:

“Kami tidak butuh makananmu, pergilah engkau dari kami”

            Nabi tersenyum, dan memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap-siap pergi. Dan beliau meninggalkan budak perdikannya yang bernama Aba Rafi’ untuk mendatangi Barrah.

            Dalam suatu tempat yang biasa disebut dengan Saraf-dekat Tan’im- yang hanya menempuh sedikit perjalanan dari Makkah, Abu Rafi’ bersama dengan Barrah bertemu dengan Rasulullah. Disana, Rasulullah keluar dari rumah di Makkah yang dibangunnya untuk Barrah, dan Rasulullah menamainya dengan Maimunah dengan menisbatkan keagungan karena dia telah memasuki Makkah sebagai ibu negara, setelah pergi selama tujuh tahun. Lalu dia pindah ke Madinah dan dia menempati kamar sendiri, berbeda dengan lainnaya, para ibu orang-orang mukmin yang lain.

            Dia tinggal dengan kerelaan dan tidak diketahui mengenai dirinya, kecuali dia adalah seorang yang senantiasa berpuasa dan menghidupkan malam untuk beribadah, melaksanakan kebaikan.

            Dia hidup, setelah wafatnya Rasulullah sampai dengan tahun 51 Hijriyah. Berbarengan dengan dia juga berhaji pada tahun itu, dan penyakit menyerangnya dan dia berwasiat untuk dimakamkan, setelah kematiannya ditempat dimana nabi membangunkan rumah untuknya.

            Dengannya putra saudaranya, Abdullah bin Abbas. Dia membopong tubuhnya dan menemaninya dan menjaganya sampai dengan dia berwasiat. Semoga Allah meridlai, ibu orang-orang mukmin yang terakhir, Maimunah binti Al-Harits al-Hilaliyah dan menempatkannya dalam sorga Firdaus, dan mengumpulkan saya dengan dia dibawah bendera Rasulullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mariyah al-Qibthiyah

 

Hatib bin Abi Balta’ah adalah utusan Rasulullah kepada raja Maqauqis, pemimpin bangsa Qibthi di Mesir pada tahun 7 Hijriyah, dia membawa surat Rasulullah, didalamnya tertulis:

 

Bismillahirrahmanirrahiim

Dari Muhammad bin Abdullah kepada Maqauqis, pemimpin bangsa Qibthi. Semoga keselamatan terlimpah kepada orang yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya saya mengajak engkau memeluk Islam. Masuklah Islam, maka engkau akan selamat. Allah akan memberimu balasan dua kali, jika engkau berpaling, maka padamulah dosa rakyat Qibthi.

Artinya: Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. Al-Imran: 64)

            Ini adalah salah satu surat dari beberapa surat yang dikirim Rasulullah kepada para raja dan juga para pemimpin umat, mengajak mereka untuk masuk Islam. Hal ini terjadi setelah perjanjian Hudaibiyah. Orang-orang Quraisyi telah memberitahukan kepada Rasulullah mengenai kekuatan politik dan kekuasaan pada sebuah zaman. Akan tetapi mereka tidak beriman kepada Rasulullah.

            Jawaban-jawaban dari para raja dan pemimpin berbeda-beda. Antara yang mendengarkan dan tidak mengabulkan atau mendengarkan dan mengingkarinya atau menginginkan membunuh Rasulullah dan menyobek suratnya, seperti yang dilakukan raja Kisra.

            Adapun Maqauqis, setelah membaca surat itu, dia berkata kepada Hatib:

            “Aku telah mengetahui bahwasannya nabi pastilah akan tinggal, aku menyangka bahwasannya ia berasal dari Syam, karena disanalah tempat keluarnya para nabi. Lalu aku melihat nya keluar dari tanah Arab, akan tetapi rakyat Qibthi tidak patuh padaku”

            Lalu sang raja memanggil juru tulisnya menghadap, lalu dia mendiktekan balasan kepadanya:

            “Aku sudah membaca suratmu, dan aku paham yang engkau tuliskan dalam surat itu dan apa yang engkau kehendaki. Aku juga mengetahui bahwasannya nabi pastilah akan tinggal dan aku mengira dia keluar dari Syam. Aku memuliakan kerasulanmu dan aku mengirimu dua orang pelayan yang keduanya memiliki kedudukan mulia dalam bangsa Qibthi. Pakaian dan juga kendaraan untuk engkau naiki. Semoga keselamatan tetap terlimpah kepadamu”

            Ragam hadiah itu-dengan mendasarkan pada dua pelayan-adalah seorang budak yang bernama Maabur, seribu mitsqal emas, dua pakaian yang terbuat dari sutra Mesir[145] yang Indah, Bighal[146] yang berwarna kelabu yang dinamai dengan Daldal, keledai yang diberi nama Ya’fur , beberapa onta yang sudah tua, parfum dan juga minyak misik.

            Dua pelayan itu adalah dua bersaudara, yaitu Mariyah dan Sirin. Keduanya dilahirkan disebuah desa yang terletak di Mesir bagian atas yang biasa disebut dengan daerah Hafn yang dekat dengan negara Anshina, pada sisi sebelah timur bengawan Nil menghadap dua bukit. Kedua ornag tuanya adalah Bangsa Qibthi, ibunya beragama kristen Romawi.

            Keduanya pindah ketika masih berusia remaja ke istana Maqauqis, sehingga perkembangannya, pendidikannya proses pematangan dirinya berada dalam istana Maqauqis. Dikisahkan bahwa Hatib merayu keduanya untuk memeluk Islam, sebelum keduanya sampai di Hijaz dan memasuki Madinah. Dan dia mengatakan kepada keduanya dari Rasulullah omongan yang mengikat. Allah menurunkan cahaya keimanan kedalam hati mereka, lalu keduanya memeluk Islam.

            Keduanya dipertemukan dengan Rasulullah, lalu Rasulullah memuliakan dan mengagungkan keduanya. Rasulullah memilih Mariyah sebagai istrinya dan menyerahkan saudaranya, Siirin kepada sahabatnya, Hisan bin Tsabit. Mariyah tinggal dirumah Haritsah bin Nu’man, dekat masjid. Rasulullah senantiasa mengunjunginya dan senantiasa meluapkan cintanya kepadanya, karena kekaguman kepadanya. Dia yang memiliki bagian yang terhalang sebagai ibu orang-orang mukmin.

            Setelah lewat beberapa tahun, Mariyah hamil dari Rasulullah, lalu dia melahirkan putra yang dinamakan oleh Rasulullah dengan Ibrahim. Karena mencari keberuntungan dengan nama bapak para nabi, Ibrahim ‘Alaihi salam.

            Kebahagiaan memenuhi hati Rasulullah dan berita ini menyebar keseluruh umat Islam. Rasulullah memilihkan rumah baru didaerah ‘Awali[147] dia berkata ketika Mariyah melahirkan:

            ‘”Anaknya telah memerdekakannya”

            Dia sekarang menjadi seorang ibu, setelah sebelumnya masih berstatus tawanan. Para sahabat Anshar saling berebut untuk menyusui Ibrahim, setelah Rasulullah mengambil tujuh ekor kambing khusus untuk menyusui Ibrahim dengan susunya, ketika air susu Mariyah sedikit.

            Selang beberapa bulan, anak itu tumbuh menjadi besar, dan Rasulullah semakin menyayanginya. Lihatlah apakah Mariyah menjadi sibuk, dari kecemburuan para ibu orang-orang mukmin?

            ‘Aisyah berkata, seperti yang dikisahkan oleh ‘Amrah binti Abdurrahman al-Anshariyah:

            “Aku tidak pernah menggoda seorang wanita, kecuali kepada Mariyah, karena dia sangat cantik, yang menjadikan Rasulullah mengaguminya. Pada awal kedatangannya, Rasulullah menempatkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, dia adalah pelayanku. Sepanjang malam Rasulullah berada disisinya, lalu aku mencemaskannya, dan Rasulullah memindahkannya ke Al-‘Aliyah. Rasulullah berkali-kali mendatanginya, yang terlihat lebih sering daripada mendatangiku. Lalu Allah memberinya putra, Allah memuliakan Rasulullah dengan putra itu”

            Dikisahkan, suatu hari Rasulullah sedang menggendong Ibrahim hendak menemui ‘Aisyah dan memanggilnya dengan mesra supaya ia melihat anak kecil yang menyerupai bapaknya yang mulia. ‘Aisyah merasa panas dan menjadikan bayi itu menangis, lalu dia berkata:

            “Aku tidak melihat adanya kemiripan antara engkau dengannya”

            Lalu Rasulullah meninggalkan ‘Aisyah, dia paham akan kecamuk yang ada dalam diri ‘Aisyah.

            Setelah satu setengah tahun berlalu-delapan belas bulan atau tujuh belas bulan. Bayi itu tumbuh menjadi besar dan mulai bisa berbicara, berkat kekuasaan Allah dan juga kebijaksanaan-Nya, yang memiliki kuasa untuk menarik kembali segala yang ada, membenamkan bintang dan menghilangkan bulan.

            Ibrahim terkena penyakit panas dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya. Rasulullah mendatanginya untuk menjenguk. Rasulullah terlihat sangat tersiksa dan susah, lalu Rasulullah meraih Ibrahim dari kamar ibunya dan membopongnya menuju kamar Rasulullah, kedua matanya meneteskan air mata dan berkata:

            “Wahai Ibrahim, sesungguhnya aku tidak meminta darimu sesuatu dari Allah”

            Maka kembalilah ruh yang suci kepada Tuhannya, lalu Rasulullah menundukkan badan dan hatinya dan berkata:

            “Wahai Ibrahim, jika ini adalah perkara yang hak dan janji yang benar, dan orang-orang yang terakhir dariku akan bertemu dengan orang-orang yang mendahului dariku, karena kesedihanku kepadamu, kesedihan yang lebih mendalam dari ini, sesungguhnya aku sangat bersedih atas kematianmu, mata terlihat menangis dan hati sangat terasa sedih, dan aku tidak akan berkata yang dapat menjadikan Allah murka”

            Rasulullah menoleh kepada Mariyah dan berkata kepadanya dengan pelan:

            “Ibrahim adalah putraku dan dia meninggal dalam susuanku. Maka baginya ada dua perempuan yang pekerjaannya menyusui anak orang lain, yang akan menyusuinya dengan sempurna didalam sorga.”[148]

            Ibrahim dimandikan dan dibaringkan diatas dipan kecil dan Rasulullah menshalatinya dan dikuburkan di Baqi’. Kematian Ibrahim ini bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari, dan sebagian orang berkata:

            “Ini adalah gerhana karena kematian Ibrahim”

            Rasulullah menoleh kepaad mereka dan berkata:

            “Sesungguhnya Rembulan dan matahari adalah dua bukti dari beberapa bukti Allah, keduanya tidak akan gerhana karena kematian seseorang dan juga tidak karena hidupnya seseorang”[149]

            Dalam keadaan timpang yang melanda Rasulullah ini, berupa kesedihan dan keterputusasaan-keadaan hati anak adam siapapun akan seperti itu-dia tidak melupakan amanat kerasulan dan kenabian. Dia tidak henti-hentinya mengingatkan kembali, memalingkan, yang terlihat penting pada Mariyah berupa rasa cemburu, hasud dan dengki, akan tetapi Allah menguasakannya dengan pendapatnya. Dia tidak mengambil wataknya pada masa yang lama.

            Orang-orang munafik mengharapkan pembantunya, Saabur yaitu orang yang datang dengan dirinya dari Mesir, mendatanginya dan mereka berkata:

            “’Wahai Allij,[150] masuk dan jadilah obat”

Rasulullah memerintahkan kepada Ali untuk membuktikan hal ini, lalu memukul tengkuk Saabur. Ali mendatangi Saabur dan menemukannya didalam sumur yang belum di bangun, dia sedang mendinginkan badannya. Lalu Ali berkata kepadanya:

            “Keluar”

            Lalu Ali meraihnya dan mengeluarkannya dari sumur dengan telanjang. Dan ternyata dia adalah seorang yang dikebiri[151] Ali mencukupkan dirinya dari Saabur dan kembali kepada Rasulullah, lalu berkata:

            “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia adalah seorang yang dikebiri”[152]

            Maariyah hidup, sampai dengan kematiannya pada tahun 16 Hijriyah  pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatab. Setelah wafatnya Rasulullah, dia masih hidup dan sepertinya dia dalam penyendirian merasakan sesuatu yang menyusahkannya yang terpendam dalam hatinya dan tempatnya tidak gelap kecuali untuk berziarah kemakam Rasulullah atau berziarah ke makam putranya, Ibrahim di Baqi’ atau menunjungi saudaranya, Siriin.

            Dikisahkan bahwa Umar mengumpulkan orang-orang untuk menggotong jenasahnya pada hari kematiannya, dia menshalatinya dan dia dimakamkan di Baqi’. Semoga Allah meridlai Mariyah al-Qibthiyah dan mengangkatnya ke sorga, menjadi tempat tinggalnya. Aku tidak lupa untuk mengingatkan diriku dan orang-orang muslim semuanya akan wasiat Rasulullah:

“Sesungguhnya kalian akan menaklukkan Mesir, maka berbuat baiklah kalian kepada rakyat Mesir, karena mereka memiliki tanggungan dan kasih sayang”

 

 

 

Rihanah binti Syam’un

 

 

Dikatakan dia adalah Rihanah binti Syam’un bin Zaid dan dikatakan bahwa dia adalah Rihanah binti Zaid Ibnu Umar bin Qinanah atau Khanafah[153] ibnu Ishaq berkata:

“Dia dari keturunan Umar bin Quraidhah”

Ibnu Sa’dah berkata:

“Dia adalah Rihanah binti Zaid bin ‘Umar ibnu Khinafah bin Syam’un bin Zaid dari bani Nadr dan dia deperistri seorang lelaki dari Bani Quraidhah, yang konon seorang pemimpin Bani Quraidhah . lalu hal ini juga diriwayatkan oleh Al-Waqidi.[154] Dan datang dalam memahamkan para wanita oleh Umar juga menyetujui demikian” (Al-Ishabah: juz 1 halaman 474)

Dia adalah sosok yang rupawan dan sopan yang muncul dengan Bani Quraidhah pada tahun ke 6 Hijriyah. Dia menolak Islam dan tetap menjadi wanita yahudi. Lalu Rasulullah memerintahkannya untuk ‘uzlah (menyendiri). Lalu Rasulullah mendatanginya dan berkata kepadanya:

“Jika engkau memilih Allah dan Rasul-Nya maka Rasul-Nya akan memilihmu untuk dirinya sendiri”

Dia menjawab:

“Aku memilih Allah dan Rasul-Nya”

Ketika dia memeluk Islam, maka Rasulullah memerdekakannya dan menikahinya dan memberinya mahar dua belas auqiyah.[155] Dan Rasulullah merayakan pestanya di rumah Mundzir bin Qais. Rasulullah menggilinya seperti halnya Rasulullah menggilir istri-istrinya yang lain dan memberinya batasan.

Rasulullah kagum kepadanya, dia tidak meminta kepada Rasulullah, kecuali Rasulullah memberikan permintaannya. Ketika dia diberikan batasan, maka cemburunya semakin menjadi. Lalu Rasulullah mentalaq satu dirinya. Dia dirumahnya merasa tidak bebas, dia terlihat susah dan banyak menangis. Lalu Rasulullah mendatanginya, dalam keadaan seperti itu, lalu Rasulullah meruju’nya kembali

Dalam sebuah riwayat, bahwasannya Rasulullah menawarkan untuk menikahinya dan memberinya batasan. Lalu dia berkata:

“Wahai Rasulullah, jangan seperti itu, akan tetapi tinggalkan aku dalam kerajaanmu. Hal ini lebih memudahkan engkau dan aku” [156]

Dia meninggal sekembalinya Rasulullah dari haji Wada’ dan dimakamkan di Baqi’ di Madinah.

Di jelaskan kepada saya, bahwasannya antara dia menjadi tawanan dan kematiannya, terbentang waktu yang lama mendekati beberapa tahun. Dari perkara yang menjadikan saya condong kepada yang diriwayatkan Ibnu Ishaq dari keislamannya  dan dia menjadi istri Rasulullah.

Rasulullah menawannya dan dia masih dalam keadaan yahudi, lalu Rasulullah menemukannya untuk dirinya sedniri, ketika dia beserta dengan para sahabatnya, ketika dia mendengar kedua sandalnya jatuh dibelakangnya dan dia berkata:

“Ini adalah Tsa’labah bin Sa’yah, menghiburku dengan keislaman Rihanah”

Lalu nabi telihat bahagia karenanya. Dan berjanji kepada Rihanah akan memerdekakannya dan menikahinya dan memberinya batasan, lalu Rihanah berkata:

“Wahai Rasulullah, jangan seperti itu, akan tetapi tinggalkan saya dalm kerajaanmu. Hal ini lebih memudahkan aku dan engkau, lalu nabi meninggalkannya”

Semoga Allah meridlainya dan mengampuniku dan juga dia dan menemukanku dengannya termasuk dalam golongan hamba Allah yang shalih dan memuliakan tempatnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penutup

 

Aku telah mengembara dengan istri-istri para nabi, dalam beberapa masa. Aku berhenti pada tepian yang agung dan cita-cita dari kehidupan mereka. Tidak ada pada setiap diri mereka suatu masa dalam kehidupan mereka sebentuk pengiayaan ataupun penyangkalan, kebanyakan mereka sepadan atas sesuatu yang diemban nabi dari amanat berupa risalah dan kensekwensi dari risalah tersebut.

            Adapun tindakan yang harus dilakukan atau konsekwensi dari pembahasan adalah berupa bersentuhan dengan hadits-hadits terakhir dari para istri-istri nabi, ibu bagi orang-orang mukmin dan yang lainnya. Yang disertai dengan isyarat yang jelas mengenai watak mereka yang telah menemani suaminya, supaya tidak hilang dalam diri para pembaca adanya dua keserupaan yang keduanya mengguncang, mengundang kejelekan. Dua hal yang terlihat asing yang berasal dari barat, untuk mengetahui kedudukan yang sebenarnya dari Rasulullah, dua hal itu adalah:

  1. Keserupaan kata At-Ta’addud .
  2. Keserupaan kata Al-Istiksar

Aku telah menerangkan keduanya dalam kandungan hadits dan pembahasan yang ada. Bukan untuk menutupi kenyataan ataupun memperpanjang alasan. Dalam beberapa kitab para ulama dan juga orang-orang yang membahas dalam hal ini, khususnya dalam kitab ini terdapat sesuatu yang istimewa dan banyak memberikan manfaat.

Aku memintakan kepada Allah untuk memberikan manfaat kepada saya atas yang aku wartakan ini dan juga bermanfaat kepada kita semuanya. Dan memberiku ridlo-Nya. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala yang ia kehendaki. Dan Dzat yang bersegera dalam mewujudkannya. Dia adalah sebaik-baik Raja dan penolong. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah yang maha luhur dan kuasa.

Akhir dari omonganku adalah bahwa sesunguhnya segala puji adalah milik Allah, Tuhan seru sekalian alam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

1.      Al-Qur’an

2.      Kitab Shahih (Shahih Bukhari dan Muslim)

3.      Kitab Sunan

4.      Sejarah karangan Ibnu Hisyam

5.      Sejarah dan Kisah para nabi karangan Ibnu Katsir

6.      Kisah para nabi karangan ‘Abdul Wahab An-Najar

7.      As-Sumthu As-Samin karangan Imam Thabari

8.      Tarikh Ath-Thabari

9.      Tarikh Ibnu Atsir

10.  Sayyidaat bait an-Nubuwwah (‘Aisyah ‘Abdurrahman)

11.  Surat Buduli terjemah Arab Farj wa As-Sahar

12.  Taurat Ahlil kitab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Dibedakan penulisan tentang biografi/diri Rasulullah Saw dengan nama SIRAH, ini sudah dimengerti oleh umat Islam, sampai dengan mereka yang non muslim. 

[2] Bulan Ramadlan 1423 H, semoga Allah memberikan balasan yang setimpal keapda para penulis buku tersebut.

[3] HR. As-Sadi

[4] Al-Ishabah: karya Ibnu Hajar

[5] Kejelekan mereka berdua = aib mereka berdua, semua kejelekan manusia akan nampak oleh manusia.

[6] Dalam Taurat juga disebutkan, bahwa nama saudara perempuan Qabil satu ibu adalah Qulaima (Hanya Allah yang mengetahui dengan pasti)

[7] HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Turmudhi, Nasai dan Ibnu Majjah

[8] HR. Turmudzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah

[9] Namanya ini juga terdapat dalam sebagian kisah-kisah israiliyat, dan saya tidak mengukuhkannya dan juga tidak menafikannya. Hanya Allah yang maha tahu dan maha bijaksana

[10] Para ahli sejarah juga menamakannya demikian

[11]  Dikatakan bahwa anak perempuannya ini meninggal sebelum topan melanda.

[12] Kebanyakan riwayat dan paling terkenal mengatakan bahwa al-judiy adalah deretan pegunungan Ararat di Turki

[13] Kebanyakan ahli tafsir dan sejarah berpendapat bahwa kata Aazar dalam firman Allah:

Artinya: Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata". (QS. Al-An’am: 74)

Adalah sebuah julukan atau sifat dan bukan nama orang

[14] Kematian Namrud setelah kejadian ini begitu menggenaskan

[15] Nanti akan datang pula pembahasan mengenai istri Luth 

[16] Yang sekarang dikenal dengan nama kota Ibrahim kekasih Allah.

[17] Dikatakan bahwa namanya adalah Sanan bin ‘Ulwan, dikatakan pula Umar bin Imrii al-Qais

[18] Riwayat Bukhari dan Ahmad 

 

[19] Maksudnya: Apa yang kamu ketahui mengenai berita tentang kejadian ini?

 

[20] Yang dikenal dengan sebutan: Aghwarzaghar

[21] Hal ini dengan menyandarkan pada perkataan kepada Sarrah: semoga kita diberikan rizki

[22] Pada dasarnya Allah cukup mengutus seorang malaikat saja, akan tetapi Allah menginginkan untuk mengutus banyak malaikat, untuk menyampaikan sesuatu kepada suatu umat atas kejelekan dan kerusakan mereka. 

[23] Dikatakan bahwasannya malaikat dilangit mendengar suara-suara kokok ayam jantan dan juga lolongan anjing

[24] Sijjil adalah batu cadas tanah Persia. Merupakan batu yang sangat keras. Mandhud adalah saling berurutan ketika turun (bertubi-tubi)

[25] Sekarang dikenal dengan nama laut mati yang terletak antara Yordania dan Palestina.

[26]  Dalam sebuah riwayat lain dikatakan: menghentakkan kakinya

[27] Maksudnya: dalam tujuan yang ketujuh

[28] Maksudnya: sumberan yang muncul tersia-sia diatas bumi

[29] Al-jari berarti wakil, yang dimaksudkan disini adalah wakil dari mereka untuk mengutarakan kehendak mereka

[30] Dalam Taurat juga disebutkan demikian

[31] Berkaitan dengan Ishaq dalam menjadi kabar gembira, bahwasannya ia adalah putra laki-laki dari Sarrah dan juga menjadi nabi. Dan dibelakang Ishaq ada Yakub, yang juga menjadi nabi

[32] Dikatakan disebelah Hijr Ismail.

[33] Adapun Hajjun menjadi nama pemakaman umum orang-orang Makkah

[34] HR. Muhamad Baaqir dari Ali Zainul Abidin

[35] Semoga saja Ismail melihat sesuatu yang menjadi maksud kedatangan Ibrahim

[36] Pada bab 24 dalam kitab injil dalam pembahasan  perjalanan penciptaan.

[37] Qishashul Anbiya, Abdul Wahab an-Najjar, hal. 144

[38] Maksudnya adalah yang pernah dibebaskan dari perbudakan 

[39] Aram adalah Babilonia

[40] Khuzamah adalah lobang dari rambut yang dijadikan dalam sela hidung onta untuk mengikatkan tali kekang

[41] Dari keterangan ini bahwasannya ia adalah putri saudaraku Ibrahim

[42] Saudara laki-lakinya

[43] Saya menyampaikan hal ini dengan bercampur-campur dan secara umum saja

[44] Ibnu Katsir juga menamakannya demikian

[45] Dikatakan juga Liyatun ganti dari Liyaun, seperti halnya perobahan pada nama Rahil menjadi Raasyil. Adapun Zulfa adalah pembantu Liya dan Balha adalah pembantu Raahil.

[46] Saudara Rifaqah, paman dari ‘Aish dan Yakub

[47] Lalu hal ini di nasakh (diganti)

[48] Ini adalah awal kenabiannya

[49]  Itu adalah Baitul Muqaddas saat ini, dengan berdasar pada Taurat

[50]  Watak yang muncul dari bersinggungan atau berandai-andai yang menimbulkan kecondongan diri seperti yang dikisahkan dalam taurat mengenai para nabi dan istri-istrinya. Keduanya laksana kekasih yang yang baik atau memiliki sifat mulia dan diberikan kecerdasan

[51]  Dikota Shaidan, disebelah selatan Lebanon terdapat dua makam nabi, yang dikenal dengan nama nabi Syam’un dan nabi Shaidun, yang diketemukan oleh orang-orang israel setelah mereka melakukan penyerbuan ke Lebanon pada 1982. lalu mereka mnegmbalikannya seperti semula, membangunnya, memperbaruinya, serta mempercantik. Mereka berkeyakinan bahwa dia adalah Zabalun, salah satu putra Yakub.  

[52]  Atau Mansya’, mereka menyangka bahwasannya ini adalah nama yang umum menurut orang-orang yahudi. Dia adalah Afrayim, putra nabi Yusuf. 

[53] Perempuan yang menggoda nabi Yusuf didalam rumahnya. Ini adalah namanya menurut riwayat yang masyhur. Lihat buku saya yang berjudul Yusuf dan Wanita yang Agung yang membeberkan kisah yang tertulis dalam Al-Qur’an 

[54] Hadits ini shahih. HR. Bukhari dan Ahmad 

[55] Ini adalah kata-kata yang terdapat pada kitab Taurat

[56] Demikian juga Imam Bukhari dan Nasai meriwayatkan demikian. Ar-Rajul: pemuda

[57] Al-Andar, dalam bahsa orang Syam dikenal dengan Al-Biidar dan bahasa orang Mesir dikenal dengan Al-Jaran

[58] Nama ini tidak ada, akan tetapi tidak lantas disingkirkan begitu saja. Nama ini tidak disebutkan dalam hadits, juga dalam riwayat-riwayat para ahli sejarah dan para ulama juga tidak membrikan isyarat yang mengarah pada nama ini 

[59]  ‘Amran putra nabi Musa bukanlah ‘Amran putra Maryam, ibu nabi Isa. Ini tentunya sangat jelas

[60] Penyebutan namanya dalam Al-Qur’an berulang-ulang, sebanyak 136 kali.

[61] Nabi Musa memiliki badan yang kuat dan kekar, saya juga tidak lupa firman Allah:

 

Artinya:  Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir`aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). (QS. Al-Qashas: 15) 

 

[62]  Adz-Dzanub adalah timba untuk mengambil air

[63] Semoga saja dia menajdi istrinya setelah ini dan dia menjadi mulia. 

[64] Ada yang mengatakan bahwa ia adalah nabi Syu’aib, akan tetapi rentang waktunya terlalu panjang. Dikatakan bahwa ia adalah putra paman nabi Syu’aib, hanya Allah yang tahu 

[65] Aku menyebutnya dengan nama Tamsyaya

[66] HR. Ibnu Majjah

[67] Maksudnya adalah yang sepuluh tahun

[68] Al-‘Ausj adalah pohon gurun yang berduri, memiliki bunga yang berwarna putih. Dikatakan pula bahwa pohon itu adalah pohon al-‘Aliq yang banyak dijumpai dipasar, yang memiliki buah seperti straubery negri Syam, baik rasa dan bentuknya

[69] Tidak ditemukan adanya najis dalam beribadah (Shalat)-kecuali orang-orang muslim-yang mencopot sandal mereka ketika hendak shalat, kecuali ada halangan. 

[70] Baras dan Bahaq adalah dua penyakit kulit. Keduanya adalah istilah untuk menyebutkan bercak putih yang ada pada kulit 

[71] Dikatakan bahwa Semenjak kecil dia celat lidahnya. Ini adalah pendapat yang masyhur

[72] Sihir adalah: Segala yang lembut yang diambil, hal ini kasat mata

[73] As-Sabat adalah cucu. Asbatha bani israil adalah keluarga Yakub dari putra-putranya yang dua belas, yaitu: Raubin, Syam’un, Laawy, Yahwadza, Isakhar, Zabalun, Yusuf, Bunyamin, Daan, Naghtal, Jaad dan Usyair.

[74] Al-Manna adalah sesuatu yang mengalir berwarna putih dan terasa manis yang jatuh dari langit dalam bentuk dedaunan dan As-Salwa adalah burung As-Saman ( burung Quail)

[75] Kitab kumpulan hadits nabi (3226)

[76] Pendapat yang masyhur bahwasannya tempat itu berada dipadang Niqab, disana tidak ada orang yang mengetahuinya yang dapat menunjukkannya.

[77] Menurut ahli kitab adalah Syawwal, dan dalahm Al-Qur'an adalah Thalut:

Artinya: Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang banyak?" (Nabi mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS.  Al-Baqarah: 247)

[78] Tidak disebutkan nama yang lain darinya

[79] Raja orang-orang Palestina, berdasarkan keterangan dalam Taurat

[80] Suatu alat yang meneyerupai anak panah

[81] Dari hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Turmudzi, Nasai juga Ahmad.

[82] Perjalanan Samuel dalam bab ke 22 pada kitab injil dan pada bab-bab lainnya yang menceritakan perjalanan. 

[83] Mungkin saja yang dimaksudkan dengannya adalah Janda itu, Auriba

[84] Maksudnya adalah: As-Saraari

[85] Dikatakan bahwa namanya adalah Nalqamah dan Balqis adalah sebuah julukan

[86] Al-'Arab adalah orang Arab asli dan orang Arab pendatang. 'Aribah adalah orang Arab asli dan Musta'rabah adalah orang yang berkembang biak dalam lingkungan mereka, diantara mereka adalah nabi Ismail 'Alaihi Salam

[87] Al-Yazaabits, dengan bahasa yang lain. Dikatakan bahwa namanya adalah Isyya'. Yang paling masyhur adlah yang pertama. 

[88]

005. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,  (QS. Maryam: 5)

[89]

007. Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.  (QS. Maryam: 7)

[90] Dalam sebuah riwayat lain dikatakan tujuh puluh tujuh tahun. Hanya Allah yang tahu

[91] Dr. ‘Aisyah Abdurrahman (Sayyidaatu Baiti An-Nubuwwah: 206)

[92]  Al-Isti’ab, Ibnu Abdil al-Bar (Nomor 2437) dan Sumthu as-Samin, Ath-Thabari

[93] Qushay adalah orang yang membangun Daar an-Nudwah bagi orang Quraisyi 

[94] Dikatakan bahwa Hindun memiliki seorang anak dari Khatijah yang bernama Halah

[95] Dikatakan: bikru adalah anak onta.

[96] 1 auqiyah setara dengan 29, 75 gram emas

[97] Perkiraan ini tidak mampu untuk diberikan batasannya pada saat ini

[98] Dalam kejadian ini ada hikmah yang bisa diambil, akan tetapi hanya Allah yang tahu.

[99] As-Sirah wa Ar-Raudhu al-Anfi wa Tarikh Thabari wa ‘Uyuni al-Asar wa al-Ishabah wa al-Sumthu As-Samin

[100] Hadits Bukhari Muslim dari ‘Aisyah 

[101] Dalam Shahih Bukhari Muslim, Tarikh Thabari dan juga buku-buku sejarah

[102] Al-Qashbu adalah mutiara, An-Nashbu adalah kesusahan dan Al-Washbu adalah sakit

[103] Istri ‘Usman binti Madh’un

[104] Waktu itu ‘Aisyah masih berusia tujuh tahun

[105] Hari itu adalah waktu musim haji

[106] Tsubtah adalah tegar, hadits ini terdapat dalam kitab Bukhari Muslim

[107] Saudara suaminya, Sakraan bin ‘Umar

[108] Shahih Muslim

[109] Dalam kitab Bukhari Muslim

[110] As-Sirqah adalah potongan kain tenun

[111] Meninggalnya setelah didera cobaan yang sulit

[112] Bawadly, dalam bukunya Ar-Rasul halaman: 93-130 dari tarjamah Arabnya: Muhammad Faraj dan ‘Abdul Hamid As-Sahari

[113]  Rasulullah mengetahui hal itu dan bertanya padanya: apakah kamu cemburu? Dia berkata: apa alasanku untuk cemburu terhadap orang sepertiku atas orang seperti engkau?

      

[114] Lihat perinciannciannya dalam buku sejarah

[115] Kisah ini sangat panjang, ‘Aisyah menuturkannya dengan lisannya. Lihat mengenai hal ini dalam buku sejarah

[116] Yakub, dia menanggungkan untuk menyebutkan nama Yusuf, akan tetapi ia tidak menolong orang yang mengingatkannya terjerumus dalam dosa.

[117] Dikatakan tiga bulan

[118] Tedapat dalam Tarikh Thabari dan lainnya, dalam Shahih Muslim. Al-Ladam adalah suara batu yang bertabrakan dengan tanah. As-Sahra adalah paru-paru

[119] Secara bahasa At-Tarkhim adalah jawaban. Dikatakan bahwa tarkhim adalah membuang, seperti membuang isim bab munada adalah membuang satu huruf atau lebih diakhir munada.

[120] Maghafir adalah buah yang terasa manis, akan tetapi berbau tidak sedap. Dan Rasulullah tidak kuat jika mencium bau itu

[121] Al-‘Irqith adalah nama lain dari buah maghafir

 

[122] Yang masyhur adalah ‘Ubaidah bin al-Harits bin ‘Abdil Muthalib putra paman nabi Saw.

[123] Hindun binti ‘Auf bin al-Harits bin Hamathah al-Humairiyah

[124] Al-Ishabah dan Al-Muhbir: 105-109

[125] Demikian juga yang tertera dalam kitab Tarikh At-Thabari dan Syidzratu Adz-Dzahab

[126] Dia adalah seorng musyrik, lalu dia masuk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah. Lalu dia hijtah bersama Khalid bin Walid  dan ‘Umar bin ‘Ash ke Madinah

[127] Takbir dalam shalat janasah sebanyak empat kali

[128] Hal ini juga disebutkan oleh Imam Thabari dalam buku sejarahnya (2/177)

[129] Thabaqat Ibnu Su’ud

[130] Rujukan yang komplit dalam hal ini ada dalam buku Sejarah

[131] HR. Muslim dalam kitab Sahihnya.

[132] Nanti akan diketengahkan mengenai ‘Ubaidillah dalam membicarakan Umi Habibah, ibu orang-orang mukmin

[133] Muslim dalam kitab sahihnya.

[134] As-Sumtu As-Samin, hal: 110. dan Al-Isti’ab: 4/1851 dan Al-Ishabat: 8/93

[135] HR. Muslim

[136] Al-Huqwu adalah Jarit

129  Perang ini dinamakan juga dengan perang bani Musthaliq atau Al-Maryi'

130 Mukatabah adalah budak yang menuliskan harga dirinya, maka ketika dia bekerja dan melaksanakannya maka dia merdeka

131 Seperti yang ada dalam periwayatan 'Aisyah

[137] Al-Bikra adalah anak onta

132 ‘Aisyah dan Hafsah

133 Nasabnya sampai kepada nabi Harun

134 Ibnu Sa’d mengisahkan hal ini dalam Thabaqaat

[138] Utusan Rasulullah kepada raja Najasyi pada pernikahan itu adalah ‘Umar bin Umayyah Adh-Dhamiri dan dalam pendapat lain adalah Syarhubail bin Hasanah. Pendapat yang pertama lebih unggul

[139] Yang paling dekat adalah delapan belas tahun

[140] Dalam sebuah pendapat yang lain mengatakan: pada tahun 42 Hijriyah

[141] Nama aslinya Lubabah al-Kubra, adapun saudaranya Lubabah As-Sughra, yaitu ibu Khalid bin Walid  dan ‘Abdullah bin ‘Abbas dan ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib dan Khalid putra-putra  bibinya

[142] Para periwayat berselisih dalam nama suaminya

[143] As-Suhaili menuturkannya dalam Ar-Raudh Al-Anfi

[144] Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya

[145] Dikenal dengan nama Qabathi

[146] Bighal adalah peranakan kuda dengan keledai 

[147] Dulu dikenal dengan sebutan Al-‘Aliyah

[148] Shahih Muslim

[149] Shahih Muslim

[150] Al-‘Ilja adalah orang kafir dari orang-orang yang bukan Arab

[151] Adalah pemotongan alat kelamin

[152] Shahih Muslim

[153] Al-Ishabah: juz 4 halaman 302

[154]  Al-Ishabah: juz 4 halaman 302

[155] Setara dengan empat ratus dirham, seperti mahar yang diberikan Rasulullah kepada istri-istrinya yang lain 

[156] Tarikh Thabari dan kitab Sejarah Ibnu Hisyam dan yang lainnya juga demikian